Thursday, March 19, 2009

Nyawa Ke Dua

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : 113 LORONG KEMATIAN

1

Sejak dua minggu lalu pasangan suami istri muda Nyi Purwaningrum bersama suaminya Raden Kuncorobanu yang seorang saudagar muda itu menempati rumah baru mereka di desa Sarangan. Karena suami istri ini begitu ramah dan suka bergaul dengan siapa saja maka dalam waktu singkat keduanya sudah dikenal dan disenangi oleh penduduk desa. Apa lagi Kuncorobanu tidak segan-segan membantu penduduk miskin yang hidupnya serba kekurangan.
Ketika datang ke Sarangan, Nyi Purwaningrum yang berkulit hitam manis dan berwajah cantik itu tengah mengandung menjelang bulan ke tujuh.
Sebagai seorang saudagar, Kuncorobanu sering bepergian, terutama ke Magetan pusat dia menjalankan usaha perdagangannya. Walau desa Sarangan tidak terlalu jauh dari Magetan, namun jika banyak urusan dagang yang dilakukan maka seringkali saudagar muda ini bermalam di Magetan.
Kalau sang suami sedang bepergian Nyi Purwaningrum hanya seorang diri di rumah. Dia tidak mempunyai pembantu atau pelayan. Juga tidak ada penjaga di rumah itu sebagaimana layaknya kediaman orang-orang kaya atau para bangsawan. Hal ini mendatangkan rasa cemas di banyak penduduk desa Sarangan yang telah mengenal baik sepasang suami istri itu. Beberapa orang tetangga pernah memberitahu Nyi Purwaningrum bahwa sejak beberapa bulan belakangan ini tujuh desa di sekitar kawasan Telaga Sarangan, termasuk desa Sarangan, sebenarnya berada dalam keadaan tidak aman. Tidak aman terutama bagi seorang perempuan yang sedang hamil seperti halnya Nyi Purwaningrum. Telah beberapa kali terjadi ibu-ibu muda yang tengah hamil diculik oleh makhluk aneh berbentuk pocong hidup. Siapa saja yang berani melakukan pengejaran pasti menemui kematian. Sementara semua perempuan yang diculik tak pernah kembali, tidak diketahui dibawa kemana dan tidak diketahui apa yang terjadi dengan diri mereka.
“Kata orang, di tempat kejadian, sebelum atau sesudah penculikan biasanya muncul sebuah bendera aneh, berbentuk segitiga. Penduduk menyebutnya bendera darah karena bendera itu memang basah oleh darah manusia!” Seorang penduduk desa, perempuan separuh baya bernama Tumini memberitahu Nyi Purwaningrum ketika berkunjung ke rumahnya. Perempuan ini sering mendatangi rumah kediaman istri saudagar itu, membantu pekerjaan sehari-hari. Sekali-sekali perempuan ini membawa serta anak perempuannya yang berusia sebelas tahun.
Mendengar keterangan Tumini, Purwaningrum hanya tersenyum dan berkata. “Selama ini saya tidak mendengar berita buruk seperti itu di desa kita. Keadaan di sini kelihatan serba aman, tenteram. Penduduk ramah semua dan baik terhadap saya. Tapi apa yang kakak Tumini ceritakan barusan akan saya sampaikan pada Mas Banu. Sebaiknya dia tidak pulang ke rumah sampai larut malam atau sering menginap di Magetan….”
“Rumah ini sebaiknya ada pengawal. Terutama pada malam hari. Banyak lelaki penduduk desa yang mau bantu menjaga keselamatan Jeng Ningrum, sekalipun tidak dibayar. Kalau Jeng Ningrum mau saya bisa memangggil mereka….”
“Terima kasih, kalian semua orang baik. Saya akan beritahu suami saya dulu kalau nanti dia pulang.”
“Jeng Ningrum, ada orang memberitahu saya. Beberapa hari ini, kalau hari mulai gelap ada beberapa orang berpakaian serba hitam terlihat di sekitar rumah ini. Dua orang di antara mereka yang naik kuda….”
“Mungkin mereka penduduk desa yang berbaik hati ingin menjaga rumah saya,” kata Nyi Purwaningrum pula.
“Tidak, orang-orang itu tidak dikenal. Mereka bukan orang desa Sarangan. Setiap pamongdesa datang meronda, mereka lenyap.”
“Lalu apakah desa ini pernah kedatangan perampok? Ada penduduk yang kerampokan?” tanya Nyi Ningrum.
“Tidak pernah memang. Tapi penduduk berpendapat orang-orang itu punya niat tidak baik. Jeng Ningrum harus berhati-hati.”
“Terima kasih, saya akan perhatikan ucapan kakak. Kakak tak perlu cemas. Saya akan menjaga diri baik-baik,” kata istri saudagar muda itu. Lalu dia melanjutkan ucapannya. “Ada satu hal yang ingin saya beritahukan. Hari Jum’at di muka bersama suami saya akan pergi ke Telaga Sarangan. Kata orang, di satu tempat tak jauh dari Air Terjun Ngadiloyo banyak tumbuh berbagai macam bunga. Salah satu di antaranya bunga mawar hitam yang sangat langka dan konon hanya tumbuh beberapa kuntum saja. Bunga-bunga mawar ini katanya kuncup pada malam hari dan mekar menjelang fajar menyingsing. Saya ingin melihatnya.”
“Penduduk di sini menyebut bunga itu kembang mawar ireng,” kata Tumini pula. “Mengapa Jeng Ningrum ingin melihat kembang mawar ireng itu?”
“Saya ini aneh,” ucap Nyi Purwaningrum. “Sewaktu mulai hamil dan hamil muda, tidak seperti perempuan lain, saya tidak pernah ngidam. Tidak pernah kepingin apa-apa. Tidak ingin makan ini itu. Tapi ketika mendengar bunga mawar hitam di Telaga Sarangan itu, saya setengah mati ingin melihat dan memetiknya barang sekuntum….”
“Kata orang bunga langka itu tidak boleh diambil. Tidak boleh dipetik. Tapi kalau Jeng Ningrum yang menghendaki, rasanya tidak ada yang keberatan.”
Rencana Nyi Purwaningrum hendak pergi ke Telaga Sarangan untuk melihat kembang mawar ireng segera tersebar di kalangan penduduk desa. Pagi hari Jum’at ketika hari masih gelap dan sepasang suami istri itu siap-siap untuk berangkat, begitu keluar rumah mereka jadi terkejut. Di halaman telah menunggu belasan penduduk desa mengelilingi sebuah kereta kecil ditarik seekor kuda hitam.
Seorang lelaki lanjut usia berbelangkon biru yang duduk di depan kereta bertindak sebagai sais bukan lain adalah Ki Sena Pamungkur, Kepala Desa Sarangan. Beberapa pamong desa siap di atas kuda masing-masing bertindak sebagai pengawal. Lalu belasan penduduk desa naik gerobak dan menunggang kuda membawa obor siap pula bertindak sebagai pengiring.
Selagi suami istri itu terheran-heran menyaksikan pemandangan di halaman rumah mereka, Kepala Desa Sarangan turun dari kereta. Ditemani oleh Tumini dia menemui Kuncorobanu, memberitahu bahwa dia dan penduduk desa Sarangan siap mengantar saudagar itu bersama istrinya menuju Telaga Sarangan.
Walau tidak menghendaki semua pelayanan itu namun baik Raden Kuncorobanu maupun istrinya tidak tega menolak. Keduanya kelihatan sangat terharu.
Rombongan sepasang suami istri diiringi penduduk desa akhirnya meninggalkan halaman rumah, berangkat menuju Telaga Sarangan, tak ubahnya seperti arak-arakan kecil. Apa lagi di sebelah depan ada sebuah gerobak ditumpangi pemuda desa yang menabuh gendang, meniup seruling, memukul sebuah gong kecil serta beberapa kentongan. Karena kejadian seperti ini baru kali itu terjadi, tidak heran walau pagi buta dan masih gelap, sepanjang jalan penduduk desa berkerumun di depan rumah masing-masing.
Ketika rombongan keluar dari desa Sarangan, dalam kegelapan ada sepuluh penunggang kuda berpakaian serba hitam membayangi. Orang-orang ini mengikuti rombongan tapi tidak menempuh jalan yang sama. Mereka bergerak di kiri kanan jalan di balik bayang-bayang gelap pepohonan. Kadang-kadang mereka lenyap seperti ditelan malam.. Kemudian muncul lagi jauh di depan rombongan, berhenti dan menunggu sampai, rombongan lewat. Sebelum fajar menyingsing rombongan telah sampai di Telaga Sarangan. Kawasan ini diselimuti kesunyian. Air telaga tidak bergerak tidak beriak seolah lapisan kaca yang mengambang. Udara terasa dingin. Tiupan angin serasa menyayat kulit. Nyi Purwaningrum merapatkan baju tebalnya. Sesekali terdengar suara kicau burung di kejauhan.
Ki Sena Pamungkur yang menjadi sais membawa kereta menyusuri tepian telaga, terus ke arah selatan. Lapat-lapat terdengar deru suara air terjun Ngadiloyo. Tak selang berapa lama rombongan sampai di depan air terjun. Ki Sena menghentikan kereta di tanah datar. Semua orang turun dari gerobak dan kuda, membawa obor mengiringi pasangan suami istri yang didampingi Kepala Desa Sarangan, berjalan ke satu bukit kecil di lamping kiri air terjun. Di sebelah depan para pemuda desa sambil berjalan masih terus menabuh dan memainkan berbagai bebunyian.
Rombongan mulai mendaki bukit kecil, menuju ke satu lereng. Di lereng bukit inilah bertumbuhan berbagai macam bunga, di antaranya kembang mawar ireng yang ingin dilihat oleh Nyi Purwaningrum dan kalau bisa hendak dipetiknya.
Di satu tempat Kepala desa Ki Sena Pamungkur hentikan langkah, menunggu Raden Kuncorobanu dan istrinya. Beberapa pamong desa melangkah berjejer memagari jalan. Begitu Kuncorobanu dan istri sampai di depan Ki Sena. Kepala Desa ini menunjuk ke arah satu dari lima pohon besar sejarak tiga tombak di depan mereka. Para pemuda hentikan menabuh dan memainkan bebunyian.
“Raden Kuncoro, Nyi Ningrum, kembang mawar hitam yang hendak dilihat itu tumbuh mengelilingi pohon besar di sebelah tengah. Tinggal dekat saja, tapi jalannya agak licin. Hati-hati….”
Tumini yang ikut dalam rombongan segera memegang lengan Nyi Purwaningrum lalu mendampingi, istri saudagar itu melangkah ke arah pohon besar di sebelah tengah. Di antara deru air terjun di kejauhan sayup-sayup terdengar suara kokok ayam.
“Syukur kita sampai sebelum fajar menyingsing. Jadi masih bisa melihat bunga aneh itu mekar mengembang. Bunga lain biasanya mulai mekar begitu tersentuh sinar sang surya. Tapi bunga mawar hitam ini lain dari yang lain….” Kata Ki Sena Pamungkur. Dia yang pertama sekali sampai di depan pohon besar sebelah tengah, menyusul Kuncorobanu dan istrinya lalu para pamongdesa dan anggota rombongan lainnya.
Para pemuda telah sejak tadi berhenti menabuh bebunyian. Mereka juga ingin menyaksikan bunga mawar hitam itu.
“Kesampaian juga maksud saya. Luar biasa….” kata Nyi Purwaningrum ketika dia sampai dan melihat tujuh bunga mawar hitam tumbuh di sekitar pohon dan saat itu masih dalam keadaan setengah kuncup. Permukaan bunga tertutup titik-titik embun.
“Sebentar lagi bunga ini akan mekar mengembang,” kata Kepala Desa. Lalu dia memberi perintah pada beberapa orang pemuda yang membawa.obor datang mendekat agar Nyi Ningrum bisa melihat jelas ketika kuncupan bunga-bunga mawar hitam itu mulai bergerak membuka, mekar mengembang. Supaya bisa melihat lebih jelas, Nyi Ningrum sengaja membungkuk di depan tebaran bunga mawar hitam.
“Saya melihat….” tiba-tiba Nyi Ningrum berucap. “Lihat! Kangmas Banu… bunganya mulai bergerak. Bunganya mulai mekar.” Bukan cuma Raden Kuncorobanu, tapi semua orang yang ada di situ, di bawah penerangan obor, pentang mata lebar-lebar, ingin menyaksikan kebenaran ucapan Nyi Ningrum. Melihat bunga melati hitam yang tadi setengah kuncup kini mulai bergerak mekar.
“Kalau boleh,” ucap Nyi Ningrum, “begitu mekar saya ingin mendapatkannya sekuntum.”
“’Akan saya petikkan untuk Nyi Ningrum,” kata Kepala Desa Ki Sena Pamungkur. Dia bergerak lebih dekat ke pohon besar. Matanya memperhatikan kuncup mawar hitam yang paling panjang dan paling lebar. “Aahhh….” Sang Kepala Desa kemudian keluarkan suara kagum disertai tarikan nafas panjang. “Selama ini, belasan tahun, saya hanya mendengar saja. Kini menyaksikan sendiri….” Sepasang mata Ki Sena Pamungkur membesar ketika menyaksikan bagaimana ujung-ujung kuncup bunga mawar yang menjadi pusat perhatiannya perlahan-lahan bergerak. Di sebelahnya Raden Kuncorobanu juga memperhatikan dengan mata tak berkesip. Bunga yang tadi setengah kuncup itu sesaat kemudian telah berkembang mekar keseluruhannya.
“Tolong Ki Sena, petikkan bunga itu untuk istri saya….” kata Raden Kuncorobanu.
“Biar saya sendiri yang memetiknya,” kata Nyi Purwaningrum lalu maju selangkah, membungkuk sambil ulurkan tangan.
Pada saat itulah ada sesuatu melesat dalam kegelapan malam. Cairan aneh menyiprat. Nyi Ningrum terpekik ketika sebuah benda menancap di batang pohon besar, hanya beberapa jengkal dari kepalanya yang tengah membungkuk!
Raden Kuncorobanu tersurut dua langkah.
Ki Sena Pamungkur melengak kaget.
“Bendera darah!” Ucap sang Kepala Desa dengan suara bergetar lalu memandang berkeliling dengan wajah berubah pucat.
Enam orang pamong desa segera gerakkan tangan ke pinggang, loloskan golok masing-masing.
Nyi Ningrum melangkah mundur mendekati suaminya. Dengan cepat sepasang matanya dan juga mata Kuncorobanu memperhatikan ke arah kegelapan. Saudagar muda ini rundukkan kepala, membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.

***

2
MALAM udara dingin dan ketegangan mencekam begitu rupa tiba-tiba satu suara tawa bergelak menggema di tempat itu, disusul ucapan lantang,
“Nyi Ningrum, bunga mawar ireng adalah bunga langka bunga larangan. Siapa berani memetik akan kejatuhan musibah! Tapi aku bersedia memetikkan semua bunga mawar hitam itu dan kupersembahkan untukmu! Dengan satu syarat! Asal kau bersedia ikut bersamaku!”
Semua orang yang ada di tempat itu jadi terkejut dan sama palingkan kepala, memandang berkeliling. Mencari tahu siapa orang yang barusan bicara keras dan kurang ajar. Namun orang yang dicari tidak kelihatan. Rasa tegang semakin mencekam.
Kesunyian menggantung di udara dingin dan gelap. Di kejauhan terdengar suara air terjun.
“Ki Sena, apakah bukit ini ada hantunya?” tanya Nyi Ningrum setengah berbisik.
“Kalaupun ada hantu, hantu mana yang bisa tertawa dan bicara berteriak,” jawab Kepala Desa. Walau dia bicara gagah tapi suaranya bergetar tanda hatinya berdebar. Dia melirik ke arah bendera merah yang menancap di batang pohon. Lalu berpaling pada Raden Kuncorobanu dan berbisik. “Raden, kita dalam bahaya.”
Sepasang mata Raden Kuncorobanu bergerak berputar.
Salah satu kakinya digeser. Tiba-tiba saudagar muda ini berteriak.
“Siapa yang bicara?!”
Tak ada jawaban. Semua orang kembali memandang berkeliling. Tidak kelihatan siapa-siapa selain orang-orang rombongan dari Desa Sarangan.
Tiba-tiba seorang pamongdesa berseru seraya menunjuk.
“Ki Sena, lihat! Di atas pohon!”
Semua kepala diangkat, sama memandang ke jurusan yang ditunjuk pamongdesa. Dan semua orang melihat! Di atas cabang pohon besar pada deretan ujung sebelah kanan, berdiri satu sosok serba putih, mulai dari kepala sampai ke kaki.
“Setan pocong!”
Beberapa mulut berucap hampir berbarengan. Semua wajah kelihatan berubah dan setiap tengkuk terasa dingin! Beberapa orang mulai menggeser kaki, bergerak menjauh. Tiba-tiba wuuut! Sosok putih di atas cabang pohon melayang turun. Satu kali berkelebat dia telah berdiri di hadapan Nyi Ningrum. Istri saudagar yang tengah hamil ini melangkah mundur. Raden Kuncorobanu cepat bergerak ke depan sang istri. Ki Sena bergerak ke sebelah Kuncorobanu. Enam pamongdesa yang telah menghunus golok berpencar, mengurung sosok serba putih. Mereka, sudah sering mendengar makhluk ini dengan segala kejahatan yang dilakukan yakni menculik perempuan-perempuan hamil. Yang mereka masih belum bisa memastikan apakah makhluk ini setan pocong sungguhan atau manusia yang sengaja berpakaian dan bertutup kepala seperti pocong. Yang jelas siapapun adanya makhluk ini rasa gentar saat itu telah menggerayangi diri ke enam pamong desa.
Sambil memegangi lengan Nyi Ningrum dan berusaha menariknya, Tumini berbisik. “Jeng, Jeng! Makhluk itu pasti punya niat jahat mau menculik Jeng Ningrum.”
“Saya tahu, tenang saja. Dia cuma sendiri. Kita belasan orang jumlahnya,” jawab Nyi Purwaningrum. Perempuan muda yang tengah hamil hampir tujuh bulan ini berucap tenang walau suaranya terdengar gemetar.
Di depan sana, manusia pocong serba putih dongakkan kepala dan berseru.
“Nyi Ningrum, aku menunggu jawaban! Aku akan petikkan semua kembang mawar ireng untukmu. Setelah itu kau ikut bersamaku….”
Nyi Ningrum tidak bergerak. Sepasang matanya memperhatikan sosok serba putih di depannya dengan pandangan berkilat-kilat. Tumini memegang lengan perempuan hamil itu lalu menariknya ke belakang.
“Pocong edan! Nyalimu sungguh besar!” Ki Sena membentak. “Kalau kau muncul membawa niat jahat terhadap Nyi Ningrum, sebaiknya lekas angkat kaki sebelum aku menyuruh anak buahku menebas leher mencincang tubuhmu!”
Di balik kain penutup kepala si manusia pocong keluarkan suara mendengus. Dua matanya yang terlihat di belakang dua lobang kecil pada kain putih penutup kepala berputar liar.
“Menebas leher mencincang tubuh! Sungguh hebat!” Manusia pocong dongakkan kepala. Lidahnya berdecak lalu dia tertawa bergelak. Tiba-tiba suara tawa itu putus terhenti dan bukkk!
Satu jotosan keras menghajar dada Ki Sena Pamungkur.
Kepala Desa Sarangan ini terpental, jatuh terduduk di tanah. Dia mencoba bangkit berdiri, tapi setengah jalan jatuh kembali dan semburkan darah segar.
Semua orang yang ada di tempat itu jadi geger. Enam orang anak buah Ki Sena terkejut bukan main. Mereka semua tahu kalau Kepala Desa Sarangan itu memiliki ilmu silat tinggi. Kalau Ki Sena dibuat roboh dengan sekali hantam saja di mata mereka ini adalah satu hal luar biasa.
“Anak-anak… bunuh makhluk jahanam itu…” Suara Ki Sena Pamungkur terdengar perlahan. Tapi karena tempat itu diselimuti kesunyian, semua orang dapat mendengar jelas. Dan kata-kata Ki Sena itu adalah ucapannya yang terakhir. Karena setelah berucap kepalanya terkulai, tubuh miring ke kiri lalu tergelimpang. Beberapa orang keluarkan, seruan tertahan. Beberapa lagi segera mendatangi Ki Sena. Namun sosok Kepala Desa itu sudah tak bernyawa lagi.
Walau dilanda kejut dan kecut, namun melihat kematian Kepala Desa mereka, enam pamongdesa dengan golok di tangan segera menyerbu manusia pocong. Dua orang pemuda yang memegang obor dan punya nyali besar ikut pula menyerang. Mereka menyorongkan obor ke tubuh dan kepala manusia pocong.
Diserang delapan orang sekaligus ternyata tidak membuat gentar. Begitu enam golok berkiblat dan dua obor menderu, makhluk ini geser kaki kanan, dua tangan bergerak. Empat golok saling beradu bentrokan di udara. Dua lainnya terpental ke udara begitu pemiliknya dilabrak jotosan kiri kanan manusia pocong hingga terjengkang muntah darah. Salah seorang pemuda yang menyorongkan obor ke kepala manusia pocong terpental dihantam tendangan. Selagi empat pamong desa keheranan tak mengerti bagaimana sampai golok mereka saling bentrokan satu sama lain, manusia pocong berkelebat. Gerakannya laksana kilat. Orang hanya mendengar suara jotosan dan tendangan. Di lain saat empat pamong desa itu telah berkaparan di tanah.
Satu-satunya penyerang yang tinggal yakni pemuda pemegang obor yang berdiri dengan muka pucat. Lututnya goyah. Ketika manusia pocong melangkah mendekatinya, dia cepat bergerak mundur lalu lemparkan obor ke arah lawan. Dengan mudah, dengan tangan kirinya manusia pocong tangkap ujung gagang obor yang terbuat dari bambu. Sekali tangan itu meremas maka ujung bambu bederak hancur, pecah menjadi bilahan-bilahan tajam. Ketika sekali lagi tangan kiri manusia pocong bergerak, bambu obor yang masih menyala laksana anak panah melesat ke arah si pemuda. Belum sempat pemuda ini berkelit, ujung bambu gagang obor telah amblas menembus perutnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah, lalu jatuh terbanting tertelentang. Dua tangannya menggapai-gapai. Dalam sakit yang amat sangat mungkin dia berusaha memegang dan hendak mencabut bambu obor yang menancap di perut. Namun gagal. Dua tangan itu keburu terkulai jatuh ke samping. Pemuda ini menemui ajal dengan muka mengerenyit dan mata mendelik.
Dalam suasana geger yang mencekam, sementara di timur kelihatan rona cahaya terang tanda fajar telah menyingsing, Raden Kuncorobanu tiba-tiba melompat ke hadapan manusia pocong. Suaranya menggelegar ketika dia membentak keras.
“Setan alas, dajal keparat! Dosa kejahatanmu sudah melewati takaran! Kau muncul seperti pocong hidup! Aku akan menjadikanmu pocong sungguhan!”
Semua orang yang ada di tempat itu kecuali Nyi Ningrum terkejut melihat gerakan dan mendengar bentakan Raden Kuncorobanu. Mereka tidak menyangka saudagar muda yang sejak tadi wajahnya kelihatan pucat itu ternyata punya keberanian. Manusia pocong sendiri diam-diam merasa kaget. Dalam hati dia membatin. “Saudagar ini. Suara bentakannya bukan bentakan biasa. Tak mungkin aku salah dengar, salah rasa. Ada tenaga dalam menyertai bentakannya tadi.”
Sambil berkacak pinggang dan sikap penuh jumawa, manusia pocong berkata.
“Saudagar muda Raden Kuncorobanu! Sejak tadi kau diam saja. Kukira kau suka dan setuju aku membawa istrimu….”
“Manusia durjana!” tiba-tiba Nyi Purwaningrum membentak. Tentu saja ini membuat kaget, semua orang, kecuali Raden Kuncorobanu. “Hari ini semua perbuatan kejimu akan kami kuburkan bersama tubuh bejatmu!”
“Kami?! Maksudmu kau dan suamimu hendak mengubur diriku?! Sungguh luar biasa! Ha…ha…ha!”
“Malaikat maut sudah di ujung hidung! Ajal sudah di depan mata! Masih bisa tertawa!” hardik Raden Kuncorobanu sambil balas bertolak pinggang. “Lihat sekelilingmu! Kau sudah terkurung! Satu­satunya jalan lari adalah liang kubur! Kalau memang kau masih layak mampus dikubur dan ada yang mau mengubur!”
Di balik kain putih penutup kepala, tampang si manusia pocong jadi berubah. Hatinya menggeram. “Jahanam, siapa sebenarnya dua orang suami istri ini?” Dan ketika dia memandang berkeliling, dalam udara yang mulai terang-terang tanah, terlihat ada sepuluh orang penunggang kuda berpakaian dan berikat kepala hitam mengurung tempat itu. Semua masih muda-muda tapi unjukkan tampang garang. Tangan masing­masing bersitekan ke pinggang dimana tersisip pedang empat persegi panjang.
Di tempatnya berdiri Nyi Ningrum berkata pada Tumini. “Menghindar dari sini. Beritahu semua orang agar segera menjauh!”
Tumini yang sejak tadi pegangi lengan Nyi Ningrum merasa heran. Air muka cantik istri saudagar muda itu yang selama ini selalu berseri dan murah senyum, kini dilihatnya begitu garang. Ucapannya yang selalu ramah dan lembut kini terdengar tegas dan galak. Tak berani bertanya Tumini segera lakukan apa yang dikatakan Nyi Ningrum.
“Aku senang pada orang-orang punya nyali! Aku ingin tahu kalian berdua ini siapa sebenarnya?”
Nyi Ningrum mendengus. Raden Kuncorobanu, cembungkan rahang lalu membentak.
“Ingat seorang bernama Surablandong?!” Dunia begini luas. Manusia begitu banyak! Mana aku sempat mengingat-ingat nama seseorang!”
“Surablandong adalah Ketua Perguruan Silat Lawu Putih.”
“Lantas?!” ujar manusia pocong dengan dongakkan kepala sambil matanya memperhatikan dua orang di hadapannya lewat dua lobang kecil pada kain penutup kepala.
“Sekitar satu bulan yang lalu kau membunuhnya di desa Plaosan.”
“Aahhh…” Manusia pocong keluarkan suara panjang. “Aku tidak kenal, malah tidak ingat peristiwa itu. Lalu apakah maksud kedatangan kalian hendak mengundang aku selamatan empat puluh hari kematian manusia bernama Suroblandong itu?! Ha… ha… ha! Maaf saja, aku mungkin tak bisa datang!”
“Jahanam penculik perempuan-perempuan hamil! Pembunuh keji manusia-manusia tidak berdosa!” hardik Kuncorobanu. “Dengar baik-baik! Surablandong adalah guru dan ketua kami! Aku bukan saudagar! Namaku bukan Kuncorobanu tapi Parit Juwana!”
“Dan aku bukan Nyi Purwaningrum tapi Wulan Srindi! Kami bukan pasangan suami istri tapi adalah kakak adik seperguruan!”
“Manusia dajal! Kau masuk dalam jebakan kami! Hari ini kami mewakili arwahnya untuk mencabut nyawamu!” Orang yang selama ini dikenal penduduk desa Sarangan sebagai Raden Kuncorobanu campakkan blangkon di atas kepalanya hingga rambutnya yang panjang menjulai sampai ke bahu.
(Mengenai riwayat terbunuhnya Surablandong silahkan baca ulang Episode pertama berjudul 113 Lorong Kematian)

***

3
SEPULUH pemuda berpakaian serba hitam melompat turun dari kuda masing-masing. Mereka segera bergerak membentuk lingkaran, mengurung. Rupanya mereka benar-benar tidak menginginkan lolosnya manusia pocong itu. Semua orang desa Sarangan yang ada di situ terkejut bukan main mendengar ucapan-ucapan dua orang yang selama ini mereka kenal sebagai pasangan suami istri. Di tengah kalangan si manusia pocong tetap unjukkan sikap tenang malah masih saja bertolak pinggang. Padahal sebenarnya dadanya sempat berdebar, hatinya bertanya-tanya. Untuk menjaga segala kemungkinan tenaga dalam segera dialirkan ke tangan kanan.
“Raden Kuncorobanu! Parit Juwana! Siapapun namamu, kau sungguh keterlaluan! Masakan adik seperguruan yang sedang hamil tega-teganya kau ajak untuk mencari perkara!”
Parit Juwana menyeringai. Di sebelahnya Nyi Ningrum alias Wulan Sindri berkata dengan suara keras.
“Makhluk dajal! Siapa bilang aku hamil!”
Wulan Sindri tanggalkan pakaian tebal yang dikenakannya lalu tangan kanannya bergerak membuka buhul kain panjang di pinggang sebelah kiri. Buhul itu ditarik kuat-kuat sambil tubuhnya membuat putaran seperti gasing. Bersamaan dengan berputarnya tubuh, dari pinggang serta perut Wulan Srindi menebar keluar gulungan kain panjang menyerupai setagen. Di balik gulungan setagen dan kain panjang ternyata dia mengenakan sehelai celana panjang hitam ringkas. Jadi kehamilannya selama ini adalah palsu atau samaran belaka. Semua orang yang ada di tempat itu memperhatikan dirinya dengan mata terbelalak. Si manusia pocong sendiri menyaksikan kejadian di depan matanya dengan sumpah serapah dalam hati. Dia berusaha kendalikan amarah. Dari balik kain putih penutup kepala dia kemudian keluarkan suara berdecak berulang kali.
“Kalian merasa telah berbuat sesuatu yang hebat! Dasar manusia-manusia picik! Kalian merasa berhasil menipuku! Padahal yang kalian lakukan adalah satu ketololan besar! Semua ketololan itu akan berakhir sangat mengenaskan! Parit Juwana! Majulah! Aku ingin membunuhmu lebih dulu!”
Parit Juwana, murid terpandai yang kini dipercayai mengetuai Perguruan Silat Lawu Putih keluarkan bentakan keras, tubuhnya berkelebat laksana angin. Tangan kanan menderu ke arah dada manusia pocong. Tanpa menggeser kedua kakinya makhluk serba putih itu sambut serangan orang dengan balas mengirimkan jotosan. Agaknya dia sengaja hendak mengajak saling adu jotosan karena dia merasa yakin kekuatan tenaga dalamnya berada di atas kekuatan lawan. Tampaknya lawanpun bersedia menyambut adu kekuatan itu.
Namun si manusia pocong jadi tersentak kaget ketika hanya tinggal setengah jengkal lagi dua tinju akan saling baku hantam tiba-tiba Parit Juwana miringkan tubuh ke kiri, tangan kanan diputar ke samping. Bersamaan dengan itu tangan kiri melesat ke arah pelipis kanan lawan dengan kekuatan tenaga dalam penuh! Inilah jurus maut yang disebut Menyapu Lereng Menjebol Puncak Gunung.
“Pecah kepalamu!” seorang pemuda berpakaian hitam yang mengurung kalangan perkelahian berseru. Teman-temannya yang lain juga menyangka begitu.
“Kraaaak!”
Lain yang diperkirakan, lain yang terjadi.
Sepuluh anak murid Perguruan Silat Lawu Putih berseru kaget. Wulan Srindi melengak besar. Apa yang terjadi?
Hanya sekejapan ketika tangan kiri Parit Juwana siap menghancurkan kepalanya, manusia pocong membuat gerakan luar biasa cepat. Lutut dibengkokkan, badan membungkuk, kepala ikut merunduk. Tanpa menggeser kuda-kuda kedua kaki, siku kanannya menyodok keras ke samping, mendarat telak di rusuk sebelah kiri Parit Juwana. Tiga tulang iga berderak patah. Parit Juwana sendiri terpental setengah tombak lalu jatuh di atas rimbunan tanaman bebungaan.
Sepuluh murid Perguruan Silat Lawu Putih terkesiap tak habis pikir. Bagaimana murid terpandai yang dipercayakan sebagai Ketua Perguruan kini bisa dirobohkan lawan hanya dalam satu gebrakan saja! Siapa sebenarnya manusia berdandan seperti pocong ini. Sepuluh pemuda hanya tertegun seketika. Di lain saat, dengan pedang di tangan semuanya telah menyerbu ke arah manusia pocong. Mereka membuat gerak jurus yang disebut Di Dalam Kawah Merenda Kematian. Rupanya jurus-jurus silat Perguruan Lawu Putih diciptakan demikian rupa dan diberi nama yang ada hubungannya dengan alam.
Jurus serangan Di Dalam Kawah Merenda Kematian jika diperhatikan memang terlihat seperti tangan yang sedang merenda. Agaknya jurus serangan ini bukan jurus indah nama belaka tapi juga dahsyat dalam kenyataan. Kedahsyatannya jadi berlipat ganda karena yang menyerbu bukan cuma satu dua orang tapi sepuluh orang sekaligus secara berbarengan.
Sepuluh pedang berkiblat di saat fajar menyingsing dan hari mulai terang. Dua ujung pedang menyambar ke arah kaki. Dua menderu membabat paha. Dua lagi menusuk ke bagian perut. Lalu dua pedang membabat punggung dan sisa dua pedang membacok dari belakang ke arah kepala. Kalaupun ke sepuluh pedang tidak dapat mengenai sasaran, paling tidak sambaran ke punggung atau bacokan ke arah kepala yang datang dari belakang akan sulit untuk dihindari. Beberapa waktu lalu ketika sepuluh anak murid Perguruan Silat Lawu Putih itu turun gunung untuk membasmi satu kelompok penjahat dipimpin oleh tiga orang berkepandaian tinggi, ketiganya sekaligus meregang nyawa oleh jurus Di Dalam Kawah Merenda Kematian.
Ketika Parit Juwana terlempar dengan tulang iga patah, Wulan Srindi cepat melompat mendatangi.
“Kakak!”
“Aku tidak apa-apa…,” jawab Parit Juwana walau jelas ada kerenyit kesakitan di wajahnya sementara dua tangan menekap rusuk kiri.
“Kau terluka, ada tulang igamu yang patah.”
“Jangan pikirkan diriku, Wulan. Lihat ke sana. Sepuluh murid perguruan melancarkan serangan Di Dalam Kawah Merenda Kematian. Sebentar lagi makhluk durjana itu akan menemui ajal dengan & tubuh mandi darah! Dendam kesumat sakit hati kematian guru dan ketua kita akan terbalaskan.”
“Aku ingin menghabisinya dengan tangan sendiri!” kata Wulan Srindi.
“Hati-hati, dia memiliki tenaga dalam luar biasa,” memberi tahu Parit Juwana.
Namun Wulan Srindi telah berkelebat. Justru saat itulah di depan sana terjadi hal yang menggemparkan.
Sewaktu sepuluh pedang menyambar ganas di sekeliling tubuhnya, manusia pocong keluarkan bentakkan keras. Tangan kirinya di angkat ke atas. Terdengar suara halus, seperti ada satu benda bergeser. Ketika tangan, itu diputar di atas kepala, dari balik jubah menderu angin deras disertai berkiblatnya cahaya­cahaya aneh.
Pekik jerit berhamburan keluar dari mulut sepuluh murid Perguruan Silat Lawu Putih. Tubuh mereka bermentalan jatuh bergelimpangan di tanah. Beberapa di antaranya menyangsrang di atas semak belukar. Keadaan, mereka tak karuan rupa. Mengerikan. Sekujur tubuh mulai dari kepala sampai ke kaki memar hancur! Nyawa mereka tak usah ditanya lagi. Amblas sudah.
Di balik kain putih penutup kepala, manusia pocong bicara pelahan. Ada sesuatu yang disesalinya. “Seharusnya aku tidak mempergunakan benda itu. Kalau ada yang mengenali semburan cahaya tadi aku bisa celaka. Tapi lawan begitu banyak. Mereka bukan saja berkepandaian tinggi, juga bersenjata golok. Ilmu silat biasa tak mungkin dipakai untuk menghadapi mereka.”

***

4
PARIT Juwana berteriak marah menyaksikan kematian sepuluh anak murid Perguruan. Wulan Srindi menggerung keras. Dari tempatnya berdiri dalam keadaan limbung menahan sakit akibat tiga tulang iganya patah, pemuda Perguruan Silat Lawu Putih keluarkah tiga buah benda berbentuk bola berduri terbuat dari kuningan. Inilah senjata rahasia yang disebut Elmaut Kuning. Ketika menerima jabatan sebagai Ketua Perguruan, Parit Juwana menerima lebih dari seratus buah senjata rahasia yang mengandung racun mematikan itu dari mendiang Surablandong.
“Wulan!-Menyingkir!” teriak Parit Juwana karena sang adik seperguruan berada pada satu garis lurus antara dirinya dengan manusia pocong yang hendak diserang. Wulan Srindi sempat melirik ke belakang dan melihat apa yang ada di tangan Parit Juwana. Saat itu murid perguruan yang masih gadis ini sebenarnya hendak melancarkan serangan satu pukulan jarak jauh bernama Membelah Ombak Menembus Gunung. Pukulan sakti ini sanggup mematah batang pohon besar, menghancurkan batu. Namun melihat Parit Juwana memegang bola-bola Elmaut Kuning, sementara dia berada di tengah-tengah alur serangan, sang dara tepaksa menyingkir ke samping. Begitu tubuh Wulan Srindi bergerak, tiga buah bola berduri Elmaut Kuning menderu di udara! Dua menyambar ke arah kepala, satunya melesat mencari sasaran di dada manusia pocong.
“Bola-bola keparat!” rutuk manusia pocong. Sebelumnya dia telah pernah melihat senjata rahasia ini. Yaitu ketika diserang Surablandong di Plaosan tempo hari. Ketika melihat tiga bola kuning menderu ganas ke arahnya, manusia pocong cepat menyambar sosok mayat salah seorang murid Perguruan Silat Lawu Putih yang menyangsang di atas semak belukar di sampingnya. Tubuh ini diangkatnya demikian rupa, dijadikan sebagai tameng melindungi diri. Tiga bola kuning menancap di kepala dan dada pemuda yang sudah jadi mayat itu.
“Jahanam biadab!” teriak Wulan Srindi. Tidak menunggu lebih lama gadis ini segera pukulkan tangan kanannya lancarkan serangan Membelah Ombak Menembus Gunung yang tadi tak jadi dilakukan. Satu gelombang angin luar biasa dahsyat menderu ke arah manusia pocong.
Yang diserang leletkan lidah, keluarkan suara berdecak.
“Gadis cantik, aku tidak ingin kau membuang-buang tenaga. Simpan tenagamu agar nanti bisa melayani diriku! Ha… ha… ha!”
Habis berkata begitu manusia pocong miringkan kepalanya sedikit. Lengan jubah sebelah kiri dikebutkan.
“Wuuuutttt!”
“Braaaakkk!”
Wulan Srindi tersentak kaget ketika melihat angin yang keluar dari ujung lengan jubah kiri manusia pocong berhasil memapaki angin serangannya hingga melenceng dan menghantam batang pohon hingga hancur berkeping-keping.
Selagi pohon itu menggemuruh tumbang Wulan Srindi te1ah melesat menyerbu ke arah manusia pocong. Dia ingat ucapan Parit Juwana tadi yaitu agar berhati-hati karena manusia pocong memiliki tenaga dalam luar biasa. Karenanya serangan tangan kosongnya selain mengandalkan jurus-jurus paling andal Wulan Srindi juga mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya.
“Gadis ini berbahaya. Tapi terlalu cantik untuk dibunuh….” Manusia pocong berucap dalam hati. Melirik ke samping dilihatnya Parit Juwana dengan langkah tertatih-tatih berjalan ke arahnya, menggenggam sebilah golok di tangan kanan. Saat itu Wulan Srindi telah menghabiskan dua jurus, menyerangnya seperti seekor harimau lapar.
“Tak ada waktu untuk main-main….,” ucap manusia pocong. Kalau tadi dia hanya mengelak dan menghindar, kini setelah menggeser kedudukan kedua kakinya dia mulai bergerak cepat. Tangan kanannya menyusup di antara dua tangan lawan yang menderu kian kemari mencari sasaran di dada dan kepalanya. Tiba-tiba Wulan Srindi terpekik. Dua tangannya untuk sesaat masih kelihatan bergerak latu jatuh terkulai ke samping. Mata membeliak, mulut terkancing. Dua kaki kaku seperti dipantek ke tanah. Ini terjadi setelah dua ujung jari tangan kanan manusia pocong menotok urat besar di lehernya sebelah kiri.
Parit Juwana maklum bahaya yang mengancam saudara seperguruannya itu. Kalau manusia pocong tidak inginkan nyawa Wulan Srindi berarti dia inginkan diri gadis itu hidup-hidup. Wulan Srindi dalam bahaya besar.
Tidak menunggu lebih lama Parit Juwana pungut sebilah golok yang tercampak di tanah lalu melompat, menyerbu ke arah manusia pocong. Dalam keadaan cidera begitu rupa dia hanya mampu lancarkan serangan berupa satu kali tabasan satu kali tusukan yang kesemuanya tidak mampu mengenai sasaran. Sekali bergerak manusia pocong hantam pergelangan tangan kanan Parit Juwana hingga berderak patah. Golok di dalam genggamannya terlepas mental ke udara. Selagi Perguruan Silat Lawu Pulih ini jatuh terduduk di tanah kesakitan setengah mati, manusia pocong tangkap golok yang mental lalu senjata ini ditusukkannya ke dada Parit Juwana.
Semua orang yang ada di tempat itu keluarkan seruan ngeri. Untuk beberapa lamanya mereka hanya bisa berdiri diam, tercekat tak bergerak. Mereka baru sadar setelah tahu kalau si manusia pocong tak ada lagi di tempat itu. Dan Wulan Srindipun tak kelihatan lagi di situ.
Di kejauhan terdengar suara kuda dipacu.
“Manusia pocong! Dia membawa kabur gadis itu!” Seseorang berteriak.

***

MANUSIA Pocong baringkan tubuh Wulan Srindi di atas lantai batu ruangan besar kosong. Dia tak menunggu lama. Dinding batu sebelah kiri bergeser membentuk celah. Dari balik celah melangkah keluar satu sosok tinggi yang juga berpakaian dan bertutup kepala serba putih.
Manusia pocong pertama segera membungkuk berikan hormat lalu berucap.
“Yang Mulia Ketua, terima salam hormat saya.”
Yang dipanggil dengan sebutan Yang Mulia Sang Ketua hanya anggukkan kepala sedikit lalu dari balik dua lobang pada kain putih penutup kepala sepasang matanya memperhatikan tubuh Wulan Srindi yang tergeletak menelentang di lantai ruangan.
Sambil melangkah pulang balik di samping tubuh Wulan Srindi, Sang Ketua keluarkan ucapan.
“Mataku belum buta. Perempuan yang kau bawa kali ini tidak dalam keadaan hamil. Apa yang terjadi, apa yang telah kau lakukan dan apa yang saat ini ada dalam benakmu!”
“Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Izinkan saya memberi keterangan. Perempuan ini memang tidak hamil. Masih gadis. Namanya Wutan Srindi. Dia adalah anak murid Perguruan Silat Lawu Putih. Surablandong, bekas Ketua Perguruan saya habisi beberapa waktu lalu dalam peristiwa penculikan Nyi Upit Suwarni di Desa Plaosan….” Lalu manusia pocong yang punya jabatan Wakil Ketua menjelaskan apa yang telah terjadi.
Setelah mendengar penuturan wakil Ketua, manusia pocong tinggi besar berdiam diri beberapa lamanya lalu berkata.
“Seharusnya pemuda bernama Parit Juwana itu kau tangkap hidup-hidup dan kau bawa ke sini untuk menambah kekuatan barisan kita….” “Tadinya saya ingin berbuat begitu Yang Mulia Ketua. Tapi kenyataannya tingkat kepandaiannya biasa-biasa saja. Selain itu dia membekal dendam kesumat amat besar dalam dirinya terhadap kita. Bisa berbahaya kalau dia diajak bergabung….”
“Bagaimana dengan Pendekar 212 Wiro Sableng? Dia tugas utamamu. Kau tahu apa akibatnya jika tidak bisa mendapatkan manusia satu itu….”
“Saya sudah menyirap kabar dimana dia berada. Sekarang juga saya akan minta diri untuk mencarinya….”
“Sebelumnya kau aku berikan waktu tujuh hari. Dua hari telah lewat percuma. Jangan sampai aku kembali menyebutmu sebagai manusia tolol!”
“Yang Mulia Sang Ketua, saya berjanji akan mampu mendapatkan Pendekar 212 dalam waktu lima hari. Paling tidak….”
“Paling tidak apa?!”
“Saya bisa mendapatkan satu atau dua dari tiga gadis yang kabarnya ada bersama dia. Kalau gadis­gadis itu bisa kita bawa kesini, bukankah itu sebagai salah satu cara untuk menjebak Pendekar 212 datang ke sini?”
“Bisa begitu, tapi kau tahu sendiri. Pemuda sableng itu tidak sebodoh yang kau perkirakan. Kau telah menyaksikan sendiri kehebatan ilmunya. Kau bahkan dibuatnya membekal dendam seumur-umur.”
“Yang Mulia Ketua, saya mohon diri. Apa yang harus saya lakukan dengan gadis ini?”
“Kau boleh pergi. Aku bisa mengurus gadis cantik ini dengan caraku sendiri.”
Manusia Pocong sang Wakil Ketua terdiam sejehak.
“Mengapa kau masih berdiri di hadapanku?!” Yang Mulia Ketua menegur.
“Maksud saya Yang Mulia. Sebelum pergi saya ingin….” Sang Wakil Ketua tidak meneruskan ucapannya.
“Aku tahu, aku tahu!” Yang Mulia Ketua memotong ucapan wakilnya. “Kau ingin bersenang-senang dengan gadis ini, bukan?!”
“Jika Yang Mulia Ketua mengizinkan.” Jawab sang Wakil Ketua.
Di lantai, sepasang mata Wulan Srindi terbuka lebar dan berputar. Hanya itu gerakan yang bisa dilakukannya ketika mendengar semua percakapan dua manusia pocong itu. Dalam hati gadis ini berkata. “Jika salah satu dari kalian berbuat keji terhadapku, aku bersumpah membunuhmu!”
Manusia pocong bertubuh tinggi besar tertawa bergelak.
“Sekali ini permintaanmu aku kabulkan. Tapi dengan satu syarat!”
“Mohon Yang Mulia memberitahukan syarat itu.”
“Jika kau gagal mendapatkan Pendekar 212 Wiro Sableng dan tiga gadis cantik itu, kuburmu akan jadi satu dengan kubur gadis ini!”
“Syarat itu akan saya ingat baik-baik Yang Mulia Ketua.”
“Satu lagi!”
“Ada apa Yang Mulia?”
“Jangan kau terjebak keduakali! Mendapatkan perempuan bunting ternyata hanya tipuan belaka!”
“Saya mengerti Yang Mulia Ketua. Harap maafkan saya. Sekarang saya mohon diri membawa gadis ini!”
“Bawa kemana kau suka. Tapi ingat! Jangan sekali-kali mendekati Rumah Tanpa Dosa.”
Manusia pocong sang Wakil Ketua membungkuk berulang kali. Lalu dia mengangkat tubuh Wulan Srindi. Gadis itu dipanggulnya di bahu kiri. Dengan cepat dia tinggalkan ruangan itu.

***

5
KITA tinggalkan dulu Wulan Srindi yang bernasib malang, jatuh ke tangan orang-orang keji yang dikenal dengan panggilan manusia pocong. Kita kembali pada peristiwa yang menggegerkan yakni ditemuinya dua kuburan di puncak gunung Gede. Satu kubur berada dalam keadaan kosong, satunya berisi jenazah Puti Andini. Namun kemudian kubur inipun ternyata berada dalam keadaan kosong. (Baca serial Wiro Sableng Episode “Makam Ketiga” dan “Senandung Kematian) Kemana lenyapnya jenazah Puti Andini?

***

KAWASAN Gunung Gede diselimuti cuaca buruk. Sejak siang hujan turun deras. Deru angin terdengar menggidikan, apalagi sesekali diseling sambaran cahaya kilat disusul gelegar guntur.
Dalam keadaan seperti itu di lereng timur gunung seorang nenek kurus tinggi berpakaian hitam, lima tusuk konde perak menancap di batok kepala, berlari cepat menuju puncak. Nenek ini bukan lain adalah Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro Sableng. Nenek sakti yang namanya telah, dikenal dan menggetarkan delapan penjuru angin rimba persilatan tanah Jawa. Rupanya setelah sekian lama meninggalkan Gunung Gede hari itu dia tengah dalam perjalanan kembali menuju pondok kediamannya di puncak gunung. Namun selain cuaca buruk agaknya ada sesuatu yang tidak beres dengan diri si nenek. Ini kentara dari larinya yang tampak limbung.
Walau dia masih kelihatan mampu berlari dengan cepat, menembus hujan lebat, melesat dalam deru angin serta kabut, namun sesekali kelihatan Sinto Gendeng berhenti, tegak terbungkuk sambil pergunakan tongkat kayu bututnya untuk menopang diri dan terbatuk-batuk beberapa kali. Keangkeran pada wajahnya yang cekung tinggal kulit tipis pembalut muka, pandangan matanya yang selalu menggidikan kini seolah lenyap. Wajah yang nyaris menyerupai tengkorak kelihatan mengerenyit seperti menahan rasa sakit.
“Sial, penyakit apa yang menyerang diri tua keropos ini?! Mengapa badanku terasa panas dingin, nafas sesak dan batuk terus-terusan?!” Sinto Gendeng melangkah mendekati sebuah pohon, bersandar ke pohon itu lalu kembali batuk-batuk. Suara batuknya terdengar aneh. Si nenek menyeringai sendiri dan berkata. “Edan! Suara batukku seperti suara anjing mengaing. Hik… hik… hik!”
Sinto Gendeng raba keningnya, terasa panas. Dia pegang leher, juga panas. Lalu dia hembuskan nafasnya ke telapak tangan kiri.
“Semua panas! Sial, jangan-jangan aku terserang demam. Aku tidak boleh sakit! Tidak boleh! Aku harus segera sampai ke pondok!”
Sinto Gendeng luruskan tubuh, dia pandangi pakaiannya yang basah kuyup lalu memperhatikan berkeliling. Sesaat kemudian diusapnya kedua matanya.
“Tempat ini memang banyak kabutnya. Tapi aneh, mengapa pandanganku seperti tidak karuan? Apakah demam panas bisa membuat mata jadi lamur?!” Si nenek usap lagi dua matanya lalu geleng­gelengkan kepala. Kemudian terdengar mulutnya menggerendeng. “Hujan celaka! Petir jahanam! Guntur keparat! Apa kalian kira aku takut pada kalian?! Kalian tidak bisa menghentikan perjalananku! Aku harus kembali ke pondok!”
Sinto Gendeng putar tongkat kayunya tiga kali. Curahan hujan muncrat ke atas seperti dihantam tameng. Angin terbelah bersibak dan di atas pohon lusinan daun-daun basah melayang jatuh ke bawah. Si nenek tertawa panjang, ketuk-ketukkan ujung tongkat ke kepalanya lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. Namun gerakannya tidak secepat seperti biasanya. Ketika hujan reda dan sang surya muncul sore hari itu Sinto Gendeng masih sejarak ratusan tombak dari pondok kediamannya di puncak gunung. Dan lagi-lagi di satu tempat nenek ini terpaksa hentikan lari karena nafasnya kembali terasa sesak serta batuk kembali menyerang.
“Ba tuk sialan!” maki Sinto Gendeng lalu meludah ke tanah dan dudukkan tubuhnya di satu gundukan tanah di samping serumpunan semak belukar. Sambil duduk dia memeras ujung kain hitamnya yang basah kuyup. Selesai memeras tangannya di tempelkan ke hidung. Sinto Gendeng mengerenyit lalu tertawa sendiri. “Bau pesing….” katanya. “Pantas…. Seharusnya aku tidak boleh marah kalau Anak Setan itu atau siapa saja mengatakan aku nenek bau pesing. Kenyataannya memang begitu. Hik… hik… hik! Mungkin aku harus minum air hujan campur kencing perasan dari kain ini agar sakit panasku bisa sembuh! Hik… hik… hik.”
Suara tawa cekikikan Sinto Gendeng terhenti ketika dua telapak kakinya yang menjejak tanah terasa bergetar.
“Ada orang mendatangi ke arahku,” membatin Sinto Gendeng. “Langkahnya tidak terdengar tapi getarannya terasa pada dua telapak kakiku. Berarti dia bukan orang sembarangan.”
Perlahan-lahan nenek ini angkat kepalanya. Sepasang mata cekung Sinto Gendeng serta merta terpentang lebar ketika dia melihat satu sosok berdandanan aneh berjalan ke arahnya lalu berhenti sekitar sepuluh langkah di hadapannya.
Sosok itu mengenakan jubah putih menjela tanah hingga kakinya tidak kelihatan. Dua tangannya tertutup oleh lengan jubah panjang mengambai. Di sebelah atas, keseluruhan kepala termasuk wajah ditutup sehelai kain putih yang hanya dilubangi kecil pada bagian mata. Sosok yang berdiri di hadapan Sinto Gendeng ini rangkapkan dua tangan di depan dada hingga keadaannya menyerupai pocong hidup.
“Eh, apakah aku tengah bermimpi atau melihat pocong hidup sungguhan? Edan. Di gunung ini tidak ada kuburan. Mana mungkin ada pocong!” pikir Sinto Gendeng seraya mengusap sepasang matanya. “Atau mungkin…? Ah, mana bisa jadi! Aku yakin Malaikat Maut tampangnya tidak begini!”
Sinto Gendeng tekankan tongkatnya ke tanah. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Serangan demam panas membuat tubuhnya menggigil.
“Makhluk serba putih! Kau kesasar dari mana?!” Sinto Gendeng tiba-tiba menegur. Seperti biasa, walau dalam keadaan sakit suaranya tetap saja menyemprot garang.
Dua mata dibalik dua lobang kecil pada penutup kain putih kelihatan bergerak dan pancarkan sinar aneh.
“Aku Malaikat Maut yang datang untuk mengambil nyawamu!” Tiba-tiba makhluk serba putih keluarkan ucapan. Kain putih penutup kepalanya bergerak-gerak.
“Aaah!” Sinto Gendeng keluarkan seruan panjang. “Benar juga dugaanku! Kau Malaikat Maut rupanya. Tapi apakah Malaikat Maut ujudnya memang seperti dirimu? Yang aku lihat kau mirip-mirip pocong hidup!” habis berkata begitu Sinto Gendeng tertawa cekikikan.
“Hentikan tawamu! Sudah mau mati masih tidak tahu diri!” Sosok serba putih di hadapan Sinto Gendeng membentak sambil kaki kanan dihentakkan ke tanah.
Sinto Gendeng memang hentikan tawanya. Selain itu dia merasakan, hentakkan kaki kanan orang di depannya membuat tanah yang dipijaknya bergetar keras. Ada hawa aneh panas seperti mencucuk dan membakar masuk ke dalam dua telapak kakinya. Kalau dia tidak segera kerahkan tenaga dalam untuk bentengi diri, niscaya hawa aneh itu akan terus menjalar ganas ke dalam tubuhnya.
Sinto Gendeng orangnya suka jengkelan. Diserang orang secara licik dia jadi penasaran. “Malaikat jejadian, aku kembalikan seranganmu!” Sinto Gendeng alirkan tenaga dalam ke kaki kanan. Telapak kaki digeserkan ke tanah. Sesaat kemudian orang berjubah dan bertutup kepala putih di depan sana keluarkan suara kaget dan melompat hampir setengah tombak. Ujung jubahnya mengepulkan asap.
Sinto Gendeng tertawa cekikikan. “Makanya! Jadi orang jangan suka jahil! Rasakan!”
Begitu turun, di tanah orang berjubah dan bertutup kepala kibaskan bagian bawah jubahnya lalu berucap keras dan ketus. “Sinto Gendeng! Kau boleh punya seribu kehebatan! Semua itu tidak akan menolong dirimu selamat dari kematian!”
Maunya si nenek saat itu juga dia ingin menghantam orang dengan satu pukulan sakti. Namun dia masih bisa menahan diri karena ingin menyelidik lebih dalam sebab apa orang inginkan nyawanya. Sementara itu demam yang menyerang dirinya semakin bertambah parah hingga dua lutut Sinto Gendeng terasa ngilu dan goyah, tubuhnya kembali menggigil.
“Aku pikir-pikir, tapi tidak bisa terpikir! Aku ingat-ingat tapi tidak bisa teringat! Kenal dirimu aku tidak. Melihat perwujudanmu baru kali ini. Apakah ada silang sengketa antara kita di masa lalu? Aku yakin tidak. Adalah aneh kau ingin membunuhku!”
“Kematian memang aneh. Tidak, terduga dan datang begitu cepat, laksana kilat. Yang namanya kematian itu tidak ada waktu untuk bertanya jawab!”
“Hemm… begitu?” Sinto Gendeng menyeringai. “Kalau kau punya nyali harap buka kain putih penutup kepalamu! Melihat tampangmu siapa tahu aku bisa ingat sesuatu.”
“Permintaan orang yang mau mati tidak boleh ditolak. Aku memberi kesempatan padamu untuk melakukan sendiri!” Habis berkata itu orang berpakaian menyerupai pocong renggangkan dua kaki lalu ulurkan kepala ke arah si nenek.
“Yang takabur itu biasanya manusia! Tidak sangka hantu pocong jejadian juga bisa takabur!” Merasa ditantang Sinto Gendeng tambah penasaran. Entah kapan dia menggerakkan kaki dan tangannya tahu-tahu tongkat kayu di tangan si nenek menderu ke arah kepala yang tertutup kain putih. “Brett!”

***

6
MAKHLUK menyerupai pocong hidung berseru kaget dan melompat mundur. Dia raba kain putih penutup kepalanya dan dapatkan kain itu robek besar di bagian pipi kanan. Kalau terlambat dia menghindar niscaya kulit dan daging pipinya ikut dirobek ujung tongkat si nenek!
Sinto Gendeng tertawa mengekeh. “Pocong jejadian! Kau masih minta aku menyingkapkan kain penutup kepalamu?!”
Orang di hadapan Sinto Gendeng keluarkan suara mendengus. Tiba-tiba dua lutut menekuk. Bersamaan dengan gerakan tubuh sedikit membungkuk, dua tangannya melesat ke depan, membuat gerakan seperti hendak memagut namun berbarengan dengan itu dua gelombang angin dahsyat menderu menghantam ke arah bagian atas tubuh Sinto Gendeng.
Selama hidupnya Sinto Gendeng telah banyak menyaksikan dan menghadapi serangan lawan berupa pukulan. Namun serangan seperti yang dilancarkan manusia pocong itu baru sekali ini dilihatnya. Dua hantaman angin dahsyat tidak menghantam lurus ke depan, tetapi sedikit melengkung seperti dua tangan yang tidak kelihatan membuat gerakan mencengkeram lalu naik ke atas mengarah kepalanya.
Dalam keadaan tubuh dilanda demam panas begitu rupa si nenek untung masih bisa pergunakan otak. Untuk selamatkan diri dia tidak mengelak ke samping atau melompat mundur. Dua kakinya langsung ditekuk. Sinto Gendeng jatuhkan diri ke tanah.
Dua rangkum gelombang angin menderu ganas di atas kepala Sinto Gendeng. Dua dari lima tusuk konde perak yang menancap di kepalanya tersapu mental. Di belakang sana terdengar suara berderak hancurnya batang pohon besar lalu tumbang bergemuruh.
Rahang Sinto Gendeng menggembung. Sepasang matanya yang cekung seperti hendak melompat keluar. Begitu terduduk di tanah nenek ini hantamkan tangan kanan ke depan.
Selarik sinar putih panas dan menyilaukan berkiblat. Manusia pocong berseru kaget. “Pukulan Sinar Matahari!” teriaknya. Sambil melompat ke kanan, di balik lengan jubah yang panjang mengambai orang ini gerakkan tangan kirinya. Terdengar suara benda bergeser halus disusul suara deru satu gelombang angin luar biasa deras disertai cahaya berbagai warna.
Dua kekuatan dahsyat mengandung hawa sakti saling bentrokan, menimbulkan suara bedentum keras. Tanah bergetar, pepohonan berderak, dedaunan jatuh luruh.
Cahaya putih pukulan maut Sinar Matahari terpental ke samping namun masih sempat menyerempet sosok manusia pocong yang telah berusaha melompat selamatkan diri.
Sebaliknya walaupun angin pukulan lawan yang menebar berbagai warna dapat dibuat buyar oleh pukulan Sinar Matahari, namun tak urung laksana dihantam angin puting beliung tubuh kurus kering Sinto Gendeng terangkat ke atas, berputar di udara lalu terlempar jauh dan jatuh melintang di cabang pohon di samping pohon yang tadi tumbang. Untuk beberapa lamanya nenek ini tergontai-gontai di cabang pohon itu. Dari mulutnya bukan cuma merocos keluar kutuk serapah tapi juga ada lelehan darah. Mukanya yang hitam kelihatan semakin hitam. Dua matanya menatap berkilat ke arah manusia pocong di bawah sana yang terpental lalu jatuh terjengkang di tanah. Bagian kiri jubahnya sampai ke lengan kelihatan hangus. Luar biasanya tubuhnya tidak sampai cedera.
Dengan cepat orang ini bangkit berdiri. Melihat Sinto Gendeng melintang tak berdaya di atas cabang pohon dia segera angkat tangan kiri yang memegang sebuah benda terlindung di balik lengan jubahnya yang gombrong. Ketika dia siap hendak menghantamkan tangan itu ke arah Sinto Gendeng tiba-tiba suitan keras merobek udara, dua kali berturut-turut.
Mendengar suara suitan itu manusia pocong terpaksa hentikan gerakan. Walau hatinya masih geram namun dia tidak berani meneruskan niat. Dengan cepat dia memutar tubuh lalu berkelebat ke arah datangnya suara suitan tadi.
Di bagian lereng yang dipenuhi pepohonan rapat dan belukar lebat, seorang tinggi besar berpakaian sama dengan si manusia pocong berdiri menunggu. Dalam gendongannya ada sosok seorang gadis berpakaian biru berbunga-bunga kuning. Selain berselomotan tanah, pakaian ini bernoda darah dan tak karuan rupa hingga keadaan si gadis nyaris kelihatan setengah telanjang. Pada pipi sebelah kiri ada luka memanjang, rambut hitam tergerai hampir menyentuh tanah. Tidak dapat dipastikan apakah gadis ini berada dalam keadaan pingsan atau sudah tidak bernyawa lagi.
Sampai di hadapan manusia pocong yang menggendong gadis, manusia pocong pertama bungkukkan badan memberi hormat lalu cepat bertanya.
“Yang Mulia Ketua, ada apakah kau memberi tanda?”
Manusia pocong yang dipanggil dengan sebutan Yang Mulia Ketua tidak segera menjawab. Sesaat dia perhatikan jubah hangus serta kain penutup kepala yang robek.
“Apa yang terjadi dengan dirimu?”
“Saya berhadapan dengan Sinto Gendeng….”
“Memalukan, ilmumu begitu tinggi bahkan membekal satu senjata sakti mandraguna. Nenek butut itu ternyata membuatmu acak-acakan tak karuan begini rupa. Masih untung nyawamu tidak dibuatnya sembrawutan!”
“Sebenarnya tadi saya sudah siap membunuh nenek itu. Tapi Yang Mulia memberi tanda dengan suitan….”
“Ada orang datang. Kita harus segera tinggalkan tempat ini,” menjelaskan sang Ketua.
Dalam hati manusia pocong satunya bertanya-tanya. Apakah ada sesuatu yang luar biasa dengan orang yang datang itu hingga sang Ketua mengajaknya buru-buru meninggalkan tempat itu?
“Yang Mulia, saya masih punya kesempatan membunuh Sinto Gendeng.”
“Lupakan dulu tua bangka satu itu. Ada pekerjaan lebih penting. Lain waktu nyawanya tak bakal lepas dari tangan kita. Lagi pula sesuai rencana kita sudah mendapatkan gadis ini….”
“Apakah dia masih hidup. Bukankah sebelumnya dia sudah dikubur…?”
“Semua sudah aku lakukan sesuai apa yang ada dalam Aksara Batu Bernyawa. Lagi pula sang pemilik Aksara sudah memberi petunjuk. Bagaimana keadaannya akan kita periksa nanti.”
“Satu lagi Yang Mulia Ketua. Apakah Pedang Naga Suci 212 ada padanya?”
“Aku belum sempat memeriksa. Dengar, kita akan melakukan perjalanan cukup jauh. Padahal kita harus sampat di tujuan sebelum purnama mendatang. Kita harus tinggalkan tempat ini sekarang juga. Lagi pula seperti kataku tadi, ada orang muncul di tempat ini. Kita harus bertindak cepat. Kalau sampai salah waktu terlambat bertindak, bisa-bisa semua urusan jadi kapiran! Ikuti aku!”
Manusia pocong yang menggendong gadis dan disebut dengan panggilan Yang Mulia Ketua tinggalkan tempat itu. Manusia pocong satunya tidak banyak bicara lagi segera mengikuti Sang Ketua.

***

SINTO Gendeng masih terbelintang di atas cabang pohon dan masih terus memaki panjang pendek ketika tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat. Si nenek mencium bau sesuatu lalu tubuhnya terasa dibawa melayang turun. Di lain saat dia sudah duduk di tanah, tersandar ke batang pohon.
“Eh?!” Si nenek mengerenyit. Matanya diusap beberapa kali. “Aku mencium bau harumnya tuak. Aku melihat samar-samar tampang tua berjanggut putih sampai ke dada. Bagaimana aku bisa yakin yang ada di depanku ini memang tua bangka konyol berjuluk Dewa Tuak!”
Kakek berambut, berjanggut dan berkumis putih mengenakan pakaian kain selempang biru yang duduk bersila di depan Sinto Gendeng keluarkan suara tawa mengekeh. Di bahunya dia memanggul dua buah bumbung bambu berisi tuak. Salah satu bumbung diturunkannya lalu gluk… gluk… gluk. Dia teguk tuak dalam bambu sampai minuman yang menebar bau harum itu berlelehan di dagu dan lehernya.
“Sinto, penciumanmu rupanya masih tajam. Matamu juga masih awas! Ha… ha… ha…. Syukur kau masih mengenali diriku!” Si kakek tertawa bergelak, seka lelehan tuak di mulut dan dagunya. “Sinto, ada satu hal yang hendak aku tanyakan.”
“Dalam keadaan seperti ini bukan saatnya bertanya jawab. Aku ingin kembali ke pondokku di puncak gunung, Antarkan aku ke sana. nanti kita ngobrol sampai tujuh hari tujuh malam! Tapi awas, asal kau jangan lagi-lagi membicarakan soal perjodohan antara muridku Si Anak Setan Wiro Sableng dengan muridmu si Anggini itu!”
Dewa Tuak, salah seorang dedengkot rimba persilatan tanah Jawa tertawa mengekeh mendengar kata-kata Sinto Gendeng itu. “Sinto, dengar. Waktu tadi aku memelukmu lalu membawamu turun dari cabang pohon, aku merasakan tubuhmu hangat sekali. Apakah itu berarti ada hasrat yang menyala dalam dirimu terhadapku?”
Sepasang mata Sinto Gendeng membeliak besar. Mulutnya yang perot mencong ke kiri lalu menyemburlah caci makinya.
“Tua bangka sinting tidak tahu diri! Sudah bau tanah mulutmu masih saja bisa bicara lancang! Kau ini mengigau atau mabok?!”
Dewa Tuak kembali tertawa mendengar dampratan si nenek. Sambil usap-usap kumis putihnya dia berkata. “Aku tidak ngigau, juga belum mabok! Aku hanya mengatakan apa adanya. Tubuhmu terasa hangat. Padahal biasanya dingin dan bau pesing….”
“Kakek setan! Saat ini aku tengah diserang demam! Siapa yang tidak bakal panas tubuhnya kalau sedang demam?!”
“Ah, maafkan kalau begitu. Aku mengira yang tidak-tidak karena mungkin keliwat berharap yang tidak-tidak! Ha… ha… ha! Sobatku tua, kalau kau memang sedang demam panas, bukan mendadak meriang karena terangsang oleh pelukanku, silahkan kau minum beberapa teguk tuak kayangan. Dalam waktu singkat sakitmu pasti sembuh.”
Si nenek pelototkan mata.
“Eh, kenapa kau melotot?”
“Aku tahu apa yang ada dalam otak dan hatimu. Semua kotor!”
“Walah biyungl Apa maksudmu?” tanya Dewa Tuak sambil garuk kepala.
“Kau hendak membuat aku mabuk. Kalau aku mabuk dan tidak sadar diri, kau mau. Ayo… kau mau apakan diriku?! Pasti kau mau berbuat yang bukan-bukan!”
Dewa Tuak balik menonikkan mata. Tapi sesaat kemudian kakek ini tertawa gelak-gelak.
“Otak dan hatiku tidak sekotor itu! Kita sudah saling kenal dan bersahabat puluhan tabun. Malah hampir-hampir saling jadi besan. Sayang kau tidak mau. Jalan pikiranmu rupanya suka membayangkan yang bukan-bukan! Sudah kalau kau tidak mau meneguk tuakku siapa memaksa. Aku mau tanya satu lagi. Apa yang membuatmu sampai enak-enakan tiduran di atas cabang pohon?”
“Gila! Siapa yang tiduran di cabang pohon. Aku bertemu makhluk aneh. Berdandanan seperti pocong hidup. Mengakunya Malaikat Maut dan mau membunuh aku! Ketika aku hantam dengan pukulan Sinar Matahari dia membalas dengan satu pukulan dahsyat. Aku hanya mampu menghanguskan jubah putihnya tapi aku sendiri dibuatnya mencelat hingga menyangsang di cabang pohon! Sial! Kalau saja aku tidak sakit, sudah kubuat lumat bangsat itu. Demam panas membuat aku tidak mampu mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti secara penuh.”
“Walau katamu kau sakit, sulit aku percaya kalau ada orang yang mampu membuatmu begitu rupa. Dua tusuk kondemu sampai-sampai ikut amblas. Sehebat apa ilmu kesaktiannya?” Ujar Dewa Tuak sambil goleng-goleng kepala.
“Dari ujud pakaiannya aku menaruh kira bangsat itu pasti dari golongan hitam. Dia menyembunyikan wajah di balik kain putih berbentuk pocong. Dia memiliki pukulan dahsyat yang menebar berbagai warna. Pukulan itu yang membuat aku mental sampai menyangsang di cabang pohon celaka sana!”
“Kejadian ini perlu diselidiki dan kau harap berhati-hati Sinto.”
“Aku bisa menjaga diri, tidak perlu nasehat tukang mabok sepertimu. Selama ini aku dengar bukankah kau memencilkan diri di pantai selatan?”
Dewa Tuak menyeringai. “Lama-lama aku bosan juga menyendiri. Namanya hidup di dunia kupikir tolol kalau aku memencilkan diri, buta segala apa yang terjadi di rimba persilatan. Sekarang dengar ceritaku. Barusan aku naik ke puncak gunung ini….”
“Mencari aku?!”
“Huh, perlu apa mencari nenek peot macammu!”
“Sialan!” maki Sinto Gendeng.
“Aku mencari muridku Anggini. Sudah lama aku tidak melihatnya. Terakhir sekali dia kuketahui pergi ke Pulau Andalas bersama seorang pemuda bernama Panji. Kabarnya berguru dengan tokoh silat di Danau Maninjau bernama Nyanyuk Amber. Tapi beberapa waktu belakangan, kusirap kabar anak itu berada di Tanah Jawa ini. Berkeliaran bersama muridmu dan dua gadis cantik sahabatnya. Kemudian aku dengar kabar lain bahwa mereka naik ke puncak gunung ini. Aku segera berangkat ke sini. Tapi kau tahu, apa yang aku temukan dan lihat di puncak gunung tempat kediamanmu?”
“Mana aku bisa menduga,” jawab Sinto Gendeng. “Jangan-jangan kau mengacak-acak pondokku. Tidur-tiduran di tempai tidurku!”
“Tempat tidur butut bau pesing! Kambingpun lidak mau tidur di situ!” tukas Dewa Tuak.
“Sialan kau!” maki Sinto Gendeng.
“Aku tidak menemui muridku Anggini.” Dewa Tuak meneruskan ceritanya. “Juga tidak menemui gadis teman-temannya. Juga tidak ada muridmu si Wiro Sableng itu, yang kutemui adalah dua buah makam….”
“Makam? Maksudmu kuburan?!” tanya Sinto Gendeng. Dua matanya yang cekung kembali mendelik. “Kalau ada kuburan di puncak gunung sana, berarti yang tadi bertempur dengan aku jangan­jangan memang setan pocong benaran!”

***

7
DEWA Tuak sunggingkan senyum. “Aku menemukan dua buah makam. Dua buah kuburan. Tapi dua makam itu dalam keadaan kosong! Di dalamnya hanya ada genangan air hujan!”
“Aneh!” ujar Sinto Gendeng sambil menatap Dewa Tuak dengan pandangan tidak percaya.
“Ada yang lebih aneh lagi,” ujar si kakek. Dia meneguk tuaknya beberapa kali baru meneruskah. “Di belakang salah satu kuburan itu ada sebuah tiang kayu. Mungkin sekali sebelumnya ada seseorang diikat pada tiang itu. Lalu ini keanehan satu lagi. Aku menganggap bukannya aneh tapi gila! Gila besar! Di makam ke dua menancap satu papan nisan. Di atas papan nisan itu tertulis Di sini Beristirahat Untuk Selama­lamanya Pendekar 212 Wiro Sableng.”
“Hah?! Apa katamu?!” tanya Sinto Gendeng. Saking kagetnya tubuhnya sampai terlompat bangun.
Dewa Tuak mengulangi ucapannya yang terakhir. “Di sini Beristirahat Untuk Selama-lamanya Pendekar 212 Wiro Sableng.”
“Tidak mungkin! Tidak bisa jadi! Muridku belum mati! Aku yakin betul!” Sinto Gendeng berkata setengah berteriak.
“Aku juga sependapat denganmu Sinto. Seperti kataku tadi, dua kubur itu kosong. Tidak ada mayat, tidak ada jenazah di dalamnya.”
“Lalu siapa yang punya pekerjaan membuat dua buah kubur begitu rupa?”
“Siapa yang bisa menerka? Siapa yang tahu apa sebenarnya telah terjadi!” ujar Dewa Tuak pula. “Tapi biar aku berpikir sebentar.” Dan caranya Dewa Tuak berpikir adalah dengan meneguk tuak harum dalam bumbung bambu. Setelah mukanya menjadi merah dan mata berputar liar, kakek ini baru berkata. “Menurut jalan pikiranku, jangan-jangan makhluk berbentuk pocong yang menyerangmu itulah yang telah melakukan semua ini.”
“Bisa jadi! Kurang ajar! Aku harus segera berangkat ke sana! Kau ikut aku!”
“Maaf Sinto, aku tidak bisa ikut bersamamu. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tengah mencari muridku. Aku khawatir anak itu tengah dalam bahaya….”
“Kau tidak mau ikut aku ya sudah. Tapi….”
“Tapi apa Sinto?”
“Aku minta tuakmu!” Tidak menunggu jawaban orang Sinto Gendeng ambil bumbung bambu yang dipegang si kakek lalu gluk, gluk, gluk dia teguk tuak harum itu hingga mukanya yang hitam jadi bertambah hitam dan dua matanya kelihatan merah.
“Terima kasih!” Sinto Gendeng serahkan kembali bumbung tuak. Lalu melangkah pergi. Tapi baru tiga langkah menindak tiba-tiba si nenek pegang perutnya sebelah bawah.
“Dewa Tuak! Sialan kau!” Dari mulut Sinto Gendeng keluar makian.
“Eh, ada apa?” tanya Dewa Tuak heran.
“Tuak gilamu itu!”
“Memangnya ada apa dengan tuakku!”
“Setan! Aku jadi kebelet kencing!” Teriak Sinto Gendeng. Lalu terbirit-birit, sambil singsingkan kain, si nenek lari ke balik semak belukar.
Dewa Tuak goleng-goleng kepala. Ketika dia mendengar suara sesuatu mengucur di balik semak belukar kakek ini tak dapat menahan ketawanya.
“Sinto, apa yang kau goreng di balik semak belukar! Riuh sekali kedengarannya! Ha… ha… ha!”

***

DUA kaki Sinto Gendeng seperti menancap di tanah ketika dia menyaksikan kebenaran cerita Dewa Tuak. Tak jauh dari pondok kediamannya ditemuinya dua buah lobang kubur. Tanah merah bertebaran di mana-mana. Lobang kubur tergenang air.
Saat itu Sinto Gendeng merasa tubuhnya lebih baik dari sebelumnya. Hawa panas jauh berkurang. Mungkin ini kemujaraban tuak kayangan Dewa Tuak yang tadi diteguknya. Sambil memperhatikan ke dalam lubang kubur si nenek berkata dalam hati.
“Kelihatannya dua kubur ini seperti bekas digali orang. Kalau tidak ada jenazah di dalamnya berarti ada yang menggali dan mencuri. Tapi apa perlunya orang mencuri mayat? Lalu siapa yang dimakamkan di tempat ini? Muridku? Lalu satunya? Siapa yang mengubur mereka? Ini bukan pekerjaan satu dua orang….”
Sinto Gendeng perhatikan tanah di sekitar dua makam. Juga tanah di dekat pondok kediamannya. Walau sudah agak samar-samar karena terguyur air hujan namun dia masih bisa melihat bekas jejak-jejak kaki orang banyak sekali.
“Aneh, manjur juga tuak kakek sialan itu. Tubuhku terasa lebih enak. Mataku kini bisa melihat jelas. Jejak-jejak kaki itu….” Kembali Sinto Gendeng pandangi dua lubang kubur yang tergenang air. “Harus kupastikan kuburan ini benar-benar kosong,” kata si nenek dalam hati. Lalu dia angkat dua tangannya, telapak dikembangkan, diarahkan ke dalam lobang. Hawa panas menderu. Terjadilah hal luar biasa. Genangan air di dalam dua lobang kubur kelihatan bergoyang keras. Didahului suara seperti mendidih genangan air itu muncrat ke atas bersama lapisan tanah. Sesaat kemudian dua lobang kubur berada dalam keadaan kering!
“Kosong…. Benar-benar kosong,” kata Sinto Gendeng. “Apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini.” Si nenek memperhatikan. Lobang kubur yang di belakangnya ada tiang lebih dalam dari lobang kubur yang ada papan nisan. “Tidak mungkin kuburan dibuat sedangkal ini….” Sinto Gendeng ingat pada manusia pocong yang tadi ditemui dan menyerangnya. “Kalau memang ada jenazah dalam dua liang kubur ini, tidak mungkin dia yang mencuri. Pakaiannya putih bersih, tidak berlepotan tanah.”
Tidak dapat memecahkan teka-teki dua makam aneh, Sinto Gendang akhirnya melangkah menuju pondok. Pintu depan dan pintu belakang dibiarkannya terbuka lebar hingga cahaya masuk menerangi bagian dalam pondok. Lama dia berdiri di tengah ruangan memperhatikan sebelum duduk di tepi balai-balai kayu beralaskan tikar butut. Sambil duduk kembali dia memandang seantero pondok. Di samping kiri ada meja kayu dan sebuah kursi reot. Di sebelah kanan dekat pintu belakang terletak sebuah gentong besar. Di atas penutup gentong ada sebuah gayung terbuat dari tempurung kelapa. Si nenek kerenyitkan kening ketika melihat gagang gayung. Ada bekas-bekas tanah pada ujung gagang gayung. Perlahan-lahan Sinto Gendeng bangkit berdiri, melangkah mendekati gentong. Gayung diambil, diperhatikan.
“Sekian lama gayung ini tidak ada yang menyentuh. Kalau hanya dipakai untuk menciduk air dalam gentong, bagaimana bisa ada tanah menempel di ujung gagangnya? Ada seseorang mempergunakannya untuk….” Ucapan dalam hati Sinto Gendeng terputus ketika matanya melihat pada badan gentong yang tertutup debu tebal ada bekas-bekas tangan. Dada si nenek berdebar. Wajahnya yang seperti tengkorak hidup berubah. Gayung dicampakkannya ke lantai pondok. Di dalam gentong terdapat air sampai setengahnya. Gentong dan air beratnya hampir dua ratus kati. Dengan dua tangannya yang kurus tapi memiliki tenaga luar biasa Sinto Gendeng geser gentong besar itu ke samping kiri. Debaran pada dadanya semakin keras ketika melihat tanah di bawah gentong ada tanda-tanda bekas digali. Si nenek berlutut di lantai pondok. Dengan dua tangannya dia menggali tanah sampai dia menemukan sebuah peti kayu terbuat dari kayu besi hitam. Dengan cepat Sinto Gendeng keluarkan peti kayu itu. Ketika penutup peti dibuka si nenek terperangah, keluarkan seruan tertahan dan duduk terhenyak di tanah. Peti itu kosong!
“Gusti Allah! Kitab itu…,” desis Sinto Gendeng dengan suara bergetar. “Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan. Siapa yang begitu kurang ajar berani mencurinya!” Sinto Gendeng pukul-pukul kepalanya sendiri. Di puncak kemarahannya nenek ini tendangkan kaki kanannya. Gentong besar terbuat dari tanah hancur berantakan. Air membasahi lantai pondok. Untuk beberapa lamanya si nenek masih terduduk, tidak perdulikan kain dan tubuhnya sebelah bawah yang ikut kebasahan. (Peristiwa lenyapnya Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan dapat pembaca ikuti dalam serial Wiro Sableng berjudul Senandung Kematian. Serial ini merupakan Episode terakhir dari enam rangkaian Episode masing-masing berjudul Kembali Ke Tanah Jawa, Tiga Makam Setan, Roh Dalam Keraton, Gondoruwo Patah Hati dan Makam Ketiga. Sedang mengenai kisah asal muasalnya kitab tersebut dapat dibaca dalam serial Wiro Sableng berjudul Banjir Darah Di Tambun Tulang.)
Dalam keadaan terduduk otak Sinto Gendeng bekerja. Di tanah sekitar halaman pondok dan dekat dua kuburan terlihat banyak jejak-jejak kaki. Dewa Tuak dipastikan datang setelah orang-orang itu pergi karena dia sama sekali tidak menceritakan kalau bertemu dengan orang lain.
“Mungkinkah kakek sialan itu yang mencuri Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan? Kalau bukan dia yang jahil mengapa dia tidak mau aku ajak naik ke puncak sini?” Sinto Gendengi menghela nafas panjang. “Sulit bisa kupercaya. Manusia pocong yang menyerangku…. Mungkin dia jahanam yang mencuri kitab itu. Tapi bagaimana dia bisa tahu kitab itu ada di bawah gentong? Lagi pula, jika dia sudah dapatkan kitab, mengapa masih mau membuang waktu hendak membunuhku? Gila! Kalau bertermu akan kucincang bangsat pencuri kitab itu!”
Dalam alur cerita selanjutnya dikisahkan Sinto Gendeng menemui Wiro Sableng ketika sang murid yang saat itu bersama tiga gadis cantik (Ratu Duyung, Bidadari Angin Timur dan Anggini) hampir dicelakai Nyi Ragil Tawangatu (Si Manis Penyebar Maut) yang ternyata adalah musuh bebuyutan Sinto Gendeng. Nyi Ragil dibantu Si Muka Bangkai. Karena tidak sanggup menghadapi Sinto Gendeng, Nyi Ragil dan Si Muka Bangkai akhirnya melarikan diri.
Kepada Wiro, Sinto Gendeng menceritakan apa yang terjadi di puncak Gunung Gede. Si nenek mengatakan dia menemui dua buah kuburan kosong. Wiro merasa heran karena hanya satu kubur yang kosong sedang satunya berisi jenazah Puti Andini. Dari keterangan yang saling berbeda itu ditarik kesimpulan bahwa jenazah Puti Andini telah dicuri dan dilarikan orang. Siapa orangnya tak ada yang bisa menduga.
Sinto Gendeng juga menceritakan hilangnya Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan. Entah bagaimana mungkin terlupa si nenek tidak menceritakan pertemuannya dengan manusia pocong dan Dewa Tuak. (Untuk jelasnya kisah ini silahkan dibaca serial Wiro Sableng berjudul Tahta Janda Berdarah, yang merupakan Episode ke-4 dari rangkaian Episode Badik Sumpah Darah)

***

8
MENJELANG pertengahan malam langit tampak semakin kelam, udara terasa bertambah dingin mencucuk kulit menembus tulang. Awan hitam bergerak ke arah timur. Perlahan-lahan bulan sabit malam ke tiga muncul di langit. Cahaya temaram bulan sabit ditambah kelap-kelip bintang yang bertaburan tidak sanggup mengusir kegelapan.
Jauh di utara Telaga Sarangan, terdapat satu kawasan bukit batu yang sunyi dimana hanya suara deru angin yang terdengar menggidikkan dan sesekali ada suara panjang raungan anjing menambah dinginnya tengkuk dan merindingnya bulu roma.
Beberapa belas tombak di sebelah utara, di antara gundukan-gundukan batu, diselubungi kegelapan di luar dan sebelah dalam, ada satu bangunan tua berbentuk panggung rendah, berdinding kayu lapuk. Atap terbuat dari ijuk hitam tebal menyerupai tanduk kerbau. Seluruh dinding merupakan pintu-pintu dalam keadaan tertutup, masing-masing dua belas pintu setiap sisi. Berarti empat puluh delapan pintu pada seluruh dinding. Karena tidak terpelihara di hampir setiap bagian bawah atap kelihatan sarang labah-labah. Di barisan pintu depan yang menghadap ke arah selatan, di bawah atap tergantung sebuah lampion kain putih dalam keadaan tidak menyala. Kain lampion selain diselimuti debu juga dipenuhi sarang laba-laba.
Tak jauh dari bangunan panggung itu, terdapat satu pedataran kecil yang di sana sini ditebari batu­batu hitam berbagai bentuk dan ukuran.
Enam orang perempuan muda dalam keadaan hamil, sama mengenakan seragam jubah luar warna merah, berdiri di samping sebuah batu besar rata berbentuk empat persegi panjang. Mereka berdiri tak bergerak, juga tidak bersuara. Bola-bola mata mereka memandang lurus-lurus kosong dan hampa.
Di ujung batu sebelah kiri, di atas satu batu berbentuk tiang tinggi sepinggang, terdapat sebuah pendupaan besar yang apinya dalam keadaan menyala. Di ujung sebelah kanan dari batu menancap ke tanah sebuah obor yang nyala apinya bergoyang-goyang tertiup angin, membuat bayang-bayang seram di beberapa tempat.
Di seberang lain batu persegi panjang berdiri enam sosok berpakaian serba putih, mulai dari kain penutup kepala sampai ke jubah. Manusia-manusia pocong. Seperti enam gadis, mereka tegak tak bergerak. Namun pandangan mata mereka yang tersembunyi di balik dua lobang kecil kelihatan tajam dan sesekali bergerak ke arah kiri dimana sejak tadi mereka menunggu kemunculan seseorang.
Di atas batu terbaring menelentang satu sosok di tutup kain hitam mulai dari kaki sampai sebatas leher di bawah dagu. Di ujung kain hitam kelihatan satu kepala berambut panjang hitam, tergerai menebar, sengaja diatur berbentuk kipas di atas batu. Kepala ini memiliki satu wajah seorang gadis dalam keadaan mata tertutup. Kecantikan yang dimilikinya ditelan oleh kepucatan seolah tidak ada lagi darah yang mengalir di wajah itu. Di pipi kiri melintang bekas luka yang belum lama mengering. Jika diperhatikan lama-lama raut wajah itu kelihatan menggidikkan. Apa lagi cahaya api obor yang bergoyang-goyang dan sesekali menyapu wajah si gadis hingga wajah yang pucat pasi itu tampak tambah menyeramkan.
Di langit, bulan sabit hari ke tiga kembali lenyap tersembunyi di balik saputan awan hitam. Di kejauhan lapat-lapat terdengar kembali raungan anjing, panjang menyayat.
Mungkin tidak tahan berdiam diri sekian lama, perempuan hamil berjubah merah di ujung kanan berbisik pada teman di sebelahnya yang juga hamil. Ketika bertanya raut wajahnya dan juga pandangan mata tetap saja kosong.
“Mengapa kita berdiri di sini? Siapa yang kita tunggu? Siapa gadis di atas batu ini?”
Perempuan yang ditanya menjawab dengan suara datar perlahan.
“Kita bahkan tidak tahu siapa kita. Bagaimana mungkin menanyakan perihal lain dan orang lain.”
Perempuan yang barusan bertanya rupanya masih belum puas. Dia berkata. “Rumah tua di depan sana. Yang atapnya berbentuk tanduk kerbau. Kau tahu bangunan apa itu adanya?”
“Sahabatku,” jawab perempuan hamil yang barusan ditanya untuk kedua kali. “Di tempat seperti ini tidak ada satu pertanyaanku di antara kita yang bisa dijawab. Malah setiap ucapan bisa mendatangkan malapetaka. Berhentilah membuka mulut dan bertanya.”
Mendengar ucapan orang, perempuan hamil yang tadi bertanya menarik nafas dalam. Sesaat dia memandang kosong ke arah rumah panggung di kejauhan, lalu kembali matanya memperhatikan sosok gadis berwajah pucat di atas batu persegi panjang. Melihat gadis ini lagi-lagi mulutnya secara tak sadar bertanya.
“Dia, gadis berambut panjang bermuka pucat ini. Apakah dalam keadaan hidup atau sudah mati?”
Perempuan hamil yang lagi-lagi ditanya agaknya kesal dan menjawab. “Tutup mulutmu, sebelum ada orang lain yang. menutupnya!”
Sunyi dan dingin. Nyala api obor membuat bayang-bayang aneh di beberapa tempat. Bersamaan dengan itu kembali terdengar suara lolongan anjing di kejauhan, tiba-tiba dari balik sebuah batu besar, seorang berpakaian seperti pocong hidup bergerak keluar, melangkah ke arah dua belas orang yang berdiri di depan batu persegi empat.
Enam manusia pocong disamping batu segera mengambil sikap tegak dan palingkan kepala ke arah manusia pocong yang melangkah mendatangi.
“Berikan hormat pada wakil Ketua!” Salah seorang manusia pocong berseru. Lalu diikuti oleh lima temannya dan enam perempuan hamil mereka semua membungkuk, memberi hormat pada manusia pocong yang barusan datang dan disebut sebagai Wakil Ketua.
Di depan pendupaan besar sang Wakil Ketua berhenti. Tangan kanan diulurkan ke atas pendupaan, menebar sejenis bubuk. Sesaat kemudian arang menyala di dalam pendupaan kepulkan asap tipis. Lalu bau harum menebar ke seantero tempat, membuat suasana di tempat itu jadi tambah mencekam. Selesai menebar setanggi ke dalam pendupaan, manusia pocong melangkah ke samping kiri. Bersamaan dengan itu dia angkat tangan kanannya. Sambil membungkuk dia ayunkan tangan ke bawah. Entah dari mana datangnya sebuah benda melesat di udara lalu menukik deras dan menancap di batu persegi empat, sejengkal di atas kepala gadis berwajah pucat. Benda ini ternyata sebuah bendera kecil berbentuk segi tiga, basah oleh cairan berwarna merah. Bendera darah.
Begitu bendera menancap di batu, saat itu pula dari balik batu besar dari mana sang Wakil Ketua datang, kini muncul satu sosok tinggi besar manusia pocong.
Dua belas orang di sisi kiri kanan batu persegi serentak dongakkan kepala dan secara berbarengan keluarkan ucapan keras.
“Salam hormat untuk Yang Mulia Ketua! Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!”
Sehabis berseru, dua belas orang ini lalu membungkuk dalam-dalam ke arah manusia pocong tinggi besar. Manusia pocong yang dipanggil dengan sebutan Wakil Ketua perlahan-lahan luruskan tubuh kembali.
Saat itulah dari arah rumah panggung ada suara tangisan bayi, terdengar keras di dalam kesunyian. Dua belas orang di kedua sisi batu persegi empat, cepat luruskan tubuh masing-masing lalu sama palingkan kepala ke arah rumah panggung. Enam manusia pocong memandang sambil bertanya-tanya dalam hati. Enam perempuan hamil juga ikut memandang tapi pandangan, pikiran serta hati mereka kosong. Mendadak suara tangis bayi lenyap. Kesunyian menggantung di bawah deru angin yang terasa semakin dingin menyayat kulit.
Tiba-tiba salah satu dari dua belas pintu yang ada di bagian depan rumah panggung terbuka. Di sebelah dalam kelihatan satu sosok berdiri, tak jelas siapa adanya karena diselimuti kegelapan. Manusia pocong tinggi besar berikan isyarat dengan goyangan kepala pada sang Wakil Ketua. Manusia pocong ini lalu palingkan kepala pada enam orang manusia pocong yang berdiri di samping kiri batu besar dan berkata.
“Enam Satria Barisan Manusia Pocong kalian semua boleh pergi. Kembali ke kamar masing-masing dan jangan berani keluar sebelum diperintahkan!”
Enam orang manusia pocong dongakkan kepala sambil keluarkan ucapan. “Hanya perintah Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Ketua seorang yang wajib dicintai.”
Keenam orang itu membungkuk dalam-dalam lalu tinggalkan tempat tersebut. Satu persatu mereka melangkah ke balik sebuah batu besar. Di balik batu ini ada sebuah lorong. Ke dalam lorong inilah mereka masuk dan menghilang.
Setelah enam orang manusia pocong pergi, Yang Mulia Ketua berpaling pada enam perempuan hamil di samping batu pembaringan.
“Kekasihku, agar tidak ada yang terlupa, agar tidak ada yang kesalahan aku ingin bertanya. Apakah kalian telah memandikan gadis di atas batu pembaringan dengan kembang tujuh rupa?”
Enam perempuan hamil yang dipanggil dengan sebutan kekasihku membungkukkan tubuh lalu berbarangan menjawab.
“Hal itu telah kami lakukan. Kembang tujuh rupa dan air suci telah dimandikan. Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!”
“Bagus, kalau begitu kalian berenam boleh pergi. Masuk ke kamar masing-masing, jangan keluar sebelum diperintahkan. Jika berkesempatan besok malam aku akan menemui kalian satu persatu.”
Enam perempuan hamil yang rata-rata masih muda dan berwajah cantik membungkuk dalam lalu keluarkan ucapan. “Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai dan dilayani!”
Secara berbaris enam perempuan hamil tingalkan tempat itu. Seperti enam manusia pocong mereka menyelinap di balik batu besar dan lenyap masuk ke dalam mulut terowongan batu.
Ketua manusia pocong memandang ke langit. Bulan sabit kelihatan membayang di balik awan tipis.
“Wakil Ketua, sebentar lagi malam akan sampai di pertengahannya. Saatnya untuk kita mulai bekerja.”
“Saya siap melaksanakan tugas dan perintah Yang Mulia Ketua,” jawab wakil Ketua lalu dia memutar tubuh, menghadap dan memandang ke arah pintu bangunan panggung yang terbuka. Sesaat dia memperhatikan sosok dalam gelap di belakang pintu rumah tua yang terbuka.
“Nyi. Bluduk! Apakah pekerjaanmu sudah rampung?!” Sang wakil Ketua berseru.
Dari dalam bangunan tua terdengar jawaban orang. Suaranya kecil melengking.
“Pekerjaanku sudah rampung. Darah sudah kumasukkan ke dalam bokor. Tali pusat ikut tersimpan di dalamnya. Apakah sekarang aku boleh keluar dan menyerahkan bokor? Lalu mendapatkan imbalan yang dijanjikan?”
“Nyi Bluduk, silahkan keluar. Serahkan bokor padaku. Imbalan yang dijanjikan sudah aku siapkan.”
Mendengar ucapan Wakil Ketua manusia pocong itu, sosok di dalam rumah tua bergerak keluar pintu, menuruni tangga lebar tapi pendek lalu melangkah mendatangi sang Wakil Ketua. Ternyata orang ini adalah seorang nenek kurus berambut kelabu awut-awutan. Pakaiannya kelihatan basah oleh keringat dan cairan merah. Dia melangkah sambil memegang sebuah bokor terbuat dari perak putih. Bokor kecil ini agaknya penuh dengan sejenis cairan karena si nenek kelihatan berjalan perlahan dan hati-hati, takut isi bokor tumpah.
Wakil Ketua manusia pocong ambil bokor yang diserahkan si nenek lalu diletakkan di atas batu persegi empat, di samping kaki gadis yang sejak tadi terbaring tak bergerak.
“Aku minta upah imbalanku sekarang,” Nyi Bluduk ulurkan tangan pada Wakil Ketua manusia pocong.
“Nyi Bluduk, imbalan uang perak yang kami janjikan ada di dalam rumah tua. Kami letakkan di atas satu-satunya kursi di tempat itu. Silahkan kau mengambil sendiri.”
Nyi Bluduk tampak cemberut.
“Kenapa tidak bilang dari tadi. Aku jadi tak perlu mondar-mandir….”
“Harap maafkan. Aku lupa memberitahu. Memang begitu caranya kami menyediakan imbalan.”
Si nenek putar tubuhnya. Sebelum melangkah menuju rumah tua dia bertanya. “Setelah pekerjaan ini apakah ada pekerjaan susulan?”
Wakil Ketua manusia pocong tidak berikan jawaban melainkan berpaling pada sang Ketua. Manusia pocong tinggi besar ini berkata.
“Aku tidak bisa menjanjikan. Kalau memang ada kau pasti akan kami hubungi. Terima kasih atas bantuanmu malam ini.”
Nyi Bluduk pencongkan mulutnya yang kempot,” mengangguk lalu melangkah menuju rumah tua. Begitu tubuhnya lenyap di belakang pintu yang terbuka tiba-tiba pintu ini tertutup. Sesaat kemudian terdengar jeritan keras perempuan tua itu disusul suara tubuh roboh ke lantai kayu. Di balik kain putih penutup kepala Yang Mulia Ketua menyeringai.
“Wakil Ketua, tugasmu mencari dukun beranak baru….”
“Saya siap menjalankan perintah Yang Mulia Ketua. Tapi jika hal seperti ini berkelanjutan, lambat laun kita akan kehabisan dukun beranak.”
“Kalau itu sampai terjadi, kau bisa melakukan pekerjaan itu,” jawab sang Ketua yang membuat manusia pocong di hadapannya jadi tersurut. “Setelah pekerjaan besar ini selesai, bersihkan rumah itu. Singkirkan semua benda yang ada di dalamnya.”
“Saya siap menjalankan perintah Yang Mulia Ketua.”
“Bagus, sekarang mari kita mulai.” Dari balik jubah putihnya manusia pocong tinggi besar keluarkan sebuah benda berwarna hitam.

***

9
BENDA itu ternyata sebuah batu tipis berukuran satu jengkal persegi. Wakil Ketua manusia pocong tebarkan setanggi ke dalam pendupaan. Asap putih tipis mengepul, bau harum kembali merebak memenuhi pedataran. Yang, Mulia Ketua memegang batu tipis di atas pendupaan. Batu diputar dan dibolak-balik. Dari balik kain putih penutup kepala terdengar suaranya bergumam seperti tengah membacakan mantera. Setelah itu batu hitam dicelupkan ke dalam cairan kental berwarna merah di bokor perak. Anehnya, begitu batu masuk ke dalam bokor, cairan merah bergejolak seperti mendidih. Bokor bergoyang-goyang. Cairan merah di dalamnya sampai muncrat membasahi batu pembaringan segi empat. Bau anyir tercium di antara harum angker bau setanggi. Cairan yang tumpah dari dalam bokor ternyata adalah darah.
Selain bokor perak yang bergoyang, batu persegi empat di atas mana terbaring sosok gadis bermuka pucat kelihatan bergetar. Getaran menjalar sampai ke tanah pedataran. Dua manusia pocong tegak tak bergerak. Waspada berjaga-jaga kalau sesuatu yang tidak terduga mendadak terjadi. Mulut masing-masing merapal sesuatu.
Kejadian itu tidak berlangsung lama. Bokor berhenti bergoyang. Batu besar dan tanah perlahan­lahan berhenti bergetar.
Yang Mulia Ketua ulurkan tangan kanan memegang ujung batu tipis lalu mengeluarkannya dari dalam bokor. Batu yang tadinya dingin kini terasa hangat. Dan anehnya, kalau sebelumnya batu hitam itu polos kedua sisinya, kini pada salah satu sisi muncul tulisan-tulisan kuno berwarna putih hingga walaupun gelap jelas dapat dibaca.
Manusia pocong tinggi besar berpaling pada wakilnya, memberi isyarat dengan anggukan kepala. Melihat isyarat ini sang wakil segera ambil bokor perak, memegangnya dengan hati-hati lalu berdiri di samping kiri batu segi empat.
Setelah lebih dulu memandang ke langit untuk melihat bulan sabit hari ke tiga, Yang Mulia Ketua menempatkan diri di depan batu persegi empat, pada ujung kaki sosok gadis yang terbaring.

Aksara Batu Bernyawa

Mula kehidupan anak manusia adalah dari setetes air mani yang tenggelam dalam rahim ibunya dan berubah menjadi jabang bayi
Di dalam rahim sang ibu tali pusar menjadi sumber kehidupan
Jika seorang yang sekarat inginkah kehidupan
Jika seorang telah menghembuskan nafas lalu terkubur sampai sebelum sang surya tenggelam
Dan mereka inginkan kehidupan duniawi kembali
Bagi mereka yang beruntung dan berjodoh akan didapat nyawa kedua
Asalkan dilakukan semua syarat yang diminta
Pertama upacara mendapatkah nyawa kedua harus dilakukan pada menjelang tengah malam di tempat terbuka dan di bawah cahaya bulan sabit hari ketiga.
Kedua insan tersebut sebelumnya harus dimandikan dengan kembang tujuh rupa
Ketiga yang memandikan haruslah kaum sejenisnya :
Lelaki dimandikan oleh lelaki, perempuan dimandikan oleh perempuan.
Keempat yang hadir, dalam upacara mendapatkan nyawa kedua tidak boleh lebih dari dua orang.
Kelima letakkan tali pusar bayi yang baru dilahirkan di atas pusar insan yang bakal mendapatkan nyawa kedua
Keenam kucurkan darah suci bayi yang baru lahir di atas tubuh insan, mulai dari ujung kaki sampai kepala dan rambut
Ketujuh sabarlah menunggu sampai kicau burung atau kokok ayam pertama terdengar sebelum fajar menyingsing
Jika itu terjadi maka nyawa kedua telah tersimpan di dalam tubuh insan
Dia akan bernyawa, akan hidup seperti manusia adanya namun akan ditemui beberapa kelainan
Insan nyawa kedua tidak akan mengenal siapa dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya
Insan nyawa kedua akan memiliki satu kekuatan luar biasa
Insan nyawa kedua berada di bawah kekuasaan dan hanya tunduk pada orang yang memberikan kehidupan kedua padanya
Karenanya syarat ke delapan adalah, insan kedua harus ditempatkan secara baik-baik di satu tempat dimana mulai kehidupan kedua datang padanya, tidak satu dosa kejahatanpun baik berupa niat maupun tindakan boleh terjadi di tempat tersebut
Syarat ke sembilan dan terakhir, setiap bulan sabit malam ketiga, insan nyawa kedua harus di usap ubun-ubunnya dengan darah segar bayi yang baru dilahirkan
Bilamana syarat ke delapan dan ke sembilan itu dilanggar maka insan nyawa kedua akan kembali ke asalnya semula
Dan yang berbuat dosa kejahatan akan kejatuhan bencana malapetaka
.

Selesai Yang Mulia Ketua membaca rangkaian tulisan putih di atas batu hitam yang disebut Aksara Batu Bernyawa, semua tulisan yang ada di batu itu secara aneh lenyap tak berbekas. Demikian juga noda darah yang sebelumnya membasahi batu. Perlahan-lahan manusia pocong tinggi besar masukkan batu tipis hitam itu ke balik jubah. Matanya melirik ke langit, memperhatikan bulan sabit hari ke tiga. Lalu dia melangkah mendekati wakilnya yang memegang bokor. Lengan jubah tangan kanan digulung ke atas lalu tangan itu dimasukkan ke dalam bokor berisi darah. Ketika tangan itu dikeluarkan kelihatan memegang sebuah benda panjang sejengkal, menyerupai ekor ular, berwarna hitam kelabu. Inilah tali pusar bayi seperti yang dimaksudkan dalam tulisan pada Aksara Batu Bernyawa.
Yang Mulia Ketua manusia pocong memutar tubuh, menggeser kakinya hingga dia berdiri pada samping pertengahan batu persegi panjang. Tangan kiri diulurkan, diletakkan pada bagian perut kain hitam penutup sosok gadis di atas batu. Tiba-tiba si manusia pocong tarik kuat-kuat kain hitam itu. Ketika kain hitam ditarik lepas sehingga sosok gadis yang terbaring menelentang di atas batu kini tidak tertutup selembar benangpun, pada saat itulah obor yang menancap di ujung batu mendadak padam. Di langit bulan sabit hari ke tiga, lenyap di balik saputan awan tebal. Di kejauhan terdengar suara lolongan anjing panjang berhiba­hiba menyayat keheningan malam.
Wakil Ketua manusia pocong berdiri tak bergerak. Melalui dua lobang di kain putih penutup kepalanya dia memperhatikan Yang Mulia Ketua dengan hati-hati meletakkan tali pusar bayi di permukaan pusar gadis yang terbujur di atas batu pembaringan persegi empat.
Selesai meletakkan tali pusar, Yang Mulia Ketua mengambil bokor perak dari tangan wakilnya. Cairan merah darah di dalam bokor lalu diguyurkan ke atas tubuh si gadis, bermula dan dimulai dari ujung kaki terus ke tubuh, naik ke kepala dan sampai di rambut yang tergerai hitam di atas batu.
Tiupan angin mendadak terasa kencang. Udara bertambah dingin. Di langit bulan sabit hari ke tiga perlahan-lahan muncul di balik saputan awan tebal. Dua manusia pocong perlahan-lahan mendudukkan diri masing-masing di samping kiri kanan batu pembaringan. Sesuai apa yang tertulis dalam Aksara Batu Bernyawa mereka harus menunggu sampai ada kicau burung atau kokok ayam pertama sebelum fajar menyingsing.

***

10
WAKIL Ketua manusia pocong tampak gelisah. Beberapa kali dia memandang ke langit lalu melirik ke arah timur. Di seberangnya, di sebelah batu pembaringan sang Ketua dilihatnya tetap tenang, duduk bersila, kepala dan tubuh tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara.
Wakil Ketua kembali memandang ke arah timur. Pada puncak kegelisahannya dia tak tahan untuk membuka mulut.
“Yang Mulia Ketua, maafkan saya….”
“Ada apa?”
“Saya kawatir. Tak lama lagi langit di sebelah timur akan segera terang pertanda fajar segera menyingsing.”
“Lalu?”
“Seperti yang saya dengar dalam bacaan Yang Mulia Ketua tadi. Sampai saat ini tidak ada kicau burung, tidak terdengar kokok ayam. Kalau tidak seekorpun dari dua binatang itu memperdengarkan suaranya, berarti gagal sia-sialah semua usaha kita. Gadis ini tidak mungkin menemui kehidupan baru dengan nyawa kedua. Rencana kita untuk menundukkan dan menguasai rimba persilatan tanah jawa tidak akan menemui kepastian. Semua dendam kesumat sakit hati tidak akan terlaksanakah!”
Yang Mulia.Ketua tidak segera menjawab. Dia diam seperti merenung. Sesaat kemudian mulutnya baru berucap.
“Pekerjaan setiap anak manusia bisa saja sia-sia. Yang namanya usaha bisa saja menemui kegagalan. Termasuk apa yang kita lakukan dan rencanakan sejak beberapa waktu lalu. Tetapi melalui tiupan angin malam, melalui kesunyian dan udara dingin yang mencekam, aku menaruh firasat kita tidak akan menemui kegagalan. Apa yang kita rencanakan akan berjalan lancar. Semua musuh akan kita singkirkan dan rimba persilatan tanah Jawa akan berada dalam genggaman kita. Tenangkan hatimu, jangan perasaan tolol kesusu membuatmu gelisah. Aku yakin apa yang tersurat dalam Batu Aksara Bernyawa akan menjadi kenyataan!”
Baru saja Yang Mulia Ketua mengeluarkan ucapan itu tiba-tiba di kejauhan terdengar suara kokokan ayam. Dua manusia pocong serta merta bangkit dari duduk masing-masing. Mata mereka memandang tak berkesip ke arah sosok gadis yang terbaring di atas batu.
Di kejauhan sekali lagi terdengar suara ayam berkokok. Lalu perlahan-lahan namun terlihat jelas, sepasang mata gadis di atas batu bergerak perlahan, membuka sedikit demi sedikit lalu terpentang nyalang menatap ke atas langit.
“Insan yang terbaring di atas batu, apakah kau mendengar suaraku?” Yang Mulia Ketua melangkah lebih dekat ke samping batu lalu menegur.
Gadis di atas batu tidak menjawab. Wajahnya yang pucat tampak kosong. Matanya masih menatap lurus-lurus ke langit.
“Insan di atas batu, jika kau mendengar suaraku, bangunlah!”
Tubuh di atas batu masih diam, tidak bergerak tidak bersuara. Tiba-tiba tangan kiri, menyusul tangan kanan si gadis kelihatan bergerak. Sesaat kemudian menyusul tubuhnya bergerak bangkit dan duduk. Hanya seperti tadi matanya memandang lurus-lurus ke depan, seolah tidak melihat atau tidak memperhatikan kehadiran dua manusia pocong di samping kiri dan sebelah kanannya.
“Insan di atas batu, apakah kau tahu dimana saat ini kau berada?” Yang Mulia Ketua bertanya.
Wajah masih menghadap ke depan dan sepasang mata masih memandang lurus, gadis yang duduk di atas batu gelengkan kepala.
“Insan di atas batu, siapakah dirimu? Siapa namamu? Sebelumnya kau berasal dari maha?” Yang Mulia Ketua kembali ajukan pertanyaan.
Tanpa alihkan tatapan wajah dan pandangan sepasang matanya, gadis di atas batu membuka mulut. Suaranya datar ketika berkata.
“Aku tidak tahu berada dimana. Aku tidak tahu siapa diriku. Aku insan tidak bernama. Tidak tahu berasal dari mana.”
Yang Mulia Ketua menyeringai di balik kain putih penutup kepala. “Tepat seperti yang tertulis pada Aksara Batu Bernyawa. Dia tidak tahu siapa dirinya. Tidak tahu asal muasalnya.” Setelah tatap wajah putih pucat dan kosong itu sesaat manusia pocong ini berkata. “Insan di atas batu, mulai hari ini aku, dan semua orang yang ada di tempat ini akan memanggilmu Yang Mulia, Sri Paduka Ratu. Kau hanya patuh dan tunduk pada diriku Yang Mulia Ketua!”
“Yang Mulia Sri Paduka Ratu, alangkah bagusnya panggilan itu.” Si gadis berucap lalu kepala di angkat ke atas, mata menatap lurus ke langit dan dari mulutnya keluar suara tawa panjang. Suara tawa ini ternyata menimbulkan getaran hebat pada gendang-gendang telinga dua manusia pocong hingga mereka terpaksa menekap kuping.
“Yang Mulia Sri Paduka Batu, aku tahu dalam dirimu tersimpan satu kekuatan hebat luar biasa. Berupa tenaga luar dan tenaga dalam yang dahsyat. Turunlah dari atas batu pembaringan. Tunjukkan dan buktikan pada kami, aku Yang Mulia Ketua dan Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong.”
Perlahan-lahan gadis di atas batu bergerak turun. Gerakan tubuhnya terlihat aneh. Kaku seolah tulang-tulang di tubuhnya tidak memiliki persendian. Sebelum kakinya menginjak tanah gadis ini goyangkan kepala. Rambut panjang hitamnya melesat setengah putaran mengeluarkah deru angin luar biasa dahsyat.
“Wuuuuttt!”
“Braaaakk!”
Dua manusia pocong tersentak kaget dan sama-sama mundur satu langkah.
Tiang batu di atas mana pendupaan besar terletak putus kena tabasan rambut hitam si gadis. Pendupaan mental. Bara api di dalam pendupaan mencelat dan jatuh bertebaran di tanah pedataran.
Sang Ketua melengak besar. Wakilnya leletkan lidah tidak mengira gadis yang kini hidup dengan nyawa kedua memiliki kekuatan demikian hebatnya, padahal baru rambutnya yang bekerja. Kalau tangan dan kakinya yang bergerak dapat dibayangkan apa yahg bakal terjadi.
: “Apa pembuktian kekuatan yang aku miliki barusan sudah cukup?” Si gadis bertanya. Wajah dan matanya tetap saja menatap lurus, tidak berpaling pada orang yang ditanyainya.
“Luar biasa, kau hebat sekali Yang Mulia Sri Paduka Ratu.” Memuji Yang Mulia Ketua. “Jika Yang Mulia Sri Paduka Ratu berkenan hendak menunjukkan kehebatanmu yang lain, kami berdua tentu saja ingin menyaksikan.”
“Begitu?!” Wajah cantik pucat dengan pandangan mata kosong lurus itu tetap tidak berubah seolah tidak memiliki perasaan. Tubuhnya dibungkukkan ke depan, jari-jari tangan mencekal pinggiran batu persegi empat.
“Apa yang hendak dilakukan makhluk ini?” pikir Yang Mulia Ketua sambil memperhatikan dengan mata tak berkesip.
Didahului satu teriakan keras, tiba-tiba si gadis angkat batu besar yang beratnya hampir delapan ratus kati itu. Batu bukan hanya diangkat tapi dilempar ke udara. Begitu batu melayang turun si gadis hantamkan tangan kanannya.
“Bukkk!”
“Byaaarr!”
Batu besar hancur menjadi puluhan kepingan.
Dua manusia pocong keluarkan seruan tertahan saking kagumnya. Sang Wakil Ketua decakkan mulut berulang kali sementara sang Ketua diam-diam membatin dalam hati. “Luar biasa, tenaga dalamnya paling tidak dua tingkat di atas tenaga dalamku. Aku harus mencari jalan. Jika semua urusan selesai bagaimana aku bisa menyedot hawa sakti yang dimilikinya itu. Kalau aku berhasil menguasai tenaga dalam gadis itu, rimba persilatan delapan penjuru angin benar-benar akan berada dalam genggamanku!”
“Yang Mulia Sri Paduka Ratu, kami kini percaya pada kekuatan luar biasa yang kau miliki. Sekarang saatnya Yang Mulia bersalin diri mengenakan pakaian kebesaran. Ikuti aku. Aku akan membawamu ke tempat yang akan menjadi kediamanmu. Satu hal harus kau ingat baik-baik Sri Paduka Ratu. Kau hanya tunduk pada kuasa dan perintahku! Tidak satu orang lainpun harus kau dengar perintahnya kecuali aku! Kau tidak diperkenankan melakukan apapun tanpa perintah dan pengetahuanku!”
“Aku mendengar dan akan aku patuhi,” jawab Yang Mulia Sri Paduka Ratu.
“Bagus, ternyata Yang Mulia berotak cerdas berpikiran jernih. Ingat satu hal. Di tempat ini berlaku, perintah dan kepatuhan yang tidak bisa ditawar-tawar apa lagi sampai dilanggar. Yaitu bahwa hanya perintah Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Ketua seorang yang wajib dicintai.”
Si gadis diam sesaat lalu perlahan-lahan anggukkan kepala.
Yang Mulia Ketua manusia pocong berpaling pada Wakilnya, berkata agar sang Wakil tetap berada di tempat itu. Kemudian pada gadis bermuka pucat berambut panjang dia berkata. “Yang Mulia Sri Paduka ratu, ikuti aku.”
Yang Mulia Ketua melangkah tinggalkan tempat itu. Di sebelah belakang si gadis mengikuti. Wajah ke depan, dua mata memandang lurus. Dia melangkah kaku tidak ubahnya seperti sebuah patung kayu yang bisa berjalan.
Yang Mulia Ketua berjalan melewati rumah tua beratap ijuk, terus memasuki sebuah lembah kecil. Di lembah ini terdapat satu bangunan panggung berbentuk bulat terbuat dari kayu dan atap ijuk yang keseluruhannya dicat warna putih. Untuk naik ke tingkat atas bangunan, orang harus menempuh tangga kayu
setengah lingkaran.
Di pintu depan Yang Mulia Ketua hentikan langkah dan berpaling pada gadis di belakangnya.
“Yang Mulia Sri Paduka Ratu, silahkan menaiki tangga. Di lantai ke dua terdapat sebuah kamar bagus dilengkapi segala sesuatu keperluan Sri Paduka Ratu. Di atas ranjang ada seperangkat.jubah dan kain penutup kepala putih. Itulah pakaian Sri Paduka Ratu. Di atas sebuah meja kecil di samping ranjang ada satu mahkota berbentuk japitan. Sri Paduka Ratu hanya tinggal melingkarkan mahkota itu di atas kepala, pada kain putih penutup kepala. Lalu ada satu hal, selama berada di tempat ini Yang Mulia Sri Paduka Ratu tidak diperkenankan keluar, kecuali dengan sepengetahuan dan atas perintahku. Ingat aturan itu, jangan sampai dilanggar.”
Tanpa menjawab si gadis langkahkan kaki, masuk ke dalam bangunan. Di depan tangga kayu setengah lingkaran dia hentikan langkah. Semula Yang Mulia Ketua manusia pohcong mengira gadis itu akan naik ke tingkat atas bangunan melalui tangga. Tapi tiba-tiba dilihatnya sosok si gadis yang saat itu tidak tertutup sehelai benang pun, melesat membubung berputar ke atas. Rambutnya yang hitam berpilin di udara. Kejadian ini merupakan satu pemandangan luar biasa indahnya. Sesaat Yang Mulia Ketua sempat merasakan aliran darah dalam tubuhnya menjadi panas. Kalau saja tidak ingat akan satu larangan dan pantangan besar, saat itu mau rasanya dia menghambur ke tingkat atas. Sang Ketua tarik nafas dalam lalu memutar tubuh siap untuk meninggalkan bangunan serba putih.
Justru pada saat itulah mendadak dua bayangan putih berkelebat. Yang muncul ternyata Wakil Ketua bersama seorang manusia pocong. Keduanya membungkuk memberi hormat.
“Wakil Ketua, ada apa?”
“Maafkan saya Yang Mulia Ketua. Sesuai perintah saya masih berada di tempat upacara tadi. Tiba­tiba muncul Satria Pocong ini memberitahu ada seseorang menerobos masuk ke dalam lorong. Orang itu kini terperangkap di jalur kiri lorong delapan belas. Ketika dipergoki dan hendak diringkus, orang itu melakukan perlawanan. Seorang Satria Pocong berhasil dilukainya dan kini dalam keadaan sekarat.”
Yang Mulia Ketua tentu saja terkejut mendengar keterangan wakilnya itu.
“Jika dia menerobos masuk sejauh lorong delapan belas, berarti orang itu punya kecerdikan tinggi. Kalau dia mampu mencelakai anak buahku, berarti ilmu kepandaiannya luar biasa. Wakil Ketua, kau dan Satria Pocong lekas menyelidik. Aku ingin kau menangkap orang itu hidup-hidup. Mungkin kita perlukan tenaganya. Aku menunggu laporanmu di Ruang Kayu Hitam.”
“Perintah Yang Mulia Ketua segera saya laksanakan!” Wakil Ketua dan manusia pocong satunya membungkuk hormat berkelebat tinggalkan tempat itu.
Ketika melewati rumah kayu beratap ijuk berbentuk tanduk kerbau, Wakil Ketua berkata pada manusia pocong di sebelahnya. “Kau segera menuju ke lorong delapan belas. Tunggu aku disana. Jangan melakukan sesuatu sebelum aku datang….”
“Wakil Ketua mau kemana?”
“Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Jangan banyak tanya. Cepat pergi!”
Setelah manusia pocong itu pergi Sang Wakil Ketua segera berkelebat ke arah timur. Di satu tempat dia memasuki sebuah goa yang merupakan mulut atau jalan rahasia menuju terowongan batu. Dia berhenti di hadapan sebuah pintu putih yang ditancapi sehelai bendera kecil berbentuk segitiga, basah oleh darah. Sebuah tombol rahasia di samping kiri pintu ditekan. Sesaat kemudian pintu putih terbuka. Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong ini segera masuk. Hanya dua tindak memasuki ruangan yang lantainya ditutupi tikar jerami tebal, Wakil Ketua hentikan langkah. Dua matanya terpentang lebar ke arah ranjang besar di sudut kiri ruangan. Dia memandang seputar ruangan. Kosong.
“Wulan!” Wakil Ketua berseru. “Wulan Srindi!” Tak ada jawaban. Manusia pocong ini bergegas melangkah ke arah sehelai tirai biru. Tidak sabaran tirai itu ditariknya hingga terbetot lepas. Di belakang tirai kelihatan satu ruangan besar menurun ke bawah. Di situ terdapat sebuah kolam batu. Pada dinding batu di atas kolam ada sebuah pancuran mengucurkan air jernih.
“Wulan!”
Suara teriakan manusia pocong menggema keras di ruangan itu. Orang yang dicari tidak ada di tempat itu. “Kurang ajar! Dia pasti kabur! Kalau tidak ada orang yang membantu tidak mungkin dia bisa lolos dari tempat ini! Aku harus bertindak cepat! Siapapun pengkhianatnya harus kuhabisi! Kalau tidak nyawaku sendiri bisa berada di ujung tanduk!”
Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong segera menghambur keluar dari tempat itu.

***

11
DUDUK di pinggiran telaga Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepala sambil sesekali menoleh pada anak lelaki berambut jabrik berpakaian hitam di sebelahnya yang bukan lain adalah bocah konyol bernama Naga Kuning. Seperti diketahui anak lelaki yang terakhir bernama Gunung ini ujud aslinya adalah seorang kakek sakti mandraguna berusia lebih seratus tahun, dikenal dengan julukan Kiai Paus Samudera Biru.
Di samping Naga Kuning berdiri seorang nenek berwajah seram seperti setan, berambut kelabu awut-awutan. Sepuluh jari kukunya berwarna hitam, dan panjang. Seperti keadaannya Naga Kuning, si nenek juga memiliki ujud asli, sebagai seorang nenek berwajah cantik dan masih memiliki tubuh bagus. Terlahir nenek ini bernama Ning Intan Lestari. Dalam berbagai episode serial Wiro Sableng sebelumnya telah diceritakan bahwa di masa muda antara kedua orang ini telah terjalin tali percintaan. Namun perjalanan nasib membuat mereka terpisah selama puluhan tahun. Ketika kembali bertemu di usia lanjut ternyata api cinta di masing-masing hati mereka belum padam.
“Sayang, Eyang Sinto pergi begitu saja. Padahal banyak yang akan aku tanyakan…” Wiro keluarkan ucapan sambil kembali melirik pada Naga Kuning.
“Aku tahu, kau masih kesal, mungkin juga masih marah padaku. Soalnya kau menganggap gara-gara aku nenek itu kabur melarikan diri. Malu terlihat dalam keadaan bugil olehku. Padahal semua tidak aku sengaja.” Naga Kuning bicara lalu pencet-pencet hidungnya sendiri.
Dalam episode sebelumnya (113 Lorong Kematian) diceritakan bagaimana Naga Kuning yang menjelma menjadi Kiai Paus Samudera Biru berusaha menolong Sinto Gendong yang saat itu terpendam di tepi telaga sebagai hukuman yang dijatuhkan oleh Sepasang Naga Kembar Naga Nina dan Naga Nini. Dua makhluk aneh ini menjatuhkan hukuman, karena Sinto Gendeng telah membunuh anak lelaki bernama Boma Wanareja yang berada dalam perlindungan mereka. (Baca serial Boma Gendenk) Menurut Wiro sebenarnya Kiai Paus Samudera Biru yang penjelmaan Naga Kuning itu sudah mengetahui bahwa jika tubuh gurunya dikeluarkan dari dalam pendaman tanah maka sang guru akan berada dalam keadaan bugil. Tapi dasar jahil Naga Kuning terus saja menarik dan mengeluarkan tubuh Sinto Gendeng. Akibatnya walau diselamatkan dari jepitan tanah namun Sinto Gendeng jadi kalang kabut. Dalam keadaan bugil nenek ini menyambar jubah hitam yang diberikan Gondoruwo Patah Hati, lalu lari ke balik semak belukar. Naga Kuning yang ketakutan karena hendak dihajar Wiro, kabur melarikan diri. Entah disengaja entah tidak bocah ini justru lari ke balik semak-semak dimana Sinto Gendeng belum sempat mengenakan jubah menutupi auratnya. Karuan saja si nenek berteriak marah, memaki panjang pendek lalu lari terbirit-birit dan tak muncul lagi.
“Kau selamanya, dimana-mana sering berbuat jahil. Boleh-boleh saja karena kadang-kadang perbuatanmu memang-lucu. Tapi jika kau tidak memakai aturan, berbuat konyol kurang ajar seenaknya, ini contoh akibatnya. Satu waktu jika bertemu nenek itu pasti akan mendampratku habis-habisan!”
“Aku memang merasa bersalah. Aku minta maaf,” kata Naga Kuning kelihatan sungguh-sungguh. Namun kemudian dia menyambung ucapannya. “Tapi kalau kau mau berpikir, mungkin kau tidak bakalan kesal atau jengkel padaku….”
“Apa yang harus aku pikirkan?!” tukas Wiro dengan mata melotot sementara Gondoruwo Patah Hati tegak diam, memandang ke tengah telaga namun telinganya terus menguping pembicaraan dua sahabat itu.
“Kau boleh saja marah kalau yang tak sengaja aku lihat bugil itu kekasihmu. Misalnya saja Ratu Duyung atau Bidadari Angin Timur, atau bisa juga Anggini. Kau pasti cemburu karena seumur hidup kau belum pernah melihat tubuh polos mereka. Tapi aku si bocah konyol ini sudah kedahuluan punya rejeki besar dapat melihat tubuh mereka yang bagus dalam keadaan ehem-ehem. Nah kalau memang mereka yang aku lihat bugil, kau pantas marah. Tapi kenyataannya yang aku lihat bukan tubuh anak perawan atau gadis yang bagus mulus. Tapi cuma tubuh seorang nenek yang sudah keriput mulai dari ubun-ubun sampai ujung jempol! Hik… hik… hik! Apa untungnya aku mau-mauan melihat tubuh hitam gosong begitu, kurus kering, keriput lagi….”
“Kau jangan berani menghina guruku. Mungkin saatnya aku menempeleng mukamu!”
“Sabar sobatku, aku tiba-tiba saja jadi sadar. Melihat anak perawan bugil bisa terjadi dimana-mana. Tapi melihat nenek-nenek bugil memang sulit, jarang kejadian. Sekarang aku mengerti mengapa kau jadi marah. Soalnya nenek satu yang jadi gurumu itu memang benar-benar langka. Mungkin orang bilang jika melihat nenek bugil bisa jadi apes seumur-umur. Mudah-mudahan, aku sebaliknya. Semoga beruntung. Lagi pula aku pikir-pikir. Seandainya gurumu masih muda dan punya tubuh lumayan bagus, aku rasa wajar-wajar saja kalau kau juga ingin melihatnya. Hik… hik… hik.”
“Anak kurang ajar, kau benar-benar ingin aku tampar!” Tangan kanan Wiro berkelebat bukan hendak menampar tapi mau menjambak rambut jabrik Naga Kuning.
“Aku tadi sudah minta maaf…,” kata Naga Kuning lalu melompat bangkit dan menjauh dari Wiro.
Gondoruwo Patah Hati mendehem beberapa kali lalu berkata. “Hari mulai sore. Apakah kalian dua sahabat masih hendak berdebat panjang lebar?”
“Nek,” Wiro berkata pada Gondoruwo Patah Hati. “Aku tahu riwayat hubungan kalian berdua. Kalau punya kekasih seperti manusia satu ini jangan sekali-kali berlaku lengah. Setiap ada kesempatan dia pasti mau mengintip keadaan dirimu. Jangankan manusia, sapi mandipun mau dia mengintainya!”
Naga Kuning bukannya marah mendengar ucapan Wiro itu malah tertawa gelak-gelak sementara Gondoruwo Patah Hati cuma senyum-senyum dan unjukkan wajah bersemu merah.
“Wiro, kami ada keperluan lain. Kita terpaksa berpisah di tempat ini. Sebelum berpisah kami ingin tahu bagaimana keadaannya dengan tiga gadis cantik Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini? Mengapa mereka tidak bersamamu?”’
“Sebenarnya aku dan Bidadari Angin Timur ingin menyelidik kemana lenyapnya Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan. Gadis itu punya dugaan siapa yang mencuri kitab itu….”
“Siapa?” tanya Naga Kuning.
“Dia belum mau memberitahu sebelum jelas sekali.”
“Lalu Ratu Duyung dan Anggini?”
“Tadinya dua gadis itu akan meneruskan penyelidikan menyangkut lenyapnya Pedang Naga Suci
212. Mereka bermaksud memisahkah diri. Tapi karena aku tidak jadi melakukan perjalanan bersama Bidadari Angin Timur, mereka akhirnya bergabung untuk mencari dua benda yang hilang itu.” “Kau enak saja membagi-bagi tugas pada tiga gadis cantik itu. Kalau aku, hemm… selalu berdekatan dengan mereka bukankah satu hal yang sangat membahagiakan?”
“Bocah ganjen sepertimu memang selalu punya pikiran seperti itu,” jawab Wiro. “Dalam lenyapnya Pedang Naga Suci 212 dan Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan aku mana mungkin lepas tangan begitu saja. Aku tetap akan melakukan penyelidikan. Namun saat ini aku merasa perlu segera ke Kotaraja.”
“Nah, gadis cantik mana lagi yang menunggumu di sana?” ujar Naga Kuning.
“Mulutmu selalu usil, otakmu selalu kotor!”
Naga Kuning hanya mesem-mesem mendengar dampratan Wiro itu.
“Aku telah membuat perjanjian dengan tiga gadis itu bahwa kami akan bertemu minggu muka di Kotaraja, di tempat kediaman Sutri Kaliangan, Putri Patih Kerajaan.”
“Kalau begitu kami juga ingin bergabung dengan kalian di Kotaraja. Wiro, kau belum mengatakan keperluanmu ke Kotaraja.”
“Aku menyirap kabar Rana Suwarte yang tempo hari mencuri Keris Naga Kopek dan berhasil kita ringkus, dalam keadaan ditotok dititipkan di rumah seorang penduduk desa berhasil lolos. Kabur melarikan diri sebelum diserahkan pada pihak berwenang!”
“Setan Ngompol! Bukankah kakek geblek itu yang dulu kita tugaskan membawa Rana Suwarte ke Kotaraja? Katanya dia mau menitipkan tahanan itu di sebuah desa. Peristiwanya sudah cukup lama.”
“Betul. Ternyata Rana Suwarte berhasil kabur. Berarti Setan Ngompol telah berlaku sembrono. Sekarang tidak tahu dia berada di mana. Aku khawatir telah terjadi sesuatu dengan kakek tukang kencing itu,” ucap Wiro lalu garuk-garuk kepala.
“Kejadian lolosnya Rana Suwarte terus terang aku jadi merasa tidak enak,” kata Naga Kuning pula.
Mendengar ucapan si bocah Wiro melirik ke arah Gondoruwo Patah Hati. Si nenek tampak berdiri tenang-tenang saja. Wajahnya tidak berubah ketika mendengar nama Rana Suwarte disebut-sebut. Seperti diketahui Rana Suwarte adalah seorang kakek yang sejak muda telah jatuh cinta pada Gondoruwo Patah Hati alias Ning Intan Lestari. Di usia tua, Kiai Gede Tapa Pamungkas, guru Sinto Gendeng, berusaha membujuk Gondoruwo Patah Hati agar mau mengikat tali perkawinan dengan kakek itu. Tapi si nenek menolak karena hatinya telah lebih dulu jatuh pada Naga Kuning alias Kiai Paus Samudera Biru. (Baca serial Wiro Sableng Episode berjudul “Gondoruwo Patah Hati)
“Naga Kuning, mungkin kau tahu di desa mana dan di rumah siapa Setan Ngompol dulu menitipkan Rana Suwarte?”
“Dia pernah menyebut-nyebut nama seorang janda di Bantul….”
“Seorang janda?”
“Betul,” jawab Naga Kuning. “Aku lupa namanya. Menurut Setan Ngomppl janda berkulit putih dan
bertubuh gemuk….”
“Kalian berdua,” aku segera akan ke Kotaraja menyelidiki perkara ini. Jika kalian memang ingin bergabung, seperti yang aku bilang datanglah ke tempat kediaman Sutri Kaliangan minggu depan. Pada malam pertama bulan baru.”
Tak lama setelah Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati pergi, Wiro segera pula tinggalkan tempat itu. Di satu jalan menurun diapit pohon-pohon besar di kiri kanan jalan tiba-tiba Wiro merasa ada seseorang berlari cepat mengikutinya di sebelah belakang. Dia menoleh. Tapi tidak melihat siapa-siapa. Baru ketika dia hendak meneruskan larinya mendadak ada bentakan keras di sebelah depan. Aneh, yang mengejar tadi jelas-jelas berada di belakang, mengapa kini tahu-tahu suara itu datang dari arah depan?
“Anak Setan! Lekas naik ke sini!”

***

12
DALAM kagetnya Wiro segera tahu siapa yang barusan membentak. Pemuda ini palingkan kepala dan tujukan pandangan ke arah datangnya suara bentakan. Di atas sebuah pohon di depan sana, pada cabang paling bawah duduk berjuntai satu sosok berjubah hitam. Itulah si nenek Sinto Gendeng yang mengenakan jubah pemberian Gondoruwo Patah Hati.
“Ah….” Wiro lepas nafas lega lalu lari mendekati pohon, kemudian melesat naik dan duduk di cabang pohon di samping sang guru. Cabang dimana kedua orang itu duduk, tidak seberapa besar. Tanpa memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, diduduki dua orang demikian rupa cabang pasti akan patah.
“Eyang, untung aku menemuimu disini…”
“Untung…. untung! Kau masih bilang untung! Orang lain justru membuatku buntung!” Sinto Gendeng menggerendeng dengan wajah keriput bersungut.
Wiro maklum kalau gurunya masih mengkal atas apa yang tadi terjadi.
“Mana bocah Setan kurang ajar itu?!”
“Dia sudah pergi Nek.”
“Kalau bertemu lihat saja nanti! Aku akan ganti menelanjanginya!” Sinto Gendeng keluarkan ancaman.
Wiro cuma senyum dan garuk-garuk kepala.
“Anak Setan, ada beberapa hal yang aku mau katakan padamu. Dulu pada pertemuan pertama aku lupa memberi tahu.”
“Hal apa, Nek? Saya mendengarkan….” J
“Pertama soal dua makam kosong di tempat kediamanku di puncak Gunung Gede. Kau dulu mengatakan satu kuburan memang kosong, tapi satunya lagi ada isinya. Di situ dimakamkan jenazah gadis bernama Putì Andini. Betul begitu?”
“Betul Nek….”
“Kau melihat sendiri gadis itu waktu dikubur?”
“Melihat sendiri memang tidak Eyang. Tiga gadis sahabatku yang memberi tahu. Mereka bertiga yang mengubur Puti Andini. Mereka bertiga malah memberi tahu bahwa orang yang membunuh Puti Andini kemungkinan adalah Pangeran Matahari. Ciri pakaiannya sangat sama dengan Pangeran Matahari namun anehnya wajahnya bukan wajah Pangeran Matahari.”
“Kalau mereka tidak berdusta bahwa mereka bertiga mengubur jenazah Puti Andini, lalu kemana lenyapnya mayat gadis itu. Kuburan itu kutemui dalam keadaan kosong!”
“Saya juga heran. Sebenarnya hal itu yang ingin saya tanyakan padamu, Nek.” Ujar Wiro pula.
“Aneh, tiga gadis mengaku mengubur orang. Tapi kuburannya ternyata kosong. Kalau orang yang berdandanan seperti Pangeran Matahari yang melakukan, maka kegilaan apa sebenarnya yang telah diperbuatnya? Membunuh, mengubur lalu menggali kuburan kembali untuk mengambil jenasah!” Sinto Gendeng komat-kamitkan mulut, geleng-geleng kepala. Otaknya berpikir sambil pelototi sang murid dengan matanya yang cekung. “Sewaktu naik ke puncak Gunung Gede, aku dalam keadaan sakit panas. Di tengah jalan aku bertemu dengan manusia aneh berdandanan seperti pocong hidup. Jubah putih, kepala ditutup kain putih yang ada diikatkannya di sebelah atas. Mulanya aku mengira setan kuburan yang lagi gentayangan. Tapi bangsat ini bisa bicara. Ternyata manusia juga. Cuma entah penyakit gila apa yang diidapnya sampai berpakaian seperti itu. Hebatnya tanpa tahu juntrungan bangsat itu berkata bahwa dia datang mau mengambil nyawaku! Haram jadah! Hik…hik…hik!” Sinto Gendeng tertawa terpingkal baru meneruskan keterangannya. “Aku ingin tahu siapa sebenarnya setan kesasar ini. Aku berusaha mengait dan membetot penutup kepalanya dengan tongkat. Tapi dia punya kecepatan bergerak luar biasa. Aku hanya mampu merobek sedikit kain penutup kepalanya. Kami berkelahi habis-habisan. Sial! Bangsat itu punya ilmu kepandaian tidak rendah. Mungkin juga aku lagi sakit. Yang jelas dia bisa membuatku mencelat ke atas pohon. Waktu dia hendak rnenghabisiku, aku hantam dengan pukulan Sinar Matahari. Dia membalas dengan pukulan aneh. Aku merasa dia memegang sebuah senjata di balik lengan jubah tangan kirinya. Aku hanya mampu membuat sebagian jubahnya hangus. Saat itu mungkin sekali dia benar-benar hendak membunuhku. Namun tiba-tiba saja dia meninggalkan tempat itu setelah ada suara suitan di kejauhan.”
“Berarti dia tidak sendirian, Nek.”
“Kau benar,” jawab Sinto Gendeng.
“Kalau memang jenasah Putì Andini dicuri orang, mungkinkah manusia pocong itu yang melakukan?”
Sinto Gendeng menggeleng. “Dia muncul seorang diri, kabur juga seorang diri. Tidak membawa apa-apa. Walau aku sempat dihajarnya, tapi aku kagum melihat pukulan saktinya yang sanggup menghadapi pukulan Sinar Matahari. Aku berharap satu hari kelak bisa berhadapan lagi dengan bangsat itu!”
“Nek, apakah….”
“Tunggu! Jangan bicara dulu! Ceritaku belum selesai!” bentak Sintò Gerideng. “Waktu aku melintang tak berdaya di atas cabang pohon, tak diduga Dewa Tuak muncul. Dia.yang menolongku….”
“Kakek satu itu. Lama sekali aku tidak bertemu dengan dia. Apa yang membawanya terpesat ke puncak Gunung Gede, Nek?” bertanya sang murid.
“Katanya mencari muridnya si Anggini itu. Mungkin benar, mungkin juga dusta. Aku kemudian punya firasat buruk. Jangan-jangan dia yang mencuri Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan…..”
“Tidak mungkin Dewa Tuak sejahat itu,” kata Wiro pula.
“Tugasmu menyelidik, mencari si pencuri dan mendapatkan kitab itu kembali. Dengan lain perkataan kau harus mencari Dewa Tuak dan memancing-mancing dirinya sampai kau yakin betul bukan dia yang mencuri kitab itu.”
“Bidadari Angin Timur pernah mengatakan dia punya dugaan siapa pencuri kitab. Tapi gadis itu belum mau menyebut nama orangnya….”
“Dugaan bisa macam-macam. Aku minta kau tetap menyelidiki Dewa Tuak.”
“Tapi Nek….”
“Tapi apa?”
“Kalau saya bertemu Dewa Tuak, lalu dia bicara soal perjodohan dengan muridnya. Dia memaksa….”
“Jodoh mana bisa dipaksa-paksa. Kecuali kalau kau memang suka pada muridnya. Apa kau mau dinikahkan-dengan gadis muridnya itu?”
“Saya belum mau kawin Nek,” jawab Pendekar 212.
Sinto Gendeng kembali tertawa cekikikan.
“Sulit aku percaya! Hik…hik!”
“Sungguh Nek, saya masih perjaka,” kata Wiro lagi-lagi polos dan membuat sang guru kembali tertawa panjang.
“Apamu yang masih perjaka? Hidung? Dengkul atau jempol kakimu? Hik…hik…hik!”
Wiro garuk-garuk kepala lalu ikutan tertawa.
Tiba-tiba guru dan murid hentikan tawa. Di kejauhan terdengar derap kuda dipacu orang. Tak lama kemudian, di jalan kecil di bawah mereka, dari arah Kotaraja kelihatan seorang penunggang kuda memacu tunggangannya, kencang sekali. Orang ini hanya mengenakan sehelai celana kolor butut. Berapa belas tombak di belakangnya mengejar serombongan penunggang kuda. Di sebelah depan lelaki berpakaian bagus mengenakan topi tinggi. Di sebelah belakang enam orang berseragam perajurit.
“Nek, penunggang kuda di sebelah depan itu….”
“Aku sudah melihat. Memangnya kenapa?”
“Dia… dia kakek sahabatku si Setan Ngompol.”
“Aku sudah tahu,” jawab Sinto Gendeng acuh. “Kelihatannya sahabatmu itu dalam keadaan tidak enak. Tujuh orang yang mengejarnya, dari pakaiannya menunjukkan mereka orang-orang Kadipaten. Entah Kadipaten mana. Kesalahan apa telah dibuat kakek tolol tukang kencing itu sampai-sampai dia dikejar begitu rupa! Huh!”
“Terakhir sekali dia membawa seorang tawanan ke Kotaraja. Tawanan itu kemudian dikabarkan lolos. Setan Ngompol lenyap. Tahu-tahu barusan muncul, dikejar-kejar pasukan Kadipaten. Nek, kalau sahabatku itu dalam bahaya, saya harus menolongnya. Paling tidak tahu apa yang terjadi. Maafkan saya Nek. Saya harus melakukan sesuatu….”
“Anak Setan, terserah kau mau melakukan apa. Tapi awas, jangan lupa mencari Kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan! Jangan lupa menyelidiki Dewa Tuak….”
“Saya mohon diri Nek…”
“Pergi saja sana….”
“Kau tidak marah Nek?”
“Mengapa harus marah?”
“Kau… kau mau pergi kemana Nek?”
“Aku mau pergi kemana? Apa urusanmu? Bukan cuma kau yang punya banyak kekasih di dunia ini. Apa lagi aku sekarang punya jubah hitam baru, tidak bau pesing. Banyak kakek-kakek gagah yang bisa aku pikat! Hik…hik…hik!” Tiba-tiba Sinto Gendeng hentikan tawanya. Tangan kiri meraba ke bagian bawah perut.
“Kenapa berhenti tertawa Nek?” tanya Wiro.
“Tidak, tidak apa-apa.” Jawab Sinto Gendeng.
Wiro melirik ke bawah. Di salah satu kaki si nenek yang tersembul di ujung jubah hitam kelihatan cairan meleleh.
Wiro tersenyum. “Eyang, saking senangnya kau pasti barusan kencing alias ngompol.”
“Jangan urusi aku! Sudah, pergi sana!” Tampang si nenek bersemu merah.
“Saya pergi Nek. Tapi jangan lupa!” Kata Wiro seraya menggeser duduknya menjauhi sang guru.
“Jangan lupa apa?!”
“Sebelum mencari kakek gagah, jangan lupa cebok dulu! Nanti tidak ada kakek yang mau! Habis bau pesing!”
“Anak Setan kurang ajar!” maki Sinto Gendeng.
Tangannya menyambar ke arah telinga kiri Wiro, hendak menjewer.
Tapi sang murid lebih cepat melompat turun dari atas cabang pohon. Sambil lari dan tertawa-tawa Wiro berteriak.
“Jangan lupa Nek! Ceboookkk! Ha…ha…ha…ha!”

***

13
SETAN Ngompol memacu kudanya laksana dikejar setan. Saat itu satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya hanyalah sehelai celana kolor butut basah kuyup. Semakin cepat dia memacu kudanya semakin banyak air kencing yang mengucur dari bawah perutnya. Sesekali kakek berkuping lebar bermata jereng ini menoleh kebelakang. Setiap menoleh dia selalu mengeluarkan makian. Sialan! Tujuh penunggang kuda yang mengejar saat demi saat bertambah dekat. Ternyata kuda tunggangan Setan Ngompol hanyalah seekor kuda kacangan yang tak mampu berlari kencang dan lekas lelah.
Dikejar begitu rupa Setan Ngompol tidak tahu ke arah mana kuda membawanya. Dia sendiri tidak tahu seluk beluk kawasan timur di luar Kotaraja itu. Hingga satu saat kuda yang ditungganginya itu tiba-tiba berhenti, angkat dua kaki depan dan meringkik keras.
“Binatang keparat!” maki Setan Ngompol. Air kencingnya mengucur tak karuan. Memandang ke depan kakek bermata jereng ini jadi merinding dan delikkan mata. Ternyata saat itu dia dan kuda tunggangan berada hanya beberapa langkah di depan sebuah jurang batu yang sangat dalam. Karuan saja air kencing tambah, deras menyembur. Si kakek elus tengkuk kudanya, menarik tali kekang, berusaha membelokkan binatang itu ke samping. Namun tujuh orang yang mengejar telah sampai di tempat itu, langsung mengurung. Lelaki paling depan, bertopi tinggi dan mengenakan pakaian bagus membentak.
“Dajal tua! Lekas turun dari kudamu!”
Di atas kuda Setan Ngompol menggigil, kembali terkencing-kencing. Sambil berpeluk tangan di atas dada dia berkata.
“Di desa Bantul kalian mau menangkapku. Aku tidak tahu kesalahan apa yang telah aku lakukan!”
“Turun dari kudamu, nanti baru kita bicara! Atau mungkin saat ini juga kau memilih mati dicincang anak buahku. Atau barangkali kau memilih mati dilempar ke dalam jurang?!”
Enam orang berpakaian perajurit Kadipaten segera menghunus senjata masing-masing yaitu pedang panjang pipih berbentuk segi empat.
“Meski sudah tua bangka begini aku belum mau mati! Tapi aku benar-benar tidak tahu apa kesalahanku!” Setan Ngompol turun dari kudanya. Berdiri hanya memakai celana kolor butut yang sudah basah kuyup oleh air kencing kakek ini bertanya. “Kalian ini siapa sebenarnya? Mengapa ingin menangkapku?”
“Kami bukan cuma ingin menangkapmu, tapi juga membunuhmu! Kejahatanmu setinggi langit sedalam lautan!”
“Begitu? Tuduhan gila! Aku merasa tidak punya dosa, tidak punya kesalahan!”
“Tua bangka jahanam! Tutup mulutmu! Pakaian ini cukup menjadi bukti siapa dirimu sebenarnya!” Bentak lelaki bertopi tinggi. Dari sebuah kantong kain yang tergantung di leher kuda, orang ini keluarkan sehelai jubah putih dan kain putih berbentuk aneh. Ada ikatan di salah satu ujungnya dan dua lobang kecil disalah satu sisinya.
Sepasang mata Setan Ngompol berputar jereng. Lalu kakek ini menyeringai.
“Hah! Ternyata kau orang baik hati. Mau memberikan pakaian pada saat aku setengah telanjang dan kedinginan begini rupa!” Setan Ngompol cepat membungkuk hendak mengambil jubah putih.
Orang bertopi tinggi di atas kuda habis kesabarannya. Sekali dia membuat gerakan, tubuhnya melesat dari atas punggung kuda lalu berkelebat ke arah Setan Ngompol. Kaki kanannya menendang ke jurusan kepala si kakek! Dalam kejutnya Setan Ngompol jatuhkan diri ke tanah. Menyambar jubah dan kain putih, lalu bergulingan. Namun saat itu enam orang perajurit secara serentak telah turun dari atas kuda, melompat ke arah Setan Ngompol. Begitu tubuh kakek ini berhenti berguling, masih terbujur di tanah, belum lagi sempat bangun, enam ujung pedang tahu-tahu telah menempel di leher, dada dan perutnya.
“Serrr.” Langsung saja kencing si kakek terpancar.
Salah seorang perajurit yang menempelkan ujung pedangnya ke leher Setan Ngompol menghardik.
“Tua bangka bau pesing! Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa! Kami adalah perajurit­perajurit utama Kadipaten Magetan! Orang di atas kuda itu adalah Adipati Magetan Raden Sidik Mangkurat!”
“Serrr!” Kembali Setan Ngompol pancarkan air kencing.
“Rupanya aku berhadapan dengan seorang Adipati. Maafkan keadaanku yang begini. Adipati selembar nyawaku mungkin tidak ada gunanya. Aku akan mati penasaran kalau tidak tahu kesalahan apa yang telah aku perbuat! Seumur-umur aku belum pernah ke Magetan. Mana mungkin aku berbuat kejahatan di kota itu?”
“Kau memang tidak berbuat kejahatan di Magetan. Tapi dimana-mana! Manusia pocong jahanam! Kau bukan saja menculik perempuan-perempuan hamil, tapi juga telah membunuh beberapa sahabatku, termasuk Aji Warangan!”
“Demi Tuhan! Kau menyebut aku manusia pocong! Tampangku memang jelek, tapi kalau kau sebut manusia pocong sungguh keterlaluan!”
“Jubah putih dan kain penutup kepala di dekatmu itu! Bukankah itu dandanan pakaianmu? Benda itu kami temukan di rumah janda tempat kau menginap! Siapa pemiliknya kalau bukan kau?!”
“Seumur-umur aku tidak pernah memiliki pakaian seperti ini. Seumur-umur aku tidak pernah menculik perempuan hamil. Aku tidak kenal siapa itu Aji Warangan.”
“Dia adalah Kepala Pasukan Kadipaten Magetan! Dia lenyap dan aku yakin sudah kau bunuh ketika dia melakukan pengejaran atas pembunuh Ki Mantep Jalawardu Kepala Desa Plaosan. Lalu I Ketut Sudarsana menantu Kepala Desa. Kau juga membunuh Surablandong sahabat Ki Mantep yang juga sahabatku! Kau menculik Nyi Upit Suwarni, puteri Ki Mantep Jalawardu yang tengah hamil tujuh bulan!” .
“Wuaallah! Tuduhan gila! Adipati, aku tidak kenal semua orang yang kau sebutkan itu!”
Adipati Sidik Mangkurat melangkah mendekati Setan Ngompol yang tidak berdaya di bawah tudingan enam pedang yang menempel di leher, dada dan perutnya.
“Tua bangka keparat! Siapa namamu?!”
“Orang-orang memanggilku dengan sebutan Setan Ngompol!”
Dalam keadaan lain enam orang perajurit utama Kadipaten Magetan akan tertawa gelak-gelak mendengar ucapan si kakek. Tapi saat itu yang ingin mereka lakukan adalah segera menusukkan amblas senjata masing-masing ke leher, dada dan perut Setan Ngompol.
“Tua bangka edan! Jangan berpura-pura sinting! Kami sudah tahu siapa dirimu!”
“Aku tidak sinting! Paling tidak belum jadi orang sinting!” teriak Setan Ngompol.
Tidak sabaran Adipati Magetan tendang pinggul si kakek hingga Setan Ngompol mencelat sampai satu tombak. Dalam keadaan merintih kesakitan dan kucurkan air kencing, enam perajurit cepat mendatangi dan kembali tempelkan ujung pedang ke leher dan tubuh si kakek.
“Kau kami gerebek di rumah janda di Bantul itu. Tidak ada lelaki lain di rumah itu. Jubah putih dan kain putih penutup kepala yarig kami temui pasti milikmu. Pertanda kau adalah manusia pocong yang selama beberapa bulan ini malang melintang menculik dan membunuh!”
“Adipati, aku bersumpah! Aku bukan orang yang kau tuduhkan itu!”
“Jangan membuat aku kehilangan kesabaran! Katakan apa hubunganmu dengan janda gemuk di Bantul. Dimana Nyi Upit Suwarni kau sembunyikan! Katakan dimana sarangmu!”
“Hubunganku dengan janda gemuk itu cuma hubungan suka sama suka, doyan sama doyan. Aku tidak tahu siapa itu Nyi Upit Suwarni. Aku tidak punya sarang. Karena aku bukan burung atau lebah!”
Kesabaran Adipati Magetan putus sudah.
Dengan mata mendelik, rahang menggembung dia kemudian berteriak.
“Perajurit! Bunuh tua bangka keparat itu!”
Enam tangan bergerak siap menghunjamkan pedang masing-masing. Mendadak satu bentakan menggeledek di tempat itu.
“Tahan!”
Adipati Magetan dan enam perajurit merasakan tanah bergetar di dera kekuatan bentakan tadi.
Di lain kejap satu bayangan putih berkelebat dan tegak di depan Adipati Sidik Mangkurat, di samping sosok Setan Ngompol yang siap hendak dibantai.

***

14
SETAN Ngompol delikkan matanya yang lebar jereng lalu terkencing. Sambil senyum dia keluarkan ucapan.
“Sobatku si Anak Setan, kenapa tidak dari tadi-tadi kau muncul. Ayo bantu aku membebaskan diri dari orang-orang gila ini. Aku dituduh menculik perempuan hamil. Membunuh orang-orang yang aku tidak kenal!”
Enam perajurit. pandangi pemuda berpakaian putih berambut gondrong yang berdiri di hadapan pemimpin mereka. Adipati Sidik Mangkurat sendiri menatap tak berkesip pada pemuda yang berdiri di hadapannya dan tidak dikenalnya.
“Pemuda gondrong, apapun hubunganmu dengan kakek keparat itu, jangan coba-coba mencampuri urusan. Apa lagi berani turun tangan untuk menolong dajal tua itu!”
“Adipati, jangan bicara sombong! Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa!” Setan Ngompol berteriak.
Sekilas sepasang mata Adipati Magetan melirik ke arah Setan Ngompol lalu memandang menyipit dan tak berkesip ke arah pemuda di hadapannya.
“Dajal tua itu bicara seolah kau adalah malaikat yang bisa menolongnya! Orang muda, katakan siapa dirimu?!”
“Aku tidak kalah edannya dengan kakek itu. Kalau dia sinting aku sableng!” jawab si pemuda.
“Jangan berolok-olok! Katakan cepat siapa dirimu!”
“Biar aku yang menjawab!” berteriak Setan Ngompol. “Adipati! Dengar baik-baik! Pemuda yang berdiri di depanmu itu adalah Pendekar 212 Wiro Sableng! Murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Mereka orang-orang yahg dekat dengan Keraton. Jadi jangan berani main-main. Sekarang lekas bebaskan diriku!”
Enam perajurit Kadipaten Magetan dan juga sang Adipati Raden Sidik Mangkurat tersentak kaget mendengar ucapan Setan Ngompol. Mereka memang pernah mehdahgar nama besar Sinto Gendeng dan sang murid yahg dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 itu. Tapi seumur-umur belum pernah melihat atau kenal orangnya. Bukan mustahil untuk selamatkan diri Setan Ngompol sengaja berdusta mengada-ada.
Adipati Sidik Mangkurat menyeringai.
“Dajal tua, siapapun adanya pemuda ini, dia tidak bakal menyelamatkan dirimu dari kematian! Perajurit….”
“Tunggu!” Wiro cepat keluarkan ucapan sambil angkat tangannya. Dari telapak tangan sang pendekar berhembus selarik angin mengandung tenaga dalam tinggi. Orang yang tak sanggup menahannya akan terpental saat itu juga. Jika punya ilmu dan coba bertahan akan dibuat melintir. Yang coba membalas dengan tenaga dalam bisa muntah darah! Yang dilepaskan Wiro untuk menyerang sang Adipati adalah pukulan bernama Tangan Dewa Menghantam Karang, yang dipelajarinya dari Kitab Putih Wasiat Dewa, didapat dari kakek sakti bernama Datuk Rao Basaluang Ameh.
Adipati Magetan bukan orang sembarangan. Begitu Wiro mengangkat tangan dengan telapak terbuka ke arahnya dia segera maklum kalau orang tengah mengirimkan satu serangan jarak pendek yang halus, hampir tanpa suara namun memiliki kekuatan dahsyat luar biasa. Adipati ini cepat angkat tangan kanannya untuk menolak serangan Wiro.
Namun, dia jadi terkejut besar ketika merasakan tangannya seperti disambar api, lalu terpental ke belakang. Tidak menunggu ebih lama Adipati ini segera turunkan tangan dan cepat menyingkir ke samping. Ketika dia memperhatikan ternyata tangan kanannya sebatas pergelangan sampai ke ujung-ujung jari telah berubah menjadi merah dan berdenyut sakit. Cepat dia ini kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan. Sesaat kemudian denyutan sakit lenyap namun tangan itu masih kelihatan merah.
“Pemuda gondrong, jika kau memang benar Pendekar 212 Wiro Sableng maka ini adalah satu kejadian luar biasa! Selama ini aku mengenal dirimu sebagai seorang pendekar pembela kebenaran penegak keadilan. Tapi hari ini kau membela tua bangka dajal pembunuh dan penculik itu!”
“Adipati, harap maafmu. Aku bukannya menyanggah. Aku kenal betul dengari kakek ini. Dia memang suka jahil, banyak orang tidak senang karena kemana-mana selalu ngompol dan menebar bau kencing yang tidak sedap. Tapi soal kejahatan aku berani bersumpah dia tidak pernah melakukan. Apalagi yang namanya menculik perempuan hamil. Untuk apa? Kalau dia membunuh seseorang tentu dia punya alasan. Harap kau suka memerintahkan para perajuritmu untuk melepas dirinya. Lalu kita bicara secara baik­baik.
“Dari sikap dan cara bicaramu, aku curiga kau bukan Pendekar 212 sebenarnya. Kau dan kakek itu tengah berusaha memperdayai diriku! Menyingkir dari hadapanku. Kalau tidak kau bakal jadi korban kedua setelah tua bangka dajal itu!”
Wiro berpaling ke arah Setan Ngompol.
“Kek, mendengar ucapan Adipati ini jangan-jangan kau memang benar telah berbuat kejahatan. Aku tidak bisa menolongmu. Maafkan kalau aku terpaksa pergi…”
“Wiro! Tunggu! Kau lebih percaya Adipati itu atau diriku! Kita sudah bersahabat sekian lama! Kau tahu siapa diriku….”
Wiro gelengkan kepala.
“Sekali ini aku mohon maafmu kakek,” ucap Wiro pula. Lalu setelah membungkuk memberi hormat ke arah Adipati Sidik Mangkurat murid Sinto Gendeng melangkah tinggalkan tempat itu. Namun baru setengah langkah berada di belakang sang Adipati, tiba-tiba Wiro membuat gerakan kilat.
Adipati Sidik Mangkurat hanya melihat cahaya putih menyilaukan dilapis cahaya kemerahan. Lalu tahu-tahu salah satu dari dua mata Kapak Maut Naga Geni 212 telah menempel di tenggorokannya. Wiro sengaja kerahkan tenaga dalam hingga mata kapak memancarkan hawa panas yang serta merta memasuki tenggorokan lalu menjalar ke seluruh tubuh. Saat itu juga Adipati merasa dirinya seperti dipanggang. Seluruh wajah dan sekujur tubuh serta pakaiannya basah mandi keringat.
“Adipati, kapak sakti ini mengandung hawa panas yang bisa melelehkan besi, menghancurkan batu karang. Jika kau sanggup menahan, masih ada racun jahat yang bisa membuat sekujur tubuhmu menjadi gosong. Kalau kau masih bisa bertahan, apakah lehermu sanggup dan punya kekebalan menahan sayatan mata kapak yang punya daya tekanan lebih dari seratus kati?! Aku tidak mau melakukan semua itu. Asalkan kau mau membebaskan kakek sahabatku itu! Aku berani menjamin, dia bukan orang jahat dengan segala tuduhan yang kau ucapkan tadi. Jika memang ada manusia pocong yang kau katakan itu, aku berjanji membantu untuk mencari dan membekuk batang lehernya!”
“Manusia pocong itu adalah dajal tua itu sendiri!” jawab Adipati Magetan dengan suara keras dan tampaknya tidak takut akan ancaman Wiro.
Murid Sinto Gendeng tersenyum.
“Jika kau berpendapat demikian, menyesal sekali kau akan menemui ajal berbarengan dengan kakek itu!”
Wiro lalu lipat gandakan tenaga dalamnya. Kapak Naga Geni 212 memancarkan cahaya putih menyilaukan. Cahaya merah yang melapisi bagian luar mata kapak tampak lebih benderang. Adipati Sidik Mangkurat berteriak setinggi langit. Enam perajurit tercekat. Leher sang Adipati mereka lihat seperti hangus menghitam. Wiro kendurkan tenaga dalamnya. Hawa panas yang seperti mau melelehkan tubuh Adipati Sidik Mangkurat surut.
“Bagaimana Adipati…?” Pendekar 212 berbisik ke telinga sang Adipati.
Mata Adipati Sidik Mangkurat mendelik. Rahangnya menggembung entah menahan amarah entah menahan sakit. Dari mulutnya kemudian meluncur perintah..
“Perajurit, lepaskan orang itu!”
Enam pedang ditarik. Enam perajurit bersurut mundur.
“Kek, pilih dua ekor kuda. Buatmu satu, aku satu!”
Setan Ngompol bangkit berdiri lalu tertawa mengekeh. Seperti yang dikatakan Wiro dia segera mengambil dua ekor kuda milik orang-orang Kadipaten Magetan. Salah seekor di antaranya adalah tunggangan Adipati Sidik Mangkurat yang segera dinaikinya. Kuda ke dua ditariknya mendekati Wiro. Tak lupa dia mengemasi dan mengambil jubah serta kain putih yang tadi dilemparkan Adipati Sidik Mangkurat.
“Adipati, antara kita tidak ada permusuhan. Jadi harap tidak ada dendam dalam dirimu terhadapku! Apa yang aku lakukan hari ini hanyalah untuk menegakkan kebenaran. Apakah kebenaran yang aku katakan itu memang benar adanya silahkan nanti kau menyelidik sendiri. Aku menghormati dirimu, untuk itu aku mohon maaf akan semua kelancanganku tadi. Ditambah yang satu ini!”
Selesai keluarkan ucapan, dua jari tangan kiri Pendekar 212 bergerak ke tengkuk Adipati Sidik Mangkurat. Saat itu juga sang Adipati merasakan sekujur tubuhnya kaku tegang tak bisa bergerak. Wiro tidak tunggu lebih lama. Masih memegang Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan dia melompat ke atas kuda yang disiapkan Setan Ngompol. Sekali sama-sama menggebrak, keduanya melesat di atas tunggangan masing-masing. Di sebelah belakang caci maki dan ancaman menyerapah keluar dari mulut Adipati Magetan.

***

DI SATU pedataran rumput, menjelang sang surya akan tenggelam di ufuk barat. Pendekar 212 Wiro Sableng dan Setan Ngompol hentikan kuda lalu mencari tempat yang enak untuk duduk. Saat itu Setan Ngompol telah mengenakan jubah putih yang sebelumnya dibawa oleh Adipati Sidik Mangkurat.
“Kek, sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Terakhir kali kau membawa Rana Suwarte dalam keadaan tertotok ke Kota raja. Ada yang memberi tahu orang itu kabur meloloskan diri. Lalu bagaimana pula ceritanya sampai Adipati Magetan dan pasukannya mengejar-ngejar dirimu.”
Setan Ngompol senyum-senyum. Matanya yang jereng berputar beberapa kali.
“Waktu aku sampai di rumah janda di desa Bantul, hari sudah malam. Rana Suwarte aku masukkan di sebuah kamar, masih dalam keadaan tertotok. Aku sendiri tidur di kamar lain….”
“Bersama janda itu tentunya,” sambut Wiro.
Si kakek kedipkan mata jerengnya lalu tertawa mengekeh. “Kau belum lihat orangnya, tapi nada suaramu seperti cemburu. Ha…ha…ha! Janda hebat. Luar biasa. Malam itu aku benar-benar puas. Tulang­tulang tubuhku seperti copot. Malam itu aku baru tidur menjelang pagi. Gila! Kalau aku bayangkan janda itu. Ha…ha…ha!”
“Kek, malam itu kau tidak ngompol di atas tempat tidur?”
“Wuallah. Dalam keadaan darurat seperti itu anuku paling tahu diri. Ha…ha…ha!”
“Ceritakan kecerobohan apa yang telah kaulakukan sampai Rana Suwarte bisa kabur.”
“Aku tidak membuat kecerobohan. Dan Rana Suwarte tidak kabur, tapi ada yang membawa kabur!” Menerangkan. Setan Ngompol. “Totokan yang aku lakukan atas diri orang itu paling cepat akan punah sendirinya selama tiga hari. Jika dia memang bisa memusnahkan totokan, pasti dia mencari dan menghajar diriku. Ternyata itu tidak dilakukannya! Ada orang yang menculiknya. Dan si penculik itu ketinggalan jubah serta kain putih ini!”
“Kau sampai tidak mengetahui kejadian itu, bukankah itu satu kecerobohan?”
“Bisa saja orang menuduhku begitu. Tapi kalau ada orang yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya dariku yang melakukan sesuatu terhadap Rana Suwarte, aku musti bilang apa?”
“Kau tetap coroboh, lengah. Karena semalam suntuk lebih mementingkan janda itu dari pada memperhatikan tawanan.”
Setan Ngompol pencongkan mulut. Lalu berkata. “Anehnya, di dalam kamar aku menemukan jubah putih ini bersama kain yang ada ikatannya dan dua lobang di salah satu sisinya. Aku tidak begitu memperhatikan jubah dan kain putih ini. Kutinggalkan begitu saja di dalam kamar. Dua minggu aku menginap di rumah janda itu. Siang tadi, tiba-tiba ada pasukan menggerebek. Aku mengira petugas keamanan dari Kotaraja yang tengah melakukan pembersihan. Khawatir aku akan ditangkap lalu dihukum dengan perintah harus mengawini janda itu, tidak pikir panjang walau aku saat itu cuma pakai kolor butut dan kuyup, aku langsung saja kabur dari rumah janda itu. Ternyata pasukan yang menggerebek melakukan pengejaran. Dan ternyata mereka bukan pasukan pembersihan dari Kotaraja, melainkan Adipati Magetan dan enam orang perajuritnya!”
”Pasal lantaran apa mereka mengejarmu seperti mengejar maling kesiangan Kek?” tanya Wiro pula.
“Itu yang semula aku tidak tahu,” jawab Setan Ngompol. “Ketika aku tersudut di depan jurang tadi baru aku tahu mereka adalah orang-orang Kadipaten Magetan. Sialan! Aku dituduh sebagai manusia pocong yang menurut Adipati brengsek itu telah gentayangan selama beberapa bulan. Menculik perempuan­perempuan hamil, membunuh teman-temannya. Sebagai bukti dia membawa jubah dan kain putih yang mereka temukan di rumah janda itu. Mereka menuduh pakaian itu adalah milikku. Mereka tidak pernah tahu kalau di rumah itu sebelumnya ada Rana Suwarte.”
Wiro garuk-garuk kepala.
“Aku percaya kau tidak berbuat kejahatan sekeji itu, Kek. Cuma satu yang aku heran, bagaimana janda di Bantul itu bisa suka padamu. Padahal kau bukan saja sudah tua bangka seperti ini tapi juga tukang ngompol, kemana-mana selalu basah kuyup celananya, bau pesing.”
“Terus terang aku juga heran, janda gemuk, putih dan cantik itu senang padaku. Entah mengapa malam kemarin ketika bermesraan aku sempat-sempatnya bertanya. Kau tahu apa kata janda itu?”
Wiro gelengkan kepala.
“Katanya begini. Dari seluruh tubuhku, hanya ada satu yang sangat menarik hatinya. Bukan saja waktu tidur, tapi setiap dekat denganku, bagian tubuhku itu selalu dipegangnya, diusap, dibelai-belai. Aduh asyiknya! Nah, kau bisa menerka bagian tubuhku yang mana yang disukai janda gemuk itu? Ha…ha…ha!”
Wiro garuk-garuk kepala. Hendak menjawab tapi tidak tega menyebut. Akhirnya Wiro hanya memandang ke bagian bawah perut si kakek sambil kepalanya digoyangkan.
“Pasti yang satu itu Kek.”
Setan Ngompol tertawa mengekeh.
“Bukan, bukan yang itu!” katanya sambil mengusap matanya yang basah oleh air mata saking maraknya tertawa. “Tapi ini!” Si kakek pegang dua kupingnya kiri kanan. “Janda itu suka pada telingaku yang lebar ini. Apa lagi yang sebelah kanan terbalik aneh. Menurut dia sejak mengenal diriku dan sering memegang-megang kupingku, rejekinya datang tidak terduga. Melimpah ruah. Ha…ha…ha!” Setan Ngompol kembali tertawa bergelak. Dan di bawah perutnya air kencingnya kembali mengucur.

TAMAT
SEGERA TERBIT EPISODE BERIKUTNYA:
RUMAH TANPA DOSA

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog