Thursday, March 19, 2009

113 Lorong Kematian

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : 113 LORONG KEMATIAN

1

KEINDAHAN dan ketenangan Telaga Sarangan di kaki selatan Gunung Lawu sejak beberapa waktu belakangan ini dilanda oleh kegegeran menakutkan. Tujuh penduduk desa sekitar lembah dicekam rasa cemas amat sangat. Jangankan malam hari, pada siang hari sekalipun jarang penduduk berani keluar rumah. Pagi hari mereka tergesa-gesa pergi ke ladang atau sawah, menggembalakan memberi makan atau memandikan lemak lalu cepat-cepat kembali pulang. Mengunci diri dalam rumah, menambah palang kayu besar pada pintu dan jendela.
Pasar yang biasanya ramai hanya digelar sebentar saja lalu sepi kembali. Penduduk lebih banyak berada di rumah masing-masing, berkumpul bersama keluarga sambit berjaga-jaga. Terutama dirumah dimana ada orang perempuan yang tengah hamil tujuh bulan ke atas. Malam hari setiap desa diselimuti kesunyian. Penduduk tenggelam dalam rasa takut. Tak ada yang berani keluar rumah. Apakah yang lelah terjadi ? Apa penyebab hingga penduduk dilanda rasa takut demikian rupa?
Peristiwanya dimulai sekitar empat purnama lalu. Malam hari itu rumah Ki Mantep Kepala Desa Plaosan kelihatan ramai. Mereka tengah mempersiapkan hajatan selamatan tujuh bulan kehamilan pertama Nyi Upit Suwarni yang akan dirayakan secara besar­besaran besok harinya. Maklum Nyi Upit adalah anak tunggal, puleri satu-satunya Ki Mantep Jalawardu yang bersuamikan I Ketut Sudarsana. seorang pcngusaha dan juru ukirberasal dari Klungkung, Bali berarti bayi yang dikandung Nyi Upit akan merupakan cucu pertama Kepala Desa Plaosan itu. Tidak mengherankan selamatan tujuh bulan ini dilangsungkan secara meriah. Besok malam, setelah upacara adat pada siang harinya, akan digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Untuk itu sebuah panggung besar telah di bangun di halaman depan rumah Kepala Desa.
Malam itu semakin larut hari semakin ceria kelihatan suasana di rumah Ki Mantep Jalawardu. Di dapur orang memasak berbagai macam makanan dan kue-kue. Di ruang tengah ibu-ibu muda sahabat Nyi Upit sambil sesekali berseloroh, sibuk menata sebuah meja besar, menghiasi berbagai juadah dan buah-buahan yang diletakkan dalam beberapa piring besar mengelilingi sebuah tumpeng raksasa.
Di dalam kamar setengah berbaring di atas tempet tidur, Nyi Upit mengobrol dengan beberapa orang gadis. Gadis-gadis itu adalah sahabatnya sedesa, tapi beberapa diantaranya berasal dari desa lain. Mereka mengobrol segala macam hal. Terkadang mengganggu Nyi Upit dengan cerita-cerita lucu tapi nakal, sesekali terdengar mereka tertawa riuh.
Di ruang depan Ki Mantep dan sang menantu I Ketut Sudarsana, ditemani beberapa keluarga dekat serta tetangga, kelihatan asyik bercakap-cakap. Kopi hangat dihidangkan tiada henti. Berbagai juadah disuguhkan. Sekotak cerutu besar yang dibeli dari awal sebuah kapal asing yang berlabuh di pantai utara ikut menambah maraknya suasana percakapan. . .
Lewat tengah malam ketika udara terasa tambah dingin dan beberapa orang sejawat mulai minta diri, orang-orang lelaki yang tengah asyik bercakap-cakap di langkan depan rumah dikejutkan oleh suara derap kaki kuda. Sesaat kemudian seorang penunggang kuda dengan cepat melintas di halaman rumah. Wajahnya tidak jelas karena halaman depan agak gelap dan kuda hitam yang ditungganginya melesat cepat sekali. Yang sempat terlihat ialah si penunggang mengenakan jubah putih serta kerudung berbentuk pocong putih. Aneh!
”Siapa menunggang kuda malam-malam buta begini ? Berpakaian aneh, lewat begitu saja seperti setan”. I Ketut Sudarsana keluarkan ucapan sambil berdiri dari kursi memperhatikan penunggang kuda yang segera saja menghilang dalam kegelapan
Sesaat selelah penunggang kuda itu lewat dan lenyap, sebuah benda melayang di udara melewati bagian depan rumah, menyipratkan cairan kental. Benda yang melayang ini terus melesat ke bagian dalam rumah. Beberapa orang ibu muda yang tengah menghias buah-buah serta juadah di meja besar terpekik kaget dan melangkah mundur dengan muka pucat. Ki Mantep Jalawardu orang yang pertama sekali melompat dari kursi, lari ke bagian dalam rumah diikuti menantunya I Ketut Sudarsana serta beberapa anggota keluarga dekat dan kenalan.
“Ada apa?!” lanya Kepala Desa Plaosan itu sambil memandang ke arah orang perempuan yang bergerombol merapat di salah satu sudut ruangan, unjukkan wajah ketakutan. Seorang diantara mereka dengan tangan gemetar dan muka pucat menunjuk kearah tumpangan di atas meja besar.
Tepat di bagian atas tumpengan yang terletak di meja. kelihatan menancap sebuah bendera kecil berbentuk segitiga. Bendera ini diikatkan pada potongan kecil bambu sepanjang setengah jengkal. Ujung bambu inilah yang menancap di tumpengan. Warna merah bendera aneh Itu ternyata adalah cairan kental yang masih menetes-netes.
Dari dalam kamar beberapa orang gadis berlarian keluar. Nyi Upjt mengikuti. Mereka mendengar ribut-ribut diluar, suara orang menjerit. Mereka ingin tahu apa yang terjadi orang-orang yang bekerja di dapur lak ketinggalan ikut berlarian ke ruangan tengah rumah.
“Ayah, ada apa ?" Bertanya Nyi Upit.
“Tidak ada apa-apa. Kalian semua masuk kembali ke dalam kamar…” jawab Ki Mantep. Tapi Nyi Upit dan teman-temannya tetap saja tegak di depan pintu kamar,
Ki Mantep dekati meja besar. Tubuhnya dibungkukkan, kepala didekatkan ke tumpengan, memperhatfkan bendera merah. Perlahan-lahan tangan kanannya diulurkan meraba bendera segi tiga. Terasa cairan kental menempel di ujung-ujung jari. Ki Mantep tarik tangannya, memperhatikan cairan merah yang melekat di ujung jari-jari tangan sambil jari-jari itu digesekkan. Tengkuk Kepala Desa ini mendadak dingin. "Darah..” Ucap Ki Mantep dengan suara bergetar. Kepala Desa ini tersurut dua langkah. I Ketut Sudarsana beranikan diri maju mendekati meja. Dengan tangan kirinya dicabutnya bendera segitiga yang menancap di tumpengan. Bendera merah basah diperhatikan dengan mata tak berkesip. Hidungnya mencium bau amis. ”Darah, memang darah." kata I Ketut Sudarsana. Seperti ayah mertuanya, suara sang menantu juga bergetar "Apa artinya ini? Siapa yang melempar bendera darah ini?!" "Pasti orang berkuda berjubah putih tadi." Ucap Ki Mantep Jalawardu. "Mengapa dia melakukan ini? Melempar bendera segitiga basah dengan darah. Apa maksudnya?” Tanya I Ketut Sudarsana sambil memandang pada ayah mertuanya lalu pada orang-orang di sekeliliingnya. Tak ada yang menjawab karena memang mereka tidak tahu apa artinya semua ini. Namun Ki Mantep Jalawardu sebagai orang tua yang telah berpengalaman dan menjadi Kepala Desa Plaosan lebih dari dua puluh tahun diam­diam merasa ada sesuatu yang aneh di balik apa yang barusan terjadi. Dan di belakang keanehan Ini dia mencium sesuatu yang berbahaya.
Ki Mantep kembali menyuruh putrinya dan semua anak gadis masuk ke dalam kamar. Orang dapur dimintanya kembali bekerja di dapur. Ibu-ibu muda yang tadi sibuk menghias piring-piring besar berisi berbagai hidangan, juadah dan buah disuruh meneruskan pekerjaan. Kepala Desa ini kemudian mengajak semua orang lelaki kembali ke langkan rumah. "Orang melempar bendera darah ke dalam rumah, Sulit aku menduga apa maksudnya,” Ki Mantep berkata. “Di masa muda, aku banyak membasmi orang-orang jahat sekitar kaki Gunung Lawu. Mungkin saja salah satu dari mereka, kawan atau turunan mereka ingin membalas dendam, sengaja mencari kesempatan pada saat kita mengadakan pesta selamatan tujuh bulan puteriku. Kita perlu berjaga-jaga. Aku akan mengatur para perangkat desa untuk melakukan perondaan sampai pagi. Besok siang penjagaan harus dilanjutkan. Orang yang punya niat jahat pasti akan mengintai kelengahan kita. Aku tak ingin perayaan selamatan tujuh bulan puteriku sampat terganggu." "Ki Mantep” seorang lelaki berusia enam puluh tahun yang merupakan tetangga dan sahabat Kepala Desa sejak bertahun-tahun, bernama Surablandong berkata, “Malam ini urusan keamanan biar serahkan pada saya. Saya akan mengatur anak-anak. Ki Mantep dan yang lain-lain tetap di sini saja. Istirahat dan tidur kalau perlu…”
Kepala Desa Plaosan terdiam sesaat, akhirnya menganggukkan kepala. Siapa tidak kenal dengan Surablandong bekas Ketua Perguruan Silat Lawu Putih yang pernah punya nama harum di sekitar perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur mulai dari Sragen di sebelah utara sampai Ponorogo di kawasan selatan, mulai dari Surokerto di ujung barat sampai Madiun di sebelah timur. Selama bertahun-tahun dirinya ditakuti para penjahat dan orang-orang rimba persilatan golongan hitam. Sejak empat tahun lalu setelah istrinya meninggal, dalam duka cita yang sangat mendalam. Surablandong mengundurkan diri dari dunia persilatan. Jabatan Ketua Perguruan Silat Lawu Putih diserahkan pada muridnya yang paling pandai dan paling dipercaya, bernama Tambak Juwana.
Sambil memegang punggung sahabatnya yang tiga tahun lebih muda itu Ki Mantep mengajak Surablandong melangkah ke pintu pagar.
“Ki Blandong, aku sengaja membawamu ke sini agar yang lain tidak mendengar apa yang akan aku katakan” kata Ki Mantep Jalawardu dengan suara perlahan. "Saya sudah merasa kalau Ki Mantep hendak mengatakan sesuatu. Tapi tidak tahu mau mengatakan apa”.
“Aku punya firasat buruk…”
“Jangan berkata begitu Ki Mantep." Potong Surablandong.
“Padamu aku tidak pernah berpura-pura. Kita sama-sama menyaksikan apa yang terjadi malam ini, Mulai dengan munculnya orang menunggang kuda hitam. Berjubah putih mengenakan penutup kepala seperti pocong. Lalu bendera segitiga yang dibasahi darah. Sengaja dilemparkan ke dalam rumah menancap di Tumpeng besar. Semua itu bagiku adalah suatu pertanda akan terjadi satu malapetaka…”
”Ki Mantep. siapa orang yang berani berbuat macam-macam terhadap dirimu dan keluargamu. Apa lagi saya ada di sini. Bukan saya bicara sombong akan saya tekuk leher orang yang berani mengacau”.
“Kekacauan barusan telah terjadi. Dan kita tidak sempat berbuat apa-apa. Orang sanggup melemparkan bendera darah. Lalu kabur begitu saja…”
Diam-diam Surablandong merasa malu mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Ki Mantep, sudahlah. Jangan dipikirkan apa yang telah terjadi. Masuklah, kau perlu istirahat dan tidur barang beberapa kejap. Soal keamanan rumahmu dan keluargamu menjadi tanggung jawab saya. Saya akan mengatur anak-anak untuk melakukan penjagaan.” "Terima kasih Ki Blandong. Aku akan masuk.Tapi aku tak akan tidur. Kata Ki Mantep Jalawardu pula sambil menepuk bahu sahabatnya lalu berbalik.
“Memang dalam cemas melanda seperti itu siapa orangnya yang bisa tidur,”
Baru satu langkah sang Kepala Desa itu berbalik ke arah rumah, sekonyong­konyong ada derap kaki kuda dari ujung halaman sebelah kanan. Ki Mantep cepat balikkan tubuhnya kembali. I Ketut Sudarsana dan beberapa orang lelaki yang ada di langkan rumah besar menghambur lari ke halaman. Saat itu Surablandong telah melompati pagar terus melesat ke atas panggung besar.
Dari arah kegelapan di sebelah depan kanan panggung melesat seekor kuda hitam. Surablandong siap untuk menggebuk siapapun yang jadi penunggangnya. Tapi jago tua ini jadi melengak kaget ketika melihat kuda hitam itu berlari kencang tanpa penunggang sama sekali!
Saat itu Ki Mantep, I Ketut Sudarsana dan yang lain-lainnya juga sudah melompat ke atas panggung. Seperti Surablandong, tadinya mereka siap menghadang dan menyergap penunggang kuda. Namun semua mereka ikut terkesiap melihat kuda tanpa penunggang itu. Rasa terkesiap dibayangi rasa mengkirik aneh. Selagi semua orang terheran-heran bercampur kecut begitu rupa, kuda hitam lewat menghambur di depan panggung. Dan saat itu pula di dalam rumah mendadak terdengar pekik jerit tiada hentinya. I Ketut Sudarsana tersentak kaget.
Salah satu jeritan itu dikenalinya adalah jeritan isterinya. Lelaki menantu Kepala Desa Plaosan ini secepal kilat melompat turun dari atas panggung, terus melesat ke dalam rumah.
Ki Mantep sesaat tampak bingung sebelum menyusul sang menantu. Yang lain-lain ikut berlarian ke dalam rumah. Hanya Surablandong yang lari ke jurusan lain yakni ke halaman belakang rumah besar, ke arah kandang kuda.
Di dalam rumah jerit pekik orang-orang perempuan semakin keras. Ketika menantu dan suaminya berlari mendatangi, isteri Kepala Desa berteriak,
“Pakne, Nyi Upit diculik ! anak kita diculik setan pocong ! “

2

DI DALAM gelap di bawah hitamnya bayangan pohon besar Surablandong mendekam di atas punggung kuda. Mata dipentang lebar, telinga dipasang tajam. Di dalam rumah didengarnya suara jerit-pekik tiada henti. Malah kini ada suara orang meratap. Surablandong maklum ada satu perkara besar lelah terjadi dalam rumah Kepala Desa sahabatnya itu. Dia tidak bisa menduga apa. Dia tidak bisa membagi perhatian. Lalu didengarnya suara itu. Suara yang ditunggu-tunggu. Derap kaki-kaki kuda.
Di ujung halaman timur rumah besar Kepala Desa, seorang penunggang kuda mengenakan jubah dan penutup kepala putih menyerupai pocong muncul dari dalam kegelapan. Kuda digebrak membelok ke arah depan bangunan panggung, yang berarti akan melewati pohon besar di balik mana Surablandong menunggu Sekitar lima tombak kuda dan penunggangnya dari pohon besar, untuk pertama kalinya Surablandong melihat kalau di sebelah depan si penunggang kuda, di atas pangkuannya, terbujur melintang sosok seorang perempuan. Surablandong tidak bisa menduga siapa adanya perempuan itu. "Jahanam penculik! Manusia atau setan sekalipun kau adanya akan ku pecahkan kepalamu!” Kertak Surablandong. Dengan gerakan gesit lelaki berusia enam puluh tahun ini membuat gerakan ringan dan cepat melesat ke alas. Dua tangannya bergantungan di cabang pohon paling bawah. Ketika penunggang kuda berjubah dan berlutup kepala putih lewat. Surablandong ayun tubuhnya. Saat itu juga, laksana seekor burung rajawali Surablandong melesat ke bawah. Tangan kanan menggebuk ke arah kepala penunggang kuda yang ditutupi kain putih seperti pocong. "Praakk!"
Surablandong merasa yakin gebukan tangannya yang mengandung daya kekuatan atau bobot sama kekuatan hantaman batu seberat 100 kati akan menghancurkan kepala orang. Bahkan dia seolah mendengar suara pecahnya kepala si penculik. Namun jago tua yang di masa muda telah menggegerkan delapan penjuru angin kawasan perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur ini kecele. Bukan kepala orang yang dipecahkannya, malah sebaliknya dirinya yang kena celaka!
Orang di atas kuda lewat dua lobang kecil pada penutup kepala yang menyerupai pocong rupanya telah melihat bayangan kuda dan sosok Surablandong yang mendekam di balik pohon besar. Begitu Surablandong melayang ke arahnya sambil gebukkan tangan kanan orang ini cepat rundukkan kepala sama datar dengan leher kuda. Bersamaan dengan itu kaki kirinya melesat tinggi ke samping.
”Dukkk!”
Gerakan tubuh Surablandong yang menukik sambil memukul sesaat tertahan di udara lalu mencelat dua tombak untuk kemudian jaluh bergedebuk di tanah! Sesaat Surablandong mengerang menahan sakit. Tangan kirinya ditekapkan ke ulu hatinya yang barusan kena dihantam tendangan. Dia kerahkan tenaga dalam ke bagian yang cidera, atur pernafasan lalu bangkit berdiri. Setengah berlari, tanpa perdulikan rasa sakit pada ulu hatinya. Surablandong menghampiri kudanya, naik ke atas punggung binatang ini yang kemudian digebrak ke arah lenyapnya penunggang kuda berpakaian serba putih.
Sambil mengejar Ki Blandong tiada hentinya merutuki diri sendiri. Dia tahu dirinya telah tua. Tapi ilmu silat dan kepandaiannya tidak pernah berkurang. Tiga kali dalam satu minggu dia selalu melatih diri. Kini ternyata orang begitu mudah menghajarnya dengan satu tendangan. Menendang lawan sambil melesat di atas punggung kuda dan memangku sosok perempuan di atas paha bukanlah satu pekerjaan mudah. Hal inilah yang agaknya dilupakan Surablandong. Siapapun adanya penunggang kuda yang kepalanya ditutupi kain putih, dia adalah seorang berkepandaian tinggi. Dan tingkat kepandaiannya jelas berada di atas kepandaian Surablandong!
Orang yang dikejar menggebrak tunggangannya ke arah barat daya. Surablandong yakin dalam waktu tidak terlalu lama dia akan berhasil mengejar orang itu. Berkuda sambil memangku tubuh orang di atas paha bukan pekerjaan mudah dan memungkinkan seseorang bisa memacu tunggangannya dengan kecepatan tinggi. Namun lagi-lagi Surablandong dibuat kecele. Bagaimanapun dia kerahkan kepandaian memacu kudanya. Tetap saja antara dia dan orang yang dikejar terpaut sekitar lima lombak
Dalam kesalnya Surablandong gerakkan tangan ke pinggang. Dari balik sabuk kulit besar yang melilit pinggangnya dia keluarkan dua buah benda berwarna kuning, berbentuk bola-bola kecil sebesar ibu jari kaki, yang dipenuhi duri-duri lancip. Ketika dia masih malang melintang dalam rimba persilatan, benda ini merupakan senjata rahasia sangat menakutkan, dikenal dengan julukan Elmaut Kuning. Belasan lawan terutama orang-orang jahat menemui ajalnya oleh bola berduri terbuai dari kuningan beracun ini.
Sejak dia mengundurkan diri dari dunia persilatan meninggalkan Perguruan Silat Lawu Putih, Surablandong tidak pernah lagi mempergunakan senjata rahasia itu. Agaknya malam ini tidak ada jalan lain. Dia terpaksa mengeluarkan senjata tersebut untuk menghentikan sekaligus menghabisi si penculik.
Ketika di depan sana penunggang kuda yang dikejar membuat gerakan membelok ke kiri. Surablandong melihat inilah kesempatan terbaik untuk menghantam orang. Secepat kilat dia gerakkan tangan kanannya.
”Wuutt ”.
Surablandong lancarkan serangan pertama. Satu dari dua bola kuningan berduri itu melesat di udara. Inilah kebiasaan dan kecerdikan Surabandong. Dia tidak pernah melepas senjata rahasia lebih dari satu buah dalam satu ketika serangan. Cara ini pula yang membuat banyak lawan terpedaya dan menemui ajalnya.
Walau malam gelap namun bola lembaga itu pelihatkan menyala kuning, melayang laksana batu berpijar yang jatuh dari langit, mencari sasaran di.arah kepala penunggang kuda hitam. Orang yang diserang rupanya sudah tahu kalau dirinya hendak dihantam orang dengan satu senjata rahasia. Sambil menyentakkan tali kekang kuda dan rundukkan kepala, dia membuat gerakan berkelit, bersamaan dengan ilu tangan kirinya dilambaikan ke samping.
Pada saat orang berusaha menghindari serangan bola kuningan pertama itulah Surablandong susul dengan serangan kedua. Untuk ke dua kalinya dalam gelapnya malam terdengar suar menderu disertai melesatnya cahaya kuning yang kali ini mencari sasaran di pinggang penunggang kuda hitam.
Orang di atas kuda hitam mendengus. Kembali dia lambaikan tangan kirinya,
”Tringg!" "Tringg!”
Dua kal terdengar suara berdering disertai kerlipan bunga api dalam gelapnya mafam. Dua bola kuningan berduri yang dilemparkan Surablandong hancur bertaburan di udara! Kagetnya Surabiandong bukan alang kepalang. Seumur hidup baru sekali ini serangan bola kuningannya dipukul hancur demikian rupa. Pernah kejadian ada lawan yang memang mampu mengelakkan bola kuningan pertama, Tapi hampir tidak ada yang sanggup menyelamatkan diri dari serangan bola kuningan susulan.
Geram penasaran dan marah Surablandong menggebrak kudanya lebih cepat. Kuda tunggangannya lari seperti dikejar setan namun tetap saja dia tidak mampu mengejar penunggang kuda didepannya.
Ternyata orang yang dikejar lari ke arah timur Telaga Sarangan. Sel ah u Surablandong tak jauh dari kawasan itu terdapat sebuah air terjun. Lalu lebih jauh ke arah utara ada satu bukit batu yang konon menjadi sarang kediaman berbagai binatang buas mulai dari ular berbisa sampai harimau raksasa.
Di timur telaga entah bagaimana Surnblandong berhasil mendekati orang yang dikejarnya. Makin dekat, makin dekat dan akhirnya dia dapat mengejar bahkan mendahului orang itu. Surablandong memutar kudanya, berbalik. Kini dia menghadang orang yang sejak tadi dikejarnya. Bekas Ketua Perguruan Silat Lawu Putih ini tidak sadar kalau dia bisa mengejar orang karena orang yang dikejar memang sengaja memperlambat lari kudanya.
Dua tombak dari hadapan Surablandong penunggang kuda hitam hentikan kudanya. Dua matanya memandang tajam ke arah Surablandong. Lalu dari bawah penutup kepala berbentuk pocong putih itu menggema suaranya. "Surablandong, perjalananmu cukup sampai disini! Kembali ke Plaosan atau kubuat kau meregang nyawa saat ini juga!" Surablandong tersentak kaget mendengar orang tahu dan menyebut namanya. Dia coba mengingat-ingat. Tapi tak mampu mengenali suara itu. Matanya memperhatikan sosok yang menggeletak di atas pangkuan orang. Sosok seorang perempuan, perutnya tinggi. Astaga! Surablandong terkejut untuk kedua kalinya. Perempuan di atas pangkuan penunggang kuda hitam itu adalah Nyi Upit! Puteri Kepala Desa sahabatnya yang tengah hamil tujuh bulan!

3

SURABLANDONG majukan kudanya hingga mulut binatang ini hampir bersentuhan dengan kepala kuda tunggangan orang di hadapannya. Pandangan orang tua ini seolah ingin menembus penutup kepala kain putih berbentuk pocong, namun dia hanya bisa melihat kerlapan cahaya sepasang mata di balik dua lobang kecil kain putih penutup kepala.
Perempuan lain saja diculik orang dudan cukup membuat Surablandong marah. Apa lagi yang diculik puteri sahabatnya dan dalam keadaan hamil pula. "Bangsat penculik!’ Bentak Surablandong. "Beraninya kau menculik puteri Kepala Desa yang sedang hamil! Serahkan Nyi Upit padaku atau kuhabisi kau saat ini juga!”.
Dari balik kain putih penutup kepala berbentuk pocong keluar suara tawa bergelak "Surablandong, kembalilah ke Plaosan. Anggap kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Anggap kau tidak pernah melihat apa-apa. tidak pernah menghadapi kejadian ini. Maka kau akan selamat dalam sisa hidupmu!"
Rahang Surablandong menggembung, dia merasa sangat dihina dan direndahkan. "Manusia atau hantu kurang ajar! Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa!”.
Kembali dari balik penutup kepaia berbentuk pocong terdengar suara tertawa, "Siapa tidak kenal Surablandong, tokoh nomor wahid rimba persilatan yang pernah menjabat Ketua Perguruan Sifat Lawu Putih! Semua kehebatanmu hanya tinggal kenangan Surablandong. Malah aku melihat Perguruan Silai yang kau tinggalkan empat tahun silam akan menjadi porak paranda. Pergilah, kembali ke Plaosan !”. ”Penculik keparat! Aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum membetot lepas kain penutup kepafamu mengetahui siapa dirimu!. Dan sebelum kau menyerahkan padaku puteri Kepala Desa itu!"
Kembali orang bertutup kepala keluarkan tawa bergelak. "Sura,… Surablandong, Di masa muda ketika kau sedang hebat-hebatnya malang melintang di rimba persilatan tanah Jawa. Seandainya kita bertemu saat itu, kau tak bakal berkemampuan menghadapi diriku. Apa lagi saat ini. di usiamu yang sudah tua badan telah rapuh dan pikiran mulai pikun! Kau ingin membetot lepas kain penutup kepalaku! Ha…ha! Jangan berucap terlalu sombong. Jangan berkata apa yang kau tidak mampu melakukan! Kau ingin membawa puteri Kepala Desa ini! Jangan sekali-kaii bertindak menjadi pahlawan besar! Karena nyawamu Cuma satu, Surablandong !”. "Mungkin kau punya dua atau tiga nyawa hingga bicara sombong di hadapanku! Aku mau lihat, berapa banyak nyawa kau punyai!” Surablandong membalas ucapan orang dengan suara lantang keras, bergetar penuh marah. "Kau ingin menghitung nyawa yang aku miliki?’ Ceh… ceh… ceh!”. Kepala yang ditutupi kain putih berbentuk pocong bergeleng beberapa kali. Mulutnya keluarkan suara leletan lidah. "Orang muda terkadang berlaku tolol. Tapi banyak orang bisa memahami dan memaafkan. Namun kalau orang tua bangka seperti mu berlaku tolol hanya penyesalan yang akan kau bawa ke liang kubur!"
Amarah Surablandong meluap sudah ! "Ujudmu seperiti setan! Biarlah kau kujadikan setan sungguhan!"
Habis berkata begitu Surablandong membedal kudanya ke depan. Begitu bersisian dengan lawan serta merta dia melesat dari punggung kuda. Sementara tubuhnya melayang di udara, Surablandong kirim pukulan dengan kedua tangan ke arah muka orang. Tangan kanan memang sungguhan hendak menghantam kepala lawan, tapi gerakan tangan kiri hanya tipuan karena bertujuan untuk membetot lepas kain penutup kepala. Inilah gerakan silat bernama Jurus Menghantam Batang Mencabut Daun.
Penunggang kuda hitam keluarkan suara mendengus lalu membuat gerakan merebahkan tubuh sebelah atas dan kepalanya ke belakang. Kaki kanan ditendangkan ke perut kuda tunggangan Surablandong hingga binatang ini meringkik kesakitan dan angkat dua kaki depannya tinggi-tinggi. Selagi Surablandong berusaha mengimbangi diri agar tidak terpental dari punggung kuda, tahu-tahu tangan kanan si pocong putih telah melabrak dada Surablandong dua kali berturut-turut. Tubuh Surablandong terlipat ke depan. Dari mulutnya menyembur darah segar. Sekali lagi jotosan keras melanda dada orang tua itu. Tak ampun sosok Surablandong terpental dari atas kuda. Terbanting menelentang di tanah. Matanya mendelik tapi dia tidak melihat apa-apa.
Wajah di balik kain penutup kepala menyeringai. Entah kapan dia mengambil dan entah dari mana diambilnya, orang ini tahu-tahu telah memegang sebuah bendera kecil berbentuk segitiga terbuat dari sehelai kain putih. Sekali tangannya digerakkan, bambu kecil lancip yang menjadi ikatan bendera menancap dalam di leher Surablandong. Darah menyembur. Kain berbentuk segitiga yang tadinya putih serta merta berubah merah. Menjadi Bendera Darah’.
Di arah selatan, dalam kegelapan malam kelihaian setengah lusin api obor bergerak cepat menuju Telaga Sarangan. Sambil perhatikan barisan obor di kejauhan, orang di alas kuda usap-usap perut hamil perempuan yang terbujur di atas pangkuannya. Mulutnya menyeringai. Lalu sekali tali kekang kuda disentakkan, sebelum rombongan pembawa obor sampai di tepi telaga, bersama tunggangannya orang ini telah melesat lenyap dalam kegelapan malam.
PEDATARAN tinggi bukit berbatu-batu di utara Telaga Sarangan. Dalam pekat gelapnya malam kawasan itu kelam menghitam, menampilkan pemandangan angker dalam kesunyian yang membuat kuduk bisa terasa dingin. Sesekali hembusan angin bertiup mengeluarkan suara aneh menegakkan bulu roma. Ketika dari arah selatan muncul satu bayangan putih, bergerak cepat bersama hembusan angin, siapa yang menyaksikan akan menduga makhluk itu adalah setan yang tengah berkelebat gentayangan di malam gelap gulita.
Tapt makhluk tersebut, walau berpakaian serba putih, bertutup kepala laksana pocong hidup, bukanlah setan atau makhluk halus adanya. Dia adalah manusia biasa yang berdandan seperti setan. Sambil melompat dari satu batu ke batu lain, berkelebat cepat dalam kegelapan malam, orang ini menggendong sosok perempuan hamil.
Berlari cepat dalam gelapnya malam di kawasan berbatu-batu dengan beban perempuan hamil dalam gendongan, jelas bukan pekerjaan mudah. Kalau makhluk seperti pocong hidup itu mampu melakukan, berarti dia memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya
Di atas sebuah batu agak datar, orang ini hentikan larinya. Dan balik dua lobang kecil pada kain putih penutup kepala, sepasang matanya memandang berkeliling. Dia sudah sering berada dibukit batu ilu, namun pada malam hari segala sesuatunya kelihatan serba hitam. Dia harus memasang mata mengawasi agar tidak salah jalan.
Akhirnya dia melihat mulut lorong itu. Gelap menghitam dibalik bayang-bayang sebuah batu besar, sejarak dua puluh tombak di sebelah bawah bukit. Tidak menunggu lebih lama orang ini segera berkelebat ke arah balu besar di bawah sana. Dilain kejap sosok putihnya lenyap menghilang masuk ke dalam mulut lorong batu yang berada di perut bukit.
Adalah aneh, di dalam lorong batu keadaannya remang-remang, tidak segelap di luar. Kenyataan lain ialah bahwa di dalam perut bukit batu Itu tidak hanya ada satu lorong tetapi terdapat banyak sekali cabang dan setiap cabang memiliki cabang-cabang pula. Orang yang tidak tahu seluk beluk tempat ini bukan saja akan tersesat malah bisa-bisa tidak mampu lagi mencari jalan keluar.
Sambil lari sepanjang lorong batu yang penuh dengan cabang-cabang itu orang berpakaian seperti pocong berucap perlahan seperti menghitung-hitung.
”Lima puluh kanan. Empat puluh kiri. Tiga puluh kanan. Lima puluh kiri. Empat puluh kanan. Tiga puluh kiri. Lima puluh kanan. Empat puluh kiri. Tiga puluh kanan. Lima puluh kiri. Empat puluh kanan Tiga puluh kiri. Lima puluh kanan."
Tepat pada ucapan lima puluh kanan yang terakhir di depan orang yang berlari sambil menggendong sosok perempuan hamil, terlihat sebuah pintu kayu berwarna hitam. Pada pertengahan daun pintu menancap sebuah bendera kecil berbentuk segitiga, berwarna merah basah. Bendera Darah !
Sepuluh langkah akan sampai ke depan pintu hitam yang ditancapi Bendera Darah tiba-tiba dari kiri kanan pintu dimana terdapat dua buah lorong melompat keluar dua sosok berpakaian putih dengan kepala ditutup kain putih berbentuk pocong. Masing-masing mencekal golok. Yang sebelah kanan langsung membentak.
”Siapa?!" "Wakil Ketua Harap buka pintu hitam” . .
Dua orang di depan pintu cepat-cepat menekuk lutut dan menjura memberi hormat pada setan pocong yang menggendong perempuan hamil. Lalu salah seorang dari mereka menekan sebuah tombol rahasia di dinding kiri pintu. Serta merta pintu hitam terpentang lebar. Sekali melompat manusia pocong yang menyebut diri Wakil Ketua lenyap ke dalam satu ruangan batu di balik pintu. Pintu hitam tertutup kembali.
Begitu berada dalam ruangan balu di belakang pintu hitam, manusia pocong segera berkelebat ke ujung ruangan dimana terdapat pintu kedua berwarna biru. Pada pintu ini juga menancap sebuah bendera segitiga merah dan basah. Ketika mendekati pintu biru tiba-tiba atap ruangan terbuka. Empat manusia pocong melayang turun dengan mengeluarkan suara berkesiuran. Golok tergenggam di tangan. Empat pasang mata di balik lobang-lobang kecil kain putih penulup kepala yang sebelumnya berkilat beringas begitu melihat dan mengenali orang di depannya, serta merta menekuk lutut menjura hormat,
”Wakil Ketua, silahkan masuk. Ketua sudah aama menunggu."
Manusia pocong yang barusan bicara menekan sebuah tombol di kiri pintu. Maka pintu biruu terbuka dengan sendirinya. Begitu manusia pocong yang menggendong perempuan hamil masuk ke dalam, pintu biru segera menulup.
Ruangan batu dimana manusia pocong itu berada, luas sekali tetapi kosong dan sunyi. Kekosongan dan kesunyian ini hanya sebentar. Tak selang berapa lama dinding batu di sebelah kiri bergeser membentuk celah. Dari celah ini keluar seorang manusia pocong bertubuh tinggi.
Manusia pocong yang menggendong perempuan hamil cepat bungkukkan badan lalu berkala. "Yang Mulia Ketua, terima salam hormat saya. Saya datang sesuai tugas."
”Wakil Ketua, aku gembira melihat kau berhasil. Baringkan perempuan itu dilantai. Aku akan menyerahkannya pada Yang Mulia Sri Paduka Ratu”. Manusia pocong bertubuh tinggi keluarkan ucapan. Suaranya menggema menggetarkan dinding, lantai dan atap ruangan batu.
Sesuai apa yang diperintahkan sang Wakil Ketua baringkan sosok perempuan hamil di lantai batu. Orang yang dipanggil dengan sebutan Ketua perhatikan sesaat wajah perempuan hamil itu lalu bertanya. "Siapa dia?"
”Nyi Upit. pureri Kepala Desa Plaosan”, jawab Wakil Ketua. "Berapa usia kandungannya?" "Tujuh bulan rencananya besok akan dilangsungkan hajatan selamatan." "Bagus. Aku puas. Kau boleh istirahat barang sebentar. Sebelum pergi ada hal lain yang hendak kau sampaikan?" "Ada, Yang Mulia. Pertama saya telah membunuh Surablandong. Bekas Ketua Perguruan Silat Lawu Putih…" "Manusia satu itu memang tidak berguna hidup, lebih lama. Ada hal lain ?”.
”Ki Mantep Jalawardu. Kepala Desa Plaosan, bersama menantunya, I Kelut Sudarsana, suami Nyi Upit tengah melakukan pengejaran. Sebelum pergi saya mendengar Ki Mantep memerintahkan anak buahnya untuk melapor dan minta bantuan ke Kadipaten Magetan. Selain itu saya juga mendengar Ki Mantep minta didatangkan Ki Juru Seta, ahli pencari jejak. Apa yang saya harus lakukan? Apakah orang-orang itu cukup layak untuk dibiarkan hidup dan dipakai tenaganya seperti yang kita rencanakan?” "Tingkat kepandaian Ki Mantep Jalawardu tidak ada artinya. Juga sang menantu Habisi mereka" "Bagaimana dengan Ki Juru Seta?" "Bunuh dia sebelum berhasil mengetehui tempat ini." "Akan saya lakukan. Saya akan berangkat sekarang juga.” ”Tunggu dulu. Tadi kau mengatakan Ki Mantep minta bantuan Kadipaten Magetan. Aku tahu Adipati Magetan adalah sahabat kental Ki Mantep Jalawardu. Mungkin dia akan turun tangan sendiri menolong sahabatnya itu. Jika Adipati benar-benar muncul, tangkap dia hidup-hidup. Tingkat kepandaian silat dan ilmu kesaktiannya bisa kita manfaatkan," "Baik Yang Mulia. Saya minta diri sekarang." "Pergilah. Orang-orang itu harus kau habiskan malam ini juga." ”Balk Yang Mulia."
Manusia pocong Wakil Ketua membungkuk hormat lalu memutar badan, tinggalkan ruangan itu.

4

SAMBIL mengangkat obor tinggi-tinggi, penunggang kuda paling depan berteriak.
”Berhenti! Ada tubuh manusia tergeletak ditengah jalan!”. Dua penunggang kuda di sebelah belakang, hentikan kuda lalu melompat turun. Kedua orang ini adalah Ki Mantep Jalawardu Kepala Desa Plaosan dan menantunya I Ketut Sudarsana. Tujuh orang lagi menyusul turun dari kuda masing-masing. Lima diantaranya membawa obor. Mereka adalah para petugas Pamongdesa Plaosan.
Ki Mantep Jalawardu mengambil obor dari tangan salah seorang anak buahnya. Dia melangkah cepat ke arah tergeletaknya sosok manusia. Ketika obor di tangan Ki Mantap dan dua obor lain, menerangi wajah dan badan orang yang terhampar ditanah itu, kagetlah Kepala Desa dan semua orang yang ada disitu. Ki Mantep berikan obornya pada anak buah disampingnya lalu berlulut, pegangi kepala orang yang tergetak di tanah. "Surablandong,..”. Suara Ki Mantep bergetar wajahnya tegang membesi. Kemudian dia melihat bendera segitiga merah yang menancap di leher sababatnya itu. ”Bendera Merah…" desis Ki Mantep. I Ketut Sudarsana berlutut di seberang ayah mertuanya. "Ki Sura pasti berhasil mengejar penculik. Si penculik lalu membunuhnya."
Ki Mantep pejamkan mata, anggukkan kepala lalu bangkit berdiri. Dia memandang berkeliling. Mula-mula ke arah Telaga Sarangan. Lalu ke jurusan kerapatan pepohonan dan terakhir sekati ke arah bukit batu yang menghitam di kejauhan. Sulit untuk menduga kemana larinya si penculik. "Ini satu perkara besar! Nyi Upit anakku harus bisa diselamatkan! Si penculik harus bisa ditangkap. Aku sendiri yang akan memenggal batang lehernya. Tapi jika dia sanggup menghabisi sahabatku Surablandong seperti ini berarti penculik jahanam itu memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi. Kita perlu berhati-hati. Kita harus menyusun siasat pengejaran.”
Dua orang Pamongdesa ditugaskan membawa pulang jenazah Surablandong ke Plaosan. Sesampainya di Plasoan, salah seorang dari mereka harus kembali lagi membawa bantuan tenaga pengejar sebanyak mungkin. Sedang petugas satunya harus segera menemui Adipati Magetan untuk melaporkan apa yang terjadi. Kalau bisa meminta bantuan perajurit Kadipaten mengejar si penculik. Kepada petugas ini juga diminta untuk menemui seorang bernama Juru Seta yang dikenal memiliki kepandaian mencari jejak orang atau binatang buruan. Semasa perang. Kerajaan mempergunakan kepandaian Juru Seta untuk mengintai, menyelidiki kedudukan musuh. Di masa kaum pemberontak mengacau negeri, tenaganya dimanfaatkan untuk mengejar para pemberontak sampai ke sarangnya hingga pemberontakan dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.
Kepada menantunya Ki Mantep kemudian berkata.
”Kau dan tiga orang Pamong tetap di sini, menunggu sampai tenaga bantuan datang. Aku dan yang lain-lain melanjutkan pengejaran.”
Khawatir akan keselamatan ayah mertuanya Ketut Sudarsana menjawab.
”Ayah, sebaiknya biar saya yang meneruskan melakukan pengejaran. Ayah dan yang lain-lain menunggu di sini…"
”Yang diculik jahanam itu adalah anakku! Aku harus….." "Nyi Upit adalah istri saya. Di dalam perutnya ada jabang bayi darah daging saya!” ucap sang menantu. Kelihatannya Ketut Sudarsana tidak dapat menahan rasa geram yang sebelumnya berusaha ditahan hingga dia mengeluarkan kata-kata keras pada ayah mertuanya. "Seperti ayah saya juga ingin menyelamatkannya dan membunuh penculik keji itu”.
Ki Mantep terdiam mendengar ucapan sang menantu.
”Kalau begitu kita lanjutkan pengejaran sama- sama!”, kata Ki Mantep Jalawardu akhirnya.
Dua orang petugas Pamongdesa ditinggalkan di tempat itu menunggu rombongan bantuan. Ki Mantep dan I Ketut Sudarsana bersama enam orang lainnya segera melanjutkan pengejaran. Sebelum pergi Ki Mantep meninggalkan pesan pada dua anak buahnya. Kalau Juru Sela dan rombongan datang agar menyusul ke arah utara.
Sebagai orang yang telah menjadi Kepala Desa Plaosati lebih dari dua puluh tahun Ki Mantep bukan saja tahu belul seluk beluk desanya tapi juga hampir seluruh kawasan perbatasan termasuk daerah sekitar kaki Gunung Lawu. Karenanya walaupun saat itu malam hari. bukan merupakan satu kesulitan bagi Kepala Desa ini untuk melanjutkan pengejaran. Namun sampai fajar menyingsing di ufuk timur, jejak sang penculik masih belum tersidik. Padahal dia dan rombongan telah dua kali mengitari telaga. "Kita tunggu sampai hari terang. Baru melanjutkan pencarian”. Ki Mantep mengambil keputusan. Rombongan itu kemudian beristirahat di tepi barat Telaga Sarangan.
Pagi harinya, selesai Ki Mantep mencuci muka di tepi telaga, petugas Pamongdesa yang diperintahkan menemui Juru Seta serta meminta tenaga bantuan muncul membawa Juru Seta serta orang enam pemuda yang rata-rata bertubuh tegap dan membekal golok besar di pinggang masing-masing.
Ki Mantep segera menemui Juru Seta, seorang tua berpakaian dan berblangkon serba hitam yang setiap saat selalu mengunyah sirih campur tembakau dalam mulutnya dan sesekali menyemburkan ludah merah ke tanah. "Ki Juru, aku sangat mengharapkan bantuanmu….” "Dari Pamongdesa saya sudah mendengar apa yang terjadi. Saya akan berusaha sebisanya agar Nyi Upit dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.” "Pamong desa memberitahu mengenai Bendera Darah?" Juru Seta mengangguk. ”Agaknya bendera segitiga yang dibasahi dengan darah itu menjadi satu tanda dari penjahat terkutuk yang menculik anakku. Mungkin Ki Juru pernah tahu atau pernah mendengar sebelumnya hal-hal yang berhubungan dengan Bendera Darah itu. Mungkin juga tahu siapa orang di belakang semua kejadian ini?" "Ini satu kejadian aneh luar biasa dalam hidup saya. Saya tidak mengetahui dan juga tidak bisa menduga apa sebenarnya yang terjadi. Mengapa ada orang menculik puteri Ki Mantep yang sedang hamil. Lalu mengapa begilu tega membunuh Surablandong dan menancapi lehernya dengan Bendera Darah. Hanya ada satu hal yang bisa saya artikan. Orang dibalik kejadian ini ingin memberi kesan. Jangan main-main dengan Bendera Darah. Setiap Bendera Darah muncul maka satu peristiwa besar akan terjadi. Yang juga bisa berarti kematian." Juru Seta diam sebentar lalu berkala lagi. "Ki Mantep, sebaiknya kita segera saja mulai bergerak.”
Dari balik pakaiannya orang tua yang seumur dengan sang Kepala Desa Plaosan ini keluarkan sebuah tongkat kecil terbuat dari bambu kuning panjang lima jengkal. Inilah benda yang menjadi andalan Juru Seta dalam melakukan pekerjaannya.
Juru Seta memulai penyelidikannya dari tempat ditemukannya mayat Surablandong. Tongkat bambu kuning ditancapkan di tanah, tepat dimana sebelumnya sosok Surablandong terkapar menemui kematian. Perlahan-lahan Juru Seta pejamkan mata. Begitu matanya terkancing rapat tiba-tiba tongkat bambu kuning yang menancap di tanah sedalam satu jengkal kelihatan bergetar. Makin lama makin keras. Kemudian perlahan-lahan, masih dalam keadaan bergetar ujung tongkat bambu kuning itu meliuk ke arah utara. Pada saat ujung tongkat meliuk membentuk garis patah tiba-tiba tongkat Itu melesat ke udara lalu melayang turun kembali. Tanpa membuka matanya Juru Seta ulurkan tangan menangkap tongkainya. Benda ini diselipkan di pinggang lalu matanya dibuka, langsung menatap pada Kepala Desa. "Bagaimana Ki Juru Seta?”. Tanya Ki Mantep Jalawardu tidak sabaran, "Penculik membawa puteri Ki Mantep ke jurusan utara. Kita menuju ke sana sekarang juga”. Jawab Juru Seta.
Di daerah sebelah utara terdapat kawasan rimba belantara. Di seberang rimba belantara ada satu kawasan bukit batu. Kawasan mi merupakan kaki selatan Gunung Lawu. Rombongan segera meninggalkan Telaga Sarangan menuju utara. Sepanjang perjalanan Juru Seta mendapat petunjuk melalui getaran yang keluar dari tongkat bambu kuning yang terselip di pinggangnya. Selama tongkat itu mengeluarkan getaran berarti arah yang mereka ikuti adalah benar, berarti puta bahwa si penculik memang melarikan diri di arah yang tengah mereka ikuti. Selain getaran tongkatnya. Juru Seta juga bisa melihat jejak yang ditanggalkan kaki kuda si penculik. Tongkat terus bergetar dan jejak kelihatan jelas ketika rombongan memasuki rimba belantara.
Menjelang tengah hari rombongan sampai di kaki selatan Gunung Lawu. Getaran masih terus keluar dari tongkat bambu kuning di pinggang Juru Seta tetapi gelarannya terasa semakin perlahan. Sedangkan jejak-jejak kaki kuda tidak kelihatan lagi. Hal ini dapat dimaklumi karena kawasan tlu memiliki tanah yang tertutup bebatuan. Diam-diam Juru Seta merasa kawatir. "Aneh.” membatin Juru Seta. ‘Kalau penculik membawa Nyi Upit ke sekitar tempat ini, jejak bisa saja hilang karena ini kawasan berbatu-batu. Tapi seharusnya getaran tongkat semakin keras."
Ketika getaran tongkat lenyap sama sekali, Juru Seta memberi isyarat agar rombongan berhenti. Lalu orang tua berpakaian serba hitam ini turun dari kudanya.
”Bagaimana Ki Juru, sudah ada petunjuk?" Bertanya I Ketul Sudarsana,
Juru Seta tidak segera menjawab. Dia memandang dulu berkeliling. Di sebelah belakang terbentang rimba belantara yang barusan mereka lewati. Di sebelah depan ada jajaran lembah yang walau cukup dalam tapi tidak sulit untuk ditempuh. Di seberang lembah terdapat satu pedataran tinggi membentuk bukit batu. Ke sebelah barat ada tiga desa besar yakni Tawang mangu. Karang anyar dan Karang pandan. Jika pergi ke timur akan sampai ke kawasan pecandian. Salah satu candi yang terkenal di daerah itu adalah Candi Cemorosewu. Juru Seta berpikir-pikir. Kalau getaran tongkat lenyap di tempat itu dan jejak di tanah tidak lagi kelihatan, berarti itulah akhir perjalanan si penculik. Berarti ke tempat sekitar situlah Nyi Upit dilarikan. Namun memandang berkeliling Juru Sela tidak melihat hal-hal mencurigakan. Mungkin penculik membawa Nyi Upit menuruni lembah. Dan di dasar lembah sana perempuan muda hamil tujuh bulan itu disekap. "Kalau penculik dan Nyi Upit berada di lembah sana, seharusnya tongkat mengeluarkan getaran lebih kuat. Tapi nyatanya getaran tongkat malah lenyap. Aku merasa, sejak sebelum keluar dan rimba belantara ada hawa aneh menahan getaran tongkat. Seumur hidup baru sekali ini aku mengalami peristiwa seperti ini. Mengejar pemberontak walau berbahaya tapi tidak sufit. Mengejar seorang penculik mengapa begini susah?. Agaknya ada satu hal besar yang tak bisa kubayangkan di belakang semua kejadian ini. ”Ki Juru, kau mengetahui sesuatu?" K i Mantep Jalawardu bertanya.
”Agaknya penculik berada di sekitar kawasan ini…”. jawab Juru Seta. "Agaknya? Berarti kau ragu-ragu Ki Juru ” ujar Ki Mantep. "Menurut petunjuk, Nyi Upit dilarikan ke arah sini. Di depan ada jajaran lembah. Di seberang sana ada bukit batu. Dua kawasan ini harus kita selidiki" "Ki Juru tidak tahu pasti di sebelah mana penculik berada?" bertanya Ketut Sudarsana. Juru Seta menggeleng. Terus-terang dia berkata. ”Ada satu kekuatan aneh tapi hebat mempengaruhi pekerjaan saya. Namun saya yakin, kalau tidak didalam lembah, puteri Ki Mantep mungkin berada di pedataran tinggi berbatu-batu sana." Baik Ki Mantep Jalawardu maupun I Ketut Sudarsana dan semua orang yang ada di tempat itu merasa tidak puas atas keterangan Juru Seta.
Juru Seta sendiri diam-diam merasa gelisah. Dia cabut tongkat bambu kuning yang terselip di pinggang lalu tancapkan tongkat ini ke tanah antara dua buah batu. Dengan telapak tangan kanannya Juru Seta tekan ujung tongkat. Belum lama menekan tiba-tiba ada sambaran hawa aneh menyengat telapak tangan Juru Seta. Wajah orang tua ini jadi berubah. Terlebih ketika tangan kanannya yang berada di atas tongkat mulai bergetar. Juru Seta kerahkan tenaga meredam getaran aneh. Tiba-tiba orang tua ini keluarkan jeritan keras. Tangan kanannya terpental, tubuhnya terbanting ke tanah. Kepalanya nyaris membentur sebuah batu. Dari mulutnya tersembur keluar tembakau serta sirih yang selalu dikunyahnya. Lalu ada lelehan cair berwarna merah. Lelehan ini bukan ludah sirih tetapi darah! Satu kekuatan aneh dan dahsyat yang dikirimkan orang ke tongkat kuning telah membuat Ki Juru Seta menderit luka dalam yang parah.
Saat tubuh Juru Seta terbanting ke tanah, bersamaan dengan itu tongkat bambu kuning yang menancap di tanah tercabut. Melayang ke udara, lalu berbarengan, suara tawa bergelak menggelegar di tempat itu, menggema sampai ke dalam jajaran lembah dan rimba belantara.

5

SEMUA tersentak kaget. Ki Mantep Jalawardu melompat turun dari kuda. menghambur ke arah Juru Seta yang saat itu melingkar di tanah, tubuh menggigil seperti orang kedinginan. Dari mulutnya masih mengucur darah. I Ketut Sudarsana juga telah berkelebat turun dari punggung kudanya. Menantu Kepala Desa ini bukan melompat ke arah Juru Seta tapi melesat ke dekat sebuah balu besar dlmana berdiri seekor kuda. Di atas kuda ini duduk seorang berpakaian jubah putih, kepala ditutup kain putih berbentuk pocong. Dari wajahnya hanya sepasang matanya yang kelihatan lewat dua lobang kecil pada penutup kepala. Di tangan kanannya orang ini memegang tongkat bambu kuning milik Juru Seta yang sebelumnya melesat tercabut dari tanah. Rupanya ketika tongkat bambu itu melayang di udara, orang ini berhasil menyambarnya. Sesaat diperhatikannya tongkat itu lalu berkata.
”Tongkat hebat! Tapi aku tidak butuh!"
Tangan manusia pocong meremas beberapa kali. Tongkat bambu kuning hancur tak berbentuk lagi. "Setan jahanam…" Juru Seta merutuk melihat tongkat andalannya dihancurkan begitu rupa. Dia berusaha kumpulkan tenaga, mencoba bangkit berdiri untuk menyerang manusia pocong tapi hanya mampu bergerak sedikit, sosoknya terhempas kembali ke tanah. Sementara itu beberapa orang anak buah Ki Mantep Jalawardu dengan golok di tangan mengikuti gerakan Ketut Sudarsana, melompat ke arah penunggang kuda di dekat batu. ”Setan pocong! Pasti kau yang menculik isteriku" Teriak Ketut Sudarsana, Lalu dia mengambil golok yang dipegang seorang pemuda Pamong desa. Dengan senjata ini dia menyerang si penunggang kuda. Diserang orang dengan golok, melihat gerakan lawan serta derasnya siuran senjata yang membabat ke arahnya jelas Ketut Sudarsana memiliki kepandaian silat tidak rendah. Si penunggang kuda tidak mau berlaku ayal. Sekali membuat gerakan, sosok nya melesat ke udara. Di lain kejap dia telah berdiri di atas sebuah batu besar berpermukaan rata. Tangan kiri bertolak pinggang.
”Jahanam! Mana istriku!” Kucincang kau kalau tidak menyerahkan Nyi Upit dalam keadaan selamat !” Ketut Sudarsana berbalik, melompat ke atas batu dan untuk kedua kalinya menyerang orang berjubah dengan goloknya.
”Wuuttt..!”
Golok menderu membabat ke arah pinggang. Si jubah putih condongkan tubuhnya ke belakang. Dengan tangan kanannya dia pukul lengan yang memegang golok. Bersamaan dengan itu kaki kirinya menyapu ke depan, menendang tulang kering kaki kanan Ketut Sudarsana. Gerakannya luar biasa cepat walau Ketut Sudarsana memiliki kepandaian tidak rendah namun dia tak mampu menghindar. "Kraaakr!” "Kraaak!"
Golok besar di tangan Ketut Sudarsana mencelat mental, jatuh ke dalam lembah. Dua kali terdengar suara tulang patah disertai jerit setinggi langit keluar dari mulut I Ketut Sudarsana, lelaki muda ini terbanting jatuh ke atas batu datar. Tulang lengan kanan dan tulang kering kaki kanan patah. Untuk beberapa lamanya dia terkapar menggeliat kesakitan di atas batu sambil keluarkan suara erang kesakitan.
Sosok yang dipanggil dengan sebutan setan pocong mendatangi lalu injakkan kaki kanannya ke dada Ketut sudarsana. Orang yang sedang megap-megap kesakitan ini merasa seolah sebuah batu besar menindih dadanya, membuat dua matanya mendelik dan lidahnya terjulur.
Sambil bertolak pinggang manusia pocong yang menginjak dada Ketut Sudarsana berteriak. "Orang-orang Plaosan! Kematian sudah dijatuhkan bagi kalian. Tapi aku masih berbaik hati. Dengar! kalian harus segera tinggalkan tempat ini! Kalau sampai matahari terbenam kalian masih berada di sini, kalian semua akan mampus percuma! Contohnya ini"
Habis berkata begitu si manusia pocong tendang tubuh Ketut Sudarsana hingga lelaki muda ini mencelat mental dan jatuh tepat di samping Ki Mantep Jalawardu yang tengah menolong Ki Juru Seta. Ki Mantep Jalawardu terbeliak melibat sosok menantunya terkapar di depannya, tidak bersuara tidak bergeming. Amarah Kepala Desa Plaosan tidak terbendung lagi. "Keparat jahanam! Kau menculik anakku! Membunuh sahabatku! Mencelakai menantuku! Kupatahkan batang lehermu!" Belum lenyap gema suara bentakan Kepala Desa, sosoknya telah melesat ke atas batu. Lancarkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam, dua kali berturut-turut.
Seperti tadi ketika diserang Kelut Sudarsana, manusia pocong hantamkan tangannya ke atas untuk menangkis serangan disertai niat hendak mematahkan lengan lawan. Tapi Ki Mantep Jalawardu sudah mencium maksud tersebut dan berlaku cerdik. Sebelum dua lengannya beradu dengan dua lengan lawan dia cepat melompat ke atas. Setengah tombak melayang di udara Ki Mantep kembali menggempur. Bukan cuma dengan jotosan tapi kali ini disertai tendangan ke arah dada. "Hebat !”.
Si manusia pocong berseru. Sambil miringkan tubuh dia bergerak ke samping satu tangkah lalu tangan kanannya bekerja. Ki Mantep Jalawardu menjerit kesakitan ketika urat besar di pahanya kena ditotok lawan. Keseimbangannya hilang dan tubuhnya berputar di udara lalu jaluh ke tanah. Selagi mencoba berdiri sambil menahan sakit, kaki lawan telah berkelebat ke arah kepalanya. Ki Mantep terlambat melihat serangan ini.
”Praaakkk"
Kepala Desa Plaosan itu terbanting ke tanah. mengerang pendek lalu tak berkutik lagi! Nyawanya lepas dengan kepala pecah! Ki Juru Seta yang megap-megap dalam cidera batalnya pejamkan mata ngeri melihat kematian Kepala Desa itu. Dua belas anak buah Ki Mantap melengak kaget dan juga bergidik.
Juru Seta coba berteriak. Wala teriakannya tidak keras tapi cukup jelas terdengar oleh selusin anak buah Ki Mantep Jalawardu, "Kalian! mengapa diam saja! Orang telah membunuh Kepala Desa kalian lekas bunuh makhluk setan jahanam itu!"
DUA belas orang anak buah Ki Mantep Jalawardu yang sejak tadi diam saja berkelebat dengan cepat mereka mengurung bat besar di atas mana si manusia pocong berdiri. "Kalian mau apa? Aku tidak begitu suka melayani monyet-monyet macam kalian. Pergi sana!”. "Bunuh! Cepat bunuh!”. Berteriak Juru Seta ketika melihat dua belas orang yang diperintahkannya untuk membunuh manusia pocong berdiri bimbang walau sudah mengurung lawan. Darah meleleh dari mulutnya. Mendengar teriakan itu dua belas orang pemuda petugas Pamongdesa tadi serta merta menyerbu. Dua belas senjata tajam berkelebat dalam gelapnya malam, mengeluarkan suara bersiuran. "Kalian minta mati aku akan berikan!" Manusia pocong di atas batu keluarkan ucapan. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke udara. Begitu terabasan dua belas golok lewat di bawahnya tiba-tiba orang ini membuat gerakan aneh. Tubuhnya berputar seperti gasing. Kaki kanan menyapu ganas.
Enam orang anak buah Ki Mantep Jalawardu keluarkan jeritan keras. Tiga terlempar lalu tergelimpang tak berkutik lagi karena kepalanya pecah. Dua lainnya terkapar di tanah sambil pegangi tulang-tulang iga yang patah. Yang ke enam megap­megap lalu semburkan darah dari mulut. Tendangan si setan pocong meremukkan tulang dadanya. Enam anak buah Ki Mantep Jalawardu yang lain serta rnerta melompat mundur dengan wajah pucat manusia pocong keluarkan tawa bergelak. "Kalian mengapa mundur? Mau minta mampus ayo mendekat ke sini.”
Tak ada yang berani bergerak. Ketika manusia pocong melompat turun dari atas batu, enam pemuda itu bersurut mundur. Lutut masing-masing terasa goyah. Nyali mereka leleh sudah setelah menyaksikan kematian Ki Mantep Jalawardu dan enam kawan mereka. "Kalian… pengecut semua…”.
Juru Seta keluarkan ucapan. Semangat dan dendam amarah masih berkobar. Dia kembali berusaha bangkit berdiri. Namun setengah jalan tiba-tiba satu benda putih melesat di udara.
Di lain kejap sebuah bendera putih berbentuk segi liga menancap tepat di atas kening antara dua mata Juru Seta. Kepalanya terbungkuk. Tubuhnya kemudian jatuh menelungkup di tanah. Darah mengucur membasahi bendera segitiga, serta merta bendera yang terbuat dari kain putih itu berubah menjadi merah basah. Bendera Darah!
Semakin lelehlah nyali enam pemuda Pamongdesa anak buah Ki Mantep Jalawardu. Ketika manusia pocong melangkah ke arah mereka, tidak tunggu lebih lama lagi mereka serta meria menghambur kabur. Ada yang masih sempat melompat naik ke punggung kuda, ada yang terus lari pontang panting seperti dikejar setan.

6

KETIKA petugas Pamongdesa Plaosan datang memberitahu terjadinya penculikan atas diri Nyi Upit Suwarni puteri Ki Mantep Jalawardu. Raden Sidik Mangkurat, Adipati Magetan segera memerintahkan orang andalannya nomor satu di Kadipaten untuk memberikan bantuan sekaligus menyelidik peristiwa tersebut.
Orang ini adalah Aji Warangan, Kepala Pasukan Kadipaten, seorang lelaki tinggi kepandaian silatnya, berusaa sekitar setengah abad. Dulunya Aji Warangan adalah seorang Warok alias kepala rampok yang malang melintang berbuat kejahatan dan keonaran sepanjang kawasan Kali Madiun, mulai dari Ponorogo di selaian, sampai Madiun di utara dan tentu saja di wilayah Magetan. Ketika Sidik Mangkurat menjadi Adipati di Magetan, hal pertama yang dilakukannya adalah menumpas Warok Aji Warangan dan kelompoknya. Puluhan anak buah Warok Aji berhasil ditangkap. Yang melawan tidak diberi ampun langsung dihabisi. Namun sang Warok sendiri tidak berhasil dibekuk. Sebulan kemudian, setelah seluruh anak buahnya ditumpas. Sidik Mangkurat baru berhasil menemui sarang Warok Aji Warangan.
Sidik Mangkurat maklum kalau dia berhadapan bukan dengan Kepala Rampok biasa. Aji Warangan selain berpengalaman dalam berbuat kejahatan juga memiliki ilmu silat serta kesaktian tinggi. Karenanya begitu bertemu, sang Adipati menasihatkan dan mengajak kepala rampok itu agar meninggalkan perbuatan jahatnya, kembali ke jalan yang benar. Namun Warok Aji Warangan mana mau mendengar ajakan tersebut, Apa lagi puluhan anak buahnya telah ditumpas oleh Sidik Mangkurat.
Menghadapi sikap kepala rampok itu, walau saat itu Sidik Mangkurat membawa pasukan terdiri dan lima puluh prajurit terlatih, namun dia tidak memerintahkan mereka untuk mengeroyok, menangkap atau membunuh Aji Warangan. Adipati ini turun tangan sendiri membekuk Warok itu. Maka perang tanding satu lawan satupun terjadilah. Keduanya bertempur dengan tangan kosong tanpa mengandalkan senjata. Berarti masing-masing mengeluarkan dan mengandalkan kehebatan tenaga luar, tenaga dalam serta hawa sakti yang dimiliki.
Perkelahian seru berlangsung lebih dan enam puluh jurus. Aji Warangan berhasil mendaratkan beberapa pukulan ketubuh bahkan muka Adipati Sidik Mangkurat. Namun jurus-jurus selanjutnya sang Adipati tak memberi hati lagi. Aji Warangan dihajar habis­habisan sampai akhirnya terkapar dengan muka bersimbah darah luka-luka dihantam Sidik Mangkurat. Dalam keadaan tak berdaya Warok itu siap menunggu kematian di tangan Adipati Magetan. Namun sang Adipati tidak membunuhnya. Di luar dugaan Aji Warangan, Sidik Mangkurat malah memerintahkan anak buahnya menolong dan mengobati luka-lukanya. Di satu tempat, tanpa dihadiri orang lain Sidik Mangkurat bicara empat mata dengan kepala rampok yang barusan dikalahkannya itu.
Kepada kepala rampok itu sang Adipati berjanji akan mengampuni semua dosa kesalahan dan perbuatan jahatnya asalkan dia mau bertobat. Menyadari bahwa orang memang berniat baik terhadapnya, sambil kucurkan air mata Aji Warangan jatuhkan diri, berlutut di hadapan Sidik Mangkurat. Menyatakan dirinya bertobat dan siap kembali ke jalan yang benar. Sidik Mangkurat tidak percaya begitu saja terhadap apa yang dikatakan Aji Warangan. Bekas Warok yang ditakuti ini dibiarkan tinggal bersama sisa-sisa anak buahnya di satu kampung kecil, tapi di bawah pengawasan orang-orangnya. Di tempat itu dihadirkan seorang guru yang memberikan pelajaran agama yang selama ini tidak pernah menyentuh diri dan hati Aji Warangan. Berkat ajaran agama itu dalam waktu singkat bekas kepala rampok ini benar-benar telah berubah. Namun Sidik Mangkurat masih belum mempercayai dirinya. Secara diam-diam Adipati itu menyusupkan beberapa orang kepercayaannya. Orang-orang ini menyamar sebagai para penjahat dari timur. Mereka membujuk Aji Warangan untuk bergabung dengan mereka bahkan akan dijadikan pimpinan mereka. Kejahatan pertama yang akan mereka lakukan jatah menghadang rombongan dari Kotaraja yang dikabarkan membawa barang-barang sangat berharga ke satu tempat. Tapi Aji Warangan yang memang sudah benar-benar berubah menolak ajakan itu malah dua dari orang yang mendatanginya dihajar sampai babak belur.
Setelah percaya penuh atas diri Aji Warangan, Sidik Mangkurat memanggil Aji Warangan ke Magetan. Di sini dia diberi jabatan sebagai satu dari empat Kepala Perajurit Keamanan Kadipaten. Lalu dijadikan Wakil Pasukan Kadipaten. Lima tahun kemudian dia diangkat menjadi Kepala Pasukan Kadipaten.

*******

Sebelum meninggalkan Kadipaten bersama sepuluh orang anak buahnya Aji Warangan lebih dulu menemui atasannya. " Adipati, ada satu hal yang mengherankan dalam peristiwa ini”. kata Aji Warangan pada Sidik Mangkurat. ”Biasanya orang jahat selalu menculik gadis atau perempuan­perempuan muda istri orang. Tapi yang satu ini menculik seorang perempuan yang tengah hamil.” "Rata heranmu sama dengan rasa heranku, Ki Aji." Jawab Sidik Mangkurat. Saya merasa ada sesuatu dibalik peristiwa yang tidak biasanya ini. Saya harap kau mampu menyelidiki sampai tuntas. Yang penting menangkap hidup-hidup pelakunya.” "Menurut Pamong desa yang datang melapor penculik mengenakan pakaian serba putih. Kepalanya ditutup dengan kain putih berbentuk pocong. Jika seseorang sengaja menutupi wajahnya, berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Saya setuju dengan pendapat Adipati. Ada sesuatu di balik peristiwa penculikan ini. Saya pernah mendengar kabar. Beberapa tahun lalu Ki Mantep Jalawardu pernah menghancurkan beberapa kelompok penjahat yang berkeliaran di sekitar Plaosan sampai ke Telaga Barangan. Mungkin ada sisa-sisa dari kawanan penjahat itu yang membatas dendam?"
Adipati Sidik Mangkurat memegang bahu Aji Warangan. Sambil gelengkan kepala dia berkata. "Saya yakin bukan itu yang sebenarnya terjadi. Kau lebih tahu Ki Aji, untuk memastikan, itu sebabnya saya muinta Ki Aji turun tangan menyelidiki. Sekali lagi tangkap hidup-hidup pelakunya" "Saya berangkat sekarang juga Adipati." Bersama sepuluh orang anak buahnya Aji Warangan larut malam menjelang pagi itu segera meninggalkan Kadipaten Magetan menuju Plaosan. Anak buah Kepala Desa Plaosan yang datang melapor dijadikan sebagai penunjuk jalan.
Pagi harinya setelah mampir sebentar di rumah Ki Mantep Jalawardu di Plaosan, Aji Warangan dan rombongan segera meneruskan perjalanan ke arah utara, ke arah mana menurut petugas Pamongdesa penculik melarikan Nyi Upit tadi malam.
Belum jauh meninggalkan Plaosan, di satu jalan lurus dan mendaki. Aji Warangan dan ank buahnya berpapasan dengan dua orang penunggang kuda. Walau mereka menempuh jalan menurun namun dua penunggang kuda itu memacu tunggangan masing­masing seperi! dikejar setan. Agaknya ada sesuatu yang membuat mereka ke susu seperti Itu.
Aji Warangan memberi tanda lalu menepikan kuda diikuti oleh sepuluh anak buahnya. Ketika dua penunggang kuda mendekat. Aji Warangan segera berteriak. "Berhenti! Ada apa?!

*******

Dua penunggang kuda hentikan kuda masing-masing. Yang di sebelah depan begitu melihat dan mengenali Aji Warangan, dengan nafas terengah segera mendekati, "Kepala Pasukan Kadipaten, Ki Aji Warangan. Syukur kami bisa menemui Ki Aji hingga tak perlu jauh-jauh ke Magetan…”. ”Kalian siapa?" "Mereka petugas Pamong desa Plaosan, teman saya," yang bicara petugas Pamong desa yang ikut bersama rombongan Aji Warangan, "Betul, kami anak buah Ki Mantep Jalawardu, Kepala Desa Plaosan." "Kawan kalian ini memberitahu peristiwa penculikan atas diri Nyi Upit, puteri Ki Mantep Jalawardu. Sekarang kalian menunggang kuda seperti diburu selan. Ada apa?" ”Ki Mantep dan menantunya I Ketut Sudarsana, juga Ki Juru Seta. Mereka semua dibunuh…"
Kagetlah Aji Warangan mendengar ucapan anak buah Kepala Desa Plaosan itu. "Tenang, jangan kesusu. Ceritakan bagaimana kejadiannya. Jangan ada satu halpun yang kau lupakan.” Setelah mendengar semua keterangan mengenai peristiwa kematian Ki Mantep. Ki Juru Seta dan I Ketut Sudarsana. Aji Warangan berkata pada orang yang barusan bicara. Kau segera teruskan perjalanan ke Magetan. Beritahu Adipati Sidik Mangkurat apa yang terjadi. Berangkat sekarang juga!" Sesaat setelah orang itu menggebrak kudanya dan pergi Aji Warangan berpaling pada petugas Pamongdesa satunya. Kau menjadi penunjuk jalan. Antarkan kami ke tempat kejadian itu!”

*******

KETIKA rombongan Aji Warangan sampai di tepi rimba belantara tempat terjadinya pembunuhan atas diri Ki Mantep petugas Pamongdesa yang bertindak sebagai penunjuk jalan terheran-heran. Di tempat itu. tidak satu sosok tubuhpun kelihatan. Dia segera melompat turun dari kudanya. Di tanah dan bebatuan sekitarnya masih terlihat jelas tanda­tanda bekas perkelahian. Beberapa buah golok bergeletakan di tanah. Namun dimana tubuh-tubuh yang telah jadi mayat korban pembunuhan manusia pocong? "Aneh…”. ucap petugas Pamong desa itu berulang kali. ”Petugas, kau tidak membawa kami ke tempat yang salah?" tegur Aji Warangaa "Saya yakin ini tempatnya." Jawab pemuda Pamongdesa. "Kau tidak tengah bersenda gurau?” "Demi tuhani masakan saya berani bergurau ! Ketika saya pergi, mayat mereka masih ada disini. Termasuk beberapa mayat petugas Pamongdesa kawan-kawan saya. Bagaimana mungkin semuanya bisa lenyap?"
Aji Warangan usap-usap dagunya. "Ada yang tidak beres! Adipati agaknya benar dengan ucapannya. Ada sesuatu dibalik semua kejadian ini.”
Aji Warangan turun dari kudanya. Semua anak buahnya mengikuti. Setelah memperhatikan keadaan di tempat itu, memandang ke arah rimba belantara, lalu Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini berjalan ke pinggiran jajaran tiga lembah batu. Di tepi lembah ini dia jongkok beberapa lama. memasang telinga sambil layangkan pandangan ke bawah. Sesaat kemudian Aji Warangan bangkit berdiri. Dia memberi tanda pada sepuluh orang anak buahnya. Ke sepuluh orang ini segera mendekati.
”Ikuti aku. Kita akan menuruni lembah batu ini di sebelah sini. Aku mendengar sesuatu"
Dipimpin oleh Kepala Pasukan Kadipaten Magetan itu rombongan segera menuruni jajaran lembah di sebelah tengah. Mereka baru menuruni lembah pada kedalaman kurang dari empat tombak ketika seorang anggola rombongan berteriak. "Ada mayat di atas batu!"
Ternyata bukan cuma satu mayat yang mereka temui. Mayat Ki Mantep Jalawardu tergeletak di kaki sebuah pohon berlumut. Kepalanya pecah mengerikan. Jenazah Juru Seta ditemukan rneringkuk di belakang sebuah balu besar. Di keningnya masih menancap Bendera Darah. "Ada suara orang mengerang!" Seorang anggota rombongan berteriak. Dari arah semak belukar sana!"
Saat Ki Aji Warangan sudah lebih dulu melompat ke balik semak belukar. Sesosok tubuh tergeletak dalam keadaan mengenaskan. Muka penuh luka, pakaian berlumuran darah, tangan kanan dan kaki kanan terkulai patah. Walau wajah orang itu penuh luka dan tertutup darah namun Aji Warangan masih bisa mengenali. "I Ketut Sudarsana, ” Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini berlutut. Dia raba urat besar di leher menantu Ki Mantep Jalawardu itu. Begitu merasa masih ada denyutan pada urat nadi, Aji Warangan segera memberi perintah pada empat anak buahnya untuk mengangkat dan membawa naik sosok Ketut Sudarsana ke atas lembah. I Ketut Sudarsana walau dengan suara perlahan dan tersendat keluarkan ucapan. "Nya… nyawaku tidak lama la.., lagi. Biarkan saya terbaring dan meng.,. menghembuskan nafas terakhir di,., disini. Ada… ada sesuatu yang perlu saya sampaikan…”
Aji Warangan segera menolok beberapa bagian tubuh Ketut Sudarsana. Totokan ini adalah untuk memperlancar peredaran darah sekaligus memberi kekuatan. "I Ketut Sudarsana. katakan. Apa yang kau sampaikan." "Man… manusia-manusia.., pocong. Menculik.,menculik istriku. Sar… sarang mereka di sekitar sini. Tolong selamatkan Nyi,… Nyi Upik" ”Manusia-manusia pocong? Lebih dari satu?" ujar Aji Warangan. "Menurut keterangan yang kudapat, yang melakukan pembunuhan dan mencelakai dirimu hanya satu manusia pocong….” "Lebih… lebih dari satu. Tadi pagi muncul tiga manusia pocong. Satu bertindak sebagai pim…..pimpinan. Dia memberi perinlah… pada dua kawannya. Jenazah ayah. Juru Seta dan yang lain-lain dilempar ke dalam lembah. Saya… saya yang terakhir mereka lempar. Saya,,..”
Kepala I Ketut Sudarsana terkulai. Matanya nyalang kosong tak berkesip. Aji Warangan menarik nafas dalam. Perlahan-lahan diusapnya kedua mataKetut Sudarsana hingga menutup.

*******

WALAU para korban pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pocong bertebaran tidak terlalu jauh di dalam lembah, namun bukan pekerjaan mudah untuk membawa naik sekian banyak mayat. Menjelang tengah hari, tiga orang perajurit Kadipaten yang ditugaskan mencari angkutan muncul membawa tiga buah gerobak. Jenazah Ki Mantep Jalawardu, I Kelut Sudarsana dan Ki Juru Seta serta semua anak buah Ki Mantep yang jadi korban diangkut dengan gerobak ke Plaosan. Aji Warangan sendiri tidak ikut mengantar karena bersama dua orang anak buah kepercayaannya dia akan menyelidiki kemana lenyapnya penculik Nyi Upit, sekaligus pembunuh Kepala Desa Plaosan dan yang lain-lainnya itu.
Menjelang sore, ketika rombongan pasukan Kadipaten yang membawa para korban sampai di rumah kediaman Kepala Desa. jerit pekik dan ratap tangis menyayat hati serta merta pecah merobek kesunyian.
Hari itu seharusnya adalah hari berbahagia, hari kegembiraan upacara selamatan tujuh bulan hamilnya Nyi Upit. Namun saat itu tidak ada kebahagiaan, tidak ada kegembiraan! tidak ada upacara selamatan. Yang berlangsung adalah kesedihan yang tidak dapat dilukiskan. Di mana-mana terdengar ratap tangis orang perempuan. Nyi Gusni, istri Ki Mantep Jalawardu tergolek di atas tempat tidur. Perempuan ini menjent keras ketika melihat mayat suaminya lalu roboh pingsan.
Dalam keadaan seperti itulah Adipati Sidik Mangkurat datang bersama para pengawal dan perajurit Kadipaten Magetan. Sebelumnya dia telah mengutus Aji Warangan. Kepala Pasukan Kadipaten untuk menyelidiki, mengejar dan menangkap penculik Nyi Upit. puteri sahabatnya itu. Namun ketika siang harinya seorang petugas Pamongdesa Plaosan datang membawa berita kematian Ki Mantep Jalawardu. Adipati Sidik Mangkurat memutuskan untuk turun tangan sendiri, menyusul pasukan Kadipaten di bawah pimpinan Aji Warangan.
Adipati Sidik Mangkurat telah mengenal Ki Mantep Jalawardu selama puluhan tahun. Kawan sepermainan sejak kecil. Orang yang banyak membantunya dimasa-masa sulit ketika dia harus menumpas kaum pemberontak termasuk menghancurkan komplotan rampok pimpinan Warok Aji Warangan yang kini dijadikannya Kepala Pasukan Kadipaten. Ketika dia menduduki jabatan Adipati. Sidik Mangkurat menawarkan satu jabatan tinggi bagi sahabatnya itu. Namun Ki Mantep Jalawardu menolak dengan sopan dan halus. Agaknya dia lebih suka menjadi Kepala Desa Plaosan. Bagi Adipati Sidik Mangkurat Ki Mantep Jalawardu bukan Cuma seorang sahabat. Tapi sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Kematian Ki Mantep Jalawardu membual Sidik Mangkurat sangat terpukul tapi juga marah. Sore itu juga dia membawa satu pasukan besar terdiri dari lima puluh perajurit bersama dua Kepala Perajurit berangkat ke utara, singgah dulu di Plaosan. Ternyata di desa ini kehadirannya bersamaan dengan kedatangan rombongan jenazah Ki Mantep Jalawardu.
Betapapun tenggelamnya Sidik Mangkurat dalam kedukaan atas kematian sahabatnya yang tidak wajar itu, ada satu hal yang tidak luput dari perhatian Adipati Magetan ini. Yakni sebuah bendera merah basah yang menancap di kening Ki Juru Seta. Itulah Bendera Darah! Bendera seperti ini menurut laporan anak buahnya juga ditemui menancap di leher Surablandong, seorang sahabat Ki Mantep yang menemui ajal ketika melakukan pengejaran atas penculik Nyi Upit. Semakin yakin Adipati Magetan ini bahwa di balik semua kejadian penculikan dan pembunuhan ini. tersembunyi satu hal yang lebih ganas, lebih mengerikan.

7

SAMPAI beberapa lama setelah rombongan tiga gerobak pembawa jenazah meninggalkan lembah dan lenyap di dalam rimba belantara Aji Warangan. Kepala Pasukan Kadipaten Magetan masih berdiri di tepi lembah. Saat itu dia ingat akan keterangan l Ketut Sudarsana mengenai manusia-manusia pocong. Sayang menantu Ki Mantep Jalawardu itu keburu menemui ajal hingga tidak bisa memberitahu lebih banyak. Aji Warangan sendiri tidak punya kesempatan untuk bertanya.
Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini ingat ucapan I Ketut Sudarsana menjelang ajalnya. Menurut menantu Ki Mantep Jalawardu itu sarang manusia-manusia pocong itu berada di sekitar kawasan flu. Tapi dimana? Sambil terus berpikir Aji Warangan perhatikan lembah di bawahnya. Lalu pandangannya di arahkan ke bukit batu di seberang lembah. Cahaya matahari petang yang mulai condong ke barat membuat kawasan bukit batu yang abu-abu kehitaman itu warnanya berubah aneh, terkadang memancarkan pantulan sinar menyilaukan.
Sebagai orang yang pernah menjadi kepala rampok dan malang melintang di delapan penjuru angin wilayah itu. Aji Warangan cukup mengenal baik kawasan sekitar rimba belantara dan jajaran tiga lembah. Bersama dua orang anak buahnya dia telah menyelidiki keadaan di tiga lembah itu. Bukan satu pekerjaan mudah. Namun berkat pengalamannya dimasa menjadi orang jahat dahulu Aji Warangan mampu melakukan penyelidikan dengan cepat. Di tiga lembah dia tidak menemukan tanda-tanda atau hal-hal yang memberi petunjuk bahwa sarang manusia-manusia pocong itu berada di tempat tersebut
Keluar dari lembah Aji Warangan memandang ke arah bukit batu di kejauhan. Di masa dia menjadi rampok bukit batu itu tidak banyak menjadi perhatiannya. Orang-orang jahat tidak begitu suka berada lama-lama di tempat itu apa lagi menjadikannya sebagai sarang. Bukit batu tersebut selain tidak terlalu tinggi mudah dicapai, keadaannya serba terbuka hingga bisa didaki dari berbagai jurusan. Namun entah bagaimana Aji Warangan tiba-tiba ingat pada sebuah kiat yang biasa diterapkan oleh orang-orang jahat Kiat itu berbunyi : Menipu penglihatan di malam hari menipu pandangan di siang hari.
Aji Warangan usap-usap dagunya. Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini menyeringai. Berdasarkan keterangan yang didengarnya dari beberapa orang anak buah Ki Mantep Jalawardu yaitu bagaimana manusia pocong itu denganseorang diri mampu membunuh Ki Mantep dan Ki Juru Seta. menghajar l Ketut Sudarsana sampai sekarat dan menghabisi begitu banyak para petugas Pamongdesa Klaosan. jelas manusia pocong itu memiliki ilmu kepandaian linggi. Lalu menurut keterangan Ketut Sudarsana sebelum menemui kematian. ternyata bukan cuma ada satu manusia pocong di tempat itu.
Jika mereka lebih dari satu orang berarti mereka memiliki seorang pemimpin. Dan sang pemimpin tentunya bukan saja memiliki tingkat kepandaian luar biasa tetapi juga mempunyai otak cerdik. "Bukan mustahil, pimpinan manusia-manusia pocong itu menerapkan kiat orang-orang jahat. Menipu penglihatan di siang hari, menipu pandangan di malam hari," Aji Warangan perintahkan dua anak buahnyamenyiapkan kuda. "Bukit batu di seberang sana perlu kita selidiki," kata Aji Warangan. Lalu dengan menunggang kudanya dia mendahului bergerak sepanjang tepi tiga buah lembah menuju ke timur. Di ujung lembah dia mengambil jalan berputar, kembali ke barat tapi pada jalur tepi lembah yang berdampingan dengan kaki bukit batu. Di pertengahan kaki bukit batuh di satu tempat Aji Warangan berhenti, turun dari kudanya memandang ke langit sebelah barat. Kepala Pasukan ini sesaat menduga-duga. Apakah mungkin bisa mencari dan mengetahui dimana letak sarang manusia-manusia pocong itu sebelum sang surya tenggelam dan hari berubah menjadi gelap?
Setelah memperhatikan beberapa lamanya bukit batu yang tidak seberapa tinggi itu Aji Warangan memberi isyarat pada dua perajurit untuk mengikutinya. Ketiga orang itu mendekati bukit batu tepat di lereng sebelah tengah. Aji Warangan di sebelah depan. Mata di pasang telinga di pentang. Tak ada gerakan, tak ada suara selain deru halus tiupan angin yang sesekali menerpa deras.
Sampai di puncak bukit Aji Warangan memandang berkeliling. Dia dapat melihat jelas pemandangan cukup indah di bawahnya. Mulai dari rimba belantara, jajaran lembah dan kaki bukit berbatu-batu. "Pemimpin, mustahil ada orang bersembunyi di tempal ini. Malam dinginnya pasti luar biasa, siang panas sekali. Rasanya tidak ada mata air di bukit ini."
Aji Warangan tidak perdulikan ucapan anak buahnya itu. Dia balikkan badan. Kini matanya memperhatikan kawasan bukit di sebelah utara. Kawasan ini agaknya tidak pernah disentuh manusia. Pohon-pohon besar, semak belukar tinggi menyelimut d imana­mana. Agak ke barat ada sebuah jurang batu, tidak seberapa lebar tapi cukup dalam. "Pimpinan, saya melihat sesuatu," tiba-tiba perajurit di samping kiri berkata sambil menunjuk ke arah bawah sana, jurusan kanan jurang batu. "Perajurit, matamu cukup tajam. Aku sudah.tahu. Yang kau lihat sebuah atap bangunan, terbuat dari batang-batang bambu disusun rapat." "Benar sekali Pimpinan." Jawab si perajurit. Tanpa mengalihkan pandangannya ke bawah sana Aji Warangan berkata. "Atap bangunan itu diselimuti tanaman Iiar. Ujung sebelah kiri miring. Besar kemungkinan bangunan itu tidak terpakai lagi. Siapapun pemiliknya kurasa tidak pernah lagi mempergunakan. Tapi, bagaimanapun juga kita perlu menyelidik. Adalah aneh. satu bangunan ada di pinggir jurang, di kaki bukit batu sunyi yang tidak pernah didatangi manusia.” "Kami berdua akan turun menyelidiki!” "Kita menyelidik bersama-sama" kata Aji Warangan pula. Lelaki bekas kepala rampok yang telah berpengalaman ini seperti seekor srigala mulai mencium sesuatu. Dia mendahului menuruni bukit batu ke arah jurang kecil di bawah sana. Belum jauh bergerak turun tiba-tiba di sebelah kiri lereng bukit batu Aji Warangan melihat sebuah celah di antara dua batu besar. Dia perhatikan sejurus keadaan di tempat itu lalu memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk turun menyelidik. Tak lama kemudian perajurit itu kembali menemuinya dengan nafas terengah. Wajah orang ini bukan cuma menunjukkan keletihan, tapi juga memperlihatkan sesuatu yang lain. "Apa yang kau temui?" tanya Aji Warangan. Dari air muka bawahannya itu dia tahu ada sesuatu.
”Di balik dua celah batu ada satu batu besar. Di belakang batu besar saya menemui mulut sebuah goa. Saya coba masuk ke dalam, ternyata merupakan satu lorong panjang. Tanpa perintah pimpinan saya tidak berani menyelidik terlalu jauh. Saya kembali ke sini.
Tidak menunggu lebih lama, begitu mendengar keterangan si perajurit Aji Warangan segera menuruni bukit ke arah dua buah batu yang membentuk celah. Setelah turun melewati celah, seperti yang dikatakan perajurit tadi dia melihat sebuah batu besar. Lalu dibalik balu besar ini terdapat pedataran sempit seluas beberapa kaki persegi. Di salah satu sisi pedataran, pada deretan batu-batu yang membentuk dinding kelihatan sebuah mulut goa. Sesaat Aji Warangan perhatikan keadaan mulut goa, coba memandang sejauh mungkin ke arah dalam. Memang benar apa yang dikatakan anah buahnya, Mulut goa itu melupakan awal dari satu lorong batu yang cukup panjang.
Aji Warangan balikkan tubuh, memandang ke arah celah dua buah batu yang tadi dilewatinya. Walau segala sesuatunya berbentuk alami tapi mata tajam Aji Warangan melihat ada bekas-bekas ringan manusia yang membuat demikian rupa hingga batu-batu di tanah menebar demikian rupa merupakan tangga tersamar menuju mulut terowongan. Lalu tanah bebatuan di depan mulut terowongan kelihatan bersih dan licin pertanda tempat itu sering terinjak kaki manusia.
Kembali Aji Warangan membalikkan badan, menghadap ke arah mulut lorong batu. Keadaan di tempat itu sangat sunyi. Dalam kesunyian ini Aji Warangan semakin jelas mencium sesuatu yang tidak enak Ada siapa di dalam lorong batu itu ? Apakah tempat ini yang jadi sarang manusia-manusia pocong penculik Nyi Upit, pembunuh Ki Mantep Jalawardu, Ki Juru Sela, Ketut Sudarsana dan petugas Pamongdesa Klaosan?
”Kalian berdua masuk ke dalam. Selidiki apa yang ada di dalam lorong batu. Berlaku hati-hati. Jika menemui sesuatu yang mencurigakan jangan melakukan apa-apa. Tapi segera kembali menemuiku!"
Dua perajurit cabut golok di pinggang masing-masing, lalu dengan cepat keduanya menyelinap masuk dan lenyap di mulut lorong batu.

*******

DI DALAM lorong batu dua perajurit berjalan cepat. Ternyata selain cukup lebar dan tinggi lorong itu juga cukup terang. Namun baru berjalan sekitar dua puluh langkah, dua perajurit ini berhenti. Bingung. Di depan mereka, lorong itu bercabang ke kiri dan ke kanan. Berarti ada tiga arah yang bisa ditempuh. Lurus atau membelok pada salah satu cabang. "Kita harus kemana?" tanya peraj rit yang satu pada temannya. "Aku memilih lurus. Kau membelok ke kiri atau ke kanan.”
Dua perajurit meneruskan langkah. Yang pertama berjalan lurus. Temannya membelok ke abang lorong sebelah kanan. Baru belasan langkah berjalan di masing­masing lorong, kembali di kiri kanan kelihatan lorong baru. Sekarang bukan cuma satu cabang lorong tapi ada dua di sebelah kiri dan tiga di samping kanan. Dua perajurit ini tidak tahu harus menempuh lorong yang mana. Rasa bimbang yang selanjutnya berubah menjadi rasa takut menyamaki diri keduanya. Kalau di bawah bukit batu itu begitu banyak lorong, bisa saja mereka akan tersesat. Dan lebih celaka kalau sampai tidak mampu mencari jalan keluar ke mulut terowongan.
Selagi bingung dan cemas begitu rupa lapat-lapat di kejauhan terdengar suara aneh. Entah suara orang menangis entah suara orang menyanyi. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba di depan dua perajurit Kadipaten itu berkelebat satu bayangan putih. Lalu terdengar dua jeritan hampir berbarengan!

*******

KEPALA Pasukan Kadipaten Magetan itu memandang ke langit. Tak lama lagi sang surya akan tenggelam dan hari akan menjadi gelap. Dia merasa kesa tapi juga heran. Dua perajufit yang diperintahkannya masuk ke dalam lorong batu ditunggu sampai sekian lama masih belum muncul. "Apa yang mereka lakukan di dalam lorong?" pikir Aji Warangan. Hatinya yang kesal dan heran mendadak berubah menjadi tidak enak bilamana muncul dugaan jangan­jangan telah terjadi sesuatu dengan kedua anak buahnya itu
”Aku harus masuk ke dalam terowongan.” Aji Warangan mengambil keputusan. Maka dia melangkah ke arah mulut goa di dinding batu. Mendadak terdengar suara benda melayang, bersiur di udara. Aji Warangan dengan cepat memutar tubuh, melompat ke samping. "Wuuuttt!"
Sebuah benda melesat di udara. Sambil keluarkan seruan kaget dan marah Aji Warangan membuat gerakan menghindar dengan cara melompat. Benda yang melesat lewat hanya setengah jengkal dari kepalanya, menyipratkan cairan ke pipi kiri dan bajunya. Lalu menancap di batu besar di depan mulut lorong.

8

SEPASANG mata Aji Warangan membeliak besar. Sambil usap pipinya yang kecipratan cairan dia memandang ke arah batu besar. Disitu menancap sebuah bendera kecil berbentuk segitiga. berwarna merah dan basah!.
”Bendera Darah!" ucap Aji Warangan dengan suara bergetar. Sebelumnya dia telah melihat bendera ini. Satu diantaranya yang menancap di kening Ki Juru Sela. Aji Warangan perhatikan tangan kirinya. Jari-jari tangan itu basah dan merah oleh cairan darah yang menyiprat dari Bendera Darah.
Aji Warangan melangkah, dekati batu besar. Sesaat dia perhatikan bendera yang menancap di batu. Cairan berwarna merah yang membasahi bendera memang darah adanya. Bukan saja dia bisa mencium amis baunya, tapi bekas kepala perampok ini yang telah membantai sekian banyak manusia kenal betul dengan apa yang dinamakan darah. Tangkai bendera terbuat dari bambu kecil. Kalau ada orang yang melemparkan bendera dari kejauhan dan bendera kemudian mampu menancap di batu besar, pasti si pelempar memiliki ilmu dan tenaga dalam luar biasa hebatnya!. Dan dapat dibayangkan, batu saja sanggup ditembus, apa lagi kepala manusia!
Rahang Aji Warangan menggembung. Dengan tangan kanannya dicabutnya Bendera Darah yang menancap di batu lalu dibantingkannya ke tanah. Seluruh bendera, tangkai dan kainnya amblas masuk ke dalam tanah. Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini palingkan kepala ke arah mulut lorong batu. Bendera Darah tadi melesat keluar dari terowongan itu. Berarti orang yang melempar ada dalam Iorong. Aji Warangan dekati mulut lorong lalu berteriak.
”Orang yang melempar bendera! Jangan berlaku pengecut! Unjukkan dirimu! Katakan apa maumu menyerang aku dengan bendera!"
Sunyi. Hanya sesaat. Dari dalam lorong batu terdengar suara orang leletkan lidah disusul suara tawa bergelak, "Aji Warangan! Kepala Pasukan Kadipaten Magetan! Ternyata kau punya nyali! Aku suka pada orang bernyali besar. Untukmu aku akan memberikan dua hadiah sebagai tanda penghormatan. Harap kau mau menerima dengan senang hati! Ini hadiah pertama!"
Dari dalam lorong batu kemudian terdengar suara menderu. Sepertinya ada sebuah benda besar dan berat melesat ke arah mulut lorong. Aji Warangan yang barusan kaget karena orang di dalam lorong tahu nama serta jabatannya kini bertambah kaget ketika melihat satu sosok tubuh manusia melayang deras keluar dari mulut lorong batu. Kalau dia tidak cepat menghindar, badannya akan dibentur sosok tubuh yang melesai itu.
”Buukkk”.

SOSOK tubuh yang melayang menghantam batu besar di seberang lapangan besar di depan mulut lorong, lalu jatuh terbanting ke tanah. Dua mata Aji Warangan mendelik besar. Yang terkapar di tanah itu bukan lain adalah salah seorang dari dua perajurit yang ladi diperintahkannya masuk ke dalam lorong batu untuk menyelidik "Kurang ajar…."
Baru saja Aji Warangan merutuk seperti itu di dalam lorong kembali terdengar orang berteriak.
”Ini hadiah kedua!"
Seperti tadi terdengar suara menderu disusul melesatnya satu sosok tubuh di udara. Aji Warangan sudah tahu tubuh siapa adanya. Sebelum menghantam batu besar Aji Warangan cepat melompat menangkap tubuh yang melayang. Maksudnya jika orang itu masih dalam keadaan hidup maka dia berusaha menyelamatkan agar tubuh atau kepalanya tidak menghantam batu. Dia berhasil. Namun percuma. Ketika dia memperhatikan orang yang didukungnya ternyata orang itu adalah mayat yang mati dengan mata mendelik dan kepala pecah! "Benar-benar biadab!" Kutuk Aji Warangan.
Sosok tubuh dafam dukungannya yakni anak buahnya yang kedua diturunkannya ke tanah. Dia melompat ke mulut lorong batu dan berteriak keras!
”Jahanam pembunuh! Lekas keluar! Atau kubakar kau hidup-hidup di dalam sana!"
”Orangnya hebat! Ucapannya luar biasa! Aku menerima undanganmu!"
Satu deru yang dahsyat terdengar di dalam lorong batu. Sesaat kemudian didahului oleh hantaman angin yang berasal dan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. dari dalam lorong batu melesat keluar satu sosok serba putih mulai dari kepala sampai ke kaki. "Manusia pocong!" ucap Aji Warangan, memandang dengan mata melotot.
Sosok serba putih berdiri bertolak pinggang di depan batu besar. Sepasang matanya yang berada di balik dua buah lobang kecil kain putih penutup kepala kelihatan menyorot berkilat. "Dasar pengecut! Kau sengaja menutupi wajah dengan kain putih! Buka penutup kepalamu! Perlihatkan siapa dirimu sebenarnya!"
Manusia pocong leletkan lidah.
”Sisa-sisa keberanianmu sebagai kepala rampok rupanya masih ada! Ketahuilah Aji Warangan, hal itulah yang menyelamatkan dirimu dari kematian!”.
”Jahanam! Apa maksudmu?”. "Kau tak perlu tahu terlalu banyak. Saat ini aku memberikan satu tawaran padamu. Serahkan dirimu, ikut aku masuk ke dalam lorong batu."
Aji Warangan mendengus.
”Kau telah membunuh Kepala Desa Plaosan, membunuh menantunya dan juga membunuh Ki Juru Seta. Belum lagi para petugas Pamongdesa. Dan barusan kau membunuh dua perajuritku..”. "Mudah-mudahan itu bisa menjadi peringatan padamu agar mau ikut aku secara baik-baik". ”Manusia jahanam! Aku akan membuat dirimu menjadi pocong benaran!"
Habis membentak begitu Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini melompati manusia pocong, lancarkan satu serangan kilat. Tangan kanan kirimkan satu jotosan ke dada. Bersamaan dengan itu tangan kiri berkelebat berusaha mencabut penutup kepala berbentuk pocong,
”Hebat! Tapi sayang gerakanmu kurang cepat sobat! Lihat serangan balasan!"
Dua tangan manusia pocong berkelebat ke depan dalam gerakan aneh dan tahu­tahu telah memotong sambaran dua tangan Aji Warangan. Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini sebelumnya telah maklum bahwa lawan memiliki tenaga dalam tinggi. Kini dia mempunyai kesempatan untuk menjajal dan membuktikan. Sambil lipat gandakan tenaga luar dan tenaga dalamnya Aji Warangan sengaja tidak mau menarik pulang serangannya. Akibatnya bentrokan dua lengan tak dapal dihindarkan.
”Bukkk! Bukkkr!”
Sosok manusia pocong terguncang sempoyongan. Namun dua kakinya tidak bergeser dari kedudukan semula. Sebaliknya Aji Warangan terpental tiga langkah lalu jatuh berlutut di tanah. Rahang menggembung wajah merah.
Dari balik kerudung putih yang menutupi kepalanya, si manusia pocong keluarkan suara tawa mengekeh.
”Aji Warangan, apa kau masih belum mau sadar? Aku bukan tandinganmu” "Aku belum kalah!” teriak Aji Warangan.
Sewaktu berlutut tadi diam-diam dia telah kerahkan tenaga dalam dan atur aliran darah. Dalam waktu singkat dia mampu menguasai dirinya. Begitu bangkit berdiri dia segera lancarkan serangan hebat. Dua tangannya menderu deras dan cepat pada saat dua tangan tidak melancarkan serangan, di sebelah bawah kaki kanan menendang.
Orang yang diserang leletkan lidah lalu tertawa mengejek.
”Ha… ha! Apakah ini jurus yang disebut Badai Membantai Puncak Gunung?"
Aji Warangan bukan saja marah diejek demikian rupa tapi juga terkejut karena lawan mengenali jurus serangannya. Di masa menjadi kepala rampok jurus Badai Membantai Puncak Gunung itu merupakan jurus paling diandalkan ofeh Aji Warangan. Jurus silat ini bukan merupakan jurus tunggal, tetapi memiliki jurus pecahan sampai lima jurus.
Empat jurus menyerang habis-habisan Aji Warangan masih belum mampu menyentuh lawannya. Ketika tubuhnya berkelebat dalam jurus kelima, tiba-tiba satu cahaya putih berkilat di udara yang mulai redup karena sang surya barusan saja tenggelam. "Brettt”.
Terdengar robekan pakaian disusul seruan tertahan. Manusia pocong melompat mundur. Sepasang matanya berkilat-kilat laksana dikobar api. Jubah putihnya ternyata sobek besar di bagian pinggang. Saat itu di hadapannya dilihatnya Aji Warangan berdiri memegang sebilah golok besar bergagang kayu berbentuk kepala ular. Walau hatinya cukup terguncang namun si manusia pocong jauh dari rasa jerih. Diam-diam dia mengagumi jurus terakhir serangan Aji Warangan yang diketahuinya bernama Badai Melanda Lereng Gunung.
Mengira lawan kini menjadi kecut, tidak membuang waktu Aji Warangan kembali menyerbu. Golok besar di tangannya menderu ganas ke arah leher, membabat ke dada lalu menyambar ke pinggang. Dimasa yang sudah-sudah salah satu dari hantaman golok pasti akan bersarang telak di tubuh lawan. Namun manusia pocong walau tadi sempat robek pakaiannya terkena sambaran senjata di tangan lawan, kini tidak mau berlaku ayal. Gerakannya secepat setan malam. Lalu tukkk!

9

AJI WARANGAN mengeluh tinggi. Paha kanannya dihantam totokan dua jari ta­
ngan kiri lawan. Mendadak sontak sekujur kakinya menjadi berat laksana diganduli batu. Jalan darahnya tidak karuan. Rasa sakit menyengat sampai ke ulu hati. Golok di tangan terlepas jatuh berkerontangan ke tanah berbatu-batu. Gerahamnya bergemertakan menahan amarah yang mendidih. Saat itu dia ingin melompati si manusia pocong, mematahkan batang lehernya dan mencabik-cabik tubuhnya. Namun jangankan melakukan hal itu, bergerak saja Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini tidak mampu. Ulu hatinya semakin sakit. Kaki kanannya bertambah berat.
”Aji Warangan! Saatnya kau menyerahkan diri dan ikut aku!" "Bangsat! Sampai mati aku lidak akan menyerah!" Manusia pocong mendengus. ‘Kita akan lihat!" katanya. Lalu dia melangkah mendekati. Kembali tangannya bergerak membuat totokan di tubuh Aji Warangan. Saat itu juga sekujur tubuh lelaki itu menjadi kaku. tak mampu bergerak tak dapat keluarkan suara. Sebelum tubuhnya jatuh terbanting ke tanah, si manusia pocong cepat merangkul pinggangnya. Sesaat kemudian Aji Warangan telah berada di panggulan bahu kirinya, di bawa lari masuk ke dalam terowongan batu.
Walau tubuh kaku, mulut tak bisa keluarkan suara namun jalan pikiran Aji Warangan masih bisa bekerja. Matanya mampu melihat dan memperhatikan segala sesuatu. Manusia pocong itu membawanya berlari sepanjang terowongan batu yang dikiri kanannya dipenuhi banyak sekali lorong.
Banyak lorong di bawah bukit batu. Tempat apa Ini?”, pikir Aji Warangan. ‘Agaknya memang disini sarang kediaman manusia-manusia pocong. Manusia pocong yang memanggul aku sebenarnya bisa menghabisi diriku dengan mudah. Tapi dia tidak membunuhku. Aku mau dibawa kemana? Mau diapakan?"
Setelah melewati puluhan lorong, manusia pocong hentikan langkah di hadapan sebuah pintu kayu berwarna hitam. Pada pertengahan pintu menancap sebuah bendera merah basah berbentuk segitiga. Bendera Darah. Dua manusia pocong bersenjata golok menjaga pintu tersebut. Salah seorang dari mereka membuka pintu kayu hitam melalui sebuah tombol rahasia di samping kiri pintu. Aji Warangan dapatkan dirinya berada dalam sebuah ruangan besar dan kosong. Manusia pocong yang memanggulnya membawanya ke hadapan sebuah pintu berwarna biru, Di pintu ini juga ada sebuah bendera segitiga merah basah.
Aji Warangan mendengar suara bersiur halus. Tiba-tiba atap ruangan membuka. Empat manusia pocong melayang turun. Gerakan mereka enteng dan gesit penanda memiliki kepandaian cukup tinggi. Rupanya mereka sudah tahu dan mengenali siapa yang datang. Salah seorang dari empat manusia pocong ini menekan satu tombol di dinding kiri. Pintu biru serra merta terbuka. Empat manusia pocong kembali melesat ke atas, lenyap dibalik langit-langit ruangan yang menutup.
Ruang di belakang pintu yang dimasuki lagi-lagi kosong. Sepasang mata Aji Warangan memandang berputar. Walau tidak takut menghadapi kematian namun rasa tegang membuat tengkuk bekas Warok yang ditakuti ini terasa dingin juga. Telinga Aji Warangan menangkap suara benda bergeser. Dia melirik ke kiri dan melihat bagaimana dinding ruangan bergerak aneh. Dari dinding yang terbuka itu muncullah sarang manusia pocong. Sosoknya tinggi besar. "Wakil Ketua Yang Mulia, siapa yang kau bawa?" Manusia pocon yang baru muncul ini menegur. "Ketua, lebih dulu terima salam hormat saya." Masih memanggul Aji Warangan dia bungkukkan badan lalu menerangkan. ”Orang ini bernama Aji Warangan. Dulu menjalani hidup sebagai Warok ditakuti di delapan penjuru angin, Sekarang jabatannya adalah Kepala Pasukan Kadipaten Magetan.” "Hemm.., jadi dia orangnya. Ilmunya kudengar lumayan tinggi. Bagus! Rejeki kita hari ini cukup besar rupanya. Aku akan memberikan hadiah untukmu. Sesuai yang sudah aku atur, bawa dia ke Ruang Peristirahatan. Suguhkan Minuman Selamat Datang. Berikan Pakaian Persalinan.” "Perintah Yang Mulia Ketua akan saya lakukan.” jawab manusia pocong yang punya jabatan Wakil Ketua, Dia membungkuk memberi hormat. Lalu bertanya. "Apakah saya boleh melakukannya sekarang juga?" ”Tunggu. Aku ingin lahu apakah kau sudah menyirap kabar mengenai orang yang menjadi tugas utamamu?" "Maksud Ketua pemuda bernama Wiro Sableng berjuluk Pendekar 212?”
Kepala yang tertutup kain putih bergoyang mengangguk. "Saya belum mendapat laporan dari anak buah yang ditugaskan. Penyelidikan yang saya lakukan sendiri juga belum menghasilkan apa-apa. Jika boleh, saya ingin diberi waktu khusus untuk melacak pemuda itu.”
Aku akan berikan waktu satu purnama padamu. Ingat, kau juga harus mendapatkan tiga gadis yang kukatakan tempo hari. Mengumpulkan orang-orang berkepandaian tinggi sebanyak-banyaknya.” "Perintah Ketua akan saya perhatikan dan lakukan. Saya minta izin membawa orang ini ke Ruang Peristirahalan.” Wakil Ketua bungkukkan tubuh lalu melangkah cepat memasuki celah di dinding.
Yang disebut Ruang Peristirahatan adalah sebuah ruangan batu terbentuk segitiga berpintu besi. Pada sisi sebelah atas pintu besi ini ada sebuah lubang berbentuk lingkaran sebesar lingkaran jari tengah yarng ditemukan dengan ibu jari tangan. Di sisi kanan ada tempat tidur terbuat dari batu beralaskan tikar jerami kering. Di bagian kepala bentuk batu tempat tidur agak naik ke atas. Agaknya bagian ini dijadikan sebagai bantal ketiduran. Lalu di ruangan itu ada pula sebuah meja dan kursi kecil juga terbuat dari batu. Ke dalam ruangan inilah Aji Warangan dibawa lalu dibaringkan di atas ranjang batu.
Aji Warangan, silahkan beristirahat. Kau beruntung terpilih untuk masuk dalam barisan kami. Seseorang akan muncul mengurus segala keperluanmu…"
”Jahanam! Apa yang kau lakukan? Tempat celaka apa ini?” Suara Aji Warangan hanya menggema di dalam dada Karena sampai saat itu tubuh dan jalan suaranya masih berada dalam pengaruh totokan.
”Aku masih ada urusan lain. Mudah-mudahan kita berdua bisa menjadi sahabat. Aku akan menemuimu lagi secepatnya.” "Manusia setan! Kalau tubuhku bebas dari totokan aku bersumpah membunuhmu”. Teriak suara hati Aji Warangan. Manusia pocong itu tepuk-tepuk bahu Aji Warangan. Yang ditepuk merasa seperti ditiban batu besar, mengerenyit kesakitan dan hanya bisa menyumpah dalam hati. Walau pintu besi ruangan batu itu di sebelah luar memiliki dua buah palang besar namun sang Wakil Ketua tidak memalang pintu tersebut. Dia pergi begitu saja karena memang Aji Warangan yang masih berada dalam pengaruh totokan tidak akan mampu keluar atau melarikan diri dari tempat itu.

*******

TAK SELANG berapa lama setelah Wakil Ketua meninggalkan Aji Warangan di Ruang Peristirahatan, muncullah seorang gadis membawa sebuah keranjang Di dalam keranjang itu ada sehelai jubah putih dan kain penutup kepala putih. Lalu di situ juga ada sebuah cangkir besar dan tanah, berisi minuman bening sampai setengahnya. Kedatangan seorang gadis yang lumayan cantik ini tentu saja mengejutkan Aji Warangan. Dari wajah, dandanan serta pakaian yang dikenakan gadis ini kentara dia adalah seorang gadis desa.
Di ambang pintu besi si gadis berhenti sebentar, menatap kosong ke arah Aji Warangan lalu baru masuk ke dalam. Aji Warangan memperhatikan. Langkah dan gerak gerik si gadis terlihat aneh di mata Aji Warangan. Setiap gerakan yang dibuat gadis ini tampak kaku. Selain itu dia melihat perut si gadis besar. Apakah dia dalam keadaan mengandung. Kalau sa}a dia bisa bicara, puluhan pertanyaan akan diajukannya pada gadis itu.
Si gadis meletakkan keranjang di atas meja batu. Mengambil cangkir berisi cairan bening lalu berkata.
”Saya akan menyuguhkan Minuman Selamat Datang dalam cangkir ini kepadamu. Minumlah sampai habis. Saya akan berada di tempat ini sampai pengaruh minuman bekerja dan jalan suaramu terbuka. Setelah itu saya akan pergi. Bila saya pergi harap kau mengganti pakaianmu dengan Pakaian Persalinan, sehelai jubah putih. Lalu tutup kepalamu dengan kain putih. Hanya perintah Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Ketua seorang yang wajib dicintai.”
Selagi Aji Warangan terheran-heran mendengar ucapan gadis itu, si gadis mendekatkan cangkir minuman ke bibirnya. Aji Warangan berusaha menolak ketika cairan dalam cangkir dituangkan ke dalam mulutnya. Tapi dalam keadaan tertotok demikian rupa tentu saja dia tidak mampu melakukan. "Tak usah takut. Minuman ini tidak beracun. Minuman ini justru memberi jalan kehidupan padamu." Si gadis berucap. "Setan alas! Mana aku tahu minuman itu beracun atau tidak!" Rutuk Aji Warangan. Tapi suaranya hanya dalam hati. sama sekali tidak keluar, tidak terdengar
Walau tersendat-sendat cairan dalam cangkir akhirnya masuk ke dalam mulut, terus ke perut lewat tenggorokan. Aji Warangan merasa ada hawa sejuk di dalam perutnya. Rasa sejuk mi kemudian menjalar ke bawah ke arah kaki dan ke atas ke arah
dada terus ke leher. Begitu hawa sejuk memasuki kepala tanpa disadari kedua matanya perlahan-lahan tertutup dan Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini lantas tertidur.
Gadis di dalam ruangan tatap wajah Aji Warangan. Lalu mulutnya berucap. ”Di dalam kesejukan ada hawa penidur. Di dalam tidur ada kebangkitan. Di dalam kebangkitan ada kemenangan. Hanya perintah Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Ketua seorang yang wajib dicintai.” Habis berkata begitu si gadis ulurkan tangan kirinya diletakkan di kening Aji Warangan.
Aji Warangan tidak tahu apa yang. Terjadi atas dirinya. Dia batuk-batuk beberapa kali lalu nyalangkan sepasang mata. Dia dapatkan gadis desa tadi masih ada dalam ruangan itu.
”Kau….” Ucapan keluar dari mulut Aji Warangan. Astaga. Ternyata dia sekarang bisa bicara. Dia gerakkan dua tangan. Dia mampu. Dia juga bisa menggerakkan ke dua kaki. Malah bangkit dan duduk. Namun ada keanehan dirasakannya. Sekujur tubuhnya terasa lemas, seolah dia tidak memiliki tenaga, tidak punya tulang belulang. Saking lemasnya agar tidak roboh dia sandarkan punggung ke dinding, menatap ke arah si gadis.
Kau sudah bisa bicara. Sudah bisa bergerak. Saatnya saya pergi. Jangan lupa. begilu saya keluar dari ruangan ini segera kenakan pakaian dan penutup kepala putih. Hanya perintah Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Ketua seorang yang wajib dicintai." Si gadis dengan kaku memutar tubuh lalu melangkah ke pintu.
”Tunggu!" seru Aji Warangan. Kau siapa? Ini tempat apa? Siapa Ketua yang kau sebut-sebut! Mengapa tubuhku lemas. Aku…"
Dicecar pertanyaan begitu banyak si gadis tersenyum. Tapi senyumnya terasa aneh di mata Aji Warangan. "Siapa saya itulah yang saya tidak ketahui…”. "Hai gadis! Otakmu waras bukan? Masakah kau tidak tahu siapa dirimu sendiri? Apa kau tidak punya nama? Kau tinggal di sini, muslahil tidak tahu tempat apa ini adanya Juga mustahil kau tidak kenal siapa manusia-manusia pocong itu!"
Kembali si gadis tersenyum.
”Saya tidak tahu apakah saya waras atau tidak. Saya tidak tahu apakah saya punya nama atau tidak. Saya tidak tahu tempat apa ini adanya. Yang saya tahu hanyalah menjalankan perintah Ketua, Hanya perintah Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Ketua yang wajib dicintai."
”Ucapan aneh. Ucapan gila!" rutuk Aji Warangan. "Apa arti semua ini?! Gila!" "Saya tidak tahu apakah saya gila atau tidak, berkata si gadis.
Aji Warangan hendak membentak tapi membatalkan niatnya. Ada sesuatu ketidakberesan pada gadis desa ini. Ketidak beresan mengandung keanehan yang sukar diketahui apa adanya.
”Dengar, aku yakin tadinya kau tidak tinggal disini. Apa kau masih ingat sudah berapa lama kau berada di sini?”
”Itulah yang saya tidak ingat…." "Aku tidak percaya kau tidak ingat segala-galanya. Perutmu besar. Apakah kau sedang hamil?”
Si gadis memegang perutnya. ”Saya tidak tahu apakah saya sedang hamil.” "Benar-benar aneh. Aneh dan gila’ Tempat apa ini sebenarnya?" Aji Warangan pandangi wajah . gadis di depannya. "Tadi kau berkata hanya Ketua seorang yang wajib dicintai. Apakah kau bercinta dengan Ketua ? Apakah kau kekasih Ketua manusia­manusia pocong itu?"
Si gadis membuka mulut tapi bukan untuk memberikan jawaban. "Ada orang datang, aku harus meninggalkanmu."
Ketika gadis itu melangkah pergi. Aji Warangan meluncur turun dari tempat tidur batu. Dia kumpulkan tenaga coba melangkah mengikuti. Tapi baru berjalan dua langkah tubuhnya jatuh ambruk di depan pintu besar. Si gadis melangkah terus tanpa berpaling. Satu sosok manusia pocong kemudian muncul di depan ruangan batu segitiga itu. Terdengar suara lidah dileletkan. "Aji Warangan, belum saatnya kau turun dari tempat tidur. Tunggu sampai satu hari satu malam. Kelak kau akan menjadi manusia pengabdi sempurna."
Manusia pocong itu selinapkan kaki kirinya kebawah dada Aji Warangan. Sekali kakinya diayunkan tubuh Aji Warangan terangkat dan terlempar jatuh ke atas tempat tidur batu. Aji Warangan mengeluh tinggi. Tubuhnya yang lemas terasa seperti hancur berantakan. ,
Antara sadar dan tidak, lapat-lapat dia mendengar suara perempuan. Karena suara itu terlalu jauh, dan mungkin datang dari salah satu dari sekian banyak lorong di bawah bukit batu. dia tidak dapat mendengar jelas bait-bait nyanyian yang diucapkan. Apalagi orang yang menyanyi mengucapkan nyanyiannya setengah meratap. Aji Warangan pejamkan mata, memasang telinga. Tetap saja dia tidak bisa mendengar Jelas dan lengkap semua apa yang dinyanyikan.

Di dalam lorong batu
Kematian datang ….
Di dalam … batu
Ada seratus tiga belas lorong
Siapa tersesat…
Di dalam..

Ada Rumah Tanpa….
Inilah Tempat teraman
Bendera Darah lambang…
Darah bayi tumbal….

Tiba-tiba ada suara bentakan. Suara nyanyian mendadak sontak lenyap.

10

KITA tinggalkan dulu Aji Warangan yang berada di dalam perut bukit batu yang memiliki puluhan lorong aneh. Kita kembali pada satu peristiwa hebat yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.
Dalam Episode "Meraga Sukma” diceritakan setelah terjadi pertempuran hebat di Bukit Menoreh, Sinto Gendeng berusaha mengejar Nyi Ragil Tawangalu alias Si Manis Penyebar Maut. Seperti diketahui, nenek kekasih kembaran Si Muka Bangkai itu telah membunuh Datuk Mudo Carano Ameh, saudara sepupu Tua Gila Dari Andalas. Dendam Sinto Gendeng terhadap nyi Ragil bukan saja karena pembunuhan tersebut tetapi juga karena akibat perbuatannya itu Sinto Gendeng telah kesalahan tangan membunuh seorang anak lelaki bernama Boma Wanareja. cucu Ki Kalimanah seorang abdi yang bertugas merawat kuda-kuda Keraton (baca “Si Cantik Dalam Guci")
Di saat melakukan pengejaran terhadap Nyi Ragil itulah Sinto Gendeng tersesat ke sebuah telaga. Di tempat ini tiba-tiba muncul dua nenek kembar, berambut seperti perak dan berwajah putih. Luar biasanya tubuh sepasang nenek kembar ini berbentuk sosok seekor naga pulih. Mereka bernama Naga Nini dan Naga Nina, dikenal dengan julukan Sepasang Naga Putih Kembar.
Kemunculan dua makhluk kemba aneh ini ternyata untuk menghukum Sinto Gendeng atas dosa kesalahannya telah membunuh anak lelaki bernama Boma Wanareja. Sinto Gendeng mengakui bahwa dia memang telah membunuh Boma, namun hal itu terjadi karena kesalahpahaman. Dia mengira anak itulah yang telah membunuh Datuk Mudo. Karena saat ditemui Boma memegang golok besar yang menghabisi nyawa Datuk Mudo. Bagaimanapun Sinto Gendeng menerangkan dan membela diri tetap saja Sepasang Naga Putih Kembar yang mengaku sebagai pelindung Boma Wanareja tidak mau perduli. Hal ini membuat Sinto Gendeng menjadi marah. Dia menyerang sepasang naga putih. Tapi sampai seluruh ilmu silat dan kesaktiannya dikeluarkan Sinto Gendeng tidak mampu mengalahkan dua nenek bertubuh naga itu. Malah dua makhluk aneh itu akhirnya berhasil memendam Sinto Gendeng ke dalam tanah di tepi telaga sampai sebatas dada.
Sinto Gendeng merasa sekujur tubuhnya lemas. Dua tangan terkulai di tanah. Matanya yang biasanya menyorot angker kini kelihatan kuyu. Suaranya terdengar perlahan ketika dia berucap. "Kalian… Meng.., mengapa memendam diriku begini rupa. Apa dosa kesalahanku…" "Kalau ingin kami mengatakan, dosamu terlalu banyak Sinto Gendeng. Tapi dosamu terakhir yang ada sangkut pautnya dengan diri kami adalah pembunuhan yang kau lakukan terhadap seorang anak lelaki berusia lima belas tahun. Bernama Boma Wanareja" "Aaahhh,… Anak itu, ujar Sinto Gendeng lirih dan mata berputar liar. "Aku membunuhnya secara tidak sengaja. Aku mengira dia orang yang telah membunuh Tua Gila Dari Andalas. Ternyata orang yang dibunuh itu adalah saudara sepupu Tua Gila bernama Datuk Mudo Carano Ameh. Aku membunuh anak itu. Tidak sengaja, karena tidak tahu. Aku ketelepasan tangan. Seumur hidup aku akan menyesali perbuatanku itu!"
Sepasang Naga Putih sama-sama gelengkan kepala. Lalu keduanya berucap berbarengan. "Kau tidak ketelepasan tangan Sinto. Kau juga bukan tidak sengaja. Sebelum menemui ajal anak itu sempat berteriak bahwa dia bukan pembunuh Datuk Mudo Carano Ameh. Tapi karena kau sudah biasa gatal tangan membunuh sembarangan, kau tidak perdulikan teriakan orang. Kau menghantamnya dengan Pukulan Sinar Matahari! Sungguh keji! Pukulan sakti yang sanggup menghancur gunung itu kau pakai untuk membunuh seorang bocah tidak berdaya!"
Sinto Gendeng keluarkan suara menggerung mendengar kata-kata Sepasang Naga Pulih Kembar. "Kalian berdua boleh saja tidak percaya. Tapi aku berani bersumpah aku tidak punya niat jahat membunuh anak itu!"
”Kematian sudah terjadi! Anak yang mati tak mungkin dibuat hidup kembali! Dosamu tak mungkin dilebur. Jadi saat ini pantas sekali kami membenamkan dirimu di tanah!’ Berkata Naga Nini yang merupakan nenek tertua dari sepasang nenek kembar itu. Adiknya, Naga Nina menyambung. "Sebenarnya kami ingin memendam tubuhmu di puncak Gunung Gede, di samping makam Boma Wanareja. Namun ketika kami datang ke sana kau tengah gentayangan kemana-mana hingga akhirnya kami menemuimu di tempat ini…" ”Aku bukan gentayangan. Aku justru tengah mengejar Nyi Ragil, pembunuh sebenarnya dari Datuk Muda Carano Ameh" jawab Sinto Gendeng setengah berteriak, garang dan melotot dan juga, Setengah putus asa "Sekalipun Nyi Ragil punya tujuh nyawa dan kau membunuhnya sampai tujuh kali, Boma tidak akan dapat hidup kembali." Ujas Naga Nini.
Sinto Gendeng tak dapat menahan amarahnya, "Kalian… kalian bukan manusia. Makhluk apa kalian aku tidak perduli. Apa sangkut paut kailan dengan Boma Wanareja?!" "Kami adalah Sepasang Naga pelindung anak itu. Ketika kejadian kau membunuh Boma, kami baru saja menyelesaikan tapa di Gunung Wilis.” Menerangkan Naga Nina. Naga Nini menyambungi. "Sekarang kau sudah tahu dosamu. Berarti kau harus menyadari bahwa cukup pantas dirrmu kami hukum dipendam dalam tanah begitu rupa!" ”Tidak bisa! Kalian bukan Tuhan yang bisa menghukumku seenaknya!" Teriak Sinto Gendeng lantang.
Sepasang Naga Putih Kembar tertawa panjang. "Ketika kau membunuhi musuh-musu mu apa terpifkir olehmu bahwa kau juga bukan Tuhan yang bisa menghukum dan membunuh orang lain seenaknya?’ "Jahanam! Kalian berdua tidak lebih dari makhluk keji kesasar!” Keluarkan aku dari dalam tanah. Mari kita bertempur secara satria ”.
Kembali Sepasang Naga Putih tertawa. "Selamat tingga! Sinto Gendeng.” Naga Nini dan Naga Nina berucap lalu didahului dengan menebarnya kabut pulih, sosok kedua makhluk aneh itu lenyap dari tepian telaga. ”Jahanam pengecut!" teriak Sinto Gendeng karena dua makhluk pergi begitu saja tanpa mau melayani tantangannya. Dia mengira dengan perginya Sepasang Naga Putih Kembar itu dia akan bisa keluar dari pendaman. Tapi tetap saja sia-sia. Tekanan berat di sebelah atas tak kunjung lenyap. Sampai berapa lama dia bisa bertahan. Tubuhnya bisa­bisa amblas sampai ke ubun-ubun. Kalau hal ini sampai kejadian nyawanya lidak tertolong lagi.

SINTO Gendeng, nenek sakti dedengkot rimba persilatann tanah Jawa tidak tahu entah sudah berapa lama dia terpendam di tanah. Dia tidak mampu menghitung hari. Tubuhnya mulaidari dada ke atas kotor diselimuti debu tebal. Keadaannya hampir menyerupai jerangkong hidup. Selama terpendam, pada siang hari dirinya dipanggang sinar matahari. Pada malam hari diselimuti hawa dingin berlapis embun. Di atas kepalanya, di tusuk konde perak. yang tinggal empat, mulai bersarang dan berkeliaran berbagai macam serangga.
Selama dipendam begitu rupa tentu saja Sinto Gendeng tidak pernah makan, tidak pernah minum. Padahal telaga berair jernih dan sejuk hanya beberapa langkah saja di dekatnya. Bibirnya pecah-pecah. Rongga dua matanya semakin cekung mengerikan. Kalau ada buah atau daun pohon yang melayang jatuh dan bisa dijangkau dipungutnya, itulah yang jadi makanannya. Kalau ada lapisan embun menempel di bibirnya, itulah yang dijilatnya dijadikan air minuin pelepas dahaga. Keadaan nenek ini sungguh mengenaskan. Siap menunggu sekarat.
Saat itu sore hari. Entah sore yang keberapa. Sinto Gendeng tak bisa menghitung. Sepasang matanya tertutup. Kepala terkulai ke samping, dua tangan terletak lunglai di permukaan tanah. Dia tahu saat itu matahari hampir tenggelam karena dapat merasakan sinarnya tidak lagi keras membakar, memanggang kepala dan wajahnya.
”Mati, mengapa aku tidak mati saja?" Sinto Gendeng berucap menyumpahi diri sendiri dalam hati "Malaikat maut. dimana kau. Mengapa kau tidak datang, mencabut nyawaku sekarang juga! Memang aku banyak dosa! Aku tidak takut matil Cabut nyawaku sekarang juga”.
Mulut si nenek terbuka sedikit. Lalu dia terbatuk-batuk. Menyemburkan ludah bercampur darah!
Dalam keadaan seperti itu sayup-sayup di kejauhan ada suara orang berjalan sambil bercakap-cakap. Sesekali terdengar suara tawa menyelingi percakapan. "Kalau aku tidak salah, di sekitar sini ada sebuah telaga. Rasanya aku ingin sekali mandi berbasah-basah.” Yang bicara seorang perempuan. Kalau begitu mari kita cari telaga itu. Aku juga kepingin mandi asal kau mau menemani" Menyahuti suara orang lelaki. Sepertinya bukan suara lelaki dewasa. "Pasti di otakmu saat ini sudah muncul pikiran kotor. Aku mau mandi tapi tidak mau membuka pakaian.
”Mana ada orang mandi mengenakan pakaian. Yang namanya mandi itu ya pasti bugil. Kerbau saja kalau mandi telanjang tidak pakai baju! Ha… ha..ha… ha!”
Suara tawa bergelak itu tiba-tiba terputus. Berganti dengan seruan kaget.
”Lihat”.
”Astaga!"
Dua orang berkelebat ke hadapan Sinto Gendeng.
”Sulit dipercaya. Mukanya tertutup debu tebal. Tapi dari tusuk konde perak di atas kepalanya aku yakin dia……” "Aku mencium bau pesIng. Walau tidak santar karena tubuhnya sebelah bawah ada di dalam tanah. Pasti dia Sinto Gendeng. Nenek sakti dari Gunung Gede guru Pendekar 212 Wiro Sableng.” "Hanya, bagaimana kita bisa percaya dia terpendam begini rupa? Siapa yang melakukan? Dia sendiri? Bunuh diri? Ah, ini bukan cara bunuh diri yang menyenangkan. Ha… ha..ha!" "Jangan tertawa saja. Kita harus melakukan sesuatu. Menolong dia keluar dari pendaman tanah."
Sejak tadi Sinto Gendeng mendengar semua pembicaraan dua orang yang muncul di hadapannya itu, Dia ingin melihat siapa kedua orang itu adanya. Tapi dua matanya terasa sangat berat tak mampu dibuka. Di atas kepalanya seperti ada benda luar biasa berat menekan dirinya. "Tunggu apa lagi. Ayo kita keluarkan nenek ini dari dalam tanah!"
Sinto Gendeng merasa ada dua pasang tangan memegang bahunya kiri kanan. Lalu perlahan-lahan tubuhnya ditarik ke alas. Namun jangankan tubuh nenek itu bisa keluar dari dalam tanah. Bergerak atau bergeming sedikitpun tidak. Kedua orang itu kerahkan tenaga. Salah seorang dari mereka selinapkan lengan di bawah ketiak si nenek.
Lalu keduanya mengangkat kuat-kuat ke atas. Dari mulut Sinto Gendang mengeledek jerit kesakitan. Tulang pinggangnya seperti mau putus.
”Anak Setan! Kalian mau membuat copot tubuhku?!”.
Dibentak begitu rupa dua orang yang berusaha menolong terperangah kaget.
”Nenek kami bukan mau mencelakai dirimu. Tapi mau menolong. Mau mengeluarkan tubuhmu dari dalam tanahl"
”Mau menolong…?" Wajah tengkorak Sinto Gendeng menyeringai kaku. Dua matanya masih terkatup. Jadi kalian bukannya malaikat maut? ”
Dua orang itu saling pandang. Dalam keadaan sekarat seseorang memang bisa saja bicara melantur, "Aku mau mati. Kalau kalian bukan malaikat maut pergi sana!." "Nek, kami bukan malaikat maut! Kami sahabat-sahabatmu," Suara perempuan memberitahu. "Betul. Yang namanya malaikat maut kalau datang mana pernah memberitahu. Nyawamu langsung disedot dari ubun-ubun atau dibetot dari jempol kaki! iiiihhh!” "Manusia-manusia sialan! Siapa kalian?!" "Buka matamu Nek, kau pasti mengenali kami!" "Kepala dan bahuku terasa berat. Mataku tak bisa dibuka. Kalaupun kalian bukan malaikat maut, tapi kalian tentu bisa membunuhku saat ini juga!"
Dua orang di hadapan Sinto Gendeng saling berbisik.
”Ada yang tidak beres di tempat ini. Ada satu kekuatan aneh membuat tubuh Sinto Gendeng tidak bisa dikeluarkan dari dalam tanah." "Kalau saja Wiro ada di sini dia pasti mampu menolong gurunya. Dengan kapak saktinya atau dengan ilmu aneh yang didapatnya di Negeri Latanah silam. Ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah." Mendengar nama muridnya disebut seolah mendapat satu kekuatan ajaib sepasang mata Sinto Gendeng perlahan-lahan terbuka.

11

SINTO Gendeng buka sepasang matanya lebih lebar.
”Kalian.." ucap si nenek. Dia hanya mampu melihat samar-samar. "Aku mendengar suara, tapi aku tidak melihat jelas. Boleh jadi… boleh jadi aku telah buta,"
Dua orang di hadapan Sinto Gendeng saling pandang.
”Kita harus bantu penglihatannya. Mungkin aliran darah ke kepalanya tidak lancar. Kita perlu menotok urat besar di leher kiri kanan dan dua pelipisnya. "Kau yang melakukan. Aku akan membantu memberi kekuatan dengan totokan di ubun-ubunnya!.
Dua tangan lalu bergerak cepat menotok jalan darah di leher dan kening Sinto Gendeng. Totokan berikutnya di arahkan tepat di ubun-ubun batok kepala si nenek. Begitu ditotok Sinto Gendeng keluarkan suara seperti ayam digorok. Sepasang matanya terbuka semakin ebar, ada cahaya mencorong angker. Pertanda kemampuannya melihat kini hampir kembali sempurna. Tubuhnya tidak terasa lemas namun beban berat yang menindih di sebelah atas masih terasa. "Kalian…" desis Sinto Gendeng, memandang pada bocah berpakaian serba hitam berambut jabrik yang jongkok di hadapannya. "Kau… Bocah edan…." "Aku Naga Kuning Nek. belum jadi bocah edan!” jawab anak berpakaian serba hitam lalu menutup mulut menahan tawa.
”Dan aku, apa kau mengenali diriku?” Perempuan tua berwajah seram berpakaian hitam dan berkuku panjang hitam di samping Naga Kuning keluarkan ucapan.
Sinto Gendeng menyeringai buruk. "Aku mengenali tampangmu yang seram tidak karuan. Tapi aku lupa namamu.." "Aku Gondoruwo Patah Hati Sahabatmu..” ”Aahhh… " Sinto Gendeng lepas nafas panjang.
”Nek kami barusan berusaha menotongmu, Tapi aneh, sosokmu tak bisa diangkat, tak bisa ditarik dari dalam tanah. Apa yang terjadi dengan dirimu? Siapa memendammu begini rupa?”. "Ada satu kekuatan aneh menindih kepala dan tubuhku. Sampai kiamat kalian tak bakal bisa membebaskan diriku."
Kalau kau mau menceritakan apa yang terjadi, atau siapa yang melakukan perbuatan gila ini atas dirimu, mungkin kami bisa mencari jalan untuk menolongmu”.
”Aku manusia penuh dosa. Aku pantas menerima hukuman ini sampai mati." Jawab Sinto Gendeng. "Hukuman yang paling pantas jatuh atas diri manusia adalah yang datang dari Gusti Allah. Hukum manusia atas manusia lainnya biasanya dipengaruhi rasa dendam, iri dengki atau rasa takut tak beralasan. Aku belum bisa percaya kalau apa yang terjadi atas dirimu ini adalah hukuman dari Gusti Allah. Harap kau mau bercerita”.
Sinto Gendeng tatap wajah seram nenek berjuluk Gondoruwo Patah Hati sesaat Dia tahu riwayat nenek satu ini. Di balik wajah yang buruk seram itu ada satu wajah cantik jelita. Di balik tubuh yang kelihaian rapuh buruk itu ada satu sosok yang mulus bagus. Dan dia juga tahu kalau si nenek sebenarnya bernama Ning Intan Lestar. Dan bocah berambut jabrik itu sesungguhnya adalah seorang kakek sakti berjuluk Kiai Paus Samudera Biru. Satu senyum menyeruak di wajah angker Sinto Gendeng. "Nek, aku sahabat muridmu. Aku tahu senyummu lebih mahal dari emas sebesar gunung. Tapi saat ini aku melihat kau tersenyum, ada apakah? ”. "Aku senang melihat kalian berdua. Kalian manusia-manusia berbahagia. Tidak seperti diriku. Seumur hidup dirundung sengsara, korban tipu daya, korban fitnah dan hari ini menjadi korban hukum. Hik… thik… hik.” ”Jalan hidup kami berdua tidak lebih baikdarimu, sahabatku Sinto," kata Gondoruwo Patah Hati pula. ”Puluhan tahun kami dirundung duka sengsara sebelum Gusti Allah mempertemukan kami kembali”. Sinto Gendeng menarik nafas dalam "Dunia penuh keanehan. Di dalam keanehan itulah agaknya aku akan menemui ajal”. Sinto Gendeng usap wajahnya "Naga Kuning, tadi kau menyebut muridku. Kau tahu dlmana anak setan itu sekarang berada? Aku ingin melihatnya sebelum diri buruk penuh dosa ini menemui kematian," "Sinto sahabatku. Siapa bilang kau akan mati. Kami akan menolongmu keluar dari dalam pendaman tanah…." "Kalian sudah berusaha tapi tidak mampu…”. "Cerita Nek, ceritakan apa yang terjadi!’ kata Naga Kuning pula.
Atas desakan Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati, Sinto Gendeng menceritakan pertemuannya dengan Sepasang Naga Putih Kembar, Naga Nini dan Naga Nina. "Sulit dipercaya ada makhluk seperti itu." Kata Naga Kuning sambil mengusap rambut jabriknya, "Nek, kami berdua akan mencoba mengeluarkan kau dari dalam pendaman tanah…" "Tidak ada gunanya. Kalian sudah mencoba dan tak berhasil. Tinggalkan saja diriku. Tolong cari muridku si enak setan bernama Wiro Sableng itu. Mudah-mudahan dia bisa menemuiku sebelum aku menemui kematian…"
Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati berbisik-bisik. "Lakukan dengan sepuluh jarimu. Aku akan membantu dari belakang. Mudah mudahan berhasil," bisik Naga Kuning. "Aku tidak bisa memastikan kita berhasil. Ingat, waktu aku bertapa mendalami ilmu itu di pinggir Kali Lanang, kau jatuh ke pangkuanku! Tapaku menjadi buyar!" "Aku ingat,” jawab Naga Kuning. Tapi tak ada salahnya kita coba. Aku akan membantumu”. (Peristiwa jatuhnya Naga Kuning ke pangkuan Gondoruwo Patah Hati yang tengah bertapa merampungkan ilmu Kuku Api di tepi Kali Lanang, dapat dibaca dalam Episode "Gondoruwo Patah Hati")
Gondoruwo Patah Hati beringsut mendekati Sinto Gendeng. Lima jari tangannya yang berkuku panjang hitam dipentang lurus, diletakkan di tanah. Di sebelah belakang Naga Kuning letakkan dua telapak tangannya di punggung Gondoruwo Patah Hati.
”Kalian mau melakukan apa?" tanya Sinto Gendeng sambil memperhatikan sepuluh jari berkuku panjang hitam nenek bermuka seram di hadapannya.
”Aku akan menggali tanah di sekitar tubuhmu. Itu satu-satunya cara terbaik untuk mengeluarkanmu dari pendaman tanah…"
Sinto Gendeng menyeringai. ”Lebih baik sepuluh kuku jarimu itu kau cengkeramkan ke leherku biar aku mati! Itu lebih mudah dari pada bersusah payah menggali. Hik.hik.hik!"
Tanpa perdulikan ucapan Sinto Gendeng, Gondoruwo Patah Hati mulai kerahkan tenaga dalamnya lalu dialirkan pada sepuluh jari tangan. Di sebelah belakang Naga Kuning bantu mengalirkan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya ke tubuh Gondoruwo Patah Hati.
Sekujur tubuh Gondoruwo Patah Hati bergetar. Sepuluh jari tangannya yang berkuku hitam kini berubah merah, memancarkan cahaya seperti bara api. Tangan dan jari serta tanah disekilarnya mengeluarkan kepulan asap merah. Sinto Gendeng merasa ada hawa panas menjalar di tanah sekitarnya, masuk ke dalam tubuhnya. "Lakukan sekarang”, bisik Naga Kuning. Mendengar ucapan Naga Kuning, Gondoruwo Patah Hati hunjamkan sepuluh jari tangannya ke dalam tanah. "Cesss! Cessss!”
Terdengar suara seperti besi panas dicelup ke dalam air. Asap merah mengepul semakin tebal. Dengan kedua tangannya yang berkuku panjang Gondoruwo Patah Hati menggali tanah sekitar tubuh Sinto Gendeng. Memang luar biasa kehebatan dua tangan si nenek Sepuluh jari berkuku hitam yang kini memancarkan sinar merah Itu pada puncak kehebatannya sanggup meremas hancur batu kini dipergunakan untuk menggali tanah yang jauh lebih lunak. Tentu saja dalam waktu cepat tanah di sekitar dada Sinto Gendeng terbongkar terkuak lebar dan cukup dalam. "Nek, coba gerakkan tubuhmu!. Mungkin tanah yang menjepitmu sudah longgar!" Berkata Naga Kuning.
Sinto Gendeng pular-putar tubuhnya. Ternyata hanya dadanya yang berada di atas permukaan tanah yang mampu digerakkan sementara bagian tubuh yang terpendam di sebelah bawah masih belum bisa bergeming.
”Aku merasa tekanan tanah agak berkurang. Tapi aneh, aku tidak bisa menggerakkan tubuh bagian bawah,” kata Sinto Gendeng. Ada tekanan berat luar biasa menindih kepala dan pundak ku.
”Kerahkan tenaga dalammu!" Kata Gondoruwo Patati Hati.
Sinto Gendeng kerahkan tenaga dalamnya tapi tetap saja dia tak mampu bergerak. "Gali lebih dalam dan lebih besar," ucap Naga Kuning pada Gondoruwo Patah Hati. "Matahari hampir tenggelam. Sebentar lagi malam tiba! Kita harus bisa mengeluarkannya sebelum hari menjadi gelap”. Lalu kembali Naga Kuning salurkan tenaga dalamnya ke punggung Gondoruwo Patah Hati. Nenek ini bekerja mati-matian menggali tanah dengan dua tangannya. Sinto Gendeng kembali menggerakkan tubuh, coba mengeluarkan diri dari jepitan tanah. Namun tetap saja tidak berhasil. Nafas Gondoruwo Patah Hati sudah terengah. Di belakangnya Naga Kuning telah mandi keringat karena mengerahkan tenaga dalam tak putus-putusnya. Sang surya telah tenggelam. Keadaan ditepi telaga mulai gelap. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih disertai bentakan keras. "Manusia-manusia culas keji kurang ajar! Apa yang kalian lakukan! Dendam apa. dosa apa sampai tega-teganya dan beraninya kalian memendam Eyang Sinto Gendeng hidup-hidup?”. "Wuuut" "Wuuut!"
Satu tendangan melabrak ke punggung Naga Kuning. Satu jotosan menghantam ke arah batok kepala Gondoruwo Patah Hati. Si bocah jabrik dan si nenek bermuka setan berseru kaget, lalu sama-sama cari selamat dengan jatuhkan diri ke tanah

12

NAGA Kuning merasa sekujur tubuhnya dingin ketika mengetahui tendangan orang lewat hanya seujung kuku, menyerempet punggung baju hitamnya. Kalau dia tidak cepat jatuhkan diri ke tanah, tubuhnya sebelah belakang pasti akan hancur berantakan. Gondoruwo Patah Hati seperti Naga Kuning tertelentang pucat di tanah. Pukulan orang akan memecahkan balok kepalanya kalau dia tidak cepat jatuhkan diri. Rambutnya yang sebagian tergulung kini terbongkar awut-awutan. Masih untung hanya gulungan rambutnya yang kena serempetan pukulan orang. Kalau sampai balok kepalanya yang kena digebuk, saat itu pasti dia sudah jadi mayat. "Anak Setan! Dedemit mana yang masuk ke dalam tubuhmu hingga mau membunuh dua sahabat yang hendak menolong diriku?”.
Sinto Gendeng keluarkan bentakan keras. Bayangan putih yang barusan berkelebat sambil lancarkan dua serangan maut keluarkan seruan tertahan. Dengan dua mata dibesarkan dia melangkah mendekati Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati yang saat itu tengah berusaha bangun dari tanah. "Ampun Eyangl Saya kesalahan mata? Hampir kesalahan tangan. Tempat Ini begitu gelap. Saya hanya melihat sosok Eyang kerena menghadap ke arah saya. Dan dua orang itu membelakangi arah saya datang !”
Orang yang bicara jatuhkan diri berlutut dihadapan Sinto Gendeng, lalu memutar tubuh pada Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati.
”Salah mata salah nyawa ! Kau pantas menerim hukuman seperti yang aku alami saat ini”.
”Mohon ampun Eyang. Tapi kedua orang ini tidak sampai mati ditanganku.”
”Kalau kami berdua sempat mati ditanganmu,kami akan menjadi setan dan datang mencekikmu!” Kata Naga Kuning.
”Naga Kuning, nenek Gondoruwo Patah Hati, maafkan aku, aku benar-benar tidak mengira. Aku hanya melihat kalian dari belakang. Sepertinya hendak memendam guruku ke dalam tanah.”
”Wiro, kami justru ingin mengeluarkannya dari dalam tanah. Tetapi gagal terus­terusan.” Kata Naga Kuning sambil memegang tengkuknya yang masih terasa dingin sementara Gondoruwo Patah Hati merapikan gulungan rambutnya.
”Apa yang terjadi di tempat ini ?” tanya orang yang barusan datang, dan bukan lain lain Pendekar 212 Wiro Sableng adanya.
”Jangan banyak bertanya dulu! Bantu mereka mengeluarkan aku dari dalam tanah.” Sentak Sinto Gendeng.
Wiro menggaruk kepala.
”Baik Eyang akan saya lakukan. Saya akan lakukan.” Kata Wiro pula. Lalu dia keluarkan Kapak Maut Naga Gen i 212. "Jangan pergunakan kapak”’ ucap Naga Kuning. ”Wiro, aku ingat bukankah kau punya ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah. Pergunakan ilmu itu untuk mengeluarkan gurumu dari pendaman tanah.”
Wiro memperhatikan sejenak. Lalu gelengkan kepala.
”Tidak, terlalu berbahaya. Salah-salah guruku malah bisa terjepit amblas! Nek kau terus menggali tanah dengan dua tanganmu. Naga Kuning. Kau teruskan menyalurkan tenaga dalam. Aku akan menarik Eyang Sinto ke atas.”
”Sudah dilakukan. Tapi tidak berhasil. Sosok gurumu seperti dijepit di sebelah bawah dan di sebelah atas seolah ada kekuatan berat luar biasa menindih kepala dan pundaknya.”
”Lalu bagaimana caranya kita membebaskan Eyang? Sialan! Siapa yang punya pekerjaan kurang ajar seperti ini!”
”Wiro. kau punya kepandaian Menembus Pandang. Selidiki apa yang ada di atas kepalaku. Mata biasa bisa saja tidak mampu meiihat….”
Masih memegang kapak sakti di tangan kanannya, wiro kerahkan ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung. Begitu ilmu diterapkan dan matanya memandang ke depan. Wiro keluarkan seruan kaget. Dua kakinya sampai bergerak surut dua langkah. "Anak Setan! Apa yang kau lihat?” Tanya Sinto Gendeng sementara Gondoruwo Patah Hati dan Naga Kuning dalam herannya juga ingin tahu apa yang barusan telah dilihat Pendekar 212. "Eyang….” Suara sang murid agak gemetar. "Saya… saya melihat ada dua benda aneh, besar putih, bergulung di atas Kepala Eyang…” Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati saling pandang. Sinto Gendeng mengulangi kata-kata Wiro. "Dua benda aneh, besar putih, bergulung di atas kepalaku. Jahanam! Pasti mereka!" ”Mereka siapa Eyang?!" ”Makhluk yang memendam diriku! Sepasang Naga Putih Kembar!" "Siapa mereka?" tanya Wiro. "Berhenti dulu bertanya. Pergunakan kapak saktimu. Eh, aku melihat ada cahaya merah aneh membungkus senjata itu. Apa yang terjadi dengan kapakmu Anak Setan?”. ”Ada makhluk pandai memberi kekuatan tambahan pada senjata ini. Seekor naga..,"
Sepasang mata Sinto Gendeng membesar dalam rongga cekung angker. "Naga dengan naga. Anak setan! Tunggu apa lagi! Hantam dua makhluk yang kau lihat itu dengan Kapak Naga Geni 212! Kerahkan seluruh tenaga dalammu! Tapi awas jangan batok kepalaku yang kau hantam! Hik..hik..hik!" Dalam keadaan tegang seperti itu si nenek masih bisa bergurau dan tetawa cekikikan.
Wiro melangkah mendekati sosok Sinto Gendeng yang terpendam setengah badan di tanah. Kapak Naga Geni 212 dipegangnya dengan dua tangan sekaligus. Belum pernah dia memegang senjata sakti ini seperti itu. Tenaga datam dialirkan penuh. Dua mata kapak sakti memancarkan sinar putih terang, dibungkus sinar kemerahan.
Dua tangan yang memegang gagang senjata sakti bergerak. Kapak Naga Geni 212 berkelebat dahsyat di atas kepala Sinto Gendeng. Suara dahsyat seperti ratusan tawon mengamuk menggelegar di tempat itu. Cahaya putih menyilaukan serta cahaya merah angker merobek kegelapan malam. Hawa panas menghampar membuat Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati menyingkir jauhkan diri.
Kapak Maut Naga Geni 212 kelihatannya membabat udara kosong. Tapi saat itu juga terjadi satu keanehan. Di kejauhan terdengar suara dua orang berbarengan meratap kesakitan. Lalu ada dua makhluk besar terbang, melesat tak kelihatan dalam kegelapan malam.
Sinto Gendeng tersentak. Tindihan berat di kepala dan pundaknya lenyap. "Anak Setan! Cepat kau lihat! Apa dua makhluk putih itu masih ada di atas kepalaku?"
Wiro terapkan kembali Ilmu Menembus Pandang. "Lenyap, tak ada lagi Eyang. Tapi di kejauhan sana saya melihat ada dua titik putih”. "Persetan dengan dua titik putih itu!" ujar Sinto Gendeng. "Gondoruwo, cepat kau gali tanah di sekitarku. Naga Kuning, alirkan terus tenaga dalammu. Wiro, kau angkat tubuhku ke atas. Hati-hati, perlahan-lahan! Aku khawatir tanah jahanam itu masih menjepit diriku di sebelah bawah,"
Gondoruwo Patah Hati kembali menggali tanah di sekitar tubuh Sinto Gendeng. Naga Kuning kerahkan seluruh tenaga dalam ke tubuh si nenek lewat punggung. Wiro sendiri saat Itu telah berada di belakang sosok gurunya. Dua tangan diselinapkan kebawah ketiak Sinto Gendeng lalu dengan mengerahkan tenaga luar dalam dia mulai mengangkat tubuh gurunya ke atas. Berhasil! Perlahan-lahan tubuh kurus kering dan bau pesing Sinlo Gendeng terangkat ke atas. Mulai dari bagian dada, lalu pinggang, menyusul bagian perut. Ternyata ada yang tidak beres. Walau tubuh si nenek bisa diangkat ke atas, dikeluarkan sedikit-demi sedikit dari dalam pendaman tanah, namun kain yang dikenakannya terjepit di bawah dan tertinggal di dalam tanah sehingga auratnya di bagian bawah perut terbuka jelas!
Gondoruwo Patah Hati langsung melengos palingkan kepala begitu melihat aurat Sinto Gendeng yang tersingkap. Naga Kuning berteriak. "Wir! Tahan!" "Ada apa?”. Wiro yang tidak tahu apa yang terjadi bertanya. Dan terus saja menarik tubuh gurunya ke atas, keluar dari pendaman tanah. "Hentikan! Jangan ditarik terus! Lepas! Lepaskan dulu. Ada yang tidak beres" ”Naga Kuning, apa yang tidak beres?!" Sinto Gendeng bertanya heran. Cuma saat itu dia memang merasakan saputan udara malam menyapu dingin di auratnya sebelah bawah.
”Itu! Anu…. Kain Eyang Sinto ketinggalan di dalam tanah Anu Nek… ada yang nongol kelihatan”. "Ada yang nongo?. Apa maksudmu?" Sinto Gendeng bertanya.
Di sebelah belakang Wiro masih berusaha menarik tubuh gurunya ke atas.
Naga Kuning menunjuk ke bawah perut si nenek, Sinto Gendeng tundukkan kepala, memandang ke bawah. Wiro ikutan julurkan kepalanya memandang ke bawah perut sang guru. "Oo… wualla! Setan alas!" teriak Sinto Gendeng dengan muka kelam begitu melihat auratnya sendiri. Dua tangannya dipukul-pukulkan ke tangan Wiro.
Wiro poncongkan mulut. Meringis geli. Lalu loloskan dua tangannya dari bawah ketiak sang guru. Sosok Sinto Gendeng meluncur ke dalam tanah. "Brengsek kau!" kata Naga Kuning pada Wiro. "Sudah aku bilang berhenti kau malah menarik terus ke atas. Bisa sakit rebebkan mataku melihat benda terlarang itu”. "Kau yang brengsek. Mengapa kau bilang. Ada yang nongol. Aku mana mengerti?!" tukas Pendekar 212. "Lalu aku mau bilang apa? Masa aku mau bilang ijuk. Habis berucap begitu Naga Kuning tertawa cekikikan. Gondoruwo Patah Hati jewer telinga bocah ini. Sinto Gendeng memaki panjang pendek sedang Wiro berdiri senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala. "Kalian orang-orang gila semua!" Rutuk Sinto Gendeng.
Saat itu Gondoruwo Patah Hati telah tanggalkan jubah luarnya. Jubah hitam ini dililitkannya ke tubuh Sinto Gendeng. Kalaupun nanti tubuh itu ditarik ke atas, maka auratnya akan terlindung di balik jubah hitam, Naga Kuning memberi tanda pada Wiro, masih tertawa-tawa. Pendekar 212 kembali mengangkat tubuh sang guru yang kini telah diselubungi jubah itu. Ketika sosok Sinto Gendeng terangkat ke atas sampai sebatas pinggul, tiba-tiba entah dari mana datangnya tahu-tahu kawasan sekitar telaga ttu telah tertutup kabut putih. Semua orang tercekat. Sinto Gendeng merasa ada yang tidak beres, cepat berteriak. "Anak Setan! Lekas tarik tubuhku! Cepat!"
Wiro lakukan apa yang dikatakan sang guru.
Tiba-tiba dari balik kabut ada suara menggema. "Jangan ada yang berani bergerak. Atau kalian semua akan menemui ajal di tempat ini!"

13

SIAPA yang barusan bicara? Setan telaga atau dedemit hutan?” Naga Kuning keluarkan ucapan. Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba dari dalam kabut menyambar sebuah benda putih seperti ujung sebuah cemeti. "Wuuuuttt!" "Desss!"
Naga Kuning berseru kaget. Cepat melompat mundur. Ketika dia memandang ke depan, tanah di tempat tadi dia berdiri amblas sedalam dua jengkal dan berwarna kehitaman seperti hangus. Melihat hal ini Gondoruwo Patah Hati berteriak marah. Dia langsung angkat tangan kanan hendak hantamkan ilmu Kuku Api. Watau ilmu ini belum rampung dikuasainya, tapi tingkat yang saat itu sudah dimilikinya sanggup menghancurkan sebuah batu sebesar kerbau.
”Tahan.” Tiba-tiba Wiro berkata sambil memegang lengan Gondoruwo Patah Hati, Kita tidak melihat musuh. Sebaliknya musuh melihat kita. Tunggu sampai kabut lenyap. Siapapun yang ada di balik kabut akan muncul kelihatan."
Apa yang dikatakan Wiro memang benar. Perlahan-lahan kabut pulih melenyap sirna. Lalu dari balik kabut itu di atas telaga kelihatan dua sosok nenek berwajah putih berambut perak. Tubuh mereka menyerupai tubuh naga berwarna putih. Didada masing­masing kelihaian ada luka besar yang walaupun sudah bertaut tapi tampak masih mengucurkan darah. Agaknya luka ini adalah bekas hantaman Kapak Maut Naga Geni 212 yang dilancarkan Wiro tadi. "Sepasang Naga Putih Kembar! Mereka makhluk jahanam yang memendam aku ke dalam tanah!".Teriak Sinto Gendeng yang saat itu terpendam kembali di tanah. ”Jadi ini makhluknya yang berani berlaku kurang ajar terhadap guruku!" Wiro melompat ke depan. Kapak Maut Naga Geni 212 sudah tergenggam di tangan. Sepasang mata dua nenek kembar bertubuh naga melirik pada senjata di tangan Pendekar 212 itu. Jelas kelihaian mereka agak ngeri melihat senjata yang sebelumnya telah melukai diri mereka itu. "Bocah sableng! Mulutmu jangan terlalu enteng bicara! Kau tahu apa tentang dosa kesalahan gurumu! Kau sendiri saat ini telah berbuat kesalahan besar. Berani menyerang dan melukai kami! Serahkan Kapak Naga Geni 212 itu pada kami. Kau akan selamat dari kematian!" "Wiro,” Naga Kuning berbisik. ”Agaknya dua makhluk berkepala manusia bertubuh naga ini jerih terhadap kapakmu. Hati-hati. Aku punya dugaan mereka akan berusaha merampas senjata itu dari tanganmu!"
Dari dalam pendaman tanah tiba-tiba Sinto Gendeng keluarkan suara tawa melengking. "Sepasang Naga Putih! Kalian inginkan senjata di tangan muridku! Tapi kalian hanya berani meminta seperti pengemis! Pengecut! Jika kalian memang punya ilmu kepandaian mengapa tidak mengambil sendiri?!” Sinto Gendeng rupanya juga sudah membaca kalau dua nenek kembar itu merasa kecut melihat Kapak Maut Naga Geni 212.
Dimaki pengemis dan pengecut dua naga putih keluarkan suara menggembor. Yang di sebelah kanan yaitu Naga Nini membuka gelungan tubuhnya lalu melesat ke arah Pendekar 212 Wira Sableng. Wiro menyambut dengan hantaman tangan kiri, melepas pukulan Benteng Topan Melanda Samudera sementara kapak di tangan kanan menderu membabat ke arah kepala nenek bertubuh naga. Sinar terang putih menyilaukan terbungkus cahaya merah menderu panas dan mengeluarkan suara ratusan tawon mengamuk.
Naga Nini buka mulutnya lalu menyembur. Satu gelombang angin dahsyat melabrak. Pukulan Benteng Topan Melanda Samudera buyar. Tubuh Pendekar 212 terpental dua tombak. Dia merasa seperti ditancapi ratusan jarum. Darah mengambang di permukaan kulitnya. Kapak di tangan kanan terlepas. Dia berusaha menjangkau tapi ekor Naga Nini tiba-tiba berkelebat menghantam ke arahnya. Murid Sinto Gendeng ini terpaksa lebih dulu selamatkan nyawanya daripada selamatkan kapak sakti. Selagi senjata itu melayang di udara. Gondoruwo Patah Hati cepat melesat untuk mengambilnya. Pada saat kapak berhasil disentuhnya, dari depan mendadak naga pulih ke dua yaitu Naga Nina telah bergerak kirimkan serangan. Ekornya yang panjang laksana cambuk membeset ke arah si nenek. Gondoruwo Patah Hati nekad pergunakan Kapak Maut Naga Geni 212 untuk menangkis. "Trangg!"
Luar biasa! Ekor naga itu laksana baja lentur, mengeluarkan suara berdentrangan ketika beradu dengan mata kapak. Walaupun begitu tampak ada darah mengucur di bagian ekor Naga Nina pertanda daya kebal keatosan tubuhnya mampu ditembus oleh kapak sakti milik Pendekar 212 Wiro Sableng.
Kapak boleh sakti tapi Gondoruwo Patah Hati ternyata belum sanggup menerima labrakan buntut naga yang luar biasa kerasnya. Meski dia masih sanggup menggenggam senjata itu namun tubuhnya terlempar jauh dan terbanting ke tanah. Naga Kuning cepat memburu.
"Aku tak apa-apa. Mungkin hanya luka di dalam sedikit. Ambil kapak sakti. Agaknya hanya senjata Ini yang mampu menghadapi makhluk aneh itu."
Semula Naga Kuning hendak mengambil senjata itu. Tapi akhirnya dia berkala.
"Kapak itu biar tetap di tanganmu untuk menjaga segala kemungkinan! Dua makhluk bermuka nenek putih bertubuh naga itu siapa mereka sebenarnya. Dia berani mencelakaimu. Aku akan menghajar mereka sampai kapok!"
”Hati-hati, mereka bukan makhluk sembarangan."
Saat itu Naga Kuning telah melompat kehadapan Naga Nina yang barusan telah menghantam jatuh Gondoruwo Patah Hati.
Di dalam pendaman tanah Sinto Gendeng memaki panjang pendek. Dia sudah gatal tangan untuk ikut menempur sepasang naga itu namun walau tindihan berat di kepala dan pundaknya telah lenyap ternyata dia masih tidak mampu mengeluarkan diri sendiri dari dalam tanah.
Ketika Naga Kuning mendatangi Naga Nina, Wiro melompat ke arah Naga Nini. Sebelum menerjang naga berkepala nenek berwajah putih itu dia telah menyiapkan pukulan Sinar Matahari di tangan kanan. Begitu menerjang dia segera lepaskan pukulan sakti itu ke arah lawan. Sinar putih berkelibat dalam gelapnya malam disertai hamparan hawa panas luar biasa.
Tapi Naga Nini keluarkan tawa dan ucapan mengejek menyambuti serangan sang pendekar.
”Pukulan Sinar Matahari! Apa perlu ditakuti? Hik… hik… hik".
Di tempatnya terpendam Sinto Gendeng merasa dirinya seperti terpanggang mendengar ilmu kesaktian yang diwariskan pada muridnya itu diejek orang seperti itu. Namun karena dalam keadaan tak berdaya dia tidak mampu berbuat suatu apa.
Habis keluarkan tawa dan ucapan mengejek Naga Nini menyembur. Seperti tadi satu gelombang angin yang luar biasa dahsyatnya menghantam ganas.
Satu dentuman keras menggelegar, menggoyang pepohonan, memuncratkan air telaga dan menggetarkan tanah. Naga Nini keluarkan suara menggerung hebat tapi sosoknya tidak bergeming sedikitpun. Dari wajah dan kepalanya mengepul asap kelabu. Sebaiknya Pendekar 212 terlempar jauh, bergulingan di tanah. Tangan kanannya yang tadi melepas pukulan Sinar Matahari terasa kaku sulit digerakkan. Wiro cepat atur pernafasan kerahkan tenaga dalam dan berusaha melancarkan peredaran darah.
Sementara itu Naga Kuning dengan tangan kosong nekad menyerbu Naga Nina yang telah menciderai Gondoruwo Patah Hati. Selagi tubuhnya melayang di udara anak ini lepaskan dua pukulan Naga Murka Merobek Langit. Dua larik sinar biru enyambar ke arah Naga Nina. Nenek muka putih bertubuh naga Ini sesaat terkesiap. Lalu mulutnya terbuka, menyembur. Dua larik sinar biru serangan Naga Kuning berbalik menghantam ke arah pemiliknya.
Gondoruwo Patah Hati berteriak keras menyaksikan apa yang terjadi
"Gunung!" Si nenek berseru menyebut nama asli Naga Kuning. Walau dirinya dalam keadaan cidera, dia berusaha menyambuti tubuh anak itu dengan satu tangan masih memegang Kapak Naga Geni 212. Tapi dari samping ekor Naga Nini tiba-tiba menyambar, menggelung senjata sakti itu dan membetotnya lepas. Walau si nenek berhasil menyambuti tubuh Naga Kuning namun kapak sakti milik Pendekar 212 telah kena dirampas Naga Nini. Melihat kejadian ini Wiro menjadi kalap. Sekali melompat dia lelah melesat ke arah Naga Nini. Sambil melesat dia kembangkan telapak tangan kanan, didekatkan ke mulut lalu ditiup. Serta merta pada telapak tangan itu muncul gambar kepala harimau putih bermata hijau. Itulah gambar Datuk Rao Barmato Hijau, harimau sakti peliharaan seorang kakek bernama Datuk Rao Basaluang Ameh. Tangan kanan Wiro kini sudah terisi ilmu pukulan sakti bernama Pukulan Harimau Dewa. Jangankan kepala manusia atau binatang, batu sebesar apapun sanggup dipukul hancur oleh Wiro dengan hanya menggerakkan tangannya sedikit saja.
Naga Nini memandang remeh ketika dilihatnya Wiro menyerbunya kembali dengan tangan kosong. Sambil memegang Kapak Maut Naga Genl 212 di tangan kirinya, Naga Nini hantamkan ekornya ke arah murid Sinto Gandeng. Saat itulah Wiro dorongkan tangan kanannya perlahan saja. Selagi ekor Naga Nini berkelebat ke arah tubuhnya, dari tangan Wiro menyambar keluar satu gelombang angin luar biasa dahsyatnya.
"Wusss!" ‘
Naga Nini menggerung keras. Tubuhnya terhuyung-huyung lalu terbanting di tanah dekat telaga. Di kening kirinya kelihatan satu benjutan luka mengucurkan darah. Pukulan Harimau Dewa yang dilepaskan Pendekar 212 ternyata hanya sanggup membuat luka, tidak mampu menghancurkan kepala Naga Nini! Sebaliknya Wiro sendiri walau tidak kena digebuk telak oleh Naga Nini namun sambaran angin yang keluar dari ekor manusia bertubuh naga itu membuat dirinya terhenyak ke tanah. Untuk beberapa Iamanya dia terkapar tak bisa bergerak. Dia masih tak mampu bergerak ketika Naga Nini mendatangi dengan mementang Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan kanan.
"Anak Setan! Jangan diam saja! Lakukan sesuatu! Selamatkan dirimu!” Teriak Sinto Gendeng ketika dilihatnya muridnya tidak berdaya sementara kapak sakti di tangan Naga Nini membacok ke arah kepalanya.
Tiba-tiba ada suara aneh di tempat itu. Suara yang menyatakan ketakutan amat sangat disusul dengan suara setengah meratap. Gerakan Naga Nini yang hendak membacok kepala Wiro serta merta terhenti. Itu adalah suara saudara kembarnya. Seumur hidup belum pernah dia mendengar saudaranya mengeluarkan suara seperti itu. Apa yang terjadi?. Naga Nini melintangkan kapak sakti di depan dada, berpaling ke arah kiri. Terkejutlah dia ketika melihat ada sosok makhluk yang mengambang di udara di hadapan Naga Nina. Di depan saudaranya saat itu ada seekor naga besar bertubuh kuning, mala merah menyorot, lidah menjulur hijau,
"Naga Hantu Langit Ke Tujuh!" desis Naga Nini. Tubuhnya mendadak sontak menjadi dingin. Nyalinya leleh dan wajahnya yang pulih jadi pucat bertambah putih.
Apa yang terjadi?
Selagi Naga Kuning masih berada dalam gendongan Gondoruwo Patah Hati, Naga Nina tiba-tiba lancarkan serangan. Si bocah cepat melompat dari gendongan si nenek. Sebelum kakinya menginjak tanah ekor Naga Nina menyambar ke arah kakinya. Naga Kuning melesat ke udara sambil lepaskan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Namun serangannya tidak mengenai sasaran. Sebaliknya hantaman ekor Naga Nina datang bertubi-tubi diseling pukulan tangan. Naga Kuning terdesak hebat. Gondoruwo Patah Hati berusaha menolong. Dengan kuku-kuku jarinya yang runcing hitam Si nenek berhasil merobek pinggul Naga Nina hingga terluka besar kucurkan darah. Naga Nina menggerung marah dan menyerang Gondoruwo Patah Hati dengan ganas. Salah satu sambaran ekornya berhasil menghantam bahu kiri Gondoruwo Patah Hati hingga nenek ini terlempar jauh, terbanting di tanah.
Naga Kuning berteriak keras. Selagi dia berusaha memburu ke arah si nenek, Naga Nina menghadang dan menyerangkan dengan hebat. Beberapa jotosan dan hantaman ekor mendarat di tubuh bocah itu. Untungnya dia telah membentengi diri dengan ilmu Ikan Paus Putih sehingga tubuhnya menjadi licin. Setiap jotosan ataupun hantaman ekor lawan tidak bisa mengenai dirinya secara telak. Tapi bagaimanapun hebatnya Naga Kuning bertahan, lambat laun dia kehabisan tenaga dan terdesak hebat. Ketika ekor Naga Nina menggelung dan mencekik lehernya, siap memisahkan kepala dan tubuh Naga Kuning, tiba-tiba wajah dan sosok sang bocah berubah menjadi wajah dan tubuh seorang kakek berambut putih. Inilah sosok asli Naga Kuning yang dikenal dengan nama Kiai Paus Samudera Biru. Dari dada kakek ini melesat keluar satu sosok naga yang makin lama makin besar, mengapung tinggi di udara seolah menindak langit.
Ekor Naga Nina yang masih menggelung leher si bocah yang tekah berubah menjadi sosoK seorang kakek mengepulkan asap seolah menggelung besi panas. Naga Nina tersurut mundur bukan hanya karena kesakitan akibat ekornya yang hangus, tapi juga karena terkejut dan kecut ketika melibat sosok naga besar berwarga kuning di hadapannya.
"Naga Nina, kau tahu berhadapan dengan siapa”. Kiai Paus Samudera Biru keluarkan ucapan. Suaranya perlahan tapi menggetarkan seantero tempat, membuat Naga Nina tambah kecut.
"Saya tahu berhadapan dengan siapa. Naga Hantu Langit Ketujuh, raja dari segala naga yang hidup maupun yang telah menjadi roh.” Suara Naga Nina terdengar gemetar pertanda dia takut setengah mati.
"Aku Kiai Paus Samudera Biru mewakili Naga Hantu Langit Ketujuh untuk menanyaimu. Perbuatan apa yang kau lakukan di tempat ini? Menyiksa dan menghantam orang? Apakah kau tidak punya pekerjaan lain selain membuat kekacauan!"
”Kiai Naga Hantu Langit Ketujuh! Mohon maafmu. Kami tidak bermaksud berbuat Kekacauan. Kami….”
"Panggil saudaramu ke sini! Aku perlu bicara dengan kalian berdua!"
Naga Nina tundukkan kepala. Dia berpaling pada saudaranya, memberi isyarat agar Naga Nini mendatangi. Begitu dua nenek kembar bertubuh naga itu berada di hadapannya. Naga Hantu Langit Ketujuh berkata.
”Sekarang jelaskan apa yang kalian lakukan disini. Mulai dengan perbuatan kalian terhadap nenek itu" Kiai Paus Samudera Biru goyangkan kepalanya ke arah Sinto Gendeng yang saat itu masih terpendam di tanah.
"Beberapa waktu lalu kami mendatanginya untuk menjatuhkan hukuman. Kami memendamnya di dalam tanah.” Naga Nina yang termuda dari dua naga kembar ilu angkat bicara.
Kenapa kalian menjatuhkan hukuman atas dirinya’?" Tanya Naga Hantu Langit Ketujuh.
"Dia telah berbuat dosa. Melakukan satu kesalahan besar”.Jawab Naga Nini.
”Dosa apa, kesalahan apa?"
"Dia membunuh seorang anak kecil bernama Boma Wanareja." Kata Naga Nini pula.
Wiro terkejut mendengar ucapan Naga Nini itu.
"Tidak mungkin Guruku…!"
"Kiai Paus Samudera Biru berpaling pada Wiro.
"Anak muda biar aku lebih dulu menyelesaikan urusan dengan dua naga kembar ini. Jangan mencampuri pembicaraan."
”Kalau Eyang Sinto Gendeng tidak besalah aku tidak mau mendengar fitnah kotor dari mulut siapapun!”
”Fitnah atau bukan kita akan segera mengetahui," ujar Kiai Paus Samudera Biru.
”Kami tidak pernah memfitnah. Apa yang terjadi adalah kenyataan!” Ucap Naga Nina. "Sinto Gendeng membunuh anak itu dalam keadaan sadar!"
”Siapa adanya anak bernama Boma Wanareja itu?"
"Seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun. Dia diharapkan akan menjadi seorang pendekar sakti mandraguna, pembela keadilan penegak kebenaran, penolong orang-orang terlindas. Tapi Sinto Gendeng telah menghabisinya!"
Kiai Paus Samudera Biru menoleh ke jurusan Sinto Gendeng lalu bertanya.
"Benar kau telah membunuh anak lelaki bernama Boma itu?”.
"Benar!” jawab Sinto Gendeng mengakui tanpa tedeng aling-aling. "Tapi kejadian itu berlanssung secara tidak sengaja. Aku mengira dia telah membunuh seorang sahabatku. Aku telah mengaku bersalah dan bersumpah mencari pembunuh sebenarnya Tapi dua nenek bertubuh naga itu berkata tak ada gunanya aku mencari si pembunuh. Walau aku membunuh orang itu sampai tujuh kali, anak bernama Boma Wanareja tidak akan bisa dihidupkan kembali! Apa yang dikatakan mereka benar. Tapi mengaitkan kesalahanku dengan menghidupkan orang yang sudah mati kurasa adalah jalanan pikiran gila! Tuhan sekalipun tidak pernah menghidupkan orang yang sudah mati! Bukan begitu? Kalau itu terjadi aku pikir dunia ini akan panjang dengan antrian ribuan manusia yang sudah mati ingin minta dihidupkan kembali! Hik… hik…hik!"
"Sinto! Hentikan tawamu!" Tegu Kiai Paus Samudera Biru, lalu orang tua penjelmaan bocah bernama Naga Kuning ini berpaling pada sepasang nenek berwajah putih. "Apa hubungan kalian berdua dengan bocah bernama Boma itu?"
"Kami adalah pelindungnya.” Jawab Naga Nini dan Naga Nina berbarengan.
”Pelindungnya?" Sepasang alis putih Kiai Paus Samudera Biru mencuat ke atas. Keningnya mengerenyit. "Kalau kalian memang pelindungnya, di mana kalian ketika anak itu terancam jiwanya, menjadi korban kekeliruan Sinto Gendeng?"
”Kami tengah bertapa di puncak Gunung Wilis," jawab Naga Nina.
"Aneh," ucap Kiai Paus Samudera Biru. "Kalian mengaku pelindung anak itu! Tapi kalian tidak berada di dekatnya ketika nyawanya terancam.Kalian lebih mementingkan tapa dari mendampinginya sebagai pelindung. Menurut hematku kalian berdualah yang telah berbuat alpa. Jika kalian benar-benar melindungi anak itu, kejadian yang tidak diinginkan itu tidak akan terjadi. Menurutku kalian berdua yang pantas menerima hukuman!”.
Wajah putih dua nenek bertubuh naga itu menjadi sepucat kain kafan. Keduanya rundukkan kepala dan berkata berbarangan.
"Kiai Paus Samudera Biru kalau kami memang alpa dan melakukan kesalahan, kami bersedia menerima hukuman. Namun bagaimanapun juga kami berharap pengampunan dari dirimu. Dan kami juga meminta maaf pada Sinto Gendeng atas semua perbuatah kami. Juga minta maaf pada semua orang yang ada di sini. Jika kami bisa diberi pengampunan dan diben maaf. kami mohon minta diri dari tempat ini."
Kiai Paus Samudara Biru pandangi dua nenek bermuka pulih itu sejurus lalu anggukkan kepala.
"Setiap orang, siapapun adanya bisa saja berbuat kesalahan, kekeliruan bahkan dosa! Tapi manusia lain tidak layak menjatuhkan hukuman tanpa penyelidikan yang benar serta pertimbangan rasa adil yang tidak memihak. Kalian berdua boleh pergi. Lain kali berhati-hatilah dalam bertindak. Sebelum pergi letakkan Kapak Maut Naga Geni 212 di tanah. Senjaia itu harus dikembalikan pada pemiliknya."
"Terima kasih Kiai. Kami minta diri.”
Naga Nini meletakkan Kapak Maut Naga Geni 212 di atas sebuah batu. Lalu sepasang nenek kembar itu rundukkan kepala, sama bersurut mundur. Tempat itu dipenuhi kabut putih. Ketika kabut putih lenyap dua nenek bertubuh naga itupun tidak kelihatan lagi.
Wiro mengambil kapak sakti dan atas batu. Naga Hantu Langit Ketujuh menggeliat lalu secara aneh masuk ke dafam tubuh Kiai Paus Samudera Biru. Gondoruwo Patah Hati merasa ragu hendak mendekati kakek itu. Sang Kiai sendiri melangkah mendekati Sinto Gendeng.
”Sinto, kau tidak apa-apa?" Kiai Paus Samudera Biru bertanya. Dia perhatikan wajah si nenek lalu membuka jubah hitam yang menyelimuti tubuh Sinto Gendeng, maksudnya untuk memeriksa bahwa si nenek benar-benar tidak mengalami cidera. Jubah hitam diletakkannya di tanah.
Terima kasih Kiai, aku tidak apa-apa," jawab Sinto Gendeng.
"Kalau begitu biar kubantu kau keluar dari dalam tanah." Lalu Kiai Paus Samudera Biru cekal leher baju Sinto Gendeng, siap menarik si nenek ketuar dari dalam pendaman tanah.
"Wah celakai" ucap Wiro. Dia tahu apa yang bakal terjadi kalau tubuh gurunya sampai tertarik luar. Dia cepat berteriak.
"Kiai! Jangan! Tunggu dulu ”.
Tapi terlambat. Sekali tangan Kiai Paus Samudera Biru bergerak, sosok si nenek terangkat keluar dari dalam tanah.
Gondoruwo Patah Hati menjerit dan palingkan kepala ke jurusan lain. Wiro terkesima kaget, tidak beran memandang ke jurusan gurunya. Sinto Gendeng sendiri terpekik dan kalang kabut ,pergunakan dua tangan menutupi tubuhnya sebelah bawah yang tersingkap bugil karena seperti kejadian tadi, kain hitamnya terjepit tinggaI di dalam tanah. Begitu melihat jubah hitam di tanah si nenek segera menyambarnya lalu lari terbirit­birit ke balik pohon.
Kiai Paus Samudera Biru sendiri kelihatan terperangah kaget. Sepasang matanya mendelik, digosok-gosok. Lalu tapak tangannya ditutupkan ke mata tapi jari-jarinya dalam keadaan renggang. "Aduh, rejeki atau kesialan yang aku lihat ini? Amit-amit… Jangan sampai aku ditimpa sial melihat barang terlarang ini!’
Entah karena pemandangan luarbiasa yang dilihatnya itu atau memang sudah saatnya merubah diri, ujud Kiai Paus Samudera Biru yang berbentuk kakek tua renta itu berubah kembali menjadi sosok bocah konyol berambut jabrik bernama Naga Kuning. Gondoruwo Patah Hati cepat menyambar telinga anak ini dan memuntirnya kuat-kuat hingga Naga Kuning teraduh-aduh kesakitan. "Apa salahku! Apa salahku!" Teriak Naga Kuning. ”Kau tahu nenek itu tidak mengenakan apa-apa disebelah bawah. Mengapa masih kau tarik keluar dari dalam tanah? Kau sengaja menanggalkan jubah hitam. Kau punya niat kotor! Ingin melihat anunya!" ”Tunggu! Aduh! Tunggu? Sebagai Naga Kuning aku memang tahu. Tapi sebagai Kiai Paus Samudera Biru mana aku tahu apa yang terjadi sebelumnya!" “Kau pandai berdusta! Naga Kuning dan Kiai Paus Samudera Biru orangnya itu-itu juga! Mustahil tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya!" Gondoruwo Patah Hati kembali puntir telinga Naga Kuning hingga anak itu terpekik kesakitan. ”Anak konyol kurang ajar!" Wiro melompat mendekati Naga Kuning dan pelintir kupingnya yang satu lagi. "Gondoruwo Patah Hati betul! Kau dan Kiai itu dua makhluk yang sama hanya berbeda bentuk! Apa yang kau ketahui pasti diketahui juga oleh Kiai Paus Samudera Biru. Kau pandai mencari alasan! Sebenarnya kau ingin melihat anu guruku" "Menurut maumu itu bukan anu. Tapi Ijuk! Ha…ha… ha”.
Naga Kuning keluarkan ilmu tkan Paus Putih. Dua telinganya yang dijewer Wiro dan Gondoruwo Patah Hati menjadi licin hingga dengan mudah dia lepaskan diri. Sambil tertawa-tawa bocah ini lari menjauhi. Entah sengaja entah tidak dia justru lari ke balik pohon besar dimana Sinto Gendeng belum sempat mengenakan jubah hitam alias masih bugil di bagian bawah. Melihat kemunculan si bocah nenek itu terpekik dan keluarkan carut marut panjang pendek! Sambil menutupi tubuhnya sebelah bawah dengan jubah hitam dia lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu! "Apa kataku!" teriak Wiro. "Kau memang ingin melihat anu guruku! Bocah kurang ajar kuberi sambal dua matamu!" Wiro melompat mengejar. Naga Kuning tertawa gelak­gelak, menyusup ke dalam semak belukar dan lenyap di kegelapan malam.

TAMAT
EPISODE BERIKUTNYA
NYAWA KEDUA

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog