Thursday, March 19, 2009

Makam Ke Tiga

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : KEMBALI KE TANAH JAWA

“IBLIS PENCULIK! BERSIAPLAH MENERIMA KEMATIAN! AKAN KUKIKIS SETIAP GUMPALAN DAGING YANG MELEKAT DI TULANG BELULANG DALAM TUBUHMU!” NENEK MUKA SETAN GONDORUWO PATAH HATI BERSERU KAGET KETIKA DAPATKAN DIRINYA TERBUNGKUS DALAM SERANGAN PEDANG YANG MENABUR CAHAYA PUTIH MENYILAUKAN DAN SAMBARAN HAWA DINGIN MENGGIDIKAN. DENGAN CEPAT NENEK INI MELOMPAT SELAMATKAN DIRI SAMBIL TANGAN KANANNYA MELEPAS PUKULAN. LIMA SINAR HITAM MENDERU KELUAR DARI LIMA KUKU.


212

SEBAGAIMANA diceritakan dalam Episode sebelumnya (Gondoruwo Patah Hati) untuk menyelamatkan diri dari kurungan orangorang Kerajaan, Pendekar 212 Wiro Sableng melarikan diri dengan mencuri dan mempergunakan kuda besar milik Patih Selo Kaliangan. Wiro sengaja memencet kantong anggota rahasia kuda itu hingga dalam sakit luar biasa binatang ini merasa kepala dan sekujur tubuhnya seolah disengat api lalu seperti kesetanan lari menuruni bukit teh, tak perduii arah, tak perduii apapun yang menghadang di depannya.
Tak selang berapa lama Wiro sampai di kaki bukit. Kuda yang ditunggangi mulai memperlambat lari. Mungkin keletihan, bisa juga karena rasa sakit sudah berkurang. Senyum-senyum, tapi juga berbalik kasihan Wiro usap-usap tengkuk kuda itu. Walau udara dingin bukan main namun tubuh Wiro dan kuda yang ditungganginya basah oleh keringat. Di satu tempat Wiro kembali mengusap leher kuda. Saat itu untuk pertama kali dia melihat kalau binatang ini berlari agak pincang. Wiro hentikan kuda itu lalu melompat turun. Ketika diperiksa ternyata ada cidera di salah satu kaki binatang itu.
Wiro kerahkan tenaga dalam, mengalirkannya ke kaki yang cidera. Lalu dia mengelus-elus dan meniup-niup kantong anggota rahasia si kuda hingga binatang ini kedap-kedipkan mata dan meringkik halus. Mungkin keenakan. Wiro menyeringai.
“Kuda baik…” kata Wiro sambil mengelus hidung kuda.
“Kau telah menolong menyelamatkan diriku. Aku berterima kasih padamu. Sekarang kau boleh pergi kemana kau suka….” Wiro tepuk pinggul kuda, tapi binatang ini hanya melangkah perlahan berputar-putar lalu menggosok-gosokkan badan ke sebatang pohon, akhirnya merebahkan diri di bawah pohon itu.
Wiro menggaruk kepala. “Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kemana aku harus pergi.” Sang pendekar lalu ingat pada kejadian yang barusan dialaminya di puncak bukit teh.
Dalam pertempuran melawan Iblis Batu Hitam, Momok Dempet Tunggul Gono dan Ki Sepuh Item dia memang berhasil membunuh Iblis Batu Hitam dan Tunggul Gono. Tapi itu sama sekali tidak ada artinya dibanding dengan diculiknya Bunga oleh Iblis Kepala Batu Alis Empat alias Iblis Kepala Batu Pemasung Roh.
“Makhluk kepala batu sialan itu! Gila betul! Ilmu jahanam apa yang dimilikinya. Dia mampu membuat sosok Bunga leleh menjadi asap. Lalu menyedot dan memasukkan ke dalam guci tembaga! Kemana aku harus mencarinya! Bagaimana aku harus menyelamatkan Bunga!” Murid Sinto Gendeng gelengkan kepala berulang kali. Terdiam sesaat. Lalu Wiro ingat. Kembali dia membatin.
“Ketika tanah terbelah hampir melumat bangsat bernama Ki Sepuh Item, ada penunggang kuda muncul menolong. Aku rasa-rasa pernah melihat manusia itu sebelumnya. Tapi dimana…?! Otakku seperti tidak mau bekerja lagi!” Wiro lalu pukul-pukul keningnya sendiri.
Saat itulah tiba-tiba Wiro mendengar satu suara.
“Suara isakan di malam buta. Siapa yang menangis?!” Pendekar 212 memandang berkeliling.
Pandangannya membentur sebuah pohon besar sejarak dua puluh langkah di depart sebelah kiri. Suara isakan datang dari balik pohon itu. Dengan hati-hati Wiro bergerak mendekati pohon besar. Dia sengaja tidak melangkah langsung ke arah pohon, tapi bergerak agak menjauh ke kanari. Murid Eyang Sinto Gendeng ini selalu ingat pengalaman. Jika menemui keanehan, bukan mustahil di balik keanehan itu tersembunyi malapetaka bahkan maut. Ada orang menangis di malam buta, di tempat begitu rupa, bukankah ini satu keanehan? Karena itu sebaiknya dia berjaga-jaga, berlaku hati-hati. Di satu tempat Wiro membungkuk, berlindung di balik semak belukar rendah. Dari balik semak belukar Wiro melihat seorang berjubah hitam, berambut panjang kelabu duduk di bawah pohon. Dua kaki dilipat ke atas, kepala diletakkan di atas ujung lutut. Setelah sekian lama sembunyi menunggu, suara isak tangis orang di bawah pohon bukannya reda, tapi semakin keras. Wiro garuk-garuk kepala sambil berpikir-pikir apakah dia perlu mendatangi orang yang menangis itu dan menyapanya.
“Suara tangisnya semakin keras dan pilu. Jika tidak ada satu hai yang sangat mengganjal hati pasti orang itu tidak akan menangis di tempat begini sepi, malam hari pula. Dari rambutnya yang kelabu keputihan jelas dia seorang perempuan lanjut usia.”
Setelah bimbang dan menunggu sebentar akhirnya Wiro bangkit berdiri. Dia melangkah ke arah pohon. Empat langkah dari sosok orang yang menangis Wiro berhenti. Suara isakan tangis tidak berhenti, tapi dari tangan yang bergerak Wiro maklum kalau orang yang menangis tahu kehadirannya. Maka setelah mendehem, dengan suara lembut dan sopan murid Sinto Gendeng menyapa.
“Orang tua, gerangan kesedihan apakah yang membuatmu sampai menangis di malam hari, di tempat terpencil begini rupa?” Orang di bawah pohon terus saja menangis. Seolah tidak mendengar teguran Pendekar 212.
“Jangan-jangan dia tuli,” pikir murid Sinto Gendeng. Maka dia menegur sekali lagi.
“Orang tua, suara tangismu ikut mendatangkan kesedihan dalam diriku. Aku tidak ingin mengganggumu. Tapi jika aku bisa membantu, hentikan tangismu. Jawab pertanyaanku. Mengapa kau menangis di tempat ini. Malam-malam begini?” Tiba-tiba dua tangan yang terletak di ujung lutut bergerak keluar dari balik rambut kelabu. Tangan yang sebelah kanan mendadak menyambar ke depan. Lima larik sinar hitam mengeluarkan hawa dingin berkelebat dalam gelapnya malam.
“Breett!” Wiro keluarkan seruan tertahan. Mukanya pucat. Untung dia berlaku sigap. Hanya baju putihnya yang robek. Waktu tangan orang menyambar dia cepat melompat mundur. Memandang ke depan dia meiihat bagaimana jari-jari tangan yang menyerang itu memiliki kuku panjang berwama hitam. Dari keadaan tangan orang Wiro segera maklum kaiau saat itu dia berhadapan dengan seorang tokoh rimba persilatan berkepandaian tinggi. Sepuluh jari kuku yang panjang hitam itu past! merupakan senjata andalan. Tapi diam-diam Wiro jadi penasaran karena masih belum melihat wajah orang. Rambut kelabu panjang riap-riapan menutupi mukanya.
“Orang tua….” Ucapan Wiro terputus. Orang yang ditegur bergerak mengangkat kepala. Kepala itu digoyangkan. Rambut yang menutupi muka tersibak. Ketika wajahnya dipalingkan ke arah Wiro, murid Sinto Gendeng ini melengak kaget ialu bergerak surut due langkah. Orang berjubah hitam berambut kelabu yang menangis ternyata memiliki muka seram luar biasa. Wajahnya wajah seorang nenek hancur-hancuran seolah wajah itu cacat bekas dicacah! Tiba-tiba suara tangis nenek muka setan di bawah pohon sirap. Berganti dengan suara tawa panjang. Lalu ketika tawa panjang ini sirna, sosoknya bergerak dan tahu-tahu dia sudah berdiri dua langkah di hadapan Wiro! Wiro seperti mendadak mau kencing dan mundur lagi beberapa langkah. Dia jadi ingat pada sahabatnya kakek berjuluk Si Setan Ngompol. Dalam hati dia membatin.
“Begini rasanya kalau mendadak kaget. Ingin kencing. Kalau Setan Ngompol hadir di sini pasti kencingnya sudah mancur kalang kabut!”
“Tadi kau beraninya menegurku! Sekarang kau ketakutan seperti melihat seribu setan! Hik… hik… hik!”
“Nek, aku tidak mengira….”
“Tidak mengira apa?!” bentak si nenek.
“Tidak mengira kalau wajahku mengerikan seperti ini?!” Dalam kejut dan takutnya Wiro jadi bicara polos.
“Nek, terus terang memang baru sekali ini aku melihat orang berwajah luar biasa seram sepertimu ini. Tapi rasa heran dan ingin tahuku lebih besar lagi dibanding rasa takut. Tadi aku bertanya mengapa kau berada di tempat terpencil ini, malam-malam begini menangis pilu.”
“Kau sendiri mengapa bisa kesasar ke sini? Begitu muncul mau tahu urusan orang lain!” membentak si nenek.
“Maafkan aku Nek. Bukan maksudku mau tahu urusanmu. Tadi sudah kubilang. Suara tangismu ikut mendatangkan kesedihan dalam hatiku!” Si nenek tertawa panjang mendengar ucapan Wiro.
“Kenal tidak, bukan sanak bukan kandangmu, bukan ibu bukan nenekmu! Mengapa kau bisa ikutikutan sedih?!”
“Nek, aku cuma bermaksud baik….”
“Bermaksud baik! Laki-laki semua sama saja! Tidak muda tidak tua! Punya sifat suka merayu! Anak muda, kalau ingin bicara manis merayu perempuan, cari gadis muda! Jangan merayu diriku yang sudah tua bangka begini rupa!” Wiro tertawa lebar. Dalam hati dia berkata.
“Nenek gila! Siapa yang merayu dirinya! Setan beneranpun tidak akan mau merayunya!”
“Kau tertawa! Apa yang kau tertawakan! Ayo katakan! Apa yang kau tertawakan!” Si nenek tibatiba membentak.
“Aku tertawa karena apa yang kau ucapkan tadi betui adanya, Nek. Mengapa aku merayu dirimu yang tua bangka begini rupa. Lebih baik merayu gadis cantik! Nah aku pergi dulu Nek. Aku mau mencari gadis cantik untuk dirayu!” Habis berkata begitu murid Sinto Gendeng kerutkan hidung dan kedipkedipkan mata lalu memutar badan siap melangkah pergi. Si nenek melirik ke arah kuda besar di kegelapan, memperhatikan pakaian Wiro yang robek. Bukan cuma robek bekas sambaran kukunya tadi. Dengan cepat nenek ini melompat menghadang gerakan Wiro.
“Aku tahu kau datang menunggang kuda besar itu. Aku juga mengenali, kuda dengan dandanan seperti itu bukan kuda sembarangan. Hanya ada di Keraton. Pakaianmu robek besar di bagian perut. Hemm…. Anak muda, kukira kau bukan ma.nusia baik-baik. Kau mencuri kuda Istana, meiarikan diri. Mungkin sebelumnya teiah melakukan satu kejahatan hingga ada yang menyerangmu. Untung hanya bajumu yang robek, tidak perutmu!”
“Nek, matamu tajam, otakmu cerdik. Aku tidak membantah. Kuda itu milik Patih Kerajaan. Terpaksa aku curi untuk selamatkan diri….”
“Nah, nah! Betul rupanya dugaanku! Sekarang katakan kejahatan besar apa yang telah kau lakukan hingga meiarikan diri dengan mencuri kuda Patih Kerajaan?”
“Aku tidak melakukan kejahatan apa-apa. Beberapa tokoh culas Istana memf itnah, menuduhku yang bukan-bukan!”
“Hemm, begitu?” Si nenek menyeringai.
“Aku jadi curiga padamu. Coba katakan. Apa fitnah dan tuduhan yang bukan-bukan itu?”
“Ah, kau seperti tengah menyelidikiku! Tapi tidak ada salahnya kujawab semua pertanyaanmu. Pertama aku dituduh membunuh perempuan muda bernama Kinasih, istri mendiang juru ukir Keraton bernama Sura Kalimarta….”
“Padahal kau memang membunuh perempuan itu bukan? Hik… hik… hik!” si nenek kembali menyeringai lalu tertawa cekikikan. Wiro menggeleng.
“Aku malah juga dituduh sebagai pembunuh juru ukir itu! Sial! Dan katanya juga harus ikut bertanggung jawab atas ienyapnya keris pusaka Keraton bernama Kiai Naga Kopek! Gila!”
“Siapa yang gila?!” tanya si nenek.
“Patih Kerajaan! Para tokoh silat Istana!” jawab Wiro. Si nenek manggut-manggut lata tertawa panjang. Begitu tawanya lenyap dia berkata.
“Kalau kau tidak membunuh Kinasih dan suaminya lalu siapa yang melakukan? Setan? Kalau kau tidak mencuri keris Kiai Naga Kopek lalu siapa yang melakukan? Setan?! Hik… hik… hik!”
“Siapa pembunuh Kinasih dan suaminya mana aku tahu! Kalau keris pusaka Keraton itu memang aku pernah melihatnya. Dirampok oleh Warok Mata Api dari Alas Roban. Lalu dijarah oleh seorang pemuda tak dikenal!” Tiba-tiba saja saat itu Wiro ingat.
“Astaga!” Wiro berseru tertahan.
“Apa yang astaga!” tanya si nenek. Wiro tak menjawab. Kepalanya digaruk berulang kali. Mulutnya berucap perlahan.
“Aku ingat kini! Orang berpakaian kuning bercelana hitam, menunggang kuda coklat, yang menyelamatkan Ki Sepuh Item! Dia adalah pemuda yang sama yang membunuh Warok Mata Api dan anak buahnya! Yang menjarah kotak-kotak barang perhiasan dan uang emas milik Keraton. Termasuk yang merampok keris Kiai Naga Kopek. Waktu itu aku dan Kinasih menyaksikan dengan mata kepala sendiri! Kalau tidak salah dia mengaku bernama Damar Wulung.” (Baca Episode sebelumnya berjudul “Roh Dalam Keraton) Si nenek muka setan memperhatikan kelakuan Wiro yang bicara perlahan seorang diri.
“Bangsat gondrong ini kurang waras otaknya rupanya…” kata si nenek dalam hati. Lalu kembali dia membentak.
“Gondrong otak miring! Racau apa yang barusan keluar dari mulutmu! Apa yang astaga?!”
“Pencuri keris pusaka itu Nek. Aku ingat, aku tahu orangnya!”
“Siapa?!” si nenek delikkan mata.
“Seorang pemuda bernama Damar Wulung. Kau kenal atau mungkin pernah tahu orangnya?” Nenek muka setan gelengkan kepala.
“Kau sengaja menuduh orang lain, untuk menghindari diri dari tuduhan dan kejahatanmu sendiri.”
“Terserah kau mau bicara apa. Aku tak ingin mengganggumu lebih lama. Aku mau pergi saja….”
“Kau takut orang-orang Kerajaan akan memergokimu di sini?”
“Selama aku tidak bersalah, aku tidak takut pada siapapun,” jawab Wiro tandas.
“Kau boleh pergi, tapi jawab dulu beberapa pertanyaanku!”
“Walah, dapat urusan lagi!” kata Wiro sambil garuk-garuk kepala.
“Baik Nek, lekaslah. Apa yang hendak kau tanyakan.”
“Kau pernah mendengar seorang bernama Rana Suwarte?”
“Tidak.” Si nenek terdiam. Dia seperti tengah berpikir-pikir.
“Pertanyaanmu cuma satu itu, Nek?” “Menurutmu, apakah seseorang bisa kawin dengan orang yang tidak dicintainya?” Wiro tidak menyangka ditanya begitu.
“Nenek satu ini, aneh pertanyaannya. Nah, nah! Biar aku permainkan dia.”
“Nek, yang namanya orang itu, tentu saja bisa kawin dengan siapa saja! Namanya juga kawin! Tapi kalau nikah, nah itu baru urusan lain! Tidak bisa sembarangan!”
“Pemuda kurang ajar! Yang aku maksud memang kawin secara benar! Nikah! Bukan kawin-kawinan! Gondrong, kau pasti suka dan sering kawin-kawinan ya?!” Wiro tertawa gelak-gelak sampai keluar air mata.
“Kau tertawa! Berarti benar dugaanku!”
“Nek, kau pasti tengah menghadapi masalah rumit, sangat menyedihkan. Sampai-sampai memencilkan diri di malam buta begini rupa, di tempat sepi seperti ini, menangis berpilu-pilu.”
“Pemuda geblek! Jangan kau berani bicara macam-macam! Nanti kujadikan semacam kau baru tahu!” Wiro tersenyum, tidak perdulikan ucapan orang.
“Nek, apakah orang bernama Rana Suwarte itu ada sangkut pautnya dengan semua kesedihanmu saat ini? Apakah kau hendak menikah dengannya?” Si nenek tergagau mendengar ucapan Wiro. Matanya mendelik, tapi perlahan-lahan mengecil kembali.
“Pemuda ini, tampangnya tolol, otaknya rada-rada miring. Tapi bagaimana dia bisa menduga hubunganku dengan Rana Suwarte?”
“Bocah gendeng! Siapa yang mau menikah dengan Rana Suwarte! Enak saja kau bicara!” Wiro garuk kepala, tertawa lebar.
“Kalau bukan dengan dia, pasti dengan seorang lain. Tapi yang bernama Rana Suwarte itu rupanya menjadi penghalang. Atau ada orang yang memaksamu kawin dengan Rana Suwarte. Padahal kau mencintai seorang lain.” Dalam hati Wiro berkata.
“Sudah tua bangka begini rupa, berwajah lebih angker dari setan. Apa iya ada lelaki yang suka padanya?” Tersirap darah si nenek mendengar ucapan murid Sinto Gendeng tadi.
“Pemuda sinting aneh. Bagaimana dia bisa menduga apa yang tengah terjadi dengan diriku!” kata si nenek dalam hati. Wiro garuk lagi kepalanya, lantas berkata.
“Nek, maafkan kalau kehadiranku mengganggumu. Aku harus pergi sekarang. Kau boleh kembali ke bawah pohon sana dan meneruskan tangismu tadi sampai tiga hari tiga malam. Ha… ha… ha!”
“Benar-benar kurang ajar! Jangan harap kau bisa pergi sebelum menjawab pertanyaanku yang satu ini!” Sekali berkelebat si nenek tahu-tahu sudah berada di depan Wiro. Lima jari tangan kanannya yang berkuku panjang hitam mencengkeram di batang leher sang pendekar. Wiro terkesiap sesaat lalu mulut usilnya kembali bicara.
“Walah, apalagi yang hendak kau tanyakan, Nek. Hemm…. Aku tahu. Kau pasti mau menanyakan dimana tukang rias paling handal yang bisa mendandanimu kalau nanti melangsungkan pernikahan! Bukan begitu?!” Nenek bermuka setan memaki panjang pendek. Tapi kemudian wajahnya agak mesem-mesem lalu dia lepaskan cengkeraman lima jari tangannya di leher Wiro dan tertawa gelak-gelak
“Apa pertanyaanmu Nek?” Wiro mendesak.
“Kau kenal dengan seorang bocah bernama Naga Kuning?” Kagetlah murid Sinto Gendeng mendengar pertanyaan ini.
“Bola matamu kulihat membesar dalam gelap! Berarti kau memang kenal dengan anak itu!”
“Lebih dari kenal Nek!” jawab Wiro.
“Hai! Apa maksudmu dengan ucapan itu?!” Wiro melihat nenek di hadapannya seperti tersenyum dan ada bayangan harapan di balik keseraman wajah setan itu.

* * *

212

WIRO pandang wajah setan si nenek seketika lalu berkata.
“Naga Kuning, bocah konyol, dia sahabatku. Saat jni justru aku tengah mencari-carinya.”
“Naga Kuning sahabatmu katamu? Bagaimana mungkin pemuda dewasa sepertimu punya sahabat seorang anak seusia duabelasan tahun….”
“Naga Kuning bukan anak sembarangan Nek. Ilmunya tinggi. Selain itu kami bertiga….”
“Kami bertiga siapa maksudmu?” memotong si nenek.
“Aku, Naga Kuning dan seorang kakek bernama Setan Ngompol….”
“Setan Ngompol! Aku pernah mendengar nama kakek bau pesing itu! Lanjutkan ceritamu, anak muda,” kata si nenek muka setan.
“Karena senasib sepenanggungan, kami bertiga sudah sama mengangkat diri sebagai saudara….”
“Hemm, rupanya ada satu kejadian besar yang membuat kalian saling mengangkat jadi saudara. Kejadian apa?”
“Kalau kuceritakan, kau belum tentu mau percaya,” kata Wiro pula. Si nenek menyeringai.
“Tergantung kadar kedustaan dalam ceritamu!” Wiro berpikir sebentar.
“Baiklah, tak ada salahnya kuceritakan padamu. Soal percaya atau tidak itu urusanmu sendiri.” Lalu murid Sinto Gendeng ini menuturkan riwayat bagaimana dia, Naga Kuning dan Setan Ngompol terpesat ke negeri Latanahsilam, negeri seribu dua ratus tahun lalu.
“Ketika batu sakti Pembalik Waktu pecah dan Istana Kebahagiaan Hancur, semua orang yang ada dalam Isana itu termasuk aku, Naga Kuning dan Setan Ngompol, terlempar melesat ke udara seolah menjebol langit. Tahu-tahu aku jatuh terpesat di satu bukit karang tak jauh dari Teluk Penanjung kawasan Pangandaran. Di situ aku menemui beberapa orang tokoh aneh. Bahkan nyawaku hampir dihabisi oleh sepasang momok berjuluk Momok Dempet Kaki Kuda. Kemudian ketika aku mengalami nasib sial dibekuk dan dijebloskan ke penjara Kerajaan, di penjara aku bertemu dengan sahabatku Setan Ngompol. Kalau tidak ditolong seorang sahabat kami berdua tidak mungkin lolos.”
“Hemm…. Bisa lolos dari penjara Istana bukan satu pekerjaan mudah. Tidak sembarang orang mampu berbuat begitu, apalagi menyelamatkan dua orang sekaligus. Aku jadi kepingin tahu, siapa sahabat yang menolongmu dan Setan Ngompol itu?” Wiro tak segera menjawab tapi menggaruk kepala lebih dulu. Melihat hal ini si nenek lantas berkata.
“Dari tadi aku melihat kau suka menggaruk-garuk kepala. Apa kau jarang mandi? Mungkin cuma sekali setahun? Hik… hik! Pantas kau kelihatan gemuk, padahal gemuk tebalnya daki! Hik… hik!” Wiro menyeringai.
“Kalau kau mau tahu Nek, sahabat yang menolong aku itu seorang gadis cantik….”
“Nah… nah!”
“Tapi dia bukan manusia utuh. Setengah roh….”
“Makhluk halus jejadian?” ujar si nenek.
“Bisa dikatakan begitu.”
“Luar biasa! Baru sekaii ini aku mengetahui ada anak manusia bersahabat dengan gadis cantik setengah roh setengah manusia. Jangan-jangan kalian bukan cuma bersahabat, tapi saling bercinta! Eh, aku mau tanya anak muda. Jangan-jangan kau sendiri juga makhluk halus jejadian.” Wiro tertawa lebar.
“Asal aku berteman dengan setan tua sepertimu, aku tidak keberatan kau sebut sebagai makhluk halus jejadian. Kabarnya setan dan makhluk halus jejadian masih ada kaitan saudara! Ha… ha… ha!”
“Hik… hik… hik!” Si nenek ikut tertawa cekikikan. Diam-diam dia mulai merasa senang dengan pemuda yang baru dikenalnya ini.
“Aku masih mau melanjutkan ceritaku Nek. Kau masih mau mendengar?”
“Tentu-tentu!” jawab si nenek.
“Setelah lolos dari penjara aku dan Setan Ngompol berpisah. Aku sudah menemukan Setan Ngompol, tapi belum ketemu Naga Kuning. Aku belum dapat memastikan apakah anak itu ikut terlempar dan melesat kembali ke tanah Jawa ini.”
“Aku malah sudah bertemu dengan dia. Sudah dua kali!” kata si nenek. Wiro terkejut
“Kalau kau sudah bertemu dengan bocah itu, mengapa dan apa perlunya bertanya padaku?”
“Dua kali berjumpa, dua kali muncul keraguan dalam hatiku. Karena sosoknya yang kulihat dua kali itu bukan sosok yang pernah kukenal puluhan tahun silam. Sulit dipercaya ada manusia bisa berganti wajah, apa lagi berubah bentuk sosoktubuhnya. Aku khawatir kalau-kalau bocah itu bukan dia….”
“Dia siapa Nek?” tanya Wiro.
“Aku tidak bisa mengatakan padamu….”
“Rupanya ganjalan hidupmu sangat berat. Hingga kau tidak percaya begitu saja pada semua orang, termasuk aku. Tapi kalau hidup tidak bisa memberikan rasa percaya, kau bakal menghadapi banyak kesulitan Nek.” Si nenek menyeringai. Dia mendongak memandang langit malam yang hitam gelap.
“Dalam hidup kita memang tidak boleh percaya polos-polos saja pada semua orang. Itu kalau mau selamat. Tapi dengar, anak muda. Aku akan berterus terang dan bercerita lebih banyak padamu, asal kau mau memberitahu kau ini sendiri siapa adanya. Tadi walau bajumu robek, tapi kau telah sanggup menghindar dari serangan Lima Cakar Langit yang aku lancarkan. Hanya sedikit saja tokoh silat di tanah Jawa ini yang sanggup selamatkan diri dari serangan itu! Aku benar-benar ingin tahu siapa kau ini sebenarnya. Awas, jangan berani berdusta!”
“Seperti kau lihat, aku seorang pemuda gondrong, yang katamu cuma mandi setahun sekali, otaknya rada-rada miring dan badannya gemuk karena ketebalan daki!” Si nenek tertawa lebar.
“Anak tolol! Maksudku bukan itu! Sebagai manusia kau tentu punya nama. Kalau kau orang rimba persilatan tidak mustahil punya julukan. Kalau kau orang hebat lantas siapa gurumu….”
“Apa kau juga ingin tahu apa aku sudah punya bini atau belum?”
“Menurut dugaanku kau belum punya bini. Tapi bini-binian mungkin banyak. Hik… hik… hik!”
“Kalau aku katakan siapa diriku, apa kau juga mau menceritakan siapa dirimu?” Si nenek muka setan mengangguk.
“Aku berjanji, tapi dengan satu syarat kau tidak akan mengatakan pada siapapun. Termasuk Setan Ngompol dan bocah bernama Naga Kuning itu.”
“Aku berjanji!” kata Wiro pula.
“Namaku jelek. Wiro. Lebih jelek lagi karena ada tambahan nama Sableng di belakang nama Wiro itu.” Wajah setan si nenek berubah. Kakinya tersurut sampai beberapa langkah. Matanya membeliak, menatap tak berkesip.
“Jadi, jadi kau… kau Wiro Sableng?!” Wiro mengangguk.
“Si geblek yang berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?” Wiro mengangguk lagi.
“Murid nenek kurang ajar bernama Sinto Gendeng yang diam di puncak Gunung Gede?” Wiro pencongkan mulut mendengar gurunya disebut sebagai nenek kurang ajar. Tapi kemudian kepalanya kembali dianggukkan.
“Waktu kecil, bukankah namamu sebenarnya adalah Wiro Saksana?” Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut.
“Bagaimana kau bisa tahu nama asliku Nek?” tanya Wiro.
“Setan… setan!”
“Eh, mengapa kau memaki setan-setan segala Nek?” tanya Pendekar 212 heran. Si nenek menjawab dengan tawa panjang. Kepalanya didongakkan ke langit. Sepasang matanya seolah ingin menembus kepekatan gelapnya malam.
“Aku tahu namamu sejak kau berusia enam tahun.” Rasa heran Wiro semakin bertambah.
“Waktu itu aku… aku berada di puncak Gunung Gede,” kata Wiro pula.
“Apa… apa kau juga ada di sana?” Si nenek geleng-gelengkan kepala.
“Ada satu kisah menyangkut dirimu pada masa puluhan tahun silam. Yang kurasa kau sendiri tidak pernah mengetahui. Dan kurasa Sinto Gendeng juga tidak pernah menceritakan.”
“Kisah apa Nek?” tanya Wiro, heran dan ingin tahu.
“Selagi kau masih digembleng Sinto Gendeng di puncak Gunung Gede, seorang sahabat pernah datang ke tempat kediamanku. Waktu itu aku menetap di pantai selatan. Sahabat itu memberitahu bahwa di tempat kediaman Sinto Gendeng di Gunung Gede ada seorang anak kecil. Anak itu menurut pengamatannya memiiiki susunan tulang, urat dan otot nyaris sempurna. Anak seperti itu suiit dicari. Mungkin tidak akan ditemukan satu dafam seratus tahun. Di masa mendatang dia kelak akan menjadi seorang pendekar besar. Sahabat itu ingin mengambilmu jadi muridnya. Tapi tentu saja sulit terlaksana karena Sinto Gendeng sudah mengambil si anak menjadi murid. Sahabatku lalu berniat menculik anak itu lalu membawanya ke tempatku untuk digembleng bersama-sama. Anak itu adalah engkau yang waktu itu masih bernama Wiro Saksana.”
“Kalau aku boleh tahu, siapakah sahabatmu yang hendak menculik diriku itu?” Wiro bertanya.
“Namanya Sukat Tandika….”
“Sukat Tandika? Astaga?!” Wiro terkejut besar.
“Nek, bukankah dia si Tua Gila, tokoh rimba persilatan dari Andalas?” Si nenek mengangguk.
“Aku tak pernah tahu. Juga tidak menyangka. Eyang Sinto Gendeng tidak pernah menceritakan, mungkin beliau tidak tahu adanya rencana penculikan itu. Aku sering bertemu dengan Tua Gila. Malah ketika aku datang ke pulau Andalas, aku sempat bertemu dan diajarkannya beberapa ilmu silat. Sebenarnya kalau Tua Gila punya niat baik, mengapa dia tidak bicara langsung dengan guruku?” (Mengenai riwayat pertemuan Wiro dengan Tua Gila pertama kali harap baca serial Wiro Sableng berjudul “Banjir Darah Di Tambun Tulang.”)
“Pada saat kau diambil murid oleh Sinto Gendeng, antara gurumu dengan Tua Gila masih ada silang sengketa gara-gara cinta di masa muda. Setahuku Sinto Gendeng sangat mencintai Tua Gila. Tapi lelaki itu meninggalkannya, terpikat dan kawin dengan seorang janda. Cinta kasih Sinto Gendeng berubah menjadi sejuta kebencian. Bila ada kesempatan dia ingin membantai Tua Gila. Untung saja belakangan dimasa tua antara keduanya terdapat saling pengertian dan melupakan semua hal yang terjadi di masa muda. Sejak patah hati dengan Tua Gila, kabarnya gurumu gentayangan kemanamana, bercinta dengan setiap pemuda gagah dan berilmu yang dijumpainya.” Lama Wiro terdiam mendengar kisah yang dituturkan nenek muka setan itu. Setelah gelengkan kepala dan menggaruk Wiro berucap.
“Sekarang giliranmu Nek. Kau sendiri siapa adanya?”
“Rasanya aku tidak bisa mempercayai kalau saat ini benar-benar berhadapan dengan Pendekar 212. Tapi baiklah. Aku harus memegang janji. Mengenai diriku, aku terlahir dengan nama Ning Intan Lestari…” Wiro tercengang mengetahui si nenek punya nama demikian bagus. Tidak sesuai dengan keadaan mukanya yang seperti setan. Dalam hati murid Sinto Gendeng ini berkata.
“Kau ini rupanya keberatan nama Nek. Nama bagus selangit tembus, tapi tampang jelek sebumi hangus!” Melihat pemuda di hadapannya seperti terkesiap, si nenek tersenyum.
“Aku tahu apa yang ada di dalam benakmu. Hatimu mungkin berkata, bagaimana aku si muka setan ini punya nama sebagus yang barusan aku katakan. Itulah kehidupan. Terkadang kenyataan yang kita lihat tidak sesuai dengan keadaan yang kita harapkan. Penglihatan mata tidak selalu sama dengan suara hati nurani….”
“Nek, kata orang apalah artinya nama. Lalu wajah yang buruk sepertimu tidak seiamanya menyiratkan keadaan pribadi yang sesungguhnya. Kau boleh punya muka setan namun hatimu mungkin lebih tulus, lebih bersih dan lebih baik dari seorang bidadari….” Si nenek tertawa panjang. Dalam hatinya ada sekelumit rasa bahagia mendengar ucapan Wiro itu walau perasaan itu terbungkus oleh perasaan lain, yakni perasaan sedih.
“Di usia tua bangka seperti ini, orang-orang menjuluki aku Gondoruwo Patah Hati”
“Gondoruwo Patah Hati,” mengulang Wiro sambil garuk-garuk kepala.
“Maaf Nek, Gondoruwo rasanya memang cocok dengan keadaan wajahmu. Tetapi mengapa ada tambahan Patah Hati?”
“Nasibku tidak jauh berbeda dengan gurumu Sinto Gendeng. Di masa muda aku pernah bercinta dengan seorang pemuda. Kemudian dia lenyap begitu saja tanpa kabar berita. Kalau Sinto Gendeng masih bisa menjalani hidup dan bercinta dengan siapa saja yang disukainya, sebaliknya aku memencilkan diri. Tak ada keinginan untuk mencari pemuda lain, apalagi menjalin cinta kasih baru. Aku seolah-olah sirna dari rimba persilatan. Hanya ada satu dua tokoh yang mengetahui keadaanku dan dimana aku berada. Merekalah yang memberikan gelar Gondoruwo Patah Hati padaku. Dalam masa menyembunyikan diri itu, aku menemukan seorang anak. Dia kugembleng menjadi seorang pendekar sakti mandraguna. Dua tahun lalu dia kulepas pergi. Namun apa jadinya dia dikemudian hari tidak dapat kupastikan. Belakangan aku sering kedatangan mimpi-mimpi buruk menyangkut diri muridku itu.”
“Kalau aku boleh tahu, siapa nama muridmu itu?” bertanya Wiro.
“Namanya Adisaka. Kau pernah kenal, atau pernah dengar?” Wiro menggeleng.
“Sekian lama kau memencilkan diri, lalu mengapa sekarang kau muncul lagi dalam rimba persilatan?” bertanya Wiro.
“Kalau aku boleh bertanya, siapa orang yang sangat kau cintai itu, lalu meninggalkan dirimu begitu saja?”
“Tak ada salahnya aku ceritakan padamu. Karena aku punya firasat, kau satu-satunya orang yang bisa menolongku.”
“Terima kasih kau punya kepercayaan seperti itu,” kata Wiro. Dia pandangi wajah si nenek, menunggu apa yang dikatakan Gondoruwo Patah Hati. Tempat itu sesaat berada dalam kesunyian. Tiba-tiba kesunyian itu dirobek oleh geiegar bentakan, merobek kesunyian, melabrak kegelapan.
“Nenek muka setan! Kepercayaanmu hanya satu kesia-siaan! Pemuda itu tidak mampu menolongmu! Karena Kerajaan telah memutuskan untuk memancung kepalanya di tempat!” Pendekar 212 dan Gondoruwo Patah Hati samasama terkejut dan palingkan kepala. Mereka baru menyadari kalau tempat itu telah dikurung oleh banyak orang!

212

PENDEKAR 212 tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya sementara Gondoruwo Patah Hati tetap tenang-tenang saja. Yang mengurung tempat itu ternyata adalah orangorang Kerajaan dan para tokoh silat Istana. Tetapi anehnya dalam rombongan tersebut bergabung pula beberapa tokoh yang tidak dikenal atau belum pernah dilihat oleh Wiro. Di bawah bayang-bayang gelap pohon besar berdiri Selo Kaliangan, Patih Kerajaan yang kudanya dilarikan Wiro. Di sebelah kirinya kelihatan si jubah kelabu berenda kuning Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Dia memandang pada Wiro seperti mau menerkam dan mengunyah murid Sinto Gendeng. Dendam kesumatnya terhadap Pendekar 212 memang tidak terkirakan.
Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Gondoruwo Patah Hati) ketika terjadi perkelahian antara Wiro dengan Hantu Muka Licin, untuk menyelamatkan diri dari serangan Wiro, Hantu Muka Licin terpaksa melompat dan bergelantungan di cabang sebuah pohon. Saat itulah sebuah benda kecil melesat, menyambar putus celana hitam yang dikenakan Hantu Muka Licin. Begitu tali celana putus dan celana itu merosot jatuh ke tanah, Tak ampun lagi Hantu Muka Licin tersingkap bugil tubuhnya sebatas pinggang ke bawah! Walau bukan Wiro yang berlaku jahil memutus tali celana Hantu Muka Licin, tapi Hantu Muka Licin menganggap Wirolah yang jadi biang kerok membuatnya malu besar begitu rupa. Di samping kanan Patih Kerajaan berdiri tokoh silat istana bernama Jalak Kumboro berjuluk Pendekar Keris Kembar.
Tokoh silat Istana berikutnya adalah si muka merah dikenal dengan julukan Sanca Merah Bengawan Solo. Lalu di situ tampak pula Tumenggung Cokro Pambudi. Wiro memandang ke belakang. Di sana berdiri tokoh silat Istana Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Manusia satu ini berdiri sambil senyumsenyum memandang pada Wiro. Dia tersenyum mungkin masih ingat kejadian bagaimana Hantu Muka Licin berbugil ria menggelantung di atas cabang pohon. Di kiri kanan tokoh bisu ini ada beberapa tokoh silat yang belum pernah dilihat Wiro sebelumnya. Salah satu diantaranya adalah seorang kakek berpakaian serba hitam, berpipi sangat cekung. Bibirnya tak bisa dirapatkan karena giginya tonggos menjorok keluar. Di tangan kanan kakek ini memegang sebilah tombak yang ujungnya digelantungi dua ekor ular hitam bertotol kuning! Jelas dua ekor binatang itu sangat berbisa.
Di kalangan para tokoh silat Istana kakek ini dikenal dengan julukan Setan Bertongkat Ular. Sebenarnya dia sendiri bukan tokoh silat Istana. Kalau dia muncul disitu berarti ada yang mengundang atau meminta bantuannya. Di belakang para tokoh silat Istana itu, mengurung dalam bentuk lingkaran puluhan perajurit.
“Hebat, mereka berhasil mengejar dan memergoki diriku dalam waktu sangat cepat…” kata Wiro dalam hati. Di jurusan lain tegak satu sosok tinggi besar berjubah putih menjeia tanah. Di atas kepalanya ada sebuah tudung tinggi berlapis kain hitam hingga kepala dan sebagian wajahnya tertutup tidak terlihat, tidak bisa dikenali. Sambil mendugaduga siapa adanya orang ini Wiro melirik ke samping kiri. Darahnya tersirap. Yang tegak disitu ternyata adalah Luhjahilio, tokoh jahat Negeri Latanahsilam. Rambutnya yang hitam riap-riapan menutupi sebagian wajahnya yang hancur menyeramkan. Potongan tangan kanannya masih menempel di atas keningnya.
“Jahanam satu ini ternyata ikut terpesat ke Tanah Jawa. Dia muncul sendirian, dimana gendaknya bernama Lajahilio.” Wiro sempatsempatnya berkata dalam hati. Wiro melirik kembali pada si tinggi besar bertudung tinggi dengan lapisan kain hitam.
“Aku rasa-rasa bisa menerka bangsat satu ini. Jangan-jangan….” Masih ada satu orang lagi yang tidak dikenal Wiro. Orang ini berdiri di sisi kanan Luhjahilio. Dia adalah seorang kakek berwajah bersih, mengenakan pakaian ringkas serba biru. Wiro tidak mengenal orang ini. Dia menganggap kakek berpakaian serba biru ini adalah salah satu tokoh silat kaki tangan Istana. Sebaliknya dengan si nenek muka setan Gondoruwo Patah Hati. Kalau sebelumnya dia tenang-tenang saja tapi darahnya jadi tersirap ketika melihat kakek berpakaian biru itu. Orang ini bukan lain adalah Rana Suwarte, lelaki yang dimasa mudanya menyukai dirinya. Bahkan belum lama ini muncul bersama ayah angkatnya Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai meminta agar si nenek mau menikah dengan kakek bernama Rana Suwarte itu,
“Heran, mengapa dia bisa muncul bersamasama orang Kerajaan?” pikir Gondoruwo Patah Hati. Si nenek tidak mengetahui, sejak niat baiknya ditolak, Rana Suwarte telah menanam kebencian teramat besar terhadap Gondoruwo Patah Hati. Dia sudah punya niat jahat. Kalau dia tidak bisa mendapatkan Ning Intan Lestari alias Gondoruwo Patah Hati, maka orang lain yang dicintai Ning Intan Lestari akan dicelakainya hingga tidak dapat pula memiliki si nenek. (Baca Episode sebelumnya berjudul “Gondoruwo Patah Hati) Seperti diketahui, orang yang diincar dan hendak dicelakai Rana Suwarte adalah Naga Kuning. Ketika dia mendengar kabar pasukan Kerajaan hendak menangkap Pendekar 212 yang diketahuinya adalah sahabat dekat Naga Kuning, maka untuk menyirap kabar dimana beradanya Naga Kuning dia bergabung dengan pasukan Kerajaan. Bagaimanapun si nenek terkejut melihat munculnya Rana Suwarte di tempat itu namun dia segera dapat menguasai diri. Berdiri saling memunggung dengan Pendekar 212 si nenek berbisik.
“Aku tidak ada permusuhan dengan orang-orang ini. Lebih baik aku angkat kaki dari sini. Apakah kau sanggup menghadapi mereka seorang diri?”
“Nek, aku tak mau melibatkan dirimu dalam urusanku. Orang-orang Kerajaan ini rupanya keras kepala. Mereka pasti datang dengan segudang fitnah tuduhan. Apalagi sebeiumnya aku telah membunuh dua orang pentolan mereka. Momok Dempet Tunggul Gono dan Iblis Batu Hitam. Kalau kau mau pergi cepatlah berlalu. Aku ucapkan selamat jalan padamu. Jika umurku panjang aku akan mencarimu untuk mendengar kelanjutan kisahmu yang tadi terputus. Kalau umurku pendek, harap kau mau menunggu diriku di emperan neraka. Terus terang aku belum tentu bakalan masuk sorga! Ha… ha… ha!” Si nenek Gondoruwo Patah Hati ikut tertawa mengekeh mendengar ucapan Pendekar 212 itu. Lalu dia berkata.
“Wiro, tadi aku hanya bergurau. Kau jangan khawatir. Waiau kita baru saja bertemu tapi kita telah menjalin persahabatan. Ketika seorang sahabat dalam kesulitan dan bahaya besar, masakan aku tidak tahu diri meninggalkanmu begitu saja. Aku akan tetap bersamamu di sini.”
“Terima kasih Nek. Wajahmu memang seperti setan. Tapi seperti yang aku bilang hatimu putih bersih, tu!us dan lebih baik dari seorang bidadari! Walau cuma bidadari kesasar!”
“Sialan kau!” Si nenek memaki tapi dia keluarkan suara tawa panjang mengikik.
“Anak sableng, kau dengar baik-baik. Dalam menghadap orang-orang ini, kalau mau sama-sama selamat kau harus ikuti apa yang aku bilang.”
“Cepat bilang Nek. Patih Kerajaan kulihat sudah memberi isyarat pada beberapa tokoh silat di dekatnya. Agaknya mereka segera akan bergerak,” kata Wiro pula.
“Keluarkan kapak dan batu saktimu! Begitu mereka menggebrak hantam dua kali dengan lidah api. Arahkan serangan pertama pada kakek yang memegang tombak ular. Saat ini dia yang paling berbahaya. Serangan kedua terserah kau mau melabrak siapa saja tapi usahakan lidah apimu melewati atas bahu kananku!”
“Aku akan lakukan Nek,” kata Wiro walau dalam hati dia bertanya mengapa si nenek meminta dia melakukan hal yang terakhir diucapkannya. Dengan cepat Wiro mengeluarkan Kapak Maut Naga Geni 212 dan batu hitam.
“Satu lagi, dengar apa yang aku bilang. Kita tidak perlu berlaku bodoh menghadapi orang-orang gila ini sampai hidup mati di tempat ini. Kita yang hidup, mereka yang mati! Begitu aku melihat kesempatan aku akan membawamu keluar dari tempat celaka ini. Tapi kau harus memberi pelajaran pada salah satu dari mereka. Siapa yang akan kau pilih?”
“Patih Kerajaan. Selo Kaliangan!” jawab Wiro.
“Tepat!” kata si nenek.
“Apa yang hendak kau lakukan terhadapnya?”
“Akan kubuat dia malu seperti kejadian dengan Hantu Muka Licin. Akan kutanggalkan celananya!” jawab Wiro. Si nenek tersenyum.
“Boleh juga! Tapi pekerjaan itu biar aku yang melakukan. Kau lihat saja apa yang akan aku perbuat. Hik… hik.. hik!” Si nenek tertawa cekikikan seolah ada yang sangat lucu bakal terjadi. Sebenarnya sejak tadi Patih Selo Kaliangan dan para tokoh silat Istana merasa sangat jengkel, merasa dianggap remeh. Wiro dan si nenek mereka lihat saling bisik lalu tertawa-tawa. Seolah-olah keduanya tidak takutkan bahaya dan menganggap mereka tidak ada di tempat itu. Patih Selo Kaliangan mengangkat tangan kanan. Para tokoh silat di kedua sisinya segera bersibak, memberi jalan sambil sekaligus memperciut lingkar kurungan.
“Pendekar 212!” Sang Patih berseru dengan suara besar parau membahana.
“Sekali ini kami tidak akan memintamu menyerahkan diri hiduphidup. Kerajaan telah memutuskan untuk menghabisimu dimana saja kami menemuimu! Namun sebelum riwayatmu kami tamatkan, kami melihat ada seorang tokoh bersamamu. Kalau aku tidak salah menduga, orang disampingmu adalah nenek berjuluk Gondoruwo Patah Hati. Benar?!”
“Tanya saja sendiri langsung pada orangnya! Mengapa malu-malu kucing. Dia kan bukan seorang gadis cantik! Mengapa bertanya padaku?!” Wiro menyahuti setengah mengejek.
“Hik… hik… hik!” Gondoruwo Patah Hati tertawa cekikikan mendengar ucapan Wiro barusan. Merah padam muka Patih Kerajaan.
“Gondoruwo Patah Hati, kami masih mau menghormati dirimu. Harap kau segera tinggalkan tempat ini!”
“Aku memilih tetap berada di tempat ini. Agaknya di sini akan banjir darah. Ini memang yang aku tunggu. Gondoruwo sudah lama tidak minum darah segar! Hik… hik… hik!”
“Kau rupanya sengaja memilih mati! Jangan menyesal kalau nasibmu lebih buruk dari pemuda itu!” kata Patih Kerajaan.
“Intan!” tiba-tiba Rana Suwarte berseru.
“Jangan jadi orang toloi! Lekas tinggalkan tempat ini!” Si nenek menyeringai, memandang pada kakek bermuka jernih itu lalu menjawab.
“Rana Suwarte!” si nenek berucap. Wiro kaget. Tidak mengira kalau kakek yang ditegur itu adalah Rana Suwarte yang sebelumnya ditanyakan si nenek. Dalam hati Wiro menduga, bukan mustahil memang kakek satu ini adalah kekasih di masa muda Gondoruwo Patah Hati. Sementara itu dengan tenang si nenek lanjutkan ucapannya.
“Aku tidak tahu sejak kapan kau jadi kaki tangan Kerajaan. Kau akan lihat! Siapa yang toloi antara kami berdua dengan kalian semua!” Habis berkata begitu si nenek tusukkan sikut kanannya ke punggung Wiro. Inilah tanda yang ditunggu murid Sinto Gendeng. Pendekar 212 serta merta berbalik. Dua tangan yang memegang batu dan kapak bergerak cepat. Begitu dua benda sakti itu beradu keras, lidah api menyembur dahsyat, berkiblat ke arah Setan Bertongkat Ular. Tidak mengira akan dijadikan korban serangan mendadak begitu rupa kejut kakek berpipi cekung ini bukan alang kepalang. Tapi sebagai seorang tokoh silat luas pengalaman dia cepat menguasai diri.
“Wusss!”
Lidah api menyambar di bawah kakinya, nyaris menghanguskan ujung kaki celananya. Sambil melompat ke udara si kakek bergigi tonggos ini berteriak marah. Dia tusukkan tongkatnya ke arah Wiro. Dua ekor ular hitam bertotol kuning yang sejak tadi meiingkar di ujung tombak keluarkan suara mendesis lalu laksana anak panah melesat ke arah Pendekar 212. Pada saat itu pula dibawah pimpinan Patih Selo Kaliangan, para tokoh silat Istana segera menggebrak menyerbu ke arah dua orang musuh di tengah kalangan pertempuran. Kebanyakan dari mereka mengandalkan tangan kosong. Hanya Pendekar Keris Kembar Jalak Kumboro yang menghunus dua bilah kerisnya. Sepasang senjata ini memancarkan sinar hitam angker pertanda mengandung kekuatan hebat serta racun jahat.
“Serangan kedua!” Gondoruwo Patah Hati berteriak.
Wiro tahu apa yang harus dilakukannya. Untuk ke dua kali batu hitam dipukulkan ke mata kapak sakti. Seperti yang diminta si nenek, Wiro sengaja mengarahkan demikian rupa hingga lidah api menyambar dua jengkal di atas bahu Gondoruwo Patah Hati. Wiro yang tidak tahu apa maksud si nenek meminta dia berbuat begitu jadi melengak besar ketika melihat apa yang kemudian terjadi.
Pada saat lidah api tepat di atas bahunya, tanpa menoleh Gondoruwo Patah Hati angkat tangan kanannya. Saat itulah Wiro melihat bagaimana lima jari tangan kanan si nenek sampai ke kuku berubah menjadi sangat merah seperti bara api. Seolah menyambut sebuah bola yang dilemparkan Gondoruwo Patah Hati menyambar ujung lidah api. Dia kini seolah memegang pangkal sebuah cemeti. Didahului pekikan keras si nenek memutar tangannya. Lidah api yang keluar dari gesekan batu dan kapak, melesat ke udara, mengeluarkan ledakan-ledakan dahsyat, berputar ganas dalam bentuk lingkaran lalu menyambar ke arah orangorang yang datang menyerang.
Para penyerang mengeluarkan seruan kaget tertahan. Pendekar Keris Kembar terpaksa lepaskan salah satu kerisnya yang dihantam api dan berubah menjadi besi bangkok mengepuikan asap. Ketika diperhatikan tangannya ternyata merah melepuh. Patih Kerajaan melompat mundur selamatkan diri. Setan Bertongkat Ular yang paling kaget dan kecut diantara semua penyerang. Ketika dua ekor ularnya melesat ke arah Wiro, ular pertama terpental dihantam lidah api yang datang berputar. Si kakek bermulut tonggos menggerung ketika melihat bagaimana ularnya itu kemudian jatuh menggeletak di tanah, berubah menjadi daging dan tulang kering hangus!
Belum habis kejut amarahnya, di atas sana si nenek melayang menyambar ular kedua dengan tangan kiri. Lalu dengan tiga kali berjungkir balik di udara, ketika sampai di tanah tahu-tahu dia sudah berada di depan sosok Patih Selo Kaiiangan. Dengan tangan kanannya si nenek menarik pinggang celana merah sang putih sementara tangan kirinya kemudian memasukkan ular hitam ke dalam celana. Karuan saja Patih Selo Kaiiangan menjeritjerit dan lari menghambur pontang panting tidak karuan. Carut marut ikut berhamburan dalam jeritannya.
“Celaka!” ujar Setan Bertongkat Ular.
Melihat apa yang terjadi dengan Patih Kerajaan kakek tonggos ini segera berteriak.
“Selamatkan Patih! Ular itu berbisa mematikan! Selamatkan Patih!” Para tokoh silat Istana yang masih belum hilang kaget masing-masing kini jadi tersentak kaget mendengar teriakan Setan Bertongkat Ular dan menyaksikan apa yang terjadi dengan Patih Kerajaan.
Saat itu mereka melihat, dalam takutnya Patih Kerajaan tidak sadar lagi apa yang dilakukannya. Sang patih membuka celananya. Lalu dalam keadaan telanjang di sebelah bawah dia lari melompat-Iompat tak perduli lagi arah yang dituju sementara ular hitam bertotol kuning ternyata masih melingkar di pinggangnya. Ini yang membuat sang patih terus lari sambil berteriakteriak. Di sebelah belakang para tokoh silat mengejar, berusaha menolong. Setan Bertongkat Ular paling depan. Dia sangat khawatir. Kalau sampai Patih Kerajaan mati dipatuk ular berbisa itu, sedikit banyak dia akan dimintakan pertanggungan jawab!
Para tokoh silat itu tidak lagi memperdulikan Wiro dan si nenek muka setan saking takutnya akan malapelaka besar mengancam sang Patih Kerajaan, Gondoruwo Patah Hati tertawa cekikikan. Hatinya puas menyaksikan semua itu. Dia memandang pada Wiro.
“Anak muda malam ini aku gembira sekali, Cuma sayang waktunya singkat. Lain hari aku akan mencarimu lagi untuk meneruskan berbincang-bincang!”
“Nek, kau mau kemana! Tunggu dulu!” Wiro memanggil. Si nenek sudah berbalik, berkelebat ke kanan. Saat itu juga delapan orang prajurit segera menghadang.
“Kalian mencari mati!” teriak Gondoruwo Patah Hati. Tangan dan kakinya bergerak. Delapan prajurit terpekik, mental dan berkaparan di tanah. Wiro masih berusaha mengejar. Tapi si nenek sudah lenyap ditelan kegelapan. Wiro menggaruk kepala.
“Dari pada urusan jadi panjang lebih baik aku juga minggat saja dari sini!” Lalu murid Sinto Gendeng berkelebat pula meninggalkan tempat itu. Di satu tempat dia hentikan larinya, tertegun sejenak sambil usapusap dagunya. Wiro ingat sesuatu dan bicara sendiri dalam hati.
“Ketika nenek itu berbalik hendak berkelebat pergi, jubahnya sebelah bawah tersingkap sedikit. Aku sempat memperhatikan. Sepasang betis itu. Bagus dan putih. Nenek seperti dia mana mungkin punya betis seperti itu. Ah….” Wiro garuk-garuk kepala.
“Dia menanyakan Naga Kuning. Apa hubungan si muka setan ini dengan bocah konyol sialan itu?” Beberapa hari kemudian tersiar kabar bahwa Patih Kerajaan berada dalam keadaan sakit keras. Kalaupun dia bisa disembuhkan maka dia akan cacat seumur hidup. Cacatnya ini ialah berupa derita lemah syahwat seumur hidup akibat patukan ular berbisa yang bersarang sejengkal di bawah pusarnya. Setan Bertongkat Ular yang memiliki ular lenyap entah kemana. Sementara Pendekar 212 Wiro Sableng dan Gondoruwo Patah Hati menjadi orang buronan yang dicari sampai ke pelosok Kerajaan, ditangkap hidup atau mati!

212

GEROBAK yang ditarik dua ekor kuda besar tidak bisa bergerak cepat di jalan berbatubatu dan banyak lobangnya itu. Empat orang gadis jelita berada di atas gerobak. Yang bertindak sebagai sais adalah dara berpakaian ringkas biru berbunga-bunga kuning. Rambutnya yang panjang hitam berkibar-kibar ditiup angin. Tanpa dandanan pipi dan bibirnya kelihatan merah segar. Walau letih, senyum simpul selalu menyeruak di wajahnya. Gadis ini adalah Puti Andini, pemegang sebilah pedang sakti keramat bernama Pedang Naga Suci 212, merupakan cucu Tua Gila, puteri dari Andam Suri, salah seorang tokoh silat Pulau Andalas yang pernah membuat heboh rimba persilatan tanah Jawa beberapa waktu lalu. (Baca rangkaian kisah “Tua Gila Dari Andalas” terdiri dari 11 Episode)
Selain pedang sakti, Puti Andini juga memiliki senjata lain yang aneh, yakni tujuh buah payung. Tujuh payung itu berada dalam satu keranjang besar dan saat itu diletakkan di bagian belakang gerobak. Di sebelah Puti Andini, agak terkantuk-kantuk duduk si jelita berkulit putih berlesung pipit Anggini. Di lehernya melingkar sehelai selendang ungu. Pada salah satu ujung selendang terdapat guratan angka 212 yang pernah dibuat Wiro sebagai kenangkenangan dan satu pertanda bahwa diantara mereka terdapat jalinan hubungan yang lebih erat dari hanya persahabatan biasa.
Seperti diketahui Dewa Tuak, guru Anggini begitu ingin muridnya itu berjodoh dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Tetapi sampai sebegitu jauh niat baiknya itu tidak kesampaian karena kalau sudah sampai kepada hal yang satu itu, Wiro berusaha menjauh menjaga jarak. Anggini sendiri yang tadinya begitu mengasihi Wiro, lamalama menyadari dan pasrah bahwa dia ataupun gurunya tidak bisa memaksa Wiro untuk memenuhi keinginan itu. Sedang Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro selalu ayem-ayem saja mengenai perjodohan muridnya dengan murid Tua Gila.
Di bagian belakang kereta, dua orang gadis cantik lainnya berbaring di atas tumpukan jerami kering. Yang satu adalah Ratu Duyung dan satunya lagi bukan lain Bidadari Angin Timur. Kalau Bidadari Angin Timur saat itu bisa tertidur pulas, sebaliknya Ratu Duyung tidur-tidur ayam. Mata memang terpejam tapi pikiran kemana-mana. Empat gadis cantik itu tengah dalam perjalanan menuju Gunung Gede. Perjalanan jauh itu didorong oleh apa yang telah mereka alami sebelumnya yang membuat mereka menjadi penasaran besar. Selain itu keempatnya yang sama-sama mengasihi Pendekar 212 Wiro Sableng ingin mengetahui, ingin mengungkap rahasia apa sebenarnya yang telah terjadi dengan sang pendekar.
Apa benar Wiro telah menemui ajal? Seperti diceritakan sebelumnya (Baca “Tiga Makam Setan.”) di makam pertama yang terletak di pekuburan dekat Candi Kopeng, ketika makam dibongkar, mereka menemukan sepucuk surat aneh. Dalam surat itu tertera tulisan berbunyi:

“Selamat Datang Di Makam Setan Pertama. Kalian Ditunggu Di Makam Setan Kedua.”

Jengkel dan marah serta penasaran besar, keempat gadis kemudian pergi menyelidik makam ke dua yang terletak di pekuburan Banyubiru, tak jauh dari telaga Rawapening. Di pekuburan ini mereka memang menemukan satu makam dengan papan nisan bertuliskan.

“Disini Dimakamkan Wiro Sableng – Pendekar 212.”

Tetapi ketika rnakam itu dibongkar mereka hanya menemukan sebuah peti besi karatan. Begitu peti dibuka di dalamnya terdapat selembar kertas yang ada tulisan berbunyi:

“Selamat Datang Di Makam Setan Kedua. Kalian Memang Hebat. Kalian Ditunggu Di Makam Setan Ketiga. Di Puncak Gunung Gede.”

(Baca Episode sebelumnya, berjudul “Roh Dalam Keraton) Semakin besar amarah, kejengkelan dan rasa penasaran empat gadis itu, semakin kuat pula dorongan dalam diri mereka untuk menyelidik tuntas makam ke tiga. Walau Gunung Gede sangat jauh, namun empat gadis cantik memutuskan untuk berangkat ke sana.
“Bagaimana kalau sampai di puncak Gunung Gede kita menemukan Makam Ke Tiga tapi lagi-lagi isinya hanya surat sialan seperti dalam dua makam sebelumnya?” Ratu Duyung memecahkan kesunyian dalam perjalanan.
“Berarti sia-sia belaka perjalanan kita sejauh ini.”
“Terus terang,” Anggini menyahuti ucapan Ratu Duyung.
“Dalam hatiku juga ada perasaan seperti yang barusan kau ucapkan. Namun jika kita tidak menyelidik, kita tidak tahu apa arti semua kejadian ini. Kita tidak dapat memastikan apakah Wiro benarbenar sudah mati atau masih hidup. Kalau mati dimana kuburnya, kalau masih hidup dimana beradanya. Lalu aku berpikir, Gunung Gede adalah tempat kediamannya Sinto Gendeng, guru Pendekar 212. Siapa berarti mati berbuat kurang ajar di tempat itu?” Tak ada yang bicara. Setelah lama saling berdiam diri akhirnya Puti Andini membuka mulut.
“Anggini, jalan ini seperti tidak ada ujungnya. Menurutmu berapa lama lagi kita akan sampai ke Gunung Gede?” Anggini memandang ke arah barat, memperhatikan kawasan di sebelah timur baru menjawab.
“Masih cukup jauh. Paling cepat dua hari lagi baru kita sampai di tujuan. Itupun kalau kita bisa mengganti dua ekor kuda penarik gerobak dengan kuda-kuda baru yang masih segar.”
“Menurutmu apakah Sinto Gendeng ada di tempat kediamannya saat ini?” bertanya lagi Puti Andini.
“Nenek satu itu sulit dipastikan dimana beradanya. Kalaupun dia berada di Gunung Gede, pertemuan dengan dirinya kurasa bukan satu hal menyenangkan. Bicaranya tak karuan, terkadang kasar. Ketawa cekikikan tak ada ujung pangkalnya. Dan bau pesing tubuhnya itu. Hemm…. Asal tahan saja….”
“Jangan kau berucap begitu. Siapa ta iu kelak dia bakal menjadi mertuamu!” kata Puti Andini pula. Sesaat wajah Anggini jadi kemerah-merahan lalu gadis ini tertawa lepas sekedar untuk menenangkan debaran dadanya. Di sebelah belakang Bidadari Angin Timur yang rupanya sudah terbangun dan sempat mendengar ucapan Puti Andini itu berpura batuk-batuk sementara Ratu Duyung cuma senyumsenyum.
“Aku masih merasa kalau perjalanan kita ini sejak siang tadi ada yang mengikuti,” Anggini mengalihkan pembicaraan.
“Kalau sampai sore memasuki malam kita masih diikuti, kita harus melakukan sesuatu. Mungkin sekali si penguntit punya maksud tidak baik dan baru akan dilaksanakan pada malam hari.”
“Setiap orang yang mengikuti orang lain secara sembunyi-sembunyi biasanya memang punya niat buruk,” kata Bidadari Angin Timur. Dia berpaling pada Ratu Duyung.
“Sahabatku Ratu Duyung, kurasa sudah saatnya kau mempergunakan ilmu kesaktianmu, melihat dari kejauhan.” Ratu Duyung yang tengah enak-enakan berbaring di atas tumpukan jerami kering menggeliat, lalu mengambil sikap duduk.
Dia mulai mengerahkan ilmu kesaktian yang bernama Menembus Pandang. Dengan ilmu ini dia bisa melihat sesuatu benda di kejauhan, sekalipun benda itu terhalang oleh benda lain. Dalam keadaan duduk, Ratu Duyung pasang telinganya untuk mendengar dan menentukan dimana beradanya orang yang mengikuti. Setelah dia dapat memperkirakan arah sasaran, sang Ratu arahkan kepalanya ke tempat itu. Darah dan hawa sakti dialirkan ke bagian mata, lalu mata dikedipkan dua kali berturut-turut. Anggini, Bidadari Angin Timur dan Puti Andini memperhatikan, menunggu apa yang bakal dikatakan Ratu Duyung. Beberapa saat kemudian Ratu Duyung mulai membuka mulut, memberitahu pada tiga gadis lainnya.
“Yang mengikuti kita seorang penunggang kuda. Warna kudanya kurang kentara, tapi mungkin sekali coklat. Orangnya masih muda, raut wajahnya….” Ratu Duyung terdiam. Tiga gadis menunggu. Puti Andini tidak sabaran.
“Raut wajahnya bagaimana?” Gadis ini bertanya. Bidadari Angin Timur memperhatikan mimik wajah sang Ratu. Dalam hati dia membatin.
“Ada sesuatu yang tidak mau dikatakannya. Sengaja disembunyikan.”
“Raut wajahnya tidak begitu jelas. Orang ini mengenakan baju kuning, bercelana hitam. Dia berada kira-kira dua puluh tombak di balik pepohonan sebelah kiri kita. Mengikuti perjalanan kita sejajar tapi agak sedikit ke belakang.”
“Kita harus memancingnya keluar,” kata Bidadari Angin Timur pula.
“Aku mau lihat tampang manusia itu! Yang lebih penting mengetahui apa maksudnya mengikuti kita. Kita semua harus waspada bersiapsiap. Segala sesuatu tidak terduga bisa saja terjadi.”
“Bagaimana kita akan memancing orang itu?” tanya Anggini. Bidadari Angin Timur memandang ke jalan di depannya sambil mulutnya berucap.
“Anggini, mulailah berteriak memakiku! Aku akan balas memaki! Puti Andini dan Ratu Duyung berada di pihakku, ikut memaki Anggini. Di pengkoian jalan sana Puti Andini hentikan gerobak. Kita turun berlompatan. Pura-pura berkelahi. Kita bertiga purapura kalah dan bergelatakan pingsan di jalanan. Aku rasa setelah itu si penguntit pasti akan keluar unjukkan diri.”
“Usulmu boleh juga,” kata Puti Andini lalu dia memberi isyarat pada Anggini.
Murid Dewa Tuak ini mulai beraksi. Dia berdiri di atas gerobak. Menunjuk ke arah Bidadari Angin Timur dan mulai berteriak memaki-maki tak karuan. Di bagian belakang gerobak Bidadari Angin Timur kelihatan meradang, bangkit berdiri, bertolak pinggang lalu balas memaki. Di sebelahnya Ratu Duyung ikut berteriak sambil acung-acungkan tangan ke arah Anggini. Di kelokan jalan Puti Andini hentikan gerobak lalu ikut pula memaki Anggini. Seperti yang direncanakan ke empat orang itu kemudian melompat dari atas gerobak. Lalu terjadilah perkelahian seru tiga lawan satu.
Anggini bergerak cepat, tubuhnya berkelebat kian kemari. Terdengar suara bak-buk bak-buk. Lima jurus kemudian Bidadari Angin Timur keluarkan pekik keras lalu roboh terguling di tanah. Menyusul Puti Andini, terjengkang di tanah. Setelah itu Ratu Duyung yang seo!ah-olah kena hantaman tendangan kaki kanan Anggini, menjerit terguling-guling di tanah lalu terkapar tak berkutik lagi. Anggini tegak berkacak pinggang. Wajahnya tampak bengis memandangi ke tiga orang gadis yang bertebaran di tengah jalan itu. Matanya melirik ke kanan, ke arah deretan pohon-pohon di pinggir jalan. Bidadari Angin Timur buka pula matanya sedikit, mengintai ke arah yang sama.
“Celaka! Orang itu tidak muncul! Jangan-jangan dia tahu kalau mau dipancing! Apa yang hams aku lakukan?” Hendak bertanya pada Bidadari Angin Timur tentu saja tidak mungkin. Anggini memutar otaknya. Tiba-tiba dia jatuhkan diri di tanah, memeriksa satu persatu tiga gadis yang bergeletakan. Setiap dia habis memeriksa Anggini berteriak keras.
“Sahabat-sahabatku! Aku tidak bermaksud membunuh kalian semua! Aku tidak bermaksud menurunkan tangan jahat! Aku tak sadar tadi telah mengeluarkan pukulan dan tendangan beracun! Aku berdosa besar! Tuhan ampuni aku!” Anggini lalu tekap wajahnya, keluarkan ratap tangis memilukan tapi sambil memasang telinga dan melirik lewat selasela jari tangan.
Kali ini pancingan berhasil. Dari balik deretan pohon-pohon di kanan jalan muncul kepala seekor kuda coklat dengan warna putih di bagian hidungnya. Tapi kuda itu sama sekali tidak ada penunggangnya! Anggini kerenyitkan kening. Alisnya yang hitam lengkung mencuat ke atas.
“Ada kuda tak ada orangnya. Jangan-jangan Ratu Duyung salah melihat. Atau orang yang hendak dipancing sudah mengetahui….” Selagi Anggini membatin seperti itu tiba-tiba di belakangnya ada suara orang berucap.
“Tendangan beracun! Sungguh luar biasa! Baru hari ini aku menyaksikan! Tiga gadis cantik menjadi korban. Sungguh disayangkan.” Kaget Anggini bukan kepalang. Bagaimana mungkin dia tidak mampu mendengar atau mengetahui kalau ada orang mendatanginya dari belakang.
“Ilmu kepandaianku yang sudah tidak berguna atau ilmu orang yang jauh lebih tinggi!” pikir sang dara lalu dia cepat menoleh.
Kejut si gadis mendadak sontak berobah menjadi ketercengangan bercampur kagum. Di hadapan Anggini berdiri seorang pemuda berpakaian kuning celana hitam. Warna pakaian ini sesuai dengan yang dilihat Ratu Duyung lewat ilmu “Menembus Pandang” dan diceritakan pada kawankawannya. Pemuda ini bertubuh tinggi tegap. Ketika memandang wajahnya, inilah yang membuat Anggini menjadi kagum. Ternyata pemuda ini berparas cakap. Ratu Duyung, Bidadari Angin Timur dan Puti Andini yang sejak tadi berpura-pura menggeletak mati, diam-diam membuka mata masing-masing.
Seperti Anggini, tiga gadis cantik ini sama-sama terkesima melihat kegagahan dan ketampanan si pemuda serta potongan tubuhnya yang tinggi tegap. Anggini dan tiga temannya sama sekati tidak menduga kalau orang yang selama ini mengikuti mereka ternyata adalah seorang pemuda begitu gagah. Bidadari Angin Timur kini mengerti mengapa sewaktu mengerahkan ilmu “Menembus Pandang” Ratu Duyung tidak berterus terang mengatakan raut wajah orang yang mengikuti rombongan para gadis cantik itu. Pertanda sang Ratu yang melihat pertama kali dan pertama kali pula terguncang hatinya. Melihat wajah setampan itu mustahil pemuda seperti ini punya niat jahat terhadap mereka. Rasa marah yang sebelumnya ada dalam diri empat gadis itu menjadi sirna. Rasanya tidak ada guna mereka meneruskan berpura-pura. Bidadari Angin Timur bergerak bangkit. Ratu Duyung melompat. Puti Andini berguling lalu meloncat tegak. Anggini berdiri tertegun. Pemuda berpakaian kuning terkejut. Matanya membesar memandangi ke empat gadis itu.
“Tidak kusangka,” katanya.
“Jadi kalian memperdayaiku! Aneh! Mengapa?” Puti Andini maju selangkah.
“Tadinya kami mengira kau mengikuti kami secara diam-diam dengan maksud jahat….”
“Hemmm…. Itu tadinya, sekarang bagaimana? Apakah kalian semua jadi berubah pikiran?” tanya si pemuda sambil senyum gagah tersimpul di bibirnya. Empat gadis terdiam. Si pemuda tertawa lebar.
“Sebenarnya aku memang mengikuti perjalanan kalian sejak tengah hari tadi….”
“Kalau begitu…” ujar Bidadari Angin Timur.
“Tapi aku tidak membekal niat jahat. Malah berjaga-jaga sepanjang jalan. Jika saatnya sudah tiba aku akan muncul, menemui kalian untuk memberitahu agar berhati-hati.”
“Memberitahu agar berhati-hati? Memangnya ada apa?” tanya Puti Andini.
“Ada serombongan penjahat menguntit kalian berempat. Mereka adalah sempalan rampok hutan Roban yang malang melintang mulai dari perbatasan sampai ke pendalaman sini. Saat ini mereka masih mengikuti kalian. Sebentar lagi mereka pasti akan muncul….”
“Cuma perampok siapa takut!” kata Bidadari Angin Timur.
“Aku memang melihat….” si pemuda tampan berkata.
“Melihat apa?” bertanya Ratu Duyung.
“Dibalik kecantikan kalian, pasti tersembunyi satu kekuatan hebat, kesaktian tinggi. Aku mengagumi keberanian kalian. Hanya saja jika kalian meneruskan perjalanan berlakulah hati-hati. Rombongan perampok itu jumlahnya cukup banyak. Mereka kejam-kejam dan…. Tentu saja memiliki kepandaian tinggi. Aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama. Sebenarnya tujuanku adalah ke selatan….” Pemuda gagah itu memutar tubuh, segera hendak melangkah ke arah kuda coklat.
“Tunggu!” Puti Andini berseru.
“Kau belum menerangkan siapa dirimu. Siapa namamu.” Si pemuda tersenyum.
“Apakah perlu aku menerangkan diri dan namaku?”
“Tentu saja perlu. Karena bukan mustahil kau tahu-tahu malah pimpinan perampok yang kau katakan itu.” Yang berkata adalah Bidadari Angin Timur. Kembali si pemuda tersenyum. Namun sepasang matanya menatap tajam ke arah Bidadari Angin Timur. Gadis berambut pirang dengan panjang sepinggang ini balas memotong namun kemudian alihkan pandangannya ke jurusan lain seolah tidak kuasa hatinya bertahan memandang terus.
“Di tempat sunyi dan terpencil seperti ini, sudah pada tempatnya kalian curiga pada siapa saja. Aku senang karena kalian ternyata bukan saja menunjukkan sikap berhati-hati, tetapi juga cerdik,” si pemuda memuji sambil layangkan senyum lalu meneruskan.
“Namaku Damar Wulung. Aku berasal dari timur. Aku dalam perjalanan menuju pantai selatan. Di satu tempat aku memergoki serombongan perampok. Rupanya salah seorang mata-mata mereka telah melihat rombongan kalian. Mata-mata ini memberitahu pada pimpinan rampok. Lalu bersama anak buahnya pimpinan rampok itu mengejar kalian….”
“Kalau memang ada serombongan oi-ang jahat hendak menjarah kami….” Ucapan Ratu Duyung terputus karena dipotong oleh pemuda bernama Damar Wulung.
“Tunggu, harap kalian menyadari hal ini. Mereka bukan cuma ingin menjarah harta benda berharga milik kalian, tapi mereka juga punya maksud keji dan mesum. Kurasa aku tidak perlu menceritakan sejelas-jelasnya….”
“Kami tidak takut!” jawab Ratu Duyung.
“Ucapanku tadi belum selesai. Kalau para perampok itu sudah mengetahui perjalanan rombongan kami dan mengikuti, lalu mengapa sampai saat ini mereka tidak muncul? Padahal kawasan ini sepi sekali.”
“Pertanyaanmu itu merupakan juga pertanyaanku. Itu sebabnya sejak siang tadi aku sengaja mengikuti kalian dalam jarak lebih dekat. Sebelum pergi, bolehkan aku mengetahui nama kalian satu persatu? Siapa tahu kelak dikemudian hari kita bertemu lagi dan aku tidak keliru menyebut nama.”
“Aku Puti Andini,” cucu Tua Gila ini yang pertama memberitahu. Bidadari Angin Timur delikkan mata. Dia tidak suka melihat dan mendengar Puti Andini memberitahu nama. Namun disebelahnya terdengar suara.
“Aku Anggini.”
“Aku Ratu Duyung.”
“Nama kalian bertiga sungguh bagus. Jangan menyangka aku keliwat memuji atau bersikap ceriwis kalau tadi aku katakan nama kalian sangat cocok dengan wajah kalian yang cantik jelita.” Damar Wulung memandang pada Bidadari Angin Timur.
“Lalu sahabat yang berambut pirang, siapakah namanya?” Bidadari Angin Timur diam, tidak menjawab. Tiba-tiba ada suara berucap lantang.
“Dia calon kekasihku! Biar aku yang akan menanyakan nama si jelita berambut pirang itu.”

212

SESAAT kemudian melesat seorang tinggi besar, kulit hitam, dada telanjang penuh bulu, tampang garang. Kepala ditutup dengan kain hitam belang putih. Di lehernya tergantung kalung akar bahar. Sepanjang lengan kiri kanan penuh dengan gelang akar bahar, mulai dari pergelangan sampai bagian bawah siku. Hampir bersamaan dengan munculnya si garang dada berbulu ini, dari berbagai jurusan berlompatan delapan orang berseragam hitam. Seperti orang pertama, delapan orang ini memiliki tampangtampang seram sembrawutan serta kotor menjijikan. Di pinggang masing-masing terselip sebilah golok besar. Pemuda bernama Damar Wulung bertindak cepat. Dia melompat ke depan, langsung membuat kudakuda siap untuk melindungi empat gadis cantik yang kins berada di sebelah belakangnya. Orang bertelanjang dada menyeringai. Rahangnya digembungkan lalu dia berucap.
“Kawan-kawan, jauh-jauh kita mengikuti tahu-tahu ada yang mau jadi malaikat mau melindungi empat gadis incaran kita!”
“Habisi saja!” Salah seorang dari yang delapan berteriak. Orang tadi menyeringai. Dua lengannya disilangkan. Gelang-gelang bahar pada dua tangan itu merosot ke dekat siku. Lalu dia gosokkan dua lengannya satu sama lain. Terdengar suara keras seperti dua potong besi saling digesek. Hebat juga pertunjukan orang ini. Rupanya dia punya ilmu andalan pada dua tangannya itu.
“Anak muda, menyingkirlah. Minggat dari sini! Atau terpaksa aku yang menyingkirkan. Lalu membuat nyawamu minggat ke dalam rimba belantara sebelah sana, menjadi setan penasaran!”
“Jangan berani macam-macam terhadap komplotan pimpinan Burangrang alias Sepasang Gada Besil” kembali salah seorang dari delapan lelaki garang berpakaian serba hitam berteriak. Damar Wulung berdiri tenang, malah tersenyum.
“Sepasang Gada Besi! Aku sudah lama mendengarjulukan itu! Kepala rampok pelarian dari hutan Roban!”
“Kurang ajar! Kau berani menghina pemimpin kami!” Teriakan itu disertai dengan satu lompatan serta berkelebatnya sebilah golok, memapas ke arah batang leher Damar Wulung. Tenang saja pemuda yang diserang rundukkan kepala sambil melompat ke samping tiga langkah. Golok berkilat lewat di samping kepalanya.
“Aku tidak begitu suka menurunkan tangan kasar sekalipun terhadap orang-orang jahat seperti kalian. Tapi kalau kalian sampai memaksa, ini contohnya!” Sosok Damar Wulung berkelebat lalu buukkk! Penjahat yang tadi hendak membacok si pemuda menjerit keras. Tubuhnya mencelat hampir dua tombak, jatuh bergedebuk di tanah dengan mata mendelik, mulut menganga dan mengucurkan darah!
“Kau!” teriak Burangrang, kepala penjahat berjuluk Sepasang Gada Besi.
“Yang kita….”
“Diam! Jangan banyak mulut! Lekas pergi dari sini! Bawa semua anak buahmu!” bentak Damar Wulung. Sepasang mata Burangrang alias Sepasang Gada Besi membeliak besar. Empat gadis memperhatikan. Mata yang membeliak itu bukan menyatakan kemarahan tapi lebih banyak menyatakan perasaan heran. Begitu juga tujuh orang anak buah Sepasang Gada Besi. Mereka memandang terbelalak ke arah Damar Wulung.
“Anak muda, kalau anak buahku sampai jadi korban ini satu hal yang aku tidak suka! Empat gadis itu bagian kami. Sebelumnya bukankah….” Ucapan Sepasang Gada Besi terputus dan tertindih teriakan dahsyat yang keluar dari mulut Damar Wulung. Pemuda ini melompat ke hadapan kepala penjahat itu langsung menghantam dengan pukulan berantai.
“Kurang ajar! Kecantikan empat gadis itu rupanya membuatmu berubah pikiran…” kata kepala rampok penuh berang.
“Duukkk… duukkkk… duukkkk!”
Tiga pukulan yang dilancarkan Damar Wulung berhasil ditangkis Burangrang dengan dua lengannya yang sekeras batangan besi. Walau dia tidak sampai cidera namun tubuhnya terpental jauh dan bergulingan di tanah. Sambil melompat bangkit kepala penjahat ini berteriak.
“Anak-anak! Bunuh pemuda penipu itu!”
“Srettt!”
Tujuh golok besar dihunus berbarengan. Lalu berkelebat ganas dalam gelapnya malam, membabat dan membacok ke arah pemuda bernama Damar Wulung, mulai dari kepala sampai ke pinggang! Damar Wulung keluarkan suara mendengus. Sosoknya melesat ke atas, berputar laksana gasing. Tujuh golok maut hanya menyapu angin. Para pemiliknya kemudian berseru kaget ketika si pemuda pergunakan badan golok sebagai injakan kaki, melompat ke udara, jungkir balik ke bawah lalu bukk… bukk… bukkk! Tiga anak buah Burangrang Sepasang Gada Besi mencelat, bergeletak di tanah dengan kepala hancur dimakan tendangan. Burangrang si kepala penjahat menggerung keras. Dua bilah golok milik anak buahnya yang berjatuhan di tanah disambarnya. Sambil berlari ke arah Damar Wulung dia lemparkan dua golok itu. Damar Wulung berkelit, baru saja si pemuda berhasil mengelak selamatkan diri dari sambaran dua golok terbang, Sepasang Gada Besi sudah berada di hadapannya, langsung menggebuk ke arah kepala dan dada. Kali ini dia kerahkan seluruh kekuatan aji kesaktiannya. Damar Wulung gerakkan dua tangan, menangkis.
“Bukk! Bukkk!”
Empat lengan saling bentrokan.
“Kraakk! Kraakkk!”
Sepasang Gada Besi menjerit keras. Tubuhnya terlempar jauh. Dua lengannya yang selama ini dibanggakan sebagai seatos besi patah dua. Susah payah dia berusaha bangkit, tapi terduduk sesaat di tanah. Tubuhnya menggigil menahan sakit. Matanya mendelik seperti mau melompat dari rongganya. Karena lawan tadi mempergunakan kekuatan tenaga dalam sangat besar, walau hanya merasa sakit pada dua tangannya namun Damar Wulung sempat terpental, jatuh berlutut di tanah. Selagi dia mencoba bangun, empat anak buah Sepasang Gading Besi sudah menyerbunya dengan golok masing-masing. Dari kiri berkelebat selarik benda berwarna ungu. Ini adalah selendang milik Anggini.
“Plaakk! Plaakk!”
Ujung selendang menghantam wajah dua anggota penjahat. Yang satu terguling dengan hidung remuk, satunya lagi terjengkang dengan bibir pecah. Pada saat Anggini menghantam dua anggota penjahat dengan selendangnya, dari jurusan lain Puti Andini tidak tinggal diam. Gadis ini menyambar salah satu dari tujuh payung yang ada di dalam gerobak. Sesaat kemudian satu sinar hijau bergulung di udara. Debu beterbangan, daun-daun dan semak belukar bergoyangan. Belum tahu benda apa yang menyerang mereka, dua anak buah Sepasang Gada Besi mendadak dapatkan tubuh mereka laksana digulung lalu diangkat ke atas dan sesaat kemudian dibantingkan ke tanah. Lalu terdengar suara breett… breettt!
Dua orang penjahat itu terduduk pucat ketika melihat pakaian mereka robek besar di bagian dada, perut dan lengan. Dan ada darah mengucur dari balik robekan-robekan itu! Puti Andini angkat tangan kanannya, lengan diputar, lima jari digerakkan seperti menarik ke belakang. Payung hijau yang masih berputar di udara melesat gesit, berbalik ke arah si gadis. Dengan tangan kirinya cucu Tua Gila ini menyambar payung hijau yang tadi dilemparkannya untuk menyerang dua orang penjahat. Damar Wulung cepat berdiri. Di hadapan empat gadis dia membungkuk seraya berkata.
“Terima kasih, kalian telah menyelamatkan jiwaku. Ini satu hutang besar yang tidak tahu entah kapan dapat kubayar!” Si pemuda melirik ke arah empat penjahat yang terluka lalu berkata.
“Manusia-manusia seperti mereka, sulit diperbaiki. Kalau tidak dihabisi bisabisa menimbulkan malapetaka lebih besar dikemudian hari.” Habis berkata begitu Damar Wulung melompat ke arah empat penjahat. Tangan dan kakinya bekerja cepat sekali. Hanya satu kejapan saja ke empat penjahat itu sudah bergeletakan di tanah dengan kepala hancur. Empat gadis bergidik menyaksikan kejadian itu. Mereka terpaksa berpaling ke jurusan lain. Di tempat lain, terbungkuk-bungkuk menahan sakit Burangrang berusaha berdiri.
“Pemuda jahanam…. Penipu kurang ajar! Aku bersumpah mencari dan membunuhmu!” Dalam keadaan dua lengan patah tergontai-gontai kepala penjahat itu lari tinggalkan tempat tersebut. Tapi Damar Wulung tidak memberi kesempatan. Dia membungkuk mengambil sebilah golok yang tergeletak di tanah. Sekali senjata itu dilemparkan, melayang di udara lalu menancap di punggung kiri Sepasang Gada Besi, terus menembus jantung. Kepala penjahat ini langsung roboh dan menemui ajalnya di tempat itu juga.
“Dia sudah tidak berdaya, seharusnya tak usah dibunuh…” berkata Ratu Duyung. Oamar Wulung berpaling, menatap wajah sang Ratu lalu berkata.
“Sahabatku bermata biru, seperti aku bilang tadi. Manusia jahat seperti mereka sulit diperbaiki. Apalagi yang satu itu adalah biang menu pimpinannya. Dari pada tambah menyusahkan di kemudian hari, tidak ada salahnya diselesaikan sekarang saja….” Damar Wulung tersenyum. Lalu kembali dia membungkuk dan berkata.
“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Kalian telah menyelamatkan diriku dari serangan maut empat golok tadi….”
“Kau sendiri telah berusaha menyelamatkan kami dari komplotan orang-orang jahat itu. Sebenarnya kami yang lebih pantas mengucapkan terima kasih,” kata Puti Andini sambil tersenyum sementara sepasang matanya memandangi wajah si pemuda dengan bersinar-sinar. Diam-diam Bidadari Angin Timur memperhatikan sikap dan air muka Puti Andini. Dalam hati dia berkata.
“Aku mempunyai kesan, agaknya gadis satu ini punya perasaan tertentu terhadap pemuda itu. Aku tidak menyalahkan. Sejak dia mengetahui Panji pemuda yang dicintainya adalah saudara seayah, hatinya pasti hancur. Siapa tahu kepatahan hatinya bisa terobat dengan kehadiran pemuda ini. Tapi aku melihat beberapa keanehan. Aku perlu membicarakannya nanti dengan teman-teman….”
“Kami akan melanjutkan perjalanan. Budi baik pertolonganmu tidak akan kami lupakan.” Yang berkata adalah Anggini. Gadis ini melingkarkan selendang ungunya ke leher lalu naik ke atas gerobak. Ratu Duyung menyusul, diikuti oleh Bidadari Angin Timur. Tinggal Puti Andini sendirian. Untuk sesaat gadis ini masih berdiri di hadapan si pemuda. Bidadari Angin Timur mendehem keraskeras. Sesaat wajah Puti Andini menjadi kemerahan. Damar Wulung tersenyum.
“Teman-temanmu sudah menunggu,” katanya. Ketika Puti Andini naik ke atas gerobak, si pemuda menolongnya dengan sikap penuh hormat, membuat sang dara jadi berbunga-bunga.
“Para sahabatku,” Damar Wulung berkata sambil berdiri di samping gerobak, di sisi kanan Puti Andini.
“Kalian sudah menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Kejahatan ada dimana-mana dan datangnya tidak terduga. Perjalanan jauh bukan satu hal mudah. Apalagi bagi kalian dara-dara berparas rupawan. Aku punya keinginan baik. Kaiau tidak keberatan aku bersedia mengawal kalian sampai ke tujuan….” Puti Andini hendak menjawab. Tapi dia melihat pandangan mata Bidadari Angin Timur yang seperti memberi isyarat. Puti Andini terpaksa batal membuka mulut.
“Perjalanan kami tidak seberapa jauh lagi. Kami tidak ingin merepotkanmu. Sekali lagi terima kasih….” kata Bidadari Angin Timur. Dia memberi isyarat pada Puti Andini yang bertindak sebagai sais.
“Sahabat, kalau aku boleh tahu sebenarnya kalian ini tengah dalam perjalanan kemana?”
“Kami tengah menuju ke Gunung Cede,” Puti Andini yang menjawab. Bidadari Angin Timur memegang bahu Puti Andini.
“Hari sudah rembang petang. Jangan sampai kita nanti bermalam di tempat yang kurang aman….” Puti Andini sentakkan tali kekang. Dua kuda gerakkan kaki. Gerobak mulai berjalan. Damar Wulung lambaikan tangan. Dia bam melangkah mendekati kuda coklatnya setelah rombongan empat gadis itu lenyap di kejauhan. Di atas gerobak untuk beberapa lamanya tak ada yang bicara. Akhirnya Bidadari Angin Timur memecah kesunyian.
“Sebenarnya ada baiknya kalau sahabat kita Puti Andini tadi tidak memberitahu kemana tujuan kita pada pemuda bernama Damar Wulung itu.”
“Apa salahnya? Memangnya kenapa?” tanya Puti Andini merasa kurang senang mendengar ucapan Bidadari Angin Timur.
“Kurasa teman kita ini tertarik pada si pemuda. Melihat sikap si pemuda aku menaruh dugaan kalau dia juga terpikat pada Puti Andini.” Yang berucap adalah Ratu Duyung. Wajah Puti Andini bersemu merah. Kali ini dia diam saja tak menjawab ucapan orang.
“Kita tidak kenal dan tidak tahu siapa sebenarnya pemuda itu…” berkata Bidadari Angin Timur.
“Orang telah berbuat baik. Dia menolong kita dari tangan sembilan penjahat. Apakah hal itu tidak bisa dijadikan alasan kita bersikap baik terhadap pemuda tadi?” Anggini keluarkan suara. Dia ingat, sewaktu terjadi perkelahian hanya dia dan Puti Andini yang turun tangan sementara Bidadari Angjn Timur dan Ratu Duyung diam saja. Puti Andini melirik ke arah Bidadari Angin Timur. Ingin tahu apa yang hendak dikatakan gadis itu setelah mendengar ucapan Anggini.
“Anggini,” kata Bidadari Angin Timur.
“Apa yang kau ucapkan betul adanya. Tetapi kita harus ingat. Kebaikan tidak beda dengan dua sisi dari satu uang logam….”
“Aku kurang mengerti. Apa maksudmu….”
“Maksudku begini. Sisi pertama, kebaikan adalah kebaikan sejati. Sisi kedua, kebaikan yang terselubung untuk menyembunyikan satu niat yang tidak baik.”
“Lalu menurutmu pemuda tadi berada pada sisi yang mana?” tanya Puti Adini tak tahan lagi untuk tidak bicara.
“Aku tidak tahu, tidak satupun diantara kita yang tahu. Hidup ini penuh dengan hal tidak terduga. Itu sebabnya kita perlu berhati-hati. Segala sesuatunya tidak boleh diungkapkan pada orang yang baru kita kenal. Perjalanan yang kita lakukan bukan perjalanan sembarangan. Kita tengah mencari Pendekar 212. Sebelumnya kita telah menemukan keanehankeanehan yang menimbulkan malapetaka. Bukan mustahil pemuda tadi adalah si pembuat surat yang kita temukan di makam pertama dan kedua….”
“Sahabatku, aku rasa kau terlalu membesarbesarkan urusan. Tidak baik berprasangka buruk terhadap orang lain,” kata Puti Andini agak sengit.
“Berprasangka buruk demi kebaikan apa salahnya?” tukas Bidadari Angin Timur.
“Aku tidak menyalahkan kalau mungkin kau punya perasaan tertentu terhadap pemuda gagah tadi. Tapi ada beberapa kejanggalan yang aku lihat sejak pemuda itu muncul pertama kali.” Tiga gadis saling pandang. Bidadari Angin Timur maklum arti pandangan itu. Mereka sulit mempercayai ucapannya. Bidadari Angin Timur tidak perduli.
“Ketika pertama kali dia muncul, ketika kita tanyai dia mengaku memang telah mengikuti kita secara diam-diam sejak tengah hari. Dia sengaja tidak menampakkan diri karena katanya ada serombongan penjahat mengincar kita. Kalau memang itu benar, mengapa dia tidak langsung turun tangan? Sengaja menunggu para penjahat muncul di depan kita baru melakukan sesuatu?”
“Mungkin dia sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya di depan kita. Itu sebabnya dia menunggu sampai sembilan penjahat tadi muncul melaksanakan niat kejinya,” berkata Anggini.
“Bisa saja begitu,” sahut Bidadari Angin Timur.
“Namun masih ada hal lain yang menurutku bisa lebih meyakinkan dugaanku bahwa pemuda itu sebenarnya berkomplot dengan Sepasang Gada Besi….”
“Sulit aku mempercayai,” Puti Andini kembali memberikan tanggapan.
“Entah mengapa sejak pertama melihat pemuda itu sahabat kita Bidadari Angin Timur bersikap ketus terhadapnya. Kalau Damar Wulung adalah juga komplotan para penjahat itu, mengapa dia membunuhi mereka termasuk pimpinan mereka?” Bidadari Angin Timur tersenyum lalu menjawab,
“Bisa saja. Mungkin karena ada yang hendak ditutupi. Mungkin ada sesuatu yang bertolak belakang dengan rencana semula. Tidakkah kalian memperhatikan bagaimana kagetnya pimpinan penjahat dan teman-temannya ketika Damar Wulung membunuh anggota penjahat yang pertama?" Kepala penjahat itu bahkan sempat berteriak.
"Kau…!" Lalu dia berteriak lagi "Yang kita…. Kita berarti dia dan para anak buahnya dan termasuk Damar Wulung". Tapi ucapan kepala penjahat itu terputus oleh bentakan Damar Wulung.
"Aku juga mendengar Sepasang Gada Besi berkata Empat gadis itu adalah bagian kami. Sebelumnya bukankah…. Apa arti ucapan itu. Sebelumnya bukankah…. Mungkin saja aku keliru dan membesar-besarkan urusan seperti kata Puti Andini. Tapi bagiku ucapan kepala penjahat itu berarti sebelumnya terjadi sesuatu antara dia dan Damar Wulung. Sesuatunya apa memang tidak bisa diduga. Tapi kesanku, antara Damar Wulung dengan para penjahat itu sebelumnya pernah saling bertemu. Yang lebih jelas lagi ketika Sepasang Gada Besi berteriak memaki Kurang ajar! Kecantikan empat gadis itu rupanya membuatmu berubah pikiran. Tidak sampai disitu saja teman-teman. Apa kalian tidak mendengar kemudian kepala penjahat itu berteriak marah. Anak-anak! Bunuh pemuda penipu itu! Siapa yang menipu, siapa yang ditipu? Sebelumnya ada pertemuan, sebelumnya ada perjanjian. Tapi Damar Wulung menyalahi perjanjian. Perjanjian apa?” Bidadari Angin Timur angkat bahunya sendiri.
Ratu Duyung dan Anggini tidak berkata apa-apa. Mungkin apa yang dikatakan Bidadari Angin Timur tadi mulai termakan di dalam hati dan benak mereka. Lain halnya dengan Puti Andini yang entah mengapa menjadi kesal terhadap Bidadari Angin Timur. Dalam hati Puti Andini berkata.
“Mungkin Bidadari Angin Timur merasa kurang senang terhadap si pemuda, karena merasa dirinya tidak diperhatikan. Padahal dia merasa dirinya paling cantik diantara para gadis, memiliki kelebihan yaitu rambut pirang panjang, ditambah iekuk tubuh yang bagus. Itu sebabnya dia bicara ketus dan selalu berprasangka buruk terhadap Damar Wulung. Hemmm…. Katanya mencinta setengah mati pada Pendekar 212. Tapi buktinya kini hatinya tergoda….” Diam-diam Bidadari Angin Timur memperhatikan raut wajah Puti Andini sambil menduga-duga apa yang ada dalam pikiran gadis dari Pulau Andalas yartg berjuluk Dewi Payung Tujuh itu. Akhirnya Puti Andini membuka mulut.
“Kalau ada kesempatan bertemu lagi dengan Damar Wulung, akan aku cecar dia dengan pertanyaan. Apa benar memang dia telah berkomplot dengan Sepasang Gada Besi. Apa benar dia punya niat keji terhadap kita!” Habis berkata begitu Puti Andini mencambuk punggung dua ekor kuda. Binatang-binatang ini berlari lebih kencang. Di antara gemeletak roda-roda gerobak Bidadari Angin Timur menyahuti ucapan Puti Andini.
“Mudah-mudahan saja kau bisa bertemu lagi dengan pemuda itu.”

212

BANGUNAN tua bekas kuil di jalan yang mendaki itu masih utuh keadaannya sehingga empat gadis cantik memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Ketika Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini telah tertidur lelap karena keletihan, Puti Andini masih tergolek menelentang di dalam kegelapan memandangi atap kuil. Entah mengapa sampai saat itu dia sulit memicingkan mata. Bayangan wajah Damar Wulung tak putusputusnya hadir di pelupuk matanya. Jika dicobanya memejamkan mata raut wajah pemuda itu malah semakin jelas terlihat. Di kejauhan terdengar suara jangkrik dan binatang malam yang mendadak putus ketika lapatlapat terdengar suara raungan anjing. Dalam keadaan seperti itu Puti Andini tiba-tiba mencium bau sesuatu.
“Aneh, bau apa ini?” pikir sang dara.
Semakin santar bau yang dihirup semakin berat terasa kepalanya sedang tubuhnya menjadi lemah. Sepasang matanya mendadak dilanda kantuk berat. Puti Andini kerahkan tenaga. Dua siku ditekankan ke lantai kuil. Perlahan-lahan dia mengangkat dada dan kepalanya sedikit. Dia melihat asap aneh seperti tebaran kabut bergerak dari halaman terus memasuki kuil. Otak Puti Andini masih bisa bekerja.
“Yang aku lihat bukan kabut. Kalaupun asap adanya bukanlah asap biasa. Kepalaku tambah berat, tubuhku semakin letih, rasa kantuk tak tertahankan. Aku harus melakukan sesuatu, kalau tidak… kurasa aku bisa jatuh pingsan….” Cucu Tua Gila ini cepat kerahkan tenaga dalam dari pusar ke arah dada, tenggorokan, jalan pernafasan, bagian hidung dan dua matanya.
Lalu dia menotok dirinya sendiri pada beberapa bagian tubuh, menjaga agar apa yang telah tercium oleh hidungnya tidak merambat masuk ke tempat berbahaya di dalam peredaran darah. Ketika dia tengah berusaha melepas nafas panjang, tiba-tiba di halaman kuil dia melihat satu sosok bergerak mefangkah. Dia tidak dapat melihat jelas raut wajah orang karena selain gelap, asap aneh menghalangi pemandangan. Puti Andini rebahkan kembali tubuhnya, berpura-pura tidur. Dadanya bergemuruh menanti apa yang akan terjadi. Tangan digerakkan ke pinggang dimana dia menyimpan Pedang Naga Suci 212, satu senjata sakti mandraguna yang didapatnya di Telaga Gajahmungkur, pemberian orang sakti setengah roh setengah manusia bernama Kiai GedeTapa Pamungkas. (Mengenai Pedang Naga Suci 212 baca rangkaian serial Wiro Sableng berjudul “Tua Gila Dari Andalas” terdiri dari 11 Episode)
Tetapi alangkah kagetnya gadis ini ketika dia merasakan tangan kanannya berat, sulit digerakkan. Dicobanya menggerakkan tangan kiri. Sama!
“Celaka! Asap berbau aneh itu sudah melumpuhkan dua tanganku!” Puti Andini menggerakkan kakinya. Tidak bisa!
“Ya Tuhan, malapetaka apa yang menimpa diriku! Siapa orang itu. Agaknya dia yang menebar asap penyirap. Pasti dia punya niat jahat! Sebelum kejadian aku harus berbuat sesuatu!” Puti Andini membuka mulut hendak berteriak membangunkan kawan-kawannya.
Tapi mulutnya seperti terkancing, sama sekali tidak bisa digerakkan apalagi dibuka. Tahu-tahu orang itu di haiaman telah berada di daiam kuil. Sesaat dia tegak di pintu. Lalu masuk ke dalam. Berdiri di depan Puti Andini, memandangi gadis ini sambil tersenyum lalu masuk lebih jauh ke dalam kuil. Bidadari Angin Timur tergolek di sudut sebelah kanan. Orang ini melangkah mendekati si gadis. Lama dia berdiri memperhatikan Bidadari Angin Timur mulai dari wajah sampai ke kaki. Tiba-tiba orang ini berlutut. Tangan kirinya membelai rambut pirang Bidadari Angin Timur. Tangan kanan mengusap pipi. Perlahan sekali dia berucap.
“Kali pertama melihatmu aku sangat tergoda untuk memilikimu. Aku suka pada gadis bersifat ketus tapi berotak cerdik sepertimu. Di atas ranjang pasti kau akan sebuas harimau betina. Cuma sayang, hatiku telah lebih dulu terpikat pada sahabatmu bermata biru itu. Lain hari, jika memang kesampaian, pasti giliranmu menyenangi diriku akan tiba. Mata biru, dimana kau berada?” Walau kata-kata itu diucapkan sangat perlahan, namun di dalam kuil sepi dan tidak seberapa luas itu Puti Andini masih bisa mendengar cukup jelas meskipun tidak bisa mengenali orang itu dari suaranya.
“Mata biru… dia mengincar Ratu Duyung. Ya Tuhan….” Puti Andini hanya bisa bersuara dalam hati. Gadis ini buka matanya sedikit. Orang yang berlutut di samping Bidadari Angin Timur memandang berkeliling. Dia melihat dua sosok tergoiek di sudut kuil sebelah kiri, terlindung dalam bayangan kegelapan. Sebelum bangkit berdiri orang ini mengecup bibir Bidadari Angin Timur lumat-lumat hingga mengeluarkan suara berdecak, membuat Puti Andini kembali merinding. Meski sejak beberapa waktu ini Puti Andini merasa tidak senang terhadap Bidadari Angin Timur, tapi menyaksikan apa yang barusan dilakukan lelaki tak dikenal itu membuat Puti Andini meradang dalam hati.
“Bangsat terkutuk! Atas perlakuan kejimu itu, aku bersumpah akan membunuhmu!” Orang tadi bangkit berdiri, melangkah ke sudut kiri kuil. Yang dilihatnya pertama kali ternyata adalah sosok Anggini. Dia menyeringai lalu berlutut di samping si gadis.
“Aku kagum pada kemulusan tubuhmu. Walau pakaianmu longgar tapi aku tahu dibalik pakaian itu kau memiliki tubuh dengan seribu lekuk mengagumkan. Kalau kau bisa menunggu, kelak satu hari aku akan mencarimu….” Habis berkata begitu orang ini memegang ke dua paha Anggini lalu berpindah pada sosok satunya lagi.
“Ah, mata biru…. Di sini rupanya kau menungguku. Kekasihku, nyenyak sekali tidurmu.” Orang itu berucap, tenggorokannya turun naik. Lidahnya dijulurkan membasahi bibir. Sambil membelai rambut hitam Ratu Duyung orang ini meneruskan ucapannya.
“Kuil ini sebenarnya cocok untuktempat kita bersenang-senang memadu kasih. Tapi bagaimanapun juga aku masih bisa menghormati tempat. Lagi pula tiga kawanmu ada di sini. Aku khawatir belum selesai kita berpuas-puas salah satu dari temanmu itu ingin ikut-ikutan….” Orang ini tutup mulutnya dengan tangan kiri menahan tawa. Tiba-tiba dengan satu gerakan cepat dia mengangkat tubuh Ratu Duyung, diletakkan di bahu kiri. Dengan langkah cepat, beberapa kali menindak orang itu sudah berada di halaman kuil.
“Celaka! Kurang ajar! Dia menculik Ratu Duyung! Ya Tuhan!” Puti Andini ingin melompat, tapi menggerakkan tangan saja tidak bisa. Ingin berteriak tapi membuka mulut saja tidak mampu.
“Tuhan…. Tuhan, tolong saya. Berikan kekuatan pada saya untuk memusnahkan sirapan celaka ini! Saya… saya harus menyelamatkan Ratu Duyung. Tuhan…. Adakah kau mendengar doa permintaanku?” Air mata meleleh di sudut-sudut mata Puti Andini. Dia picingkan mata kencang-kencang. Lalu mulai berusaha mengerahkan tenaga dalam. Kali pertama gagal. Kali kedua masih belum mampu. Sama saja pada kali ke tiga dan keempat. Keringat dingin memercik di permukaan wajah dan sekujur tubuh si gadis.
“Tenagaku sudah terkuras habis. Aku coba sekali lagi. Kalau masih gagal habislah sudah! Ratu Duyung tak mungkin bisa ditolong!” Puti Andini tenangkan diri. Pikiran dikosongkan. Seluruh kekuatan yang masih tersisa disatukan di bagian pusar lalu dia mulai menahan nafas sambil kerahkan segala daya untuk mengalirkan tenaga dalam yang ada ke pembuluh darah dan syaraf. Satu pekikan tiba-tiba menggeledek keluar dari mulut Puti Andini. Bersamaan dengan itu tubuhnya melompat sebat. Dia berteriak.
“Anggini! Bidadari! Bangun! Ratu diculik orang!” Tak ada jawaban. Sosok Anggini dan Bidadari Angin Timur tidak bergerak. Puti Andini segera memeriksa dua temannya itu, berteriak memanggil sambil menggoyang-goyang tubuh Bidadari Angin Timur dan Anggini. Ternyata kedua gadis ini berada dalam keadaan kaku, tak bisa bergerak tak bisa bersuara. Terkena asap sirapan aneh selagi mereka dalam keadaan tidur.
“Celaka!” Puti Andini kerahkan tenaga dalam, lalu berganti-ganti disalurkan ke tubuh Bidadari Angin Timur dan Anggini lewat dada dan perut. Menotok urat-urat besar, menyedot racun sirapan melalui mulut. Pokoknya apa saja yang bisa dilakukannya agar dua temannya itu siuman kembali. Setelah bekerja keras cukup lama sampai tubuhnya basah kuyup oleh keringat, tenaga terkuras, Puti Andini akhirnya terduduk letih di lantai kuil. Bidadari Angin Timur dan Anggini masih dalam keadaan seperti tadi. Kaku dan tak bersuara! Dalam bingungnya Puti Andini ingat pada senjata sakti yang disimpannya di balik pinggang. Pedang Naga Suci 212. Cepat dikeluarkannya. Senjata sakti mandraguna ini tidak bersarung, bentuknya sangat tipis dan berada dalam keadaan tergulung seperti ikat pinggang.
“Ya Tuhan, tolong saya. Tolong kami! Dengan kekuasaanMu semoga senjata sakti ini mampu memusnahkan racun sirapan dalam tubuh Anggini dan Bidadari Angin Timur.” Puti Andini gerakkan tangan kanannya. Gulungan pedang terbuka dengan mengeluarkan suara bersiur halus. Cahaya putih berkiblat menerangi kuil yang gelap.

* * *

212

DALAM gelapnya malam Damar Wulung dan sosok kuda tunggangannya berkelebat laksana bayangan setan. Di atas pangkuannya Ratu Duyung tergeletak membelintang masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat asap sirapan yang terhirup sewaktu dia tidur pulas di dalam kuil. Sambil memacu kudanya Damar Wulung berpikir hendak dibawa kemana gadis culikan itu. Dia tidak begitu mengenal kawasan dimana dia berada. Di satu tempat ketinggian Damar Wulung hentikan kudanya. Dia memandang seputar kegelapan malam sampai matanya membentur satu lamping bukit tertutup batu-batu besar membentuk dinding tinggi.
“Dibukit batu seperti ini biasanya terdapat goa,” pikir Damar Wulung. Dia turun dari kuda, menyelidik. Di langit awan yang sejak tadi menutupi bulan setengah lingkaran bergerak menjauh hingga malam yang tadi gelap pekat kini menjadi terang temaram. Dugaan Damar Wulung tidak meleset. Pada lamping bukit batu ternyata memang terdapat dua buah goa. Satu kecil di sebelah kanan, satu lagi lebih besar di ujung kiri. Sinar rembulan yang jatuh di lamping bukit batu menerangi sebagian goa. Damar Wulung memilih goa yang besar. Ternyata bagian dalam goa selain sejuk juga bersih. Tubuh Ratu Duyung dibaringkannya di lantai joa lalu dia pandangi wajah jelita dan tubuh bagus sang Ratu.
“Cantik luar biasa. Tidak pernah aku melihat gadis seperti ini. Aku ingin melihat sepasang matanya yang biru.” Damar Wulung meraba urat besar di leher Ratu Duyung.
“Racun sirapan masih menguasai dirinya. Harus aku keluarkan dulu….” Si pemuda lalu menotok beberapa jalan darah di tubuh Ratu Duyung.
Dengan jari-jari tangannya pemuda ini membuka bibir yang terkatup. Lalu bibirnya ditempelkan ke bibir sang Ratu. Perlahanlahan Damar Wulung mulai menyedot. Sekali, dua kali, tiga kali. Pada kali yang kelima dia muntahkan ludah yang memenuhi mulutnya. Ludah itu berwarna kebiruan. Damar Wulung merasa iega. Kembali dia menyedot sampai lima kali dan seperti tadi memuntahkan ludah. Di bawah terangnya sinar rembulan kelihatan sepasang mata Ratu Duyung bergerak membuka. Damar Wulung segera menotok beberapa urat penggerak otot tangan dan kaki si gadis. Begitu matanya terbuka Ratu Duyung memandang seputar ruangan. Dia maklum kalau saat itu berada di dalam sebuah goa, di satu tempat sunyi. Belum habis herannya mengapa dia bisa berada di tempat itu, ketika dia memutar mata ke kanan, Ratu Duyung tersentak kaget dan bertambah heran begitu melihat Damar Wulung.
“Kau!” ujar Ratu Duyung.
“Bukankah kau pemuda bernama Damar Wulung yang siang tadi menolong aku dan teman-teman?” Ada perasaan heran juga takut di hati Ratu Duyung.
“Bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Mana kawankawanku. Apa yang terjadi?” Damar Wulung tersenyum. Dibelainya rambut Ratu Duyung lalu berkata.
“Aku gembira kau masih mengenali diriku. Berarti kau menaruh perhatian padaku. Mungkin juga telah jatuh cinta sehagaimana aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama siang tadi.” Merinding bulu kuduk Ratu Duyung mendengar ucapan Damar Wulung. Mata membeliak, rahang menggembung. Tadi ketika pemuda itu membelai rambutnya, dia berusaha menjauhkan kepala tap! tak bisa. Untuk pertama kalinya Ratu Duyung menyadari kalau dirinya berada dalam bahaya.
“Mulutmu bukan saja lancang tapi juga kurang ajar! Jangan kau berani menyentuh tubuhku!” Habis membentak Ratu Duyung segera hendak melompat bangkit. Tapi bukan kepafang kagetnya gadis bermata biru ini ketika dapatkan dirinya tak mampu bergerak. Tangan dan kaki lumpuh!
“Jahanam! Kau pasti menotokku! Lepaskan diriku! Kau pasti punya niat keji!” teriak Ratu Duyung.
“Kekasihku Ratu Duyung. Bukankah itu nama yang kau sebutkan waktu memperkenalkan diri…?”
“Pemuda kurang ajar! Beraninya kau menyebut aku kekasihmu!” Membentak Ratu Duyung marah sekali.
“Ratu, kau tak perlu marah, tak usah takut. Aku baru saja menyelamatkan dirimu dari racun sirapan….”
“Racun sirapan?” Damar Wulung mengangguk.
“Tiga temanmu tak bisa ditolong. Aku sengaja melarikanmu ke sini agar bisa diselamatkan….”
“Aku tak percaya pada ucapanmu….”
“Kau tak perlu percaya pada segala ucapanku,” kata Damar Wulung dengan seringai bermain di mulut.
“Kau mungkin telah berbuat keji terhadap tiga temanku! Lepaskan totokan di tubuhku!” teriak Ratu Duyung.
“Sudahlah, bukankah lebih baik kita habiskan sisa malam ini berdua-dua di tempat ini, bersenang-senang meneguk cinta kasih kebahagiaan?”
“Benar-benar kurang ajar! Jika kau berani berbuat keji terhadapku aku bersumpah membunuhmu Damar Wulung!”
“Aku kurang percaya pada sumpah seperti itu!” sahut Damar Wulung.
“Karena begitu selesai kau meneguk kebahagiaan, kau akan ketagihan, ketagihan dan ketagihan. Kau akan mencariku. Meminta dan meminta….”
“Lepaskan totok di tubuh atau aku….”
Damar Wulung bukannya melepaskan totokan yang melumpuhkan kaki tangan si gadis, malah dia menambah satu totokan lagi hingga saat itu juga Ratu Duyung tak bisa lagi keluarkan suara. Hanya dua matanya yang biru saja yang masih mampu membeliak, bergerak liar kian kemari.
“Kekasihku, aku siap membawamu ke alam penuh nikmat…” kata Damar Wulung dengan seringai mesum bermain di mulut. Sekujur tubuh Ratu Duyung bergetar, bulu tengkuknya merinding ketika pemuda itu susupkan tangan ke pinggang pakaiannya.
“Jahanam kurang ajar! Aku bersumpah membunuhmu!” rutuk Ratu Duyung. Tapi suaranya tidak keluar. Dua matanya yang biru seperti hendak melompat keluar dari rongganya. Di balik pinggang pakaian Damar Wulung merasakan kulit yang halus dan daging tubuh yang lembut hangat. Namun selain itu jari-jari tangannya juga menyentuh sebuah benda. Dicobanya memegang. Satu hawa aneh menjalar memasuki tangan terus ke lengan. Pemuda ini segera maklum ada satu benda sakti tersembunyi di balik pinggang pakaian si gadis. Segera dipegangnya lebih kuat lalu ditarik dikeluarkannya.
“Sebuah cermin bulat…” ujar Damar Wulung heran sambil pegangi gagang cermin dan meneliti membolak balik.
“Ada hawa aneh mengalir dari dalam benda ini. Jelas benda ini bukan cermin biasa untuk dipakai berhias diri….” Si pemuda memandang pada Ratu Duyung. Tersenyum dan berkata dalam hati.
“Beberapa waktu lalu aku mendapat penjelasan. Gadis bermata biru dan tiga temannya itu adalah tokoh-tokoh muda rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi.” Damar Wulung memandang ke dalam cermin. Samar-samar dia melihat wajahnya sendiri. Cermin diputar, diarahkan ke pintu goa sebelah atas. Lalu dia kerahkan tenaga dalam. Selarik sinar putih menyilaukan berkiblat lalu braakkk! Batu keras bagian atas mulut goa hancur berkeping-keping. Bagian yang masih utuh kelihatan hitam hangus mengepulkan asap. Damar Wulung terkesiap lalu tertawa lebar. Sambil memandang pada Ratu Duyung dia berkata.
“Kekasihku, senjata aneh ini lebih pantas berada di tanganku. Akan kujadikan kenang-kenangan seumur hidup tanda percintaan kita di malam hari ini. Ha… ha., ha…!”
“Keparat terkutuk!” Ratu Duyung kerahkan tenaga dalamnya untuk bebaskan diri dari pengaruh totokan yang melumpuhkan. Tapi gagal. Dia alirkan hawa sakti ke arah mata untuk mengeluarkan ilmu kesaktian berupa sinar maut berwarna biru. Lagi-lagi dia tak mampu melakukan. Totokan yang dilancarkan Damar Wulung atas dirinya benar-benar luar biasa hingga dia tidak berdaya sama sekali. kanannya bergerak ke dada.
“Breettt!”
Pakaian yang melekat di tubuh Ratu Duyung robek besar. Auratnya tersingkap lebar. Ratu Duyung merutuk habis-habisan sebaliknya Damar Wulung semakin beringas dilanda nafsu bejat. Nyaris dia hampir menelanjangi tubuh gadis itu tiba-tiba di kejauhan terdengar suara orang bersiul. Sesaat Damar Wulung hentikan kebejatannya. Telinganya dipasang mendengar suara siulan. Bukan siulan itu yang membuat darahnya tersirap dan berubah air muka. Tapi nyanyian dalam siulan itulah yang menyebabkannya tercekat hebat. Tanpa tunggu lebih lama dia melompat ke mulut goa lalu lari ke luar. Di satu tebing batu tinggi Damar Wulung tegak berdiri. Telinga dipasang tajam, pandangan mata dilayangkan ke arah timur.
“Dari arah situ tadi suara siulan muncul. Kini lenyap tiada bekas….” Penasaran Damar Wulung lari menuruni tebing batu di tepat ketinggian.
Dia lari ke arah lenyapnya suara siulan. Di kejauhan di dalam gelap dia seperti melihat ada bayangan berkelebat lalu lenyap.
“Hai!” Damar Wulung berteriak.
Yang menjawab hanya gaung tipis suaranya sendiri. Si pemuda hentikan larinya. Sesaat dia tegak termangu memandangi kegelapan.
“Telingaku tidak tuli. Jelas sekali aku mendengar suara siulan itu. Jelas sekali itu adalah kidung Kami Anak Desa yang sering aku nyanyikan dengan adikku dimasa kecil di desa. Mataku tidak buta, tadi aku melihat satu bayangan di kejauhan. Adikku, engkaukah yang tadi bersiul itu? Adimesa, bayanganmukah tadi yang aku lihat dalam gelap?” Damar Wulung pejamkan mata menarik nafas panjang berulangulang.
Terbayang olehnya kehidupan di masa kecil di desa Kaliurang. Terbayang wajah adiknya yang terpisah dengan dirinya belasan tahun silam yaitu ketika terjadi bencana gunung meletus. Terbayang saat-saat dia dan adiknya membantu orang tua mereka di sawah, memandikan kerbau, mengagon itik. Semua pekerjaan itu mereka lakukan dengan rasa suka cita sambil menyanyikan iagu Kami Anak Desa. Semula dia mengira adiknya telah menemui ajal dalam bencana itu. Tapi suara siulan tadi seolah membangkitkan satu kepercayaan dalam dirinya bahwa Adimesa, adiknya masih hidup. Saat itu ingin dia terus mengejar ke arah lenyapnya bayangan tadi, namun ketika teringat pada Ratu Duyung yang ditinggalkannya di dalam goa, Damar Wulung batalkan niatnya. Dia memutar tubuh, dengan cepat kembali ke goa di lamping bukit batu bersusun. (Mengenai kehidupan masa kecil Damar Wulung alias Adisaka dan adiknya Adimesa harap baca Episode pertama berjudul “Kembali Ke Tanah Jawa.”)
Sebelum masuk ke dalam goa masih penasaran Damar Wulung alias Adisaka palingkan kepala ke arah kejauhan. Dia berharap suara siulan tadi akan terdengar kembali. Dia berharap bayangan orang di dalam gelap yang dilihatnya tadi akan muncul kembali.
“Adimesa adikku. Tak ada lain orang yang tahu nyanyian itu kecuali kau…” ucap Damar Wulung perlahan dengan suara bergetar. Pemuda ini menarik nafas dalam lalu berbalik dan langkahkan kaki masuk ke dalam goa. Bergerak tiga langkah ke dalam goa, mendadak sontak gerakan kaki Damar Wulung terhenti. Sepasang kakinya laksana dipakukan ke lantai goa. Dua matanya mendelik. Mulutnya ternganga. Sulit dipercaya gadis itu berubah menjadi makhluk lain! Yang kini tergolek miring di lantai goa, membelakanginya.
“Aku tidak lamur, aku tidak salah melihat! Bagaimana ini bisa terjadi? Jangan-jangan gadis tadi bangsa setan jejadian!” Damar Wulung maju lagi satu langkah. Membungkuk ulurkan kepala. Membuka mata besar-besar.
Pemuda ini benar-benar melengak. Sosok yang terbaring menelentang di lantai goa bukan sosok Ratu Duyung si gadis cantik bermata biru. Tapi sosok lain seorang berambut panjang kelabu riap-riapan, mengenakan jubah hitam. Dada Damar Wulung berdebar, hatinya berdetak. Tiba-tiba sosok yang tergolek di lantai itu bergerak membalik. Cahaya rembulan setengah lingkaran jatuh tepat di mukanya. Kelihatanlah satu wajah menyeramkan seperti setan! Damar Wulung keluarkan seruan tertahan. Kakinya tersurut ke belakang. Nyawanya serasa terbang. Walau lidahnya mendadak kelu namun mulutnya masih bisa berucap.
“Guru!”

* * *

212

ORANG berjubah hitam bermuka setan rambut kelabu riap-riapan membuat gerakan aneh. Tubuhnya melesat ke atas, hampir menyandak atap goa dan tahu-tahu telah berdiri hanya satu langkah di hadapan Damar Wulung.
“Guru…” si pemuda kembali berucap. Yang dipanggil guru menyeringai, membuat wajahnya semakin seram menggidikkan.
“Adisaka, buka matamu besar-besar. Benarkah yang kau lihat berdiri di hadapanmu ini adalah gurumu? Bukannya gadis bermata biru yang hendak kau gagahi itu?!” Pucatlah wajah Damar Wulung alias Adisaka. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Dia tak bisa menjawab. Matanya melirik jelalatan mencaricari. Hatinya bertanya-tanya. Kalau si nenek ini sekarang ada di dalam goa, lalu dimana beradanya Ratu Duyung yang tadi jelas-jelas ditinggalkannya di tempat ini?
“Adisaka, perbuatan keji terkutuk inikah yang jadi hasil jerih payahku menggemblengmu selama bertahun-tahun untuk menjadi seorang pendekar pembela kebenaran penegak keadilan, pembela kaum lemah menghancurkan kesewenangwenangan?! Semula aku mendengar banyak cerita tentang dirimu. Semua serba tak jelas karena mungkin hanya berita dilayangkan angin belaka. Kini kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri rasanya sulit aku mempercayai. Muridku, kau yang tadinya aku harapkan menjadi pendekar besar ternyata adalah manusia keji yang tubuh dan hatinya karatan oleh kebiadaban!” Damar Wulung dalam kaget dan kecut tak kuasa menjawab jatuhkan diri, berlutut bahkan kemudian bersujud di hadapan gurunya si nenek muka setan, yang bukan lain adalah Gondoruwo Patah Hati adanya!
“Bangun! Jangan bersujud di hadapanku!” bentak nenek muka setan dengan suara menggeledek. Damar Wulung tersentak lalu cepat-cepat bangkit berdiri. Kepalanya ditundukkan, tak berani menatap wajah apa lagi sepasang mata gurunya yang berkilat laksana sambaran api.
“Dari sikapmu bersujud, jelas otakmu sudah terbalik dan hatimu diselimuti air comberan busuk! Aku tidak pernah mengajarkan padamu bahwa manusia harus bersujud kepada manusia! Hanya pada Gusti Allah tempat manusia bersujud! Dalam usahamu hendak coba selamatkan diri jangan kau berbuat salah kaprah! Kalau tombak besi kau tusukkan ke dadaku, sakitnya mungkin tidak seberapa dibanding dengan semua perbuatan yang telah kau lakukan.”
“Guru, mohon maafkan diriku. Mohon aku diberi kesempatan untuk menjelaskan satu hal….”
“Aku menyesal. Mungkin aku telah kesalahan mengambilmu sebagai murid. Karena belakangan, setelah kau kugembleng kujadikan murid, terbetik berita bahwa sebenarnya adikmulah yang aku inginkan untuk jadi murid. Entah bagaimana kejadiannya, waktu terjadi bencana alam, aku hanya melihat dan menemuimu di dalam rimba….” Damar Wulung jadi terdiam. Dia tidak menyangka gurunya akan mengeluarkan ucapan seperti itu.
“Guru, aku mohon sekali lagi. Aku tidak bermaksud membela diri. Namun izinkan aku menjelaskan sesuatu yang ada hubungannya mengapa aku sampai menjalankan hidup sesat seperti ini….”
“Hemm…. Setan mana yang menyambatmu hingga kau jadi manusia jahat, bejat budi pekerti! Apa yang hendak kau jelaskan!” Gondoruwo Patah Hati meluluskan permintaan muridnya walau sebenarnya dia tidak suka berlama-lama di tempat itu dan sudah gatal tangan untuk segera menjatuhkan hukuman.
“Aku akan jelaskan guru, harap kau suka mendengar. Tak berapa lama setelah aku kau lepas meninggalkan pertapaan, aku terpesat ke satu rimba belantara di pantai selatan. Di sana aku jatuh sakit, terserang demam panas. Rasanya saat itu tidak ada satu orangpun yang bisa menolong. Aku sendiri tak mampu keluar dari hutan. Jangankan melangkah, merangkakpun aku tak sanggup. Ajal sudah di depan mata. Lalu terjadi satu keanehan. Seperti mimpi aku melihat muncul sosok seorang perempuan muda berwajah cantik sekali. Di kepalanya ada sebuah mahkota terbuat dari emas berbentuk kepala seekor ular. Sehelai pakaian hijau tipis membungkus tubuhnya. Karena ada cahaya aneh menutupi auratnya maka tubuhnya soolah tidak mengenakan apa-apa. Perempuan itu berkata bahwa dengan mudah dia bisa menyembuhkan sakitku. Tetapi dengan satu syarat yaitu bahwa aku harus menyebadaninya. Memandangi tubuh nyaris telanjang itu nafsuku bergejolak. Aku berusaha bertahan tapi sia-sia. Apalagi perempuan cantik itu menunjukkan sikap mengundang dan aku perlu kesembuhan. Dalam keadaan tidak sadar dan dirangsang nafsu setelah aku disembuhkannya dengan cara aneh, perempuan itu mengajak aku melakukan hubungan badan….”
“Kau menerima ajakan setan betina itu! Kau menidurinya! Betul begitu?!” bentak Gondoruwo Patah Hati.
“Betul guru…” jawab Damar Wulung alias Adisaka.
“Cuahh!” si nenek meludah ke tanah.
“Siapa perempuan edan yang membuat kau mau melakukan perbuatan maksiat itu?”
“Dia mengaku bernama Kunti Ambiri. Belakangan aku ketahui dia sebenarnya adalah Dewi Ular….” Kagetlah si nenek muka setan mendengar nama dan gelar yang disebutkan muridnya itu.
“Dewi ular dari pantai selatan! Bukankah dia sudah lama menemui ajal dan rohnya gentayangan tidak diterima bumi? Makhluk itu yang kau tiduri Adisaka?!” Damar Wulung mengangguk. Si nenek terdiam, mata melotot memandangi muridnya.
“Adisaka, aku tidak melihat apa hubungan Dewi Ular dengan banyak kejahatan yang telah kau lakukan!” Gondoruwo Patah Hati akhirnya berkata. Damar Wulung usap mukanya yang keringatan.
“Setelah aku melakukan hubungan, dalam diriku terasa ada beberapa keanehan. Pertama ada dorongan untuk selalu melakukan kejahatan. Kedua aku seperti tidak bisa melupakan Dewi Ular. Akibatnya aku dijadikan budak nafsu oleh makhluk siluman ular itu. Berbulan-bulan aku berada di tempat kediamannya….”
“Tidak disangka, jadi kau sudah hidup bergendak dengan makhluk terkutuk jejadian itu! Edan!” Damar Wulung hanya bisa menelan ludahnya. Dia ragu hendak meneruskan ceritanya.
“Apa kisah edanmu sudah selesai?!” bentak Gondoruwo Patah Hati.
“Belum, Nek. Kalau boleh aku melanjutkan. Setelah berbulan-bulan berada bersamanya, suatu hari Dewi Ular berkata. Ada satu tugas yang harus aku lakukan.”
“Tugas apa?” tanya sang guru muka setan.
“Mencari seorang pendekar, menangkapnya hidup-hidup lalu membawanya ke hadapan Dewi Ular di pantai selatan….”
“Siapa pendekar yang diinginkan Dewi Siluman itu?”
“Pendekar 212 Wiro Sableng,” jawab Damar Wulung. Terkejutlah si nenek mendengar gelar dan nama yang disebutkan. Matanya sampai mendelik memandang tak berkedip pada sang murid. Lalu muiutnya menyeringai. Perlahan-lahan keluar suara tertawa.
“Mencari, menangkap dan membawa Pendekar 212! itu bukan pekerjaan mudah. Selusin manusia berkepandaian setingkatmu belum tentu mampu melakukannya. Kau mencari penyakit Adisaka! Jika kau patuhi perintah dewi siluman itu, firasatku mengatakan umurmu tidak akan lama. Kecuali jika kau mengikuti apa yang akan kukatakan. Malam ini juga kau harus ikut ke pertapaanku di Kali Lanang. Kau harus bertobat di sana. Jika kau membangkang, kuhabisi seluruh ilmu yang ada di tubuhmu saat ini juga! Sebelum matahari muncul kau akan berubah menjadi seorang kere pasar tanpa kepandaian, tanpa ilmu kesaktian!” Pucat muka Damar Wulung alias Adisaka.
“Guru, aku berterima kasih kau masih memperhatikan diriku. Tapi aku tidak mungkin mematuhi perintahmu….”
“Apa kau bilang?!” hardik si nenek.
“Dewi Ular telah memberiku minum air sorga iblis….”
“Air sorga, tapi ada iblisnya! Minuman laknat apa itu?” tanya Gondoruwo Patah Hati.
“Pertama kali berada di tempat kediamannya Dewi Ular menyuguhkan secangkir minuman berwarna putih. Ketika kuminum, tubuhku terasa sangat segar dan enteng. Ada satu kekuatan aneh mengalir di setiap pembuluh darahku. Bersamaan dengan itu hasrat kelaki-lakianku menggebu seperti kobaran api yang tidak padam oleh tiupan topan dan curahan hujan. Selama cairan itu mendekam dalam diriku, aku tak mungkin melepaskan diri dari perbuatan keji. Tubuhku seperti terbakar jika dalam satu kali bulan purnama aku tidak dapat melepas kobaran nafsu. Selama di tempat kediamannya Dewi Ular selalu melayani diriku. Tapi setelah berada di luaran, aku terpaksa mencari sendiri….”
“Jahanam! Laknat terkutuk! Kejahatanmu bukan cuma memperkosa gadis. Aku mendengar lebih dari itu!” teriak Gondoruwo Patah Hati. Saking marahnya dia hantamkan tangan kanannya.
“Bukkk! Byaarrr!”
Dinding batu goa amblas runtuh.
“Adisaka, sebelum dosamu makin bertumpuk setinggi gunung, malam ini juga kau harus ikut ke Kali Lanang….”
“Guru, jika kau mau memberi kesempatan. Setelah aku menangkap dan membawa Pendekar 212 ke hadapan Dewi Ular, Dewi berjanji akan memberikan obat pemunah air sorga iblis itu.” (Kisah dendam kesumat Dewi Ular terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng dapat diikuti dalam serial berjudul “Dewi Ular“. Baca juga Episode berjudul “Dendam Dalam Titisan” yaitu Episode ke 10 dari 11 Episode “Tua Gila dari Andalas“.)
“Jangan kau percaya omongan dan janji-janji siluman betina itu. Sekali kau telah dijadikan budak nafsu, kau tak akan dilepaskannya seumur hidup. Kau baru akan dilepas kalau sudah tidak berguna lagi baginya. Dan ingat, bukan tubuhmu yang dilepas pergi, tapi nyawamu yang akan dilepas amblas olehnya! Sekarang ikut aku ke Kali Lanang….” Waktu bicara Gondoruwo Patah Hati tak bergerak di tempatnya. Tak kelihatan ada bagian tubuhnya yang bergerak. Tapi tiba-tiba lima sinar hitam menderu.
“Bet… bet… bet… bet… bet!”
“Totokan Lima Jari Langit!” Damar Wulung berteriak keras. Dia cepat menghindar selamatkan diri. Tapi kalah cepat. Lima sinar hitam mendarat di lima bagian tubuhnya. Saat itu juga tangan dan kakinya menjadi kaku tak bisa bergerak.
“Guru, mengapa kau lakukan ini terhadapku?” ujar sang murid.
“Bukankah aku sudah bersedia mengikuti kehendakmu kalau aku sudah menangkap Pendekar 212 dan membawanya ke hadapan Dewi Ular….”
“Urusan kentut busuk! Siapa mau ikut campur! Biar aku selesaikan urusanmu di sini saja!” jawab si nenek. Lalu dia melangkah mendekati muridnya, siap membembeng leher pakaian pemuda itu dan menyeretnya keluar goa. Tapi alangkah kagetnya Gondoruwo Patah Hati ketika melihat apa yang terjadi. Di tempatnya berdiri dia melihat bagaimana mulut muridnya dalam keadaan terkancing bergerak komat-kamit. Lalu tubuh si pemuda bergetar hebat. Bersamaan dengan itu ada hawa tipis kebiruan keluar dari permukaan tubuh dan pakaiannya. Lalu terdengar suara letupan halus lima kali berturutturut.
“Dess… dess… dess… dess… dess!”
Satu teriakan keras melesat keluar dari mulut Adisaka. Tubuhnya yang tadi kaku tiba-tiba bergerak lalu dalam satu gerakan kilat melesat ke mulut goa.
“Murid jahanam! Jangan lari!” Gondoruwo Patah Hati mengejar sambil lepaskan satu pukulan sakti.
“Kraakkk…!”
Batang pohon besar di seberang mulut goa hancur. Pohonnya tumbang dengan suara bergemuruh. Tapi Damar Wulung sang murid yang terlahir Aengan nama Adisaka lenyap sirna tak kelihatan lagi bayangannya. Hanya dikejauhan terdengar suara kuda dipacu dan suara inipun kemudian lenyap.
“Anak itu…. Kalau tidak ada yang mencegahnya, rimba persilatan tanah Jawa bisa kiamat! Dia mampu melepaskan diri dari Totokan Lima Jari Langit yang aku lepaskan dari jarak jauh. Ilmu setan apa yang dimilikinya? Dari siapa dia mendapatkannya? Dari Dewi Ular?” Si nenek geleng-geieng kepala dan tarik nafas panjang berulang kali.
Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Cepat dia Jari ke balik sebuah batu besar di ujung kiri dinding batu. Di situ menggeletak sosok tubuh seorang gadis. Auratnya di bagian dada hampir tidak tertutup karena pakaiannya robek besar. Matanya yang biru mendelik ketakutan ketika melihat munculnya nenek berwajah setan. Tapi ketika si nenek mulai memeriksa keadaannya dia segera maklum orang tidak berniat jahat, malah hendak menolongnya. Gadis ini bukan lain adalah Ratu Duyung. Ketika Damar Wulung keluar dari goa untuk mencari orang yang bersiul, si nenek yang memang sudah lama mengikuti gerak-gerik muridnya sampai di tempat itu. Dia segera menggendong Ratu Duyung keluar dari goa dan meninggalkannya di satu tempat yang aman di balik batu.
“Gadis cantik, ketika tadi kau kutolong kau masih dalam keadaan pingsan. Tidak salah kalau saat ini kau ketakutan setengah mati melihat tampangku! Keadaanmu cukup parah. Anak keparat itu telah menotokmu dengan Totokan Jari Bumi, dua tingkat lebih rendah dari Totokan Jari Langit. Kau tak usah khawatir. Aku akan menclongmu, kau akan sembuh. Jika kau sudah bebas berjanjilah untuk menceritakan apa yang terjadi!” Gondoruwo Patah Hati mendongak ke langit.
Telapak tangan kanan dikembang, lima jari berkuku panjang dipentang lurus. Perlahan-lahan, mulai dari kepala sampai ke kaki si nenek sapukan tangannya satu jengkal di atas permukaan tubuh Ratu Duyung. Setiap sapuan tangan sampai di bagian tubuh yang terkena totokan terdengar suara letupan halus.
“Dess… desss….”
Dari bagian tubuh yang barusan terlepas totokannya keluar cahaya biru, tersedot dan menempel di telapak tangan si nenek. Ternyata ada tujuh bagian tubuh Ratu Duyung yang terkena totokan. Begitu totokan ke tujuh lepas Ratu Duyung menggeliat lalu melompat bangkit. Dadanya bergoncang keras. Perutnya terasa mual. Dia meludah. Tengkuknya merinding ketika melihat ludahnya yang jatuh di batu berwarna kebiru-biruan.
“Murid keparat itu! Pasti dia yang melakukan. Dia menebar asap sirapan….” Sadar kalau dirinya baru saja diselamatkan orang Ratu Duyung segera melangkah ke hadapan Gondoruwo Patah Hati.
“Nenek, aku Ratu Duyung menghaturkan terima kasih setinggi langit sedalam samudera. Kalau tidak kau yang menolong, diriku tentu sudah kejatuhan aib besar.” Si nenek yang diberi ucapan terima kasih bukannya merasa senang tapi unjukkan tampang kaget dan mundur sampai dua langkah.
“Telingaku tidak tuli. Tapi coba ulang sekali lagi. Kau menyebut namamu tadi. Siapa…?”
“Aku Ratu Duyung….”
“O walah! Tidak pernah mimpi bakal bertemu dengan penguasa kawasan selatan paling cantik! Tidak pernah menyangka gadis yang aku tolong ternyata Ratu Duyung, gadis cantik sakti mandraguna yang punya nama besar di delapan penjuru angin Tanah Jawa….” Ratu Duyung tersipu malu.
“Nek, kau jangan keliwat memuji….”
“Aku tidak memuji. Aku berkata apa adanya!” jawab si nenek.
“Gadis bermata biru, pakaianmu tidak karuan. Pakai ini untuk menutupi tubuhmu. Setelah itu aku ingin mendengar penjelasanmu. Bagaimana kau sampai berada dalam keadaan ini. Diculik orang!” Dari buntalan yang ada di pinggang kirinya si nenek muka setan keluarkan sehelai pakaian. Begitu diserahkan Ratu Duyung segera mengenakan pakaian itu untuk menutupi pakaiannya yang robek besar di bagian dada. Ratu Duyung seolah baru sadar. Wajahnya yang cantik mendadak bengis. Sepasang matanya memancarkan kilatan sinar biru.
“Pemuda jahanam bernama Damar Wulung itu! Dia layak mati di tanganku! Dia juga telah mencuri cermin saktiku!” Ratu Duyung hendak melompat ke arah goa. Tapi si nenek cepat memegang bahunya.
“Tak ada gunanya mengejar. Pemuda itu sudah kabur. Kalau tidak selesai di tanganku, kelak akan ada orang lain membereskannya. Mengenai cermin saktimu itu, aku berjanji akan merampasnya dan mengembalikan padamu.”
“Nek, tadi kau menyebut pemuda itu sebagai muridmu. Aku….”
“Dia memang muridku. Tapi ketahuilah, belasan tahun sifam ketika aku memasuki satu rimba belantara dalam mengejar seorang anak leiaki yang jadi rebutan para tokoh rimba persilatan, aku berhasil lebih dulu mendapatkan anak itu. Tapi mungkin aku kesalahan tangan memilih. Nasibku sial. Yang kudapat bukan murid baik-baik, tapi murid celaka! Aku sungguh menyesal. Apalagi setelah mengetahui apa yang dilakukannya atas dirimu. Dia kena batunya. Dia mungkin tidak tahu siapa kau sebenarnya….” Si nenek terdiam sebentar. Dipandanginya wajah Ratu Duyung yang cantik jelita dengan pandangan haru tapi juga penuh rasa kagum.
“Ratu Duyung, sebelum kita berpisah aku ingin kau menceritakan kejadian bagaimana kau sampai dicuiik dan dibawa murid keparat itu ke tempat ini….”
“Aku sendiri tidak sadar kalau telah jadi korban penculikan. Aku baru tahu setelah berada dalam goa. Tadinya aku dan tiga orang kawan berada di sebuah kuil. Aku yakin saat itu kami telah tertidur. Ketika bangun dan sadar aku dapatkan diriku hendak digagahi muridmu yang bernama Damar Wulung itu….”
“Damar Wulung itu nama paisu. Nama sebenarnya adalah Adisaka…” kata Gondoruwo Patah Hati.
“Melihat pada telapak tanganku yang berwarna biru, juga pada air ludahmu yang berwarna biru, agaknya Adisaka telah menyirap dirimu dan kawan-kawan dengan sejenis sirapan mengandung racun. Tadi katamu kau bersama tiga orang teman. Mereka sekarang berada di mana?”
“Astaga! Jangan-jangan mereka masih berada di kuil. Jangan-jangan mereka telah diperlakukan keji oleh Adisaka! Aku harus segera kembali ke kuil itu….”
“Ya, pergilah cepat. Aku ada kepentingan lain. Tak bisa ikut bersamamu.”
“Tak jadi apa Nek. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih padamu. Kalau umur sama panjang kita akan bertemu lagi. Semoga Gusti Allah memberi jalan bagiku untuk membalas budi luhurmu ini!” Si nenek tertawa perlahan. Walau perempuan tua ini berwajah seram seperti setan tapi entah mengapa Ratu Duyung merasa senang padanya. Begitu ingat sesuatu Ratu Duyung berkata.
“Nek, maafkan kalau aku bicara mungkin menyinggung perasaanmu. Kalau kau mau ikut aku ke pantai selatan, aku dan orang-orangku bisa mengobati cacat diwajahmu. Kau akan kembali memiliki wajah secantik yang kau inginkan….” Si nenek pandangi Ratu Duyung. Matanya tampak berkaca-kaca. Lalu mulutnya berucap.
“Ratu Duyung, terima kasih atas kebaikan hati dan budi tulusmu itu. Namun aku merasa bahagia hidup dengan wajah seperti ini. Biarlah aku tetap berada dalam keadaan begini.” Ratu Duyung merasa terharu mendengar ucapan si nenek. Si nenek sendiri masih bisa tersenyum. Seolah didorong oleh perasaan yang sama, kedua orang ini saling melangkah mendekat lalu berpelukan.
“Nek, sekali lagi terima kasih….”
“Kau gadis cantik luar biasa. Aku kagum karena kecantikan bukan cuma ada di wajahmu, tapi juga ada di lubuk hati sanubarimu….” Selagi kedua orang itu saling berangkulan sebelum berpisah, di balik sebuah batu besar ada orang berbisik pada dua temannya.
“Lihat apa yang terjadi! Ratu Duyung berpelukpelukan dengan penculiknya!”
“Celaka, jangan-jangan sahabat kita itu telah kena diguna-guna…” menyahuti orang di samping kiri. Orang ke tiga yang ada di sebeiah kanan ikut bicara.
“Aku pernah mendengar tentang perempuan-perempuan aneh yang hanya suka pada sesama jenisnya! Jangan-jangan Ratu Duyung telah melakukan hubungan gila dengan nenek muka setan itu!”
“Kita harus segera keluar! Kalian berdua selamatkan Ratu Duyung, aku biar membeset tua bangka keparat itu!” Laksana kilat, tiga bayangan berkelebat dari balik batu besar. Gondoruwo Patah Hati tersentak kaget ketika merasakan gadis yang tengah dipeluknya terbetot lepas dari rangkulannya. Ratu Duyung sendiri tak kalah kejutnya. . Bersamaan dengan itu terdengar satu bentakan garang.
“Iblis penculik! Bersiaplah menerima kematian! Akan kukikis setiap gumpalan daging yang melekat di tulang belulang dalam tubuhmu!” Cahaya putih terang berkiblat dalam gelapnya malam!

212

NENEK muka setan Gondoruwo Patah Hati berseru kaget ketika dapatkan dirinya terbungkus dalam serangan pedang yang menabur cahaya putih menyilaukan dan sambaran hawa dingin menggidikan. Dengan cepat nenek ini melompat selamatkan diri sambil tangan kanannya melepas pukulan. Lima sinar hitam menderu keluar dari lima kuku.
“Wuttt!”
Cahaya putih kilauan pedang menyambar.
“Bett… bett… bett… bett… bett!”
Lima larik sinar hitam amblas bertaburan. Si nenek terpekik. Cepat tarik tangan kanannya yang mendadak ngilu kesemuatan. Wajah setannya mengkeret garang. Mulutnya membentak lantang pada orang yang barusan menyerangnya.
“Gadis liar! Tak ada ujung pangkal mengapa kau menyerangku?!” sepasang mata si nenek mengawasi pedang tipis di tangan orang. Yang dibentak balas menghardik.
“Penculik busuk! Sudah tertangkap basah masih bisa jual lagak di hadapanku! Lihat pedang dan mampuslah!”
“Gadis jahanam! Siapa jadi penculik! Enak saja kau menuduh! Kau yang mampus duluan!” Gondoruwo Patah Hati tekankan tumit kanannya ke tanah. Bersamaan dengan menyambarnya pedang di tangan lawan, tubuh nenek ini melesat ke udara, berjungkir balik satu kali. Begitu melayang turun, laksana kilat lima kuku jari tangan kanannya menyambar ke kepala lawan.
“Breettt!”
Jubah Gondoruwo Patah Hati robek besar di sebelah bawah termakan ujung pedang. Sebaliknya si penyerang berseru kaget, muka pucat ketika kuncir rambut di atas kepalanya putus, membuat rambutnya yang panjang hitam terurai lepas riap-riapan. Kalau tidak cepat dia rundukkan kepala tadi, bisa-bisa ubun-ubun di batok kepalanya amblas dijebol orang! Sementara itu Ratu Duyung yang dicekal dua orang membentak marah. Sambil berusaha lepaskan diri dia coba melihat siapa dua orang di kiri kanannya yang mencekal dirinya.
“Anggini! Bidadari Angin Timur! Apa-apaan ini? Mengapa kalian mencekalku begini rupa?!” Berseru Ratu Duyung ketika dia mengenali siapa dua orang yang tengah mencekalnya.
“Ratu Duyung, mengucaplah! Sebut nama Tuhan!” menyahuti Anggini yang berada di sebelah kiri.
“Kami baru saja melepaskanmu dari penculikmu!”
“Lebih dari itu,” berucap Bidadari Angin Timur.
“Beruntung kau kami lepaskan dari aib besar!”
“Kalian berdua apa sudah gila? Kalian sadar apa yang barusan kalian ucapkan?!” Anggini dan Bidadari Angin Timur jadi saling pandang. Ratu Duyung menyusul ucapannya tadi.
“Nenek muka seram itu bukan penculik! Justru dia yang menyelamatkan diriku dari penculik sebenarnya! Gila! Aib besar apa yang telah aku perbuat?”
“Kami… kami lihat kau berpeluk bermesramesra dengan nenek itu. Bagaimana mungkin kalian yang sesama jenis….”
“Benar-benar gila! Kalian berdua salah duga! Tunggu! Nanti aku jeiaskan pada kalian!” Saat itu Ratu Duyung menyaksikan bagaimana Pedang Naga Suci 212 di tangan Puti Andini bertabur laksana curahan hujan menyerbu mengurung Gondoruwo Patah Hati hingga si nenek kelihatan terdesak hebat. Meski diserang gencar habishabisan namun Gondoruwo Patah Hati masih sanggup bertahan sambil sesekali lepaskan pukulan tangan kosong sangat berbahaya. Jika perkelahian itu tidak segera dihentikan, salah satu dari keduanya pasti akan celaka.
“Brettt!”
Ujung jubah hitam lengan kiri si nenek terbabat putus.
“Bukkk!”
Bahu kiri Puti Andini kena dihajar pukulan lawan. Walau tidak telak, hanya terserempet tapi cukup membuat Puti Andini melintir. Selagi dia berusaha mengimbangi diri tahu-tahu lengan kanannya yang memegang pedang sudah kena dicekal lawan. Lima kuku panjang mencengkeram pergelangannya. Kalau si nenek mau sekali meremas lima kuku itu akan masuk amblas ke dalam daging lengan sampai ke tulang. Tapi anehnya walau dalam keadaan marah besar si nenek tidak melakukan hal itu. Sebaliknya Puti Andini merasa tidak sanggup lepaskan tangan dari cekalan, dengan cepat hantamkan sikut kirinya ke rusuk lawan. Si nenek menangkis dengan menyambut serangan itu dengan telapak tangan kiri. Melihat Puti Andini tidak berdaya bahkan bisa celaka di tangan lawan, Bidadari Angin Timur dan Anggini segera lepaskan cekalannya pada Ratu Duyung lalu melompat seraya lepaskan pukulan tangan kosong ke arah si nenek.
“Bukk!” “Bukk!”
Dua pukulan keras melabrak tubuh Gondoruwo Patah Hati. Sosok si nenek terpental, bergulingan di tanah tapi sesaat kemudian sosok itu melesat ke atas, melompat dan tegak berdiri sambil menyeringai. Pedang Naga Suci 212 yang tadi ada dalam genggaman Puti Andini kini berada dalam pegangan tangan kanan si nenek.
“Penculik keparat! Kembalikan pedangku!” teriak Puti Andini. Bidadari Angin Timur dan Anggini ikut membentak. Tiga gadis itu kemudian serentak menyerbu si nenek. Saat itulah Ratu Duyung berkelebat memapaki gerakan tiga sahabatnya sambil dorongkan dua tangannya.
“Teman-teman! Tahan!” Tubuh Puti Andini, Bidadari Angin Timur dan Anggini seolah tertahan oleh satu tembok semu, tak dapat meianjutkan serangan.
“Ratu Duyung, kau pasti telah kena digunagunai nenek muka setan itu. Kami hendak menolongmu dari tangan jahatnya, kau malah membelanya!” berkata Puti Andini.
“Teman-teman. Kalian salah menduga! Nenek itu bukan penculikku. Justru dia yang menyelamatkan diriku dari tangan penculik sebenarnya! Yang menculikku bukan dia, tapi pemuda bernama Damar Wulung!” Kagetlah tiga gadis itu di hadapan Ratu Duyung. Tapi juga ada rasa kurang percaya.
“Damar Wulung?!” ujar Bidadari Angin Timur.
“Bukankah dia pemuda yang siang tadi menolong kita dari tangan para penjahat? Mengapa sekarang tahu-tahu….” Saat itu Gondoruwo Patah Hati telah berdiri di hadapan Puti Andini. Dia pandangi si gadis lalu perhatikan Pedang Naga Suci 212 di tangan kanannya.
“Pedang bagus…. Bukan saja sakti mandraguna tapi juga sarat dengan riwayat….” Si nenek angsurkan senjata itu pada Puti Andini sambil tersenyum dan kedipkan matanya.
“Ketika kau belum dilahirkan, aku sudah mendengar riwayat pedang ini. Bahkan aku adalah sahabat salah seorang pewarisnya. Gadis cantik, kau beruntung menjadi pewaris berikutnya. Terima kembali pedangmu!” Puti Andini sesaat jadi terkesima mendengar kata-kata Gondoruwo Patah Hati.
“Kau nenek penculik…. Aku…. An!”
“Ambil dulu pedang ini! Kalau aku berubah pikiran, ingin memiliki dan melarikannya. Sampai diliang kubur kau tak bakalan mendapatkannya kembali! Hik… hik… hik!” Puti Andini sadar. Cepat-cepat dia mengambil senjata itu. Dia ingat satu hal. Pedang Naga Suci bukan senjata sembarangan. Jika ada orang yang ingin berbuat jahat hendak memiiikinya, bahkan seorang yang dianggap tidak suci atau tidak perawan lagi, maka tangannya akan terkelupas hangus dimakan hawa sakti yang ada dalam pedang. Sambil pegangi Pedang Naga Suci 212 Puti Andini membatin.
“Nenek muka setan ini, tangannya tidak terkelupas tidak cidera. Berarti dia memang tidak punya niat jahat. Lalu, apakah seusia begini lanjut dia masih perawan?”
“Anak gadis, apa yang ada dalam benakmu?” Gondoruwo Patah Hati bertanya. Suaranya penuh kelembutan.
“Nek, apakah kau… kau…?” Si nenek tertawa lebar,
“Aku tahu apa yang hendak kau tanyakan. Simpan dulu pertanyaanmu itu. Satu hari kau bakal menemukan jawabannya. Sekarang di hadapan teman-temanmu aku ingin bertanya, apakah kau masih menuduhku sebagai penculik?” Puti Andini jadi bingung sendiri, tak bisa menjawab.
“Kami melihat kalian bermesraan. Kami menduga kalian tengah melakukan hubungan yang tidak wajar!” Bidadari Angin Timur berucap. Si nenek kembali tertawa.
“Kalau sahabatmu ini punya kelainan, masakan dia mau-mauan dengan seorang tua bangka bermuka seram seperti diriku? Pasti dia akan mencari gadis cantik seusia atau lebih muda dari dirinya.” Gondoruwo Patah Hati berpaling pada Puti Andini lalu berkata.
“Tenangkan jalan pikiran dan hatimu! Ingat baik-baik apa yang sebelumnya terjadi. Aku yakin kau bakal tahu kalau aku ini bukan penculik keji itu….” Puti Andini merenung sejenak. Sesaat kemudian dia berkata.
“Ya, aku ingat sekarang Nek. Maafkan diriku….”
“Jangan buru-buru minta maaf. Cerita saja apa adanya,” kata Gondoruwo Patah Hati pula.
“Waktu itu aku dan teman-teman berada di sebuah kuil. Mereka mungkin sudah terlelap dalam tidur nyenyak. Aku sendiri sulit memejamkan mata. Lalu di halaman kulihat ada kepulan asap, berhembus memasuki kuil. Lalu samar-samar kulihat ada orang di halaman, melangkah memasuki kuil. Karena gelap aku tidak dapat melihat wajahnya….”
“Wajahnya tidak kau lihat, tapi sosoknya pasti kau kenali. Apakah dia mengenakan jubah hitam seperti yang aku kenakan?” Puti Andini menggeleng.
“Apakah dia seorang perempuan, seorang nenek tua buruk seperti diriku?” Puti Andini terdiam, lalu kembali gelengkan kepala.
“Aku sadar sekarang. Orang yang memasuki kuil itu adalah seorang lelaki. Dia berhenti di hadapanku, lalu mendekati salah seorang sahabatku. Lalu bergerak ke tempat Ratu Duyung. Mendukung sahabatku di atas bahunya lalu melarikannya. Aku hendak mengejar tapi tangan dan kakiku lumpuh, kepala terasa berat, pemandangan berkunang. Untung aku kemudian masih mampu membebaskan diri dari hawa aneh yang menguasai tubuhku. Aku segera membangunkan dua sahabatku. Ternyata mereka bukan cuma tidur tapi dalam keadaan setengah pingsan. Aku berhasil memulihkan keadaan mereka lalu melakukan pengejaran….”
“Kau beruntung. Ketika asap pehyirap memasuki kuil kau berada dalam keadaan terjaga hingga racun jahat tidak banyak terhirup ke dalam jalan darahmu. Tapi dua temanmu ini masih mengindap cukup banyak hawa beracun dalam tubuhnya. Aku akan menolong keduanya. Cuma sekarang aku ingin tahu, apakah kau dan kawankawanmu masih menuduh aku sebagai penculik?”
“Maafkan aku dan teman-teman Nek. Kau, kau bukan penculik Ratu Duyung…” jawab Puti Andini.
“Kalau begitu siapa yang telah menculik sahabat kami? Apa kau tahu orangnya?” tanya Bidadari Angin Timur.
“Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, apa aku boleh mengetahui satu persatu siapa kalian bertiga yang jadi sahabat Ratu Duyung?”
“Aku Puti Andini. Maafkan diriku tadi telah menyerangmu habis-habisan….” Si nenek tertawa.
“Kalau tak salah kau gadis berkepandaian tinggi dari Pulau Andalas….”
“Aku Bidadari Angin Timur.”
“Hemmm…. Rambut pirang, tubuh menebar bau wangi, pakaian warna biru, tubuh tinggi semampai dan ada lesung pipit di pips. Aku sudah menduga sejak tadi kau adalah gadis cantik yang dijuluki Bidadari Angin Timur….”
“Aku Anggini….”
“Anggini!” si nenek kerenyitkan kening.
“Namamu mengingatkan aku pada satu kisah yang pernah diriwayatkan oleh seorang sahabat. Kisah perjodohan antara kau dengan seorang pemuda gagah berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212….” Wajah Anggini serta merta bersemu merah. Puti Andini sengaja alihkan pandangan ke jurusan lain. Ratu Duyung tundukkan kepala. Hanya Bidadari Angin Timur yang melontarkan lirikan, memperhatikan sikap Anggini. Jelas bayangan kecemburuan tak bisa disembunyikan si cantik berambut pirang ini. Si nenek tertawa perlahan.
“Dalam keadaan seperti ini harap maafkan kalau aku bermulut lancang membicarakan urusan pribadi orang. Empat gadis cantik! Kalian berada jauh dari tempat kediaman masing-masing. Apa yang tengah kalian lakukan? Kalian mencari sesuatu?”
“Kami dalam perjalanan menuju Gunung Gede,” jawab Anggini.
“Gunung Gede! Itu adalah pertapaan tempat kediaman Sinto Gendeng, guru Pendekar 212!” kata si nenek lalu pandangi wajah empat gadis itu satu persatu. Dalam hati dia membatin.
“Empat gadis cantik… dari bayangan di balik wajahmu aku tahu hati kalian sama tertambat pada pemuda itu. Entah siapa yang beruntung diantara kalian yang bakal dapat menjadikan dirinya sebagai teman hidup.”
“Kami memang tengah mencari pemuda sahabat kami itu, Nek,” kata Ratu Duyung. Lalu dia menceritakan riwayat dua makam setan yang telah mereka temui di Kopeng dan Banyubiru serta maksud perjalanan menuju puncak Gunung Gede.
“Kisah aneh tapi nyata. Di balik keanehan dan kenyataan itu kalian harus berhati-hati. Aku punya firasat ada seseorang tengah menyiasati jebakan berbahaya. Karena ketahuilah, beberapa waktu lalu aku telah berjumpa dengan Pendekar 212 Wiro Sableng yang kalian cari.”
“Hah?!” Empat mulut bagus sama keluarkan seruan kaget.
“Dimana kau menemui dia Nek?!” tanya Anggini.
“Jadi Wiro masih hidup!” ujar Bidadari Angin Timur. Gondoruwo Patah Hati lalu menuturkan pertemuannya dengan Wiro di satu kaki bukit. Tak lupa dia menceritakan bagaimana secara tidak terduga muncul rombongan orang-orang Kerajaan hendak menangkap murid Sinto Gendeng itu.
“Kami berdua berhasil memperdayai para tokoh silat Kerajaan dan melarikan diri. Bukan itu saja. Banyak korban berjatuhan di pihak lawan. Kini aku dan pemuda itu menjadi buronan Kerajaan. Sial dan celakanya hidup ini. Hik… hik… hik!” Si nenektertawa cekikikan.
“Lalu bagaimana dengan kabar bahwa dia sebenarnya sudah mati dua tahun lalu?” Puti Andini ikut bicara.
“Mungkin….” Anggini tidak meneruskan ucapannya.
“Mungkin apa?” tanya Bidadari Angin Timur.
“Mungkin Wiro memang sebenarnya sudah menemui kematian. Yang ditemui si nenek adalah arwahnya yang gentayangan…” jawab Anggini.
“Berani dan teganya kau berkata seperti itu!” kata Bidadari Angin Timur.
“Maksudku bukan apa-apa. Semua yang terjadi jauh dari jangkauan akal.” Ratu Duyung cepat menengahi sebelum terjadi pertengkaran antara Bidadari Angin Timur dan Puti Anggini.
“Ada orang sangat jahat menyiasati kita. Ingin mencelakai kita berempat!”
“Nek, jika Wiro masih hidup, seteiah berpisah dengan dirimu, apakah dia memberitahu apa yang hendak dilakukannya? Kemana dia hendak pergi?” bertanya Puti Andini.
“Pendekar seperti dia sukar diduga apa yang hendak dilakukan. Dicari sulit setengah mati. Tidak dicari muncul sendiri. Tapi aku punya dugaan karena semua prasangka datang dari Kerajaan maka dia mungkin akan masuk ke dalam lingkaran Kerajaan. Bukan mustahil dia akan menyusup ke Kotaraja.” Empat gadis sama terdiam. Tak terasa meluncur ucapan Anggini.
“Kalau saja Kotaraja dekat dari sini….”
“Gunung Gede tak berapa jauh lagi. Kalau kita menuju Kotaraja sekarang sama saja mencari kesia-siaan,” kata Puti Andini pula.
“Para sahabat,” kata Bidadari Angin Timur.
“Apapun yang kini kita ketahui, satu hal harus tetap kita lakukan. Menyelidik sampai ke puncak Gunung Gede dimana Makam Ke Tiga berada….”
“Empat gadis cantik. Apapun yang kalian lakukan agar selalu hati-hati…” kata Gondoruwo Patah Hati. Sesaat tempat itu tenggelam dalam kesunyian sampai akhirnya Bidadari Angin Timur berkata.
“Nek, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Yaitu siapa sebenarnya yang telah menculik sahabat kami Ratu Duyung?” Si nenek memandang sebentar ke arah Ratu Duyung. Melihat cara memandang si nenek Anggini, Puti Andini dan Bidadari Angin Timur segera memaklumi kalau sahabat mereka satu itu sebenarnya sudah tahu siapa penculik dirinya. Gondoruwo Patah Hati menghela nafas panjang. Dengan suara tabah dia berkata.
“Aku tidak malu mengatakan. Orang yang menculik sahabat kalian itu adalah seorang pemuda yang kalian kenal dengan nama Damar Wulung. Dia adalah muridku sendiri….” Tiga pasang mata terpentang lebar. Tiga orang gadis langsung menunjukkan sikap waspada. Melihat gerakan-gerakan yang dibuat tiga temannya Ratu Duyung cepat berkata.
“Nenek ini telah mengambil keputusan untuk mencari dan menghukum muridnya. Harap kalian tidak menaruh syak wasangka buruk lagi terhadapnya….”
“Nek, kalau aku boleh tanya, siapakah kau sebenarnya?” Si nenek menatap paras Bidadari Angin Timur yang barusan mengajukan pertanyaan.
“Dalam rimba persilatan aku dikenal dengan nama Gondoruwo Patah Hati,” jawab si nenek. Bidadari Angin Timur dan Puti Andini tidak memberikan kesan apa-apa pada wajah masingmasing. Lain halnya dengan Anggini yang telah lebih lama malang melintang dalam rimba persilatan dibanding tiga gadis sahabatnya itu. Walau tidak banyak, dari kakeknya Dewa Tuak, dia pernah mendengar riwayat tentang nenek satu ini. Satu pikiran terlintas dalam benak Anggini. Dia segera mendekati Ratu Duyung.
“Nek,” Puti Andini berucap.
“Ada satu hal yang masih belum masuk dalam jalan pikiranku. Siang tadi Damar Wulung menolong kami dari tangan sembilan penjahat. Mengapa sekarang dia berbalik hendak berbuat jahat terhadap kami?” Gondoruwo Patah Hati menarik nafas panjang.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan anak itu. Sejak dia menjadi budak nafsu Dewi Ular pikirannya boleh dikatakan tidak waras lagi. Sesaat dia bisa menjadi orang baik. Di lain kejap dia bisa berubah menjadi manusia laknat paling terkutuk di muka bumi ini.” Saat itu Anggini telah berada di samping Ratu Duyung. Dia segera berbisik.
“Lekas kau pergunakan llmu Menembus Pandang. Aku menaruh duga….”
“Aku mengerti maksudmu,” jawab Ratu Duyung berbisik. Lalu segera kerahkan aliran darah disertai hawa sakti ke arah sepasang matanya yang biru. Gondoruwo Patah Hati diam-diam memperhatikan bisik-bisik antara dua gadis cantik di hadapannya itu. Ketika dia melihat ada kilatan cahaya aneh di mata biru Ratu Duyung, perempuan tua yang luas pengalaman ini segera maklum. Orang hendak melakukan sesuatu padanya. Maka dengan cepat dia berkata.
“Empat gadis cantik sahabatku, aku harus melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi aku akan memberikan empat butir obat. Harap kalian menelannya satu seorang. Mudah-mudahan hawa beracun yang telah kalian hirup akan bersih dari jalan darah dan pernafasan kalian!” Habis berkata begitu si nenek lemparkan empat butir benda berbentuk hitam. Dia sengaja melemparkan ke arah Ratu Duyung yang sedang memusatkan diri untuk mengerahkan llmu Menembus Pandang. Karena obat dilemparkan ke arahnya mau tak mau Ratu Duyung gerakkan tangan menyambuti. Akibatnya pusat perhatian yang tengah diiakukan untuk pengerahan ilmu menjadi buyar. Begitu sang Ratu menyambuti empat butir obat yang dilemparkan dengan dua tangannya, nenek bermuka setan sudah berkelebat lenyap dari pemandangan. Di timur langit kelihatan mulai terang kemerahan. Ratu Duyung menarik nafas kecewa.
“Nenek cerdik itu. Dia sengaja melemparkan obat ke arahku. Pikiranku buyar. Aku tak sempat mengerahkan llmu Menyusup Pandang. Aku tak dapat mengetahui siapa dia sebenarnya….”

212

DUA KUDA penarik gerobak dipacu tiada henti. Siang itu panasnya udara bukan alang kepalang. Matahari seolah berada di atas kepala. Sore memasuki malam cuaca mendadak berobah. Awan tebal membentuk mendung menutupi langit. Dalam gelapnya udara hujan lebat turun mengguyur bumi.
“Cari tempat berteduh. Kita harus mencari perlindungan. Kuda perlu istirahat!” berseru Bidadari Angin Timur.
“Gunung Gede sudah di depart mata. Apapun yang terjadi malam ini kita harus sampai di puncaknya!” menjawab Anggini yang duduk di depan gerobak bersama Puti Andini.
“Jangan toiol. Di udara seburuk ini sulit melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Kalaupun kita sampai di sana, keadaan bisa membuat kita lengah. Paling tidak tunggu sampai hujan berhenti. Tengah malam kita lanjutkan perjalanan agar sampai dipuncak gunung menjelang terbitnya sang surya!” Anggini tidak setuju pada ucapan Bidadari Angin Timur itu. Ratu Duyung diam saja.
“Bagaimana pendapatmu?” tanya Anggini pada Puti Andini. Puti Andini yang memegang tali kekang dua ekor kuda tak menjawab. Tapi tanpa bicara gadis ini kemudian membelokkan gerobak ke arah sederetan pohon bambu di tepi kanan jalan ialu menghentikan kuda. Hujan masih terus turun malah makin deras.
“Ada payung kenapa tidak dipergunakan?!” Bidadari Angin Timur mengambil keranjang besar berisi tujuh buah payung milik Puti Andini.
Puti Andini memperhatikan apa yang dilakukan Bidadari Angin Timur, tidak melarang, tidak mengucapkan apa-apa. Bidadari Angin Timur kemudian membagibagikan payung dalam keranjang. Puti Andini sendiri ikut menerima payung berwarna hitam. Empat gadis pergunakan payung untuk melindur.g! kepala dan tubuh masing-masing dari curahan air hujan dan tetap berada di atas gerobak. Menjelang dinihari, gelapnya udara dan dinginnya malam serta fetihnya tubuh membuat ke empat gadis itu terduduk di tempat masing-masing setengah tertidur setengah jaga. Satu saat tiba-tiba salah seekor kuda penarik gerobak meringkik keras. Gerobak bergoyang. Bidadari Angin Timur dan teman-temannya tersentak kaget. Mereka geserkan payung masing-masing ke atas, memperhatikan bagian depan gerobak.
“Ada apa?” tanya Anggini.
“Tak ada apa-apa. Hanya kuda meringkik,” jawab Bidadari Angin Timur. Dia mengawasi Ratu Duyung di pojok kiri gerobak sementara Puti Andini tenggelam di balik payung besar hitam. Hujan besar mulai surut mengecil.
“Hatiku tidakenak…” berucap Anggini.
“Siapa yang enak dalam keadaan seperti ini? Dingin, geiap dan basah kuyup,” jawab Bidadari Angin Timur. Gadis ini luruskan dua kakinya yang terasa pegal.
“Kita semua ketiduran. Sudah lewat tengah malam. Mungkin hampir pagi. Kita harus melanjutkan perjalanan sekarang juga.” Anggini menggeliat lalu membangunkan Ratu Duyung.
“Tidurmu nyenyak amat. Apa tadi tidak tahu kuda meringkik, gerobak bergoyang oleng?!” menegur Anggini.
“Siapa bilang aku tidur. Aku mendengar kuda meringkik. Juga merasakan gerobak bergoyang. Tapi malas bangun. Dinginnya udara. Uh… pakaianku nyaris kuyup semua….”
“Kita berangkat sekarang. Hai! Sahabat kita Puti Andini masih enak-enakan tidur. Perlu dibangunkan.” Bidadari Angin Timur lalu mendekat ke sudut gerobak tempat Puti Andini duduk tertidur. Diangkatnya payung hitam besar yang melindungi sosok Puti Andini. Begitu payung tersingkap kagetlah Bidadari Angin Timur. Kosong! Puti Andini tidak ada di sudut gerobak itu! Tiga gadis heboh besar. Apa yang terjadi? Ketiganya saling pandang. Anggini mulai berteriak memanggil-manggil. Tapi tak ada jawaban. Puti Andini tak kunjung muncul.
“Kita cari sekitar sini,” kata Bidadari Angin Timur. Lalu dia melompat turun dari gerobak diikuti Anggini dan Ratu Duyung. Mereka mencari sampai beberapa jauh sekitar gerobak. Tapi Puti Andini tidak ditemukan.
“Tadi kuda gerobak meringkik. Sepertinya melihat sesuatu…” ujar Anggini.
“Sulit diduga apa yang terjadi. Apa yang dilakukan Puti Andini?” kata Ratu Duyung pula.
“Mungkinkah dia meninggalkan kita secara diamdiam?” menduga Ratu Duyung.
“Kalau dia punya niat seperti itu, mustahil dia meninggalkan tujuh payung senjata andalannya begitu saja,” jawab Bidadari Angin Timur.
“Tapi apakah kalian tidak memperhatikan? Sejak dia mengetahui yang menculik diriku adalah pemuda bernama Damar Wulung itu, sikapnya jadi berubah. Dia lebih banyak diam. Kelihatannya dia menyukai pemuda itu. Mungkin hatinya jadi hancur dan pikirannya jadi kacau.”
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Anggini.
“Tunggu sampai matahari terbit. Kalau sampai siang datangif dia tidak juga muncul, kita terpaksa meninggalkannya. Meneruskan perjalanan menuju puncak Gunung Gede.”
“Tidak berusaha mencarinya lebih dulu?” tanya Ratu Duyung.
“Waktu kita tidak banyak. Mungkin setelah turun dari Gunung Gede kita baru ada kesempatan mencarinya….”
“Hatiku tidak enak…” kata Anggini.
“Semua kita merasakan seperti itu,” jawab Bidadari Angin Timur.
“Yang aku khawatirkan pemuda jahanam bernama Damar Wulung itu muncul lagi malam tadi. Menculik Puti Andini…” kata Ratu Duyung.
“Sayang, cermin saktiku dicuri Damar Wulung. Kalau tidak pasti bisa membantu mencari gadis itu.” Sampai sang surya muncul esok paginya, Puti Andini tetap tidak muncul, juga tidak diketahui dimana beradanya. Bidadari Angin Timur merapikan perbekalannya. Lalu dia pindah duduk ke bagian depan gerobak bertindak sebagai sais.
“Terus terang, ada semacam ganjalan kalau kita melanjutkan perjalanan tanpa mengetahui nasib sahabat kita Puti Andini….” Mendengar ucapan Anggini itu Bidadari Angin Timur menjawab.
“Kalau begitu rombongan kita pecah dua. Rombongan pertama mencari Puti Andini. Rombongan kedua melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede. Kalian silahkan memilih!” Tak ada jawaban.
Melihat hal ini Bidadari Angin Timur segera mencabuk punggung dua ekor kuda. Gerobak serta merta bergerak. Dalam perjalanan selanjutnya ketiga gadis itu jarang bercakap-cakap. Mereka seperti tenggelam dalam pikiran masingmasing. Di satu tempat di kaki gunung perjalanan tak mungkin lagi dilanjutkan dengan gerobak. Tiga gadis turun dari gerobak, mengerahkan ilmu kepandaian masing-masing, berlari menuju puncak Gunung Gede. Anggini mendapat tugas membawa keranjang besar berisi payung tujuh warna milik Puti Andini. Walau sudah ada jalan setapak dan walau Anggini sebelumnya sudah pernah naik ke puncak Gunung Gede namun tetap saja tiga gadis itu tidak bisa bergerak cepat. Baru lewat tengah hari mereka akhirnya sampai di puncak gunung. Matahari bersinar terik tapi udara terasa sejuk.
“Dimana kira-kira letak makam ke tiga itu?” untuk pertama kalinya Ratu Duyung membuka pembicaraan setelah sekian lama tiga gadis berdiam diri.
“Bagaimana kalau mencari tempat kediaman Eyang Sinto Gendeng lebih dulu!” ujar Anggini.
“Lebih baik begitu. Kalau nenek sakti itu ada di pondoknya siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk. Tidak mustahil dia tahu seluk beluk semua kejadian ini. Lagi pula bukankah kau sudah pernah ke sana dan tahu jalan?” Anggini mengangguk mendengar kata-kata Ratu Duyung. Dia lalu berjalan lebih dulu ke arah timur. Dua gadis lainnya mengikuti dari belakang. Cukup lama menempuh perjalanan di puncak gunung karena dihadang oleh semak belukar lebat akhirnya tiga gadis sampai di satu tempat datar.
“Itu pondoknya!” Anggini hentikan langkah, menunjuk ke sebuah bangunan kayu di ujung kiri pedataran.
“Sepi, rumput liar telah setinggi lutut di sekitar bangunan. Tak ada yang memelihara. Berarti tak ada yang diam di pondok itu….” Bidadari Angin Timur berkata sambil mengawasi.
“Mari kita selidiki,” kata Anggini pula. Tiga gadis mendekati pondok kayu di ujung pedataran kecil. Mereka sampai di depan pondok. Pintu kayu tertutup. Rumput setinggi betis dan lumut menutupi undak-undak batu di depan pintu. Bidadari Angin Timur mengajak teman-temannya ke samping kanan pondok. Dia berjalan di sebelah depan, dua gadis iainnya mengikuti di sebelah belakang. Baru saja melewati ujung dinding pondok, memasuki halaman di samping kanan bangunan, Bidadari Angin Timur menjerit keras dan tersurut mundur. Muka pucat, mata mendelik besar menatap ke depan. Gadis ini menjerit sekali lagi lalu tekap wajahnya dengan dua telapak tangan dan jatuh berlutut.
“Bidadari Angin Timur! Ada apa?!” Anggini dan Ratu Duyung melompat. Keduanya hendak menolong mendirikan Bidadari Angin Timur, namun gerakan mereka serta merta terhenti. Seperti Bidadari Angin Timur tapi dua gadis ini menjerit keras, begitu mata mereka membentur satu pemandangan yang menyayat hati di seberang sana.
“Ya Tuhan!” mengucap Ratu Duyung.
“Gusti Allah! Mengapa kau biarkan kebiadaban ini terjadi?!” ujar Anggini lalu menggerung. Di depan sana, di ujung halaman samping pondok kayu terdapat onggokan tanah merah berbentuk satu makam yang masih baru. Di salah satu ujung menancap papan nisan sangat besar bertuliskan:

“DISINI BERISTIRAHAT UNTUK SELAMANYA PENDEKAR 212 WIRO SABLENG.”

Papan dan tulisan di atas papan itu masih baru. Tetapi bukan onggokan tanah kuburan yang masih merah, atau papan nisan bertuliskan nama Wiro Sableng yang membuat tiga gadis tadi menjerit. Di belakang papan nisan ada satu tiang besar. Pada tiang ini terikat sosok Puti Andini. Pakaian yang melekat di tubuhnya tak karuan rupa, membuatnya nyaris tidak mengenakan apa-apa. Pada bagian tubuh yang tersingkap kelihatan bekas-bekas luka mengerikan. Satu luka memanjang membelintang di pipi kirinya. Darah yang hampir mengering menutupi sebagian wajah serta tubuh dan pakaiannya.
“Puti… Puti Andini…” ucap Anggini perlahan.
“Kasihan…. Kasihan sekali. Kita harus menolong. Kita harus turunkan tubuhnya. Mudah-mudahan dia masih hidup. Ya Tuhan siapa yang tega-teganya melakukan kebiadaban ini?!” Lutut Bidadari Angin Timur goyah ketika dia berusaha berdiri. Saling berangkulan tangan, sambil bertangisan tiga gadis itu melangkah mendekati makam. Makam Ke Tiga!

TAMAT
EPISODE BERIKUTNYA :
SENANDUNG KEMATIAN

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog