Friday, March 20, 2009

Jagal Iblis Makam Setan

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : TUA GILA DARI ANDALAS

SATU

SEPASANG mata Sika Sure Jelantik bergerak liar menatap tajam ke arah kegelapan di eliling gubuk di mana dia berada. Pendekar 212 Wiro Sableng terbujur di tanah lam keadaan kaku karena ditotok oleh si nenek.
Aneh, jelas barusan aku mendengar suara orang! Juga suara tawa keparatnya! Tapi mana bangsatnya?!” Sika Sure Jelantik memaki dalam hati. Ke dua matanya terus meliar coba menembus kegelapan. Tetap saja dia tidak melihat apa-apa. “Jangan-jangan suara angin menipu pendengaranku!” Lalu perempuan tua ini kembali palingkan wajahnya ke arah murid Sinto Gendeng. Dia memandang berkeliling sekali lagi lalu dengan cepat ulurkan ke dua tangannya untuk menanggalkan jubah sakti Kencono Geni yang dikenakan Wiro.
Saat itulah kembali dari dalam gelap terdengar suara tertawa cekikikan. “Hik… hik! Nenek tak tahu diri! Kau masih mau meneruskan maksudmu membugili pemuda itu?! Hik… hik!”
Sika Sure Jelantik pukulkan tangan kanannya ke tanah hingga tanah itu membentuk lobang dan salah satu tiang gubuk bergoyang keras lalu jatuh ke tanah. Dengan marah si nenek membentak.
“Manusia atau setan sekalipun! Kenapa sembunyikan diri di dalam gelap! Unjukkan tampangmu!”
“Sika, tinggalkan pemuda itu. Kau tak bakal dapat apa-apa darinya!” Orang di dalam gelap menjawab ucapan si nenek.
“Hemmm… Kau tahu namaku! Berarti kau seorang yang aku kenal! Jangan terlalu pengecut memperlihatkan diri!”
“Jika itu maumu, apa susahnya! Tapi jangan kecewa karena kau tak bakalan bisa melihat wajahku!” jawab suara dalam gelap. Lalu terlihat satu bayangan hitam berkelebat disertai suara siuran angin. Tahu-tahu di depan gubuk yang kini atapnya miring karena salah satu tiangnya roboh, duduk menjelepok di tanah seorang berpakaian serba hitam. Seperti dikatakannya tadi si nenek tak bakal melihat wajahnya. Karena orang ini duduk sambil menutup mukanya dengan ke dua tangan. Meski Sika Sure Jelantik memang tidak dapat melihat wajah orang itu namun dia sudah mengetahui siapa dia adanya.
“Iblis Pemalu! Permainan konyol apa yang sedang kau lakukan saat ini?! Ucapan-ucapanmu tadi benar-benar membuatku marah! Kalau bukan kau orangnya saat ini pasti kau sudah kubunuh!”
“Nenek Sika, aku malu! Justru aku yang harus bertanya. Permainan konyol apa yang hendak kau perbuat terhadap pemuda itu!”
“Apa urusanku tak perlu kau banyak cingcong! Kau menunjukkan sikap aneh. Bukankah kita sebelumnya datang dalam satu rombongan bersama dua teman lainnya? Mana Pengiring Mayat Muka Hijau dan Datuk Gadang Mentari?!”
Sambil terus menutupi wajahnya dibalik dua tangan, Iblis Pemalu menjawab. “Aku malu tak dapat mengatakan dimana adanya Pengiring Mayat Muka Hijau. Tapi si Datuk Gadang Mentari sudah mati menemui ajal! Memalukan sekali datang jauh-jauh dari tanah seberang hanya mencari mati di tanah Jawa! Bukankah kau sendiri menyaksikan kematiannya di lembah batu itu?”
“Jadi gadis bernama Anggini, murid tua Gila itu benar-benar membunuh sahabat kita Datuk Gadang Mentari….”
“Huss…! Jangan berkata yang memalukan! Tua bangka itu bukan sahabatku. Aku berada bersama rombongannya hanya ikut-ikutan saja!”
“Rupanya kau bukan cuma seorang pemalu. Tapi juga pengkhianat. Teman dibunuh orang kau biarkan saja!”
“Datuk Gadang Mentari bukan temanku! Kau juga bukan temanku! Aku malu berteman dengan kalian!”
Wiro Sableng yang sejak tadi mendengar percakapan ke dua orang itu diam-diam merasa aneh melihat perubahan sikap orang berjuluk Iblis Pemalu itu. Untuk menyelidik tentu saja tidak mungkin. Tahu kalau kini Iblis Pemalu tidak lagi sehaluan dengan si nenek maka murid Sinto Gendeng ini lantas tertawa bergelak.
“Nenek jelek! Kau dengar orang tak mau berteman denganmu! Aku saja yang orang lain merasa malu! Apa kau tidak merasa malu?!”
“Tutup mulutmu! Jangan ikut campur urusanku!” bentak Sika Sure Jelantik marah sekali hingga sekujur tubuhnya bergetar. Dia berpaling pada Iblis Pemalu yang saat itu tertawa cekikikan mendengar ucapan Wiro.
“Mana dia merasa malu!” ujar Iblis Pemalu.
“Nenek tua ini tidak punya kemaluan! Astaga! Maksudku tidak punya rasa malu! Hik… hik… hik!”
“Aku tidak merasa rugi tidak menjadi sahabatmu! Kalau kau tidak berteman denganku, harap lekas angkat kaki dari sini! Jangan membuat aku muak!” Membentak Sika Sure Jelantik pada Iblis Pemalu dengan mata dipelototkan.
“Ah, diriku bisa membuatmu jadi muak! Memalukan sekali! Kalau kau memang muak melihatku, sebelum kau muntah apa salahnya kau saja yang minggat dari sini?! Atau mungkin itu kau anggap sesuatu yang memalukan?!”
Semakin marah Sika Sure Jelantik mendengar kata-kata Iblis Pemalu itu. Namun dia masih bisa menimbang. Kalau memperturutkan kemarahannya mau saat itu dia menghantam dan membunuh Iblis Pemalu dengan pukulan Kuku Kilat Akhirat. Namun dari pada mencari perkara lebih baik mengalah dan membawa Wiro Sableng dari tempat itu. Maka tanpa banyak bicara dia segera membungkuk, siap memanggul tubuh Pendekar 212. Tapi di sampingnya Iblis Pemalu terdengar berkata.
“Aku memintamu pergi seorang diri! Tidak membawa serta pemuda itu! Jangan melakukan hal yang memalukan nenek Sika!”
“Iblis Pemalu, harap kau jangan keliwat menekan! Pemuda ini milikku! Aku boleh membawanya kemana saja! Aku boleh melakukan apa saja terhadapnya!”
“Memalukan sekali! Mana ada aturan seperti itu?!” ujar Iblis Pemalu dengan dua tangan masih terus dipergunakan menutupi, wajahnya.
Sika Sure Jelantik angkat kepalanya ke atas lalu keluarkan tawa panjang. “Sekalipun kau raja di raja rimba persilatan, jangan mengira kau bisa mengatur diriku! Jangan kau berani bergerak di tempatmu! Atau kau akan mampus percuma!”
Tanpa mengacuhkan Iblis Pemalu si nenek Sika Sure Jelantik dengan gerakan cepat menarik salah satu tangan Wiro hingga sosok murid Sinto Gendeng ini melayang ke atas dan “bluk!” Tahu-tahu sudah berada di atas bahu kirinya.
Iblis Pemalu ternyata tak tinggal diam. Sebelum Sika Sure Jelantik berkelebat pergi melarikan Wiro dia sudah berkelebat dan tegak menghadang jalan si nenek.
“Kau benar-benar mencari mampus!” hardik Sika Sure Jelantik. Tangan kirinya dihantamkan ke arah. Iblis Pemalu. Lima larik sinar sangat hitam menggebubu dalam gelapnya malam.
“Memalukan!” terdengar seman Iblis Pemalu.
“Memalukan!” ikut berteriak murid Sinto Gendeng. Dia sengaja memanasi si nenek.
Lima larik sinar maut terus mencuat dari lima kuku jari Sika Sure Jelantik.
“Mampus!” teriak si nenek sambil menyeringai ketika melihat bagaimana lima sinar mautnya hanya tinggal sejengkal lagi dari tubuh yang jadi sasaran!
Tapi laksana gaib ditelan bumi sosok Iblis Pemalu mendadak sontak lenyap dari pemandangan. Lima larik sinar hitam pukulan sakti Kilat Kuku Akhirat mendarat pada sebuah batu besar di depan serumpunan semak belukar. Batu dan semak belukar sama-sama mencelat berhamburan hancur beran
takan!
“Kurang ajar! Bagaimana mungkin dia bisa lolos dari pukulan saktiku!” ujar Sika Sure Jelantik dan cepat memutar tubuh memandang berkeliling.
“Nenek Sika, kau letakkan saja pemuda itu di tanah lalu pergi dari sini. Bukankah itu lebih baik bagimu dari pada berbuat lain yang bisa memberimu malu besar?!”
Si nenek cepat putar tubuhnya ke kiri. Dilihatnya Iblis Pemalu tegak di atas atap gubuk yang hampir rubuh. Tangan kiri berkacak pinggang sedang tangan kanan menutupi wajah.
“Kalau kau memang inginkan pemuda ini, mengapa kau tidak berani merampasnya dari tanganku? Pengecut memalukan!” Sika Sure Jelantik mengejek seraya keluarkan suara mendengus dari hidung dan mulutnya.
Iblis Pemalu, tertawa mengekeh seraya usap-usap wajahnya dengan tangan kanan.
“Aku sudah memberi kesempatan padamu. Tapi kau tidak mau mempergunakan! Sungguh memalukan! Jika kau inginkan aku merampas pemuda itu dari tanganmu lihat saja bagaimana jadinya!”
Habis berkata begitu tubuh Iblis Pemalu lenyap dari atas atap.
“Wutttt!”
Sika Sure Jelantik berseru kaget ketika tiba-tiba ada sambaran angin di samping kanan. Lalu ada satu tangan hendak mencengkeram tengkuk pemuda yang ada di panggulannya. Si nenek cepat membungkuk seraya hantamkan siku kanannya. Serangannya meleset. Tiba-tiba si nenek membuat gerakan berputar. Dengan mengandalkan kaki kirinya sebagai tumpuan Sika Sure Jelantik berputar dalam gerakan setengah lingkaran. Kaki kanannya menendang dan “bukk!”
Sosok Iblis Pemalu yang tadi ada di belakangnya mencelat kena hantaman kaki kirinya.
“Memalukan!” Iblis Pemalu berseru sambil menahan sakit. Tangan kiri memegang perutnya yang kena tendang sedang tangan kanan tetap menutupi wajahnya. Selagi dia berusaha mengimbangi diri Sika Sure Jelantik tak mau memberi kesempatan. Tangan kanannya dipukulkan. Lima larik Kilat Kuku Akhirat menyambar ke arah Iblis Pemalu.
“Tamatlah riwayatmu sekarang manusia sinting geblek!” teriak Sika Sure Jelantik dengan mata berkilat-kilat dan mulut sunggingkan senyum maut.
Di depan sana Iblis Pemalu tiba-tiba memutar tubuhnya. Dalam keadaan membelakangi lawan ke dua tangannya dipukulkan ke belakang.
“Wusss!”
“Wusss!”
Dalam gelap kelihatan dua larik cahaya putih bergulung-gulung membentuk dua lingkaran aneh. Sika Sure Jelantik berseru kaget ketika melihat lima larik sinar sakti pukulan Kilat Kuku Akhiratnya masuk ke dalam dua lingkaran cahaya putih, ikut tergulung lalu dua lingkaran putih bersama lima larik sinar hitam berbalik menghantam ke arahnya!
Dalam keadaan seperti itu Sika Sure Jelantik masih mampu berpikir cepat. Bukan dia saja yang harus menyelamatkan diri dari hantaman maut itu tapi Pendekar 212 Wiro Sableng juga harus diselamatkan. Kalau sampai pemuda itu menemui ajal tambah sulit baginya untuk mencari tahu di mana beradanya musuh besarnya si Tua Gila itu!
Maka si nenek pun melakukan satu hal yang hebat!

*
* *

DUA

SIKA Sure Jelantik lemparkan tubuh Pendekar 212 ke atas. “Hekkk!” Suara seperti orang muntah melesat keluar dari tenggorokan murid Sinto Gendeng ini begitu tubuhnya yang dilemparkan ke atas jatuh membelintang di atas cabang pohon. “
Tua bangka sialan!” maki Wiro. “Untung tubuhku nyangsrang di sini! Kalau amblas ke tanah pasti nyawaku tidak ketolongan!” Wiro memandang ke bawah. Cabang pohon dimana tubuhnya terbelintang tanpa bisa bergerak berada sejarak lebih empat tombak dari tanah! Rasa gamang dan ngeri karena khawatir akan jatuh sementara dirinya masih berada dalam keadaan tertotok membuat murid Sinto Gendeng ini seperti mau membuang hajat besar. “Nenek jelek! Turunkan aku dari atas pohon.”
Sika Sure Jelantik mana perdulikan teriakan Wiro. Begitu bahunya lepas dari beban sosok tubuh Wiro si nenek lesatkan dirinya ke atas. Gulungan cahaya putih dan sinar pukulan Kilat Kuku Akhirat lewat hanya setengah jengkal di bawah kakinya. Bagian bawah jubahnya terasa panas. Ketika dia meneliti ternyata ujung jubahnya telah berubah menjadi abu! Diam-diam tengkuk si nenek menjadi dingin, “iblis Pemalu. Aku mengenalnya baru satu minggu! Siapa makhluk aneh tapi dahsyat ini sebenarnya? Aku tak pernah melihat wajahnya. Tadi waktu melepaskan pukulan berbentuk dua gulungan sinar putih dia. pergunakan ke dua tangannya. Tapi dia sengaja membelakang hingga tampangnya tetap tidak kelihatan! Tanah Jawa benar-benar sarat dengan manusia berkepandaian tinggi!”
“Memalukan! Bagaimana mungkin seranganku tidak mengenai sasaran!” Iblis Pemalu mengomel. Saat itu dari atas dilihatnya Sika Sure Jelantik melayang turun. Sepasang kaki si nenek menghunjam ke arah kepalanya. Iblis Pemalu tak tinggal diam. Dua tangan menutup wajah. Dua kaki dihentakkan ke tanah. “Settt!” Tubuhnya lenyap. Tahu-tahu sudah berada di udara, membuat si nenek terkejut sekali karena lawan berada demikian dekat dengannya dan “wutt… wutt!” Dua kaki Iblis Pemalu menerjang ke depan. Dalam keadaan seperti itu tak ada jalan lain bagi Sika Sure Jelantik selain balas menghantam dengan ke dua kakinya pula.
Maka terjadilah perkelahian saling tendang di udara. Suara beradunya kaki terdengar tiada henti dan baru lenyap ketika Sika Sure Jelantik tampak limbung lalu jatuh terkapar di tanah tak kuasa bangkit kembali. Dia berusaha mengatupkan mulut rapat-rapat namun tak urung suara erangannya terdengar juga.
Iblis Pemalu melayang turun ke tanah. Untuk beberapa lamanya dia tampak tegak terbungkuk-bungkuk. “Memalukan…. Memalukan….” Kata-kata itu keluar dari mulutnya berulang kali. Kedua tangan menutupi wajah. Sepasang matanya memperhatikan Sika Sure Jelantik lewat celah-celah jarinya.
“Aku meminta pemuda itu secara baik-baik. Kau bersikap keras kepala. Memalukan! Sekarang lihat apa akibatnya! Berdiri pun kau tak sanggup! Dan aku sendiri! Huh! Rasanya mau putus kaki ini!”
Di atas pohon Wiro berteriak. “Sobatku iblis Pemalu! Jangan mengoceh saja! Tolong turunkan aku!”
Iblis Pemalu memandang ke atas pohon yang gelap. Lalu tertawa cekikikan. Dengan muka ditutupi ke dua tangannya dia balas berteriak. “Aku malu melihatmu di atas pohon sana! Memang tak ada tempat lain yang lebih baik bagimu! Hik… hik.. hik!”
“Jangan bergurau! Turunkan aku dari atas pohon keparat ini!”
“Memalukan! Kau memerintah menurunkanmu! Apa aku yang meletakkanmu di atas cabang pohon?!”
“Jangan ngaco! Memang bukan kaul Tapi apa salahnya kau segera menolong diriku!” jawab Wiro yang jadi sangat jengkel.
“Nenek jelek itu yang melempar kau ke atas pohon. Dia memang tak punya malu! Minta padanya agar menurunkan kau sekarang juga!”
Sika Sure Jelantik yang tergeletak di tanah menyeringai menahan sakit. “Iblis Pemalu keparat! Kau meminta aku menurunkan pemuda gendeng itu! Baik! Kau saksikan sendiri bagaimana caraku menurunkannya!” Habis berkata begitu si nenek hantamkan tangan kanannya ke atas. Lima larik sinar pukulan Kilat Kuku Akhirat menderu ke arah Wiro.
“Tobat! Tamat riwayatku!” teriak Wiro dengan mata melotot. “Iblis Pemalu! Lakukan sesuatu!”
Tapi Iblis Pemalu cuma tutup mukanya rapat-rapat dan gelengkan kepala.
“Setan alas! Nyawaku benar-benar tidak bisa tertolong!” keluh Pendekar 212.
“Wuttt!”
Sesaat lagi Wiro akan menemui ajal ditembus lima larik sinar maut tiba-tiba sebuah benda putih halus melesat di kegelapan malam tanpa suara sedikitpun. Wiro merasakan ada sesuatu yang mengikat ke dua pergelangan kakinya. Lalu tiba-tiba saja tubuhnya terasa laksana dibetot dan berputar di udara. Di sampingnya cabang pohon tempat dia tadi terjuntai melintang hancur berantakan dihantam sinar Kilat Kuku Akhirat.
“Apa yang terjadi dengan diriku?!” ujar Wiro. Tubuhnya berputar di udara laksana terbang. Perlahan-lahan tubuh itu melayang ke bawah, makin ke bawah dan akhirnya “bukk!” Wiro terbanting keras menelungkup. Bukan di tanah. Tapi di atas sosok tubuh Sika Sure Jelantik! Kakinya saling bertumpuk dengan kaki si nenek. Perut dan dadanya berbenturan keras dengan perut dan dada Sika Sure Jelantik. Bahkan mulutnya pun saling bertempelan dengan mulut si nenek hingga keduanya seolah sedang berciuman mesra!
Sika Sure Jelantik memaki panjang pendek. Wiro keluarkan suara seperti mau muntah dan meludah berulang kali. “Sialan! Ludahnya masuk ke dalam mulutku!” rutuk murid Sinto Gendeng.
Dalam kegelapan terdengar suara orang tertawa terkekeh-kekeh! Si nenek menggereng marah. Wiro pasang telinga baik-baik. Saat itu tubuhnya yang tak mampu bergerak akibat totokan masih tertelentang menelungkup di atas badan si nenek.
“Aku rasa-rasa mengenali suara tawa itu. Jangan-jangan… Ah, apa benar dia?”
“Jahanam! Berani kau mencium mulutku!” Sika Sure Jelantik berteriak marah. Tangannya kiri kanan dipukulkan ke arah batok kepala Wiro. Ini merupakan satu serangan mengepruk yang dapat memecahkan kepala murid Sinto Gendeng itu.
Wiro yang seolah tidak sadar bahaya maut mengancamnya balas berteriak. “Siapa suka mencium nenek bau macammu!”
Sesaat lagi dua tangan si nenek akan menghancurkan kepalanya tiba-tiba Wiro merasa benda aneh yang menjirat dua pergelangan kakinya disentakkan. Tubuhnya yang masih tertelungkup di atas tubuh si nenek terbetot ke kiri lalu terguling di tanah. Hal ini menyelamatkannya dari serangan maut Sika Sure Jelantik. Saat itu pula sebuah benda halus panjang melayang di sampingnya. Ujung benda ini laksana seekor ular mematuk ke arah jalan darah di pangkal leher Wiro. Serta meria saat itu juga totokan yang menguasai dirinya buyar! Mulutnya langsung membuka. Dia menguap lebar-lebar. Sepasang matanya meredup seperti mengantuk. Ulahnya ini tidak lain akibat pengaruh ilmu tidur yang diberikan Si Raja Penidur padanya tempo hari. Sesaat kemudian setelah menyadari dirinya bebas dari totokan Wiro cepat gulingkan diri mengambil Kapak Maut Naga Geni 212 yang tadi diambil dan diletakkan Sika Sure Jelantik di tanah. Baru saja senjata ini disimpannya di balik pakaian tiba-tiba Sika Sure Jelantik berseru keras.
“Aku mencium bau badanmu!!” Nenek yang cidera ke dua kakinya ini mencoba bangkit berdiri tapi tidak bisa. Seperti gila dia berteriak. “Sukat Tandika! Jangan bersembunyi! Lekas unjukkan diri menerima kematian!” Si nenek gerak-gerakkan tangan kanannya ke berbagai arah, Siap menghantam dengan pukulan sakti paling hebat yang dimilikinya yakni Jalur Hitam Bara Dendam. Ini merupakan pendalaman dari ilmu Kilat Kuku Akhirat yang memang direncanakannya untuk dipergunakan membunuh Tua Gila. Tangan kiri si nenek bersitekan ke tanah untuk menopang tubuhnya. Sepasang matanya jelalatan menembus kegelapan malam. Tiba-tiba ada sambaran angin di belakangnya. Si nenek membalik, siap menghantam dengan pukulan sakti Kilat Kuku Akhirat. Tapi terlambat. Satu totokan bersarang di punggungnya. Langsung saat itu sekujur tubuhnya menjadi kaku tegang dalam keadaan seperti merangkak.
“Jahanam! Siapa berlaku pengecut menotok dari belakang!” teriak Sika Sure Jelantik.
“Aku malu melakukannya. Tapi apa boleh buat! Nenek liar sepertimu harus dibuat jinak! Hik… hik… hik!”
“Iblis Pemalu keparat!” rutuk si nenek.
Iblis Pemalu melangkah mendekati Pendekar 212. “Tadi dia menotokmu dan hendak menelanjangimu! Aku barusan telah menotoknya. Dia tak bisa bergerak lagi! Apa kau mau membalas menelanjanginya?! Hik… hik… hik!”
“Apa enaknya melihat tubuh tua keriput seperti yang dimilikinya! Memalukan saja!” jawab Wiro menimpali ejekan iblis Pemalu walau sebenarnya dia masih jengkel pada orang ini karena tadi tidak menolongnya turun dari cabang pohon.
Iblis Pemalu tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Wiro.
“Dua manusia gila! Aku bersumpah akan membunuh kalian!” teriak Sika Sure Jelantik.
“Aku mau pergi dari sini. Malu lama-lama berada di tempat ini. Kau mau kemana? Mau pergi sama-sama denganku asal kau tidak malu saja?!” tanya Iblis Pemalu pada Wiro.
“Aku, hemm…. Biar aku di sini dulu menemani nenek-nenek ini. Kasihan kalau dia sampai mati kedinginan di tempat ini….”
“Terserah padamu. Tapi awas, jangan kau gerayangi tubuh tua bangka itu. Jangan melakukan sesuatu yang membuat malu aku malu sebagai temanmu! Aku pergi sekarang,” kata Iblis Pemalu.
“Tunggul Jangan pergi dulu! Ada yang ingin kubicarakan denganmu!” kata Wiro pula. Lalu tanpa menunggu jawaban orang dia memandang berkeliling. Dia tahu siapa yang barusan menolongnya. Maka diapun berseru. “Kakek Tua Gila, mengapa masih bersembunyi?!”
Sika Sure Jelantik yang diam-diam juga sudah memastikan bahwa Tua Gila bekas kekasihnya yang kini menjadi manusia paling dibencinya di atas dunia ini berada di tempat itu, serta merta salurkan tenaga dalam ke tangan kanan menyiapkan serangan maut Jalur Hitam Bara Dendam. Lima kukunya yang panjang mengeluarkan sinar hitam angker dan sepertinya ada asap tipis keluar dari tangannya. Matanya memandang liar berkilat. Begitu Tua Gila muncul dari dalam kegelapan langsung akan dihantamnya dengan pukulan sakti itu. Tapi dia lupa bahwa saat itu sekujur tubuhnya berada dalam keadaan tertotok. Walau secara luar biasa dia masih sanggup menyalurkan tenaga dalam dan menyiapkan pukulan Jalur Hitam Bara Dendam namun dia tidak mampu menggerakkan apa lagi mengangkat tangan kanannya itu untuk menyerang.
Di dalam gelap terdengar suara orang batuk-batuk beberapa kali. Lalu berkelebat muncul satu bayangan. Tapi orang ini ternyata bukan Sukat Tandika alias Tua Gila!

*
* *

TIGA

SIKA Sure Jelantik menyumpah habis-habisan ketika dia menyadari kalau tak mampu menggerakkan tangan kanan untuk melepas pukulan Jalur Hitam Bara Dendam. Dalam keadaan seperti itu dia merasa agak lega sedikit walau sepasang matanya membeliak berkilat. Yang muncul di tempat itu bukanlah Sukat Tandika alias Tua Gila kekasihnya di masa muda.
Iblis Pemalu yang belum sempat meninggalkan tempat itu memandangi orang yang datang lewat sela-sela jari ke dua tangannya yang dipergunakan menutupi wajah.
Wiro garuk-garuk kepala, memandang tak berkesip dan bertanya-tanya siapa adanya orang yang berdiri di bawah bayangan gelap pohon besar di sampingnya.
“Aku memang tidak kenal pada perempuan tua ini. Tak pernah melihatnya sebelumnya. Tapi mengapa wajahnya mengingatkan aku pada seseorang…?” Murid Sinto Gendeng membatin.
Orang yang muncul di tempat itu adalah perempuan tua berjubah hitam. Dia mengenakan sebentuk topi menyerupai tanduk kerbau, terbuat dari kain berbenang perak. Di bawah topi rambutnya yang putih panjang menjela punggung dan dada. Walau wajahnya keriputan dimakan usia namun masih ada bayangan kecantikan yang dimilikinya di masa muda. Nenek ini bukan lain adalah Sabai Nan Rancak, salah seorang tokoh silat penguasa Gunung Singgalang yang seperti telah dituturkan dalam Episode sebelumnya (Asmara Darah Tua Gila) menyeberang dari Andalas ke tanah Jawa dalam mencari musuh besarnya yaitu Tua Gila.
“Kau siapa?!” membentak Sika Sure Jelantik.
“Ya, kau siapa?!” Wiro ikut-ikutan bertanya.
Iblis Pemalu tetap berdiri memandang dengan muka ditutup.
Nenek berjubah hitam menyeringai. Kepalanya digoyangkan hingga rambutnya yang putih panjang tersingkap ke belakang. Walau wajahnya kini kelihatan menyeluruh namun baik Sika Sure Jelantik maupun Wiro tetap saja tidak mengenali siapa adanya nenek satu ini.
“Nenek yang terkapar di tanah!” Sabai Nan Rancak berkata dengan nada sinis. Dia menatap ke arah Sika Sure Jelantik, sama sekali tidak perdulikan Pendekar 212. “Kau tidak kenal diriku. Tapi aku kenai kau siapa adanya. Bukankah kau yang bernama Sika Sure Jelantik? Nenek culas yang pernah menyamar jadi dukun sakti di suatu pulau?! Yang datang ke tanah Jawa ini untuk mencari seorang kakek bernama Sukat Tandika alias Tua Gila alias Iblis Gila Pencabut Jiwa alias Pendekar Gila Patah Hati?!”
Berubahlah paras angker Sika Sure Jelantik. “Setan tua ini tahu banyak tentang diriku! Aku sama sekali tidak mengenali siapa dia adanya! Sial keparat!”
“Nenek, kau mengenali tua bangka satu ini, kau sendiri siapa?!” Wiro beranikan diri ajukan pertanyaan.
“Tutup mulutmu! Aku bicara dengan dia! Dan aku belum mendapat jawaban! Pada gilirannya aku akan bicara denganmu!” sentak Sabai Nan Rancak.
“Aduh galaknya si muka keriput ini!” ujar Wiro sambil garuk-garuk kepala.
Walau dalam keadaan Cidera ke dua kaki dan tak berdaya karena tertotok Sika Sure Jelantik tetap saja galak. Dia menjawab dengan lantang.
“Tua bangka rongsokan! Rupanya namaku demikian terkenalnya hingga kau tahu siapa diriku! Dan tentang dirimu yang sudah lapuk dimakan rayap usia, apa perduliku untuk mau tahu!”
Sabai Nan Rancak mendongak lalu tertawa panjang.
“Bicaramu memang hebat! Tapi aku tahu jiwamu tergoncang besar! Aku merasa tidak ada gunanya bicara lebih panjang denganmu!” Sabai Nah Rancak berpaling pada Wiro Sableng. “Aku juga kenal siapa dirimu anak muda! Jangan kau berani beranjak dari tempatmu sebelum aku mendapat keterangan!”
“Malam begini gelap tak ada bulan tak ada bintang. Penerangan apa yang bisa aku berikan padamu?!” ujar Wiro seenaknya sambil senyum-senyum.
“Orang yang mau mampus bicaranya memang sering tidak karuan!” balas Sabai Nan Rancak.
Murid Sinto Gendeng jadi terkesiap mendengar ucapan orang tapi tetap saja tak mau kalah. “Nek, kau rupanya manusia hebat luar biasa. Sampai-sampai tahu kalau ada yang akan mati. Kalau dibanding usiamu dengan usiaku, bukankah kau yang lebih bau tanah alias dekat liang kubur?!”
“Sobatku! Kau betul! Memalukan saja si tua bangka ini bicaranya!” Iblis Pemalu berteriak lalu tertawa gelak-gelak.
“Hemmm… Ada satu lagi orang gila rupanya di tempat ini!” kata Sabai Nan Rancak tak mau kalah mengejek. “Heran, kenapa orang-orang gila selalu memilih mati berkawan-kawan daripada sendiri-sendiri! Hik… hik… hik!”
Di balik ke dua tangannya wajah Iblis Pemalu tampak mengerenyit menahan tawa sedangkan Wiro kelihatan tegak melongo dan garuk-garuk kepala.
“Kau!” tiba-tiba Iblis Pemalu gerakkan tangan kirinya dan menuding tepat-tepat kepada Sabai Nan Rancak. “Kau datang laksana munculnya hantu malam. Memalukan! Kau tahu banyak tentang orang lain tapi tidak mau memberi tahu siapa diri sendiri! Memalukan! Biaraku beritahu pada orang-orang di sini siapa kau adanya!”
Sabai Nan Rancak sesaat jadi tercekat tapi dia diam tak bergerak dan tak membuka mulut walau dalam hati dia berusaha menduga-duga siapa adanya manusia aneh yang terus-terusan menutupi wajahnya dengan tangan. “Kau tidak beda dengan nenek tua bernama Sika Sure Jelantik itu! Kau datang jauh-jauh dari seberang bukankah punya maksud sama dengan dia?!”
Berdebar dada Sabai Nan Rancak mendengar kata-kata Iblis Pemalu itu.
“Manusia aneh bermulut panjang! Apa maksudmu!” hardik Sabai Nan Rancak.
“Kau berkeliaran sampai di sini bukankah karena juga mencari Tua Gila? Orang yang di masa mudamu menjadi kekasihmu!”
“Jahanam!” teriak Sabai Nan Rancak. Tubuhnya berkelebat. Tangan kirinya lancarkan satu pukulan keras ke arah dada Iblis Pemalu. Tapi yang diserang bergerak cepat hindarkan diri dan tahu-tahu sudah tegak empat langkah di samping kanan Sabai Nan Rancak.
“Kau malu rahasiamu aku bongkar? Ha… ha… ha!” Iblis Pemalu tertawa gelak-gelak. “Sika Sure Jelantik, kalau kau dulu kawin dengan Sukat Tandika, maka nenek satu ini akan menjadi madumu! Ha… ha… ha…! Benar-benar hidup yang memalukan!”
Baik Sika Sure Jelantik maupun Sabai Nan Rancak sama bersemu merah wajah masing-masing dalam gelap.
“Orang gila! Siapa kau adanya!”
cak menegur. Suaranya tetap keras.
“Siapa aku itulah satu hal memalukan untuk diberi tahu!” jawab Iblis Pemalu pula. “Tapi aku tidak malu memberi nasihat! Sebaiknya kau yang bernama Sabai Nan Rancak kembali saja ke pulau Andalas. Tanah Jawa terlalu keras bagimu! Kau tidak akan mendapatkan keberuntungan!”
“Aku memang tidak mencari untung datang ke sini. Aku mencari nyawa orang!” jawab Sabai Nan Rancak. Lalu dia berpaling pada Wiro dan berkata. “Aku tahu siapa kau adanya anak muda! Lekas kau suruh keluar gurumu! Aku tahu dia ada di tempat ini! Tapi takut memperlihatkan diri!”
“Bukan takut! Mungkin malu!” ujar Iblis Pemalu.
“Jika kau punya kepentingan dengan Tua Gila, harap kau mencari dan mendapatkannya sendiri!” jawab Wiro.
“Baik! Kalau begitu biar kau kubuat mampus dulu baru si Tua Gila itu mau menunjukkan diri!”
Habis berkata begitu Sabai Nan Rancak kembangkan telapak tangan kanannya lalu diangkat dan diarahkan pada Pendekar 212 Wiro Sableng.
Dalam gelap satu sosok yang sejak tadi mendekam tak bergerak diam-diam merasa cemas. “Dia hendak menghantam anak itu dengan pukulan sakti Kipas Neraka! Celaka! Jangankan dia, akupun tak sanggup menerima pukulan maut itu!” Lalu orang ini sibakkan semak belukar di depannya. Dia melompat keluar seraya berteriak.
“Tahan serangan!”
Seorang kakek berpakaian putih kini tegak antara Wiro dan Sabai Nan Rancak.
“Manusia jahanam Sukat Tandika!” Teriak Sika Sure Jelantik. Dia serasa mau terbang untuk melumat tubuh kakek itu.
“Kakek Tua Gila!” seru Wiro.
“Ha… ha! Jadi ini dia si tua bangka memalukan itu!” Ikut bicara Iblis Pemalu.
Sesaat Sabai Nan Rancak tampak tergoncang. Matanya mendelik memandangi Tua Gila yang tegak menatap ke arahnya dengan pandangan kosong.
“Waktu di pantai Andalas kau bisa lolos! Waktu kau terluka oleh keris Datuk Angek Garang kau masih bisa selamat karena ada orang bercadar menolongmu! Di malam yang gelap ini agaknya tidak manusia tidak juga hantu yang akan menyelamatkan nyawamu!”
Tua Gila hanya berdiam diri mendengar Sabai Nan Rancak. Sepasang matanya masih terus memandangi tak berkesip walau tampak sayu.
“Manusia dan hantu mungkin tidak akan menolongnya! Tapi Tuhan Yang Kuasa pasti menolong!” Ujar Pendekar 212.
“Betul sekali! Tuhan memang tidak pernah malu menolong umatNya yang kesusahan!” menimpali Iblis Pemalu lalu tertawa mengekeh.
“Akan kita lihat apa Tuhanmu memang akan menolong!” ujar Sabai Nan Rancak pula dengan mata berapi-api. Lalu dua tangannya sekaligus diangkat ke atas.
Tua Gila merasakan tengkuknya dingin. Dia ingat keterangan Putri Andini dulu bahwa bagaimana pun saktinya dirinya dia tak akan sanggup menghadapi pukulan sakti Kipas Neraka yang dimiliki Sabai Nan Rancak.
“Dia mengangkat dua tangan sekaligus. Berarti hendak menghantamku dengan dua pukulan Kipas Neraka! Satu saja aku tak sanggup menghadapi, apa lagi sampai dua hantaman. Aku pasrah menerima kematian!”
Tiba-tiba Iblis Pemalu berseru.
“Orang tua! Jangan tegak diam memalukan! Lakukan sesuatu agar kau tidak mati penuh penyesalan!”
Tua Gila hanya menyeringai mendengar kata-kata itu. Dia tetap tak bergerak di tempatnya. “Banyak urusanku yang masih terbengkalai. Tapi maut agaknya datang lebih cepat! Kematian mungkin satu-satunya jalan yang dapat melepaskan diriku dari segala beban bathin dan pikiran!”
Sabai Nan Rancak gerakkan ke dua tangannya. Mendadak sontak saat itu juga dua larik sinar memerah melesat keluar dari telapak tangan Sabai Nan Rancak. Dua sinar lurus mengerikan ini mengembang seperti kipas. Sekalipun saat itu Tua Gila berusaha menyelamatkan diri maka keadaannya sudah terlambat sekali. Tak ada lagi ruang Untuk menyingkir apa lagi menangkis.
“Pukulan Kipas Neraka!” teriak Iblis Pemalu yang mengenali pukulan sakti yang dilepaskan Sabai Nan Rancak.
“Kek!” teriak Wiro melihat Tua Gila diam saja seolah sengaja memasang badan. Dengan cepat Pendekar 212 melompat menghadang dua tebaran sinar merah yang panas luar biasa. Dia yang masih mengenakan jubah Kencono Geni mengandalkan kesaktian jubah itu untuk melindungi Tua Gila. Namun dia hanya mencari celaka karena bersama-sama dengan si kakek dia mungkin akan menemui ajal dihantam pukulan Kipas Neraka itu!
“Sobat tolol memalukan! Mengapa mau-mauan mencari mati?!” teriak Iblis Pemalu.
Pada saat yang menegangkah itu tiba-tiba ada bayangan kuning berkelebat. Wiro terpental ke kiri sedang Tua Gila jatuh terduduk di tanah lalu terguling sampai dua tombak!

*
* *

EMPAT

ORANG berpakaian dan bercadar kuning berOrang berpakaian dan bercadar kuning berlutut di kegelapan malam. Hanya kaki kirinya saja yang bersitekan ke tanah. Dua tangan di angkat ke depan dengan telapak terkembang. Sepasang mata menatap tak berkesip ke arah dua larik sinar merah yang datang menerpa dengan sangat ganas.
Dua tangan bahkan sekujur tubuh orang bercadar kuning ini tampak bergoncang keras. Pakaiannya serta meria basah oleh keringat. Di kening dan bagian sekitar matanya muncul butiran-butiran keringat. Ini satu pertanda dia tengah mengerahkah tenaga luar dan dalam untuk melawan satu kekuatan besar yang hendak menyapunya.
Apa yang terjadi sungguh luar biasa. Dua larik pukulan Kipas Neraka yang melesat keluar dari dua tangan Sabai Nan Rancak tertahan satu jengkal di depan dua tangan orang bercadar kuning. Perlahan-lahan tebaran sinar merah yang berbentuk kipas tampak menciut dan akhirnya kembali ke asalnya yakni bentuk garis lurus. Ketika orang bercadar perlahan-lahan mendorongkan ke dua tangannya maka dua larik sinar merah ikut terdorong seolah-olah masuk kembali ke dalam tangan Sabai Nan Rancak.
“Jurus Menghormat Kipas Neraka!” teriak Sabai Nan Rancak dengan paras berubah dan mundur beberapa langkah. Dia sama sekali tak bisa mempercayai serangan mautnya tadi bisa dimentahkan begitu saja. “Orang bercadar! Siapa kau! Dari mana kau mempelajari jurus Menghormat Kipas Neraka tadi?!”
Orang bercadar perlahan-lahan bangkit berdiri. Tua Gila, Wiro dan Iblis Pemalu terkagum-kagum melihat apa yang barusan terjadi.
“Manusia aneh bercadar kuning! Untuk ke tiga kalinya dia menolongku! Ah….” Tua Gila goleng-goleng kepala.
Setelah mengusap keningnya yang basah dan mengatur gejolak jalan darahnya, orang bercadar berkata. Ucapannya seperti orang berpantun.
“Saling hormat pada sesama adalah kewajiban manusia. Di mata Tuhan manusia satu tidak ada kelebihannya kecuali ketakwaannya/Menjatuhkan hukuman, bersikap pongah dalam keadilan adalah kesesatan yang menyedihkan. Karena setiap manusia tidak lepas dari pada kesalahan. Mana ada hidup yang paling enak dari pada mencari tenteram di masa tua. Masa muda hanyalah kenangan buruk dan indah yang akan punah ditelan usia.”
“Jahanam! Aku bertanya kau menjawab dengan syair keparat!” teriak Sabai Nan Rancak tak dapat lagi menahan amarahnya.
“Siapa bertanya tak akan sesat di tengah jalan. Siapa berpura bertanya akan sesat di ujung jalan. Mengapa tidak kembali ke awal jalan?”
Sabai Nan Rancak berteriak keras. Tubuhnya melayang di udara. “Orang gila! Mari kutunjukkan padamu jalan ke neraka!”
“Wuttt!”
Satu jotosan yang luar biasa cepatnya menderu ke arah kepala orang bercadar kuning.
“Kemarahan pangkal kesesatan. Kesesatan adalah temannya setan. Setan adalah kehancuran!”
“Bukkk!”
Sabai Nan Rancak terpekik. Tubuhnya mencelat dua tombak dan jatuh terjengkang di tanah. Ketika dia memeriksa tangan kanannya yang tadi dipergunakan untuk menyerang matanya jadi mendelik. Tangan itu kini berubah menjadi putih karena kulitnya telah terkelupas hingga tulang-tulangnya kelihatan putih menonjol!
“Kurang ajar! Apa yang kau lakukan terhadapku!” teriak Sabai Nan Rancak. Seperti kalap, penuh nekad dia kembali menerjang. Saat itulah Tua Gila cepat menghadangnya dan dengan sikap tenang serta suara lembut kakek ini berkata.
“Sabai, jangan celakakan diri sendiri. Orang itu bukan tandinganmu. Kembalilah ke Andalas. Janah Jawa bisa menjadi neraka bagimu! Kalau tiba saatnya aku akan menyusul. Apa pun yang kau harapkan dariku, termasuk nyawaku kelak akan kuserahkan padamu! Hanya ingat satu hal yang kukatakan tempo hari padamu. Ada seseorang entah kau sadari atau tidak telah memanfaatkan dirimu melakukan perbuatan-perbuatan aneh….”
“Setan tua jahanam!” teriak Sabai Nan Rancak. “Aku tidak butuh nasihatmu!” Tangan kiri si nenek berkelebat.
Bukkk!”
Tua Gila tidak menyangka ucapan baiknya akan dibalas dengan satu hantaman ke arah dadanya. Orang tua ini terpental dua tombak dan tertelentang di tanah muntahkan darah segar.
“Kek!” seru Wiro seraya memburu. Namun saat itu walau terluka di dalam Tua Gila masih bisa berdiri. Dia tersenyum pahit. “Aku tak apa-apa…” katanya ketika Wiro memegangi lengannya.
“Akan kubunuh jahanam itu!” teriak Wiro.
“Sudahlah! Dia sudah tak ada lagi di sini. Sudah pergi!” kata Tua Gila pula.
Wiro berpaling, memandang berkeliling. Ternyata memang benar Sabai Nan Rancak tak ada lagi di tempat itu.
“Kek,” ujar Wiro setengah berbisik. “Orang bercadar kuning yang tadi menolongmu juga tak ada lagi….”
“Astaga!” Tua Gila memandang berkeliling. “Temanmu yang selalu menutupi mukanya itu juga lenyap!” ujar si kakek.
“Pada kemana mereka? Pergi begitu saja!” kata Wiro sambil garuk-garuk kepala.
Km! mau tak mau pandangan Wiro dan Tua Gila tertuju pada si nenek Sika Sure Jelantik. Melihat dirinya dipandangi begitu rupa si nenek membentak.
“Sukat Tandika! Kalau kau memang laki-laki lepaskan totokanku dan terima kematianmu di tanganku!”
“Nenek jelek!” bentak Wiro yang jadi naik darah. “Kalau mulutmu tak bisa diam nanti kusumpal dengan ini!” Wiro lalu cabut umbi besar keladi hutan dan menyorongkan ke mulut si nenek. Di depan mulut Sika Sure Jelantik keladi hutan itu digoyang-goyangkannya kian kemari sengaja mempermainkan hingga si nenek memaki habis-habisan.
“Wiro, hentikan perbuatanmu!” Tua Gila mengambil keladi hutan dari tangan Wiro dan mencampakkannya di tanah. Dia tegak dekat Sika Sure Jelantik. “Sika, kau terluka parah. Menurut penglihatanku tulang kakimu kiri kanan patah!”
“Apa perdulimu?!” hardik Sika Sure Jelantik. Sebenarnya perempuan tua ini sudah tahu keadaan kakinya. Memang benar ada bagian-bagian tulang kakinya yang patah akibat beradu tendangan dengan Iblis Pemalu.
“Dengar, aku akan membawamu ke satu tempat yang baik dan mengobati kakimu yang cidera sampai sembuh. Mungkin kesempatan ini bisa kita pergunakan untuk bicara dari hati ke hati….”
“Kek,” tiba-tiba Wiro menyeling. “Kurasa aku lebih baik pergi saja. Agar kau bisa leluasa menyelesaikan urusanmu dengan bekas pacarmu ini!”
“Anak setan! Jangan kau berani bicara kurang ajar!” bentak Tua Gila. “Jangan kau berani pergi tanpa izinku!”
Wiro hanya tertawa bergumam sementara Sika Sure Jelantik unjukkan wajah merah cemberut.
“Aku tidak sudi ditolong! Jangan berani menyentuh tubuhku!”
“Sika, harap kau pergunakan akal sehat! Jangan keras kepala tidak karuan. Aku menolongmu dengan ikhlas. Tidak ada pamrih atau maksud agar kau memaafkan segala perbuatanku di masa lalu….”
“Kek, kalau dia tidak mau ditolong biar saja. Kabarnya di sini banyak binatang buas, ular berbisa. Belum lagi segala hantu dedemit yang konon doyan meniduri nenek-nenek peot seperti dia!” Wiro kembali mempermainkan si nenek saking kesalnya melihat tindak tanduk Sika Sure Jelantik yang tidak mau ditolong oleh Tua Gila.
Sementara Sika Sure Jelantik memaki tiada henti Tua Gila angkat si nenek dan memanggulnya di bahu kiri. Dia berpaling pada Wiro. “Aku akan membawanya ke satu tempat. Harap kau mengikuti….”
“Kek, bukannya lebih bebas jika kalian hanya berdua saja?!”
“Jangan bergurau terus-terusan anak geblek! Ikuti aku! Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu!”
“Kek, apa kau sudah berpikir sepuluh kali? Nenek itu sudah bersumpah hendak membunuhmu! Apa tidak salah kaprah kalau kau kini menolongnya?!”
“Aku tahu apa yang aku lakukan!” jawab Tua Gila pula dengan mata cekung melotot.
Wiro garuk-garuk kepala. Ketika Tua Gila berkelebat pergi mau tak mau dia terpaksa mengikuti.

*
* *

LIMA

TUA Gila membawa Sika Sure Jelantik ke sebuah kaki bukit di mana terdapat sebuah goa dan satu mata air kecil tak jauh dari sana. Keesokan paginya selagi Sika Sure Jelantik masih tertidur lelap dan Pendekar 212 mandi di mata air Tua Gila mengambil beberapa jenis dedaunan di dalam hutan. Daun-daun ini ditumbuknya hingga lumat lalu diborehkannya pada kaki kiri kanan si nenek yang cidera. Lima ranting pohon yang lurus-lurus kemudian diikatkannya sepanjang kedua kaki si nenek.
“Jika satu minggu kau bisa menjaga diri, tidak banyak bergerak apa lagi berjalan, tulang-tulangmu yang patah bisa bertaut kembali. Minggu berikutnya kau pasti sembuh…” berkata Tua Gila.
“Aku tidak suka kau tolong! Aku tidak akan berterima kasih!” jawab Sika Sure Jelantik ketus.
Tua Gila menyeringai. “Kau tidak suka ditolong itu urusanmu. Kau tidak mau berterima kasih aku tidak meminta. Aku hanya merasa punya kewajiban untuk menolongmu!”
“Agar aku mau melupakan semua perbuatan terkutukmu di masa lalu?! Jangan mimpi! Jangan mengharap!”
Tua Gila menyeringai. “Kau tahu sifatku Sika. Seumur hidup sampai sekarang aku tak pernah bermimpi atau mengharap!”
“Manusia busuk! Mengapa tidak kau bunuh saja aku saat ini!” teriak Sika Sure Jelantik. Mukanya kelihatan tegang membesi. Tenggorokannya turun naik lalu tampak ada air mata mengambang di ke dua matanya dan perlahan-lahan menetes membasahi pipinya yang keriput. Tua Gila kelihatan seperti tercekat. Jelas dia terpengaruh dengan kesedihan hati yang diperlihatkan si nenek.
Menyaksikan hal ini Wiro yang baru datang segera menarik Tua Gila ke satu tempat lalu berbisik. “Kek, kau sudah menjalankan kewajibanmu. Buat apa melayani tua bangka tak tahu diri itu! Lepaskan saja totokannya lalu kita tinggalkan tempat ini. Habis perkara!”
tua Gila memegang bahu Wiro dan berkata. “Perkara tidak baka la n habis seperti dugaanmu. Lagi pula aku tidak sejahat dugaan orang. Aku menolongnya karena aku merasa itu kewajibanku. Aku menolongnya dengan ikhlas tanpa mengharapkan apa-apa. Apa lagi memohon agar dia mau memaafkan segala dosa perbuatanku di masa muda. Aku ingin dia tetap hidup agar dia bisa melakukan apa yang diinginkannya. Yaitu membunuhku….”
“Kek, jalan pikiranmu telah dipengaruhi suara hatimu!” ujar murid Sinto Gendeng.
“Itu ujar-ujar yang selalu diucapkan orang persilatan. Jangan jalan pikiran dipengaruhi hati karena bisa membawa celaka, tapi orang lupa pikiran dan hati bersumber pada satu sumber yang sama. Yakni kebenaran.”
“Kek, aku rasanya lucu mendengar kau berfilsafat….”
“Keren betul bicaramu anak muda! Sudah! Lebih baik kau ikut aku ke mata air. Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan denganmu!”
Wiro hanya bisa garuk kepala dan mengikuti si kakek menuju mata air.
Di dalam goa Sika Sure Jelantik semakin deras mengucurkan air mata. Walau Wiro dan Tua Gila tadi bicara berbisik-bisik namun karena memiliki pendengaran yang tajam si nenek sempat mendengar semua ucapan ke dua orang itu. Hatinya terasa perih seperti disayat-sayat. “Kenapa jalan nasibku begini sengsara? Mengapa aku tidak segera saja mati dalam kesengsaraan ini. Sukat Tandika, jika saja….” Si nenek tak dapat meneruskan suara batinnya. Dadanya menggemuruh ditelan perasaan.
Begitu sampai di mata air yang dikelilingi pepohonan rindang Tua Gila segera bicara.
“Hal pertama yang ingin kutanyakan padamu, apa kau kenal dengan seorang dara bernama Puti Andini?”
Wiro tersenyum. “Aku tak ingat apa pernah menceritakannya padamu. Tapi karena kau bertanya aku akan menjawab Kek. Gadis itu bergelar Dewi Payung Tujuh. Berasal dari pulau Andalas. Bukankah nenek bernama Sabai Nan Rancak itu adalah gurunya?”
“Hemmm, anak ini tahu banyak tentang Puti Andini. Apa dia juga tahu gadis itu adalah cucuku?” membatin Tua Gila. “Lanjutkan keteranganmu. Apa lagi yang kau ketahui tentang gadis itu, Wiro.”
“Dia pernah disuruh oleh gurunya untuk mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Juga diperintah untuk membunuhku….” (Baca Episode berjudul Wasiat Dewa).
Tua Gila anggukkan kepala. “Kau sudah memiliki Kitab Putih Wasiat Dewa. Sampai saat ini dia tidak membunuhmu. Apa kau mengira gadis itu masih punya niat jahat terhadapmu?”
“Beberapa kali pertemuan memang dia tidak menunjukkan niat buruk itu. Tapi hati orang siapa tahu?” ujar Wiro pula.
“Kalau begitu bisa kubilang antara kau dan Puti Andini tidak ada lagi masalah atau perselisihan apa lagi silang sengketa?”
Wiro garuk-garuk kepala. “Yah, bisa saja dikatakan begitu. Bagiku dari dulu tak ada masalah apa-apa. Malah aku berhutang budi dan nyawa padanya. Waktu aku luka parah dan keracunan dihantam Tiga Bayangan Setan, kalau bukan dia yang menolong pasti aku sudah menemui ajal. Kurasa walaupun dia masih bersikap tidak baik padaku, aku tetap akan menghormatinya….” (Mengenai Tiga Bayangan Setan harap baca serial Wiro Sableng berjudul Wasiat Dewa).
“Hemmm… Menghormati katamu, itu kata yang sulit ditafsirkan karena banyak mengandung arti….”
“Maksudmu Kek?” tanya Wiro.
“Apa kau punya rasa suka terhadap Puti Andini?” Tua Gila langsung saja bertanya. Lalu dia tertawa terkekeh-kekeh ketika dilihatnya murid Sinto Gendeng itu memandang padanya dengan mata membeliak dan mulut ternganga.
“Harap kau tidak masukkan dalam hati, anak muda. Aku hanya bergurau!” kata Tua Gila pula. Namun Wiro maklum dibalik gurauan itu Tua Gila memang punya maksud sesuatu.
“Jangan-jangan sejak muridnya dibunuh komplotan Sabai Nan Rancak orang tua ini sudah mengangkat si gadis jadi muridnya,” pikir Pendekar 212 pula.
“Pada bulan purnama empat belas hari mendatang aku akan bertemu dengan gadis itu di pinggiran timur Telaga Gajah Mungkur. Kalau kau suka kau boleh ikut bersamaku ke sana….”
Semakin keras dugaan Wiro bahwa si kakek memang punya maksud tertentu.
“Hemm… Terus terang aku suka ikut denganmu. Tapi aku ada urusan lain. Aku harus mencari seorang sahabat yang terakhir sekali kutinggalkan dalam keadaan terluka….”
“Siapa sahabatmu itu. Seorang pemuda atau seorang gadis hah?! Ah, dari sinar matamu aku tahu dia pasti seorang gadis berwajah cantik. Kalau bukan seorang gadis kau mana mau bersusah payah segala!”
“Namanya Anggini. Murid tunggal tokoh silat bergelar Dewa Tuak….”
“Ah!” Tua Gila jadi kaget. Lalu bertanya. “Anggini! Murid sahabatku si Dewa Tuak. Sejak pertemuan terakhir di Pangandaran lama sudah aku tidak mendengar kabarnya. Apa saat ini dia masih bersuka-suka dengan kekasihnya si Ratu Pesolek itu? Ha… ha… ha! Wiro, apa yang terjadi dengan murid Dewa Tuak?”
Wiro lalu menuturkan penghadangan yang dilakukan oleh empat orang yaitu Iblis Pemalu, Pengiring Mayat Muka Hijau, Sika Sure Jelantik dan Datuk Gadang Mentari.
“Sika Sure Jelantiklah yang mencelakai Anggini. Aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Seorang sahabat menemaninya ketika kutinggal pergi….”
“Sika Sure Jelantik…” kata Tua Gila sambil menghela nafas panjang. “Sulit membuatnya mau mengerti. Kalau Anggini sampai celaka jangan harap dia lolos dari maut! Dewa Tuak pasti akan mengejarnya sampai ke liang neraka sekalipun!”
“Mengenai Iblis Pemalu,” kata Wiro pula. “Siapa dia sebenarnya? Apakah dia berpihak pada orang-orang golongan putih atau kaki tangan golongan hitam?”
“Siapa dia adanya memang sulit diketahui. Dia muncul belum lama. Ketinggian ilmunya serta tindak tanduknya yang aneh membuat namanya mencuat dengan jelas. Walau kelihatannya dia bukan orang baik-baik tapi aku yakin dia bukan kaki tangan orang-orang Lembah Akhirat. Namun sikapnya yang aneh dan sering berubah mendatangkan prasangka bahwa manusia satu ini gampang ditarik ke kiri atau ke kanan. Dia hanya mengikut arah angin atau mana sukanya saja walau cuma sesaat. Orang seperti dia harus dibaik-baiki, harus pandai memuji dan menyanjung. Aku seolah yakin bahwa sifatnya yang seperti pemalu itu hanya dibuat-buat saja. Biar kita lupakan dulu Iblis Pemalu. Sebaliknya aku menyirap kabar bahwa Anggini telah membunuh Datuk Mangkuto Kamang….”
“Itu fitnah yang tak karuan juntrungannya Kek,” jawab Wiro.
“Justru karena fitnah itulah perlu diselidiki.
Akhir-akhir ini banyak kejadian hebat di dunia persilatan pulau Andalas dan Tanah Jawa. Sesama golongan putih saling baku hantam. Lalu belum lagi lenyapnya tokoh-tokoh rimba persilatan secara aneh. Satu di antaranya adalah kakek sakti berjuluk Dewa Sedih. Dia lenyap dan kabarnya berada dalam kekuasaan orang-orang Lembah Akhirat…. Saudaranya si Dewa ketawa pasti akari mengobrak-abrik Lembah Akhirat. Namun keanehan yang berselubung maut menyungkup Lembah Akhirat. Aku khawatir Dewa Ketawa akan mengalami nasib sial….”
“Kau tahu siapa sebenarnya yang menjadi penguasa Lembah Akhirat itu Kek?”
“Dia hanya dikenal dengan panggilan Datuk Lembah Akhirat. Beberapa tokoh kabarnya berusaha menyelidik. Namun satu persatu mereka lenyap tak tahu rimbanya….”
“Mengenai kepergianmu ke Telaga Gajah Mungkur menemui Puti Andini, agaknya ada satu urusan penting di sana?”
Tua Gila mengangguk. “Ini satu urusan yang sebetulnya perlu aku beri tahu padamu beberapa tahun yang silam. Namun mungkin baru saat ini tepat untuk kukatakan. Kau pernah mendengar riwayat sebilah pedang bernama Pedang Naga Suci 212!”
Wiro kerenyitkan kening mendengar kata-kata Tua Gila itu. “Aku memiliki Kapak Naga Geni 212. Kau menyebut Pedang Naga Suci 212. Apa ada hubungan satu dengan lainnya?” tanya murid Sinto Gendeng pula.
“Kapak dan pedang itu merupakan dua senjata yang sebenarnya tidak terpisahkan. Berasal dan merupakan warisan dari seorang kakek sakti bernama Kiai Gede Tapa Pamungkas. Waktu aku dan gurumu si Sinto Gendeng menjadi murid Kiai yang diam di Gunung Gede itu, kami diwarisi dua senjata. Seharusnya aku mendapatkan Kapak Naga Geni 212, tapi Sinto Gendeng mendahului, malah dia melarikan Pedang Naga Suci 212.”
Tua Gila lalu menuturkan riwayat dua senjata sakti itu yang didengar Wiro dengan penuh perhatian. (Mengenai riwayat Kapak Maut Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212 harap baca Episode terdahulu berjudul Pedang Naga Suci 212).
Lama Wiro termenung mendengar penuturan -Tua Gila. Dia coba mengingat-ingat. “Kek, kalau aku tidak salah mengingat, waktu kapak mustika sakti itu diberikan padaku, Eyang Sinto pernah berkata Kapak Naga Geni 212 itu dia yang membuat. Dia menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk menciptakannya….”
Tua Gila tertawa mengekeh. “Gurumu itu namanya bukan Sinto Gendeng kalau tidak melakukan atau bicara gendeng. Mungkin dia tidak bermaksud buruk berdusta padamu. Mungkin dia berkata begitu agar kau tidak mensia-siakan jerih payahnya dan agar kau merawat senjata itu sebaik-baiknya.”
“Mungkin juga begitu…” kata Wiro perlahan.
“Aku menaruh firasat bahwa Pedang Naga Suci 212 berjodoh dengan Puti Andini. Itu sebabnya dia kusuruh pergi menyelidik dan mencari pedang mustika itu di Telaga Gajah Mungkur…. Aku sendiri tidak berminat mendapatkan dan memilikinya…. Aku sudah terlalu tua. Urusan rimba persilatan kini berada di tangan kalian orang-orang muda….”
“Mana bisa begitu Kek. Kami yang muda-muda hanya dianggap sebagai sapu lidi pembersih. Sementara para tokoh yang sudah tua-tua berbuat macam-macam mengotori dunia persilatan!”
Tua Gila tertawa gelak-gelak. Begitu tawanya mereda Wiro berkata.
“Kek, tentunya kau punya satu alasan mewarisi pedang sakti itu pada Puti Andini, bukan hanya sekedar firasat. Atau mungkin gadis itu sudah kau angkat jadi muridmu pengganti Sati?”

ENAM

YANG ditanya tak segera menjawab. Kemudian sekulum senyum menyeruak di wajah orang tua ini. Satu senyum pahit yang menandakan keperihan hati. Karena Sati, satu-satunya murid Tua Gila yang namanya barusan diucapkan Wiro telah tewas dibunuh Datuk Angek Garang di pulau Andalas beberapa waktu yang lalu.
“Hemm…. Kau betul. Alasan utamaku adalah dia kuanggap seorang gadis pendekar sejati. Masih suci dan bersih. Masa depannya dalam dunia persilatan penuh dengan tantangan. Berarti dia perlu satu senjata yang diandalkan.”
“Bukankah dari gurunya Sabai Nan Rancak gadis itu telati memiliki satu ilmu kepandaian dan senjata berupa tujuh buah payung?” ujar Wiro.
Tua Gila tertawa lebar. “Itu juga betul. Walau dia kelak memiliki pedang sakti itu, tentu saja dia tidak boleh melupakan ilmu payungnya yang hebat. Selain itu, aku berhutang jiwa padanya. Waktu aku dalam keadaan tak berdaya dan hampir mati di tangan Sabai Nan Rancak serta teman-temannya, Puti Andini menyelamatkan diriku….”
Dalam hatinya Tua Gila merasa bimbang. Apakah akan diceritakannya pada Wiro bahwa Puti Andini sebenarnya adalah cucunya sendiri. Sebaliknya dalam hatinya Wiro juga bertanya-tanya. “Kurasa ada satu hal lain yang sangat kuat membuat kakek ini memberi tahu tentang pedang itu pada Andini. Dia tadi tidak menjawab ya atau tidak apakah dia telah mengangkat Puti Andini menjadi muridnya,”
“Apa yang ada dalam benakmu Wiro?” tanya Tua Gila ketika dilihatnya Wiro seperti termenung.
“Aku cuma khawatir Kek. Bagaimana kalau kelak pedang itu sampai jatuh ke tangan Sabai Nan Rancak. Kau bisa lebih celaka lagi….”
Mulut Tua Gila tampak berkomat-kamit. “Aku cukup percaya pada gadis itu. Buktinya dia berani menanggung akibat berhadapan dengan gurunya demi menyelamatkan diriku…. Lagi pula ada semacam petunjuk bahwa Kapak Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212 kelak akan bersatu kembali. Bukan itu saja. Aku menyirap kabar sekitar lima tahun silam. Kapak dan Pedang itu mempunyai seorang anak yaitu sebilah keris yang tak kalah saktinya dengan sepasang induknya….”
Mendengar ucapan Tua Gila itu Pendekar 212 terdiam namun otaknya cepat bekerja. “Kalau Kapak dan Pedang kelak akan bersatu bahkan punya anak, jangan-jangan kakek ini hendak menjodohkan aku dengan Puti Andini. Gila betul! Ada hubungan apa sebenarnya antara Tua Gila dengan gadis dari seberang itu….”
“Eh, kau kembali kulihat memikirkan sesuatu!” Tua Gila menegur.
Wiro menyeringai. “Aku coba memasukkan ke dalam akalku bagaimana mungkin sebilah kapak dan pedang bisa punya anak sebilah keris….”
Tua Gila tertawa lebar. Dengan jari telunjuk tangan kanannya ditekannya dada murid Sinto Gendeng seraya berkata. “Itu kelak yang harus kau selidiki, Wiro. Omong-omong bagaimana soal perjodohanmu…?”
“Perjodohanku?” balik bertanya Wiro karena tidak mengerti. “Apa maksudmu Kek?”
“Kau berkura-kura dalam perahu. Berpura-pura tidak tahu. Bukankah Dewa Tuak pernah kasak-kusuk dengan Sinto Gendeng hendak menjodohkanmu dengan Anggini murid tunggalnya itu?”
Wiro hendak tertawa membahak tapi akhirnya sambil garuk-garuk kepala dia menjawab. “Baik Eyang Sinto Gendeng maupun Dewa Tuak tak pernah mendesak kalau mereka memang menginginkan perjodohan itu….”
“Lalu…. Hem… jadi terserah pada kalian yang muda-muda kalau begitu?”
“Bisa saja kau katakan seperti itu Kek. Namun kami pun tidak pernah membicarakan hal itu. Anggini seorang gadis yang segala sesuatunya tak bisa harus ditentukan oleh orang lain….”
“Bagus…. Bagus!”
“Bagus bagaimana maksudmu Kek?” Wiro mengejar dengan pertanyaan. Dalam hati semakin berat dugaannya bahwa Tua Gila memang ingin menjodohkannya dengan Puti Andini. “Kalau tidak apa perlunya dia menanyakan hubunganku dengan Anggini. Dia tampak senang ketika kuberi tahu bahwa guru masing-masing tidak mendesak dan aku ataupun Anggini tak pernah lagi membicarakan soal perjodohan itu.”
“Maksudku,” jawab Tua Gila pula. “Aku gembira kalian bisa berlaku benar-benar sebagai orang dewasa dan serba matang menghadapi masa depan….” Tua Gila lalu angguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu dia menyambung ucapannya.
“Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu. Seseorang menitipkan sebuah kalung sakti bernama Kalung Permata Kejora. Kalung itu seharusnya aku serahkan pada Sabai Nan Rancak. Orang yang menitipkan tidak tahu kalau aku punya bentrokan besar dengan si nenek dari Gunung Singgalang itu. Celakanya justru kalung itu yang katanya sanggup membunuhku. Sekarang kalung itu tak ada padaku….”
“Hemmm, sudah kau serahkan pula pada seorang gadis cantik?” tanya Wiro.
“Anak setan! Jangan mengejek!” bentak Tua Gila dengan mata lebar melotot.
Wiro menahan tawa sambil garuk-garuk kepala.
“Kalung mustika itu lenyap. Aku yakin pasti jatuh masuk ke dalam laut sewaktu diserang oleh Sika Sure Jelantik. Dia menginginkan Kalung Permata Kejora itu….”
“Kurasa benda itu belum ada di tangannya….”
“Benar, otakmu cerdik juga. Setiap kali hendak membunuhku dia selalu menanyakan di mana beradanya kalung itu. Aku khawatir kalau-kalau benda itu jatuh ke tangan orang lain….”
“Apa Sabai Nan Rancak tahu kalau kalung itu berada padamu?” tanya murid Sinto Gendeng.
“Aku pernah mengatakan padanya tapi tidak memberi tahu di mana beradanya karena memang aku sendiri tidak tahu benda itu hilang entah di mana….”
“Kalau begitu besar kemungkinan kalung itu masih berada di dasar laut tempat kau diserang oleh Sika Sure Jelantik. Atau barangkali juga berada di tangan anak buah Ratu Duyung….”
Tua Gila jambak-jambak rambut putihnya yang tipis. “Aku tidak yakin Ratu Duyung mengambil benda itu sewaktu aku pingsan di tengah laut. Kalau dia menemukan pasti akan dikembalikan padaku. Lagi pula waktu aku meninggalkan tempat kediamannya aku tidak bertemu dengan dia. Menurut anak buahnya Ratu Duyung tengah berada di satu tempat untuk satu urusan penting…. Kapan terakhir sekali kau bertemu dengan dia?”
Wiro coba mengingat. “Waktu itu aku sedang bersama Bidadari Angin Timur. Ratu Duyung tiba-tiba muncul. Agaknya dia merasa tidak enak atau cemburu melihat aku berdua-duaan dengan Bidadari Angin Timur lalu pergi begitu saja tanpa sempat membicarakan apa-apa. Bidadari Angin Timur sendiri kemudian pergi pula tanpa setahuku. Agaknya dia juga menanam rasa cemburu besar terhadap Ratu Duyung.”
Tua Gila tertawa terkekeh dan goleng-golengkan kepalanya berulang kali.
“Kek, apa yang lucu? Ada apa kau ketawa?”
“Aku wajib mengingatkan dirimu, anak muda! Kau tahu akibat ulahku di masa muda, terlalu banyak punya kekasih di hari tua begini semua mereka itu menjadi musuhku! Ingin membunuhku! Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi atas dirimu!”
“Aku memang banyak kenalan gadis-gadis cantik Kek. Tapi mereka semua adalah teman-teman biasa, mungkin kuanggap sebagai saudara. Soal kekasih yang aku suka cuma seorang. Yaitu Bidadari Angin Timur….”
Tua Gila kembali tertawa. “Sifat pemuda dan pemudi kalau sering berdekatan, walau tadinya tidak ada hubungan apa-apa bisa saja terjadi sesuatu. Kau tahu, anak muda. Kalau di satu tempat misalnya kau hanya berdua saja dengan seekor kambing. Lama-lama kambing itu bisa saja kau lihat cantik juga, seperti cantiknya seorang gadis! Hik… hik… hik! Apa lagi seorang gadis sungguhan walau tadinya kau tidak menyukainya. Jadi hati-hati anak muda! Jangan sampai nanti ada yang bilang gurunya kencing berdiri muridnya kencing menungging! Ha… ha… ha…!”
Tua Gila usap dua matanya yang lebar dan berair. Dia memandang ke langit.
“Matahari sudah tinggi. Cukup lama kita meninggalkan nenek itu….”
“Kalau begitu kita segera saja kembali ke goa,” kata Wiro.
“Ya, tapi masih ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu….”
“Apa lagi Kek?” tanya Wiro kurang sabaran.
“Belakangan ini ada kabar yang meriwayatkan adanya satu makam disebut Makam Setan di sebuah pulau di pantai barat Andalas…. Aku jadi ingat pada peristiwa yang kita alami beberapa waktu lalu. Datuk Tinggi Raja Di Langit! Bangsat yang menjerumuskan kita ke dalam makam batu! Mungkinkah dia masih hidup?”
“Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu Kek?” tanya Wiro.
“Di pantai barat pulau Andalas ramai dibicarakan orang tentang sebuah kuburan yang diberi nama Makam Setan. Kalau ternyata makam ini ada sangkut pautnya dengan Datuk Tinggi Raja Di Langit….”
“Mengapa setan tua itu masih kau pikirkan Kek? Dia sudah lama jadi jerangkong di liang batu itu!” kata Wiro pula. “Baiknya kita segera kembali ke goa Kek.”
Tua Gila mengangguk.
Ketika mereka sampai di goa di kaki bukit, Sika Sure Jelantik tak ada lagi di tempat itu.
“Apa yang terjadi?” ujar Tua Gila sambil memandang berkeliling.
“Jangan-jangan nenek itu kabur melarikan diri,” ujar Wiro.
“Tidak mungkin. Kakinya masih cidera. Lagi pula dia masih dalam keadaan tertotok ketika kita tinggalkan. Sesuatu telah terjadi. Ada orang yang menculiknya! Kau tunggu di sini. Aku akan menyelidik keadaan sekitar sini.”
Tak lama kemudian Tua Gila muncul kembali. “Tak ada tanda-tanda ke mana lenyapnya nenek itu.”
Wiro menunjuk ke tanah di depan mulut goa. “Ada bekas-bekas telapakan kaki. Lebih dari dua orang.”
“Kau betul, aku bisa membedakan jejak mereka dengan bekas kaki kita! Bagaimana sekarang…?”
“Aku harus mencarinya,” jawab Tua Gila.
“Kau bermaksud mencari nenek itu? Buat apa mempersusah diri? Padahal dia benci setengah mati padamu!”
“Soal kebencian itu tidak ada hubungannya dengan kelenyapannya! Aku harus menyelidik, Wiro.”
“Nenek brengsek itu hendak membunuhmu! Mengapa kini kau mengkhawatirkan dirinya? Ingat urusan di masa muda? Kalau kau berpikir sampai ke situ, dia benar-benar akan membuatmu celaka! Heran…. Nenek jelek begitu saja masih ada yang mau menculik….”
“Jaga mulutmu anak muda!” hardik Tua Gila dengan berang. “Terserah kau mau bilang apa. Bagaimana pun aku harus mencarinya….”
“Jangan harap sekali ini aku mau ikut denganmu Kek,” kata Wiro.
Tua Gila tampak cemberut/Dengan ketus dia menjawab. “Aku juga tidak mengajakmu!” Tua Gila siap berkelebat pergi.
“Tunggui” seru Wiro.
“Anak setan! Apa lagi maumu?!” bentak Tua Gila. Bola matanya seperti mau keluar dari rongganya yang cekung.
Wiro menunjuk ke batang pohon besar di belakang Tua Gila. “Lihat! Ada guratan tulisan di batang pohon itu!”
,”Kau bergurau atau hendak menipuku anak muda?!”
“Siapa bergurau! Siapa menipu! Lihat dan baca sendiri!” ujar Wiro setengah kesal. Lalu melangkah melewati si orang tua mendekati pohon besar.
Tua Gila putar tubuhnya. Apa yang dikatakan Pendekar 212 memang bukan senda gurau. Pada batang pohon yang kulitnya terkelupas ada sebaris tulisan berbunyi: “Jika ingin mencari Sika Sure Jelantik silahkan datang ke Lembah Akhirat!”
“Jahanam!” rutuk Tua Gila.
“Nenek itu agaknya diculik oleh orang-orang Lembah Akhirat Kek!” kata Wiro dengan suara bergetar.
“Pasti! Aku memang akan menuju ke sana! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sika akan aku ratakan seluruh Lembah Akhirat!”
“Kek, jangan terlalu bersemangat menolong bekas kekasihmu itu….”
“Tutup mulutmu! Diam!” bentak Tua Gila.
Wiro garuk-garuk kepala. Bagaimana aku harus memberitahu monyet yang jauh lebih tua dariku ini!” katanya dalam hati. “Kalau kau tidak memperbolehkan aku bicara terserah saja! Mulutku jadi tidak pegal karena tak perlu banyak bicara! Tapi kalau semua ini hanya tipuan belaka, kau akan celaka tiga belas Kek. Aku khawatir orang-orang Lembah Akhirat menjebakmu dengan sengaja menculik nenek itu. Kalaupun kau sanggup membebaskan Sika Sure Jelantik lalu apa untungmu? Apa sebenarnya maumu menyelamatkan orang yang jelas-jelas telah mencoba membunuhmu sampai beberapa kali!”
“Sudah! Kau urus urusanmu. Aku urus urusanku!” Habis berkata begitu Tua Gila lantas berkelebat tinggalkan tempat itu.
“Dasar orang tua gila!” gerutu Wiro sendirian.

TUJUH

APA sebenarnya yang telah terjadi dengan Sika Sure Jelantik? Hanya sesaat setelah Tua Gila dan Wiro sampai di tepi mata air tempat mereka berbincang-bincang tiba-tiba muncul tiga orang bertampang dan berpakaian aneh di depan goa. Dua orang mengenakan jubah merah, memiliki wajah dan rambut berwarna merah seperti dicat. Masing-masing memegang sebatang tongkat yang bagian tengahnya ditancapi sebuah tengkorak kepala manusia.
Orang ke tiga adalah yang paling angker di antara manusia-manusia aneh ini. Dia mengenakan jubah gombrong warna merah. Wajahnya tanpa alis, berwarna merah dan hidungnya ditancapi sepotong tulang manusia. Di atas kepalanya bertengger rambut merah pekat, keriting kecil dan lebat berbentuk batok kelapa.
Dari ciri-ciri ke tiga orang itu jelas sudah bahwa mereka adalah orang-orang dari Lembah Akhirat. Yang berpakaian gombrong dikenal dengan julukan Pengiring Mayat Muka Merah, salah satu dari tiga tangan kanan pembantu Datuk Lembah Akhirat.
“Kita sudah terlalu lama meninggalkan Lembah Akhirat! Kalau hari ini tidak berhasil mencari tahu di mana adanya Pengiring Mayat Muka Hijau, kita harus segera kembali!” Berkata Pengiring Mayat Muka Merah sambil memandang ke arah goa. Setelah memperhatikan tanah di depan goa dia melanjutkan. “Ada bekas-bekas kaki walaupun tersamar. Cepat kalian menyelidik ke dalam goa!”
Dua lelaki bermuka merah yang memegang tombak berkepala tengkorak serta meria menyelinap masuk ke dalam goa. Sesaat kemudian salah seorang di antara mereka keluar lagi dan memberi tahu.
“Ada seorang nenek bertampang angker tergeletak di lantai goa. Dua kakinya dalam keadaan cidera. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak….”
“Sudah mampus atau masih hidup?!” sentak Pengiring Mayat Muka Merah.
“Masih hidup. Pasti masih hidup karena ada hembusan nafas keluar dari hidungnya dan erangan halus dari mulutnya.”
Pengiring Mayat Muka Merah mendorong anak buahnya ke samping lalu melompat masuk ke dalam goa. Seperti yang diterangkan tadi di lantai goa tampak terbujur seorang nenek berjubah hitam. Sepasang kakinya dilumuri ampas berwarna hijau dan diikat dengan beberapa ranting kayu. Dua mata si nenek yang tertutup perlahan-lahan membuka. Lalu mulutnya menghardik.
“Siapa kalian? Setan atau masih bisa disebut manusia?!”
Dua anak buah Pengiring Mayat Muka Merah tersurut saking kagetnya disentak demikian. Pengiring Mayat Muka Merah tampak tenang. Dia memperhatikan tampang si nenek dengan seksama lalu menyeringai.
“Nenek sakti Sika Sure Jelantik! Sungguh peruntungan kami besar sekali hari ini. Tidak menyangka akan bertemu dengan seorang tokoh besar sepertimu!”
“Kau kenal diriku! Huh! Kau sendiri siapa?!” Sika Sure Jelantik kerutkan kening dan pelototkan mata.
“Kami orang-orang Lembah Akhirat. Aku Pengiring Mayat Muka Merah, pembantu kepercayaan Datuk Lembah Akhirat!”
Tampang si nenek sesaat berubah. “Mereka bukan orang baik-baik. Aku sudah menyirap kabar orang-orang Lembah Akhirat jahat dan busuk. Penuh tipu daya dan kejam luar biasa!”
“Aku tidak suka melihat tampang-tampang kalian! Lekas keluar dari dalam goa ini!”
“Kau tidak suka kami tidak jadi apa. Tapi kami justru suka dirimu!” jawab Pengiring Mayat Muka Merah. “Kulihat dua kakimu cidera. Agaknya ada tulang yang patah, ijinkan kami menolongmu.”
“Aku tidak butuh pertolonganmu! Keluar!”
“Kami akan keluar jika itu maumu. Tapi aku merasa kasihan. Kau agaknya merasa tidak perlu ditolong karena telah ada yang menolong.. Bukan begitu?”
“Apa urusanmu!”
“Kami memang tidak ada urusan. Tapi ada satu hai yang perlu aku beri tahu padamu,” kata Pengiring Mayat Muka Merah. “Siapapun yang kau anggap telah menolong mengobati cidera pada kedua kakimu sebenarnya orangnya telah menipu dirimu. Dia sebenarnya bermaksud jahat dan keji!”
“Jangan bicara ngacok!”
“Pertama, kalau orang hendak menolong, mengapa tubuhmu dalam keadaan tertotok?! Kedua obat yang dipakai melumuri dua kakimu yang cidera adalah ramuan tumbuk berasal dari dedaunan beracun!”
Sepasang mata Sika Sure Jelantik kembali mendelik. “Kau mau menipuku!”
“Apa untungnya aku menipumu? Dengar, dalam waktu dua hari ke dua kakimu akan mulai membusuk akibat racun jahat. Racun kemudian akan menjalar ke sekujur tubuhmu. Kalau jantungmu tak sampai berhenti berdetak dan kau masih bisa bertahan hidup maka anggota badanmu akan lumpuh dan kedua matamu akan buta!”
Paras Sika Sure Jelantik semakin berubah.
“Jika kau tidak mau kami tolong, maka tidak ada gunanya kami berlama-lama di sini. Selamat tinggal nenek yang malang….”
Sika Sure Jelantik memandang berkeliling.
“Kau mencari orang yang katamu telah menolongmu?” ujar Pengiring Mayat Muka Merah. “Dia pasti sudah lama meninggalkan kau di sini. Membiarkan dirimu menderita sengsara dan menemui kematian secara perlahan-lahan….” Habis berkata begitu Pengiring Mayat Muka Merah memberi isyarat pada ke dua anak buahnya. Mereka lalu sama bergerak menuju mulut goa.
“Tunggu!” seru Sika Sure Jelantik.
“Hemm…. Ada sesuatu yang hendak kau katakan Nek?” tanya Pengiring Mayat Muka Merah.
“Kau tadi mengatakan hendak menolongku…”
“Benar!”
“Bagaimana caranya?”
“Kami memiliki sejenis obat yang ampuh. Kau bisa sembuh dalam waktu satu hari satu malam….” “Kalau begitu lakukanlah. Mana obat itu!”
Pengiring Mayat Muka Merah melangkah mendekati sosok Sika Sure Jelantik. “Obat itu tidak kami bawa saat ini. Obat itu tersimpan di Lembah Akhirat. Kami akan membawamu ke sana jika kau memang suka ditolong!”
“Jahanam! Bangsat bermuka merah ini jangan-jangan memang hendak menipuku!” membatin Sika Sure Jelantik.
Pengiring Mayat Muka Merah letakkan telapak tangan kirinya di atas kening si nenek lalu berkata. “Tubuhmu agak panas. Pertanda racun jahat dari tumbukan dedaunan itu mulai bekerja. Waktumu sangat terbatas. Perjalanan ke Lembah Akhirat tidak dekat. Jika kita berangkat sekarang, lusa pagi baru sampai. Kurasa nyawamu masih bisa tertolong….”
Sika Sure Jelantik memandang melotot ke langit-langit goa. Dari mulutnya terdengar kutuk serapah walaupun perlahan. “Tua Gila keparat! Kau benar-benar jahanam!”
“Ah, jadi itukah orangnya yang telah mencelakaimu Nek?” ujar Pengiring Mayat Muka Merah dengan seringai penuh arti. “Kau tak usah khawatir! Kalau kau sudah sembuh Datuk Lembah Akhirat pasti akan menolongmu mencari jalan agar kau bisa membalas dendam….”
“Dari dulu-dulu aku memang sudah punya niat untuk membunuhnya! Tapi belum kesampaian…!” kata Sika Sure Jelantik pula yang jelas sudah terpengaruh oleh kata-kata bujukan orang.
“Maksudmu akan kesampaian. Selain itu siapa tahu kau berjodoh dengan Kitab Wasiat Malaikat….”
“Apa betul kitab sakti itu benar-benar ada?” tanya si nenek yang semakin terpikat
“Tentu saja ada. Datuk Lembah Akhirat yang memegangnya. Dia akan memberikan pada seseorang yang dianggapnya cocok. Siapa tahu Datuk Lembah Akhirat suka dan memberikan kitab itu padamu. Datuk sangat menghormat dan menyukai orang tua secantikmu ini….”
Sika Sure Jelantik tersenyum mendengar ucapan terakhir Pengiring Mayat Muka Merah itu. Maka dia pun berkata. “Baik, kalian boleh membawa aku ke Lembah Akhirat!”
“Kau melakukan keputusan yang tepat Nek!” ujar Pengiring Mayat Muka Merah. Lalu pembantu Datuk Lembah Akhirat ini memberi isyarat pada dua anak buahnya. Ke dua orang itu segera menggotong sosok Sure Jelantik dan membawanya ke luar goa.
Sebelum meninggalkan tempat itu dengan jari-jari tangannya Pengiring Mayat Muka Merah mengupas permukaan kulit pada batang pohon besar. Lalu dengan sepotong patahan ranting dia menggurat permukaan batang pohon, menuliskan sebaris kalimat.

*
* *

DELAPAN

SUTAN Alam Rajo Di Bumi menatap wajah Sabai Nan Rancak beberapa saat lalu berkata. “Aku gembira dengan kemunculanmu yang tiba-tiba ini Sabai. Selama kau pergi banyak terjadi hal-hal yang menghebohkan dalam rimba persilatan pulau Andalas. Beberapa tokoh golongan putih dibunuh. Para pembunuh walau sulit dijajagi siapa adanya tapi aku berhasil mencari tahu. Kebanyakan setelah membunuh mereka menghilang ke tanah Jawa. Seperti dara bernama Anggini, murid Dewa Tuak. Dia kabur setelah diketahui membunuh Datuk Mangkuto Kamang. Agaknya ada orang-orang tertentu yang dikirim ke sini untuk mengacau….”
“Aku kembali membawa kabar buruk,” berkata Sabai Nan Rancak dengan suara agak tersendat. Waktu bicara dia memandang ke jurusan lain seolah tidak berani menatap wajah orang di hadapannya.
Sutan Alam Rajo Di Bumi tersenyum. “Kabar apapun yang kau bawa bagiku tidak menjadi persoalan Sabai. Aku gembira melihat kau kembali. Apakah selama ini kau ada merasa rindu padaku Sabai?”
“Bagaimana dengan dirimu sendiri. Apakah kau merindui diriku?” balik bertanya Sabai Nan Rancak. Kali ini dia bertanya dengan menundukkan kepala.
“Kau tahu bagaimana hatiku padamu. Rasanya ingin aku balikkan langit. Ingin kutarik matahari agar siang berganti malam dan malam cepat berganti siang. Agar aku segera dapat bertemu denganmu….”
“Sutan….”
“Ah, kau lagi-lagi memanggilku dengan sebutan itu. Sudah berapa kali aku mengatakan, jika kita berdua-dua seperti ini kau harus memanggilku dengan nama asliku!”
Sabai Nan Rancak tersenyum. “Suto, Suto Abang….” kata si nenek akhirnya menyebut nama asli Sutan Alam Rajo Di Bumi. “Aku khawatir, kerinduanmu akan berubah menjadi kemarahan setelah tahu kegagalan apa yang kubawa pulang ke Singgalang ini.”
“Kau boleh membawa seribu kegagalan Sabai. Hatiku tidak akan berubah…. Kau tahu Bagaimana aku mengasihimu. Aku membutuhkan dirimu. Kau membutuhkan diriku…. Kita orang-orang yang patah hati diterjang cinta dan bertemu dalam satu perasaan…” Sutan Alam alias Suto Abang diam sesaat. Diulurkannya tangannya memegang jari-jari si nenek. “Aku sudah mengatakan isi hatiku. Apalagi yang kau khawatirkan Sabai?”
“Terus terang aku menaruh khawatir kalau lama-lama hubungan kita ini diketahui orang luar….”
Lelaki tua bertubuh tinggi besar itu bangkit dari kursi batu yang didudukinya. “Selama kita sama-sama memegang rahasia rasanya tak ada yang perlu ditakutkan. Manusia hidup bercinta adalah hal yang lumrah saja. Mengapa kita harus dikecualikan?”
“Aku masih punya satu kekhawatiran lain Suto,” kata Sabai Nan Rancak pula.
“Hemm…. Katakan saja padaku….” ujar Sutan Alam sambil membelai wajah si nenek dengan jari-jari tangannya.
“Aku khawatir kalau-kalau Sinto Weni….”
“Jangan kau sebut nama itu! Dalam sisa hidupku ini aku tidak ingin lagi mendengar nama Sinto Weni atau Sinto Gendeng!”
“Tapi bagaimanapun dulu dia….”
“Dia perempuan pengkhianat. Ketika Sukat Tandika meninggalkannya mentah-mentah dia melarikan cintanya padaku. Namun kemudian dia tergila-gila dengan kakakku sendiri! Hingga aku akhirnya disingkirkan secara halus, dilempar ke pulau Andalas ini!”
“Kau salah Suto. Tidak ada yang menyingkirkan atau melemparkanmu ke sini. Aku sering mendengar tuduhanmu terhadap Sinto Gendeng….”
“Aku bilang jangan sebut nama itu!” teriak Sutan Alam dengan suara menggeledek dan dua tangan terkepal kencang. Tampangnya membesi mengerikan. Saking tak dapatnya dia menahan luapan amarah. Kakek ini tiba-tiba balikkan badan dan hantamkan tangan kanannya ke dinding goa.
Tanpa suara, tanpa bunyi, tanpa siuran angin tangan kanannya sampai sebatas pergelangan amblas masuk ke dalam batu goa yang keras. Ketika perlahan-lahan tangan itu ditarik batu di sekitarnya ikut terbongkar dan di dinding goa kini kelihatan satu lobang besar!
“Pukulan Malaikat Maui Mendera Bumi itu membuat aku ngeri Suto…” kata Sabai Nan Rancak. “Maafkan kalau aku telah membuatmu marah. Aku tidak bermaksud….” Sabai terdiam sesaat. “Namun kalau aku masih boleh bicara, aku tidak yakin dia bergila-gila dengan kakakmu Suto. Aku dengar perempuan itu keras hati. Mungkin kau hanya korban fitnah. Mungkin juga perempuan yang kau benci itu mengarang lalu menyebar cerita dusta. Yang jelas ada sesuatu yang sampai saat ini belum dapat kau singkapkan. Lain dari itu kau tidak pernah menceritakan siapa dan dimana adanya kakakmu itu. Kau seolah satu manusia terdiri dari dua sisi saling berbeda. Sisi pertama kau begitu terus terang padaku. Namun pada sisi kedua sepertinya kau menyembunyikan sesuatu padaku….”
Sutan Alam Rajo Di Bumi alias Suto Abang tertawa lebar. “Kau pandai bicara, itu yang membuat salah satu alasanku mencintai dirimu. Namun dengar Sabai. Aku tidak ingin membicarakan masa silam. Lebih baik kau yang menceritakan pengalamanmu di tanah Jawa,” kata Sutan Alam mengalihkan pembicaraan.
Lama Sabai Nan Rancak terdiam. Lalu dengan suara perlahan sambil memegang jari-jari tangan Sutan Alam Rajo Di Bumi nenek berjubah hitam itu berkata. “Kabar buruk pertama yang bisa kuceritakan adalah tewasnya sahabat kita Datuk Angek Garang….”
“Kabar itu memang sempat kudengar dari seorang nelayan mata-mata kita belum lama berselang. Hanya saja belum diketahui siapa si pembunuh adanya…” ujar Sutan Alam Rajo Di Bumi.
“Aku menduga keras pelakunya adalah seorang kakek aneh yang dijuluki Kakek Segala Tahu….”
“Hemmm….” Sutan Alam usap-usap muka tuanya yang masih klimis. “Manusia satu itu memang bukan orang sembarangan. Kehebatannya bisa disejajarkan dengan para tokoh langka seperti Dewa Tuak, si keparat Sinto Gendeng dan Tua Gila sendiri. Malah boleh dikata kakek Segala Tahu memiliki kehebatan tertentu yang tidak dimiliki tokoh lainnya. Jika memang dia yang membunuh Datuk Angek Garang, kita harus melakukan sesuatu agar diantara sesama golongan putih tidak merebak silang sengketa berkepanjangan. Berita apa lagi yang kau bawa dari tanah Jawa?”
“Sementara itu orang-orang Lembah Akhirat semakin sering meninggalkan markas mereka untuk melakukan hal-hal yang mereka katakan sebagai menyelamatkan golongan putih dari bencana bentrokan satu sama lain….”
“Apakah kau juga menyirap kabar mengenai Kitab Wasiat Malaikat?” tanya Sutan Alam Rajo Di Bumi.
“Kitab itu memang telah menjadi pembicaraan para tokoh rimba persilatan. Banyak di antara mereka yang mendatangi Lembah Akhirat. Namun kabar lebih lanjut tidak diketahui. Mereka yang masuk ke Lembah Akhirat tak pernah keluar lagi. Kalaupun kembali muncul di luaran sepertinya mereka membekal satu tugas.”
“Orang-orang Lembah Akhirat memang aneh. Mereka bukan orang jahat, tapi juga sukar dikatakan orang-orang baik. Kau harus berhati-hati terhadap mereka Sabai. Kabarnya sudah ada satu dua kaki tangan Datuk Lembah Akhirat berkeliaran di pulau Andalas ini. Aku ingin melakukan penyelidikan apa sebenarnya yang ada di Lembah Akhirat yang kabarnya begitu menggegerkan. Namun kau tahu waktuku sangat terbatas. Usiaku sudah begini lanjut. Lagi pula aku merasa sudah saatnya mulai menjauhi segala macam urusan dunia.”
“Kalau kau mempercayai, aku sanggup mewakili. Namun tanpa tambahan ilmu pengetahuan atau kesaktian agaknya sulit sekali bagiku untuk kembali ke Tanah Jawa.”
“Jangan terlalu berputus asa Sabai. Adakah satu kejadian yang membuatmu kini merasa takut kembali ke Jawa?”
“Bukan rasa takut Suto. Tapi rasa was-was…” Jawab Sabai Nan Rancak.
Sutan Alam Rajo Di Bumi tersenyum. Kepalanya didekatkan ke muka si nenek untuk mencium pipi, leher dan kuduknya hingga Sabai Nan Rancak menggeliat dan keluarkan suara mendesah.
“Rasa was-was adalah permulaan dari rasa takut. Ceritakan terus terang apa yang kau alami dan menyebabkan kau mempunyai perasaan seperti . itu…” kata Sutan Alam setengah berbisik ke telinga Sabai Nan Rancak.
Si nenek yang terangsang oleh ciuman Sutan Alam lebih dulu berusaha menindih gejolak darahnya baru berikan keterangan.
“Dua kali aku hampir dapat menghabisi Tua Gila. Namun dua kali dia diselamatkan oleh seorang perempuan aneh berkepandaian tinggi mengenakan pakaian dan penutup wajah warna kuning. Yang membuat aku benar-benar merasa terpukul, dia sanggup menahan pukulan Kipas Neraka dan mendorong hawa sakti yang kumiliki masuk kembali ke dalam ke dua tanganku. Aku tidak malu mengatakan bahwa jika orang itu mau dia bisa membuatku celaka waktu menghantam balik seranganku!”
“Jadi kau tidak mengalami cidera ketika orang itu menghantam balik pukulan saktimu?” tanya Sutan Alam dengan kening berkerut.
“Untungnya tidak,” jawab Sabai Nan Rancak.
“Lalu apa yang terjadi dengan tangan kananmu. Kulihat ada tanda-tanda kulit dan daging tangan kananmu mengelupas!”
“Cidera ini terjadi dalam bentrokan ke dua. Aku berusaha menghantam kepalanya. Agar bisa membunuhnya dengan cepat. Orang bercadar menangkis dan inilah akibatnya!”
“Hemmmm….” Sutan Alam bergumam. “Kita harus mencari tahu siapa adanya orang itu. Kalau tidak pasti bahaya yang lebih besar akan menimpa dunia persilatan. Orang-orang golongan putih agaknya sudah terpecah-pecah oleh hasut dan fitnah. Kau tak usah khawatir. Aku akan mengobati lukamu itu.” Sekarang apakah masih ada hal lain yang hendak kau sampaikan?”
“Ada satu tokoh baru muncul yang memiliki kepandaian setara Tua Gila. Orang ini memperkenalkan diri dengan julukan Iblis Pemalu! Walau dia kelihatan berpihak pada kelompok Tua Gila namun sulit diduga apakah dia benar-benar seorang tokoh golongan putih….”
“Tanah Jawa semakin dipenuhi tokoh-tokoh aneh berkepandaian tinggi. Kita harus melakukan sesuatu Sabai. Kau memang perlu mendapat tambahan ilmu baru. Di samping itu kita harus bertindak memakai siasat. Hanya sayang aku tidak dapat memberikan ilmu kepandaian apa-apa padamu. Seperti kau ketahui aku disumpah untuk tidak menurunkan ilmu kepandaian apapun pada siapapun….”
“Termasuk ilmu Pukulan Malaikat Mendera Bumi tadi?”
Si kakek maklum kalau sejak lama Sabai Nan Rancak sangat menginginkan memiliki ilmu pukulan sakti itu. Perlahan-lahan dia anggukkan kepalanya lalu bertanya mengalihkan pembicaraan.
, “Apakah kau pernah mendengar cerita tentang sebuah makam yang disebut Makam Setan? Terletak di sebuah pulau sunyi dan angker serta rahasia di pesisir barat Andalas?”
“Dulu kau juga pernah menerangkan. Aku hanya tahu sedikit dan memang pernah berencana untuk menyelidik. Namun karena hasrat ingin mengejar Tua Gila rencana menyelidik Makam Setan itu jadi tertunda….”
“Aku akan mengobati cidera di tanganmu itu. Lalu memberi tahu apa yang aku tahu mengenai Makam Setan. Mungkin itu satu harapan besar bagimu sebelum kembali ke tanah Jawa. Aku sangat yakin makam itu menyimpan sesuatu yang hebat. Jika kita bisa menguasai makam berarti kita akan menguasai rimba persilatan pulau Andalas. Dan lebih dari itu tanah Jawa akan berada dalam genggaman kita. Semua urusan itu kupercayakan padamu Sabai.”
“Aku berterima kasih atas petunjuk dan kepercayaanmu Suto. Apa benar kabar yang aku sirap bahwa makam itu ada sangkut pautnya dengan Datuk Tinggi Raja Di Langit. Seorang tokoh paling hebat di pulau Andalas ini yang lenyap begitu saja sejak beberapa waktu lalu?”
“Justru itulah yang harus kau selidiki. Namun aku memang menduga keras makam itu ada hubungannya dengan diri Datuk Tinggi Raja Di Langit. Aku beritahukan padamu bahwa tokoh tersebut memiliki dua senjata sakti yang sulit dicari tandingannya. Pertama sebuah Mantel Sakti. Mantel ini mengandung satu kekuatan dahsyat yang jika dihantamkan bisa menumbangkan pohon besar, menghancurkan batu. Jika seseorang sampai kena angin pukulan mantel tubuhnya akan mental dalam keadaan hancur. Kalaupun dia bisa bertahan hidup maka jalan darahnya akan tertutup, urat-urat dalam tubuhnya akan hancur!”
“Luar biasa! Belum pernah aku mendengar senjata sehebat itu!” kata Sabai Nan Rancak.”
“Senjatanya yang ke dua. Berupa butir-butir Mutiara Setan. Senjata ini sanggup menembus tembok atau batu. Dapat kau bayangkan bagaimana kalau dipakai menghantam manusia! Nah Sabai, jika kau bisa menyelidiki hal ihwal Datuk Tinggi dan mencari jalan mendapatkan dua senjata itu apapun urusanmu di tanah Jawa, siapa pun musuhmu kau tak usah was-was lagi. Semua akan beres! Namun ada satu hal perlu kukatakan padamu. Jika kau mendapatkan dua senjata itu atau salah satu dari keduanya, kau harus menemuiku terlebih dahulu. Kita perlu mengatur siasat…. Bagaimana menurutmu. Ada yang hendak kau katakan Sabai?”
Sabai Nan Rancak gelengkan kepala. “Semua keteranganmu sudah jelas bagiku Suto.”
“Bagus! Sekarang lupakan semua urusan dunia. Kau butuh istirahat. Aku akan menemanimu. Kau suka Sabai…?”
“Sebentar Suto. Tadi kau bilang selanjutnya kita harus bertindak memakai siasat. Apa yang ada dalam otakmu yang penuh akal itu Suto?”
“Aku mendengar Pendekar 212 Wiro Sableng anak murid si keparat Sinto Gendeng dan juga murid Tua Gila berada dalam malapetaka besar, kehilangan ilmu kepandaian dan kesaktian. Kalau kau nanti kembali ke Jawa yang harus kau cari lebih dulu bukannya Tua Gila tapi Pendekar 212. Bunuh pemuda itu, maka Tua Gila ataupun Sinto Gendeng pasti akan keluar dari sarang mereka. Saat itulah kau bisa menghabisi mereka!”
“Tujuanku semula hanya membunuh Tua Gila. Mengapa kini kau tambahkan dengan membunuh Sinto Gendeng?” bertanya Sabai Nan Rancak.
“Keadaan bisa berubah. Setiap perubahan bisa mendatangkan keuntungan bagi kita jika kita mau memutar otak!”
Sabai Nan Rancak anggukkan kepala. “Kau memang pintar Suto…. Dan licik!”
Sutan Alam Rajo Di Bumi alias Suto Abang tertawa bergelak. “Jika kita ingin menghadapi kehidupan, pergunakan otak, pergunakan kelicikan. Kalau tidak orang lain akan mengotaki dan melicikkan diri kita. Kita harus kokoh tegar seperti banteng ketaton tapi juga harus licik seperti seekor ular!”
Sutan Alam melangkah ke arah dinding goa. Tiga langkah di depan dinding tiba-tiba terdengar suara berkereketan. Dinding batu menggeser aneh. Sutan Alam tersenyum dan anggukkan kepala memberi isyarat pada Sabai Nan Rancak lalu melangkah masuk ke dalam ruangan batu.
Sabai Nan Rancak mengikuti dengan cepat. Sebelum batu kembali bergeser menutup masih kelihatan sepasang, kakek dan nenek itu saling berpeluk berpagut-pagutan.

*
* *

SEMBILAN

DALAM gelapnya malam dan dinginnya udara menjelang pagi serta gencarnya deru angin yang bergabung dengan deru ombak, lelaki muda pemilik pukat merapatkan perahunya itu ke lamping gundukan batu karang. “Ne
k, aku hanya bisa mengantarkanmu sampai di sini.” Si pemilik perahu berucap.
Sabai Nan Rancak pelototkan mata lalu memandang ke depan, ke arah gugusan batu karang yang berbaris seolah membentengi pulau kecil di kejauhan sana.
“Tujuanku adalah pulau di balik batu karang itu. Kurang ajar sekali kau berani menurunkan aku masih di tengah laut begini rupa!”
“Nek, pulau yang kau tuju hanya tinggal dekat. Air laut di kawasan ini tidak dalam, hanya sebatas pinggul. Kau bisa turun dari perahu dan menuju ke pulau dengan mudah. Jika kau tak mau pakaian mu basah, kau bisa melompat dari satu batu karang ke batu karang rendah yang membujur sampai ke pulau sana….”
“Kau benar-benar kurang ajar! Berani mengajariku! Aku tidak akan membayar sewa perahumu!”
“Jangan Nek! Jangan lakukan itu! Aku sudah menyabung nyawa mau mengantarmu ke sini!” kata pemilik perahu setengah meratap.
“Katakan mengapa kau tidak mau membawa aku sampai ke pulau sana?”
“Sudah kubilang berulang kali. Itu pulau setan.
Ada seribu keangkeran di sana. Berani ke sana jangan mengharap bisa kembali hidup-hidup….”
“Memangnya di pulau itu ada apa?!” tanya Sabai Nan Rancak lagi.
“Jawabnya hanya satu kata Nek. Maut!”
Sabai Nan Rancak tertawa mengekeh.
Mendadak di kejauhan dari arah pulau lapat-lapat terdengar suara aneh.
“Seperti suara lolongan anjing…” desis Sabai Nan Rancak.
“Kurasa itu baru satu saja dari keanehan yang menyeramkan. Aku minta bayaranku sekarang juga Nek….”
“Hemmm….” Sabai Nan Rancak bergumam. Dari batik jubah hitamnya dikeluarkannya sesuatu lalu diberikannya pada pemilik perahu.
Yang diberikan bukan uang tapi sepotong kecil perak. Semula lelaki itu hendak mengembalikan perak ini pada Sabai. Tapi setelah menilai akhirnya dia berkata. “Masih kurang Nek. Paling tidak kau harus memberikan tiga keping perak sebesar ini….”
“Kalau kau mau menunggu sampai aku kembali, aku akan berikan kau sepuluh keping perak sebesar itu! Apa jawabmu?!”
“Menunggu di sini, tidak mendarat ke pulau sana?”
Sabai mengukur jarak antara perahu di mana dia berada, memperhatikan letak batu-batu karang rendah yang bersusun ke arah pulau lalu anggukkan kepala.
“Berapa lama aku harus menunggu Nek? Aku khawatir….”
“Apa yang kau khawatirkan?!” sentak Sabai Nan Rancak.
“Aku menunggu ternyata kau tidak pernah kembali…”
“Maksudmu aku menemui kematian di pulau setan itu?!”
“Ki… kira… kira begitu Nek.”
Sabai Nah Rancak tertawa bergelak. “Aku memang tidak punya nyawa rangkap. Tapi aku pasti kembali! Tunggu di sini dan jangan berani menipu!” Dari balik jubahnya si nenek keluarkan segulung tali. Dia membuat semacam buhul besar. Buhul ini dilemparkannya hingga masuk dan menjirat di ujung lancip batu karang di samping perahu. Ujung satunya lagi diikatkan ke tiang besar perahu. Lalu dia berpaling pada pemilik perahu dan sambil menyeringai berkata. “Tali ini bukan tali biasa. Buhul dan ikatannya bukan ikatan biasa. Tak ada yang bisa melepaskah. Jangan harap kau bisa memutus tali dengan senjata tajam atau membakar dengan api! Berarti kau tetap di sini sampai aku kembali! Hik… hik… hik!”
Masih tertawa panjang Sabai Nah Rancak lesatkan tubuhnya ke batu karang datar yang tersembul di depan perahu. Dari sini dia melompat lagi ke batu karang di depannya. Demikian beberapa kali hingga akhirnya dia mencapai pasir pantai pulau di balik barisan batu-batu karang meruncing tinggi.
“Hebat!” kata pemilik perahu dalam hati yang memperhatikan kepergian si nenek. “Nenek itu pasti sebangsa setan juga. Kalau tidak mengapa dia berani pergi ke Pulau Setan itu!”
Di pasir pantai pulau sesaat Sabai Nan Rancak tegak tak bergerak. Empat rongsokan perahu yang hanya tinggal kepingan-kepingan papan lapuk bergeletakan di atas pasir pantai pulau. Sabai pasang telinganya baik-baik. Sepasang matanya memandang menembus kegelapan. Dia tidak melihat sesuatu yang bergerak namun dia dapat mendengar suara aneh dari arah timur pulau. Suara itu adalah suara orang mendesah panjang yang sesekali berubah menjadi teriakan-teriakan seperti orang mencaci-maki. Lalu terdengar pula suara lolongan anjing. Semua suara itu ditimpali oleh deru angin dan debur ombak serta gemerisik daun-daun pohon kelapa. Jika bukan Sabai Nan Rancak yang berada di tempat itu pasti orang sudah merasa ngeri dan dingin kuduknya. Dan kalau bukan Sabai yang berkepandaian tinggi tidak mungkin akan menangkap suara desah berkepanjangan yang bersumber dari satu tempat cukup jauh di sebelah timur pulau.
Selain dari itu bagi si nenek menginjakkan kaki di pulau itu membawa kenangan tersendiri walaupun merupakan satu kenangan pahit memerihkan yang sampai saat itu membekas sangat dalam di lubuk hatinya. Pulau itu dulu adalah salah satu tempat kediaman Tua Gila alias Sukat Tandika, pemuda yang pernah menjadi kekasihnya Di pulau itu mereka memadu cinta berkasih sayang hingga akhirnya Sabai Nan Rancak berbadan dua. Sebelum bayi yang dikandungnya lahir Tua Gila meninggalkannya begitu saja. Si nenek menarik nafas panjang beberapa kali.
Setelah memperhatikan keadaan sekelilingnya sekali lagi baru Sabai Nan Rancak berkelebat cepat ke arah timur. Karena pulau itu tidak seberapa besar maka cepat sekali dia sampai di tempat itu yang ternyata gugusan batu karangnya lebih besar dan tinggi. Sabai menyeruak di antara lamping-lamping batu karang dan hentikan langkahnya di satu tempat gelap di bawah bayang-bayang batu karang tinggi.
Di antara kerapatan pohon-pohon besar dan batu-batu cadas membentuk setengah lingkaran terlihat satu lapangan datar. Di salah satu ujung lapangan tampak dua buah batu nisan hitam berlumut tersembul dari permukaan tanah. Bagian badan dari makam hanya merupakan satu timbunan tanah datar yang ditumbuhi rerumputan dan alang-alang liar.
“Dua Makam Setan! Keanehan yang menggidikkan…” kata Sabai Nan Rancak dalam hati. Pandangannya kemudian membentur pada dua onggok jerangkong tengkorak manusia yang tulang-tulangnya tidak lagi memutih tetapi telah terselubung tanah dan lumut. Lalu di kiri kanan dua makam terpancang beberapa buah tiang kayu. Pada dua tiang tergantung dua jerangkong manusia dalam keadaan terkulai. Keadaan di tempat itu benar-benar menggidikkan. “Ada empat orang korban pembunuhan keji. Pasti terjadi beberapa lama lalu. Siapa kira-kira pelakunya?”
Sabai Nan Rancak melangkah mendekati dua makam bernisan batu hitam itu. Langkahnya tertahan ketika di kejauhan tiba-tiba terdengar suara raungan anjing. Lalu keadaan kembali sunyi. Si nenek diam sesaat kemudian palingkan kepalanya ke arah makam di sebelah kiri. Dari arah makam itu sekonyong-konyong terdengar suara-suara aneh.
“Duk… duk… duk… duk!”
“Suara apa itu,” pikir Sabai Nan Rancak. Tanah yang dipijaknya terasa bergetar. “Seperti suara sesuatu dipukul berulang-ulang. Inikah yang dimaksud Suto Abang dengan Makam Setan itu?” Sabai meneruskan langkahnya. Gerakannya kembali tertahan begitu dari liang makam sebelah kiri terdengar seperti suara orang meraung. “Dalam makam di sebelah kiri jelas ada makhluk hidup! Aneh! Mana mungkin? Orang yang sudah dikubur masih hidup…?”
Langit masih kelam, malam masih gelap dan tiupan angin serta deru ombak di laut terdengar lebih keras.
Sabai tenangkan gejolak hatinya. Kalau tadi dia hanya melangkah maka kini dia membuat satu kali lompatan dan gerakannya ini membawa dia serta merta berada di samping kiri makam. Di sini dia tegak berdiam diri, tak berani membuat suara. Telinganya dipasang dan matanya menatap makam tak berkesip. Lalu ada suara orang mendesah. Sunyi sesaat. Menyusul suara teriakan memaki. Tak jelas apa yang diteriakkan atau dimaki. Tapi suara yang seolah terpendam itu jelas berasal dari dalam liang makam di hadapannya.
Sabai perhatikan nisan makam yang terbuat dari batu hitam. Lalu kepalanya didekatkan agar bisa melihat apa yang tertulis di batu itu. Selain gelap, batu nisan itu juga kotor berselimut tanah. Dengan tangan kirinya Sabai mengusap permukaan batu nisan.
“Astaga!” si nenek keluarkan suara tercekat ketika yang tertulis di batu nisan hitam itu adalah nama “Tua Gila”. “Bagaimana mungkin? Orangnya masih hidup tapi kubur lengkap dengan namanya sudah ada di tempat ini…?!” Si nenek beranjak ke makam satunya. Seperti tadi dia menggosok bagian datar batu nisan. Kembali dia tersentak. Di batu nisan satunya ini tertera nama “Wiro Sableng”!
“Rahasia apa sebenarnya yang ada dibalik keanehan seram dua makam ini?” pikir Sabai Nan Rancak.
Baru saja dia membatin begitu tiba-tiba dari makam di sebelah kiri kembali terdengar suara “Duk… duk… duk… duk!” Menyusul suara orang berteriak-teriak tak karuan. Karena tidak jelas Sabai Nan Rancak tempelkan telinga kirinya pada batu nisan hitam di makam sebelah kiri.
“Duk… duk… duk,..!”
Sabai kerahkan tenaga dalam lalu ketuk-ketuk batu nisan hitam.
“Duk… duk… duk… duk!”
Suara pukulan dari dalam liang kubur terdengar makin keras dan terus-terusan.
“Hai! Siapa di dalam makam?!” Tidak sabaran Sabai Nan Rancak berteriak. Tentu saja dengan pengerahan tenaga dalam hingga suaranya bergema keras di malam yang kelam menjelang pagi itu.
“Duk… duk… dukkk! Siapa yang berteriak di luar sana?! Setan atau manusia harap sudi membebaskan diriku dari makam jahanam ini!”
Terdengar lagi suara pukulan yang menggetarkan batu nisan disusul lapat-lapat suara seseorang minta tolong.
“Kau sendiri manusia atau setan?!” balik berteriak Sabai Nan Rancak.
“Aku manusia tapi mungkin sudah dua pertiga jadi setan!” jawab orang di dalam makam. “Lekas bebaskan diriku dari liang keparat ini!”
“Aku tidak membawa peralatan! Bagaimana mungkin bisa menggali makammu?!” seru si nenek.
“Aku akan tunjukkan rahasianya. Makam ini terbuat dari batu! Melangkah ke belakang batu nisan. Periksa tanah sekitarnya. Kau akan menemukan sebuah tonjolan batu hitam. Tekan batu itu kuat-kuat. Batu penutup makam akan terbuka!”

*
* *

SEPULUH

SABAI Nan Rancak melangkah ke bagian belakang batu nisan hitam makam sebelah kiri itu. Kakinya digeser-geserkan ke tanah sampai akhirnya dia menyentuh sesuatu. Si nenek membungkuk, pergunakan tangannya untuk menggali. “
Aku sudah menemukan batu hitam di belakang nisan!” berteriak Sabai Nan Rancak.
“Bagus! Demi setan aku berharap peralatan rahasianya tidak macet!” Orang di dalam makam berseru.
“Peralatan rahasia apa?!” tanya Sabai tidak mengerti.
. “Tak perlu bertanya! Tekan batu itu dengan tanganmu. Kalau tidak ada gerakan pergunakan kakimu! Lakukan cepat! Ratusan hari mendekam di liang neraka ini nyawaku rasanya sudah sampai di tenggorokan!”
Sabai Nan Rancak tidak melakukan apa-apa. Dia diam saja tapi otaknya bekerja.
“Hai! Apakah sudah kau lakukan?!” Makhluk di dalam liang makam berteriak. … “Sebelum aku menolongmu kita perlu membuat perjanjian lebih dulu!” jawab Sabai Nan Rancak.
“Jahanam! Perjanjian apa?!”
“Pertama terangkan dulu siapa dirimu?!”
Orang di dalam liang makam tak segera menjawab. Lalu dia malah terdengar bertanya. “Mengapa kau ingin tahu siapa diriku?!”
“Kalau ternyata aku hanya menolong seorang bangsa kecoak, apa untungnya?! Mungkin juga kau benar-benar setan yang hendak mengganggu mempermainkan diriku! Bukankah makammu ini yang disebut orang sebagai Makam Setan?!”
“Setan! Dari suaramu aku tahu kau seorang perempuan! Kau manusia licik!”
“Terserah kau mau bilang apa! Kau mau mengatakan siapa dirimu atau aku segera pergi saja dari tempat celaka ini!”
“Tunggu! Aku akan terangkan siapa diriku! Sialan! Kau benar-benar menambah siksaanku!” jawab orang di dalam makam. “Aku Datuk Tinggi Raja Di Langit! Nah kau sudah tahu! Apa kau puas sekarang?! Ayo tepati janjimu! Tekan batu hitam itu!”
“Jangan kau berani mengaku-aku! Datuk Tinggi Raja Di Langit bukan manusia sembarangan! Bagaimana mungkin dia bisa berada dalam makam ini dan masih hidup?!
“Kau benar-benar perempuan sialan! Kalau kau ingin bertanya jawab nanti saja setelah aku keluar dari tempat celaka ini!”
“Mana bisa begitu. Aku yang akan menolongmu, aku yang harus mengatur: Aku tidak percaya kau adalah Datuk Tinggi Raja Di Langit. Bagaimana kau bisa membuktikannya?!” teriak Sabai Nan Rancak.
“Perempuan setan! Aku tidak perlu memberikan segala macam bukti! Jika kau tidak percaya pergi saja ke neraka! Ratusan hari dikubur di sini aku sebenarnya sudah pasrah mampus sejak dulu-dulu…!”
“Hemm…. Siapa yang menguburmu hidup-hidup di Makam Setan ini?!” Sabai ajukan pertanyaan sekaligus memancing agar orang mau memberi keterangan.
“Dua jahanam! Satu tua bangka sedeng satunya pemuda edan keblinger! Mereka bernama Tua Gila dan Wiro Sableng! Dua makam batu di pulau ini sebenarnya aku sediakan untuk mereka!”
Tentu saja Sabai Nan Rancak jadi terkejut karena tidak menyangka akan mendengar penjelasan seperti itu. Dia lantas teruskan pancingannya. “Setahuku Datuk Tinggi Raja Di Langit memiliki kepandaian dan kesaktian tidak lebih rendah dari dua orang itu! Bagaimana mungkin kau bisa mereka pendam di tempat ini?!”
“Aku kena tipu licik mereka!”
“Begitu? Hemm…. Lalu mayat siapa yang ada di makam satunya?!”
“Makam itu kosong! Wiro Sableng berhasil meloloskan diri!”
“Katamu kau sudah terpendam selama ratusan hari di makam ini! Bagaimana mungkin kau masih bisa hidup?” tanya Sabai selanjutnya.
“Setan menolongku! Makam batu ini lembab berlumut! Aku tidak kekeringan dan tidak kelaparan! Hanya dua anggota tangannya menjadi lemah, sulit digerakkan!”
“Kalau kau benar Datuk Tinggi Raja Di Langit apakah kau masih membekal Mantel Sakti dan Mutiara Setan, dua senjata andalanmu?!”
Orang di dalam liang kubur tak segera menjawab.
“Kau tidak menjawab berarti kau tidak tahu menahu perihal dua senjata itu. Jadi kau sebenarnya bukan Datuk Tinggi Raja Di Langit!”
“Kurang ajar! Omonganmu banyak amat! Pergi saja sana! Aku memilih mampus dari pada melayani dirimu! Setan betul!” Orang di dalam liang kubur memaki panjang pendek.
“Aku akan menolongmu keluar dari Makam Setan ini. Tapi kita harus membuat perjanjian.”
“Perjanjian apa?!”
“Kalau kau berhasil kubebaskan, aku minta kau menyerahkan Mantel Sakti dan Mutiara Setanmu padaku!”
“Kau benar-benar manusia licik!”
“Terserah padamu! Memilih mati atau masih ingin hidup untuk membalaskan sakit hatimu pada Tua Gila dan Wiro Sableng?!”
“Setan betul! Aku mengalah! Dua benda yang kau sebutkan itu akan kuberikan padamu kalau aku bebas!”
“Bagus!” seru Sabai Nan Rancak. Si nenek kerahkan tenaga dalam. Lalu dengan tangan kanan ditekannya batu hitam di tanah. Batu itu tidak bergerak sedikitpun.
“Batu hitam tidak bergerak!” Sabai memberi tahu.
“Celaka! Mungkin peralatan rahasianya sudah karatan. Macet! Kerahkan tenaga dalammu! Atau injak batu dengan kakimu kuat-kuat!” teriak orang di dalam makam.
Sabai Nan Rancak bangkit berdiri. Dia kerahkan tenaga dalam ke kaki kanan. Lalu dengan kaki itu diinjaknya kuat-kuat batu hitam yang menonjol di tanah. ,
Terdengar suara berderak. Tanah makam bergetar. Rumput dan alang-alang liar yang tumbuh di atasnya tampak bergoyang-goyang. Lalu perlahan-lahan tampak tanah dan tetumbuhan liar itu terangkat ke atas. Hawa busuk menebar keluar dari dalam liang makam membuat Sabai Nan Rancak tersurut beberapa langkah, mau muntah dan terpaksa menutup hidungnya!
Pada saat batu penutup makam membuka setengah dari dalam liang dengan susah payah tampak merayap keluar sesosok tubuh yang membuat Sabai Nan Rancak merinding saking bergidiknya.
Sosok tubuh itu adalah sosok seorang kakek berambut panjang riap-riapan. Kumis, janggut, dan cambang bawuknya jadi satu menjulai lebat. Sepasang matanya yang besar seolah terpuruk ke dalam rongga yang dalam. Ke dua pipinya kempot tak bertulang. Tubuhnya kurus kering terbungkus pakaian yang hancur tak karuan rupa hingga nyaris telanjang. Dia menyeringai mengeluarkan suara desau seperti gerengan harimau dari mulutnya yang bergigi dan memiliki taring seolah binatang. Sekujur tubuhnya menebar bau sangat busuk!
Yang membuat si nenek jadi merinding ialah menyaksikan keanehan pada sepasang kaki orang ini. Mulai dari bawah lutut sampai ke ujung jari, dua kaki orang ini tidak berdaging sama sekali. Hanya merupakan tulang putih pipih laksana badan pedang bermata dua! Apa yang telah menyebabkan ke dua kakinya tidak berdaging lagi?
Seperti dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul Makam Tanpa Nisan untuk melumpuhkan tenaga dalam Tua Gila dan Wiro yang hendak disekapnya di dalam dua makam batu itu, Datuk Tinggi Raja Di Langit telah menebar sejenis bubuk. Begitu dia dilempar masuk ke dalam liang batu itu maka dia sendiri menjadi korban bubuk beracunnya. Walaupun begitu karena ilmunya yang tinggi dia tidak sampai menderita lemah atau lumpuh keseluruhan. Hanya ke dua tangannya saja yang tidak bisa digerakkan. Ke dua kakinya yang masih bisa digerakkan dipergunakannya untuk menendangi batu penutup makam. Suara tendangannya itu disamping suara teriakannya diharapkan akan terdengar oleh siapa saja yang berada di pulau dan dapat memberi pertolongan. Selama ratusan hari tersekap dalam liang batu Datuk Tinggi hidup dari lumut lembab yang bertumbuhan di Seantero liang batu. Dia bernasib untung karena antara liang penyanggah dan lapisan batu penutup makam terdapat celah yang walaupun sangat tipis masih bisa memasukkan hawa segar dari luar.
Selama ratusan hari disekap selama itu pula dia menendangi batu penutup makam dengan ke dua kakinya. Tidak terasa ke dua kakinya menjadi kebal. Dia tidak mengalami rasa sakit sama sekali ketika dua kaki yang dipakai untuk menendang, lama-lama kulit dan dagingnya terkelupas hingga terkikis habis hanya tinggal tulang-tulang yang memutih dan kebal rasa. Ternyata kelak sepasang kaki yang tinggal tulang ini dapat diandalkan sebagai senjata dahsyat yang akan menggegerkan rimba persilatan.
“Astaga, inikah Datuk Tinggi Raja Di Langit itu?!” pikir Sabai Nan Rancak dalam hati.
Tiga langkah dari hadapan si nenek sosok tubuh kurus dan bau itu tersungkur menelentang di tanah. Berulang kali dia menarik nafas panjang berusaha menghirup udara segar, Lalu matanya yang besar berputar memandang ke arah Sabai.
“Betul kau Datuk Tinggi Raja Di Langit?” tanya Sabai agak meragu.
Yang ditanya tidak menjawab.
“Setelah kutolong harap kau tidak lupa perjanjian kita! Mana Mantel Sakti dan Mutiara Setan yang harus kau berikan padaku?!”
Orang yang diajak bicara masih diam hanya desau nafasnya terdengar seperti gerengan harimau.
“Kau tidak tuli, jangan berpura-pura tidak mendengar!” Sabai Nan Rancak jadi jengkel karena ucapan-ucapannya tidak dijawab.
“Perempuan tua! Beri kesempatan padaku untuk bernafas menghirup udara segar. Beri kesempatan padaku untuk mengatur jalan darah dan hawa dalam tubuhku! Aku bukan orang yang suka ingkar janji! Jadi jangan bicara macam-macam! Tunggu sampai aku siap….”
“Boleh saja, tapi jangan coba menipuku! Aku sama sekali tidak melihat Mantel Sakti dan Mutiara Setan yang jadi senjata andalanmu itu.”
“Aku akan beri tahu di mana dua benda itu beradanya. Sebentar lagi! Harap kau suka bersabar. Dua tanganku terasa lumpuh! Aku harus mengatur jalan darah dan mengerahkan tenaga dalam untuk memberi kekuatan!”
“Kau tak bakal bisa melakukannya dengan cepat! Ratusan hari kau tersekap di liang setan itu, mana mungkin kau mengharap kesembuhan dalam sekejapan mata!” kata Sabai Nan Rancak.
“Kalau kau tidak sabaran silahkan pergi! Aku tidak mau berurusan dengan nenek-nenek cerewet, bicara melulu dan tidak sabaran!”
Sabai Nan Rancak menjadi sangat jengkel. Kalau tidak mengharapkan Mantel Sakti dan Mutiara Setan itu, mungkin sejak tadi dia sudah tinggalkan manusia itu, tentu saja setelah memberikan satu gebukan padanya.
Beberapa saat berlalu. Perlahan-lahan Datuk Tinggi Raja Di Langit bergerak duduk. Ke dua bahunya digoyang-goyangkan. Walau dua tangannya belum bisa digerakkan, namun jari-jarinya tampak bergeletar.
“Aku tidak akan memberikan Mantel dan Mutiara Setan itu pada orang yang aku tidak tahu nama atau gelarannya…. Katakan siapa dirimu adanya!” Tiba-tiba Datuk Tinggi Raja Di Langit membuka mulut.
“Namaku Sabai Nan Rancak. Aku berasal dari puncak Gunung Singgalang!”
Kening sang datuk nampak mengerenyit. Mata besarnya tak berkesip memandangi Sabai Nan Rancak.
“Aku pernah mendengar namamu. Bukankah kau seorang yang punya hubungan dengan bangsat laknat bernama Tua Gila yang berhasil lolos dari pendaman Makam Setan?!”
“Dulu, puluhan tahun silam memang aku punya hubungan dengan dirinya. Saat ini dia adalah musuh besar yang harus kuhabisi nyawanya!” jawab Sabai Nan Rancak.
Datuk Tinggi menyeringai. “Kalau kau membuat perjanjian, aku juga ingin membuat perjanjian!”
“Apa maksudmu?” tanya si nenek.
“Aku berikan Mantel dan Mutiara Setan padamu. Tapi kau harus berjanji tidak akan membunuh Tua Gila. Bangsat tua itu harus aku yang membunuhnya!”
Sabai Nan Rancak tertawa pendek. “Perjanjian seperti itu tidak ada gunanya. Yang ingin membunuh Tua Gila bukan cuma kita berdua. Siapa cepat dia yang dapat!”
“Kenapa kau inginkan nyawa bangsat tua itu?!” tanya Datuk Tinggi Raja Di Langit.
“Itu bukan urusanmu! Kau sendiri mengapa mau membunuhnya?!”
“Dia membunuh adikku Datuk Sipatoka….”
Sabai Nan Rancak terkesiap mendengar jawaban itu. Dia tahu betul riwayat Datuk Sipatoka yang pernah ingin menguasai dunia persilatan pulau Andalas. Dalam hati dia berkata. “Manusia jahat dan biadab seperti Datuk Sipatoka memang pantas dilenyapkan dari muka bumi. Datuk yang satu ini pun aku tidak percaya padanya!” Lalu dia berkata: “Aku sudah memberi tahu siapa namaku. Sekarang mana Mantel dan Mutiara Setan itu? Lekas berikan padaku!” .
Datuk Tinggi tertawa lebar. “Rupanya kau tidak percaya padaku! Dua benda sakti itu ada dalam makam batu di sebelah kanan. Kau tahu bagaimana membuka batu penutup makam- Ada tombol di belakang nisan batu hitam!”
Tanpa menunggu lebih lama si nenek segera melompat ke belakang makam di sebelah kanan yang batu nisannya bertuliskan nama Wiro Sableng.
Dengan cepat dia menemukan batu hitam menonjol di tanah. Sekali kerahkan tenaga dalam dan injakkan kakinya di batu itu maka terdengar suara berderak. Lalu ada suara siuran dan perlahan-lahan batu penutup makam yang tertutup tanah dan ditumbuhi rerumputan serta alang-alang liar bergerak ke atas hingga akhirnya berhenti. Walau berdiri dekat kepala makam namun Sabai tidak dapat melihat isi makam itu karena sangat gelap.
“Mantel dan Mutiara Setan itu ada di dalam liang batu. Tunggu apa lagi? Mengapa kau tak segera mengambilnya?” berseru Datuk Tinggi Raja Di Langit.
Sabai Nan Rancak tidak bergerak dari tempatnya. Hatinya bimbang. Dia menaruh curiga. Selain tidak dapat menduga berapa dalamnya lobang makam batu itu serta tidak bisa melihat karena gelap, dia juga menaruh curiga kalau-kalau begitu masuk Datuk Tinggi menurunkan batu penutup makam hingga dia tersekap di Makam Setan itu!
“Kau saja yang turun ke dalam makam mengambil dua benda sakti Itu lalu menyerahkannya padaku!” Berkata Sabai Nan Rancak.
“Nenek, kau benar-benar rewel dan banyak pinta! Aku sudah memberi malah kau memerintah seolah aku ini kacungmu!”
“Kau memang bukan kacungku!” tukas Sabai. “Tapi jangan lupa! Jika aku tidak menolongmu kau akan jadi jerangkong busuk dalam Makam Setan itu!”
Sambil mengomel Datuk Tinggi melangkah ke tepi makam.
“Gelap! Aku tidak bisa melihat apa-apa. Sebaiknya kita menunggu sampai hari terang. Sebentar
lagi pagi datang. Aku sudah melihat ada saputan sinar kekuningan di sebelah timur.”
“Jangan-jangan kau hendak memperdayaiku!” Kata Sabai Nan Rancak.
“Perempuan setan!” carut Datuk Tinggi.
Sabai Nan Rancak tersenyum dan melangkah mendekati si kakek. Ketika nenek itu hanya tinggal satu langkah dari hadapannya tiba-tiba dalam keadaan masih duduk di tanah Datuk Tinggi Raja Di Langit hantamkan kaki kirinya. Maksudnya hendak menjegal kaki Sabai lalu mendorongnya ke dalam makam batu sebelah kiri.
Tapi Sabai Nan Rancak yang sejak tadi memang telah berlaku waspada dengan cepat melompat. Serimpungan kaki Datuk Raja Di Langit mengenai tempat kosong lalu menghantam pinggiran batu penutup makam.
“Traakkk!”
Sabai Nan Rancak mengira kaki yang hanya tinggal tulang itu hancur berpatahan. Tapi alangkah kagetnya dia ketika menyaksikan bukan kaki si kakek yang patah sebaliknya batu tebal penutup makam yang terbelah seolah papan dibabat sebilah pedang sakti! Sang Datuk sendiri melengak kaget melihat apa yang terjadi. Dia sanggup memutus batu tebal penutup makam sedang kaki atau tulang kakinya sama sekali tidak merasa sakit sedikitpun!
Dalam kagetnya Sang Datuk menjadi lengah. Sebaliknya Sabai Nan Rancak tidak mau berlaku ayal. Dengan cepat dia menyergap si kakek dengan satu totokan dahsyat. Sang Datuk sekilas masih sempat melihat gerakan orang. Dia angkat tangan kanannya untuk menangkis. Namun saat itu baik tangan kanan maupun tangan kirinya masih berada dalam keadaan lemas tidak berdaya hingga dia tidak mampu mengangkatnya. Totokan si nenek bersarang telak di dada kanannya.
“Perempuan jahanam! Aku memang curiga padamu sejak tadi-tadi!” Ternyata totokan yang dilancarkan Sabai hanya membuat tubuh Datuk Tinggi kaku tetapi jalan suaranya masih terbuka.
“Tua bangka tidak tahu diri. Aku telah menolongmu! Janjimu belum lagi kau tepati. Barusan kau yang lebih dulu menyerangku! Masih untung aku tidak segera membunuhmu Saat ini juga!”
“Perempuan jahanam! Kau akan menyesal kalau tidak membunuhku!”
Sabai tertawa panjang. Dia pergi duduk bersandar pada sebuah batu besar di pinggir lapangan. Kedua matanya dipejamkan. Dia sengaja tidur-tidur ayam sambil menunggu datangnya pagi.

*
* *

SEBELAS

SEBENARNYA Datuk Tinggi Raja Di Langit memiliki kemampuan membuyarkan totokan. Namun saat itu keadaannya masih sangat lemah. Bagaimanapun dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya dia hanya, mampu menggerakkan sedikit ke dua tangan dan menggetarkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya.
“Perempuan jahanam!” maki Datuk Tinggi. “Aku harus bisa mengembalikan kekuatanku! Aku harus mampu mengerahkan tenaga dalam sebelum matahari terbit. Aku tidak akan memberikah Mantel Sakti dan senjata rahasia Mutiara Setan itu padanya!”
Mantel dan Mutiara Setan itu memang menjadi andaian Datuk Tinggi karena pada dasarnya dia tidak memiliki kesaktian lain atau ilmu silat tinggi. Sepanjang hidupnya dia mencurahkan perhatian pada dua hal. Pertama mempelajari pengembangan tenaga dalam untuk dijadikan dasar penggunaan ilmu bertahan dan menyerang yang mengandalkan Mantel Sakti. Hal kedua ialah ilmu melempar untuk penggunaan senjata rahasia Mutiara Setan. Selama ini Datuk Tinggi telah banyak berhasil hingga namanya mencuat dalam rimba persilatan sebagai salah satu momok yang ditakuti. Itulah sebabnya saat itu dia berusaha mati-matian memulihkan tenaga dalam dan kekuatannya. Kalau Mantel Sakti dan Mutiara Setan sampai jatuh ke tangan Sabai Nan Rancak berarti dia tidak punya apa-apa lagi untuk diandalkan. Namun di saat itu ada satu hal yang membuatnya heran, gembira, tetapi juga jadi bingung sendiri.
“Tadi sewaktu terabasan kakiku gagal menghantam kaki perempuan setan itu, batu atos penutup makam yang jadi sasaran. Batu itu terbelah putus. Tulang kakiku sama sekali tidak terasa sakit! Kakiku yang hanya tinggal tulang pipih memutih telah berubah menjadi satu senjata hebat yang benar-benar tidak bisa kupercaya! Aku harus memanfaatkan kehebatan ini! Gila, dipendam orang selama ratusan tahun aku kini memiliki satu kehebatan yang tidak terduga! Hemmm… Aku yakin akan membuat nama: besar dalam rimba persilatan. Tua Gila! Wiro Sableng! Tunggu pembalasanku! Hemmm…. Sekarang biar aku mengurus perempuan tua bangka dajal ini lebih dulu!”
Di bawah pohon perlahan-lahan Sabai Nan Rancak buka ke dua matanya yang meram-meram ayam. Di arah timur sinar terang tampak semakin jelas tanda sang surya segera akan terbit. Di dekat makam dilihatnya Datuk Tinggi Raja Di Langit terbujur tak bergerak, menghadap ke arah makam. Ke dua tangan terkulai di tanah. Sepasang mata tertutup tapi si nenek tahu kalau mata: itu tidak terpejam dan terus-terusan mengawasi gerak-geriknya.
“Setan itu tengah berusaha keras memulihkan dirinya. Aku melihat ada getaran-getaran halus di beberapa bagian tubuhnya. Aku harus bertindak cepat!” Sabai Nan Rancak bangkit berdiri lalu melangkah cepat mendekati makam yang batu nisan hitamnya bertuliskan nama Wiro Sableng. Sinar terang di kejauhan yang jatuh di atas makam membuat si nenek kini dapat melihat apa yang ada di dalam makam. Lumut menempel di mana-mana. Lalu tetumbuhan liar, rumput dan alang-alang. Cacing-cacing besar menggeliat-geliat di satu sudut makam. Juga ada beberapa ekor kalajengking hitam pekat. Kemudian sepasang mata si nenek membentur sebuah benda lebar berwarna hitam yang tampak kotor diselimuti tanah bercampur lumut. Tak jauh dari. benda hitam ini ada sebuah kantong kain tebal yang juga terbungkus tanah dan lumut.
“Mantel Sakti, Mutiara Setan!” desis Sabai Nan Rancak dengan dada berdebar keras. Dia melirik ke kiri. Datuk Tinggi Raja Di Langit masih tetap duduk bersila seperti tadi di tempatnya. Sabai mengukur kedalaman makam batu. Dia yakin dengan satu kali melompat lalu menggenjot dia bakal mampu menyambar mantel dan kantong lalu melesat kembali keluar dari dalam makam. Setelah memperhitungkan segala sesuatunya maka tanpa menunggu lebih lama Sabai Nan Rancak melompat terjun ke dalam makam batu. Tangan kirinya menyambar kantong kain berisi Mutiara Setan. Tangan kanan menarik Mantel Sakti. Lalu ke dua kakinya dihentakkan ke lantai makam. Saat itu juga tubuhnya berkelebat melesat ke atas.
“Wuuuttt!”
Sabai Nan Rancak terpekik kaget. Begitu sebagian tubuhnya keluar dari dalam makam ada satu benda putih menyambar. Kalau dia tidak cepat membuang diri ke samping lalu pergunakan sanding batu makam untuk menjejakkan kaki melontar diri ke samping niscaya benda putih itu akan menghantam pinggangnya. Sabai tidak jelas benar benda apa yang barusan menyerangnya. Dia cepat berpaling. Kagetlah si nenek.
Di hadapannya, di tepi makam dilihatnya Datuk Tinggi Raja Di Langit terduduk setengah berlutut. Muka dan matanya yang seangker iblis menatap tajam ke arahnya.
“Tak bisa kupercaya! Dalam keadaan seperti ini dia ternyata mampu melepaskan diri dari totokanku! Barusan dia menyerangku dengan kaki tulangnya! Tapi agaknya kekuatannya masih belum pulih keseluruhan. Dari pada mencari perkara lebih baik aku segera saja angkat kaki dari sini!”
Si nenek segera memutar tubuh siap tinggalkan tempat itu.
“Perempuan jahanam) Kembalikan Mantel Sakti dan Mutiara Setanku!” teriak Datuk Tinggi dengan mata berapi-api. Setengah beringsut dia bergerak mendekati Sabai.
Si nenek menyeringai buruk. “Ini kesempatanku untuk mencoba kehebatan Mantel Sakti ini!” pikir Sabai. Lalu dia berseru. “Kau inginkan mantel dan senjata rahasiamu! Culas curang! Kau sudah berjanji menyerahkannya padaku! Tapi tak jadi apa! Kau menginginkannya silahkan ambil sendiri!” Sabai acung-acungkan mantel dan kantong kain, membuat sang Datuk meluap amarahnya. Dia jatuhkan diri ke tanah lalu berguling. Kaki kirinya menyambar, membabat ke arah kaki Sabai. Si nenek tidak tinggal diam. Dia melompat menjauh seraya kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan dan mengebutkan Mantel Sakti yang dipegangnya.
“Wussss!”
Satu gelombang angin laksana badai dan deburan air bah menyambar ke arah Datuk Tinggi. Lumut dan tanah yang menempel di mantel itu ikut berlesatan.
Datuk Tinggi berteriak keras. Dia cepat jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Namun tak urung tubuhnya masih kena tersapu hingga mental sampai tiga tombak. Di sebelah sana dua buah batu penutup makam tanah kubur dan batu-batu nisan hitam amblas berantakan dihantam sambaran Mantel Sakti!
Datuk Tinggi merasakan tubuhnya seperti hancur. Dia meneliti dengan cepat. Tak ada bagian tubuhnya yang cidera. Hanya dadanya terasa berdebar dan jalan darahnya agak kacau. Ini membuatnya jadi heran. “Ada kekuatan aneh melindungi diriku. Orang lain pasti sudah remuk dihantam angin Mantel Sakti tadi!”
Di depan sana Sabai Nan Rancak masih tegak sambil menyeringai. “Kau masih inginkan mantel dan senjata rahasiamu ini Datuk? Ayo, aku memberi kesempatan padamu untuk mengambilnya!”
“Perempuan jahanam! Kucincang tubuhmu!” teriak Datuk Tinggi lalu gulingkan diri ke arah si nenek. Tapi saat itu Sabai tak mau melayani lagi. Dia berkelebat tinggalkan tempat itu, cepat-cepat menuju ke pantai pulau tempat perahu sewaan menunggunya. Dengan cekatan si nenek melompat dari batu karang datar ke batu karang lainnya hingga akhirnya dia sampai di atas perahu besar.
Satu kejutan membuat si nenek melengak. Ada orang bersuara parau tiba-tiba menegurnya.
“Rejekimu besar sekali hari ini Nek. Mantel Sakti di tangan kanan. Kantong Mutiara Setan di tangan kiri! Apakah kau mau berbagi rejeki denganku?!”
Sabai Nan Rancak palingkan kepalanya ke arah kanan dari jurusan mana datangnya suara orang menegur.
“Siapa kau!” sentak Sabai Nan Rancak.
Orang yang dibentak dongakkan kepala lalu tertawa keras.
“Lain yang dicari lain yang kutemui! Tapi apa salahnya berkenalan berbasa-basi!”
“Jahanam! Kalau tidak lekas menjawab kulempar kau ke dalam laut!” Sabai Nan Rancak angkat tangan kanannya yang memegang mantel. Dia melirik ke kiri dan ke kanan. Lalu berteriak. “Pemilik perahu! Di mana kau?!”
“Aku di sini Nek….” Ada jawaban dari sebelah kanan.

*
* *

DUA BELAS

SAAT itu matahari telah terbit. Keadaan di laut cerah dan terang. Di sebelah kanan, di lantai perahu Sabai Nan Rancak melihat lelaki pemilik perahu duduk tersandar. Mulutnya pecah dan hidungnya hancur. Darah menutupi sebagian wajahnya. S
abai berpaling ke arah lambung perahu. Orang bersuara parau yang tadi menegurnya tegak sambil berkacak pinggang. Orang ini ternyata kakek berpakaian kembang-kembang. Mukanya tertutup bedak tebal. Pipinya diberi merah-merah. Alisnya melintang tebal dan rambutnya dikepang enam. Pada setiap kepangan digantungi kertas dan kain-kain warna-warni. Dia memiliki bibir dower tebal dan dilapisi cat merah mencorong.
“Pasti orang gila ini yang telah mencelakai pemilik perahu,” membatin Sabai Nan Rancak. “Aku tidak kenal padamu! Mengapa berani berada di atas perahu sewaanku? Lekas menyingkir!” Hardik si nenek.”
“Aha! Aku tidak tahu kalau ini perahu sewaanmu. Pantas waktu tadi aku naik ke sini, monyet bau ini marah. Karena, mulutnya keiewat kurang ajar terpaksa aku menggebuknya sedikit! Ha… ha… ha…!”
“Keparat! Dalam keadaan seperti ini bagaimana tahu-tahu ada orang gila datang mengganggu!” Sabai bercarut sendiri dalam hatinya.
“Orang gila! Jika kau tidak lekas menyingkir aku benar-benar akan membunuhmu dan melemparkan mayatmu ke laut!” Mengancam Sabai.
“Jangan terlalu galak sobat! Aku datang ke sini tidak bermaksud mencari lantaran denganmu! Aku datang dari jauh mencari bangsat tua berjuluk Datuk Tinggi Raja Di Langit! Satu tahun yang silam dia telah membunuh adikku Kiyai Surah Ungu, bergelar Pangeran Tanpa Mahkota, berasal dari Banten.”
“Aku tidak percaya orang gila sepertimu punya adik seorang Pangeran!” tukas Sabai.
“Terserah mau percaya atau tidak bukan urusanku! Aku hanya ingin menuntut balas. Tahu-tahu aku ketemu kau! Ha… ha… ha! Kalau dulu ketemu di waktu masih muda-muda pasti sedap juga ya?! Tapi tak jadi apa! Aku tahu betul Mantel Sakti dan kantong berisi senjata rahasia itu adalah milik Datuk Tinggi Raja Di Langit! Bagaimana bisa berada di tanganmu? Apakah kau mencurinya?!”
“Enak saja menuduh aku pencuri! Aku mendapatkan dua senjata sakti ini setelah membunuh Datuk Tinggi! Sebentar lagi kau akan jadi korbanku berikutnya!”
“Ah, kau pasti seorang nenek Sakti hebat luar biasa! Tapi mengapa aku harus takut ancamanmu? Kalau belum melihat mayat sang Datuk bagaimana aku percaya kau sungguhan telah membunuhnya? Itu sebabnya aku mengusulkan agar kita berbagi rejeki. Berikan salah satu senjata sakti itu padaku. Aku akan menerima yang mana saja!”
“Baik! Aku akan berikan Mantel Sakti padamu! Harap kau suka menerima!”
Habis berkata begitu si nenek kebutkan Mantel Sakti di tangan kanannya.
“Wuttt!”
Perahu kayu itu bergetar keras ketika angin laksana badai menyambar. Tiang layar berderak-derak. Semua benda yang ada di lantai perahu termasuk sosok lelaki pemilik perahu hancur dan mental masuk ke dalam laut. Air laut bergelombang muncrat.
Kakek aneh bermuka seperti dirias tersentak kaget. Dia keluarkan bentakan parau lalu melompat tinggi dan tahu-tahu seperti seekor burung elang dia sudah hinggap di puncak tiang perahu layar!
“Srettt! Sett… settt! Wuttt!”
Sabai Nan Rancak berseru kaget ketika tiba-tiba kain layar perahu bergerak kencang dan dengan ganas menggulung ke arahnya. Mantel Sakti di tangan kanannya hampir-hampir terlepas mental kalau dia tidak cepat jatuhkan diri dan bergulingan di lantai perahu. Dalam keadaan seperti itu si nenek tak memperhatikan lagi keadaan jubah hitamnya yang tersibak berantakan kian kemari. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan. Menyusul suara orang berucap.
“Nek, kau ini malu-maluin saja! Auratmu tersingkap ke mana-mana! Untung kau pakai celana dalam! Kalau tidak! Walah! Pasti aku akan menyaksikan sepotong serabi bulukan! Ha… ha… ha! Benar-benar memalukan!”
Saat itu jubah hitam Sabai Nan Rancak memang tersingkap lebar dari pinggang ke bawah.
Sabai Nah Rancak terkesiap kaget. Cepat si nenek rapikan jubah hitamnya dan melompat bangkit. Dia palingkan kepalanya ke kiri.
“Dari cara bicaranya, rasa-rasanya memang dia! ujar Sabai dalam hati ketika pandangannya membentur sesosok tubuh berpakaian ringkas hitam yang duduk berjongkok di pinggir perahu sambil menutupi wajahnya dengan ke dua tangan. “Anehi bagaimana dia tahu-tahu bisa berada di tempat ini. Jangan-jangan sejak di tanah Jawa dulu dia telah menguntit diriku!” Sabai Nan Rancak seperti mau mengeluh melihat kehadiran orang itu yang akan menambah buruknya suasana. Tapi setelah memutar akal maka dia cepat berseru.
“Sobatku, bukankah kau Iblis Pemalu! Aku gembira bertemu dengan kau!”
“Sobatku? Aku sobatmu? Aha rasanya tidak pernah begitu! Sungguh memalukan!”
“Hai! Jangan malu-malu mengakui! Kau datang tepat pada waktunya. Sebagai sobat lama aku akan memberikan salah satu dari benda sakti ini!”
“Ah, itu bagus juga! Tapi aku malu menerimanya!” jawab orang berpakaian hitam yang mencangkung di pinggiran perahu.
“Tak usah malu! Aku memang sudah merencanakan untuk memberi sesuatu padamu karena kau orang baik! Tapi di tempat ini….”
Ucapan Sabai Nan Rancak terputus. Sudut matanya melihat satu gerakan di arah pantai. Ketika dia berpaling dan memperhatikan ternyata di tepi pasir tampak tegak berdiri terbungkuk-bungkuk Datuk Tinggi Raja Di Langit. Orang ini tengah bersiap-siap terjun ke laut. Sesaat dia seperti menggapai-gapai lalu meracau masuk ke dalam air laut sedalam sepinggang. Perlahan-lahan tapi pasti dia akan segera sampai ke perahu di mana Sabai berada.
“Celaka! Bangsat tua itu agaknya sudah pulih kekuatannya. Bagaimana ini…?” Sabai memandang ke atas tiang layar. Saat itu kakek berbaju kembang-kembang tengah meluncur turun sambil tertawa parau. Si nenek berpaling pada Iblis Pemalu. Lalu berteriak. “Sobatku! Kau tolong hadapi dulu orang tua gila itu! Aku akan mengayuh perahu. Kau harus menolong! Jangan membuat aku malu!”
“Ya… ya! Aku akan menolong! Tapi awas! Rapikan dulu pakaianmu! Jangan sampai aku melihat dua kali! Bisa sialan aku! Memalukan sekali! Hik… hik… hik!”
Sabai Nan Rancak cepat berkelebat ke kiri untuk menarik lepas tali pengikat perahu yang dibuhulkan pada satu tonjolan runcing batu karang. Dia berhasil. Selagi kebingungan mencari kayu pendayung kakek bermuka dirias sudah injakkan kaki di atas lantai perahu. Tapi Iblis Pemalu dengan menutupi wajah cepat menghadangnya.
“Orang tua bermuka cemongan! Jangan berbuat hal yang memalukan! Kau bilang datang ke sini mencari Datuk Tinggi! Mengapa membuat keonaran dengan orang lain! Memalukan!”
“Orang gila! Kasihan mengapa kau bisa kesasar ke tempat ini?! Kalau mencari mati apa tidak bisa mencari tempat yang lebih enakan?!” Kakek baju kembang-kembang tertawa bergelak.
“Memalukan!” teriak Iblis Pemalu. “Mengatakan aku gila! Padahal kau sendiri yang gila mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki! Hik… hik… hik! Sungguh memalukan menemui kematian sebagai orang gila!”
“Jahanam! Berani kau menghina diriku!” Kakek bermuka dirias jadi marah mendengar ejekan orang. Dua tangannya yang sejak tadi terlindung di balik lengan bajunya yang panjang tiba-tiba diangkat ke atas dan menyambar ke muka Iblis Pemalu yang ditutupi ke dua tangannya. Ternyata kakek itu hanya memiliki tiga jari dan tiga kuku panjang pada masing-masing tangannya.
“Aha! Aku mengenali siapa dirimu! Momok Berdandan Jari Tiga! Memalukan! Tangan jelek begitu saja diperlihatkan!”
Habis mengejek begitu Iblis Pemalu cepat melompat mundur. Tapi seolah bisa diulur, tangan kanan si kakek memanjang dan “Wuttt!” Tiga kuku jarinya yang panjang mencakar ke arah kepala Iblis Pemalu. Untuk melompat mundur lagi sudah tidak mungkin bagi Iblis Pemalu karena saat itu punggungnya telah menyentuh pinggiran perahu. Mau tak mau dia angkat tangan kirinya menangkis sementara tangan kanan masih tetap menutupi wajahnya.
“Bukkk!”
Beradunya dua tangan membuat dua orang itu sama-sama berseru kesakitan. Kakek baju kembang-kembang berjuluk Momok Berdandan Jari Tiga terpental sampai dua tombak. Ketika lengan tangannya disingkapkan dia terkejut melihat daging tangannya telah menggembung merah. Dia cepat berdiri dan pandangi Iblis Pemalu dengan mata melotot. Saat itu Iblis Pemalu sendiri terbungkuk-bungkuk menahan sakit namun dari mulutnya keluar suara tawa cekikikan. Nyali si kakek baju kembang mau tak mau menjadi goncang. Dia mendengar kabar Datuk Tinggi orang yang dicarinya memiliki kepandaian tinggi. Kini, belum lagi berjumpa dengan pembunuh adiknya itu, dia berhadapan dengan seorang lelaki muda tidak dikenal yang ternyata mempunyai ilmu kepandaian tidak sembarangan.

*
* *

TIGA BELAS

MANUSIA gila! Katakah siapa kau adanya! Mengapa mau saja disuruh nenek buruk itu?! “Kakek gila! Siapa diriku tak usah kau tahu! Jangan membuat aku malu! Nenek itu tak suka padamu! Mengapa masih nangkring di atas perahu ini! Ayo lekas pergi! Kalau tidak aku akan membuatmu benar-benar menjadi malu besar!” Momok Berdandan Jari Tiga tertawa parau. “Masih muda sudah gila! Sungguh aku kasihan dan merasa malu padamu monyet berpakaian hitami Jika kau memang tahu malu mendekatlah padaku! Akan kuajari kau bagaimana caranya agar tidak tahu malu! Ha… ha…ha…!”
Ditertawai orang Iblis Pemalu ikut-ikutan tertawa. “Banci gila! Lelaki berdandan seperti perempuan! Apa tidak malu?!”
Mendidihlah amarah Momok Berdandan Jari Tiga mendengar ejekan itu. Didahului bentakan parau dia menyergap ke depan. Dari jari tengah tangan kiri mencuat selarik sinar hitam pekat sedang dari jari tengah tangan kanan melesat sinar biru kelam. Inilah ilmu yang sangat diandalkan si kakek, yang disebut Dua Larik Sinar Kematian. Selama ini tidak pernah ada lawan yang bisa menghindar dari maut jika dia sudah mengeluarkan ilmu kesaktian itu. Iblis Pemalu sendiri tampak tersirap kaget. Walau masih tertawa namun dia cepat menghindar dengan melompat dua tombak ke kiri. Si kakek memburu dengan ikut melompat. Sinar hitam memang luput tapi sinar biru menghajar ke arah kepala Iblis Pemalu.
Sabai Nan Rancak tercekat menyaksikan hal itu. Dia gerakkan tangan kanannya yang memegang Mantel Sakti. Maksudnya hendak menangkis serangan maut itu dan sekaligus menghantam Momok Berdandan Jari Tiga. Tapi mendadak sinar hitam yang mencuat dari tangan kirinya membalik dan menyambar ke arah Sabai. Nenek ini berteriak keras. Mau tak mau dia terpaksa tarik tangan kanannya. Pada saat itu sinar biru yang menghantam ke dada Iblis Pemalu hanya tinggal satu jengkal saja lagi dari sasarannya.
Iblis Pemalu masih juga tertawa. Namun mukanya di balik dua tangannya tampak berubah. Pada saat yang menegangkan itu, tiba-tiba sesosok tubuh entah dari mana datangnya melesat ke atas perahu. Kepalanya menumbuk pinggul Iblis Pemalu dengan keras, membuat Iblis Pemalu terlempar jauh dan roboh di lantai perahu. Namun tumbukan ini menyelamatkan nyawa Iblis Pemalu, Karena sinar biru mematikan yang akan membunuhnya menjadi lewat setengah jengkal dari tubuhnya!
Orang, yang menumbuk Iblis Pemalu saat itu tampak mencoba bangkit terhuyung-huyung. Keadaannya basah kuyup dan nyaris telanjang. Rambut, janggut, kumis maupun berewoknya riap-riapan. Ketika rambutnya yang menutupi muka disibakkan, kelihatanlah tampangnya yang angker menyeringai. Gigi-gigi besar berbentuk taring binatang mencuat dari mulutnya.
“Hampir putus nyawaku! Memalukan!”
Sementara Iblis Pemalu berteriak begitu dua orang di atas perahu yakni Sabai Nan Rancak dan Momok Berdandan Jari Tiga sama-sama terkesiap.
“Manusia satu ini benar-benar luar biasa! Dia sanggup menyeberangi pantai dan naik ke atas perahu!” membatin Sabai Nan Rancak. Nenek ini segera memutar otak. Dia sudah dapatkan Mantel Sakti dan Mutiara Setan. Mengapa menghabiskan waktu dan merepotkan diri berlama-lama di atas perahu itu. Tapi dia mau kemana kalau tidak kabur memakai perahu!
Momok Berdandan Jari Tiga yang tadinya begitu bernafsu hendak membunuh Iblis Pemalu alihkan perhatiannya pada orang yang basah kuyup riap-riapan. Dari tenggorokannya keluar suara menggembor ketika akhirnya dia bisa mengenali siapa adanya kakek kurus kering bermuka setan ini.
“Datuk Tinggi Raja Di Langit! Setahun aku mencarimu! Kau muncul dengan sosok begini rupa! Aku berpikir apakah malaikat maut masih mau dan tidak jijik membetot lepas nyawamu dari tubuhmu?!” Yang berucap dengari suara keras itu adalah Momok Berdandan Jari Tiga.
“Kakek aneh! Laki-laki tapi berdandan macam perempuan, berpakaian berbunga-bunga seperti perempuan! Apa di bawah perutmu juga ada perkakas seperti perempuan?!” Datuk Tinggi menjawab tak kalah lantang lalu tertawa bekakakan. Tiba-tiba dia palingkan kepala pada Sabai Nah Rancak. Dia keluarkan suara menggeretak. “Urusan kita belut lesai! Jangan berani beranjak dari tempat ini!”
Sabai Nan Rancak menjawab dengan suara mendengus.
“Datuk Tinggi pembunuh adik kandungku! Mungkin kau tidak bakal dapat menyelesaikan urusan dengan nenek itu! Aku lebih dulu datang menagih nyawamu!”
“Anjing tua berdandan slebor! Siapa adikmu yang pernah aku bunuh!”
“Kiyai Surah Ungu, Pangeran Tanpa Mahkota berasal dari Banten!” jawab Momok Berdandan Jari Tiga.
“Oh, dia rupanya!” ujar Datuk Tinggi lalu tertawa gelak-gelak. “Kiyai itu memang pantas disingkirkan!”
“Apa kesalahannya hingga kau membunuhnya!”
“Kesalahannya sepele saja! Dia datang menyambangi makam Tua Gila sahabatnya! Padahal aku sudah menyebar niat! Siapa saja sahabat Tua Gila yang datang ke makam harus menemui ajal!”
“Aneh!” kata Momok Berdandan sambil cibirkan bibirnya yang dower.
“Apa yang aneh?!” sentak Datuk Tinggi.
“Aku dengar Tua Gila masih hidup! Kau mengatakan dia sudah mati dan dimakamkan! Jangan-jangan otakmu sudah tidak karuan!”
Mendengar ucapan orang Datuk Tinggi tertawa mengekeh. “Apa Tua Gila masih hidup atau sudah mati, aku tidak begitu perduli. Dan kau datang sangat terlambat!”
“Apa maksudmu?!”
“Mayat kakakmu sudah berubah jadi jerangkong! Di pulau sana ada beberapa jerangkong! Kalau kau suka aku bersedia menunjukkan yang mana jerangkong < kakakmu. Tapi syaratnya kau harus mampus dan jadi setan lebih dulu! Ha… ha… ha!”
“Orang gila calon mayat! Orang yang mau mampus bicaranya memang tidak karuan! Mari kutunjukkan jalan agar kau bisa menghadap Penguasa Neraka lebih cepat!”
Habis berkata begitu Momok Berdandan Jari Tiga angkat ke dua tangannya. Tangannya yang berjari dan berkuku tiga menyembul dari balik lengan jubah yang dalam. Langsung selarik sinar hitam pekat dan biru kelam menderu menghantam ke arah Datuk Tinggi Raja Langit.
“Pasti mampus!” kata Sabai Nan Rancak begitu melihat Momok Berdandan lancarkan serangan ke arah Datuk Tinggi. Iblis Pemalu pelototkan mata di sela-sela jari-jari tangannya yang menutupi wajah. Seperti Sabai dia juga yakin kalau kakek bermuka setan itu akan menemui ajalnya dilanda dua larik sinar maut serangan kakek yang mukanya dirias.
Namun ke dua orang ini terkesiap dan jadi merinding ketika melihat apa yang kemudian terjadi. Sebelum dua larik sinar menembus tubuhnya Datuk Tinggi yang masih tegak terhuyung-huyung tiba-tiba membuat gerakan jungkir balik. Kepalanya yang berambut basah riap-riapan kini menjejak lantai perahu. Dua tangannya yang masih agak lemah menopang berusaha mengimbangi dan menunjang tubuhnya. Sinar hitam menyambar di samping kaki kanan sedang sinar biru lewat di antara ke dua kakinya.
Dari mulut Datuk Tinggi tiba-tiba melesat keluar suara seperti lolongan anjing. Bersamaan dengan itu tubuhnya mencelat ke atas setinggi satu tombak. Di udara tubuh ini bergerak berputar aneh. Dua kaki terkembang. Lalu secepat kilat tubuh itu melesat ke depan. Dua kaki yang kini hanya berupa tulang putih pipih setajam pedang membuat gerakan seperti menggunting.
Momok Berdandan Jari Tiga keluarkah seruan tertahan. Suara seruannya lenyap berganti dengan suara menggidikkan.
“Crassss!”
Kepala Momok Berdandan putus laksana ditabas pedang maha tajam lalu melesat mental dan jatuh ke atas gundukan batu karang rata yang menyembul di permukaan air untuk kemudian mental dan akhirnya masuk ke dalam lauti
Tubuhnya yang tanpa kepala terhuyung-huyung. Sepasang tangannya menggapai-gapai kian kemari. Dua larik sinar biru dan hitam sesaat masih mencuat. Darah bergejolak menyembur dari kutungan lehernya tanda masih ada tenaga dalam yang menguasai tubuhnya. Sesaat kemudian tubuh itu terjengkang di lantai perahu, menggeliat dan melejang-lejang beberapa kali lalu diam tak berkutik lagi.
Pada saat putusnya leher si kakek, Iblis Pemalu melompat ke samping Sabai Nan Rancak. Tangan kanan menutupi wajahnya dan tangan kiri memegang lengan si nenek. Orang ini berbisik.
“Ini satu tindakan memalukan! Tapi kau sudah dapatkan Mantel Sakti dan Mutiara Setan! Buat apa berlama-lama di sini! Ayo ikut aku kabur!”
“Kita mau kabur kemana. Sekeliling kita hanya laut!” jawab Sabai Nan Rancak. Setelah tadi dia melepaskan ikatan tali yang mengikat perahu ke batu karang, gelombang telah membawa perahu itu ke tengah laut.
“Aku menyembunyikan sebuah perahu di balik gugusan batu karang sebelah sana! Sekali ini kita benar-benar membuat malu besar! Ayo lompat! Lekas!”
Belum sempat Sabai Nan Rancak menjawab Iblis Pemalu sudah menarik lengannya. Ke dua orang itu melompati pagar perahu di sebelah buritan.
“Kalian mau lari kemana!” satu teriakan menggeledek di belakang. Lalu “Wuttt!”
Dua benda putih bergerak memotong!
“Craaasss!”
Sabai Nan Rancak terpekik. Salah satu ujung mantel yang dipegangnya di tangan kanan terbabat putus oleh tulang kaki kiri Datuk Tinggi yang coba mengejar. Lalu sang Datuk sendiri terpelanting ke belakang ketika Sabai masih sempat menggebrakkan Mantel Sakti yang dipegangnya. Ketika Datuk Tinggi coba mengejar kembali Sabai dan Iblis Pemalu telah lenyap di bawah permukaan laut!
Datuk Tinggi Raja Di Langit berteriak marah! Suara teriakannya seperti lolongan anjing. Lalu seperti kerasukan setan dia berkelebat kian kemari. Sepasang kakinya menghantam apa saja yang ada di depannya. Tiang perahu besar patah ditabasnya, dinding dan lantai perahu robek-robek. Sekali lagi suara lolongan melesat dari tenggorokannya lalu sang Datuk terkulai lemah. Tubuhnya terkapar di lantai perahu. Matanya mendelik. Dari mulutnya keluar kutuk serapah tiada henti!

*
* *

EMPAT BELAS

DUA perahu besar tiba-tiba muncul di balik gugusan batu karang tinggi, langsung, mengapit pukat yang porak-poranda. Di perahu sebelah kiri seorang berpakaian kebesaran perang menatap tajam ke arah perahu pukat di atas mana Datuk Tinggi Raja Di Langit masih terkapar bercarut-marut.
“Panglima, saya yakin orang yang kita minta menyelidik telah mendarat di pulau ini.” Seorang lelaki berpakaian perwira muda yang tegak di sebelah lelaki berpakaian perang berkata.
“Tiga hari kita menunggu, dia tidak muncul. Di tempat ini ada sebuah pukat dalam keadaan porak-poranda. Aku merasa was-was. Coba kau dan beberapa anak buahmu menyeberang ke pukat itu. Lakukan pemeriksaan!”
Perwira muda itu memberi isyarat pada empat orang anak buahnya. Kelima orang ini lalu melompat ke atas perahu yang diapit. Hanya sesaat berlalu, dari arah perahu itu mendadak terdengar bentakan-bentakan. Lalu salah seorang prajurit berlari menemui sang Panglima. Mukanya pucat dan mulutnya sulit mau bicara.
“Prajurit! Jaga sikapmu! Ada apa?!” Panglima membentak.
Si prajurit menunjuk ke arah perahu. “Kami menemui mayat kakek sakti itu di geladak pukat! Hanya sosok tubuhnya! Kepalanya putus entah ke mana!”
“Apa?!” Sang Panglima tersentak kaget. Tanpa tunggu lebih lama dia segera turun dari anjungan dan melompat ke atas perahu. Selusin prajurit mengikuti. Dari perahu besar satunya seorang perwira muda juga ikut melompat ke atas perahu pukat bersama sepuluh prajurit.
Di atas perahu pukat perwira muda tadi dan tiga prajurit tampak tengah mengelilingi seorang kakek bermuka setari yang pakaiannya penuh robekan dan nyaris telanjang. Sepasang kakinya sebatas lutut ke bawah hanya merupakan tulang pipih memutih. Ada noda-noda darah pada kaki tulang itu. Ketika sang panglima mengalihkan pandangannya ke samping kiri, berubahlah parasnya. Di situ, di lantai perahu tergeletak sosok tubuh tanpa kepala. Dari pakaian nya yang berkembang-kembang Panglima dan semua orang yang ada di sana sudah jelas tahu siapa adanya mayat tanpa kepala itu.
“Perwira! Siapa yang membunuh Momok Berdandan Jari Tiga utusan Penyelidik itu?!” bertanya Panglima.
Dua orang Perwira Muda yang ada di tempat itu tak bisa menjawab karena memang tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba kakek kurus tinggi berwajah setan keluarkan tawa mengekeh.
“Aku Datuk Tinggi Raja Di Langit yang membunuh tua bangka tak berguna itu. Rupanya dia adalah orang yang kalian suruh menyelidiki diriku? Ha… ha… ha! Mengirim orang tolol lihat saja akibatnya!”
Mendengar manusia berwajah setan itu menyebut dirinya, semua orang yang ada di situ menjadi gentar. Beberapa di antaranya sampai tersurut mundur.
“Jadi kau makhluknya yang bergelar Datuk Tinggi Raja Di Langit!” berkata sang Panglima.
“Setan alas! Aku sudah sebutkan siapa diriku! Kalian sendiri siapa?!”
“Kami orang-orang Kerajaan! Setahun lalu kami punya bukti-bukti kau telah membunuh Kiyai Surah Ungu, putera Sri Baginda yang bergelar Pangeran Tanpa Mahkota!”
“Orang sudah menjadi setan setahun silam! Kalian datang untuk mengambil mayatnya atau apa?! Dia sudah jadi jerangkong di pulau sana!”
“Kau mengakui perbuatanmu! Kau juga mengakui sebagai pembunuh utusan kami! Berarti tidak ada pengampunan bagi dirimu! Serahkan dirimu! Tiang gantungan sudah sejak lama menunggumu!”
Datuk Tinggi Raja Di Langit tertawa bergelak.
“Kalian datang jauh-jauh bukan saja mencari perkara. Tapi juga mencari mati!”
Datuk Tinggi tiba-tiba melompat setinggi satu tombak. Di udara dia membuat gerakan jungkir balik. Sesaat kemudian dia tegak di lantai perahu, kepala dan tangan di sebelah bawah sedang dua kaki mengembang ke atas.
“Tua bangka gila! Akrobat apa yang hendak kau perlihatkan pada kami!” bentak sang Panglima sementara dua Perwira Muda dan belasan prajurit yang ada di sana menyaksikan perbuatan Datuk Tinggi Raja Di Langit terheran-heran.
“Makhluk-makhluk pengantar nyawa! Dulu aku bergelar Datuk Tinggi Raja Di Langit! Mulai saat ini gelar itu akan aku kubur ke pusar bumi di dasar laut! Gelarku sekarang adalah Jagal Iblis Dari Makam Setan! Siapa yang mau mati duluan silahkan mendekat!”
Perwira Muda yang berada di sebelah kiri memberi isyarat pada lima anak buahnya.
“Tangkap orang gila ini!” perintahnya.
“Bunuh jika melawan! “kata sang panglima yang menyetujui tindakan bawahannya itu.
Lima prajurit menghunus senjata lalu menyergap.
Tubuh Datuk Tinggi yang kini menyebut dirinya sebagai Jagal Iblis Dari Makam Setan melesat ke udara, berputar tiga kali berturut-turut lalu dua kakinya yang mengembang menghantam dalam gerakan setengah lingkaran. Tiga prajurit yang mengurungnya menjerit. Dua tergelimpang di lantai perahu dengan leher hampir putus. Yang ke tiga terhuyung-huyung sambil pegangi perutnya yang bobol!
Dua prajurit lainnya terkesima. Muka mereka sepucat kain kafan menyaksikan apa yang terjadi.
“Perwira! prajurit!” teriak Panglima. “Cincang makhluk iblis itu!”
Dua Perwira Muda dan hampir dua puluh prajurit segera menghambur dengan senjata di tangan.
“Trang… trang… trang…!”
Suara berdentrangan terdengar tidak berkeputusan ketika Datuk Tinggi alias Jagal Iblis Dari Makam Setan gerakkan dua kakinya menangkis dan balas menyerang. Sepasang kaki yang hanya merupakan tulang putih itu seolah dua bilah pedang tajam yang mengamuk di udara. Pekik jerit memenuhi perahu. Enam prajurit dan seorang Perwira Muda terkapar berlumuran darah. Lima di antaranya tidak bernafas lagi. Satu-satunya yang masih hidup adalah si Perwira Muda. Tangannya yang tadi memegang pedang kini telah buntung sebatas pergelangan. Dia menjerit tiada henti.
Jagal Iblis Dari Makani Setan tertawa panjang lalu keluarkan suara seperti lolongan anjing membuat semua orang jadi tercekat.
“Ambil Jaring Neraka!” teriak Panglima.
Perwira Muda satunya yang masih hidup melompat tinggalkan kalangan pertempuran. Tak lama kemudian dia muncul bersama dua orang prajurit bertubuh tinggi besar. Dua prajurit ini membawa sebuah jaring besar terbuat dari kawat baja. Jaring ini mengeluarkan suara bergemerisik menakutkah. Tapi Jagal Iblis Dari Makam Setan hanya ganda tertawa melihat benda itu.
“Libas!” teriak Perwira Muda memberi perintah. Dua prajurit bertubuh besar gerakkan sepasang tangan, mereka.
“Sreeettt!”
Jaring kawat baja itu menebar di udara, menyapu ke arah sosok Jagal Iblis yang masih tegak dengan kepala ke bawah kaki ke atas. Tiba-tiba dua kaki tulang putih itu berkelebat dan berputar laksana titiran. Terdengar suara putus robeknya jaring kawat baja. Disertai jeritan susui menyusul. Dua prajurit bertubuh besar menemui ajal lebih dulu. Keduanya mati dengan pinggang hampir putus. Menyusul si Perwira Muda. Semua orang hanya melihat sosok tubuhnya terkapar di lantai perahu. Kepalanya tak ada lagi!
Semua orang yang masih hidup menjadi gempar. Serempak mereka melompat menjauhi lantai perahu kalangan perkelahian yang kini basah tergenang darah!
Jagal Iblis Dari makam Setan tertawa panjang.
Panglima yang melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri merasa dingin tengkuknya. Meski nyalinya tergetar hebat namun sebagai pimpinan dia tidak mau memperlihatkan. Dia segera mencabut sebilah pedang yang tergantung di pinggangnya. – Senjata ini bukan senjata sembarangan. Merupakan sebuah mustika hadiah Sri Baginda karena jasa-jasanya. Karena dilapisi sejenis perak maka pedang ini memancarkan cahaya putih menyilaukan.
“Panglima! Kau mau maju sendiri atau mengajak belasan anak buahmu?!” Jagal Iblis Dari Makam Setan ajukan pertanyaan yang jelas-jelas sengaja mengejek.
Sang Panglima menjawab dengan mengirimkan satu tebasan. Yang di arahnya adalah bagian leher lawan yang berada di sebelah bawah.
“Wuuuuuttt!”
Kaki kanan Jagal Iblis Dari Makam Setan menyambar ke arah leher lawan. Sang Panglima cepat merunduk sambil teruskan membabat dengan pedangnya. Demikian derasnya sambaran senjata ini hingga mengeluarkan suara bersiuran dan ada hawa dingin menyambar keluar dari badan pedang.
“Wuuuuuttt!”
Tiba-tiba kaki kiri Jagal Iblis ganti berkiblat. Yang di arah adalah bagian perut. Mau tak mau sang Perwira terpaksa tarik pulang serangannya dan pergunakan senjata untuk menghantam kaki kiri lawan. “Trangg!”
Pedang dan kaki beradu mengeluarkan suara berdentrangan seolah kaki tulang putih itu sebilah senjata tajam yang atos.
“Traaaak!”
Panglima Kerajaan berseru tegang ketika bentrokan senjata dengan kaki membuat pedangnya patah dua! Dia melompat coba selamatkan diri. Tapi malang salah satu kakinya terpeleset oleh licinnya darah yang menggenangi lantai perahu. Tak ampun lagi tubuhnya terhuyung jatuh. Di saat yang bersamaan laksana sebuah gunting raksasa kaki kiri dan kaki kanan Jagal Iblis Dari Makam Setan datang menyambar. Sang Panglima mengalami nasib sama dengan Momok Berdandan Jari Tiga serta Perwira Muda dan beberapa prajuritnya. Mati dengan kepala teria bas putus!
Sisa-sisa prajurit yang masih hidup runtuh dan leleh nyali mereka. Semua berserabutan menghambur lari ke perahu besar masing-masing.
Datuk Tinggi Raja Di Langit alis Jagal Iblis Dari Makam Setan tertawa panjang lalu berjungkir balik. Kembali tegak dengan kaki ke bawah kepala di atas.

*
* *

DI ATAS perahu kecil Iblis Pemalu duduk melipat kaki. Wajahnya disembunyikan di belakang sepasang telapak tangannya yang diletakkan di atas paha.
Sabai Nan Rancak yang duduk di ujung perahu menghadapi Iblis Pemalu pandangi orang itu dengan berbagai perasaan. Ada rasa aneh, heran tetapi juga ada rasa penuh curiga. Setelah pulau kecil itu lenyap di kejauhan Sabai Nan Rancak membuka mulut berusaha mengorek keterangan.
“Waktu di tanah Jawa tempo hari kau menunjukkan sikap bermusuhan denganku. Sekarang kau kelihatannya sengaja menolongku! Iblis Pemalu kau menyembunyikan maksud busuk apa dalam hatimu terhadapku?!”
“Uhhhh….” Iblis Pemalu menggeliatkan tubuhnya seperti orang bangun tidur namun wajahnya tetap saja disembunyikan di balik ke dua paha dan ke dua tangannya. “Pada dasarnya aku tidak pernah merasa punya musuh! Buat apa! Memalukan saja! Sudah tua bangka mencari musuh! Hanya anak-anak tolol yang suka bermusuhan hanya gara-gara urusan sepele! Hidup paling enak adalah menjadi sahabat semua orang! Tidak memalukan! Aku juga tidak merasa menolongmu!. Apa untungnya? Buktinya kau malah mencurigai diriku mengandung dan menyembunyikan maksud busuki Sungguh aku merasa malu!
Ucapan polos itu membuat wajah si nenek menjadi merah karena jengah terasa diejek. Maka dia coba bicara berbaik-baik. “Waktu di atas perahu aku berjanji memberikan salah satu dari dua senjata sakti milik Datuk Tinggi. Aku tidak akan mengingkari janji!”
Kau boleh memilih salah satu dari dua senjata ini. Mantel Sakti atau Mutiara Setan di dalam kantongi”
Iblis Pemalu geleng-gelengkan kepalanya. “Kau tahu siapa diriku! Aku sangat malu menerima pemberian apa saja. Apalagi kalau disangkutpautkan dengan pertolongan. Seolah aku ini orang yang suka mencari pamrih! Aku malu menerima tawaranmu. Tapi aku tidak malu mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu….”
Aku bukan orang baik!” kata Sabai Nan Rancak.
Iblis Pemalu tertawa panjang di balik paha dan telapak tangannya.
“Mengapa kau tertawa. Ada sesuatu yang kau anggap lucu?!” tanya Sabai Nan Rancak heran.
“Manusia tidak bisa menilai dirinya sendiri. Orang lain yang menilai orang lain. Jangan sebaliknya karena itu hanya akan memalukan saja! Aku bilang kau orang baik! Karena begitu aku melihatnya. Aku tidak malu mengatakan begitu….”
Sabai Nan Rancak menarik nafas dalam.
“Mengapa kau menarik nafas? Ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?! Coba katakan kalau kau tidak malu! Aku juga tidak malu mendengarkannya!”
“Terlalu banyak yang mengganjal di hatiku!” jawab Sabai Nan Rancak.
“Ya… ya! Aku tahu kau punya silang sengketa dengan Tua Gila. Lalu dengan muridnya bernama Wiro Sableng itu. Entah dengan siapa lagi. Mungkin dengan Datuk Tinggi Raja Di Langit itu…. Mungkin kau masih punya banyak persoalan lain yang aku tidak tahu. Aku malu menanyakan. Kau juga pasti malu menceritakan. Itu namanya hidup. Semua sudah tersurat sebelum kita dilahirkan! Apa kau anggap takdir itu memalukan?”
“Takdir…. Kau anggap jalan hidup seseorang itu adalah satu takdir?!”
“Aku tidak malu mengatakan iya! Karena manusia hanya bisa berbuat tapi takdir yang menentukan! Mengapa harus malu mengakuinya? Mengapa harus malu menghadapi hidup! Biar segala yang memalukan menjadi bagian diriku si buruk ini!”
Sabai Nan Rancak tertawa.
“Nah, nah! Tawamu sekali ini polos. Benar-benar keluar dari lubuk hati yang putih. Aku suka, aku tidak malu mendengarnya. Nek, sebenarnya kalau manusia mau kembali kepada hati nurani, kembali ke lubuk sanubarinya segala urusan di dunia ini mudah-mudah saja. Tak bakal ada silang sengketa. Tak akan ada dendam kesumat. Tak akan ada permusuhan, apa lagi pembunuhan! Tak sampai membuat kita jadi malu besar! Tapi apa mau dikata. Begitu yang namanya hidup di dunia. Memalukan!”
Lama Sabai Nan Rancak pandangi orang yang duduk di hadapannya itu yang terus-terusan selalu menutupi wajahnya. “Manusia satu ini tampaknya serba aneh. Sikap dan bicaranya. Tapi aku merasa sebenarnya dia seorang pandai berhati polos.”
“Iblis Pemalu, kalau aku boleh bertanya siapakah kau ini sebenarnya?” tanya si nenek sambil mendayung membelokkan perahu lalu mengatur arah layar.
Perlahan-lahan Iblis Pemalu angkat kepalanya dari atas paha. Namun dua tangannya tetap menutupi hingga Sabai Nan Rancak tetap tak bisa melihat jelas raut wajah orang yang duduk dekat di hadapannya itu.
Dari sela-sela jarinya sepasang mata Iblis Pemalu pandangi wajah Sabai Nan Rancak. Dipandang seperti itu si nenek jadi gelisah dan diam-diam tergetar hatinya. Jantungnya berdebar. Seolah pandangan mata orang di depannya itu menimbulkan satu kontak yang terasa aneh dalam dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara tawa Iblis Pemalu.
“Nenek, kau ini bagaimana. Kau sudah tahu siapa namaku. Bagaimana sifatku. Bagaimana tindak tandukku. Mengapa kau masih bertanya siapa aku sebenarnya?! Ah! Aku jadi malu! Malu sekali!”
Sabai Nan Rancak ulurkan tangannya memegang lengan kanan Iblis Pemalu. Si nenek terkejut ketika jari-jarinya menyentuh lengan orang itu, kulit lengan itu terasa lembut dan sangat halus. Debaran di dada Sabai kembali muncul. Dengan suara perlahan dia berkata. “Siapapun kau adanya aku tahu ada sesuatu yang membuatmu sengaja menunjukkan sikap aneh, seperti orang pemalu. Itu bukan sikapmu yang sesungguhnya. Kau mungkin marah atau mungkin malu sekali mendengar kata-kataku ini. Namun….”
Sapai Nan Rancak tidak meneruskan ucapannya karena saat itu Iblis Pemalu telah berdiri. Dua tangannya masih terus menutupi Wajahnya. “Siapapun adanya diriku, aku tetap aku! Memalukan!” Terdengar suara Iblis Pemalu. Tapi suaranya kali ini terasa ada getaran anehnya.
“Ada perahu mendatangi!” Tiba-tiba iblis Pemalu berkata seraya berpaling ke arah kiri.
Sabai Nan Rancak memandang ke jurusan yang diperhatikan Iblis Pemalu. Apa yang dikatakan memang benar. Sebuah perahu kecil meluncur pesat dari arah daratan pulau Andalas. Setelah dekat penumpangnya hanya satu orang tua dan bertampang luar biasa aneh yang membuat baik Sabai Nan Rancak maupun Iblis Pemalu jadi agak bergeming.
Orang itu tegak di atas perahu yang diapungkan sekitar dua tombak dari perahu dimana Sabai dan iblis Pemalu berada. Di tangan kanannya dia memegang sebuah kayu pendayung. Tubuhnya tinggi besar sehingga perahu yang ditumpanginya tampak kecil. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Sepasang alisnya bergabung menjadi satu membentuk satu alis aneh yang tebal. Pada wajahnya yang hitam legam terdapat dua belas lubang hitam. Rambutnya jabrik kasar seperti ijuk. Yang membuatnya lebih mengerikan, adalah sebuah lubang luka yang belum kering dan masih bernanah menggeroak di bawah bahu kanannya!
Orang bermuka angker ini menyeringai lalu berseru. “Sabai Nan Rancak! Dicari di daratan sulit sekali, di tengah laut baru bertemu!”
“Kalau aku tidak keliru, apakah kau yang di atas perahu adalah orang gagah yang dijuluki Hantu Balak Anam?!” Sabai Nan Rancak balas berseru.
Si tinggi besar di atas perahu kecil tertawa bergelak.
“Kalau tidak ada urusan penting, tak bakal kau mencariku sampai ke tengah laut begini!”
“Kau pandai menerka!” jawab Hantu Balak Anam. “Memang pertemuan ini kurang mengenakkan.” Hantu Balak Anam melirik pada Iblis Pemalu lalu bertanya. “Siapa orang aneh yang selalu menutupi wajahnya dengan dua tangan itu?!”
“Dia seorang sahabat baikku, tak perlu dirisaukan!” jawab Sabai Nan Rancak.
“Aku percaya saja padamu. Walau biasanya setahuku orang-orang aneh selalu membawa urusan pelik!”
“Hantu Balak Anam. Ada apa kau mencariku?” tanya Sabai Nan Rancak.
“Aku datang membawa satu pertanyaan!”
Si nenek tersenyum. “Hanya untuk satu pertanyaan kau sampai-sampai bersusah payah mencegatku di tengah laut! Apa pertanyaan yang hendak kau ajukan itu? Ingin sekali aku mendengarnya!”
“Apakah kau punya hubungan tertentu dengan Sutan Alam Rajo Di Bumi?”
Pertanyaan itu membuat si nenek terkejut tapi dia pandai menjaga agar air mukanya tidak berubah.
“Sutan Alam Rajo Di Bumi yang di puncak Singgalang itu! Siapa tidak kenal dirinya! Semua tokoh silat di pulau Andalas kurasa pernah berhubungan dengannya! Ada sesuatu yang luar biasa agaknya?”
“Aku punya firasat dia adalah biang racun segala kerusuhan di pulau Andalas!”
Sabai Nan Rancak tertawa panjang. “Kau ini ada-ada saja Hantu Balak Anam….”
“Kau mau buktinya!” ujar Hantu Balak Anam. Baju hitamnya dirobeknya di bagian pundak dan dada kanan hingga luka berlubang yang tembus dari dada sampai ke punggung terpentang jelas mengerikan. “Ini buktinya Sabai Dia hendak membunuhku dengan ilmu kesaktian Sepasang Api Neraka!”
“Ah, kalau ada silang sengketa di antara kalian hanya kalian berdua yang dapat menyelesaikan….”
“Silang sengketa sudah terjadi. Lantai sudah terjungkat! Urusan antara aku dengan dia hanya selesai jika salah satu dari kami menemui ajali” Hantu Balak Anam kelihatan bernafsu sekali. “Sabai, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau punya hubungan tertentu dengan Sutan Alam?”
“Hemm…. Bagaimana aku harus menjawab. Hubunganku dengan dia biasa-biasa saja….”
“Biasa-biasa bagaimana?! Aku ingin tahu!”
“Seperti hubungan para tokoh golongan putih lainnya!”
“Kau perempuan. Sutan Alam laki-laki! Jangan berusaha menyembunyikan sesuatu Sabai!”
“Hantu Balak Anam. Selama ini kita memang kurang dekat tapi ada pertalian persahabatan antara kita. Jika kau bicara yang bukan-bukan apa lagi berani kurang ajar, aku akan menambahkan sepuluh lubang di sekujur tubuhmu!”
Hantu Balak Anam tertawa bergelak.
Iblis Pemalu sejak tadi sudah gatal mulut hendak bicara. Tapi Sabai Nan Rancak memberi isyarat agar dia diam saja hingga tidak membuat suasana bertambah keruh.
“Kalau kau tidak ada pertanyaan lain, kami akan meneruskan perjalanan!”
Hantu Balak Anam lambaikan tangannya. “Satu ha! harus kau ingat baik-baik Sabai. Jika di kemudian hari ketahuan kau memang punya hubungan tertentu dengan Sutan Alam, aku akan kembali menemuimu. Pada saat itulah aku terpaksa membunuhmu!”
“Ajal datangnya memang tidak terduga Hantu Balak Anam. Akan kita lihat siapa yang duluan mati di antara kita!” jawab Sabai Nan Rancak seraya lontarkan seringai dingin.
Hantu Balak Anam celupkan dayungnya ke dalam air. Perahu kecilnya berputar lalu melesat ke arah timur.
“Manusia memalukan! Siapa dia Nek?” bertanya Iblis Pemalu.
“Seorang tokoh di daratan Andalas. Dulu sikapnya baik-baik saja. Kini seperti ada yang menyengatnya.”
“Lalu siapa pula Sutan Alam Rajo Di Bumi yang disebutnya tadi? Manusia memalukan juga?”
Sabai tersenyum. “Sutan Alam seorang tokoh sahabat segala tokoh golongan putih rimba persilatan pulau Andalas. Ada lagi yang hendak kau tanyakan Iblis Pemalu?”
iblis Pemalu menatap si nenek dari celah-celah jari tangannya. “Nek, kini kau sudah memiliki dua senjata dahsyat. Kau akan jadi seorang tokoh besar. Kau tidak akan pernah merasa malu lagi. Tidak sembarang orang sanggup menghadapimu. Tentunya kini kau bersemangat mencari Tua Gila, musuh besarmu itu.”
“Aku memang telah memiliki dua senjata hebat. Tapi tugasku jadi tambah berat…” jawab Sabai Nan Rancak.
“Eh, mengapa kau bicara memalukan seperti itu? Bukankah berarti kau akan lebih mudah menghabisi kakek itu? Memalukan) Kau berkata tugasmu jadi berat. Memangnya ada yang menugaskanmu melakukan semua itu?! Jangan mau jadi orang suruhan Nek. Jangan sampai dirimu dibuat malu!”
Sabai Nan Rancak terdiam. Kemudian dia tampak tersenyum.
“Kalau tugasmu memang berat agar tidak memalukan apakah menurutmu aku bisa menolong?!”
“Apa yang jadi tugasku adalah urusanku sendiri. Terima kasih kau mau membantu. Tapi kurasa aku bisa melakukannya sendiri.”
“Ah, bagaimana ini Nek. Aku jadi malu mendengarnya. Tadi kau bilang tugasmu jadi berat. Mau ditolong kau menolak malu. Apa sebenarnya tugas beratmu itu Nek?”
“Aku harus membunuh Tua Gila….”
“Itu aku sudah tahu. Kau tidak malu mengatakan aku tidak malu mendengarkan! Apa tugas lainnya yang kau katakan sebagai tambah berat itu?”
Sabai Nan Rancak tak segera menjawab. Dia merasa bimbang memberi tahu. Namun setelah berpikir tak ada salahnya memberi tahu maka dia pun berkata. “Selain Tua Gila aku juga harus membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng dan Sinto Gendeng.”
Sepasang mata Iblis Pemalu memancarkan kilatan aneh mendengar keterangan si nenek. Tapi kemudian dia tertawa cekikikan. “Benar kataku tadi Nek. Hidup dan kehidupan manusia tidak lebih dari sebuah, takdir! Kebanyakan merupakah takdir memalukan. Hik… hik… hik. Aku sendiri merasa malu karena tidak tahu bagaimana cara matiku kelak! Mati karena sakit atau mati dibunuh orang! Aku malu! Hik… hik… hik! Tapi Nek, bagaimana kalau Datuk Tinggi mengejarmu?”
“Dia akan mati dengan senjata miliknya sendiri yang diberikan padaku!” jawab Sabai.
“Ah, memalukan! Senjata makan tuan!”
“Aku ingin bertanya, apakah Wiro Sableng dan Sinto Gendeng itu sahabatmu?” Sabai ajukan pertanyaan sambi! menatap tajam pada Iblis Pemalu.
“Uhhhh! Memalukan! Aku sudah bilang aku tidak punya musuh di dunia ini. Malah yang namanya Sinto gendeng aku belum pernah melihat ujudnya! Memalukan sekali!”
“Apa yang aku katakan padamu ini adalah rahasia kita berdua. Jika sampai bocor, terpaksa aku membuat kepalamu menjadi bocor!”
“Kepala bocor! Aduh malunya!” kata Iblis Pemalu. Lalu dia kembali duduk mencangkung di lantai perahu. Seperti tadi kepalanya yang ditutup tangan kini ditempelkannya di atas ke dua pahanya.
“Kita harus segera melanjutkan perjalanan menuju daratan besar pulau Andalas,” kata Sabai Nan Rancak.
“Ya… ya! Memalukan kalau kita sampai kemalaman di tengah laut!” jawab Iblis Pemalu.
Sabai Nan Rancak ambil dua buah kayu pendayung. Begitu dia mengayuh perahu itu seolah melesat, meluncur pesat di atas permukaan air laut.

*
* *

TAMAT
Episode berikutnya :
UTUSAN DARI AKHIRAT

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog