Friday, March 20, 2009

Asmara Darah Tua Gila

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : TUA GILA DARI ANDALAS

212
SATU

Angin barat bertiup kencang. Perahu layar itu meluncur laju di permukaan laut. Di atas perahu Tua Gila duduk termangu di haluan. Di kepalanya bertengger sebuah caping lebar terbuat dari bambu yang melindunginya dari terik matahari. Orang tua ini senyum-senyum sendiri bila dia ingat pengalamannya di pulau kediaman Rajo Tuo Datuk Paduko intan.
“Dunia memang penuh keanehan. Mana aku pernah menyangka bakalan bertemu dengan menantuku sendiri. Hik… hik… hik! Untung dia tidak tahu aku si tua bangka buruk ini mertuanya. Ha… ha… ha!”
Kekeh Tua Gila mendadak terhenti ketika tiba-tiba dirasakannya perahu layar itu bergerak di bagian depan. Gerakan itu demikian perlahannya hingga jika bukan orang berkepandaian tinggi seperti Tua Gila tidak akan merasa atau mengetahui. Tua Gila memandang berkeliling. “Tak ada ombak besar tak ada tiupan angin kencang. Mengapa barusan ada gerakan aneh di buritan depan perahu?”
Tiba-tiba telinga si kakek yang tajam mendengar riak air laut di arah depan. Ketika dia memandang ke arah buritan Tua Gila kaget setengah mati. Dia melihat dua tangan berkuku panjang berwarna hitam muncul memegang pinggiran perahu. Lalu, “Wuuttt!” Dari dalam air laut melesat ke atas sesosok tubuh berjubah hitam berambut riap-riapan. Air mengucur dari pakaian, tubuh dan rambutnya yang basah kuyup.
“Setan laut berani muncul siang hari bolong begini! Benar-benar gila!” kata Tua Gila dan cepat berdiri dari duduknya.
“Hik… hik! Orang yang mau mampus matanya memang suka lamur!” Orang basah kuyup di depan perahu itu tertawa lalu bicara dengan mata besar melotot.
“Hebat! Setan laut bisa bicara!” kata Tua Gila lalu tertawa mengekeh.
“Hik… hik! Kau rupanya tidak mengenali siapa diriku! Lupa?! Hik… hik!”
Orang di depan Tua Gila tiba-tiba gerakkan bahu dan goyangkan kepalanya.
“Wuuutt!”
Rambut putih yang basah kuyup itu melesat ke depan dan, “Breeet!” Layar perahu robek besar terkena sambaran ujung rambut.
Berubahlah paras Tua Gila.
“Makhluk jahanam! Kalau kau mau menumpang perahuku mengapa merusak?!” Bentak Tua Gila.
Orang di hadapan Tua Gila tertawa gelak-gelak. Lalu sambil dongakkan kepala dia berkata. “Siapa bilang aku mau menumpang perahumu! Apa kau belum sadar kalau perahu ini akan meluncur menuju neraka?! Hik… hik… hik!”
“Bedebah setan alas! Kau sengaja datang mencari mati!”
“Aku tanya sekali lagi, apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Padahal belum lama kita saling bertemu!” Orang berjubah hitam itu letakkan kedua tangan di pinggang.
“Eh….” Kening Tua Gila berkerut. Dia buka caping bambunya agar bisa melihat lebih jelas. “Astaga! Bukankah kau Dukun Sakti Langit Takambang, wakil Rajo Tuo Datuk Paduko Intan di Kerajaan pulau Sipatoka?!”
“Bagus! Berarti matamu hanya sedikit lamur, belum buta beneran! Hik… Hik!”
“Manusia satu ini tadi kulihat keluar dari dalam laut. Berarti sebelumnya dia telah mendekam di bawah perahu! Ilmu pernafasannya di dalam air patut aku kagumi! Tapi dari caranya muncul agaknya dia sengaja mengikutiku dengan maksud tidak baik!” Habis membatin begitu Tua Gila lalu membentak. “Dukun geblek! Kalau kau mau menumpang mengapa pakai bersembunyi segala! Kau pasti melarikan diri setelah ketahuan kau yang punya pekerjaan meracuni Rajo Tuo Datuk Paduko intan dan permaisurinya!”
“Rajo Tuo dan permaisuri serta semua orang di pulau itu biar kita lupakan saja! Bertahun-tahun aku mendekam di pulau itu menunggumu. Sekarang saatnya kita membicarakan urusan kita!”
“Eh, aku merasa tidak punya urusan dengan dukun laknat sepertimu! Kalau kuseret kau kembali ke pulau itu pasti kau akan digantung kaki ke atas kepala ke bawah!”
Orang di hadapan Tua Gila kembali mendongak dan tertawa panjang. “Kau melihat aku sebagai dukun, mengenal aku sebagai dukun. Apa kau juga masih mengenali wajah asliku ini Sukat Tandika?!”
Tua Gila terkejut. “Bagaimana dukun keparat ini tahu namaku?!” pikir Tua Gila.
Tiba-tiba Dukun Sakti Lang it Takambang menggerakkan tangan kanannya ke wajahnya.
“Breeettt! Sreettt!” Selapis topeng tipis yang membungkus wajah orang itu langsung tanggal.
Sepasang mata Tua Gila yang lebar jadi mendelik bertambah besar. “Aku tidak percaya…!” kata Tua Gila dengan suara bergetar. Kalau saja dia tidak berada di ujung haluan perahu niscaya kakinya sudah melangkah surut. “Apakah betul kau yang berdiri di hadapanku ini Sika Sure Jelantik?!”
“Hik… Hik! Ternyata kau masih mengenali diriku! Lebih dari itu kau juga masih ingat nama lengkapku! Hik… hik… hik!”
Tua Gila ternganga sesaat. Tekanan batin yang hebat membuat dia merasa seolah dihimpit gunung. Untuk beberapa lamanya dia hanya tegak tak bergerak dan memandang tak berkesip pada orang yang berdiri di depannya. Orang ini ternyata adalah seorang nenek berwajah bulat, memiliki tahi lalat kecil di atas dagu kirinya. Namun sesaat kemudian pe-nyakit lamanya muncul. Dia mulai tertawa. Mula-mula perlahan lalu semakin keras hingga perahu kayu itu bergetar keras. Air laut di sekitar perahu tampak bergelombang. –
“Tertawa sepuasmu Tua Gila! Kalau nasibmu baik mungkin nanti kau masih bisa tertawa di akhirat!”
Mendengar ucapan orang, Tua Gila hentikan tawanya. Lalu seolah menyesali diri sendiri dia mengeluh dalam hati. “Sekian puluh tahun tidak pernah bertemu, tahu-tahu muncul. Tak dapat tidak dia datang membawa dendam lama! Celaka! Luka-luka bekas gebukan musuh di tubuh dan kepalaku masih belum sembuh! Sekarang datang lagi penyakit baru!”
Tua Gila usap wajahnya beberapa kali lalu berkata. “Sika, aku maklum perbuatanku di masa silam telah membuatmu sengsara….”
Belum habis ucapan Tua Gila si nenek bermuka bulat memotong dengan suara keras. “Bagus! Kau bisa mengatakan begitu! Sayang saat ini sudah terlambat kau berbual-bual di hadapanku! Aku mencium amisnya bau darahmu Sukat Tandika!”
“Setelah puluhan tahun berlalu apakah kau tidak bisa melupakan hal itu? Sekarang kita sudah jadi kakek nenek. Masih perlukan darah ditumpahkan?”
Nenek-berjubah hitam di atas perahu di hadapan Tua Gila tertawa panjang. “Puluhan tahun boleh saja berlalu! Tapi sengsara dan luka hati ini tak mungkin dilupakan! Dendam kesumatku sudah karatan Sukat Tandika! Kau merampas kehormatanku, mempermainkan diriku! Memberiku malu sepanjang hidupku!”
“Sika, apapun yang terjadi di masa lalu semua kita lakukan atas dasar suka sama suka. Kita sama-sama merasakan hangatnya cinta! Harap kau ingat itu!”
Sika Sure jelantik sudah meludah ke lantai perahu. “Suka sama suka karena kau berjanji akan menikahiku! Ternyata kau menipu! Setelah puas dengan diriku kau kabur melarikan diri! Bermain gila dengan gadis lain! Cinta hangatmu adalah api yang membakar dan tak bisa dipupus kecuali dengan darahmu sendiri! Jangan kau kira aku tidak tahu siapa saja yang sudah kau cabuli lalu kau tinggal! Jangan kau kira aku tidak tahu siapa saja yang menginginkan kematianmu! Aku beruntung bahwa aku punya kesempatan membunuh lebih dulu dari yang lain!”
Sukat Tandika yang berjuluk Tua Gila alias Pendekar Gila Patah Hati alias Pendekar Gila Pencabut Jiwa menarik nafas dalam. Dalam hati dia membatin. “Aku sengaja mencari selamat dari Sabai Nan Rancak dan musuh-musuhku yang lain. Belum lagi menjejakkan kaki di tanah Jawa, di tengah laut sudah ada orang lain menginginkan nyawaku!”
Tua Gila menghela nafas berulang kali. Sambil menatap wajah si nenek dia berkata.
“Sika, apakah kau bisa menunda urusan ini sampai aku menyelesaikan urusanku di tanah Jawa?”
Sika Sure Jelantik menyeringai buruk. “Apa kau kira aku tidak tahu apa urusanmu di Jawa? Apa kau kira aku tidak tahu kau saat ini tengah melarikan diri dari kejaran Sabai Nan Rancak serta orang-orang lain yang menginginkan kematianmu? Belasan tahun aku malang melintang mencarimu. Setelah kutemukan jangan harap kau bisa lolos dari tanganku Sukat! Soal tunda menunda urusan harap kau bicarakan saja dengan malaikat maut!”
Tua Gila terdiam. Lalu sesungging senyum muncul di wajahnya yang cekung seperti tengkorak. Kegilaannya kembali muncul. Perlahan-lahan terdengar suara tawanya mengekeh. Makin lama makin keras hingga membuat Sika Sure Jelantik marah dan membentak.
“Jahanam gila! Sudan mau mampus masih saja memperlihatkan kesintingan!”
“Sika, jika kematianku memang tidak dapat ditunda, beri aku kesempatan untuk menyanyi….”
Si nenek kerenyitkan kening hingga wajahnya diselimuti kerut-kerut buruk. Dia segera hendak menghardik namun Tua Gila sudah membuka mulut melantunkan nyanyian.

Menanam ulah di masa muda
Memetik dendam di usia tua
Menanam angin di masa jaya
Menuai badai di usia tak berdaya

“Tua bangka gila! Hentikan nyanyianmu atau…!” Sika Sure jelantik membentak sambil tangan kanannya diangkat. Lima kuku jarinya yang panjang hitam memancarkan sinar redup angker.
Tapi si kakek tidak perduli. Tanpa acuhkan ancaman orang dia teruskan nyanyiannya.

Bercinta di usia muda
Seharusnya bahagia di usia tua
Bermain asmara di masa remaja
Seharusnya menjalin suka di usia tua

Cinta khianat Asmara laknat
Darah mencuat Nyawa pun minggat
Kepada siapa mau minta tolong
Kekasih sendiri ingin menggolong

Kepada siapa hendak bertobat
Yang Kuasa sudah melaknat

Dendam cinta di utara
Dendam asmara di selatan
Membersit darah di barat
Meregang nyawa di timur

“Cukup! Nyanyianmu hanya mempercepat kematianmu!” teriak Sika Sure Jelantik. Lalu nenek ini menghantamkan tangan kanannya ke arah Tua Gila yang hanya terpisah tiga tombak di haluan perahu!

*
* *

212
DUA

Lima larik sinar hitam mencuat dari lima kuku tangan Sika Sure Jelantik. Inilah ilmu kesaktian yang disebut Jalur Hitam Bam. Dendam. Sejak tiga puluh tahun yang lalu si nenek telah menguasai ilmu kesaktian itu. Pada waktu itu dia mewarisinya dari seorang sakti di Gunung Siguntang. Mulanya ilmu kesaktian itu dinamakan Kilat Kuku Akhirat dan kehebatannya telah menggoncang ujung selatan daratan Andalas serta ujung barat tanah Jawa. Selama tiga puluh tahun berikutnya Sika Sure jelantik memperdalam kesaktiannya, ilmu Kilat Kuku Akhirat dibuatnya demikian rupa hingga jauh lebih hebat dari aslinya yang kemudian diberinya nama Jalur Hitam Bara Dendam. Selama sekian puluh tahun Jalur Hitam Bara Dendam tidak pernah dikeluarkannya. Disimpan karena hanya akan diperuntukkan pada seseorang yaitu kekasih dimasa muda yang kini menjadi musuh besarnya. Orang itu tidak lain adalah Sukat Tandika alias Tua Gila alias Pendekar Gila Patah Hati yang juga dikenal dengan julukan iblis Gila Pencabut Jiwa.
Tua Gila keluarkan seruan tertahan. Dia memang pernah mendengar kalau si nenek memiliki ilmu kesaktian yang disebut Kilat Kuku Akhirat. Namun tidak diduganya bahwa ilmu tersebut demikian hebatnya. Orang tua ini segera sambar caping bam-bunya lalu dilemparkan ke depan. Dia tahu caping bambu itu tidak akan dapat menahan serangan ganas si nenek walau dialiri dengan tenaga dalamnya yang sangat tinggi. Namun paling tidak benda itu untuk sesaat akan dapat menahan laju cahaya hitam yang menyambar laksana kilat!
“Wussss!”
Caping bambu berlubang di lima tempat lalu hancur berkeping-keping dan bertaburan di udara sebelum jatuh ke laut.
“jahanam! Ke mana dia?! Hancur mampus tenggelam ke dalam laut?!” ujar Sika Sure jelantik ketika melihat sosok Tua Gila tidak ada lagi di haluan perahu.
Sekonyong-konyong di belakangnya si nenek mendengar suara orang melantunkan nyanyian. Dia cepat balikkan tubuh.

Kalau dendam membakar hati
Kalau dendam membakar pikiran
Kasih indah dimasa muda seolah api
Membakar asmara menjadi ajang kematian.

Kalau hati berselimut dendam
Kalau darah dibakar amarah
Lautan cinta menjadi padang maut
Padang asmara menjadi neraka kematian
Tidakkah ada lagi kasih sayang di hati manusia
Tidakkah ada lagi seberkas kenangan indahnya
Asmara di hati insan

Apakah hidup kini hanya, dibatasi garis bara api
Yang benar dan yang salah
Yang sengsara dan yang sesat

Kalau kematian memang sudah di depan mata
Kalau malaikat maut memang sudah unjukkan diri
Lalu manusia bertindak sebagai wakil pencabut nyawa
Alangkah sedihnya nasib dunia
Alangkah sengsaranya nasib umat
Tangis dan air mata bukan lagi penyejuk hati
Ratap minta pengampunan bukan lagi pelebur amarah
Datanglah maut Datanglah kematian
Dekap tubuh tua penuh dosa ini erat-erat dalam pelukanmu yang paling ganas
Kematian datangnya hanya sekejap Sengsara tetap berbekas sampai kiamat

Sika Sure jelantik tercekat mendengar nyanyian itu. Tangan kanannya yang sudah diangkat tinggi-tinggi siap melancarkan pukulan maut Jalur Hitam Bara Dendam bergetar keras. Hatinya berdegup kencang. Tenggorokannya turun naik menahan gelora di dada. Betapapun buasnya perempuan tua ini namun dia terkesiap juga melihat ada butiran-butiran air mata menggelinding di pipi Tua Gila yang kini tegak tak bergerak di buritan perahu, hanya terpisah kurang dari dua tombak. Namun kesiap yang menyelimuti si nenek hanya seketika.
“Air mata buaya! Bangsat penipu!” hati si nenek berteriak. Begitu amarah dan dendam kesumat kembali membakar dirinya maka didahului oleh bentakan garang Sika Sure Jelantik hantamkan tangan kanannya. Lima larik sinar hitam angker menderu laksana kilat.
Si nenek berseru kaget dan tegang sendiri ketika di depan sana dilihatnya Tua Gila sama sekali tidak bergerak coba menangkis atau selamatkan diri dari pukulan mautnya. Kakek itu tegak laksana patung. Hanya wajahnya yang cekung tampak tersenyum. Mungkin senyum bahagia siap menyambut datangnya maut. Mungkin juga senyum penuh kesedihan derita hidup dan penyesalan.
“Sukat!” Entah sadar entah tidak pada saat di-sadarinya bahwa orang di hadapannya itu tak akan luput dari, kematian Sika Sure Jelantik berteriak memberi ingat. Tapi terlambat.
“Wussss!!”
Lima sinar hitam menderu menggidikkan. Dua larik menyambar ke muka Tua Gila, dua membeset ke arah dadanya dan satu lagi melesat mencari sasaran di perut si kakek!
Sesaat lagi tubuh Tua Gila akan hancur berkeping-keping tiba-tiba dari dalam laut membersit satu sinar biru. Demikian menyilaukannya sinar aneh itu hingga si nenek terpaksa pergunakan tangan kiri untuk melindungi kedua matanya. Dia sama sekali tak sempat melihat bagaimana satu tangan laksana kilat menyambar kaki kanan Tua Gila. Lalu dilain kejap tubuh si kakek tertarik amblas ke dalam laut. Lima larik pukulan sakti Jalur Hitam Bara Dendam melesat menyambar. Empat menghantam udara kosong. Yang kelima sempat menyambar pinggang Tua Gila.
Ketika Sika Sure Jelantik turunkan tangannya, baru dia melihat apa yang terjadi. Dia berteriak keras. Walau terlambat dia masih berusaha melompat. Tangan kirinya menyambar ke dada Tua Gila sebelum tubuh kakek ini lenyap masuk ke dalam laut.
“Breettt!”
Pakaian Tua Gila robek besar di bagian dada. Sika Sure Jelantik merasakan sesuatu dalam genggaman tangannya. Di saat yang sama dia juga melihat sebuah benda terlempar ke udara lalu jatuh ke dalam laut.
“Apa yang terjadi? Apa dia menemui ajal oleh pukulan saktiku? Mati dan tenggelam masuk ke dalam laut?!” Sika Sure Jelantik bertanya-tanya sambil memandang berkeliling. “Kalau dia mati, tubuhnya pasti hancur lebur. Taps tidak semua bagian tubuhnya akan amblas ke dalam laut. Pasti ada yang mengapung. Aku tidak melihat potongan-potongan tubuhnya. Aku tidak melihat darah…. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?! Sukat! Sukat Tandika!”
Suara teriakan si nenek lenyap ditelan luasnya laut dan tiupan angin di udara kosong. Tenggorokan perempuan tua ini nampak turun naik. Mungkinkah penyesalan mendadak muncul di dalam hati perempuan tua yang pernah menjalin asmara dengan Tua Gila ini? Sekonyong-konyong Sika Sure Jelantik menghambur masuk ke dalam laut. Sebagai seorang tokoh silat nenek ini memiliki satu kepandaian yang tidak dimiliki tokoh lain. Dia mampu berada di dalam air untuk waktu lama. Namun sampai akhirnya dadanya menjadi sesak, setelah sekian lama berada di bawah permukaan laut untuk menyelidik apa yang terjadi dengan Tua Gila dia tidak menemukan sosok si kakek, juga tidak potongan tubuhnya kalau memang sudah cerai berai tadi dihantam pukulan saktinya. Hanya di salah satu tempat dia sempat melihat alur panjang berwarna merah. Darah!
Dengan penuh rasa putus asa dan tanda tanya besar dalam hatinya Sika Sure Jelantik naik ke permukaan laut, berenang menuju perahu layar yang terapung-apung tanpa penumpang.
Di atas perahu lama sekali, si nenek duduk termenung dengan rambut pakaian dan tubuh basah kuyup.
“Aneh, tubuhnya lenyap begitu saja. Tapi ada segelintir darah. Mungkinkah dia ditelan ikan besar yang tiba-tiba muncul?” Sika Sure Jelantik memandang! laut di sekitarnya seolah berusaha melihat menembus sampai ke dasarnya. Berulangkali perempuan tua ini menarik nafas panjang. Dia lalu ingat pada benda yang masih tergenggam di tangan kiri-nya. Ketika diperiksanya kagetlah perempuan tua ini. Dia pernah melihat benda itu sebelumnya jadi sudah mengenali apa adanya.
“Kotak perak penyimpan Kalung Permata Kejora! Permata handal penghancur segala kekuatan putih dan hitam!”
Dengan tangan gemetar si nenek segera membuka kotak perak itu. Matanya mendelik ketika melihat kotak itu tidak berisi apa-apa.
“Kosong!” ujar si nenek. Dia berpikir keras. “Mungkin belum terlambat!” katanya dalam hati. Lalu untuk kedua kalinya dia terjun ke dalam laut. Kali ini lama sekali dari pertama tadi. Karena sambil berusaha mencari kalung mustika itu dia juga mencoba menjajagi kalau-kalau bisa menemukan sosok tubuh Tua Gila. Setelah nafasnya terasa sesak dan dia tidak berhasil menemukan apa-apa si nenek akhirnya kembali berenang ke permukaan laut dan naik ke atas perahu.
“Apapun keanehan yang terjadi, aku yakin ada sesuatu yang telah mengambil tubuh Sukat. Mungkin benar ikan besar, mungkin juga makhluk yang tak dapat kubayangkan apa adanya! Tapi kalung itu? Aku tak mungkin menyelam sampai ke dasar laut. Tekanan air bisa memecahkan kepalaku! Apa yang harus kulakukan sekarang? Kembali ke Gunung Siguntang atau menyeberang ke tanah Jawa…? Kalau dia tidak mati mungkin sekali kakek jahanam itu akan muncul di sana. Bukankah di sana banyak bekas gendaknya tempat dia bisa minta tolong?”
Sika Sure Jelantik tegak di atas perahu, memandang berkeliling. Di sebelah depan yang tampak hanya lautan membentang luas. Di sebelah belakang samar-samar tampak pulau di mana sebelumnya dia menetap menyamar menjadi Dukun Sakti Lang it Takambang. Tujuannya sesuai firasatnya yang tajam bukan lain adalah untuk menunggu kemunculan Tua Gila. Ternyata firasatnya yang disembunyikannya selama bertahun-tahun itu tidak meleset. Sukat Tandika alias Tua Gila muncul di pulau! Namun setelah saling berhadapan dia gagal melakukan balas dendam. Si nenek kepalkan tangan kanannya.
“Bangsat tua itu lenyap secara aneh. Tak dapat kupastikan apa masih hidup atau sudah mati. Lalu bagaimana pula aku harus mencari Pangeran Mata-hari yang telah membunuh adikku Ramada Suro Jelantik? Aku menyirap kabar Pangeran itu sudah amblas tamat riwayatnya di tangan murid Tua Gila si orang Jawa bernama Wiro Sableng. Apa benar…? Kalau murid tua bangka itu sanggup membunuh Pangeran Matahari berarti dia memiliki kepandaian tidak dibawah si Tua Gila. Kalau dia ikut campur membela gurunya hemmm…. Urusan bisa jadi kapiran!” (Mengenai Ramada Suro Jelantik harap baca serial Wiro Sableng berjudul Guci Setan)

*
* *

212
TIGA

Kita kembali dulu ke tempat kediaman Ratu Duyung pada saat Pendekar 212 Wiro Sableng berada di sana. Seperti dituturkan dalam Episode sebelumnya (Tua Gila Dari Andalas) dengan maksud menolong Ratu Duyung lepas dari kutukan yang telah menyengsarakan diri dan anak buahnya selama bertahun- tahun maka dari Pangandaran Pendekar 212 Wiro Sableng ikut bersama Ratu bermata biru itu ke tempat kediamannya di kawasan laut selatan.
Di sebuah tempat yang disebut Puri Pelebur Kutuk ketika Wiro dan Ratu Duyung saling berpelukan mendadak menyeruak bau kembang kenanga yang amat santar. Bersamaan dengan itu Ratu Duyung yang memandang ke arah pintu melihat kemunculan seorang perempuan muda cantik berwajah pucat mengenakan kebaya panjang dan kain berwarna putih. Wiro sendiri sama sekali tidak melihat dan tidak mengetahui siapa adanya orang itu. Jelas yang datang ini adalah satu makhluk dari alam gaib yang memperlihatkan diri sebagai seorang gadis cantik yang sama sekali tidak dikenal oleh Ratu Duyung sebaliknya tidak terlihat oleh mata Pendekar 212.
Selagi Ratu Duyung memberitahu apa yang dilihatnya lalu berteriak memperingatkan Wiro karena gadis bermuka pucat itu mendekatinya, dalam kamar berkiblat sinar biru pukulan yang dilepaskan Ratu Duyung ke arah pintu di mana sosok gadis aneh itu berada. Sebaliknya dari arah pintu Wiro sempat melihat melesatnya sebuah benda kuning kehijauan. Lalu. satu letusan dahsyat memporak-porandakan ruangan.
Di atas tempat tidur Ratu Duyung tersandar ke dinding. Mukanya sepucat kain kafan dan dari sela bibirnya ada darah kental mengucur pertanda telah terjadi satu bentrokan tenaga dalam sangat hebat. Seperti diketahui Ratu Duyung memiliki kesaktian tinggi. Jika dirinya menderita luka dalam begitu parah berarti lawannya memiliki tingkat kesaktian yang sulit dijajagi.
Dalam gelegar dahsyat yang memporak-porandakan Puri Pelebur Kutuk Pendekar 212 sendiri terpental lalu terbanting ke lantai dan jatuh pingsan ketika hancuran benda kuning kehijauan merambas masuk ke jalan pernafasannya.
Ratu Duyung berusaha menyelamatkan Wiro yang hendak dilarikan oleh makhluk aneh berwujud gadis cantik bermuka pucat itu. Namun dia tidak berdaya dan hanya bisa berteriak-teriak. Enam orang anak buahnya menghambur masuk ke dalam ruangan dan terpekik melihat keadaan pimpinan mereka.
“Kejar!” teriak Ratu Duyung, Maksudnya agar anak buahnya mengejar gadis berkebaya panjang putih yang telah melarikan Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun tiga orang anak buah sang Ratu yang kemudian melakukan pengejaran salah menduga. Mereka mengira Pendekar 212-lah yang telah mencelakai pimpinan mereka.
“Sebelumnya aku melihat dua pengawal mengantarkan pemuda itu ke Puri Pelebur Kutuk! Dia lenyap! Berarti dia yang telah mencelakai Ratu!” kata salah seorang anak buah Ratu Duyung yang melakukan pengejaran.
“Kurasa lebih jahat dari itu! Dia bermaksud keji! Hendak membunuh pimpinan kita!” kata gadis kedua. “Tapi ke mana lenyapnya pemuda keji itu?!”
Gadis ketiga berucap. “Pergunakan ilmu menyirap detak jantung. Dia pasti belum jauh. Kita musti dapat mengejarnya!”
“Aku ingin sekali membunuhnya dan membantingkan mayatnya di depan Ratu!”
Gadis pertama berpikiran lebih panjang. “Ratu tidak sempat memberi petunjuk. Apa kita harus membunuh pemuda itu atau bagaimana. Menurutku kita menangkapnya dulu hidup-hidup lalu membawanya ke hadapan Ratu. Biar Ratu yang memutuskan mau diapakan pemuda keparat itu. Heran, dasar manusia! Setahuku dia telah banyak menerima kebajikan dari pimpinan kita? Mengapa dia tega-teganya berlaku jahat dan keji terhadap Ratu?!”
“Kalau sudah tahu pemuda itu licik mengapa kita harus membiarkan dan membawanya hidup-hidup ke hadapan Ratu? Di tengah jalan dia bisa memuslihati kita atau merayu kita dengan ketampanannya. Kita bisa celaka semua!”
“Sudahlah, mengapa kita menghabiskan waktu dengan berdebat. Lekas kerahkan aji Kesaktian Menyirap Detak jantung.”
Tiga gadis anak buah Ratu Duyung tegak tak bergerak lalu dongakkan kepala. Yang pertama mendongak ke arah timur, yang kedua ke arah utara dan satunya lagi ke jurusan barat.
Setelah beberapa jurus berlalu gadis yang mendongak ke arah utara dan timur hentikan perbuatannya memusatkan pikiran. Kepalanya yang mendongak diturunkan. Keduanya saling pandang sesaat.
“Aku tidak merasakan getaran apa-apa…” kata yang satu.
Kawannya menyahuti. “Aku juga….”
Lalu mereka berpaling pada kawan yang menghadap ke barat. Saat itu gadis ketiga anak buah Ratu Duyung ini tampak tegak dengan mata terpejam sedang sekujur tubuh bergetar. Perlahan-lahan dia turunkan kepalanya lalu membuka mata dan menatap tajam tak berkesip jauh ke arah barat. Dengan dua jari tangan kanannya dia menekan pergelangan tangan kiri tepat pada dua urat besar. Dua jari tangan tampak tersentak-sentak.
“Aku berhasil menyirap detak jantung Pendekar 212. Dia berada di jurusan barat. Kita mengejar ke sana…!” kata si gadis. Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba tubuhnya jatuh terjengkang. Mukanya pucat seolah kehilangan darah.
“Nandiri!” dua teman terpekik menyebut namanya. Lalu mereka cepat menolong kawan yang roboh itu. Salah seorang ajukan pertanyaan. “Apa yang terjadi Nandiri? Apa yang kau rasakan?!”
“Detak jantung dan darah dalam nadiku keras sekali. Jelas pemuda itu berada di arah barat. Aku dapat menyirap detak jantung orang itu. Ada sesuatu yang aneh. Dia mampu berada jauh dari tempat ini. Jarak kita dan dia terpisah hampir tiga hari perjalanan. Padahal pada waktu kita menerobos masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk dia belum lama berlalu. Selagi aku menyirap tiba-tiba ada satu kekuatan dahsyat tak kelihatan menghantam diriku….” Nandiri terdiam sebentar. Dia merasakan mulutnya hangat dan asin. Ketika dia meludah ke tanah yang diludahkannya ternyata darah.
“Kau terluka di dalam Nandiri!”
Si gadis mengangguk membenarkan.
“Kalau begitu biar aku dan Manumi yang melakukan pengejaran. Kau lekas kembali dan minta obat pada Ratu….”
“Sebetulnya aku tetap ingin melakukan pengejaran…” kata Nandiri.
“Jangan bodoh! Kau terluka di dalam. Kita tak tahu apa obatnya. Lekas kembali ke Ratu!”
Dengan rasa terpaksa gadis bernama Nandiri itu akhirnya mengikuti nasihat teman-temannya. Setelah tinggal berdua Manumi berkata pada kawannya. “Kiani, kita harus bertindak cepat. Biar aku menjajagi arah tepat di mana pemuda itu berada.”
“Sesuai keterangan Nandiri kita sudah tahu ke arah mana larinya pemuda jahat itu. Kita langsung saja menuju ke sana. Aku khawatir kau akan mengalami nasib sama seperti Nandiri. Ada kekuatan tak terlihat menghantam dirinya….”
Mendengar itu Manumi anggukkan kepala. Dua gadis cantik anak buah Ratu Duyung segera berkelebat ke arah barat. Kembali ke tempat kediaman Satu Duyung.
Empat orang gadis cantik, membawa Ratu Duyung keluar dari Puri Pelebur Kutuk yang telah porak poranda itu. Tubuh Ratu Duyung ditutup dengan kain beludru alas tempat tidur. Lalu sang Ratu diamankan ke sebuah bangunan dimana terletak satu ruang ketiduran yang bagus. Dengan cepat beberapa gadis yang memiliki kepandaian pengobatan melakukan pemeriksaan.
“Aneh, tak pernah aku melihat luka dalam seperti ini!” kata salah seorang gadis memeriksa. Teman-temannya membenarkan. “Jelas Ratu terkena satu pukulan jahat. Tapi di bagian mana?”
“Agaknya kita terpaksa harus menanggalkan kain penutup aurat Ratu dan memeriksa setiap sudut tubuhnya.”
“Itu menyalahi adat, aturan dan pantangan. Kau tahu apa hukumannya jika kelak Ratu mengetahui kita telah memeriksa tubuhnya dalam keadaan tanpa pakaian….”
Sesaat semua anak buah Ratu Duyung yang ada di tempat itu jadi terdiam. Namun salah seorang dari mereka kemudian berkata. “Yang kita lakukan adalah menyelamatkan nyawa Ratu. Kalaupun kelak Ratu mengetahui kurasa dia bisa memaklumi….”
Setelah terjadi perundingan singkat akhirnya para gadis membuka gulungan kain beludru yang menutupi tubuh pimpinan mereka. Sosok yang bagus mulus dan berada dalam keadaan tanpa pakaian itu mereka periksa dengan teliti.
“Aneh, kita sama sekali tidak melihat bekas pukulan sedikit pun. Tak ada cidera di bagian luar tubuh Ratu…” kata gadis yang tegak di kepala tempat tidur. Semua anak buah Ratu Duyung yang ada di situ terdiam saling pandang.
“Ratu terkena pukulan sakti yang menembus jaringan tubuh tanpa merusak bagian luar. Kita tidak dapat menduga apa yang terjadi di sebelah dalam. Bahkan kita tidak tahu bagian mana yang terluka,” menyahuti gadis lainnya.
“Kalau begitu kita harus mengusahakan agar Ratu siuman dulu. Lalu menanyakan bagian mana yang dirasakannya sakit. Setelah itu baru kita melanjutkan dengan pengobatan.”
Enam orang gadis yang berada di sekitar tempat tidur lalu acungkan jari telunjuk masing-masing. Satu jari ditekankan ke atas kening Ratu Duyung. Jari kedua ditusukkan di permukaan leher. Dua jari ditekankan ke bagian dada, satu lagi tepat di atas pusar dan yang terakhir pada telapak kaki kiri. Salah seorang dari enam gadis memberi tanda. Lalu tampak jari-jari tangan mereka bergetar halus. Bersamaan dengan itu satu cahaya biru terang menyilaukan keluar dari enam jari telunjuk, masuk ke dalam tubuh Ratu Duyung hingga tubuh yang telanjang itu kini tampak terbungkus oleh sinar terang benderang berwarna biru.
Enam gadis perlihatkan perubahan pada wajah masing-masing ketika mereka merasa ada satu kekuatan aneh keluar dari tubuh Ratu Duyung. Dan itu bukan kekuatan atau hawa sakti yang dimiliki sang Ratu! Mereka coba bertahan. Tiba-tiba tubuh mereka terpental. Masing-masing keluarkan seruan kaget dan kesakitan. Dengan muka pucat dan mata mendelik mereka menyaksikan luka aneh pada ujung jari. Dari luka itu mengucur darah segar.
“Cepat totok urat besar di lekuk siku!” salah seorang gadis berteriak memberi ingat. Lalu menotok urat besar di pertengahan lengannya. Lima kawannya segera melakukan hal yang sama. Kucuran darah segera terhenti. Dari warna darah yang keluar mereka maklum kalau tidak ada racun masuk ke dalam tubuh mereka. Ini membuat keenam gadis tersebut merasa agak lega.
Sementara itu di atas tempat tidur sekujur tubuh Ratu Duyung masih tampak diselimuti sinar biru. Perlahan-lahan sinar terang itu meredup dan akhirnya sirna sama sekali. Bersamaan dengan lenyapnya sinar biru sepasang mata Ratu Duyung yang terpejam tampak bergerak-gerak. Lalu perlahan-lahan mata itu mulai membuka. Sesaat sang Ratu menatap ke langit-langit ruangan. Otaknya segera bekerja dan menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di Puri Pelebur Kutuk tetapi di ruang ketidurannya sendiri. Lalu dia teringat pada pemuda itu.
“Wiro…” katanya menyebut nama setengah berbisik. “Apakah kau ada di sini…?”
Pandangan mata sang Ratu mendadak membentur sosok tubuhnya sendiri yang terbaring tanpa mengenakan apa-apa. Sang Ratu keluarkan seruan tertahan melihat keadaan dirinya. Serta merta dia menyambar kain beludru dan menutupi tubuhnya. Lalu dengan cepat dia bergerak duduk.
Melihat hal ini enam orang anak buahnya segera jatuhkan diri. Masing-masing dilanda rasa takut karena telah melanggar pantangan besar yaitu melihat tubuh Ratu dalam keadaan tidak tertutup selembar benang pun. Ratu Duyung menatap paras anak buahnya satu persatu dengan sepasang matanya yang biru. Ketika- dia hendak membuka mulut menegur tiba-tiba di kejauhan terdengar suara belasan orang berlarian sambil berseru tiada hentinya.
“Ratu… Ratu… Ratu…!”

*
* *

212
EMPAT

Di dalam goa yang terletak di bukit Jatianom di tenggara Gunung Merapi Pendekar 212 Wire Sableng duduk bersila dengan mata terpejam. Sejak beberapa hari ini dia berusaha mengheningkan cipta, mengatur jalan nafas serta peredaran darah. Walau dia mampu melakukan hal itu namun tenaga dalam yang diharapkannya bisa muncul kembali tidak kunjung menjadi kenyataan.
“Agaknya kutukan seratus hari kehilangan kesaktian itu bukan main-main,” membatin Wiro. Pikirannya yang tadi bening kini kembali dihantui oleh berbagai pertanyaan.
Pertama sekali dia teringat pada Ratu Duyung, orang yang kini sangat dibencinya. “Kalau bukan karena dia, aku tidak akan kehilangan tenaga dalam dan kesaktian. Walau cuma seratus hari tapi dalam waktu sekian lama sesuatu bisa terjadi mencelakai diriku. Atau mungkin memang sudah ditakdirkan aku punya jalan nasib seperti ini…?”
Lalu Wiro ingat pula pada gurunya sendiri yakni Sinto Gendeng serta orang tua sakti berjuluk Kakek Segala Tahu. “Mereka mendorongku untuk melakukan hal itu. Tidur dengan Ratu Duyung! Padahal celaka yang aku hadang!” Wiro mengumpat panjang pendek dalam hati. Tadinya ada terpikir di hati Pendekar 212 untuk pergi ke Gunung Gede menemui gurunya sesuai dengan anjuran Bunga. Namun setelah dipertimbangkannya lebih jauh dia memilih untuk tetap mendekam saja di goa di bukit Jatianom itu.
Wiro memandang ke dinding goa sebelah kiri. Di situ dia membuat guratan-guratan pendek untuk menghitung hari. Ada tujuh guratan berarti sudah tujuh hari dia berada di tempat itu sejak Bunga meninggalkannya.
“Bunga…” desis Wiro. “Kau mencemburui Ratu Duyung. Satu bukti kau mencintai diriku. Aku berdusta kalau kukatakan aku tidak mencintaimu. Namun selain kita berada dalam dua dunia yang berbeda, dasar cinta dalam diriku agaknya tidak memungkinkan kita untuk bersatu. Aku… ah!” Wiro menghela nafas berulangkali. Ingatannya melayang pada Bidadari Angin Timur. “Aku begitu mencintai-nya sepenuh hati. Aku tidak dapat-menerka bagaimana hatinya sendiri terhadapku. Terakhir sekali waktu berpisah di Pangandaran dia memakai dalih mengurus jenazah saudara kembarnya untuk menghindar bersamaku. Padahal dulu aku sudah membawa dan mempertemukannya dengan Eyang Sinto Gendeng. Tega sekali dirinya. Namanya pun tak mau diberi tahu padaku. Kalau aku hanya bertepuk sebelah tangan apakah aku harus meneruskan cinta gila ini? Aku bisa mampus sendiri!” Wiro lalu garuk-garuk kepala berulangkali.
Dari balik baju putih pemberian Bunga, Pendekar 212 keluarkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Walau dia telah berulangkali membaca isi kitab itu dan boleh dibilang hafal setiap kalimat di dalamnya namun saat itu Pendekar 212 kembali menekuni apa yang tersurat dan tersirat. di dalamnya.

Bilamana datang kebenaran
maka meraunglah para iblis pembawa kejahatan
Kejahatan mungkin bisa berjaya
Tapi pada saat kebenaran dan keadilan muncul
tak ada satu kekuatan lain mampu membendungnya

Wiro berhenti membaca. Dia merenung. “Apakah saat ini ada kebenaran dan keadilan untuk diriku…?” Lalu baru meneruskan membaca.

Kejahatan membakar dan merusak laksana api
Tetapi api itu sendiri sebenarnya
adalah kekuatan dahsyat
Yang diarahkan para Dewa untuk membakar mereka
Bilamana api memusnahkan mereka maka penyesalan tiada berguna

“Gila! Ini cocok dengan keadaan diriku! Api telah memusnahkan diriku. Penyesalan tiada berguna! Aku harus merasa sengsara selama sembilan puluh tiga hari lagi!”
Wiro sampai ke halaman ketiga. Dia membaca dengan tekun. Walau kadang-kadang dia tampak cengar-cengir, merutuk dan mengomel namun membaca Kitab Putih Wasiat Dewa itu dapat menentramkan hatinya.

Delapan Sabda Dewa adalah delapan jalur keselamatan.

Tanah Sabda Dewa Pertama.
Manusia berasal dan dijadikan dari tanah
Kepada tanahlah manusia akan kembali
Karenanya manusia tidak boleh congkak dan takabur
dan harus ingat bahwa dirinya berasal dari gumpalan debu yang hina
Yang kuasa kemudian memberikan kehormatan,
menjadikannya makhluk pilihan karena memiliki pikiran
yang membedakannya dengan binatang
Tanah bagian dari bumi ciptaan Yang Kuasa
diberikan kepada manusia untuk tempatnya berlindung diri, berkaum-kaum dan mencari rezeki
Karenanya tidaklah layak kalau manusia me-rusak tanah dan bumi untuk maksud-maksud keji serta berbuat kejahatan di atasnya
Tanah dan bumi diberikan Yang Kuasa untuk kebahagiaan ummat manusia.
Karenanya manusia wajib berterima kasih dengan jalan memeliharanya.
Tanah tempat kaki berpijak. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung
Ketika tanah dijadikan ajang pertumpahan para Dewa pun gelisah dalam duka dan kecewa
Mengapa manusia tidak berpikir dan berterima kasih?

Lama Wiro termenung. Kalimat terakhir yang barusan dibacanya berkesan mendalam di lubuk hatinya. “Mengapa manusia tidak berpikir dan berterima kasih…?” Wiro garuk-garuk kepala. Dia menatap jauh ke luar goa. Ke arah tetumbuhan menghijau serta sungai kecil yang mengalir di bawah sana. “Mungkinkah aku yang tidak berpikir dan tidak berterima kasih dalam hidup ini? Hingga mengalami celaka seperti sekarang ini?! Di dalam kitab ini tertulis para Dewa pun gelisah dalam duka dan kecewa. Hemmm…. Dewa saja bisa gelisah, duka dan kecewa. Apalagi aku si sableng ini! Hik… hik… hik!” Wiro tertawa sendiri dan kembali garuk-garuk kepala.
Kemudian Wiro meneruskan membaca Sabda Dewa Kedua, terus Sabda Dewa Ketiga.

Api Sabda Dewa ketiga
Ketika kecil menjadi kawan
Sewaktu besar menjadi lawan
Mengapa manusia tidak mau berpikir dalam mencari manfaat dari pada kualat?
Api membakar seganas iblis
Di dalam tubuh manusia ada api yang mampu merubah manusia menjadi iblis
Barang siapa tidak mampu melawan api, bumi dan tanah akan meratap, air akan menangis, manusia akan menjadi api untung neraka
Para Dewa terhempas dalam perkabungan

Wiro meneruskan bacaannya.

Bulan Sabda Dewa Kelima
Sumber kesejukan dunia ini muncul di kala malam
Tiada keindahan melebihi malam dengan rembulan penuh memancarkan cahayanya yang lembut
Mengapa manusia tidak bisa selembut sinar rembulan?
Padahal manusia memiliki pikiran, bulan tidak
Padahal manusia memiliki hati, rembulan tidak
Bukankah kelembutan sinar rembulan mencerminkan perasaan kasih?
Kasih dari orang tua terhadap anaknya
Kasih seorang pemuda pada gadis curahan hatinya
Kasih sesama insan
Bahkan binatang pun mempunyai rasa kasih
Lalu mengapa manusia terkadang melupakan-nya?
Mengapa kasih dapat berubah menjadi kebencian yang mendatangkan azab dan sengsara?
Dari siapa para Dewa akan mendapatkan jawaban?

Sampai di situ kembali Wiro merenung. Terbayang lagi di pelupuk matanya wajah Ratu Duyung, Bunga, Bidadari Angin Timur lalu muncul paras jelita Puti Andini alias Dewi Payung Tujuh.
“Ada rembulan di hatiku, ada rembulan di hati mereka. Tapi rembulanku dan rembulan mereka tidak sama. Apa yang aku dambakan tak pernah terkabul.” Lalu kembali kekonyolan muncul dalam dirinya. Sambil menggaruk kepala dia berkata. “Kalau Dewa tak kunjung mendapatkan jawaban, bagaimana aku si sontoloyo ini! Ha… ha… ha!”
Tersentuh oleh kalimat-kalimat dalam Sabda Dewa Ke-lima itu Pendekar 212 lalu ambil Kapak Naga Geni 212. Beberapa lamanya dipandanginya senjata mustika sakti yang kini tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan apa-apa lagi bagi dirinya. Senjata warisan Eyang Sinto Gendeng ini lalu diusap-usapnya di bagian mata dan gagangnya yang terbuat dari gading putih. Matanya memperhatikan enam buah lobang di gagang kapak serta ujung gagang yang berbentuk kepala naga. Selama ini jarang sekali dia memperhatikan senjata itu dengan seksama karena selalu disimpan dan disembunyikan di balik pakaian. Baru di-keluarkan kalau menghadapi bahaya. Kini memandangi senjata itu seolah baru menyadari, Wiro ingat bahwa gagang Kapak Naga Geni 212 bisa berubah menjadi sebuah seruling yang jika ditiup dengan mempergunakan tenaga dalam dapat merusak telinga dan mengacaukan jalan darah musuh!
Perlahan-lahan Wiro angkat senjata itu yang kini terasa begitu berat. Mulut kepala naga didekatkannya ke bibirnya. Dia mulai meniup. Walau tidak lagi memiliki tenaga dalam namun tiupan yang dilakukan Wiro cukup menggetarkan, penuh gelora perasaan. Nyanyian yang mencuat dari seruling gagang kapak sakti itu melantun lembut berhiba-hiba. Wiro tidak tahu entah berapa lama dia meniup. Lebih dari itu juga tidak mengetahui kalau tak jauh dari goa seorang gadis berpakaian biru yang duduk , di atas sebuah batu, mendekam bersembunyi di balik serumpun semak belukar termenung sendu mendengar suara tiupan serulingnya. Sepasang matanya yang bagus tampak berkaca-kaca. Beberapa kali hatinya berontak mendorong agar segera keluar dari persembunyiannya dan menemui Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun setiap dirinya terbujuk seolah ada kekuatan yang melarangnya untuk tidak melakukan hal itu.
Seolah ada bisikan di telinganya. “Menemui pemuda itu akan mendatangkan seribu kebahagiaan dalam dirimu. Namun dibalik kebahagiaan itu mungkin akan muncul berbagai malapetaka yang akan menimbulkan duka derita bagi masa depanmu….”
Bisikan tadi membuat gadis berbaju biru itu tidak beranjak dari batu yang didudukinya. Namun mendadak terdengar suara bisikan lain.
“Jangan mendustai diri sendiri. Kau sadar se-penuh hati bahwa kau mencintai pemuda itu. Selama ini kau berlari dalam lingkaran menipu diri sendiri. . Apakah tujuan dan akhir perjalanan hidup seorang gadis kalau bukan dicintai dan mencintai? Kau tahu dia mencintaimu. Kau mencintai dirinya. Apalagi yang kau tunggu? Apa kau baru akan menyatakan cintamu setelah kau menjadi seorang nenek atau setelah terlambat karena orang yang kau cintai itu jatuh ke tangan gadis lain? Jangan bersikap buta. Bukan hanya kau seorang yang mencintainya. Kau tahu bahkan kenal sederetan gadis-gadis cantik yang mencintainya setulus hati….”
Bisikan terakhir ini sangat mempengaruhi gadis berbaju biru yang bukan lain adalah Bidadari Angin Timur. Sejak berpisah di Pangandaran dulu perasaan cinta kasihnya terhadap Pendekar 212 sulit ditekan dan disembunyikannya. itulah sebabnya setelah mengurus jenazah saudara kembarnya yang menemui ajal di tangan Pangeran Matahari, Bidadari k Angin Timur berusaha mencari pemuda itu, Kini setelah melalui perjalanan panjang akhirnya dia berhasil mengetahui kalau Pendekar 212 Wiro Sableng berada di sebuah goa di bukit Jatianom. Walau ada perasaan heran mengapa sampai Wiro tersesat ke bukit itu dan apa yang tengah dilakukannya namun perasaan ingin bertemu membuat Bidadari Angin Timur melupakan segala-galanya. Kini setelah dia berada begitu dekat dengan pemuda tersebut kembali kebimbangan melanda dirinya.
Dengan ujung pakaian birunya Bidadari Angin Timur mengusut pinggiran matanya yang basah. Ditebarkannya hatinya lalu bangkit berdiri. Namun gerakannya hendak meneruskan langkah tertahan ketika ada dua bayangan berkelebat. Dua gadis cantik mengenakan pakaian ketat dengan belahan dada sangat lebar muncul tak jauh dari tempatnya berada.
Dalam kejutnya Bidadari Angin Timur segera mengenali siapa adanya dua gadis itu. “Anak-anak buah Ratu Duyung. Ada apa mereka datang ke sini? Jangan-jangan untuk menjemput Wiro. Ah….” Dada Bidadari Angin Timur berdebar keras. Mukanya menjadi merah oleh rasa cemburu yang amat sangat. “Mungkin hubungan Wiro dengan Ratu Duyung sudah sangat jauh daripada yang aku bayangkan. Belum lama berselang kuketahui dia berada di tempat kediaman gadis bermata biru itu. Mungkin dia telah menjadi milik sang Ratu. Mungkin aku sudah terlambat seperti yang dikatakan suara bisikan tadi….”
Tak mampu berpikir lebih jauh akhirnya Bidadari Angin Timur menuruni bukit ke arah selatan, matanya basah berurai tangis.

*
* *

212
LIMA

Belum hilang kejut Ratu Duyung dan para gadis yang ada dalam ruangan ketiduran itu belasan anak buah Ratu Duyung telah menghambur masuk ke tempat itu. “Kalian berani masuk ke tempat ini tanpa izinku?!” bentak Ratu Duyung.
“Ratu! Kami…”
“Diam!” hardik sang Ratu dengan mata membeliak. Kemudian dia melihat ada kelainan pada pakaian dan keadaan diri semua anak buahnya yang barusan masuk ke tempat itu. Dia melihat gadis-gadis ini mengenakan pakaian dalam keadaan setengah basah. Rambut mereka juga kuyup dan air dari tubuh mereka jatuh menetes membasahi lantai. Namun di balik semua itu sang Ratu melihat satu keanehan yang selama ini mustahil terjadi. Mendadak jantungnya berdebar keras dan tengkuknya terasa dingin.
“Ratu dalam keadaan tidak sehat! Kalian semua harap segera meninggalkan ruangan ini!” Salah seorang dari enam gadis yang ada di sisi tempat tidur membentak.
Ratu Duyung angkat tangan kanannya. Dengan suara bergetar dia berkata. “Salah seorang dari kalian yang baru masuk lekas menerangkan apa yang terjadi!”
Seorang gadis yang rambutnya basah riap-riapan di depan dada maju dua langkah dan menjura. Sebelum sempat bicara dia sudah sesenggukan duluan. Teman-temannya yang lain juga tampak berusaha menahan isak. Enam gadis di samping tempat tidur menjadi heran. Ratu Duyung sendiri seperti tidak dapat menahan gemuruh di dadanya.
“Lekas jelaskan! Jangan pikiranmu mempengaruhi hatimu!” ujar Ratu Duyung dengan suara masih keras padahal dia sendiri saat itu sebenarnya sudah tidak dapat menahan hati.
“Ratu, kami mengalami kejadian aneh. Seperti biasa pagi ini kami semua pergi ke telaga untuk mandi dan mencuci. Begitu kami menyentuh air sepasang kaki kami tidak berubah menjadi ekor ikan. Kami…” Ucapan si gadis tersendat. Ada air mata meluncur di kedua pipinya.
“Teruskan keteranganmu!” bentak Ratu Duyung,
“Kami… kami tidak percaya melihat hal itu. Ramai-ramai kami lalu masuk ke dalam telaga. Terus kebagian yang paling dalam. Sampai tubuh kami tenggelam sebatas leher, sosok kaki kami tetap tidak berubah menjadi ekor ikan….” Sampai di situ si gadis tak dapat lagi menahan tangisnya. Kawan-kawannya yang lain juga mulai tersedu sedan.
“Ratu…. Apakah kami telah bebas dari kutukan selama bertahun-tahun itu?” Salah seorang dari para gadis yang berpakaian basah bertanya.
Ratu Duyung tidak bisa segera menjawab. Pikirannya melayang pada saat-saat ketika dia berada berdua-duaan dengan Wiro Sableng di atas tempat tidur di Puri Pelebur Kutuk. Saat itu walau mereka berdua tidak lagi mengenakan pakaian dan tak ada selembar benang pun yang membatasi tubuh mereka, namun Wiro sama sekali belum melakukan apa-apa. Pemuda itu belum sampai pada keadaan untuk membuatnya lepas bebas dari kutukan. Namun saat ini mengapa belasan anak buahnya muncul memberitahu bahwa tubuh mereka sama sekali tidak mengalami perubahan kendati tersentuh air? Apakah mereka telah bebas dari kutukan termasuk dirinya dan enam gadis yang sebelumnya ada bersamanya?
Untuk beberapa lamanya keadaan dalam ruangan besar itu menjadi sunyi. Hanya sedu-sedan tertahan yang terdengar di sana sini. Enam gadis di dekat Ratu Duyung memandang pada pimpinan mereka seolah hendak bertanya apa yang akan dilakukan.
Ratu Duyung tutupkan kain beludru biru di tubuhnya lalu dia turun dari atas tempat tidur.
“Ratu, harap jangan turun dulu. Kau masih dalam keadaan terluka…” seorang gadis mengingatkan.
“Aku sudah sembuh. Bukankah kalian telah menolongku mengusir kekuatan aneh yang coba .mendekam dalam diriku? Kalian berhasil walau terpaksa harus mengalami luka di jari masing-masing…. Anak-anak, aku dan enam temanmu belum membuktikan sendiri. Namun aku percaya. Kebesaran pertolongan Tuhan telah datang menolong kita. Aku yakin saat ini kini semua telah bebas dari kutukan yang selama ini jatuh atas diri kita….”
Ruangan itu jadi ramai oleh berbagai suara. Ada gadis yang bersorak gembira, ada yang mengangkat-angkat tangan tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ada juga yang kembali sesenggukan.
“Anak-anak saat ini kita pantas bersyukur. Kalian semua ikut aku menghadap ke timur. Kita sama-sama bersujud menyatakan syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa!”
Lalu Ratu Duyung memutar tubuh menghadap ke timur dan bersujud. Apa yang dilakukannya diikuti oleh semua anak buahnya. Sambil bersujud banyak di antara mereka yang tak dapat lagi menahan tangis.
Ratu Duyung berdiri. Dia memandang pada enam gadis di hadapannya. “Aku tahu, seperti aku kalian tentu sudah tidak sabar untuk membuktikan apakah kita benar-benar telah bebas. Ambilkan pakaian pesalin untukku. Lalu kita semua menuju telaga….”
Semua gadis yang ada di situ serta merta memberi jalan pada sang Ratu dan enam temannya. Mereka beramai-ramai menuju ke telaga yang terletak di satu jalan menurun menuju pedataran rendah berbentuk lembah kecil dikelilingi bebatuan.
Ratu Duyung sesaat tegak di pinggiran telaga. Enam anak buahnya berjajar di belakangnya. Seperti tidak sabaran sang Ratu kemudian melompat menerjunkan diri ke dalam telaga, langsung menyelam di bagian paling dalam. Enam anak buahnya mengikuti. Tak lama kemudian kepala Ratu Duyung muncul di permukaan air. Senyum suka cita kelihatan di wajahnya yang jelita. Sepasang matanya bersinar indah. Dia mengangkat kedua kakinya ke permukaan air. Ternyata sepasang kakinya yang bagus tidak berubah menjadi ekor ikan. Para gadis di sekelilingnya bersorak sorai. Ratu Duyung angkat tangan kanannya lalu berteriak keras.
“Terima kasih Tuhan! Kau telah menolong kami! Saat ini kami semua bebas dari kutukan. Terima kasih… terima kasih Tuhan!”
Ucapan sang Ratu serta merta diikuti oleh belasan anak buahnya. Suara para gadis itu menggemuruh di seantero telaga. Di tepian telaga Ratu Duyung kemudian mengumpulkan anak buahnya.
“Kita telah berterima kasih pada Tuhan, namun kita juga harus berterima kasih pada seseorang. Tuhan menjadi Yang Maha Besar dan Ma ha Kuasa menolong kita. Tapi orang itu adalah seolah kunci wasiat yang diberikan Tuhan untuk membuka pintu menolong kita keluar dari kutukan….”
Walau banyak yang sudah dapat menduga namun salah seorang dari anak buah Ratu Duyung ajukan pertanyaan.
“Kalau kami boleh tahu Ratu, siapakah adanya orang itu?”
“Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng. Pemuda gondrong yang tempo hari pernah kita jatuhi hukuman bersama si Dewa Ketawa. Yang hari ini kembali berkunjung ke sini dan ikut bersamaku masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk.”
“Kalau memang dia orangnya kita pantas mencarinya untuk mengucapkan terima kasih. Dimanakah dia sekarang Ratu…?”
“Dia tidak ada di sini lagi. Justru hal inilah yang membuatku gelisah. Ketika kami berdua berada di Purl Pelebur Kutuk tiba-tiba ada makhluk berwujud perempuan mengenakan pakaian serba putih, cantik tapi bermuka pucat muncul dan melarikan pemuda tuan penolong kita itu….”
“Jika ada orang berniat jahat padanya, karena dia memiliki ilmu silat tinggi dan kesaktian pasti dia mampu menghajar prang itu!” kata salah seorang gadis dalam ruangan.
Ratu Duyung terdiam. Di wajahnya jelas tampak bayangan rasa gelisah.
“Ratu, apakah kau menghadapi kesulitan? Katakan pada kami agar kami bisa membantu memecahkan masalahnya,” ujar gadis yang tegak tepat di samping kanan Ratu Duyung.
Sang Ratu menggigit-gigit bibirnya. “Sebenarnya hal ini tidak perlu aku beritahukan pada kalian. Namun pengorbannya begitu besar. Aku tak ingin menutupi kebesaran jiwa dan hatinya. Biarlah aku berterus terang,…” Setelah memandang berkeliling maka berkatalah sang Ratu bermata biru itu. “Seolah sudah ditakdirkan, kutukan yang menimpa diri kita selama bertahun-tahun hanya mampu dimusnahkan jika ada seorang pemuda yang aku cintai dan juga mengasihi diriku, melakukan hubungan badan denganku bukan berdasarkan nafsu. Pemuda itu ternyata adalah seorang Pendekar 212 Wiro Sableng. Bukan saja karena dia seorang tampan atau sakti, tetapi karena dia seorang bujangan. Maksudku masih perjaka….” Paras sang ratu sesaat tampak merah. Lalu dia melanjutkan. “Kali pertama dia datang ke sini aku tak berhasil meyakinkan dirinya untuk menolong diriku dan diri kalian. Kemudian entah apa yang merubah hatinya, pada pertemuan di Pangandaran di mana Pang era n Matahari berhasil dibunuhnya dia bersedia ikut ke sini. Kami masuk ke dalam Puri Pelebur Dosa. Pada saat dia melakukan pertolongan tiba-tiba ada makhluk berwujud perempuan muda cantik tapi berwajah pucat, berpakaian kebaya panjang dan kain putih masuk ke dalam Puri. Anehnya Pendekar 212 tidak dapat melihatnya sedang aku bisa melihat jelas. Aku maklum kalau orang ini bukan manusia sembarangan, sebangsa makhluk halus yang bisa memperlihatkan diri dalam wujudnya yang asli. Ketika aku sadar dia hendak melarikan Pendekar ,212 aku segera menyerangnya dengan pukulan sakti. Perempuan berkebaya putih balas menyerang dengan sebuah benda berwarna kuning kehijauan dan menebar bau bunga kenanga. Aku berhasil menghantam hancur senjatanya yang ternyata sekuntum kembang kenanga itu. Namun ternyata dia memiliki kepandaian dan kesaktian jauh melebihi diriku. Kembang kenanga hancur, aku sendiri terbanting ke atas tempat tidur. Menderita luka dalam yang cukup parah. Sebaliknya Pendekar 212 Wire- Sableng kulihat roboh pingsan. Dalam keadaan tak berdaya aku hanya bisa berteriak sewaktu perempuan itu melarikan Wiro. Aku sendiri kemudian tak sadarkan diri. Baru siuman setelah kalian menolongku. Aku berterima kasih pada kalian…. Dan aku begitu bahagia serta bersyukur pada Tuna n bahwa ternyata kita semua kini telah terbebas dari kutukan yang selama ini membuat kita hidup setengah manusia setengah ikan. Namun kebebasan itu dibayar mahal oleh Pendekar 212. Selama seratus hari dia akan kehilangan semua ilmu kepandaian yang dimilikinya. Termasuk ilmu silat, kesaktian dan tenaga dalam, itulah yang aku gelisahkan… Aku tidak dapat memastikan apakah perempuan muda yang menculik Pendekar 212 bermaksud jahat atau baik.”
Untuk beberapa lamanya ruangan itu menjadi sunyi. Lalu terdengar suara beberapa orang berbisik-bisik. Ratu Duyung memandang berkeliling. Sesaat kemudian dia berkata. “Ada di antara kalian yang ingin mengatakan sesuatu? Jangan kasak kusuk berbisik-bisik. Aku tidak melihat Manumi dan Kiani. Di mana mereka?”
Beberapa orang gadis memandang pada Nandiri. Anak buah Ratu Duyung yang satu ini melangkah ke hadapan sang Ratu lalu menjura. “Ratu, pasti kau tidak berkenan dengan keterangan ini. Manumi dan Kiani tengah melakukan pengejaran terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng.”
“Melakukan pengejaran?” ujar Ratu Duyung dengan sepasang mata biru membesar. Dadanya berdebar. Dia yakin telah terjadi satu kekeliruan. “Mengejar dengan maksud apa?!”
“Ratu, setelah mendengar keterangan Ratu tadi jelas di antara kami termasuk saya telah melakukan kesalahan. Waktu saya dan lima teman mendengar jeritan Ratu menyusul runtuhnya sebagian bangunan Puri Pelebur Kutuk, kami langsung menerobos masuk. Kami temui Ratu dalam keadaan luka parah, setengah pingsan dan berteriak kejar! Sebelumnya kami mengetahui bahwa Ratu masuk ke dalam Puri bersama pemuda itu. Kami dan kawan-kawan mengira tidak dapat tidak pemuda itulah yang telah berlaku jahat mencelakai Ratu….”
“Ya Tuhan!” Ratu Duyung tutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Teruskan keteranganmu Nandiri!”
“Kami segera membagi tugas. Beberapa orang tetap tinggal untuk menolong Ratu. Kami mengejar dengan mengandalkan ilmu menyirap detak jantung. Saya berhasil mengetahui kalau pemuda itu lari ke jurusan barat. Namun karena mengalami luka dalam akibat hantaman balik hawa aneh, saya terpaksa kembali. Manumi dan Kiani melanjutkan pengejaran…. Saya benar-benar khawatir Ratu. Karena mengira pemuda itu telah berbuat jahat, jangan-jangan mereka berniat membunuhnya!”
Ruangan itu sunyi senyap seperti di pekuburan.
Ratu Duyung tegak tak bergerak. Kedua matanya dipejamkan. Hatinya dilanda kecemasan luar biasa. “Wiro… pemuda itu kini tidak memiliki secuil ilmu pun! Manumi dan Kiani dengan mudah bisa membunuhnya! Ya Tuhan! Aku harus bertindak cepat!”
Dari bawah bantal Ratu Duyung mengeluarkan cermin sakti berbentuk bulat. Dia menatap tak berkesip ke dalam cermin itu sambil membayangkan paras Pendekar 212 Wiro Sableng. Mula-mula dia melihat laut biru. Lalu deretan pulau-pulau. Ada sinar terang di sebelah kanan cermin kemudian gelap dan perlahan-lahan muncul satu daratan. Lalu samar-samar tampak puncak sebuah gunung. Menyusul bayangan seperti sungai lalu muncul kilatan-kilatan aneh. Bersamaan dengan itu satu hawa dingin me-rambas masuk ke dalam tubuh sang Ratu lewat jari-jari tangannya yang memegang cermin.
Pada puncak rasa dingin yang membuat dia tidak tahan Ratu Duyung terpekik. Cermin bulat dilemparkannya ke atas tempat tidur. Dia cepat kerahkan tenaga dalam, mengatur jalan nafas dan peredaran darahnya.
Sebenarnya Ratu Duyung memiliki kesaktian yang disebut “Menembus Pandang”. Seperti telah dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul “Wasiat Sang Ratu” ilmu kepandaian itu telah diberikannya kepada Pendekar 212 Wiro Sableng dengan akibat dia sendiri kehilangan kemampuan untuk mempergunakan ilmu itu selama 777 hari. Karenanya dia terpaksa memakai cermin bulat sakti untuk menjajagi di mana kira-kira beradanya Pendekar 212. Ternyata ada satu kekuatan aneh yang tidak sanggup ditembus Ratu Duyung yang melindungi diri Pendekar 212.
“Ratu! Kau tak apa-apa?!” seru Nandiri sementara semua anak buah Ratu Duyung juga tampak dicekam rasa khawatir.
“Ada hawa aneh…” kata Ratu Duyung perlahan. “Ada satu kekuatan yang melindungi Pendekar 212, membuat cermin sakti ini tidak mampu mengadakan sambung rasa dengan pemuda itu. Aku yakin perempuan bermuka pucat itu yang jadi penangkalnya…. Namun ilmu aneh seperti itu hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu tak ada satu kekuatan pun yang akan melindungi Pangeran 212! Aku harus pergi sekarang juga!”
Nandiri maju selangkah.
“Ratu, kalau kau mau memberi izin, biarkan saya dan beberapa teman mengejar Kiani dan Manumi serta mencari Pendekar 212. Saya sudah tahu kira-kira di arah mana pemuda itu berada. Dengan melakukan hal ini saya berharap bisa menebus kesalahan.”
Ratu Duyung menggeleng.
“Kalian tetap di sini sampai aku kembali. Se-belum pergi ada satu keputusan besar yang harus aku beritahukan pada kalian semua. Sekembalinya dari perjalanan aku akan tetap tinggal di tempat ini. Kalian boleh memilih, ingin tetap tinggal di sini bersamaku atau dengan segala kebebasan yang ada kembali ke dunia darimana dulu kita semua berasal. Urusan dengan sesepuh kita yang telah menjatuhi hukuman kutukan biar aku sendiri yang menyelesaikan….”
Semua yang ada di tempat itu berdiam diri. Tak ada yang berani memberikan jawaban. Anak buah Ratu Duyung tundukkan kepala dengan wajah sedih.
“Ratu,” kata Nandiri lagi-lagi mewakili teman-temannya. “Kami mohon petunjuk. Apa yang akan kami lakukan terhadap orang tua yang saat ini berada di Ruang Penyembuhan?”
“Jaga dia baik-baik. Jangan berbuat sesuatu apa sampai dia siuman sendiri. Dia boleh menetap di sini sampai kesembuhannya. Jika dia minta pergi antarkan dia sampai ke Pintu Gerbang Perbatasan.”
“Perintah Ratu akan kami laksanakan. Sementara Ratu pergi, kami akan menunggu di sini. Ke-putusan apapun yang akan diambil oleh kami nanti saja kita bicarakan. Kami berdoa untuk keselamatan Ratu.:..”
Ratu Duyung memegang bahu anak buahnya itu. Lalu diambilnya cermin bulat dari atas tempat tidur. Dia memberi isyarat pada beberapa orang gadis. Lalu mereka melangkah menuju ke sebuah ruangan di mana Ratu Duyung berganti pakaian.

*
* *

212
ENAM

Sosok tua basah kuyup itu tergantung kaki ke atas kepala ke bawah. Tali penggantungnya berbentuk aneh. Bukan merupakan tali biasa tetapi menyerupai selarik sinar berwarna biru. Air menetes dari sekujur tubuh, pakaian dan rambut orang tua itu. Juga tampak air keluar dari lobang telinga, hidung dan yang paling banyak dari mulutnya.
Ketika dia siuman dan dapatkan dirinya dalam keadaan seperti itu – si orang tua terheran-heran namun juga memaki sambil matanya memandang jelalatan berkeliling.
“Setan alas! Siapa yang menggantung aku begini rupa…?!”
Suara makiannya terhenti dan lidahnya seperti mau ditelannya sendiri ketika dia melihat apa yang ada di sekitarnya.
Si kakek pejamkan matanya.
“Aku harus mengingat.,.. Apa yang telah terjadi dengan diriku sebelumnya. Apa saat ini aku sudah mati dan berada di neraka atau di sorga? Hik… hik! Otak tumpul tua bangka ini tak mau segera diajak bekerja!”
Si prang tua gerakkan tangan kanannya yang terkulai ke bawah. Dengan tangannya ini dipukul-pukulnya batok kepalanya.
“Duk… duk… duk!”
Air mengucur makin banyak dari telinga, hidung dan mulutnya. “Otak tua! Ayo lekas mengingat! Apa yang terjadi sebelumnya? Hemmmm…. Bagus! Oia mulai bekerja…. Aku mulai bisa mengingat. Aku meninggalkan pulau itu. Naik perahu. Di tengah laut tahu-tahu muncul dukun keparat itu. Ah… ternyata dia adalah Sika Sure jelantik! Membawa dendam asmara berdarah, ingin membunuhku dengan ilmu kilat kuku akhirat! Ilmu kesaktian tua bangka itu ternyata memang hebat. Aku tak mampu menghadapi pukulan saktinya. Aku terlempar dari atas perahu layar. Mungkin… mungkin aku merasakan ada sesuatu menarik kakiku. Lalu air laut menyerbu semua lobang di tubuhku. Lobang telinga, mata, hidung, mulut… lobang dubur. Ah yang satu ini tidak! Lalu aku tak ingat apa-apa lagi. Sekarang begitu sadar berada di mana aku ini? Kalau di neraka mengapa aku melihat begini banyak gadis berwajah cantik seolah bidadari mengelilingiku! Kalau aku di sorga mengapa orang menggantungku kaki ke atas kepala ke bawah? Aku harus meloloskan diri!”
Si orang tua perhatikan tali yang mengikat kedua pergelangan kakinya. “Tali aneh…” desisnya. “Tak lebih dari pada sebentuk sinar berwarna biru. Aku mau lihat sampai di mana kehebatannya!” Segera orang tua ini kerahkan tenaga dalamnya. Tangannya kiri kanan diputar demikian rupa hingga tubuhnya melayang naik ke atas dan, “Wuuttt!”
“Gila!” seru orang tua itu. “Jelas tanganku tadi memapas tali itu. Tapi seperti aku menggebuk udara kosong!” Sepasang mata si orang tua yang lebar jadi bertambah besar. Kembali dia melayangkan tubuhnya ke atas dan memukul dengan pinggiran telapak tangan. Sampai berulangkali dilakukannya tetap saja dia seolah memukul udara kosong. Tali bersinar biru itu tak dapat ditebas putus.
“Hemmmm… ada orang jahil hendak bercanda denganku. Dikiranya aku tolol! Tali tak bisa kuputus tapi langit-langit ruangan ini masakan tak mampu kujebol! Sekali kuhantam runtuh, tubuhku pasti terjatuh lepas!” Orang tua ini tertawa mengekeh. Kembali dia salurkan tenaga dalamnya ke tangan kanan, Sesaat lagi dia hendak menghantam ke atas tiba-tiba terdengar suara suitan keras. Disusul oleh suara angin mendesir.
Secara aneh tali yang mengikat pergelangan kaki si orang tua bergerak melenting. “Sret… sret… sret!” ikatan tali biru lepas. Lalu lenyap dari pandangan. Bersamaan dengan itu tubuh si orang tua jatuh deras ke bawah. Orang lain yang tidak mempunyai kepandaian pasti akan langsung amblas ke lantai ruangan. Tapi orang tua ini dengan cekatan membuat gerakan aneh dan tahu-tahu dia sudah berdiri di atas sepasang kakinya, memandang jelalatan pada belasan gadis cantik berpakaian ketat, terbelah tinggi dari kaki sampai ke pinggang dan terbuka lebar di bagian dada.
“Ha… ha… ha! Kini kaki ke bawah kepala ke atas aku lebih jelas bisa melihat kalian! Tidak seperti tadi kaki ke atas kepala ke bawah! Ha… ha… hai. Gadis-gadis cantik siapakah kalian? Apa aku tua bangka buruk ini telah berada di sorga? Hemmm….” Si orang tua dongakkan kepalanya dan menghirup dalam-dalam. “Udara di sini harum semerbak. Kalau bukan sorga akhirat pasti aku berada di sorga dunia! Ha… ha… ha!”
“Orang tua! Jangan tertawa saja! Lihat keadaan pakaianmu! Celanamu merosot hampir lepas ke bawah. Tanaman rumputmu yang gersang hampir berserabutan….” Ada gadis cantik usil di deretan belakang berkata dengan suara keras.
“Husss!” seorang gadis cepat membentak memotong ucapan temannya itu.
Ruangan itu riuh oleh hiruk pikuk suara tertawa para gadis. Si orang tua bermuka teramat cekung nyaris menyerupai tengkorak delikkan matanya dan memandang ke bawah. Mula-mula dilihatnya baju putihnya yang robek besar di bagian dada dan pinggang. Lalu tampang buruk orang tua ini berubah merah padam ketika dilihatnya keadaan celananya yang memang telah merosot sampai ke bawah pinggul. Cepat-cepat dia menarik celana putihnya yang basah itu tinggi-tinggi dan mengikatnya kuat-kuat!
Setelah usap wajahnya beberapa kali orang tua ini kembali memandang ke arah gadis-gadis cantik di depannya. Lalu dipukulnya keningnya sendiri dan berkata. “Tololnya tua bangka ini! Aku ingat siapa kalian adanya. Dua orang di antara kalian pernah muncul di Teluk Penanjung Pangandaran. Kalian yang cantik-cantik ini pasti anak buah Ratu Duyung!”
“Orang tua! Tidak salah dugaanmu. Kami memang anak buah Ratu Duyung. Wakil penguasa laut selatan.” Salah seorang gadis yaitu Nandiri menjawab.
“Antara aku dan Ratumu tidak ada silang sengketa, bahkan belum lama berselang kami bertemu di Pangandaran, sempat berbincang-bincang sebelum dan sesudah tewasnya Pangeran Matahari.
Kenapa tadi aku digantung kaki ke atas kepala ke bawah? Pasti dia yang memberi perintah!”
“Orang tua, harap kau jangan salah sangka. Ratu kami sama sekali tidak berniat jahat terhadapmu. Ma lah dia melakukan hal paling tepat untuk menolongmu! Dengan cara menggantung kaki ke atas kepala ke bawah, air laut yang telah membusuk dan masuk ke dalam perut, telinga dan hidungmu dapat dikeluarkan….”
“Hemmm, begitu…?” Si orang tua remas-remas rambut putihnya yang basah sehingga air yang masih menempel mengucur jatuh ke lantai. “Hebat juga cara Ratumu menolong. Aku pantas berterima kasih padanya. Juga pada kalian.”
Si orang tua yang masih dalam keadaan basah kuyup itu berpaling pada Nandiri lalu tertawa mengekeh. “Kalian mengenakan baju bagus-bagus, tubuh menebar bau harum. Aku basah kuyup kedinginan dan bau air laut! Ha… ha… ha! Ayo lekas ceritakan bagaimana aku bisa sampai di tempat ini?”
“Ratu kami yang menolongmu orang tua. Dia menemukanmu di tengah laut pada saat terlempar dari atas perahu.”
“Di mana Ratu kalian sekarang? Aku ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih.”
“Ratu tidak ada di sini. Dia punya satu urusan penting. Dia pergi tanpa memberitahukan siapa namamu atau siapa kau adanya. Dia berpesan agar kami melayanimu dan mengizinkan kau berada di sini sampai sembuh.” Berkata Nandiri.
“Eh, memangnya aku sakit apa?” tanya si orang tua sambil memandang berkeliling.
“Ratu kami menemukanmu hampir mati dihantam orang di tengah laut. Kau tak dapat melihat luka dan benjut di mukamu tapi kau bisa menyaksikan luka di dada dan pinggangmu. Dari hidung, mulut dan telingamu mengucur air laut campur darah. Kau terluka di dalam Kek!”
Orang tua berpakaian putih kuyup itu raba dadanya lalu menyeringai. “Kau mungkin benar. Tapi rasanya sakitku tidak parah benar. Aku berterima kasih kalian turut menolong. Tapi aku tak bisa tinggal lama-lama di sini….”
“Kami hanya mengikuti perintah Ratu….”
“Bisa berbahaya!”
“Bahaya? Maksudmu Kek?”
“Kalian semua cantik-cantik. Mataku belum lamur. Walau sudah tua bangka begini menyaksikan kalian lama-lama aku jadi salah tingkah. Kalau aku jatuh cinta pada salah satu dari kalian bagaimana? Kalau cintaku diterima? Kalau tidak? Ha… ha… ha…!”
Ruangan itu menjadi riuh oleh gelak tawa anak buah Ratu Duyung. Nandiri beranikan diri berkata. “Kek, dalam keadaan seperti ini kau masih bisa bersenda gurau. Ini kuanggap aneh….”
“Aku memang orang aneh!”
“Sebenarnya kau ini siapa Kek? Mengapa sampai hampir menemui ajal diserang orang di tengah lautan?”
“Panggil saja aku Tua Gila. Soal mengapa aku diserang orang di tengah laut aku juga tidak mengerti. Jadi tak bisa aku ceritakan padamu. Biar nanti kalau aku bertemu dengan si pembunuh itu akan aku tanyakan padanya! Dan kalau panjang umur jawabannya akan aku sampaikan pada kalian! Ha… ha… ha!”
Nandiri geleng-gelengkan kepala. Teman-temannya senyum-senyum.
“Kalian tahu ke mana perginya Ratu kalian? tadi ada yang mengatakan Ratu punya urusan penting. Sebenarnya kurasa mungkin dia tidak suka melihat aku si tua buruk ini! Hik… hik! Apakah aku bisa mendapat jawaban?”
Nandiri membuka mulut. “Melihat sikap Ratu, nyata dia sangat menghormatimu. Soal kemana dia pergi dan apa urusannya kami tidak dapat memberi tahu…”
Tua Gila terdiam. “Kalau begitu aku terpaksa minta diri sekarang. Aku punya urusan penting. Mencari dan menemui seorang pemuda bernama Wiro Sableng.”
“Pendekar 212?” ujar Nandiri.
“Itu gelarnya!”
Nandiri memandang pada teman-temannya lalu bertanya pada Tua Gila. “Kek, apa hubunganmu dengan pemuda itu?”
“Eh, di antara kalian rupanya ada yang naksir. Kalian mau meminta aku menjadi utusan untuk saling menjodohkan? Aku tidak keberatan!”
Kembali tempat itu riuh oleh suara belasan anak buah Ratu Duyung.
“Kek, kau belum menjawab pertanyaan kami,” ujar Nandiri pula.
“Hemmm…. Pemuda itu adalah muridku!” jawab Tua Gila.
“Kalau begitu….”
“Kalau begitu apa?”
“Ratu kami justru pergi mencarinya. Muridmu itu berada dalam bahaya besar….”
Sepasang mata Tua Gila membeliak besar.
Nandiri lalu menceritakan apa yang diketahuinya. Mendengar keterangan gadis itu wajah cekung Tua Gila jadi berubah.
“Aku harus pergi sekarang juga! Ratumu. mengatakan di mana dia akan mencari Pendekar 212?”
Nandiri dan kawan-kawannya gelengkan kepala.
Tua Gila putar tubuhnya, memandang berkeliling. Dia jadi bingung sendiri. Ruangan itu tak ada pintunya. Tertutup oleh tirai-tirai biru.
“Tunjukkan aku jalan ke luar!” katanya. Lalu menyeruak di antara gadis-gadis cantik itu.
“Tua Gila kami akan antarkan kau ke Pintu Gerbang Perbatasan. Tapi sebaiknya kau berganti pakaian dulu,” kata Nandiri.
“Aku harus bertindak cepat. Serahkan saja pakaiannya. Biar aku pakai di tengah jalan!” jawab Tua Gila. Lalu enak saja dia mulai membuka baju putihnya yang basah dan penuh robek. Sebelum orang tua ini berlaku lebih gila para gadis segera lari berhamburan. Seseorang kemudian melemparkan seperangkat baju dan celana hitam ke arah orang tua itu.
“Hik… hik…!” Tua Gila tertawa. “Apa kalian mengira aku ini benar-benar gila lalu mau-mauan membuka celana?! Dulu dimasa mudaku mungkin aku bisa berbuat gila seperti itu. Tapi sekarang sudah peot begini rupa, kambing pun tak suka melihatku! Ha… ha… ha!”
Tua Gila menyambut pakaian yang dilemparkan kepadanya. Sambil melangkah dia cepat mengenakan baju hitam. Lalu tanpa membuka celana putihnya yang basah kuyup dia langsung saja memakai celana hitam. Pada saat berpakaian itulah dia ingat sesuatu. Dia meraba-raba kian ke mari. “Astaga!”
“Ada apa orang tua?” tanya salah seorang gadis pengawal.
Kawannya menimpali. “Ada barangmu yang hilang? Tadi kulihat semuanya menempel lengkap di tubuhmu!”
Nandiri dan yang lain-lainnya tak dapat menahan tawa mendengar ucapan gadis pengawal itu.
“Anak-anak keparat! Jangan bergurau! Ini bukan urusan main-main! Benda itu hilang!”
“Benda apa, Kek?” bertanya Nandiri.
“Sebuah kotak terbuat dari perak, dibungkus kantong kain! Siapa yang berani mencuri?!” Tua Gila memandang pada keenam gadis itu dengan sorot melotot hingga mereka menjadi kecut.
“Kami tidak pernah melihat benda itu. Kalaupun ada kami tidak akan mencurinya. Mungkin jatuh di tempat lain….”
“Atau mungkin Ratu kalian yang telah mengambilnya!” bentak Tua Gila marah. Yang dicarinya adalah kotak perak berisi Kalung Permata Kejora titipan Rajo Tuo penguasa Kerajaan pulau Sipatoka.
“Ratu kami tidak akan sekeji itu! jangankan cuma sebuah kotak perak. Kotak emas pun tidak akan diambilnya!”
Tua Gila komat kamit. Dari mulutnya terdengar suara menggerendeng.
“Sudahlah! Lekas antarkan aku ke Pintu Gerbang Perbatasan!” kata orang tua itu kemudian.
Enam orang gadis dibawah pimpinan Nandiri lalu membawa Tua Gila melewati beberapa lorong bangunan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bukit. Di bawah bukit terbentang sebuah pedataran dan di ujung sana tampak sebuah bangunan aneh berbentuk gapura terbuat dari tumpukan batu-batu hitam.

*
* *

212
TUJUH

Makin dekat ke Pintu Gerbang Perbatasan makin terasa mencekam bagi enam orang anak buah Ratu Duyung. Mereka tahu, di seberang pintu gerbang itu terdapat dunia di mana mereka dulu pernah tinggal. Betapapun senangnya hidup di alam yang sekarang namun tetap saja mereka merindukan dunia mereka yang lama.
Tua Gila melangkah cepat meninggalkan keenam orang pengiringnya. Di satu tempat dia hentikan langkah. Sambil memandang ke depan dia berkata:
“Jadi ini yang disebut Pintu Gerbang Perbatasan?” Tua Gila perhatikan tumpukan batu-batu hitam yang disusun secara aneh membentuk satu bangunan gapura yang tampak angker. Angin bertiup kencang. Setiap mengikis permukaan gapura batu terdengar suara berdesir aneh hampir menyerupai tiupan seruling.
Enam gadis mengangguk mengiyakan pertanyaan Tua Gila tadi.
“Di belakang gapura aku melihat tempat kosong diselimuti awan putih bertebaran rendah. Apa yang ada di seberang sana?” tanya si kakek kembali.
“Kami tidak tahu apa yang ada di seberang sana Kek,” jawab Nandiri. “Kami tidak pernah melihat, apa lagi berada di belakang gapura. Tapi kami yakin itu adalah dunia luar. Duniamu….”
“Kalian manusia-manusia aneh. Cantik-cantik tapi memilih tinggal di alam seperti ini…”
“Kalau Tuhan menghendaki dan Ratu memberi izin, tak lama lagi kami akan berada di alam sana Kek. Di duniamu walau mungkin tetap agak berbeda….”
Tua Gila menarik napas dalam lalu tertawa mengekeh.
“Aku berterima kasih pada kalian. Kalian gadis-gadis baik semua. Tapi terus terang aku masih penasaran mengenai kotak perak itu!”
Lalu sambil meneruskan tawanya Tua Gila melangkah ke arah tangga batu di bawah Pintu Gerbang Perbatasan.
“Selamat jalan Kek!”
Tua Gila masih sempat mendengar enam gadis mengucapkan selamat jalan padanya. Sepasang kakinya melangkah menaiki undak-undak batu pintu gerbang. Sesaat kemudian dia telah berada di belakang pintu batu itu dan kini mulai melangkah menuruni anak tangga. Satu… dua… tiga…. Pada langkah ketiga Tua Gila keluarkan seruan tertahan. Memandang ke bawah dia dapatkan dirinya tidak melangkah di atas batu tapi seolah melayang di antara tebaran awan putih. Perlahan-lahan awan putih bersibak menjauh. Tua Gila sekali lagi memandang ke bawah.
“Astaga!” Si kakek terkejut begitu melihat kini dia melangkah di atas pasir basah. Ketika dia memandang ke depan dia lebih terkejut. Di depannya terbentang laut luas. Pulau-pulau bertebaran di mana-mana. Ombak berdebur dan memecah di atas pasir.
“Aneh, bagaimana tahu-tahu aku berada di tepi pantai seperti ini? Apa aku masih di daratan Andalas atau sudah di tanah Jawa? Setahuku tempat kediaman Ratu Duyung adalah di pantai selatan tanah Jawa. Bagaimana mungkin aku yang tadinya berada di daratan Andalas kini bisa berada sejauh itu? Tapi Ratu Duyung memang punya kekuasaan dan kesaktian yang tak bisa dijajagi. Aku harus mencari tahu berada di mana saat ini?” Tua Gila memandang berkeliling. Laut lepas membiru. Tak kelihatan apa-apa selain pulau-pulau di kejauhan. Dia berpaling ke belakang. Astaga! Pintu Gerbang Perbatasan tak ada lagi di tempatnya. Enam gadis anak buah Ratu Duyung pun lenyap dari pemandangan. Perlahan-lahan Tua Gila memandang ke arah laut kembali. Saat itulah di kejauhan dilihatnya sebuah perahu layar meluncur di permukaan laut.
Tua Gila angkat tangannya tinggi-tinggi lalu dilambai-lambaikan berulangkali. Dia tertawa mengekeh ketika dilihatnya perahu itu membelok lalu meluncur ke arah pantai di mana dia berada.
Orang di atas perahu ternyata adalah seorang nelayan tua bercaping, mengenakan pakaian lusuh penuh tambalan. Di lantai perahu bergeletakan ikan-ikan besar segar. Sebagian masih hidup menggelepar-gelepar. Sebuah jala terhampar di haluan.
“Orang tua berpakaian hitam, kau melambaikan tangan memanggilku. Agaknya kau tersesat. Pulau ini jarang di datangi orang. Kami para nelayan tak pernah singgah di sini. Adalah aneh kalau saat ini aku melihat kau berada di sini. Apa yang kau kerjakan di pulau ini?”
Mendengar logat bicara dan nada suara orang di dalam perahu Tua Gila segera maklum bahwa dia berada di salah satu pantai pulau Jawa.
“Nelayan tua, pertanyaanmu banyak amat! Aku mau menumpang ke satu tempat Tapi lebih dulu aku ingin tahu aku berada di mana saat ini?!”
“Betul-betul aneh! Kau berada di situ dan kau tidak tahu berada di mana!”
Tua Gila tertawa mengekeh. “Maklum saja. Orang tua seperti kita sudah pada pikun. Jadi kau juga tidak tahu kita berada di mana saat ini?”
“Pulau ini tidak bernama! Terletak di pantai selatan pulau Jawa….”
“Ah….” Tua Gila menarik napas lega.
“Kau sendiri perlu apa sebenarnya?!” Nelayan tua di atas perahu bertanya.
“Aku ingin menumpang ke daratan sana. Aku dalam perjalanan menuju Gunung Gede….”
“Gunung Gede jauh di sebelah barat! Paling tidak kau membutuhkan waktu belasan hari untuk sampai ke sana….”
“Boleh aku menumpang?”
“Naiklah. Aku akan membawamu ke daratan. Tapi tidak ke Gunung Gede!”
Tua Gila tertawa bergelak lalu melompat naik ke atas perahu. “Hemmmm Rejekimu cukup besar hari ini. Banyak ikan hasil tangkapanmu kulihat dalam perahu.”
“Lumayan….”
“Seusia tua begini kau masih melaut. Mengapa tidak menyuruh anakmu saja?”
“Aku tidak punya anak…. Tidak punya istri! Aku hidup sendiri selama dunia terkembang.” Kata si nelayan pula.
“Hemmm…. Mengapa kau memilih hidup bujangan terus?”
“Perempuan hanya akan menimbulkan derita sengsara bagi laki-laki!”
“Ah, kau tentu punya riwayat hidup yang hebat dimasa mudamu,” kata Tua Gila.
“Betul, tapi aku tidak akan menceritakannya padamu.”
Tua Gila tertawa lebar, ingat dirinya sendiri dia lalu berkata. “Aku juga punya sejuta pengalaman bagus dimasa muda dengan perempuan-perempuan cantik. Tapi semua kini tinggal kenangan. Ma lah menimbulkan bencana di hari tua….”
“Bencana bagaimana?” tanya nelayan tua pula. Sepertimu aku pun kini hidup sendirian.”
“Jadi kau tak pernah kawin?”
“Pernah dan sempat punya anak. Namun kini ibu anakku mencari diriku….”
“ingin agar kau rujuk kembali atau bagaimana?” tanya si nelayan.
“ingin membunuhku!” jawab Tua Gila dengan muka masam.
“Nan, apa kataku! Perempuan hanya menimbulkan bencana bagi kaum laki-laki. Untung aku tidak kawin!”
Setelah diam sesaat nelayan itu bertanya. “Ada keperluan apa kau ke Gunung Gede?”
“Menyambangi seorang sahabat.,,.”
“Lelaki atau perempuan? Ah, aku kira aku tak perlu bertanya. Pasti yang akan kau temui itu seorang perempuan….”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Tua Gila.
“Aku cuma menduga. Tapi dugaanku tidak meleset bukan?”
Tua Gila tertawa lebar. Lalu dengan polos dia bercerita. “Yang akan kukunjungi itu memang perempuan. Salah seorang kekasihku dimasa muda….”
“Ah, kau pasti hendak bersenang-senang dengan dirinya? Tap] menurutku mengapa kau tidak mencari yang lebih muda untuk bersuka-suka?”
“Nelayan tua gila!” maki Tua Gila. “Aku ke sana untuk urusan penting. Perempuan tua itu punya seorang murid yang berada dalam keadaan bahaya besar. Lumpuh segala kesaktian yang dimilikinya….”
“Ah, kasihan sekali murid sahabatmu itu. Apakah kau tidak tahu di mana dia berada dan berusaha menolongnya?”
“inilah sulitnya. Aku hanya mendapat keterangan bahwa pemuda itu berada di satu tempat di barat. Tapi dunia seluas ini bagaimana mungkin mencarinya. Itu sebabnya aku merasa lebih baik menemui gurunya dulu sambil menyirap kabar mengenai pemuda muridnya itu….”
“Nah, apa kataku. Kalau kau tidak pernah kenal dengan perempuan tua itu. Kalau kau tidak pernah jadi kekasihnya, jelas saat ini kau tidak usah susah-susah melakukan perjalanan jauh menemuinya. Jadi benar kataku! Perempuan hanya mendatangkan bencana pada laki-laki. Ha… ha… ha!”
Tua Gila ikut tertawa mengekeh. Tapi kemudian berucap. “Tidak semua perempuan menimbulkan bencana. Terkadang tergantung pada kita orang laki-laki. Kalau mereka merasa dikecewakan atau direndahkan, mereka bisa berubah jadi seekor harimau ganas!”
“Sobatku tua, agaknya kau tengah mengalami masalah besar. Gara-gara ulahmu di usia muda. Untung aku tidak kawin. Amit-amit…!”
“Nasib manusia ada guratannya masing-masing,” kata Tua Gila pula.
“Aku tidak percaya hal itu. Manusia bukan diatur oleh nasib. Kelakuan manusialah yang menentukan nasibnya!” jawab si nelayan tua.
Tua Gila menjadi kesal karena tersinggung mendengar ucapan itu. Kalau saja dia tidak menumpang di perahu orang, nelayan tua itu sudah dihajarnya. Saking kesalnya dia berkata. “Perutku lapar! Aku minta ikanmu!” Lalu diambilnya seekor ikan dan dilahapnya mentah-mentah!
Menjelang petang perahu memasuki sebuah teluk sempit. Begitu sampai di pantai Tua Gila mengucapkan terima kasih dan melompat ke daratan.
“Sobatku tua, apakah kita bisa bertemu lagi?” tanya si nelayan.
“Aku tidak tahu. Kalaupun bisa aku akan menghindari pertemuan denganmu!”
“Eh, memangnya kenapa?”
“Aku tidak suka dengan cara bicaramu. Kau seperti seorang juru dakwah saja! Membenci perempuan padahal kau keluar dari perut perempuan!” Habis berkata begitu Tua Gila lantas berkelebat pergi.
Nelayan tua di atas perahu tertawa panjang. Dalam hati dia berkata. Tua Gila, kalau saja Kalung Permata Kejora itu ada d: tanganmu sudah sejak di tengah laut kuhabisi nyawamu! Aku masih bisa bersabar. Aku sudah tahu ke mana kau pergi! Hemmm… mungkin aku akan membunuh bekas kekasihmu yang di Gunung Gede itu. Hik… hik! Sinto Gendeng kau ikut mengerecoki hidup masa mudaku! Tidak salah kalau kalian kubunuh berdua sekaligus!.” Perlahan-lahan nelayan itu buka caping lebar-nya. Lalu dia menarik sehelai topeng tipis yang menutupi wajah dan rambutnya. Sesaat kemudian kelihatanlah wajahnya yang asli. Ternyata dia bukan lain adalah si nenek bernama Sika Sure Jelantik! Dengan cepat perempuan tua ini melompat turun dari atas perahu lalu berkelebat ke arah perginya Tua Gila.

*
* *

212
DELAPAN

Dari balik dedaunan keladi hutan yang lebar, sepasang mata memperhatikan gadis berpakaian biru yang duduk termenung, bersandar ke batang pohon di belakangnya. Walaupun saat itu udara mending dan keadaan sekitar tempat itu agak gelap namun orang yang memperhatikan dapat melihat butiran-butiran air mata jatuh menetes membasahi pipi si gadis yang halus.
“Gadis aneh berwajah cantik,” kata orang yang mengintai dalam hati. “Melihat kepada wajah serta kulitnya yang putih mulus sulit diduga apakah dia seorang dari dunia persilatan. Tapi kalau bukan orang persilatan mengapa berada, di tempat sunyi begini. Jangan-jangan dibalik kecantikan wajah dan kebagusan tubuh itu tersembunyi sesuatu yang hebat. Hemmm…. Dia menangis. Pertanda ada satu tekanan batin tengah melanda dirinya. Diusia se-muda dia aku berani bertaruh yang jadi bahan pikirannya saat ini pastilah sesuatu menyangkut cinta! Laki-laki! Lagi-lagi laki-laki yang menjadi biang malapetaka! Aku tertarik ingin mengetahui nasib apa tengah dihadapinya. Hanya sayang aku ada urusan lain yang lebih penting…”
Orang di balik pohon keladi hutan hendak bergerak pergi namun langkahnya tertahan ketika tiba-tiba gadis di bawah pohon, tanpa mengalihkan pandangannya terdengar berucap.
“Orang yang mengintai mengapa tidak datang saja menemuiku? Mungkin kita bisa bertukar pikiran berbagi pengalaman.”
“Hemmm…. Kalau dia bukan seorang gadis memiliki kepandaian tinggi, mustahil bisa mengetahui aku di sini. Agaknya sudah sejak tadi dia tahu. Mungkin ada baiknya aku membuang waktu barang sebentar berbincang-bincang dengan dirinya.” Orang itu segera keluar dari balik pohon keladi besar, melangkah ke hadapan gadis berpakaian biru.
Gadis di bawah pohon menatap orang berjubah hitam berambut putih digulung di atas kepala yang tegak di depannya beberapa lama tanpa berkata apa-apa.
“Anak gadis berwajah cantik, siapakah namamu?” Si jubah hitam mendahului bertanya.
“Logat bicaranya menandakan dia orang seberang,” kata gadis baju biru dalam hati yang bukan lain adalah Bidadari Angin Timur.
“Nenek berwajah bulat, di waktu muda tentu kau seorang dara cantik jelita….”
Nenek berjubah hitam mau tak mau jadi melengak mendengar ucapan si gadis. Sambil mengusap-usap pipinya yang keriput dia berkata. “Kecantikan itu hanya tinggal kenangan yang memilukan. Lagi pula dibanding dengan raut wajahmu, kecantikanku dimasa muda tidak ada arti apa-apa….”
Bidadari Angin Timur tersenyum. “Gerangan apa yang membawamu jauh-jauh dari seberang datang ke sini?”
Kembali si nenek terkesiap mendengar ucapan orang. “Gadis ini jelas seorang berotak cerdas, cerdik dan memiliki kepandaian tinggi!” katanya dalam hati. “Anakku, bagaimana kau tahu bahwa aku datang dari seberang?”
“Logat bicaramu, Nek,” jawab Bidadari Angin Timur.
“Ah….” si nenek menarik nafas dalam. “Dugaanmu tidak meleset. Aku memang datang dari pulau Andalas….”
“Jauh berjalan pasti ada urusan besar!”
Perempuan tua itu tertawa lebar. “Kau pandai menduga. Tapi biarlah dugaanmu itu tinggal dugaan. Aku tidak akan menceritakan apa-apa padamu….”
“Kalau begitu aku pun tidak akan menceritakan apa-apa padamu!” sahut Bidadari Angin Timur pula.
Si nenek menatap sejurus lalu tertawa mengekeh.
“Seumur hidup baru kali ini aku bertemu dengan gadis cantik yang enak diajak bicara. Aku suka padamu! Kau bukan saja cantik tapi juga cerdik. Kecerdikan menyelamatkan seseorang dari banyak hal. Namun sayang sekali, saat ini aku tidak melihat kau berlaku cerdik. Karena seorang cerdik tidak akan mengeluarkan air mata. Seorang cerdik tidak akan berada di tempat terpencil begini, jauh di kaki gunung…”
“Kau pandai memuji. Aku berterima kasih. Tapi kau juga pandai menjatuhkan. Aku juga berterima kasih. Soal aku menangis itu adalah urusanku sendiri. Air mata adalah senjata perempuan paling akhir…”
Si nenek tertawa panjang. “Dulu aku juga pernah punya pikiran sepertimu. Ternyata itu salah! Air mata justru adalah awal kelemahan kaum kita. Yang dapat dan sering disalahgunakan oleh lawan jenis kita!
Jawablah terus terang. Bukankah masalah cinta yang membuatmu barusan berurai air mata?”
Paras Bidadari Angin Timur berubah merah.
Si nenek tersenyum. “Rona wajahmu berubah. Berarti apa yang aku katakan betul!” Setelah tertawa panjang si nenek lalu berkata. “Namaku Sika Sure -jelantik. Selama hidup aku telah banyak makan asam garam, madu dan racun dunia. Yang paling dahsyat adalah racun cinta. Bisa membutakan mata menulikan telinga dan membuat beku pikiran, merubah hati seolah menjadi batu! Pada puncaknya, cinta itu bisa berubah menjadi dendam kesumat kebencian yang hanya bisa terobat oleh kematian….”
Bidadari Angin Timur pandang wajah tua bulat itu beberapa lamanya sambil hatinya berkata. “Jangan-jangan perempuan tua ini tengah menuturkan riwayat sedih dirinya sendiri. Lebih baik coba kupancing.”
“Nenek Sika, aku masih hijau. Sebaliknya kau sudah memiliki segudang pengalaman hidup. Dugaanmu betul. Aku memang ada ganjalan cinta dengan seseorang. Maukah kau menceritakan sedikit saja dari riwayat c in tamu agar bisa kujadikan pegangan di hari kemudian?”
Sika Sure Jelantik terdiam sesaat. Akhirnya dia berkata. “Jauh-jauh aku datang dari pulau Andalas adalah untuk mengejar seorang tua renta yang ingin kubunuh dengan kedua tanganku sendiri!” Lalu si nenek tuturkan secara singkat riwayat percintaannya.
“Kisahmu sungguh menyedihkan, Nek. Dalam penuturanmu kau sama sekali tidak menyebutkan siapa pemuda yang pernah jadi kekasihmu lalu meninggalkan dirimu begitu saja.”
“Soal namanya tidak akan kuberitahu padamu,” jawab Sika Sure Jelantik. “Sekarang apakah kau mau menuturkan riwayatmu sendiri?”
Bidadari Angin Timur merenung beberapa lamanya.
“Jika kau tak mau memberitahu tak jadi apa,” ujar si nenek. “Tapi ingat ucapanmu pertama kali menegurku? Kau ingin bertukar pikiran berbagi pengalaman.”
Si gadis tersenyum. Sepasang lesung pipit muncul indah mempesona di pipinya kiri kanan. “Sulit bagiku dari mana memulai. Sejak pertama aku bertemu dengan dia, tidak ada perasaan apa-apa. Ma lah aku marah besar karena dia telah melakukan seseorang secara sewenang-wenang. Namun lambat laun setelah beberapa kali bertemu hatiku terasa begitu sejuk jika berada di dekatnya. Aku pernah ikut bersamanya menemui gurunya. Saat itu walau dia tidak mengatakan apa-apa namun aku maklum bahwa dia memperkenalkan diriku pada gurunya untuk satu maksud tertentu. Dia pernah mengatakan cintanya padaku. Sebaliknya aku tidak pernah menyampaikan isi hatiku. Baik secara terus terang maupun secara tersirat. Mungkin itu yang membuatnya bingung kalau tidak dapat dikatakan kecewa. Kadang-kadang aku merasa aneh terhadap diriku sendiri. Aku mencintainya namun me-ngapa terlalu pongah untuk berterus terang mengatakannya….”
Sika Sure Jelantik yang sejak tadi tegak berdiri kini duduk di bawah pohon berdampingan dengan Bidadari Angin Timur. “Apakah ada saru ganjalan yang membuatmu tidak mau berterus terang menyampaikan cinta kasihmu padanya?”
Perlahan-lahan si gadis mengangguk.
“Apa?” tanya si nenek pula.
“Aku mengetahui…. Ada banyak gadis mencintainya….”
Mendengar ucapan Bidadari Angin Timur, si nenek palingkan kepalanya, menatap si gadis beberapa lamanya. Lalu dia menarik nafas panjang dan berkata. “Itu yang terjadi dengan diriku dimasa muda. Kekasihku berlaku gila. Dia melayani semua gadis-gadis yang menyukainya. Menidurinya bahkan lebih gila dari itu dia sempat punya anak! Bagaimana dengan pemuda yang kau cintai itu? Apa dia juga seperti itu?!”
“Mungkin…. Aku tidak tahu pasti. Tapi ada satu kejadian yang membuat hatiku perih. Dia kuketahui pernah pergi ke tempat salah seorang gadis yang mencintainya. Tinggal di sana…. Aku seperti mau gila membayangkan kemungkinan apa saja yang bisa mereka lakukan berdua-dua….”
“Apa gadis itu mencintainya?”
“Aku yakin gadis itu mencintainya. Kasarnya dia yang mengejar pemuda itu!”
“Lalu apakah si pemuda sendiri mencintai gadis itu?”
Bidadari Angin Timur tak menyahut.
“Hemmm…. Kau tak bisa segera menjawab. Berarti kau tidak pasti pemuda yang kau kasihi itu menyukai si gadis. Kalau dia mau berdua-duaan berarti dia hanya mengumbar nafsu. Sifatnya sama dengan kekasihku dimasa muda. Manusia seperti itu sangat berbahaya anakku. Dia bisa menjadi racun selama kau hidup di dunia….”
“Aku tidak tahu Nek….” kata Bidadari Angin Timur perlahan.
“Hidup tanpa kepastian sama dengan kau mulai menanam pohon racun dalam tubuhmu. Selagi pohon itu tumbuh dari luar datang siraman racun lain yang menyuburkannya. Aku menaruh firasat kau akan mengalami nasib malang jika kau meneruskan hubunganmu dengan dia.” Seperti terhadap anak atau cucunya sendiri Sika Sure Jelantik lalu membelai kepala Bidadari Angin Timur. “Sekarang katakan padaku mengapa kau sampai tersesat ke sini? Apakah sang kekasih jalang itu berada di sekitar sini?”
Bidadari Angin Timur tak menjawab. Namun si nenek sudah maklum kalau kehadiran Bidadari Angin Timur pasti ada sangkut pautnya dengan pemuda yang diam-diam dicintainya.
“Anakku…. Bolehkah aku memberi satu nasihat padamu?” ^
Bidadari Angin Timur menatap wajah si nenek lalu mengangguk.
“Jika kau benar-benar mencintainya kau harus menemuinya dan mengatakan terus terang. Jika kau yakin dia pun mencintaimu, kuasai dirinya sebelum dia dikuasai orang lain. Bagi seorang perempuan lebih baik kawin dengan lelaki yang mencintainya daripada lelaki yang dicintainya. Jika ada keraguan dalam hatimu tinggalkan dirinya selama-lamanya….”
“Nek, aku yakin dia mencintai diriku. Walau dia belum tahu aku mencintainya namun ada satu kejadian yang menimbulkan keraguan di hatiku….”
“Hemmm…. Rupanya ada hal yang belum kau ceritakan padaku!” kata si nenek. “Aku ingin mendengarkannya.” Sika Sure jelantik rangkapkan sepasang tangan di depan dada.
“Beberapa saat yang lalu aku melihat ada dua orang utusan sang kekasih datang menjemput pemuda itu. Apa lagi kalau bukan diminta datang ke tempat kediamannya…?”
“Ah! Pemuda itu mungkin benar berhati culas. Tapi kau perlu menyelidik….”
“Aku…. Kalau ku selidiki rasanya aku seperti mau membunuh diri sendiri….”
“itulah cinta anakku! Cinta laksana pisau teramat tajam menyayat ke leher. Perih tetapi nikmat. Hik… hik… hik….”
Bidadari Angin Timur pergunakan ujung baju birunya untuk mengusap matanya yang basah.
“Sebenarnya aku ingin bicara lebih banyak dan mengenalmu lebih lama. Namun ada urusan penting yang tidak bisa aku tunda. Siapa tahu kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Sebelum pergi apakah kau bisa menjawab dua pertanyaanku? Pertama di mana arah menuju Kutogede?”
Bidadari Angin Timur menunjuk ke arah tenggara lalu bertanya. “Kalau kau memang hendak menuju ke sana, kita bisa sama-sama. Aku pun ingin pergi ke Kutogede.”
“Hemmm…. Itu satu usul yang baik. Tapi kali ini aku tengah menghadapi satu urusan besar. Aku lebih suka pergi sendirian..-..”
“Aku sudah menganggapmu sebagai ibu atau nenek sendiri. Tapi kau menyembunyikan sesuatu padaku….”
Sika Sure Jelantik tertawa lebar. “Satu pertanyaan anakku. Aku menyirap kabar bahwa Pangeran Matahari tewas belum lama berselang. Apakah hal itu benar? Jika benar siapa gerangan yang telah membunuhnya?”
Hampir terlepas dari mulut Bidadari Angin Timur kalau dia ikut menyaksikan sendiri kematian Pangeran Matahari di Pangandaran dulu.
“Pangeran durjana itu memang benar telah menemui ajal, Nek. Dunia persilatan boleh dikatakan kini bebas dari malapetaka besar yang hendak ditimbulkannya. Mengenai pembunuhnya, sesuai yang aku dengar adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng….” Habis berucap begitu dalam hatinya si gadis berkata. “Nek, kau tidak tahu pemuda inilah yang aku cintai dan tadi aku ceritakan padamu….”
“Kalau begitu benar apa yang aku dengar. Pendekar 212 Wiro Sableng…. Hemmmm…. Dia memutus hubungan dendamku dengan Pangeran Matahari….”
“Nek, apa maksudmu dengan ucapan itu? Kau punya silang sengketa dengan Pendekar 212?” tanya Bidadari Angin Timur agak cemas.
Si nenek menatap lurus. Diam-diam dia merasakan nada pertanyaan yang mengandung rasa cemas. Sika Sure Jelantik gelengkan kepala. “Aku pernah mendengar nama besarnya namun tak pernah bertemu dengan orangnya. Aku punya dendam kesumat besar dengan Pangeran Matahari. Tapi sebelum dendam terbalas aku sudah keduluan oleh Pendekar 212.”
“Bukankah itu lebih baik bagimu hingga kau tidak perlu susah payah turun tangan sendiri?” ujar Bidadari Angin Timur pula.
Si nenek tertawa kecut. “Aku sudah bersumpah ingin mematahkan batang leher Pangeran Matahari dengan tanganku sendiri. Dia telah membunuh kakakku Ramada Suro Jelantik. Tapi takdir menentukan lain….”
“Apakah kau menaruh rasa sakit hati terhadap Pendekar 212?” tanya Bidadari Angin Timur.
“Untuk urusan balas dendam itu aku hanya merasa kecewa setinggi langit sedalam lautan. Namun ada satu urusan lain yang mungkin…. Ah sudahlah! Aku harus cepat-cepat pergi! Kuharap kita bisa bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik!”
Terima kasih, Nek. Aku doakan segala urusanmu bisa kau hadapi dan selesaikan dengan baik.”
Sika Sure Jelantik membelai kepala Bidadari Angin Timur. Meskipun ada sentuhan rasa kasih sayang namun si gadis merasa merinding juga mengingat jari-jari tangan si nenek yang berkuku panjang dan hitam angker. Sekali berkelebat Sika Sure Jelantik pun lenyap dari samping si gadis. Berada sendirian Bidadari Angin Timur mengingat-ingat kembali semua pembicaraannya dengan si nenek tadi. “Aneh, mengapa hatiku mendadak merasa tidak enak? Urusan apa sebenarnya yang tengah dihadapi oleh nenek dari tanah seberang tadi?”

*
* *

212
SEMBILAN

Dua gadis cantik anak buah Ratu Duyung hentikan lari masing-masing. Mereka sama memandang ke langit.
“Mendung…” kata gadis di sebelah kanan yaitu Kiani. “Sebentar lagi agaknya akan turun hujan. Orang yang kita cari masih belum bertemu. Bagaimana kalau kita pergunakan lagi ilmu menyirap detak jantung?”
“Jangan cari celaka Kiani! Kau saksikan sendiri apa yang terjadi dengan Nandiri. Sebelum hujan turun lebih baik kita mencari tempat berlindung. Kalau sampai tubuh kita tersiram air hujan kau tahu sendiri apa yang bakal terjadi!”
Karena meninggalkan tempat kediaman mereka di pantai selatan sebelum Ratu Duyung siuman, dua gadis ini tidak mengetahui apa yang terjadi. Yaitu sebenarnya mereka telah terbebas dari kutukan yang menyebabkan setengah tubuh mereka sebelah bawah berubah menjadi ekor ikan kalau tersentuh air. Selagi keduanya mencari-cari tempat yang baik untuk berteduh mendadak mereka mendengar suara sesuatu di kejauhan.
“Kau mendengar suara itu Kiani?”
Kiani mengangguk, “tak dapat kupastikan suara apa. Terlalu jauh di sebelah sana. Mungkin suara seruling….”
Manumi memandang ke arah kejauhan. “Suara seruling itu datangnya dari bukit di sebelah sana. Bagaimana kalau kita pergi ke sana. Mencari tahu siapa yang meniupnya. Lagu yang dilantunkannya tidak pernah kudengar sebelumnya. Tapi begitu menyayat hati. Berhiba-hiba. Agaknya perasaan si peniup ikut larut dalam tiupan serulingnya.”
Mula-mula Kiani hendak menolak ajakan temannya itu. Namun memandang ke arah bukit tiba-tiba saja dia ingat sesuatu. “Manumi, bukankah bukit itu terletak di arah barat?”
Manumi memandang ke arah bukit. “Kau benar. Aku tahu apa maksudmu! Ayo lekas kita naik ke sana dan menyelidik!”
Dua gadis cantik itu serta merta berlari kencang menuju bukit dari arah mana terdengar suara tiupan seruling. Di satu lereng mereka berhenti. Kiani menunjuk ke arah lamping bukit yang terjal di atas mana terlihat mulut sebuah goa.
“Suara seruling itu datang dari arah sana. Yang meniup, pasti ada dalam goa!” bisik Kiani.
“Aku akan naik ke atas. Di sebelah sana sepertinya ada jalan setapak. Kau tunggu di sini…” kata Manumi.
“Tidak, aku ikut bersamamu!” sahut Kiani lalu segera menempel di belakang si teman. Dua gadis ini dengan hati-hati tetapi cepat sekali bergerak mengikuti jalan kecil mendaki menuju goa. Pada saat inilah datang Bidadari Angin Timur yang sejak lama bersembunyi di satu tempat dan tengah berada dalam kebimbangan apakah akan menemui Wiro atau tidak. Dia begitu terkejut ketika melihat dua gadis cantik tiba-tiba muncul dan melangkah cepat menuju goa. Dari pakaian yang mereka kenakan Bidadari Angin Timur segera mengenali dua gadis itu adalah anak-anak buah Ratu Duyung.
“Sebelumnya aku ketahui Pendekar 212 mengunjungi Ratu Duyung di tempat kediamannya. Kini dua anak buah Ratu Duyung muncul. Tak dapat tidak pasti untuk menjemput Wiro. Ah…!” Memikir sampai di situ merahlah paras Bidadari Angin Timur. Pemandangannya seolah kelam dan pikirannya jadi kacau balau. Dia langsung menjatuhkan anggapan salah. “Hatiku tak bisa menerima seorang kekasih berperilaku seculas itu. Mengatakan cinta padaku. Tapi bermain cinta dengan gadis lain. Jangan-jangan dua gadis yang barusan datang ini adalah juga kekasih-kekasih gelapnya! Daripada tersiksa mata, telinga dan perasaan lebih baik aku pergi saja dari sini! Wiro lupakan cintamu padaku!” Habis membatin seperti itu Bidadari Angin Timur lalu putar tubuh dan berkelebat pergi. Matanya berkaca-kaca. Butiran-butiran air mata jatuh ke pipinya.
Kiani dan Manumi sampai di tepi kiri mulut goa.
“Orang itu tidak menghentikan tiupannya, berarti dia belum tahu kedatangan kita…” kata Kiani. “Aku akan melompat masuk ke dalam goa. Kau berjaga-jaga di luar sini!”
Sebelum temannya sempat membantah Kiani segera melompat masuk ke dalam goa. Sesaat kemudian terdengar teriakan gadis itu. “Manumi lekas masuk! Kita telah menemukan pembunuh Ratu!”
Mendengar teriakan temannya itu Manumi segera menghambur masuk ke dalam goa sambil tangannya diangkat ke atas dan ujung jari diluruskan. Dari jari gadis ini mencuat sinar biru yang merupakan satu ilmu kesaktian hebat dan rata-rata dimiliki oleh semua anak buah Ratu Duyung. Kiani yang masuk duluan juga telah menyiapkan ilmu kesaktian itu malah sekaligus di telunjuk tangan kanan dan kiri!
Di dalam goa di hadapan kedua gadis itu duduk bersila Pendekar 212 Wiro Sableng. Dua tangan memegang Kapak Maut Naga Geni 212. Enam jari tangannya berg era k-g era k di permukaan lubang-lubang di gagang kapak yang terbuat dari gading putih kekuningan. Bibirnya menempel ke ujung gagang senjata yang berbentuk kepala ular naga itu. -Sepasang matanya terpejam dan rambutnya yang gondrong melambai-lambai oleh tiupan angin ken-cang yang datang dari mulut goa.
Meskipun tadi teriakan Kiani keras sekali namun seolah tidak mendengar dan tidak terusik murid Eyang Sinto Gendeng itu terus saja meniup seruling mustikanya. Malah dari pinggiran matanya tampak ada kucuran air mata.
“Bangsat cengeng! Jangan berpura tidak tahu kedatangan kami!” bentak Kiani.
“Manumi! Kita bunuh manusia jahat tak berbudi ini sekarang juga! Kau rampas dulu senjatanya!”
Mendengar ucapan temannya itu Manumi segera betot Kapak Maut Naga Geni 212 dari tangan Wiro. Sekali membetot senjata mustika itu lepas dari pegangan si pemuda. Suara merdu tiupan seruling serta merta lenyap. Sepasang mata Pendekar 212 bergerak membuka. Tadi sebenarnya dia telah tahu kalau ada orang yang masuk ke dalam goa. Namun saat itu dia lebih suka tenggelam dalam sejuta rasa dukanya. Hingga kalaupun ada seekor ular besar menelan kepala dan tubuhnya bulat-bulat dia akan diam seribu bahasa, akan terus meniup serulingnya, tidak perduli! Tetapi ketika senjata warisan Eyang Sinto Gendeng itu tertarik lepas dari tangannya dan dia tidak mampu mempertahankan maka dia segera membuka kedua matanya.
“Kalian berdua bukankah anak buah Ratu Duyung? Mengapa masuk sambil berteriak-teriak? Mengapa merampas senjataku? Mengapa hendak membunuhku?”
Dua gadis keluarkan suara mendengus.
“Kau, telah membunuh Ratu kami!” teriak Kiani.
“Aku? Aku membunuh Ratu kalian? Kenapa?”
“Kurang ajar! Jangan berpura-pura! Kami melihat kau masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk! Kau kemudian keluar dari puri sementara Ratu Duyung kami dapatkan berada dalam keadaan luka parah! Mungkin sekarang telah menemui ajal! Puri runtuh. Kau melenyapkan diri! Kabur!”
Pendekar 212 Wiro Sableng garuk kepalanya dan memandang berganti-ganti pada dua gadis cantik di hadapannya.
“Aku tidak mengerti!” kata Wiro pula.
“Biar kau mengerti biar kepalamu belah saat ini juga dengan senjatamu sendiri!” hardik Kiani sambil angkat Kapak Maut Naga Geni 212 tinggi-tinggi, siap untuk dibacokkan ke kepala Wiro. Sementara itu Manumi juga angkat tangan kanannya ke atas. Sinar biru ujung jari telunjuk Manumi mencuat terang menyilaukan dan menggidikkan.
“Tunggu! Kalau kalian mau membunuhku aku tidak perduli!” teriak Wiro. “Aku memang sudah sejak lama ingin mati! Tapi jelaskan dulu apa yang terjadi!
Aku tidak mencelakai apalagi membunuh Ratu kalian. Kami sama-sama datang dari Pangandaran karena Ratu dan aku punya satu urusan.”
“Kami tahu semua kehadiranmu bersama Ratu yang kedua kali. Yang kami tidak tahu mengapa kau berbudi jahat dan membunuh Ratu kami!”
“Dengar, aku tidak membunuh Ratu kalian. Aku malah berniat baik untuk menolongnya….”
“Lalu kalau kau merasa tidak bersalah, mengapa melarikan diri sampai ke sini?!” bentak Kiani.
“Aku tidak melarikan diri! Ada seseorang yang membawaku ke sini….”
Kiani dan Manumi kembali mendengus. Manumi memberi isyarat pada kawannya. Melihat isyarat ini Kiani segera bersiap untuk membacokkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke batok kepala Wiro.
“Tunggu! Aku bersumpah tidak mencelakai Ratu kalian! Aku….”
“Jangan dengarkan dia Kiani. Hantam kepalanya dengan kapak itu! Aku akan menusuk jantungnya biar ambrol!”
“Kalau kalian sampai membunuhku, Ratu kalian dan juga kalian sendiri tidak akan terbebas dari kutukan! Silahkan bunuh aku! Ayo cepat!” Wiro sama sekali tidak mengetahui bahwa kehadirannya di Puri Pelebur Kutuk telah menyelamatkan dan membebaskan Ratu Duyung serta seluruh anak buahnya dari kutukan. Hal ini juga belum diketahui oleh Kiani dan Manumi.
Kiani sesaat jadi bimbang mendengar kata-kata Wiro tadi. Tapi Manumi cepat mendamprat.
“Kiani! Jangan dengarkan ucapan pemuda keji ini! Lekas kau belah kepalanya dengan kapak! Aku akan menghancurkan jantungnya!”
“Kalau kalian memang hendak membunuhku, aku pasrah!” kata Pendekar 212 yang memang sudah putus asa sejak dia mengetahui telah kehilangan segala kesaktian dan ilmu yang dimilikinya.
Tangan kanan Kiani bergerak. Kapak Naga Gent 212 menderu. Karena Kiani memiliki tenaga dalam walaupun tidak tinggi, begitu senjata mustika itu dibacokkannya maka sinar putih menyilaukan dan panas berkiblat. Suara menderu laksana ratusan tawon mengamuk membuncah goa batu itu. Mata kapak mustika siap membelah batok kepala murid Sinto Gendeng. Di saat yang sama Manumi tusukkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah dada Pendekar 212. Selarik sinar biru menggidikkan melesat siap menjebol dada dan jantung Wiro!
Di saat Wiro tidak berdaya, bahkan beringsut pun tidak mampu dan benar-benar siap menerima kematian tiba-tiba satu bentakan nyaring menggelegar di dalam goa disertai menyambarnya satu sinar hitam menggidikkan. Bersamaan dengan itu seantero goa batu dilanda busuknya bau mayat.
“Nyawa pemuda itu tidak akan kubagi sekalipun dengan malaikat maut!”
Kiani dan Manumi terpekik. Secepat kilat keduanya jatuhkan diri ke lantai goa. Terbanting tumpang tindih dengan sosok Pendekar 212. Tiga orang yang bergelimpangan di lantai goa itu merasakan nafas mereka mendadak menjadi sesak. Leher laksana dicekik oleh tangan besar kokoh yang tak terlihat.
“Kalian bilang hendak membunuhku! Mengapa sekarang sengaja tempelkan tubuh menindihku!” terdengar teriakan Pendekar 212. Mukanya tertindih oleh bagian bawah tubuh Kiani sedang sosok Manumi membelintang tepat di atas badannya sebelah bawah!
“Pemuda edan! Dalam keadaan begini masih coba bergurau!” damprat Kiani. Lalu. “Bukk!” Lutut kanannya dihunjamkan ke perut Wiro. Namun dia terbatuk-batuk dan tersandar ke dinding goa. Hawa aneh busuk yang memenuhi tempat itu membuat nafasnya seolah putus. Megap-megap dia cepat menarik tangan Manumi lalu beringsut menuju mulut goa sambil menarik tubuh kawannya.

*
* *

212
SEPULUH

Sementara tiga orang itu berkaparan di lantai, di depan mulut goa tegak seorang lelaki tua bertubuh tinggi besar berkulit hitam laksana jelaga. Di kepalanya melilit sebuah destar tinggi warna merah. Orang ini memiliki janggut dan kumis lebat meranggas, mengenakan pakaian hitam serba gombrong.
Gerakan Kiani dan Manumi yang merangkak di lantai terhenti di mulut goa, terhalang oleh si tinggi besar.
“Orang hutan! Siapa kau?! Mengapa menyerang kami?!” hardik Manumi sambil berusaha berdiri. Di sebelahnya Kiani juga telah berdiri duluan walau terhuyung-huyung. Tangan kanannya masih memegang Kapak Maut Naga Geni 212.
Si tinggi besar tertawa bergelak. Gigi-giginya kelihatan besar dan ada beberapa yang tampak berkilat karena dilapisi perak.
“Kalau orang lain yang memaki sudah kubunuh saat ini juga! Untung kalian gadis muda berwajah cantik! Tuan besarmu ini masih mau memberi sedikit pengampunan! Pergi sana! Tunggu aku di luar!”
Kaki si tinggi besar bergerak dua kali.
“Bukkk!”
“Bukkk!”
Tubuh Kiani dan Manumi mencelat keluar goa. Terbanting di tanah.
Hampir pingsan menahan sakit dua gadis anak buah Ratu Duyung bangkit berdiri. Kiani menyerbu dengan kapak di tangan. Manumi tetap di tempatnya berdiri tapi dari tangan kanannya menyambar sinar biru ke arah orang tua tinggi besar di depan goa.
Semula orang yang diserang menganggap remeh serbuan dua gadis cantik itu. Tapi ketika melihat cahaya putih serta deru angin dahsyat yang keluar dari kapak dia cepat melompat ke samping goa. Manumi gerakkan jari telunjuknya. Sinar biru bergeser ke samping mengikuti gerakan orang tua berkulit hitam. Orang ini berseru kaget. Dia kembali membuat lompatan ke samping. Kali ini disertai tangannya memukul ke depan. Cahaya hitam bertabur. Bau busuk menghampar. Dinding luar goa di belakang si tinggi besar hancur berantakan dihantam sinar biru yang keluar dari jari Manumi. Membuat tergetar tetapi juga beringas orang tua berkumis dan bercambang bawuk lebat itu. Sambil keluarkan suara menggertak dia hantamkan tangan kanannya ke arah Manumi. Cahaya hitam busuk untuk kesekian kalinya menggebu. Kali ini Manumi tidak mampu menyingkir. Gadis ini menjerit sambil pegangi lehernya yang laksana dicekik oleh tangan yang tidak kelihatan. Tubuhnya roboh ke tanah, menggeliat beberapa kali lalu tak berkutik lagi. Dari sela bibirnya kelihatan darah mengucur berwarna merah pekat.
“Tua bangka jahanam! Kau bunuh kawanku! Sekarang mampuslah!” Terdengar teriakan Kiani lalu gadis ini melompat sambil menghantamkan Kapak Naga Geni 212 yang tergenggam di tangan kanan. Dari ujung jari tangan kirinya sinar biru melesat ke arah kiri hingga lawan yang diserang tak mungkin bergerak ke kiri atau pun ke kanan. Untuk menghindar dengan melompat ke belakang juga tidak bisa karena terhalang oleh dinding batu sekitar mulut goal!
“Gadis iblis! Aku mengadu nyawa denganmu!” teriak orang tua tinggi besar berdestar merah. Kedua tangannya diangkat ke atas. Mulutnya mengeluarkan teriakan. “Pukulan Hawa Neraka!”
Dua buntal asap hitam melesat dari telapak tangannya kiri kanan. Bukit itu laksana tenggelam dalam bau busuk luar biasa. Dua langkah di hadapan si tinggi besar Kiani rasakan tubuhnya laksana kaku. Kapak Naga Geni 212 terlepas jatuh dari genggamannya. Tangan kirinya terkulai ke samping. Lehernya laksana dijirat. Dadanya sesak. Nafasnya sengal. Dari hidung dan mulutnya keluar darah kehitaman. Sesaat kemudian setelah terhuyung beberapa kali gadis ini jatuh terkapar di tanah.
Orang tua tinggi besar tampak komat kamit beberapa kali. Sepasang matanya yang semula membeliak kini mengecil kembali. Tapi kembali mendelik ketika dia dapatkan baju gombrong nya di bagian bahu kiri hangus. Ketika dirabanya baju itu langsung gugur menjadi debu.
“Senjata dahsyat…” kata orang tua ini sambil memandang ke arah Kapak Maut Naga Geni 212 yang tergeletak di tanah. “Mungkin dengan senjata ini dulu adik-adikku menemui ajal. Sekarang akan kubalaskan kematian mereka!” Dengan cepat orang ini mengambil Kapak Maut Naga Geni 212. Di dalam goa terdengar suara orang batuk berulangkali. Sesaat kemudian, di antara kepulan asap hitam busuk yang mulai menipis dari dalam goa tampak merangkak keluar sesosok tubuh berpakaian putih.
Orang ini bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.
Satu telapak kaki ditekankan ke kening Wiro membuat murid Sinto Gendeng ini tak mampu bergerak lebih jauh.
“Jahanam kurang ajar! Turunkan kakimu!” teriak Wiro. Dia angkat tangan kanannya memukul tulang kering orang. Yang dipukul tertawa bergelak lalu dorongkan kaki kanannya membuat Wiro tergelepak jatuh. “Setan alas! Siapa kau?!”
“Buka matamu lebar-lebar! Lihat siapa yang berdiri di hadapanmu anak muda!”
Dengan susah payah dan sambil batuk-batuk Wiro bangkit berdiri dan bersandar ke dinding goa.
“Aku tidak kenal padamu! Mengapa bermaksud jahat padaku! Mengapa kau membunuh dua gadis itu? Kembalikan kapak padaku!”
“Bicaramu terlalu banyak Pendekar 212. Coba kau ingat baik-baik! Beberapa tahun lalu kau dan gurumu si Tua Gila pernah membunuh Datuk Sipatoka di Tambun tulang. Kalian juga punya peranan dalam lenyapnya adikku Datuk Raja Di Langit! Hari ini aku Datuk Angek Garang datang menuntut balas Tapi sebelum kau kubunuh mari kita bicara sedikit!”
Orang tua tinggi besar yang mengaku Datuk Angek Garang selipkan Kapak Maut Naga Geni 212 di pinggang pakaian hitamnya yang gombrong.
“Aku ingin kau memberi keterangan apa yang terjadi dengan adikku Datuk Raja Di Langit. Dia lenyap di pulau kediaman Tua Gila! Jika kau mau memberi keterangan, kematianmu akan kupercepat hingga kau tidak perlu tersiksa menderita….”
Wiro menyeringai. Dia meludah ke tanah. Ludahnya tampak bercampur darah tanda dia telah mengalami luka dalam akibat asap busuk pukulan Hawa Neraka yang dilepaskan Datuk Angek Garang di dalam goa. Darah bercampur ludah itu kelihatan merah segar yang berarti walaupun terluka di dalam namun belum ada racun yang sempat mendekam merusak tubuhnya.
“Soal Datuk Raja Di Langit kejadiannya sudah lama. Aku tidak ingat lagi! Nanti bisa saja kau tanyakan pada setan pulau atau jin laut! Huk… huk… huk!” Wiro terbatuk-batuk lalu meludah berulangkali.
Datuk Angek Garang menyeringai. “Kau tidak mau memberi tahu tak jadi apa. Akibatnya akan kau rasakan sebentar lagi! Sekarang satu lagi pertanyaanku. Jika kau mau menjawab kuhapus semua dosamu dan kau akan kubebaskan!”
Wiro tertawa. “Seumur hidup tak ada manusia yang percaya pada segala manusia setan sepertimu! Kau ingin membunuhku aku tak takut! Kalau aku mati, di akhirat aku akan menemui dua adikmu itu. Akan kusampaikan pesan bahwa tak lama lagi kau akan bergabung dengan mereka! Ha… ha… ha…! Huk… huk… huk!”
Tangan kanan Datuk Angek Garang bergerak ke atas. Pelipisnya bergerak-gerak. Rahangnya menggembung pertanda amarahnya sudah sampai di puncak teratas.
Pendekar 212 seperti tak perduli, seolah tidak acuh akan maut yang merenggut nyawanya saat itu juga. Sambil menyeringai dia teruskan ucapannya. .
“Jangan harap aku akan menyampaikan pesan untuk bidadari di sorga! Tampangmu jelek! Badanmu bau! jangankan bidadari, kambing pun jijik padamu! Ha… ha… ha! Huk… huk… huk!”
Tangan kanan Datuk Angek Garang bergetar tanda dia tengah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Ketika tangan kanannya dipukulkan ke arah Wiro, cahaya hitam seolah keluar dari seluruh tubuhnya. Laksana kilat menyambar ke arah murid Sinto Gendeng. Gilanya menghadapi pukulan maut itu Wiro sama sekali tidak berusaha selamatkan diri! Bahkan kedua matanya tidak berkesip barang sedikit pun! Dia benar-benar siap menerima kematian!.
Diantara bau busuk pukulan sakti yang dilepaskan Datuk Angek Garang tiba-tiba menyeruak bau wangi aneh kembang kenanga. Lalu, “Bumm!”
Satu ledakan dahsyat menggelegar di lereng bukit Jatianom itu ketika sebuah sinar kuning laksana petir menyambar turun dari langit menghantam cahaya hitam pukulan Hawa Neraka yang dilepaskan Datuk Angek Garang untuk membunuh Wiro.
Tubuh Pendekar 212 tampak mencelat sampai dua tombak lalu jatuh menyangsrang di antara semak belukar. Datuk Angek Garang sendiri tegak tergontai-gontai. Matanya mendelik dan dari mulutnya mengucur darah membasahi janggutnya yang lebat meranggas.
“jahanam dari mana yang berani menghalangi urusanku!” kertak Datuk Angek Garang sambil meringis pegangi dadanya menahan sakit. Dia memandang berkeliling. Hatinya kecut ketika melihat ke belakang sebagian lereng seperti dilanda longsor.
Mulut goa tak tampak lagi, tertimbun runtuhan tanah.
Pandangan orang tua bertubuh tinggi besar ini membentur sosok tubuh Wiro Sableng yang terkapar menyangsrang dalam keadaan tak sadarkan diri di antara semak-semak.
“Kalau tidak kuhabisi sekarang, di kemudian hari bisa menimbulkan bencana!” Datuk Angek Garang lalu cabut Kapak Maut Naga Geni 212 milik Wiro yang diselipkannya di pinggang. Sekali lompat saja dia sampai di hadapan semak belukar itu. Dua mata kapak berpijar menyilaukan begitu sang Datuk kerahkan tenaga dalam.
“Wuuttt!”
Senjata mustika itu menderu dengan segala kedahsyatannya. Datuk Angek Garang sengaja mengarahkan mata kapak ke batang leher Wiro. Dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi. Leher itu akan tertebas putus. Kepala Pendekar 212 akan menggelinding jatuh ke dalam lembah di bawah sana!
Namun lagi-lagi terjadi hal aneh yang membuat Datuk Angek Garang menjadi kecut setengah mati. Selagi tangannya mengayun kapak tiba-tiba senjata itu terlepas dari genggamannya seolah ada satu kekuatan menariknya dengan keras. Bersamaan dengan itu tubuh orang tua ini terlempar akibat satu tendangan yang tak kelihatan yang mendarat telak di dadanya. Datuk Angek Garang berteriak keras lalu muntahkan darah. Tubuhnya terjengkang di tanah. Meski hantaman yang melanda dadanya begitu dahsyat namun dia masih sanggup bertahan untuk tjdak pingsan. Beberapa lama dia terjengkang di tanah dengan mata mendelik dan sepasang kaki melejang-lejang. Mukanya yang hitam tampak kaku tak berdarah.
“Makhluk jahanam! Setan atau manusia! Mengapa tidak berani unjukkan diri! Menyerang secara pengecut!” teriak Datuk Angek Garang. Lalu dia bergerak bangun, memandang berkeliling, mencari-cari. Dia sama sekali tidak melihat siapapun. Tiba-tiba orang ini melangkah tersurut. Kapak Maut Naga Geni 212 dilihatnya melayang di udara. Cahaya terang panas dan menyilaukan membersit dari senjata itu. Seolah dipegang oleh seseorang yang tidak terlihat oleh mata, senjata mustika itu bergerak ke arah sang Datuk. Bersamaan dengan itu bau wangi aneh kembang kenanga tercium semakin santar! Kali ini putuslah nyali Datuk Angek Garang. Tanpa menunggu lebih lama dia segera memutar tubuh pontang panting melarikan diri menuruni lereng bukit.
Begitu Datuk Angek Garang lenyap di kejauhan, samar-samar di bawah pohon besar menyeruak satu bayangan yang makin lama makin nyata dan menjelma menjadi sosok seorang gadis berpakaian kebaya panjang serta kain putih. Rambutnya yang panjang hitam digerai ke arah sosok Wiro yang berada diatas semak belukar dalam keadaan pingsan. Sambil memegang Kapak Naga Geni 212 di tangan kanannya, gadis melangkah mendekati Wiro. Dua kali dia mengusap wajah pemuda itu maka perlahan-lahan Wiro sadar dari pingsannya.
“Bunga…” desis Pendekar 212 begitu matanya terbuka dan yang dilihatnya pertama kali adalah Bunga alias Suci alias Dewi Bunga Mayat tegak di hadapannya. Wiro hendak bergerak tapi tubuhnya anjlok ke bawah dan dia jadi terkejut ketika menyadari dirinya tersangkut di semak belukar.
“Apa yang terjadi?” ujar Wiro begitu Bunga mengeluarkan dirinya dari dalam semak belukar.
“Nanti saja kita bicara. Aku punya firasat tidak baik. Aku akan membawamu dari tempat ini. Rasanya di sini tidak aman lagi bagimu…,”
Wiro tegak terhuyung-huyung. Dia memandang berkeliling. “Orang tinggi besar berbaju gombrong itu…” ujar Wiro.
“Dia melarikan diri,” jawab Bunga, gadis dari alam gaib itu. Lalu diserahkannya Kapak Naga Geni 212. Wiro menerima senjata mustika itu dan memegangnya keberatan akibat tidak lagi memiliki kesaktian dan tenaga dalam. Dengan cepat kapak disimpannya di balik pakaian.
“Wiro kita harus pergi dari sini. Aku akan memanggulmu agar kita bisa bergerak lebih cepat. Aku mencium bahaya mengelilingimu. Ini adalah kali terakhir aku bisa muncul dan menolongmu. Setelah ini aku membutuhkan waktu seratus tujuh puluh hari untuk dapat lagi keluar dari alamku….”
“Bunga, aku tidak tahu harus bagaimana mengucapkan terima kasih. Aku yakin pasti kau baru saja menyelamatkan nyawaku. Aku akan mengikuti ke mana saja kau bawa. Tapi tak perlu digendong seperti anak kecil. Aku bisa berjalan sendiri.”
“Begitu?” ujar Bunga. “Coba kau melangkah ke arah pohon besar sana:…”
“Kau kira aku anak kecil yang baru pandai berjalan? Lihat!” Wiro lalu melangkah besar-besar ke arah pohon yang berjarak sekitar sembilan langkah dari tempatnya berdiri.
Satu langkah, dua langkah. Pada langkah ketiga dia mulai terhuyung. Memasuki langkah keempat dia batuk dan keluarkan darah dari mulut. Setelah itu dia jatuh terduduk. Parasnya pucat.
“Walau tidak berbahaya tapi ada racun yang masuk ke dalam tubuhmu. Orang yang kabur itu telah menghantammu dengan ilmu pukulan mengandung hawa busuk. Sebaiknya kau telan ini agar peredaran darahmu lancar dan bersih….”
Dari balik pakaian putihnya Bunga keluarkan sehelai daun lalu menyerahkannya pada Wiro. “Ini daun pohon kenanga. Kunyah dan telan. Mudah-mudahan kau tertolong. Lekas kau kunyah sampai lumat….”
Wiro memegang daun yang diserahkan Bunga itu sesaat. Bibirnya digigit-gigit. Akhirnya daun itu dimasukkannya juga ke dalam mulutnya. Selagi dia mengunyah daun Bunga berkata.
“Agar peredaran darahmu bisa bekerja dengan baik dan kau tidak banyak cincong di jalan aku terpaksa menotok dirimu!”
“Eh Bunga,… Jangan!” seru Wiro. Tapi si gadis bergerak lebih cepat. “Hekkk!”
Satu totokan yang disarangkannya di pangkal leher Wiro membuat murid Sinto Gendeng itu tak bisa bergerak tak bisa bersuara. Kedua matanya ikut tertutup,
Tanpa menunggu lebih lama Bunga langsung saja memanggul Wiro di bahu kirinya lalu berkelebat ke arah lembah. Namun baru saja bergerak, bau sangat harum tiba-tiba tercium di tempat itu. Langkah Bunga tertahan. Kedua kakinya laksana dipantek ke tanah.
“Kau…!” desis Bunga dengan sekujur tubuh bergetar. Wajahnya yang pucat serta merta menjadi merah. Sepasang matanya memandang tak berkesip ke depan, ke arah seseorang yang dari caranya tegak di jalan jelas sengaja menghadang.

*
* *

212
SEBELAS

Orang yang tegak di jalan seta pa k empat langkah di hadapan Bunga yang sedang memanggul sosok Wiro adalah seorang gadis luar biasa cantiknya. Dia mengenakan pakaian ringkas baju biru muda di sebelah atas dan celana biru kehitaman di sebelah bawah. Rambutnya yang hitam disanggul di atas kepala dan di sebelah depan kepalanya terdapat sebuah mahkota kecil terbuat dari kerang berwarna biru. Dari tubuh dan pakaiannya menebar bau harum semerbak. Untuk beberapa lamanya Bunga menatap tak berkesip ke dalam sepasang mata berwarna biru gadis di hadapannya itu. Sebagai seorang yang berasal dari alam gaib di mana segala kekuatan aneh berada, pandangan Bunga menusuk ke dalam mata orang di hadapannya. Namun dia sendiri merasa getaran-getaran aneh pertanda yang dipandang juga memiliki satu kekuatan luar biasa, yang tidak dimiliki oleh orang biasa.
“Ratu Duyung…” desis Bunga dengan suara dan air muka dingin.
“Syukur kau telah mengenali hingga aku tak perlu menerangkan siapa diriku….” Orang di depan Bunga menyahuti tak kalah dinginnya bahkan ketus. Orang ini memang adalah Ratu Duyung.
“Ada keperluan apa kau tegak menghadang jalanku? Kalau maksud jahat katakan jahat! Kalau maksud baik katakan baik!”
Ratu Duyung tersenyum. “Alamku dan alammu banyak persamaannya. Namun dalam alamku kami tidak mengenal segala sesuatu yang berbentuk jahat!”
“Beg itu?” ujar Bunga lalu dongakkan kepala dan keluarkan suara tertawa perlahan. “Kalau bukan karena perbuatan jahat, pemuda yang berada di atas panggulanku ini tidak akan mengalami nasib seperti ini! Kesengsaraan yang dialaminya lebih pahit dan lebih mengerikan dari kematian!”
“Gadis alam hitam, jangan kau berani bermulut lancang menuduhku. Kejahatan apa yang telah aku lakukan terhadapnya?!”
“Dari pertanyaanmu yang penuh kepura-puraan itu, aku kini mengerti bahwa alam kita memang benar punya perbedaan. Di alammu mencelakai orang bukan satu kejahatan!” Bunga tertawa panjang. Tiba-tiba seperti direnggut setan tawanya lenyap dan air mukanya segarang harimau lapar. “Kau telah memperdayai Pendekar 212 semata-mata untuk membebaskan dirimu dan anak buahmu dari kutukan! Apakah itu bukan perbuatan jahat? Kau rampas kehormatannya yang mengakibatkan kini dirinya seolah-olah mati dalam hidup!”
Paras Ratu Duyung tampak merah seperti terpanggang sinar matahari. “Karena hidupmu di alam aneh, kau tidak tahu apa artinya meminta tolong, apa artinya berbagi rasa dalam penderitaan, apa artinya menghormati sesama manusia nyata, bukan manusia gaib sepertimu!”
“Sungguh hebat ucapanmu! Pertolongan apa yang kau maksudkan Ratu Duyung? Memeras kehormatannya dan menjadikannya budak nafsumu lalu menjadikannya budak kebodohan? Perasaan apa yang begitu kau muliakan hingga kau tega mencelakainya? Kehormatan apa yang kau berikan padanya hingga dia menjadi sengsara seperti sekarang ini?”
“Aku memang melakukan satu kealpaan. Tidak mengatakan apa akibat dari pertolongan yang diberikannya. Tapi lain daripada itu tidak ada pikiran apalagi perbuatan jahat. Dia menolongku penuh kesadaran. Atas sepengetahuan beberapa orang tokoh termasuk gurunya sendiri. Apakah kau lebih berkuasa dari para tokoh dan gurunya? Bukankah segala tuduhan dan ucapan lantangmu hanya dipengaruhi oleh rasa cemburu terhadapku? Aku mendapatkan perhatian lebih dari dia sebaliknya kau tidak! Seharusnya kau tahu diri. Paling tidak sedikit menyadari. Mania mungkin manusia alam nyata bisa membagi kasih dengan manusia alam gaib sepertimu?!”
Paras pucat Bunga alias Suci tampak menjadi merah mendengar ucapan Ratu Duyung. Dengan cepat gadis ini menyahuti kata-kata sang Ratu itu.
“Dalam alamku yang kau anggap rendah pertolongan adalah pertolongan. Tidak ada embel-embel lain atau akibat yang bisa mencelakai orang!”
“Siapa yang mencelakai dirinya? Justru aku datang mencarinya untuk memberikan keterangan dan meminta maaf….”
“Pendekar 212 tidak memerlukan dirimu, tidak memerlukan keteranganmu, juga tidak memerlukan maafmu!”
“Yang kudengar adalah ucapanmu, bukan ucapan Pendekar 212!” tukas Ratu Duyung.
Untuk beberapa lamanya kedua orang gadis jelita itu saling berperang pandang. Lalu Ratu Duyung membuka pembicaraan lagi.
“Aku melihat dua orang anak buahku menemui ajal di lereng bukit di atas sana…. Apakah kau yang telah membunuh mereka?!”
“Tuduhan keji! Bukankah kau orang sakti yang bisa menembus dunia hitam dan melihat ke dalam kejauhan?! Jangan kau sekali lagi berani lancang menuduh yang bukan-bukan! Lekas menyingkir berikan jalan!”
“Aku perlu bicara dengan Pendekar 212. Biar ada kejelasan dan menghindarkan salah sangka di antara kami. Harap kau lepaskan totokannya, turunkan dia dari panggulanmu!”
“Permintaanmu tidak bisa kupenuhi!” jawab Bungs tandas.
“Kalau begitu kuanggap kau sengaja hendak menimbulkan jurang perpecahan antara aku dengan Pendekar 212. Itu memang ciri-ciri khas manusia alam gaib dan hitam sepertimu!”
“Terserah kau mau berkata dan menuduh apa! Yang jelas kau tak bakal mendapatkan pemuda ini. Baik tubuh maupun hatinya!”
Ratu Duyung tertawa panjang. “Jelas kecemburuan menguasai dirimu! Kau lupa bahwa pemuda itu telah merelakan tubuhnya untukku? Pendekar 212 telah berbagi kasih dengan aku?!”
“Lekas menyingkir atau kau akan menyesal seumur hidupmu! Kau pernah menderita dalam alam kutukan! Jangan sampai aku membuat kau menderita dalam bentuk lain!”
“Serahkan Pendekar 212 padaku!” hardik Ratu Duyung. Sepasang matanya yang biru mengeluarkan kilatan aneh.
“Sekali aku bilang tidak, sampai kiamat pun tidak!”
“Kau mencari kiamat sendiri!” Ratu Duyung tegak renggangkan kaki. Tangan kirinya diletakkan di atas dada. Tangan kanan perlahan-lahan diangkat ke atas.
Bunga tak tinggal diam. Pandangan matanya menyorot garang.
“Kau masih keras kepala? Atau kau mencari penyesalan karena aku akan segera menjatuhkan tangan keras terhadapmu!”
Ratu Duyung mengancam.
“Silahkan coba! Aku ingin tahu sampai di mana kehebatan manusia yang pernah dimakan kutukan!” sahut Bunga menerima tantangan dan ancaman orang.
Baru saja Bunga berucap begitu dari ujung jari telunjuk tangan kanan Ratu Duyung melesat serangkum sinar biru. Sinar ini melesat demikian cepatnya hingga sebelum bisa mengelak sekujur tubuh Bunga termasuk Wiro yang ada dalam panggulannya telah terikat kuat. Makin lama ikatan itu terasa semakin mengencang.
Ratu Duyung dongakkan kepala lalu tertawa panjang.
Bunga menyeringai. Kepalanya digoyangkan. Rambutnya yang hitam panjang melesat ke udara membuat gerakan berbentuk lingkaran.
“Wuuttt!”
Angin keras laksana puting beliung keluar dari putaran rambut membuat pakaian Ratu Duyung berkibar-kibar. Rambutnya yang tergulung di atas kepala terlepas dan tergerai riap-riapan. Mahkota biru yang ada di kepalanya terpental ke atas namun secara aneh perlahan-lahan turun kembali dan menempel di tempat semula. Sepasang kaki Ratu Du-yung bergetar keras. Ada satu kekuatan laksana topan mencoba membongkar kuda-kuda sepasang kakinya yang seolah pohon besar ditancapkan ke tanah. Sepasang mata Ratu Duyung memancarkan kilatan aneh. .
Dari mulut Bunga keluar pekik keras menusuk menyakitkan telinga dan menggetarkan dada Ratu Duyung. Lalu terdengar suara “Dess… dess!” Be-berapa kali berturut-turut, ikatan tali biru aneh yang melibat sekujur tubuh Bunga dan Wiro putus be-rantakan.
Ratu Duyung terkesiap tak percaya melihat apa yang terjadi. Di depannya Bunga tertawa panjang lalu berseru.
“Ratu Duyung! Terima hadiah kecil dariku sekedar untuk kenang-kenangan!”
Baru saja ucapan gadis alam gaib itu berakhir satu sinar kuning menderu ke arah Ratu Duyung disertai menghamparnya bau santar kembang kenanga. Di udara tampak berkelebat sebuah benda kuning menyerupai bintang.
Ratu Duyung ingat betul pukulan inilah yang dulu menghantamnya sewaktu berada di Puri Pelebur Kutuk bersama Pendekar 212. Didahului teriakan keras sang Ratu melesat dua tombak ke atas dan sambil melayang di udara dia dorongkan dua tangannya ke arah Bunga. Dua gelombang cahaya biru sebesar batangan bambu menderu menyapu ke arah Bunga. Gadis dari alam gaib itu ganda tertawa. Tiba-tiba dia turunkan sosok Pendekar 212 dari bahunya. Tubuh murid Sinto Gendeng ini kemudian digendongnya di depan tubuhnya.
“Kau hendak membunuh kami berdua, silahkan!” seru Bunga seraya angsurkan tubuh Wiro ke depan, membuat Ratu buyung terkesiap dan terpaksa batalkan serangan ganasnya.
“Pengecut!” maki Ratu Duyung. “Turunkan pemuda itu! Hadapi diriku secara langsung!” Sambil berteriak Ratu Duyung cepat melompat ke samping menghindarkan serangan cahaya dan benda kuning yang menghantam ke arahnya.
Bunga tertawa panjang.
“Sekarang terbukti bahwa manusia alam gaib sepertimu memang berhati culas dan jahat! Buktinya kau tega mempergunakan orang sebagai tameng. Jika kau menyukai dirinya mengapa mempergunakan dia sebagai tameng?! Pengecut keji!”
Mendengar caci maki Ratu Duyung, Bunga menjadi marah. Tangan kirinya digerakkan ke samping. Secara aneh tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng terangkat dan melayang ke kiri lalu tegak tersandar ke sebatang pohon. Masih dalam keadaan tertotok, tak bisa bicara tak bisa bergerak. Bahkan sepasang matanya pun masih tampak tertutup hingga Wiro sama sekali tidak mengetahui apa yang tengah terjadi!
“Kita saling berhadapan sekarang! Apa maumu akan kulayani!” kata Bunga.
“Bagus! Aku akan membuatmu mati sampai sepuluh kali!” ujar Ratu Duyung. Untuk kedua kalinya sang Ratu lepaskan dua pukulan sinar sakti berwarna biru.
“Wusss! Wusss!”
Bunga angkat tangan kirinya. Dari tangan ini keluar sinar kuning berputar laksana tameng memagari dirinya. Bersamaan dengan itu Bunga gerakkan tangan kanan ke pinggang mengeluarkan sekuntum kembang kenanga. Kembang ini lalu dilemparkannya ke arah lawan.
Begitu dua jalur sinar biru pukulan sakti yang dilepaskan Ratu Duyung hanya tinggal beberapa jengkal lagi dari sasarannya tiba-tiba putaran sinar kuning yang keluar dari tangan kiri Bunga berubah membesar dan membentuk kerucut. Dua sinar biru pukulan sakti yang dilepaskan Ratu Duyung amblas tersedot ke dalam putaran sinar kuning laksana benda tersedot putaran air yang ganas. Dua dentuman menggelegar di tempat itu.
Ratu Duyung terjajar lima langkah ke belakang. Mukanya yang cantik tampak memucat. Untuk sesaat tubuhnya bergetar tak karuan. Peredaran darahnya kacau. Tenaga dalamnya menyentak-nyentak. Mulutnya terasa asin tanda ada darah akibat luka dalam.
Dilain pihak Bunga tegak terhuyung-huyung. Wajahnya yang pucat semakin putih. Kebaya putihnya robek hangus di bagian dada dan pinggang hingga auratnya tersingkap lebar. Ketika dia meneliti, gadis aiam ini jadi melengak. Tiga kuntum kembang kenanga yang tersimpan di pinggang pakaiannya telah berubah menjadi hitam hangus!
“Gadis iblis! Kalau tidak kubunuh dirimu belum puas hatiku!” teriak Bunga dengan sepasang mata bernyala-nyala. Lalu kaki kanannya dihentakkan ke tanah. Dari tanah mencuat cahaya merah yang menjalar memasuki tubuhnya terus ke kepala lalu melesat keluar dari kedua matanya!
ilmu iblis apa yang dimiliki gadis alam gaib ini!” pikir Ratu Duyung. “Aku terluka dalam. Tak mungkin mengerahkan tenaga dalam secara penuh! Aku tak bisa balas menghantam dengan kilatan cahaya biru-ku! Benar-benar berbahaya!”
Secepat kilat Ratu Duyung mengambil cermin bulat sakti dari balik pakaian birunya. Begitu benda ini digoyangkannya maka berkiblatlah kilauan cahaya putih disertai suara laksana dentuman, petir menggelegar berulang kali.
Bukit Jatianom seperti diamuk gempa. Tanah bergetar dan longsor besar terjadi di beberapa tempat. Pohon-pohon bertumbangan. Semak belukar rambas dan bertaburan di udara. Batu dan pasir menggebubu menutupi pemandangan membuat udara yang memang sudah gelap karena mendung tebal menjadi tambah kelam.
Ratu Duyung terkapar di tanah. Sekujur tubuhnya tertutup oleh tanah. Dengan cepat dia melompat tegak walau tubuhnya terasa limbung.
Bunga masih tampak berdiri tapi keadaannya tak karuan rupa. Rambut acak-acakan. Pakaian dan celana putihnya hangus. Kapak Naga Geni 212 tergeletak di tanah tak jauh dari tempatnya berdiri. “Seumur hidup belum pernah aku mengalami yang seperti ini,” membathin gadis dari alam gaib ini. Entah hidup di alam mana yang dimaksudkannya dalam ucapan batinnya tadi.
Bagaimana dengan Pendekar 212 sendiri?
Ketika segala kedahsyatan itu melanda bukit Jatianom tubuh murid Sinto Gendeng laksana dilemparkan ke udara. Selagi tubuh itu melayang jatuh tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat laksana hantu gentayangan.
Baik Ratu Duyung maupun Bunga sama-sama berteriak ketika melihat bagaimana bayangan hitam itu melesat ke udara menyambar tubuh Pendekar 212 lalu berkelebat lenyap. Ratu Duyung dan Bunga cepat bertindak hendak mengejar. Tapi bayangan hitam telah lenyap.
“Wiro!” teriak Ratu Duyung memanggil.
“Celaka!” keluh Bunga.
“Gadis iblis! Kalau bukan karenamu hal ini tidak akan terjadi!” Ratu Duyung memaki.
“Ratu jahanam! Jangan kau membalikkan tuduhan! Kau yang jadi biang racun gara-gara semua ini!” bentak Bunga.
Selagi kedua gadis cantik perang mulut saling memaki tiba-tiba dari jurusan lain muncul satu bayangan biru. Sebelum Ratu Duyung dan Bunga sempat melihat jelas siapa adanya bayangan itu, sesosok tersebut telah lenyap dan Kapak Maut Naga Geni 212 milik Wiro yang tadi tergeletak di tanah kini lenyap tak tampak lagi!
Bunga hantamkan tangan kanannya. Ratu Duyung kiblatkan cermin saktinya. Tapi bayangan biru itu luar biasa sekali cepat gerakannya. Sebelum dua serangan ganas sempat menyentuhnya, sosoknya telah lenyap dalam kegelapan.
Ratu Duyung tertegun. Dalam hati dia berkata. “Hanya ada satu orang yang memiliki kecepatan seperti kilat begitu. Kalau memang dia…. Ah, bagaimana jadinya urusan ini? Persoalanku dengan Pendekar 212 belum dapat dijernihkan. Sekarang muncul lagi gadis itu. Nasib diriku semakin tidak karuan….”
Ratu Duyung berpaling ke arah di mana sebelumnya Bunga tegak berdiri. Namun saat itu didapatinya gadis dari alam gaib itu tak ada lagi di tempat itu. Ratu Duyung semakin bingung. Dia memandang berkeliling.
“Wiro…?! Wiro…?!” panggilnya dengan suara bergetar. “Kemana aku harus mencari? Siapa yang telah menculik dirinya? Oh Tuhan apakah belum berakhir derita sengsara ini” Tak terasa sepasang matanya yang biru tampak berkaca-kaca. Udara tambah gelap. Di langit tampak kilat menyambar beberapa kali. Lalu bertiup angin kencang. Bersamaan dengan itu hujan mulai turun rintik-rintik Ratu Duyung menarik nafas dalam berulang kali. Akhirnya dengan berbagai perasaan kacau balau dia tinggalkan lereng bukit Jatianom yang porak poranda itu.

*
* *

212
DUA BELAS

Setelah memastikan pemuda itu berada dalam keadaan tertotok bukannya pingsan apa lagi mati, Sika Sure Jelantik segera memeriksa. Samar-samar dia melihat ada tanda kemerahan di urat besar pangkal leher Wiro. Dengan segera dia lipat jari telunjuknya lalu ujung lipatan jari ditekankannya ke bagian leher pemuda itu.
Sejurus tubuh Wiro masih belum bergerak. Matanya juga masih tertutup. Lalu terdengar dia batuk-batuk beberapa kali. Ketika akhirnya matanya dibuka murid Sinto Gendeng melengak laju bersurut mundur. Matanya membesar menatap wajah perempuan tua di hadapannya. Terus ke sepuluh jari-jari tangan yang berwarna hitam dan panjang-panjang.
“Nek, siapa kau? Apa yang terjadi dengan diriku? Berada di mana aku saat ini?” Wiro langsung ajukan rentetan pertanyaan. Terhuyung-huyung dia coba bangkit dan duduk. Memandang berkeliling dia dapatkan dirinya berada dalam sebuah dangau di tengah pesawahan kering.
Si nenek menatap sesaat pada pemuda di hadapannya itu lalu berpaling memandang ke arah kejauhan. Dalam hati si nenek berkata. “Gila! Sikap dan cara bicara anak ini hampir sama dengan jahanam itu di masa muda!”
“Nek….”
“Nek, Nek… Nek! Kau mengapa cerewet amat! Apa yang hendak kau katakan?!”
“Tadi aku sudah bertanya. Tapi kau tak menjawab. Malah marah…. Sebelumnya aku berada di satu bukit bernama Jatianom. Mengapa tahu-tahu berada di sini?!”
“Memang aku yang menculikmu dan membawamu ke tempat ini!”
“Kau…. Kau menculikku? Mengapa? Apa kesalahanku, apa untungnya menculik orang jelek dan sengsara seperti aku?!”
“Jelek atau sengsara bukan urusanku! Kalau kau memang sudah dilahirkan jelek dan nasibmu sengsara itu namanya takdir! Aku tidak perduli dan tidak mau tahu!”
“Lalu apa alasanmu menculik diriku? Jangan-jangan kau bangsanya nenek genit yang masih doyan daun muda….”
“Plaaaakk!”
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Pendekar 212. Membuat pemuda ini menjadi pening dan kesakitan.
Wiro angkat tangan kanannya dan balas menampar.
“Plaaakkk!”
Si nenek melengak kaget setengah mati. Rasa terkejutnya lebih hebat dari pada rasa sakit.
“Anak muda kurang ajar! Kau ingin mati cepat rupanya!” si nenek mengancam dengan mata melotot.
“Uh… huk… huk… huk!” Wiro batuk-batuk. “Sejak beberapa hari lalu sudah beberapa orang inginkan kematianku. Hari ini tambah lagi satu orang! Tapi Nek, aku tidak bodoh! Kau pasti punya alasan tertentu menculik dan membawa aku ke tempat sepi ini. Sebelum kau mendapatkan apa yang kau mau kau tak bakal membunuhku! Uh… huk… huk… huk! Umurku rupanya masih bisa diperpanjang. Padahal aku sudah ingin buru-buru mati!”
“Kematian akan segera menjadi bagianmu anak gila. Kau ternyata cerdik seperti bangsat tua yang satu itu!”
“Eh, bangsat tua yang mana maksudmu Nek?”
“Dengar!” si nenek jambak rambut Wiro. Lalu dia berkata. “Aku tahu kau adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Murid Sinto Gendeng dan juga murid seorang kakek dajal bergelar Tua Gila!”
“Wan ilmu pengetahuanmu luas juga rupanya Nek. Kau tahu banyak tentang diriku. Apa kau tahu berapa pusar-pusar rambut di kepalaku? Juga tahu berapa aku punya pusar di perut! Lalu berapa aku punya pusar di bawah perut? Ha… ha… ha…! Huk… huk… huk!”
Si nenek berjubah hitam keluarkan suara menggembor saking marahnya. Tangannya diangkat kembali hendak menampar tapi kemudian perlahan-lahan diturunkan.
“Kenapa tak jadi menampar?” tanya Wiro sambil mencibir.
“Anak jahanam! Guru dan murid sama saja!” Si nenek bantingkan kepala Wiro ke samping. Lalu dengan kakinya ditendangnya perut pemuda itu hingga Wiro menjerit kesakitan. Tubuhnya terpental dua tombak. Perutnya serasa pecah, pemandangannya berkunang-kunang. Untuk beberapa lama dia hanya bisa mengerang menahan sakit. Dalam pada itu si nenek sudah melompat ke hadapannya dan kembali menjambak rambutnya.
“Aku ingin tahu di mana gurumu berjuluk Tua Gila itu berada?!” Sambil bertanya si nenek sentakkan jambakannya.
Walau sakit tapi murid Sinto Gendeng malah senyum-senyum. Membuat si nenek jengkel setengah mati.
“Ada hubungan apa kau dengan Tua Gila? Kau pasti bukan orang sini! Mengadakan perjalanan jauh. Sampai-sampai menculik diriku! Hanya untuk tahu di mana beradanya Tua Gila! Hik… hik! Aku punya firasat di masa muda kau dengan dia….”
“Plaaakkk!”
Tak dapat menahan hatinya lagi si nenek lantas saja tampar Wiro untuk kedua kalinya! Kali ini demikian kerasnya sampai mulut Wiro pecah dan mengucurkan darah.
“Aduh sakitnya….” ujar Wiro. Dia sampai keluar air mata.
“Kalau kau masih berani mempermainkan jangan kira aku tidak tega mengorek kau punya mata!” kata si nenek dengan rahang menggembung. “Lekas katakan di mana Tua Gila berada!”
“Aku… aku tidak tahu Nek. Terakhir sekali aku bertemu dengan dia di Pangandaran. Aku pergi ke selatan dia pergi ke utara….”
“Jangan dusta! Masakan di mana guru sendiri berada kau tidak tahu!”
“Memangnya aku murid apa yang mengikuti guru kemana-mana dan harus tahu di mana dia berada!”
“Aku tidak percaya padamu! Kau sama gila dan kurang ajarnya dengan si Tua Gila itu!”
“Hemmm…. Kalau kau memaksa baiklah. Aku akan katakan di mana guruku itu berada. Tak jauh dari sini!”
Se pa sang mata si nenek membuka lebar. Dia menyeringai. “Katakan di mana…!”
“Tak jauh dari sini. Di sebelah tenggara ada sebuah kali kecil. Guruku si Tua Gila itu ada di sana. Lagi berak! Ha… ha… ha…!”
“Jahanam setan alas!” Kini bukan tamparan lagi yang diterima Pendekar 212 melainkan satu jotosan menghajar pipinya, membuat pemuda tak berdaya ini jatuh terguling di tanah dengan pipi memar! Belum puas si nenek lalu melompat dan injakkan kaki kanannya ke leher Wiro. “Aku Sika Sure Jelantik tidak punya ganjalan apa-apa membunuhmu! Tidak dapat gurunya, muridnya lebih dulu tak jadi apa!”
Si nenek yang ternyata adalah Sika Sure Jelantik kekasih Tua Gila di masa muda lalu perkeras injakannya hingga mulut Pendekar 212 terbuka dan lidahnya tampak terjulur. Tiba-tiba nenek berteriak keras. “Jahanam kurang ajar!”
Apa yang terjadi?
Ketika lehernya dipijak semakin keras, Wiro susupkan tangannya ke dalam jubah hitam si nenek lalu dengan cepat menggelitik bagian bawah perut Sika Sure Jelantik. Tentu saja perempuan tua ini menggelinjang kaget dan geli.
“Kupecahkan kepalamu!” teriaknya lalu berkelebat dan hantamkan tangan kanannya ke batok kepala Pendekar 212. Seperti yang sudah-sudah murid Sinto Gendeng ini hanya berdiam diri saja seolah pasrah menerima kematian.
Sesaat lagi pukulan Sika Sure Jelantik benar-benar akan memecahkan batok kepala murid Eyang Sinto Gendeng itu tiba-tiba terdengar satu seruan. Bersamaan dengan itu bau sangat wangi menyeruak di tempat itu.
“Nenek Sika! Jangan kau bunuh! Dia pemuda yang aku ceritakan padamu! Aku mohon pengampunan baginya!”
Sika Sure Jelantik terkejut. Satu bayangan biru berkelebat dan tegak di hadapannya. Di tangan kanannya orang yang barusan muncul itu memegang Kapak Maut Naga Geni 212.
“Anakku, kau rupanya!” ujar Sika Sure Jelantik sambil menatap tajam pada orang yang berdiri di depannya lalu berpaling pada Wiro. Si nenek tarik nafas dalam lalu perlahan-lahan tarik kaki kanannya yang menginjak leher Wiro. Pendekar 212 cepat bangkit berdiri dan batuk-batuk berulang kali. Dia memandang ke depan dan lambaikan tangannya.
“Bidadari Angin Timur….” seru Wiro. “Terima kasih. Kau telah menyelamatkan nyawa manusia buruk ini dari nenek yang kesasar tak tahu juntrungan ingin membunuhku!”
Si nenek kembali meledak marahnya. Tapi gadis berpakaian biru yang memang Bidadari Angin Timur adanya cepat menghalangi dan berdiri di hadapan si nenek.
“Aku mohon Nek….” kata Bidadari Angin Timur setengah memelas, membuat gelegak marah si nenek menjadi kendur.
“Jadi ini dia pemuda yang menurutmu mencintaimu setengah mati?!”
Bidadari Angin timur tidak menyahut. Dia hanya tundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang kemerahan.
Sika Sure Jelantik tertawa mengekeh lalu geleng-gelengkan kepala. “Tidak kusangka kalau murid musuh besarku ini adalah pemuda yang menjadi kekasihmu! Anakku, kita sudah bicara panjang lebar. Aku sudah memberi nasihat banyak padamu. Kalau begini potongan orangnya a la mat kau bakalan susah! Aku kenal gurunya! Menipuku di masa muda. Murid tentu tak bakal jauh dari sang guru! Terserah padamu! Kalau aku jadi gadis secantikmu pemuda jelek dan bau ini tidak akan laku! Hik… hik… hik!”
Wiro ikut-ikutan ketawa.
“Anak jahanam! Kenapa kau ketawa?!” sentak Sika Sure Jelantik penuh gusar.
“Guruku si Tua Gila jauh lebih buruk dan lebih bau dariku. Tapi mengapa kau dulu bisa naksir padanya?! Hik… hik… hik!”
“Wiro, harap kau bicara lebih sopan pada nenek Sika!” kata Bidadari Angin Timur.
“Baiklah, memandang dirimu aku akan bicara bersopan-sopan padanya. Tapi aku melihat keanehan. Kau memanggilnya nenek, tapi dia memanggilmu anak. Sebenarnya orang ini nenekmu atau ibumu?!”
“Wiro jangan bergurau terus-terusan!” bentak Bidadari Angin Timur.
Pendekar 212 angkat bahu lalu garuk-garuk kepala. “Aku memang kurang ajar. Mungkin sudah dari sananya!” kata Wiro seperti menyesali diri. Dia berpaling pada si nenek dan tersenyum.
“Masih bisa tersenyum! Huh! Aku muak melihat senyummu!” damprat Sika Sure Jelantik.
“Aku mohon maafmu Nek. Aku tidak maksud bersikap kurang ajar padamu. Jika kau sahabat gadis ini berarti sahabatku juga!”
“Sialan! Siapa sudi jadi sahabatmu!” tukas Sika Sure Jelantik. Lalu dia berpaling pada si gadis. “Jadi namamu Bidadari Angin Timur. Nama bagus. Kau dengar baik-baik anakku. Kalau aku tidak suka padamu, sudah kubuat buyar otak monyet gondrong ini! Tapi memberi ampun muridnya bukan berarti memberi ampun gurunya! Tua Gila akan terus kucari sampai dapat! Sebelum dia mati di tanganku tak akan tenteram hidupku dan matiku! Dan kau! Jika kau berani membantu gurumu aku tak akan memberi ampunan lagi padamu!” Sika Sure Jelantik pelototkan matanya pada Wiro. Lalu berpaling pada Bidadari Angin Timur. “Aku pergi sekarang!”
“Baik Nek. Aku harap dapat bertemu lagi denganmu. Terima kasih atas kebaikanmu!” kata Bidadari Angin Timur pula.
Wiro Sableng melangkah ke hadapan si nenek lalu menjura dalam-dalam seraya berkata “Nek, aku monyet gondrong jelek ini juga mengucapkan terima kasih seri pertama atas pengampunanmu dan kebaikanmu!”
“Eh, apa maksudmu terima kasih seri pertama…?!” sentak si nenek.
“Maksudku…. Kalau… siapa tahu kemudian hari aku bersikap alpa dan membuat kesalahan lagi padamu, jauh-jauh aku minta dimaafkan dan sekalian menyampaikan terima kasih seri kedua!”
“Pemuda geblek!” teriak Sika Sure Jelantik lalu tinggalkan tempat itu. Sesaat kemudian di kejauhan terdengar suara tawanya gelak-gelak.
Wiro berpaling pada Bidadari Angin Timur. Sesaat pandangan mata mereka saling beradu. Tanpa ucapan sepatah katapun pandangan mata itu telah merupakan seribu kata yang tak tercetuskan.
“Aku menemukan senjata mustika ini di bukit Jatianom. Bagaimana senjata begini berharga dan tak ada tandingan di dunia persilatan kau terlantarkan begitu saja?” Si gadis menyerahkan Kapak Maut Naga Geni 212 pada Wiro.
“Panjang ceritanya. Aku bersyukur kau menemukan kapak ini. Aku sangat berterima kasih….” Wiro ulurkan tangannya menerima kapak. Namun dia bukan hanya memegang gagang senjata itu. Jari-jari tangannya ikut menyentuh jari-jari tangan Bidadari Angin Timur. Matanya memandang berbinar-binar ke dalam mata si gadis. Tidak tahan dipandangi seperti itu Bidadari Angin Timur tundukkan kepalanya.
“Sejak perpisahan di Pangandaran dulu, aku begitu merindukanmu. Aku….”
Wiro tak dapat meneruskan kata-katanya. Kapak Naga Geni 212 disisipkan ke pinggangnya. Dia memandang ke arah kejauhan. Mulutnya terkancing ketika dia menyadari bahwa selama ini sebenarnya dia hanya bertepuk sebelah tangan.
“Bidadari, maafkan kalau ucapanku barusan tidak pada tempatnya. Aku kurang sehat. Aku harus pergi dan memencilkan diri untuk beristirahat. Sekali lagi aku berterima kasih kau telah menolongku. Banyak budi yang telah kau tanam padaku. Rasanya belum satupun yang bisa aku balas.”
“Wiro aku tahu kau dalam keadaan sakit. Lahir dan batin. Kalau kau suka aku bersedia….”
“Wiro!” Tiba-tiba ada seseorang berseru menyebut nama Pendekar 212. Di lain kejap seorang gadis cantik berpakaian biru bermata biru muncul di tempat itu.
“Ratu Duyung!” balas berseru Wiro ketika melihat siapa yang datang. “Kebetulan kau datang! Ada urusan kusut yang ingin aku selesaikan denganmu!”
Ratu Duyung hendak melangkah mendekati si pemuda namun langkahnya tertahan ketika disadarinya tak jauh dari situ tegak seorang gadis cantik berambut pirang. Pandangan dua gadis ini saling beradu. Ratu Duyung ingat akan pertemuannya dengan Bunga yang berakhir dengan keonaran besar. “Jangan-jangan gadis cantik yang satu ini….”
Memikir seperti itu Ratu Duyung cepat berkata.
“Ah, harap maafkan. Aku sampai tidak melihat kalau ada orang lain bersamamu! Aku tidak ingin mengganggu. Lain kali aku menemuimu lagi….”
“Ratu, tunggu!” panggil Wiro seraya melangkah hendak mengejar. Namun Ratu Duyung sudah berkelebat pergi. Perlahan-lahan Wiro putar kepalanya dan tersenyum pada Bidadari Angin Timur.
“Orang datang menjemputmu, mengapa tak kau cegah kepergiannya? Mengapa tidak kau kejar dirinya?”
. Wiro hanya bisa berdiam diri beberapa lamanya. Dia memandang ke jurusan lain seolah tak sanggup lagi menatap paras cantik di depannya itu. “Aku memang ada hal penting yang perlu dijernihkan dengan Ratu Duyung. Tapi betapapun pentingnya bagiku kau jauh lebih penting….”
Tak ada suara jawaban. Tak ada gerakan. Wiro berpaling. Astaga! Dia jadi tersentak. Bidadari Angin Timur tak ada lagi di tempatnya tadi berdiri!

*
* *

212
TIGA BELAS

Hari tujuh bulan ke tujuh. Waktu itu hampir menjelang tengah malam. Lang it di atas candi Mendut tampak bersih ditebari bintang gumintang. Bulan sabit ikut menghias angkasa dan bersinar dengan lembut.
Sesosok tubuh tampak duduk setengah mendekam dekat sebatang pohon di bukit Tegalrejo, terletak tak jauh dari bangunan candi.
“Jahanam Datuk Angek Garang! Ini adalah hari ke delapan dia terlambat muncul! Apa yang terjadi dengan dirinya?!. Orang di dekat pohon terdengar keluarkan suara makian. Dari suaranya ternyata dia “adalah seorang perempuan tua, berwajah putih. Mengenakan jubah hitam dan memiliki rambut putih dilepas sepunggung.
Selagi mengomel-ngomel sendirian seperti itu tiba-tiba dia disentakkan oleh suara benda berkerontang. Makin lama suara kerontangan itu terdengar semakin keras tanda tambah dekat.
“Orang gila darimana malam-malam buta begini membuat suara berisik?!” maki perempuan tua berwajah putih yang bukan lain adalah Sabai Nan Rancak dari Gunung Singgalang pulau Andalas. Sesuai perjanjian dengan Datuk Angek Garang, mereka bersepakat untuk bertemu di bukit Tegalrejo itu pada hari tujuh bulan ke tujuh. Namun setelah delapan hari berlalu dari saat yang ditentukan, sang Datuk belum juga muncul. Kini selagi dia menunggu dengan hati kesal, muncul hal yang membuatnya tambah jengkel. Suara berisik tadi!
Tak selang berapa lama dari arah selatan kelihatan satu sosok tubuh melangkah terbungkuk-bungkuk. Orang ini mengenakan caping lebar. Pakaian penuh tambalan. Di tangan kanannya dia memegang sebuah kaleng rombeng yang tak henti-hentinya digoyang-goyang hingga mengeluarkan suara keras berisik. Di tangan kirinya orang ini memegang sebuah tongkat kayu butut. Benda ini dipergunakannya untuk menuntun jalannya di malam buta itu.
“Pengemis sialan! Malam-malam buta membuat berisik saja! Ah…. Setan betul! Dia menuju ke arahku ini!” Me maki Sabai Nan Rancak. Baru saja suara makiannya sirap tahu-tahu orang yang dianggapnya pengemis itu telah berada beberapa langkah di lereng bukit di bawahnya.
“Aneh…” ujar si nenek dalam hati. “Barusan saja aku bicara memakinya bagaimana tahu-tahu dia sudah berada di bawah sana dan duduk se-enaknya?!”
Pengemis yang duduk terpisah sekitar enam langkah di bawah si nenek kerontangkan lagi kaleng rombeng nya hingga telinga Sabai Nan Rancak hampir budek kepengangan.
”Gembel sinting! Hentikan pekerjaanmu menggoyang-goyang kaleng jahanam itu! Atau kurampas dan kuhancurkan?!” teriak Sabai Nan Rancak.
“Astaga…! Ada seorang sahabat rupanya di tempat sesunyi ini. Eh, kira-kira di mana aku berada saat ini ya?!” Pengemis di bawah sana keluarkan ucapan.
“Sialan! Aku bukan sahabatmu! Aku setan yang akan mencekikmu jika kau tidak berhenti mengguncang kaleng rombeng itu!”
“Walah! Aku pernah dengar setan yang pandai mencekik. Tapi baru sekali ini aku menemui setan pandai bicara! Sayang mataku buta! Kalau tidak ingin sekali aku melihat wajahnya! Apalagi setan perempuan sepertimu!” Habis berkata begitu orang bercaping tertawa gelak-gelak.
Sabai Nan Rancak hilang kesabarannya. Dia melompat ke lereng bukit di bawahnya dan mengetuk caping di kepala orang dua kali.
“Pengemis sinting, kalau kuberi kau sesuatu apakah kau mau pergi dari sini dan tidak mengganggu ketentramanku?!”
“Ah, untuk ucapanmu itu aku jadi ingin mengatakan beberapa hal….”
“Kau boleh bicara! Setelah itu lekas pergi dari sini! Jangan membuatku benar-benar marah!”
Orang yang duduk menjelepok di tanah itu membuka capingnya dan meletakkan benda itu di pangkuan. Si nenek memperhatikan. Ternyata orang yang dianggap sebagai pengemis ini adalah seorang kakek berambut putih, memiliki sepasang mata putih alias buta.
“Pertama, dari logat bicaramu jelas kau bukan orang sini. Kalau orang dari seberang mengadakan perjalanan jauh pasti ada urusan besar yang tengah dihadang….”
“Hemmm…. Apa yang kau katakan memang betul. Tapi jangan berani bertanya apa urusanku!”
“Aku bukan kakek usil yang ingin tahu urusan orang. Justru orang banyak yang mencari tahu 122 urusan orang lain dan menanyakannya padaku. Aku sampai pada hal kedua. Aku bukan pengemis, bukan gembel juga bukan tukang minta-minta!”
“Bagus, jadi aku tak perlu memberimu sedekah apa-apa!” kata Sabai Nan Rancak.
“Aku memang tidak meminta,” sahut si kakek lalu tertawa mengekeh dan kembali goyangkan kaleng nya keras-keras hingga si nenek memaki panjang pendek. “Hal ketiga aku menduga. Biasanya dugaanku tidak meleset. Jika kau berada sendirian di tempat ini jelas kau tengah menunggu seseorang. Karena kau di sini bukan untuk bertapa atau bersepi-sepi tanpa maksud tertentu….”
“Dugaanmu kali ini juga betul!” kata Sabai Nan Rancak. “Aku memang tengah menunggu seseorang. Karena itulah sekarang juga aku harap kau segera angkat kaki dari sini!”
“Jangan khawatir, aku tidak akan lama berada di sini. Namun aku merasa kasihan terhadap dirimu!”
“Kasihan? Memangnya aku minta dikasihani apa?!”
“Oo… tidak. Tentu tidak. Aku tidak mengatakan kau minta dikasihani. Hik… hik… hik! Tapi jika aku memandang ke langit, aku melihat bintang-bintang bertaburan dan ada bulan sabit di sebelah sana. Semua itu memberi petunjuk bahwa orang yang kau tunggu tidak akan pernah datang!”
Sabai Nan Rancak mencibir. “Matamu saja buta! Bagaimana bisa melihat bintang dan bulan sabit di langit? Huh!”
Si kakek tertawa perlahan lalu menjawab. “Orang melek memang melihat dengan mata. Orang buta melihat dengan hati! Apa yang aku katakan akan menjadi kenyataan. Kalaupun teman yang kau tunggu itu muncul juga maka dia datang tanpa nafas lagi di tubuhnya!”
Sabai Nan Rancak terdiam mendengar ucapan si kakek. “Pembual besar, siapa kau sebenarnya? Orang dari dunia persilatan? Punya nama dan bergelar apa?!”
“Seumur-umur aku hanya seorang anak manusia biasa yang hidup malang melintang di kolong langit sampai jadi tua bangka begini rupa. Sana bat ku hanya caping bambu ini, buntalan butut, tongkat kayu butut dan kaleng rombeng ini?!”
“Lalu apa saja yang kau kerjakan seumur-umur? Mengemis tidak, hanya membual dan hilir mudik ke mana-mana tanpa tujuan?”
“Justru itulah nikmatnya hidup. Nikmatnya hidup para pejabat di Kerajaan termasuk Sri Baginda sendiri lain dengan nikmatnya hidup yang dirasakan rakyat jelata, tua renta dan buta sepertiku. Nikmatnya hidup orang kaya lain dengan nikmatnya hidup tua bangka gelandangan sepertiku ini. Aku memang tidak punya pekerjaan apa-apa kecuali meramal!”
“Hemm, jadi kau ini juru ramai rupanya. Atau tukang tenung?” ujar Sabai Nan Rancak.
“Berbuat tenung adalah pekerjaan orang sesat. Meramal adalah perbuatan orang setengah sesat tapi kerap kali dipercaya! Ha… ha… ha…! Apa dirimu mau kuramal?!”
Sabai Nan Rancak terdiam. Entah mengapa hatinya jadi kecut dan gelisah. Maka dia berkata. Tidak, tidak usah. Bagaimana kalau aku mengajukan beberapa pertanyaan saja….”
“Silahkan. Aku yang dipanggil orang dengan sebutan Kakek Segala Tahu akan menjawab pertanyaanmu sebisa mungkin!” Si kakek lalu tertawa terkekeh-kekeh.
“Ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa ini aku menyirap kabar tentang sebuah Kitab Malaikat yang kabarnya merupakan satu kitab maha sakti. Mampu mengalahkan segala macam kitab yang pernah ada di dunia. Misalnya Kitab Wasiat iblis, Kitab Putih Wasiat Dewa, Kitab Seribu Pengobatan dan sebagainya. Apa kau pernah men-dengar riwayat Kitab Malaikat. itu yang kabarnya dimiliki oleh seorang tokoh silat yang berdiam di satu tempat disebut Lembah Akhirat!”
Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya dua kali. Dia mendongak ke langit. Sesaat kemudian baru dia membuka mulut memberikan jawaban.
“Kitab Wasiat iblis aku tahu memang ada. Begitu juga Kitab Putih Wasiat Dewa dan Kitab Seribu Pengobatan. Namun walau sudah tersiar kabar tentang adanya Kitab Malaikat yang dianggap raja diraja segala kitab sakti, terus terang aku menganggap berita itu isapan jempol belaka!”
“Lalu apakah tempat yang disebut Lembah Akhirat itu juga tidak ada?”
“Lembah Akhirat ada tapi kitabnya belum tentu ada!” jawab Kakek Segala Tahu. “Tapi aku tahu kehadiranmu di tanah Jawa ini bukan karena urusan kitab tersebut. Benar?”
“Aku tak mau menjawab!”
Si kakek tertawa. “Kalau seorang perempuan ditanya tak mau menjawab, biasanya apa yang di-tanyakan itu jawabnya benar! Hik… hik… hik!”
“Kakek Sega la Tahu, aku merasa senang bertemu denganmu. Tapi cukup sampai di sini. Harap kau suka meninggalkan tempat ini. Aku tak ingin kau masih berada di sini jika orang yang aku tunggu muncul.”
“Ah… ah… ah! Orang tidak menginginkan aku di tempat ini walau ini bukan rumah bukan tanah ladangnya. Tapi apa susah nya melangkah pergi?! Ha… ha… ha!” Kakek Segala Tahu bangkit dari duduknya. Ditepuk-tepuknya pantat celananya yang penuh tambalan lalu dikenakannya caping lebarnya. Dia memandang ke langit. Kaleng rombengnya di-goyang keras-keras lalu sambil melangkah dia berkata.
“Bulan sabit tertutup awan hitam. Orang yang kau tunggu sebentar lagi akan datang. Tapi seperti ramalanku tadi dia datang tidak membawa nafas lagi di tubuhnya!”
Kakek Segala Tahu kembali kerontangkan kalengnya. Ketika Sabai Nan Rancak memandang ke depan dilihatnya prang tua itu sudah berada jauh di kaki bukit, melangkah ke arah bangunan candi Mendut.
“Jangan-jangan orang tua itu salah seorang tokoh persilatan di tanah Jawa ini,” katanya dalam hati, Lalu telinganya menangkap suara bergemeratakan. Ketika dia memandang ke kaki bukit di sebelah timur tampak sebuah gerobak ditarik seekor kuda tanpa kusir bergerak menuju kaki bukit. Di salah satu sisi depan gerobak ada sebuah obor yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin. Mendadak saja ada rasa tidak enak di hati sabai nan rancak.
Cepat-cepat nenek berwajah putih ini menuruni bukit, berlari menghampiri gerobak. Tangannya diangkat memegang leher kuda penarik gerobak. Binatang ini hentikan jalannya. Ketika si nenek memandang ke dalam gerobak yang diterangi obor, berubahlah parasnya. “Datuk Angek Garang…” desis si nenek dengan tenggorokan tercekik dan mata mendelik.

TAMAT
Episode berikutnya :
LEMBAH AKHIRAT

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog