Friday, March 20, 2009

Utusan Dari Akhirat

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : TUA GILA DARI ANDALAS

SATU

Hujan lebat mendera kawasan Teluk Penanjung, Pangandaran. Angin dari laut bertiup kencang laksana hendak membongkar gugusan bukit-bukit karang. Awan hitam yang terus menggantung di udara membuat suasana menjadi gelap seperti .
“Dari arah timur teluk, di antara deru hujan dan hembusan angin kencang serta gelegar ombak terdengar derap kaki kuda yang sesekali dihantui oleh suara ringkikan keras. Tak selang berapa lama, dalam cuaca yang sangat buruk itu di kejauhan tampak seekor kuda betina hitam berlari seperti gila, melompat kesetanan dan meringkik tiada henti. Penunggangnya seorang pemuda bertubuh kokoh mencekal tali kekang erat-erat, berusaha mengendalikan binatang itu.
“Walet hitam!” si pemuda berseru menyebut nama kuda tunggangannya. “Apa yang terjadi denganmu! Tahan larimu! Kau hendak membunuhku?!” Dengan tangan kirinya pemuda ini berusaha mengelus leher tunggangannya agar binatang itu menjadi jinak. Namun hal itu tak bisa dilakukan karena kalau dia hanya memegang tali kekang kuda dengan satu tangan, tubuhnya pasti akan terlempar jatuh.
“Kuda gila!” Akhirnya keluar suara makian dari mulut pemuda itu ketika Walet Hitam masih terus lari kencang tak karuan. Beberapa kali binatang ini berputar-putar di sekitar teluk. Setiap tubuhnya terkena hantaman ombak Walet Hitam meringkik keras.
Sesaat binatang ini tampak oleng seperti hendak tersungkur, namun dilain kejap dia berdiri tegak kembali dan lari lagi seperti tadi.
“Kalau mau selamat aku harus melompat!” pikir pemuda penunggang kuda. Namun dia merasa ragu. Salah lompat Justru dia bisa celaka. Apa lagi di sekitar tempat itu penuh dengan gugusan batu-batu karang. Maka pemuda ini berusaha mengarahkan lari kudanya ke arah laut. Selagi berada di tempat yang dangkal dia akan pergunakan kesempatan untuk melompat. Dia kerahkan tenaga menarik tali kekang. Leher dan kepala tunggangannya memang tertarik ke kanan yakni ke arah laut, tapi tubuh dan empat kaki binatang ini tetap tak bergeming dan terus membuat gerakan lari berputar-putar.
Selagi pemuda itu cemas dan kebingungan karena tidak tahu mau melakukan apa, sekonyong-konyong dari arah bukit karang sebelah barat terdengar suara ringkikan keras.
Mendadak sontak Walet Hitam yang seperti kemasukan setan itu hentikan larinya. Leher dijulurkan ke atas, kepala mendongak. Sepasang matanya terpentang lebar. Mulutnya yang dipenuhi busahan ludah terbuka. Lalu ringkikan aneh keluar dari mulut binatang ini!
“Huh!” Dalam herannya pemuda di atas kuda palingkan kepala ke arah bukit karang di sebelah barat. Dalam lebatnya curahan hujan dan gelapnya cuaca, samar-samar di puncak bukit karang itu dia melihat seekor kuda dan penunggangnya. Si penunggang tampak melambai-lambaikan tangannya tiada henti seolah-olah memanggil.
Pemuda di teluk perhatikan kuda tunggangannya yang saat itu diam tegak tak bergerak. Bahkan matanya sejak tadi tidak berkesip.
“Aneh, apa yang sebenarnya terjadi dengan binatang ini! Siapa orang di atas bukit karang sana…?” si pemuda bertanya-tanya dalam hati.
Kuda di atas bukit meringkik keras. Dua telinga Walet Hitam bergerak. Ekornya berputar. Dua kaki depannya diangkat lalu dari mulutnya keluar suara ringkikan keras seolah membalas ringkik kuda di atas bukit.
Pemuda penunggang Walet Hitam kembali memandang ke atas bukit karang di sebelah barat. Orang di atas kuda di puncak bukit itu tampak masih terus melambai-lambaikan tangan memanggil-manggil.
Tiba-tiba kilat menyambar, guntur menggelegar. Pemuda penunggang Walet Hitam tersirap kaget. Kuda di puncak bukit meringkik keras. Walet Hitam balas meringkik. Lalu binatang ini memutar tubuhnya. Laksana anak panah lepas dari busurnya Walet Hitam lari ke arah bukit karang di sebelah barat. Walau hampir keseluruhan bukit karang itu tertutup lumut licin namun Walet Hitam berlari pesat menuju puncak bukit.
“Walet! Kau mau ke mana?!” teriak pemuda penunggangnya. Dia menarik tali kekang kuda kuat-kuat berusaha menahan lari binatang itu. Namun sia-sia saja. Walet Hitam tetap melesat menuju puncak bukit, tempat di mana penunggang kuda di atas sana terus memanggil dengan lambaian tangan.
Kuda di puncak bukit meringkik keras. Walet Hitam membalas dengan ringkikan tak kalah kerasnya. Semakin dekat ke puncak semakin jelas si pemuda melihat sosok kuda dan penunggang di atas bukit itu. Kuda di puncak bukit karang itu adalah seekor kuda jantan coklat. Penunggangnya seorang kakek bungkuk berpakaian putih, berwajah angker karena selain sangat pucat seolah tak berdarah juga sangat cekung dan hanya tinggal kulit pembalut tulang!
Tujuh langkah dari kuda jantan, Walet Hitam si kuda betina hentikan larinya. Binatang ini rundukkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Orang tua di atas kuda coklat tampak menyeringai lalu kembali lambaikan tangannya. Walet Hitam bergerak maju lang-kah demi langkah sementara pemuda di atas punggungnya merasakan keanehan yang menyelimuti dirinya perlahan-lahan berubah menjadi rasa takut, terlebih ketika dia berada begitu dekat dengan si kakek di atas kuda coklat.
Walet Hitam kini berhadap-hadapan dengan kuda jantan itu. Dua binatang ini meringkik halus lalu sama-sama sorongkan kepala masing-masing, saling menggeserkan leher dan saling menggigit.
Sekonyong-konyong orang tua di atas kuda jantan coklat keluarkan tawa panjang. Kepalanya mendongak. Sepasang matanya yang cekung menatap ke atas seolah hendak menembus langit gelap berawan.
“Kudamu berjodoh dengan kudaku. Berarti kau pun berjodoh denganku anak muda!”
Si kakek berkata. Suaranya terdengar aneh di telinga si pemuda, kecil jauh tapi menggaung seolah keluar dari satu dasar jurang batu yang dalam.
“O…. or… orang tua… Siapakah kau? Apa maksud ucapanmu tadi?” Si pemuda bertanya dengan suara gagap.
Orang tua di atas kuda coklat menyeringai dan dua matanya memandang tajam pada si pemuda.
“Anak muda, sebelum aku menjawab pertanyaanmu undurkan dulu kudamu empat langkah ke belakang, lalu perhatikan bukit karang di sebelah kananmu.”
Si pemuda belum melakukan sesuatu. Namun Walet Hitam seolah mengerti akan ucapan orang tua tadi sudah lebih dulu bertindak mundur empat langkah.
“Walet Hitam berlaku aneh. Siapa sebenarnya orang tua ini?!” ujar si pemuda dalam hati. Namun ingat akan ucapan si orang tua dia segera memandang ke arah kanan. Kejut si pemuda bukan alang kepalang. Di sebelah kanan, pada bagian bukit yang sedikit menurun dia melihat sesosok tubuh terkapar dalam, keadaan tergelung kaku. Sosok ini mengenakan pakaian putih. Tangan dan kakinya berwarna putih pucat. Ketika si pemuda memperhatikan wajah orang itu rasa kagetnya seolah meledak. Wajah sosok yang tergelimpang di atas bukit karang itu dipenuhi noda darah yang telah membeku. Keluar dari liang hidung, mulut dan telinga serta kedua matanya. Namun bukan kengerian ini yang membuat si pemuda terkejut besar.
“Anak muda, mendekat kembali ke sini!”
Penunggang Walet Hitam terkejut. Seperti tadi sebelum dia mengikuti perintah, kudanya telah lebih dulu berjalan mendekati kuda coklat.
“Apa yang kau lihat anak muda…?” tanya si orang tua.
“A… aku tidak mengerti….”
Orang tua itu tertawa panjang.
“Apa yang tidak kau mengerti anak muda?”
“Hemmm…. Wajah orang tua yang menggeletak di sana itu….”
“Ada apa dengan wajahnya?!”
“Wajahnya… wajahnya sama dengan wajahmu…” jawab si pemuda.
Orang tua bermuka pucat dan cekung dongakkan kepala, kembali tertawa panjang.
“Anak muda, dengar baik-baik. Orang yang tadi kau lihat tergeletak di sebelah sana memang adalah diriku. Tapi itu adalah aku yang telah jadi mayat. Yang telah jadi bangkai. Menemui ajal, mati di tangan seorang musuh!”
“A… aku jadi tambah tidak mengerti…” ujar si pemuda. Karena menganggap kakek berwajah angker itu bergurau maka saat itu si pemuda lebih banyak merasa heran daripada takut.
“Orang tua. Kalau yang satu itu memang dirimu yang telah jadi mayat, lalu kau yang di atas kuda coklat ini siapakah adanya!”
Yang ditanya tertawa panjang.
“Mayat itu adalah mayat! Sosok kasar bangkai manusia tanpa nyawa. Yang di atas kuda coklat ini adalah sosok rohku!”
“Aku tidak mengerti….” Si pemuda merasakan tengkuknya mendadak menjadi dingin.
“Anak muda, aku jelaskan pun kau tidak bakal mengerti. Seribu penjelasan tidak akan dapat menembus akal sehat. Satu contoh yang tidak dapat diterima akal, apakah kau sudah meneliti keadaan sekitar puncak bukit karang di mana kita berada saat ini? Pakaianmu basah kuyup. Dari langit hujan masih terus turun tapi apakah kau lihat hujan jatuh dan membasahi tempat kita berada saat ini?!”
Si pemuda baru sadar. Dia mendongak ke langit. Memandang berkeliling. “Astaga! Keanehan apa yang aku hadapi saat ini!” kejutnya dalam hati.
Di hadapannya, kakek berpakaian putih bermuka sepucat mayat itu bersama kuda tunggangannya sama sekali tidak basah. Di langit hujan turun deras namun tak setetes pun jatuh di tempat itu. Memandang sekeliling puncak bukit di mana dia berada, puncak batu karang itu berada dalam keadaan kering, hanya terselimut lumut hijau lembab di beberapa tempat!
“Tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi?!” ujar si pemuda dalam hati lalu memandang ke arah orang tua di atas kuda coklat.
“Kau melihat dan kau harus berpikir. Tapi tidak perlu mengerti! Aku bertanya siapa namamu anak muda?!”
“Aku Layang Kemitir….”
“Hemmm…. Bukankah kau biasa dipanggil orang dengan sebutan Raden Layang Kemitir. Karena kau adalah seorang putera bangsawan terhormat di Banten, cucu seorang Pangeran satu kerajaan di ujung barat tanah Jawa….”
Pemuda di atas kuda hitam bernama Walet Hitam itu tercengang diam walau dalam hati dia bertanya-tanya. “Aku tidak mengenal dirinya. Sebaliknya orang tua aneh ini tahu banyak tentang diriku….”
“Anak muda, waktuku tidak lama. Aku harus segera kembali ke alamku. Aku minta saat ini juga kau turun dari kudamu. Melangkah ke tempat jenazahku tergeletak. Periksa mayatku sampai kau menemukan sesuatu….”
“Orang tua…. Aku….” Ucapan si pemuda terputus. Di hadapannya kuda coklat tunggangan si orang tua meringkik keras. Lalu terjadilah satu keanehan yang benar-benar tidak bisa dipercayanya. Pemuda ini menggosok kedua matanya berulang kali. Menjambak rambutnya kuat-kuat dan menggigit bibirnya kencang-kencang,
“Aku tidak bermimpi…. Apa yang aku lihat nyata adanya. Rambut kujambak terasa sakit. Bibir kugigit terasa luka berdarah….” Paras si pemuda menjadi pucat, lututnya terasa goyah. Dia bertahan sekuat tenaga agar tidak roboh!

*
* *


DUA

Di hadapan si pemuda, kuda coklat dan sosok tubuh kakek bungkuk berpakaian putih itu tiba-tiba tampak berubah menjadi samar. Kini seolah berbentuk asap putih yang meliuk-liuk kian kemari dan perlahan-lahan naik ke udara.
“Anak muda, aku tidak suka orang yang tidak menurut perintah. Turun dari kudamu dan pergi ke arah mayat diriku. Lakukan apa yang aku katakan tadi….”
“Orang tua, aku….”
Di langit kilat menyambar dan guruh menggelegar. Puncak bukit batu karang terasa bergetar. Kuda coklat yang kini hanya berbentuk bayang-bayang dan seolah mengapung di atas bukit meringkik keras. Walet Hitam kelihatan gelisah lalu ikut meringkik dan menaikkan sepasang kaki depannya tinggi-tinggi hingga pemuda di atas punggungnya merosot jatuh dan terbanting di atas bukit!
“Itu peringatan pertama! Kalau aku memberi peringatan ke dua, berarti nyawamu putus meninggalkan badan!” Kakek bungkuk di atas punggung kuda coklat mengancam. Seperti tadi suaranya seolah datang dari satu jurang yang dalam. Dan saat itu sosoknya bersama sosok kuda coklat melayang berputar-putar di udara.
Kalau tadi dirinya banyak diselimuti oleh hal-hal mengherankan yang tidak masuk akalnya kini pemuda bernama Layang Kemitir itu menjadi takut. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri sambil sepasang matanya tidak lepas memandang pada sosok orang tua dan kuda coklat yang samar berbentuk asap dan menggantung di udara berputar-putar.
Langkahnya terasa berat ketika dia berjalan menghampiri sosok mayat yang menggeletak bergelung di puncak bukit karang yang menurun. Apa yang dikatakan orang tua itu terngiang di kedua telinga Layang Kemitir.”… turun dari kudamu. Melangkah ke tempat jenazahku tergeletak. Periksa mayatku sampai kau menemukan sesuatu….”
Layang Kemitir sampai di tempat mayat tergeletak. Perlahan-lahan dia berjongkok di samping mayat itu. Sesaat diperhatikannya mayat itu dengan dada berdebar. Di atas bukit orang tua penunggang kuda memandang ke bawah, memperhatikan setiap gerak yang dilakukan si pemuda. Setelah memandang sejurus barulah Layang Kemitir menyadari bahwa mayat yang tergeletak di hadapannya berada dalam keadaan utuh dan tidak berbau busuk. Hanya kulitnya saja yang tampak putih tak berdarah. Dengan tangan kiri gemetar Layang Kemitir membalikkan sosok mayat. Sesaat dia tersentak karena mayat itu dingin sekali seolah barusan dia menyentuh es!
Mayat kini tergeletak menelentang. Layang Kemitir pandangi mayat itu dengan dada berdebar. “Bagaimana aku harus memeriksa…?” pikir si pemuda. “Aku bisa mati berjongkok kalau harus menggerayangi mayat ini dengan kedua tanganku!” Sesaat pemuda ini jadi termangu bingung bercampur ngeri.
“Layang Kemitir) Mengapa kau tidak segera memeriksa jenazah? Jangan menunggu sampai aku habis kesabaran!”
Layang Kemitir memandang ke atas. Orang tua berwajah seram yang kini hanya tinggal seolah asap atau bayangan itu menatap tajam ke arahnya membuat si pemuda tambah bergidik.
“Sesuatu…. Aku harus menemukan sesuatu…. Mungkin senjata….” Layang Kemitir pergunakan dua tangannya meraba ke pinggang mayat. Polos, tak ada apa-apa. Sementara tangannya yang bersentuhan dengan mayat terasa sedingin es. “Mungkin sebilah pedang sakti. Disisipkan di punggung….” Pikir Layar Kemitir. Lalu dengan tangan gemetar mayat dimiringkan. Tangannya kini meraba dan memeriksa di bagian punggung yang bungkuk. Dia tidak menemukan apa-apa.
“Layang Kemitir! Lekas selesaikan pekerjaanmu! Waktuku hampir habis!” Di udara suara orang tua itu kembali menggema aneh, membuat Layang Kemitir semakin bingung dan takut. Mayat dibalikkannya kembali. Pada saat itulah sebuah benda tersembul dari balik baju di bagian dada mayat.
“Mungkin ini benda yang dimaksudkan orang tua itu…” membatin Layang Kemitir. Dengan tangan gemetar benda yang tersembul segera ditariknya. Begitu tangannya menyentuh benda itu di langit kilat tiba-tiba menyambar. Guruh menggelegar. Puncak bukit karang bergetar dan ringkik kuda coklat membahana. Di sebelah sana Walet Hitam ikut pula meringkik.
“Ada hawa aneh mengalir dari benda ini ke dalam tubuhku…” kata Layang Kemitir dengan hati ikut bergetar. Si pemuda perhatikan benda yang dipegangnya dengan tangan gemetar. Ternyata sebuah kitab tipis dari daun lontar yang sudah sangat tua, bernoda darah, lusuh dan lembab. Pada sampul kitab tertera tulisan berbunyi Matahari. Sumber Segala Kesaktian.
“Layang Kemitir!”
Di atas bukit karang menggelegar suara orang tua bungkuk berpakaian putih, membuat Layang Kemitir terdongak dan memandang ke atas.
“Kau ternyata berjodoh dengan kitab itu! Langit dan bumi menjadi saksi! Dengar baik-baik anak muda! Mulai saat ini kau harus melupakan masa silammu. Mulai saat ini kau tidak akan ingat lagi masa silam dan siapa dirimu. Mulai saat ini nama Layang Kemitir harus kau pendam ke pusar bumi. Mulai saat ini namamu adalah Utusan Dari Akhirat! Jika ada orang bertanya siapa dirimu, siapa namamu. Maka jawabmu: adalah Utusan Dari Akhirat! Kau dengar anak muda?”
“Aku… aku mendengar…” jawab Layang Kemitir seperti berada dalam satu pengaruh kekuatan yang membuatnya patuh.
“Siapa namamu anak muda?!”
“Aku Utusan Dari Akhirat!”
Orang tua di atas bukit tertawa mengekeh.
“Utusan Dari Akhirat! Saat ini kau memiliki sebuah kitab berisi ilmu kesaktian yang bersumber pada kekuatan Matahari. Hanya ada empat manusia di atas jagat ini yang memiliki ilmu kesaktian itu. Hanya empat! Setelah itu tak ada lagi yang berhak! Tiga dari empat orang itu telah mati menemui ajal!”
“Siapa saja mereka itu, orang tua…?” Layang Kemitir beranikan diri bertanya.
“Yang pertama adalah guruku. Dia sudah lama mati. Yang kedua diriku sendiri yang semasa hidup disebut dengan julukan Si Muka Bangkai alias Si Muka Setan. Walau belum lama tapi aku juga sudah mati. Orang ke tiga adalah muridku berjuluk Pangeran Matahari, Dia juga belum lama mati! Yang ke empat dan yang terakhir adalah dirimu. Utusan Dari Akhirat!”
Layang Kemitir jadi ternganga mendengar ucapan orang tua mengaku berjuluk Si Muka Bangkai atau Si Muka Mayat itu. Lama dia menatap kitab lusuh di tangannya. Ketika dia hendak membuka sampul penutup kitab tiba-tiba di atasnya si kakek membentak.
“Jangan kau berani membuka kitab sakti itu sebelum aku pergi dari sini!”
“Maafkan aku, orang tua….” Layang Kemitir cepat menutup kitab itu kembali.
“Sekarang kau dengar baik-baik Utusan Dari Akhirat! Ada saat memberi. Ada saat memintal Aku telah memberikan satu kitab berisi ilmu silat dan kesaktian yang sulit dicari tandingannya di muka bumi ini! Sebagai imbalannya kau harus melakukan sesuatu untukku. Kau dengar Utusan Dari Akhirat?!”
“Saya dengar….”
“Kau bisa memiliki ilmu silat dan kesaktian di dalam kitab itu dalam waktu singkat. Karena aku tahu sebagai cucu seorang Pangeran kau telah memiliki dasar ilmu silat serta penguasaan tenaga dalam. Kau hanya membutuhkan waktu tiga kali purnama untuk mempelajari kitab Matahari, Sumber Segala Kesaktian yang kini jadi milikmu. Setelah kau menguasai ilmu silat dan kesaktian ini maka itulah saat bagimu untuk terjun ke dalam rimba persilatan. Kau harus mencari tiga anak manusia dan harus membunuh mereka. Dengar baik-baik Utusan Dari Akhirat! Orang pertama adalah seorang pemuda luar biasa gemuk bernama Santiko, bergelar Bujang Gila Tapak Sakti. Dialah bangsat yang telah membunuhku! Ingat baik-baik. Namanya Santiko! Gelarnya Bujang Gila Tapak Sakti!” (Mengenai kematian Si Muka bangkai yang adalah guru Pangeran Matahari harap baca serial Wiro Sableng Episode berjudul Kiamat Di Pangandaran. Sedang perihal riwayat Bujang Gila harap baca serial Wiro Sableng berjudul Bujang Gila Tapak Sakti).
“Orang ke dua yang harus kau cari dan kau bunuh adalah seorang pemuda bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 2121”
“Kalau aku boleh bertanya, siapakah orang itu adanya?”
“Dia adalah sahabat Bujang Gila Tapak Sakti, murid seorang nenek sakti di Gunung Gede bernama Sinto Gendeng! Dialah bangsatnya yang telah membunuh muridku Pangeran Matahari! Ingat nama dan gelar itu baik-baik. Wiro Sableng alias Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!”
“Akan kuingat sesuai perintahmu, orang tua…. Siapakah orang yang ke tiga?”
“Bangsat tua renta dikenal dengan julukan Tua Gila!”
“Apa permusuhan atau kesalahan orang ketiga itu?”
“Ketika terjadi pertempuran besar di bukit ini beberapa waktu yang silam, bangsat tua itu ikut menanam andil atas kematianku dan kematian muridku) Utusan dari Akhirat, aku sudah bicara dan kau sudah mendengar. Apa ada sesuatu yang hendak kau sampaikan sebelum aku pergi?!”
Layang Kemitir terdiam sesaat. Lalu dia jatuhkan diri berlutut. “Orang tua, perkenankan aku memanggilmu Guru. Perkenankan aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu memberikan kitab ini….”
Si Muka Bangkai tertawa dan menjawab. “Kau boleh memanggil dan mengenang diriku sebagai Guru. Aku terima ucapan terima kasihmu. Tetapi aku bukan orang baik seperti katamu. Ha… ha… ha!”
Suara tawa Si Muka Bangkai yang membahana tiba-tiba lenyap. Layang Kemitir memandang ke atas. Orang tua bungkuk itu dan kuda coklatnya tak ada lagi di atas bukit karangi
“Aku tidak bermimpi. Aku tidak berada dalam sirapan ilmu hitam. Kitab ini bukti segala-galanya…” kata Layang Kemitir dengan suara bergetar. Dia memandang lagi ke langit. Lalu perhatiannya tertuju pada kitab yang dipegangnya. Agak gemetar sampul kitab itu dibukanya. Di halaman pertama terpampang gambar matahari besar, dikelilingi tujuh garis warna. Warna hitam, kuning dan merah tampak lebih lebar dan jelas dibanding empat warna lainnya.
Di halaman ke dua terbaca serangkaian tulisan berbunyi:

Hanya ada empat manusia yang layak memiliki dan mempelajari kitab ini.
Yang pertama diriku sendiri
Yang kedua pewarisku Si Muka Bangkai
Yang ke tiga murid Si Muka Bangkai
Yang ke empat dan terakhir
Yang berjodoh dengan kitab ini
dan kusebut dengan nama Utusan Dari Akhirat

Layang Kemitir diam terkesiap beberapa lamanya. “Sukar kupercaya. Utusan Dari Akhirat agaknya telah dipersiapkan sejak lama. Ternyata aku orangnya….” Perlahan-lahan pemuda itu melanjutkan membuka halaman kitab berikutnya.
Di halaman itu tertulis: Jurus sakti “Pukulan Gerhana Matahari”. Belum sempat Layang Kemitir meneruskan membaca tiba-tiba kilat menyambar laksana membelah langit. Sesaat udara terang benderang. Lalu gelegar guntur menggetarkan puncak bukit karang. Di sebelah sana Walet Hitam meringkik keras. Mendadak hujan deras mencurah turun. Layang Kemitir cepat masukkan kitab “Matahari, Sumber Segala Kesaktian” ke balik pakaiannya. Lalu lari mendapatkan kuda hitamnya dan di bawah hujan lebat serta tiupan angin kencang segera tinggalkan puncak bukit karang di sebelah barat Teluk Penanjung Pangandaran itu.
Di atas kuda hitamnya Layang Kemitir merasa heran tapi diam-diam juga merasa gembira. Waktu lari dan melompat ke atas kuda tadi tubuhnya terasa ringan, gerakannya enteng dan gesit. “Satu perubahan terjadi dengan diriku. Kitab sakti pemberian orang tua itu…. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Pemuda itu berusaha mengingat-ingat keadaan dirinya di masa lalu. Tapi aneh. Bagaimanapun dia berusaha dia tidak mampu melakukannya.
“Siapa diriku ini sebenarnya…? Siapa namaku? Dari mana aku berasal sebelumnya? Mengapa aku bisa berada di puncak bukit karang tadi? Aku… aku Utusan Dari Akhirat?!” Bahkan Layang Kemitir tidak mampu mengingat namanya sendiri. Di hadapannya kini membentang satu kehidupan baru yang serba asing. Dia tidak sadar dan tidak tahu lagi kehidupan masa lalunya.

*
* *

TIGA

Perahu kayu yang bocor dan berisi air sampai dua pertiganya itu mendarat di bawah hujan lebat di pesisir utara di satu tanjung yang sepi. Dua orang melompat turun laksana terbang. Dari gerakan mereka jelas keduanya memiliki kepandaian tinggi. “
emalukan! Kalau tidak lekas mencapai daratan, perahu bocor itu akan menenggelamkan kita di tengah laut!” Salah satu dari dua orang yang barusan melompat turun berkata sambil menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.
Orang yang diajak bicara, seorang nenek bertopi tinggi berbentuk eluk tanduk kerbau, mengenakan mantel hitam yang robek salah satu ujungnya memandang ke tengah laut. Tanpa berpaling pada orang di sebelahnya dia berkata.
“Iblis Pemalu, aku ingin tahu apa alasanmu tidak mau melanjutkan perjalanan bersama-sama….”
“Nenek Sabai, aku malui Kau kembali menanyakan hal itu. Sudah kubilang aku malu, kau juga bisa malu. Kita sama-sama malu!”
“Aku tahu apa alasanmu yang sebenarnya….”
“Coba kau bilang jika kau tidak malu,” ujar orang yang dipanggil dengan sebutan Iblis Pemalu tadi.
“Kau tidak senang karena maksud dan tujuan perjalananku selanjutnya di tanah Jawa ini adalah mencari dan membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng dan gurunya nenek sakti bernama Sinto Gendeng itu! Karena mereka adalah sahabat-sahabatmu. Bukankah begitu?!”
Iblis Pemalu terdiam tapi cepat menjawab. “Tidak kujawab memalukan. Kalau kujawab juga memalukan! Ha… ha… ha…”
“Kau tidak bisa berdusta padaku Iblis Pemalu. Aku melihat sinar aneh di kedua matamu waktu aku memberi tahu beberapa waktu lalu….”
Iblis Pemalu geleng-geleng kepala. “Aku sudah bilang bagiku semua orang adalah sahabat. Aku merasa malu kalau sampai mempunyai musuh. Urusanmu adalah urusanmu! Tugasmu adalah tugasmu! Memalukan kalau aku mencampuri walau hanya sekedar memberi pendapat….”
“Hmmm, jadi sebenarnya kau punya suatu pendapat atas tugasku itu?” tanya Sabai Nan Rancak.
“Tidak, itu juga tidak. Itu juga memalukan bagiku! Aku hanya ingin mengatakan begini. Kau adalah, orang baik. Setiap orang baik jika mau kembali ke hati nurani dan lubuk hatinya yang terdalam, dia akan melakukan segala yang terbaik. Dia tidak akan terpengaruh oleh siapapun. Hingga dalam hidupnya dia tidak pernah mendapat malu dan tidak pernah memberi malu orang lain….”
Hati Sabai Nan Rancak menjadi tidak enak mendengar ucapan Iblis Pemalu itu. Maka dia segera saja berkata.
“Baiklah sobatku Iblis Pemalu. Jika kau tidak mau melanjutkan perjalanan ke selatan bersama-sama, tak jadi apa. Aku senang selama ini kita bisa bersama, berbincang-bincang bertukar pikiran. Mudah-mudahan di lain waktu kita bisa bertemu lagi….”
“Aku tidak akan malu jika memang bisa bertemu denganmu lagi Nenek Sabai. Biarlah saat ini aku mengucapkan selamat jalan padamu….”
“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Sabai Nan Rancak.
“Eh, apa maksudmu Nek?” tanya Iblis Pemalu.
“Kita sahabat perjalanan. Berpisah Saling berpelukan berbagi rasa adalah hal biasa saja….”
“Ah…. Hemmm….” Iblis Pemalu jadi salah tingkah. Kedua telapak tangannya semakin ketat menutupi wajah. Dia mundur satu langkah ketika si nenek mendekatinya. “Terima kasih kau mau berbuat sesuatu yang menyentuh perasaanku. Tapi aku malu Nek. Sudah tua bangka begini masih dipeluk orang. Masakan kau mau memelukku dan aku mau dipeluk olehmu? Walaupun sebenarnya….”
“Walaupun sebenarnya apa?!” tanya Sabai Nan Rancak ketika Iblis Pemalu memutuskan ucapannya.
“Sudahlah! Lama-lama bicara salah melulu membuat aku tambah malu!” kata Iblis Pemalu. “Selamat jalan Nek.”
Sabai Nan Rancak pandangi orang di hadapannya itu sesaat. “Dia tak mau kupeluk. Aneh, apa salahnya sesama perempuan saling berpelukan jika berpisah. Atau mungkin dugaanku salah. Dia bukan seorang….” Sabai Nan Rancak hentikan suara hatinya. Dia menarik nafas dalam, mengangkat bahu lalu memutar tubuh tinggalkan tempat itu.
Lama setelah Sabai Nan Rancak pergi baru Iblis Pemalu melangkah. Tapi dia tidak meninggalkan tempat itu melainkan duduk di balik sebuah batu besar, menghadap ke tengah laut. Saat itu hujan telah berhenti dan cuaca perlahan-lahan berubah cerah. Ternyata pemandangan di tanjung itu indah sekali. Namun Iblis Pemalu tidak memperhatikan atau menikmati pemandangan itu. Perlahan-lahan kedua tangannya yang selalu dipergunakan menutupi wajahnya diturunkan.
“Laut biru… langit putih bersih tapi pikiranku tidak padamu. Nenek Sabai Nan Rancak…. Siapa kau sebenarnya? Apakah kau benar orang yang kucari selama ini? Jika benar apakah akan terkabul harapanku untuk menemukan dia yang aku damba dan rindukan? Apakah aku juga akan menemukan saudaraku yang hilang…? Tuhan, apa betul aku memiliki seorang saudara? Kalau betul tunjukkan siapa dia, dimana dia berada. Dunia begini lebar Manusia begini banyak. Tuhan, datangkanlah kebesaranMu padaku. Tunjukkan dimana mereka berada. Pertemukan aku dengan orang-orang yang kudamba dan kukasihi itu. Hanya kuasa dan kasihMulah yang mampu melakukan semua itu…. Datuk Bulu Lawang, kita memang tidak sedarah tidak sekandung. Namun kau lebih dari seorang kakak bagiku. Aku minta maaf beribu maaf karena tidak dapat membalaskan sakit hati kematianmu pada dua orang itu. Terus terang ada keraguan di hatiku bahwa lantaran mereka kau menemui ajal. Aku menaruh kesangsian bahwa orang-orang Lembah Akhirat mengatur semua ini…. Ya Tuhan beri petunjuk apa yang harus aku lakukan. Kemana aku harus melangkah….” (Mengenai Datuk Bulu Lawang harap baca serial Wiro Sableng berjudul Dendam Manusia Paku)
Tak terasa sepasang mata Iblis Pemalu merebak basah. Air mata menyusuri kelopak matanya lalu menggelinding jatuh ke pipi.
Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar sesuatu di balik batu. Dia cepat melompat sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan lalu bergerak ke balik batu besar. Dia hanya sempat melihat sesosok bayangan berkelebat melarikan diri, menyelinap ke balik batu-batu dan semak belukar di sebelah sana lalu lenyap. Walau hanya sekilas namun Iblis Pemalu masih dapat mengenali.
“Sabai! Kau berani mengintipku! Memalukan sekali!” Dada Iblis Pemalu tampak turun naik. Dalam hati dia merasa khawatir. “Jangan-jangan dia mendengar keluh kesah diriku tadi…. Apa yang harus kulakukan sekarang? Mengejarnya?!” Iblis Pemalu menarik nafas dalam lalu kembali ke tempat duduknya semula di depan batu besar, menghadap ke tengah laut.
Di lembah menurun yang sarat dengan pohon-pohon kelapa itu Sabai Nan Rancak terduduk di tanah. Dia berusaha menenteramkan diri, menekan guncangan hatinya yang membuat dadanya berdebar keras.
“Iblis Pemalu…” desis si nenek. “Ucapanmu banyak yang menyentuh hati dan perasaanku. Siapa kau sebenarnya? Aku sempat mendengar desah ucapanmu tadi. Iblis Pemalu, kalau kau bukannya…. Siapa yang kau cari selama ini? Diriku…? Pikiranku kacau. Hatiku tidak tenteram. Hanya Tuhan yang tahu ada apa sebenarnya di antara kita. Aku ingat waktu aku menyentuh lenganmu di atas perahu. Kau bukan seperti apa ujudmu yang kelihatan. Lenganmu begitu mulus dan lembut. Kau…. Ya Tuhan…. Mungkinkah dugaan ini? Kalau saja aku bisa melihat wajahmu yang selalu ditutupi itu. Aku yakin di balik semua yang serba rahasia ini pasti ada seseorang yang mengetahui asal muasal kejadian dan peristiwanya. Tapi siapa orangnya? Menantu jahanam itu tak diketahui lagi dimana rimbanya. Lalu anakku Andam Suri, tak pernah kuketahui di tanah mana kuburnya, di negeri mana makamnya. Nasib kalian malang benar…. Ah, mau pecah kepalaku memikirkan semua ini! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Meneruskan perjalanan atau menemuinya kembali di pantai? Menanyainya habis-habisan?! Aku akan melakukan itu! Aku harus menemuinya. Aku harus bicara dan menanyainya!”
Habis berkata begitu si nenek cepat berdiri. Dia berlari ke arah pantai secepat yang bisa dilakukannya. Sebentar saja dia sudah berada di belakang batu besar itu.
“Iblis Pemalu! Kau harus berterus terang padaku!” seru Sabai Nan Rancak. Namun si nenek kecewa besar. Ketika dia menyelinap di balik batu besar yang menghadap ke pantai, Iblis Pemalu tidak ada lagi di tempat itu. Sabai Nan Rancak terduduk di pasir. Dia tidak sadar berapa lama dia duduk di tempat itu sampai ujung jubah hitam dan Mantel Sakti yang dikenakannya basah oleh percikan ombak yang memecah di pasir.

*
* *

EMPAT

Seperti dituturkan dalam Episode sebelumnya (Jagal Iblis Makam Setan) orang-orang Lembah Akhirat dibawahi pimpinan Pengiring Mayat Muka Merah berhasil membujuk Sika Sure Jelantik hingga mau diajak ke Lembah Akhirat. Kedatangan salah satu dari pembantunya yang membawa nenek sakti itu membuat Datuk Lembah Akhirat gembira sekali. Dia langsung menemui Sika Sure Jelantik yang ditempatkan di sebuah kamar bagus, dibaringkan di atas ranjang empuk.
“Nenek sakti tokoh besar dunia persilatan Sika Sure Jelantik!” kata Datuk Lembah Akhirat. Dia berdiri di samping ranjang lalu membungkuk memberi hormat. “Kita memang belum pernah bertemu. Namun nama besarmu telah sejak lama mampir di telingaku….”
Sika Sure Jelantik kerenyitkan kening. Matanya memandang menyipit tak berkedip. Di samping ranjang dimana dia dibaringkan tegak seorang tinggi besar berjubah hitam. Kumis, jenggot dan cambang bawuknya meliar menutupi wajahnya yang berwarna tiga. Merah, hitam dan hijau. Lengannya yang tersembul dari ujung jubah juga penuh bulu. Demikian juga dada dan lehernya.
“Apakah aku berhadapan dengan penguasa Lembah Akhirat? Sang Datuk…?” Sika Sure Jelantik bertanya.
“Betul sekali….” „
“Ah, aku ingin membalas penghormatanmu. Tapi kau lihat sendiri keadaanku….”
“Nenek Sika, tidak usah repot-repot memakai peradatan. Berbaring saja seenakmu. Aku tahu kau dalam keadaan sakit dan keracunan. Pembantuku Si Muka Merah telah memberitahu apa yang kau alami. Sungguh orang-orang golongan putih belakangan ini bertindak diluar batas. Kawan segolongan dianiaya seperti ini…. Tapi kau tak usah kawatir Nenek Sika. Aku akan menolongmu. Pertama sekali kau harus meneguk sejenis obat agar racun yang telah menjalar di dalam tubuhmu musnah!”
Habis berkata begitu Datuk Lembah Akhirat bertepuk dua kali. Seorang lelaki yang muka dan rambutnya dicat hijau muncul membawa sebuah poci kecil terbuat dari perak, Poci itu diberikannya pada Datuk Lembah Akhirat. Dengan cepat sang Datuk membuka penutup poci. Asap tipis berwarna biru mengepul keluar dari dalam poci yang terbuka. Sekali meniup maka asap itupun sirna.
“Nenek Sika, silakan kau teguk obat ini sampai habis,” kata Datuk Lembah Akhirat seraya mendekatkan bibir poci ke mulut si nenek sementara pembantu bermuka hijau meninggikan kepala Sika Sure Jelantik. Si nenek mencium bau harum dari hawa hangat. Karenanya tanpa ragu dia segera meneguk cairan yang ada dalam poci sampai habis. Wajahnya yang semula pucat tampak agak bercahaya.
“Bagaimana rasanya obat yang barusan kau teguk?” tanya Datuk Lembah Akhirat.
“Enak, manis. Rasanya bukan seperti obat…” jawab Sika Sure Jelantik.
Datuk Lembah Akhirat tertawa dan kerlingkan matanya pada Pengiring Mayat Muka Merah yang tegak di sampingnya.
“Aku selalu memberikan obat yang terbaik dan termujarab untuk seorang sahabat sepertimu!” kata Datuk Lembah Akhirat lalu poci yang telah kosong dikembalikannya pada pembantunya seraya berkata. “Cepat bawakan kemari bubuk putih penyembuh luka pemusnah racun ular!”
Pembantu bermuka hijau itu cepat keluar. Tak lama kemudian dia kembali membawa sebuah batok kelapa berisi bubuk berwarna putih.
“Nenek Sika sahabatku,” kata Datuk Lembah Akhirat pula. “Racun dalam darahmu telah musnah. Namun masih ada racun yang menempel di kedua kakimu yang patah. Aku tidak akan mengikis dan membuang tumbukan daun beracun yang ada di kedua kakimu. Sungguh kejam perbuatan orang terhadapmu! Nenek Sika, bubuk putih ini akan menawarkan racun tumbukan daun. Sekaligus mengobati tulang yang patah dan daging yang terluka. Kau tak usah kawatir. Tak ada rasa sakit. Malah kau akan merasa kedua kakimu dingin sejuk….”
Datuk Lembah Akhirat memberikan isyarat pada pembantu di sebelahnya. Si Muka Hijau ini segera menaburkan bubuk putih di dalam batok kelapa ke atas kaki kiri kanan Sika Sure Jelantik.
“Nah, apa kataku. Kau sama sekali tidak merasa sakit bukan, Nenek Sika?”
“Tidak…. Seperti katamu, aku malah merasa sejuk pada kedua kaki celaka ini!” jawab Sika Sure Jelantik lalu tertawa mengekeh.
Setelah menaburkan bubuk putih itu si pembantu segera keluar dari ruangan. Datuk Lembah Akhirat pegang lengan si nenek. Lalu berkata. “Kau beruntung cepat datang ke sini. Terlambat sedikit saja aku tak mungkin menolongmu….”
“Aku berterima kasih padamu. Juga pada pembantumu yang bermuka merah itu!” jawab Sika Sure Jelantik seraya memandang pada Pengiring Mayat Muka Merah. Orang ini tersenyum dan anggukkan kepalanya.
“Dalam waktu dua hari tulangmu yang patah akan bertaut. Luka di kedua kakimu akan sembuh. Namun kau butuh tiga hari untuk istirahat sebelum kau benar-benar pulih dan boleh berjalan….”
“Terima kasih…” kata Sika Sure Jelantik senang sekali. Sebenarnya nenek ini sama sekali tidak mengetahui bahwa obat minum yang tadi ditelannya hanyalah air gula biasa sedang bubuk yang ditebarkan di kedua kakinya adalah semacam tawas. Tidak diobatipun kedua kakinya bakal sembuh dalam waktu beberapa hari lagi yaitu berkat obat daun tumbuk yang diberikan oleh Tua Gila. Si nenek tidak tahu kalau orang sudah menipu dan menjalankan jerat atas dirinya.
“Nenek Sika, sebetulnya banyak yang akan aku bicarakan denganmu. Tapi kau butuh istirahat. Aku akan kembali menemuimu dua hari lagi….”
“Datuk Lembah Akhirat, walau kedua kakiku sakit tapi aku tak kurang suatu apa. Jika memang ada hal-hal yang ingin kau bicarakan aku mempersilakan….”
“Nenek Sika, kau sungguh baik. Kalau kau memang suka kita bicara sekarang aku merasa sangat gembira.” kata Datuk Lembah Akhirat pula. Lalu dia bertanya. “Nenek Sika, mengapa kau mengalami nasib buruk seperti ini. Apa benar tokoh yang berjuluk tua Gila itu yang mencelakai dirimu?”
“Aku berkelahi melawan seorang sakti aneh berjuluk Iblis Pemalu…. Dia yang membuat kedua kakiku cidera begini rupa.” Menerangkan Sika Sure Jelantik.
“Iblis Pemalu! Satu tokoh yang sebelumnya tak dikenai. Begitu muncul melakukan berbagai kejahatan aneh. Aku mendengar dari pembantuku Pengiring Mayat Muka Merah, bahwa seorang tokoh bergelar Tua Gila katanya berusaha menolongmu. Padahal yang diberikannya padamu bukannya obat melainkan racun! Heran, mengapa Tua Gila berbuat sejahat itu. Padahal aku tahu betul dia adalah seorang tokoh silat golongan putih.”
“Antara aku dan dia ada dendam kesumat lama yang tidak akan selesai sebelum salah satu dari kami menemui ajal!”
“Hemmm…. Kalau begitu ceritanya, Tua Gila patut menerima hukuman yang setimpal atas kejahatannya!” Datuk Lembah Akhirat mulai membakar.
“Hukuman memang sudah aku tetapkan baginya Datuk. Begitu aku sembuh, aku akan segera mencarinya dan membunuhnya!”
“Sahabatku Nenek Sika Sure Jelantik. Dalam urusan balas dendam jangan bertindak terburu-buru. Kita harus punya perhitungan masak. Ilmu kesaktian tidak ada gunanya kalau tidak disertai akal pikiran. Aku dan orang-orangku akan membantumu menyelesaikan urusan dengan Tua Gila. Namun, aku punya satu titipan untukmu…. Ah, mungkin hal ini terlalu cepat aku katakah. Biar kita bicarakan hal lain lebih dulu….”
“Datuk, aku dengar tokoh besar berjuluk Dewa Sedih telah bergabung denganmu….”
“Betul sekali sahabatku. Dia tengah bersiap-siap menjalankan satu tugas besar. Membunuh seorang pemuda berjuluk Pendekar 212….”
“Hemmm…. Pemuda itu adalah murid Tua Gila. Aku pernah mencoba menggebuknya tapi lolos. Pendekar 212 memang pantas dilenyapkan dari muka bumi!” kata Sika Sure Jelantik pula.
“Aku gembira kita satu pendapat untuk melenyapkan Pendekar 212….”
“Datuk Lembah Akhirat, tadi kau menyebut soal titipan. Aku tidak mengerti. Apakah kau mau menerangkan?”
“Sebenarnya ini hanya akan merepotkanmu saja. Namun aku terpaksa meminta. Maukah kau menolongku melakukan sesuatu?”
“Datuk, kau telah menyelamatkan nyawaku. Apapun yang kau minta dan suruh akan aku penuhi kalau aku memang mampu melakukannya….”
“Aku ingin kau membunuh seorang kakek berjuluk Kakek Segala Tahu. Orang ini adalah tokoh golongan putih sesat yang ilmu kepandaiannya bisa mencelakai Lembah Akhirat…. Orang ini adalah sahabat Pendekar 212, sahabat Tua Gila….”
“Datuk, aku bersedia dibawa ke sini. Kau dan orang-orangmu telah menyelamatkan diriku. Apa lagi yang terbaik bagiku untuk membalas budi selain bergabung denganmu dan melakukan apa yang kau inginkan!”
“Nenek Sika, aku gembira mendengar ucapanmu. Benar-benar gembira…” kata Datuk Lembah Akhirat. “Apakah pembantuku Pengiring Mayat Muka Merah pernah menceritakan padamu tentang sebuah kitab sakti bernama Kitab Wasiat Malaikat?”
Sika Sure Jelantik anggukkan kepala. Sepasang matanya membesar.
“Kitab itu ada padaku. Semalam aku bermimpi. Mendapat semacam petunjuk bahwa kelak kitab itu harus kuserahkan padamu karena hanya kaulah yang berjodoh dengan kitab sakti tersebut.”
Sika Sure Jelantik seperti mau melompat mendengar kata-kata Datuk Lembah Akhirat itu. “Datuk, aku benar-benar berterima kasih padamu….”
“Aku harus pergi Nenek Sika. Dua hari lagi aku kembali. Kita perlu bicara lagi sebelum kau meninggalkan tempat ini.” Habis berkata begitu Datuk Lembah Akhirat memberi isyarat pada Pengiring Mayat Muka Merah. Kedua orang ini lalu tinggalkan ruangan itu.
Begitu berada di luar ruangan Datuk Lembah Akhirat berbalik pada Pengiring Mayat Muka Merah dan bertanya. “Apakah mata-mata kita yang menyelidik kedatangan Sabai Nan Rancak telah kembali memberikan laporan?”
“Sampai saat ini belum Datuk. Kita tunggu sampai dua hari dimuka….”
“Pengiring Mayat Muka Hijau masih belum kembali?”
“Belum Datuk. Mungkin kita perlu mengutus orang untuk menyelidik apa yang terjadi dengan dirinya….”
“Kuharap kau lekas mengatur hal itu. Mata-mata kita yang lain memberitahu bahwa banyak terlihat gerakan orang-orang tak dikenal sekitar Telaga Gajahmungkur. Harap kau beritahu Pengiring Mayat “Muka Hitam agar segera menghadapku. Hal itu perlu dibicarakan karena orang-orang yang muncul di sekitar telaga adalah diluar rencana kita!”
“Perintah akan saya lakukan Datuk….”
“Ada satu hal lagi. Beberapa hari lalu mata-mata kita yang bertugas di Selat Sunda menyirap kabar tentang munculnya seorang tokoh luar biasa yang menamakan dirinya Jagal Iblis Dari Makam Setan…. Selidiki siapa dia adanya dan kita harus bisa membuat dia bergabung di Lembah Akhirat ini!”
“Perintah akan saya lakukan Datuk…” jawab Pengiring Mayat Muka Merah.

*
* *

LIMA

Pada siang hari pemandangan di puncak bukit batu itu indah sekali. Sejauh puluhan tombak di daratan mata akan melihat bukit batu berwarna merah berseling coklat. Di sebelah depan membentang laut biru dihias oleh tebaran pulau-pulau batu yang didibawah sentuhan sinar matahari memantulkan warna-warna aneh dan bagus. Namun pada malam hari seperti saat itu semua keindahan itu sirna ditelan kegelapan.
Ada tujuh puncak batu merah bersusun membentuk setengah lingkaran, seolah membentengi teluk Parangtritis. Pada malam yang dingin itu, di salah satu puncak batu kelihatan sinar terang nyala api. Ternyata ada orang membuat api unggun di tempat itu. Dua orang gadis berparas jelita duduk mengelilingi perapian. Sebentar-sebentar mereka memandang ke arah legukan dinding batu yang membentuk sebuah goa kecil. Cahaya nyala api yang bergoyang-goyang di wajah dan tubuh mereka membuat paras masing-masing tampak aneh tetapi lebih menawan. Apalagi saat itu mereka mengenakan sebentuk pakaian ketat bermanik-manik yang terbelah tinggi di kedua sisinya. Sepertinya dua gadis ini tengah menunggu kemunculan seseorang.
Setelah lama menunggu, keduanya mulai merasa tidak sabaran. Salah seorang di antara mereka berbisik pada temannya.
“Aninia, menurutmu apakah Ratu akan kukuh pada pendiriannya untuk memilih tetap tinggal di alamnya yang sekarang?”
Gadis bernama Aninia tak segera menjawab. Dia seperti termenung. Selang beberapa ketika baru terdengar jawabannya. Suaranya perlahan. “Sulit aku menduga. Dunia kita yang sekarang bagaimanapun indahnya namun tetap bukan merupakan suatu alam yang wajar. Daya tarik dunia luar jauh lebih besar. Seandainya Ratu memilih tetap hidup di alam yang sekarang, apakah kau akan mengikuti?”
“Kau sulit menduga, aku sulit menjawab. Kita semua sangat dekat dengan Ratu. Agaknya kita hanya akan mengikut apa pilihannya. Jika dia bertahan, berarti kita tetap bersamanya. Jika dia memilih kehidupan yang baru, kita juga akan mengikuti. Rasa-rasanya sudah terlalu kasip bagi kita untuk kembali ke dunia luar. Tapi lebih baik semua kita serahkah pada putusan Ratu saja….”
“Aku setuju pendapatmu, Magini. Tetapi apakah….” Aninia tidak meneruskan ucapannya. Sikutnya digeserkan ke pinggang temannya.
Saat itu dari goa kecil di lamping batu merah melangkah keluar seorang perempuan muda berwajah sangat cantik. Celana panjang ringkas dan jubah dalam selutut berwarna hitam yang dikenakannya membuat kulitnya yang putih lebih berkesan dan menambah keanggunannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergesar lepas di punggung. Perempuan muda ini melangkah sambil membawa baju biru bertahta manik-manik yang dilipat rapi di atas mana terletak sebuah kalung, mahkota dan anting-anting serta: gelang yang semuanya terbuat dari kerang berwarna biru.
Magini dan Aninia sama-sama tercengang kagum menyaksikan kemunculan perempuan muda yang selama ini menjadi pimpinan mereka dan dipanggil dengan sebutan Ratu Duyung. Sebelumnya mereka selalu melihat Sang Ratu dalam pakaian yang ditaburi manik-manik putih berkilauan, rambut digulung dan diberi mahkota, wajah dihias. Kini semuanya berganti. Dalam pakaian serba hitam, rambut dibiarkan lepas begitu rupa dan tanpa riasan kecantikan Ratu Duyung kelihatan justru lebih asli dan menonjol. Terlebih sepasang bola matanya yang berwarna biru, indah sekali untuk dipandang.
Ratu Duyung melangkah menuju perapian lalu duduk di depan ke dua anak buahnya.
“Magini, pakaian, mahkota, kalung, gelang, dan anting-anting ini harap kau bawa kembali ke tempat kita. Simpan baik-baik dalam kamarku…. Aku tidak tahu sampai berapa lama akan berada di sini. Tidak dapat aku pastikan berapa lama aku akan mendapat petunjuk dari Yang Kuasa serta berhubungan dengan Maha Ratu Samudera. Karena itu kalian berdua lekas kembali ke tempat kita….”
“Ratu, kami berdua siap menunggu sampai kapanpun Ratu selesai melakukan penyepian diri ini….” kata Magini sambil menerima pakaian dan barang perhiasan yang diserahkan Ratu Duyung padanya.
“Kalian para pembantuku yang setia dan baik hati. Namun ada kalanya kesetiaan dan kebaikan itu tidak perlu dijadikan hal yang utama. Apapun hasil yang akan kudapat, aku akan kembali untuk memberitahu. Bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun selama ini kita berada di alam yang serba gaib dan aneh tanpa diri kita dimakan oleh usia. Ini antara lain karena perbedaan perhitungan dari antara dunia luar dan dunia kita. Kalau kita memasuki dunia luar, semua hal itu akan berubah. Siapkah kita menghadapi perubahan itu?”
Dua gadis di hadapan Sang Ratu lama terdiam. Namun, akhirnya Aninia membuka mulut. “Putusan apapun yang Ratu ambil, kami akan mengikuti dan rela menanggung segala akibatnya.”
“Kalau begitu, dan kalau tak ada lagi hal lain yang hendak kalian tanyakan maka sebelum pergi ada satu tugas yang harus kalian lakukan.”
“Kami siap menjalankannya Ratu,” jawab Magini dan Aninia berbarengan.
Dari balik jubah hitamnya Ratu Duyung mengeluarkan sebuah benda yang ternyata adalah seuntai kalung terbuat dari perak dan memiliki mata sebuah batu berwarna hijau pekat tetapi redup.
“Kalian dengar baik-baik. Aku yakin kalung ini adalah sebuah benda sangat berharga, paling tidak bagi pemiliknya. Kalung ini adalah milik seorang sahabat, seorang tokoh silat berjuluk Tua Gila. Ketika dia menemui malapetaka di tengah laut tempo hari, kalung itu terpisah dari dirinya. Karena dia dalam keadaan pingsan, kalung aku amankan dan simpan di satu tempat. Sayangnya ketika dia pergi aku tidak menemuinya. Kalung ini tertinggal. Berarti kalung ini harus aku kembalikan padanya. Aku tidak tahu akan berapa lama berada di sini. Karena itu aku menugaskan kalian untuk mencari Tua Gila dan menyerahkan kalung ini padanya. Kalian pernah melihat orang tua itu. Jadi aku tak perlu memberitahu ciri-cirinya. Siapa yang akan menyimpan dan membawa kalung ini?”
Aninia beringsut ke depan. Setengah membungkuk dia berkata. “Karena Magini akan membawa pakaian dan seperangkat perhiasan milik Ratu, biar saya yang membawa kalung itu….”
Ratu Duyung mengangguk lalu serahkan kalung perak bermata hijau yang bukan lain adalah Kalung Permata Kejora. Seperti dituturkan dalam Episode I (Tua Gila Dari Andalas) Raja Pulau Sipatoka yakni Rajo Tuo Datuk Paduko Intan memberikan kalung itu pada Tua Gila yang dikenalnya dengan nama Wiro Sableng. Kalung tersebut merupakan satu senjata sakti mandraguna yang sebenarnya harus diberikan pada puterinya yaitu Andam Suri dan merupakan satu-satunya senjata yang sanggup membunuh Tua Gila. Namun sebagaimana diriwayatkan Andam Suri dikabarkan menemui kematian. Karena itu Datuk Paduko Intan meminta bantuan Tua Gila untuk mengembalikan benda itu pada Sabai Nan Rancak, tanpa dia mengetahui bahwa orang tua di hadapannya saat itu adalah Tua Gila dan Sabai Nan Rancak adalah kekasih Tua Gila yang berniat membunuh Tua Gilai Karena tidak ingin rahasia dirinya terbuka maka Tua Gila menerima kalung itu dari Rajo Tua Datuk Paduko Intan yang sebenarnya adalah menantunya sendiri.
“Jaga kalung ini baik-baik seperti kau menjaga diri dan nyawamu sendiri, Aninia. Jangan kembali ke alam kita sebelum kau menemui Tua Gila dan menyerahkan kalung ini padanya! Berdasarkan penglihatanku melalui Cermin Sakti aku ketahui bahwa beberapa waktu lalu Tua Gila terlihat bersama Pendekar 212 Wiro Sableng. Mereka berada di satu kaki bukit di kawasan selatan. Tua Gila kemungkinan besar menuju ke sebuah lembah di sebut Lembah Akhirat tak berapa jauh dari Telaga Gajahmungkur. Sedang Pendekar 212 tak jelas ke mana tujuannya. Namun kuperkirakan dia tidak berada jauh dari kawasan telaga besar itu…. Aninia, terima kalung ini.”
“Pesan Ratu saya dengar. Perintah Ratu akan saya jalankan…” jawab Aninia. Lalu dia ulurkan kedua tangannya. Telapak tangan dikembangkan untuk menyambut Kalung Permata Kejora itu.
Namun tiba-tiba, secara tidak terduga berkelebat satu bayangan hitam. Aninia terpelanting dan terkapar di bebatuan. Magini ikut terbanting lalu terguling sampai dua tombak. Ratu Duyung keluarkan pekikan keras. Dengan cepat dia menarik pulang tangan kanannya yang barusan siap menjatuhkan Kalung Permata Kejora ke atas tangan Aninia. Lalu dengan satu gerakan kilat dia melesat ke belakang sambil tangan kirinya menghantam ke arah perapian. Kayu-kayu bernyala yang menerangi tempat itu hancur berpelantingan. Serta merta puncak bukit batu merah itu diselubungi kegelapan!

*
* *

ENAM

Walau tubuh mereka terasa sakit tak karuan, jantung berdebar dan darah mengalir kacau namun Magini dan Aninia cepat berdiri. Dua jari tangan masing-masing diacungkan tepat-tepat ke depan. Ujung jari dua gadis ini tampak memancarkan sinar biru. Melihat ini Ratu Duyung cepat memberi isyarat agar dua anak buahnya tidak melakukan serangan.
Di dalam gelap, sejarak sembilan langkah dari tempatnya berdiri Ratu Duyung melihat sosok tinggi seorang perempuan tua berambut putih, bertopi berbentuk tanduk kerbau, mengenakan mantel hitam.
“Orang tua tak dikenal, siapa kau?!” Ratu Duyung menegur.
Yang ditanya tidak segera menjawab. Rupanya dia masih terheran mungkin juga bercampur kagum atau jengkel karena tidak menyangka. Kemunculannya di bukit batu itu tidak diketahui oleh tiga orang gadis. Tapi mengapa gerakan kilatnya tadi tidak mampu merampas Kalung Permata Kejora dari tangan gadis cantik berpakaian serba hitam itu? Diam-diam dia juga bertanya-tanya siapa adanya ketiga orang itu karena dia hanya sempat mendengar sebagian terakhir dari percakapan mereka sedang perhatiannya tertuju penuh pada Kalung Permata Kejora.
“Kalau kau tidak Segera menjawab, jelas kau adalah seorang jahat yang hendak mencuri atau merampok barang milik orang laini” ujar Ratu Duyung dengan suara keras.
Sosok orang bermantel dalam gelap maju selangkah. Dari tenggorokannya keluar suara menggeram.
“Siapa diriku kau dan orang-orangmu tak perlu tahu. Aku datang dengan satu maksud. Maksud berubah menjadi perintahi Serahkan Kalung Permata Kejora padaku!”
Orang yang bicara julurkan tangan kanannya membuat gerakan meminta. Dia bukan lain adalah Sabai Nan Rancak. Ketika tadi dia menyusuri pantai, dari kejauhan dia melihat nyala api di salah satu puncak bukit batu. Penuh rasa ingin tahu, nenek sakti dari Andalas ini segera mendaki bebukitan batu merah di tepi pantai untuk menyelidik. Si nenek terkejut besar ketika sampai di puncak bukit yang diterangi nyala perapian bakal menemukan satu hal yang tidak pernah diduganya. Seorang gadis cantik berpakaian serba hitam yang dipanggil dengan sebutan Ratu tengah menyerahkan sebentuk kalung perak bermata hijau pada seorang gadis yang duduk bersimpuh di hadapannya. Keterkejutan ini adalah karena kalung itu dikenalinya bukan lain adalah Kalung Permata Kejora yang selama ini lenyap tak diketahui di mana rimbanya.
“Hmmmm….” Ratu Duyung bergumam. “Kau meminta barang yang bukan milikmu! Kau memerintahkan aku menyerahkan sesuatu yang bukan punyamu. Apa namanya ini? Rampok? Begal di malam hari?!”
“Terserah kau mau menyebut apa! Tapi dengar baik-baik! Kau masih muda belia. Masa depanmu masih panjang. Tentu banyak kebahagiaan dunia yang belum kau rasakan….”
“Eh, apa maksudmu?!” bentak Ratu Duyung.
“Maksudku kalau kau tidak segera menyerahkan kalung bermata hijau itu maka umurmu hanya sampai malam hari ini saja. Selanjutnya rohmu akan gentayangan tak tahu juntrungan!” Ratu Duyung tertawa panjang.
Aninia yang tidak sabar berseru. “Ratu! Biar aku membunuh tua bangka gila yang kesasar ini sekarang juga!”
“Hmmm! Jadi dia seorang Ratu rupanya. Ratu apa?!” ujar Sabai Nan Rancak lalu balas tertawa lebih keras.
“Kalung ini bukan milikmu! Mengapa kau hendak merampasnya?!” Ratu Duyung bertanya dengan suara lantang. Diam-diam dia luruskan jari telunjuk tangan kirinya sementara Kalung Permata Kejora dipegangnya erat-erat di tangan kanan.
“Kau tahu apa soal kalung itu! Benda itu lenyap sejak bertahun-tahun! Aku pemiliknya! Jadi harus dikembalikan padaku!”
“Siapa percaya pada cerita bohongmu! Aku tahu sekali riwayat kalung ini!”
“Gadis setan! Kau tahu apa mengenai riwayat kalung itu!” hardik Sabai Nan Rancak.
“Nenek gila!” balas Ratu Duyung. “Kalung ini adalah milik seorang sahabatku bernama Tua Gilai Kepadanyalah aku akan mengembalikan! Bukan padamu! Monyet tua kesasar dan temaha harta orang lain!”
Marahlah Sabai Nan Rancak mendengar ucapan caci maki Ratu Duyung itu. Dia angkat tangan kanannya lalu laksana kilat lepaskan pukulan Kipas Neraka ke arah Ratu Duyung. Satu sinar merah melesat ke depan lalu mengembang membentuk kipas.
“Ratu awasi” teriak Magini dan Aninia. Dua gadis anak buah Ratu Duyung segera angkat tangan kanan masing-masing. Ratu Duyung tak tinggal diam.
Tiga larik sinar biru menderu menghantam Sabai Nan Rancak dari tiga jurusan. Inilah ilmu kesaktian paling hebat yang dimiliki oleh Ratu Duyung dan anak buahnya. Jangankan tubuh manusia, tembok batu setebal apapun akan jebol dan hancur berentakan dilanda sinar biru itu.
Sabai Nan Rancak yang tidak tahu siapa adanya Ratu Duyung dan juga tidak pernah mendengar kehebatan ilmu Ratu dari alam gaib ini walaupun kaget dapatkan dirinya dihantam serangan dari tiga jurusan, namun tidak menarik seranganya. Dia melompat sambil menambah dorongan kekuatan tenaga dalam. Pukulan sakti Kipas Neraka yang dilepasnya bersibak ke kiri dan ke kanan. Namun baru saja sinar pukulan maut ini menebar membentuk kipas untuk menghantam tiga lawan sekaligus, bersamaan dengan itu tiga larik sinar biru sampai melabrak.
“Bummm!”
“Bummm!”
“Bummm!”
Tiga dentuman keras mengguncang. Bukit batu merah bergetar hebat. Dua nyala api tampak di lamping bukit batu merah yang terkena cipratan pukulan Kipas Neraka sebelum pukulan sakti ini terbelah-belah dan sirna berentakan. Sabai Nan Rancak sendiri tampak jatuh berlutut. Tubuhnya bergetar keras. Wajah putihnya yang tua keriputan tampak pucat seolah tak berdarah. Sadar kalau dia tidak menderita cidera apa-apa si nenek cepat bangkit berdiri.
Saat itu di sebelah kiri Aninia tampak mencoba bangun terbungkuk-bungkuk. Namun gadis ini kembali roboh. Waktu terjadi bentrokan pukulan sakti tadi dia berada paling dekat dengan Sabai Nan Rancak hingga hantaman kekuatan lawan mendera tubuhnya paling telak. Darah tampak mengucur dari mulutnya. Untuk beberapa lamanya gadis ini terkapar di atas batu tanpa bisa berkutik. Agaknya nyawanya tidak tertolong lagi.
Di sebelah Magini mengerang panjang. Walau darah juga keluar dari mulutnya namun lukanya tidak seberapa parah. Gadis ini masih mampu bangkit dan kumpulkan kekuatan. Kedua tangannya diangkat tanda dia hendak menyerang kembali.
Tujuh langkah di hadapan Sabai Nan Rancak, Ratu Duyung tersandar ke dinding batu. Mukanya tampak pucat pasi. Dadanya berdebar kencang dan urat-urat besar di lehernya yang jenjang bergerak turun naik.
“Perempuan tual Kenapa kau menjatuhkan tangan jahat terhadap kami?!” ujar Ratu Duyung.
“Eh, kau masih bisa bicara! Kukira sudah menemui ajali Ini terima bagianmu sekali lagi!” kata Sabai Nan Rancak. Lalu untuk ke dua kalinya si nenek lancarkan pukulan sakti Kipas Neraka.
“Wuss!”
“Wuss! Wussss!”
“Ratu awasi Lekas menyingkir!”
Yang berteriak adalah Magini. Sambil lepaskan dua serangan sinar biru gadis ini melompat ke tengah kalangan pertempuran. Karena menyangka pimpinannya dalam keadaan cidera dan tidak berdaya maka gadis ini melesat menghalang arus serangan sinar merah pukulan lawan. Maksud baiknya hendak menolong sang Ratu hanya mengantarkannya ke alam kematian.
Tubuhnya mencelat tiga tombak ke udara. Jatuh di bebatuan mengepulkan asap. Sekujur badannya laksana dibakar matang mengerikan!
Ketika sinar merah lawan terpencar dihantam dua larik sinar biru yang dilepaskan Magini, Ratu Duyung acungkan tiga jari tangan kanannya. Kali ini yang melesat keluar dari tangan sang Ratu bukan cuma satu larik sinar biru tetapi sekaligus tiga larik. Sabai Nan Rancak kertakkan geraham. Daya lesat tiga sinar maut yang begitu cepat tidak memungkinkan baginya untuk balas menghantam lagi dengan pukulan sakti Kipas Neraka membuat si nenek terpaksa melompat ke udara. Gerakannya yang cepat laksana kilat menyelamatkan dirinya dari tembusan dua larik serangan sinar biru. Namun sinar ke tiga sempat memapas tipis di bahu kanannya.
“Wusss!”
Sabai Nan Rancak terpekik. Bahu kanannya mengepulkan asap. Mantel sakti hitam yang dikenakannya tampak berlubang hangus seolah terbakar. Si nenek hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Mantel Sakti yang begitu hebat masih bisa ditembus pukulan sakti lawan. Masih untung hanya jubah hitamnya yang terletak di sebelah bawah mantel saja yang ikut robek. Sedang daging atau kulit tubuhnya tidak mengalami cidera.
“Aku yakin gadis itu sudah cidera akibat hantaman pertamaku tadi! Kalau tidak segera kuhabisi bukan saja aku yang bakal celaka tapi kalung itu tak bisa kumiliki!” Memikir sampai di situ Sabai Nan Rancak segera tanggalkan Mantel Saktinya.
“Dia menanggalkan mantelnya. Pasti mantel itu merupakan satu senjata yang sangat diandalkannya.” pikir Ratu Duyung. Dia cepat angkat tangan kiri sedang tangan kanan diselinapkan ke pinggang di mana tersimpan Cermin Sakti. Namun Sabai Nan Rancak menggebrak lebih dahulu.
“Kau tak mau menyerahkan apa yang aku minta! Terima kematianmu gadis keras kepalai”
Mantel hitam dikebutkan ke arah Ratu Duyung.
Ratu Duyung berseru kaget ketika di depannya menderu suara keras laksana air bah menggemuruh disertai tiupan angin luar biasa kencangnya. Sekujur tubuhnya terasa ngilu, jalan darahnya seperti menyungsang. Di lain kejap tubuhnya mencelat mental. Karena di belakangnya menghadang dinding batu merah maka tak ampun lagi tubuh Ratu Duyung mencelat menghantam dinding batu itu. Demikian kerasnya hinggai ada bagian batu yang melesak ke dalam. Perlahan-lahan sosok Ratu Duyung terkulai. Dari mulut dan hidungnya mengucur darah. Dalam keadaan seperti itu tangan kanannya masih menggenggam Kalung Permata Kejora.
Sabai Nan Rancak tertawa mengekeh.
“Kalau saja kau tidak keras kepala, mau menyerahkan kalung yang kuminta, niscaya kau tidak akan menemui ajal mengenaskan begini rupa!” Si nenek melangkah mendekati Ratu Duyung yang berusaha bertahan agar tidak roboh dan pingsan. Ketika dia hendak membungkuk mengambil Kalung Permata Kejora dari tangan Ratu Duyung tiba-tiba ada dua belas larik sinar hitam menghantam ke arahnya, membuat si nenek terpaksa melompat mundur selamatkan diri dan terpekik kaget. Pada dinding batu merah di sebelah kiri kelihatan dua belas lobang kecil hitam sebesar ujung ibu jari dan mengepulkan asap berbau aneh.
“Kurang ajar! Siapa berani main gila terhadapku!” teriak Sabai Nan Rancak marah sekali.
Di lain saat sesosok tubuh tinggi besar berdiri dalam gelap antara dia dan Ratu Duyung yang masih terkulai bersandar ke dinding batu merah.

*
* *

TUJUH

Karena membelakanginya Ratu Duyung tidak dapat melihat siapa adanya manusia tinggi besar berambut seperti ijuk yang tegak di hadapannya.
“Siapa orang ini, Pada punggung kanannya kulihat ada lobang besar! Aneh, ada manusia bisa hidup dengan lobang sebesar itu pada tubuhnya.” Tiba-tiba Ratu Duyung sadar akan keadaan dirinya. Bahaya besar nenek bertopi tinggi yang tidak dikenalnya jelas belum lenyap. Tadinya dia berniat mengeluarkan Cermin Saktinya untuk membalas. Namun saat itu dirinya telah menderita luka dalam yang cukup parah. Keparahan ini ditambah pula akibat cidera bentrokan dengan Bunga alias Suci tempo hari.
“Sakit hati rasanya harus menerima kekalahan ini. Tapi jika dia membunuhku, Kalung Permata Kejora tidak bisa diselamatkan! Apa yang harus kulakukan?” Ratu Duyung memandangi lelaki tinggi besar di hadapannya. Tiba-tiba didengarnya bentakan nenek berwajah putih keriput itu.
“Hantu Balak Anam! Kau lagi rupanya, hah! Kau benar-benar mencari mati berani mengikutiku! Kau juga berlaku kurang ajar mencampuri urusanku!”
Si tinggi besar mendengus. “Terus terang aku belum puas dengan keteranganmu di tengah laut tempo hari. Aku punya firasat sebenarnya kau memang ada hubungan tertentu dengan Sutan Alam Rajo Di Bumi. Mengapa kau tidak mau mengaku dan berterus terang?”
“Pertanyaan yang sudah basi masih saja kau ulang-ulang! Menyingkir dari hadapanku sebelum aku muak melihat tampangmu yang jauh lebih buruk dari hantu rimba belantara!”
Si tinggi besar berambut ijuk yang pada wajahnya ada dua belas lobang hitam tertawa bergelak. Sementara itu Ratu Duyung yang mendengar percakapan kedua orang di depannya itu diam-diam kini mengetahui kalau mereka saling berseteru satu sama lain. Entah bagaimana mendadak saja selintas pikiran muncul dalam benak Ratu Duyung. “Kalau aku sampai mati di tangan perempuan tua itu, aku tidak akan membiarkannya mengambil kalung milik Tua Gila ini! Lebih baik kalung ini sirna dan tidak jadi milik siapa-siapa!”
Lalu tanpa berpikir panjang lagi Ratu Duyung masukkan Kalung Permata Kejora ke dalam lobang besar di punggung kanan orang di hadapannya. Hantu Balak Anam yang sudah mati rasa di bagian tubuh yang cacat itu sama sekali tidak tahu dan tidak merasa ada sebuah benda masuk ke dalam tubuhnya dan menyangsrang di dekat tulang belikatnya yang patah. Sabai Nan Rancak sendiri tidak melihat apa yang dilakukan Ratu Duyung karena terhalang oleh sosok tubuh Hantu Balak Anam yang tinggi besar. Apalagi tempat itu walaupun terbuka cukup gelap.
Walau sudah merasa agak lega karena apapun yang bakal terjadi Kalung Permata Kejora telah diselamatkan, namun kini Ratu Duyung menjadi bingung sendiri.
“Celaka, bagaimana aku harus memberitahu pada orang yang aku tidak kenal ini bahwa kalung tersebut adalah milik Tua Gila dan harus diserahkan pada kakek itu?! Ah…!”
Ratu Duyung tak sempat berpikir lebih panjang karena saat itu perang mulut antara Hantu Balak Anam dan Sabai Nan Rancak kembali terjadi.
“Sabai! Kalau kau tetap tidak mau mengaku, kelak kau akan menyesal sendiri. Kau tahu, para tokoh silat golongan putih di Pulau Andalas diam-diam menaruh curiga padamu!”
“Begitu?! Apa yang mereka curigakan?!”
“Paling tidak kau punya andil atas segala kerusuhan yang terjadi di rimba persilatan pulau itu!”
“Fitnah keji! Pasti kau yang menyebarkan!”
“Kau mau menyebut sebagai fitnah atau apa terserah! Tapi barusan aku melihat sendiri kau membunuh dua gadis tidak berdosa secara keji! Kau juga hendak membunuh gadis berjubah hitam yang saat ini tegak di belakangku! Lebih dari itu kau hendak merampas sebuah benda miliknya!”
“Setan alas! Kau tahu apa urusanku! Benda Itu adalah milikku! Apa salah kalau aku memintanya. Dia tidak mau menyerahkan aku memaksa! Dia dan dua gadis temannya itu keras kepala terpaksa kuhantam! Katakan apa sangkut pautmu dengan tiga gadis ini? Kaki tangannya. Atau mungkin kau gendak mereka?! Ha… ha… ha!”
Hantu Balak Anam tampak tidak berubah wajahnya dikatai seperti itu. Sebaliknya Ratu Duyung jadi naik pitam dan memaki. “Tua bangka gila! Ternyata bukan cuma hatimu yang keji! Mulutmu juga busuk!”
“Gadis setan! Diam!” bentak Sabai Nan Rancak.
“Kau harus bersyukur kematianmu tertunda beberapa kejap! Secepatnya aku menyingkirkan setan hitam ini giliranmu akan tiba untuk menerima ke-matian!”
“Sabai! Kau belum lama menginjakkan kaki di tanah Jawa ini. Pengalamanmu di sini hanya sesempit jalan pikiranmu! Kau tidak tahu siapa adanya gadis ini!”
“Hemmm…. Aku mendengar dua gadis lainnya memanggilnya Ratu. Ratu apa?! Hik… hik… hik!”
Hantu Balak Anam palingkan kepalanya ke belakang. Tersiraplah darah Ratu Duyung melihat keangkeran manusia yang alisnya panjang menyatu ini. “Kita memang baru sekali ini bertemu. Namamu sudah lama kudengar. Aku yakin kau adalah Ratu Duyung penguasa alam gaib kawasan samudera….”
“Terima kasih kau mengenali diriku. Sayang kita bertemu pada saat yang kurang menyenangkan. Namun demikian ada satu hal yang perlu aku beri tahu padamu. Aku barusan….”
Maksud Ratu Duyung hendak memberitahu bahwa dia telah memasukkan kalung ke dalam tubuh Hantu Balak Anam melalui lobang besar bekas luka di punggungnya. Tapi tidak terlaksana karena saat itu Sabai Nan Rancak telah melompat ke depan seraya mengebutkan Mantel Saktinya ke arah lelaki tinggi besar berusia 78 tahun itu.
Hantu Balak Anam yang sebelumnya telah melihat kehebatan mantel milik si nenek cepat menyingkir. Dari samping dia palingkan kepalanya ke arah lawan. Dua belas sinar hitam menderu. Angin laksana badai yang keluar dari Mantel Sakti menghantam lamping batu di atas Ratu Duyung. Bukit batu itu hancur berentakan mengeluarkan suara menggemuruh. Kepingan batu dan debu berpelantingan, sebagian besar seolah mengguyur Ratu Duyung.
Sabai Nan Rancak cepat balikkan diri ke arah Hantu Balak Anam. Mantel di tangannya dipukulkan ke depan. Dua belas sinar hitam panas yang keluar dari dua belas lobang hitam di muka Hantu Balak Anam keluarkan suara meletup dan buyar berentakan. Hantu Balak Anam sendiri tampak terhuyung. Dia masih untung sempat jatuhkan diri. Kalau tidak tubuhnya pasti akan hancur dilanda angin sakti yang keluar dari Mantel Sakti. Untuk ke dua kalinya salah satu bagian bukit batu merah hancur berkeping-keping. Pecahan batu dan debu menutupi pemandangan. Ketika batu dan debu luruh ke permukaan bukit dan keadaan menjadi terang, Sabai Nan Rancak melompat ke arah jatuhnya Hantu Balak Anam. Tapi orang itu tak ada lagi di situ! Tampang si nenek tampak berubah ketika dia dapatkan tiga buah lobang berasap di Mantel Saktinya. Ternyata tiga dari Dua Belas Jalur Kematian yaitu dua belas sinar hitam serangan yang dilancarkan Hantu Balak Anam sempat menjebol mantel hitam di tiga bagian!
“Jahanam!” rutuk si nenek. Dia berpaling ke arah Ratu Duyung. Kemarahan kini dilampiaskannya pada sang Ratu. Mantel Saktinya diangkat tinggi-tinggi. Dari jarak dua belas langkah dia siap untuk menggebuk lawan yang terkulai terduduk di permukaan batu bukit dalam keadaan tak berdaya itu.
“Lekas serahkan kalung itu!” hardik Sabai Nan Rancak.
Ratu Duyung meludah ke tanah. Ludahnya bercampur darah. Dari mulutnya keluar suara tawa panjang. Tangan kanannya bergerak ke pinggang. Si nenek menyangka gadis itu hendak mengeluarkan barang yang dimintanya. Ternyata yang tampak tergenggam di tangan kanan Ratu Duyung adalah Sebuah cermin bulat.
“Gadis setani Sebelum mampus apakah kau hendak berdandan lebih dulu?! Hik… hik… hik…!”
Ratu Duyung menyeringai.
Sabai Nan Rancak turunkan tangan kanannya yang memegang Mantel Sakti. “Kehebatan mantel ini sudah kuketahui. Mengapa sekarang tidak menjajal Mutiara Setan?!” Memikir begitu si nenek keruk kantong kain yang tergantung di pinggang pakaian hitamnya. Sebutir Mutiara Setan dijepit diantara ibu jari dan telunjuk tangan kirinya. “Selagi masih hidup kau tak mau menyerahkan Kalung Permata Kejora! Tidak jadi apa! Aku tidak keberatan mengambilnya setelah kau jadi mayat!”
Tangan kiri Sabai Nan Rancak bergerak. Mutiara Setan yang berwarna hitam itu menderu dahsyat mengarah kening Ratu Duyung. Di saat yang bersamaan Ratu Duyung gerakkan Cermin Saktinya. Selarik sinar putih yang sangat menyilaukan berkiblat ke arah mata Sabai Nan Rancak. Si nenek keluarkan jeritan keras ketika dia tiba-tiba merasakan seolah buta akibat kesilauan. Cepat dia melompat sambil usap sepasang matanya. Sesaat kemudian dia bisa melihat kembali. Namun untuk beberapa lamanya penglihatannya tidak bisa jelas walau dia telah mengerahkan tenaga dalam ke arah kedua matanya.
Meskipun Ratu Duyung bisa membuat sepasang mata lawan cidera walau hanya sementara namun kiblatan Cermin Saktinya tadi tidak sanggup meluruhkan Mutiara Hitam yang menyambar ke arahnya. Sejengkal lagi senjata rahasia milik Datuk Tinggi Raja Di Langit yang dilemparkan Sabai Nan Rancak itu akan menembus keningnya dan mengirimnya ke akhirat tiba-tiba sebuah benda panjang memapas di depan hidung sang Ratu.
“Tring!
“Traak!”
Mutiara Setan mencelat mental. Namun benda yang memapas patah di bagian ujungnya. Ratu Duyung tidak tahu pasti apa yang terjadi. Saat itu dia hanya melihat ada satu bayangan berkelebat dan dia mencium bau pesing!

*
* *

DELAPAN

Ratu Duyung tidak mengetahui siapa yang memanggul dan melarikan dirinya. Mula-mula dia juga tidak mengetahui apakah yang melarikannya saat itu seorang lelaki atau seorang perempuan. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Walau dirinya tidak ditotok tapi adalah aneh. Di atas bahu orang yang melarikannya dia tidak sanggup bergerak. Seperti diketahui tingkat kepandaian dan ilmu kesaktian Ratu Duyung tinggi sekali. Namun kalau dia tidak sanggup membebaskan diri padahal dia tidak ditotok maka dapat dibayangkan bagaimana tingginya kepandaian orang yang saat itu memanggul dan membawanya lari.
Ratu Duyung memperhatikan lagi. Dia tidak bisa melihat, muka orang tapi dapat melihat bagian atas kepalanya. Dalam gelapnya malam dia melihat ada lima buah tusuk konde terbuat dari perak menancap di atas kepala orang itu.
“Aneh. orang ini memiliki rambut putih jarangi Bagaimana lima tusuk konde itu bisa menancap di kepalanya?!” Ratu Duyung coba memperhatikan lebih seksama. “Astaga!” Gadis ini terkejut Ternyata lima tusuk konde itu bukan disisipkan di antara rambut tapi langsung ditusukkan ke kulit kepala dan terus menancap ke batok kepalai “Rasanya aku pernah melihat orang dengan tusuk konde seperti ini sebelumnya!” Ratu Duyung berusaha mengingat. Tiba-tiba meledak suaranya. “Tuan penolongku! Aku berterima kasih padamu! Bukankah kau adalah nenek sakti dari Gunung Gede yang dipanggil dengan nama Sinto Gendeng. Guru Pendekar 212 Wiro Sableng?!”
“Anak setan! Akhirnya kau mengenali diriku juga hah!”
Orang yang melarikan Ratu Duyung hentikan larinya lalu enak saja tubuh si gadis dicampakkannya ke tanah.
“Nek, barusan saja kau menolongku! Sekarang mengapa tiba-tiba melemparkanku begitu saja?!” ujar Ratu duyung seraya bangkit sambil pegangi dadanya yang mendenyut sakit.
“Anak setan! Siapa yang menolongmu?!” Sosok tubuh tinggi hitam bungkuk dan bau pesing di hadapannya membentak.
“Eh, bagaimana ini. Nek kau betul Sinto Gendeng guru sahabatku Pendekar 212 Wiro Sableng. Betul kan ?!”
“Hemmmm. Jadi anak setan satu itu adalah sahabatmu?!”
“Betul. Aku tidak dusta…” jawab Ratu Duyung.
“Kalau dia sahabatmu kau tentu tahu di mana dia berada sekarang.,.?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi ada petunjuk bahwa dia berada di kawasan selatan. Tak jauh dari Telaga Gajahmungkur….”
“Betul katamu dia sahabatmu?!”
“Aku tidak berdusta Nek!”
“Kalau begitu mengapa kau celakai dirinya?!”
terkejutlah Ratu Duyung mendengar ucapan orang di depannya. Seorang nenek bungkuk mengenakan pakaian lusuh dan kain panjang ketinggian yang menebar bau pesing.
“A… aku tidak mengerti maksudmu Nek….”
“Kau mulai bermain lidah! Aku si tua bangka Sinto Gendeng ini apa kau kira bisa ditipu?!”
“Aku tidak menipumu. Aku benar-benar tidak tahu apa maksud ucapanmu tadi…. Kalau saja kau mau menjelaskan….”
“Kau minta penjelasan! Aku akan katakan! Bukankah karena ulahmu mengajak muridku berzinah sampai dia kini menderita lumpuh ilmu, lumpuh kesaktian?! Kau sembuh dan bebas dari kutukah jahanam itu tapi muridku ketiban celaka malapetaka! Ayo! apa jawabmu! Kutampar mulutmu sampai pencong kalau kau berani berdusta!”
Ratu Duyung merasakan dadanya yang sejak tadi mendenyut sakit kini malah menyesak. Jantungnya berdebar keras dan aliran darahnya seperti tidak karuan.
“Nenek Sinto Gendeng, kau tentu telah menerima kabar yang salah….”
“Kabar yang salah? Siapa yang salah?!” bentak Sinto Gendeng.
“Nek, Izinkan aku memberi keterangan….”
“Bicaralah! Tapi jika keteranganmu palsu dan bicaramu bohong kubeset mulutmu atas bawah!”
Ratu Duyung merasa mukanya menjadi merah karena jengah mendengar ucapan si nenek yang dianggapnya sangat keterlaluan itu. Tapi apa mau dikata. Dia harus bersabar diri. Apalagi yang dihadapinya adalah seorang nenek sakti berpikiran aneh dan lebih dari itu adalah guru pemuda yang diam-diam dicintainya.
“Waktu kami meninggalkan Pangandaran, aku yakin kau sebagai gurunya mengizinkan kepergian kami berdua. Menurut Wiro dia juga telah menceritakan hal menyangkut kutukan yang menimpa diriku dan belasan anak buahku. Saat itu aku merasa bahwa kau ikut merestui. Mungkiri sekarang aku baru menyadari bahwa aku salah….”
“Teruskan saja keteranganmu. Jangan berhenti kalau aku tidak menyuruh. Tanganku sudah gatal hendak menjambak rambut dan menampar mukamu!”
“Aku membawa muridmu ke sebuah Puri di tempat kediamanku. Puri itulah tempat yang telah ditentukan untuk dapat memusnahkan kutukan. Kami memang bersatu badan. Namun kami belum sempat melakukan sesuatu. Kuasa Tuhan tiba-tiba membuat kutukan musnah. Aku dan anak buahku bebas dari kutukan itu….”
“Tapi akibatnya muridku yang celaka!”
“Nenek Sinto Gendeng, kalau aku tahu bahwa akibat itu akan terjadi dengan diri muridmu, aku tak akan pernah melakukannya. Aku memilih lebih baik tetap berada dalam sumpah kutukan….”
“Hemmm, itu bicaramu sekarang!”
“Aku bersumpah Nek. Aku tidak punya maksud buruk terhadap Wiro. Kami tidak sampai melakukan perzinahan….”
“Mana aku percayai Soalnya aku tidak melihat, juga tidak mengintipi Kalian berdua yang punya kerjaan! Muridku yang menderita!”
“Kalau itu memang kesalahan berat, aku siap menerima hukuman. Terserah kau mau melakukan apa terhadapku…. Aku tidak mungkin melakukan kejahatan terhadap muridmu. Aku tidak akan pernah culas terhadapnya. Aku tidak mungkin melakukan semua itu terhadap dia yang aku…”
“Ayo teruskan ucapanmu! Mengapa diputus?!” bentak Sinto Gendeng.
“Aku mencintai muridmu Nek….” Suara Ratu Duyung perlahan sekali tapi bergema dalam sampai ke lubuk hati nenek sakti dari Gunung Gede itu. Mula-mula si nenek mengernyitkan keningnya, lalu menyeringai. Namun wajahnya tampak berubah. Untuk beberapa lamanya mulutnya terkancing. Dia memandang ke arah kegelapan. Saat itu mereka berada di sebuah hutan kecil jauh di belakang bukit batu merah. Pepohonan yang menghitam di kegelapan malam seolah berubah menjadi sosok manusia di mata Sinto Gendeng. Setiap dia memperhatikan wajah manusia itu dia melihat semuanya memiliki wajah sama. Yang dilihatnya adalah wajah Sukat Tandika alias Tua Gila!
“Cinta…. Kau mencintai muridku…?” Tiba-tiba Sinto Gendeng ajukan pertanyaan tanpa memandang pada Ratu Duyung. Sebelum sang Ratu menjawab si nenek sudah membuka mulutnya kembali. “Cinta gila…. Siapa percaya pada cinta akan celaka!”
“Nek, mengapa tega-teganya kau berkata begitu?”
“Aku jauh lebih tua darimu anak setan! Aku sudah makan asam garam dunia! Aku lebih banyak tahu darimu! Ini bukan soal tega atau tidak tegai Kau tahu apa mengenai cinta! Cinta membuat banyak manusia celaka dunia akhirat! Buktinya aku sudah merasakan! Kini muridku juga kena getahnya cinta! Setan betul!”
Tahu orang sedang marah Ratu Duyung memilih bersikap diam. Tapi lama-lama hatinya tidak tahan. Dia berkata. “Kalau cinta memang membuat manusia celaka dunia akhirat, aku sendiri merasa bahagia dalam celaka itu. Karena yang kucintai adalah muridmu sendiri…. Kalau semua itu menyakiti hatimu aku mohon ampun pada Tuhan dan minta maaf padamu.”
“Eh, anak setani Jangan kau berpandai-pandai bicara padaku! Berani-beranian kau menyebut nama Tuhan! Aku….” Sinto Gendeng tudingkan tongkat kayu bututnya yang patah di bagian ujung akibat dipergunakan menangkis Mutiara Setan tadi.
Sinto Gendeng tidak meneruskan ucapannya. Memandang ke arah barisan pepohonan dia kembali melihat Sosok dan wajah Tua Gila, kekasihnya di masa muda. Lalu sayup-sayup seperti ada suara yang masuk ke liang telinganya. “Sinto, masa bercintamu sudah habis dimakan usia. Masa lalu hanyalah kenangan. Masa sekarang kenyataan dan masa depan adalah tantangan….!
Si nenek ulurkan tangannya memegangi leher yang terasa seperti tercekat.
“Gila! Apa yang tengah terjadi dengan diriku….” kata si nenek dalam hati. Perlahan-lahan dia berpaling pada Ratu Duyung yang duduk bersimpuh di tanah dengan kepala tertunduk seperti seorang pesakitan yang siap menjalankan hukuman pancung!
“Traak!”
Ratu Duyung terkejut dan angkat kepalanya. Ternyata si nenek sengaja mematahkan ujung tongkat bututnya. Patahan sepanjang setengah jari kelingking disodorkannya ke muka Ratu Duyung.
“Kunyah kayu ini sampai lidahmu merasa pahit!”
Ratu Duyung memandang pulang balik dari wajah si nenek ke patahan tongkat yang disodorkan di depan mukanya.
“Nek, aku…”
“Anak setan! Bukankah kau terluka parah di dalam akibat serangan dajal kesasar tadi?! Nah, kau tunggu apa lagi! Kunyah potongan tongkat ini sampai ada rasa pahit dalam mulutmu!”
“Apakah…. Apakah ini semacam obat…?”
“Anak setan! Lain kali jangan harap aku mau menolongmu lagi!”
“Hek!”
Ratu Duyung keluarkan suara tercekik ketika potongan kayu tongkat dilemparkan Sinto Gendeng hingga melesat masuk ke dalam mulutnya.
“Anak setan, lakukan saja apa yang aku katakan! Sekarang aku harus pergi! Karena menyadari kau adalah seorang ratu dan aku seorang rakyat jelata dalam bentuk nenek keropos maka ada patutnya aku memberi penghormatan padamu sebelum pergi!” Habis berkata begitu Sinto Gendeng bungkukkan tubuhnya yang memang sudah bungkuk lalu sambil tertawa cekikikan dia berkelebat tinggalkan tempat itu.
Karena ada rasa jijik, semula Ratu Duyung hendak memuntahkan potongan tongkat di dalam mulutnya. Namun aneh, mendadak mulutnya terasa manis.
“Nenek itu mengatakan rasa pahit. Yang kurasakan justru sebaliknya. Tapi aku masih belum mengunyah! Bagaimana ini, apakah aku harus melakukan apa yang dikatakannya?” Sambil berpikir sang ratu mengunyah perlahan. Semakin dikunyah semakin manis terasa mulutnya. Dia mulai merasa kelu dan capai mengunyah. Sampai puluhan bahkan ratusan kali kayu yang dikunyahnya masih terasa manis.
“Sampai tanggal seluruh gigi di mulutku dan sampai hancur kayu ini agaknya tak akan ada rasa pahit!” Ratu Duyung mulai merasa was-was. Tapi tiba-tiba kunyahannya terhenti. “Aku merasa ludahku memahit….” Ratu Duyung lalu mengunyah kembali. Benar saja. Semakin dia meneruskan mengunyah semakin kentara rasa pahit itu. Bersamaan dengan itu ada rasa hangat menjalari urat-urat dalam tubuhnya. Aliran darahnya yang tadi terasa seperti kacau kini perlahan-lahan teratur kembali. Lalu sakit di dadanya perlahan-lahan sirna melenyap. Ratu Duyung bangkit berdiri. Astaga! Seperti ada satu kekuatan baru kini berakar dalam tubuhnya padahal sebelumnya akibat hantaman Mantel Sakti Sabai Nan Rancak bukan saja dia menderita luka dalam yang parah, berdiri pun dia rasanya tak sanggup.
“Nenek itu…” desis Ratu Duyung. “Ternyata dia telah menolongku. Aku berhutang besar padanya! Bagaimana aku harus membalas sementara dia merasa aku telah mencelakai muridnya…? Wiro, di mana kau saat ini. Aku harus menemuimu! Aku harus menceritakan semua ini padamu….” Ratu Duyung angkat Cermin Saktinya. Namun dia tidak melihat apa-apa karena air matanya jatuh membasahi permukaan cermin.

*
* *

SEMBILAN

Di salah satu sudut teluk Parangtritis yang sepi, pemuda berpakaian hitam itu duduk sendirian, seolah sengaja mengucilkan diri padahal di teluk saat itu tengah berlangsung upacara besar taburan bunga yang diselenggarakan oleh keraton. Ratusan orang bertebaran di sepanjang teluk menyaksikan keramaian yang hanya terjadi sekali dalam setahun itu. Rakyat bukan saja mengikuti jalannya upacara dari tepian teluk tetapi banyak pula yang langsung mengayuh perahu ke tengah laut.
“Sahabat muda, pesta keramaian ada di sana. Mengapa kau justru menyaksikan bersunyi diri dari jauh di tempat ini?” Satu suara menegur.
Pemuda berpakaian hitam tersentak kaget. Cepat palingkan kepala. Dia melihat seorang pemuda berambut gondrong dan berpakaian serta hitam seperti keadaannya, tegak sambil memandang menyeringai padanya.
“Rambutmu gondrong, rambutku gondrong. Pakaianmu hitami Pakaianku juga hitami Bukankah itu satu tanda persahabatan?” Pemuda pertama kembali berucap.
Pemuda yang ditegur pandangi wajah orang di sebelahnya penuh selidik. Yang dipandang, walau tidak memperhatikan berkata. “Kau memandangku penuh curigai Itu bukan satu tanda persahabatan!”
Pemuda baju hitam yang duduk di tanah berkata dalam hati. “Walau diriku masih dalam musibah gila ini, tapi adalah aneh aku tidak mendengar langkah kakinya ketika datang. Dia tidak memandang padaku tapi tahu kalau aku memperhatikan penuh curiga. Siapa adanya pemuda ini. Melihat raut wajah dia tiga atau empat tahun lebih muda dariku. Dibalik wajahnya yang tampan, di dalam tubuhnya yang kekar aku yakin tersimpan satu kekuatan hebat….”
“Kalau aku boleh bertanya, siapa kau adanya dan mengapa menyendiri di tempat ini? Tidak turun berperahu ke laut. Tidak bergabung dengan orang banyak di teluk. Kulihat di sana banyak meja bertebaran berisi berbagai macam hidangan, buah-buahan dan minuman….”
“Aku hanya seorang nelayan. Aku sedang tidak enak badan. Itu sebabnya aku memilih lebih baik duduk di sini….”
Mendengar ucapan pemuda yang duduk, pemuda satunya tertawa. Sepasang matanya masih terus menatap ke arah teluk ketika berkata. “Sekali lagi kau menunjukkan sikap tidak bersahabat. Katamu kau seorang nelayan. Nelayan mana ada yang kulitnya putih pucat sepertimu!”
Pemuda berpakaian hitam yang duduk di tanah pencongkan mulutnya lalu garuk-garuk kepala. “Sudah sebulan aku tidak turun ke laut. Itu sebabnya aku tampak putih. Karena sakit kulitku jadi pucat…. Kau sendiri siapa? Mengapa memilih berada di tempat ini daripada berada di teluk sana?!”
“Siapa aku itulah yang aku tidak ketahui….”
“Hemm…. Pemuda ini sedeng kurang waras rupanya! Biar aku kerjain!” membatin pemuda yang duduk di tanah. “Kau bilang tidak tahu siapa dirimu. Itu hebat! Kalau kutanya apakah kau laki-laki atau perempuan, apakah kau bisa menjawab?!”.
“Eh!” Pemuda yang berdiri palingkan kepalanya, memandang tajam pada pemuda yang duduk di depannya lalu tertawa bergelak. “Kau tidak buta! Kau lihat sendiri ujud keadaanku! Ya jelas aku ini seorang lelaki! Pemuda sepertimu!”
“Sekarang jaman aneh! Lelaki suka pakai pakaian perempuan. Perempuan suka mengenakan pakaian lelaki. Bagaimana kau bisa membuktikan bahwa kau betul-betul seorang lelaki?!”
“Gilai Kau orang gila!”
“Silahkan kau menganggap begitu. Nah sekarang coba kau perlihatkan anumu padaku. Untuk membuktikan bahwa kau memang laki-laki! Bukan perempuan!”
“Benar-benar gila!”
“Ah! Jangan-jangan seperti dugaanku kau adalah seorang banci!” “Setan kau!”
“Tadi kau memaki aku gila. Sekarang setan. Sebentar lagi entah apa! Sebaiknya kau pergi ke teluk sana. Aku tidak suka dekat-dekat dengan orang yang tidak ketahuan lelaki atau perempuan! Seorang yang tidak tahu siapa dirinya!”
“Orang gila! Aku ini laki-laki tahu!”
“Kalau begitu coba kau buktikan. Tunjukkan padaku apa kau memang punya jambu klutuk atau cuma jambu mete! Ha… ha… ha…!”
“Setan alas! Apa maksudmu jambu klutuk dan jambu mete itu!”
“Coba kau melorotkan celanamu ke bawah! Nanti akan ketahuan kau ini jenis jambu klutuk atau cuma jambu mete!”
“Jahanam kurang ajar! Kau benar-benar tidak bersahabat!” si pemuda marah sekali. Dia menunjuk ke sebuah batu sebesar kepala. “Lihat batu itu! Rupanya kau mau aku membuat kepalamu seperti ini!”
“Wuuutt!”
Satu kali berkelebat pemuda itu melesat ke udara, lalu menukik dengan tangan kanan menjotos ke arah batu.
“Bukkk!”
“Byaaarr!”
Batu besar yang kena hantaman tangan si pemuda hancur berkeping-keping. Belum lagi hancuran batu itu berjatuhan ke atas permukaan pasir, si pemuda telah berkelebat dan kembali tegak di samping pemuda satunya!
Si gondrong yang duduk di tanah perlahan-lahan bangkit berdiri. “Jangan-jangan anak setan ini punya maksud jahat terhadapku!”
“Gerakanmu laksana kilat! Pukulanmu hebat dan tenaga dalammu luar biasa! Dari mana kau dapatkan ilmu kepandaian itu Kisanak?!”
“Aku tidak tahu!”
“Kau tidak tahu! Siapa gurumu?!”
“Tidak tahu! Aku tidak ingat! Sobat, dengar baik-baik. Aku tidak Ingat semua hal di masa lalu!”
Si gondrong satunya kembali garuk-garuk kepala. “Dia tak ingat masa lalunya. Otaknya mungkin sudah dikuras setan!” Setelah pandangi pemuda di hadapannya dengan tak berkesip dia bertanya. “Kau punya nama? Atau tidak ingat siapa namamu?!”
“Aku Utusan Dari Akhirat!” jawab si gondrong sambil menyeringai seperti bangga.
“Nama hebat!” desis pemuda satunya sambil garuk-garuk kepala. “Kau berasal dari mana?”
“Tidak ingat! Tidak tahu!”
“Gila!” rutuk pemuda itu dalam hati. “Kalau kau bernama Utusan Dari Akhirat mustinya kau datang dari atas langit sana! Tapi apa kau tahu kalau akhirat itu ada dua. Satu akhirat yang disebut sorga. Satunya lagi yang dinamakan neraka. Nah, kau datang yang dari mana?!”
“Mana aku tahu!”
“Jelas anak setan ini memang miring otaknya. Tapi dia berkepandaian tinggi. Aku harus hati-hati!” Setelah menggaruk kepalanya sekali lagi, pemuda ini berkata. “Kau tidak ingat masa lalumu. Kau tidak ingat semua hal di masa silam. Jadi kau hanya ingat hal-hal di masa yang akan datang!”
“Betul!”
“Hal apa saja?!”
“Aku punya tiga tugas besar!”
“Tiga tugas besar? Tugas apa? Kau mau memberitahu?”
Tentu akan kuberitahu seperti aku sudah beritahu pada beberapa orang tertentu yang aku temui sebelumnya! Siapa tahu kau bisa membantu! Tugasku adalah mencari dan membunuh tiga orang!”
“Jauh-jauh dari akhirat tugasmu untuk membunuh orang…?! Siapa-siapa mereka yang hendak kau bunuh itu?!”
Yang ditanya tidak menjawab melainkan menunjuk ke arah teluk Parangtritis.
Upacara taburan bunga di tengah laut kali ini dilakukan sangat meriah. Cuaca cerah, laut yang tenang dan angin yang bertiup sejuk membuat upacara yang dilakukan setiap setahun sekali itu berlangsung lancar. Di atas perahu besar yang diberi gaba-gaba serta berbagai macam hiasan, Suitan duduk tersenyum dikelilingi para pengawal, beberapa perwira dan puluhan pengawal. Di samping sebelah kanan tegak Patih Ki Haryo Darmogumpito. Meski tua tapi masih kelihatan tegap penuh wibawa. Sebilah pedang bersarung dan berhulu emas tergantung di pinggangnya, memantulkan sinar berkilauan terkena cahaya matahari. Di sebelah kiri Sultan, di atas sebuah kursi bagus yang kebesaran, duduk seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. Dia adalah Juminten Sekar Wangi, cucu paling disayangi Sultan. Kehadirannya di situ seolah mewakili para penghuni Keraton lainnya. Karena itu Sultan tidak merasa risau walau dalam upacara penting itu permaisuri yang sedang kurang sehat, dua anak dan dua menantunya tidak ikut hadir. Di usianya yang sudah lanjut bagi Sultan sang cucu Juminten Sekar Wangi adalah sumber segala kebahagiaannya.
Di hadapan Sultan ada sebuah meja kecil. Di atas meja beralaskan kain beludru merah terletak dua buah pusaka Keraton yang selalu dihadirkan dalam setiap upacara taburan bunga di tengah laut. Pusaka pertama adalah sebilah keris emas. yang gagangnya berbentuk kepala seekor burung Elang jantan dengan sepasang mata merah terbuat dari batu mulia. Pusaka kedua juga sebilah keris emas lebih kecil dari yang pertama dengan hulu berbentuk kepala seekor Elang betina. Sepasang matanya terbuat dari batu permata berwarna biru.
Dua buah perahu mengapit perahu besar yang ditumpangi Sultan. Di atas dua perahu pengapit ini ada dua rombongan pemain gamelan yang tiada henti-hentinya mengalunkan tembang-tembang kesukaan Sultan.
Patih Ki Haryo Darmogumpito menunduk sedikit dan berbisik pada Sultan. “Upacara taburan sudah selesai. Kita siap kembali ke teluk. Kecuali Sultan ingin melakukan sesuatu.
Misalnya berkeliling sampai ke batas pusaran laut dingin dan laut panas seperti yang dilakukan tahun lalu.”
“Kita kembali saja Patih. Perutku sudah lapar! Dan cucuku si kecil jelita ini tentu juga ingin cepat pulang, bermain bersuka-suka di Keraton…” Sambil berucap Sultan mencium kepala Juminten Sekar Wangi. Selagi dia mencium kepala cucu yang dikasihinya Itu tiba-tiba telinganya menangkap suara sesuatu di antara gema alunan gamelan di dua perahu yang mengapit perahu besar.
“Patih Haryo, apakah kau mendengar suara sesuatu?” tanya Sultan. Hidungnya masih menempel di kepala Juminten.
“Saya mendengar Sultan. Dan saya sudah tahu apa yang terjadi. Ada seorang anak kecil duduk di kepala perahu….”
Perlahan-lahan Sultan angkat kepalanya lalu memandang ke bagian depan perahu. Perahu besar ini di sebelah depan mulai dari lambung sampai ke ujung dibuat demikian rupa berbentuk sosok seorang gadis bermahkota yang tengah memegang anak panah dan merentang busur.
Duduk di atas leher patung gadis memanah itu kelihatan seorang anak kecil berpakaian terusan warna hitam dalam keadaan basah kuyup. Pada bagian dada pakaiannya terpampang gambar seekor naga bergelung dengan kepala membesar seolah hendak menerkam. Kaki dan lengan pakaian hitamnya panjang demikian rupa hingga anak berwajah lucu ini kelihatan seperti seekor tikus besar. Anak ini duduk sambil meniup sebuah seruling. Kepalanya yang berambut jabrik digoyang-goyang, kedua kakinya diuncang-uncang mengikuti alunan gamelan. Setiap habis meniup dia jauhkan sebentar serulingnya dari mulut lalu lidahnya dijulurkan. Dalam keadaan lain orang yang melihat tingkah bocah itu pasti akan senyum-senyum tertawa. Namun saat itu tentu saja tidak ada yang berani tersenyum apalagi tertawa. Anak tak dikenal itu duduk secara kurang ajar di atas perahu besar yang ditumpangi Suitan bahkan membelakangi Suitan. Semua orang sudah dapat memastikan kalau Sultan akan menjadi marah. Namun yang terdengar saat itu justru gelak berderai Juminten Sekar Wangi. Cucu Sultan ini agaknya senang melihat tingkah anak berpakaian terusan hitam yang meniup suling itu.
Setelah memperhatikan sejurus Suitan berkata. “Seumur hidup baru sekali ini aku mendengar tiupan suling dipadu dengan alunan gamelan. Sedap di telinga tapi kehadirannya kurang berkenan di hatiku. Patih, kau kenal siapa adanya anak itu?”
“Saya tidak kenal. Tidak pernah melihatnya sebelumnya Sultan….”
“Kau bisa memberi keterangan bagaimana tiba-tiba dia berada di atas perahu ini tanpa seorang pun mengetahui?”
“Saya akan menyelidiki Sultan,” jawab Patih. Dia memberi isyarat pada dua orang perwira. Tiga orang ini bergegas menuju bagian depan perahu.
Juminten Sekar Wangi melompat turun dari kursinya mengikuti ketiga orang itu. Sultan berusaha mengejar tapi dengan lincah anak perempuan ini menyelinap di antara para pengawal dan mendahului lari menuju bagian depan perahu besar.

*
* *

SEPULUH

Sementara di bawahnya orang sibuk melakukan sesuatu, anak berbaju hitam berambut jabrik di atas sana terus saja asyik meniup serulingnya mengikuti alunan gamelan. Rombongan pemain gamelan di dua perahu walau merasa heran melihat kejadian itu tapi tetap saja meneruskan permainan mereka karena ternyata tiupan seruling si bocah begitu enak membuat mereka terus bermain bersambut-sambutan.
“Kawan! Hai kawan yang meniup suling! Siapa namamu?!” Yang berseru adalah cucu Sultan si kecil Juminten.
Anak di atas sana miringkan kepalanya dan memandang ke bawah. Dia tidak menjawab tapi melontarkan senyuman dan terus meniup serulingnya.
“Hai! Hati-hati! Jangan miring-miring begitu! Nanti kau jatuh!” teriak Juminten kembali.
“Anak di atas leher patung! Hentikan permainanmu! Lekas turun kemari!” Tiba-tiba ada suara teriakan keras. Yang berteriak adalah Patih Ki Haryo Darmogumpito.
Mendengar suara teriakan si anak kembali miringkan kepala memandang ke bawah ke arah sang Patih. Sesaat anak ini jauhkan seruling dari bibirnya. Lidahnya dijulurkan ke arah Patih Ki Haryo lalu kembali dia meniup seruling.
Merasa tidak diperdulikan malah dipermainkan dikurang-ajari Patih Ki Haryo menjadi marah.
“Anak kurang ajari Kau minta digebuk rupanya!”
“Paman Patih!” tiba-tiba Juminten berteriak. “Jangan sakiti temanku!”
“Den Ayu Juminten! Anak itu bukan temanmu! Dia anak gelandangan yang kesasar! Anak kurang ajar!” jawab Patih Kerajaan. “Aku akan menyuruhnya turun sekali lagi! Kalau dia tidak turun akan kutarik putus dua daun telinganya! Awas kau anak kurang ajar!”
Di atas sana si anak kecil tetap saja tidak perduli. Tiupan serulingnya malah diperkencang dan iramanya dipercepat. Para pemain gamelan yang ada di dua perahu dan sejak tadi terpengaruh keenakan oleh tiupan seruling si bocah segera pula mempercepat alunan gamelan hingga suara Patih Kerajaan yang berteriak-teriak marah tenggelam tidak terdengar. Juminten Sekar Wangi tertawa-tawa dan berjingkrak-jingkrak sementara Sultan tekap kedua telinganya.
“Bocah kurang ajar!” damprat Patih Ki Haryo. Dia memberi isyarat pada seorang perwira di sebelahnya. “Naik ke atas sana! Lemparkan anak itu ke dalam laut!” Perwira yang diperintahkan kebetulan bertubuh gemuk buntal bermuka bundar seperti bola.
“Paman Patih!” teriak Juminten. “Jangan sakiti anak itu! Aku Ingin berteman dengannya!”
“Dengar Den Ayu Juminten. Anak itu tidak pantas menjadi temanmu. Kau adalah cucu Raja!”
“Aku tidak perduli! Aku ingin berteman dengan dia!” teriak Juminten.
Patih Ki Haryo Darmogumpito jadi hilang akal menghadapi cucu Sultan itu. Juminten dirangkulnya lalu digendong dan dibawanya ke tempat Suitan. Tapi si gadis cilik ini menggigit tangan Patih Haryo. Selagi sang Patih menjerit kesakitan Juminten merosot turun dan lari ke arah depan perahu kembali.
“Cucuku…. Juminten…!” panggil Sultan.
Patih Ki Haryo yang kesakitan usap-usap kedua tangannya lalu berteriak pada rombongan penabuh gamelan di perahu kiri dan perahu kanan. “Hentikan permainan kalian! Hentikan!”
Mendengar teriakan dan melihat kemarahan sang Patih semua pemain gamelan segera hentikan permainan masing-masing. Di atas sana si anak berpakaian serba hitam masih terus meniup serulingnya. Ketika dia menyadari sirnanya suara gamelan dia turunkan tangannya yang memegang seruling lalu memandang ke arah perahu kiri kanan.
“Kenapa berhenti? Aku lagi enak-enaknya! Ayo main lagi!” teriak si anak. Dia tiup sulingnya kembali. Tapi tak ada seorang pun pemain gamelan berani menyentuh peralatannya. Si anak akhirnya berhenti meniup suling.
Pada saat itu perwira gemuk yang diperintahkan sang Patih tengah merangkak sepanjang kayu patung. Sikapnya yang seperti beruk memanjat itu membuat banyak orang menahan tawa. Begitu sampai di dekat si bocah dia segera ulurkan tangan untuk mencekal leher. Sadar kalau ada orang di belakangnya anak ini berpaling. Melihat tangan hendak menyambar dirinya cepat-cepat anak ini bersurut mundur dan naik ke bagian kepala patung yang lebih tinggi sambil mencibirkan lidahnya pada si perwira.
“Anak kurang ajar! Kau mau lari kemana!”
Penasaran perwira gendut itu terus mengejar. Sebenarnya saat itu lututnya sudah gemetar karena gamang. Namun di bawah sana Patih Ki Haryo terus berteriak-teriak agar dia segera menangkap anak kecil itu.
Sesaat kemudian si anak telah sampai di bagian kepala patung yang paling tinggi. Tak ada lagi baginya tempat untuk bersurut sementara dari bawah perwira gemuk terus merangkak naik.
“Ayo lari terus! Kau mau lari kemana! Ha… ha…! Kupatahkan batang lehermu sekarang!” Perwira itu menggertak tapi si anak bukannya takut malah sambil terus mencibirkan lidahnya tangan kirinya dilambai-lambaikan agar perwira yang mengejarnya itu naik dan mendekat lebih cepat. Begitu si perwira berada sejarak seuluran tangan darinya, anak kecil ini tusukkan sulingnya ke bawah ketiak sang perwira. Orang ini menggeliat karena kegelian.
“Jahanam! Berani kau mempermainkan aku!” teriak perwira itu marah sekali. Karena tak dapat menjangkau ditambah oleh rasa kalap maka setelah maju lebih dekat dia langsung kirimkan tamparan ke muka anak itu.
“Wuttt!”
Tamparan perwira gendut berkelebat. Si bocah tundukkan kepala lalu “seett!” Serulingnya menyusup ke depan. Kali ini menusuk ke bawah ketiak satunya dari sang perwira. Lalu terjadilah hunjaman tusukan tiada hentinya. Tusukan-tusukan seruling itu tidak menciderai si perwira namun membuat dia kegelian setengah mati. Tubuhnya yang gemuk besar itu berguncang kian kemari. Sebentar miring ke kiri miring ke kanan atau terjerembab ke depan. Dari mulutnya tiada henti terdengar jeritan-jeritan kegelian. Orang banyak di tiga perahu menahan nafas walau ada yang tak dapat menyembunyikan senyumannya. Sebaliknya Juminten Sekar Wangi tertawa gelak-gelak melihat apa yang terjadi
Ketika si bocah menusuk dan menggeletarkan ujung serulingnya di pangkal paha perwira itu, si gemuk ini tak tahan lagi. Dia menjerit keras, tanpa sadar kedua tangannya diangkat. Tubuhnya menggeliat Karena tak memegang apa-apa lagi maka tak ampun sosoknya jatuh ke bawah.
“Celaka! Ah…!” Perwira itu menjerit keras sekali lagi. Di saat yang tegang itu otaknya masih bisa bekerja. Dari pada jatuh ke atas geladak perahu dia memilih jatuh masuk ke dalam laut.
“Byuurrr!”
Tubuh gemuk itu lenyap ke dalam air.
Juminten tertawa panjang. Anak di atas sana ikut tertawa lalu dia membuat gerakan berputar-putar pada leher patung. Di lain kejap tubuhnya melayang ke bawah dan tahu-tahu hup! Hebat sekali! Anak ini sudah berada di depan Juminten. Mula-mula cucu Suitan ini terkejut dan bersurut mundur. Tapi setelah sadar siapa yang tegak di hadapannya Juminten lalu tertawa keras.
“Teman! Kau bukan saja pandai meniup suling! Tapi pandai melompati Namaku Juminten. Aku cucu Raja. Siapa namamu teman?!”
“Namaku jelek…” jawab si anak.
“Jelek atau tidak kau harus memberi tahu!” desak Juminten sambil memegang tangan si anak dan menggoyang-goyangnya.
“Namaku Naga Kuning. Kadang-kadang orang memanggilku Naga Kecil atau Naga Cilik.”
“Namamu aneh. Tapi tidak jelek seperti katamu.” Juminten perhatikan gambar naga di dada pakaian hitam si anak. “Hemm…. Namamu Naga Kuning, pantas sampai-sampai pakaianmu ada gambar naganya….” Cucu Sultan itu tertawa. Tapi tawanya lenyap begitu ada satu tangan menariknya. Ternyata Patih Ki Haryo.
Sementara itu belasan orang di tiga perahu mencemaskan apa yang terjadi dengan perwira gemuk tadi. Beberapa perahu kecil berputar-putar di bekas tempatnya jatuh. Semua orang tahu kalau perwira itu tidak bisa berenang. Dan sejak tadi tubuhnya tak kunjung muncul ke permukaan laut.
“Juminten, jangan berlaku yang bukan-bukan. Sultan bisa marah dan mendampratku!” kata Patih Ki Haryo setengah berteriak seraya mencekal dan menggendong Juminten erat-erat hingga anak itu tak bisa bergerak. Dengan pelototkan mata sang Patih membentak bocah di hadapannya. “Tetap di tempatmu! Awas kalau kau berani bergerak satu langkah saja!” Sebelum membawa Juminten ke tempat Sultan duduk sang Patih memberi isyarat pada beberapa prajurit di dekatnya. “Tangkap anak itu. Dia harus dihukum cambuk karena berlaku kurang ajar terhadap Sultan, terhadap Cucu Sultan, Patih Kerajaan dan Perwira Kerajaan!”
“Kakek berjenggot lebat!” Anak bernama Naga Kuning berteriak pada Patih Ki Haryo. “Kenapa kau berlaku kasar terhadap anak perempuan itu! Kalau dia memang cucu Suitan kau tidak layak memperlakukannya seperti itu!”
“Dasar anak sampah kurang ajar! Makan tendanganku ini!” Patih Kerajaan yang hendak bergerak pergi jadi marah mendengar kata-kata Naga Kecil. Kaki kanannya ditendangkan ke perut anak itu.
Dengan lincah Naga Kuning membuat gerakan mengelak. Begitu kaki kanan Patih Ki Haryo mengapung di udara dia gerakkan tangan kanannya yang memegang seruling. Terdengar suara mendenging. Lalu “sett… settt… sett!”
Tali kulit kasut yang dikenakan Patih Kerajaan putus di tiga tempat. Ketika si bocah menyentakkan serulingnya maka kasut itu pun terlepas mental dan melayang jatuh masuk ke dalam laut.
Kalaplah Ki Haryo Darmogumpito. Juminten diserahkannya pada seorang perwira. Beberapa orang prajurit yang hendak menyergap Naga Kuning didorongnya. “Biar aku yang mematahkan leher anak jahanam itu!”
Sekali melompat saja sang Patih telah berada di hadapan Naga Kuning. Kedua tangannya terpentang. Lalu diulurkan untuk mencekik leher si anak. Naga Kuning tidak tinggal diam. Dia julurkan lidahnya dan jerengkan kedua matanya. Ketika sang Patih menyergap lagi anak Ini melompat ke udara. Lalu membuat lesatan jungkir balik ke belakang sampai beberapa kali hingga akhirnya ke dua kakinya menginjak pagar buritan perahu besar. Di sini sekali lagi dia menjulurkan lidah mengejek Patih Ki Haryo. Lalu sambil sisipkan serulingnya ke pinggang dia jatuhkan diri ke dalam laut. Patih Ki Haryo berusaha menangkap salah satu kaki anak itu tapi luput.
“Anak setan kurang ajar!” rutuk Ki Haryo seraya pukulkan tangan kanannya ke pinggiran perahu hingga kayu perahu hancur berantakan.
“Patih! Perwira Ngadikarso yang tadi jatuh ke laut sampai saat ini belum muncul!” Seorang prajurit melaporkan pada Patih Ki Haryo.
“Perduli setan! Aku perintahkan kalian terjun ke laut! Kejar anak itu. Pergunakan perahu-perahu kecil yang ada di sekitar kita!” teriak Patih Kerajaan itu dengan mata melotot. Maka hampir selusin prajurit dan dua orang perwira segera terjun ke taut melakukan perintah Patih Kerajaan itu. Belum lama orang-orang Kerajaan ini melakukan pengejaran tiba-tiba orang-orang di atas perahu berseru-seru sambil menunjuk ke arah pantai teluk. Mereka melihat tubuh gemuk perwira yang tadi jatuh mengapung di permukaan air dan bergerak seperti ditarik menuju pantai. Begitu tubuhnya terbujur di atas pasir menyusul muncul sosok bocah berpakaian hitam itu. Kedua tangannya didorongkan ke telapak kaki sang perwira hingga tubuh gemuk itu naik ke atas pasir teluk dan tidak sampai diseret ombak.
“Lihat! Anak itu menolong perwira yang jatuh!” teriak seseorang. Orang banyak sekarang bertanya-tanya siapa adanya anak kecil tadi.
“Kalau dia tidak memiliki kepandaian mana mungkin dia mampu menolong perwira yang tubuhnya hampir sepuluh kali lebih besar!”
“Anak itu pasti punya ilmu silat! Masakan Patih Ki Haryo bisa dipermainkannya!” kata seorang lainnya.
“Ya, ya! Yang jelas dia pandai sekali berenang dan mampu menyelam!”
Tak lama setelah si anak menyelamatkan perwira gemuk itu, belasan prajurit dan dua perwira Kerajaan mendarat di pantai teluk. Merek- segera mengejar Naga Kuning.
Menghadapi orang begitu banyak anak ini bukannya segera melarikan diri. Tapi lebih dulu dia mencibir berulang kali pada orang-orang itu, melompat jungkir balik ke belakang lalu lari ke arah dua orang pemuda berambut gondrong yang ada di teluk seraya berteriak.
“Hai! Tolong! Tolong! Ada orang-orang jahat mengejar mau memukuli diriku!”

*
* *

SEBELAS

Ada keributan di atas perahu besar, kata pemuda berambut gondrong seraya terus menunjuk ke tengah laut. Pemuda di sebelahnya memandang ke arah yang ditunjuk tapi tidak berkata apa-apa. Sesaat kemudian dia mengulangi pertanyaannya tadi. “Katamu kau punya tugas mencari dan membunuh tiga orang. Siapa saja mereka itu?”
“Kalau kusebutkan pun belum tentu kau kenal mereka. Apa gunanya?”
“Kalau aku tidak kenal apa ruginya bagimu mengatakan. Tapi kalau ada diantara mereka yang aku kenal bukankah ada untungnya bagimu…?”
“Baiklah. Kau bertanya aku akan memberi tahu. Orang pertama seorang bernama Santiko, berjuluk Bujang Gila Tapak Sakti. Kau kenal orang ini?”
Orang yang ditanya cepat sembunyikan perubahan wajahnya. Dia mendongak ke atas sambil garuk-garuk kepala berpura-pura berpikir. Diam-diam dia menekan rasa keterkejutannya lalu gelengkan kepala. Dalam hati dia berkata. “Siapa pemuda ini sebenarnya? Mengapa dia hendak membunuh sahabatku si gendut Bujang Gila Tapak Sakti itu? Aku harus hati-hati. Manusia ini di luar kelihatan baik bersahabat tapi di dalam mungkin sejenis binatang buas yang bisa mencelakaiku!” Pemuda Ini lantas, pura-pura bertanya. “Siapa orang yang ke dua…?”
“Seorang kakek dikenal dengan nama Sukat Tandika, berjuluk Tua Gila. Kabarnya dia sulit dicari.
Suka gentayangan kemana-mana. Tapi aku pasti akan menemukannya….”
“Aku juga tidak kenal kakek itu,..” kata pemuda yang tadi bertanya dengan suara perlahan tapi jantung mendenyut keras.
“Kau masih ingin tahu siapa korbanku yang ke tiga?”
“Ya, ya…. Katakanlah.” Jawab pemuda yang ditanya dengan dada berdebar.
“Orangnya bernama Wiro Sableng. Punya julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Kabarnya dia seorang pendekar muda yang telah menggegerkan dunia persilatan di mana-mana. Pernah dengar nama dan julukannya?”
“Hemm…. Aku pernah dengar tapi tidak tahu siapa dia adanya….”
“Nah, terbukti kau tidak kenal ketiga orang yang kusebutkan itu. Suaramu bergetar. Aku melihat ada perubahan pada air mukamu….”
“Perutku mendadak mules. Tapi sebelum pergi apakah aku boleh menanyakan sesuatu?” Tanpa menunggu jawaban orang pemuda itu langsung ajukan pertanyaan. “Apa sebabnya kau ingin membunuh tiga orang itu? Apa ada silang sengketa atau dendam kesumat antara kalian?”
Yang ditanya menggeleng. “Kataku tadi, aku menjalankan tugas….”
“Siapa yang memberi tugas itu padamu?”
“Eh, kau bertanya biasa atau tengah menyelidik?!”
“Aku hanya kepingin tahu. Siapa tahu di kemudian hari aku bisa membantu tugasmu itu….”
“Hemm…. Apakah perutmu masih mules?!”
“Aku harus pergi sekarang.,..”
“Tunggu!” kata pemuda yang berusia lebih muda seraya memegang tangan pemuda satunya. “Aku melihat ada orang gemuk terapung di permukaan laut. Entah masih hidup Utusan entah sudah jadi mayat. Anehnya tubuh itu bergerak ke arah pantai. Ke jurusan kita…. Hai! Ada seorang anak kecil mendorong tubuh gemuk itu ke atas pasir…. Aku mau menyelidik apa yang terjadi.”
“Hati-hati! Aku melihat belasan perahu menuju ke sini. Sepertinya tengah melakukan pengejaran….”
“Perduli dengan orang-orang di atas perahu. Aku ingin menyelidiki si gemuk dan anak kecil itu….”
Tiba-tiba anak kecil berpakaian hitam berteriak dan lari ke arah dua pemuda berpakaian hitam itu.
“Tolong! Tolong! Ada orang-orang jahat mengejar mau memukuli diriku!”
Sesaat kemudian anak kecil berambut jabrik itu sampai di hadapan dua pemuda gondrong. Salah seorang dari mereka yaitu yang lebih muda bertanya. “Kulihat yang mengejarmu adalah prajurit Kerajaan. Apa yang telah kau lakukan?!”
Sebelum anak itu sempat menjawab, tiga belas prajurit ditambah dua orang perwira telah berada di tempat itu. Mereka langsung mengurung ketiga orang itu. Ketika empat prajurit hendak menangkap si anak, pemuda yang tadi bertanya cepat menghalangi.
“Kalau dua pemuda ini adalah teman anak kurang ajar ini, tangkap mereka bertiga!” Salah seorang dari dua perwira memerintah lalu melompat ke depan. Tapi gerakannya ditahan dua ujung jari tangan kiri pemuda di hadapannya.
“Orang muda! Kau berani menantang perwira Kerajaan?!”
“Aku tidak perduli siapa kau siapa kalian! Anak kecil itu meminta tolong pada kami! Aku wajib menolongnya karena kalian berjumlah lebih banyak dan dia cuma seorang anak kecil. Tapi aku berjanji akan menyerahkan anak itu pada kalian jika kalian bisa memberi keterangan mengenai tiga orang yang tengah aku cari!”
“Kakak! Kau bukannya mau menolong! Tapi hendak menjirat leherku!” teriak anak kecil yang adalah Naga Kuning alias Naga Cilik atau Naga Kecil adanya.
Si pemuda tidak perdulikan seruan Naga Kuning. Dia terus saja berkata. “Tiga orang itu bernama Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti. Sukat Tandika alias Tua Gila dan Wiro Sableng alias Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212….”
“Pemuda gila! Jangan bicara segala orang yang kami tidak tahu! Kalau kau berani menghalangi kami menangkap anak ini, maka ini bagianmu!”
Perwira muda itu lalu hantamkan satu jotosan ke perut si pemuda. Yang dijotos bergeming pun tidak. Sebaliknya perwira yang memukul tampak merintih kesakitan. Tangan kanannya kelihatan bengkak kemerahan.
“Rasakan olehmu!” teriak Naga Kuning seraya tertawa dan julurkan lidahnya.
“Tangkap tiga orang ini! Jika mereka melawan bunuh semua!” teriak perwira yang tadi memukul dan masih berdiri kesakitan. Dia bukan saja marah akibat tangannya yang cidera tapi juga karena diejek dicibir-cibir oleh Naga Kuning.
Maka empat belas orang dengan berbagai macam senjata menyerbu ke arah si anak kecil dan dua pemuda berambut gondrong.
“Celaka! Kita hanya mencari penyakit!” seru pemuda di sebelah kanan. Tapi pemuda yang tadi telah menghadapi rombongan orang-orang Kerajaan itu malah maju menyongsong sambil bertolak pinggang.
“Aku Utusan Dari Akhirat! Aku harap kalian semua segera meninggalkan tempat ini!”
“Pemuda gila itu bunuh lebih dulu!” teriak perwira yang cidera.
Belasan senjata berkiblat ke arah pemuda mengaku bernama Utusan Dari Akhirat.
“Kalian mencari mati!” teriak si pemuda. Lututnya ditekuk sedikit. Tangan kanannya lalu dipukulkan ke depan.
Terjadilah hal yang aneh. Udara di tempat itu mendadak redup. Lalu tiga larik sinar terang menggidikkan menderu keluar dari tangan si pemuda. Merah, hitam dan kuning! Hawa panas tiba-tiba menyungkup seiring tiga sinar yang berkiblat.
Pemuda di samping kiri berseru kaget ketika melihat pukulan yang dilepaskan oleh si gondrong di depannya.
“Pukulan Gerhana Matahari!” Pemuda ini kemudian jadi pucat sendiri. Dalam hati dia memaki kebodohannya. Tololnya diriku! Mengapa aku sampai menyebutkan nama pukulan itu! Tapi aku tak bisa ditipu. Pukulan tadi benar-benar pukulan Gerhana Matahari. Yang hanya dimiliki oleh Pangeran Matahari dan Si Muka Bangkai. Tapi murid dan guru itu sudah menemui ajal di Pangandaran…. Siapa adanya pemuda Ini! Aku harus mencari tahu sebelum bahaya mengancam!”
Di lain kejap terjadilah hal yang mengerikan.
Sembilan penyerang termasuk seorang perwira mencelat mental, jatuh berkaparan di pasir dan tercebur ke dalam laut. Semua tidak bernyawa lagi. Menemui ajal dengan tubuh terpanggang hancur! Yang masih hidup tertegun dengan muka pucat lalu berputar larikan diri, termasuk perwira yang cidera.
“Aku Utusan Dari Akhirat telah memberi ingat! Tapi kalian sengaja minta mampus! Masih untung tidak mampus semua!”
Perlahan-lahan pemuda bernama Utusan Dari Akhirat memutar tubuhnya ke arah pemuda di belakangnya. “Kau mengenali dan menyebut nama pukulan sakti yang tadi aku lepaskan! Kalau kau bukan seorang dari dunia persilatan mana mungkin bisa mengenali! Siapa kau sebenarnya sahabat?!”
“Ah…!” Pemuda yang ditanya garuk-garuk kepala. “Aku hanya mengira-ngira saja. Tidak tahunya dugaanku tadi betul. Beberapa waktu lalu aku pernah menyaksikan perkelahian antara dua orang sakti. Yang satu menyebutkan nama pukulannya sebelum dilepaskan. Katanya itulah Pukulan Gerhana Matahari. Lalu mencuat tiga warna seperti yang tadi keluar dari tanganmu….”
“Di mana terjadinya perkelahian itu! Siapa orang yang kau lihat melepaskan pukulan Gerhana Matahari itu?!” Utusan Dari Akhirat bertanya dengan pandangan mata lekat menyorot.
“Peristiwanya di Gunung Bromo…. Tapi aku tidak tahu siapa orangnya….”
“Kau masih ingat ciri-ciri orang yang memiliki pukulan sakti itu?”
“Orangnya tinggi tegap. Masih muda. Dia mengenakan sebentuk mantel. Hanya itu yang bisa kau ketahui…. Sobatku, ternyata kau seorang pendekar sakti mandraguna. Kalau saja aku bisa memiliki kepandaian sepertimu. Ah, aku nelayan tolol mengapa bicara dan bercita-cita yang bukan-bukan….”
Utusan Dari Akhirat menyeringai. Dia memandang ke tengah laut. Saat itu dua perahu besar yang diapit dua perahu rombongan penabuh gamelan semakin dekat ke teluk.
“Sahabatku, pertemuan kita sampai di sini. Aku harus pergi…” kata Utusan Dari Akhirat.
“Saya Naga Kuning mengucapkan terima kasih padamu, kakak yang hebat perkasa. Kalau kau tidak menolong pasti aku sudah ditangkap dan digebuki prajurit-prajurit Kerajaan itu. Aku kagum pada ilmu kesaktianmu. Bolehkah aku Ikut bersamamu? Maukah kau mengajari pukulan sakti tadi padaku?”
Utusan Dari Akhirat tersenyum. “Setiap manusia memiliki rejeki sendiri-sendiri. Jangan meminta yang lebih dari pada yang sudah ditakdirkan!”
“Kalau begitu maafkan saya yang tidak tahu diri!” kata Naga Kuning alias Naga Kecil.
Utusan Dari Akhirat mengucak rambut jabrik Naga Kuning lalu tinggalkan tempat itu. Anak kecil ini memandang pada pemuda gondrong satunya yang tegak sambil berulang kali menarik nafas panjang. “Kakak, kau seperti orang diserang bengek. Mengapa kau tidak ikut dengan kakak satunya itu? Bukankah dia sahabatmu seperjalanan?”
Yang ditanya menggelengkan kepala dan mengusap mukanya berulang kali. “Pemuda hebat itu barusan saja aku kenal di tempat ini….”
“Pantas saya lihat kakak kurang senang padanya….”
“Eh, mengapa kau bicara begitu?”
“Tadi saya lihat kakak berulang kali menarik nafas panjang tanda lega orang itu sudah pergi. Bukankah begitu? Kakak seperti menyembunyikan rasa takut terhadapnya…”
Paras si pemuda sesaat berubah. “Anak sekecil ini pandai menduga dan mampu membaca pikiran orang…” katanya dalam hati.
“Saya juga tidak senang pada pemuda tadi. Dia membunuh orang begitu banyak seperti membunuh lalat saja. Lalu namanya. Utusan Dari Akhirat! Saya rasa itu satu nama gila dan membayangkan hal mengerikan….”
“Tapi tadi kau minta dia mengajarkan pukulan sakti yang dimilikinya itu….”
“Tidak, saya hanya memancing. Dia pandai menolak secara halus….”
“Bocah cerdik, berapa umurmu?”
“Sebelas tahun…” jawab si anak.
“Naga Kuning…. Itu namamu bukan? Kau anak cerdik…. Kau pasti murid seorang pandai dunia persilatan. Dari sini tadi aku lihat kau mempermainkan lelaki gemuk di atas perahu itu.”
Naga Kuning tertawa lebar. “Saya sendiri tahu kalau kakak berpura-pura tolol mengaku seorang nelayan. Sebenarnya kakak adalah seorang dari dunia persilatan, betul?”
“Bocah, kau mulai berlaku keliwat pintar…”
“Saya bisa membuktikan!”
“Hemm…. Cobalah!”
“Pertama, tadi kau bisa menyebut nama pukulan sakti yang dilepaskan pemuda itu. Ketika ditanya kau mengatakan pernah melihat ada dua orang berkelahi dan salah satu melepaskan pukulan sakti itu sambil menyebut namanya. Saya rasa kau bicara dusta. Bukankah begitu…? Hik… hik… hik!” Naga Kuning tertawa gelak-gelak.
Pemuda gondrong di hadapan Naga Kuning tertegun ternganga. Lalu sambil tersenyum dia berkata. “Aku kagum akan kecerdikanmu. Tapi pernah kau mendengar ujar-ujar yang mengatakan bahwa kadang-kadang seseorang bisa tertipu oleh kecerdikannya sendiri?”
“Baiklah kalau kau tidak mau mengakui bukti pertama tadi. Saya masih punya satu bukti lagi…. Kalau kakak bukan orang persilatan mengapa membekal senjata dibalik pakaian?”
Rupanya karena anak ini lebih pendek maka dari bawah dia bisa melihat jelas bagian pakaian si pemuda gondrong yang menggembung.
Karena terkejut mendengar ucapan Naga Kuning, pemuda itu secara tak sengaja membuat gerakan meraba ke pinggang.
Naga Kuning tertawa gelak-gelak.
“Kau benar-benar cerdik Naga Kuning. Walau kau tidak mau mengaku tapi gurumu tentu seorang berkepandaian sangat tinggi. Apa kau tinggal di sekitar teluk ini?”
Naga Kuning menggeleng. “Saya tidak punya rumah. Tidak punya orang tua. Rumah saya di mana-mana. Orang tua saya siapa saja yang. menyukai diri saya….” Anak ini hentikan ucapannya.
“Ada apa?”
“Lihat, tiga perahu besar segera mendarat. Belasan perahu berisi puluhan prajurit dikayuh ke arah sini…. Kita tidak bisa menghindarkan urusan kecuali segera kabur dari sini!
“Aku tidak mau mencari penyakit. Orang-orang Kerajaan pasti akan menangkap kita. Lekas tinggalkan tempat ini….”
“Saya akan lari ke arah timur!” kata Naga Kuning.
“Aku ke jurusan Tenggara!” kata pemuda berambut gondrong.
“Tunggu dulu! Apa kau tidak merasa kehilangan sesuatu?”
“Eh, apa maksudmu?” tanya si gondrong.
Naga Kuning acungkan tangan kirinya yang sejak tadi disembunyikan ke belakang. Di tangan itu tergenggam sebuah batu hitam berbentuk empat persegi panjang. Pemuda gondrong berseru kaget.
“Anak sialan! Bagaimana kau bisa mencopet benda itu tanpa aku tahu?!” bentak si gondrong. Batu hitam itu adalah batu mustika yang bisa mengeluarkan lidah api. Benda ini membuktikan bahwa si pemuda sebenarnya adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.
Selagi Naga Kuning tertawa cekikikan pemuda di hadapannya segera menyambar batu hitam yang merupakan Sebuah batu mustika sakti pasangan Kapak Maut Naga Geni 212 yang saat itu terselip di pinggangnya.
Baru saja Wiro berhasil mengambil batu hitam itu tiba-tiba delapan senjata tajam melayang di udara. Wiro cepat tarik tangan Naga Kuning hingga anak ini terbetot ke belakangnya. Pada saat itu pula tiga buah tombak dan dua buah golok panjang menghantam tubuh Pendekar 212. Tiga senjata lainnya menderu di atas kepalanya.
Lima kali terdengar suara berdentrangan. Lima senjata terpental. Dua di antaranya dalam keadaan patah. Berkat jubah Kencono Geni yang dikenakannya Wiro menjadi kebal tak cidera sedikit pun. Hanya baju hitam yang dikenakannya tampak robek di beberapa bagian.
“Luar biasa! Kau punya ilmu kebal!” teriak Naga Kuning dengan mata melotot. “Kau tak bisa menipu lagi! Kau pasti seorang pendekar rimba persilatan berkepandaian tinggi!”
Wiro tidak perdulikan ucapan anak itu. Sebelum puluhan prajurit sampai ke tempat itu dia segera melarikan diri. Si kecil Naga Kuning sesaat celingukan. Lalu dia menghambur pula ke arah lenyapnya Pendekar 212.

DUA BELAS

Murid Eyang Sinto Gendeng lari sekencang yang bisa dilakukannya. Bukan saja karena khawatir akan dikejar oleh prajurit Kerajaan namun dia juga masih dihantui oleh rasa ngeri terhadap pemuda yang mengaku bernama Utusan Dari Akhirat itu. Seperti diketahui walau saat itu telah mendapat ilmu tidur dari Si Raja Penidur dan mengenakan jubah sakti Kencono Geni namun Wiro masih berada dalam keadaan lemah karena telah kehilangan kesaktian dan tenaga dalamnya. Karenanya belum terlalu jauh berlari meninggalkan teluk dia mulai merasakan dadanya sesak kehabisan nafas dan dua kakinya laksana mau tanggal.
“Aku tak bisa lari lagi! Kalau orang-orang itu masih mengejar celaka diriku!” pikir Wiro. Dia berusaha mencari tempat berhenti sekaligus bersembunyi. Namun kawasan pantai di sekitar tempat dia berada adalah kawasan terbuka. Hanya pohon-pohon kelapa yang bertumbuhan di sana-sini dan tak mungkin dipergunakan untuk tempat berlindung. Bukit-bukit karang berada cukup jauh di sebelah timur teluk. Tak ada jalan lain. Kalau ingin selamat dia harus mampu mencapai bebukitan karang itu. Maka walau dada sesak, nafas serasa mencekik leher dan dua kakinya seolah telah berubah menjadi batu berat yang membuatnya sulit melangkah apalagi berlari, namun tak ada jalan lain. Dia harus dapat menyelinap selamatkan diri di bukit-bukit karang sana.
Wiro hanya mampu berjalan sampai dua puluh tombak. Setelah itu kakinya goyah. Tubuhnya jatuh berlutut. Telinganya menangkap suara ramai di kejauhan. Ketika dia berpaling ke arah teluk sebelah barat berubahlah parasnya. Puluhan prajurit Kerajaan sambil berteriak-teriak berlari ke arahnya dengan senjata diacung-acungkan ke udara! Beberapa di antaranya malah telah menarik busur melepas anak panah ke arahnya.
“Celaka!” desis Pendekar 212. Dia maklum walau saat itu mengenakan jubah Kencono Geni serta memiliki ilmu tidur namun menghadapi lawan sebanyak itu mana mungkin dia selamatkan diri?
Selagi Wiro kebingungan tiba-tiba dia mendengar suara lain. Suara rentak kaki kuda serta sesuatu yang berputar dan meluncur di atas permukaan pasir pantai diseling oleh suara “tar… tar… tar” berulang kali! Wiro berpaling ke jurusan datangnya suara itu. Sebuah gerobak ditarik oleh seekor kuda meluncur dari arah samping.
“Ini satu-satunya harapanku!” pikir murid Sinto Gendeng. Dia tidak memikirkan lagi dari mana datangnya gerobak itu atau siapa orang yang menjadi sais. Yang ada di otaknya adalah mencari selamat. Dia juga tidak memperhatikan kalau di bagian bawah gerobak mendekam sesosok tubuh berpakaian serba hitam.
Wiro kumpulkan sisa-sisa tenaganya yang ada. Begitu gerobak lewat di depannya dia segera melompat. Dia berhasil menangkap dinding kereta sebelah kanan. Untuk beberapa lamanya Wiro hanya mampu bergelantungan sementara kedua kakinya terseret di pasir. Dia kumpulkan lagi tenaga yang masih ada. Dengan susah payah akhirnya Wiro berhasil memanjat pinggiran kereta dan jatuhkan dirinya ke dalam kereta. Untuk beberapa lamanya dia terhenyak tertelentang di lantai kereta. Sinar matahari yang keras membuat pemandangannya kelam kesilauan. Dia tidak dapat melihat dengan jelas kusir gerobak itu. Yang tampak hanyalah satu sosok berpakaian serba kuning, duduk di bagian depan gerobak. Tangan kanan mencekal tali kekang sedang tangan kiri memegang cemeti yang terus menerus dipergunakan untuk mencambuk kuda penarik gerobak yang berlari kencang ke jurusan bukit-bukit batu.
Karena terbujur di lantai gerobak Wiro tidak mengetahui kalau kendaraan itu meluncur ke arah gundukan batu karang yang mencuat muncul setinggi satu jengkal dari permukaan pasir. Jika arah gerobak tidak segera dirubah maka salah satu roda kendaraan akan membentur batu karang itu. Akibatnya gerobak akan terpental lalu terguling. Tapi anehnya seperti tidak melihat adanya gundukan batu karang atau mungkin memang disengaja kusir kereta tidak mengubah arah lari kudanya.
Kalau Wiro tidak mengetahui apa yang bakal terjadi, lain halnya orang yang bergelantungan di bawah kolong gerobak. Sepasang matanya melotot ketika melihat bagaimana roda gerobak sebelah kanan meluncur tepat ke arah gundukan batu karang yang menyembul di permukaan pasir pantai.
“Gilai Kusir gerobak ini buta atau bagaimana?!”
“Batu sebesar hantu itu masakan dia tidak melihat! Aku harus berteriak memberi ingat!”
Namun sebelum sempat orang ini berteriak, roda kanan gerobak telah lebih dulu membentur dan menggilas gundukan batu. Tak ampun gerobak itu terpental ke udara setinggi dua tombak. Roda kanan tanggal, sesaat membubung ke udara lalu jatuh ke pasir hancur berantakan. Gerobak dan kuda terbanting ke pasir, sisi kirinya remuk. Kuda penarik gerobak meringkik keras sebelum jatuh terkapar.
Pada saat gerobak menghantam gundukan batu tadi, tiga sosok tubuh tampak melesat ke udara. Yang pertama adalah kusir gerobak yang mengenakan pakaian kuning dan ternyata wajahnya juga ditutup sehelai kain kuning. Orang ini membuat tiga kali jungkiran di udara lalu melesat ke arah bukit karang dan lenyap di balik salah satu lamping batu karang.
Sosok ke dua bukan lain adalah tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng tiba-tiba terpental ke arah pantai. Dia berusaha agar tidak terbanting jatuh ke atas pasir dengan mencoba membuat gerakan berputar. Namun karena tidak punya daya kekuatan lagi, dia tak mampu melakukan hal itu. Wiro masih mencoba membuat gerakan meredam daya berat kejatuhannya dengan pergunakan kedua tangannya bertumpu ke pasir lalu menggelindingkan diri. Dia berhasil, hanya saja salah memilih arah. Punggungnya menghantam bukit karang. Dia meringis kesakitan, menggeliat lalu rebah ke pasir. Dari mulutnya keluar suara erangan. Punggungnya terasa seolah hancur.
Orang ke tiga terpental dari bawah kolong gerobak. Dia yang paling beruntung karena tubuhnya mencelat ke arah laut dan jatuh ke air. Sesaat dia megap-megap namun kemudian dengan cekatan berenang ke tepi pasir.
Di balik lamping batu karang murid Sinto Gendeng terhenyak tak bergerak. Kedua matanya terpejam. Meskipun rasa sakit pada punggungnya masih terasa namun dia beruntung terlindung oleh jubah Kencono Geni yang melekat di tubuhnya. Selain itu beruntung dia tidak sampai jatuh pingsan. Wiro menarik nafas berulang kali. Perlahan-lahan dia beringsut ke balik bukit. Wiro masih khawatir kalau-kalau para prajurit Kerajaan akan mengejarnya. Namun sampai saat itu tidak satu orang pun yang muncul. Dia mengusap mukanya berulang kali. Sambil menggaruk-garuk kepala dia berusaha berpikir apa yang telah terjadi. Dia dikejar oleh puluhan prajurit. Menyelamatkan diri dengan jalan meloncat ke atas gerobak yang dikemudikan oleh seseorang berpakaian serba kuning yang tidak sempat dilihatnya wajahnya. Lalu tiba-tiba saja gerobak itu menumbuk sesuatu dan mental ke udara. Tubuhnya ikut terlontar.
Memandang berkeliling Wiro tidak melihat kusir gerobak tadi. Wiro juga tidak mengetahui kalau ada orang ke tiga yang ikut mental sewaktu gerobak menumbuk batu karang.
“Kusir kereta berpakaian kuning itu. Aku rasa-rasa…. Ah jangan-jangan memang dia! Orang bercadar kuning yang menolong Tua Gila waktu di serang nenek brengsek bernama Sabai Nan Rancak itu…. Ke mana dia sekarang?” Wiro memandang berkeliling namun orang berpakaian serba kuning yang menutupi wajahnya dengan cadar kuning sama sekali tidak kelihatan. “Aneh, orang berkepandaian tinggi seperti si cadar kuning itu masakan begitu bodoh mengemudikan gerobak….”
Selagi Wiro berpikir-pikir seperti itu tiba-tiba terdengar suara keras menegur.
“Aku Utusan Dari Akhirat datang untuk minta nyawamu! Apakah kau sudah bersiap menerima kematian?!”
Murid Sinto Gendeng mendengar petir menyambar di kedua liang telinganya. Mukanya berubah pucat. Walau sakit di punggungnya belum lenyap, dia cepat bangkit berdiri dan berpaling ke jurusan datangnya suara orang menegur tadi. Namun dia tidak melihat siapa-siapa.
“Suaranya jelas dan keras terdengar dari arah situ. Tapi orangnya tidak kelihatan. Kalau dia muncul dan ternyata sudah mengetahui siapa aku, celaka besar diriku!”
“Utusan Dari Akhirat, kau bicara tapi tidak memperlihatkan diri. Aku tak mengerti maksud teguranmu tadi! Tadi kau pergi dengan sikap bersahabat. Mengapa sekarang muncul kembali dengan niat hendak membunuhku?!”
Jawaban yang didapat Pendekar 212 adalah suara tawa bergelak yang mau tak mau membuat hatinya bertambah kecut. Diusapnya dadanya. “Kalau dia memang berniat hendak membunuhku, apakah jubah sakti ini sanggup menahan pukulan Gerhana Matahari?!” membatin Wiro seraya tangannya meraba ke pinggang di mana terselip Kapak Maut Naga Geni 212.

*
* *

TIGA BELAS

Suara tawa berhenti. Berganti dengan ucapan mengejek. “Tangan bergerak ke pinggang. Hendak mencabut batu api atau pasangannya kapak bermata dua?! Ha… ha… ha! Kau boleh punya batu api segunung, boleh punya kapak segerobak! Tapi Utusan Dari Akhirat telah datang membawa pesan malaikat maut! Manusia mana yang mampu menolak datangnya ajal?! Ha… ha… ha!”
Bersamaan dengan lenyapnya suara tertawa tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat. Menyangka orang hendak menyerangnya Pendekar 212 cepat melompat mundur. Ternyata orang itu tidak menyerang tapi tegak berdiri di atas gundukan batu karang sejarak tiga langkah dari hadapan Wiro.
Sewaktu murid Eyang Sinto Gendeng ini melihat siapa adanya orang itu maka dia langsung memaki habis-habisan.
“Anak setan! Kau rupanya! Kurang ajar sial dangkalan! Berani kau mempermainkan aku!”
Orang di atas batu tersenyum cengar-cengir. Ternyata dia adalah anak kecil berusia sebelas tahun berambut jabrik, mengenakan pakaian serba hitam dengan gambar naga di dadanya. Dia bukan lain adalah Naga Kuning alias Naga Cilik alias Naga Kecil. Pakaian hitamnya basah kuyup. Rambutnya juga basah tapi tetap saja kaku tegang berdiri.
“Kakak, bukit batu karang di teluk ini bukit angker! Siapa berani memaki tak karuan lidahnya bisa mencelat dan mulutnya bisa perot! Hik… hik… hik…!”
Wiro hendak melabrak lagi si anak dengan kutukan serapah tapi batalkan niatnya. Sambil garuk-garuk kepala dia berpikir. “Suara anak ini jelas berbeda dengan suara orang yang tadi membentakku. Berarti…. Atau mungkin dia….” Wiro garuk lagi kepalanya lalu bertanya. “Naga Kuning! Apakah kau tadi yang mempermainkanku, seolah kau adalah orang bernama Utusan Dari Akhirat itu…?!”
“Aku barusan datang. Utusan Dari Akhirat bukankah sudah pergi. Pertanyaanmu aneh….”
“Di sini tidak ada orang lain kecuali kau dan aku! Kecuali ada setan yang pandai berkata-kata….”
“Apa kau mengenali suara orang itu…?”
“Suaranya memang tidak seperti suaramu. Juga tidak menyerupai suara Utusan Dari Akhirat….”
“Lalu apakah suaranya seperti ini…?” Naga Kuning lalu monyongkan mulutnya dan berkata. “Aku Utusan Dari Akhirat Datang untuk minta nyawamu! Apakah kau sudah bersiap menerima kematian?!”
Murid Sinto Gendeng terbelalak. Suara dan kata-kata yang diucapkan Naga Kuning sama dengan suara orang yang tadi didengarnya.
“Hemmm…. Kau punya kepandaian meniru suara orang! Berarti memang kau yang sengaja mempermainkan diriku!” Wiro melangkah cepat mendekati Naga Kuning. Tangan kanannya diulurkan untuk menjambak rambut jabrik anak itu. Tapi gerakannya tertahan sewaktu tiba-tiba dari samping kiri terdengar suara deru dahsyat. Di lain kejap satu gelombang angin melabrak ganas ke arah Pendekar 212. Karena Naga Kuning berada di dekat Wiro maka sambaran angin itu ikut menyapunya. Naga Kuning berteriak keras.
Dengan cepat anak ini melompat ke udara setinggi dua tombak. Namun tak urung salah satu kakinya kena tersambar hingga dalam keadaan melayang tubuhnya terbanting di udara. Kakinya serasa putus. Naga Kuning menjerit kesakitan sambil pegangi kaki kirinya. Di bawah sana gundukan batu karang tempat dia berdiri tadi hancur berentakan dan bertaburan ke udara bersama pasir pantai. Naga Kuning menjerit lagi ketika menyadari saat itu dirinya terlontar ke arah bagian runcing salah satu gundukan batu karang, kepala lebih dulu!
Di saat bersamaan murid Sinto Gendeng telah menerima pula hantaman dahsyat. Tubuhnya laksana dihantam batu besar, bersamaan dengan itu dia seperti diseret air bah. jubah sakti Kencono Geni memang melindungi tubuhnya namun jalan darah di sekitar tubuhnya laksana berhenti. Lalu dengan tiba-tiba mengalir lagi tapi alirannya tak karuan, seperti menyungsang terbalik. Akibatnya Wiro merasa seolah ada ribuan jarum menusuki bagian dalam tubuhnya. Murid Sinto Gendeng menjerit keras sementara tubuhnya terlempar empat tombak ke udara lalu melayang jatuh. Masih untung dia jatuh ke arah pinggiran laut. Namun dalam keadaan seperti lumpuh, walaupun jatuh di bagian laut yang dangkal Wiro tak bisa berbuat apa-apa. Dia tetap akan tenggelam dan kalau tidak dihanyutkan ombak ke tepi pasir atau ada yang menolong, cepat atau lambat nyawanya tidak akan selamat!
“Huh…. Hancur kepalaku!” seru Naga Kecil ketika menyadari sebentar lagi kepalanya akan membentur bagian batu karang runcing. Jarak demikian dekatnya hingga tak mungkin baginya untuk menghindar atau membuat gerakan berkelit. Dalam keadaan genting begitu rupa si anak ingat pada seruling yang terselip di pinggangnya, Dengan cepat dia pergunakan tangan kiri mencabut benda itu. Begitu suling berada dalam genggaman, benda ini ditusukkannya ke depan, ke arah batu karang runcing. Ini satu-satunya jalan untuk menghindarkan benturan kepala dengan batu karang. Traakkk!”
Suling yang terbuat dari bambu itu patah dua! Bobot dorongan tubuh Naga Kuning yang terlempar walau kini berkurang sampai setengahnya yang membuat dia masih ada kesempatan untuk miringkan kepala, walau kepalanya selamat dari benturan namun tak urung bahu kanannya kini tak terhindarkan dari menghantam pertengahan batu karang. Kepala selamat tapi tulang belikat si bocah akan hancur remuk!
Sesaat lagi benturan itu akan terjadi tiba-tiba terdengar suara semburan keras. Bersamaan dengan itu kelihatan muncratan cairan aneh ke arah batu karang disertai menghamparnya bau sangat harum. Udara seolah terbungkus oleh hawa yang menyengat tapi melegakan jalan pernafasan.
“Brakkk!”
Batu karang runcing hancur berentakan bagian atasnya. Bahu kanan Naga Kuning selamat dari benturan keras. Namun hancuran batu karang serta bau aneh yang menyengat membuat anak ini megap-megap sulit bernafas. Sesaat kemudian ketika dia akhirnya jatuh ke tanah, walau disambut pasir basah empuk, tetap saja anak ini terkapar pingsan dengan kening kiri benjut!
“Ah betapa bodohnya diriku ini!” kata satu suara penuh penyesalan. Orangnya tak kelihatan karena terlindung di balik lamping batu karang.
“Hik… hik… hik!” Ada suara perempuan tertawa menyahuti ucapan tadi. “Kini kau sadar kalau kau sering berlaku bodoh! Seharusnya kau pergunakan benang suteramu untuk menjirat bocah itu!”
“Buat apa disesali! Yang penting aku harus segera menolong anak setan yang kecebur ke dalam laut itu!” Lalu terdengar suara “gluk,.. gluk… gluk!” Suara seseorang meneguk minuman dengan lahap.
“Tunggu! Walau otak bodoh kuharap matamu jangan jadi buta! lihat! Ada seorang nenek memegang mantel berlari ke arah laut!” Suara perempuan memberi ingat.
“Hemmm… Aku tidak kenal nenek berjubah hitam itu. Tapi aku tahu betul, mantel yang dipegangnya adalah kepunyaan Datuk Tinggi Raja Di Langit yang dikabarkan sudah menemui ajal, terkubur hidup-hidup beberapa waktu lalu!”
“Gluk… gluk… gluk!” Kembali terdengar suara orang menenggak minuman dengan lahap.
“Kau tidak kenal dia, tapi aku tahu siapa nenek satu itu. Dia adalah Sabai Nan Rancak, seorang nenek sakti dari puncak Gunung Singgalang. Dialah yang dicurigai para tokoh persilatan sebagai biang racun penimbul kekacauan di dua pulau besar!”
“Kalau begitu biar kuhajar dia! Barusan dia hendak mencelakai, malah mau membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng!”
“Masih saja tolol! Tak mau membuka mata. Lihat ke tengah laut sana!”
Siapa adanya dua orang yang terlindung di balik lamping batu karang merah di teluk Parangtritis itu? Yang di sebelah kanan adalah seorang kakek berusia lebih dari 80 tahun. Janggutnya yang putih menjela dada. Pakaiannya selempang kain putih. Dia membelai dua tabung bambu berisi tuak murni menebar bau harum. Satu tabung dipanggul di punggung, satunya lagi ditenteng di tangan kanan. Orang tua ini bukan lain adalah Dewa Tuak. Salah seorang tokoh utama rimba persilatan tanah Jawa yang merupakan guru gadis bernama Anggini.
Tegak di sampingnya adalah seorang nenek mengenakan baju panjang hitam berbunga-bunga putih. Wajahnya yang keriputan sangat menggelikan untuk dipandang. Karena nenek ini berdandan sangat mencorong. Bedaknya putih setebal dempul. Dua alisnya dicat tebal hitam, mencuat ke atas. Bibirnya berwarna sangat merah entah dipoles dengan apa. Rambutnya hitam disanggul rapi di belakang kepala. Perempuan tua ini adalah yang dikenal dalam rimba persilatan dengan julukan Iblis Muda Ratu Pesolek atau Iblis Putih Ratu Pesolek. Sejak peristiwa besar di Pangandaran (baca serial Wiro Sableng Episode berjudul Kiamat Di Pangandaran) sepasang kakek nenek ini selalu ke mana-mana berdua karena sebenarnya mereka adalah dua kekasih di masa muda yang selama belasan tahun tidak pernah bertemu.
Mendengar ucapan Iblis Muda Ratu Pesolek dan karena tangannya dipegang, Dewa Tuak terpaksa batalkan niatnya hendak keluar dari lamping batu karang merah. Dia memandang ke tengah laut, di arah mana tadi Pendekar 212 Wiro Sableng terpental dan tercebur dalam keadaan tak berdaya.

*
* *

EMPAT BELAS

Sabai Nan Rancak yang begitu bernafsu hendak membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu mengapung tak berdaya di permukaan laut Teluk Parangtritis, mendadak sontak hentikan langkahnya. Memandang ke tengah laut dia melihat satu pemandangan yang sulit dipercayanya.
Sebuah caping bambu tampak terapung di atas permukaan laut, bergerak ke pantai seolah mengikuti alunan arus gelombang. Di atas caping bambu ini duduk berjongkok seorang kakek berpakaian rombeng butut. Di bahu kanannya dia memanggul satu kantong kain. Di tangan kiri ada sebatang tongkat yang sesekali dicelupkannya ke dalam air. Setiap tongkat dicelup maka caping yang jadi dudukannya melesat ke depan, mengarah ke jurusan sosok Pendekar 212 terapung-apung. Kepalanya mendongak ke langit. Rambutnya yang putih tipis berkibar-kibar ditiup angin. Yang hebatnya lagi, di tangan kanannya kakek ini memegang sebuah kaleng rombeng berisi batu-batu kerikil. Setiap dia mengguncang kaleng itu maka menggemalah suara berisik memekakkan telinga yang terdengar sampai ke pantai dan membuat ombak seolah berhenti mengalun!
Apa yang dilihat Sabai Nan Rancak juga disaksikan oleh Dewa Tuak dan Iblis Muda Ratu Pesolek. Kalau Sabai jadi tercekat sebaliknya Dewa Tuak dan sang kekasih walaupun melongo terheran-heran tapi juga tampak senyum-senyum.
“Tua bangka jahanam itu! Pembunuh Datuk Angek Garang! Dicari sulit, kini datang sendiri meminta mati!” Seperti dituturkan dalam Episode Lembah Akhirat Datuk Angek Garang pembunuh Malin Sati (Murid Tua Gila) menemui ajalnya di tangan Tua Gila. Namun Sabai Nan Rancak menduga keras bahwa Kakek Segala Tahulah yang telah membunuh sahabatnya itu. Si nenek kertakkan rahang lalu berlari cepat berusaha mendahului kakek di atas caping. Namun si kakek yang sepasang matanya tertutup lapisan putih alias buta ini lebih cepat. Dua kali mencelupkan tongkat bututnya serta dua kali mengerontangkan kaleng rombengnya maka orang tua yang dalam rimba persilatan dikenal dengan julukan Kakek Segala Tahu itu sudah berada di depan sosok Pendekar 212.
“Anak tolol! Siang bolong begini mengapa berenang di lautan! Ha… ha… ha!”
Dengan ujung tongkatnya Kakek Segala Tahu menusuk tengkuk pakaian hitam Wiro. Ujung tongkat diputar hingga leher baju Pendekar 212 ikut tergulung. Lalu sekali tongkat itu disentakkan maka sosok Wiro melesat ke udara, melayang ke arah pantai.
Sabai Nan Rancak berseru kaget dan mendongak mengikuti tubuh yang melayang itu. Ternyata Kakek Segala Tahu melesatkan tubuh Wiro ke arah sederetan bukit karang rendah tetapi memiliki empat puncuk seruncing tombak! Sekali tubuhnya terbanting di atas batu karang maka paling tidak dua bagian batu yang runcing akan menembus tubuhnya!
“Celaka anak itu!” seru Dewa Tuak. Dia segera bergerak hendak menolong tapi lagi-lagi lengannya dipegang nenek di sebelahnya.
“Iblis Muda Ratu Pesolek! Kau sengaja menahanku agar pemuda itu mati mengenaskan ditembus batu karang!” teriak Dewa Tuak. Kali ini dia benar-benar marah.
Tapi si nenek malah tertawa cekikikan.
“Kau lagi-lagi berlaku seperti orang buta! Coba kau lihat ke jurusan batu karang sana!”
Meski mengomel panjang pendek Dewa Tuak putar kepalanya ke arah yang ditunjuk yakni gugusan empat batu karang runcing. Maka tercekatlah orang tua berselempang kain putih ini. Dengan menjejakkan kaki kiri kanan di atas tonjolan dua batu karang runcing kelihatan tegak rangkapkan dua tangan di depan dada seorang pemuda berambut gondrong, mengenakan pakaian hitam dan ikat kepala hitam.
Begitu sosok Wiro sampai dan jatuh tepat di hadapannya, pemuda ini segera angsurkan sepasang tangannya ke depan menyambut tubuh Pendekar 212. Tubuhnya terbungkuk ke depan, sepasang lututnya tertekuk sedikit karena menahan beban tubuh yang cukup berat. Namun dua kakinya sedikit pun tidak bergeser dari ujung-ujung batu karang runcing yang dipijaknya!
“Manusia hebat!” Memuji Dewa Tuak. “Gluk… gluk… gluk!” Dia teguk tuak dari tabung bambu lalu bertanya. “Apa kau mengenali siapa adanya pemuda yang menolong Pendekar 212 itu?”
Iblis Putih Ratu Pesolek rapikan sanggulnya, usap pipinya baru menjawab. “Baru sekali ini aku melihat. Tampangnya boleh juga! Hik… hik… hik!”
“Jangan berpikiran kotor!” bentak Dewa Tuak setengah jengkel.
Saat itu pemuda berpakaian hitam sambil mendukung Wiro bergerak turun dari atas bukit karang. Baru saja dia mencapai kaki bukit karang merah Sabai Nan Rancak telah berada di hadapannya memandang dengan mata melotot penuh selidik.
“Anak muda! Aku tak punya waktu banyak untuk bicara! Katakan siapa dirimu! Terangkan apa hubunganmu dengan pemuda yang kau tolong itu!”
Pemuda berpakaian hitam berambut gondrong letakkan tubuh Pendekar 212 di tanah. Lalu memandang si nenek sambil rangkapkan tangan di depan dada. “Orang bertanya aku harus menjawab. Namaku Utusan Dari Akhirat! Pemuda itu tak punya hubungan, apa-apa dengan diriku! Tapi karena sebelumnya sudah saling mengenal kurasa tidak ada ruginya aku menolongnya!”
“Hemm… Begitu?! Jika demikian harap kau segera tinggalkan tempat ini! Pemuda itu sudah ditakdirkan untuk mati di tanganku!”
Sepasang mata Utusan Dari Akhirat membesar, alisnya naik ke atas lalu dia tertawa gelak-gelak. Dia memandang pada sosok Wiro sesaat. “Nyawa orang bagiku bukan apa-apa. Aku justru datang dari akhirat untuk menyebar maut! Untung kau bukan salah seorang calon korbanku! Jika kau mau membunuhnya silahkan saja. Tapi….”
“Tapi apa!” sentak Sabai Nan Rancak. Tangan kanannya yang memegang mantel siap menggebuk.
“Setiap kematian ada sebabnya. Setiap pembunuhan ada alasannya. Apa sebab kau ingin membunuh pemuda ini?” tanya Utusan Dari Akhirat.
“Kau tak layak bertanya. Lekas menyingkir atau kau akan ikut mampus bersamanya!”
“Nenek tua, bicaramu sombong amat!” kata Utusan Dari Akhirat tidak senang. Saat itu dilihatnya tubuh Wiro bergerak sedikit dan dua matanya membuka tanda dia mulai siuman. Utusan Dari Akhirat melangkah mendekati Wiro. “Kau ingin membunuhnya! Nah bunuhlah!”
Utusan Dari Akhirat selinapkan kaki kanannya ke bawah punggung Wiro. Lalu kaki itu disentakkan kuat-kuat. Tubuh Wiro terangkat dan melesat ke arah si nenek. Di saat itu justru Pendekar 212 tersadar dari pingsannya. Walau siuman namun dia tidak tahu apa yang tengah terjadi. Begitu mengetahui dirinya melesat ke udara dan ada orang di sampingnya maka tanpa pikir panjang dia langsung memeluk dan menggayuti tubuh orang itu.
Sabai Nan Rancak terpekik ketika Wiro memeluknya kencang-kencang sementara wajah mereka saling bertemu satu sama lain.
“Kurang ajar! Berani kau memelukku!” teriak Sabai Nan Rancak marah. Dia berusaha membantingkan tubuh Wiro ke tanah. Tahu dirinya hendak dilemparkan orang Wiro malah mempererat pelukan ke dua tangannya. Pipinya semakin rapat ditempelkan ke pipi si nenek dan malah dua kakinya ikut digelungkan ke tubuh belakang Sabai Nan Rancak.
“Jahanam!” Sabai Nan Rancak marah sekali. Tapi kedua tangannya tersepit di bawah gelungan sepasang tangan Wiro. Ketika dia berusaha berontak lepaskan diri, kakinya terpeleset. Sabai Nan Rancak jatuh tertelentang. Karena Wiro masih memelukinya maka dengan sendirinya Wiro ikut jatuh tertelungkup di atas tubuhnya.
Di balik lamping batu karang terdengar suara tawa cekikikan Iblis Putih Ratu Pesolek. Dari arah laut menggema suara kerontangan kaleng.
“Jahanam kurang ajari Berani kau menindihku!”
“Bukk… bukk!” Wiro mengeluh tinggi. Tubuhnya terpental ke atas akibat sodokan lutut dan pukulan tangan kiri Sabai Nan Rancak.
Saat itu Naga Kecil yang tadi terkapar pingsan di atas pasir pantai keluarkan suara seperti mengerang. Tangannya memegangi keningnya yang benjut. Dia mendengar suara bentakan-bentakan. Lalu ada tubuh melayang ke udara. Anak ini cepat bangkit.
“Bukkkk!”
Naga Kuning melihat Wiro jatuh terduduk di atas pasir. Di hadapan Wiro ada seorang nenek berjubah hitam, tegak memegang sehelai mantel yang siap hendak digebukkan ke kepala Wiro.
Ada seseorang berseru dari balik bukit karang. Lalu dua larik sinar biru membeset udara. Sabai Nan Rancak berseru kaget. Gerakannya hendak menghantamkan Mantel Sakti ke kepala Wiro terpaksa dibatalkan karena dua larik sinar biru tadi menderu ke arah dada dan perutnya.
Kertakkan rahang Sabai Nan Rancak berpaling ke arah asal datangnya dua larik sinar biru tadi. Rahangnya menggembung. Di atas bukit sejarak delapan tombak dari tempatnya berdiri si nenek melihat seorang gadis berjubah hitam selutut tegak memandang tak berkesip ke arahnya. Di tangan kanannya ada sebuah cermin berbentuk bulat.
“Ratu Duyung!” desis Sabai Nan Rancak. “Belum mampus dia rupanya!” Sabai tidak suka melihat kemunculan sang Ratu. Lebih dari itu diam-diam dia mengetahui bahwa ada beberapa orang berkepandaian tinggi berada di tempat itu.
“Kau!” teriak Sabai Nan Rancak. “Terima kematianmu!” Lalu laksana terbang nenek ini melesat ke arah Ratu Duyung. Tangan kanannya menghantam dengan mantel.
Saat itu dari samping melayang sebuah benda bulat. Memapasi dan memotong gerakan Mantel Sakti. Benda bulat itu ternyata adalah sebuah caping bambu yang serta merta hancur kena hantaman ujung mantel. Walau caping hancur berkeping-keping namun hantaman Mantel Sakti jadi berubah arah ke jurusan lain.
Caping itu bukan lain adalah milik Kakek Segala Tahu yang sengaja dilemparkan si kakek untuk menolong Ratu Duyung.
“Braaakkk! Byaaarr!”
Dinding karang di sebelah kiri Ratu Duyung hancur berantakan. Hancuran batu, pasir dan debu bertebaran di udara. Ratu Duyung berseru keras. Dia melompat turun dari atas batu sambil kiblatkan cermin saktinya.
“Gadis jahanam! Aku mau tahu sampai di mana kehebatanmu!” kata Sabai Nan Rancak beringas. Tenaga dalamnya dilipat gandakan. Mantel Sakti kembali dipukulkannya ke arah Ratu Duyung yang saat itu masih melayang di udara. Sementara dari cermin di tangan Ratu Duyung berkiblat sinar putih panas menyilaukan.
Sebelumnya Sabai Nan Rancak sudah merasakan kehebatan cermin sakti yang sempat membuat matanya seperti buta beberapa lama. Karenanya begitu melihat kilauan cahaya si nenek cepat menyingkir ke kiri. Dari jurusan ini kembali dia kebutkan Mantel Sakti.
Angin laksana badai prahara menderu. Tapi setengah jalan gerakan si nenek tertahan. Ada seseorang menyelinap di belakangnya dan tahu-tahu “breettt… breett….” Jubah hitamnya robek besar di bagian pinggang!

*
* *

LIMA BELAS

Sabai Nan Rancak berpaling. Dia melihat seorang anak kecil berpakaian hitam, berambut tegak berdiri menggelantungi dan merobeki jubahnya. “
Anak kurang ajar! Hai!”
Si nenek hantamkan tangan kirinya ke kepala si bocah. Ini bukan pukulan sembarangan karena bisa memecahkan kepala anak itu. Tapi sambil cibirkan lidahnya si anak dengan lincah jatuhkan diri ke tanah. Begitu bangkit dia tepat menyundul tubuh bagian bawah Sabai Nan Rancak hingga si nenek kembali memaki panjang pendek. Dalam kalapnya dia kempitkan kedua pahanya. Maksudnya hendak menjepit kepala anak itu namun “Breettt… brettt… breettt.” Si anak kembali merobek jubah hitamnya di bagian pinggul. Kini hanya ada satu bagian kecil dari jubah yang masih tergantung. Sabai Nan Rancak jadi kalang kabut. Sebagian aurat sebelah bawahnya telah tersingkap. Mau tak mau dia harus pergunakan dua tangan untuk selamatkan diri pegangi jubah.
Suara gelak tertawa terdengar di balik bukit batu. Itulah suara tawa Dewa Tuak .dan Iblis Putih Ratu Pesolek. Di tepi pasir si Kakek Segala Tahu walau tidak melihat tapi sudah bisa menduga apa yang terjadi. Hanya saja dia tidak melihat siapa adanya yang melakukan kejahilan itu. Utusan Dari Akhirat ikut-ikutan tertawa sementara Wiro masih terduduk nanar di atas pasir. Kakek Segala Tahu tiada hentinya kerontangkan kaleng rombengnya. Di bagian yang lain di dekat kaki bukit Ratu Duyung yang tadi hendak melancarkan serangan dengan Cermin Saktinya mau tak mau hentikan gerakannya dan walau tersenyum tapi wajahnya tampak jengah ketika melihat bagaimana Sabai Nan Rancak kerepotan setengah mati untuk menutupi auratnya yang tersingkap.
Wiro sendiri yang walaupun masih terduduk di tanah diam-diam sudah tahu kejahilan apa yang hendak dilakukan bocah berambut jabrik.
“Naga Kuning! Kalau kau teruskan pekerjaanmu kau akan menyesal melihat pusar bodong perut kempes keriput!”
Dewa Tuak dan Iblis Putih Ratu Pesolek tertawa gelak-gelak. Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng bututnya.
Kemarahan dan rasa malu Sabai Nan Rancak sudah sampai ke puncaknya. Setelah beberapa kali tak berhasil menyergap dan meringkus anak kecil itu akhirnya dia berusaha melompat menjauhi sambil lepaskan pukulan Kipas Neraka!
Tapi justru lompatannya ini membuatnya celaka. Ketika dia melompat Naga Kuning justru menarik ujung jubah hitam si nenek. “Breettt!”
Jubah hitam Sabai Nan Rancak robek keseluruhannya di bagian pinggang lalu merosot jatuh ke atas pasir.
Tempat itu riuh oleh suara tertawa dan ucapan-ucapan mengejek.
“Nek! Untung kau masih pakai celana dalam! Walau kelihatan butut dekil!” teriak Wiro.
“Celana dalam bau amis! Tercium sampai ke sini!” teriak Naga Kuning sambil pijit hidungnya dengan tangan kiri.
Paras Sabai Nan Rancak berubah merah gelap. Marah dan malu tiada terkirakan, dia tidak sadar apa yang dilakukannya. Dengan cepat dia membungkuk mengambil jubahnya yang jatuh di pasir.
Saat itu Wiro kembali berseru.
“Nek! Awas! Jangan salah menungging! Tidak ada orang kepingin melihat kue apam angus dan basi!”
Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya. Naga Kecil tertawa gelak-gelak. Dewa Tuak dan Iblis Putih Ratu Pesolek kembali cekikikan. Utusan Dari Akhirat masih tegak rangkapkan tangan di depan dadanya yang tersentak-sentak karena tak kuasa menahan tawa.
Salah tingkah, mendengar teriakan Wiro tadi Sabai Nan Rancak jatuhkan tubuhnya ke pasir. Dengan cara ini baru aurat bawahnya terlindung. Selain itu dia cepat-cepat pergunakan mantel hitam untuk bantu menutupi bagian bawah tubuhnya.
“Aku bersumpah membunuh kalian semua!” teriak Sabai Nan Rancak marah. Kedua tangannya dihantamkan dua kali berturut-turut.
“Awas pukulan Kipas Neraka!” Seseorang berteriak memberi ingat.
“Wusss! Wussss!”
Dua larik sinar merah pekat menderu. Hawa sepanas di neraka menghampar. Lalu larikan sinar ini mengembang melebar membentuk kipas. Menyambar ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu baru saja bangkit berdiri. Utusan Dari Akhirat, Naga Kuning dan Kakek Segala Tahu.
Naga Kuning yang pertama sekali membuat gerakan. Bocah ini jatuhkan diri ke atas pasir pantai lalu berguling ke arah Wiro yang saat itu seperti tidak menyadari datangnya bahaya. Dengan ke dua tangannya ditariknya kaki Pendekar 212 hingga murid! Eyang Sinto Gendeng jatuh bergedebuk ke pasir. Walau dia tidak sampai terkena telak pukulan maut itu namun hawa panas yang menyambar sempat membakar baju hitamnya. Selain itu sekujur tubuhnya terasa laksana dipanggang. Setengah sadar dan dalam keadaan menahan sakit Wiro tiba-tiba melihat dan merasa Naga Kecil menyusupkan tangannya ke balik pinggangnya.
Di bagian lain bukit karang sebelah kiri runtuh dan hancur berantakan ketika dilanda pukulan sakti yang dilepas Sabai Nan Rancak. Beberapa bagian dinding dan kepingan batu-batu karang yang bermentalan tampak merah dikobari api. Untungnya Utusan Dari Akhirat, Kakek Segala Tahu dan iblis Putih Ratu Pesolek lebih cepat menyingkir selamatkan diri.
“Naga Kuning…. Apa yang kau lakukan? Kau hendak mencuri…?” terdengar teriakan Wiro di antara gemuruh suara bukit yang hancur.
“Aku pinjam senjatamu untuk menggebuk nenek jelek Itu!” jawab Naga Kuning.
“Jangan kurang ajar! Itu bukan senjata sembarangan. Kau tidak akan….”
Tapi Naga Kuning tidak perduli. Kapak Maut Naga Geni 212 dipegang dengan kedua tangannya. Dia menyerbu ke arah Sabai Nan Rancak. Sinar putih menyilaukan memancar dari dua mata kapak dan hawa panas menggebrak.
“Hai!” teriak Wiro sambil bangkit berdiri. “Anak itu! Kalau dia tidak memiliki tenaga dalam tidak mungkin dia mampu mempergunakan Kapak Naga Geni 212. Senjata itu memancarkan sinar berkilauan!”
“Nenek jahat! Rasakan bagaimana dibelah kapak!”
Sinar putih perak menyilaukan berkiblat. Suara seperti ratusan tawon mengamuk memenuhi udara ketika Kapak Naga Geni 212 dibabatkan Naga Kuning ke batok kepala Sabai Nan Rancak. Namun bagaimana pun hebatnya serangan Naga Kuning, bocah sebelas tahun ini mana mampu mempecundangi apalagi sampai membunuh si nenek yang sudah makan asam pengalaman rimba persilatan selama puluhan tahun. Dengan gerakan yang disebut Angin Menukik Lembah Petir Menyambar Bukit Sabai Nan Rancak liukkan tubuhnya ke bawah. Begitu sambaran kapak yang membuat hangus bahu jubahnya lewat tangan kanannya melesat ke atas.
“Kraaak!”
Naga Kuning terpekik keras. Tubuhnya mencelat sampai dua tombak lalu terbanting tertelentang di tanah. Lengan kanannya patah! Sabai Nan Rancak yang sudah kalap tidak mau memberi kesempatan. Tangan kirinya kembali dihantamkan ke arah tubuh Naga Kuning yang masih melayang di udara. Selarik sinar merah menggebubu. Beberapa orang keluarkan seruan tertahan karena tidak menyangka si nenek akan senekad itu.
Pada saat sangat genting itulah tiba-tiba satu bayangan berkelebat menyambar tubuh Naga Kuning. Di saat yang sama satu gulungan sinar biru muncul membuntal pukulan Kipas Neraka sebelum larikan sinar merahnya mengembang melebar. “Wusss…!”
Gulungan sinar biru melesat ke udara seolah menyeret sinar merah. Lalu “Bummmm!” Dua belas tombak di udara sinar merah dan sinar biru itu meletus dahsyat. Teluk Parangtritis bergetar. Air laut bergelombang. Ombak seolah tertahan memecah di atas pasir, semua orang merasakan dada masing-masing berdegup kencang- Ketika sinar merah dan biru sirna, sosok Naga Kuning dan orang yang menyambar tubuhnya lenyap Seolah ditelan bumi!
Sabai Nan Rancak memandang berkeliling. Dia tidak melihat sosok Wiro dan Kakek Segala Tahu. Dia juga tidak bisa menduga apakah dua orang yang sebelumnya bersembunyi di balik lamping batu karang yaitu Dewa Tuak dan Iblis Putih Ratu Pesolek masih berada di tempat itu. Satu-satunya yang masih tegak di tempat itu adalah pemuda berambut gondrong berpakaian serba hitam mengaku bernama Utusan Dari Akhirat.
Sabai Nan Rancak keluarkan suara bergemeretak dari mulutnya. Dadanya berdenyut tak karuan. Sepasang matanya merah laksana dikobari api. Pandangannya membentur Kapak Maut Naga Geni 212 yang tergeletak di pasir hanya sejarak uluran tangan. Secepat kilat Sabai Nan Rancak menjangkau senjata mustika sakti itu. Namun satu kaki berkasut bagus yang terjulur dari ujung kaki celana panjang ringkas berwarna kuning mendahului gerakannya. Kaki itu menginjak Kapak Maut Naga Geni 212 tepat pada pertengahan dua mata kapak.
Terkejut tapi juga semakin marah Sabai Nan Rancak mendongak ke atas. Dia melihat sepasang mata memancarkan sinar bening tapi tajam memandang ke arahnya. Di hadapannya tegak seorang berpakaian serba kuning yang menutupi wajah dan kepalanya dengan sehelai cadar kuning.
“Kau…!” desis Sabai Nan Rancak dengan suara bergetar tapi darah menggelegak. “Beberapa kali kau sengaja muncul menggagalkan urusanku! Sekarang kau muncul lagi ikut campur urusan orang! Apa kau kira aku tidak sanggup membunuhmu walau kau memiliki kesaktian Menghormat Kipas Neraka yang mampu mementahkan pukulan Kipas Nerakaku!”
Sabai Nan Rancak gerakkan tangan kanannya yang memegang Mantel Sakti. Tapi orang bercadar kuning tetap tegak tak bergerak. Malah dengan tenang dia berucap mengeluarkan kata-kata seperti berpantun.
“Nenek Sabai jangan berjalan tanpa tujuan. Jangan membunuh tanpa alasan. Alasan terkadang hanya satu kepalsuan. Karena manusia tidak lepas dari hasutan setan….”
“Manusia jahanam! Siapa kau sebenarnya! Kau ini laki-laki atau perempuan?!” sentak Sabai Nan Rancak.
“Ini bukan saat dan tempatnya kita bicara. Jika kau suka datanglah ke Lembah Merpati. Di sana kita bisa melenyapkan segala duka. Hingga tidak ada yang kecewa dan keliru di hati….”
“Apa maksudmu dengan ucapan berpantun itu?!” ujar Sabai Nan Rancak.
“Lembah Merpati. Tiga hari dari saat ini. Usahakan untuk datang. Sehingga semua urusan jadi terang.”
Habis berkata begitu orang bercadar kuning membungkuk mengambil Kapak Maut Naga Geni 212. Dia menatap sejurus pada Sabai Nan Rancak, membuat si nenek merasa adanya satu getaran aneh dalam dirinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi orang bercadar kuning ini tinggalkan tempat itu. Dia kelihatan melangkah perlahan saja.
“Jahanam pengecut! Sembunyikan wajah di balik cadar! Tidak mau menerangkan diri! Lebih baik kau mati sekarang saja!” rutuk Sabai Nan Rancak. Si nenek gerakkan tangan kirinya ke pinggang jubahnya yang robek. Di situ tergantung sebuah kantong kain berisi senjata rahasia Sakti Mutiara Setan milik Datuk Tinggi Raja Di Langit. Jari-jari tangan Sabai Nan Rancak telah menggenggam tiga butir senjata maut itu. Siap untuk dilemparkan ke arah si baju kuning yang berjalan membelakanginya. Tiba-tiba saja ada satu getaran aneh menyeruak di lubuk hati si nenek. Entah mengapa akhirnya Sabai Nan Rancak masukkan kembali tiga butir Mutiara Setan itu ke dalam kantong. Kini perhatiannya tertumpah pada satu-satunya orang yang masih berada di tempat itu.
“Manusia setan bernama Utusan Dari Akhirat! Kalau kau tidak menolong pemuda tadi, tidak nanti urusanku menjadi kapiran begini rupa!”
Utusan Dari Akhirat mendongak ke langit lalu tertawa.
“Jangan sangkut pautkan kegagalanmu dengan apa yang aku lakukan!” jawabnya. “Sudah kukatakan nyawa manusia bagiku tidak ada harganya. Aku justru tengah mencari tiga orang yang harus kulenyapkan dari muka bumi ini! Itu tugasku dan itu takdir buruk ketiga orang itu!”
“Persetan dengan tugasmu! Seharusnya aku sudah berhasil membunuh pemuda keparat itu tapi gagal gara-garamu! Sekarang nyawamu gantinya!”
Sabai Nan Rancak yang saat itu masih duduk bersimpuh di tanah, tidak bisa berdiri karena aurat sebelah bawahnya masih terbuka, perlahan-lahan angkat tangan kanannya. Siap melepas pukulan Kipas Neraka.
“Tunggu!” seru Utusan Dari Akhirat. “Mengapa kau hendak membunuh kawanku pemuda nelayan yang bodoh itu?!”
“Pemuda nelayan yang bodoh katamu?! Pemuda yang mana?!”
“Yang berambut gondrong dan berpakaian hitam sepertiku itu!”
Sabai Nan Rancak pandangi tampang Utusan Dari Akhirat berapa jurus lamanya lalu tertawa mengejek. “Dasar manusia tolol! Pemuda yang kau kira nelayan dungu itu sebenarnya adalah seorang berkepandaian tinggi bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Dia adalah murid seorang musuh besarku! Murid dan guru harus kuhabisi! Apa kau tadi tidak melihat senjatanya yang selama Ini menggegerkan dunia persilatan. Sebilah kapak bermata dua bernama Kapak Maut Naga Geni 212!”
Terbelalaklah Utusan Dari Akhirat.
“Apa kau bilang?! Pemuda gondrong itu adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng?!”
“Kau tidak tuli!”
“Jahanam!” teriak Utusan Dari Akhirat seraya menendang batu karang di sampingnya hingga batu ini pecah berantakan. “Justru Wiro Sableng adalah satu dari tiga manusia yang harus aku bunuh!”
“Karena ketololanmu kau tidak tahu siapa dia adanya!” kata Sabai Nan Rancak lalu keluarkan suara dengusan mengejek.
“Sekali lagi kau berani mengatakan Utusan Dari Akhirat tolol, tubuhmu akan kubuat cerai berai menjadi potongan daging panggang terkutuk!”
Sabai Nan Rancak tertawa panjang. “Anak muda, rimba persilatan bukan saja tempat malang melintangnya orang-orang berkepandaian tinggi. Tapi juga dipenuhi oleh segala macam kelicikan, hasutan dan fitnah, dendam serta seribu satu macam kebusukan dan kekejian. Jika kau tidak bisa mempergunakan otak dan kecerdikan, kau akan menjadi mayat sebelum apa yang jadi tujuanmu tercapai!”
“Dunia persilatan bukan satu hal yang aku takutkah. Aku punya tangan untuk menggenggamnya!” jawab Utusan Dari Akhirat sambil menggerakkan lima jari tangan kanannya hingga mengeluarkan suara berkeretekan.
“Siapa lagi dua orang yang hendak kau singkirkan itu?” Sabai Nan Rancak ajukan pertanyaan.
“Perduli setan! Aku tahu kau tengah menyelidiki diriku!”
Sabai Nan Rancak perhatikan pemuda berambut gondrong itu dari rambut sampai ke kaki. “Gerak-geriknya menyatakan dia memang membekal kepandaian tinggi. Tapi sikapnya menunjukkan dia masih sangat hijau dalam rimba persilatan.”
“Kau tak mau memberi tahu tidak ada ruginya bagiku. Kau betul! Perduli setan! Kau boleh pergi! Aku tak jadi membunuhmu!”
Utusan Dari Akhirat pandangi wajah si nenek. Lalu dia tertawa. “Aku tahu apa yang ada di benakmu! Kau ingin bekerja sama denganku untuk membunuh pemuda bernama Wiro Sableng itu.”
“Aku tidak butuh bantuan orang setololmu. Bisa-bisa hanya menyusahkan saja! Sekarang lekas minggat dari hadapanku!”
“Kau bicara keliwat sombong! Tapi dalam banyak hal aku tahu kau seolah ragu mengambil keputusan akhir! Buktinya tadi kau tidak jadi membunuh orang bercadar kuning itu!”
Paras Sabai Nan Rancak jadi berubah. “Lekas , pergi sebelum aku muak melihatmu!”
Utusan Dari Akhirat tersenyum lalu batuk-batuk beberapa kali. “Kau salah menduga Nek. Bukan kau yang muak tapi akulah yang mau muntah! Apa kau kira aku berlama-lama di sini hendak melihat kau bangkit berdiri memperlihatkan aurat bawahmu yang tidak tertutup?!”
“Pemuda kurang ajar! Terima kematianmu!”
Seolah lupa akan keadaan dirinya Sabai Nan Rancak bangkit berdiri lalu kebutkan Mantel Sakti ke arah Utusan Dari Akhirat. Suara deru angin laksana badai menggelegar menggebu ke arah Utusan Dari Akhirat. Tapi pemuda itu telah berkelebat lenyap.
Yang jadi sasaran hantaman Mantel Sakti itu untuk kesekian kalinya adalah dinding batu karang. Tempat itu dilanda goncangan hebat. Batu, pasir dan debu beterbangan ke udara.
“Jahanam!” maki Sabai Nan Rancak. Mantel Sakti cepat-cepat dikenakannya. Lalu tanpa menunggu lebih lama dia berkelebat tinggalkan tempat itu.

*
* *

TAMAT
Episode berikutnya :
LIANG LAHAT GAJAHMUNGKUR

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog