Friday, March 20, 2009

Wasiat Malaikat

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : TUA GILA DARI ANDALAS

SATU

Setan Ngompol pegang lengan nenek di sebelahnya seraya berkata. “Aku melihat ada dinding batu di bawah sana. Mari kita selidiki….” sinenek yang bukan lain adalah Sinto Gendeng guru Pendekar 212 langsung mengomel.
“Aku kemari mencari Pedang Naga Suci 212! Buat mengobati muridku yang sedang kapiran! Bukan untuk menyelidiki segala macam dinding! Lagi pula apa kau lupa. Sepasang naga kuning pasti berada di dalam telaga ini. Salah bergerak kita bisa jadi mangsa mereka!”
“Memang kita harus hati-hati,” ikut bicara Panji. “Selain sepasang naga dan Makhluk Api Liang Neraka bukan mustahil Kiai Gede Tapa Pamungkas memiliki makhluk peliharaan lain….”
Ketiga orang tersebut saat itu berada dalam Telaga Gajahmungkur. Berkat ilmu yang diberikan Ratu Duyung mereka bukan saja sanggup berenang sampai jauh ke dasar telaga tapi luar biasanya juga mampu bernapas dan bicara dalam air tidak beda seolah mereka berada di daratan terbuka. Seperti diketahui sebagai penguasa salah satu kawasan laut selatan Ratu Duyung memiliki berbagai kesaktian antara lain hidup di dalam air. Sehabis geger besar di Pangandaran dia pernah membawa Wiro ke dasar laut. Karenanya tidak sulit baginya untuk menyirap memberi kekuatan pada Sinto Gendeng, Panji dan Setan Ngompol hingga ketiga orang ini mampu berada dalam air. Malah ilmunya jauh lebih hebat dari yang dimiliki oleh tokoh rimba persilatan lainnya yakni Sika Sure Jelantik. Nenek satu ini telah menolong dan memberikan ilmu serupa pada Puti Andini, namun hanya berkekuatan selama 100 hari.
“Sinto, jangan kau menakut-nakuti aku. Nanti aku ngompol lagi!” berkata Setan Ngompol yang sudah punya rasa tidak enak.
“Siapa menakuti tua bangka sepertimu! Coba kau lihat ke kanan sebelah bawah!” teriak Sinto Gendeng.
Setan Ngompol lakukan apa yang dikatakan si nenek. Panji juga ikut menoleh. Begitu Setan Ngompol memperhatikan ke kanan ke arah dasar telaga pandangannya membentur satu sosok aneh bergelung yang bukan lain adalah naga kembar betina peliharaan Kiai Gede Tapa Pamungkas yang sebelumnya sudah mereka lihat sewaktu masih berada di tepi telaga.
“Kau benar Sinto! Celaka kita bertiga!” kata Setan Ngompol. Kakek ini langsung tekap bagian bawah perutnya. Tapi karena takut dia tak bisa menahan kencingnya. Begitu air kencing si kakek mencemari air telaga maka di dasar telaga terdengar suara menggemuruh. Air telaga menggelombang.
Naga betina yang memang sudah tahu kalau ada makhluk lain di dalam telaga, segera bergerak menggeliat. Kepalanya dipentang. Dari mulutnya keluar desisan keras yang membuat air telaga laksana ombak besar menghantam ke arah Sinto Gendeng, Setan Ngompol dan Panji hingga ketiga orang ini terpental beberapa tombak. Naga betina ini siap menyerbu. Tapi begitu sepasang matanya yang merah melihat cairan kuning mengambang di hadapannya binatang ini keluarkan ringkikan aneh dan panjang menggidikkan lalu bersurut menjauh.
“Ha… ha…! Naga itu takut melihat air kencingku!” kata Setan Ngompol tertawa mengekeh sambil menunjuk-nunjuk ke arah naga betina. Tapi suara tawanya serta merta lenyap dan berubah menjadi jeritan kaget ketika dari arah kiri naga jantan yang sebelumnya mendekam diam tiba-tiba membuka gelungan tubuhnya lalu meluncur ke arah tiga orang itu.
Kini bukan cuma Setan Ngompol yang terkencing-kencing saking kaget dan takut. Sinto Gendeng juga ikut basah kainnya. Sedang Panji serasa terbang nyawanya. Cairan kuning bertebaran dimana- mana. Seperti naga betina tadi, begitu melihat dan mencium air larangan yang keluar dari tubuh Setan Ngompol dan Sinto Gendeng, naga jantan meringkik aneh dan meliukkan tubuh lalu berenang menjauh.
Di dasar telaga untuk kesekian kalinya muncul suara menggemuruh disertai goncangan keras. Untuk beberapa lamanya air telaga menjadi keruh menghalangi pemandangan.
“Nek! Nenek Sinto Gendeng!”
Tiba-tiba ada teriakan memanggil Sinto Gendeng.
“Edan! Siapa yang memanggil diriku di tempat seperti ini! Apa telaga ini ada hantunya?!” ujar Sinto Gendeng. Dia memandang berkeliling. Tapi air telaga masih keruh. Si nenek tak bisa melihat dengan jelas.
“Suaranya seperti suara anak kecil!” kata Setan Ngompol seraya celingak-celinguk ikut mencari. “Jangan-jangan ada tuyul di tempat ini! Eh, apa ada tuyul berkeliaran dalam air?!” Sinto Gendeng pentang dua matanya besar-besar.
“Nek! Saya di bawah sini!”
Setan Ngompol meniup ke bawah. Sesaat air telaga yang keruh menjadi jernih. Begitu dia memandang ke bawah dia melihat satu dinding tinggi berkeluk, laksana sebuah tonggak raksasa. Lalu pada bagian bawah dinding batu itu dilihatnya satu sosok terpentang seolah menempel ke dalam batu. Setan Ngompol pegang lengan Sinto Gendeng lalu menunjuk ke bawah sana. “Kau lihat dinding batu itu? Lihat di sebelah bawahnya. Ada patung anak kecil!”
Saat itu air telaga telah jernih kembali. Penglihatan si nenek menjadi terang, “itu bukan patung! Itu manusia!” ujar Sinto Gendeng. “Kalau patung mana mungkin bisa bicara!”
“Kalau manusia mengapa menempel di dalam dinding batu! Tidak bergerak-gerak! Aku baru yakin itu manusia kalau mendengar dia kentut!” Habis berkata begitu Setan Ngompol tertawa mengekeh. Tidak terasa kembali air kencingnya keluar.
“Biar saya berenang ke bawah,” berkata Panji.
“Ya, mari kita turun menyelidiki!” kata Sinto Gendeng yang jadi penasaran. Lalu mendahului melesat ke bawah. Sejarak lima tombak dari dasar telaga Sinto Gendeng keluarkan seruan yang membuat Setan Ngompol kaget dan buru-buru tekap bagian bawah pusarnya.
“Astaga! Anak itu kiranya!”
“Heh, anak itu anak siapa?!” tanya Setan Ngompol.
Sinto Gendeng tidak perdulikan pertanyaan orang terus saja dia berenang menukik ke arah dasar dinding. Kali ini hanya Panji yang terus mengikuti sedang Setan Ngompol berhenti berenang karena dia lebih tertarik pada rangkaian tulisan yang tertera di dinding batu.
Di sebelah atas tertulis besar kata-kata “Liang Lahat”. Namun belum sempat dia membaca seluruh tulisan yang ada di dinding berbentuk setengah lingkaran itu tiba-tiba di bawah sana Sinto Gendeng berteriak memanggil. Si kakek segera berenang ke dasar telaga.
“Kau lihat sendiri! Yang ada dalam batu itu manusia atau patung!” kata Sinto Gendeng begitu Setan Ngompol sampai di dekatnya. Si kakek memandang ke depan ke arah yang ditunjuk Sinto Gendeng. “Walah! Memang manusia. Anak kecil. Matanya bisa kedap kedip tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Melesak menempel ke dalam dinding batu!”
“Dia memang tak bisa bergerak tapi bisa bicara! Aku akan menanyainya! Aku kenal betul anak ini!” kata Sinto Gendeng pula. “Naga Kuning, aku tahu kawasan ini ada di bawah pengawasanmu. Tapi coba katakan dulu permainan apa yang hendak kau perlihatkan padaku saat ini!”
Anak kecil yang dipendam di dasar Liang Lahat cibirkan mulutnya lalu menjawab.
“Ini bukan permainan. Saya dihukum pendam ke dalam batu oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas.”
“Heh, apa orang tua itu masih ada di sekitar sini?” bertanya Sinto Gendeng sambil melirik berkeliling.
“Dia sudah pergi. Tidak tahu pergi ke mana!”
“Ceritakan apa yang terjadi atas dirimu! Mengapa kau dihukum begini rupa?!”
“Nanti akan saya jelaskan Nek. Tapi harap kau mau menolong membebaskan saya dari dalam batu ini.”
“Kalau kesalahanmu tidak besar pasti hukumanmu tidak seberat ini! Apa yang kau lakukan bocah sial? Kau mengintip sang Kiai lagi kencing atau bagaimana? Hik… hik… hik!”
“Sinto! Jangari membanyol! Aku bisa kencing!” berkata Setan Ngompol.
“Tubuhnya tak bisa bergerak. Mungkin dia ditotok Nek,” kata Panji pula.
“Hemmm…. Kalau benar kau ditotok cepat beri tahu bagian tubuhmu sebelah mana yang ditotok agar aku bisa menolong,” kata Sinto Gendeng.
“Saya tidak ditotok. Tapi dipendam dalam batu! Saya bisa bergerak kalau bebas dari pendaman…” menerangkan Naga Kuning.
“Kalau begitu biar aku tarik tangan dan kakimu!” kata Sinto Gendeng pula. Lalu nenek ini cekal tangan kiri dan pergelangan kaki kanan Naga Kuning. Sekali menarik pasti anak itu bisa dikeluarkannya dari pendaman batu. Tapi sampai mukanya mengerenyit keriputan dan rahangnya menggembung sosok Naga Kuning tak bisa dikeluarkan. Tubuh anak ini menempel laksana jadi satu dengan dinding batu Liang Lahat.
Sinto Gendeng tak mau mengalah. Dia kerahkan tenaga dalam. Tetap saja tubuh Naga Kuning tidak bergerak barang sedikit pun! Malah tiba-tiba dari bagian tubuh bawah sebelah belakang si nenek kelihatan gelembung-gelembung air banyak sekali disertai suara merepet berkepanjangan. Lalu air laut di sekitar situ mendadak menjadi bau:
“Sialan kau Sinto! Kau kentut ya!” teriak Setan Ngompol seraya berenang menjauh sedang Panji tutup hidungnya dengan belakang telapak tangan sambil pergunakan tangan kanan untuk mendorong air di sekitarnya yang menjadi bau akibat kentut si nenek. Di dinding batu Naga Kuning tertawa gelak-gelak. Sebaliknya Sinto Gendeng hanya menyengir.
“Baru kentut saja kalian sudah kelabakan! Belum lagi menghadapi bahaya besar!” kata si nenek pula.
“Nek…!” Naga Kuning ikut bersuara.
“Bocah sialan! Diam sajalah! Dan kau tua bangka tukang ngompol jangan diam saja! Bantu aku mengeluarkan anak ini dari dalam batu! Kau juga Panji! Jangan pura-pura jadi orang geblek! tarik pinggang anak ini!”
“Menurut penglihatanku anak ini tidak bisa dikeluarkan walau ada seratus kuda yang menarik tubuhnya!” kata Setan Ngompol pula.
“Kau cuma bicara. Bantu saja. Tarik pinggangnya!” bentak Sinto Gendeng.
“Nek….”
“Kau! Nak – Nek…. Nak – Nek! Diam!” bentak Sinto Gendeng jengkel.
“Dengar dulu Nek…. Kakek ini benar. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa mengeluarkan tubuh saya dari dalam dinding batu Liang Akhirat ini….”
“Kalau begitu nasibmu benar-benar sial! Kau akan mampus cepat atau lambat! Hik…hik… hik! Sudah! Aku hanya menghabiskan waktu saja! Aku ada urusan lain di dasar telaga ini!”
“Saya tahu apa yang kau cari. Saya tahu benda itu berada di mana. Jika kau mau menolong akan saya katakan padamu!”
“Naga Kuning, kalau kau memang tahu dimana beradanya benda yang dicari Nenek ini, mengapa kau tidak lekas mengatakan?” berkata Panji. Pemuda ini yang mulai tahu sifat si nenek yang gampang naik darah berusaha membujuk, Sinto Gendeng pelototkan mata.
“Hemmm…. Dulu aku menolongmu waktu kau digebuk Sabai Nan Rancak. Aku tidak mengharapkan pamrih. Tapi hari ini keadaan lain. Baik, aku akan menolongmu. Sudah kulakukan. Tapi tidak bisa. Lalu apa lagi?!”
“Ada caranya Nek…” kata Naga Kuning pula.
“Coba kau bilang!”
“Kiai Gede Tapa Pamungkas, Telaga Gajahmungkur dan segala apa yang telah dibangun oleh sang Kiai di tempat ini yaitu Liang Akhirat dan Liang Lahat termasuk Sepasang Naga Kembar dan Makhluk Api Liang Lahat, mempunyai satu pantangan besar,
Tidak boleh terkena air larangan. Semuanya bisa musnah!”
“Air larangan! Sebut saja air kencing!” tukas Sinto Gendeng sambil menyeringai buruk.
“Tapi air kencing itu tidak air kencing orang sembarangan Nek,” ujar Naga Kuning.
“Hanya mempan kalau air kencingnya adalah air kencing orang yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun tujuh bulan dan tujuh hari…. Air kencing temanmu pemuda beranting-anting ini tidak mempan dan tak bisa menolongku!”
“Ada-ada saja…!” ujar Setan Ngompol lalu tertawa terbahak-bahak dan tentu saja sambil ngompol lagi. Sementara Panji hanya bisa melongo mendengar kata-kata Naga Kuning itu.
“Kau bicara panjang lebar. Tapi belum mengatakan bagaimana caranya kami menolongmu!” kata Sinto Gendeng. “Atau mungkin tubuhmu bisa kukorek dengan tusuk konde yang ada di kepalaku!” Si nenek langsung hendak mencabut dua buah tusuk konde perak di kepalanya.
“Saya tahu tusuk konde itu sakti mandraguna. Bisa menembus batu gunung sebesar apapun. Tapi kesaktiannya tidak mungkin bisa membebaskan diri saya. Hanya ada satu cara Nek. Tubuh saya hanya bisa bebas jika diguyur dengan air larangan!”

*
* *


DUA

Sinto gendeng pelototkan mata mendengar keterangan Naga Kuning itu. Dia berpaling pada Setan Ngompol yang saat itu memandang melongo ke arahnya. Dua kakek nenek ini lalu tertawa gelak-gelak sementara Panji diam-diam merasa tidak enak. Dia tidak melihat ada hal yang lucu. Pemuda ini maklum kalau telaga itu diselimuti berbagai macam keanehan yang terkadang mengandung keangkeran dan sekaligus bahaya maut. Karena tertawa begitu rupa Setan Ngompol dan Sinto Gendeng sama-sama terkencing-kencing. Akibatnya Telaga Gajahmungkur kembali tercemar air larangan. Suara menggemuruh terdengar lagi di dasar telaga. Gelombang kembali menggoncang. Sepasang naga meringkik panjang. Beberapa lamanya keadaan di telaga diselimuti kegelapan. Begitu keadaan tenang dan air yang keruh jernih kembali Sinto Gendeng berkata.
“Gila! Masakan air kencing lebih sakti dari senjata mustika dan lebih hebat dari kekuatan tenaga dalam!”
“Nek, kau menyaksikan sendiri setiap kau dan temanmu mengeluarkan air kencing keadaan di sini laksana mau kiamat. Sepasang naga meringkik ketakutan. Telaga ini laksana mau terjungkir balik!”
“Nek, saya rasa anak ini tidak bicara dusta…” berbisik Panji pada Sinto Gendeng.
Sinto Gendeng terdiam sejurus. “Naga Kuning, kalau memang air kencing yang bisa membebaskan dirimu dari pendaman batu itu baiklah. Mari kita lihat! Setan Ngompol cepat kau kencingi bocah itu!”
“Eh, mengapa aku?!” seru Setan Ngompol sambil memandang dengan sepasang matanya yang jereng mendelik pada si nenek.
“Apa susahnya mengencingi anak itu! Apalagi kau tukang ngompol. Punya banyak persediaan air larangan! Sudah! Ayo kau kencingi dia! Hik… hik… hik!”
“Tunggu dulu!” Naga Kuning tiba-tiba berseru. “Yang mempan dan sanggup membebaskan diri saya dari pendaman batu Liang Lahat ini hanyalah air kencing perempuan yang usianya lebih dari tujuh puluh tahun tujuh bulan tujuh hari! Lalu air larangan itu harus jatuh langsung dari atas. Tidak boleh mengucur lewat tubuh atau pakaian….”
“Nah… nah… nah!” Setan Ngompol berseru keras lalu tertawa gelak-gelak dan kencing lagi. “Sinto! Berarti hanya kau yang bisa menolongnya!”
Nenek sakti dari puncak Gunung Gede itu pen-tang wajah marah dan untuk beberapa lamanya dia tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku tidak mau!” kata Sinto Gendeng akhirnya. “Kau cuma mau mengerjaiku!”
“Kalau tidak mau bocah itu tidak akan memberi tahu di mana tersembunyinya benda yang kau cari itu.,.” kata Setan Ngompol yang membuat Sinto Gendeng tambah marah, “Perduli setan! Dulu aku sendiri yang menyembunyikan benda itu. Aku masih bisa mengira-ngira dimana letaknya! Aku pasti bisa mendapatkannya tanpa pertolongan setan kecil ini!”
“Jangan tolol Sinto. Kejadian itu puluhan tahun silam. Keadaan sudah berubah. Sampai tubuhmu bongkok lalu lempang lalu bongkok lagi belum tentu kau bisa menemukan!” ujar Setan Ngompol.
“Bocah setan! Kau benar-benar mengerjaiku!” kata Sinto Gendeng pada Naga Kuning dengan mata melotot.
“Sinto! Pertolongan itu mudah sekali melakukannya! Kau hanya menempatkan dirimu di atas kepala anak itu. Lalu menyingsingkan kain bututmu, menungging sedikit dan serrr…. Beres sudah!”.
“Sialan kau Setan Ngompol! Kau bisa berkata begitu karena bukan kau yang melakukan!” Menggerendeng Sinto Gendeng.
“Nek, untuk kebaikan mungkin sekali ini kau terpaksa mengalah…” berkata Panji.
Sambil terus mengomel panjang pendek si nenek berenang berputar-putar. Akhirnya dia naik ke atas. “Aku peringatkan pada kalian semua!” kata Sinto Gendeng. “Setan Ngompol! Kau lekas mendekam di belakang dinding batu sana! Jangan berani mengintip auratku! Kau juga Panji! ikuti kakek itu ke belakang dinding batu!”
“Sinto…. Sinto! Aurat gadis saja aku tidak doyan mengintip. Apalagi kayu hitam lapuk yang sudah; dimakan rayap sepertimu!” Setan Ngompol tertawa gelak-gelak. Namun dia melakukan juga apa yang dikatakan si nenek yaitu berenang ke balik dinding Liang Lahat sambil tekap tubuhnya sebelah bawah dengan kedua tangan. Panji berenang mengikuti di belakangnya. Sinto Gendeng kembali memaki panjang pendek lalu bergerak mendekati dinding batu , tepat di atas kepala Naga Kuning.
“Bocah setan! Aku akan menolongmu! Tapi awas! Jangan kau berani melirik atau mengintip ke atas! Kalau itu kau lakukan jangan menyesal kedua matamu akan aku korek dan seumur hidup kau akan terpendam dalam batu celaka itu!”
Naga Kuning mencibir.
“Nek, sepasang mata ini memang sudah puluhan tahun tidak melihat aurat terlarang. Tapi kau tahu siapa diri saya. Lagipula mana mungkin saya berlaku tidak hormat terhadap orang yang hendak menolong?!” Seperti diketahui Naga Kuning alias Naga Cilik atau Naga Kecil ini sebenarnya adalah seorang kakek berusia jauh lebih tua dari Sinto Gendeng atau Setan Ngompol.
“Sudah! Kau bocah tua bangka pandai bicara! Aku segera menolongmu! Tutup matamu!” Sinto Gendeng lalu tempelkan tubuhnya sebelah belakang yang bungkuk ke dinding Liang Lahat tepat di atas sosok Naga Kuning yang terpendam ke dalam dinding batu itu.
Naga Kuning segera pejamkan ke dua matanya. Tapi setelah menunggu cukup lama tidak terjadi apa-apa.
“Nek, kau masih berada di atas atau bagaimana?!” Naga Kuning bertanya.
“Diam! Aku masih di dekat dinding di atas kepalamu! Tutup mulutmu! Kau hanya membuyarkan perhatianku!” Terdengar bentakan Sinto Gendeng.
Naga Kuning tak berani berkata apa-apa lagi. Tapi setelah kembali menunggu cukup lama dan tetap tak terjadi apa-apa anak ini menjadi tidak sabaran. Kedua matanya dibuka.
”Nek….”
“Tutup mulutmu! Tutup matamu! Atau kutusuk sampai kau buta!”
“Saya sudah menunggu lama! Tapi kau tidak kencing-kencing juga!” jawab Naga Kuning. Walau sesaat tapi anak ini masih sempat melihat si nenek di atasnya, menempel ke dinding batu menungging.
Dia berusaha menahan diri agar tidak tersenyum apalagi sampai tertawa cekikikan.
Dalam hati anak ini berkata, “Seumur hidup baru sekali ini aku melihat nenek-nenek. Ternyata menyerupai ikan pepes kering kejemur matahari!”
Dari sebelah atas terdengar suara Sinto Gendeng.
“Aku sudah berusaha kencing. Tapi tidak bisa-bisa! kencing sialan! Dipaksa tidak mau. Biasanya sebentar-sebentar aku kencing!”
Di balik dinding batu Liang Lahat Setan Ngompol dan Panji tertawa cekikikan mendengar ucapan Sinto Gendeng tadi. Sebaliknya Sinto Gendeng keluarkan suara menggerendeng lalu mengedan-edan sekuat tenaga agar bisa kencing hingga tubuhnya tambah bungkuk hampir terlipat. Setelah berusaha setengah mati tiba-tiba beerrrrr…. Naga Kuning merasa ada air hangat laksana mancur mengucur membasahi kepalanya. Air hangat dan bau pesing ini turun ke muka terus membasahi tubuhnya. Si bocah seperti mau muntah ketika ada air kencing membasahi mukanya mengalir ke bawah hidung, turun ke bibirnya dan hampir tertelan!
Pada saat yang sama Naga Kuning merasa dinding batu dimana dia terpendam menjadi panas. Tiba-tiba didahului suara menggemuruh seolah datang dari dasar telaga yang membuat dinding batu Liang Lahat itu bergoncang keras, tubuh Naga kuning terpental keluar. Ada hawa aneh mendera keras membuat Sinto Gendeng tersapu sampai beberapa tombak.
“Hai! Apa yang terjadi?!” Terdengar suara Setan Ngompol berseru. Kakek ini dalam keadaan terkencing-kencing keluar dari balik dinding batu bersama Panji. Wajah mereka tampak pucat. Dilihatnya
Naga Kuning melayang dalam air sedang Sinto Gendeng tengah berenang mendekati anak itu.
“Bocah setan! Kau sudah kutolongi! Sekarang katakan di mana beradanya benda yang kucari!” Tahu-tahu si nenek sudah berada di depan Naga Kuning yang saat itu tengah mengusap mukanya berulangkali berusaha membersihkan sisa-sisa air kencing Sinto Gendeng yang tadi ikut, membasahi mukanya.
“Nek, terlebih dulu saya mengucapkan terima kasih. Kalau kau tidak mengencingi diri saya akan terpendam selamanya di Liang Lahat itu…. Sebelum saya memberi keterangan saya mau bertanya dulu. Mana kakek yang dulu ikut mengobati lengan saya yang patah? Dan siapa kakek satu ini? Apa pacarmu yang baru?!”
Panji tersentak mendengar ucapan si bocah yang begitu berani. Setan Ngompol sesaat melongo lalu tertawa gelak-gelak dan kencing lagi. Sebaliknya Sinto Gendeng langsung naik darah.
“Bocah kurang ajar! Naga Kuning! Kau minta aku gebuk?!”
“Harap maafkan, bukan maksud saya mau kurang ajar. Cuma mau menanya saja, itu tanda saya suka padamu dan juga pada orang tua berjuluk Kakek Segala Tahu itu…”
“Bocah sialan! Kalau kau memang benar-benar anak kecil boleh saja kau bilang suka padaku! Apa kau tidak sadar sudah berapa umurmu?!
“Ah, maafkan saya. Saya memang tidak tahu diri!”
kata Naga Kuning pula tersipu-sipu lalu ketika si nenek tidak melihat ke arahnya dia mencibirkan bibirnya.
Setan Ngompol mendekati Sinto Gendeng dan bertanya. “Menurutku anak ini paling bantar baru berusia dua belas tahun. Aku tidak mengerti pertanyaanmu tadi. Memangnya bocah itu berapa usianya?”
“Kau tak perlu mengerti. Dibikin mengerti kau tak bakalan mengerti. Yang kau mengerti cuma beser alias ngompol!” jawab Sinto Gendeng membentak saking kesalnya. Dibentak begitu rupa dalam air Setan Ngompol melayang mundur dan unjukkan muka sedih. Dalam keadaan seperti itu tetap saja dia kembali ngompol.
“Apa kataku! Sedih saja kau masih ngompol!” kata si nenek. Dia berpaling pada Naga Kuning. “Kau tunggu apa lagi! Ayo beri tahu di mana beradanya benda yang aku cari itu!”
“Nek, di dasar telaga ini tersimpan berbagai benda rahasia. Belasan orang coba mencarinya. Mereka bukan saja tidak berjodoh dengan benda-benda itu tetapi mereka hanya mencari kematian. Tolong kau beri tahu benda apa yang tengah kau cari.”
“Bocah geblek!” maki Sinto Gendeng. “Kau mau menipuku atau bagaimana?! Tadi kau bilang tahu apa yang aku cari. Sekarang malah bertanya!”
“Maafkan saya Nek. Soalnya seperti saya bilang tadi ada beberapa benda sangat berharga dicari orang di Telaga Gajahmungkur ini. Saya takut memberi keterangan keliru….”
Setelah menggerendeng lebih dulu baru si nenek memberi tahu.
“Aku mencari sebilah pedang sakti. Pedang Naga Suci 212. Senjata ini tidak bersarung. Bentuknya bergulung seperti ikat pinggang. Puluhan tahun lalu pedang itu aku sembunyikan di satu tempat di dasar telaga ini. Sekarang senjata itu harus segera kutemukan untuk mengobati muridku!”
“Maksudmu mengobati Pendekar 212 Wiro Sableng?” tanya Naga Kuning.
“Betul!” jawab Sinto Gendeng. Lalu tidak sabaran dia berkata. “Ayo lekas kau terangkan dimana pedang itu beradanya!”
“Naga Kuning,” tiba-tiba Panji berkata. “Aku punya seorang sahabat, gadis bernama Puti Andini. Berpakaian serba merah…. Katanya dia ke sini mau mencari sesuatu. Sebuah batu….”
“Setan alas!” teriak Sinto Gendeng. “Gadis hantu siapa yang kau tanya! Jangan berani bicara memotong ucapan orang! Kau tahu aku tidak suka kau ikut ke tempat ini! Kalau bukan gara-gara Kakek Segala Tahu sialan itu jangan harap….”
“Sinto! Jangan membentak terus-terusan. Aku jadi kaget-kagetan dan kencing terus!” Setan Ngompol berkata.
Tadinya si nenek juga hendak mendamprat kakek satu ini. Tapi dia akhirnya berpaling pada Naga Kuning dan berkata. “Kau masih belum mau bicara mengatakan di mana pedang sakti itu?!”
Naga Kuning menghela napas dalam. Wajahnya tampak murung.
“Nek, sebenarnya kau datang terlambat….”
Mata Sinto Gendeng membeliak. Wajah tuanya membersitkan seribu kerutan. Setan Ngompol yang merasa tegang mendengar percakapan kedua prang itu diam-diam kembali terkencing di celana.
“Bocah setan! Apa kau bilang?! Aku terlambat? Memangnya pedang sakti itu sudah diambil orang lain? Siapa?!”

*
* *


TIGA

Senjata itu masih ada dalam telaga ini, Nek. Masih dalam keadaan tergulung. Tapi berada di perut naga kembar yang betina itu….” Menerangkan Naga Kuning seraya menunjuk pada naga kuning betina yang mendekam di kejauhan. Sinto Gendeng menatap sejurus ke arah naga betina. “Aku tidak percaya. Bagaimana pedang itu bisa berada dalam perut naga. Mana ada ular doyan pedang!”
“Kau betul Sinto,” menimpali Setan Ngompol. “Bocah ini hendak menipu kita!”
“Nenek Sinto, kau tahu siapa diri saya ini. Mana mungkin hendak berlaku culas padamu. Dua kali dengan ini kau menolong diri saya. Walau cuma seorang tua bangka bertampang bocah buruk tapi saya bukan bangsa manusia yang tidak mengerti budi orang. Saya sudah memberi tahu apa yang kau ingin tahu. Walau budimu belum dapat saya balas namun saya terpaksa meninggalkanmu. Air larangan sudah terlalu banyak di tempat ini. Bukan mustahil sebentar lagi telaga ini akan amblas musnah. Lebih baik kalian cepat-cepat pergi dari sini….”
“Sebelum aku menemukan pedang itu aku tidak akan keluar dari Telaga Gajahmungkur ini!” jawab Sinto Gendeng. “Dan kau bocah jelek. Jangan buru-buru ngambek! Apa yang barusan kau bilang tidak masuk akal….”
“Nek, kau hidup sudah puluhan tahun. Kawanmu yang kau panggil dengan nama Setan Ngompol ini pasti juga sudah lebih delapan puluh tahun malang melintang di rimba persilatan. Saya jauh lebih tua dari kalian. Apa di usia kalian yang begini tua masih tidak menyadari kalau hidup di dunia ini banyak yang tidak masuk akal? Bahwa untuk menghadapi semua yang tidak masuk akal itu manusia harus punya seribu akal? Satu contoh, kita manusia-manusia biasa bisa berada di dalam air begini dalam, apa masuk akal?! Kiai Gede Tapa Pamungkas makhluk setengah manusia setengah roh. Sepasang naga kembar bukan ular besar biasa. Di luar langit masih ada langit lain. Di luar akal masih ada akal lain! Siapa berani melupakan kekuasaan Gusti Allah?!”
Walau jadi terdiam mendengar ucapan Naga Kuning tapi tak urung Sinto Gendeng tetap saja unjukkan wajah cemberut.
“Nek,” kata Naga Kuning lagi. “Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Pedang sakti bergulung itu ditelan oleh naga betina: Dan bukan cuma Pedang Naga Suci 212. Ada seorang gadis cantik bernama Puti Andini ikut ditelan naga dan kini mendekam di dalam perut binatang jejadian itu!”
Sinto Gendeng keluarkan seruan tercekat dan pandangi Naga Kuning dengan mata melotot sementara Setan Ngompol lag Magi terkencing karena kaget mendengar keterangan si bocah yang mengejutkan, sementara itu Panji menjadi pucat pasi. “Puti Andini…. Puti….” Pemuda ini menyebut nama si gadis berulang kali.
“Kalau keteranganmu betul, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan pedang yang ada dalam perut naga itu….”
“Juga menolong gadis yang kau bilang cantik itu!” ujar Setan Ngompol. Lalu dia berkata pada Sinto Gendeng. “Turut ceritamu bukankah gadis itu yang kau katakan sebagai cucu Sukat Tandika, bekas kekasihmu di masa muda?”
Kembali Sinto Gendeng unjukkan muka cemberut. “Urusan utama ku mendapatkan Pedang Naga Suci 212. Soal cucu Tua Gila itu kalau memang bisa kutolong akan kulakukan. Tapi jika orang ditelan ular menurutmu apa masih bisa hidup?”
“Ah, menyedihkan sekali kalau gadis yang katanya cantik itu sampai menemui ajal ditelan ular…” kata Setan Ngompol pula. “Naga Kuning, kau pasti tahu caranya bagaimana mendapatkan pedang dan menyelamatkan gadis itu.” . “Naga Kuning, kau harus menolong kami!” ujar Panji.
“Saya tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin kita terpaksa menunggu….”
“Kami tidak punya waktu lama. Selain hanya bisa bertahan sampai tengah malam nanti, juga muridku perlu cepat disembuhkan. Satu peristiwa besar yang menebar nyawa dan darah agaknya akan terjadi di Gajahmungkur ini…. Kami harus bergerak cepat sebelum orang-orang Lembah Akhirat menimbulkan bencana lebih besar….”
“Naga itu takut dengan air kencing!” berkata Panji. “Bagaimana kalau kalian berdua mengguyur-nya dengan air larangan itu. Begitu dia mampus kita bedol perutnya!”
“Kau betul Panji!” ujar Sinto Gendeng pertama kali menyetujui ucapan si pemuda.
“Setan Ngompol! Ayo lekas siapkan kencingmu yang banyak. Kita serbu ular naga betina itu!” kata Sinto Gendeng.
“Nenek Sinto dan Kakek Setan Ngompol, naga itu bukan binatang biasa. Air larangan memang bisa membunuhnya. Namun kalau dia mati setahuku tubuhnya akan lenyap berubah menjadi pasir kuning. Rohnya melesat ke angkasa. Aku khawatir bersama rohnya dia akan membawa serta Pedang Naga Suci 212 dan gadis bernama Puti Andini itu…”
Mendengar keterangan Naga Kuning itu tiga orang yang ada di hadapan Naga Kuning menjadi bingung.
ini urusan gila! Pasti ada cara untuk mendapatkan senjata itu. Apapun akan kulakukan untuk menolong muridku….”
“Seandainya pedang itu sudah kau dapat dan Pendekar 212 berhasil disembuhkan, lalu apa yang akan kau lakukan dengan Pedang Naga Suci 212 itu Nek?”
Pertanyaan Naga Kuning yang tiba-tiba itu membuat Sinto Gendeng sesaat terdiam. Tapi tiba-tiba dia membentak marah yang membuat Setan Ngompol tersembur air kencingnya.
“Bocah setan! Aku sekarang tahu apa yang ada di benakmu! Kau sengaja tidak mau menolongku. Karena kau khawatir aku akan mengambil dan menguasai pedang itu!”
“Saya memang ditugaskan oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas untuk menjaga segala sesuatu yang ada di Telaga Gajahmungkur. Setelah sang Kiai meninggalkan telaga tanggung jawab lebih besar berada di pundak saya….”
“Kau bocah tolol, tua bangka geblek! Kiai Gede Tapa Pamungkas telah menghukummu, mengapa kau masih perdulikan orang yang sudah tidak ada itu?!” Menukas Sinto Gendeng.
‘Nek, Kiai Gede menghukum saya karena memang saya bersalah. Walau dia tidak ada lagi di tempat ini tapi beban tugas yang diberikannya tetap menjadi tanggung jawab saya. Saya hanya ingin mengatakan. Jika pedang itu kau pergunakan sepenuhnya untuk menyembuhkan muridmu, siapa yang mau mencegah. Tetapi, setelah muridmu sembuh kau masih ingin menguasai senjata mustika sakti tersebut maka itu berarti menyalahi maksud dan tujuan, menyalahi adat dan aturan….”
“Bocah pintar ngomong!” semprot Sinto Gendeng. “Katamu dalam hidup ini manusia harus memakai seribu akal! Apa salahnya kalau aku mengikuti kata-katamu itu dan memiliki Pedang Naga Suci 212?! Dulu pun senjata itu sudah berada di tanganku…. Daripada jatuh ke tangan orang jahat bukankah lebih baik aku yang menguasainya?! Perduli setan dengan segala adat dan aturan. Maksud dan tujuan bisa berubah sesuai keadaan! Itu baru namanya hidup memakai akal!”
Naga Kuning tersenyum. “Manusia memang harus memakai seribu akal dalam menghadapi tantangan hidup. Tapi akal yang mana? Ada akal yang sepenuhnya datang dari otak atau alam pikiran. Ada akal yang memadu otak dengan perasaan hati. Lalu ada akal yang mempergunakan otak tapi juga dipengaruhi oleh dorongan yang datang dari bawah pusar. Saya tidak tahu kau memakai akal yang mana Nek…. Jika maksudmu mendapatkan Pedang Naga Suci bukan semata karena hendak menolong muridmu, saya khawatir kau akan menghadapi urusan besar. Karena Kiai telah menceritakan riwayat pedang itu. Senjata mustika itu hanya boleh dimiliki oleh seseorang. Terserah orang itu nanti mau memberikan kepada siapa. Saya rasa kau sudah tahu hal itu Nek, jadi tak perlu saya beberkan.”
Dari wajah si nenek Naga Kuning maklum kalau Sinto Gendeng masih tidak puas.
Maka dia menunjuk ke atas ke arah dinding batu Liang Lahat. “Nek, sebelum kita meneruskan bicara, ada baiknya kau membaca dulu apa yang tertera di dinding batu itu….”
“Perlu apa aku mengikuti nasihatmu! Membaca segala tulisan bobrok di atas batu sialan!” bentak Sinto Gendeng.
Naga Kuning tidak perduli. Dia berenang ke atas. Setan Ngompol ikut berenang ke atas karena sebelumnya memang dia sudah membaca sedikit rangkaian tulisan di atas batu itu. Sesampainya di atas dan melihat Sinto Gendeng masih tetap berada di bawah sana, Naga Kuning berseru.
“Nek, jika kau tak mau membaca sendiri tulisan di batu ini, biaraku bacakan dan kau silahkan pasang kuping mendengarkan!”
Lalu Naga Kuning membaca keras-keras rangkaian tulisan yang ada di batu.

LIANG LAHAT
Sesungguhnya insan hidup terbuat dari tanah
Hidupnya terbatas dari tanah ke tanah
Namun mengapa manusia menjadi lupa
Bersikap sombong membusung dada
Bersikap angkuh besar kepala
insan hidup tak ada arti di hadapan Sang Penguasa
Tapi mengapa insan berani menantang Sang Pencipta
Berani tapi putih, lembut tapi jantan, perkasa tapi jujur
Bukankah itu lebih baik daripada berani tapi hitam, lembut tapi culas, perkasa tapi serakah! Liang lahat!
Di sini tersimpan saksi bisu dari keserakahan, saksi buta dari keculasan, saksi tuli dari ketidakjujuran
Bisakah kekuatan insan memecah kebisuan, menyalangkan kebutaan hati, mendengar desah ketidakadilan
Bisakah tongkat si buta mengetuk membuka pintu kebenaran
Yang kuasa dan Sang Pencipta adalah tempat bertanya, tempat meminta
Adakah manusia bertanya dengan segala kebersihan hati? Adakah insan meminta dengan kejujuran jiwa….

Naga kuning belum sempat mengakhiri membaca bait-bait tulisan yang ada di atas
batu. Masih tertinggal satu bait lagi. Namun Sinto Gendeng yang merasa semua yang dibacakan si bocah sengaja untuk menyindir dirinya, kembali menjadi marah dan membentak.
“Naga Kuning! Kau boleh membaca tulisan itu sampai seribu kali. Mulai dari pagi sampai pagi lagi tujuh hari tujuh malam! Jangan harap aku akan terpengaruh! Kalau saja kau. bukan orang yang dipercayakan Kiai Gede Tapa Pamungkas guruku, sudah dari taditadi kau kulabrak! Sekarang dengar ucapanku! Apa yang akan kulakukan nanti dengan Pedang Naga Suci 212 adalah urusanku sendiri! Jika kau coba menghalangi aku terpaksa akan melupakan segala macam budi….”
“Kalau memang begitu Nek, urusan lebih baik diselesaikan sekarang sebelum semuanya menjadi kapiran! Saya akan mendahuluinya mendapatkan senjata sakti itu! Kalaupun kau berhasil mendapatkan pertama kali, saya bersumpah untuk merampasnya!”
Merasa ditantang marahlah Sinto Gendeng. Dia tidak perduli lagi siapa adanya Naga Kuning. Melihat ketegangan yang terjadi Setan Ngompol sudah ter-kencing-kencing. Dia berusaha mencegah terjadinya bentrokan namun saat itu didahului satu pekikan keras nenek sakti dari Gunung Gede itu melesat ke arah si anak.
“Bocah Setan! Aku tidak meminta kau membalas segala budi pertolonganku! Tapi adalah tolol dan kurang ajar kalau kau mencoba menghalangiku!”
Tangan kanan si nenek bergerak ke arah kepala. Setan Ngompol maklum apa yang dilakukan si nenek. Cepat-cepat dia tekap perutnya sebelah bawah. Panji yang juga sudah bisa memperkirakan apa yang hendak diperbuat Sinto Gendeng segera berseru. “Nek! Jangan serang anak itu! Kita memerlukan dia!” Yang dikhawatirkan pemuda ini adalah kalau dia sampai kehilangan jejak Puti Andini.
Namun Sinto Gendeng yang sudah khilaf karena nekad dan marah gerakkan tangannya. Dua tusuk konde perak laksana sepasang anak panah lepas dari busurnya melesat berkilauan di dalam air. Tusuk konde pertama mencari sasaran tepat di mata kiri si bocah, satunya lagi mengarah dada kiri tepat di jurusan jantung. Jelas Sinto Gendeng bertekad menghabisi anak ini!
Lima tusuk konde yang selalu menancap di kepala Sinto Gendeng bukanlah tusuk konde biasa karena merupakan senjata yang sangat berbahaya dan mengandung racun mematikan. Kini dua dari lima tusuk konde itu dipakai untuk menyerang dan membunuh Naga Kuning.
Naga Kuning yang mendapat serangan itu seolah terkesiap dan tidak percaya kalau si nenek benar-benar hendak menurunkan tangan jahat terhadapnya. Dia tidak sempat bergerak mengelak atau pun menangkis.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba berkiblat satu sinar putih menyilaukan yang sesaat menerangi seantero dasar telaga. Air telaga yang dingin berubah menjadi panas. Tusuk konde perak yang melesat ke arah mata kiri Naga Kuning terpental ke atas sewaktu ujung tusuk konde hanya tinggal setengah jengkal saja dari sasaran!
Seseorang telah turun tangan menolong anak itu. Namun tusuk konde kedua yang mengarah jantung tidak mungkin dihindari. Ujung tusuk konde yang lancip menghantam telak dada kiri Naga Kuning. Tapi begitu menyentuh dada si anak senjata itu tidak mampu melukai apalagi menancap tembus dan menusuk sampai ke jantung. Seolah menghantam satu permukaan licin dan atos tusuk konde itu terpental ke samping.
“Kurang ajar! Bocah itu ternyata memang benar telah memiliki ilmu lumba-lumba putih yang membuat tubuhnya licin seperti kulit ikan!” mengomel Sinto Gendeng. “Tapi siapa yang barusan menolong menangkis tusuk konde yang mengarah matanya. Padahal aku tahu betul kedua mata anak ini adalah dua titik terlemah segala kesaktian yang dimilikinya!”
Sinto Gendeng memandang berkeliling penuh marah. Sepasang matanya mendelik berapi-api. Rahangnya menggembung dan mukanya yang keriput kelam membesi. Dalam marahnya dia melihat dua sosok tubuh melayang dalam air. Begitu mengenali kedua orang itu maka meledaklah dampratannya.

*
* *


EMPAT

Sebelum kita melanjutkan apa yang terjadi di dasar Telaga Gajahmungkur mari kita ikuti dulu apa yang berlangsung di salah satu tepian telaga. Setelah gurunya Eyang Sinto Gendeng dan Seta n Ngompol masuk ke dalam telaga bersama Panji alias Datuk Pangeran Rajo Mudo dan perginya Kakek Segala Tahu, di tepi telaga hanya tinggal Pendekar 212 Wiro Sableng berdua dengan Ratu Duyung. Untuk beberapa lama kedua orang ini hanya berdiam diri. Sesekali Wiro melirik. Gadis di sebelahnya dilihatnya memandang ke arah telaga terus-terusan. Murid Sinto Gendeng ini mendehem beberapa kali lalu membuka pembicaraan dengan bertanya.
“Menurutmu apakah guruku akan berhasil mendapatkan Pedang Naga Suci 212 itu?”
“Kau khawatir mereka gagal dan kau tidak bisa ditolong?” Ratu Duyung malah balik bertanya.
“Soal diriku sudah nasib jadi begini. Tak ada yang perlu disesalkan. Yang aku khawatirkan adalah mendadak terjadi satu hal besar di tempat ini. Dan aku tidak bisa berbuat apa. Apalagi Kapak Naga Geni 212 milikku entah di mana beradanya. Guruku pasti marah besar kalau….” Wiro tiba-tiba ingat pada cermin bulat yang dimiliki Ratu Duyung.
“Mana cermin saktimu. Mungkin kau bisa melihat melalui cermin itu di mana beradanya Kapak Naga Geni 212.
Ratu Duyung segera keluarkan cermin saktinya. Dia segera memusatkan perhatian dan pandangan mata ke permukaan cermin itu. Sesaat kemudian tampak cermin bergetar. Wiro mendekat dan coba melihat. Tapi dia tidak melihat apa-apa dalam cermin itu.
“Kau melihat sesuatu Ratu..,?” bertanya Wiro.
“Cermin bergetar….” kata Ratu Duyung perlahan. , Wiro memperhatikan. Cermin bulat itu memang tampak bergetar dalam pegangan gadis sakti bermata biru. “Ada daya tolak dari satu kekuatan sakti. Aku hanya melihat sesuatu berwarna kuning. Bergerak sangat cepat. Tidak jelas apakah sosok manusia. Sulit diterka lelaki atau perempuan….”
“Maksudmu kalau itu adalah sosok manusia maka dia mengenakan pakaian serba kuning?”
“Mungkin…. Aku tak berani memastikan. Bayangan kuning lenyap dari dalam cermin. Aku tak bisa memantau lebih jauh….”
Wiro termenung sambil garuk-garuk kepala. “Be-rat dugaanku. Bayangan kuning ya rig kau lihat dalam cermin adalah sosok orang berpakaian dan bercadar kuning. Waktu terjadi pertempuran di teluk dia muncul menolong. Jangan-jangan senjata itu ada padanya…."
“Aku menduga demikian. Kau tak usah khawatir. Senjatamu berada di tempat yang aman….”
“Aku tetap khawatir. Soalnya siapa bisa menduga sifat manusia…. Di luar bisa saja baik. Di dalam mungkin penuh maksud tertentu….”
Ratu Duyung terdiam. Pandangan matanya masih terus ke arah telaga. Sejak peristiwa di Puri Pelebur Kutuk dulu dia selalu memendam rasa bersalah tak berkeputusan. Walau sebelumnya masalah itu sempat mereka bicarakan dan Wiro telah menganggap selesai namun di lubuk hati gadis ini selalu ada perasaan penyesalan yang sulit dilupakannya. Karena itu setiap Wiro mengatakan sesuatu dia seolah merasa bahwa ucapan pemuda itu seolah merupakan sindiran yang ada hubungannya dengan peristiwa lama. Melihat sang Ratu berhening diri, diam-diam Wiro menduga mungkin gadis itu tersinggung dengan ucapannya tadi. Maka sambil memegang jari-jari tangan kiri Ratu Duyung, Wiro berkata. “Ratu, jangan kau merasa tersinggung. Segala ucapanku polos belaka. Tak ada sangkut pautnya dengan diri kita berdua atau apapun yang pernah terjadi antara kita berdua….”
“Aku tahu…” jawab Ratu Duyung dengan suara setengah berbisik. “Tapi sulit bagiku melenyapkan rasa bersalah dari lubuk hati ini. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaanku terhadap diriku sendiri dan terhadap dirimu. Aku….”
Ratu Duyung tersendat. Ucapannya terhenti. Sepasang matanya yang biru tampak basah. Wiro meremas jari-jari tangan gadis itu. Malah dengan tangannya yang lain dia merangkul bahu sang Ratu seraya berbisik.
“Ratu, jangan menangis….”
“Kalau tidak menangis rasanya hati ini belum lega Wiro. Dada ini serasa sesak berkepanjangan. Tekanan batin mengikuti kemana pun aku pergi….”
“Kau gadis gagah. Kau mampu menyingkirkan semua itu….”
“Aku manusia biasa. Manusia biasa yang jalan hidupnya ditakdirkan lain….”
“Jangan menyalahi dirimu. Jangan menyalahi siapa-siapa. Kau adalah kau dan aku senang serta bangga melihat kau apa adanya….”
“Betul ucapanmu itu Wiro?” tanya Ratu Duyung seraya menatap dalam-dalam ke mata Pendekar 212. Dua pasang mata sama beradu pandang. Dua hati berpadu rasa. Dua jantung berdegup penuh cinta.
Wiro tersenyum dan anggukkan kepala.
Entah siapa yang bergerak lebih dulu tahu-tahu dua insan itu telah tenggelam dalam pelukan mesra.
“Wiro…” bisik Ratu Duyung sambil membelai kuduk pemuda itu.
“Hemmm….” Wiro bergumam.
“Seringkali rasa bahagia seperti yang kualami saat ini menipu diriku sendiri. Membuat aku lupa siapa diriku sebenarnya’….”
“Bukankah kukatakan tadi kau adalah kau. Dan aku bangga melihat kau apa adanya…” kata Pendekar 212 balas membelai punggung Ratu Duyung dengan usapan jarijari tangan yang lembut. Ratu Duyung pejamkan kedua matanya. Wajahnya disandarkan di dada kiri Wiro. “Aku suka mendengar kata-katamu itu Wiro. Tapi aku sadar hatiku tak bisa ditipu oleh jalan pikiran. Sebaiknya pikiranku tidak pula dapat ditipu oleh suara hati.
Sesuatu i di lubuk hati ini mendekam sejak lama, tak kuasa aku utarakan. Bahkan mungkin terpaksa harus ku-tanam lebih dalam dan*lebih jauh”. Lebih dalam dari pusat bumi. Lebih jauh dari ujung dunia. Biarlah hanya getaran nya saja yang tetap hidup dalam alam-i ku yang serba aneh. Alamku yang tak mungkin bersatu dengan alammu….”
Wiro mendekap pipi Ratu Duyung dengan dua tangannya lalu mengangkat kepala gadis itu. Se-pasang mata biru Ratu Duyung tampak berkaca-kaca. Walau basah oleh air mata tapi di balik segala kedukaan yang ada masih terbayang cahaya bahagia dan mesra. Sudah sejak lama gadis ini membayangkan betapa indah dan mesranya jika berada dalam pelukan Wiro. Semua ini menjadi kenyataan. Mereka bermesraan. Namun sampai berapa lama kemesraan ini akan didapat dan dirasakannya?
“Tuhan…. Jangan kau pupus dan sirnakan kebahagiaan ini dari tanganku….” Suara yang muncul di lubuk hati Ratu Duyung lebih merupakan bayangan ketakutan daripada permintaan. Lehernya yang putih jenjang bergerak-gerak pertanda dia berusaha menahan gelora hatinya. Wiro merunduk. Dengan permukaan bibirnya ditelusurinya leher dan tengkuk yang ditumbuhi rambut-rambut halus itu. Ratu Duyung merasakan kehangatan yang tak pernah dialaminya sebelumnya. Sesaat terbayang kembali olehnya peristiwa di Purr Pelebur Kutuk. Ketika mereka berdua-dua berada di atas ketiduran tanpa sehelai benang pun menutupi aurat.
Ratu Duyung mendesah halus. Tubuhnya menggeliat. Pelukannya tiba-tiba mengencang seolah Wiro tak akan dilepaskannya untuk selama-lamanya. Wiro merasakan dada basah keringatan berdegup kencang di wajahnya yang memanas. Hampir dia terlupa dan hendak membenamkan wajahnya di belahan dada gadis itu tiba-tiba Wiro ingat, perlahan-lahan ditariknya kepalanya. Dilihatnya wajah Ratu Duyung memerah. Sepasang matanya terpejam, bibirnya yang merah terbuka merenggang dan cuping hidungnya bergerak-gerak.
Wiro ingin sekali mengecup bibir yang bagus dan basah itu. Namun pemuda ini masih dapat menahan diri. Dalam gelora yang membakar darahnya dia masih ingat untuk tidak berbuat lebih jauh. Jangan sampai dorongan hatinya mempengaruhi jalan pikiran.
“Ratu,” bisik Wiro di antara desah napasnya yang panas clan menderu. “Tadi kau mengatakan alammu masih berbeda dengan alamku. Padahal setelah peristiwa di Puri itu, bukankah kutukan yang menimpa dirimu telah sirna? Kau bukan lagi makhluk setengah manusia setengah ikan? Kau benar-benar telah menjadi seorang anak manusia, seorang gadis dengan segala kecantikan, keanggunan dan kesucian yang ada.”
Sepasang mata Ratu Duyung yang basah masih terpejam. Dua tangannya masih merangkul lembut punggung dan belakang kepala pemuda itu. “Kau betul. Diriku dan juga diri semua anak buahku telah bebas dari kutukan yang menyengsarakan itu. Namun dalam kebahagiaan itu aku juga menyadari. Sekian lama hidup di dasar samudera dalam alam yang berbeda telah menjadikan diriku bersatu men-darah daging dengan alam yang serba aneh itu. Membuat diriku asing di tengah alammu walau wujud diriku tidak beda dengan manusia lainnya. Aku merasa diri ini tidak punya tempat dalam dunia ini….”
“Itu hanya perasaanmu saja Ratu. Perlahan-lahan tapi pasti kau akan terbiasa. Kau kelak akan merasakan betapa bahagianya hidup di dunia ini. Dengan segala masalahnya baik suka maupun duka…”
Ratu Duyung gelengkan kepalanya. Air mata jatuh berderai dari celah-celah barisan bulu matanya yang panjang dan lentik. Mulutnya terbuka namun tidak ada ucapan yang sanggup dikeluarkannya. Hanya suara hatinya yang berkata dan tak mungkin terdengar oleh Wiro. “Kau tidak tahu Wiro, bukan hidup di alammu itu yang menakutkan diriku. Tapi hidup tanpa dirimu di sampingku yang membuat aku seolah merasa mati dalam hidup ini.
Aku boleh tahu besarnya kasih sayang kecintaanku padamu. Tapi aku tidak tahu apakah kau memiliki dan berapa besarnya kasih sayang dan rasa cintamu terhadapku. Yang aku tahu adalah aku tak bakal dapat memiliki dirimu. Ini seperti sudah menjadi takdir. Kau tak akan pernah menjadi milikku. Hati ini tahu, perasaan ini-mengerti, ada seorang iain yang kau kasihi dan kau cintai dengan seputih hatimu. Wiro, setinggi gunung kasih sayangku, sedalam lautan cintaku padamu tapi aku sadar bahwa aku hanya akan meratap dalam kebahagiaanmu bersama gadis lain itu….”
Ratu Duyung berusaha menahan sengguk tangis hingga bahunya terguncangguncang. Wiro peluk gadis ini erat-erat. Terasa kehangatan air mata Ratu Duyung menyentuh dadanya.
“Ratu, kau harus berani menghadapi kenyataan. Hidup yang sebenarnya hidup adalah hidup di alam ini, bukan di alammu. Kita akan bersama-sama. Kita akan berjalan berdampingan dalam suka maupun susah….”
Ratu Duyung angkat kepalanya. Sepasang matanya yang biru dibuka. Menatap lembut penuh mesra. Senyum menyeruak di bibirnya yang bagus. “Semua yang kau ucapkan itu pancaran suara hatimu yang tulus. Tapi Wiro. Tidak mungkin kita bersamasama, berjalan berdampingan dalam suka maupun susah. Karena aku tahu kau bukan milikku. Ada gadis lain yang lebih baik dan cocok untuk dirimu….”
Wiro hendak menggaruk kepalanya mendengar kata-kata Ratu Duyung itu tapi si gadis tersenyum dan pegangi tangan sang pendekar.
“Kau tahu hal itu Wiro. Kau tak akan mau menipu dirimu sendiri. Yang aku pinta saat ini hanyalah izinkan diri ini sedikit lebih lama berada dalam keadaan seperti ini, bermesra berdua-dua dengan dirimu. Karena mungkin ini kesempatanku yang pertama dan yang terakhir….”
“Eh, memangnya kau mau ke mana? Mau melakukan apa?” tanya Wiro.
“Kau bukan milikku tapi milik gadis lain. Cintamu bukan milikku tapi milik seorang lain. Kau harus mengakui itu. Aku tak perlu menyebut siapa adanya gadis itu….”
“Aku….” Wiro gelengkan kepala dan usap pipi sang Ratu dengan jari-jari tangan kanannya. “Kalau kau sudah tahu…. Aku akan berterus-terang padamu. Aku memang pernah menyukai dan mencintai seorang gadis….”
Ratu Duyung pejamkan sepasang matanya yang biru. Jauh di lubuk hatinya seolah ada sembilu menyayat perih. Bibirnya bergetar.
“Tapi aku hanya bertepuk sebelah tangan,” terdengar kembali suara Wiro. “Aku senang orang tak suka. Aku sayang orang tak cinta….”
Ratu Duyung perlahan-lahan buka kedua matanya. Gadis ini berusaha menguatkan hatinya untuk bisa berucap.
“Wiro, cinta tak selalu seperti apa yang kita lihat. Bagi seorang gadis cinta yang ada dalam hatinya terhadap seorang pemuda tidak ubahnya seperti gunung es yang kelihatan hanya secuil di permukaan samudera. Bagian cinta yang sangat besar disimpan dan disembunyikan di bawah permukaan laut. Di dalam laut hati sanubarinya. Dipeliharanya baik-baik….”
“Ah, aku tidak mengerti…” ujar Wiro. Kembali dia hendak menggaruk kepala tapi lagi-lagi tangannya dipegang oleh Ratu Duyung.
“Gila! Kepalaku mau pecah rasanya karena gatal! Aku tak bisa menggaruk! Lepaskan peganganmu Ratu.”
Ratu Duyung tersenyum. Sambil terus pegangi tangan Wiro dia berkata.
“Sebagian dari keindahan cinta justru adalah pada ketidakmengertian itu Wiro…,”
Perlahan-lahan Ratu Duyung angsurkan wajahnya mendekati wajah Pendekar 212. Murid Eyang Sinto Gendeng ini jadi kelagapan ketika bibir gadis itu menyentuh permukaan bibirnya. Tapi kegelapan si pemuda hanya sebentar. Dilain saat dua insan ini tenggelam dalam kemesraan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
“Wiro…” suara Ratu Duyung bergumam diantara desau napas. Wajahnya disusupkan ke pundak si pemuda dan sepasang matanya melirik ke arah timur, ke balik serumpunan semak belukar. “Sudah pergi…. Dia sudah pergi…. Pasti hatinya akan tersayat perih menyaksikan aku dan pemuda yang dicintainya dalam keadaan begini rupa. Apakah dia bisa mengerti, apakah gadis itu mau memahami. Bahwa hanya ini kebahagiaan hidup yang bisa kudapatkan dan tak lebih dari ini. Aku hanya meminta secuil kebahagiaan ini. Kalau ini satu dosa semoga kau mau memaafkan dan Tuhan mau mengampuni. Sahabat, aku tidak akan menodai diriku dan diri pemuda yang kau kasihi. Kau akan mendapatkan nya sebagai seorang kekasih yang bersih. Aku berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua….”
“Ratu, aku mendengar seperti kau bicara sendirian…” kata Wiro seraya mendekap wajah Ratu Duyung dengan dua tangannya,
“Wiro, kita sudah terlalu lama di tempat ini. Kau tahu kawasan ini kurang amah. Orang-orang Lembah Akhirat bisa muncul setiap saat. Lagipula aku punya firasat ada sesuatu bakal terjadi di dasar telaga. Sebaiknya kita menyusul orang-orang itu masuk ke dalam telaga….”
“Tapi Eyang Sinto Gendeng meminta kita berjaga-jaga di sini….”
“Jika sesuatu akan terjadi pasti akan terjadi walau kita berjaga-jaga bagaimanapun. Mari….” Ratu Duyung memegang lengan Pendekar 212, siap mengajaknya terjun ke dalam air.
“Ratu, kau tahu aku tak mungkin masuk ke dalam air sepertimu, Kecuali kau mendekap dan menyirap diriku seperti yang kau lakukan terhadap orang-orang itu.”
“Hemmm….” Sang Ratu meragu sejenak. Kalau dilakukannya apa yang dipinta Wiro yakni memberikan ilmu kemampuan masuk ke dalam telaga dengan cara mendekap, mungkin lain yang akan terjadi. Mungkin salah seorang dari mereka akan lupa diri.
“Guruku ada di dalam telaga. Dia pasti marah besar kalau diketahuinya aku ikut masuk. Padahal dia sudah berpesan agar kita tetap berada di sini untuk berjaga-jaga.”
“Aku tahu sifat gurumu. Gampang marah gampang pula baiknya.”
“Tapi Ratu mungkin bahaya lebih besar akan menghadang diriku di dalam telaga sana. Walau aku masih mengenakan jubah sakti Kencono Geni dan juga memiliki ilmu tidur yang diberikan Si Raja Penidur tapi aku khawatir….”
“Celaka bisa terjadi di mana-mana. Kalau dihadang, malapetaka malah tak datang. Kalau lengah celaka malah jatuh menimpa.”
Wiro terdiam mendengar ucapan Ratu Duyung itu.
“Apa yang kau pikirkan Wiro? Kau takut mati tenggelam dalam air? ingat kejadian setelah geger besar di Pangandaran? Kau dan aku naik kereta kuda. La lu kita sama-sama masuk ke dalam samudera….”
“Ah!” Wiro gerakkan tangan kanannya yang tidak lagi dipegang Ratu Duyung lalu menggaruk kepala sepuas-puasnya. Dia tidak menolak lagi sewaktu Ratu Duyung menarik tangannya untuk kedua kali dan mencebur masuk ke dalam Telaga Gajahmungkur.

*
* *


LIMA

Ketika Wiro dan Ratu Duyung bermesraan di tepi telaga seseorang berkelebat ke balik serumpunan semak belukar di sudut telaga tak berapa jauh dari dua muda-mudi itu berada. Orang ini mengenakan pakaian biru, berambut panjang pirang. Bau tubuh dan pakaiannya- yang harum menebar ke mana-mana. Bau harum inilah yang membuat Ratu buyung menyadari bahwa ada seseorang bersembunyi tak jauh dari tempat itu. Wiro sendiri karena telah hilang kesaktiannya tidak mampu mencium bau harum tersebut. Dari bau wangi tersebut Ratu Duyung sudah bisa memperkirakan siapa adanya orang tersebut.
Sambil terus bercakap-cakap dengan Wiro, Ratu Duyung menyelidik, Memandang berkeliling akhirnya dia mengetahui bahwa orang itu bersembunyi di baiik serumpunan semak belukar. Rasa berdosa tiba-tiba saja muncul dalam hati Ratu Duyung. Tapi sebagai manusia biasa yang tidak luput dari pengaruh perasaan, apalagi perasaan seorang perempuan yang selalu mempunyai rasa cemburu dan rasa ingin memiliki seseorang, maka Ratu Duyung tidak memberitahukan kehadiran orang itu pada Wiro. Dia juga tak mau memutus percakapan dan buru-buru pergi dari tempat itu. Apa salahnya kalau saat itu dia boleh mereguk sedikit kebahagiaan, berdua-dua bermesraan dengan orang kepada siapa dia berhutang budi dan kepada siapa cinta kasihnya tercurah.
Lain halnya dengan orang yang bersembunyi di balik semak-semak yang bukan lain Bidadari Angin Timur adanya. Gad is ini merasa sekujur tubuhnya bergeletar laksana dipanggang menyaksikan Wiro bermesraan dengan Ratu Duyung. Jari-jari tangannya terkepal dan dua matanya menyorotkan sinar marah penuh cemburu! Kalau dia tidak berpikir panjang saat itu juga mau dia melompat keluar dan melabrak kedua orang itu. Tetapi begitu pikiran jernih memasuki kepalanya maka perlahan-lahan gadis ini bisa menguasai dirinya. Malah diam-diam dia menyadari mungkin semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Selama ini dia mengambil sikap curiga dan selalu menjauhi Wiro. Apa yang harus disesalinya kalau kini pemuda itu jatuh ke tangan gadis lain? Namun bagaimanapun dia ingin berpikir jernih, rasa mementingkan diri sendiri tidak mungkin dipupusnya sama sekali.
“Ratu Duyung, ternyata kau adalah gadis gampangan. Dan kau Wiro, kau tak lebih dari seorang pemuda mata keranjang yang sanggup bercinta dengan siapa saja dan tega melukai hati setiap gadis…”
Bidadari Angin timur bersimpuh di tanah. Wajahnya ditutup dengan sepasang tangannya yang berjari-jari halus. “Apa yang harus aku lakukan? Menangis? Berteriak marah! Atau lebih baik kupukul sendiri kepala ini hingga pecah?! Aku mencarinya ke teluk. Dari kabar yang kudapat katanya dia dalam bahaya. Ternyata kini dia berada di tepi telaga. Bercinta dengan Ratu murahan itu!”
Bidadari Angin Timur turunkan kedua tangannya. Wajahnya menjadi sangat merah. Dua matanya laksana kobaran api. Cepat-cepat kepalanya dipalingkan ke jurusan lain. Tak sanggup dia menyaksikan bagaimana Ratu Duyung dan Wiro Sableng saling berkecupan.
“Mesum…. Hidup ini ternyata penuh kemesuman!” jerit Bidadari Angin Timur.
Tinjunya kiri kanan dipukul-pukulkannya ke paha. Tiba-tiba dia mendengar suara sesuatu masuk ke dalam telaga. Ketika dia menoleh Ratu Duyung dan Pendekar 212 Wiro Sableng tak ada lagi di tempat itu.
“Mereka masuk ke dalam telaga. Aku harus menyelidik apa yang mereka lakukan. Jangan-jangan Ratu itu memiliki istana di dalam telaga. Tempat mereka berdua bisa berbuat apa saja. Aku harus masuk ke dalam telaga! Harus! Tapi tak mungkin…. Walau aku bisa berenang tak mungkin mampu bertahan lama dalam telaga itu!” Kembali si gadis dibuncah perasaan marah dan cemburu. Dia melangkah mondar-mandir. Dia berpikir keras apa yang harus dilakukannya agar kedua orang itu segera keluar dari dalam telaga. “Aku tak mungkin membakar telaga ini! Aku juga tak punya racun untuk ditebar hingga mereka sesak napas dan terpaksa keluar dari dalam air. Apa yang harus kulakukan! Apa!!!”
Selagi dia melangkah mondar-mandir di tepi telaga seperti itu tiba-tiba saja sesosok tubuh berjubah hitam tegak di hadapannya. Dia melihat sepasang tangan berkuku panjang. Lalu dia mendengar suara tawa cekikikan.
“Gadis cantik berlesung pipit! Kita bertemu lagi! Hik… hik… hik!”
Bidadari Angin Timur angkat kepalanya. Dia melihat satu wajah bundar putih penuh keriput. Rambut putih yang dulu dilihatnya digulung di atas kepala kini tergerai lepas riapriapan. Orang ini semakin jauh lebih tua daripada ketika pertama kali ditemuinya.
“Nenek Sika Sure jelantik…” ujar Bidadari Angin Timur.
Si nenek tertawa panjang. “Aku senang kau masih ingat namaku. Padahal aku tak pernah tahu siapa namamu! Hik..; hik… hik!”
“Nenek Sika aku gembira bisa bertemu lagi denganmu. Apa yang membawamu ke Telaga Gajahmungkur ini?” bertanya si gadis.
“Justru aku yang ingin bertanya. Apa yang membuatmu hingga berada di tempat ini! Hik… hik… hik! Dari cahaya matamu, dari rona air mukamu aku menduga keras kau berada dalam gelombang perasaan hati yang sulit kau kendalikan! Betul kan…?! Hik… hik… hik!”
Bidadari Angin Timur tidak menjawab. Gadis ini cuma menatap dengan tersenyum pada si nenek.
“Ah, kau tersenyum. Sepasang lesung pipit itu masih ada di kedua pipimu. Anakku, kau ingat pertemuan kita pertama kali, dulu. Aku menemuimu, dalam keadaan menangis berurai air mata. Sekarang pun kulihat sepasang matamu yang bagus basah oleh air mata. Wajahmu menunjukkan adanya pukulan hati yang sangat berat. Sinar matamu seolah menyembunyikan satu dendam kesumat. Anakku, apakah ini menyangkut persoalan dulu juga? Masih ada hubungannya dengan pemuda yang kau bilang bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212 itu? (Mengenal pertemuan pertama Sika Sure jelantik dengan Bidadari Angin Timur harap lihat Episode Asmara Darah Tua Gila)
Bidadari Angin Timur mengangguk perlahan. “Kau tentu masih ingat Nek, waktu itu kukatakan terus terang padamu ada satu ganjalan yang membuat aku tak mau berterus terang pada pemuda itu bahwa aku mencintainya. Aku mengambil sikap rnenjauhinya. Aku tak mau menjadi bahan permainan cinta murahnya. Karena aku tahu banyak gadis cantik mengelilinginya. Semua menaruh hati pada pemuda itu. Dan barusan saja aku melihat dia bercinta bermesra dengan salah satu dari gadis itu. Di depan mataku. Mereka berpegangan tangan, saling berangkulan. Ma lah aku saksikan sendiri mereka….” Si gadis tidak sanggup lanjutkan ucapannya. Kepalanya digelengkan beberapa kali. Air mata menggelinding jatuh ke pipinya yang merah.
Sika Sure Jelantik usap kepala Bidadari Angin Timur. Seperti diketahui nenek satu ini adalah seorang berhati keras dan kejam. Namun bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan yang ikut merasa pilu melihat kesedihan yang diderita perempuan iain. Apalagi terhadap Bidadari Angin Timur yang sudah dianggapnya sebagai cucu atau anak sendiri.
“Anakku, seperti yang aku bilang dulu. Kau menanam pohon beracun dalam tubuhmu sendiri. Semakin jauh hari berlalu semakin tinggi pohon itu mencuat ke kepalamu dan semakin dalam akarnya menghunjam ke kakimu. Kau harus segera mengambil keputusan. Menemui pemuda itu dan mengatakan terus terang bahwa kau mencintainya….”
“Aku tak sanggup melakukan itu Nek. Tidak ada seorang gadis pun yang mau berbuat begitu bagaimanapun besar cintanya terhadap seorang pemuda…”
“Kalau begitu kau mungkin terpaksa harus meninggalkannya….”
“Itu sama saja dengan bunuh diri!”
Sika Sure Jelantik tertawa panjang. “Anakku, itulah kehebatan cinta! Bisa membunuh orang secara pelan-pelan bahkan bisa secara cepat! Nasib diriku sebagai contohnya. Sampai saat ini tanganku sudah gatal untuk membunuh bekas kekasihku yang serong dimasa muda! Tapi belum juga kesampaian!”
“Nek, kalau seandainya kau bertemu dengan dia dan dia meminta maaf dengan setulus hati, bagaimana jawabmu?!”
“Pertanyaan gila sekali!” tukas Sika Sure Jelantik. “Dia memang pernah menunjukkan sikap menyesal dan minta maaf. Tapi apakah harga diriku ini hanya sebatas penyesalan dan permintaan maaf? Aku sudah keburu berkubang dalam rasa malu setinggi langit sedalam lautan! Lalu suatu hari dia datang cengar-cengir bicara segala macam penyesalan dan minta maaf. Tidak anakku! Sika Sure Jelantik bukan perempuan berhati loyang. Tapi juga tidak memiliki hati emas! Dan sebagai perempuan hatimu dengan hatiku mungkin berbeda. Buktinya kau hanya diam saja ketika menyaksikan mereka bercinta di tepi telaga di depan mata kepalamu!”
“Nek, apa betul kadangkala cinta itu adalah pengorbanan…?”
Sika Sure Jelantik tertawa gelak-gelak. “Pengorbanan adalah istilah orang yang berada dalam keadaan dikalahkan dan lemah tak bisa berbuat apa. Apakah kau merasa orang yang dikalahkan dalam merebut hati pemuda pujaanmu itu anakku?”
Paras Bidadari Angin Timur kelihatan bersemu merah.
“Apakah kau tak bisa lagi mengalihkan cintamu pada pemuda lain?”
“Dia adalah pemuda pertama dan yang terakhir yang aku cintai Nek. Hati dan cinta kasihku hanya untuk dia seorang walau mungkin aku tidak akan mendapatkannya….”
“Lalu kau mau menjadi perawan tua yang patah hati! Sungguh tolol perbuatanmu anakku! Hidup hanya satu kali, jangan disia-siakan….”
“Tapi bagaimana dengan dirimu sendiri Nek? Setelah kekasihmu mengkhianati dirimu, apa kau sanggup berpaling pada lelaki lain?”
“Itu pertanyaan gila! Aku tak mau menjawab!” kata Sika Sure Jelantik seraya bantingkan kaki kanannya hingga tepian telaga itu terasa bergetar. “Sekarang aku mau tanya. Apa yang membuatmu berada di Telaga Gajahmungkur ini. Kau boleh punya seribu alasan cinta! Tapi pasti ada satu hal lain….”
“Tidak ada alasan lain Nek. Setelah aku menyirap kabar pemuda itu bersama serombongan para tokoh silat tengah bergerak ke telaga maka aku segera ke sini. Aku memang menemuinya. Tapi sedang….”
“Sekarang di maha beradanya pemuda itu?” tanya si nenek.
“Aku tidak tahu Nek. Mungkin sekali mereka masuk ke dalam telaga….” Menerangkan Bidadari Angin Timur.
Terkejutlah si nenek mendengar hal itu. “Dengar, aku pernah bertemu dan menolong seorang gadis tak dikenal. Tololnya aku tidak tahu namanya. Tapi ciri-cirinya berkulit putih, rambut panjang hitam dan pakaian merah. Menurut ceritanya dia tengah mencari sebuah batu hitam di Telaga Gajahmungkur ini. Batu itu berkhasiat untuk menyembuhkan ibunya yang sedang sakit. Pertanyaanku, apakah kau melihat gadis dengan ciri-ciri yang aku katakan itu?”
Bidadari Angin Timur menggeleng.
“Apa warna pakaian gadis yang bercinta dengan Pendekar 212?” tanya si nenek menyelidik lebih jauh.
“Hitam….”
Sika Sure jelantik mendongak ke langit lalu menatap tajam ke arah telaga. “Setahuku Pendekar 212 tidak memiliki ilmu menyelam dalam air. Jika dia berani masuk ke dalam telaga berarti ada seseorang yang membekalinya ilmu. Hanya ada satu orang memiliki kepandaian seperti itu. Ratu Duyung. Tapi sang Ratu tak pernah mengenakan pakaian hitam….”
“Gadis berpakaian hitam bersama Pendekar 212 itu memang Ratu Duyung Nek,” menjelaskan Bidadari Angin Timur.
“Hah?!” Si nenek tersentak kaget. “Kenapa tidak kau beri tahu dari tadi! Ratu Duyung dan Pendekar 212 ada dalam telaga! Beberapa tokoh silat katamu sebelumnya telah menuju ke sini tapi tak kelihatan mata hidungnya! Jangan-jangan mereka sudah berkumpul di dasar telaga sana! Pasti ada sesuatu! Anakku, ayo kau lekas ikut bersamaku ke dalam telaga!”
“Aku tak bisa Nek….”
“Aku akan berikan ilmu menyelam seratus hari padamu!”
“Bukan itu masalahnya Nek. Aku hanya tak ingin masuk ke dalam telaga. Kuharap kau bisa memahami…”
“Hemmm…. Baik. Aku bisa memahami. Jika bertemu dengan Pendekar 212 biar aku memberi pelajaran padanya sampai nyawanya lepas dari badan!”
“Kuharap kau tidak melakukan hal itu Nek,” memohon Bidadari Angin Timur.
Si nenek tersenyum. “Kau benar-benar mencintai pemuda itu. Tapi aku tak bisa menjamin apa aku akan membunuhnya atau tidak….” Tanpa menunggu jawaban Bidadari Angin Timur si nenek segera saja melompat masuk ke dalam Telaga Gajahmungkur.

*
* *


ENAM

Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Rahasia Cinta Tua Gila) Puti Andini telah ditelan oleh ular naga betina. Sebelumnya gadis ini menyaksikan bagaimana naga betina itu menyedot dan menelan batu putih sebesar dua kepalan tangan yang ditemukannya di dasar telaga.
Ketika tubuhnya disedot dan siap ditelan oleh naga betina itu Puti Andini berusaha selamatkan diri dengan coba menghantamkan satu: pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Pukulan diarahkan tepat ke arah tanduk hijau yang mencuat di atas kepala naga betina. Namun belum sempat dia menghantam ular naga tiba-tiba ulurkan lidahnya yang bercabang, langsung melibat tubuh si gadis. Dalam keadaan tak berdaya, sekali lidah menyentak maka tubuh Puti Andini pun lenyap ke dalam mulut binatang itu. Si gadis menjerit keras. Namun jeritannya tidak terdengar karena tubuhnya sudah berada dalam mulut ular naga. Dilanda rasa takut yang amat sangat gadis ini akhirnya pingsan. Tubuhnya melayang masuk ke dalam tenggorokan, terus amblas ke perut ular naga.
Puti Andini, cucu Sabai Nan Rancak dan Tua Gila ini tidak tahu berapa lama dia berada dalam keadaan pingsan. Ketika dia siuman pertama sekali yang didengarnya adalah suara hentakan keras duk… duk… duk… tak berkeputusan. Tubuhnya bergetar dan tersentak-sentak setiap suara itu terdengar. Lalu ada hawa sangat dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. Demikian dinginnya hingga dia merasa kulit dan daging tubuhnya seolah disayat-sayat. Dalam keadaan seperti itu dia merasa dadanya sesak dan jalan napasnya seperti tertutup.
Perlahan-lahan Puti Andini buka kedua matanya. Dia dapatkan dirinya terbaring di dalam satu lorong redup berlantai tertutup cairan sangat licin berwarna kemerahan. Ada bau tidak enak menyengat hidungnya. Gadis ini coba berdiri. Tapi untuk sesaat dia hanya mampu duduk. Saat itulah dia merasa ada cairan hangat di bawah hidungnya, sekitar pipi sementara sepasang matanya terpaksa setengah dipejamkan karena hawa dingin aneh serta bau menusuk di tempat itu membuat matanya menjadi perih. Dirabanya bagian bawah hidungnya. Jari-jari tangannya menyentuh cairan hangat. Ketika diperhatikannya ternyata darah.
“Ada darah keluar dari hidungku….”
Put! Andini mengusap pipinya kiri kanan. “Darah lagi…. Yang ini keluar dari dua liang telinga…. Aku…. Suara duk… duk… duk yang seperti hantaman palu itu….” Dia membutuhkan waktu beberapa saat sebelum menyadari bahwa saat itu dia berada dalam tubuh ular naga betina. Dihunjam oleh rasa takut gadis ini cepat tegak berdiri. Kakinya terpeleset oleh licinnya lantai yang dipijaknya yang bukan lain adalah perut besar ular naga betina! Dia mencoba bangkit lagi sambil tangannya menggapai sesuatu di atas kepalanya untuk tempat bergayut. Saat itu terdengar suara menggemuruh. Si gadis terpelanting dan terpekik ketika tiba-tiba lorong perut ujar di mana dia berada saat itu berputar kencang dan membantingkan tubuhnya hingga jungkir balik lalu meluncur sejauh beberapa tombak. Sesaat kemudian Puti Andini dapatkan dirinya berada dalam cairan busuk setinggi betis.
“Aku meluncur. Ke arah mana…? Mungkin ke bagian ekor atau ke arah kepala? Napasku sesak.,.. Mataku perih…. Kepalaku seperti mau pecah! Agak-nya aku akan menemui ajal dalam perut binatang ini! Aku tidak mau mati di sini. Aku harus melakukan sesuatu….”
Anehnya pada saat-saat seperti itu tiba-tiba muncul bayangan wajah seorang gagah yang telinga kanannya memakai anting-anting. “Panji…” desis Puti Andini. “Pemuda itu…. Di mana dia sekarang? Dia tak bisa menolongku. Tak satu orang pun bisa menolongku…. Kalau saja dulu aku tidak meninggalkannya mungkin tidak begini nasibku. Kakek Tua Gila! Ini semua gara-gara petunjuk gilamu! Panji…. Ah, mengapa di saat seperti ini aku ingin sekali melihat pemuda itu….”
Megap-megap Puti Andini bersandar ke dinding di belakangnya yang adalah bagian dari perut besar * ular naga. Dalam keadaan seperti itu dia melihat isi perut ular yang baginya tampak aneh dan sangat menyeramkan. Tiba-tiba untuk kedua kalinya muncul suara menggemuruh. Perut ular bergerak dan membanting tubuh si gadis. Cairan busuk mengguyur muka dan tubuhnya membuat gadis ini berteriak keras lalu semburkan muntah campur darah. Sadarlah Puti Andini kalau ada bagian tubuhnya di sebelah dalam yang telah terluka.
“Aku tidak mau mati! Aku harus melakukan sesuatu! Aku harus keluar dari tempat celaka ini!” Dia memandang berkeliling. ‘Aku harus merangkak ke arah mulut ular. Itu satusatunya tempat untuk lolos. Tapi yang mana bagian kepala, mana bagian ekor? Atau kuhantam saja isi perut binatang ini. Tubuhnya di sebelah dalam pasti tidak seatos sebelah luar! Makhluk aneh. Punya isi perut tapi tidak bertulang!”
Puti Andini seka darah yang terus mengucur dari hidungnya. Tangan kanannya diangkat. Tenaga dalam dialirkan penuh. Dia menghantam ke arah benda-benda aneh yang merupakan bagian dari isi perut ular naga.
“Wusss!”
Pukulan sakti si gadis menderu dan keluarkan suara menggema dahsyat. Bendabenda aneh di depan sana kelihatan hancur berantakan. Lalu ada cairan merah mengguyur laksana curahan hujan. Saat yang sama terdengar suara ringkikan dahsyat. Tubuh ular naga betina tersentak ke atas, lalu berputar bergulung-gulung. Puti Andini terpental kian kemari. Ketika dia jatuh ke bawah dia dapatkan dirinya terapung dalam cairan merah setinggi pinggang. Sementara itu suara duk… duk… duk menghantam telinga dan kepalanya semakin keras.
“Darah… di mana-mana darah….” Suara Puti Andini menggigil bukan saja karena hawa dingin yang mencucuk tapi juga oleh rasa takut amat sangat. Walau tenaganya seolah terkuras dia berusaha bergerak, merancah dalam cairan merah setinggi pinggang. Dia tidak tahu apakah saat itu dia bergerak ke arah kepala atau ke bagian ekor ular. Sementara dari bagian-bagian tubuh dalam ular naga yang hancur masih terus mengucur cairan darah yang makin lama membuat sekujur tubuh putih Andini basah kuyup. Sementara itu genangan darah di bagian bawah perut semakin tinggi. Di satu sudut Puti Andini tersandar benarbenar kehabisan tenaga.
“Tamat riwayatku sekarang…” pikir si gadis. Mulutnya terbuka megap-megap.
Dadanya tambah sesak. Dia mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tapi yang masuk ke rongga pernapasannya hanya bau busuk sedang dari lobang hidungnya tak terasa lagi ada hembusan napas. Mulutnya terbuka megap-megap. Lututnya lung la i goyah. Sesaat tubuhnya akan terperosok jatuh ke dalam genangan darah ular tiba-tiba jauh di sebelah kirinya dari balik tubuh ular yang melingkar tampak seberkas cahaya terang.
“Mulut ular…. Pasti itu mulut ular….” Didorong oleh harapan untuk menyelamatkan diri dan keluar hidup-hidup dari dalam perut ular itu Puti Andini . mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Perlahan-lahan dia bergerak menyusuri dinding perut ular ke arah berkas cahaya yang muncul di sebelah sana.
Hanya satu tombak lagi dia akan mencapai tikungan perut ular dari arah mana membersitnya cahaya terang tiba-tiba ular naga betina itu kembali memutar tubuh sambil meringkik keras. Untuk kesekian kalinya keadaan di dalam perut ular itu seperti kiamat bagi Puti Andini. Tubuhnya terpental kian kemari. Menghantam dinding perut dan terhempas ke dalam genangan darah. Untung baginya ketika dia mencoba merangkak, genangan darah di lekukan tubuh ular di mana dia berada hanya setinggi mata kaki. Dengan mata perih setengah terpejam gadis ini berpaling ke kanan; Dia hanya melihat kegelapan. Dia alihkan pandangan ke kiri. Harapan nya kembali muncul ketika dari arah sebelah sana kelihatan lagi berkas cahaya terang tadi.
Karena hanya mampu merangkak, itulah yang dilakukan Puti Andini. Dalam keadaan susah payah dan nyawa seolah sudah di depan mata akhirnya anak Andam Suri ini berhasil mencapai bagian perut ular yang terang. Terduduk di atas perut ular yang tergenang darah matanya terpacak ke depan. Dalam rongga besar perut ular itu dia melihat sebuah benda putih melayang-layang seolah tanpa bobot. Benda inilah yang mengeluarkan cahaya menerangi sebagian perut ular.
“Astaga, benda putih yang melayang itu…. Bukankah itu batu putih aneh yang aku temui di dasar telaga. Diperebutkan oleh dua ekor naga lalu akhirnya ditelan oleh naga betina?”
Puti Andini merangkak maju. mendekati batu putih yang melayang-layang. Ketika dirasakannya cukup dekat dengan sisa tenaga yang ada dia membuat lompatan. Coba menangkap batu itu. Tapi luput. Puti Andini tersungkur. Saat itu terdengar suara menggemuruh. Perut ular bergoncang keras. Puti Andini terbanting ke kiri, terhempas menghantam dinding perut ular. Megap-megap dia terkapar di atas genangan darah. Tapi sepasang matanya berusaha memperhatikan dan mengikuti gerakan batu putih yang melayang-layang. Dia beringsut berusaha mendekat kembali. Ternyata batu putih itu melayang ke jurusannya. Si gadis tak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk kedua kalinya dia melompat. Luput lagi! Padahal telapak tangan kirinya sempat bergeseran dengan batu itu.
Namun saat itu tiba-tiba si gadis merasakan satu keanehan terjadi dengan dirinya. Waktu tangan kirinya bergeseran dengan batu putih dia merasa ada satu hawa aneh yang membuat kekuatannya pulih sedikit. Walau dadanya masih terasa sesak dan darah masih meleleh dari telinga serta hidungnya namun jalan napasnya terasa lebih longgar. Dengan kekuatan yang ada kini gadis itu mampu berdiri. Pandangannya tak lepas dari batu putih yang masih melayang-layang dalam perut ular. Tiba-tiba dia melihat dua buah benda menempel di perut ular di hadapannya, di belakang batu putih. Pikiran si gadis jadi terbagi dua. Satu pada batu putih yang ingin ditangkapnya, kedua pada dua benda yang menempel di perut ular naga.
Benda pertama sebuah kitab dalam keadaan terkembang dan koyak.
“Aneh, perut ular ini dingin dan lembab. Semua tempat basah oleh darah. Tapi mengapa kitab itu tetap kering. Kitab apa gerangan adanya…?”
Puti Andini alihkan pandangannya pada benda kedua. Benda ini adalah sebuah batu empat persegi panjang seukuran genggaman manusia. Salah satu ujungnya berbentuk bulat dengan dua tonjolan di kiri kanan menyerupai kepala manusia lengkap dengan telinga tapi tanpa wajah.
Batu ini memiliki tujuh warna seperti tujuh warna pelangi yang mengingatkan Puti Andini pada payung tujuh warna nya serta gelar yang disandangnya yaitu Dewi Payung Tujuh. “Batu warna pelangi…” kata si gadis dalam hati. Seperti kitab di sebelahnya batu ini kelihatan kering, tidak basah atau pun terkena noda darah. “Dua benda aneh, bagaimana bisa berada dalam perut ular…? Jangan-jangan dalam perut binatang ini pula tersimpan Pedang Naga Suci 212….”
Walau besar keinginan si gadis hendak menyelidik kitab serta batu aneh itu namun dia memutuskan untuk mendapatkan batu putih lebih dulu. Maka kembali Puti Andini memusatkan perhatiannya pada batu putih yang melayang-layang dalam perut ular.
“Kalau binatang ini tidak bergerak dan aku tidak sampai terjungkir balik batu aneh itu pasti aku dapatkan!” Puti Andini maju selangkah demi selangkah. Batu putih melayang di atas kepalanya berputar-putar. Lalu perlahan-lahan turun ke bawah melewati pundak kirinya. Si gadis cepat bersurut sambil memutar diri lalu menyergap. Dua tangannya melesat ke atas.
“Dapat!” seru Puti Andini. “Plaaak!’ Tangan kiri dari tangan kanannya saling beradu. Dia hanya menangkap angin!
“Aneh…. Batu itu melayang perlahan. Dekat sekali di depan hidungku. Tapi mengapa aku tak mampu menangkapnya?” Puti Andini seka darah yang membasahi bagian atas bibirnya. Sementara itu hawa dingin terasa semakin mencucuk dan bau tidak enak semakin menusuk hidung.
Si gadis pandangi batu putih. “Aku harus dapatkan batu itu. Bagaimana caranya?”
Puti Andini memutar otak. Sesaat dia pandangi dirinya sendiri yang basah kuyup oleh darah serta cairan busuk dalam perut ikan. Selintas pikiran menyeruak di kepala si gadis. Dengan cepat dibukanya baju merahnya. “Tak ada siapa-siapa di dalam perut ikan ini. Tak ada yang akan melihat diriku setengah telanjang seperti ini!”
Puti Andini peras baju merahnya sekering yang bisa dilakukan. Lalu baju itu dikembangkan, dipegang dengan kedua tangan. Apa yang dilakukan Puti Andini memang masuk akal. Walau ruangan dalam perut naga itu cukup besar namun dengan mempergunakan bajunya sebagai jaring, peluangnya untuk dapat menangkap batu putih itu akan lebih besar. Maka dalam keadaan tanpa pakaian di sebelah atas dia melangkah mendekati batu putih. Ha nya dua langkah lagi dari hadapan batu putih, begitu Puti Andini siap untuk menangkap benda itu dengan baju merahnya tiba-tiba batu putih melesat ke atas. Gerakan yang hanya menangkap angin di atas pijakan yang licin membuat sang dara jatuh terbanting dalam keadaan tertelentang. Selagi dia mencoba berdiri tiba-tiba batu putih melesat ke bawah. Menyambar ke arah dadanya yang polos sebelah kiri. In! adalah satu serangan yang tidak terduga.
Puti Andini cepat gulingkan diri untuk mengelak. Namun batu datang lebih cepat.
“Mati aku!” keluh Puti Andini. Dia lalu menjerit keras.
Batu putih menghantam permukaan dada kirinya dengan telak. Hantaman batu putih yang hanya sebesar dua kepalan tangan itu membuat tubuhnya terhenyak laksana ditindih dua gunung puluhan kati. Matanya mendelik besar. Di balik cairan darah yang mengotori mukanya gadis itu sepucat kain kafan!

*
* *


TUJUH

Sudah matikah aku….” Puti Andini bertanya pada diri sendiri. “Duk… duk… duk.”
“Aku mendengar suara duk-duk-duk itu. Berarti aku belum mati. Tapi dadaku berat sekali. Seolah ditindih batu sebesar kerbau….” Dia mencoba bangkit tapi tak mampu. Memandang ke bawah gadis ini terkejut. Batu putih yang tadi menghantam tubuhnya ternyata menempel di dadanya yang putih, tepat di atas jantung. Dia kembali coba berdiri, berguling ke kiri lalu ke kanan. Tetap tak bisa. Tiba-tiba ada hawa aneh mengalir ke dalam tubuhnya. Hawa ini berasal dari batu putih yang menempel di dadanya yang telanjang.
Dadanya yang sesak perlahan-lahan menjadi lega. Rongga pernapasannya yang sebelumnya seperti tersekat kini menjadi lancar, Darah yang tadi masih mengucur dari telinga dan lobang hidungnya serta merta berhenti. Tubuhnya terasa seringan kapas. Ketika dicobanya bangkit sekali lagi, ternyata dia bukan saja mampu berdiri tapi juga melesat ke atas hampir menyundul tubuh atas ular naga. Waktu jatuh ke bawah dia merasa tubuhnya seperti melayang dan kakinya sama sekali tidak tergelincir menginjak perut licin ular naga yang digenangi darah!
“Ada keanehan terjadi dengan diriku!” ujar Puti Andini dalam hati.
Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba muncul suara menggemuruh. Ular naga betina keluarkan ringkikan dahsyat lalu membanting-banting diri di dalam telaga. Kalau tadi gerakan sedikit saja dari binatang itu membuat Puti Andini seolah merasa kiamat dalam perut ular, kini dengan tubuhnya yang begitu ringan dia sanggup bergerak cepat mengimbangi diri hingga tidak jungkir balik atau terhempas dan terbanting-banting.
Ketika dia tegak kembali Puti Andini terkejut. Batu putih itu ternyata masih menempel di atas dadanya yang kencang dan bergoyang-goyang mengikuti detak jantungnya yang keras. Dengan gemetar Puti Andini gerakkan tangan kanannya untuk memegang batu itu. Hanya seujung rambut saja jari-jari tangannya akan menyentuh batu putih, tibatiba satu tangan berkelebat seperti mengusap dadanya. Tahu-tahu batu putih itu tak ada lagi di atas dadanya. Disaat bersamaan muncul suara menggemuruh disertai suara ringkik panjang. Namun tidak terjadi apa-apa. Perut ular di mana Puti Andini berada tidak bergerak sedikit pun. Bahkan suara duk-duk-duk bunyi jantungnya tidak terdengar seolah ular raksasa ini telah berhenti bernapas. Ketika dia memandang ke depan tersurutlah gadis ini sampai punggungnya menyentuh perut naga.
Lima langkah di hadapannya tegak sosok tubuh seorang sangat tua berpakaian berupa selempang kain putih. Rambutnya yang panjang putih menjulai ke bawah. Walau hanya sebagian saja wajah orang ini yang kelihatan namun Puti Andini segera mengenali. Cepat Puti Andini tutupkan kedua tangannya di dadanya yang terbuka polos.
“Kiai Gede Tapa Pamungkas. Orang tua yang aku lihat di ruang batu pualam. Yang keluar dari makam putih…” desis Puti Andini dalam hati.
Si orang tua gerakkan kepalanya sendiri. Rambutnya yang menjulai menutupi wajahnya tersibak ke belakang. Kini kelihatan keseluruhan wajah orang tua ini, berkumis dan berjanggut putih panjang. Sepasang matanya memandang tajam ke arah Puti Andini, membuat si gadis merasa tidak enak.
“Apa lagi yang ada di benak orang tua ini. Sebelumnya dia menyuruh anak-kecil bernama Naga Kilning itu menjebloskan diriku ke dalam Liang Lahat. Kini tahu-tahu dia ada dalam perut ular naga. Apa memang dia tinggal di sini? Yang jelas dia mampu menerobos ruang dan waktu dan muncul secara tak terduga….”
“Suci kembali kepada suci. Hanya kesucian bisa menerima kesucian….” Tiba-tiba Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.
“Apa maksud ucapan orang tua ini….” kata Puti Andini dalam hati tak mengerti.
Tiba-tiba Kiai Gede Tapa Pamungkas ulurkan tangan kanannya yang memegang batu putih. Walau jarak mereka terpisah lima langkah namun luar biasanya seolah bisa memanjang tangan sang Kiai tahu-tahu sudah berada sejengkal di bawah dagu si gadis. Hawa dingin yang keluar dari batu putih menyambar menyapu wajah Puti Andini.
“Sesuatu yang suci yang bisa berada di tangan yang suci….” Kembali si orang tua berkata.
“Orang tua…. Apa maksudmu. Aku tidak mengerti,” ujar Puti Andini.
“Bukankah kau masuk ke dalam Telaga Gajahmungkur untuk mencari benda ini? Ambillah!” Kiai Gede Tapa Pamungkas gerakkan tangan kanannya yang memegang batu putih. Kembali ada hawa dingin menyapu wajah sang dara.
Puti Andini pandangi batu putih dalam genggaman si orang tua. Dalam hati dia berkata. “Yang kucari sebenarnya bukan batu putih itu….”
“Anak gadis mengapa kau mendadak menjadi ragu. Ambillah. Benda ini memang berjodoh denganmu. Tak ada satu kekuatan pun bisa menghalangi pemilikanmu atas benda ini.”
“Batu putih ini….”
“Dengar, aku tak mungkin berada lebih lama di tempat ini. Lekas ambil batu ini dan tinggalkan Telaga Gajahmungkur….”
“Tapi aku terperangkap dalam perut ular besar ini. Bagaimana mungkin….”
“Kau akan menyesal seumur hidup jika tidak segera mengambil batu putih ini!” memotong Kiai Gede Tapa Pamungkas.
Puti Andini ulurkan tangan kanannya. Pada waktu itulah tiba-tiba keadaan dalam perut ular menjadi sangat redup. Yang kelihatan hanya batu putih itu. Di kejauhan, entah darimana arahnya menggema suara suitan aneh disusul suara ringkikan panjang. Lalu ada suara menggelegar beberapa kali berturut-turut. Namun dalam perut ular tidak terjadi apaapa, tak ada goyangan bahkan getaran pun tidak terasa.
Kiai Gede Tapa Pamungkas lepaskan batu putih yang dipegangnya. Dalam gelap benda ini berkilauan jatuh ke bawah, cepat disambut oleh Puti Andini. Hawa dingin langsung menjalari tubuhnya.
“Anak gadis yang berjodoh, aku pergi sekarang. Selamat tinggal…. Kita tak akan bertemu lagi. Anggap juga kita tak pernah bertemu!”
Memandang ke depan Puti Andini hanya melihat sekilas bayangan putih berkelebat. Lalu dia tak melihat apa-apa lagi. Orang tua itu lenyap dari hadapannya. Bersamaan dengan itu perlahan-lahan keredupan di tempat itu berkurang.
“Dia muncul dan lenyap secara aneh. Kalau dia memang berniat baik mengapa dia tidak menyelamatkan diriku keluar dari perut naga ini? Lalu segala ucapannya tadi? Sesuatu yang suci hanya bisa berada di tangan yang suci. Apa maksudnya…?”
Selagi berpikir begitu tiba-tiba Puti Andini merasakan seperti ada cairan sangat dingin mengucuri tangan kanannya yang memegang batu putih. Ketika diperhatikan terkejutlah gadis ini. Batu putih yang ada di atas telapak tangannya dilihatnya meleleh cair seperti lapisan salju tersentuh hawa panas. Begitu batu putih berhenti meleleh kini di telapak tangannya si gadis melihat sebuah benda aneh, bergulung seperti sebuah ikat pinggang. Ujung benda ini berbentuk kepala seekor naga, terbuat dari bahan keras putih yang menurut dugaannya adalah sejenis tulang atau mungkin sekali gading. Bagian benda yang bergulung memancarkan cahaya putih menyilaukan serta menebar hanya sangat dingin.
Puti Andini mendadak merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Dadanya berdebar keras. Seumur hidup dia belum pernah melihat Pedang Naga Sues 212. Tua Gila walau menyuruh dia mencari senjata mustika itu namun tidak pernah mengatakan bagaimana bentuk atau warnanya.
“Jangan-jangan….” Puti Andini gerakkan tangan kanannya memegang bagian benda yang berbentuk kepala ular naga. Tiba-tiba!
“Sreeetttt!”
Laksana kilat benda yang bergulung bergerak membuka. Cahaya putih berkiblat. Puti Andini terpekik. Benda yang dipegangnya terlepas. Sesuatu yang tajam menggurat bahu di atas dada kirinya. Bersamaan dengan itu gadis ini terjajar dua langkah ke belakang. Lalu terdengar suara sesuatu robek besar.
“Craaaasss!”
Puti Andini kembali menjerit.
Perut naga di sebelah depannya robek besar dan panjang laksana ditoreh oleh sebuah benda yang sangat tajam. Bersamaan dengan itu ular naga meringkik keras dan membalikkan tubuhnya, menggelepar kian kemari. Puti Andini melihat air telaga masuk ke dalam perut ular. Namun dari dalam perut ular menghantam tekanan yang sangat dahsyat disertai semburan darah, mendorong ke luar. Benda putih yang tadi melukai dada kiri Puti Andini melesat ke luar dari perut ular. Samar-samar si gadis masih sempat melihat bentuk benda itu. Ternyata sebuah pedang sangat tipis, memancarkan cahaya putih dengan hulu berbentuk kepala naga.
“Pedang Naga Suci 212!” seru Puti Andini dalam, hati dengan mata terbelalak. Dia berusaha menyambar pedang itu dengan tangan kanan. Namun disaat yang sama tubuhnya terpental keluar perut ular yang robek besar. Tekanan yang dahsyat membuat pedang yang berusaha digapainya terdorong jauh hingga dia hanya menangkap air sedang dirinyasendiri terlempar jauh.
Bersamaan dengan itu dari dalam perut naga betina terlempar pula dua buah benda yaitu kitab putih yang koyak dan batu persegi panjang yang dibalut tujuh warna. Naga betina yang perutnya jebol sepanjang dua tombak dan mengeluarkan asap aneh membanting-banting diri kian kemari hingga air telaga laksana dibuncah gelombang. Tanah, pasir serta bebatuan dan semua benda yang ada di tempat itu termasuk sosok Puti Andini terpental-pental kian kemari. Keadaan gelap mengelam. Di kejauhan terdengar suara menggemuruh laksana gunung runtuh.
“Celaka! Kemana lenyapnya pedang tadi…” ujar Puti Andini. Dia menggapai-gapai kian kemari. Kaki dan tangannya digerak-gerakkan. Tiba-tiba dia merasa satu keanehan. Gerakan nya tadi membuat tubuhnya mampu bertahan dan tidak terpental lagi. Padahal air telaga masih terus membuncah.
“Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini!” pikir Puti Andini. Dia memandang berkeliling berusaha mencari dimana adanya pedang putih yang tadi terlepas dari tangannya. Sesaat ketika .keadaan mulai tenang dan terang kembali yang dilihatnya bukan pedang itu melainkan sosok-sosok jerangkong dan tulang belulang manusia serta beberapa mayat mengapung di sekitarnya.
Lalu telinganya menangkap riakan-riakan halus di sebelah atas. Ketika dia mendongak memperhatikan terkejutlah gadis ini. Di atas sana di antara mereka memegang sebuah benda panjang yang memancarkan cahaya putih.
“Pedang itu!” seru Puti Andini dalam hati. Segera saja gadis ini berenang ke atas. Lagi-lagi dia merasa aneh. Dia hanya menggerakkan tangan serta kaki biasa-biasa saja. Tapi tubuhnya melesat ke atas cepat sekali. Hingga dalam waktu singkat dia sudah berada di dekat kelompok orang-orang itu.

*
* *


DELAPAN

Di dalam telaga, beberapa saat sebelum perut ular naga dibusai robek oleh pedang putih. Dua orang yang barusan dilihat Sinto Gendeng di dalam Telaga Gajahmungkur itu bukan lain adalah Pendekar212dan Ratu Duyung. “Ratu keparat bermata biru itu! Pasti-dia yang punya gara-gara sampai si anak setan ikut masuk ke dalam telaga ini! Berani- beraninya gadis itu mencampuri urusanku!”
Untuk sesaat nenek sakti dari Gunung Gede ini lupakan kemarahannya terhadap Naga Kuning. Kini kejengkelannya ditumpahkan pada Ratu Duyung dan muridnya. Sinto Gendeng cepat berenang menyongsong Wiro dan Ratu Duyung. Panji serta Setan Ngompol berenang mengikuti di sebelah belakang. Begitu sampai di hadapan Ratu Duyung si nenek langsung mendamprat.
“Ratu Duyung! Gara-garamu muridku jadi celaka sengsara! Sekarang beraninya kau
mencampuri urusanku! Bertindak menjadi penghalang! Menolong bocah kurang ajar itu!
Apa maumu! Berada di pihak mana kau sebenarnya?!”
Dibentak oleh guru pemuda yang dicintainya seperti itu Ratu Duyung hanya bisa tundukkan kepala sambil pegang cermin bulat sakti yang tadi dipergunakannya menangkis serangan tusuk konde yang hendak menusuk mata kiri Naga Kuning. Di atas kaca itu kini tampak menempel dua buah tusuk konde yang tadi dipakai Sinto Gendeng untuk menyerang si bocah. Walau dia maklum mengapa si nenek sampai marah besar namun Ratu Duyung merasa sedih. Baginya apa perlunya si nenek mengungkit persoalan lama yang dianggapnya sudah selesai.
Melihat Ratu Duyung hanya diam sambil tundukkan kepala Sinto Gendeng berpaling pada muridnya.
“Anak setan! Bukankah kau aku perintahkan tetap di tepi telaga untuk berjaga-jaga?! Mengapa masuk ke sini bersama gadis bermata biru ini?! Kalian berdua dasar manusiamanusia gatal!”
“Eyang, kami datang ke sini bukan untuk mengacau. Ratu Duyung melihat sesuatu yang mungkin…”
“Bukan untuk mengacau katamu! Dia mencampuri urusanku! Dia menghalangiku membunuh anak itu!” bentak Sinto Gendeng hingga Setan Ngompol yang ada di sebelahnya tersentak kaget dan terkencing.
Wiro garuk-garuk kepala. “Eyang, apa perlunya membunuh Naga Kuning. Dia anak baik…. Dia pernah menolongku. Dia….”
“Kalau bicara soal tolong-menolong aku dua kali menyelamatkan dirinya! Berarti dua kali pula aku boleh membunuhnya!” jawab Sinto Gendeng hampir berteriak hingga gelembung-gelembung air melayang-layang di sekitar mulutnya.
Naga Kuning yang sejak tadi berdiam diri tibatiba berenang ke hadapan Sinto Gendeng lalu berkata. “Nek, betul sekali ucapanmu. Kau telah menyelamatkan diriku sampai dua kali! Jika kau memang merasa sebagai wakil Tuhan untuk mencabut nyawaku silahkan kau bunuh aku saat ini juga!”
Lalu, “Brettt!”
Naga Kuning robek baju hitamnya hingga dadanya terpentang telanjang. Di atas dada itu terpampang gambar ular naga berwarna kuning. Sepasang matanya berwarna merah. Di mata Sinto Gendeng gambar ini seolah hidup dan bergerak ke arahnya dengan kepala terpentang. Si nenek cepat berenang mundur dengan wajah berubah. Ketika dia memperhatikan wajah Naga Kuning, wajah itu dilihatnya bukan lagi wajah seorang bocah melainkan wajah seorang kakek-kakek.
Melihat gurunya terpojok, Wiro cepat ambil dua buah tusuk konde perak yang menempel di cermin bulat yang dipegang Ratu Duyung lalu diserahkannya pada Sinto Gendeng.
“Anak setan! Kau hanya bisa membuat aku malu setengah mati! Kapan kau bisa menyenangkan diriku si tua bangka ini! Jauh-jauh aku ke sini karena hendak menolongmu! Mencari Pedang Naga Suci 212 untuk mengobati dirimu! Malah kau berbuat kurang ajar terhadapku!” Dengan wajah cemberut Sinto Gendeng sambar dua buah tusuk konde perak yang diserahkan muridnya.
“Maafkan saya Nek,” kata Wiro. “Jika kau tidak suka melihat kami berada di sini, kami akan naik ke atas kembali….” Lalu Wiro memberi isyarat pada Ratu Duyung.
“Aku juga merasa tidak perlu berada lebih lama di tempat ini!” ucap Naga Kuning. Lalu dia berenang pula menuju permukaan telaga.
Pada waktu itulah tiba-tiba ada suara ringkikan keras disusul oleh menebarnya sesuatu seperti kabut di sebelah atas telaga. Lalu menyusul suara menggemuruh dan bersamaan dengan itu air telaga tampak berubah merah oleh darah lalu bergulung-gulung hingga semua orang yang ada di tempat itu berpelantingan kian kemari!
Dalam keadaan yang tiba-tiba menjadi kelam di atas sana ada seberkas cahaya putih berkiblat. Setan Ngompol pegangi perutnya yang bocor berat terkencing-kencing. Sinto Gendeng letakkan dua. tangan di atas mata. Hatinya berdebar melihat kilauan cahaya putih itu. Dia berteriak pada Setan Ngompol. “Ikuti aku cepat!”
Sepasang kakek nenek itu segera berenang ke arah kilatan cahaya putih. Panji mengikuti. Wiro dan Ratu Duyung sesaat saling-pandang dalam kebimbangan. Akhirnya keduanya berenang menyusul orang-orang tadi.
Di sebelah depan Sinto Gendeng dan Setan Ngompol berhenti berenang ketika mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka bergerak mendekati sosok besar ular naga betina yang perutnya kelihatan robek besar. Lalu dari perut itu melesat keluar sebuah benda yang memancarkan cahaya putih berkilauan. Disusul oleh sosok seorang gadis tanpa baju. Lalu menyusul pula dua buah benda berupa kitab dan sebuah batu berwarna. Si nenek tidak perdulikan gadis setengah telanjang atau pun kitab dan batu berwarna. Yang diperhatikannya adalah benda panjang yang memancarkan cahaya putih dan melesat paling depan.
“Pedang Naga Suci 212!” seru si nenek. Dia segera melesat ke atas untuk menyambar senjata sakti mandraguna itu. Hanya sedikit lagi jari-jari tangannya akan menyentuh gagang pedang berbentuk kepala naga putih itu, tiba-tiba dari samping melesat sesosok tubuh dan tahu-tahu pedang yang hendak diambil Sinto Gendeng telah berada dalam genggaman orang lain.
“Jahanam!” maki Sinto Gendeng. “Siapa kau! Serahkan pedang itu padaku!” Di hadapannya, di dalam air, Sinto Gendeng melihat seorang nenek berjubah hitam berambut putih mengambang-ngambang kian kemari. Jari-jari tangannya yang memegang pedang selain sangat panjang juga berwarna merah.
Wiro dan Ratu Duyung, Naga Kuning serta Panji segera mengenali nenek berjubah hitam yang memegang pedang putih itu adalah Sika Sure Jelantik.
Seperti diketahui Sika Sure Jelantik memang memiliki ilmu kepandaian berada lama di dalam air. Namun tidak seperti ilmu yang dimiliki Ratu Duyung (yang oleh Ratu Duyung seperti diceritakan sebelumnya diberikan pada Sinto Gendeng, Setan Ngompol, Panji dan Wiro) atau Naga Kuning. Dia tidak mampu bicara dalam air. Sewaktu dimaki oleh Sinto Gendeng dia hanya menggoyang-goyangkan tangan lalu melesat ke permukaan telaga. Melihat orang hendak melarikan diri Sinto Gendeng segera mengejar.
Sementara itu Setan Ngompol dan Ratu Duyung terbagi perhatiannya pada dua benda lain yang terlempar keluar dari perut robek ular naga betina. Karena batu berwarna kebetulan melesat tak jauh dari tempatnya berada maka Setan Ngompol segera berenang mengejar dan berhasil menangkap benda itu. Untuk sesaat dia memperhatikan terheranheran.
“Sialan! Cuma sebuah batu! Kukira apa! Tapi bentuknya mengapa aneh begini. Ujung satunya seperti muka manusia tanpa wajah. Ada kuping. Lalu warnanya tujuh macam. Lalu eh…. Batu ini dingin sekali! Ah….” Si kakek kembali terkencing. Semula batu itu hendak dibuangnya begitu saja. “Kalau batu ini keluar dari perut naga berarti batu ini bukan benda sembarangan. Buktinya begitu kupegang aku terus-terusan kencing!” Akhirnya Setan Ngompol sembunyikan batu itu di kantong celananya yang gombrong.
Di bagian lain telaga, Ratu Duyung telah berhasil pula menangkap benda yang melayang di air. Ketika diperhatikannya ternyata benda itu adalah sebuah kitab yang telah koyak.
“Aneh, ada kitab keluar dari perut naga besar, terbuat dari daun lontar putih yang langka. Agaknya sudah puluhan tahun mendekam dalam perut naga itu. Tapi tidak berubah warna, dan tidak basah,… Hanya ada bagian kitab yang koyak. Kitab apa ini adanya?”
Sang Ratu tutupkan kitab yang terkembang itu. Pada saat itulah dia membaca tulisan besar yang berada di sampul kitab. Bibirnya bergetar ketika melafalkan apa yang tertulis di situ. “Wasiat Malaikat”.
Entah mengapa Ratu Duyung mendadak merasakan tengkuknya menjadi dingin dan sekujur tubuhnya seperti digeletari satu kekuatan aneh.
“Kitab Wasiat Malaikat. Aku memang pernah mendengar. Rimba persilatan memang mempergunjingkannya sejak puluhan tahun lalu. Para tokoh berusaha menyirap kabar, mencarinya sampai kemana-mana. Datuk Lembah Akhirat mengaku memiliki dan menyimpan kitab ini. Ternyata…. Mungkin kitab ini bukan kitab yang asli. Atau mungkin Datuk Lembah Akhirat menebar cerita bohong untuk maksud tertentu….” Sebelum ada orang yang tahu Ratu Duyung segera sembunyikan kitab daun lontar itu di balik baju hitamnya.
Kembali kepada Sika Sure jelantik.
Begitu gagang Pedang Naga Suci 212 tergenggam di tangannya, Sika Sure Jelantik merasa ada hawa panas menyengat telapak dan jari-jari tangannya. Hawa panas ini terus menjalar sepanjang lengan dan masuk ke tubuhnya. Walau dia berada dalam air namun sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat. Si nenek segera kerahkan tenaga dalam hingga hawa hangat itu berkurang sedikit, ini memang satu keanehan yang tidak diketahui oleh Sika Sure Jelantik. Sesuai dengan keterangan yang pernah diberikan oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas dan hanya diketahui oleh Sinto Gendeng serta Tua Gila maka pedang mustika sakti itu hanya berjodoh dan hanya bisa disentuh serta dimiliki oleh seorang perempuan suci. Jika pedang dipegang oleh perempuan suci maka senjata ini akan mengeluarkan hawa sejuk dingin. Sebaliknya jika disentuh oleh perempuan yang dalam hidupnya tidak lagi memiliki kesucian maka senjata itu akan mengeluarkan hawa panas yang kalau tidak dilepaskan lama-kelamaan akan membuat tangannya melepuh bahkan keracunan sekujur tubuhnya. Seperti diketahui Sika Sure Jelantik pernah menjalani hidup yang tidak suci selama berhubungan dengan Tua Gila di masa mudanya. Demikian pula dengan Sinto Gendeng. Hingga Pedang Naga Suci tak akan mungkin dapat mereka kuasai. Kalau dipaksakan malah bisa membahayakan diri mereka sendiri.
Melihat Sika Sure Jelantik tidak perdulikan bentakannya malah seperti berusaha hendak berenang menuju permukaan telaga, Sinto Gendeng menjadi tambah marah. “Tua bangka itu kelihatannya memang bukan perempuan baik-baik! Biar aku beri hadiah untuk ketololannya!” Habis berkata begitu Sinto Gendeng melesat mengejar sambil lepaskan satu pukulan sakti. Melihat gerak tangan si nenek Wiro tahu pukulan apa yang dilepaskan sang guru. Yakni pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Di atas sana Sika Sure Jelantik tersentak kaget ketika satu gelombang angin yang dahsyat membuat air telaga bersibak membentuk jalur ganas seperti terowongan besar. Ada suara menggemuruh di bawah kakinya. Sadar kalau dirinya diserang Sika Sure Jelantik cepat menyingkir sambil gerakkan tangan kirinya untuk menangkis dengan pukulan sakti. Namun sadar kalau saat itu dia tengah memegang sebuah senjata sakti maka tidak menunggu lebih lama serta merta si nenek babatkan Pedang Naga Suci 212 ke bawah.

*
* *


SEMBILAN

Cahaya putih menyilaukan mata bertebar dalam air. Telaga Gajahmungkur laksana disergap puluhan kilat. Hawa aneh dingin menebar seolah air telaga berubah menjadi es. Semua orang yang ada di dalam telaga menggeletar kedinginan. Setan Ngompol rapatkan dua kakinya lalu melipat lutut sampai ke dada. Seperti biasa dia tak dapat menahan kencing.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba dari sebelah atas menggemuruh gelombang air. Karena paling dekat dengan sumber cahaya dan hantaman gelombang Sinto Gendeng yang pertama sekali terpental. Nenek sakti ini memaki panjang pendek sementara tubuhnya terpental jungkir balik. Menyusul Setan Ngompol dan Panji. Wiro dan Ratu Duyung yang berada di sebelah belakang, walau jauh tetap saja ikut kena sambaran gelombang air dan mencelat beberapa tombak.
Sementara itu Naga Kuning satu-satunya orang yang agaknya tahu apa yang bakal terjadi. Begitu melihat kiblatan cahaya putih disusul oleh suara gemuruh air, cepat-cepat anak ini berenang ke dasar telaga lalu berlindung di balik dinding tinggi Liang Lahat. Namun tak urung Naga Kuning masih juga terpental dan dinding di balik mana dia bersembunyi mengeluarkan suara berderak. Lalu ujung dinding sebelah atas kelihatan patah, melayang jatuh dengan dahsyat, menambah hebatnya gelombang air telaga. Naga Kuning memandang ke atas. Penglihatannya tertutup oleh keruhnya air telaga. Apa lagi saat itu air telaga telah bercampur baur pula dengan darah naga serta kencing Setan Ngompol dan Sinto Gendeng.
“Aku tak dapat melihat jelas. Pandanganku tidak tembus. Tapi aku yakin seseorang telah menemukan Pedang Naga Suci 212. Lalu mempergunakan senjata sakti itu untuk menangkis serangan Sinto Gendeng. Siapa yang kini menguasai pedang itu. Aku melihat nenek berambut putih di atas sana. Tadi juga aku sempat melihat ada sosok tubuh setengah telanjang. Jelas tubuh seorang gadis karena dadanya kulihat montok, kencang dan putih bagus! Hik… hik..! Atau jangan-jangan….” Si bocah tertawa sendirian.
Saat itu Puti Andini baru saja berhasil hentikan tubuhnya yang terlontar setelah terjungkir balik dalam air beberapa kali. Dia mengingat-ingat apa yang barusan terjadi sambil usap-usap bahu kirinya yang tergurat. “Aku melihat cahaya putih berkiblat. Lalu ada rasa perih akibat goresan luka di bahuku. Tubuhku kemudian terlempar dari perut ular yang jebol….” Di bawah sana si gadis tiba-tiba mendengar suara orang membentak. Berarti dia tidak sendirian di dalam telaga itu.
“Jahanam! Apa yang terjadi!” Yang berteriak adalah Sinto Gendeng. Dadanya mendenyut sakit seolah ditindih oleh, batu besar sementara sekujur tubuhnya menggeletar kedinginan. Cepat nenek ini dorongkan kedua tangannya ke atas. Melepas pukulan sakti Benteng Topan Melanda Samudera.
“Byuuuurrrr! Byuuuurrr!”
Air telaga laksana menggelegak lalu mendobrak ke atas di dua tempat. Telaga Gajahmungkur kembali bergoncang keras. Sinto Gendeng tertawa, mengikik lalu berteriak.
“Mampus kau!” Yang dimakinya adalah perempuan tua berjubah hitam di atas sana. Tapi nenek sakti ini mendadak keluarkan seruan tegang ketika dari atas kembali menyambar sinar putih. Kali ini sinar itu tidak menebar melainkan berbentuk panjang. Laksana tombak raksasa melesat ke arahnya. Sekali lagi si nenek berteriak keras lalu menyingkir. Ujung sinar putih menyambar lebih cepat. Agaknya kali ini Sinto Gendeng tak mungkin selamatkan diri.
“Eyang!” seru Pendekar 212 Wiro Sableng. Di luar sadar tanpa-ingat keadaan dirinya dia segera berenang untuk menolong gurunya.
“Pendekar 212! Jangan mencari mati!” Naga Kuning yang menyaksikan kejadian itu berseru keras. “Celaka! Guru dan murid pasti akan menemui ajal! Apa yang harus aku lakukan!” Bocah ini tekuk jari-jari tangannya dalam gerakan seperti hendak mencakar. Lalu dua tangannya dihantamkan ke arah datangnya sinar putih. Dua larik cahaya biru pekat menerpa ke atas, membabat cahaya putih yang menghunjam ke arah sosok Sinto Gendeng, Beg itu dua larik cahaya biru menyentuh sinar putih dua tangan Naga Kuning bergetar keras lalu tubuhnya terpental sampai dua tombak. Si bocah terperangah menyaksikan bagaimana serangannya amblas sementara itu sinar putih terus menderu ke arah Sinto Gendeng. ketika dia meraba mulutnya terasa ada cairan hangat. “Aku terluka.,..” Membatin Naga Kuning. Air muka bocah ini tampak berubah.
Sesaat lagi sinar putih itu akan menghantam tubuh Sinto Gendeng tiba-tiba dari samping kiri melesat satu cahaya putih yang tak kalah hebat kilauannya dari sinar putih yang menyerang si nenek.
Dua sinar saling beradu mengeluarkan letupan keras. Air telaga mencuat ke berbagai penjuru. Sinto Gendeng selamat walau tubuhnya terpental dan untuk sesaat lamanya melayang-layang dalam air yang keruh. Nenek ini bergidik ketika di dasar telaga samarsamar dilihatnya satu lobang besar dan dalam akibat hantaman’-sinar putih tadi.
“Siapa yang barusan menolongku?!” ujar Sinto Gendeng dalam hati. Dia memandang berkeliling. Di sebelah sana dilihatnya Setan Ngompol mengambang dalam air. Cairan kuning yang keluar dari bawah perutnya bersatu dengan air telaga yang berwarna merah ternoda darah ular naga betina. Jauh di samping kiri Sinto Gendeng melihat Naga Kuning bersandar di dinding Liang Lahat. Anak ini berdiri pejamkan mata sambil rangkapkan sepasang tangan di depan dada. Dari sela bibirnya tampak keluar cairan merah. “Bocah itu tadi berusaha menolongku. Tapi aku tahu ada seorang iain yang barusan menyelamatkan jiwaku!”
Sinto Gendeng putar kepalanya ke jurusan lain. Pandangannya membentur sosok Ratu Duyung yang saat itu berada di dasar telaga, tegak sambil pegangi cermin bulatnya. Wajahnya pucat. Matanya yang biru membelalak sedang bibirnya bergetar. Tapi itu hanya sebentar. Sesaat kemudian gadis ini kelihatan mampu menguasai dirinya kembali.
“Gadis itu…” desis si nenek. “Dia yang menyelamatkan diriku. Tapi agaknya bukan hanya dengan mengandalkan kesaktian cerminnya. Ada satu kekuatan lain menyertai kilatan yang keluar dari cerminnya itu. Aku dapat merasakan…. aku melihat ada pancaran cahaya putih aneh di sekitar tubuhnya! Mulai dari kepala sampai ke kaki. Astaga! Itu adalah pancaran cahaya batin yang jarang dimiliki manusia! Dan tidak sembarang orang bisa melihatnya seperti yang aku saksikan saat ini….” Sinto Gendeng berenang mendekati Setan Ngompol lalu berkata, “Coba kau perhatikan gadis berpakaian hitam yang memegang cermin bulat itu….”
“Aku sudah melihatnya dari tadi. Wajahnya cantik. Sepasang matanya bagus sekali. Tak pernah aku melihat mata luar biasa mempesona seperti itu. Apa maksudmu Sinto. Apa kau hendak menjodohkan diriku dengan si jelita itu?”
“Tua bangka bangkotan tak tahu diri!” maki Sinto Gendeng.
Setan Ngompol tertawa bergelak hingga air kencingnya kembali terpancar.
“Aku mau tanya! Apa kau melihat ada cahaya aneh seolah membungkus sekujur tubuhnya?”
Setan Ngompol tekap mulutnya dengan tangan kiri sedang tangan kanan nenekap bagian bawah perutnya. Orang tua bermata jereng berkuping lebar ini goleng-golengkan kepala. “Aku tidak melihat segala macam cahaya aneh yang kau katakan itu Sinto.”
“Benar dugaanku,” kata si nenek sakti dalam hati. “Tidak semua orang bisa melihat cahaya yang membungkus tubuh gadis itu…. Bagaimana dia tahu-tahu bisa berada dalam keadaan seperti itu…. Coba aku tanyakan pada anak setan itu.” Sinto Gendeng hendak berenang mendekati Pendekar 212. Namun di dasar telaga Wiro telah lebih dulu bergerak berenang mendekati Ratu Duyung.
Sesaat setelah berada dekat sang Ratu, murid Sinto Gendeng jadi tertegun. Dua matanya memperhatikan gadis jelita itu lekat-lekat.
“Ada kelainan pada gadis ini. Wajahnya lebih berseri. Parasnya tambah cantik. Tubuhnya seolah memancarkan daya pesona luar biasa. Sepasang matanya juga tampak lebih biru, lebih bercahaya. Aku juga melihat satu keanehan. Ketika tadi dia melancarkan serangan dengan cermin sakti, ada seberkas cahaya memancar di balik pakaian hitamnya….“
Merasa dirinya diperhatikan Ratu Duyung palingkan kepala pada Wiro lalu bertanya.
“Caramu memandangku aneh sekali Wiro. Ada apa? Apa yang ada dalam pikiranmu?”
“Kau telah menyelamatkan guruku. Aku sangat berterima kasih,” jawab Wiro.
Ratu Duyung pandangi cermin saktinya.
“Aku, melihat ada sinar aneh di balik pakaianmu ketika kau mengerahkan tenaga dalam dan melancarkan serangan dengan cermin….”
“Sinar aneh apa…?”
“Aku tidak tahu. Kau sendiri apa tidak sadar…?”
Ratu Duyung terdiam sesaat baru menjawab. “Memang ada satu keanehan kurasakan dalam tubuhku. Aku mempergunakan cermin sakti untuk menangkis sinar putih yang datang dari atas telaga. Gurumu memang selamat. Tapi aku merasa bahwa bukan cuma kekuatan cermin sakti ini yang telah menolong nenek itu. Seolah ada satu kekuatan lain dalam tubuhku. Kekuatan itu datangnya dari sini….” Ratu Duyung usapkan tangan kirinya ke bagian perut di atas pusar di mana dia menyembunyikan kitab kuno terbuat dari daun lontar yang telah koyak itu. “Kitab Wasiat Malaikat…. Kitab ini yang jadi sumber kekuatan dahsyat dan aneh itu…” ujar Ratu Duyung dalam hati dengan dada berdebar.
“Ada apa Ratu…?” tanya Pendekar 212.
“Apakah akan kuceritakan saja padanya…?” pikir Ratu Duyung. Hatinya bimbang. Lalu didengarnya Wiro berkata.
“Tadi aku memperhatikan. Ada beberapa benda keluar dari perut ular naga yang robek. Satu dari benda-benda itu berhasil kau tangkap. Benda apakah…?”
“Ah, dia melihat aku menyambar kitab itu.;… Bagaimana ini? Apa harus kukatakan terus terang….” Ratu Duyung memandang ke atas. Saat itu dilihatnya Sinto Gendeng dan Setan Ngompol saling bicara sambil memandang ke arahnya.
“Wiro, lekas ikuti aku. Kita harus segera keluar dari telaga ini.”
“Sekali ini kita tak satu pendapat Ratu. Aku melihat kilatan cahaya putih aneh mengeluarkan hawa dingin sekali. Aku melihat sebuah benda melayang di atas sana. Aku mendengar guruku berteriak menyebut Pedang Naga Suci 212. Kau tahu keadaan diriku.
Saat pulihnya kekuatanku mungkin hanya tinggal satu atau dua hari. Kau tahu dalam waktu satu dua hari itu sesuatu bisa terjadi dengan diriku. Konon pedang sakti itu sanggup menyembuhkan diriku dengan seketika. Aku harus mendapatkan pedang itu Ratu. Paling tidak harus membantu guruku untuk mendapatkannya!”
“Kalau begitu….” Ratu Duyung tak dapat meneruskan ucapannya. Karena di atas sana tiba-tiba dia melihat terjadi sesuatu.
Sika Sure jelantik yang saat itu masih memegang Pedang Naga Suci 212 merasakan tangannya semakin panas. Ketika diperhatikannya ternyata tangan kanannya sudah melepuh dan mengepulkan asap. Dia cepat kerahkan tenaga dalam sementara di bawahnya dilihatnya ada beberapa orang berenang mendekat.
“Pedang sakti luar biasa! Tapi mengapa hendak mencelakai diriku? Gila! Gagang pedang ini semakin panas seolah berubah menjadi bara. Semakin aku kerahkan tenaga dalam untuk melawan hawa panas, semakin parah sakit di tanganku! Aku tak bisa bertahan. Tapi kalau senjata ini aku lepaskan, si nenek keparat Sinto Gendeng itu pasti akan merampasnya. Aku juga melihat beberapa orang lain berenang menuju ke sini. Janganjangan mereka semua masuk ke dalam telaga ini memang untuk mencari pedang ini. Apa yang harus aku lakukan?”
Sika Sure Jelantik memandang berkeliling lalu ke bagian bawah telaga. “Gadis itu….Bukankah dia yang dulu aku berikan ilmu menyelam seratus hari? Hemmm…. Mungkin dia bisa membantuku keluar dari kesulitan menghadapi pedang sakti ini….”
Dari bawah sementara itu Panji berenang dengan cepat menuju bagian atas telaga. Dadanya berdebar keras. Semula dia merasa ragu akan apa yang dilihatnya. Karena itu dia berenang lebih cepat. “Mungkin memang gadis itu. Bukankah dia pernah mengatakan ingin menyelidik ke dasar telaga untuk mencari sebuah benda? Tapi mengapa kini keadaannya seperti itu? Bercelana tapi tidak mengenakan baju!”
Hanya tinggal beberapa tombak barulah Panji yakin dia tidak salah menduga. “Puti Andini!” teriak Panji.
Mendengar ada orang yang menyebut namanya dalam air, Puti Andini. memandang berkeliling. Dia melihat seorang berpakaian hijau.
“Pemuda itu….” kata si gadis dalam hati. Saking girangnya dia membuka mulut untuk berteriak balas memanggil. Tapi dia lupa bahwa ilmu yang diberikan Sika Sure jelantik hanya untuk bertahan lama dalam air, tidak berkemampuan baginya untuk bicara. Be-gitu mulutnya terbuka air telaga langsung masuk ke mulutnya terus ke dalam tenggorokan. Gad is itu megap-megap menggapai kian kemari. Panji cepat memegang salah satu lengan gadis itu.
“Puti, apa yang terjadi. Mengapa kau berada dalam keadaan seperti ini. Tanpa baju. Ada luka di bahu kirimu!”
Puti Andini berpaling. Kedua matanya membesar. Jika dia tidak malu ingin sekali gadis ini memeluk pemuda yang entah mengapa sejak beberapa lama ini sangat dirindukannya. Namun begitu sadar keadaan dirinya yang tanpa pakaian cepat-cepat dia berenang menjauh sambil menutupi dadanya.
Melihat hal itu Panji segera buka baju hijaunya lalu berenang mengejar Puti Andini dan serahkan pakaian itu pada si gadis. Sambil membelakangi si pemuda Puti Andini kenakan pakaian hijau yang diberikan Panji. Namun belum sempat dia mengancingkan pakaian itu tiba-tiba di depannya meluncur sebuah benda yang memancarkan cahaya putih disertai tebaran hawa dingin. Menyusul munculnya satu sosok berpakaian hitam berambut putih yang mengambang kian kemari dalam air.
“Nenek Sika Sure Jelantik…” kata Puti And ini dalam hati begitu mengenali siapa adanya orang yang berenang di atasnya sementara sepasang matanya terpentang lebar memandang pada benda yang ada dalam genggaman tangan kanan si nenek. Sika Sure Jelantik acung-acungkan pedangnya ke atas sedang tangan kiri dilambaikan berulang kali memberi isyarat.
“Nenek itu memberi .tanda agar kita mengikutinya…” kata Panji. “Setahuku dia bukan orang baik-baik. Apa kau mengenalnya?”
Puti Andini menjawab dengan anggukan kepala. Di atas sana kembali si nenek memberi isyarat agar Puti Andini cepat-cepat mengikutinya. Si gadis memandang sesaat pada Panji lalu menoleh pada Sika Sure Jelantik. Melihat si gadis masih ragu, Panji akhirnya menarik tangan Puti Andini dan membawanya berenang menuju permukaan telaga. Di bawah sana Sinto Gendeng tidak tinggal diam. Nenek ini segera berenang ke atas. Setan Ngompol mengikuti sementara di bagian lain Wiro dan Ratu Duyung juga telah meluncur menuju permukaan telaga.

*
* *


SEPULUH

Sosok Sika Sure jelantik adalah yang pertama sekali melesat keluar dari permukaan air pada tepian Telaga Gajahmungkur sebelah barat. Nenek ini berjungkir balik dua kali di udara lalu melayang turun dan tegak di pinggiran telaga pada bagian yang penuh ditebari batu-batu besar berwarna hitam. Saat itu dia masih coba bertahan memegang Pedang Naga Suci 212 walau kulit tangannya yang merah aneh telah melepuh dan mengepulkan asap. Daging tangannya laksana dipanggang bahkan tulang-tulang telapak tangan dan jarinya ada yang sampai terkuak putih menyembul! Seperti diketahui nenek satu ini telah terperangkap oleh fitnah dan hasutan orang-orang Lembah Akhirat hingga kini tangan kanannya berwarna merah pertanda dia telah menguasai salah satu ilmu dahsyat andalan orang-orang Lembah Akhirat yang disebut ilmu Mencabut Jiwa Memusnah Raga atau yang juga dikenal dengan Ilmu Penghancur Mayat.
Puti Andini dan Panji menyusul muncul di permukaan telaga. Karena muncul agak ke tengah maka keduanya terpaksa berenang dulu untuk mencapai tepian berbatu-batu di mana Sika Sure Jelantik berada.
Di tepi telaga Sika Sure Jelantik menunggu sampai Puti Andini dan Panji naik ke daratan lalu megap-megap melangkah ke atas batu dalam keadaan basah kuyup.
“Bajumu belum kau kancingkan. Lekas kau rapikan….”
Puti Andini terkejut mendengar bisikan Panji. Begitu sadar dia cepat-cepat mengancingkan baju hijau milik si pemuda yang dipakainya.
“Anak gadis!” Tiba-tiba nenek berambut putih basah riap-riapan di atas batu membuka mulut. “Bukankah kau orangnya yang tempo hari pernah kuberikan ilmu menyelam seratus hari?!”
“Benar Nek. Aku tidak melupakan budi baikmu itu dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Mohon maafmu kalau sampai saat ini belum dapat membalas budi baikmu itu…” jawab Puti Andini sambil melirik bergidik pada tangan kanan si nenek yang berwarna merah dan berada dalam keadaan mengelupas dan mengepulkan asap panas. “Pedang Naga Suci 212,” kata Puti Andini. “Senjata ini sebelumnya dalam keadaan tergulung. Pedang ini yang melukai bahuku dan merobek jebol perut ular naga betina….” Si nenek menyeringai.
“Ini bukan saatnya bicara segala macam budi! Lihat tanganku yang memegang pedang!”
Puti Andini tercekat ngeri. Sedang Panji tak bisa lagi menahan diri langsung berteriak.
“Nek, tanganmu terluka parah! Mengapa kau masih memegangi senjata itu?!”
“Eh, anak muda banci beranting emas. Kita belum lama bertemu di tepi telaga. Aku masih ingat namamu. Panji! Apa hubunganmu dengan gadis ini?!” “Dia… dia….” Panji tak bisa menjawab. Si nenek tertawa cekikikan. “Waktu aku bertemu kau, katamu kau habis berenang dan menyelam di telaga hanya untuk senang-senang menyegarkan diri. Kini aku tahu, kau tengah mencari gadis ini! Hik… hik… hik! Berarti kau punya rasa suka padanya! Hik… hik… hik!”
Baik Panji maupun Puti Andini jadi sama-sama bersemu merah wajah masingmasing. Si nenek berpaling pada Puti Andini. Wajahnya yang keriputan tampak mengerenyit menahan sakit yang amat sangat.
“Anak gadis! Waktu pertama bertemu denganku kau bilang kau akan mencari sebuah batu hitam di dasar Telaga Gajahmungkur. Katamu batu itu punya khasiat untuk menyembuhkan ibumu yang sakit gara-gara ditinggal kabur oleh bapakmu yang tergila-gila dengan seorang perempuan penghibur! Apa kau sudah menemukan batu hitam itu?!”
Puti Andini jadi tergagau dan tak bisa menjawab karena dia memang telah berdusta. (Baca Episode ke-3 Lembah Akhirat)
“Parasmu berubah! Kau tak bisa menjawab. Berarti kau telah mendustai diriku!”
“Harap maafkan diriku Nek. Perlu waktu banyak untuk menerangkan….”
“Persetan dengan segala keterangan! Aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi orang-orang di dalam telaga itu akan segera muncul. Aku….”
Sika Sure jelantik kembali mengerenyit. Kali ini sambil terbungkuk-bungkuk. Tangan kanannya tampak bergetar keras dan menebar bau daging terpanggang.
“Pedang celaka…” rutuk si nenek. Dia maju ke hadapan Puti Andini. “Tolong kau pegangkan dulu pedang ini. Lalu kau dan kekasihmu si pemuda banci pakai anting itu lekas ikut bersamaku!”
Habis berkata begitu Sika Sure Jelantik lalu angsurkan pedang yang dipegangnya pada Puti Andini. Tanpa ragu-ragu Puti Andini cepat ulurkan tangan untuk menerima senjata itu. Tapi tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat antara Sika Sure jelantik dan si gadis. Pedang Naga Suci 212 terbetot lepas dari tangan si nenek. Bersamaan dengan itu terdengar suara orang terpekik kesakitan! Lalu menyusul suara benda berdesing dan berkiblatnya cahaya putih disertai suara menderu-deru ditambah dengan tebaran angin dingin luar biasa;
Baik Sika Sure Jelantik maupun Puti Andini sama-sama tersurut kaget dan memandang terbelalak ke depan.
“Kau!” teriakan keras keluar dari mulut Sika Sure Jelantik seraya menunjuk luruslurus ke depan di mana di atas sebuah batu besar tegak berdiri seorang nenek berjubah hitam. Di kepalanya bertengger sebuah topi berbentuk tanduk kerbau. Saat itu dia tegak berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang kulitnya kelihatan merah terkelupas seolah melepuh! Nenek satu ini adalah Sabai Nan Rancak yang dikenal sebagai nenek Puti Andini.
Sementara itu Pedang Naga Suci 212 yang tadi berada di tangan Sika Sure Jelantik kini tampak menancap di atas sebuah batu sampai sedalam sepertiganya, Bagian atasnya bergoyang-goyang pulang-balik memancarkan kilauan cahaya putih dan deru angin serta hawa dingin.
Apa yang barusan telah terjadi?
Ketika Sika Sure Jelantik hendak menyerahkan Pedang Naga Suci 212 pada Puti Andini, belum sempat gadis ini menyentuh senjata sakti mandraguna itu tiba-tiba muncullah Sabai Nak Rancak. Dengan satu kelebatan cepat dan gerakan kilat dia berhasil merampas pedang dari tangan Sika Sure Jelantik. Namun begitu jari-jari tangannya memegang gagang pedang langsung dia terpekik karena ternyata gagang senjata itu panas sekali seolah dia memegang bara api. Sabai Nan Rancak kibas-kibaskan tangan kanannya. Ketika diperhatikannya ternyata telapak tangannya telah terkelupas melepuh. Pedang sakti yang dilemparkannya menancap di batu sampai sepertiganya.
“Nenek Sabai!’ berseru Puti Andini begitu melihat neneknya berada di tempat itu, tegak di atas batu sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang cidera. Sabai Nan Rancak palingkan kepala. Darahnya langsung naik ke kepala begitu melihat cucunya berada di tempat itu.
“Kau memang cucu murtad! Sejak dulu aku katakan aku tidak suka kau pergi ke tanah Jawa ini. Ternyata…;”
Pada saat itu sekonyong-konyong ada orang tertawa mengekeh. Semua kepala dipalingkan ke arah tebing telaga sebelah kiri di mana terdapat sebuah batu besar berwarna coklat kehitaman. Di atas batu ini tampak duduk seorang kakek berkepala botak, mengenakan pakaian putih lusuh.
Tiga orang langsung tercekat. Yang pertama adalah Sika Sure Jelantik. “Tua bangka botak di atas batu itu. Kalau aku bisa lebih mendekat dan mencium bau badannya janganjangan….”
Si nenek goyangkan kepalanya hingga rambut putihnya yang basah riap-riapan tersibak ke belakang. Kelihatanlah wajahnya yang angker, menatap tajam pada kakek botak di atas batu yang saat itu masih saja terus tertawa. Sabai Nak Rancak adalah orang ke dua yang ikut terkesiap melihat kehadiran kakek botak itu, “Aku bertemu pertama kali dengan manusia satu ini di Lembah Merpati. Hatiku menaruh syak wasangka tapi tampangnya lain, suaranya juga lain!”
Orang ketiga walau tercekat tapi diluar sadar bergerak maju satu langkah seraya berseru.
“Kek!”
Kakek botak di atas batu menyeringai. Tangan kanannya dilambaikan ke arah Puti Andini sedang jari tangan kirinya disilangkan di depan bibir. “Ssstttt…. Jangan mengganggu tawaku. Lagipula tak baik ketawa karena ada dua nenek sedang kesakitan di tempat ini! Ha… ha… ha!”
Melihat gelagat si botak terhadap Puti Andini baik Sabai Nan Rancak dan Sika Sure Jelantik jadi curiga. Sika Sure Jelantik segera hendak membentak tapi Sabai Nan Rancak keburu mendahului.
“Tua bangka botak! Dua kali dengan ini kita bertemu!”
“Ah, rupanya pertemuan pertama itu sangat berkesan di hatimu. Berarti sejak itu kau tak pernah melupakan diriku!”
Wajah keriput Sabai Nan Rancak menjadi merah padam sementara kakek botak di atas batu kembali tertawa gelak-gelak.
“Tua bangka botak, otakmu rupanya kotor dan mulutmu lancang! Perlu apa aku mengingat-ingat dirimu! Tua bangka edan tak tahu diri!” Memaki Sabai Nan Rancak.
“Ah, pada pertemuan sekali ini kau jadi pemarah dan galak sekali. Padahal pada pertemuan pertama di lembah itu kau tenggelam dalam rasa sedih yang amat dalam. Sampai-sampai kau bertanya padaku, apakah aku bisa membantu membunuh dirimu!”
Kembali wajah Sabai Nan Rancak merah mengelam.
“Tua bangka sialan! Lekas katakan siapa kau adanya! Atau kupanggang tubuhmu dengan pukulan ini!” Sabai Nan Rancak mengancam seraya angkat tangan kanannya. Lang sung tangan ini menjadi merah. Si nenek rupanya siap menghantamkan pukulan Kipas Neraka!
Orang tua botak di atas batu angkat kedua tangannya lalu membungkuk dalamdalam.
“Bukan maksudku hendak bersikap kurang ajar. Bukan maksudku hendak menyinggung perasaanmu. Aku mohon maafmu. Bolehkah aku mendendangkan lagu yang pernah aku nyanyikan waktu di Lembah Merpati tempo hari?”
“Manusia jahanam! Siapa sudi mendengar nyanyianmu!” bentak Sabai Nan Rancak.
Lalu dia berpaling pada cucunya. “Puti Andini! Lekas kau katakan siapa adanya tua bangka berotak miring ini!”
“Guru…. Aku….”
“Puti, aku menaruh firasat kau tahu siapa adanya orang tua botak itu. Siapapun dia adanya kuharap kau tidak memberi tahu pada gurumu. Aku khawatir keadaan akan tambah kacau di tempat ini!”
Yang bicara berbisik itu adalah Panji yang saat itu masih tegak di dekat Puti Andini. Si gadis yang memang tahu siapa adanya kakek botak itu sebenarnya sudah berniat untuk tidak membuka rahasia. Namun karena yang bertanya adalah guru dan nenek kandungnya sendiri maka Puti Andini menjadi gugup.
Sabai Nan Rancak jadi curiga. Dia melangkah mendekati cucunya dan berkata dengan suara mendesis dan air muka beringas.
“Berat dugaanku kau tahu siapa adanya kakek botak itu! Jika kau tidak memberi tahu, aku tak segan-segan menghajarmu dengan pukulan Kipas Neraka ini!” Sabai Nan Rancak angkat tangan kanannya yang memancarkan warna merah. Namun gerakannya tertahan ketika dari pinggiran telaga di samping kirinya melesat keluar tiga sosok tubuh. Mereka adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, Ratu Duyung dan Naga Kuning.

*
* *


SEBELAS

Melihat munculnya Pendekar 212 Wiro Sableng dan Ratu Duyung, Sabai Nan Rancak bertambah naik amarahnya. “Pemuda jahanam satu ini! Beberapa kali aku ingin membunuhnya. Mungkin sekali ini baru bisa kesampaian. Aku akan pergunakan pedang sakti yang menancap di batu!”
Sabai Nan Rancak kerahkan tenaga dalam ke tangan kiri untuk melindungi diri. Lalu sekali berkelebat dia berhasil memegang gagang Pedang Naga Suci 212. Ketika senjata itu hendak ditariknya, kembali nenek sakti dari Pulau Andalas ini terpekik dan tersurut tiga langkah sambil kibas-kibaskan tangan kirinya. Seperti kejadian dengan tangan kanannya tadi, kini tangan kirinya ikut melepuh luka. Menyaksikan kejadian itu Sika Sure jelantik ingat pada apa yang dialaminya lalu perhatikan tangan kanannya yang cidera.
Di atas batu tinggi kakek botak kembali tertawa bergelak. Namun mendadak tawanya lenyap, berganti dengan seruan kaget. “Oo alah!”
Dari dalam telaga untuk kesekian kalinya melesat keluar sosok-sosok manusia. Yang sekarang ini adalah sosok Sinto Gendeng dan si Setan Ngompol.
Kakek botak kerenyitkan kening dan goleng-goleng kepala. “Gawat… gawat! Bagaimana tiga cecunguk ini bisa muncul bersamaan di tempat ini! Kalau aku tidak bertindak cepat, kalau anak itu tidak berlaku sigap keadaan bisa jadi tambah tak karuan…” Si botak memandang ke jurusan Puti Andini.
Maksudnya hendak memberi isyarat tapi si gadis saat itu justru tengah memandang ke arah lain yakni pada Pendekar 212 dan Ratu Duyung serta Naga Kuning. Begitu muncul di tepi telaga Sinto Gendeng langsung berteriak keras hingga suaranya menggelegar di seantero tempat.
“Jangan ada yang berani menyentuh pedang!”
Selagi semua orang terkesima si nenek sakti dari puncak Gunung Gede ini berkelebat menyambar Pedang Naga Suci 212 yang masih menancap di atas batu. Beg itu jari-jari tangannya yang kurus menyentuh gagang pedang, Sinto Gendeng menjerit keras dan terjajar ke belakang sampai dua langkah. Mukanya yang hitam keriput kelihatah kelabu membesi. Ketika tangan kanannya diperhatikan, tangan itu ternyata telah terkelupas. Maka disela desis kesakitan si nenek memaki panjang pendek. Lalu dia bertindak nekad. Walau jelas-jelas tangan kanannya cidera tapi kembali dia mencekal gagang pedang. Sekali ini dengan mengerahkan tenaga dalam. Ternyata dia sanggup memegang gagang senjata yang berbentuk kepala naga betina itu. Tapi hanya sesaat karena dilain kejap kelihatan tubuhnya bergetar keras. Dari tangannya yang menggenggam pedang mengepul asap putih disusul lelehan darah. Semakin dia mengerahkan tenaga dalam semakin parah keadaan tangannya. Bahkan kini dari kepalanya yang ditancapi lima tusuk konde perak tampak mengepul pula asap putih tipis.
Si nenek menjerit satu kali. Dia masih berusaha bertahan dan nekad hendak menarik pedang yang menancap di batu. Lalu dia menjerit sekali lagi. Kali ini yang ke tiga jeritannya disertai dengan terlemparnya tubuhnya sampai empat langkah lalu terjengkang di atas batu, tepat di bawah batu tinggi di mana kakek botak berada! Dan seperti tadi kakek ini lagi-lagi keluarkan tawa mengekeh. Namun kali ini tawanya pendek saja karena dia menyusul dengan ucapan yang membuat orang-orang yang ada di tepi telaga itu menjadi tertegun.
Hanya si Setan Ngompol yang tampak serba salah menekapi bagian bawah perutnya yang ngocor mendengar jeritan-jeritan dan melihat keadaan tangan Sinto Gendeng yang cidera.
“Berlaku nekad hanya akan mendapat kualat! Memaksakan niat hanya akan mendapat laknat! Pedang Naga Suci 212 adalah pedang keramat! Pedang Naga Suci 212 adalah sakti dan suci. Pedang Naga Suci 212 adalah pedangnya kaum hawa. Karenanya hanya perempuan yang suci saja lah yang sanggup menyentuhnya!”
“Botak gila bermulut sedeng!” Sinto Gendeng berteriak. “Apa kau kira aku ini manusia kotor!. Puluhan tahun silam aku telah menguasai senjata ini dan membawanya ke mana-mana lalu menyimpannya di satu tempat….”
“Orang sakti bertusuk konde lima,” menjawab kakek botak di atas batu tinggi, “Mulutku mungkin lancang hingga hati dan perasaanmu tersinggung. Aku tidak mengatakan dirimu manusia kotor. Tapi keadaan yang menyatakan. Hatimu mungkin baik. Tapi ada perbedaan antara kebaikan dan kesucian. Seperti kataku Pedang Naga Suci 212 hanya mampu disentuh oleh perempuan yang masih suci lahir dan batin…. Kalau kau merasa dirimu suci harap kau mampu menilai sendiri….”
Merah padam wajah Sinto Gendeng. Dia mengerling pada Sabai Nan Rancak dan melihat tangan kanan nenek itu cidera berat. Dia memandang ke arah Sika Sure jelantik. Ternyata nenek satu ini pun penuh luka tangan kanannya. Perlahan-lahan, setelah menyadari arti ucapan kakek botak tadi, wajah tua nenek ini menjadi berubah.
“Kakek botak! Kau tidak mengenal diriku dan aku tidak tahu siapa dirimu! Bagaimana kau bisa menilai aku ini suci atau tidak!” Sinto Gendeng bertanya setengah berteriak tanda dia masih belum puas.
“Seperti kataku tadi, aku bukan menilai kau suci atau tidak. Yang mampu mengetahui kesucian dirimu adalah engkau sendiri. Usiamu sudah puluhan tahun. Apakah seluruh hidupmu kau jalani dengan kesucian hati dan batin? Katamu dulu kau pernah menguasai dan membawa Pedang Naga Suci 212 kemana-mana. Mungkin sekali dimasa itu kau masih sebersih udara pagi, seputih kertas dan seharum bunga melati….” Habis berkata begitu kakek botak lemparkan lirikan pada Sabai Nan Rancak dan Sika Sure Jelantik.
Untuk beberapa saat lamanya keadaan di tepi telaga itu menjadi sunyi sehening di pekuburan. Tak ada yang bicara. Tak ada yang bergerak. Tiba-tiba Naga Kuning keluarkan tawa cekikikan.
“Sayang tokoh silat berjuluk Tua Gila tidak ada di tempat ini! Kalau saja dia hadir di sini tentu dia gembira luar biasa melihat tiga kekasihnya dimasa mudanya berkumpul di tempat ini! Ha… ha… ha!”
“Bocah setan! Kau jangan berani bicara sembarangan!” teriak Sinto Gendeng karena merasa sangat tersinggung.
Sabai Nan Rancak yang juga merasa tersindir gerak-gerakkan sepuluh jari tangannya hingga mengeluarkan suara berkeretekan dan memandang mendelik pada Naga Kuning. Lalu Sika Sure Jelantik terdengar menggereng. Tangan kanannya perlahan-lahan diangkat ke atas.
“Tunggu! Jangan kalian marah padaku!” teriak Naga Kuning mencibir. “Aku bicara apa adanya! Kalian muncul di sini sebenarnya mencari apa? Pedang Naga Suci 212? Turut ucapan kakek botak di atas batu sana jelas kalian tidak bakal bisa mendapatkannya….”
“Siapa bilang aku ke sini mencari pedang!” teriak Sika Sure Jelantik.
“Aku juga!” menimpali Sabai Nan Rancak.
“Aku memang ke sini mencari Pedang Naga Suci 212!” ujar Sinto Gendeng polos tanpa malu-malu. Lalu dia berpaling pada Wiro dan berkata. “Anak setan! Lekas kau ambil pedang sakti itu!”
“Guru…. Eyang, aku tak bisa melakukah hal itu. Senjata itu bukan milikku…” jawab Wiro.
“Benar-benar anak setan! Senjata itu milikku. Aku yang membawanya dan menyembunyikannya di dasar Telaga Gajahmungkur! Setelah puluhan tahun pedang itu akhirnya ditemui. Sekarang pedang itu aku berikan padamu sebagai pasangan Kapak Maut Naga Geni 212!”
“Saya tak berani mengambilnya, Nek…” kata Wiro.
“Tolol pengecut!” teriak Sinto Gendeng marah. “Apa kau tidak ingat justru senjata itu adalah obat mujarab untuk memulihkan kesaktian dan tenaga dalammu!”
Wiro terkesima. Dia bukannya tidak mengetahui hal itu, tapi setelah mendengar katakata kakek botak tadi hatinya menjadi was-was. Pertama pedang itu katanya adalah pedang perempuan. Kedua hanya orang suci saja yang mampu menyentuhnya. Dia sendiri bukankah pernah satu kali ketiduran dengan Ratu Duyung? Secara tak sadar murid Sinto Gendeng itu melirik ke arah Ratu Duyung. Bagi sang Ratu lirikan itu membuat hatinya jadi bergoncang. Tiba-tiba Ratu Duyung melompat ke depan. Gadis ini heran sendiri karena gerakannya luar biasa cepat. Di sekelilingnya tak satu orang pun yang melihat jelas apa yang dilakukan gadis ini. Tahu-tahu dia telah tegak sambil memegang gagang Pedang Naga Suci 212 yang menancap di batu!
Sang Ratu merasakan ada satu hawa dingin sejuk menjalar masuk ke dalam tubuhnya hingga saat dia merasakan satu ketenangan dan ketentraman luar biasa. Tubuhnya seperti seringan kapas hingga saat itu dia seolah melayang di atas mega. Tak ada hawa panas, tak ada sengatan seperti bara api. Kulit tangannya yang halus tidak terkelupas. Dia sama sekali tidak cidera sedikitpun! Tapi ketika dia coba mencabut senjata itu dari dalam batu, bagaimanapun dia mengerahkan seluruh tenaga luar dan tenaga dalam, Pedang Naga Suci 212 tidak bergeming barang sedikit pun!
“Ratu Duyung, kau berhasil memegang Pedang Naga Suci 212 tanpa terluka tanpa cidera! Berarti kau adalah seorang gadis yang masih suci lahir dan batin. Tapi kau tidak mampu mencabut senjata mustika sakti itu dari dalam batu, Itu satu pertanda bahwa kau tidak berjodoh untuk memilikinya.”
Ratu Duyung dan semua orang yang ada di tepi telaga memandang ke arah orang yang bicara yakni si kakek botak di atas batu tinggi.
Wiro garuk-garuk kepala. Dalam hati dia berkata. “Setelah kejadian di Puri tempo hari, menurut si kakek botak ternyata gadis ini masih suci. Lalu apakah diriku juga bisa dianggap masih suci?” Wiro pandangi Pedang Naga Suci 212 yang sampai saat itu masih menancap di batu.
“Wiro!” Tiba-tiba terdengar teriakan Sinto Gendeng. “Lekas kau ambil pedang itu! Jika Ratu Duyung masih suci berarti dia masih perawan dan kau masih perjaka! Selain itu kau memerlukan pedang itu untuk menyembuhkan semua kelemahanmu!” Murid Sinto Gendeng bergerak melangkah.
“Tunggu dulu!” kakek botak berseru. “Sudah kukatakan bahwa Pedang Naga Suci 212 adalah senjatanya perempuan….”
“Jangan dengarkan ucapannya! Anak setan lekas kau ambil pedang itu lalu tinggalkan tempat ini! Aku akan menghajar siapa yang berani menghalangi! Setan Ngompol harap kau bantu aku!”
Pendekar 212 jadi bimbang. Saat itulah Puti Andini memandang ke jurusan si kakek botak. Orang tua ini tidak menunggu lebih lama. Dia kedipkan matanya lalu tanpa ada lain orang yang sempat melihat dia tudingkan ibu jari tangan kirinya ke arah Pedang Naga Suci 212 yang menancap di batu.

*
* *


DUA BELAS

Maklum akan arti isyarat kedipan mata dan gerakan ibu jari yang diberikan kakek botak, maka secepat kilat Puti Andini berkelebat ke arah batu besar tempat Pedang Naga Suci 212 menancap.
“Berani pegang pedang berarti mampus!”
Sinto Gendeng berteriak keras. Nenek ini lalu menerjang ke arah Puti Andini dengan jurus yang disebut Kepala Naga Menyusup Awan. Tubuh si nenek laksana terbang di udara. Tangan kiri menyambar ke pinggang sedang tangan kanan memukul ke arah kepala Puti Andini.
Wiro yang menyaksikan gerakan sang guru jadi terperangah. Garukan kepalanya terhenti di samping kuping kanan. Dia maklum jurus yang dilancarkan Eyang Sinto Gendeng saat itu sangat cepat dan berbahaya. Puti Andini tak mungkin mengelakkan diri. Di saat yang sama Sika Sure Jelantik tak tinggal diam. Melihat Sinto Gendeng menyerang Puti Andini yang sebelumnya dipercayakannya untuk menitipkan Pedang Naga Suci 212, maka sambil berteriak beringas, “Tua bangka edan! Hendak kau apakan cucuku?!”
Sika Sure Jelantik lantas memotong gerakan nenek sakti dari Gunung Gede ini dengan satu pukulan sakti yang “dilancarkan dengan tangan kiri. Lima larik sinar hitam berkiblat dari ujung lima kuku tangan kirinya yang hitam.
“Tua bangka setan!” maki Sinto Gendeng dalam hati. “Berani dia menyerangku! Dia menyebut gadis itu cucunya! Apa-apaan ini! Aku tahu betul siapa dia! Sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan si gadis walau sama-sama datang dari seberang!”
Sabai Nan Rancak juga terkejut. Sesaat dia bimbang. Ada yang harus dilakukannya dalam keadaan seperti itu. Semua berlangsung begitu cepat. Kalau dia ikut turun ke gelanggang pertempuran siapa yang hendak diserbunya. Sejak dulu sesuai dengan tugas yang diberikan Sutan Alam Rajo Di Bumi, tokoh silat di Gunung Singgalang, saat itu dia ingin segera membunuh Sinto Gendeng. Apalagi Sinto Gendeng jelas menyerang cucunya dan berusaha merampas Pedang Naga Suci 212. Tapi menduga bahwa ada hubungan tertentu antara Puti Andini dengan Sika Sure Jelantik yang juga dibencinya maka dia khawatir Sika Sure Jelantik nantinya akan kembali merampas pedang sakti itu dari tangan si gadis.
“Tak ada jalan lain! Aku harus mendahului merampas pedang sakti itu!” kata Sabai Nan Rancak dalam hati. Maka dia segera melepas pukulan K/pas Neraka. Sinar merah panas bertabur di udara lalu melebar menyapu apa saja yang ada di depannya. Siap menghantam Sika Sure Jelantik, Sinto Gendeng bahkan Puti Andini.
Melihat bahaya besar mengancam Puti Andini, Panji tak tinggal diam. Pemuda ini segera turun tangan membantu. Yang dilakukannya adalah menyergap Sinto Gendeng yakni lawan yang paling dekat dengan si gadis. Seperti-diketahui walau memiliki ilmu silat namun tingkat kepandaian pemuda ini jauh dibawah semua orang yang ada di tempat itu. Sebenarnya Panji sendiri mengetahui hal ini. terjun ke gelanggang pertempuran tokoh-tokoh silat tingkat tinggi itu sama saja dengan mengantar nyawa. Namun apapun yang terjadi atas dirinya Panji tidak rela kalau Puti Andini sampai mendapat celaka. Sinto Gendeng memaki dalam hati begitu tahu ada orang hendak menelikung pinggangnya. Masih melayang di udara Sinto Gendeng hantamkan kaki kanannya.
“Bukk!”
Panji mengeluh tinggi. Tubuhnya terpental sampai dua tombak. Tergeletak di bawah batu tinggi di mana kakek botak berada. Dari sela bibirnya kelihatan lelehan darah. Sementara itu sesaat lagi lima larik sinar hitam pukulan maut Sika Sure Jelantik akan menghantam Puti Andini dan sinar merah pukulan Kipas Neraka menebar kematian tibatiba di udara berkelebat se-gulungan benda aneh, putih halus berkilauan. , “Jahanam apa pula ini?!”
Sinto Gendeng memaki sewaktu tangannya yang siap menghantam Puti Andini terjirat oleh sesuatu yang tak segera bisa dilihat dan dipastikannya. Disaat yang sama sekonyong-konyong menggemuruh kiblatan cahaya putih disertai menebarnya hawa yang sangat dingin. Lima larik sinar hitam pukulan yang dilepaskan Sika Sure Jelantik buyar laksana disapu topan.
Pukulan Kipas Neraka masih mampu menyebar dan menderu namun arahnya berubah ke atas menghantam udara kosong. Beberapa orang terpental lalu jatuh tergeletak di sekitar tebing batu. Selagi orang-orang ini berusaha bangkit dengan tubuh bergeletar kedinginan tiba-tiba dari atas melayang jatuh sebuah benda hitam.
“Taaarrr!”
Sebelum jatuh ke atas batu benda ini meledak. Lalu asap hitam yang memerihkan mata bertabur menutupi pemandangan. Kutuk serapah terdengar di mana-mana.
Ketika asap hitam lenyap dan udara di tepi telaga terang kembali maka di tempat itu yang kelihatan hanya tinggal tiga orang. Yang pertama adalah Sinto Gendeng. Nenek sakti ini memaki panjang pendek sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya yang dilibat oleh sejenis benang halus berwarna putih berkilat. Dia segera mengenali benang itu. Membeliaklah sepasang matanya.
“Setan alas! Ini pasti pekerjaannya Tua Gila! Jahanam benar! Kakek botak tadi pasti dia!”
Orang kedua adalah Sabai Nan Rancak. Nenek satu ini melangkah mundar mandir sambil keluarkan suara menggerutu. Ketika dia memutar langkah maka pandangannya saling bentur dengan Sinto Gendeng.
“Kalau kau memang membenci manusia satu itu, mengapa kau tidak mengejarnya! Aku curiga kalian sudah sejak lama berserikat!” Sabai Nan Rancak menyemprot Sinto Gendeng yang merupakan saingannya dimasa gadis remaja dalam memperebutkan Sukat Tandika alias Tua Gila. Mendengar kata-kata Sabai Nan Rancak itu marahlah Sinto Gendeng. “Aku tahu otakmu miring sejak dulu! Aku juga tahu kau mencari Tua Gila bukan untuk membalas dendam. Tapi hendak berbaik-baik dan ingin menjadi gendaknya kembali! Rupanya kau mau minta dibikin bunting lagi hah?!”
“Nenek setan bermulut kotor!” teriak Sabai Nan Rancak lalu lepaskan pukulan Kipas Neraka dengan tenaga dalam penuh. Sinto Gendeng tidak tinggal diam. Dia tahu kehebatan pukulan lawan. Tapi tahu pula kelemahannya. Pukulan Kipas Neraka seperti diketahui menebar lebar sama rata dengan tanah. Karenanya begitu sinar merah berkiblat Sinto Gendeng segera melesat setinggi tiga tombak. Lalu dari atas dia menghantam dengan Pukulan Sinar Matahari!
Seperti diketahui Pukulan Sinar Matahari telah menimbulkan kegegeran selama Pendekar 212 Wiro Sableng malang melintang dalam rimba persilatan. Namun sekali ini yang mengeluarkan pukulan sakti itu adalah sang dedengkotnya yakni nenek sakti Sinto Gendeng guru Pendekar 212. Maka kedahsyatannya tak bisa dibayangkan.
Tempat itu laksana dilabrak petir raksasa. Udara dilanda kesilauan luar biasa. Hawa panas membakar seolah matahari hanya satu tombak di atas batok kepala. Air Telaga Gajahmungkur bergemericik seperti mendidih.
Cahaya putih Pukulan Sinar Matahari saling labrak dengan sinar merah pukulan Kipas Neraka. Karena Sinto Gendeng menghantam dari atas maka pukulan saktinya melabrak pukulan sakti lawan di bagian tengah yang merupakan titik lemahnya. Satu letusan keras menggelegar. Batu dan tanah di tepi telaga bergetar hebat. Air telaga muncrat sampai dua tombak. Pohon-pohon berderak. Ranting-ranting putus dan dedaunan luruh ke tanah laksana dilanda topan.
Sinto Gendeng melayang turun. Tubuhnya seolah barusan menembus dinding api. Ketika dia menjejakkan kaki di tanah jelas nenek ini terhuyung-huyung. Lututnya goyah. Tiga tombak di depannya Sabai Nan Rancak terjengkang di tanah dengan muka seputih kain kafan. Tiba-tiba nenek sakti dari Singgalang ini berteriak keras. Dia bangkit berdiri dengan muka seperti iblis. Dengan gerakan cepat dia menanggalkan Mantel Sakti yang dikenakannya sambil melangkah cepat mendekati lawan.
Sinto Gendeng yang maklum akan kehebatan Mantel Sakti yang dulunya adalah milik Datuk Tinggi Raja Di Langit ini tidak mau berlaku ayal. Dengan tangan kiri dia segera cabut dua tusuk konde peraknya. Lalu tangan kanannya diangkat ke atas. Ketika tangan kiri kanan Sinto Gendeng menghantam ke depan maka dua tusuk konde perak menderu di udara dan pukulan sakti bernama Tameng Sakti Menerpa Hujan berkiblat.
Sabai Nan Rancak belum sempat mengebutkan mantel hitamnya untuk menyerang Sinto Gendeng. Tahu-tahu lengan bajunya sebelah kanan robek besar. Dia masih untung karena tusuk konde beracun yang dilemparkan Sinto Gendeng hanya merobek pakaiannya. Namun selagi dia terhuyung-huyung menahan dahsyatnya hantaman pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan, tusuk konde kedua menyambar deras ke sisi kirinya. Sabai Nan Rancak angkat tangan kiri ke atas, pergunakan mantel hitam untuk menangkis.
“Breeeettt!”
Mantel Sakti robek besar. Ujung tusuk konde menekuk bengkok tapi masih terus menembus mantel lalu bagian kepalanya menoreh lengan kiri Sabai Nan Rancak. Nenek ini terpekik dan pucat wajahnya begitu melihat dari balik lengan kiri jubah hitamnya yang robek ada darah meleleh. Saat itu juga dia merasakan tangannya panas. Hawa panas segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Terhuyung-huyung dia sandarkan diri ke pohon besar di tepi telaga. Memandang ke depan dia tidak melihat lagi sosok Sinto Gendeng. Hanya tampak nenek berambut putih riap-riapan Sika Sure Jelantik tegak sekitar sepuluh langkah darinya, memandang menyeringai seolah mengejeknya. Lalu nenek itu pun berkelebat pergi.
“Tusuk konde jahanam…” maki Sabai Nan Rancak. Dia jatuhkan mantel hitam ke tanah. La lu dengan tangan kanannya dirobeknya jubah hitam di bagian mana lengannya terluka akibat goresan tusuk konde perak. Dengan cepat nenek ini tekan kuat-kuat lengannya yang cidera. Dari luka di lengan itu membersit lelehan darah berwarna kehitaman.
“Racun…. Tusuk konde celaka itu ternyata mengandung racun jahat!” Tidak menunggu lebih lama Sabai Nan Rancak segera totok urat besar di pangkal lehernya sebelah kiri.
Pada saat itulah tiba-tiba ada seorang tinggi besar berambut tegak kaku berkelebat di depannya. Di mukanya yang hitam ada dua belas lobang mengerikan. Sepasang alisnya yang tebal bergabung menjadi satu. Di bahu kanannya sebelah belakang ada satu lobang luka besar yang tembus sampai ke bagian dada dan menebar bau busuk. Walau penglihatannya saat itu mulai buram namun Sabai Nan Rancak masih bisa mengenali siapa adanya orang berpakaian serba hitam itu. Hantu Balak Anam!
“Kau muncul lagi! Aku tak suka melihatmu! Lekas menyingkir dari hadapanku!” Hantu Balak Anam menyeringai.
“ingat dua kali pertemuan kita sebelumnya Sabai?”
“Persetan dengan pertanyaanmu! Cepat minggat dari hadapanku!” bentak Sabai Nan Rancak.
Hantu Balak Anam kembali menyeringai. Dia melirik pada Mantel Sakti yang ada di tanah. Takut mantel itu hendak diambil orang si nenek segera injakkan kaki kanannya di atas mantel.
“Tak usah khawatir Sabai. Aku tidak akan merampas Mantel Sakti itu. Aku tahu itu adalah barang curian. Kau mencari penyakit sendiri karena dengan mencuri kau menambah musuh. Apa kau masih belum mengerti kalau kau telah diperalat orang? Dengar baik-baik Sabai. Terakhir sekali bertemu aku menanyakan padamu apa kau punya hubungan tertentu dengan Sutan Alam Rajo Di Bumi dari puncak Singgalang…”
“Manusia jahanam! Pergi dari hadapanku!” hardik Sabai Nan Rancak. Tangan kanannya diangkat.
“Kau berada dalam keadaan terluka Sabai. Lukamu bukan luka biasa. Kurasa saat ini sekujur tubuhmu sudah dijalari racun. Kalau kau kerahkan tenaga dalam untuk menghantamku dengan Pukulan Kipas Neraka, sama saja kau mempercepat kematian sendiri!”
Pucatlah paras si nenek. Tengkuknya dingin karena dia menyadari apa yang dikatakan Hantu Balak Anam benar adanya.
“Dengar apa yang akan kukatakan padamu Sabai. Beberapa tokoh silat Pulau Andalas kembali ditemui tewas akibat pembunuhan keji. Ada berita bahwa kaulah yang telah membunuh mereka….”
“Fitnah busuk! Mana mungkin aku membunuh para tokoh itu. Selama ini aku berada di tanah Jawa!” kata Sabai Nan Rancak hampir berteriak. “Katakan siapa yang melancarkan fitnah keji itu! Mungkin sekali kau!”
Hantu Balak Anam tertawa, “ingat, dulu aku pernah sampai dua kali menanyakan apa hubunganmu dengan Sutan Alam Rajo Di Bumi. Kau tidak mau memberi tahu. Itu tak jadi apa. Tapi terus terang aku menaruh curiga padamu Sabai. Kalau terbukti kau memang berkomplot dengan Sutan keparat itu, aku akan mengadu jiwa denganmu! Lihat tubuhku yang bolong ini! Kekasih gelapmu itulah yang telah mencelakai diriku!”
“Manusia jahanam! Mulutmu lancang dan kotor!” Sabai Nan Rancak melompat ke hadapan Hantu Balak Anak dari Sijunjung yang diserang cepat menghindar.
“Tua bangka tolol! Tidak tahu kalau dirimu diperalat orang! Kau tahu Sabai! Aku mendapat kabar Sutan Alam Rajo Di Bumi lenyap dari puncak Singgalang. Cepat atau lambat dia akan segera muncul di tanah Jawa ini. Mungkin dia tak dapat menahan rindunya terhadapmu. Tapi mungkin juga dia datang untuk membunuhmu!”
Habis berkata begitu Hantu Balak Anam putar tubuh lalu dengan langkah tenang dia tinggalkan tempat itu. Sabai Nan Rancak kembali terduduk di bawah pohon besar. Tubuhnya terasa semakin panas dan pemandangannya bertambah kabur.
“Celaka! Racun jahat tusuk konde nenek iblis itu. Sanggupkah aku bertahan atau aku akan menemui ajal di tempat ini?”
Sabai Nan Rancak kerahkan tenaga dalam, atur jalan darah dan pernafasan. Dia menotok lagi tubuhnya di beberapa bagian. Saat itulah tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat di hadapannya. Bau sangat harum menusuk- penciumannya. Si nenek angkat kepalanya.
“Gadis berbaju biru, pikiranku sedang kacau. Apakah kita pernah bertemu? Apakah kau datang bermaksud baik atau jahat?”
“Lupakan semua pertanyaanmu itu Nek. Kau terluka cukup parah. Ada racun mengalir dalam tubuhmu, izinkan aku menolong.”
Sabai Nan Rancak tampak bimbang. “Terima kasih…. Tapi aku tidak percaya padamu. Aku memilih lebih baik mati saja. Kehidupan dimasa laluku hanya derita sengsara. Kehidupan dimasa datang hanyalah neraka! Jangan berani menolong! Jangan berani menyentuh tubuhku!”
“Aku tak pernah melihat racun sejahat ini. Siapa yang telah mencelakaimu Nek?”
“Iblis perempuan bernama Sinto Gendeng! Musuh besarku sejak lama. Sial nasib diriku! Ternyata kepandaiannya luar biasa dan mampu bergerak mendahuluiku. Apa salah kalau saat ini aku rasanya kepingin mati saja?!”
Berubahlah paras si gadis berbaju biru mendengar keterangan Sabai Nan Rancak itu. Dalam hati dia bertanya-tanya silang sengketa apa yang ada antara si nenek dengan guru pemuda yang dikasihinya itu.
“Nek, jangan tolol. Tidak ada yang paling menyedihkan daripada menemui kematian secara penasaran. Lihat jariku!”
“Eh, kau hendak melakukan apa?!” tanya Sabai Nan Rancak ketika dilihatnya gadis cantik di hadapannya meluruskan jari telunjuk tangan kanannya. Jawaban yang diterima si nenek adalah satu totokan tepat di pertengahan keningnya. Sabai Nan Rancak menjerit keras. Topi berbentuk tanduk kerbau yang melekat di kepalanya terlempar ke atas. Dari ubun-ubunnya mengepul asap kehijau-hijauan.
Bidadari Angin Timur menghela napas lega. “Terlambat aku menolongnya-nyawa nenek satu ini tak mungkin diselamatkan lagi….” Lalu dari baiik pakaian birunya dia mengeluarkan sebutir obat berwarna hijau. Obat ini dimasukkannya ke dalam mulut Sabai Nan Rancak. Dengan satu totokan pada tenggorokan si nenek, obat itu meluncur masuk ke dalam perut Sabai Nan Rancak.
“Sebetulnya aku ingin menunggu sampai kau siuman Nek. Banyak yang bisa kita bicarakan. Sayang waktuku sangat sempit. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu lagi….Semoga lekas sembuh.” Setelah pandangi wajah tua keriput itu sesaat Bidadari Angin Timur segera tinggalkan tempat itu.

*
* *


TIGA BELAS

Seperti diceritakan sebelumnya, setelah ada letusan yang menebar asap hitam memerihkan mata menutup pemandangan beberapa orang yang tadi berada di sekitar tepian Telaga Gajahmungkur lenyap. Yang tinggal hanyalah Sinto Gendeng, Sika Sure Jelantik dan Sabai Nan Rancak.
Sesudah terjadi bentrokan hebat antara Sabai dan Sinto Gendeng, Sika Sure Jelantik tinggalkan tempat itu sementara Sinto Gendeng sendiri telah lenyap lebih dulu. Nenek ini berkelebat pergi ke arah lenyapnya kakek tukang kencing si Setan Ngompol. Lalu kemana perginya orang-orang yang lain?
Di arah timur Telaga Gajahmungkur saat itu tampak kakek berkepala botak berjalan memanggul sesosok tubuh pemuda tanpa baju. Kakek ini tampaknya seperti berjalan biasa saja. Namun orang yang ada di belakangnya dan berusaha mengejar tetap saja mengalami kesulitan mendekati si kakek.
Pemuda yang dipanggul di bahu kiri si kakek ternyata adalah Panji yang saat itu berada dalam keadaan setengah sadar akibat tendangan kaki kanan Sinto Gendeng. Sekujur tubuhnya terikat dalam gulungan benang halus berwarna putih berkilauan.
“Kek! Tunggu!” Seseorang di sebelah belakang berseru memanggil kakek botak.
Kakek botak seolah tak acuh. Dia lari terus. Di satu kelokan jalan dia membelok ke kiri, menyelinap ke balik serumpunan pohon bambu dan mendekam di situ. Ketika orang yang mengejar sampai di tikungan jalan tentu saja dia jadi kehilangan.
“Kek! Di mana kau! Aku tahu kau bersembunyi! Ini bukan saatnya bergurau!” Orang yang mengejar ini bukan lain adalah Puti Andini. Di tangan kanannya gadis ini memegang Pedang Naga Suci 212 yang berkilauan terkena siraman matahari.
“Sssttt! Aku di sini…. Lekas kemari!”
Batang-batang bambu terkuak ke samping. Dari celah-celah pohon muncul satu kepala botak menyeringai. Puti Andini cepat melompat lalu menyelinap ke balik rerumpunan bambu.
“Cucuku, lekas kau simpan pedang sakti itu!” kata kakek botak begitu melihat Puti Andini masih memegang pedang telanjang.
Si gadis sesaat jadi bingung. “Bagaimana aku mau menyembunyikan. Pedang ini tidak bersarung….”
“Anak tolol! Sejak diciptakan senjata itu memang tidak punya sarung!” Dengan cepat kakek botak mengambil Pedang Naga Suci 212 dari tangan Puti Andini. Dengan tangan kanannya dia menekuk ujung pedang lalu enak saja seperti sebuah ikat pinggang senjata itu digulungnya. Bersamaan dengan tergulungnya pedang, cahaya putih yang menyilaukan lenyap dengan sendirinya. Puti Andini jadi terheran-heran menyaksikan hal itu. Sedang kakek botak kepanasan tangannya.
“Lekas kau sembunyikan senjata ini di balik pakaian. Hati- hati. Jangan sampai jatuh. Jangan sampai ketahuan orang lain!”
Puti Andini cepat mengambil Pedang Naga Suci yang kini berada dalam keadaan tergulung lalu memasukkannya ke balik baju hijaunya. “Kek, menurutmu Pedang Naga Suci 212 hanya bisa disentuh oleh perempuan yang masih suci. Barusan kau enak saja memegang, bahkan menggulung senjata itu tanpa cidera seperti yang terjadi dengan nenek Sika Sure Jelantik dan Sinto Gendeng serta Sabai Nan Rancak….”
Kakek botak tersenyum. “Aku memang bukan perempuan, bukan juga manusia suci. Tapi aku tidak punya niat jahat untuk merampas atau memiliki senjata ini….”
“Tapi Kek….”
“Sudah! Jangan banyak tanya dulu. Lekas ikut aku. Kita harus sembunyi. Aku khawatir ada orang mengikuti….” Kakek botak balikkan badan, melangkah cepat memasuki kerapatan pepohonan.
“Tunggu Kek!”
“Apa lagi? Kenapa kau jadi begini bawel?!”
“Kek, aku tahu kau belakangan ini suka menyamar. Tapi lama-lama aku jadi bingung sendiri melihat mukamu….”
“Kalau begitu jangan lihat mukaku!” kata si kakek lalu tertawa mengekeh sambil usap-usap kepalanya yang plontos.
Puti Andini geleng-geleng kepala. Ketika orang tua itu hendak melangkah cepat dia pegang lengannya dan bertanya. “Kek, sahabatku pemuda yang kau panggul ini bagaimana keadaannya?” Puti Andini merasa cemas melihat noda darah di mulut Panji.
“Tak usah khawatir. Dia cuma pingsan,” jawab si kakek. “Eh, kau suka padanya bukan…?”
“Kau tahu apa mengenai hubungan kami berdua. Aku mengenalnya belum lama,”
jawab Puti Andini. Kakek botak tertawa. “Cinta kalau ditunggu tak pernah datang. Malah suka muncul secara tiba-tiba.
“Ha… ha… ha! Aku tahu kau suka padanya. Aku bisa melihat dari sinar matamu dan nada suaramu waktu bertanya….”
Paras Puti Andini menjadi merah. Terlebih ketika dilihatnya Panji menggerakkan kepala dan membuka mata. Walau tidak melihat tapi kakek botak tahu kalau pemuda yang dipanggulnya telah sadarkan diri.
“Anak muda, kau sudah siuman. Apa sudah bisa berjalan sendiri? Pinggangku mau patah sejak tadi memanggulmu!”
“Kakek, aku tidak mengenalmu. Tapi kau telah menolongku. Aku mengucapkan terima kasih. Jika kau mau melepas lilitan benang aneh ini aku segera akan turun dari bahumu!”
Kakek botak tertawa lalu gerakkan tangan kanannya yang memegang ujung benang putih halus. Tubuh Panji tersentak ke udara. Bergulung-gulung beberapa kali lalu jatuh ke tanah dengan kaki lebih dulu. Sesaat pemuda ini tegak terhuyung-huyung. Kakek botak menunggu sampai Panji sanggup berdiri dengan benar baru menarik benang putih halus yang masih melilit sebagian tubuhnya.
“Sudah… sudah! Tak usah pakai segala macam peradatan!” kata si kakek botak ketika Panji hendak menjura memberi penghormatan padanya. “Lekas ikuti aku. Kita harus sembunyi sampai keadaan aman!”
“Kek, aku harus mencari seseorang. Aku terpaksa tidak bisa ikut bersamamu!”
“Eh, apa-apaan kau ini! Tadi kau mengejarku. Sekarang malah mau pergi!” Kakek botak pelototkan mata.
“Aku ada urusan sangat penting. Aku harus menemui Wiro Sableng. Kita sudah mendapatkan Pedang Naga Suci 212. Saatnya kita menolong pemuda itu….”
Mendengar kata-kata si gadis kakek kepala botak jadi terkesiap. “Astaga! Kau benar cucuku. Tapi yang lebih penting saat ini adalah menyelamatkan lebih dulu senjata mustika itu. Kau tahu mengapa aku sengaja membawamu bersembunyi di tempat ini. Semua orang yang tadi ada di telaga pasti berusaha mendapatkan Pedang Naga Suci 212. Se-karang kalian berdua ikuti saja aku. Ada satu goa rahasia tak jauh dari tempat ini. Kita sembunyi dulu di sana sampai keadaan aman.”
Kakek botak lalu putar tubuhnya dan berjalan mendahului di sebelah depan. Panji memberi kesempatan pada. Puti Andini untuk melangkah di belakang si kakek. Ketika gadis ini lewat di depannya dia segera berbisik. “Tadi kau bicara menyebut-nyebut Pedang Naga Suci 212. Tapi aku tidak melihat senjata itu. Kau simpan di mana?”
“Aku tak bisa menerangkan sekarang….” jawab Puti Andini.
Panji»masih belum puas. “Kakek botak itu. Apa kau kenal padanya. Apa dia bisa dipercaya?”
“Dia kakekku sendiri. Aku cucunya. Dia yang memberi petunjuk padaku hingga mendapatkan Pedang Naga Suci 212. Apa atasanku tidak mempercayainya?”
“Aku ingat pada ceritamu tentang batu hitam. Ternyata kau hanya mengelabui diriku,” ujar Panji agak kecewa. Namun sambil tersenyum dia menunjuk pada kakek botak yang sudah jauh di depan sana.
“Aku melihat wajahnya aneh. Sepertinya dia….”
“Hemmm….” Puti And ini bergumam. Dalam hati gadis ini berkata. “Jangan-jangan dia tahu kalau kakekku ini menyamar mengenakan topeng tipis.” Dengan tersenyum si gadis akhirnya berkata, “Ternyata matamu cukup tajam. Tidak banyak orang punya kepandaian meneliti sepertimu. Tapi sekali lagi aku bilang, sekarang bukan waktunya menerangkan segala-galanya. Nanti saja….” Habis berkata begitu Puti Andini segera bergerak cepat menyusul kakek botak. Panji akhirnya mengikuti di belakang. Baru saja ke dua orang ini berjalan beberapa langkah tiba-tiba dari arah kanan terdengar suara bentakan-bentakan. Lalu ada sinar merah, kuning dan hitam berkiblat di udara. Serta merta ranting dan daundaun pepohonan yang ada di sekitar tempat itu terbakar hangus. Semak belukar dikobari api.
“Astaga! Apa yang terjadi?!” ujar Panji. Baru saja pemuda ini berkata begitu tiba-tiba kakek botak sudah berada di hadapan mereka.
“Lekas ikuti aku. Sesuatu terjadi di sebelah sana. Mungkin hanya tipuan belaka. Jangan melakukan sesuatu tanpa izinku!” Lalu kakek botak cepat berkelebat di antara kerapatan pepohonan. Panji dan Puti Andini mengikuti sambil berpegangan tangan.
Berjalan sejarak lima belas tombak ke. tiga orang itu sampai di «satu tempat yang ditumbuhi rapat pohon-pohon jati tua yang tidak lagi memiliki daun. Di depan sebatang pohon jati besar berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Dia mengenakan pakaian serba hitam dan rambutnya gondrong sebahu. Pemuda ini tegak dengan kaki merenggang, tangan kiri bertolak pinggang sedang tangan kanan diangkat di atas kepala dengan jari-jari terkepal.
Delapan langkah dari hadapan pemuda tadi tegak Ratu Duyung. Cermin bulat sakti tergenggam di tangan kanannya. Sepasang matanya yang biru memandang tak berkesip pada pemuda di depannya yang bukan lain adalah Raden Layang Kemitir yang dalam rimba persilatan memperkenalkan diri dengan julukan Utusan Dari Akhirat. Seperti dituturkan dalam Episode Utusan Dari Akhirat pemuda yang adalah putra seorang bangsawan terhormat di Banten ini telah menemukan sebuah kitab sakti bernama Matahari Sumber Segala Kesaktian. Kitab ini ditemukannya di balik pakaian Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat, guru Pangeran Matahari yang menemui aja! sewaktu terjadi bentrokan besar di Pangandaran. Berbekal ilmu kesaktian yang tersimpan di dalam kitab maka arwah Si Muka Bangkai yang menampakkan diri secara aneh memerintahkan Layang Kemitir untuk mencari dan membunuh tiga musuh besarnya yang sekaligus musuh Pangeran Matahari. Ketiga orang itu adalah Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti, Tua Gila dan Wiro Sableng. Ketika Wiro dan Ratu Duyung meninggalkan Telaga Gajahmungkur kedua orang ini segera melakukan pengejaran terhadap Puti Andini yang telah mendapatkan Pedang Naga Suci 212. Karena Wiro tidak mampu berlari secepat yang dilakukannya, maka untuk dapat mengejar Puti Andini, Ratu Duyung menempuh jalan pintas. Mereka hampir berhasil memapasi orang yang dikejar namun justru di tempat itu berselisih jalan dengan Utusan Dari Akhirat. Pemuda ini dalam perjalanan menuju Telaga Gajahmungkur. Rupanya dia juga telah menyirap kabar akan terjadi sesuatu di telaga yang luas itu. Beg itu melihat Wiro, Utusan Dari Akhirat segera menghadang.
“Pendekar 212! Kau sudah ditakdirkan mati di tanganku! Apa sekali ini kau masih mampu kabur?!”
Beg itu membentak Layang Kemitir langsung menghantam dengan pukulan Gerhana Matahari ke arah Wiro. Langit seolah menjadi redup. Tiga larik sinar aneh menyambar ganas. Ratu Duyung yang berada di samping murid Sinto Gendeng cepat mendorong pemuda itu hingga Wiro terpelanting dua tombak dan jatuh di balik sebatang pohon besar.
“Ratu! Lekas menyingkir! Pemuda itu hendak menyerang dengan pukulan Gerhana Matahari!” Wiro berteriak memperingatkan karena dia mengenal sekali pukulan sakti yang akan dilancarkan Utusan Dari Akhirat.

*
* *


EMPAT BELAS

Tapi saat itu ada satu keberanian luar biasa dalam diri Ratu Duyung. Tangan kanannya menyelinap ke balik pakaian mengeluarkan cermin saktinya. Ketika dia mengerahkan tenaga dalam mendadak dia merasa ada satu kekuatan aneh mendahului aliran tenaga dalamnya. Begitu dia mengiblatkan cermin saktinya maka menggemuruhlah selarik sinar putih, panas menyilaukan mata laksana ada puluhan kilat menyambar menjadi satu!
Ratu Duyung terkesiap sendiri ketika menyaksikan bagaimana cahaya putih yang keluar dari cerminnya menghantam Pukulan Gerhana Matahari yang mengeluarkan sinar merah, kuning dan hitam hingga melesat bertaburan ke udara. Menghantam ranting-ranting dan daun pepohonan hingga terbakar. Ranting-ranting yang dikobari api itu begitu luruh ke bawah langsung membakar semak belukar kering yang ada di sekitar tempat itu. “Lagi-lagi cermin ini mengeluarkan kehebatan luar biasa tidak seperti biasanya…” kata sang Ratu dalam hati.
Layang Kemitir tegak terbelalak. Dadanya berdenyut sakit. Matanya perih dan sepasang lututnya bergetar. Sejak mewarisi ilmu kesaktian dari kitab Matahari; Sumber Segala Kesaktian, pemuda ini merasa dirinya sebagai yang paling hebat. Karena-nya dia menjadi kecut ketika serangannya tadi dihantam mental oleh cahaya putih yang keluar dari cermin bulat di tangan Ratu Duyung. Sambil menggeram dia angkat tangannya lurus-lurus ke atas. Jari-jari tangan dikepal.
“Wiro, siapa sebenarnya pemuda edan ini?” bertanya Ratu Duyung.
“Dia mengaku murid Si Muka Bangkai, mengaku sebagai saudara seperguruan Pangeran Matahari. Awas Ratu! Dia hendak melepas pukulan Merapi Meletus,” bisik Wiro pada Ratu Duyung. “Sebaiknya kita lekas menyingkir. Tak usah melayani pemuda geblek itu. Aku khawatir….”
“Kau tetap saja di balik pohon itu. Siapapun yang berani berlaku kurang ajar terhadap kita perlu diberi pelajaran pahit!” jawab Ratu Duyung. Saat itu tangan kirinya mengusap ke dada dimana tersimpan Kitab Wasiat Malaikat. Gadis ini tahu sekali bahwa kekuatan hebat yang mengalir mendahului hawa sakti cermin bulatnya berasal dari kitab sakti itu. Karenanya penuh percaya diri dia tegak tak bergeming menghadapi Layang Kemitir.
“Gadis cantik bermata biru!” seru Layang Kemitir seraya sunggingkan seringai genit yang menjijikkan Ratu Duyung. “Apa gunanya membela pemuda sableng yang bakalan menemui ajal menjadi bangkai tak berguna itu! Lebih baik kau ikut padaku. Kita bisa hidup bersenang-senang sepanjang umur dunia!”
“Pemuda jahanam! Berani kau bicara kurang ajar!” teriak Pendekar 212. Dia melompat dari balik pohon, siap menyerang Layang Kemitir. Tapi Ratu Duyung cepat menahan dadanya dan mendorong Wiro.
“Ho… ooo! Pendekar 212 Wiro Sableng? Ke-kasihmu atau istrimu?! Ha… ha… ha!”
Wiro menggeram marah sampai tubuhnya bergetar keras. Ratu Duyung sendiri tetap tenang walau dari hidungnya saat itu dia keluarkan suara mendengus. Sepasang matanya yang biru dan wajahnya yang cantik membersitkan hawa menggidikkan tapi dari mulutnya malah keluar suara tawa memanjang.
“Pemuda tak tahu diri! Baru memiliki ilmu se-dangkal comberan sudah bicara takabur setinggi langit! Kau mau melepaskan pukulan Merapi Meletus?! Silahkan! Aku mau lihat sampai di mana kehebatanmu!”
Ratu Duyung melintangkan cermin saktinya di depan dada. Pada saat itu juga hawa sakti mencuat keluar dari perutnya di bagian mana dia menyembunyikan Kitab Wasiat Malaikat. Hawa aneh ini lalu masuk ke dalam cermin sakti hingga benda itu memancarkan sinar menyilaukan.
Utusan Dari Akhirat sesaat jadi terkesiap melihat keangkeran cahaya yang keluar dari cermin bulat. Selain itu diam-diam dia merasa terkejut bagaimana Ratu Duyung tahu bahwa dia hendak melepaskan pukulan Merapi Meletus. Otak cerdik dan akal panjang seperti yang dimiliki Pangeran Matahari, walau kadarnya masih sangat rendah, mulai bekerja.
“Gadis cantik bermata biru: Aku kagum akan kecantikan dan keberanianmu.
Mungkin saat ini kau tidak menyukai diriku. Tapi kalau umur sama panjang siapa tahu kita kelak akan bertemu dalam satu jalinan cinta mesra. Ha… ha… ha!”
“Hemmm…. Begitu?!” ujar Ratu Duyung menyahut sementara Pendekar 212 Wiro Sableng merasa kupingnya panas dan hatinya geram sekali mendengar ucapan orang.
“Kalau aku boleh tahu sudah berapakah usiamu anak muda?”
“Eh, apa maksudmu gadis cantik?” tanya Layang Kemitir agak heran.
“Apa kau tuli? Orang bertanya berapa usiamu? Karena kemarin kami berdua melihat kau kencing berdiri. Kencingmu saja masih belum lempang, bagaimana mau bercinta dengan gadis secantik Ratu Duyung…” Yang berkata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Habis berkata begitu dia tertawa gelak-gelak.
Merah padam tampang Layang Kemitir mendengar ucapan Wiro itu. Dadanya laksana disulut api. Dalam keadaan seperti itu Pendekar 212 kembali menambahkan ejekan.
“Kalau kencing saja belum becus aku curiga jangan-jangan setiap kencing kau tidak pernah cebok!”
Ratu Duyung tertawa cekikikan. “Anak muda! Benar-benar memalukan! jangankan aku, kambing betina pun mungkin tidak suka padamu! Hik… hik… hik!”
“Bangsat keparat!” teriak Utusan Pari Akhirat dengan darah mendidih. Tangan kanannya diturunkan ke bawah. Ketika tangan itu hendak dihantamkannya ke arah Ratu Duyung dia tersirap kaget karena orang yang hendak diserang tak ada lagi di tempatnya semula. Yang masih tegak di tempat itu adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. “Hemmm…. ini kesempatan paling baik untuk menamatkan riwayat pemuda itu!” Maka Utusan Dari Akhirat segera menghantam ke arah Wiro.
Namun pada saat itu tiba-tiba dari samping terdengar suara teriakan keras disertai berkelebatnya satu bayangan hitam, menyusul kiblatan cahaya putih menyilaukan. Seperti diketahui meski memiliki ilmu kesaktian yang didapatnya dari kitab Matahari, Sumber Segala Kesaktian, namun pada dasarnya Layang Kemitir alias Utusan Dari Akhirat tidak memiliki kepandaian silat tinggi dan tenaga dalam inti. Begitu ada orang berkelebat ke arahnya dia bukannya mengelak malah dengan nekad coba menghantamkan pukulan Me-rapi Meletus ke arah orang yang menyerangnya. Padahal untuk itu dia harus memutar tubuh. Dalam ilmu silat setiap gerakan adalah waktu. Kalau gerakan tidak didasari kecepatan maka mudah sekali bagi lawan untuk mencuri kesempatan melakukan serangan. Sebelum Utusan Dari Akhirat sempat berbalik satu tendangan mendarat di bahu kanannya sebelum dia sempat melepaskan pukulan saktinya.
“Bukkk!”
Utusan Dari Akhirat mencelat sampai tiga tombak. Pemuda ini terkapar di tanah. Mengerang kesakitan. “Hancur bahuku…. Hancur bahuku…” katanya berulang kali.
Saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa mengekeh. “Apa yang terjadi di tempat ini?!” Ada orang bertanya. Lalu menyusul suara kaleng berkerontangan keras menusuk pendengaran. “Siapa yang barusan kena gebuk? Ha… ha… ha!”
Sesaat kemudian di tempat itu muncullah seorang kakek bungkuk berpakaian lusuh penuh tambalan. Dia menyandang sebuah buntalan di bahu kirinya. Tangan kanan memegang sebuah kaleng rombeng yang diguncang terus-menerus. Di kepalanya ada caping bambu yang masih baru. Di tangan kirinya orang tua ini memegang sebatang tongkat kayu.
Orang tua ini yang bukan lain adalah Kakek Segala Tahu adanya kerontangkan kalengnya tiga kau lalu berkata. “Hai, aku mau lihat! Siapa saja yang ada di tempat ini!”
Kakek Segala Tahu memandang berkeliling. Tentu saja kakek ini tidak bisa melihat apa-apa karena kedua matanya tertutup selaput putih alias buta! Tapi sambil senyum-senyum dia berkata. “Aku mencium bau pesing sangat santar. Sinto, apakah kau berada di sekitar sini? Bau pesingmu biasanya tidak sesantar ini. Apa ada orang lain di dekatmu? Kalau benar dugaanku maka orang itu adalah sahabat lama si Setan Ngompol!”
Di balik serumpun semak belukar Sinto Gendeng dan Setan Ngompol saling pandang. Kalau si nenek memaki dalam hati maka Setan Ngompol tak habis pikir bagaimana orang buta seperti Kakek Segala Tahu itu memiliki kemampuan untuk mengetahui siapa orang yang ada di dekatnya.
Kakek Segala Tahu mendongak sambil gosok-gosok telinga kirinya dengan ujung tongkat. “Ada seseorang enak-enakan duduk di atas pohon sebelah sana! Siapa kau adanya? Harap memberi tahu nama!”
Saat itu di atas cabang sebuah pohon jati terdengar suara orang menjawab. “Kek, aku si bocah konyol Naga Kuning!”
Kakek Segala Tahu tertawa mengekeh. “Ah, suaramu masih saja ceria. Tanganmu yang cidera tentu telah sembuh! Aku dengar ada musibah besar terjadi di tempat kediamanmu di dasar Telaga Gajahmungkur!” Orang tua ini kerontangkan kaleng rombengnya.
Dia mendongak ke atas. “Hari telah petang. Udara agak mendung. Tapi telingaku mencium bau yang sangat harum mewangi di tempat ini. Siapakah kau gerangan…?” Sepi. Tak ada yang menjawab. Tak ada gerakan.
“Ah, si cantik itu tak mau menjawab. Malu dia rupanya. Atau mungkin juga dia tak mau kehadirannya diketahui orang?” Kakek Segala Tahu tertawa gelak-gelak. Di balik pohon keladi hutan berdaun lebar Bidadari Angin Timur mendekam tak bergerak. Dia memang sengaja bersembunyi karena tidak ingin kehadirannya diketahui orang.
“Aku tahu masih ada beberapa prang di tempat ini. Jika kalian memang para sahabat mengapa tidak memberi tahu…?”
“Kek! Aku Wiro Sableng! Aku bersama Ratu Duyung. Dia yang barusan menghajar seorang pemuda berjuluk Utusan Dari Akhirat!”
“Ratu Duyung! Apa kabarmu?! Pendekar 212! Aku senang mendengar suaramu. Syukur kau masih hidup! Ha… ha… ha!” Orang tua ini memandang berkeliling. “Masih ada beberapa orang lagi di tempat ini. Sembunyi di balik pohon atau semak belukar! Tak jadi apa! tak jadi apa. Tapi semua kalian yang hadir di tempat ini! ingat malam nanti adalah malam bulan purnama empat belas hari! Malam ini adalah malam perjanjian. Kita berkumpul di Telaga Gajahmungkur sebelah barat! Nah, aku pergi sekarang! Sampai nanti malam!” Si kakek kerontangkan kalengnya tiga kali.
Semua orang yang ada di tempat itu menjadi terkesiap karena baru sadar bahwa malam nanti adalah malam bulan purnama empat belas hari. Ketika mereka memandang lagi ke depan Kakek Segala Tahu tak ada lagi di tempat itu.
Sementara itu di satu tempat yang terlindung Puti Andini memandang pada kakek botak di sampingnya. Si kakek gelengkan kepala. “Jangan kau berani membuka mulut! Kita tidak perlu memberi tahu kehadiran kita di sini. Aku punya firasat sesuatu akan terjadi di tempat ini. Kau dan Panji tetap di sini. Aku coba menyelidik ke balik pohon besar sana. Aku barusan melihat ada seseorang menyelinap di tempat itu.”
Tak jauh dari situ, di balik pohon keladi hutan berdaun sangat lebar Bidadari Angin Timur merasakan tubuhnya tegang ketika tiba-tiba di belakangnya ada satu suara berkata perlahan tapi jelas.
“Sahabat berwajah jelita. Waktu kita tidak lama. Ambil senjata ini. Berikan pada pemiliknya sebelum malam tiba….”
Sebuah benda yang memancarkan cahaya berkilauan tiba-tiba diangsurkan di depan Bidadari Angin Timur hingga gadis ini tersurut kaget.
“Kapak Naga Geni 212 yang dikabarkan lenyap!” desis Bidadari Angin Timur. Dia berpaling ke samping. Saat itu tepat di sebelahnya tegak seorang mengenakan pakaian serba kuning. Wajah dan rambutnya tertutup cadar berwarna kuning pula.
“Siapa kau…. Mengapa senjata ini ada padamu?” tanya Bidadari Angin Timur.
“Seperti kataku tadi. Kita tak punya waktu lama. Lekas simpan senjata ini. Sembunyikan di balik pakaianmu. Lekas ambil!”
Walau hatinya bimbang tapi karena, mengenali sekali bahwa senjata itu adalah Kapak Naga Geni 212 milik Wiro maka Bidadari Angin Timur segera mengambil dan menyimpannya di balik pakaiannya.
“Sekarang dengar. Di sekitar tempat ini ada beberapa orang bermaksud jahat. Lihat ke depan, ke arah semak belukar lebat….”
Bidadari Angin Timur menoleh ke arah yang dikatakan. Di jurusan itu dia melihat beberapa orang berpakaian aneh dan mukanya dicat merah, hijau dan hitam. “Mereka adalah orang-orang Lembah Akhirat. Mereka tengah memata-matai kita. Mereka punya maksud jahat! Mereka mencari Pedang Naga Suci 212! Bermaksud merampasnya!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Bidadari Angin Timur.
“Aku tahu kau memiliki gerakan laksana angin secepat kilat. Kita harus bertindak cepat merampas pedang mustika itu. Lalu….”
Bidadari Angin Timur terkejut. “Kau berada di pihak mana sebenarnya? Mengapa kau hendak merampas senjata orang?!”
“Bukankah kau ingin menolong Pendekar 212. Bagaimana kalau orang-orang Lembah Akhirat bergerak lebih cepat. Kita harus mendahului sebelum terlambat. Hanya Pedang Naga Suci 212 yang bisa menyembuhkan musibah yang menimpa diri orang yang kau cintai itu….”
Berubahlah paras Bidadari Angin Timur.
“Dengar, selain orang-orang Lembah Akhirat, ada orang lain yang juga punya niat jahat. Sekarang ikuti apa yang aku katakan. Aku akan melompat ke arah gadis bernama Puti Andini itu lalu membelok dan lari ke kanan. Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya mencuri perhatian, Kau mendatangi si gadis dari arah lain. Kau harus mampu mengambil Pedang Naga Suci 212 yang disembunyikan di balik kain. Sebelum tengah malam kita bertemu di barat Telaga Gajahmungkur. Tapi ingat. Jangan dulu bergabung dengan para tokoh! Kau harus bisa membawa Pendekar 212 ke satu tempat di mana ada dua pohon yang batang nya tumbuh saling bersilang. Bagaimana caranya tak perlu kubilang. Terserah akalmu yang panjang. Kau siap?”
Bidadari Angin Timur menatap mata bening orang bercadar kuning itu. “Pedang Naga Suci 212 bukan senjata sembarangan. Siapa yang berniat jahat bisa celaka sendiri. Paling tidak tangannya akan terkelupas sampai kelihatan tulang!”
“Aku tahu kau adalah seorang perawan suci. Maksud kita mengambil Pedang Naga Suci 212 bukan untuk merampas atau mencuri. Kita punya niat baik tersembunyi. Menolong seorang kekasih. Kekasihmu sendiri. Jangan ada keraguan di dalam hati!”
“Baik, aku siap. Tapi ingat satu hal. Jika kau menipu, lehermu akan kupatahkan lebih dulu!”
Orang bercadar tersenyum di balik cadarnya. Dengan tangan kanannya dibelainya pipi Bidadari Angin Timur seraya berkata. “Tidak ada yang paling bahagia di dunia ini selain menolong orang yang kau cintai! Nan, aku bergerak sekarang! Buang rasa bimbang yang masih mengambang!”

*
* *

TAMAT
Episode berikutnya :
DENDAM DALAM TITISAN

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog