Thursday, March 19, 2009

Api Cinta Sang Pendekar

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : 113 LORONG KEMATIAN

1

TANGAN kiri menggoyang kaleng butut hingga mengeluarkan suara berkerontang nyaring. Tubuh terbungkuk-bungkuk melangkah sementara tongkat putih di tangan kanan dipakai sebagai penuntun jalan.
"Dukkk!"
Tiba-tiba kaki kanan kakek buta bercaping lebar itu membentur satu benda tergeletak di jalan.
"Oala! Apa ini? Pasti bukan batang pohon yang menyandung kakiku!"
Si kakek sapukan tongkatnya di sekujur benda yang barusan menyandung kaki. "Aha! Ada manusia tergolek di jalanan. Lagi tidur, pingsan atau sudah jadi mayat?" Orang tua ini berjongkok. Tongkat diletakkan di tanah. Tangan kanan meraba-raba. "Dari debu yang menempel di pakaiannya, agaknya manusia ini sudah cukup lama tergeletak di sini. Mungkin dari tadi malam hemmm…" Tangan yang meraba terhenti di bagian kepala. "Aneh, kenapa kepalanya dibungkus? Ah….Jangan-jangan mahluk ini yang disebut Manusia pocong. Berarti aku di arah yang betul. Mulai dekat dengan sarang gerombolan jahat itu." Si kakek merasa terus. "Masih hidup…" ucapnya dalam hati begitu jari-jari tangannya merasakan denyutan nadi di lengan kiri orang. Dia kerontangkan kaleng rombeng dua kali. Rabaannya berpindah ke tangan kanan. "Eh, lengan kanan mengapa gontal-gantil begini rupa. Patah? Digebuk orang?"
Kakek bercaping tarik kain yang menutupi kepala dan untuk lebih meyakinkan dia dekatkan telapak tangannya ke hidung orang. Ada hembusan nafas pertanda orang itu memang masih hidup. Setelah meraba di bagian leher dan mengusap dada, kakek bercaping pergunakan ujung tongkatnya untuk menotok. Satu di pangkal leher, satu lagi di dada kiri menunggu sesaat sambil pasang telinga. Tak lama kemudian terdengar suara keluhan. Si kakek goyangkan kaleng di tangan kiri lalu buka capingnya. Tangan kanan menepuk-nepuk pipi orang. Mulutnya berucap. "Manusia pocong, apa yang terjadi dengan dirimu?"
Orang yang tergeletak di tanah perlahan-lahan buka kedua matanya. Dia melihat satu wajah tua berambut, berjanggut dan berkumis putih. Sepasang mata orangtua ini |uga berwarna putih menggidikan.
"Orang tua, aku tidak kenal kamu. Matamu buta, tapi bagaimana kau tahu aku manusia pocong?"
Si kakek menyeringai, goyang kalengnya hingga orang yang tergeletak di tanah mengerenyit menahan suara nyaring yang menusuk sakit ke liang telinga.
"Omongan tololmu memberi tahu sendiri siapa dirimu adanya. Ha…ha…ha!" Jawab si kakek lalu tertawa. "Manusia pocong, dengar ucapanku. Kalau kau mau membantu, aku akan sembuhkan lengan kananmu yang patah."
Orang yang tergeletak di jalan dan memang adalah Manusia pocong dari 113 Lorong Kematian melengak kaget. Dalam hati dia berkata. "Luar biasa tua bangka buta ini. Dia tahu tangan kananku patah!"
Lalu Si Manusia pocong ini bertanya. "Bantuan apa yang kau perlukan?" Sambil bicara dia tekankan siku kiri ke tanah, berusaha bangkit. Tapi ujung tongkat Si kakek yang ada di atas dadanya membuat dia tak mampu bergerak. Orang ini merasa dadanya seperti ditindih sebuah batu besar.
"Katakan, apa yang terjadi dengan dirimu?" Tanya Si kakek buta.
Tak ada jawaban.
"Kau tak menjawab. Apa yang ada dalam benakmu? Kau menyembunyikan sesuatu?"
"Aku jatuh ke jurang." Akhirnya memberi tahu Manusia pocong.
"Aneh! Jatuh ke jurang tapi mengapa menggeletak di jalan begini rupa?"
"Tadinya aku coba bunuh diri. Menghambur masuk jurang. Tapi tubuhku tersangkut di cabang pohon tak berdaun. Kalau sebelumnya aku ingin mati, waktu tergantung di cabang aku malah jadi takut mati. Aku berusaha memanjat tebing, naik ke atas jurang. Tenagaku terkuras. Aku tak ingat apa­apa lagi begitu berhaSil sampai di Sini." (Untuk jelasnya peristiwa bunuh diri Manusia pocong Ini baca Bab 7 Episode sebelumnya berjudul "Pernikahan Dengan Mayat")
"Aneh kalau ada Manusia pocong mau bunuh diri. Lalu mengapa tanganmu bisa patah?"
"Aku diberi tugas oleh Yang Mulia Ketua…."
"Yang Mulia Ketua Siapa itu?" tanya Si kakek walau dia sudah bisa menduga duga karena telah pernah mendengar sebelumnya
"Dia adalah Ketua Barisan Manusia pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian."
Si kakek goleng-goleng kepala "Hebat sekali," katanya. Lalu kaleng di tangan km digoyang dua kali. "Apa masalahnya sampai kau nekad bunuh diri?"
"Aku takut sekali. Aku tidak dapat melaksanakan tugas dari Sang Ketua. Lebih baik bunuh diri dari pada kembali ke markas, disedot darah dan dicopot jantung!"
"Tugas apa yang diberikan oleh Ketuamu?" Tanya kakek bercaping.
"Merampas sebuah kain putih dari tangan seorang bertubuh gemuk luar biasa. Ternyata dia adalah tokoh rimba perSilatan berjuluk Raja Penidur."
Jawab Si Manusia pocong. Tangan kirinya meng­ambil kain putih penutup kepala yang tadi dibuka Si kakek lalu dipakaikan untuk menutup kepala dan wajahnya kembali.
Mendengar ucapan orang, Si kakek mendongak ke langit lalu tertawa mengekeh. "Pasti Raja Penidur yang mematahkan tangan kananmu! Ha…ha…ha."
"Apa yang lucu? Mengapa kau tertawa?" tanya Manusia pocong, jadi geram.
Dari dalam capingnya kakek buta keluarkan satu gulungan kecil kain putih. Gulungan dibuka lalu kain digoyang-goyang di atas wajah Manusia pocong.
"Kain putih ini yang kau maksudkan?"
Manusia pocong tersentak kaget. Melotot dan berusaha bangkit. Tapi lagi-lagi dorongan ujung tongkat yang terbuat dnn tulang putih membuat punggungnya terhenyak ke tanah.
“Bagaimana kain itu bisa berada di tanganmu? Temanku harus melepas nyawa dan aku menderita cidera berat untuk dapatkan kain itu. Kakek buta, Siapa kau ini adanya?"
Sebagai jawaban kakek buta goyangkan kaleng rombengnya. Dia baru berhenti setelah Si Manusia pocong berteriak-teriak karena liang telinganya seperti mau jebol.
"Siapa aku tidak penting. Bantuanmu lebih penting. Dengar, aku akan obati lengan kananmu yang patah. Asal kau berjanji mau mengantarkanku ke markasmu."
Si Manusia pocong kaget, terdiam. Tapi otaknya bekerja.
"Hai, apa jawabmu?"
"Kalau cuma mengantarkan apa susahnya. Cepat saja mengobati tanganku. Dan tolong, ujung tongkatmu itu jangan lagi dipakai menindih dadaku."
"Begitu?" Si kakek menyeringai dan masukkan gulungan kain putih ke dalam caping. Lalu caping dikenakan di atas kepala. "Ulurkan tangan kananmu!"
Si kakek berkata.
Dengan kening mengerenyit dan muka keringatan Manusia pocong ulurkan tangan kanannya yang patah. Ujung tangan dan pergelangan ke bawah mengambai-ngambai. Sakitnya bukan main. Dalam keadaan seperti itu Si kakek usap-usapkan ujung tongkat putihnya pada sekujur lengan kanan yang entah. Tiba-tiba tongkat itu dipukulkan ke tangan orang, Si Manusia pocong menjerit setengah mati. Tubuhnya sampai tersentak dua jengkal ke atas. Namun anehnya tangan kanan itu menjadi lurus, tulang yang patah bersambung kembali!
Si kakek kerontangkan kaleng rombengnya sambil tertawa-tawa.
Manusia pocong peiotkan mnta, usap-usap tangan kanannya dengan tangan kiri. Lalu saking tak percaya tangan kanan itu ditumbuk-tumbukkan ke tanah.
"Duk! Duk! Duk!"
Tanah bergetar. Sama sekali tak ada rasa sakit. Tangan yang tadi patah benar-benar sembuh utuh!
"Luar biasa! Orang tua. aku sangat berterima kasih…."
"Sekarang bangun. Giliranmu menolongku. Saatnya kau mengantarkan aku ke markasmu. Aku ingin ngobrol dengan yang kau sebut Yang Mulia Ketua itu."
"Pasti, tentu! Aku akan antarkan kau ke sana sekarang juga." Suara ucapan Manusia pocong bersemangat sekali.
Si kakek jauhkan tongkat tulangnya dari dada Manusia pocong. Orang ini cepat berdiri. Dia tepuk­tepuk debu yang melekat di pakaiannya. Rapikan kain putih penutup kepala.
"Orang tua, mari. Biar kutuntun.’ Kata Si Manusia pocong sambil pegang lengan kanan kakek buta bercaping.
Tapi begitu lengan Si kakek berada dalam cekalannya, mendadak sontak Manusia pocong itu membuat gerakan demikian rupa hingga tubuh Si kakek mencelat ke atas dan Siap dibanting remuk ke tanah! Namun apa yang terjadi membuat Manusia pocong melengak. Entah bagaimana sosok yang hendak dibanting itu terlepas dari cekatannya. melesat ke udara lalu melayang turun sambil tertawa haha-hihi. Kaget dan juga geram, selagi tubuh Si kakek masih mengapung kaki ke atas kepala ke bawah. Manusia pocong hantamkan dua jotosan kiri kanan.
"Bukk! Bukkk!"
Dua pukulan itu jelas mengeluarkan suara bergedebuk keras. Namun tubuh Si kakek tidak bergeming sedikitpun. Manusia pocong serasa memukul tumpukan kapas’
"Setan alas! Dengan pukulan sakti ini masakan tidak remuk tubuhmu!" Teriak Manusia pocong marah. Tangan kanannya bergetar hebat pertanda dia hendak melancarkan satu pukulan mengandung tenaga dalam tinggi.
Tangan bergerak melepas pukulan.
"Wuttt!"
Satu gelombang angin menerpa dahsyat. Si kakek keluarkan seruan keras, jungkir balik di udara. Namun sapuan angin pukulan membuat capingnya terlepas dan melayang jatuh. Melihat ini secepat kilat Manusia pocong sambar caping yang melayang jatuh lalu jejakkan kaki di tanah, membuat lompatan dan langsung ambil langkah seribu. Dari mulutnya terdengar seruan. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!’
"Hah! Ucapan Sinting apa itu?" maki kakek mata putih.
Jelas, rupanya sejak tadi Manusia pocong ini sudah mengincar gulungan kain putih yang disimpan di dalam caping. Yang ada dalam benaknya, jika dia dapatkan kain putih itu, dia bisa kembali ke markas menemui Yang Mulia Ketua Barisan Manusia pocong 113 Lorong Kematian, selamat dari hukuman maut. Dan pasti akan mendapat imbalan besar. Namun dia tidak tahu kalau saat itu berhadapan dengan tua bangka yang berjuluk Kakek Segala Tahu. Yang dalam rimba persilatan tanah Jawa terkenal sebagai salah seorang tokoh Silat aneh dan konon sulit dijajagi ketinggian ilmu Silat serta kesaktiannya.
Di udara Si kakek berjungkir satu kali. Enteng sekali dia melayang turun dan tahu-tahu sepasang kaki sudah menginjak tanah. Setelah batuk-batuk sambil usap dadanya yang tadi dihantam orang, dia keluarkan ucapan.
"Heran, masih ada saja manusia yang diberi susu membalas dengan air tuba. Tipu….tipu!
Kebaikanku dibalas dengan keculasan! Sayang… sayang sekali."
Kakek bermata putih buta ini kerontangkan kalengnya dua kali. Lalu tubuh atasnya bergerak condong ke belakang. Bersamaan dengan itu kaki kanannya ditendangkan ke depan. "Sebelumnya kau gagal mati bunuh diri. Sekarang Silahkan mengulang kembali! Hik..hik..hlk."
“Kraaakk!"
Terdengar suara tulang patah.
Jarak antara Si kakek dan Manusia pocong saat itu terpisah sekitar lima langkah. Walau kaki kanan yang menendang jelas-jelas tidak mengenai atau menempel di sasaran tapi luar biasanya saat itu juga kelihatan bagaimana tubuh Manusia pocong mencelat ke depan, terlempar ke arah jurang batu. Caping yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke anah di depan kaki Si kakek.
Suara jeritan panjang menggema di dalam jurang sewaktu Manusia pocong itu melayang jatuh ke dasar jurang lalu sunyi.
Kakek mata buta tarik nafas panjang, geleng­geleng kepala. Dengan ujung tongkat tulangnya dia mengedut pinggiran caping. Benda ini melayang dan bertengger di atas kepalanya.
"Telaga Sarangan…." Kakek Segala Tahu berkata sambil benahi buntalan di punggungnya lalu angkahkan kaki. "Aku harus pergi ke utara Telaga
Tangan. Mumpung masih pagi berangkat saja
sekarang. Aku harus menikahkan seseorang disana. Siapa yang aku nikahkan. Dengan Siapa? Raja Penidur? Ada-ada saja kelakuannya mengerjai diriku! dan! Ini pekerjaan gendeng! Hik…hik..hik.’ Orang tua ini tutup ucapannya dengan goyangkan kaleng, rombeng di tangan kiri.
Begitu suara berisik sirap, alis Si kakek berjingkat. mata buta berputar, Telinganya menangkap suara orang bertari disertai suara menangis.

2

Belum habis heran Si kakek tiba-tiba ada suara anak lelaki berteriak
“Tolong!"
Suara anak lelaki yang berian menangis dan berteriak mendatangi ke arah Si kakek
"Bocahl Siapa kau Ada apa?”
"Aku dikejar orang Mereka mau membunuhku!"
Anak lelaki yang berlari dan menangis sampai di hadapan Kakek Segala Tahu dan gelungkan dua tangannya ke pinggang Si orang tua Mengharapkan perlindungan sambil memandang ke belakang dengan wajah penuh ketakutan
Kakek Segala Tahu usap kepala anak itu.
"Anak, tenang saja Jangan takut. Katakan Siapa dirimu dan Siapa yang mengejarmu."
"Nama saya Magiyo Saya dikejar mahluk pocong penghuni lorong maut Mereka membunuh nenek saya. Mereka mengejar saya. Mau membunuh saya Kek, saya takut sekali Tolong..’
Kakek Segala Tahu mendongak ke langit Sepasang telinga dipentang.
"Anak ini tidak bohong Aku mendengar suara beberapa orang berlari ke arah Sini. Hemmm… Tingkat kepandaian mereka tidak bisa dibuat main. Masih ada waktu….masih ada waktu mencari keterangan."
Si kakek usap kembali kepala anak bernama Magiyo lalu berkata.
"Bocah, tak perlu takut Coba ceritakan. Pendek­pendek saja. Siapa nenekmu. Mengapa mereka membunuhnya. Bagaimana kau bisa berada di lorong maut itu. Lalu mengapa manusia-manusia pocong itu ingin membunuhmu
"Pertanyaanmu banyak sekali Kek. Saya….Saya dan nenek diculik. Nenek saya Paimah, dukun beranak di Sarangan…."
"Ah. pasti ada yang mau melahirkan di lorong maut itu. Tidak heran. Bukankah selama ini kabarnya banyak perempuan bunting yang diculik? Bocah. teruskan ceritamu…"
"Saya berusaha melarikan diri dari lorong…"
"Kata orang sekali masuk ke dalam lorong sulit bisa keluar. Aneh kalau bocah sebesarmu mampu keluar dari tempat itu.’
"Saya sembunyi di salah satu sudut lorong yang gelap. Setiap ada Manusia pocong lewat saya ikuti. Tiga minggu lebih saya mendekam di dalam lorong. Pagi tadi ada satu manusia pocong keluar dari dalam lorong. Saya ikuti dan saya berhasil keluar…"
"Kalau kau tidak dusta maka kau adalah anak cerdik luar biasa. Bagaimana kau bisa bertahan hidup selama tiga minggu. Apa yang kau makan?"
"Di dalam lorong, dindingnya penuh lumut. Itu yang saya makan. Mula-mula saya muntah. Sakit perut. Tapi tidak berak. Lama-lama jadi biasa."
‘Kau tidak berak katamu? Selama tiga minggu? Ha..ha. Ku satu keanehan…."
"Kek, orang yang mengejar sudah kelihatan. Di sebelah sana…"
"Ya, ya….Aku tahu. Lekas berdiri di belakangku." Kata Kakek Segala Tahu.
Anak lelaki usia enam tahun itu segera lakukan apa yang dikatakan.
"Wuuttt!"
Sebuah benda tiba-tiba sekali melayang di udara.
Kakek Segala Tahu gerakkan tangan kanan yang memegang tongkat tapi terhalang oleh sosok bocah yang tengah melangkah di arah sisi kanannya. Di lain saat tiba-tiba anak ini menjerit keras. Tubuhnya terhuyung ke depan. Dia coba merangkul pinggang Si kakek tapi luput. Magiyo terkapar menelungkup di tanah. Sebuah bendera berbentuk segi tiga, basah oleh cairan berwarna merah menancap amblas di batok kepala sebelah belakang, nyaris tembus sampai di kening! Bendera Darah!
"Magiyo!" seru Kakek Segala Tahu. Telinga dipentang sambil menghirup dalam-dalam. "Bau amis darah…" ucap Si kakek dalam hati. Tongkat putih diusapkan kesekujur tubuh Magiyo yang tertelungkup di tanah. Mulai dari kaki dan baru berhenti waktu membentur gagang kayu Bendera Darah yang menancap di kepala anak itu. (Mengenai kisah Magiyo bersama neneknya, seorang dukun beranak dari Sarangan bernama Paimah, Silahkan baca Episode sebelumnya berjudul "Bendera Darah")
Kakek Segala Tahu dongakkan kepala. Kaleng rombeng digoyang sampai tiga kali. Dalam hati dia berkata. "Manusia-Manusia pocong, pasti mereka…" Dugaan Si kakek tidak keliru. Tiga orang yang muncul adalah tiga Manusia pocong dari 113 Lorong Kematian. Begitu suara berisiknya kerontangan kaleng lenyap. Kakek Segala Tahu keluarkan ucapan.
"Kejam dan keji! Iblis sekalipun tidak akan membunuh anak kecil begini rupal"
Dari arah depan ada suara orang berdecak leletkan lidah.
"Orang tua bercaping bermata buta putih. membekal kaleng rombeng. Ketahuilah setiap kematian ada pangkal sebabnya!"
"Hemm begitu?" Kakek Segala Tahu tetap dongakkan kepala. Din kerahkan kekuatan pendengaran serta perasaan. Selain orang yang barusan bicara, tiga langkah di kiri kanannya saat itu ada orang kedua dan ketiga. "Kalian bertiga! Coba katakan apa pangkal sebab kesalahan bocah ini hingga kalian tega membunuhnya?!"
Orang yang tadi bicara dan dua kawannya sama­sama terkejut. Bagaimana kakek buta ini tahu kalau mereka ada bertiga. Matanya jelas putih buta. Lalu dengan apa dia melihat?
"Kami punya alasan. Tapi tidak perlu memberi tahu tua bangka sepertimu1′
"Tolol sekalil" damprat Si kakek.
"Kami tolol?!" Orang yang menyahuti kembali leletkan lidah lalu bersama dua temannya tertawa jelak-gelak.
"Tolol dan pengecut!" Kakek Segala Tahu memaki.
"Tua bangka! Tutup mulutmu!" Orang di sebelah kanan Kakek Segala Tahu membentak.
Kakek Segala Tahu ganda tertawa. Kepala masih mendongak di angkat tangan kanannya, tudlngkan ujung tongkat tulang ke arah orang yang barusan membentak.
"Mahluk dajal bermulut besar! Aku perintahkan padamu untuk mengurus jenazah bocah Ini. Kuburkan dia secara baik-baik!"
"Tua bangka Sinting! Siapa sudi turut perintahmu!" Teriak Si Manusia pocong.
“Mahluk pocong, apapun kau adanya, nasibmu bakal jelek. Kau akan mati tanpa kubur!"
Sambil berkacak pinggang Manusia pocong di sebelah kanan tertawa gelak-gelak. Dua kaki bergeser maju, tangan kanan bergerak. Tahu dirinya akan diserang, Kakek Segala Tahu acungkan tongkat tulang.
"O-oo! Tunggu dulu! Biar aku yang kau bilang Sinting ini diberi kesempatan untuk mengubur jenazah bocah teraniaya ini!"
Habis berkata begitu Kakek Segala Tahu tancapkan dalam-dalam tongkat tulang ketanah lalu tongkat digerakkan membuat garis empat persegi panjang. Ketika tongkat disentakkan ke atas. tanah berhamburan membentuk gundukan di samping kiri kanan dan di tempat itu kini menganga sebuah lobang.
Tiga Manusia pocong untuk sesaat lamanya jadi terkesiap bahkan saling pandang. Yang tadi didamprat bakal mati tanpa kubur mendadak saja kuduknya terasa dingin Sementara itu Kakek Segala Tahu susupkan tongkatnya ke bagian bawah perut mayat anak yang tertelungkup di tanah. Perlahan­lahan jenazah Magiyo diangkat. Lagi-lagi membuat tiga manusia pocong tampak melengak. Walau Magiyo adalah seorang anak kecil, tapi bagaimana tongkat tulang yang kelihatan seperti rapuh mampu dipergunakan untuk mengangkat beban seberat itu.
Jenazah Magiyo diturunkan dan sampai di dasar lobang. Kakek Segala Tahu kembali unjukkan kehebatan. Dengan ujung tongkat dia membuat gerakan menyapu ke arah lobang. Gundukan tanah di sekitar lobang didorong menutupi jenazah, membentuk sebuah kuburan!
"Mahluk-mahluk tolol! Begitu caranya mengurus dan menghormati jenazah manusia!" Kakek Segala Tahu mendamprat.
Manusia pocong yang berdiri di antara dua temannya menyeringai di balik kain putih penutup kepala.
"Terima kasih kau telah menyuguhkan satu pertunjukan hebat! Sekarang saat kami untuk mengurus dan menghormati dirimu!" Lalu Manusia pocong ini gesekkan ujung ibu jari dan jari tengah tangan kanannya hingga mengeluarkan suara keras. Mendengar tanda ini dua Manusia pocong yang berada di kiri kanan Si kakek keluarkan seruan lantang.
"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"
Kakek Segala Tahu tertawa dan cibirkan bibir mendengar ucapan itu.
Dua Manusia pocong berkelebat lancarkan serangan. Serangan didahului dengan melemparkan dua Bendera Merah. Dua Bendera Merah ini dengan mudah dipukul mental oleh Kakek Segala Tahu dengan tongkat tulang putih. Tongkat di tangan kanan, kaleng rombeng dikerontangkan di tangan kiri, Kakek Segala Tahu hadapi lawan yaitu dua Manusia pocong yang ternyata memiliki kepandaian tinggi. Selama lima jurus orang tua ini menjadi bulan-bulanan serangan yang sangat berbahaya.
Manusia pocong ketiga yang bukan lain adalah Wakil Ketua Barisan Manusia pocong 113 Lorong Kematian geleng-geleng kepala. Rasa kagum melihat semua kehebatan Si kakek justru membuat dia merasa kawatir.
Memasuki jurus ke tujuh Kakek Segala Tahu putar tongkat putihnya sambil berkata. "Aku jarang berkelahi! Berkelahi membuat tubuh rongsokan ini pegal sakit-sakit! Hai! Aku bosan bercanda dengan orang-orang tolol seperti kalian!" Tongkat putih lalu berubah menjadi titiran, mengeluarkan suara berdesing menggidikan. Jubah dan kain putih tutup kepala dua Manusia pocong berkibar-kibar.
"Lihat tongkat!" Tiba-tiba Kakek Segala Tahu berseru.
"Wuuuttt!"
Suara deru tongkat tulang disusul dengan jeritan Manusia pocong di sebelah kanan. Kakek Segala Tahu .tertawa mengekeh. Ujung tongkatnya menancap di leher Manusia pocong itu sampai sedalam satu jengkal. Ketika tongkat diangkat ke atas. sosok Manusia pocong ikut terangkat dan berayun-ayun. Sewaktu tongkat ditarik, darah langsung menyembur dari lobang besar di leher, membasahi kain penutup kepala dan jubah putih.
"Aku bilang apa! Kau bakal mati tidak berkubur!"
Sosok tubuh yang tengah terhuyung-huyung itu digebuk di bagian kaki. Tak ampun lagi Manusia pocong itu jatuh tergelimpang. Dua kaki melejang­lejang beberapa kali lalu diam pertanda nyawanya amblas sudah!
Melihat kematian temannya, Manusia pocong di sebelah kiri berteriak marah. Dari jarak tiga langkah dia lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Di depan sana Manusia pocong ke tiga tidak tinggal diam. Mulutnya keluarkan suara suitan seolah memberi tanda. Tangan kanan mengeruk ke saku jubah. Manusia pocong yang hendak menyerbu cepat membuat langkah surut sambil tutup jalan pernafasan. Kakek Segala Tahu bersikap waspada. Ketika dia hendak menghajar lawan di sebelah kiri tiba-tiba dia mencium bau sesuatu. Orang tua ini cepat menutup hidung. Tapi terlambat. Sejenis asap beracun yang disemprotkan Manusia pocong ke tiga keburu masuk ke dalam saluran pernafasannya. Tubuhnya mendadak limbung. Kaki seperti tidak menginjak tanah lagi. Dia masih sempat kerontangkan kaleng rombengnya satu kali tergelimpang miring di tanah. Tongkat masih tergenggam di tangan. Caping dan kaleng butut terlepas jatuh.
Wakil Ketua Manusia pocong rangkap dua tangan di atas dada.
"Sudah lama aku mendengar kehebatan kakek satu ini. Baru kali ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Yang Mulia Ketua benar. Kalau tidak mempergunakan asap beracun pelumpuh syaraf akan sangat sulit membekuk dedengkot rimba persilatan ini!" Setelah berikan perintah pada Satria Pocong anak buahnya agar segera memanggul Kakek Segala Tahu dia lalu dekati mayat Manusia pocong yang terbujur di jalanan. Sekali tendang saja mayat itu terlempar belasan langkah dan akhirnya jatuh masuk ke dalam jurang.

3

KAKEK Segala Tahu terbujur di atas tempat tidur batu di dalam kamar tempat dia disekap. Untuk beberapa saat dia tergeletak tak bergerak, masih tidak sadarkan diri akibat menghisap asap beracun Tak selang berapa lama di kejauhan sayup-sayup terdengar suara orang menyanyi. Entah suara nyanyian ini. atau mungkin juga pengaruh asap beracun yang perlahan sirna, Si kakek mulai siuman. Dua kaki bergeraki Tapi gerakannya tertahan. Dia geser dua tangan. Sama, gerakannya juga tertahan
"Ada apa dengan diriku ? Aku mendengar suara nyanyian. Apakah saat ini aku sudah mati dan berada di sorga?" Si kakek membatin dalam hati tertawa membatin sendiri Mulutnya berucap. "Tua bangka rongsokan seperti aku, banyak dosa seumur­umur. Mana mungkin masuk sorga! Ha…ha…ha!" Lalu orang tua ini nyalangkan sepasang matanya yang putih buta. Dia coba lagi menggerakkan tangan dan kaki, berusaha bangun. Tapi tidak mampu. "Ada suatu pada pergelangan tangan dan pergelangan kakiku! Setan alas. Siapa yang mengikat aku?!"
Kakek ini kerahkan tenaga dalam dan hawa sakti ke pergelangan tangan dan kaki untuk menjebol putus ikatan.
“Dess!"
"Dess!"
Dari pergelangan tangan dan kaki Si kakek mengepul asap kelabu.
"Oala! Ilmu Sihir apa yang menguasai diriku?l" ucap Kakek Segala Tahu.
Saat itu di dalam ruangan tiba-tiba menghambur gelak tawa keras.
"Ah rupanya ada orang lain di tempat ini…." membatin Kakek Segala Tahu.
"Tua bangka goblok!" Ada suara orang memaki. "Tidak ada ilmu Sihir yang menguasai dirimu! Tangan dan kakimu berada dalam keadaan terikat! Kau boleh punya ilmu setinggi langit sedalam lautan! Tangan dan kakimu tak akan bisa bebas! Kau sudah kena ringkus! Tangan dan kakimu diikat dengan benang sutera halus. Itulah yang disebut Benang Kayangan."
Kakek Segala Tahu melengak, tapi hanya sesaat.
Dia terdiam sambil berpikir pikir. Namun jalan pikirannya masih belum jernih akibat pengaruh asap beracun.
"Orang yang barusan bicara dan tertawa. Siapa dirimu? Barusan kau menyebut Benang Kayangan. Aku rasa-rasa…."
"Hidup tidak bisa hanya merasa-rasa. Kau lihat sendiri akibatnya. Terlalu banyak merasa-rasa akhirnya nasibmu berakhir di tempat celaka ini! Disini kau bakal melepas nyawa!"
"Tempat celaka Melepas nyawa? Memangnya aku berada dimana?’
"Kau berada dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian!"
"Ahh…. Kakek Segala Tahu lepas nafas panjang. "Apakah saat ini aku berhadapan dengan Manusia pocong yang disebut Yang Mulia Ketua?"
"Tahu juga kau siapa pemimpin kami! Tunggu saja. Sebentar lagi Yang Mulia Ketua akan datang ke tempat ini. Dia akan menyuruh sedot seluruh kekuatan tenaga dalam dan ilmu kesaktian yang ada dalam dirimu. Tubuhmu sudah rongsokan. Tidak pantas menguasai semua kehebatan itu!"
Kakek Segala Tahu tidak perdulikan ucapan orang. Dia berusaha memusatkan ingatan pada satu hal. Mulutnya berkata. "Benang Kayangan…Ah! Aku ingat sekarang. Benda itu hanya dimiliki oleh satu orang. Kalau aku tidak salah dia…."
Tiba-tiba pintu besi setebal setengah jengkal di samping kanan ruangan batu terbuka. Tiga Manusia pocong masuk ke dalam. Dua bertubuh tinggi besar, yang ketiga agak pendek. Orang yang barusan bicara dengan Kakek Segala Tahu keluarkan ucapan lantang.
"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"
"Hik….hik…hik!" Kakek Segala Tahu tertawa geli. "Lagi-lagi ucapan itu! Ah, rupanya Yang Mulia Ketua sudah berada di Sini. Sayang tangan dan kakiku dalam keadaan terikat hingga tak bisa memberi salam hormat!"
"Wakil Ketua!" Manusia pocong tinggi besar yang berada di sebelah depan berkata. "Kita tak perlu berbasa basi dengan tua bangka rongsokan ini. Lekas geledah manusia satu ini. Temukan benda yang kita perlukan itu!"
Manusia pocong tinggi besar kedua yang berdiri di belakang Sang Ketua membungkuk hormat. Dia memberi tanda pada Manusia pocong di sampingnya. Wakil Ketua dan anak buahnya segera menggeledah sekujur tubuh Kakek Segala Tahu. Baju dan celana rombeng disingkap. Tubuh Si kakek dibolak balik. Rambut putih panjang dan janggut disingkap. Tapi apa yang mereka cari tidak ditemukan.
"Telanjangi dia! Pasti dia menyembunyikan benda itu di salah satu bagian tubuhnya!" Perintah Sang Ketua.
"Hai! Kalian semua sudah pada gila apa?! Apa enaknya melihat aku telanjang! Aku bukan perempuan muda bertubuh putih montok!"
"Plaakk!"
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Kakek Segala Tahu membuat orang tua ini sesaat seperti kelojotan tapi kemudian malah menyeringai dan tertawa.
"Kalau kau tidak hentikan tawamu, akan kurengkah batok kepalamu!" Sang Ketua mengancam.
"Apa yang kalian cari sampai-sampai mau menelanjangi diriku?"
"Dimana kau sembunyikan segulung kain putih?!"
"Ah, mengapa aku mendadak menjadi tuli, budek…" Kakek Segala Tahu berucap. "Apa…apa tadi yang kau tanyakan?"
"Setan tua! Jangan berpura-pura tuli! Jawab pertanyaan Ketua kami. Dimana kau Simpan gulungan kain putih yang kau dapat dari Raja Penidur?" Yang bicara keras kali ini adalah Wakil Ketua Manusia pocong.
"Apa? Kau mau menyuruh aku tidur? Dengan Siapa? Dengan perempuan-perempuan bunting itu? Ha..ha…Tak pernah aku bayangkan…"
"Gulungan kain pulih! Bukan tidur!" Teriak Wakil Ketua.
"Ooo, tubuh perempuan itu putih. Aku memang paling suka perempuan putih. Apa lagi kalau gemuk banyak lemaknya. Ha..ha..ha! Padahal….ha…ha! Aku disuruh menikahkan orang! Hai, apakah Yang Mulia Ketua hendak kawin? Dengan Siapa? HA…ha… Pasti aku bakal menerima imbalan besar kalau menikahkan Yang Mulia Ketua! Ha…ha…ha!"
Saking marahnya Yang Mulia Ketua kepalkan tinju kanan, Siap hendak menjotos kepala Kakek Segala Tahu. Kalau ini sampai kejadian kepala Si kakek akan pecah dan nyawanya tak akan tertolong agi. Tapi tiba-tiba saja tangannya dipegang oleh seseorang. Orang ini adalah yang tadi pertama kali berada dalam ruangan batu tempat Kakek Segala Tahu disekap.
"Yang Mulia Ketua, tua bangka satu ini tidak bodoh. Aku tahu betul dirinya. Akalnya banyak. Walau disiksa sampai tubuhnya lumat dan otaknya terbongkar tak bakalan dia mau bicara. Malah salah­salah dia bisa memberi keterangan menyesatkan kita. Kita tidak akan menemukan gulungan kain itu di tubuhnya. Pasti dia menyembunyikan di tempat lain. Setahuku biasanya dia memakai caping, membawa kaleng rombeng. Aku tidak melihat dua benda itu. Bukan mustahil dia menyembunyikan di dalam kaleng atau dibalik caping."
Yang Mulia Ketua berpaling pada wakilnya. Sepasang mata dibalik kain putih penutup kepala menyorotkan Sinar angker. "Aku tahu, apa yang dikatakan Dewa Tuak betul adanya. Dimana caping dan kaleng rombeng itu?"
"Agaknya, mungkin tertinggal di tempat kami meringkusnya."
"Lalu apa yang akan kau perbuat? Hanya bertambah tolol dengan tetap berada di tempat ini?!" Bentak Sang Ketua pada wakilnya.
"Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Saya dan satria pocong akan kembali ke tempat itu. Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintail Namun ada sebuah tongkat sakti milik kakek ini…" Dari balik punggung jubah putihnya. Wakil Ketua Barisan Manusia pocong keluarkan tongkat putih terbuat dari tulang. Benda ini segera diserahkan pada Sang Ketua.
"Pencuri busuk! Lekas kembalikan tongkatku!" Kakek Segala Tahu berteriak.
"Hanya tongkat tulang butut dan rapuh! Tak ada gunanya!" ucap Yang Mulia Ketua.
Wakil Ketua segera mendekati pimpinannya. Setengah berbisik dia menceritakan kehebatan tongkat itu. Dengan tongkat butut dan kelihatan rapuh itu Kakek Segala Tahu mengangkat tubuh manusia. Dengan benda itu pula dia menggali tanah untuk mengubur bocah bernama Magiyo.
"Jadi sudah kalian bunuh anak itu?" tanya Sang Ketua pula.
"Sesuai perintah Yang Mulia," jawab Wakil Ketua.
Yang Mulia Ketua perhatikan tongkat tulang putih yang dipegangnya. "Aku tidak percaya tongkat ini begitu sakti," ucap Sang Ketua. "Tidak mustahil dia menyembunyikan gulungan kain putih dalam rongga tongkat!"
"Kraakkk…..kraakkk!"
Terdengar suara berderak patah berulang kali. Di lain kejap Sang Ketua telah patahkan tongkat tulang itu menjadi tujuh potongan. Setiap patahan diperiksa. Kosong semua. Gulungan kain putih tidak ada dalam rongga patahan tulang. Dengan geram Yang Mulia Ketua lemparkan tujuh patahan tongkat ke dinding batu. Luar biasa! Tujuh patahan tongkat amblas hampir sama rata dengan dinding batu! Kesunyian menggantung dalam ruangan Wakil ketua dan anak buahnya terdiam kagum menyaksikan kehebatan tenaga dalam pimpinan mereka. Hanya Dewa Tuak yang walau ikutan diam tapi kelihatan seperti tak acuh.
Tiba-tiba kesunyian dalam ruangan batu pecah oleh gelak tawa Kakek Segala Tahu.
"Tua bangka jahanam! Apa yang lucu! Mengapa kau tertawa?!" Bentak Yang Mulia Ketua.
"Tidak ada yang lucu!" Sahut Kakek Segala Tahu.
Hanya saja…"
"Hanya saja apa?!" bentak Sang Ketua.
"Banyak orang gila di tempat ini. Mereka semua akan mati konyol dalam kegilaan itu! Dan diantara mereka akan ada tulangnya aku ambil pengganti tongkatku! Ha…ha…ha!"
"Begitu?" Sang Ketua usap-usap dagunya yang tertutup kain putih. Dia melangkah mendekati tempat tidur batu. "Kalau begitu biar kepalamu kuhancurkan lebih dulu!"
"Yang Mulia Ketua, tahan!" Dewa Tuak bergerak menghalangi. "Jangan sampai terpancing oleh Siasat tua bangka satu ini. Kita lebih banyak ruginya kalau dia mati lebih cepat. Sesuai rencana"
"Sudah! Menjauh sana!" Ucap Yang Mulia Ketua sambil mendorong Dewa Tuak hingga terjajar ke pintu beSi.
Di atas pembaringan batu kembali Kakek Segala Tahu tertawa-tawa.
Setelah Wakil Ketua dan anak buahnya tinggalkan tempat itu. Sang Ketua ingat sesuatu dan berpaling pada orang tua yang berdiri di samping kiri. "Dewa Tuak," tegurnya. "Apa kau sudah memberikan minuman selamat datang pada tua bangka ini?’
"Belum Yang Mulia Ketua. Bukankah kita perlu lebih dulu mengorek keterangan dari dirinya? Bagaimana mungkin dia bicara kalau otaknya dicuci dan ingatannya lenyap? Yang Mulia tak usah kawatir. Dia tak bakal bisa lolos. Tidak ada satu manusiapun yang mampu menjebol ikatan Benang Kayangan itu."
"Aku percaya padamu. Tapi tidak selalu. Jika dia sampai kabur, nyawa busukmu imbalannya!"
"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang wajib dilakukan. Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai."
Yang Mulia Ketua sesaat memandang pada Kakek Segala Tahu yang terbujur di atas ketiduran batu. "Tua bangka keparat ini tadi menyebut-nyebut soal pernikahan. Kawin. Siapa yang nikah? Siapa yang kawin? Diriku? Gila! Tapi kupikir ada sesuatu yang aneh. Dibalik keanehan ucapan mungkin ada satu rahaSia…."
Pintu beSi dibuka. Sang Ketua tinggalkan tempat itu.
"Dewa Tuak" Kakek Segala Tahu berucap.
Tak ada jawaban.
"Dewa Tuak kakek keparat! Kau masih ada disini?"
Tetap tak ada jawaban.
"Jahanam pengkhianat! Tunggu pembalasanku!" Dua mata putih Si kakek berputar. "Dia pasti ikutan keluar bersama ketuanya. Edan, sebelum aku rupanya dia sudah kena diringkus duluan. Heran, mengapa dia mau bercokol di sini dan jadi kaki tangan Manusia pocong? Tega-teganya dia mengikat aku begini rupa. Pengkhianat busuk! Jangan-jangan kakek itu diumpan penganan perempuan-perempuan muda bunting? Minuman selamat datang. Pencuci otak pelupa ingatan. Minuman setan apa itu? Mungkin Dewa Tuak sudah dicekoki minuman itu. Kalau aku juga sampai kena dicekoki. Ihhh. “

***

Ketika Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian bersama anak buahnya sampai di tempat kejadian dimana mereka berhaSil melumpuhkan Kakek Segala Tahu dengan asap beracun, keduanya tidak menemukan caping dan kaleng rombeng milik Si kakek. Seluruh tempat mereka periksa. Telap saja caping dan kaleng tidak ditemukan.
"Aneh, kalau memang jatuh dan tertinggal, pasti caping dan kaleng itu ada di Sini. Kalau jatuh tercecer di jalan pasti tadi sudah ditemukan…" Wakil Ketua berkata sambil melangkah mundar mandir. Manusia pocong anak buahnya tidak keluarkan ucapan. Saat itu pikirannya kalut membayangkan hukuman apa yang bakal diterimanya dari Sang Ketua. Wakil ketua kembali keluarkan ucapan.
"Kita telah berbuat ceroboh Mungkin sekali apa yang dikatakan Dewa Tuak benar adanya. Gulungan kain putih itu ada di dalam caping atau dalam kaleng. Agaknya orang lain telah menemukan lalu mengambil benda-benda itu sebelum kita sampai di Sini." Lalu dia menyambung ucapan, membantah sendiri kata-katanya tadi. "Kalaupun ada orang yang melihat caping dan kaleng rombeng itu tidak nanti dia akan mengambilnya. Pasti orang itu tahu riwayat dan pemilik dua benda sialan itu!"
Wakil Ketua sesaat tampak agak masygul. Setelah mencari-cari lagi tanpa haSil, kedua Manusia pocong itu akhirnya kembali ke markas mereka.
Kembali ke 113 Lorong Kematian.
Dalam Episode sebelumnya berudul "Pernikahan Dengan Mayat" kepada Wakil Ketua Yang Mulia Ketua Barisan Manusia pocong menyatakan bermaksud menyedot semua kekuatan tenaga dalam dan hawa sakti yang dimiliki Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Namun Wakil Ketua mengingatkan jika hal itu dilakukan maka rencana semula yaitu ingin memanfaatkan dan mempergiat Sang Ratu untuk menghadapi para tokoh rimba perSilatan yang cepat atau lambat akan menyerbu ke dalam 113 Lorong Kematian, tidak akan dapat dilaksanakan. Seandainya Sang Ketua memaksa maka dia menyarankan agar semua kehebatan yang dimiliki Sri Paduka Ratu disedot melalui ubun-ubun. Namun Sang Ketua merasa kawatir, otak dan kepala Yang Mulia Sang Paduka Ratu akan hancur sebelum dia berhaSilmenguras tenaga dalam dan hawa sakti. Satu-satunya cara, menurut Sang Ketua, adalah dengan jalan meniduri Sang Ratu dan menyedot semua kehebatan yang dimiliki perempuan itu ketika terjadi hubungan badan.
Karena terpaksa menunda maksud mesumnya terhadap Yang Mulia Sri Paduka Ratu, Sang Ketua memilih perempuan lain. Satu-satunya perempuan yang belum sempat dan ditiduri oleh Sang Ketua adalah Nyi Larasati, istri Loh Gatra. Selain itu, perempuan ini memang adalah giliran berikutnya yang bayinya akan dibunuh dan diambil darahnya untuk mengusap ubun-ubun Yang Mulia Sri Paduka Matu. Yaitu seperti yang tertulis dalam "Aksara Batu Bernyawa" sebagai perwujud dan kesinambungan kehidupan mahluk yang memiliki nyawa kedua.
Sesuai dengan perintahnya untuk membawa Larasati ke ruang ketidurannya, ketika Sang Ketua masuk ke dalam kamar, Larasati telah berada di Situ, duduk di atas sebuah kursi batu, memegang sebuah cangkir terbuat dari kayu. Walau berdandan dan dipoles bedak, wajah perempuan in? tampak agak pucat karena sekian lama berada di dalam goa. tidak pernah tersentuh Sinar matahari. Ketika melihat Yang Mulia Ketua memasuki kamar. Larasati tersenyum dan bangkit berdiri.
Sambutan berupa senyuman yang membuat gairah itu pertanda Larasati berada dalam pengaruh minuman pencuci otak, pelupa diri pelupa ingatan. Namun Sang Ketua masih ingin menguji.
"KekaSihku Larasati, sudah lamakah kau menunggu diriku di Sini?"
Larasati mengangkat cangkir kayu yang dipegangnya lalu berkata. "Hanya perintah Yang Mulia seorang yang wajib dilakukan. Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dikasihi."
Yang Mulia Ketua tertawa lebar. Dia melangkah mendekati Larasati, membelai pipi perempuan itu lalu mengusap perutnya yang hamil besar.
"Larasati, kau berkata hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dikasihi. Bisakah kau membuktikan hal itu?’
"Seribu bukti untuk Yang Mulia Ketua…." jawab Larasati.
"Bagus sekali. Sekarang tinggalkan pakaianmu. Semua."
Larasati tersenyum. Perempuan yang sudah dicuci otaknya ini dengan minuman pelupa diri pelupa ingatan, angkat cangkir kayu di tangan kanan dan mendekatkan ke bibir Yang Mulia Ketua. Sang Ketua pegang tangan halus perempuan hamil itu lalu teguk habis minuman dalam cangkir kayu. Sambil memegang cangkir kosong, Sang Ketua memperhatikan bagaimana Larasati mulai menanggalkan pakaiannya satu demi satu. Dalam keadaan tanpa selembar benangpun menutupi auratnya yang hamil besar perempuan ini lemparkan senyuman mesra, menggeliat tubuh lalu berputar dan melangkah ke arah tempat tidur besar di tengah ruangan. Yang Mulia Ketua basahi bibirnya dengan ujung lidah. Dibanding dengan Yang Mulia Sri Paduka Ratu wajahnya memang kalah cantik. Namun dari sekian banyak perempuan hamil yang telah diculik dan digaulinya, baru yang satu ini dilihatnya memiliki tubuh begitu mulus dan luar biasa bagus. Yang Mulia Ketua lemparkan cangkir kayu yang dipegangnya lalu buka kain putih penutup kepala.

4

DI SATU rimba belantara, tak jauh dari lembah batu di selatan kawasan 113 Lorong Kematian. Loh Gatra yang tengah berlari cepat bersama Anggini tiba-tiba menekap telinga kirinya. Wajah yang keringatan mendadak tampak pucat. Dada berdebar kencang. Larinya tersaruk-saruk. Suami Larasati ini akhirnya hentikan lari dan duduk berSila di tanah dengan dada turun naik, mata setengah terpejam.
"Loh Gatra, ada apa?" Tanya Anggini.
Lelaki muda itu buka sepasang mata, menatap jauh ke depan.
"Aku barusan mendapat firasat buruk. Telinga kiri mengiang. Jantungku berdetak keras. Aku kawatir. Sangat kawatir. Nyi Lara, istriku. Jangan­jangan…."
Anggini pandang wajah Loh Gatra sambil menggigit bibir. Dia sudah mendengar dan tahu semua bahaya sangat besar dan segala kekejian yang ada di dalam 113 Lorong Kematian. Setiap saat hal itu bisa jatuh menimpa perempuan-perempuan hamil yang disekap di tempat itu. Selain Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak ada seorangpun mampu menjamin keselamatan dan menolong perempuan­perempuan malang itu. Termasuk keselamatan Nyi Larasati, istri sahabat barunya itu. Anggini coba menghibur.
"Loh Gatra, firasat terkadang menyesatkan. Kuatkan hatimu. Tabahkan diri. Mohon kepada Tuhan agar istrimu diselamatkan Ayo kita lanjutkan perjalanan”
"Aku akan memusnahkan tempat jahanam itu, membunuh semua Manusia pocong kalau sampai istriku mendapat celaka…"
Anggini tepuk bahu kiri Loh Gatra dan membantu lelaki muda ini bangkit berdiri. Keduanya melanjutkan perjalanan dengan berlari cepat. Jauh di belakang sana terdengar sayup-sayup curah air terjun Ngadiloyo. Sebelumnya, walau sebentar kedua orang itu telah menyempatkan diri istirahat di tepi telaga.
Anggini yang ternyata memiliki kecepatan lari melebihi Loh Gatra tidak mau meninggalkan lelaki itu di sebelah belakang. Dia sengaja memperlambat larinya hingga sepanjang jalan mereka selalu bersisian. Loh Gatra maklum kalau gadis cantik itu lebih tinggi ilmu larinya berkata.
"Aku mengagumi ketinggian ilmu larimu. Dewa Tuak tentu telah menggembleng dirimu secara luar biasa. Anggini, kalau kau ingin lari lebih dulu Silahkan saja. Aku mengikuti dari belakang."
Sang dara melirik. Tersenyum. Mulutnya tidak berucap namun hati kecilnya berkata. "Lelaki rendah hati. Pasti tinggi budi. KaSihan istrinya. Aku kawatir sesuatu telah terjadi dengan perempuan malang itu"
Anggini tidak mau mempercepat lari hingga keduanya tetap berdampingan. Diperlakukan seperti itu, kalau saja pikirannya tidak kalut menghadap. perkara besar yang dialaminya mungkin perhatian Loh Gatra telah terbagi pada kebaikan Sifat Si gadis.
Kedua orang itu hentikan lari ketika di hadapan mereka membentang sebuah cegukan panjang membentuk tiga buah lembah batu.
"Buntu" ucap Anggini sambil menyeka peluh yang membasahi kening.
"Tidak," menyahuti Loh Gatra. "Di bibir lembah seberang sana ada gugusan bukit batu. Dugaanku, markas Manusia pocong atau Seratus Tiga Belas Lorong Kematian ada di bebukitan itu. Kita harus bertindak cepat menuju ke sana. Kali ini biar aku lebih dulu. Semakin dekat dengan lorong markas Manusia pocong kita harus sangat hati-hati karena bahaya tak terduga bisa muncul secara mendadak. Mungkin ada banyak jebakan maut. mungkin juga dibokong secara pengecut." Loh Gatra segera perhatikan keadaan lembah batu. "Kita bisa sampai ke seberang sana dengan dua cara. Pertama memutari bibir lembah, cukup lama dan jauh. Kedua akan lebih cepat, jika menuruni lembah di arah tengah." Selesai berucap Loh Gatra segera menuruni lembah batu.
Untuk beberapa lama Anggini perhatikan lelaki itu. Hatinya membatin. "Dia tidak malu mengakui bahwa ilmuku lebih tinggi dari yang dimilikinya. Tapi sepertinya dia mau mengorbankan diri demi melindungiku." Murid Dewa Tuak ini gigit bibirnya sendiri. Dia ingat. Dulu di dalam banyak kejadian Pendekar 212 Wiro Sableng selalu membela dan melindunginya. Dia mengharapkan semua itu adalah cermin dari rasa kaSih sayang. Namun segala harapan itu tidak menjadi kenyataan. Dia berharap, tapi orang tak hendak. Tali perjodohan yang diuntai oleh gurunya Dewa Tuak dan Sinto Gendeng guru sang pendekar sampai saat ini tak kunjung menjadi buhul ikatan. Dia harus mengakui bahwa dia tidak bisa melupakan pemuda itu. Namun apakah dia harus menunggu seumur-umur tanpa satu kejelasan. Lalu gadis ini ingat akan kata-katanya sewaktu membentak Wulan Srindi. "Soal perjodohanmu! Soal kau mau kawin dengan Siapa bukan perduliku!" Anggini menggigil bibirnya lebih keras. "Aku menunjukkan ketidak perdulianku padanya. Apakah dia tersinggung? Marah? Mungkin dia tidak menyukaiku lagi? Aku salah? Gadis bernama Wulan Srindi itu! Aku benar-benar benci padanya. Tapi Wiro mengapa kelihatan begitu dekat padanya?"
Murid Dewa Tuak itu usap dagunya yang basah oleh keringat. Lalu permainkan ujung selendang ungu yang dilingkarkan di pinggang. Ketika matanya diarahkan ke bawah, pandangannya membentur angka 212 pada ujung selendang. Kenangan lama kembali terbayang. Tiga angka di ujung selendang itu Wiro sendiri yang dulu mengguratkan dengan ujung jarinya. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Maut Bernyanyi Di Pajajaran")
Di bawah saputan cahaya sang surya yang semakin tinggi, wajah Anggini bersemu merah. Bibirnya bergerak, suaranya bergetar perlahan ketika mulutnya berucap.
"Aku tidak akan pernah melupakan, dia pemuda yang pertama kali memeluk tubuhku. Mencium pipi dan keningku. Mengecup bibirku. Dia pemuda kepada Siapa aku membisikkan kata bahwa aku mencintai­nya. Tapi mengapa semua berjalan begitu hampa dan agaknya akan berakhir tidak seperti yang aku dambakan? Apakah aku telah salah dan ketelepasan bicara bahwa aku tidak perduli lagi akan segala ikatan tali perjodohan. Karena memang ikatan itu tidak pernah ada?" (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Keris Tumbal Wilayuda")
Anggini angkat kepala, menatap ke langit putih berSih kebiruan di atas sana. Tidak terasa butir-butir air mata meluncur jauh di kedua pipinya. Ketika di pejamkan dua mata yang berkaca-kaca itu entah bagaimana tiba-tiba muncul wajah lain. Wajah seorang pemuda gagah dengan hiasan anting-anting emas di telinga kanannya.
"Panji" mulut Anggini berucap perlahan menyebut nama pemuda itu. "Aku tahu kau mencintai diriku. Namun. Ah,mungkin seharusnya aku tidak pergi dari Danau Maninjau. Tidak meninggalkan dlrinya" (Mengenai pemuda bernama Panji bisa dibaca dalam serial Wiro Sableng pada Episode berjudul "Lembah Akhirat". Dalam serial berjudul "Kiamat Di Pangandaran") Diceritakan setelah terjadi bentrokan hebat antara para tokoh sesat golongan putih melawan golongan hitam di pantai Pangandaran, Anggini bersama Panji berangkat ke Pulau Andalas, tinggal di Danau Maninjau dimana menetap Nyanyuk Amber seorang dedengkot rimba Persilatan. Dari kakek sakti berkepandaian tinggi ini sepasang muda mudi itu mendapat tambahan ilmu kepandaian. Namun Anggini merasa tidak kerasan berlama-lama di Pulau Andalas. Kerinduan terhadap tanah Jawa terlebih terhadap gurunya Dewa Tuak tidak dapat ditahan. Selain itu tentu saja terselip semua kenangan manis dirinya dengan Pendekar 212 Wiro Sableng, yang menambah kobaran hasratnya untuk cepat-cepat berangkat ke tanah Jawa. Setelah meminta izin dan memohon diri kepada Nyanyuk Amber dan Panji disertai janji akan segera kembali, Anggini kemudian berangkat ke Tanah Jawa. Semula Panji ingin ikut pergi mendampingi gadis itu. Tapi entah mengapa Nyanyuk Amber melarang.
"Anggini! Cepat turuni Tapi hati-hati. Batu diSini licin sekali.!"
Suara teriakan Loh Gatra membuat Anggini sadar dari lamunannya.
"Ya…ya aku datang," balas berteriak Anggini. Dia cepat usap wajahnya yang jelita. Lalu lagi-lagi hatinya bicara. "Dia mengingatkan aku berhati-hati. Wiro dulu juga begitu. Ah ada apa dengan diriku ini. Mengapa jadi membandingkan lelaki yang sudah beristri itu dengan Wiro."
Walau sudah diingatkan bahwa lembah batu itu licin, namun seperti burung yang terbang dan hinggap sana hinggap Sini Anggini menuruni lembah dengan cara melompat dari tonjolan batu satu ke gundukan satu lainnya. Sesaat kemudian dia sudah berada di hadapan Loh Gatra yang memandangnya penuh rasa kagum. Tadi waktu menuruni lembah kakinya hampir terpeleset
"Kau melamuni apa di atas sana?" tanya Loh Gatra.
"Aku? Aku melamun?" Anggini tertawa lebar berusaha menyembunyikan keterkejutannya karena tidak menyangka orang bisa menduga apa yang tadi dilakukannya. Barisan gigi sang gadis tampak putih dan rata. "Justru aku saat ini melihat kau berdiri seperti orang bingung. Ayo naik keatas sana. Di daerah berbahaya jangan terlalu lama berdiam diri.
Bisa jadi sasaran empuk pembokong gelap."
“Eh, dua matamu kelihatan agak merah…."
Anggini terkejut Dia barusan memang habis menangis. Cepat gadis ini usap kedua matanya seraya berkata. "Rupanya mataku tak tahan sengatan Sinar matahari di atas sana." Gadis ini lalu mendahului naik ke atas lembah. Loh Gatra geleng-geleng kepala lalu cepat mengikuti.
Begitu sampai di atas lembah batu. di hadapan Anggini dan Loh Gatra membentang sebuah bukit batu. Bukit batu itu tidak terlalu tinggi. Dengan mudah kedua orang itu mendaki dan sampai di salah satu puncaknya. Sinar sang surya memancarkan terik. Batu yang dipijak terasa panas. Satu-satunya suara yang terdengar saat itu adalah desau angin. Kemanapun mata memandang yang kelihatan adalah pohon-pohon tinggi berdaun lebat, kerumunan semak belukar luar biasa lebat. Agak ke barat mendekam sebuah jurang batu berlumut hijau. Tidak lebar tapi sangat dalam.
"Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mustahil di tempat begini rupa beradanya markas Manusia pocong yang disebut Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Agaknya kita datang ke tempat yang salah. Kita sudah kesasar!" kata Anggini pula. Nada suaranya geram dan penuh penasaran karena merasa tidak mendapat jalan untuk mencari, menemui dan menyelamatkan gurunya Dewa Tuak. Juga niatnya yang ingin menolong menyelamatkan istri Loh Gatra.
"Aku melihat atap bangunan…." kata Loh Gatra tiba-tiba seraya menujuk ke arah kanan jurang batu berlumut.
Anggini ikuti arah yang ditunjuk Loh Gatra.
Di kejauhan kelihatan sebuah atap bangunan terbuat dari bambu, tertutup oleh tumpukan dedaunan, tanaman jalar serta lumut dan semak belukar.
"Mari kita selidiki." Kata Loh Gatra pula. Anggini mengangguk.
Kedua orang itu segera menuruni bukit batu, bergerak cepat tapi penuh hati-hati ke arah bangunan di sebelah kanan jurang. Namun sebelum sampai ke sana, mereka menemui sebuah pedataran. DiSini terdapat dua buah batu besar berwarna hitam pekat. Loh Gatra perhatikan tanah pedataran.
"Walau agak samar, aku melihat bekas jejak kaki manusia. " ucap Loh Gatra. Untuk memastikan dia berjongkok dan memperhatikan lebih seksama. Ketika Loh Gatra bergerak bangkit dilihatnya Anggini melangkah ke balik salah satu batu besar lalu terdengar Si gadis memanggil.
Di balik dua batu besar, tepat di sebelah tengah terdapat sebuah batu lagi. Tinggi dan besar melebar. Keduanya segera hendak melangkah ke balik batu. Tapi gerakan mereka tertahan ketika di kejauhan terdengar suara suitan panjang dari arah timur. Sesaat kemudian ada suitan lain dari sebelah selaian.
"Ada orang memberi tanda dengan suitan," kata Anggini, "Mungkin orang-orang Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Mereka sudah mengetahui kedatangan kita…."
"Kita harus tambah hati-hati," ucap Loh Gatra. Dipegangnya lengan Anggini dan mengajak gadis ini meneruskan langkah ke balik batu besar. Di balik batu besar terdapat satu pedataran sempit. Di Sini lebih jelas kelihatan tanda-tanda atau jejak orang pernah berada di tempat itu. Di salah satu SiSi pedataran yang merupakan dinding batu terdapat sebuah mulut goa dengan tinggi melebihi kepala manusia. Kedua orang itu sesaat saling pandang. Dengan dada berdebar mereka bergerak mendekati mulut goa. Memperhatikan ke dalam walau hanya melihat remang-remang, tampak satu lorong panjang. Dikiri kanan menjelang ujung lorong kelihatan banyak sekali terowongan atau cabang lorong.
"Seratus Tiga Belas Lorong Kematian," ucap Anggini dengan suara bergetar. "Mulut goa ini pasti pintu masuknya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Aku akan segera masuk. Istriku disekap di dalam sana!" Jawab Anggini.
"Tunggu dulu," kata Anggini sambil memegang bahu lelaki itu.
Loh Gatra menoleh. "Kau tampak ragu. Mungkin juga takut Kalau kau memang takut tunggu saja di Sini. Biar aku sendm yang masuk ke dalam."
Anggini menggeleng. "Guruku juga ada di dalam sana. Aku harus menolongnya. Berarti aku harus masuk ke dalam lorong. Tapi satu hal harus diingat Akal dan kehati-hatian adalah jalan utama bagi keselamatan. Kalau salah bertindak kita tidak akan berhaSil menyelamatkan istrimu dan guruku! Malah kita bisa diringkus hidup-hidup atau mati konyol percuma!"
"Kalau kita cuma bicara, kapan kita akan menolong istriku dan gurumu?!" ucap Loh Gatra pula.
"Kau ingat ucapan orang tentang lorong celaka ini? Sekali masuk ke dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian jangan harap bisa keluar"
"Aku lebih suka mati di dalam lorong celaka itu daripada tidak berbuat apa-apa."
"Kau ingat ucapan nenek sakti Sinto Gendeng? ilmu rotan jangan dipakai. Karena tak ada lobang masuk tak ada lobang keluar Ilmu bambu mungkin bisa menolong. Karena ada lobang masuk ada lobang keluar."
"Nenek sakti itu hanya memberi kita teka-teki. Bukan pertolongan."
Anggini tersenyum. Dia melangkah menjauhi mulut goa batu, mendongak ke langit.
"Anggini, melihat tingkah lakumu aku jadi tidak sabaran. Kita seharusnya segera masuk ke dalam lorong. Kau malah melihat ke langit! Apa yang kau cari di sana? Istriku dan gurumu ada di dalam lorong!"
"Tenang, sabar sebentar" jawab Anggini. Saat itu jauh di atas bukit batu tampak melayang dua ekor burung. Tepat ketika dua burung berada di atas mereka, Anggini angkat dua tangannya ke atas. Lalu secepat kilat dua tangan itu membuat gerakan membetot ke bawah. Apa yang terjadi menyebabkan Loh Gatra terkagum-kagum.
Seperti ditarik ke bawah, dua ekor burung yang sedang terbang di udara melayang turun dan sesaat kemudian telah berada dalam pegangan tangan kiri kanan Anggini.
"Luar biasa! Baru sekali ini aku melihat kepandaian seperti itu. Di tanah Jawa ini kurasa tak ada orang lain yang memiliki ilmu seperti ini. Bahkan gurumu Dewa Tuak hanya bisa melakukan hal itu jika dia menggunakan peralatan saktinya yaitu benang sutera putih."
"Ah, ini hanya permainan anak-anak," jawab Anggini merendah. "Tidak sangka kau tahu banyak tentang guruku…"
"Kau hebat sekali." Memuji Loh Gatra.
"Jangan memuji. Aku hanya kebagian rejeki besar dipercaya dan diberi ilmu oleh seorang kakek sakti di Pulau Andalas," Anggini memberi tahu. Dia memang mendapatkan ilmu kepandaian itu dari Nyanyuk Amber, kakek sakti yang tinggal di Danau Maninjau.
"Mau kau apakan dua ekor burung itu?" tanya Loh Gatra. "Mau dipanggang?"
"Mereka bisa menolong kita mencari jaian di dalam lorong."
"Cerdik sekali!" kembali Loh Gatra memuji. "Tapi asal kau tahu saja. Seekor burung akan selalu terbang ke arah yang lebih terang, ke tempat terbuka."
"Kita harus menjaga agar mereka jangan sampai terbang ke arah mulut goa. Itu sebabnya aku menangkap dua ekor sekaligus. Jika yang satu sudah terbang ke dalam, temannya pasti mengikuti…" Habis berkata begitu Anggini lalu melompat masuk kedalam goa batu. Burung di tangan kanan dilepas lebih dulu. Binatang ini sesaat terbang berputar lalu melayang membalik ke arah mulut goa. Cepat-cepat Anggini menguSirnya hingga sang burung terpaksa berbalik terbang ke dalam lorong. Setelah itu baru Anggini melepaskan burung di tangan kiri. Burung ini melesat ke dalam terowongan mengikuti temannnya yang telah terbang lebih dulu. Anggini memberi tanda. Lalu lari mengikuti arah terbang dua ekor burung. Loh Gatra menyusul walau hati kecilnya merasa ragu apakah dua binatang itu benar-benar mampu memandu mereka masuk ke dalam markas Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian.

5

NYI LARASATI masih tergolek di atas tempat tidur tanpa sehelai kainpun menutupi auratnya ketika Wakil Ketua Barisan Manusia pocong datang menyampaikan laporan. Yang Mulia Ketua cepat mengenakan jubah dan kain penutup kepala lalu menemui wakilnya itu didepan tirai besar tipis.
"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"
"Wakil Ketua. Kau menganggu saat aku bersenang­senang. Bagaimana penyelidikanmu? Kau temukan caping dan kaleng rombeng milik Kakek Segala Tahu?"
Wakil Ketua membungkuk dalam.
"Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Hukuman apapun akan saya terima. Saya dan anak buah telah berusaha keras mencari. Namun caping dan kaleng rombeng itu tidak ditemukan. Besar kemungkinan sudah ditemui lebih dulu oleh orang lain dan diambil."
"Menurutmu, apa perlunya caping butut dan kaleng rombeng itu bagi orang lain?" ucap Yang Mulia Ketua dengan mata melotot beringas dan nada suara tinggi.
"Saya menduga yang menemukan adalah orang yang kenal dengan Kakek Segala Tahu…"
Di balik kain putih penutup kepala rahang Sang Ketua menggembung menahan luapan amarah.
"Aku sedang bersenang-senang, kau datang mengganggu. Membawa laporan sangat tidak menyenangkan! Apa yang sekarang ada dibenak tololmu?!"
"Yang Mulia Ketua. Kalau benda itu ditemukan oleh orang yang kenal Kakek Segala Tahu, berarti ada tokoh rimba persilatan lain yang akan mendatangi tempat ini."
"Kalau begitu mengapa kau dan anak buahmu tidak segera menyelidik dan menangkap mereka?"
"Segera akan saya lakukan Yang Mulia" Jawab Wakil Ketua. Lalu menyambung ucapannya. "Seorang Satria Pocong melapor. Dia bersama kawannya melihat dua penyusup masuk ke dalam mulut lorong dari arah kawasan bukit batu."
"Begitu? Apa sudah diketahui Siapa mereka?"
tanya Yang Mulia Ketua
"Yang lelaki adalah Loh Gatra, suami Nyi Larasati.."
"Ha…ha…! Sayang dia datang terlambat Tidak sempat menyaksikan bagaimana barusan aku bersenang-senang dengan istrinya!"
Sepasang mata Wakil Ketua melirik ke arah tirai tipis pemisah ruangan seolah mau menembus ke ruangan di balik sana
"Siapa penyusup kedua?" Yang Mulia Ketua bertanya.
"Seorang gadis bernama Anggini."
"Bagus! Dia adalah satu dari tiga gadis cantik yang harus kau tangkap hidup-hidup! Tawanan kita mulai berdatangan Dengar Wakil Ketua! Gadis ini sangat penting artinya bagiku! Bukan saja karena dia cantik. Tapi dia adalah juga murid Dewa Tuak dan sekaligus kekaSih Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng! Setahuku beberapa waktu lalu dia menuntut ilmu kesaktian di Pulau Andalas. Begitu kau berhaSil meringkusnya segera bawa ke hadapanku!"
"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!" Ucap Wakil Ketua. Lalu sebelum pergi dia bertanya. "Bagaimana dengan lelaki bernama Loh Gatra?. Saat ini kita kekurangan orang. Hanya tinggal satria pocong."
"Ilmunya tidak seberapa tinggi. Nasibnya buruk! Bunuh saja!’ jawab Yang Mulia Ketua.
‘Saya Siap melakukan perintah Yang Mulia."
"Bawa serta Yang Mulia Sri Paduka Ratu."
"Akan saya laksanakan," jawab Wakil Ketua sambil membungkuk dan matanya lagi-lagi melirik ke arah tirai tipis.
"Ada sesuatu yang ingin kau lihat di balik tirai ini?" Yang Mulia Ketua bertanya. Anak kesal dengan Sikap wakilnya itu.
"Maafkan saya Yang Mulia."
“Nyi Larasati, istri Loh Gatra ada di tempat ketiduranku. Apakah kau berminat?"
Wakil Ketua tersenyum lalu menggeleng.
"TerimakaSih Yang Mulia Ketua. Saya mohon diri untuk melaksanakan perintah."
"Tunggu dulu. Siapa perempuan hamil yang akan kita ambil darah bayinya untuk mengusap ubun-ubun Yang Mulia Sri Paduka Ratu beberapa hari dimuka?’
"Nyi Upti, puteri mendiang Ki Mantep Jalawardu Kepala Desa Plaosan ‘ Menerangkan Wakil Ketua.
‘Seingatku, kehamilannya belum mencapai sembilan bulan."
‘Betul sekali Yang Mulia Ketua. Tidak ada perempuan lain yang usia kandungannya setua dia. Lagi pula kita punya cara untuk mempercepat kelahiran bayinya’
"Bagus. Kalau begitu kau boleh pergi."
Wakil Ketua Barisan Manusia pocong menjura lalu tinggalkan kamar itu.

***

Kembali kepada Loh Gatra dan Anggini yang memasuki 113 Lorong Kematian dengan mengandalkan panduan dua ekor burung. Setelah terbang sejauh lima puluh langkah di dalam lorong batu. dua ekor burung berputar-putar seperti bingung karena di kiri kanan terdapat banyak cabang lorong. Saat itu mereka baru memasuki dan berada di lorong pertama. Anggini dan Loh Gatra berjaga­jaga agar kedua binatang itu tidak kembali terbang ke arah mulut goa. Setelah berputar terus sampai enam kali. salah seekor burung melesat memasuki cabang lorong ke lima sebelah kanan. Burung kedua mengikuti. Anggini memberi tanda pada Loh Gatra. Keduanya lari ke arah cabang lorong yang dimasuki dua ekor burung.
Sejarak dua puluh langkah dari tikungan cabang lorong tiba-tiba terdengar suara benda berdesing. Disusul suara kelepakan sayap disertai pekik denyit binatang. Lalu blaakk blaakk!
Loh Gatra dan Anggini terkejut, sama hentikan lari.
Di depan mereka, di lantai cabang lorong batu ke 5, dua ekor burung yang dijadikan sebagai pemandu tergeletak mati. Masing-masing kepala ditancapi sebuah bendera berbentuk segi tiga, berwarna merah basah!
"Bendera Darah" biSik Loh Gatra.
"Perangkat maut Manusia pocong." ucap Anggini sambil memandang waspada seputar lorong temaram.
"Sebelum istriku diculik, bendera seperti ini menancap di pintu rumahku. Wiro juga pernah dibokong dengan benda ini," balas berucap Loh Gatra.
"Betttt"
Satu bayangan putih berkelebat muncul dari tikungan lorong. Manusia pocong! Mahluk ini berdiri sekitar tujuh langkah di depan Loh Gatra dan Anggini.
Sepasang mata di balik kain putih penutup kepala memandang tak berkesip. Dua tangan terkembang ke samping. Salah satu kaki berada di depan kaki lainnya. Jelas ini merupakan satu kuda-kuda menutup jalan yang setiap saat bisa berubah menjadi gerak penyerangan.
Loh Gatra dan Anggini merasa ada sambaran angin di sebelah belakang. Keduanya cepat berpaling. Seorang manusia pocong lagi sudah berada di belakang mereka. Heran, dari cabang lorong sebelah mana munculnya mahluk satu ini hingga tahu-tahu sudah berada di tempat itu. Perawakan tinggi besar, dua tangan dirangkap di atas dada sementara dua mata memancarkan kilatan menggidikkan. Dari penampilan Manusia pocong ini baik Loh Gatra maupun Anggini segera memaklumi kalau dia memiliki tingkat jabatan serta kepandaian melebihi dari Manusia pocong pertama. Mungkin sekali dia adalah pimpinan dari Barisan Manusia pocong 113 Lorong Kematian.
"Bangsat penculikl Dimana istriku?!" Loh Gatra tiba-tiba keluarkan bentakan keras hingga suaranya menggelegar di Seantero lorong batu.
"Ha..ha….Jadi kau rupanya manusia yang kehilangan istri." Manusia pocong yang berdiri sambil rangkapkan tangan di atas dada keluarkan ucapan. Lalu leletkan lidah, keluarkan suara berdecak. Dia bukan lain adalah Wakil Ketua Barisan Manusia pocong. "Bukankah kau manusianya yang bernama Loh Gatra?"
Loh Gatra kaget orang tahu Siapa dirinya.
"Hantu keparat! Iblis jahanam! Dengar! Siapapun kau adanya katakan cepat dimana istriku! Kalau dia sampai cidera aku…"
Wakil Ketua Manusia pocong potong bentakan Loh Gatra dengan hamburan tawa bergelak. Anggini yang sudah tidak sabaran berteriak keras.
"Kalian menculik guruku!"
Gadis cantik ini langsung menerjang dan lancarkan serangan tangan kosong dahsyat dalam jurus bernama Memagut Naga Membungkam Matahari. Saat itu Anggini bukan saja ingin membungkam gelak tawa sang Wakil Ketua, tapi sekaligus ingin memecahkan kepalanya.
Orang yang diserang cepat bersurut mundur sambil dua tangan bergerak mengebutkan lengan jubah. Dua gelombang angin dahsyat menderu. membuat pukulan Anggini terpental ke samping, menghantam dinding batu.
"Braakkk!"
Dinding lorong yang tebal keras hancur berhamburan. Sebuah lobang terpampang di dinding batu.
Wakil Ketua keluarkan suara berdecak, leletkan lidah lalu berkata. ‘Gadis galak! Kalu saja Yang Mulia Ketua tidak menyuruh aku meringkusmu hidup-hidup dan membawamu ke hadapannya, sudah tadi-tadi aku ingin menangkap dan membawamu ke kamarku sendiri! Kami orang-orang Seratus Tiga Belas Lorong Kematian tahu kau adalah kekaSih Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng. Kami punya dendam kesumat setinggi langit sedalam lautan terhadap manusia satu itu!"
"Aha! Semakin jelas kepengecutan kalian!" ucap Anggini keras. "Bukan cuma berani terhadap perempuan-perempuan hamil tidak punya daya! Sekarang malah pergunakan Siasat licik. Tidak berani menghadapi Wiro Sableng secara langsung, pergunakan diriku sebagai umpan! Bukan begitu?! Mahluk setan! Buktikan kalau kau memang punya kemampuan meringkus diriku!"
Wakil Ketua Barisan Manusia pocong menggembor marah. Dia bergerak maju dengan dua tangan terpentang Anggini mendahului. Tangan kanannya bergerak cepat. Mendadak sontak tiga buah benda melesat di dalam lorong temaram, memancarkan cahaya berkilat. Sang Wakil Ketua yang tidak mengira akan mendapat serangan mendadak keluarkan seruan keras dan cepat-cepat menghindar ke samping.
“Brettt”
Dua benda berkilat yang melesat di udara menghantam dinding batu, tembus amblas tak kelihatan lagi. Asap kelabu mengepul dari dua lobang tempat benda-benda tadi menancap.
Benda berkilat ke tiga berhaSil merobek bahu kiri jubah putih Wakil Ketua dan menyerempet daging bahunya. Walau tidak parah tapi luka yang dideritanya cukup sakit serta rasa geram amat sangat.
"Gadis edan Sialan!" maki Wakil Ketua. Sepasang mata berkilat merah memandang ke arah Anggini lalu melirik ke lantai. Di Situ tergeletak benda yang tadi menyerempet bahunya. Benda itu ternyata adalah sebuah paku terbuat dari perak murni. Itulah senjata rahasia pemberian Dewa Tuak yang dalam rimba persilatan terkenal dengan sebutan Paku Perak Pemburu Nyawa. Dalam sakit dan geram sesaat Sang Wakil Ketua juga tercekat pula.
"Mau lagi?" ucap Anggini mengejek. Tangannya bergerak membuka ikatan selendang ungu di pinggang. Di dalam rimba perSilatan, selendang ungu yang terbuat dari sutera ini merupakan salah satu senjata hebat dan langka yang ditakuti lawan.
Wakil Ketua Manusia pocong memaki dalam hati lalu berkata. "Gadis galak! Saatmu sudah tiba"
Sementara itu di bagian lorong yang lain Loh Gatra bertempur hebat dengan Satria Pocong yang tadi muncul bersama Wakil Ketua. Loh Gatra sangat bernafsu ingin cepat-cepat membunuh mahluk ini. Ternyata tingkat kepandaian Si Manusia pocong tidak berada di bawahnya. Menempur hampir lima jurus Loh Gatra memang mampu menghajar dada lawan dengan satu jotosan keras. Namun yang dihantam hanya meliuk sedikit lalu menerjang kirimkan serangan balasan cepat dan ganas. Membuat Loh Gatra terdesak ke sudut lorong batu.
"Yang Mulia Sri Paduka Ratu! Apa yang kau tunggu?!" Pada saat Anggini Siap menyerangnya dengan selendang ungu Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian tiba-tiba berseru lantang.
Baik Anggini maupun Loh Gatra sama-sama merasa heran mendengar teriakan Manusia pocong itu. Siapa yang dimaksudkan dengan Yang Mulia Sri Paduka Ratu? Apakah pimpinan mereka? Tetapi teriakan tadi mengapa bernada perintah? Apakah Manusia pocong satu ini lebih tinggi kedudukannya dari yang dipanggil dengan sebutan Yang Mulia Sri Paduka Ratu? Ternyata 113 Lorong Kematian bukan saja penuh dengan maut tapi juga menyimpan keanehan!
Loh Gatra dan Anggini tidak menunggu lama. Di dalam lorong tiba-tiba ada orang bernyanyi Aneh. Suaranya merdu, memelas. Tapi syair nyanyian membuat bulu tengkuk bergidik. Selain itu, suara nyanyian menyebabkan Seantero lorong bergetar. Di lantai batu terasa ada hawa aneh menjalar, masuk ke dalam tubuh Loh Gatra dan Anggini lewat dua kaki Membuat tubuh keduanya bergetar ngilu. Loh Gatra dan Anggini cepat kerahkan tenaga datam.

Kematian datang tidak disangka
Di dalam bukit batu
Ada seratus tiga beias lorong
Siapa masuk akan tersesat Tidak ada jalan keluar
Sampai kematian datang menjemput

Di dalam lembah
Ada Rumah Tanpa Dosa
Inilah tempat teraman bagi mahluk tidak berdosa

Bendera Darah lambang kematian
Tiada daya menentang ajal
Darah suci bayi yang dilahirkan
Pembawa kehadiran Nyawa Kedua
Sambungan hidup insan tak bernyawa

Di dalam lorong ada kesepian
Di dalam kesepian ada kehidupan
Di dalam lorong ada kesunyian
Di dalam kesunyian ada kematian

Manusia pocong yang menggempur Loh Gatra mendadak hentikan serangan dan tegak diam, bersandar di dinding lorong batu. Sang Wakil Ketua bertindak mundur menjauhi Anggini yang Siap menyerang dengan selendang ungu. Di lantai tibatiba ada getaran-getaran. Mula-mula halus, antara terasa dan tidak. Makin lama makin keras dan pada puncaknya lorong ke 5 itu seperti digoyang gempa. Saat itulah muncul satu sosok manusia pocong, tinggi semampai. Kain jubah maupun kain putih penutup kepalanya terbuat dari bahan yang bagus lembut dan berkilat. Pada kain penutup kepala yang berbentuk pocong itu menempel sebuah mahkota kecil berwarna hijau memancarkan Sinar benderang. Di sebelah belakang, di bagian bawah kain putih penutup kepala menjulai rambut hitam sampai ke pinggang. Sosok Manusia pocong satu ini menabur bau harum kayu seperti kayu cendana.
"Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Inikah mahluknya? Diakah yang barusan menyanyi?" Anggini bertanya­tanya dalam hati.
Manusia pocong bermahkota hijau melangkah melewati Satria Pocong yang tadi bertempur melawan Loh Gatra. Setiap langkah yang dibuatnya menimbulkan suara getaran hebat di lantai terowongan.
"Luar biasa, belum pernah aku menemui mahluk seperti ini. Yang memiliki kekuatan tenaga dalam seperti gunung berjalan!" Kembali Anggini membatin.
Lima langkah di hadapan murid Dewa Tuak, Manusia pocong bermahkota berhenti. Anggini memperhatikan. "Aneh," kata murid Dewa Tuak dalam hati. "Sepasang mata mahluk ini tampak bagus. Tapi mengapa redup tanpa cahaya sama sekali? Seorang memiliki tenaga dalam sehebat dia seharusnya memiliki mata yang memancarkan Sinar kekuatan luar biasa. Matanya redup. Tapi mengapa hatiku berdebar memandangnya? Tengkukku bergidik…."
Manusia pocong yang disebut Yang Mulia Sri Paduka Ratu berpaling pada Satria Pocong yang tadi berkelahi melawan Loh Gatra. Lalu alihkan pandangan pada Wakil Ketua. Di lain saat dari mulutnya keluar suara tawa memanjang.
"Yang Mulia Sri Paduka Ratu!" Wakil Ketua Barisan Manusia pocong 113 Lorong Kematian menegur heran. "Ada apa kau tertawa seperti ini?!"
"Hanya dua mahluk tak berguna seperti ini kalian tidak sanggup menghadapi! Kalian hanya membuat aku membuang-buang waktu saja!" Habis berkata begitu Yang Mulia Sri Paduka Ratu putar tubuhnya.
"Yang Mulia Sri Paduka Ratu, jangan pergi dulu!" Wakil Ketua mengingatkan.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" menjawab Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Lalu dia melangkah ke arah datangnya semula. Setelah melewati Loh Gatra yang tegak masih dalam keadaan tercekat, mahluk ini pergunakan tangan kiri untuk menanggalkan kain putih penutup kepalanya.
"Ah. sayang sudah lewat. Aku tidak dapat melihat wajahnya," kata Loh Gatra dalam hati.
Saat itu Anggini juga ingin sekali melihat wajah Sang Ratu. Namun dia berada lebih jauh di sebelah belakang.
Walau melangkah perlahan tetap saja dua kakinya membuat lantai terowongan ke 5 itu bergetar hebat. Rambut hitam panjang sepinggang beralur-alur bagus mengikuti gerakan langkah dan goyangan pinggul.
Tiba-tiba Yang Mulia Sri Paduka Ratu goyangkan kepala.
"Bettti"
Terjadilah satu hal luar biasa.
Rambut panjang hitam sepinggang melesat ke udara.
Kepala Loh Gatra terbanting ke belakang. Tubuhnya langsung roboh dan tergelimpang tak berkutik di lantai batu lorong 5. Dua mata melotot besar. Wajah mulai dari kening sampai ke dagu seolah terbelah dihantam golok besar. Darah meleleh kemana-manal Lelaki malang ini menemui ajal tanpa tahu apa sebenarnya yang membunuh dirinya!
"Loh Gatra!" Pekik Anggini begitu melihat apa yang terjadi. Gadis ini melompat namun di depan sana sekali Yang Mulia Sri Paduka Ratu goyangkan kepala. Kembali rambut hitam sepinggang melesat dan desssl
Ujung rambut mendarat tepat di urat besar jalan darah pada pangkal leher Anggini. Serta merta gadis Ini tertegun kaku. Tak mampu bergerak, tak bisa bersuara. Bibirnya kelihatan membiru.
Yang Mulia Sri Paduka Ratu kembali umbar tawa panjang lalu melangkah pergi tinggalkan lorong 5.
Wakil Ketua cepat mendekati Anggini. Pada bawahannya dia berkata. "Lekas Singkirkan mayat itu. Lempar ke dalam jurang. Aku akan membawa gadis ini dan menyerahkan pada Yang Mulia Ketua!"
Yang diberi perintah membungkuk hormat lalu panggul mayat Loh Gatra dan tinggalkan tempat tersebut Untuk beberapa saat lamanya Wakil Ketua berdiri pandangi wajah dan tubuh bagus Anggini Sambil mengusap bibir Si gadis yang berwarna biru hatinya berkata. "Kalau kubawa barang sebentar ke kamarku, Yang Mulia Ketua pasti tidak akan tahu. Kekasihnya musuh besarku! Saat yang tepat untuk membalas dendam dengan terlebih dulu melampiaskan nafsu menodai orang yang dikasihinya! Sekail ini aku tidak mau kebagian Sisa terus-terusan!"
DI balik kain putih penutup kepala. Wakil Ketua menyeringai. Dia usap lagi bibir Si gadis. Membelai pipi, mengusap wajah. Lalu memanggulnya di bahu kiri. Ketika hendak melangkah tiba-tiba di ujung lorong sana terdengar suara menggaung keras.
"Wakil Ketua, jangan ada pikiran kotor di benakmu! Jangan ada hasrat mesum dalam hatimu! Aku penghuni Rumah Tanpa Dosa! Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan. Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"
Sang Wakil Ketua jadi tercekat dan hentikan langkah.
"Luar biasa sekali. Kini dia bahkan mengetahui apa yang ada dalam pikiran dan hati orangl Aku kawatir ketinggian ilmunya bisa-bisa menjadi senjata makan tuan. Mungkin aku perlu bicara dengan Yang Mulia Ketua. Ratu keparat! Kau menghalangi diriku melampiaskan hasrat! Mungkin dirimu yang harus aku gauli lebih dulu!" Wakil Ketua pandangi lagi
wajah cantik Anggini. Setelah menarik nafas dalam sesaat kemudian baru dia tinggalkan lorong 5 itu.

6

Dalam Episode sebelumnya (Pernikahan Dengan Mayat) diceritakan bagaimana Bidadari Angin Timur berhasil mempengaruhi perasaan Anggini. Gadis cantik rimba persilatan berambut pirang ini memberi tahu kepada Anggini bahwa dara hitam manis bernama Wulan Srindi telah mengaku sebagai murid Dewa Tuak. Juga menyatakan bahwasa dirinya telah dijodohkan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng.
Bagi Anggini, seperti yang dikatakannya terus terang pada Wiro. walau hatinya tersenyuh perih dan kemudian ada seberkas penyesalan, dia tidak pernah lagi memikirkan soal rencana perjodohannya dengan pemuda itu. Karena selama ini tidak pernah ada kejelasan, kelanjutan apalagi keputusan. Namun yang membuat Anggini seolah jadi terbakar darahnya ialah pengakuan Wulan Srindi kalau dirinya adalah murid Dewa Tuak. Ketika Anggini menanyakan hal itu langsung kepada Wulan Srindi, antara kedua gadis itu terjadi perang mulut yang menjurus pada perselisihan besar. Walau Anggini menyatakan tidak memikirkan soal perjodohan dengan Wiro, sebagai seorang manusia betapapun rasa cemburu ikut membakar perasaannya. Bagaimanapun juga Pendekar 212 Wiro Sableng adalah pemuda pertama dalam kehidupannya.
Panas hati akibat perbuatan Bidadari Angin Timur, Pendekar 212 Wiro Sableng secara bergurau memberi tahu Anggini kalau Jatilandak, pemuda berkepala botak dan berkulit kuning itu adalah kekasih Bidadari Angin Timur. Tentu saja Anggini terheran-heran. Sebelum sempat Anggini mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi antara Bidadari Angin Timur dengan Wiro dan Jatilandak, gadis berambut pirang itu melompat ke atas kuda milik Anggini, menghambur pergi. Jatilandak akhirnya tinggalkan pula tempat itu, berusaha mengejar Bidadari Angin Timur.
Sementara itu Loh Gatra yang istrinya jadi korban penculikan oleh komplotan manusia pocong dan tidak mau ikut terlibat dengan segala macam perseliSihan segera pula tinggalkan tempat tersebut. Dia ingin cepat-cepat menembus masuk kedaiam 113 Lorong Kematian. Begitu Anggini tahu kemana pemuda itu hendak pergi, murid Dewa Tuak ini langsung bergabung mengikuti lelaki itu. Wiro berusaha mencegah karena dia tahu bahaya besar yang ada di lorong angker itu. Namun tak berhaSil.
Ditinggal berdua, Wiro dan Wulan Srindi akhirnya memutuskan untuk segera pula berangkat menuju 113 Lorong Kematian. Sebelumnya Wulan Srindi telah pernah diculik dan disekap di markas Barisan Manusia pocong. Karenanya bersama Wiro dia mampu bergerak cepat ke arah tujuan.
Pagi hari kedua orang itu sampai di satu rimba belantara. Wulan Srindi ingat dan berkata pada Wiro. "Waktu aku disekap di dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian, aku berhaSil memperdaya seorang Manusia pocong. Rayuanku membuat dia mau membawa aku keluar lorong maut. Aku dilarikan ke dalam rimba belantara ini. Di sebelah sana ada sebuah pondok. Aku dibawa ke pondok itu. Ketika Manusia pocong hendak merusak kehormatanku muncul Dewa Tuak…."
"Jadi begitu pangkal cerita pertama kali kau bertemu dengan kakek sakti itu."
Wulan Srindi anggukkan kepala.
Wiro memandang ke langit. Lalu bertanya. "Bukit batu dimana markas Manusia pocong itu berada, apakah masih jauh dari Sini?"
Wulan Srindi menuju ke arah depan, agak miring ke kiri. "Selepas rimba belantara ini ada satu lembah batu, membujur dari barat ke timur. Bukit dimana markas Manusia pocong berada, terletak di seberang lembah batu."
"Pondok di dalam rimba, aku ingin melihatnya. Antarkan aku kesana."
Wulan Srindi agak heran mendengar ucapan Wiro. "Perlu apa kau ingin melihat pondok itu?"
"Hanya sekedar ingin tahu." jawab Wiro. "Kau duluan, aku mengikut dari belakang."
Dengan hati bertanya-tanya Wulan Srindi masuk ke dalam rimba belantara. Tak lama kemudian, di balik sederetan pohon besar tampak sebuah pondok kayu tanpa pintu. Salah satu dindingnya terlihat jebol.
"Itu pondok yang aku ceritakan padamu," menerangkan Wulan Srindi.
Begitu sampai di pondok. Wulan Srindi langsung mau masuk ke dalam. Wiro sendiri berhenti beberapa langkah di depan pintu pondok. Ada satu benda menarik perhatiannya. Pendekar ini membungkuk mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah bumbung terbuat dari bambu yang remuk ujungnya dan retak salah satu sisinya Wiro dekatkan ujung bumbung ke hidungnya. Walau agak samar dia masih bisa mencium bau sesuatu. Bau tuak.
Perlahan-lahan murid Sinto Gendeng itu alihkan pandangannya pada Wulan Srindi yang tegak di depan pintu pondok.
"Kau tidak berdusta," ucap Pendekar 212 Wiro Sableng.
"Maksudmu?" tanya Wulan Srindi.
"Bumbung bambu ini milik Dewa Tuak."
"Dia punya dua bumbung bambu. Dengan bumbung satu itu dia menghantam kepala Manusia pocong yang hendak menggagahiku. Anehnya mayat Manusia pocong itu tidak ada di Sini. Kalau masih ada pasti sudah membusuk."
Sambil memandang berkeliling Wiro berkata. Orang-orang dari lorong kematian pasti sudah menyingkirkan mayat itu." Wiro memandang ke langit lalu menatap ke arah Wulan Srindi. "Setelah Dewa Tuak menolongmu, apa yang terjadi? Apa yang dilakukannya?"
"Hai! Aku tahu sekarang. Kau sengaja minta diantar kesini untuk mencari bukti babwa Dewa Tuak memang pernah kesini. Bahwa semua kejadian yang aku ceritakan tidak bohong!" ‘
"Tadipun sudah aku katakan kau tidak berdusta." jawab Wiro sambit tersenyum. "Wulan, kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ah, Ku pertama kali kau menyebut namaku. Aku suka sekali." Ucap Wulan Srindi. "Aku yakin Dewa Tuak masuk ke dalam lorong kematian. Aku berusaha menunggu di bebukitan. Lama sekali. Dia tidak kunjung muncul. Aku kawatir manusia­manusia pocong itu telah meringkusnya."
"Dewa Tuak satu dan beberapa tokoh rimba persilatan yang tingkat kepandaiannya sulit dijajaki. Tidak mudah untuk mengalahkan apa lagi meringkusnya." Wiro diam sejenak. Wulan Srindi bertanya-tanya dalam hati apa yang kini ada di benak sang pendekar. Kemudian didengarnya Wiro berkata. "Aku tidak mengerti, bagaimana mungkin dalam waktu perkenalan sesingkat itu Dewa Tuak mengangkatmu sebagai murid."
"Aku juga tidak mengerti," jawab Wulan Srindi cerdik. "Yang jelas aku berhutang budi dan berhutang nyawa serta kehormatan pada kakek itu. Aku tahu dia akan masuk ke dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Aku minta ikut bersamanya."
"Mengapa kau mau ikut masuk ke dalam lorong maut?"
"Aku punya dendam kesumat terhadap manusia­manusia pocong itu. Mereka membunuh guru dan saudara seperguruanku. Selain itu aku ingin berbakti pada Si kakek…."
"Maksudmu kau minta dijadikan murid?"
Wulan Srindi tidak mau terpancing.
"Menjadi murid tidak selalu berarti harus lebih dulu menerima segala macam pelajaran. Saat itu aku tidak melihat cara lain.."
"Katakan saja, apakah Dewa Tuak benar mengangkatmu sebagai murid?"
"Mana mungkin dia bicara terang-terangan. Si kakek maklum pasti urusan bisa jadi rincu karena dia sudah punya murid. Aku tahu dia suka padaku. Dia berlaku bijaksana. Katanya nanti dia akan datang ke Gunung Lawu ke tempat kediamanku. Untuk apa kalau bukan mau memberikan ilmu?"
"Kakek itu juga mengatakan bahwa kau adalah calon jodohku?"
"Ah, soal yang itu…" Wulan Srindi tersenyum, sembunyikan rasa kagetnya. Dia lalu menjawab secara cerdik. "Dewa Tuak menyuruh aku mencarimu. Perlu apa dia sengaja berbuat begitu kalau bukan ingin mempertemukan kita berdua?"
"Pertemuan bukan berarti perjodohan." ucap Wiro agak kesal.
"Dengar Wiro. Dewa Tuak bukan orang kolot yang asal menjodohkan orang tanpa keduanya kenal lebih dulu. Setelah terjadi perjodohan bisa saja orang-orang yang dijodohkan itu tidak perlu ketemu­ketemu. Buktinya seperti kejadian antara kau dengan gadis bernama Anggini itu. Ihh, sombongnya dia. Juga gadis berambut pirang yang aku dengar bernama Bidadari Angin Timur itu. Uallah. Sepertinya semua pemuda gagah di dunia ini miliknya. Termasuk dirimu! Apakah dua gadis itu memang kekasihmu? Bagaimana kau bisa bedaku adil membagi cinta dan tidak ada saling cemburu diantara mereka. Malah keduanya cemburu padaku!" Wulan Srindi tertawa panjang. Habis tertawa dia bertanya. "Hai, kalau kau nanti kawin, apakah sekaligus akan memperistrikan kedua gadis itu?"
Wiro melengak lalu garuk-garuk kepala. Wajahnya agak bersemu merah.
"Aku tidak bercinta dengan mereka."
"Oo la lal Begitu? Betulkah?" Gadis hitam manis ini kembali tertawa. "Kau tidak menjawab, tapi menggaruk kepala. Bingung ya?"
Wiro bertolak pinggang. "Gadis satu ini benar­benar centil." katanya dalam hati. Tangan kanannya menyentuh secarik kain di pinggang. Kain itu adalah sapu tangan pemberian Wulan Srindi ketika bibirnya luka akibat tamparan Sinto Gendeng. (Baca Episode "Pernikahan Dengan Mayat") Wiro menarik sapu tangan itu dari pinggangnya, maksudnya hendak dikembalikan pada Wulan Srindi Tapi Si gadis menolak.
"Kau marah padaku. Lalu mau mengembalikan sapu tangan yang memang tidak ada harganya itu. Simpan saja. Mungkin ada gunanya. Paling tidak untuk menyeka keringat Kalau kau tidak suka buang saja."
Wiro garuk kepala lalu SiSipkan kembali sapu tangan ke pinggangnya.
"Aku tahu…." ucap Wulan Srindi.
“Tahu apa?"
"Dua gadis itu. Mereka cantik-cantik. Aku saja yang perempuan sebenarnya suka pada mereka. Apa lagi yang namanya laki-laki. Malah pada yang berambut pirang aku berhutang budi besar sekali. Dia yang menyelamatkan diriku sewaktu hendak diperkosa oleh seorang manusia bejat bernama Warok Jangkrik. Dia sendiri kemudian ditotok dan dilarikan oleh seorang lelaki tinggi besar berjubah dan beri lup kepala kain putih."
"Manusia pocong?"
"Hampir sama. Tapi dandannya agak lain. Mungkin yang aku lihat itu pemimpin mereka. Gadis itu sekarang sudah selamat. Hanya saja aku tidak tahu Siapa dan bagaimana ceritanya dia bisa selamat…"
"Waktu pertemuan malam itu. kau melihat seorang pemuda berkepala botak berkulit serba kuning?" ujar Wiro.
Wulan Srindi anggukkan kepala.
"Kurasa dia yang menolong Bidadari Angin Timur."
"Aku melihat waktu itu, kau cemburu pada Si kuning itu. Betul? Kau juga tampak terpukul sewaktu Si pirang pergi diikuti pemuda botak berkulit kuning itu."
Wiro tidak menyangka kalau Wulan Srindi begitu memperhatikan semua kejadian malam itu. Dia hanya bisa tersenyum dan garuk-garuk kepala.
"Aku tidak yakin, gadis berambut pirang bernama Bidadari Angin Timur itu adalah pasangan yang cocok bagimu."
"Hemm..Kau berkata begitu karena merasa Dewa Tuak ingin menjodohkanmu dengan diriku? Kau cemburu."
Wulan Srindi cemberut. Tapi Ini hanya satu kepura-puraan belaka. "Jelas aku cemburu. Wong aku sudah dijodohkan denganmu". Si gadis melihat Wiro pencongkan mulut dan garuk-garuk kepala.
"Kau tahu. aku melihat ada bayangan lain dibalik kecantikan wajah Bidadari Angin Timur. Dia memang mengasihimu. Namun dia ingin menguasai dirimu secara berlebihan. Mungkin saja dia akan menempuh segala cara untuk mendapatkanmu. Kalau kau kawin dengan dia kau bisa jadi seperti katak dibawah tempurung."
Wiro tercengang mendengar semua ucapan Wulan Srindi itu. "Mulutmu centil sekali!"
"Begitulah adanya dirikul Aku tidak pernah memendam apa yang terasa dalam hati dan dalam benakku. Mendiang guruku Ki Surablandong mengajarkan agar kita selalu jujur terhadap semua orang. Dalam perkataan maupun perbuatan. Aku cuma ingin berterus terang padamu. Bukan karena cemburu pada Si pirang itu."
Wiro kembali garuk-garuk kepala, dia ingat pada ucapan Bunga alias Suci yang berjuluk Dewi Bunga Bangkai. Satu kali gadis dari alam roh ini pernah berkata, "….jika kelak di kemudian hari kau ingin memilih salah satu dari mereka sebagai teman hidupmu, jatuhkanlah pilihanmu pada Ratu Duyung…"
Wiro menatap wajah Wulan Srindi. Si gadis balas memandang. Dan tersenyum. Sang pendekar lagi­lagi dibuat garuk-garuk kepala. Gadis satu ini benar­benar bengal.
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan," kata Wiro mengalihkan pembicaraan. Bumbung bambu yang sejak tadi dipegangnya dilempar ke dalam pondok.
Tak lama setelah menyusuri sebuah kali kecil dan mendaki bebukitan batu Wiro dan Wulan Srindi sampai di satu pedataran sempit yang disebelah kanannya membujur sebuah jurang. Mereka sampai di tempat itu sebelum Wakil Ketua Barisan Manusia pocong bersama anak buahnya datang menyelidik.
"Tahan!" Tiba-tiba Wiro berkata sambil tangannya dimeiintangkan di depan pinggang Wulan Srindi.
"Ada apa?" tanya sang dara.
Wiro menunjuk ke depan. "Lihat, di depan sana."
Wulan Srindi perhatikan arah yang ditunjuk Wiro.
Sekitar sepuluh langkah di hadapan mereka, ditanah tergeletak sebuah caping dan sebuah kaleng. Wulan besarkan kedua matanya lalu tertawa. "Hanya sebuah caping butut dan sebuah kaleng rombeng! Kau begitu kaget! kukira tadi kau melihat hantu atau harimau! Kau membuat orang kaget. Ada-ada saja!" Sambil bicara Wulan tepuk keningnya sendiir.
Wiro tidak perdulikan tawa dan ucapan Wulan Srindi. Dia melangkah cepat menghampiri dan mengambil caping serta kaleng yang tergeletak di tanah.
"Kakek Segala Tahu…." kata Wiro perlahan.
"Eh, kau mengucapkan apa?" tanya Wulan Srindi.
"Caping dan kaleng ini…"
"Ya…ya. Itu memang caping dan kaleng. Bukan bantal dan selimut!" ujar Wulan Srindi bercanda.
"Ini milik Kakek Segala Tahu." Ucap Wiro pula.
"Kakek Segala Tahu? Siapa dia?"
"Sahabat guruku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakek sendiri. Dia salah seorang dedengkot rimba persilatan. Seangkatan guruku. Eyang Sinto Gendeng."
"Bagaimana ini? Barang-barang miliknya ada tapi orangnya tidak kelihatan…"
Wiro memandang berkeliling lalu berjalan mendekati tepi jurang. Memperhatikan ke dalam jurang dia tidak melihat apa-apa.
"Kakek Segala Tahu!" teriak Wiro. Karena berteriak dengan mempergunakan tenaga dalam suaranya menggema hebat di dalam jurang lalu memantul ke atas membuat Wulan Srindi tersurut satu langkah. Wiro berteriak sampai tiga kali. Tidak ada jawaban.
"Kalau kakek itu berada dalam jurang dan dalam keadaan hidup, pasti dia mendengar. Pasti dia akan memberikan jawaban. Bagaimanapun juga caranya. Kecuali kalau dia sudah menemui kematian di bawah sana…"
"Aku tak suka kau bicara begitu!" potong Wiro.
"Jangan marah! Kita harus mampu berpikir mencari kenyataan. Kita harus bisa menduga-duga untuk mendapat bukti."
Murid Sinto Gendeng terdiam mendengar ucapan Wulan Srindi yang kemudian dirasakan benar adanya.
"Kakek Segala Tahu sangat tinggi Ilmu kesaktiannya. Tidak mungkin dia dicelakai orang lalu dibuang ke dalam jurang."
"Siapa tahu nasibnya lagi Sial. Mungkin kakek sahabat gurumu itu ditawan oleh komplotan Manusia pocong. Astaga!"
"Ada apa?" tanya Wiro.
"Kenapa kita tidak melihat dari tadi?!"
Wulan Srindi melangkah ke kiri jurang dimana terdapat satu gundukan tanah. Wiro mengikuti. Kedua orang ini berjongkok di depan gundukan tanah.
"Seperti kuburan," ucap Wulan Srindi.
"Siapa yang mati? Siapa yang di kubur? Kakek Segala Tahu?" kata Wiro pula.
"Tidak mungkin. Kalau ini memang kuburan, yang mati pasti anak kecil. Soalnya kubur ini kecil."
"Bisa saja orang tua tapi tubuhnya kontet. katai." Jawab Wiro, membuat Wulan Srindi tertawa lebar.
"Kita harus memastikan. Walau mungkin bukan Kakek Segala Tahu, bisa saja mayat di dalam kubur seseorang yang aku kenal. Tanah gundukan masih merah, berarti kubur ini masih sangat baru. Aku akan membongkar kuburan ini!" ujar Wiro.
"Kau hanya membuang waktu." Kata Wulan Srindi. "Kalau ini benar makam kakekmu itu. Siapa yang membunuhnya? Siapa yang menguburnya?"
"Mungkin manusia-manusia pocong itu." Jawab Wiro.
"Wiro. perhatikan tanah di tempat ini. Banyak jejak kaki, nyaris membentuk lobang. Katamu kakekmu itu tinggi ilmu kepandaiannya. Lantas apa mungkin bisa dipecundangi oleh manusia-manusia pocong? Kalau mereka memang membunuhnya, aku tidak yakin mahluk-mahluk setan itu mau bersusah diri menguburkan segala. Disana ada jurang, pasti kakekmu akan dilempar ke dalam jurang. Aku yakin kakekmu masih hidup. Bisa saja dia ditawan oleh manusia-manusia pocong. Buktinya guruku juga sudah kena diringkus. Lalu sebelum dibawa pergi dia sengaja tinggalkan caping dan kalengnya ini untuk tanda bagi Siapa saja yang menemukan."
Wiro terdiam dan tatap lama-lama wajah Wulan Srindi. Dalam hati murid Sinto Gendeng ini berkata.
"Gadis satu ini. Ucapannya bisa saja ceplas-ceplos.
Tapi caranya berpikir benar-benar luar biasa dan masuk akal!"
"Apa yang ada dalam pikiranmu?" Tanya Wulan Srindi karena dipandang seperti itu.
"Manusia-Manusia pocong itu. Mereka bukan cuma menculik perempuan-perempuan hamil. Tapi juga menculik tokoh-tokoh persilatan. Apa sebenarnya maksud tujuan mereka? Rahasia apa yang ada di balik semua perbuatan yang mereka lakukan?"
"Jawabnya baru ketahuan setelah kita berada dalam lorong itu," jawab Wulan Srindi.
Wiro hanya bisa anggukkan kepala.
"Matahari pagi mulai menyengat. Biar aku pakai caping. Kau pegang kaleng rombeng." Wulan Srindi lalu tarik caping yang dipegang Wiro dan diletakkan di atas kepalanya. Lalu dia melangkah lebih dulu.
Baru berjalan lima tindak gadis ini buka capingnya.
"Kepalaku mendadak gatal! Caping ini pasti tidak pernah dibersihkan." Setelah menggaruk kepalanya Wulan Srindi pakai kembali caping itu. Namun sesaat kemudian dibuka lagi. Dan dia menggaruk lagi.
"Jangan-jangan banyak kutunya! Aku tak mau pakai caping! Kau saja yang pakai. Aku biar membawa kaleng rombeng itu." Wulan Srindi lemparkan caping yang kemudian jatuh bertengger di atas kepala Wiro. Lalu dia ambil kaleng rombeng yang dipegang pemuda itu. Begitu dipegang tangannya digoyangkan. Dari dalam kaleng serta meria keluar suara keras berisik. Si gadis tertawa cekikikan dan kerontangkan lagi kaleng itu tiga kali berturut-turut hingga suara beriSik menggema di seantero tempat.
"Aneh, kepalaku jadi ikutan gatal!" Ucap Wiro sambil menurunkan caping dari atas kepalanya.
Wulan Srindi tertawa. "Apa kataku! Caping itu pasti banyak kutunya! Apa lagi kau yang memakai. Tidak pakai caping juga kulihat sudah sering garuk kepala! Sebaiknya cuci dulu caping itu di sungai!
"Mending ketemu sungai," jawab Wiro. Caping dibalikkan. Ketika memperhatikan bagian dalam caping yang terbuat dari bambu itu. di bawah lempengan bambu melingkar yang menjadi tempat dudukan kepala Wiro melihat sebuah benda.
"Apa ini?" ucap Wiro dengan kening mengerenyit.
"Aha! Mungkin ini sarang kutunya!" Wiro ambil dan mengeluarkan benda yang terselip di dalam caping. Benda Ku ternyata adalah gulungan kecil kain putih.
"Kain putih digulung. Dua ujungnya dekil. Jangan-jangan ini korek kupingnya Si kakek." kata Wulan Srindi. "Coba saja kau buka gulungannya. Mau tahu apa isinya."
Wiro buka gulungan kain. Ketika gulungan kain putih kecil terbuka disitu ternyata ada tulisannya. Wiro dan Wulan Srindi sama-sama membaca tulisan yang tertera.

Batas antara kebaikan dan kejahatan adalah kebijaksanaan
Kehidupan yang terjadi tanpa izin Yang Kuasa
Akan menimbulkan bencana malapetaka dimana-marna
Jika kehidupan pertama tidak dimusnahkan
Rimba persilatan akan kiamat
Dalam kiamat tangan-tangan jahat akan jadi penguasa
Darah mengalir sederas air sungai di musim hujan
Nyawa tiada artinya lagi
Hanya pernikahan dengan mayat yang sanggup menjadi tumbal penyelamat
Jika pemilik pertama nyawa kedua seorang perempuan
Nikahkan dia dengan seorang perjaka
Jika pemilik pertama nyawa kedua seorang lelaki
Nikahkan dia dengan seorang perawan
Pernikahan adalah sesuatu yang sakral
Dalam kesakralan ada kesucian
Dalam kesucian ada jalan untuk selamat
Maka kematian abadi akan menjadi jalan keselamatan

"Aneh." kata Wiro. "Bunyi tulisan ini agaknya menyangkut satu rahasia besar yang kita tidak tahu."
“Aku memang masih perawan. Tapi nyawaku tidak dua. Aku bukan mayat. Jadi bukan aku yang dimaksudkan dalam tulisan itu. Bukan aku yang mau dinikahkan." Wu.an Srindi berucap dalam hati
“Tapi…" sang dara menatap pemuda di
hadapannya. Lalu tersenyum. "Kenapa kau tersenyum," tanya Wiro. "Aku merasa bahagia." jawab Wulan Srindi. "Bahagia? Apanya yang bahagia? Bahagia
bagaimana?"
"Tulisan di atas kain putih itu. Cukup jadi petunjuk. Aku dan kau akan menikah. Ada yang akan menikahkan kita di dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian." Wulan Srindi tekapkan dua telapak tangannya satu sama lain. Kepala mendongak dan mulut kemudian berucap. Terima kasih Tuhan. Akhirnya kesampaian maksudku untuk berbakti sebagai seorang istri pada pemuda bernama Wiro ini."
"Gila!" Wiro setengah berteriak. Kain putih hendak dibuangnya.
"Jangan! Biar aku yang menyimpan!" kata sang dara.
Wiro akhirnya masukkan gulungan kain putih itu ke dalam kantong hitam di pinggang, tempat pembungkus batu sakti hitam pasangan Kapak Maut Naga Geni 212.
"Kita lanjutkan perjalanan. Coba kau pakai lagi capingnya." kata Wulan Srindi.
"Kau saja yang pakai. Kemarikan kaleng itu. Kau selalu mau menggoyang, bikin suara beriSik. Padahal kita berada sekitar markas Manusia pocong."
Wiro ambil kaleng dari tangan Wulan Srindi lalu letakkan caping bambu di atas kepala Si gadis. Wulan diam sebentar, kemudian mulai melangkah sambil merasa-rasa.
"Aneh. tidak gatal lagi." kata sang dara pula. "Pasti kakekmu itu mempermainkan kita." Wulan Srindi melirik ke arah bawah pinggang Wiro.
"Apa yang kau lirik?" tanya murid Sinto Gendeng.
Si gadis tersenyum. "Hati-hati kau meletakkan gulungan kain itu. Nanti ada bagian tubuhmu sebelah bawah yang Jadi gatal. Di depanku kau pasti sulit dan malu mau menggaruk!"
"Kau benar-benar gadis centil! Bengal!"
"Sudah, ayo Jalan!" Wulan Srindi tarik tangan Wiro.
Wiro berjalan sambil otaknya berpikir dan hatinya bertanya-tanya. Jangan-jangan ucapan Wulan Srindi tadi bisa saja betul adanya. Ada orang yang hendak menikahkan mereka di 113 Lorong Kematian. Hatinya bimbang. Apakah dia perlu meneruskan perjalanan menuju 113 Lorong Kematian? Kalau dia membatalkan, lalu bagaimana naSib Dewa Tuak serta para tokoh lain yang diculik. Dan yang paling kasihan adalah perempuan-perempuan hamil yang disekap di sana. "Gadis satu ini! Dia membuat pikiranku kacau saja!" Wiro mengomel dalam hati sambil garuk kepala dan melirik ke arah Wulan Srindi.
Dalam keadaan Wulan Srindi berjalan sambil senyum-senyum dan Wiro berpikir-pikir seperti itu tiba-tiba!
"Dicari lama tidak bersua! Sekarang muncul bersama seorang dara. Rejekiku besar nian! Kalau urusan sudah selesai bolehlah aku bersuka-suka dengan Si hitam manis ini! Ha….ha!"
Satu suara keras yang ditutup dengan tawa bergelak, menggelegar di tempat itu. Siapapun adanya orangnya pasti dia memiliki tenaga dalam tinggi sekali!

7

WULAN Srindi melompat ke kiri. Wiro geser kaki kanan lalu cepat membalik. Di hadapan mereka saat itu berdiri seorang tinggi besar, jubah putih menjela tanah, kain penutup kepala tinggi putih. Sepasang mata di balik dua lobang kecil tampak berkilat, memandang menyorot ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.
"Manusia pocong!" ucap Wiro.
"Wiro," bisik Wulan Srindi. "Mahluk ini yang muncul di pondok tempat aku disekap penjahat bernama Warok Jangkrik. Aku yakin dia juga yang kemudian menculik Bidadari Angin Timur." (Baca Episode sebelumnya berjudul "Rumah Tanpa Dosa")
"Mahluk tolol pocongan!" hardik Wiro.
"Sembunyikan wajah di balik kain putih penutup kepala! Kau suka pada temanku ini? Aneh! Setahuku manusia jelek macammu hanya senang pada perempuan-perempuan bunting!"
"Anak manusia bernama Wiro Sableng! Yang pernah kesasar ke Negeri LatanahSilam! Apakah kau tidak mengenali diriku?!" Orang tinggi besar berjubah dan berpenutup kepala kain putih keluarkan ucapan sambil bertolak pinggang.
Pendekar 212 Wiro Sableng tersentak kaget Tidak banyak orang yang tahu riwayjt beradanya dia di negeri 1200 tahun Silam. (Baca kisah Wiro di negeri LatanahSilam terdiri dari 18 Episode mulai dari "Bola Bola Iblis" diakhiri "Istana Kebahagiaan")
"Jahanam satu ini Siapa dia sebenarnya?" Wiro berpikir, menduga-duga.
"Lihat sepasang mataku!" Tiba-tiba orang itu membentak.
Wiro dan juga Wulan Srindi arahkan pandangan ke arah dua lobang di kain putih penutup kepala. Tiga pasang mata saling bentrokan.
Denyut jantung Pendekar 212 Wiro Sableng mendadak menjadi cepat. Dadanya berdebar keras. Sepasang mata membeliak tak berkesip. Lain hal dengan Wulan Srindi. Sebelumnya gadis ini pernah melihat mahluk itu. namun tidak sempat memperhatikan keadaan sepasang matanya.
Dua mata di balik dua lobang kecil itu ternyata berbentuk aneh. Dua bola mata yang semustinya bulat berbentuk segi tiga berwarna hijau!
"Astaga, dia…" desis Wiro. "Sejak kapan dia jadi manusia pocong? Rupanya dia yang jadi pemimpin mahluk-mahluk jahanam itu!"
"Kau masih belum bisa mengenali diriku dari sepasang mataku?!," Si jubah putih mendengus.
"Lihat!"
Orang itu tutup ucapannya dengan menarik tinggi-tinggi bagian atas kain putih penutup kepala. Begitu wajahnya terSingkap, dia membuat gerakan berputar. Lalu kain dilepas. Kepala dan wajahnya tertutup kembali.
"Hantu Muka Dua!" ucap Wiro dengan satu kaki tersurut
Sementara itu Wulan Srindi seperti melihat hantu beneran di Siang bolong. Tengkuknya dingin, kaki bergetar. Bagaimanakan tidak! Orang yang barusan menyingkap kain putih penutup kepalanya itu ternyata memiliki dua muka. Satu di sebelah depan sebagaimana wajarnya. Lalu ada satu muka atau wajah lagi di sebelah belakang. Kalau kulit wajah sebelah depan putih kekuningan maka wajah sebelah belakang hitam keling berkilat.
"Wiro, Siapa adanya mahluk mengerikan ini?" bisik Wulan Srindi.
Murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede tidak perdulikan pertanyaan Si gadis. Saat itu dia berlaku waspada dan sangat hati-hati. Di Negeri LatanahSilam, mahluk ini dikenal dengan nama Hantu Muka Dua dan merupakan musuh besar, musuh bebuyutan Wiro. Tidak dinyana sewaktu Istana Kebahagiaan meledak hancur, mahluk satu ini ikut terpesat ke tanah Jawa.
Hantu Muka Dua memiliki sepasang bola mata berbentuk segi tiga warna hijau. Masing-masing sudut segi tiga merupakan perlambang tiga sifat dirinya yaitu Segala Keji. Segala Tipu dan Segala Nafsu.
"Kau rupanya yang jadi dedengkot mahluk­mahluk terkutuk Barisan Manusia pocong Seratus . Tiga Belas Lorong Kematian!"
Mahluk di depan Wiro keluarkan suara mendengus lalu tertawa bergelak.
"Manusia pocong Hantu Muka Dua! Dosa besarmu mungkin bisa berkurang jika kau membawa kami ke markasmu. Membebaskan semua tawanan. Perempuan-perempuan hamil dan para tokoh rimba persilatan."
Hantu Muka Dua kembali umbar tawa bergelak.
"Dari dulu sifatmu tidak berubah. Keras kepala.
Mau menang sendiri! Sombong dan selalu meremehkan orang lain! Bukan kau yang memerintahku, tapi aku yang akan memaksa kehendak atas dirimu!"
"Begitu?" Wiro balas tertawa sambil mulutnya dipencong-pencongkan.
"Kau menghancurkan Istanaku! Lebih dari itu kau membuat aku terpesat ke negeri celaka ini! Aku datang untuk membuat perhitungan atas segala dendam kesumat sakit hati semasa kau berada di LatanahSilam!"
"Ha…ha! Aku mau tahu bagaimana hitung­hitungannya!" kata Wiro sambil rangkapkan dua tangan di depan dada. "Dua ditambah tiga atau lima dikurang tiga atau bagaimana?"
"Setan alas! Terima kematianmu! Bangkaimu akan jadi lumpur busuk! Arwahmu akan melayang tersiksa sampai ke negeri Seribu dua ratus tahun Silam" Hantu Muka Dua berteriak marah. Kaki kanannya dihentakkan hingga tanah bergetar. Dari sepasang matanya yang tersembunyi dibalik kain putih penutup kepala melesat dua larik Sinar hijau. Setiap ujung Sinar berbentuk segitiga lancip.
"Hantu Hijau Penjungkir Roh! Wulan, lekas menyingkir!" teriak Wiro yang pernah tahu keganasan ilmu kesaktian Hantu Muka Dua itu. Walau tahu kalau Hantu Muka Dua tidak akan membunuh Wulan Srindi karena konon mahluk dari negeri 1200 tahun Silam ini mempunyai pantangan membunuh perempuan Wiro yang tetap merasa kawatir, cepat mendorong bahu Si gadis sehingga Wulan Srindi terpental jauh.
"Wusss! Wusss!"
Dua larik Sinar hijau angker berkiblat mengeluarkan suara menggidikkan. Ilmu kesaktian yang dimiliki Hantu Muka Dua dan dipergunakan untuk menyerang Wiro saat itu bernama Hantu Hijau Penjungkir Langit. Menurut riwayat di Negeri LatanahSilam, ilmu kesaktian ini dulunya adalah milik seorang tokoh bernama Hantu Lumpur Hijau. Secara licik Hantu Muka Dua berhasil merampas ilmu itu dari sang pemilik. Benda apa saja yang kena hantaman serangan itu, termasuk manusia, ujudnya akan hancur meleleh lunak, berubah hijau seperti lumpur. (Baca riwayat petualangan Pendekar 212 Wiro Sableng sewaktu terpesat ke negeri 1200 tahun Silam LatanahSilam. mulai dari Episode "Bola Bola Iblis" s/d "Istana Kebahagiaan")
Untuk selamatkan diri dari serangan maut yang luar biasa ganasnya itu Pendekar 212 Wiro Sableng secepat kilat jatuhkan diri. Telapak tangan kiri bersitekan ke tanah. Tangan kanan diangkat ke arah mulut. Mulut meniup telapak tangan. Saat itu juga pada telapak tangan Wiro muncul gambar kepala harimau putih bermata hijau. Masih setengah jalan dua larik Sinar sakti Hantu Hijau Penjungkir Roh berkiblat di udara ke arah Wiro. murid Sinto Gendeng dorongkan tangan kanannya ke depan. Dia menghantam tanpa mengerahkan tenaga dalam sama sekali karena semua kekuatan justru berada didalam pukulan sakti yang dilepas!
"Desss! Desss!"
"Blaarr! Blaarr!"
Gelombang angin sakti tanpa warna yang keluar dari telapak tangan Wiro yang disebut sebagai Pukulan Harimau Dewa menyongsong dan menghantam dua larik Sinar hijau ilmu kesaktian Hantu Penjungkir Roh. Ilmu pukulan langka ini didapat Wiro dari seorang kakek sakti di Pulau Andalas bernama Datuk Rao Basaiuang Amen. (Baca serial Wiro Sableng Episode "Wasiat Iblis" s/d Episode "Kiamat Di Pangandaran")
Dua letusan dahsyat menggelegar. Tanah bergetar seperti digoncang lindu Angin deras bertiup laksana topan. Wulan Srindi pegangi caping di atas kepala agar tidak melayang lepas. Wajah gadis ini nampak pucat. Dadanya turun naik.
Sosok Hantu Muka Dua tampak tergontai-gontai. Kepalanya yang tertutup kain putih bergoyang miring ke kiri dan ke kanan. Dari mulutnya terdengar suara hembusan nafas panjang pendek berulang­ulang.
Wiro sendiri terhempas ke tanah. Celakanya dua larik Sinar hijau serangan lawan yang tadi berhaSil dihantam ke atas dan dibuat buyar kini bertaut lagi, menukik melesat, kembali menyerang ke arah dirinya!
"Wiro awas!" teriak Wulan Srindi.
Wiro gulingkan diri di tanah sampai tubuhnya tenggelam masuk ke dalam serumpun semak belukar. Dua larik Sinar hijau sakti melabrak tanah hingga terbongkar meninggalkan dua lobang dalam dan lebar, lalu menghantam bagian bawah sebuah pohon besar. Pohon terbongkar bersama akar­akarnya, tumbang bergemuruh. Sesaat setelah pohon besar ini menyentuh tanah, keadaannya berubah. Seluruh pohon mulai dari akar sampai ke ujung-ujung ranting menjadi hijau pekat, leleh gemburseperti lumpur! Bisa dibayangkan kalau sampai tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng yang jadi sasaran! Wulan Srindi sampai terbelalak dan merinding bulu tengkuknya menyakSikan kejadian itu.
"Manusia sombong! Kau masih mengenali ilmu kesaktianku tadi! Apakah kau juga mengenali yang satu ini?!" Hantu Muka Dua keluarkan ucapan sambil berkacak pinggang.
Habis berkata begitu Hantu Muka Dua perlahan­lahan angkat tangan kanan ke atas. Di balik kain putih penutup kepala mulutnya komat kamit melafalkan sesuatu. Tiba-tiba tangan yang di atas kepala diputar setengah lingkaran. Sinar merah menderu terang.
"Ilmu jahat Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumi! Siapa takut!" teriak Wiro menyebut nama pukulan sakti yang hendak dilepaskan lawan. Dalam melengak kaget mendengar Wiro mengetahui dan menyebut ilmu pukulannya. Hantu Muka Dua penuh geram menghantam ke depan.
Satu gelombang angin luar biasa derasnya dan memancarkan cahaya merah melabrak ke arah Pendekar Wiro Sableng.
"Wulan! Lekas menyingkir!" teriak Wiro lalu secepat kilat melompat setinggi satu tombak. Walau dia punya kemampuan untuk menangkis serangan lawan namun kawatir Simbahan cahaya merah akan melanda Wulan Srindi.
"Wusss’"
Gelombang Sinar merah lewat ganas di bawah sepasang kaki Wiro. Di belakang sana satu gundukan batu besar meledak hancur seperti disambar petir. Pecahannya bertabur merah ke udara lalu luruh ke tanah membakar semak belukar Sebuah pohon berketinggian tiga kali manusia dan besar dua pemelukan tangan kelihatan merah laksana dipanggang lalu berubah menjadi kerangka hitam dan akhirnya tumbang ke tanah!
Lolos dari pukulan "Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumi" yang barusan dilepas Hantu Muka Dua, Pendekar 212 melayang turun dengan tengkuk berkeringat dingin. Dia tahu. kalau sampai dirinya terkena hantaman pukulan sakti itu maka sekujur tubuhnya mulai dari ubun-ubun sampai ke telapak kaki akan terkelupas, tinggal tulang belulang memutih!
"Hantu Muka Dua!" Berseru Wiro begitu dua kakinya menjejak tanah. "Aku memberimu kesempatan satu kali lagi! Antar kami ke dalam lorong kematian! Bebaskan perempuan-perempuan hamil dan para tokoh rimba persilatan! Perkara dlantara kita akan selesai sampai d’ Sini!"
Hantu Muka Dua tertawa bergelak.
"Perkara antara kita hanya selesai setelah tubuhmu jadi bangkai busuk dan rohmu melayang tersiksa sampai langit ke tujuh!"
"Setan geblek!" maki Wiro.
Selesai keluarkan ucapan Hantu Muka Dua angkat dua tangan lurus-lurus ke atas. Tubuhnya membuat gerakan berputar. Mula-mula perlahan lalu berubah cepat dan makin cepat. Keadaan dirinya tak ubah seperti gaSing. Sementara dua tangan kelihatan melambai-lambai di udara, gerakannya seperti orang memanggil-manggil. Wiro merasa tubuhnya menjadi gontai. Pandangan mata agak berkunang. Dua kaki terseret ke depan. Dia cepat kerahkan tenaga dalam. Daya putaran tubuh Hantu Muka Dua luar biasa dahsyat. Wiro merasa tubuhnya seperti disedot!
"Jahanam, ilmu kesaktian apa yang hendak dikeluarkan setan alas ini!" Maki murid Sinto Gendeng.
"Bless! Blesss!"
Karena berusaha mempertahankan diri dari daya sedotan, dua kaki Wiro amblas masuk ke dalam tanah sampai sebatas mata kaki. Tapi hanya sesaat. Di lain kejap dua kaki serta tubuhnya kembali tersedot ke arah putaran tubuh Hantu Muka Dua! Tangan Hantu Tanpa Suara. Itulah ilmu kesaktian yang tengah dikeluarkan Hantu Muka Dua untuk menghabisi Wiro.
"Kurang ajar! Kau mau menyedot tubuhku?!" Wiro memaki geram. Dia lipat gandakan aliran tenaga dalam ke kaki. "Hantu Muka Dua! Apa kau kira kau saja yang punya ilmu kepandaian seperti itu! Lihat tanah!"
Kaki kanan digeser ke depan seperti membuat guratan garis tebal dan dalam. Mulut merapal cepaL Dilain kejap rrrreettttttt! Tanah di depan kaki Wiro terbelah menguak. Belahan tanah mengejar ke arah dua kaki Hantu Muka Dua.
Putaran tubuh Hantu Muka Dua mendadak sontak berhenti. Dari mulutnya menggelegar suara keras. Dia cepat melompat ke udara. Namun terlambat. Sepasang kakinya laksana disedot satu kekuatan dahsyat tertarik masuk ke dalam belahan tanah! Sebelum tubuhnya amblas sampai ke paha. tiba-tiba mengumandang satu suitan keras. Tiga buah benda yang bukan lain tiga Bendera Darah adanya menyambar ke arah Wiro. mengarah kepala dada dan perut!
Selagi murid Sinto Gendeng berusaha selamatkan diri dari serangan tiga bendera, satu bayangan putih berkelebat dari kiri. Secepat kilat menotok urat besar di punggung Hantu Muka Dua. Dalam keadaan tertotok kaku, tubuh Hantu Muka Dua diboyong dibawa kabur dari tempat itu.
"Kurang ajar! Mau dibawa kemana calon bangkai itu?!" teriak Wiro mengejar. Namun dari arah depan sekonyong-konyong ada sambaran tiga cahaya menggidikkan. Wiro cepat melompat selamatkan diri. Ketika tiga cahaya lewat dan dia memandang ke depan, sosok Hantu Muka Dua dan mahluk yang melarikannya tak tampak lagi.
"Wulan! Ikuti aku!" teriak Wiro seraya lari mengejar ke arah lenyapnya HanM Muka Dua yang diboyong orang
"Tunggu!"
"Ada apa?!" tanya Wiro dan terpaksa hentikan lari, berpaling ke arah Wulan Srindi. Dilihatnya Si gadis berdiri dengan muka pucat bingung. Caping yang tadi menempel di atas kepalanya kini tak ada lagi!
"Ap i yang terjadi? Mana capingmu?!" tanya Wiro.
Wulan Srindi goleng-goleng kepala. "Waktu tadi kau mengejar ke sana. aku berlaku lengah. Aku hanya melihat sekilas satu bayangan putih. Tahu­tahu capingku sudah lenyap!"
"Manusia pocong! Ayo ikuti aku! Kejar mereka sebelum lari jauh!"
Berlari sampai akhirnya mereka mencapai lembah batu, bayangan orang yang dikejar tidak terlihat sama sekail. Wiro berhenti, berdiam di atas satu batu hitam, memutar pandangan mata ke dalam dan seberang lembah.
"Seratus Tiga Belas Lorong Kematian ada di seberang sana. Di daerah berbukit batu itu…." Wulan Srindi memberi tahu sambil monunjuk ke arah bukit batu di seberang lembah. Dia tahu karena sebelumnya pernah diculik dan disekap di markas Manusia pocong.
"Aku sudah menduga," wihut Wiro. "Kita harus segera ke sana. Tapi ada beberapa pertanyaan yang mengganjal dalam benakkul Mungkin kita bisa bertukar pikiran."
"Bertukar pikiran bernrti kepalaku ditukar dengan kepalamu! Aku tidak maui Bisa kacau!"
"Jangan konyol! Bukan saatnya bergurau!" kata Wiro dengan mata melotot karena kesal.
Wulan Srindi tersenyum lebar
"Mahluk dan negeri LatanahSilam bernama Hantu Muka Dua itu. Dia mengenakan pakaian Manusia pocong. Berarti dia adalah anggota Barisan Manusia pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Bisa jadi dia yang jadi pimpinan atau salah satu pentolannya."
"Bisa jadi begitu," jawab Wulan Srindi. "Lalu?"
Wiro menggaruk kepala.
"Dua Manusia pocong muncul. Satu merampas capingmu, satunya menyelamatkan Hantu Muka Dua." Wiro diam, garuk kepala kembali baru meneruskan ucapan. "Perlu apa pocong yang satu merampas caping?"
"Mudah saja jawabnya. Dia ingin mendapatkan benda yang ada di dalam caping. Gulungan kain putih yang kini kau sembunyikan dalam kantung hitam di pinggangmu itu."
Wiro mendadak merasa gatal di bagian bawah perutnya. Tak sadar dia usap kantong hitam lalu menggaruk-garuk bagian bawah tubuhnya. Wulan Srindi senyum-senyum dan putar kepala ke jurusan lain.
"Aku masih belum yakin," ucap Wiro sambil terus menggaruk karena rasa gatal kini jadi merembet-rembet.
"Kalau bicara, bicara saja. Jangan menggaruk terus! Nanti bisa lecet!"
"Ahhh!" Wiro sadar, menyeringai lalu cepat-cepat keluarkan tangan kirinya dari balik celana.
"Apanya yang belum yakin?" Tanya Wulan Srindi pula.
"Manusia pocong yang satu. Apa benar dia
muncul untuk menolong menyelamatkan Hantu Muka Dua, yang berarti Hantu Muka Dua memang anggota komplotan atau salah seorang pimpinan Barisan Manusia pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Atau! Atau mungkin sebenarnya dia justru jadi korban penculikan. Berarti Hantu Muka Dua bukan orang Seratus Tiga Belas Lorong Kematian."
"Kurasa hal yang kedua itu yang betul." Kata Wulan Srindi pula. "Pertama guruku Dewa Tuak diculik. Lalu kakekmu yang segala tahu itu juga lenyap. Semua jelas pekerjaan orang-orang lorong kematian."
"Wulan, kita harus segera masuk ke dalam lorong. Kau pernah berada di sana waktu dirimu diculik.
Kau jalan duluan."
"Maksudmu kita masuk ke markas manusia pocong lewat pintu goa di bukit batu sana?"
"Kau yang lebih tahu."
"Bahaya! Terlalu berbahaya. Kita mudah saja melewati pintu lorong. Tapi begitu sampai di dalam kita akan kesasar."
"Belum tentu. Kalau kita berusaha pasti bisa tembus. Ayo jalan."
Selagi Wulan tak menjawab karena diselimuti kebimbangan, Wiro tarik tangan gadis itu lalu diajak menuruni lembah batu. Wulan Srindi senang saja dipegangi lengannya seperti Itu. Namun dia ingat sesuatu.
"Wiro, apa kau lupa petunjuk gurumu Eyang Sinto Gendeng?"
Wiro diam saja. Pandangannya tertuju ke depan, ke arah lembah batu yang mereka daki.
"Malam itu gurumu berkata. Ilmu rotan Jangan dipakai. Karena tidak ada lobang masuk tak ada lobang keluar. Ilmu bambu mungkin bisa menolong. Karena ada lobang masuk ada lobang keluar."
Wiro garuk-garuk kepala. Terus pegang lengan Wulan Srindi dan terus mendaki lembah ke arah bukit batu di atas sana.
"Kau diam saja." Wulan Srindi berkata sambil sentakkan sedikit tangannya yang dipegang Wiro. Perlahan-lahan Wiro lepaskan pegangannya.
"Ah, menyesal aku menyentakkan tangan. Kini dia tidak memegang lenganku lagi. Padahal maksudku tadi hanya agar dia ingat pesan gurunya," kata Wulan Srindi dalam hati. Lalu didengarnya Wiro berkata.
"Terus terang, sampai saat ini aku masih belum bisa mencerna ucapan nenek itu. Kalau ada jalan masuk yang jelas dan bisa cepat sampai ke markas manusia pocong itu, mengapa tidak ditempuh saja?"
"Jangan jadi orang tolol. Gurumu sudah memberi petunjuk. Nenek itu pasti sudah menduga bahaya besar yang bakal dihadapi Siapa saja yang masuk ke dalam lorong lewat pintu depan yaitu mulut goa di dinding batu. Dia tahu ada jalan lain masuk ke dalam lorong. Kita bisa saja masuk ke dalam lorong menurut caramu. Tapi tanggung sendiri akibatnya. Gurumu memberi petunjuk. Masuk ke dalam rumah tidak selalu hanya dari pintu depan. Kalau ada pintu belakang yang lebih aman mengapa tidak dilakukan?" Sekarang terserah kamu. Kalau kita celaka, Sia-Sia semua jerih payah inil. Sekali kita tertangkap, kita akan menjadi boneka hidup budak manusia-manusia pocong! Dengar Wiro. Kalau mereka menangkapi para tokoh rimba persilatan, berarti mereka juga mengincar dirimu. Aku merasa ada satu rahasia besar, busuk keji dan sangat jahat dibalik semua kejadian ini."
Wiro diam saja. Sesekali menggaruk kepala. Akhirnya meraka sampai di atas bibir lembah dan berada di bukit batu.
"Di sebelah sana ada satu pedataran. Di balik sebuah batu besar, disitu terletak mulut goa yang menuju ke dalam lorong." Menerangkan Wulan Srindi. "Mau terus ke sana?"
Wiro anggukkan kepala.
"Kau keras kepala."
Wiro tertawa lalu mendahului memasuki kawasan bukit batu. Seperti yang dikatakan Wulan Srindi, dia menemukan sebuah pedataran. Di Situ ada tiga batu besar. Dua berdampingan, satunya di sebelah tengah agak ke depan.
"Mulut goa dibalik batu sebelah tengah," ucap Wulan Srindi agak perlahan karena dirinya mulai terasa tegang.
Pendekar 212 melangkah ke pedataran, bergerak ke balik batu besar. Sepasang matanya langsung membentur goa di dinding batu.
"Sunyi dan tenang-tenang saja," kata Wiro. "Kita masuk?"
"Kau saja, aku tidak mau mati konyol."
"Dewa Tuak yang katanya gurumu itu ada di dalam sana. Kau tak berniat untuk membebaskannya?"
"Tentu saja aku ingin sekali menolongnya. Tapi aku harus pakai ini!" Wulan menunjuk ke arah kepalanya sendiri. Maksudnya pakai otak.
"Kalau aku masuk apa yang bakal kau lakukan?"
"Menunggu di satu tempat Jika sampai malam kau tidak muncul berarti kau sudah kena ditawan Manusia pocong."
"Rasa kawatirmu terlalu berlebihan. Ingat lelaki muda bernama Loh Gatra yang pergi lebih dulu dari kita bersama Anggini? Mereka mungkin sudah lebih dulu sampai dan berada dalam markas Manusia pocong."
"Boleh jadi mereka sudah ada di dalam sana.
Tapi sebagai tawanan," jawab Wulan Srindi pula.
Wiro garuk kepala. Dia melangkah lebih dekat
kemulut goa. memandang menyelidik ke dalam. Dia melihat satu lorong panjang yang suram. Lalu lebih ke dalam tampak cabang lorong di kiri kanan. Angker memang. Ada hawa aneh keluar dari dalam lorong terasa di jangat dan tercium di rongga hidung. Wiro mundur tiga langkah. Sepasang mata menatap tak berkesip ke dalam goa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Wulan Srindi melihat gerak gerik aneh sang pendekar. Wiro memberi isyarat dengan gerakan tangani agar Si gadis diam.
Perlahan-lahan Wiro alirkan darah dan hawa sakti ke sekitar matanya. Lalu dua mata dikedipkan. Wiro tengah mengerahkan ilmu yang disebut Menembus Pandang. Dengan ilmu langka yang didapatnya dari Ratu Duyung ditambah dengan peningkatan kemampuan daya lihat yang diperoleh dari Datuk Rao Basaluang Ameh, sebelum masuk ke dalam lorong lewat pintu goa Wiro ingin lebih dulu menyelidik keadaan Seratus Tiga Belas Lorong Kematian.
Dia bisa melihat dengan jelas lorong lurus di depannya. Lalu cabang-cabang lorong banyak sekali di kiri kanan lorong utama. Di dalam sana cabang lorong semakin banyak. Dalam dia bingung arah lorong mana yang harus diikuti, tiba-tiba dari dalam lorong menderu satu angin aneh. Wiro merasa ada satu kekuatan keras menghantam dadanya. Tanpa dia bisa berbuat sesuatu tubuhnya terpental dan nyaris terbanting jatuh ke tanah kalau tidak cepat dirangkul oleh Wulan Srindi.
"Wiro! Ada apa?l" tanya Si gadis cemas karena melihat wajah Wiro agak pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Aku tak apa-apa." jawab Wiro sambil pegangi dadanya yang masih bergetar akibat hantaman hawa aneh. "Barusan aku berusaha menyelidik keadaan di dalam lorong. Mendadak ada hawa aneh menghantamku" Wiro menatap ke dalam lorong, tapi tidak berani lagi mengerahkan ilmu Menembus Pandang.
"Seratus Tiga Belas Lorong Kematian sangat panjang, penuh cabang. Aku tidak bisa menduga apakah Ketua Barisan Manusia pocong itu demikian hebatnya hingga mampu melancarkan serangan jarak jauh ke arahmu…."
"Kekuatan yang menghantamku luar biasa. Tidak pernah aku mendapat serangan seperti ini. Untung aku tidak mengalami luka dalam. Aku…"
Murid Eyang Sinto Gendeng hentikan ucapan.
Telinganya menangkap sesuatu.
"Kau mendengar sesuatu?" tanya Wiro.
"Ya. Suara menyanyi. Suara perempuan. Aneh, bagaimana mungkin di tempat angker begini rupa ada perempuan bernyanyi. Jangan-jangan dedemit perempuan." ujar Wulan Srindi dengan suara dan wajah tercekat. "Sebaiknya kita lekas tinggalkan tempat ini. Kedatangan kita pasti sudah diketahui manusia-manusia pocong. Ikuti petunjuk gurumu. pasti ada jalan lain menuju ke dalam lorong."
‘Wulan, selain suara perempuan menyanyi itu aku mendengar suara lain."
"Heh. suara apa?"
"Kurasa ada binatang di sekitar ini. Dari baunya aku dapat meyakinkan binatangnya seekor kuda."
Wulan Srindi pasang telinga, mata berputar, memandang berkeliling. Tiba-tiba di balik batu besar sebelah kanan dia melihat sesuatu berwarna coklat melambai-lambai.
"Buntut kuda!" ucap Wulan. Dia melompat. Wiro mengikuti.
Benar adanya. Di balik batu besar kedua orang itu menemukan seekor kuda coklat. tegak diam. kepala menunduk dan ekor bergerak-gerak. Wulan memperhatikan dengan seksama lalu mengusap­usap kepala binatang itu.
"Hai! Bukankah ini kuda milik Anggini yang dibawa kabur oleh gadis berambut pirang malam tadi?"
Wiro terkejut. Garuk-garuk kepala. "Matamu tajam, ingatanmu kuat. Memang tidak salah. Ini kuda milik Anggini."
"Berarti Si rambut pirang bernama Bidadari Angin Timur itu ada di sekitar Sini. Ayo kita cari" Kembali Wulan Srindi menarik lengan Wiro.
"Kurasa tidak perlu. Kalaupun dia ada di sini pasti tidak sendiri."
"Aku tahu. Maksudmu dia bersama pemuda botak berwajah dan bertubuh kuning itu. Hemm….kau cemburu ya?!"
Wiro tertawa. "Cemburu? Sama Siapa? Perlu apa cemburu segala?"
"Jangan dusta. Kau cemburu pada Si botak itu karena kau suka pada Bidadari Angin Timur. Betulkan?! Ah jeleknya nasibku.." Wulan Srindi unjukkan wajah memelas. "Aku suka tapi orang tertambat pada yang lain.
Air muka Pendekar 212 jadi bersemu merah. Namun kemudian meledak tawanya.
Wulan Srindi cepat tekap mulut Wiro dengan telapak tangan kiri.
"Geblek apa! Tertawa di tempat seperti ini!"
“Dengar, kita kembali ke mulut lorong."
"Buat apa?" tanya Wulan Srindi.
"Aku ingin mencoba sekait lagi. Masuk ke dalam lorong lewat mulut goa itu," kata Wiro. Wiro bermaksud masuk ke dalam lorong dengan mempergunakan Ilmu Meraga Sukma. Namun saat itu Wulan Srindi berbisik.
"Aku tahu kau punya banyak ilmu kepandaian. Tapi saat ini jangan dulu berusaha mencoba-coba. Aku tak ingin kita celaka di tempat ini. Sesuai petunjuk gurumu kita harus menemukan jalan masuk ke dalam lorong dari arah belakang."
Wiro garuk kepala. Wulan Srindi lepaskan rangkulannya. Kalau saja dalam keadaan lain mungkin gadis ini tidak ingin cepat-cepat melepaskan pelukannya di tubuh sang pendekar.
"Terima kaSih, kau telah menolongku. Kalau tidak kau pegang pasti aku tadi jatuh terbanting ke tanah," kata Wiro sambil pegang bahu Si gadis.
Dipegang seperti itu Wulan Srindi merasa seperti di kayangan. Ditatapnya dalam-dalam sepasang mata Wiro. Yang ditatap jadi salah langkah. Sambil garuk kepala dia berkata. " Kau jalan duluan. Aku mengikuti."
Wulan Srindi mengangguk. Dia pegang lengan kiri Wiro lalu menariknya dan melangkah cepat tinggalkan tempat itu. Walau saat itu tengah menghadapi urusan besar namun sang dara berlari dengan wajah tersenyum cerah. Dalam hati malah dia berkata. "Gadis rambut pirang! Kalau kau memang masih ada di sini, sembunyi mengintip aku dan Wiro, hatimu pasti seperti ditusuk duri! Cemburu akan menjadi api dalam dadamu!"

8

TAK SELANG berapa lama setelah Wiro dan Wulan Srindi meninggalkan pedataran kecil di depan mulut goa yang merupakan jalan masuk ke dalam 113 Lorong Kematian, dari balik gundukan batu lebar di bibir lembah muncul dua kepala. Satu botak kuning, satu lagi berambut pirang. Kedua orang ini bukan lain adalah Jatilandak dan Bidadari Angin Timur.
Seperti dituturkan sebelumnya, malam itu Bidadari Angin Timur tinggalkan tempat pertemuan para tokoh rimba persilatan dengan menunggang kuda milik Anggini. Jatilandak, pemuda berkulit kuning dari Negeri Latanahsilam berusaha mengejar sambil terus-terusan berteriak memanggil nama Si gadis. Dalam kesalnya terhadap Wulan Srindi dan Wiro, Bidadari Angin Timur seperti tidak mendengar teriakan Jatilandak. Kalaupun sesaat dia sadar dan mendengar maka dia sama sekali tidak perduli.
Bagaimanapun tingginya ilmu lari yang dimiliki Jatilandak, namun mengejar orang yang memacu kuda dalam pikiran kacau dan hati panas galau, hanyalah merupakan satu kesia-siaan. Tapi Jatilandak tidak putus asa. Walau nafas menyesak dada. sepasang kaki laksana mau tanggal, terus saja pemuda ini berlari kencang mengejar Si gadis berambut pirang.
"Sahabat! Bidadari Angin Timur Tunggu Berhenti dulu!"
Jatilandak terus berteriak memanggil. Yang dikejar dan dipanggil-panggil jangankan menjawab. Menolehpun tidak. Apa lagi hentikan kuda yang dipacu seperti diamuk setan.
Kemampuan Jatilandak ada batasnya. Manakala dua kakinya terasa seperti hancur dan tak mampu lagi diajak berlari, ketika nafasnya menyengat mencekik leher. Jatilandak akhirnya melosoh jatuh ditengah jalan. Dalam keadaan megap-megap pemuda ini beringsut lalu rebahkan diri di tanah. Sekujur tubuh mandi keringat. Mata menatap sayu ke langit kelam. Saat itulah ingatannya kembali ke LatanahSilam. Berada seorang diri di tempat itu dia merasa jauh dan sangat terpencil. Entah bagaimana tiba-tiba saja terbayang wajah ibunya. Sepasang mata Jatilandak mulai berkaca-kaca. Dirinya larut dalam kenangan penuh duka. Lalu didengarnya langkah-langkah kaki kuda disusul suara perempuan menyebut namanya.
"Jatilandak…?"
"Ibu…?" Meluncur kata-kata itu dari mulut Jatilandak. Pemuda kepala botak berkulit kuning itu cepat bangkit dan duduk. Dia terkejut karena membayangkan kehadiran sang ibu ternyata yang muncul adalah orang lain.
"Bidadari Angin Timur, engkau rupanya…" Jati’andak berusaha tersenyum, namun bayangan kesedihan tetap kentara.
Orang yang menegur turun dan kuda, menatap wajah kuning itu beberapa saat, diam tanpa suara. Hanya hati yang membatin. "Wajahnya seperti sedih. Pandangan mata sayu. Barusan dia memanggilku dengan sebutan ibu. Apa yang ada dalam hati dan pikiran pemuda ini?"
"Aku gembira kau kembali. Tapi mengapa?"
Bidadari Angin Timur tidak segera menjawab. Masih terheran-heran. Tadi ketika dikejar pemuda itu, dia menggebrak kudanya habis-habisan. Namun sewaktu suara Jatilandak yang memanggil-manggil tidak terdengar lagi sang dara tersadar. Dia hentikan kuda, memandang ke belakang. Hanya kegelapan malam yang menyelubung. Sosok Jatilandak tidak kelihatan. Suaranyapun tidak terdengar lagi. Kawatir sesuatu terjadi dengan pemuda Itu, mungkin saja diserang manusia pocong. Bidadari Angin Timur putar kuda, kembali ke arah sebelumnya. Akhirnya dia menemukan Jatilandak terbaring di tanah. menatap ke langit kelam.
"Seumur hidup baru kali ini aku melihat lelaki menangis," Bidadari Angin Timur keluarkan ucapan ketika memperhatikan sepasang mata Jatilandak yang berkaca-kaca. Rasa herannya semakin bertambah.
Jatilandak masih memandang ke langit. Dia tidak tahu apakah ucapan gadis itu merupakan teguran, rasa prihatin atau ejekan. Dengan suara perlahan Jatilandak berkata.
‘Ternyata aku seorang lemah." Si pemuda usap kedua matanya. "Tapi. ketahuilah sahabatku. Air mata adalah tanda abadi dari kejujuran yang memancar dari dalam hati yang berSih. Air mata tidak pernah berdusta."
Bidadari Angin Timur kerenyltkan kening, mulut terkancing diam. "Mengapa orang ini tiba-tiba berubah Sifat jadi aneh begini rupa? Ucapannya seperti seorang penyair yang sedang bersedih hati. Pancaran wajahnya memperlihatkan hal itu. Ditambah mata yang berkaca-kaca."
"Tadi aku mengejarmu bukan karena apa-apa. Kita tengah menghadapi urusan besar. Kawasan ini tidak aman. Aku tidak ingin kau menghadapi bahaya sendirian."
Bidadari Angin Timur gigit bibirnya sendiri. Anggukkan kepala dan berkata. "Terima kaSih kau memperhatikan diriku. Saat itu pikiranku sedang kacau.’
"Aku tahu." jawab Jatilandak. "Kacau pikiran hal yang biasa. Bisa dialami semua orang. Tapi jangan sampai pikiran yang kacau itu membuat kacau pula hati nurani."
"Apa maksudmu, Jatilandak? Kau sendiri wajahmu tampak seperti sedih. Barusan kau menangis. Kau memanggil diriku ibu. Aneh. kali ini kau kelihatan begitu aneh."
Pemuda dari LatanahSilam itu tersenyum.
"Ketika kau datang tadi. aku tengah merenung diri. Rasa-rasanya akulah mahluk yang paling buruk nasibnya di Negeri LatanahSilam yang kemudian terpesat ke negeri ini."
Bidadari Angin Timur duduk di tanah, terpisah dua langkah di depan Jatilandak.
"Aku belum lama mengenalmu. Ada hutang budi dalam diriku padamu, ketika kau menyelamatkan diriku dari mahluk jahat berjubah putih itu. Kalau kau memang punya riwayat hidup yang menyedihkan, ceritakan padaku…"
"Siapa yang mau mendengar cerita orang buruk sepertiku ini?"­
"Aku," jawab Bidadari Angin Timur sambil menyentuh lengan Si pemuda. "Aku mau mendengarkan."
"Sungguh?"
Sang dara anggukkan kepala.
"Terima kaSih ada yang mau mendengar kisah naSibku. Mudah-mudahan penuturan ini bisa mengurangi sedikit derita batin yang selama ini kubawa kemana-mana selama bertahun-tahun." Jatilandak bangkit dari berbaringnya, duduk di tanah, menatap sesaat ko wajah jelita di hadapannya.
"Aku dilahirkan dari perkawinan yang tidak direstui oleh para Peri di Negeri LatanahSilam. Di LatanahSilam para Peri mempunyai kekuasaan luar biasa. Mereka bisa menghukum. Bahkan menjatuhkan kutuk dan malapetaka. Ayahku konon bernama Lahambalang. ibuku bernama Luhmintari. Akibat kutuk para Peri, aku dilahirkan dengan ujud tubuh seperti seekor landak. Ayah malu besar. Rasa malu berubah menjadi amarah. Aku dibuang di sebuah pulau, terdampar dalam rimba belantara Lahitam kelam. Seharusnya aku menemui ajal karena tidak ada yang memelihara dan memberi makan. Namun tidak disangka di pulau itu ada seorang kakek yang tubuhnya bersisik, bernama Tringgiling Liang Batu. Kakek ini hidup di pulau bersama dua ekor landak yang dianggap sebagai anak sendiri. Aku kemudian dipelihara, dianggap sebagai cucu. Di pulau itu pula kemudian aku bertemu dengan Wiro. Semula atas perintah seorang jahat bernama Hantu Muka Dua aku dan Tringgiling Liang Batu harus membunuh Wiro. Namun hal itu berhasil digagalkan dan aKhirnya kami bersahabat. Hanya sayang… saat ini agaknya ada hubungan yang terjungkal antara aku dengan Wiro. Kalau saja aku bisa bertemu dan memberi keterangan…" (mengenai kisah Jatilandak dari Negeri Latanah Siam harap baca Episode berjudul "Hantu Jatilandak").
Jatilandak terdiam. Bidadari Angin Timur membisu.
"Aku tak pernah mengenal ayah ataupun ibuku," Jatilandak meneruskan ceritanya. "Ada yang menceritakan padaku, setelah ibu menemui kematian sewaktu melahirkan diriku, ayah membawa dan me­ninggalkan mayatnya di puncak sebuah bukit. Para Peri merasa kawatir kalau mayat ibuku akan me­nimbulkan malapetaka di Negeri Atas Langit, negeri kediaman para Peri. Mereka kembali menurunkan kutuk, ibuku berubah jadi patung batu. Seorang Peri yang baik hati kemudian memindahkan patung ibuku ke sebuah goa. Aku rindu ingin bertemu ibu. Walau ujudnya hanya sebuah patung. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Di Sini aku sebatang kara. Wiro teman baik satu-satunya yang aku kenal sejak di Negeri LatanahSilam kini menjadi orang yang tidak menyukai diriku. Atau mungkin-mungkin memang aku yang salah…"
Bidadari Angin Timur gelengkan kepala.
"Tidak, kau tidak bersalah. Kau tidak punya salah apapun. Justru aku yang merasa diri ini telah berbuat kekeliruan…"
"Keliru ketika Wiro memergoki kita berdua-dua begitu dekat di mata air…? Lalu keliru ketika aku mendukungmu sewaktu kau menangis?" (baca Episode sebelumnya berjudul "Bendera Darah")
"Aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya ketika dia melihat kita berdua-dua di mata air. Aku ingin bicara padanya. Ingin menerangkan. Namun tak ada kesempatan. Dia pergi begitu saja. Aku masih sempat melihat wajahnya saat itu…" ucap Bidadari Angin Timur.
"Aku orang buruk ini telah merusak hubungan baikmu dengan Wiro. Aku merasa sangat bersalah. Namun hatiku berSih. Tidak ada maksud meng­khianati Siapapun. Apa lagi pemuda sahabatku itu."
Bidadari Angin Timur memandangi wajah kuning Jatilandak. Ada perasaan hiba di hati gadis berambut pirang ini. Seperti yang pernah dirasakannya dahulu, kalau saja pemuda ini tidak memiliki kulit cacat kuning begitu rupa. pastilah dia seorang pemuda yang tampan. Gagah dan baik hati.
Malam yang mendekati pagi terasa dingin.
"Aku ingat sesuatu." berucap Bidadari Angin Timur.
"Apa?"
"Aku punya seorang sahabat. Entah dimana dia sekarang. Tubuhnya gendut luar biasa. Suka pakai baju terbalik. Pakai peci hitam kupluk. Wajahnya seperti bocah tolol. Tapi ilmu kepandaiannya luar biasa. Dia dijuluki Bujang Gila Sakti . Sepasang tangannya memiliki kesaktian hebat. Dia mampu mengobati luka. Orang yang cidera akan sembuh tanpa kelihatan bekasnya sedikitpun. Kalau saja aku bisa mempertemukan kau dengan Bujang Gila. Siapa tahu dia bisa melenyapkan warna kuning kulitmu."
Jatilandak tersenyum. "Aku gembira mengetahui ada niat baik dalam hatimu. Tapi kupikir, buruk rupa begini saja hidupku sudah susah, apalagi kalau aku bisa hidup wajar, kulitku tidak kuning lagi. Ah, rasanya orang-orang yang tidak suka padaku pasti akan tambah tidak senang."
Bidadari Angin Timur tarik nafas panjang dan dalam. "Negeri LatanahSilam, aku tidak dapat membayangkan bagaimana keadaannya. Juga tidak pernah mengerti bagaimana Wiro bisa terpesat ke sana. Lalu kau sendiri terpesat ke Sini."
"Kau tidak bakal percaya kalau tidak berada sendiri di sana. Ketika Wiro pertama kali muncul di negeri LatanahSilam bersama dua orang sahabatnya, sosok mereka sangat kecil dibanding dengan orang-orang LatanahSilam. Seorang kakek sakti kemudian menolong mereka hingga tubuh mereka jadi besar. menyamai orang-orang LatanahSilam…"
"Selama disana. apa saja yang dilakukan Wiro?"
tanya Bidadari Angin Timur sambil lipatkan lutut, letakkan dua tangan di atas lutut lalu dagu diletakkan di atas tangan. Dua mata menatap wajah kuning Jatilandak.
"Dia banyak bersahabat Banyak orang sakti yang suka padanya. Dia pernah mendapatkan beberapa ilmu kesaktian dari mereka. Dia dan temantemannya banyak menolong orang. Dia bersahabat dengan para Peri "
"Yang disebut Peri itu, apakah mereka cantik­cantik?"
Jatilandak tersenyum. "Namanya mahluk. pasti ada yang buruk rupa macamku, namun juga ada yang cantik. Salah seorang dari mereka bernama Peri Angsa Putih. Cantik sekali. Sepasang bola matanya berwarna biru."
"Peri Angsa Putih ini. apakah dia bersahabat dengan Wiro?"
"Wiro orangnya baik. Mudah bersahabat dengan semua orang di Negeri LatanahSilam. termasuk Peri Angsa Putih. Malah kalau aku tidak salah dengar dia sempat melakukan perkawinan dengan seorang perempuan bernama Hantu Santet Laknat…"
Bidadari Angin Timur terkejut. Kepala diangkat. air muka berubah, dada berdebar, mata menatap lekat-lekat ke arah Jatilandak.
"Di Negeri LatanahSilam Wiro kawin dengan hantu?"
"Seperti kataku tadi, Negeri LatanahSilam penuh dengan segala macam kutuk. Yang bernama Hantu Santet Laknat itu sebenarnya adalah seorang gadis bernama Luhrembulan."
Bidadari Angin Timur terdiam. Lemas.
"Kabarnya upacara perkawinan itu dilakukan di sebuah bukit bernama Bukit Batu Kawin. Namun aku tidak tahu bagaimana akhir peristiwanya karena kalau tak salah saat itu muncul badai luar biasa hebatnya."
Untuk beberapa lamanya Bidadari Angin Timur masih diam membisu. Kemudian meluncur perlahan ucapannya. "Jadi Wiro pernah kawin rupanya. Dia tidak perjaka lagi…"
"Kuharap kau tidak menjadi gelisah, sahabatku. Semua hal itu hanya kudengar. Bagaimana yang terjadi sesungguhnya aku tidak tahu." Kata Jatilandak pula yang tiba-tiba saja merasa menyesal karena terlanjur bercerita mengenai riwayat perkawinan Wiro di Neger LatanahSilam.
"Ada Bukit Batu Kawin. Ada gadis bernama Luhrembulan. Semuanya jelas…" Ucap Bidadari Angin Timur. Perlahan-lahan gadis berambut pirang ini bangkit berdiri, melangkah ke kuda yang ditinggalkannya dekat pepohonan. (Mengenai perkawinan Wiro dengan Luhrembulan dapat dibaca dalam riwayat di Negeri LatanahSilam berjudul "Rahasia Perkawinan Wiro")
"Kau mau kemana?" tanya Jatilandak seraya berdiri pula.
Bidadari Angin Timur tidak menjawab. Dia naik ke atas kuda lalu tinggalkan tempat itu. Jatilandak cepat mengejar. Namun kemudian hentikan larinya. "Kalau orang ingin pergi, kalau orang tak mau jalan bersamaku, perlu apa aku mengikuti?"
Di depan sana Bidadari Angin Timur hentikan kuda. menoleh ke belakang.
"Jatilandak, kau tak ingin pergi bersamaku?"
Si pemuda tercengang, tak menyangka sang dara akan berkata begitu.
"Kita menuju kemana?" tanya Jatilandak pula.
"Lurus-lurus ke arah timur. Kawasan bukit batu sarangnya manusia-manusia pocong. Seratus Tiga Belas Lorong Kematian."
"Aneh,’ kata Jatilandak dalam hati. "Tadi dia meninggalkan Wiro. pergi tanpa tujuan. Kini dia sengaja mau menuju ke Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Tempat yang juga bakal didatangi Wiro. Apakah ceritaku tadi merubah hati dan pikiran gadis ini? Sengaja menunggu Wiro disana untuk menanyai pemuda itu? Ah. seharusnya tadi aku tidak keteiepasan bicara."
Bidadari Angin Timur menunggangi kudanya perlahan-lahan. Jatilandak mengikuti dari belakang.

***

KEESOKAN harinya Bidadari Angin Timur dan Jatilandak sampai di kawasan bukit batu di seberang lembah Setelah memberSihkan diri di sebuah kali kecil keduanya menyadari betapa laparnya mereka. Beruntung keduanya menemukan pohon jambu hutan yang cukup lebat buahnya.
Melanjutkan perjalanan ke arah bukit batu. Bidadari Angin Timur sengaja tidak menunggangi kudanya Binatang ini di tuntun dari sebelah kanan sementara Jatilandak berjalan di sebelah kiri.
Di satu tempat Bidadari Angin Timur Angin Timur hentikan langkah. Dia memberi tanda pada Jatilandak lalu cepat menarik kuda kebalik serumpunan semak belukar lebar di belakang sederetan pohon besar.
"Aku sudah tahu," biSik Jatilandak. "Ada orang mendatangi ke jurusan Sini."
"Dua orang," biSik Bidadari Angin Timur.
Si gadis dan pemuda kulit kuning cepat ber­sembunyi dan menunggu. Tak selang berapa lama dua orang berlari cepat melewati tempat itu. Mereka bukan lain adalah Wiro dan Wulan Srindi. Jatilandak menoleh, memperhatikan ke arah Bidadari Angin Timur.
"Agaknya mereka tengah menuju ke bukit dimana terletak markas manusia pocong. Tujuan kita sama. Bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka?"
Bidadari Angin Timur serta meria gelengkan kepala.
"Jika kau suka jalan bersama mereka Silahkan saja. Aku memilih jalan sendiri. Mungkin aku tidak akan pergi memasuki lorong itu."
"Aku tidak memaksa. Bagaimanapun Wiro pernah menjadi sahabatku. Aku ingin melihat apa yang akan mereka lakukan dan memberi pertolongan bila dibutuhkan. Sebagai orang rimba perSilatan, apakah kau akan pergi begitu saja? Padahal kau tahu Seratus Tiga Belas Lorong Kematian adalah pusat segala kejahatan keji yang harus kita musnahkan. Termasuk manusia-manusia pocong itu. Sahabat, apapun yang kau rasakan saat ini. jangan sekali-kali mengacaukan hati dan pikiranmu. Aku akan kesana. Kau ikut?"
Bidadari Angin Timur diam saja. Namun ketika Jatilandak melangkah pergi dia akhirnya beranjak juga mengikuti. Kuda yang tadi jadi tunggangannya dibiarkan begitu saja.
Bidadari Angin Timur dan Jatilandak sengaja menempuh jalan tertutup pohon dan semak belukar agar jangan sampai diketahui Wiro dan Wulan Srindi. Di atas satu tempat ketinggian mereka bisa melihat jelas ke bawah, termasuk melihat Wiro dan Wulan Srindi Segala apa yang terjadi di bawah sana. yaitu bagaimana Wiro dan Wulan Srindi tampak begitu akrab tertawa-tawa dan sesekali berpegangan tangan sempat disaksikan oleh Bidadari Angin Timur. Rasa cemburu seolah kobaran api membakar dirinya.
"Kita pergi saja. Tak ada gunanya berada di tempat ini," kata Si gadis pada Jatilandak. Pemuda dari Negeri LatanahSilam ini terpaksa hendak mengikuti ajakan Bidadari Angin Timur. Dia tahu Si gadis sangat terpukul dengan apa yang disaksikannya di bawah sana. Lebih terpukul lagi karena mungkin merasa sebelumnya dia telah melakukan hal yang sama. bermesraan dan tertangkap basah oleh Wiro. Kini. yang disaksikannya itu apakah berupa balasan?
Belum sempat Bidadari Angin Timur melangkah pergi tanpa mencari kuda coklat tunggangannya yang entah berada di mana, belum sempat pula Jatilandak bergerak mengikuti, seperti yang diceritakan sebelumnya, di tempat itu muncullah orang berjubah dan berpenutup kepala kain putih yang bukan lain adalah Hantu Muka Dua.
"Jatilandak! Lihat!" seru Bidadari Angin Timur. "Mahluk berpakaian dan bertutup kepala serba putih itulah yang hendak melakukan kekejian terhadapku beberapa waktu lalu sebelum kau datang menolong! Jahanam Aku akan membunuhnya saat ini juga!"
"Jangan! Tunggu! Lihat! Aku merasa akan terjadi perkelahian hebat antara orang berpakaian serba putih dengan Wiro. Kalau Wiro terdesak, baru kita keluar membantu."
"Aku akan tetap di Sini Siapa sudi membantu orang seperti dia. Turut ceritamu kini aku tahu manusia belang macam apa dia adanya!"
"Jangan berkata begitu." ujar Jatilandak sambil pegang lengan Si gadis.
Dibawah sana perkelahian berlangsung hebat. Ketika Wiro mengetuai kan ilmu yang membuat tanah terbelah dan Siap menyedot amblas sosok Hantu Muka Dua, tiba-tiba melesat tiga Bendera Darah. menyerang tiga bagian tubuh Pendekar 212. Selagi murid Sinto Gendeng berusaha selamatkan diri. berkelebat seorang manusia pocong yang langsung menotok Hantu Muka Dua lalu membawanya kabur.
Jatilandak yang memperhatikan jalannya perkelahian, tersentak kaget dan berucap. "Wiro mengeluarkan ilmu yang disebut Membelah Bumi Menyedot Arwah. Di Negeri LatanahSilam hanya Hantu Santet Laknat alias Luh Rembulan yang memiliki ilmu kesaktian itu. Berarti Luhrembulan telah memberikan ilmu kesaktian itu pada Wiro. Tidak disangka begitu jauh hubungan mereka…"
"Mengapa heran?" ucap Bidadari Angin Timur dengan wajah unjukkan rasa tidak senang. Menurut ceritamu, kalau perempuan itu sudah menjadi isterinya. apapun akan diberikannya kepada Wiro."
Setelah manusia pocong yang membawa kabur Hantu Muka Dua lenyap. Wiro dan Wulan Srindi melanjutkan perjalanan mendaki bukit batu hingga akhirnya sampai di satu pedataran yang ada tiga buah batu besar. Di tempat ini kembali Bidadari Angin Timur melihat Wiro dan Wulan Srindi saling bercanda. Malah berpelukan segala. Hati Bidadari Angin Timur serasa luluh, darahnya seperti aliran api. Diluar dugaan, kuda tunggangan Bidadari Angin Timur tahu-tahu muncul dibalik salah satu batu besar dan terlihat oleh Wiro serta Wulan Srindi. Si gadis segera mengenali kalau kuda itu adalah milik Anggini yang ditunggangi oleh Bidadari Angin Timur. Berarti Bidadari Angin Timur, mungkin juga bersama Jatilandak, ada di sekitar tempat itu.
"Pasti mereka melihat bagaimana aku bersenda gurau dengan Wulan. Tapi gadis ini malah memeluk diriku sewaktu hampir jatuh dilabrak hawa aneh dari dalam lorong," membatin Wiro. "Biar saja," katanya sambil menggaruk kepala. "Mudah-mudahan sekarang dia bisa merasakan bagaimana rasanya sakit hati sewaktu aku melihat dia bermesraan dengan Jatilandak!" Sang pendekar tersenyum lalu garuk-garuk kepala sementara Bidadari Angin Timur yang takut kalau kehadirannya sampai diketahui Wiro dan Wulan Srindi cepat-cepat mengajak Jatilandaktinggalkan tempat itu.

9

CERMIN bulat sakti di tangan Ratu Duyung mulai bergetar. Kebeningan di permukaan cermin perlahan-lahan berubah redup. Sesaat kemudian malah menjadi gelap. Ratu Duyung tambahkan tenaga dalam. Sepasang mata biru tak berkesip menatap cermin. Getaran ditangan semakin keras. Tiba-tiba ada guratan-guratan terang. Ratu Duyung merasa heran, juga cemas.
"Wiro, dimana kau…" ucap gadis jelita yang berasal dari kawasan pantai selatan ini. "Mengapa setiap aku mencoba memantau dimana dia berada, cermin ini memperlihatkan tanda-tanda aneh. Apakah cermin ini telah hilang kesaktiannya? Beberapa malam lalu ketika aku coba memantau pemuda itu. aku melihat pemandangan­pemandangan aneh. Lalu ada suara genta dahsyat sekali. Aku terpental. Kini cermin ini kembali menunjukkan keanehan…"
Seperti diceritakan sebelumnya. Ratu Duyung bersama Sutri Kaliangan meninggalkan Gedung Kepatihan di Kotaraja. Keduanya dengan menunggang kuda akan mencari Wiro sekaligus menyelidiki tempat-tempat aneh yang terlihat dalam cermir secara samar. Tujuan paling utama adalah menemukan markas manusia pocong yang disebut 113 Lorong Kematian. (Baca Episode sebelumnya berjudu "Rumah Tanpa Dosa")
Dalam perjalanan Sutri Kaliangan berusaha bahkan setengah memaksa agar Ratu Duyung mau mampir ke rumah milik orang tuanya yang terletak di Jatipurno. Rupanya puteri Patih Kerajaan itu mempunyai maksud tertentu mengajak’Ratu Duyung Singgah di Jatipurno. Di malam hari itu dia ingin bercinta dengan gadis jelita bermata biru itu. Ternyata Sutri Kaliangan mempunyai kelainan. Yakni hanya berhasrat pada sesama jenis. Ratu Duyung berhasil melarikan diri dan sembunyi dalam sebuah gerobak.
Saat itu ada dua orang manusia pocong melakukan pengintaian di atap rumah, melihat Sutri Kaiiangar dalam keadaan bugil. Yang satu berhasrat hendak menggagahi putri Patih Kerajaan itu. Manusia pocong satunya yang tidak mau mencari perkara kembali ke sarang mereka di 113 Lorong Kematian.
Sewaktu manusia pocong hampir berhasil hendak memperkosa Sutri Kaliangan yang berada dalam keadaan tertotok muncul Naga Kuning bersama nenek sakti berjuluk Gondoruwo Patah Hati Naga Kuning meremas hancur kemaluan manusia pocong yang hendak memperkosa Sutri Kaliangan.
Ratu Duyung coba mengejar manusia pocong yang hancur kemaluannya dan melarikan diri dengan membedal salah seekor kuda yang ditambatkan di halaman rumah. Dia coba mengerahkan ilmu Menembus Pandang agar bisa lebih mudah mengejar manuSia pocong yang melarikan diri. Ternyata dia hanya mampu melihat kudanya saja sementara manusia pocong yang menunggangi tidak kelihatan sama sekali. Agaknya ada satu kekuatan hebat melindungi manusia pocong itu. (Baca Episode berjudul "Bendera Darah")
Ratu Duyung tenangkan hati cemas, jernihkan pikiran yang kacau lalu kembali menambah kekuatan tenaga dalam pada sepasang tangan yang memegang cermin bulat.
"Ah…" gadis bermata biru ini tarik nafas agak lega. Walau agak samar namun kini dia bisa melihat bayangan rimba belantara di dalam cermin Lalu sebuah lembah, menyusul bukit batu. Dua sosok manusia muncul dalam cermin. Satu lelaki, satu perempuan.
"Yang lelaki pasti Wiro. Aku tak bisa menduga Siapa yang perempuan. Anggini atau Wulan Srindi? Mungkin juga Bidadari Angin Timur?"
Bayangan dua manusia di dalam cermin pupus. Berganti dengan bangunan aneh terdiri dari lorong­lorong yang jumlahnya banyak sekali. "Aku pernah melihat lorong ini sebelumnya dalam cermin," membatin Ratu Duyung. Sepasang mata Ratu Duyung tak berkesip. Dadanya mendadak berdebar. Bayangan lorong di cermin lenyap. Muncul pe­mandangan sebuah rumah tua. Lalu sebuah bangunan berwarna putih. Saat itu pula ada suara aneh, seperti suara genta luar biasa kerasnya. Membuat telinga Ratu Duyung mengiang kesakitan. Dua tangannya bergetar hebat. Lalu ada satu kekuatan dahsyat yang tak kelihatan. Karena pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya waktu di Gedung Kepatihan. sambil berteriak keras Ratu Duyung cepat melompat setinggi dua tombak. Satu tangan mengangkat cermin bulat tinggi-tinggi ke atas. tangan yang lain dipukulkan ke bawah guna meredam hantaman hawa aneh yang menyerangnya.
"Rumah putih itu… Agaknya disana letak semua sumber kekuatan." Ucap Ratu Duyung begitu melayang turun dan jejakkan dua kaki di tanah. "Aku harus mencari bangunan itu. Aku harus menuju kesana. Bukan mustahil itulah sarangnya para manusia pocong."
Ratu Duyung Simpan cermin saktinya di balik pakaian. Ketika dia hendak melangkah pergi dari samping berkelebat satu bayangan disertai menebarnya bau pesing santar sekali. Semula gadis ini menyangka nenek sakti dari Gunung Gede Sinto Gendeng yang muncul. Ternyata kakek berkuping lebar, berbaju lusuh, bercelana basah oleh air kencing. Setan Ngompol!
"Ratu Duyung, senang bisa berjumpa kau lagi."
"Kau sendirian?" tanya sang dara.
"Sama seperti dirimu," jawab Setan Ngompol lalu kedipkan mata dan tertawa mengekeh. "Sobatku Si Naga Kuning tengah berleha-leha dengan kekasihnya Si Gondoruwo Patah Hati. Entah berada dimana mereka saat ini. Tadinya aku bersama Bidadari Angin Timur. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan aku bersama pemuda botak berkulit kuning. Kurasa kau juga tahu, sebelumnya sudah disusun rencana untuk mencari sarang manusia pocong di satu bukit batu. Aku mengira saat ini kau juga tengah menuju kesana.”
Ratu Duyung mengiyakan dengan anggukkan kepala.
“Kalau begitu apakah kita boleh jalan berbarengan?”
“Asal kau tidak jahil dan jangan dekat-dekat,” jawab Ratu Duyung bercanda.
“Aku tidak pernah jahil. Paling-paling Cuma ngompol saja,” jawab Si kakek lalu serrr! Air kencingnya terpancar dan dia tertawa gelak-gelak.

***

DI DALAM Lorong Kematian.
Yang Mulia Ketua berdiri di tepi ranjang sambil usap-usap dua telapak tangan satu sama lain. Seringai mesum tersungging di wajahnya yang tersembunyi dibalik kain putih penutup kepala.
"Cantik sekali… cantik sekali. Aku pernah mendengar, mungkin juga pernah melihatmu sebelumnya. Tapi tidak sedekat seperti sekarang ini. Anggini. itu namamu? Bagus nama cantik orangnya. Alur nasib akhirnya membawa kita pada pertemuaan ini. Ha…ha…ha!"
Di atas tempat tidur. Anggini terbaring tak bergerak akibat totokan ujung rambut Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Mata melotot, dadanya turun naik. Takutnya tentu saja bukan kepalang. Dia rela menghadapi mati bagaimanapun caranya dari pada dinisak kehormatan dan dibiarkan hidup seumur­umur dalam keadaan menanggung derita sengsara tak berkeputusan. Namun murid Dewa Tuak ini tidak mau unjukkan rasa takut. Karena jalan suaranya tidak ikut ditotok, dia segera membuka mulut.
"Jadi ini mahluknya yang disebut manusia pocong! Kau pimpinan di tempat ini?!"
"Betul sekali," jawab Yang Mulia Ketua. Dia membungkuk sedikit, membelai wajah Si gadis dengan tangan kanan lalu tertawa gelak-gelak.
"Pengecut’" Hardik Anggini.
Tawa Yang Mulia Ketua semakin keras.
"Kau tahu Siapa aku?!" Kembali Anggini membentak.
"Oo-o! Siapa tidak tahu gadis cantik terkenal sepertimu ini. Namamu Anggini. Kau murid Dewa Tuak. Kau juga adalah kekasih Pendekar 212 Wiro Sableng!"
"Kalau sudah tahu Siapa aku mengapa tidak segera melepas diriku? Apa aku harus mengambil nyawamu lebih dulu? Atau kau mau orang-orang yang barusan kau sebut namanya itu akan mencincangmu sampai lumat?!"
"Aha! Bicaramu hebat! Aku suka gadis macammu" Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kemitian itu duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya enak saja memegang paha Anggini.
"Manusia jahanam! Jangan berani menyentuh Diriku” Teriak Anggini.
Sang Ketua mendongak, tertawa panjang lalu berkata.
"Aku akan membebaskan dirimu, jika aku sudah merasa puas menerima pelayananmu! Ha…ha…ha!"
"Mahluk keparat! Jika kau punya maksud berbuat keji padaku, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga! Aku tidak takut mati!"
"Kau gadis pemberani. Kau memang hebat! Tapi dengar dulu. Kita akan bersenang-senang. Kekasihmu pemuda sableng itu, jika sudah kena diringkus akan aku bawa ke dalam kamar ini. Dia akan ikut menyaksikan bagaimana mesranya kau melayani diriku. Setelah itu kau sendiri yang akan membunuhnya! Ha…ha…ha!"
"Setan keparat! Siapa kau sebenarnya? Permusuhan apa antara kau dengan Wiro hingga punya rencana sangat keji?!"
"Saat ini aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu. Bila sampai waktunya, kau akan tahu sendiri. Sekarang biar aku menanggalkan pakaianmu.
"Jahanam! Tidak! Jangan!"
Tangan Sang Ketua meluncur ke dada pakaian Anggini. Ketika jari-jarinya hendak merenggut robek pakaian itu tiba-tiba dikejauhan terdengar suara genta. Lantai dan dinding kamar batu bergetar. Di lain saat ada ketukan di pintu.
"Setan alas! Apa yang terjadi?’ Siapa berani menggangu?!"
Walau marah besar kesenangannya terganggu. Yang Mulia Ketua turun dari tempat tidur, melangkah ke pintu. Begitu pintu dibuka, tampak berdiri wakil Ketua Barisan Manusia Pocong.
"Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Saya datang untuk memberi laporan sangat penting.
Mulut Sang Ketua berkomat kamit menahan amarah. "Bicara!" bentaknya.
"Saya dan anak buah berhasil menawan seorang tokoh berkepandaian tinggi. Berasal dari negeri 1200 tahun Silam. Dia tidak mau memberi tahu nama. Tapi dari pembicaraannya yang dilakukannya di satu tempat diketahui dia bernama Hantu Muka Dua. Sesuai namanya, kepalanya memang memiliki dua wajah. Satu di sebelah depan, satu lagi di belakang. Mahluk satu ini sungguh luar biasa. Sepasang matanya bisa menyemburkan dua larik Sinar hijau. Hal ini saya saksikan sewaktu dia berkelahi melawan Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng."
"Jadi pendekar sableng itu sudah berada di sekitar kawasan lorong?" tanya Yang Mulia Ketua.
"Benar sekali Yang Mulia. Dia muncul bersama seorang gadis bernama Wulan Srindi Gadis ini dulu pernah disekap di lorong tapi berhaSil kabur setelah merayu seorang anggota kita."
"Aku ingat peristiwa itu." kata Yang Mulia Ketua pula
"Harap Yang Mulia Ketua mau menyempatkan diri untuk melihatnya sendiri. Juga memberi petunjuk apa yang akan kita lakukan."
"Mahluk aneh dari 1200 tahun Silam. Hemmm…" Yang Mulia Ketua usap kain penutup kepalanya. "Aku pernah mendengar kabar tentang manusia­manusia aneh yang muncul di tanah Jawa, entah datang dari mana. Jadi kita berhaSil menawan seorang diantara mereka. Bernama Hantu Muka Dua. Memiliki dua wajah! Luar biasa! Tentu, aku ingin sekail melihatnya. Siapa tahu dia pantas menjadi anggota barisan manusia pocong. Kita sedang kekurangan orang."
“Terus terang saya punya usul lain. Yang Mulia Ketua. Selain hebat dan luar biasa mahluk ini sangat berbahaya. Dia bisa menjadi musuh dalam selimut. Bagaimana kalau kita hadapkan pada Yang Mulia Ketua Sri Paduka Ratu?"
"Akan aku putuskan nanti. Apakah mahluk itu sudah dicekoki minuman selamat datang?"
"Sudah Yang Mulia. Dua cangkir besar. Sama sekali tidak ada bekas. Tidak ada pengaruh. Dia memiliki kekuatan aneh yang punya daya tolak luar biasa. Saat ini dia berada dalam keadaan tertotok. Namun saya kawatir dia punya kemampuan untuk membuyarkan totokan itu."
"Begitu?" Yang Mulia Ketua usap-usap dua tangannya satu sama lain.’ Antarkan aku ke tempat mahluk itu disekap "
Sebelum keluar dari kamar, Yang Mulia Ketua mendekati Anggini yang masih terbaring di atas ranjang. Diciumnya pipi gadis itu seraya berkata. "Harap kau sabar menunggu. Nanti kau harus melayaniku sampai puas." ‘
"Mahluk jahanam! Pergilah ke neraka! Jangan kembali lagi" Maki Anggini.

***

KAMAR batu dimana Hantu Muka Dua disekap dijaga oleh dua orang Satria Pocong. Ketika Sang Ketua masuk, keadaan Hantu Muka Dua masih berpakaian lengkap yaitu jubah dan penutup kepala kain putih. Sang Ketua tidak menyangka kalau orang itu mengenakan pakaian dan berpenampilan seperti manusia pocong. Dia memberi isyarat agar Wakil Ketua membuka kain penutup kepala. Begitu kain putih penutup kepala dibuka. Yang Mulia Ketua sempat melengak kaget, sepasang mata menyipit, kening mengerenyit. Orang yang tegak di depannya. seperti keterangan Wakil Ketua tadi. ternyata memang memiliki dua wajah. Satu di depan berwarna putih kekuningan, satu lagi di belakang berwarna hitam berkilat. Selain itu. yang juga dahsyat adalah sepasang bola matanya yang berbentuk segi tiga hijau.
"Namamu Hantu Muka Lua?" tegur Yang Mulia Ketua.
"Apa maumu?! Kalau bicara padaku apa kau tidak berani membuka kain penutup kepala?"
"Nyalimu hebat juga!" Ucap Yang Mulia Ketua. Dia perhatikan gerakan urat besar di leher kiri Hantu Muka Dua. Ada bagian urat yang mengembung dan bergerak cepat pertanda Hantu Muka Dua tengah berusaha melepaskan diri dari totokan. Yang Mulia Ketua cepat luruskan dua jari tangan kanannya dan dess! Dua jari menotok urat besar di pangkal leher kanan hantu Muka Dua. Yang ditotok langsung menjadi tambah kaku tak punya kemungkinan lagi untuk memusnahkan totokan yang menguasai dirinya.
"Benar kabar yang mengatakan kau mahluk dari negeri 1200 tahun Silam?"
"Aku tidak mau bicara apapun denganmu. Lepaskan totokanku! Baru nanti kita bicara. Jika aku suka. mungkin saja kita bisa bersekutu."
Sang Ketua tidak perdulikan ucapan orang. Dia perhatikan sepasang mata yang berbentuk segi tiga hijau. Menurut Wakil Ketua, sepasang mata orang ini bisa menyemburkan dua larik Sinar hijau
‘Kau merasa aneh melihat dua mataku yang berbentuk segi tiga?"
Ketika Sang Ketua tidak menyahut. Hantu Muka Dua tertawa bergelak.” Tiga sudut sepasang mataku adalah pelambang Sifat diriku. Hantu Segala Keji. Segala Tipu, Segala Nafsu!"
Yang Mulia Ketua sampai tersentak kepalanya mendengar ucapan Hantu Muka Dua
"Mahluk satu itu memang bisa berbahaya. Bisa menimbulkan bencana bagi diriku. Malapetaka bagi kelangsungan Partai Bendera Darah Seratus Tiga Belas Lorong Kematian yang hendak aku dirikan," ucap Yang Mulia Ketua dalam hati. Dia berpaling pada Wakil Ketua, memberi isyarat agar mendekat. Begitu Wakil Ketua berada di sampingnys. Sang Ketua berkata perlahan. "Hadapkan mahluk satu ini pada Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Perintahkan Sri Paduka Ratu untuk menyedot semua kesaktian yang dimilikinya."
"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dflakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!" Wakil Ketua keluarkan ucapan Mu bersama seorang anak buahnya cepat-cepat menggotong sosok Hantu Muka Dua keluar dari kamar sekapan.
Ketika Yang Mulia Ketua kembali ke kamarnya, dia dapatkan Anggini tidak ada lagi diatas tempat tidur. Ledakan amarah membuat Ketua Barisan Manusia Pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian ini berteriak tak karuan. Wakil Ketua yang tengah membawa Hantu Muka Dua ke Rumah Tanpa Dosa tempat kediaman Yang Mulia Sri Paduka Ratu terpaksa mendatangi.
"Geledah semua tempat! Periksa semua orang! Temukan gadis itu! Kalau tidak kalian semua akan menerima hukuman berat!”
Wakil Ketua membungkuk hormat. "Selesai membawa Hantu Muka Dua ke hadapan Yang Mulia Sri Paduka Ratu, perintah Yang Mulia Ketua akan saya laksanakan. Saya akan memeriksa Dewa Tuak terlebih dulu Karena kakek itu adalah guru Anggini."
Yang Mulia Ketua menjawab dengan menghan­tamkan tiniu kanannya ke dinding batu hingga din-ding berlobang besar dan pecahan batu bertaburan.

TAMAT
Segera dapat pembaca ikuti Episode berikutnya berjudul :
MISTERI PEDANG NAGA SUCI 212

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog