Kisah Sepasang Rajawali Jilid1

INDEX KHO PING HOO
Jilid1 | Jilid2 | Jilid3 | Jilid4 | Jilid5 | Jilid6 | Jilid7 | Jilid8 | Jilid9 | Jilid10 | Jilid11 | Jilid12 | Jilid13 | Jilid14 | Jilid15 | Jilid16 | Jilid17 | Jilid18 | Jilid19 | Jilid20 | Jilid21 | Jilid22 | Jilid23 | Jilid24 | Jilid25 | Jilid26 | Jilid27 | Jilid28 | Jilid29 | Jilid30
Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat dan ide hanya kebetulan belaka.

KHO PING HOO
PENDEKAR TIONGHOA
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Diterbitkan oleh: CV. Mega

--₪֍¦ JILID 1 ¦֍₪--


"Haaiiiii... hiiyooooo... huiiiiii...!"
"Eh, Bu-te (adik Bu), jangan main-main! Angin bertiup begini kencang, lekas duduk dan membantu aku. Gulung layar itu, kita bisa celaka kalau angin sebesar ini dan layar tetap berkembang!"
"Yahuuuuu...! Wah, dengar, Lee-ko (kakak Lee), suara terbawa angin tentu terdengar sampai jauh. Hiyooooohhhhh...!"
Mereka adalah dua orang anak laki-laki yang menjelang dewasa, berusia empat belas tahun, berwajah tampan dan bertubuh tegap kuat. Mereka ini kakak-beradik yang mempunyai ciri wajah berbeda sungguh pun sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tampan. Yang disebut Lee-ko adalah Suma Kian Lee, sedangkan adiknya itu adalah Suma Kian Bu, dan kedua orang anak laki-laki ini bukan anak-anak nelayan biasa yang bermain-main dengan perahu mereka, melainkan putera-putera Pendekar Super Sakti Suma Han atau yang lebih terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es!
Pendekar Super Sakti yang mengasingkan diri dari dunia ramai selama bertahun-tahun, tinggal di Pulau Es bersama dua orang isterinya, yaitu Puteri Nirahai dan Lulu, dua orang isteri yang cantik jelita dan mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raga mereka. Di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis diceritakan betapa suami dengan kedua orang isterinya ini baru berkumpul kembali di pulau itu setelah mereka berusia empat puluh tahun dan hidup bertiga di pulau kosong itu, mengasingkan diri dari dunia ramai dan saling mencurahkan kasih sayang yang terpendam selama belasan tahun berpisah!
Dari curahan kasih sayang yang amat mendalam dan mesra itu, terlahirlah dua orang anak laki-laki itu. Lulu melahirkan puteranya lebih dahulu, dan anak itu diberi nama Suma Kian Lee. Setengah tahun kemudian, Nirahai juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Suma Kian Bu. Tentu saja kelahiran dua orang anak laki-laki itu menambah rasa bahagia di dalam kehidupan mereka bertiga sehingga tidak begitu terasalah kesunyian di pulau itu. Dan setelah kedua orang anaknya terlahir, demi kepentingan dua orang anaknya, Suma Han tidak lagi pantang bergaul dengan orang lain, bahkan sering kali dia mengajak kedua orang puteranya pergi meninggalkan Pulau Es mengunjungi pulau-pulau lain di dekat daratan besar yang dihuni oleh nelayan-nelayan.
Karena kedua orang anak itu lebih mirip dengan ibu masing-masing, maka biar pun keduanya sama tampan, namun terdapat perbedaan dan ciri khas pada wajah mereka, juga semenjak kecil sudah tampak perbedaan watak mereka yang menyolok sekali. Suma Kian Lee, putera Lulu, berwatak lembut dan halus, sabar dan tidak pernah melakukan kenakalan, juga pendiam. Sebaliknya, Suma Kian Bu, putera Nirahai, amat nakal dan periang, mudah tertawa dan mudah menangis, bandel dan berani, akan tetapi juga amat mencinta kakaknya dan betapa pun nakalnya, akhirnya dia selalu tunduk dan taat kepada kakaknya. Padahal dia berani membangkang terhadap ibunya sendiri, bahkan kadang-kadang dia berani menentang ayahnya!
Pada pagi hari itu, ketika kedua orang ibu mereka sedang sibuk di dapur dan ayah mereka seperti biasa di waktu pagi hari duduk bersemedhi dalam kamar semedhinya, mereka berdua bermain-main dengan perahu mereka. Kemudian timbul niatan tiba-tiba dalam kepala Suma Kian Bu untuk pergi menggunakan perahu ke daratan besar dan mencari enci-nya (kakak perempuannya) yang tinggal di kota raja!
Memang anak ini mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Puteri Milana. Puteri Nirahai adalah puteri Kaisar Tiongkok yang lahir dari seorang selir, maka anaknya yang pertama, yang bernama Milana, juga seorang puteri, cucu kaisar! Di dalam ceritera Sepasang Pedang Iblis dituturkan betapa Puteri Milana, kakak Suma Kian Bu ini, oleh ayahnya diharuskan ikut kakeknya, Kaisar Tiongkok, untuk tinggal di istana kaisar dan selanjutnya mentaati semua perintah kakeknya itu.
Akhirnya oleh kaisar, Puteri Milana yang cantik jelita itu dijodohkan dengan seorang panglima muda yang juga berdarah bangsawan, setelah panglima muda ini berhasil keluar dari sayembara yang diadakan oleh Milana. Dara bangsawan itu, cucu kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, hanya mau dijodohkan dengan seorang yang mampu menahan serangannya selama seratus jurus! Dan kalau dia menghendaki, sukarlah ditemukan orang yang dapat menahan seratus jurus serangannya. Akan tetapi ketika Han Wi Kong, panglima muda itu memasuki sayembara, pemuda perkasa ini berhasil mempertahankan diri dan dialah yang terpilih menjadi suami puteri jelita dan perkasa itu! Sesungguhnya, hal ini hanya dapat terjadi karena memang Milana memilihnya di antara sekian banyaknya pelamar yang datang memasuki sayembara.
Ketika diadakan pesta pernikahan Puteri Milana, Pendekar Super Sakti bersama kedua orang isteri dan kedua orang puteranya datang pula ke kota raja. Hal ini terjadi ketika kedua orang puteranya masih kecil, baru berusia lima atau enam tahun dan itulah pengalaman pertama dari kedua orang anak ini melihat kota raja!
Demikianlah pagi hari itu Suma Kian Bu membujuk kakaknya untuk pergi menyusul enci-nya (kakak perempuannya) di kota raja. Tentu saja Suma Kian Lee menolak dan mengingatkan adiknya bahwa kota raja amatlah jauh dan pergi ke sana tanpa ijin ayah mereka tentu akan membuat ayah mereka marah. Akan tetapi, Suma Kian Bu merengek dan akhirnya Suma Kian Lee yang amat sayang kepada adiknya, terpaksa menyanggupi dan berlayarlah keduanya meninggalkan Pulau Es!
Biar pun kedua orang anak laki-laki itu baru berusia empat belas tahun, akan tetapi sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja mereka tidak dapat disamakan dengan anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Semenjak kecil mereka berdua telah digembleng oleh ayah bunda mereka yang berilmu tinggi sehingga mereka merupakan dua orang anak-anak yang telah memiliki ilmu kepandaian silat tinggi dan memiliki tenaga sinkang latihan Pulau Es yang mukjijat.
Betapa pun juga, mereka hanyalah anak-anak dan sifat kanak-kanak mereka yang suka bermain-main masih melekat dalam hati mereka. Setelah mereka menjelang dewasa, jiwa petualang yang terdapat dalam hati semua anak laki-laki bergejolak dan kini dicetuskan oleh Kian Bu yang mengajak kakaknya untuk pergi merantau, menyusul enci-nya di kota raja.
Perahu mereka telah jauh meninggalkan Pulau Es karena angin di pagi hari itu bertiup kencang sehingga layar yang mereka pasang berkembang penuh. Akan tetapi makin lama angin bertiup makin kencang sehingga Kian Lee merasa khawatir sekali karena perahu mereka sudah miring-miring dan meluncur terlalu cepat. Sebaliknya Kian Bu masih bermain-main, berdiri di kepala perahu, bertolak pinggang dan berteriak-teriak membiarkan suaranya dibawa angin.
"Bu-te, cepat bantu. Berbahaya kalau begini, kurasa akan ada badai!" Kian Lee yang mengemudikan perahu dengan dayungnya berteriak lagi.
Mendengar disebutnya ‘badai’, otomatis Kian Bu menghentikan teriakan-teriakannya dan air mukanya berubah. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggulung layar dan membantu kakaknya mendayung sambil berbisik, "Benarkah ada... badai, Lee-ko?"
"Entahlah, mudah-mudahan saja tidak," jawab kakaknya. "Dan payahnya, mungkin kita salah jalan, Bu-te. Mengapa belum juga nampak daratan besar?"
Dua orang kakak-beradik ini memang agak gentar terhadap badai. Pernah ayah mereka bercerita betapa hebatnya kalau badai telah mengamuk di daerah lautan ini. Bahkan menurut cerita ayahnya, Pulau Es sendiri pernah diamuk badai sampai tenggelam di bawah permukaan air laut! Betapa mengerikan. Kata ayah mereka, dahulu pulau mereka itu merupakan sebuah kerajaan, akan tetapi semua penghuninya dibasmi habis oleh badai dan hanya tinggal bangunan istananya saja. Biar pun mereka berdua yang sejak kecil tinggal di pulau dan tidak asing dengan lautan, bahkan ahli dalam ilmu renang, pandai pula menguasai perahu, namun mendengar tentang badai sehebat itu, mereka merasa gentar juga. Dan sekarang, berada di tengah lautan, jauh dari Pulau Es, mereka merasa ngeri kalau-kalau ada badai akan mengamuk.
"Lee-ko, bukankah daratan besar letaknya di sebelah barat?"
"Menurut ibu demikian dan tadi aku sudah mengarahkan perahu ke barat. Akan tetapi, angin kencang mengubah haluan dan kita agaknya menyimpang ke utara. Awas, Bu-te, angin makin kencang!"
Kedua orang pemuda tanggung itu kini tidak bicara lagi, tetapi menggerakkan dayung dengan amat hati-hati untuk mengemudikan perahu mereka yang mulai dipermainkan ombak. Makin lama angin makin kencang bertiup dan ombak makin membesar hingga perahu mereka diombang-ambingkan bagai sebuah mainan kecil dipermainkan tangan-tangan raksasa! Mereka tidak dapat lagi menentukan arah, hanya mempergunakan tenaga melalui dayung untuk menjaga agar perahu mereka tidak sampai terbalik.
"Tenang saja, Bu-te...," di tengah-tengah amukan ombak itu Kian Lee berkata kepada adiknya.
Kian Bu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Lee-ko, harap jangan khawatir."
Dua orang pemuda tanggung itu memang memiliki nyali yang amat besar. Biar pun keadaan mereka cukup berbahaya, namun keduanya masih tenang saja, percaya penuh akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri.
"Dukk! Dukk!"
"Apa itu...?" Kian Bu berteriak kaget, cepat menggerakkan dayung untuk membantu kakaknya mengatur keseimbangan perahu yang tadi terpental seolah-olah ditabrak sesuatu.
"Hemmm, ikan-ikan hiu...! Lihat itu mereka!" Kian Lee berseru sambil menuding ke depan.
Tampaklah sirip-sirip ikan hiu yang berbentuk layar itu meluncur di dekat perahu mereka. Agaknya ikan-ikan itu sudah tahu bahwa perahu kecil itu ditumpangi dua orang yang tentu akan menjadi santapan lezat bagi mereka kalau perahunya dapat terguling. Mereka tadi tidak sengaja menabrak perahu, akan tetapi melihat dua orang di atas perahu, ikan-ikan itu lalu berenang di kanan kiri perahu, agaknya menanti dengan tak sabar lagi sampai dua orang manusia yang akan dijadikan mangsa mereka itu terjatuh ke air dan diperebutkannya.
"Setan air!" Kian Bu memaki. "Lee-ko, jaga perahu, biar kuhajar mereka!"
Tanpa menanti jawaban kakaknya, Kian Bu sudah meloncat keluar dari perahunya, dipandang dengan mata penuh kegelisahan oleh kakaknya. Kakak ini maklum akan keberanian dan kenakalan adiknya, akan tetapi kadang-kadang dia harus menahan napas menyaksikan kenakalan Kian Bu, apalagi sekarang!
Kian Bu yang meloncat keluar itu menggunakan kakinya hinggap di atas sirip seekor ikan hiu besar, sedangkan dayung di tangannya, dayung yang ujungnya dipasangi besi, dihantamkan ke kanan kiri mengenai dua ekor ikan hiu lain, tepat di bagian kepala sehingga kepala dua ekor ikan itu pecah. Segera terjadilah pesta pora, karena dua ekor ikan hiu yang terluka kepalanya dan mengeluarkan darah itu telah dikeroyok oleh belasan ekor ikan hiu lainnya sehingga dalam waktu sebentar saja daging mereka terobek-robek dan ditelan habis. Kian Bu sudah meloncat lagi ke atas perahunya dan sambil tertawa-tawa dia membantu kakaknya untuk mendayung perahu meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi karena gelombang lautan masih amat besar, usaha mereka mendayung perahu itu hanya sedikit sekali hasilnya, perahu mereka tetap saja diombang-ambingkan dan mereka tidak tahu lagi ke mana mereka akan dibawa oleh perahu.
"Bu-te, lihat di sana ada pulau!"
Kian Bu menoleh ke kiri dan tampak olehnya sebuah pulau kadang-kadang tampak kadang-kadang tidak karena perahu mereka masih dipermainkan ombak yang naik turun bergelombang. "Lee-ko, mari kita ke sana!"
Dengan susah payah kedua orang kakak beradik ini mendayung perahu mereka dan akhirnya mereka dapat juga mendarat di pulau kecil itu dan menarik perahu sampai ke atas daratan yang tidak tercapai oleh air yang bergelombang. Tiba-tiba mereka dikejutkan suara riuh rendah seperti ada puluhan ekor anjing menggonggong dan menyalak. Ketika mereka naik ke tengah pulau yang agak tinggi, tampaklah oleh mereka pemandangan yang menakjubkan. Kiranya pulau itu merupakan tempat tinggal atau sarang dari sekawanan anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor!
"Lee-ko, betapa lucunya mereka. Mari kita menangkap seekor anak anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor dan kita bawa pulang!" Kian Bu sudah berlari menuju ke tempat itu.
"Jangan, Bu-te!" Kian Lee melarang, akan tetapi karena adiknya sudah berlari cepat, terpaksa dia mengejarnya.
Rombongan anjing laut itu makin hiruk-pikuk mengeluarkan teriakan-teriakan mereka ketika melihat dua orang manusia yang berlari menuju ke arah mereka itu, dan dalam sekejap mata saja mereka telah terjun ke air dan berenang ke tengah laut. Tampak tubuh mereka itu timbul tenggelam dan suara mereka masih menguik-nguik sebagai tanda kemarahan karena ketenangan mereka terganggu.
"Bu-te, jangan ganggu mereka. Bukankah tujuanmu mencari enci Milana, mengapa kau hendak menangkap anjing laut?" Kian Lee menegur.
Kian Bu tertawa. "Aihhh, aku sudah lupa lagi akan tujuan perjalanan kita, Lee-ko. Padahal, selain kita masih jauh dari kota raja, sekarang kita bahkan tidak tahu lagi di mana kita berada."
Suara gerengan dahsyat yang menggetarkan pulau itu mengejutkan mereka. Ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata di depan mereka telah berdiri seekor binatang yang besar sekali. Besar dan tinggi binatang itu ada satu setengah kali manusia dewasa dan binatang itu adalah seekor beruang es yang bulunya putih seperti kapas, mata dan moncongnya kemerahan. Biar pun jarang mereka bertemu dengan seekor beruang es, namun kedua kakak beradik itu mengerti bahwa binatang itu marah sekali. Mereka sudah siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan.
Sekali lagi binatang itu menggereng dan tiba-tiba saja dia sudah menerjang ke depan. Walau pun tubuhnya amat besar dan canggung, namun ternyata binatang itu dapat bergerak dengan cepat sekali, dan dari sambaran angin tahulah dua orang kakak beradik itu bahwa beruang es ini memlliki tenaga yang amat besar.
"Awas, Bu-te!" Kian Lee berseru memperingatkan sebab yang terdekat dengan beruang itu adalah Kian Bu, maka pemuda inilah yang lebih dulu menjadi sasaran serangannya.
Suma Kian Bu adalah seorang pemuda yang amat berani dan agak ugal-ugalan, terlalu mengandalkan kepandaian dan tenaganya sendiri, berbeda dengan kakaknya yang lebih berhati-hati. Melihat beruang itu menubruknya dengan kedua kaki depan diangkat hendak mencengkeramnya dari kanan kiri, Kian Bu cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.
"Dukkk!"

Tubuh Kian Bu terjengkang dan tenaga dahsyat dari beruang itu membuat dia jatuh terguling-guling. Beruang itu agaknya juga merasa nyeri kedua kakinya ketika terbentur oleh lengan pemuda yang mengandung tenaga sinkang itu, maka dia menggereng lagi penuh kemarahan, lalu secepat kilat dia menubruk pemuda yang masih bergulingan di atas tanah itu!
Melihat bahaya mengancam adiknya, Kian Lee cepat menyambar dari samping, memukul ke arah kepala beruang sambil mengerahkan tenaga Inti Es yang dahsyat. Dengan tenaga sinkang istimewa ini, Kian Lee sanggup menghantam remuk batu karang!
Akan tetapi ternyata beruang yang besar itu gesit sekali, kegesitan yang dikuasainya bukan karena ilmu silat, melainkan karena keadaan hidupnya yang setiap saat penuh bahaya, membuat dia gesit dan waspada. Nalurinya tajam sekali dan perasaannya amat peka. Begitu pukulan dahsyat itu menyambar, dia sudah dapat mengelakkan kepalanya, dan kedua kaki depannya yang tadi menubruk ke arah Kian Bu, kini menyimpang dan menghantam pundak Kian Lee.
"Wuuuuttt... dessss!"
Kian Lee cepat mengelak, melempar diri ke kanan, kemudian dari kanan dia sudah menampar dengan telapak tangan kanannya yang tepat mengenai punggung beruang es. Tamparan ini keras sekali, namun agaknya tidak terasa oleh beruang itu yang hanya terhuyung sedikit, menurunkan kedua kaki depannya ke atas tanah, kemudian secara tiba-tiba dia meloncat dan menubruk orang yang telah menampar pundaknya itu.
"Awas, Lee-ko...!"
Kian Bu yang terkejut melihat serangan beruang itu yang menubruk dengan cepat dan agaknya tak mungkin dapat dielakkan oleh kakaknya karena jaraknya terlalu dekat, sudah berteriak dan menubruk ke depan. Dia merangkul kedua kaki belakang beruang itu dari belakang sehingga beruang yang sedang menubruk itu terguling, membawa tubuh Kian Bu terguling bersamanya! Karena Kian Bu mempergunakan ginkang-nya, membuat tubuhnya ringan dan gerakannya gesit sekali, dia berhasil jatuh di bagian atas, menindih tubuh beruang es itu.
Akan tetapi celaka baginya, binatang raksasa itu telah menggunakan kedua kaki depannya yang amat kuat untuk merangkul pinggangnya dan menarik sekuat tenaga, agaknya berusaha untuk mematahkan tulang punggung pemuda itu.
"Auggghhh...!" Kian Bu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan diri, akan tetapi ternyata binatang itu memiliki tenaga kasar yang kuat sekali!
"Plak! Desss!"
Tubuh binatang itu terlempar ketika pada saat yang tepat Kian Lee telah menolong adiknya dengan memukul tengkuk binatang itu dari atas, dan tepat pada saat itu juga, Kian Lee telah menggunakan kedua tangannya untuk menghantam dada binatang itu. Menerima pukulan Kian Lee yang dahsyat, seketika pelukan binatang itu mengendur, maka ketika dadanya dihantam, dia terlempar dan bergulingan.
"Bu-te, hati-hati, dia buas sekali!" Kian Lee memegang tangan adiknya dan kini kakak beradik itu berdiri berdampingan, siap untuk mengeroyok binatang yang amat kuat itu.
Beruang es itu pun berdiri di atas kedua kaki belakang, matanya makin merah menatap kedua orang muda penuh kemarahan, mulutnya mendesis-desis memperlihatkan taringnya, tetapi agaknya dia gentar juga menghadapi dua orang lawan yang cepat itu. Akhirnya, tidak kuat dia menghadapi tatapan pandang mata yang amat tajam dan pantang menyerah dari kedua orang muda itu, beruang ini mundur-mundur, kemudian membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dari situ.
"Bu-te, mari kita lekas kembali ke perahu. Tempat ini berbahaya," kata Kian Lee yang segera lari diikuti oleh adiknya, kembali ke perahu mereka.
Mereka cepat menarik perahu ke laut dan ternyata bahwa laut telah mulai tenang. Kini tampaklah sebuah pulau memanjang yang berwarna hitam, tak jauh membentang di depan.
"Agaknya pulau itu tidak seliar tempat ini, Lee-ko. Mari kita ke sana, siapa tahu kita dapat bertemu dengan nelayan dan kita dapat bertanya arah ke daratan besar kepadanya."
Kian Lee setuju dan mereka lalu mengembangkan layar. Angin perlahan meniup layar dan tak lama kemudian mereka telah tiba di pulau yang kelihatan penuh dengan hutan liar itu. Tadinya mereka merasa ragu-ragu untuk mendarat, akan tetapi ketika mereka melihat sebuah perahu kecil berwarna hitam berada di tepi pantai, mereka menjadi girang dan cepat mendaratkan perahu mereka dekat perahu hitam, kemudian mereka meloncat turun.
Akan tetapi baru saja kedua orang kakak beradik ini melangkah menuju ke tengah pulau, tiba-tiba dari dalam hutan tampak belasan orang berlari-larian keluar dan yang mengejutkan hati kedua orang pemuda Pulau Es itu adalah ketika mereka melihat gerakan belasan orang itu.
Gerakan mereka ketika berlari amat cepat, tubuh mereka berkelebatan seperti terbang, tanda bahwa belasan orang itu telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi! Yang lebih mengherankan dan menyeramkan lagi adalah seorang yang memimpin rombongan itu, seorang kakek yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, tubuhnya seperti raksasa, tinggi besar dan dua pasang kaki tangannya yang tampak sebatas lutut dan siku, penuh dengan otot-otot yang melingkar-lingkar!
Siapakah mereka itu? Pertanyaan ini mengganggu pikiran kedua kakak beradik itu. Tentu saja mereka tidak tahu dan mereka sama sekali juga tidak pernah menyangka bahwa mereka yang diserang gelombang besar itu ternyata telah kesasar ke Pulau Neraka! Pulau Neraka adalah sebuah pulau yang baru dua tiga puluh tahun ini terkenal sekali, bahkan sama terkenalnya dengan Pulau Es. Sebetulnya, Pulau Neraka ini menurut riwayatnya masih ada hubungannya dengan Pulau Es.
Dahulu kala, ratusan tahun yang lalu, ketika di Pulau Es masih terdapat sebuah kerajaan kecil, Pulau Neraka merupakan tempat pembuangan orang-orang yang melakukan dosa besar. Akhirnya, setelah kerajaan Pulau Es terbasmi habis oleh badai sehingga seluruh penghuninya tewas, Pulau Neraka dengan penghuninya merupakan daerah yang bebas. Bahkan Lulu, isteri Pendekar Super Sakti pernah pula menjadi ketua atau majikan dari Pulau Neraka ini.
Setelah Pulau Neraka kehilangan semua tokohnya dan tidak ada yang memimpin lagi, terjadilah perebutan kekuasaan. Akan tetapi baru tiga tahun yang lalu, Pulau Neraka kedatangan seorang kakek raksasa yang amat sakti, yang dengan kepandaiannya menundukkan semua penghuni Pulau Neraka sehingga otomatis dia diangkat menjadi ketua.
Dia memperkenalkan diri dengan nama julukan Hek-tiauw Lo-mo (Iblis Tua Rajawali Hitam) dan memang dia pantas memakai nama julukan seperti itu karena selain tubuhnya seperti raksasa dan mukanya yang terhias caling itu seperti iblis, juga dia datang ke Pulau Neraka dengan menunggang seekor burung rajawali hitam! Lebih hebat lagi, di belakang burung rajawali hitam ini terdapat dua ekor burung rajawali lain yang berbulu putih dan bermata emas, akan tetapi dua ekor burung rajawali ini masih muda dan agaknya takluk kepada burung rajawali hitam sehingga dia ikut saja ke mana sang rajawali hitam itu terbang.
Hek-tiauw Lo-mo memang seorang sakti. Dia datang dari daratan negara Kolekok (Korea) dan di sana dia menjadi orang buruan pemerintah karena dia merupakan seorang penjahat yang kejam dan dimusuhi pemerintah dan semua orang gagah. Karena merasa tidak aman berada di negaranya sendiri, Hek-tiauw Lo-mo melarikan diri dengan sebuah perahu ke selatan. Di dunia selatan, dia berhasil menjadi raja suatu bangsa yang masih biadab dan yang tinggal di dalam hutan-hutan pegunungan yang amat liar.
Karena kepandaian dan kekuatannya, bangsa biadab ini tunduk kepadanya dan sampai sepuluh tahun dia menjadi raja mereka. Selain dapat memperoleh ilmu-ilmu yang aneh dan tinggi, juga Hek-tiauw Lo-mo ini ketularan kebiasaan dan kesukaan bangsa itu, yaitu kadang-kadang makan daging manusia, musuh mereka dari lain suku yang menjadi korban perang! Agaknya kebiasaan memakan daging orang inilah yang lalu membuat gigi calingnya menonjol keluar, membuat dia kelihatan menyeramkan, seperti seorang iblis.
Setelah tidak kerasan lagi tinggal bersama orang-orang liar dan merasa rindu kepada dunia ramai, Hek-tiauw Lo-mo dengan membekal pengalaman hebat dan ilmu kepandaian yang tinggi, menggunakan perahu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke utara. Kini dia tidak takut lagi dimusuhi oleh siapa pun juga karena dia mempunyai andalan ilmu-ilmu yang tinggi dan sakti. Akan tetapi, ketika dia berlayar mencari negaranya, dia tersesat jalan dan akhirnya dia tiba di sebuah pulau kosong yang tak pernah didatangi manusia.
Di tempat ini dia diserang oleh tiga ekor burung rajawali tadi, akan tetapi karena kepandaiannya, dia berhasil menundukkan mereka, bahkan membuat rajawali hitam yang liar dan ganas itu menjadi jinak dan menjadi binatang tunggangannya. Ada pun dua ekor rajawali putih yang masih muda, menurut saja kemana pun perginya rajawali hitam, maka sekaligus dia memperoleh tiga ekor binatang peliharaan yang boleh diandalkan!
Setelah memiliki binatang tunggangan yang hebat ini, dia mencari lagi negaranya dengan menunggang rajawali hitam. Akan tetapi kembali dia tersesat, dan kini rajawali itu membawanya turun ke Pulau Neraka! Begitu melihat keadaan pulau ini dan melihat para penghuninya yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, seketika hatinya tertarik. Dia menundukkan mereka semua dengan kepandaiannya dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua Pulau Neraka.
Karena selama perantauannya dia sudah membuang nama sendiri, melupakan nama itu yang dianggap sebagai nama buronan yang rendah, maka dia memperkenalkan dirinya sebagai Hek-tiauw Lo-mo. Nama Hek-tiauw diambil dari nama tunggangannya, seekor burung rajawali hitam, dan nama Lo-mo diambilnya karena dia memang merasa sebagai seorang iblis tua yang cocok menjadi ketua Pulau Neraka!
Demikianlah, selama tiga tahun Hek-tiauw Lo-mo menjadi ketua Pulau Neraka, dan dia malah menurunkan ilmu kepada para penghuni Pulau Neraka yang kini hanya tinggal dua puluh orang pria dan tujuh orang wanita itu. Empat orang di antara tujuh orang wanita yang masih muda, biar pun sudah menjadi isteri empat orang penghuni Pulau Neraka, secara paksa diambil oleh Hek-tiauw Lo-mo sebagai selir-selirnya sendiri! Dan dia menganjurkan kepada anak buahnya untuk mencari wanita dari perkampungan nelayan. Dalam tiga tahun itu, bertambahlah penghuni Pulau Neraka dengan tiga puluh orang wanita lagi, wanita-wanita muda yang mereka culik dari perkampungan nelayan di sekitar laut itu.
Kedua kakak-beradik dari Pulau Es yang tadinya merasa girang melihat bahwa di pulau asing itu ada penghuninya, yang menimbulkan harapan bahwa mereka akan dapat menanyakan arah menuju ke daratan besar, kini menjadi terkejut sekali melihat orang-orang ini ternyata berkepandaian tinggi, bersikap liar dan rata-rata mereka mempunyai wajah yang pucat putih seperti dikapur, kecuali wajah kakek raksasa itu. Lebih kaget lagi hati mereka melihat orang-orang itu telah mengurung mereka dengan sikap mengancam.
"Huah-ha-ha-ha!" Hek-tiauw Lo-mo tertawa bergelak saking girang hatinya melihat dua orang laki-laki muda yang bertubuh tegap sehat dan bersih itu. Mulutnya mengeluarkan air liur ketika seleranya bangkit!
Sebaliknya, Kian Lee dan Kian Bu terkejut sekali dan memandang dengan hati ngeri melihat betapa kakek raksasa itu ternyata bercaling seperti beruang es yang belum lama ini mereka lawan!
Melihat sikap mereka yang mencurigakan dan mengkhawatirkan itu, Kian Lee sudah cepat mengangkat tangan di depan dada, menjura sambil berkata, "Harap Cu-wi sudi memaafkan kami berdua kalau kami mengganggu Cu-wi dan datang di sini tanpa ijin Cu-wi. Kami datang hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Cu-wi."
Mendengar cara bicara pemuda tampan itu yang halus dan teratur rapi, Hek-tiauw Lo-mo kembali tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, menarik sekali! Katakanlah, orang muda yang tampan, apa yang hendak kalian tanyakan kepada kami?"
Kian Lee tak ingin berpanjang cerita, maka dia berkata singkat, "Kami berdua tersesat jalan karena terbawa gelombang lautan dan kami ingin bertanya ke manakah arah daratan besar?"
Hek-tiauw Lo-mo menoleh ke kanan dan ke kiri memandang anak buahnya, tersenyum menyeringai lalu berkata, "Dengarkah kalian? Mereka sudah datang ke daratan sini masih ingin mencari daratan besar. Heh-heh!"
Semua penghuni Pulau Neraka yang kini telah datang berkumpul, tersenyum lebar menyeringai. Dua orang pemuda tanggung itu menjadi makin gelisah dan mulailah mereka menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang tidak baik bagi mereka.
"Kalau Cu-wi tidak mau memberi tahu, biarlah kami pergi lagi saja dan kami tidak akan mengganggu lebih lama lagi. Marilah, Lee-ko!" berkata Kian Bu yang sudah hilang sabarnya menyaksikan sikap mereka.
"Hai, nanti dulu! Kalian hendak pergi ke mana?" Hek-tiauw Lo-mo berkata nyaring dan semua anak buahnya sudah bergerak menghadang kedua orang muda itu.
"Kami hendak pergi dari sini!" Kian Bu membentak, marah sudah.
Melihat kemarahan adiknya, Suma Kian Lee cepat berkata dengan suara masih penuh kesabaran dan ketenangan, "Harap Cu-wi tidak menghalangi kami yang hendak pergi lagi dengan aman."
"Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, orang-orang muda yang baik! Siapa pun dia yang telah mendarat di Pulau Neraka, tidak dapat pergi begitu saja!"
"Pulau Neraka...?" Kedua orang muda itu terbelalak setelah mengeluarkan kata-kata ini. Tentu saja mereka telah mendengar akan Pulau Neraka dari penuturan orang tua mereka, bahkan Kian Lee tahu pula bahwa ibu kandungnya dahulu adalah ketua Pulau Neraka!
"Aihhh! Jadi kalian ini adalah para penghuni Pulau Neraka dan kami berdua berada di Pulau Neraka? Sungguh kebetulan sekali!" teriak Kian Bu dengan girang.

"Ha-ha-ha-ha, mengapa kau katakan kebetulan, orang muda?" tanya Hek-tiauw Lo-mo, agak kecewa mengapa kedua orang pemuda tanggung ini tidak takut mendengar nama Pulau Neraka.
"Karena ibu kami, ibu kandung kakakku ini, pernah menjadi ketua Pulau Neraka ini!"
"Bu-te...!" Kian Lee terkejut melihat adiknya yang begitu sembrono mengakui hal itu.
Benar saja, kakek itu terkejut sekali, namun lebih terkejut lagi adalah para penghuni Pulau Neraka itu yang kini memandang kepada Kian Lee dengan mata bengong dan penuh selidik. Mereka semua tahu bahwa majikan mereka yang dahulu sekarang telah menjadi isteri Pendekar Super Sakti di Pulau Es.
Hek-tiauw Lo-mo yang tidak mengenal apa yang dimaksudkan dengan wanita ketua Pulau Neraka itu, bertanya mendesak, "Benarkah demikian?"
Karena adiknya sudah terlanjur bicara, maka Kian Lee lalu berkata dengan suara tenang, dan sesungguhnya, "Tidak salah ucapan adikku. Ibuku pernah menjadi ketua Pulau Neraka, akan tetapi sekarang ibuku adalah penghuni Pulau Es. Kami berdua datang dari Pulau Es, kami adalah dua orang putera Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es."
Mendengar ucapan ini semua penghuni Pulau Neraka terbelalak. Serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah dua orang pemuda itu! Melihat betapa semua anak buahnya memperlihatkan sikap menghormat kepada dua orang muda yang mengaku datang dari Pulau Es itu, Hek-tiauw Lo-mo menjadi marah sekali. Dia membanting kedua kakinya yang sebesar kaki gajah itu ke atas tanah sehingga tanah sekeliling tempat dia berdiri tergetar seperti dilanda gempa bumi!
"Bangun semua! Hayo bangkit semua, yang tidak bangkit akan kubunuh!"
Tentu saja para anak buah Pulau Neraka terkejut dan ketakutan. Cepat mereka bangkit berdiri sungguh pun mereka masih memandang ke arah Kian Lee dan Kian Bu dengan sikap sungkan.
Hek-tiauw Lo-mo telah meloncat ke depan dan dua orang pemuda tanggung itu melihat betapa gerakan kakek ini ringan sekali, sama sekali tidak sepadan dengan tubuhnya yang demikian besarnya.
"Bagus! Jadi kalian adalah putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Siapa sih itu Pendekar Super Sakti? Baru sekarang aku mendengar namanya! Tadinya kalian akan kujadikan pesta, daging kalian yang muda tentu enak dipanggang. Akan tetapi karena kalian adalah orang-orang Pulau Es, biarlah aku menjadikan kalian tahanan di sini. Hendak kulihat apa yang akan dapat dilakukan oleh Pendekar Super Sakti!"
Tiba-tiba seorang yang tua dan tubuhnya gendut tinggi besar, menjatuhkan diri berlutut di depan ketuanya.
"Ji Song, engkau mau bicara apa?" Hek-tiauw Lo-mo membentak, masih marah karena para anak buahnya tadi memberi penghormatan besar kepada dua orang pemuda itu.
Ji Song adalah seorang tokoh Pulau Neraka yang boleh dibilang tertua, juga dia lihai sekali dan menjadi orang kedua setelah Hek-tiauw Lo-mo. Tentu saja sebagai tokoh tua, dia cukup mengenal kehebatan Pendekar Super Sakti yang amat ditakutinya itu. Maka begitu mendengar tantangan ketuanya, dia takut akan akibatnya. Kalau Pendekar Super Sakti mengamuk, bukan hanya ketua Pulau Neraka, mungkin seluruh penghuni Pulau Neraka akan menanggung akibatnya.
"Tocu, harap maafkan saya... akan tetapi saya harap tocu tidak main-main dengan... dengan Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Hendaknya tocu percaya kepada saya dan... dan sebaiknya kalau kedua orang pemuda ini dibebaskan saja agar jangan timbul banyak urusan yang akan memusingkan saja."
Raksasa itu mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. "Hemmm, kalau bukan engkau yang bicara aku tentu tidak akan percaya, Ji Song. Penghuni Pulau Neraka takut terhadap seorang manusia lain? Engkau membangkitkan keinginan tahuku lebih besar lagi, melihat engkau sendiri begitu takut! Seperti apakah Pendekar Super Sakti?"
"Seperti apa? Kalau dia datang, jangan harap engkau akan dapat hidup lebih lama lagi!" Tiba-tiba Kian Bu berkata dengan suara mengejek. "Lagi pula tidak perlu ayah datang, kami berdua pun tidak takut menghadapi kalian!"
"Bu-te...!" Kian Lee mencela adiknya, kemudian dengan suara halus dia berkata kepada ketua Pulau Neraka itu, "Harap tocu suka memaafkan kami dan apa yang dikatakan oleh lopek itu tadi benar. Sebaiknyalah kalau di antara kita tidak timbul permusuhan apa-apa. Harap tocu membiarkan kami pergi."
"Nanti dulu, orang muda. Tidak begitu mudah menggertak Hek-tiauw Lo-mo, ha-ha-ha! Boleh jadi ayah kalian itu berkepandaian tinggi dan membikin takut hati para penghuni Pulau Neraka, akan tetapi aku yang belum pernah bertemu dengan Pendekar Super Sakti, sama sekali tidak takut!"
"Habis, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami?" Kian Bu membentak lagi saking marahnya. Kalau tidak melihat sikap kakaknya, tentu dia sudah menerjang maju dan menggunakan kekerasan untuk membebaskan diri dan meninggalkan pulau berbahaya itu.
"Ha-ha-ha, seperti melihat bumi dengan langit. Begitu besar perbedaan antara mereka, akan tetapi begitu sama tampan dan gagahnya! Orang-orang muda yang gagah dan tampan, siapakah nama kalian?"
"Namaku adalah Suma Kian Lee dan dia ini adalah adikku, Suma Kian Bu. Sekali lagi aku mengharap kebijaksanaan tocu untuk membebaskan kami dan biarlah kami akan menceritakan kepada ayah kami akan kebaikan hatimu itu."
"Oho! Kau hendak menggunakan nama ayahmu untuk menakuti aku?"
"Habis, kau mau apa?" Kian Bu membentak.
"Kalian tidak boleh meninggalkan pulau ini sampai ayah kalian datang. Kalau benar ayah kalian super sakti dan dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha, hal yang sama sekali tak mungkin, kalau aku kalah, baru kalian boleh pergi bersama ayahmu."
"Manusia sombong! Aku tidak takut, akan kulihat bagaimana kau hendak menangkap aku!" Kian Bu membentak lagi dan sudah memasang kuda-kuda dengan kokoh, kedua kakinya menyilang dan agak ditekuk lututnya, kedua lengan di depan dan di belakang tubuh, sikap yang siap menghadapi pengeroyokan banyak lawan yang mengurungnya.
Kian Lee yang kini maklum bahwa tidak mungkin dapat membujuk ketua Pulau Neraka, juga sudah bersiap untuk membela diri, akan tetapi sikapnya tenang dan penuh kewaspadaan. Cepat dia meloncat di belakang tubuh adiknya sehingga mereka berdua berdiri saling membelakangi dan dengan demikian saling melindungi.
"Heh-heh-heh, luar biasa! Ji Song, perintahkan lima orang untuk menangkap mereka. Hendak kulihat gerakan mereka. Dari gerakan anak-anaknya, tentu aku akan dapat mengukur kepandaian ayahnya," kata raksasa itu sambil tertawa penuh kegirangan.
Kedua alis Ji Song berkerut. Dia takut sekali terhadap Pendekar Super Sakti. Sudah sering kali dia menyaksikan kehebatan sepak terjang pendekar yang menjadi Majikan Pulau Es itu. Bahkan bekas ketuanya, wanita yang memiliki kepandaian tinggi, sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti dan seorang di antara kedua pemuda ini, yang bersikap tenang dan gagah, adalah putera bekas ketuanya.
Tentu saja dia menjadi jeri sekali dan kalau saja tidak takut kepada ketuanya yang baru ini, yang dia tahu juga amat lihai dan kejam, tentu dia akan cepat-cepat membiarkan kedua orang muda itu pergi, seperti membiarkan kedua ekor singa muda yang masuk ke dalam rumahnya. Sekarang terpaksa dia menyuruh lima orang pembantunya yang paling lihai untuk maju menangkap kedua orang muda ini.
"Tangkap mereka, akan tetapi jangan sampai mereka terluka," perintahnya kepada lima orang anak buahnya itu.
Lima orang itu, tidak berbeda dengan Ji Song, adalah penghuni-penghuni lama Pulau Neraka, tentu saja mereka pun gentar terhadap Pendekar Super Sakti dan terhadap Lulu, bekas ketua mereka. Ngeri rasa hati mereka kalau mengingat bahwa mereka disuruh melawan putera bekas ketua mereka itu! Akan tetapi karena mereka maklum bahwa kalau mereka berani membangkang, tentu ketua mereka yang baru takkan ragu-ragu membunuh mereka, bahkan mungkin makan daging mereka, lima orang itu mengangguk lalu meloncat maju mengurung dua orang muda itu.
Kian Lee dan Kian Bu tidak bergerak, tetap memasang kuda-kuda seperti tadi, tubuh mereka seperti arca, sedikit pun tidak bergerak, hanya mata mereka yang melirik ke kanan kiri mengikuti gerakan lima orang pengurung mereka itu. Seluruh urat syarat di dalam tubuh mereka menegang dan dalam keadaan siap siaga.
Lima orang itu juga tidak berani turun tangan secara sembrono karena mereka dapat menduga bahwa dua orang muda ini tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Maka mereka lalu mengurung sambil melangkah perlahan-lahan mengelilingi dua orang muda itu, saling memberi tanda dengan mata untuk mengatur gerakan mereka.
Ternyata mereka itu hendak menggunakan bentuk barisan Ngo-seng-tin (Barisan Lima Bintang) seperti yang diajarkan oleh ketua mereka yang baru. Melihat gerakan anak buahnya ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya dengan girang, mulutnya tersenyum-senyum dan dia sudah merasa yakin bahwa dalam beberapa gebrakan saja dua orang muda itu tentu sudah dapat diringkus dan ditawan.
Tiba-tiba seorang di antara lima penghuni Pulau Neraka itu mengeluarkan teriakan yang menyayat hati saking tinggi lengkingannya, dan teriakan ini disusul oleh teriakan keempat orang kawannya. Teriakan-teriakan ini mempunyai wibawa yang amat kuat dan dengan teriakan-teriakan ini saja, musuh yang kurang kuat sinkang-nya sudah akan dapat dirobohkan!
Harus diketahui bahwa tingkat kepandaian para penghuni Pulau Neraka tidak boleh disamakan dengan dahulu ketika Lulu masih menjadi ketua di situ. Ketika Lulu masih menjadi ketua, belasan tahun sampai dua puluh tahun yang lalu, kepandaian anak buah Pulau Neraka memang sudah hebat dan tingkat kepandaian atau kekuatan sinkang mereka ditandai dengan warna muka mereka.
Muka mereka sebagai akibat keracunan ketika berlatih di Pulau Neraka, berubah menjadi berwarna-warna, ada yang merah, merah muda, biru, hijau, kuning dan sebagainya. Makin muda warna muka mereka, makin tinggilah kepandaian mereka dan makin kuat sinkang mereka. Ji Song yang kini menjadi pembantu utama ketua baru, dahulu bermuka merah muda, merupakan tingkat ketiga dari Pulau Neraka. Akan tetapi sekarang, semenjak Hek-tiauw Lo-mo menjadi ketua, tokoh sakti ini telah memberikan latihan baru dan kepandaian para penghuni Pulau Neraka meningkat demikian hebat hingga warna muka mereka telah berubah menjadi putih semua. Putih seperti dikapur!
Hal ini bukan merupakan tanda bahwa racun Pulau Neraka yang mengeram di tubuh mereka lenyap, sama sekali tidak, bahkan perubahan itu datang karena hawa beracun lain yang lebih hebat memasuki tubuh mereka. Hawa beracun yang tidak mengancam keselamatan nyawa, melainkan yang mendatangkan tenaga sakti beracun yang hebat!
Mendengar lengking-lengking mengerikan dan menyayat hati itu, Kian Lee dan Kian Bu cepat mengerahkan sinkang mereka. Biar pun kedua orang pemuda tanggung ini telah memiliki tingkat kepandaian yang luar biasa tingginya, akan tetapi mereka tidak pernah bertempur dengan lawan tangguh, maka kini menghadapi pengeroyokan lima orang yang menggunakan khikang untuk merobohkan mereka itu mereka menjadi terkejut sekali. Mereka mampu mempertahankan serangan suara khikang ini dengan mudah, namun rasa kaget di hati mereka membuat tubuh mereka agak bergoyang.
Hal ini disalah tafsirkan oleh Hek-tiauw Lo-mo. Goyangan tubuh kedua orang pemuda tanggung ini dianggapnya sebagai tanda bahwa sinkang mereka tidaklah begitu kuat, maka dia tertawa bergelak dan membentak, “Lekas tangkap mereka!”
Mendengar aba-aba yang keluar dari mulut sang ketua sendiri, lima orang itu cepat bergerak. Seorang di antara mereka mendahului kawan-kawannya, menyerang Kian Lee, orang kedua menyerang Kian Bu sedangkan tiga orang yang lainnya sudah menerjang ke tengah-tengah di antara kedua orang muda itu.
Kian Lee dan Kian Bu dengan mudah dapat menangkis serangan lawan masing-masing, akan tetapi ketika melihat tiga orang yang lain menyergap ke bagian kosong di antara punggung mereka, keduanya terkejut dan melompat dengan menggeser kaki. Sambil mengelak ini, Kian Lee merendahkan tubuhnya, kakinya bergerak menyapu dengan kecepatan kilat dan seorang lawan terpelanting!
Kian Bu juga mengelak dengan melompat ke atas, dengan gaya yang amat indah tubuhnya berjungkir balik di udara dan kedua tangannya bergerak menyambar ke arah kepala dua orang pengeroyok lain. Gerakannya cepat sekali dan tidak terduga-duga, juga amat ganas karena serangannya adalah serangan yang dapat mendatangkan maut. Kalau jari tangannya menemui sasaran, yaitu ubun-ubun kepala, lawan yang betapa kuat pun tentu akan terancam bahaya maut! Akan tetapi, seorang di antara mereka melempar diri ke belakang sehingga terluput dari serangan itu, yang kedua menangkis dan inilah kesalahannya. Biar pun ditangkis, karena Kian Bu menyerang dari atas dan menggunakan inti tenaga Im-kang yang dingin, tetap saja orang itu mengeluh, tubuhnya menggigil dan roboh terguling!
Dia tidak terluka hebat, tetapi tubuhnya terbanting dan dia harus cepat bergulingan menyelamatkan diri. Memang keistimewaan sinkang yang dilatih di Pulau Es adalah sinkang yang mengandung hawa dingin. Dan seperti gumpalan es yang dingin, sinkang ini amat kuat terhadap perlawanan dari bawah, amat kuat untuk menekan ke bawah, berbeda dengan Yang-kang yang berhawa panas dan kuat sekali untuk mendorong, terutama ke atas, sesuai pula dengan kekuatan api yang panas.

Dalam segebrakan saja, dua orang pengeroyok telah terguling. Biar pun mereka tidak roboh terluka, namun mereka telah terguling dan barisan mereka telah kacau, hal ini menunjukkan betapa hebatnya dua orang muda itu! Hek-tiauw Lo-mo memandang dengan melongo. Ia tadi sudah girang menyaksikan gerakan lima orang anak buahnya dan ia melihat pula betapa lima orang itu menggunakan Ngo-seng-tin dengan baiknya.
Bahkan gebrakan pertama, sebagai serangan pembuka tadi sudah amat baik, yang dua orang memancing perhatian kedua lawan, yang tiga orang mendobrak untuk membuat dua orang kakak-beradik itu terpisah dan tidak saling melindungi dengan berdiri saling membelakangi. Namun, biar pun kedua kakak beradik itu kini berpisah, pihak anak buahnya yang menderita rugi, dan kalau dikehendaki, kedua orang pemuda remaja itu tentu telah dapat berdiri saling melindungi lagi. Akan tetapi agaknya mereka menganggap hal itu tidak perlu.
Dan memang benar. Gebrakan pertama tadi membuat Kian Lee dan Kian Bu maklum bahwa para pengeroyok mereka tidaklah sehebat yang mereka duga. Pertemuan tangan ketika menangkis, gerakan mereka ketika menyergap, sekaligus membuat kakak beradik ini mengerti bahwa untuk menghadapi lima orang ini saja, mereka berdua tidak perlu untuk saling melindungi! Bahkan kini Kian Bu berkata, “Lee-ko, mundurlah dan biarlah aku main-main dengan mereka ini.”
Kian Lee percaya akan kekuatan adiknya, maka dia mengangguk lalu mundur dan berdiri dengan sikap tenang. Hal ini tentu membuat Hek-tiauw Lo-mo makin terheran. Benarkah lima orang anak buahnya hanya akan dihadapi oleh seorang pemuda saja?
Pemuda itu masih belum dewasa benar, baru lima belas tahun usianya. Biar pun menerima pendidikan orang pandai, tentu belum matang kepandaiannya dan banyak pengalamannya. Hatinya merasa penasaran sekali dan perasaannya menegang ketika ia melihat lima orang anak buahnya telah menerjang maju dengan gerakan berbareng, menubruk dari lima jurusan seperti lima ekor burung rajawali memperebutkan seekor kelinci, mereka mengulur lengan dengan jari-jari terbuka, siap hendak mencengkeram dan menangkap.
Kian Bu yang memang merasa penasaran dan marah sekali melihat sikap ketua Pulau Neraka, kini menggunakan kepandaiannya dan mengerahkan sinkang-nya. Sengaja dia hendak memperlihatkan kepandaiannya, maka tubuhnya sudah bergerak seperti gasing, berputar dan sekaligus dia telah dapat menangkis lengan lima orang lawannya dengan keras sekali sehingga lima orang lawannya itu berteriak kaget karena tiba-tiba saja mereka merasa betapa hawa yang amat dingin menjalar melalui lengan yang ditangkis, membuat mereka menggigil! Itulah inti yang dilatihnya di Pulau Es, tenaga Im-kang yang disebut Swat-in Sin-ciang (Inti Salju).
Melihat lima orang lawannya dapat dibuatnya mundur dengar tangkisan tadi, kini tubuhnya bergerak cepat dan kedua lengannya meluncur ke arah lima orang itu seperti dua ekor ular yang bergerak ganas dan cepat sekali. Pemuda ini telah mainkan Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti) yang dipelajarinya dari ibunya, Puteri Nirahai. Demikian cepatnya kedua lengannya itu bergerak sehingga sukar diikuti pandangan mata para pengeroyoknya, juga amat sukar diduga terlebih dahulu.
“Bu-te, jangan lukai orang!” Kian Lee berseru karena dia tidak menghendaki adiknya yang berwatak keras itu menimbulkan keributan dan memperbesar permusuhan dengan Pulau Neraka
Untunglah bagi lima orang Pulau Neraka itu bahwa Kian Bu selalu mentaati perintah kakaknya, kalau tidak, tentu mereka itu akan tewas!
Mendengar ucapan kakaknya, Kian Bu mengubah totokannya yang tadinya ditujukan kepada jalan darah berbahaya dengan tamparan-tamparan yang mengenai dada mereka. Tamparan yang tidak begitu keras tetapi akibatnya cukup hebat. Berturut-turut lima orang itu mengeluh, tubuh mereka menggigil dan tergulinglah mereka ke atas tanah.
Melihat lima orang anak buahnya menggigil dan muka mereka kebiruan, Ji Song cepat menghampiri mereka dan dengan menempelkan telapak tangannya sebentar dalam gerakan menekan, dia telah menyalurkan sinkang dan membantu mereka mengusir keluar hawa dingin yang menyesak dada. Lima orang itu maklum bahwa mereka bukanlah lawan pemuda tanggung itu, maka mereka lalu mundur mentaati isyarat mata yang diberikan Ji Song kepada mereka.
Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alisnya yang sudah terhias uban. Sama sekali tidak diduganya keadaan akan menjadi demikian. Lima orang anak buahnya kalah oleh seorang pemuda tanggung, hanya dalam segebrakan saja! Hal yang tidak mungkin! Akan tetapi jelas telah terjadi! Gerakan tangan pemuda itu tadi amat cepat dan hebat, dilakukan dengan tenang, ciri khas ilmu silat yang tinggi tingkatnya.
Mulai khawatirlah hatinya. Benarkah ayah dua orang pemuda yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu amat hebat ilmunya? Tidak, tidak bisa dia percaya bahwa di dunia ini ada seorang tokoh yang akan mampu menandinginya.
“Bagus sekali!” Hanya satu kali dia menggerakkan kaki dan tubuhnya sudah mencelat ke depan Kian Bu dan Kian Lee. Sejenak dia menatap wajah kedua orang pemuda tanggung itu. “Kalian ternyata memiliki juga sedikit kepandaian. Hendak kulihat apakah kalian dapat bertahan sampai sepuluh jurus melawanku. ”
“Tocu, mengapa tocu mendesak kami? Kami berdua orang muda sama sekali tidak mempunyai niat untuk melawan tocu. Mana kami berani bersikap begitu kurang ajar?” Kian Lee masih berusaha membujuk ketua itu.
“Ha-ha-ha, apakah kalian takut?”
Mata Kian Bu yang sudah merasa tidak puas menyaksikan sikap kakaknya yang terlalu mengalah, kinl meledak menjadi kemarahan mendengar tantangan ketua itu. Dia bertolak pinggang dan membentak, “Iblis tua, siapa takut kepadamu?”
Kian Lee terkejut mendengar adiknya memaki, akan tetapi karena memang julukan ketua itu adalah Iblis Tua Rajawali Hitam, maka disebut Lo-mo (Iblis Tua) oleh Kian Bu, ketua itu tidak menjadi marah, bahkan tertawa. “Kalau tidak takut, lekas maju dan menyerangku.”
Kian Bu sudah siap, mengepal kedua tinjunya.
“Bu-te, perlahan dulu,“ tetapi kakaknya memperingatkan.
“Ha-ha, orang muda yang halus. Kau pun boleh maju. Majulah kalian berdua dan hendak kulihat apakah kalian berdua sanggup bertahan sampai sepuluh jurus.”
“Kakek sombong!” Kian Bu membentak lagi. “Mari kita maju, Lee-ko. Dia yang menantang dan akan malulah ayah dan ibu kalau kita tidak menyambut tantangannya!”
Kian Lee mengangguk kepada adiknya dan berkata, “Hati-hatilah, Bu-te, kau jangan sembrono.”
Melihat kedua orang pemuda itu sudah siap, Hek-tiauw Lo-mo tertawa. “Ha-ha-ha, majulah kalian...”
Sejenak mereka saling berpandangan. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangannya di pinggang. Celana yang pendek, hanya sebatas lutut itu membuat dia kelihatan seperti seorang pengemis saja, akan tetapi kedua kakinya kelihatan bersih dan putih kulitnya, walau pun penuh dengan bulu dan otot yang melingkar-lingkar. Juga kedua lengannya yang hanya tertutup baju dengan lengan sampai ke siku, kelihatan kekar dan kuat.
“Hyaaattt...!”
Kian Bu yang sudah marah sekali itu kini sudah mendahului kakaknya, menerjang maju dan kembali dia menggunakan ilmu simpanan yang dipelajarinya dari ibunya yaitu sebuah jurus pilihan dari Ilmu Silat Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa).

Mula-mula dia meloncat ke depan sambil memekik nyaring, dari atas tubuhnya lantas menerjang dengan pukulan tangan kanan mengarah dahi lawan, sedang tangan kiri mencengkeram ke arah pusar. Akan tetapi secara tiba-tiba sekali gerakan yang hanya merupakan pancingan itu berubah sama sekali, tubuhnya menurun dan tahu-tahu pukulannya berubah menjadi serangan dari bawah, menotok ke arah ulu hati dan menonjok ke arah perut. Inilah jurus yang disebut Ciu-san-hoan-eng (Dewa Arak Menukar Bayangan).
“Ha-ha-ha, bagus!”
Kakek itu mengubah kedudukan kakinya yang tadi terpentang lebar, dengan loncatan kecil dia mundur, kini menggunakan kuda-kuda dengan kaki kiri di depan dan kanan di belakang, tubuh agak merendah, kedua lengannya yang berotot bergerak cepat, yang kiri menangkis totokan lawan, yang kanan bergerak menangkap pergelangan tangan kiri Kian Bu.
“Dukkkk!”
Pertemuan kedua lengan ketika kakek itu menangkis mengejutkan hati Kian Bu karena dia merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga sinkang kakek itu kuat bukan main, sedangkan tangan kirinya yang tadinya memukul, kini tanpa dapat dihindarkan lagi karena luar biasa cepatnya gerakan lawan, tahu-tahu telah dicengkeram pergelangannya oleh kakek itu yang masih tertawa-tawa!
Kian Bu mengerahkan Swat-im Sin-ciang, akan tetapi kakek itu masih enak saja tertawa, seolah-olah tenaga Inti Salju itu tidak ada artinya baginya. Padahal, diam-diam kakek itu juga terkejut bukan main ketika merasa betapa hawa dingin yang tak dapat dilawannya menyusup melalui tangan pemuda itu memasuki lengannya!
Kian Lee lebih hati-hati dari pada adiknya. Ketika tadi dia melihat adiknya menyerang dengan dahsyat, dia diam saja, hanya mendekat dan siap membantu. Dia maklum bahwa kakek ketua Pulau Neraka ini tentu lihai sekali dan dugaannya ternyata tepat ketika melihat betapa menghadapi serangan adiknya yang amat dahsyat itu, Hek-tiauw Lo-mo tidak hanya dapat menangkis, bahkan berhasil memegang pergelangan tangan kiri Kian Bu.
“Wuuuuutttt...! Plak-plak!”
Kedua pukulan Kian Lee yang mengarah lambung dan tengkuk kakek itu berhasil ditangkis dengan tepat oleh Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi ketika melihat datangnya pukulan yang mendatangkan angin dingin ini, terpaksa dia melepaskan tangan Kian Bu karena maklum bahwa serangan pemuda kedua ini pun hebat sekali.
Dia makin penasaran dan mulailah mengeluarkan kepandaiannya. Tubuhnya bergerak-gerak seperti orang menari, akan tetapi tarian yang liar dan buruk, dan memang ilmu silat kakek ini bersumber kepada tari-tarian bangsa yang masih liar dan belum beradab, dan melihat unsur-unsur ajaib dalam gerakan tari liar ini, dia lalu menciptakan semacam ilmu silat dengan menggabungkan unsur-unsur itu dengan inti ilmu silat yang pernah dipelajarinya.
Terjadilah pertandingan yang amat hebat! Pertandingan antara seorang kakek raksasa yang dikeroyok oleh dua orang pemuda tanggung, yang membuat semua penghuni Pulau Neraka, bahkan Ji Song sendiri, terbelalak dan ternganga penuh kagum. Tubuh tiga orang itu berkelebatan, kadang-kadang lenyap terbungkus bayangan lengan mereka, kadang-kadang mencelat ke sana-sini, sehingga bagi mereka sukar sekali menentukan siapa di antara kedua pihak yang mendesak dan siapa pula yang terdesak!
Dapat dibayangkan betapa kaget dan penuh penasaran rasa hati Hek-tiauw Lo-mo! Tadi dia menantang dan mengejek karena dia merasa yakin bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh jurus dia tentu akan berhasil mengalahkan dua orang pemuda tanggung itu dan mampu menawannya.
Akan tetapi siapa mengira, setelah lewat lima puluh jurus belum juga dia mampu mengalahkan mereka, bahkan beberapa kali hampir saja dia menjadi korban kedahsyatan serangan mereka, dan setiap kali bertemu dengan tangan mereka, tentu ada hawa dingin menyusup yang sungguh pun dapat dilawannya dengan sinkang-nya yang amat kuat, namun tetap saja dia merasa kulit lengannya dingin seperti terkena salju.
Rasa penasaran membuat kakek ini merasa malu dan marah. Malu kepada para anak buahnya dan marah kepada kedua orang pemuda itu. Akan tetapi untuk menjatuhkan tangan maut, dia merasa sayang. Selain keinginan makan daging mereka yang timbul melihat daging muda mereka yang menimbulkan seleranya, juga ia ingin menggunakan mereka sebagai pancingan agar orang yang berjuluk Pendekar Super Sakti yang amat ditakuti oleh semua penghuni Pulau Neraka itu datang ke tempat itu.
“Terimalah ini...!” Kedua tangan kakek itu bergerak.
Kian Lee dan Kian Bu terkejut dan cepat mereka bergerak mengelak karena mengira bahwa kakek itu tentu menggunakan senjata rahasia untuk menyerang mereka. Akan tetapi tiba-tiba tampak benda seperti kabut atau uap tebal mengurung mereka dan ketika mereka berdua meloncat, ternyata bahwa kabut itu adalah sebuah jala yang terbuat dari bahan tipis sekali tetapi amat ulet dan kuat! Saat mereka berdua meloncat, tubuh mereka tentu saja terhalang jala dan mereka berdua terguling. Jala yang aneh itu makin menggulung mereka hingga kedua orang pemuda tanggung itu tak dapat meloloskan diri, betapa pun mereka meronta-ronta dan menarik-narik jala tipis itu.
Penggunaan jala sebagai senjata ini memang luar biasa sekali. Jala itu sedemikian tipisnya sehingga tadi dapat dikepal di kedua tangan Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi setelah dilempar dan dikembangkan, dapat menyelimuti tubuh kedua orang pemuda itu. Senjata istimewa ini merupakan sebuah di antara senjata-senjata yang hebat dan aneh dari Hek-tiauw Lo-mo, dan jala ini dibuatnya ketika dia menjadi raja bangsa biadab di dalam hutan liar di selatan, bahannya dibuat dari otot-otot binatang semacam rubah aneh yang hanya terdapat di dalam hutan itu. Otot-otot binatang ini amat ulet, sukar dibikin putus oleh senjata tajam sekali pun, dan memiliki sifat melar seperti karet.

Setelah menotok jalan darah kedua orang pemuda itu, Hek-tiauw Lo-mo menyimpan kembali jalanya dan memerintahkan kepada Ji Song, “Tangkap dan belenggu mereka! Masukkan ke dalam kamar tahanan dan jaga jangan sampai lolos, tetapi perlakukan mereka dengan baik.”
Ji Song meneruskan perintah ini kepada para anak buahnya dan setelah kedua orang pemuda yang tak dapat bergerak lagi itu digotong pergi, Hek-tiauw Lo-mo berkata kepada Ji Song, “Suruh orang menyampaikan berita ke Pulau Es bahwa mereka kita tawan.”
“Maaf, tocu. Apakah tocu sudah memikirkan secara mendalam persoalan ini?” Ji Song berkata. “Apa gunanya bermusuh dengan Pendekar Super Sakti? Dia pun tidak pernah mengganggu kita. Lebih baik kedua orang pemuda itu dibebaskan saja.”
Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alisnya. “Tidak mengganggu kita, ya? Bukankah aku tadi mendengar dari kalian bahwa Pulau Neraka ini dahulunya merupakan tempat pembuangan? Pembuangan dari kerajaan di Pulau Es?”
“Itu adalah sejarah dahulu, tocu. Akan tetapi kini Kerajaan Pulau Es telah tidak ada, bahkan kabarnya Pendekar Super Sakti pun bukan keturunan dari Kerajaan Pulau Es.”
“Sudah, diamlah, Ji Song! Aku merasa penasaran kalau belum dapat bertemu dengan dia dan mengalahkannya.”
“Dia sakti sekali, tocu.”
“Aku tidak takut. Aku sudah siap menghadapinya. Pula, kedua orang puteranya berada di tangan kita, takut apa?”
* * * * * *

Kita tinggalkan dulu Kian Lee dan Kian Bu yang sedang tertawan di Pulau Neraka dan dijadikan umpan oleh Hek-tiauw Lo-mo untuk memancing datang Pendekar Super Sakti, dan marilah kita menengok peristiwa lain yang terjadi pada waktu itu, terjadi jauh di sebelah barat daratan besar.
Negara Bhutan berada jauh di selatan Tiongkok, merupakan sebuah kerajaan kecil namun yang rakyatnya memiliki kebudayaan tinggi, menjadi perpaduan dan perantara antara Negara India dan Tiongkok. Karena dihimpit oleh dua buah negara besar yang memiliki kebudayaan tinggi itu, Nepal atau Bhutan mencangkok kebudayaan keduanya dan karenanya di situ terdapat banyak orang-orang pandai dari kedua negara itu.
Daerah Pegunungan Himalaya terkenal sebagai pegunungan yang paling tinggi di seluruh dunia, paling tinggi dan paling luas. Selain amat luas, juga pegunungan ini amat terkenal sebagai tempat yang suci, bahkan bagi yang percaya terdapat keyakinan bahwa para dewa yang tersebut dalam dongeng-dongeng bertempat tinggal di pegunungan inilah! Karena kepercayaan ini agaknya, dan terutama sekali karena keindahan alamnya dan kesunyiannya, maka Pegunungan Himalaya menjadi tempat pelarian para pendeta, pertapa dan manusia-manusia yang ingin mengasingkan diri dari dunia ramai.
Di sebuah dusun tak jauh dari kota raja, di kaki Pegunungan Himalaya, pada suatu pagi yang sejuk, tampaklah belasan orang pria yang bertubuh tegap dan kuat sedang berlatih ilmu silat. Tubuh mereka, dari yang besar sampai yang kecil kurus, kelihatan kuat dan berisi tenaga besar ketika mereka bergerak secara berbareng dengan tubuh atas telanjang, hanya memakai celana panjang dan sepatu, rambut mereka dikuncir semua, mengikuti petunjuk dan aba-aba yang keluar dari mulut seorang kakek berwajah tampan gagah yang bertopi bulu.
Kakek ini usianya sudah tua sekali, tentu kurang lebih ada delapan puluh tahun, namun sikapnya masih amat gagah, sungguh pun gerak-geriknya halus dan wajahnya tampan terpelihara. Suaranya masih lantang ketika dia mengeluarkan aba-aba agar gerakan mereka yang sedang berlatih itu dapat seirama, sedang kaki tangannya masih tangkas ketika dia memberi contoh gerakan.
“Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan! Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan!” demikian aba-abanya.
Makin cepat aba-aba dihitung, bertambah cepat pula gerakan mereka yang sedang berlatih hingga terdengar angin bersuit dan buku-buku lengan kaki berkerotokan ketika mereka bergerak memukul dan menendang.
“Hemmm, mengapa pula engkau, Ceng Ceng?” Kakek itu menghentikan hitungannya, membiarkan para murid itu bergerak dengan irama mereka sendiri, sedangkan dia melangkah ke arah kanan sebelah kiri rombongan pemuda yang sedang latihan itu, kemudian berhadapan dengan seorang dara remaja yang tadinya ikut pula berlatih.
Dara remaja itu tentu belum ada lima belas tahun usianya. Wajahnya cantik manis, bentuk tubuhnya kecil ramping namun juga padat berisi, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang panjang dan gemuk itu dibagi menjadi dua kuncir yang besar dan panjang, bergantungan di depan dadanya. Kedua kakinya masih memasang kuda-kuda seperti mereka yang sedang berlatih, tetapi kedua lengannya tidak melakukan gerakan memukul-mukul lagi. Mulutnya yang kecil mungil itu cemberut dan matanya yang lebar seperti sepasang bintang itu membayangkan kekesalan hati.
Dara itu tidak menjawab teguran kakeknya melainkan hanya mengurut-urut bahu dan lengannya, kepalanya menunduk dan kedua kakinya diluruskannya kembali.
Kakek itu menghela napas panjang. “Hahhhh... kau... terlalu, Ceng Ceng! Selalu tidak mentaati perintahku. Mula-mula engkau akhir-akhir ini tidak mau berlatih di dekat para suhengmu...”
“Kongkong (kakek), bagaimana aku tahan berlatih dekat mereka. Keringat mereka memercik ke sana-sini!” Dara itu membentak.
Kakek itu menahan geli hatinya. Gadis yang menjadi cucunya ini selalu ada saja bahan untuk menyangkal dan membantah, dan selalu menyatakan sesuatu dengan jujur sehingga kadang-kadang lucu. Memang tak dapat dibantah bahwa tubuh-tubuh sehat tanpa baju itu di waktu berlatih mengeluarkan banyak keringat dan gerakan cepat itu membuat keringat mereka memercik ke sana-sini!
“Sekarang, latihan yang amat penting ini kau abaikan juga.”
“Habis, kaki tanganku sudah pegal dan kaku semua, kongkong! Masa untuk satu jurus saja harus diulang sampai lima ratus kali!”
“Hmm, kau tidak tahu keganasan jurus istimewa ini. Jurus Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga) ini merupakan satu di antara jurus-jurus pilihan dari ilmu silat kita. Diulang sampai lima ratus kali pun kalau belum sempurna harus diulang terus!”
“Apa gerakanku belum sempurna?”
“Engkau sudah menguasai gerakan ilmu silat kita, tetapi para abangmu itu? Mereka harus diberi semangat, dan dengan mencontoh gerakanmu, mereka tentu akan lebih tekun. Lihat, betapa besar semangat mereka melatih jurus ini.”
Dara yang bernama Ceng Ceng itu menengok dan mulutnya yang tadi merengut kini tersenyum mengejek, cuping hidungnya sedikit bergerak. “Semangat apa? Mereka semua menoleh ke sini!”
Kakek itu cepat menengok dan benar saja. Mereka itu masih bergerak, akan tetapi mata mereka semua mengerling ke arah dara itu sehingga kelihatannya lucu.
“Ihh, engkau yang menjadi gara-gara!” Kakek itu memaki lirih, kemudian menghampiri lagi ke depan para muridnya dan kembali terdengar hitungannya yang menambah semangat.
Kini para murid itu tidak berani lagi mengerling ke arah sumoi mereka. Terpaksa pula Ceng Ceng juga bergerak lagi, akan tetapi biar pun gerakannya lemas dan baik, dia seperti tidak menggunakan tenaga sehingga kalau para suheng-nya itu ngotot dengan pengerahan tenaga, dia kelihatan lebih mirip dengan orang menari!
Kakek itu bukanlah orang sembarangan. Dulu dia bekerja sebagai seorang pengawal kaisar di Tiongkok, memiliki ilmu kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan ilmu sastera. Namun nasib malang menimpa diri kakek ini saat dia sudah mengundurkan diri sebagai pengawal dengan adanya peristiwa yang menimpa keluarganya sehingga akhirnya dia mengasingkan diri di dusun terpencil di kaki Pegunungan Himalaya ini.
Ketika masih berada di Tiongkok, kakek ini sudah kehilangan putera tunggalnya dan mantunya, dan hanya hidup berdua dengan seorang cucunya, cucu wanita bernama Lu Kim Bwee. Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, peristiwa hebat menimpa diri Lu Kim Bwee ini. Cucunya yang juga telah digemblengnya dengan ilmu silat itu, pada suatu malam telah dibuat tidak berdaya oleh seorang muda dan diperkosa! Akibatnya, Lu Kim Bwee mengandung! Semua peristiwa itu diceritakan dengan jelas dalam cerita Sepasang Pedang Iblis.
Melihat penderitaan cucunya itu, Lu Kiong lalu mengajak Lu Kim Bwee untuk pergi meninggalkan Tiongkok. Akhirnya mereka tinggal di dusun kecil di kaki Pegunungan Himalaya itu. Di tempat terpencil dan sunyi ini, Lu Kim Bwee melahirkan seorang anak perempuan, akan tetapi malang sekali, ibu muda itu meninggal dunia ketika melahirkan karena memang dia selalu berduka dan batinnya terhimpit oleh peristiwa yang sangat memalukan dirinya itu. Anak yang terlahir selamat itu lalu diberi nama Lu Ceng dan sebenarnya anak ini adalah cucu buyut dari kakek Lu Kiong, akan tetapi diakui sebagai cucunya.
Biar pun kini kehidupannya di dalam dusun itu bersama cucu buyutnya dapat dikatakan tenteram dan penuh damai, namun kakek yang tua ini masih selalu gelisah kalau mengingat akan masa depan cucu buyutnya itu. Pernah dia ditekan dan merasa terdesak oleh pertanyaan Ceng Ceng yang berwatak periang, cerdik dan jenaka itu, yaitu pertanyaan mengenai ayah dara itu. Tadinya dia hanya memberi tahu kepada Ceng Ceng bahwa nama ibunya adalah Lu Kim Bwee. Dara yang cerdik itu cepat membantah.
“Tidak mungkin itu, kongkong!”
“Apanya yang tidak mungkin?”
“Kalau ibu she Lu, mengapa aku juga she Lu?”
“Ahh... kau sebetulnya... ah, engkau memang she Lu, cucuku.”
“Hemm, kongkong menyembunyikan sesuatu dariku! Siapakah ayahku? Dan di mana ayah? Apa dia sudah meninggal? Mengapa pula aku tidak diberi she (nama keturunan) ayahku?”
Dihujani pertanyaan ini, kakek Lu Kiong menjadi sibuk sekali sehingga akhirnya dia mengaku juga. “Ayahmu bernama... Gak Bun Beng.”
“Gak Bun Beng...” Dara itu membisikkan nama itu seolah-olah hendak menanamkan nama itu di dalam hatinya. “Kalau begitu, namaku adalah Gak Ceng, bukan Lu Ceng!”
“Tidak, Ceng Ceng!” Kakek itu membentak dan terkejutlah dara itu karena selamanya belum pernah dia mendengar suara kakeknya mengandung kemarahan seperti itu.
“Mengapa, kongkong?”
“Namamu tetap Lu Ceng!”
“Tapi ayahku...”
“Tidak! Kau tidak perlu memakai nama keturunan orang itu!”
“Mengapa...?” Wajah Ceng Ceng menjadi berubah agak pucat.
“Dia... dia... sudah meninggalkan ibumu, dia membuat ibumu hidup sengsara sehingga meninggal dunia ketika melahirkan kau.”
“Ouhhh...” Ceng Ceng kecewa bukan main mendengar ini. Akan tetapi pikirannya yang cerdik itu menduga-duga. Tak mungkin agaknya ayahnya meninggalkan ibunya begitu saja tanpa sebab.
“Mengapa ayah meninggalkan ibu?” desaknya lagi.
“Entahlah. Dia bukan orang baik, karena itu kau harus memakai nama keturunan kita, nama keturunan Lu.”
“Aku akan mencari ayah, biar kutanya sendiri mengapa dia sampai hati meninggalkan ibu!”
“Jangan...! Takkan ada gunanya, dia... dia sudah mati...”
“Ouhhh...” Dan kini dara itu terisak menangis.
Lu Kiong menarik napas panjang. Hatinya terasa perih mengenang semua peristiwa yang menimpa diri cucunya, Lu Kim Bwee, belasan tahun yang lalu. Tentu saja dia tidak mau membuka rahasia itu, tidak sampai hati dia menceritakan cucu buyutnya ini bahwa ibunya diperkosa orang, bahwa dia adalah seorang anak haram! Dia tidak ingin melihat dara ini jadi menyesal dan berduka, merasa rendah dan membenci ayahnya sendiri. Biarlah riwayat yang mendatangkan aib itu dikubur bersama meninggalnya Lu Kim Bwee dan Gak Bun Beng.
Tentu saja dia pun tidak mau menceritakan bahwa Gak Bun Beng, ayah dara ini, tewas di tangan ibunya sendiri, yaitu ketika Lu Kim Bwee mengeroyok Gak Bun Beng dengan wanita-wanita yang lain yang juga menjadi korban keganasan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) itu! Tentu saja kakek ini, juga cucunya, Lu Kim Bwee yang telah meninggal dunia ketika melahirkan Ceng Ceng, sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang bernama Gak Bun Beng, yang mereka sangka telah tewas itu, sebetulnya sama sekali belum tewas.
Untuk mengisi kekosongan hidupnya di dusun yang terpencil di kaki Pegunungan Himalaya itu, kakek Lu Kiong menerima murid-murid untuk dilatih ilmu silat. Tentu saja dia memilih dalam penerimaan murid ini, dan setelah dia kumpulkan, hanya ada lima belas orang pemuda di sekitar daerah itu yang diterimanya menjadi murid-muridnya. Tentu saja karena Ceng Ceng telah digemblengnya sejak kecil sedangkan penerimaan murid dilakukan setelah Ceng Ceng berusia dua belas tahun, maka biar pun Ceng Ceng disebut sumoi (adik perempuan seperguruan) namun dalam hal ilmu silat dara ini jauh lebih pandai dari pada semua suheng-nya.
Kekesalan hati Ceng Ceng di pagi hari itu bukan hanya karena dia jemu berlatih silat. Sama sekali tidak. Sesungguhnya dia amat gemar berlatih ilmu silat dan bakatnya amat baik. Akan tetapi pagi itu lain lagi. Ada berita menggemparkan bahwa rombongan utusan kaisar Tiongkok akan lewat di dusun itu dalam perjalanan mereka menuju ke kota raja, untuk memboyong puteri Raja Bhutan ke Tiongkok karena puteri itu telah dijodohkan dengan seorang pangeran Mancu yang menguasai Tiongkok di waktu itu.
Rombongan utusan kaisar Mancu ini kabarnya membawa pula peralatan dan hadiah-hadiah istimewa sehingga semua penduduk di daerah yang akan dilalui rombongan telah bersiap-siap untuk menonton! Tentu saja Ceng Ceng, seorang dara remaja yang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan dan haus akan segala yang menarik hati, ingin sekali menonton, maka latihan-latihan keras yang diadakan kakeknya pada saat seperti itu membuat hatinya mendongkol.
Betapa pun juga, Ceng Ceng tidak mau membantah lagi kepada kongkong-nya, apa lagi di depan lima belas orang suheng-nya. Dan dia sudah ikut pula berlatih, biar pun hanya dengan setengah hati. Latihan berjalan tertib kembali dan yang terdengar hanya bentakan-bentakan mereka yang mengikuti pukulan-pukulan tertentu, suara pernapasan dan suara kakek yang menghitung dengan irama yang khas.
Tiba-tiba terdengar suara tambur yang datang dari jauh dan makin lama semakin mendekat, kini terdengar keras diselingi sorak-sorai suara anak-anak, membuat Ceng Ceng hampir menangis. Suara tambur itu seolah-olah mengejeknya, seolah mengiringi gerakannya berlatih. Ketika dia melirik ke arah kongkong-nya dan para suheng-nya, mereka itu masih tenggelam ke dalam semangat yang tetap menggelora.
Hampir Ceng Ceng terisak-isak dan lari dari tempat itu, tetapi ia merasa malu kepada para suheng-nya, dan takut kepada kongkong-nya. Betapa besar keinginan hatinya untuk pergi menonton rombongan utusan itu! Utusan raja dari Tiongkok! Banyak sudah dia mendengar tentang kehebatan kota raja di sana, akan tetapi hanya mendengar dari cerita kakeknya, bahwa kota raja di Tiongkok seratus kali lebih besar dan lebih megah dibandingkan dengan kota raja dengan istananya dan rumah-rumah besar di Bhutan yang telah pernah dilihatnya. Dan sekarang, selagi kesempatan tiba dengan datangnya rombongan utusan kaisar, dia tidak bisa menonton, bahkan harus terus berlatih silat! Siapa tidak akan mendongkol hatinya?
Pada saat itu seorang pelayan memasuki kebun tempat berlatih itu, menghadap kakek Lu Kiong dan memberitahukan bahwa di luar datang seorang tamu yang hendak bertemu dengan kakek Lu Kiong. Kakek itu lalu menggapai muridnya yang pertama.
“Kau lanjutkan, wakili aku memimpin latihan ini baik-baik. Aku akan menemui tamu.”
“Baik, suhu!”
Kakek itu pergi setelah menoleh ke arah cucunya, kemudian menghela napas dan pergi bersama pelayan itu memasuki rumahnya. Begitu kakek itu lenyap di balik pintu, Ceng Ceng serta merta menghentikan latihannya dan berlari meninggalkan tempat latihan menuju ke pintu samping kebun itu.
“Haiii... sumoi...! Kau tidak boleh pergi!” kata murid pertama yang mewakili gurunya.
Tetapi Ceng Ceng telah tiba di pintu kebun samping. Mendengar seruan twa-suheng-nya (kakak seperguruan pertama), dia membalikkan tubuh dengan gaya mengejek, membusungkan dada, membuka bibir dari kanan kiri dengan kedua telunjuknya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek suheng-nya itu, kemudian tertawa terkekeh dan lari dari tempat itu.
Twa-suheng-nya hanya menarik napas panjang saja karena apa dayanya terhadap sumoi-nya yang manja dan bengal itu? Kalau dia berkeras melarang, salah-salah dia bisa dilawan oleh sumoi-nya, dan tentu saja dia tidak menghendaki hal ini. Dia dan para saudara seperguruannya terlampau sayang kepada sumoi yang cantik jelita, bengal akan tetapi selalu mendatangkan kegembiraan karena wataknya yang periang dan jenaka itu. Dan dia tahu pula betapa besar keinginan hati sumoi-nya untuk menonton rombongan utusan kaisar.
Hati Ceng Ceng merasa gembira bukan main. Dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri dia menonton rombongan yang megah itu lewat di dusun untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja yang tidak begitu jauh lagi letaknya dari dusun itu. Bersama para penonton lain yang terdiri dari anak anak dan orang tua laki-laki dan wanita, Ceng Ceng terus terbawa oleh rombongan itu. Tanpa terasa kedua kakinya mengikuti rombongan yang berpakaian indah-indah, membawa bendera dan tombak tanda kebesaran yang mengutus mereka, barang-barang berharga dipikul dan berada di dalam peti-peti yang berukir indah. Dengan hati kagum Ceng Ceng terus mengikuti rombongan itu, bersama banyak anak-anak lain dan para penonton, menuju ke kota raja.
Akan tetapi setibanya rombongan itu di pintu gerbang istana di kota raja Bhutan, para penonton itu tentu saja tak diperkenankan masuk! Penonton menjadi semakin banyak, tertambah oleh penduduk di sekitar istana di kota raja itu sendiri dan dari dusun-dusun lain yang sengaja datang ke kota raja untuk menonton keramaian ini.
Para penjaga dengan ketat menjaga pintu gerbang dan tidak memperkenankan rakyat untuk memasuki pintu gerbang. Karena hal ini mendatangkan rasa kecewa dan protes para penonton, terutama anak-anak berusia belasan tahun, maka terjadilah sedikit kekacauan, dorong-mendorong sehingga di pintu gerbang yang tidak berapa lebar itu terjadi desak-mendesak.
Keadaan menjadi makin kacau lagi ketika beberapa orang penjaga terpelanting roboh dan hal ini dilakukan oleh Ceng Ceng ketika dara ini yang berusaha untuk memasuki pintu gerbang dengan nekat, dipegang pundaknya oleh seorang penjaga.
Ketika penjaga melihat dara yang cantik manis dan masih remaja ini, dengan kurang ajar penjaga itu mengusap dagu Ceng Ceng dan lain tangannya berusaha untuk meraba dada. Ceng Ceng menjadi marah, kaki kirinya menendang tulang kering kaki penjaga itu dan selagi penjaga itu berjingkrak saking merasa nyeri sekali seolah-olah tulang keringnya remuk dan rasa nyeri naik sampai ke ulu hati, Ceng Ceng menendang lututnya membuat penjaga itu terjungkal! Tiga orang penjaga lain datang, seorang di antara mereka menunggang kuda, akan tetapi begitu Ceng Ceng bergerak, mereka terpelanting roboh juga, termasuk yang menunggang kuda. Tentu saja keadaan menjadi ribut dan kacau. Anak-anak yang nakal mempergunakan kesempatan ini untuk menyelinap masuk, dan ada penjaga yang berusaha mencegah mereka, ada pula yang mengurung Ceng Ceng, dan keadaan makin kacau balau.
Dua orang perwira dari rombongan utusan kaisar maju. Dengan tangan yang membentuk cakar garuda mereka hendak menangkap dara yang membuat kekacauan itu karena mereka merasa curiga bahwa dara itu tentulah mata-mata musuh yang sengaja hendak menggagalkan tugas mereka. Akan tetapi dengan teriakan nyaring dan marah karena mengira bahwa dua orang perwira ini pun hendak berbuat kurang ajar kepadanya, Ceng Ceng sudah menggerakkan kaki tangannya dengan cepat dan dua orang perwira itu pun terpelanting mencium tanah! Keadaan menjadi semakin ribut dan kini para penjaga maklum bahwa dara remaja itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah!
“Harap Cu-wi mundur semua, biarlah saya menghadapi pengacau cilik ini!” Suara itu terdengar nyaring dan dalam rombongan kaisar muncullah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun kurang lebih, berpakaian preman namun melihat wibawanya dalam rombongan itu dia tentulah seorang yang penting.
Memang demikianlah sesungguhnya. Pria ini adalah seorang pengawal pribadi kaisar sendiri, seorang yang ditunjuk untuk melindungi rombongan utusan yang penting itu. Orang ini bertubuh tegap, tidak seberapa tinggi, tetapi yang amat menarik perhatian adalah bentuk jenggotnya yang menyolok. Jenggot itu panjang sekali, dipelihara baik-baik dan berjuntai sampai ke perutnya! Jenggot itu merupakan sebuah cambuk tebal dari bulu halus, berwarna mengkilap hitam terhias beberapa warna putih dari uban yang mulai banyak menghias rambut dan jenggotnya.
Pengawal berjenggot panjang ini melangkah maju, mukanya yang bengis dan keras itu agak berseri ketika dia berkata, “Nona cilik, berani kau membikin kacau di sini? Hayo lekas berlutut dan menyerah kepada para penjaga untuk ditangkap!”
“Plak-plak-plak-plak!”
Sampai empat kali kedua tangan pengawal kaisar itu dapat ditangkis oleh Ceng Ceng dan pengawal itu merasa kaget dan terheran-heran sekali. Sungguh tidak pernah diduganya bahwa di pintu gerbang Istana Raja Bhutan, dia bertemu dengan seorang dara remaja yang masih berbau kanak-kakak yang dapat menangkis terkamannya sampai empat kali!
“Bagus, kau boleh juga!” Dan tiba-tiba pengawal ini menggerakkan kepalanya dan... bagaikan seekor ular hitam, atau sebatang cambuk, jenggot pengawal itu telah meluncur dan menotok ke arah jalan darah di leher Ceng Ceng!
Dara ini terkejut dan berteriak kaget, akan tetapi tidak percuma dia menjadi cucu buyut bekas pengawal kaisar, tidak percuma kakek Lu Kiong menggemblengnya selama bertahun-tahun sejak dia kecil. Reaksinya terhadap serangan jenggot yang lebih menjijikkan dan mengerikan hatinya dari pada menakutkan itu, membuat dia pun menggerakkan kepalanya dan... dua helai kuncirnya yang tadinya tergantung ke belakang punggung itu kini melayang ke depan dan menyambut jenggot lawannya!
“Plakkkk!”
Ujung jenggot bertemu dengan dua ujung kuncir, saling membelit dan kakek pengawal itu tertawa, sebaliknya Ceng Ceng terkejut sekali. Rambutnya terasa seperti dijambak-jambak, membuat seluruh kepalanya terasa pedih dan seolah-olah rambutnya akan copot semua!
Dalam keadaan yang berbahaya itu, untung sekali bagi Ceng Ceng, tiba-tiba muncul serombongan prajurit mengiringkan seorang perwira yang bertubuh tinggi tegap keluar dari halaman istana dan sudah tiba di pintu gerbang istana itu.
“Sumoi...”
Melihat komandan pasukan dari dalam istana yang agaknya merupakan penyambut itu menyebut ‘sumoi’ kepada dara remaja yang menjadi lawannya, pengawal kaisar terkejut, cepat melepaskan libatan jenggotnya dan melangkah mundur sambil berkata, “Maaf...!”
Perwira tinggi tegap itu adalah seorang murid kakek Lu Kiong juga. Sebelum menjadi muridnya, memang dia sudah menjadi seorang perwira di dalam istana. Dia berguru kepada Lu Kiong hanya untuk menambah ilmu kepandaian silatnya saja. Akan tetapi tentu saja dia pun menyebut sumoi kepada Ceng Ceng, sedang dara itu pun menyebut suheng kepadanya. Ketika melihat bahwa keributan yang terjadi di luar pintu gerbang itu adalah gara-gara sumoi-nya, maklumlah dia karena dia pun sudah mengenal watak sumoi-nya yang kadang-kadang ugal-ugalan dan bengal. Maka dengan suara mencela dia berkata, “Sumoi, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa membikin ribut?”
Ceng Ceng cepat memutar otaknya dan dengan cemberut, alisnya berkerut, sikap yang membuat wajahnya kekanak-kanakan akan tetapi bertambah manis, dia berkata, “Aihh, suheng, siapa yang tidak jengkel? Aku ingin bertemu dengan suheng untuk melihat dan mengagumi rombongan utusan kaisar, siapa tahu di tempat ini sumoi-mu malah mendapatkan perlakuan yang kasar dan kurang ajar.”

Perwira itu maklum akan kecantikan sumoi-nya. Dia bukan tidak percaya bahwa ada penjaga yang bersikap kurang ajar, maklumlah pria-pria kasar menghadapi seorang dara jelita selincah Ceng Ceng. Untuk cepat meredakan suasana, dia lalu menghadapi pengawal kaisar berjenggot panjang itu, menjura dan berkata, “Harap maafkan kesalah pahaman ini. Dia ini adalah adik seperguruan saya sendiri.”
Pengawal berjenggot panjang itu tertawa, membalas penghormatan itu dan berkata, “Sungguh hebat sekali kepandaian sumoi dari ciangkun (perwira) yang masih begini muda. Saya mengucapkan selamat dan merasa kagum.”
Pertemuan itu ditutup dengan upacara penyambutan pasukan yang dipimpin perwira itu, kemudian rombongan utusan diiringkan memasuki halaman istana yang sudah berada dalam keadaan dan suasana pesta penyambutan yang meriah. Dan munculnya perwira yang menjadi suheng Ceng Ceng itu tentu saja memungkinkan gadis ini untuk diperkenankan ikut memasuki istana!
Tentu saja hati Ceng Ceng girang bukan main ketika dia dengan bebas boleh masuk ke dalam istana. Oleh mereka yang belum mengenalnya, dia tentu dianggap seorang di antara anggota rombongan utusan sehingga siapa pun yang bertemu dengan rombongan itu memandangnya penuh kagum dan penuh hormat. Sementara itu hari telah menjadi siang.
Rombongan utusan kaisar itu disambut dengan upacara meriah oleh para pembesar istana dan penyambutan ini dikepalai oleh pangeran tua, yaitu adik raja sendiri oleh karena pada hari itu, raja yang diharapkan sudah pulang dari berburu binatang pada hari kemarin, masih juga belum tiba! Hal ini tentu saja menimbulkan kebingungan di dalam hati keluarga raja dan para pembesar, dan sejak kemarin telah dikirim utusan untuk menyusul ke hutan di pegunungan sebelah barat. Akan tetapi utusan itu pun belum pulang sampai hari itu!
Karena kedatangan rombongan utusan kaisar itu adalah untuk memboyong puteri, berarti urusan perjodohan, maka tentu saja tanpa hadirnya kaisar sendiri yang menjadi ayah kandung sang puteri, penyambutan resmi belum dapat diadakan. Rombongan itu harus bertemu dan menghadap raja untuk menyampaikan segala pesan kaisar dan menghaturkan semua hadiah perjodohan.
Setelah diadakan penyambutan meriah dan dijamu dengan hidangan mewah, maka oleh pangeran tua rombongan tamu agung ini dipersilahkan mengaso di dalam kamar-kamar istana yang telah dipersiapkan untuk para tamu yang penting dan terhormat itu. Dengan perasaan girang Ceng Ceng juga ikut makan minum di meja sudut ruangan penyambutan, ditemani oleh suheng-nya. Sambil makan dia kemudian menyatakan rasa kagumnya kepada sang suheng akan kelihaian pengawal kaisar yang berjenggot panjang itu.
Setelah rombongan tamu mengundurkan diri beristirahat di kamar mereka, Ceng Ceng diajak suheng-nya ke rumahnya yang terletak di sebelah kiri dari istana raja. Akan tetapi dara ini membantah ketika suheng-nya menyuruh dia lekas pulang agar tidak mengkhawatirkan hati kakeknya.
“Aku ingin sekali menonton sampai sri baginda pulang, aku ingin melihat sang puteri diboyong!”
“Sumoi, engkau tadi mengatakan bahwa kau pergi tanpa seijin suhu. Kepergianmu ini tentu akan membikin tidak senang hati suhu. Sebaiknya engkau pulang sekarang agar hati orang tua itu tidak gelisah.”
“Biar pun aku pergi tanpa setahu kongkong, akan tetapi dia tahu bahwa aku ingin sekali menonton keramaian, maka dia tentu dapat menduga pula bahwa aku tentu berada di kota raja bersama suheng. Hati orang tua itu tidak akan menjadi gelisah. Suheng, kalau suheng keberatan aku bermalam di rumah suheng ini, biarlah kucari tempat penginapan lain, di kuil atau di mana saja. Pendeknya, aku harus melihat sang puteri diboyong!”
Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu benar akan watak sumoi-nya ini dan dalam keadaan sibuk dengan kedatangan rombongan utusan itu, tentu saja dia tidak ingin ditambah dengan kesibukan mengurus sumoi-nya yang bengal ini. Maka dia hanya berkata, “Sumoi, tentu saja engkau tahu aku tidak keberatan kau bermalam di sini. Aku hanya ingin bilang bahwa kalau suhu marah, engkau sendiri yang harus menanggung karena aku sudah berusaha membujukmu untuk pulang.”
Ceng Ceng tersenyum manis dan memegang tangan suheng-nya dengan sikap manja, kemanjaan seorang anak-anak kepada orang yang patut menjadi ayahnya. “Suheng yang baik, seorang gagah sudah tentu harus berani mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, bukan?”
Mau atau tidak perwira itu tertawa. Dia sendiri tidak mempunyai anak, dan sejak dahulu dia amat sayang kepada sumoi-nya ini yang dianggap seperti seorang anaknya sendiri. Isterinya juga amat suka kepada Ceng Ceng yang menyebut isteri suheng-nya itu ‘so-so’ (kakak ipar perempuan).
Perwira ini bernama Jayin dan di Kota Raja Bhutan namanya cukup terkenal karena dia merupakan tokoh kedua dalam deretan nama-nama tokoh besar yang berpengaruh di lingkungan istana dan Kerajaan Bhutan. Dia merupakan seorang perwira tinggi yang mengepalai pasukan pengawal yang bertugas menjaga keselamatan di kota raja. Tokoh pertama adalah panglima sendiri, yang selain merupakan panglima perang juga selalu mendampingi raja.
Panglima itulah yang kini mengawal raja dalam berburu binatang, bersama pasukan pengawal pilihan lain yang jumlahnya semua dua losin orang. Perwira Jayin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, apa lagi setelah ilmu silatnya ditambah dengan latihan-latihan ilmu silat tinggi yang diberikan oleh kakek Lu Kiong kepadanya. Dan sesungguhnya dialah yang menjadi murid pertama dari kakek Lu Kiong, karena kakek itu mengajar silat kepadanya ketika Ceng Ceng masih kecil, setelah kakek itu tertarik melihat watak gagah perkasa dari perwira tinggi itu.
Dapat dibayangkan betapa khawatir dan pusingnya hati perwira ini sebagai orang yang bertanggung jawab penuh di kota raja di saat raja dan panglima tidak berada di istana, padahal hari itu terjadi peristiwa amat penting dengan kedatangan rombongan utusan kaisar. Kesibukan dan kekhawatiran menghadapi urusan itu membuat dia tidak banyak cerewet lagi menghadapi sumoi-nya. Maka setelah mengajak sumoi-nya ke rumah dan ‘menyerahkan’ dara bengal itu kepada isterinya, perwira itu bergegas kembali ke istana untuk menanti kembalinya raja dan rombongannya yang pergi berburu semenjak tiga hari yang lalu.
Sore harinya dia pulang dengan wajah letih lesu dan lagi karena raja yang dinanti-nanti pulangnya ternyata masih belum pulang, dan pasukan kecil yang disuruh menyusul ternyata juga belum kembali dan tidak ada kabar apa-apa dari rombongan raja yang memburu binatang di hutan-hutan lebat Pegunungan Himalaya sebelah barat.
Ceng Ceng tidur dan bermimpi tentang yang indah-indah. Tentang rombongan utusan kaisar, tentang istana yang megah dan mewah dan dalam mimpi itu dia melihat dirinya sendiri berpakaian seperti seorang puteri raja yang dijemput dan diboyong ke istana kaisar! Akan tetapi tiba-tiba dia sadar dari mimpi dan terbangun dari tidurnya oleh suara orang bercakap-cakap.
Sebagai seorang ahli ilmu silat yang setiap saat waspada dan seluruh urat syaraf di tubuhnya berada dalam keadaan siap bergerak, begitu terbangun Ceng Ceng sudah meloncat turun dari pembaringan dan berindap-indap keluar dari kamarnya, mengintai suheng-nya yang terdengar bercakap-cakap dengan seorang laki-laki lain. Pada waktu itu telah lewat tengah malam, tentu saja Ceng Ceng menjadi curiga dan menduga bahwa tentu ada peristiwa yang amat penting maka pada saat selarut itu suheng-nya masih menerima tamu.
Ketika Ceng Ceng mendengarkan percakapan mereka, jantungnya berdebar keras penuh ketegangan. Kiranya terjadi hal yang demikian hebat, pikirnya! Pantas saja suheng-nya kelihatan sibuk benar dan malam-malam begitu masih menerima tamu dari istana.
Tamu itu adalah komandan bawahannya yang memimpin pasukan kecil yang kemarin pagi menyusul rombongan raja. Dan orang ini datang melapor kepada suheng-nya bahwa rombongan raja yang dikawal oleh panglima dan dua losin pasukan pilihan itu telah mengalami mala petaka!
Rombongan raja telah dihadang oleh pasukan besar orang-orang asing yang hendak menawan raja. Terjadi perang kecil. Akan tetapi, walau pun raja dikawal oleh pasukan pengawal pilihan yang dipimpin panglima sendiri, namun jumlah musuh terlalu besar, sedikitnya ada seratus orang, maka tentu saja pasukan pengawal raja menjadi repot dan kewalahan.
Pasukan pengawal tetap mempertahankan diri, sementara sang raja yang dikawal oleh panglima sudah melarikan diri. Akibatnya, raja berhasil lolos dari kepungan dengan pengawalan panglima yang lihai, sekarang entah bersembunyi di mana, sedangkan dua losin pengawal pilihan itu mempertahankan diri sampai tewas semua, terbasmi oleh pihak musuh yang jauh lebih besar jumlahnya itu.
“Saat ini juga ciangkun diminta datang ke istana oleh pangeran tua untuk merundingkan urusan ini.” Demikian pembantunya mengakhiri pelaporan. Perwira Jayin mendengar pelaporan itu dan dia cepat berpakaian, kemudian bergegas pergi ke istana bersama pembantunya.
Ceng Ceng tidak dapat tidur lagi. Menghadapi peristiwa yang demikian hebatnya, mana dia bisa tidur? Terlalu hebat peristiwa ini. Betapa kongkong-nya dan para suheng-nya akan melongo mendengarkan ceritanya kelak. Raja terancam bahaya! Raja hendak diculik, hendak dibunuh oleh pasukan asing ketika raja dan panglima sedang berburu. Padahal rombongan utusan kaisar sudah tiba! Dan sekarang raja dan panglima tidak tahu berada di mana. Betapa hebatnya cerita ini. Dia harus tahu lebih banyak, demikian pikirnya sambil mengenakan pakaian, membereskan rambutnya, mencuci muka dan diam-diam dia meninggalkan rumah suheng-nya melalui jendela dan berlari menuju ke istana.
Dia sudah mengambil keputusan untuk masuk ke istana, apa pun juga yang akan terjadi, diperkenankan atau tidak! Dia harus mengikuti terus perkembangan keadaan, harus tahu apa yang selanjutnya terjadi agar kelak ceritanya kepada kongkong-nya dan kepada suheng-nya dapat lengkap! Betapa senangnya nanti menceritakan itu semua, pikirnya.
Tentu saja para penjaga menghadangnya di pintu gerbang karena malam itu, sesuai dengan perintah yang dikeluarkan Perwira Jayin, penjagaan diperketat dengan adanya tamu agung yang bermalam di istana dan dengan terjadinya hal-hal yang mengejutkan seperti yang dilaporkan oleh komandan pasukan yang menyusul rombongan raja.
Dara ini tersenyum mengejek, menggeser tubuhnya ke bawah penerangan lampu agar mukanya kelihatan sambil berkata, “Hemmm, apakah kalian ini penjaga-penjaga malas hendak mencari ribut lagi dengan aku?”
Mendengar suara wanita dan melihat wajah cantik di bawah sinar penerangan itu, tentu saja para penjaga mengenal Ceng Ceng. Dara yang masih adik seperguruan Perwira Jayin, yang siang tadi membikin ribut di pintu gerbang, merobohnya para penjaga dan dua perwira, bahkan yang berani menandingi pengawal kepala dari rombongan utusan kaisar!
“Eh... kau lagi... nona?” Komandan jaga yang mengenalinya berkata gugup.
“Ya, aku! Apakah kau hendak melanjutkan gerakan tombakmu itu?”
Komandan jaga itu cepat-cepat menurunkan tombaknya yang tadi menodong. “Ahhh, tidak...! Maafkan, nona, tetapi... kami menjaga dan tidak ada orang asing yang boleh masuk.”
“Tentu saja! Kalau kau membiarkan orang asing masuk, suheng-ku Perwira Jayin tentu tidak akan memberi ampun kepadamu! Akan tetapi aku bukannya seorang asing, dan aku disuruh oleh so-so, isteri abangku, untuk menyusul suheng yang baru saja masuk ke istana.”
Komandan jaga itu bingung dan ragu-ragu. Dia sudah tahu bahwa dara ini adalah sumoi dari Perwira Jayin dan memang benar baru saja perwira itu masuk ke istana!
“Ada ada urusan apakah, nona? Boleh kami yang menyampaikan...”
“Husshhh! Urusan keluarga, urusan isteri hendak kamu campuri, ya? Begitu kurang ajarkah kalian? Akan kulaporkan kepada suheng...”
“Ah, maaf..., maaf... harap nona tidak marah. Kami bukan berniat buruk...”
“Kalau tidak berniat buruk, mengapa melarang aku menyusul abang? Hayo katakan, apakah masih ada lagi penjaga yang hendak kurang ajar kepadaku?”
Komandan jaga itu kewalahan. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka semua minggir, memberi jalan dan komandan itu berkata, “Baiklah, nona masuk saja. Akan tetapi harap jangan bicara yang bukan-bukan kepada ciangkun.”
Ceng Ceng memasuki pintu gerbang itu, menoleh dan tersenyum. “Aku akan melaporkan kepada suheng bahwa komandan jaga malam ini, yang berkumis tipis, adalah seorang yang amat baik hati dan ramah.”
Setelah dara itu pergi memasuki halaman istana, komandan jaga yang menjadi berseri wajahnya itu meraba-raba kumisnya, tersenyum-senyum bangga! Sikap dan ucapan Ceng Ceng itu sekaligus merubah keadaan hatinya, kalau tadi dia merasa khawatir melakukan pelanggaran, kini dia merasa bangga karena telah melakukan jasa.
Niat hati hendak mencari suheng-nya di dalam istana. Akan tetapi karena dia tidak hafal akan keadaan di istana yang demikian besarnya, yang mempunyai banyak lorong-lorong yang hampir sama bentuk dan hiasannya, membuat dia kesasar ke lain tempat, ke sebelah kiri bangunan istana besar itu. Padahal suheng-nya saat itu sedang sibuk terlibat dalam perundingan yang serius dengan Pangeran Tua dan para panglima lainnya yang berlangsung di sebelah kanan bangunan istana. Ceng Ceng tersesat jalan, memasuki daerah yang dihuni oleh para puteri dan semua anggota wanita dari keluarga kerajaan.
Barulah dara ini sadar akan kesalahan jalan ini setelah dia melihat beberapa orang penjaga wanita yang sudah bermunculan dari kanan kiri dan mengurungnya!
“Siapa kau?”

“Tangkap dia!”
“Dia tentu mata-mata musuh!”
Para penjaga wanita itu sudah berteriak-teriak dengan kacau sehingga percuma saja bagi Ceng Ceng untuk membela diri. Bahkan mereka sudah serentak maju hendak menangkapnya. Ceng Ceng menjadi marah, kaki tangannya bergerak dan dua orang penjaga menjerit dan terpelanting roboh terkena dorongan tangan dan tendangan kakinya.
Ributlah keadaan di situ. Ceng Ceng marah karena para penjaga wanita itu tidak mau mendengarkan kata-katanya dan terus mengeroyoknya seperti sekelompok kupu-kupu beterbangan di sekelilingnya. Betapa pun marahnya, Ceng Ceng masih ingat bahwa dia berada di dalam istana, maka dia mengatur kaki tangannya agar jangan sampai melukai berat lawan, apa lagi membunuh seorang di antara mereka. Namun, karena kaki dan tangan dara ini sudah terlatih, tetap saja penjaga yang dirobohkannya mengalami bengkak-bengkak dan lecet-lecet sehingga makin ributlah terdengar jeritan wanita-wanita yang terpelanting itu.
“Siapa berani main gila di sini?” Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Ceng Ceng memandang dengan penuh kagum dan tercengang ketika dia melihat munculnya seorang dara yang amat cantik jelita.
Dara ini cantik sekali, kulit mukanya halus putih kemerahan, matanya lebar dan jernih, terlindung bulu mata yang panjang dan melengkung, rambutnya gemuk berombak dan dibiarkan terurai di belakang punggungnya, diikat di dekat tengkuk dengan gelang mutiara, sedangkan di atas kepala tampak ikatan rambut yang dihias dengan seekor burung Hong terbuat dari pada emas dan permata.
Telinganya terhias anting-anting yang besar dari emas pula, demikian pergelangan tangannya. Pakaiannya juga amat aneh dan serba indah, terbuat dari sutera-sutera halus beraneka warna. Seorang dara yang cantik jelita dan pantasnya dia seorang dewi dari kahyangan. Akan tetapi pada saat itu, dia bukan merupakan seorang dewi yang penuh welas asih, melainkan seorang dewi yang sedang marah, yang tangan kanannya memegang sebatang pedang yang indah pula, pedang yang gagangnya terhias emas terukir halus.
Ceng Ceng sejenak memandang kagum dan terpesona, akan tetapi ketika dara jelita itu menghampirinya dan menampar dengan tangan kirinya, tamparan yang cukup keras, Ceng Ceng sadar dan cepat dia menggerakkan tangan kanannya. Tadinya dia hendak menangkis, akan tetapi mengingat betapa halus dan putih lengan dara itu, dia merasa tidak tega, maka dia lalu merubah tangkisannya menjadi tangkapan.
“Plakkk...!”
Lengan tangan kiri dara itu diterima oleh telapak tangan Ceng Ceng, dan sebelum pedang di tangan kanan dara itu digerakkan, Ceng Ceng telah berkata halus, “Harap tahan dulu dan jangan menyerang. Aku bukan orang jahat, aku mencari suheng-ku, Perwira Jayin!”
Mendengar ini, sepasang mata yang lebar itu terbelalak dan tangan kanan yang memegang pedang menurun. Ceng Ceng sudah melepaskan lengan yang berkulit halus itu, lalu melangkah mundur, berdiri tegak dan memandang dengan penuh kagum.
“Dia...?”
“Benar dia...!” Demikian terdengar beberapa orang penjaga wanita berkata.
Dara jelita berpakaian merah itu melangkah maju, memandang Ceng Ceng dengan penuh selidik, sinar matanya merayapi tubuh Ceng Ceng dari atas kepala sampai ke ujung kaki, kemudian terdengar suaranya, halus namun penuh wibawa, “Apakah engkau sumoi dari Perwira Jayin yang siang tadi menimbulkan geger di pintu gerbang dan yang kabarnya telah berani pula melawan pengawal kaisar sendiri?”
Ceng Ceng tersenyum dan dia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dia malah bertanya, “Kalau boleh aku mengetahui, siapakah anda yang begini cantik jelita seperti dewi?”
Dara itu tersenyum dan Ceng Ceng seolah-olah silau oleh kecantikan yang makin menonjol itu. Alangkah manisnya senyum itu, senyum wajar yang menggerakkan dan menghidupkan seluruh wajah jelita itu, bahkan yang seolah-olah langsung menyinarkan kehangatan kepada seluruh keadaan di sekitarnya!
“Kabarnya engkau bernama Ceng Ceng dan engkau mengakibatkan geger karena ingin melihat puteri yang akan diboyong oleh rombongan utusan kaisar. Benarkah itu?”
Ceng Ceng mengangguk.
“Nah, akulah puteri itu.”
Mata Ceng Ceng makin melebar, bibirnya yang kecil mungil dan kemerahan itu terbuka. Sejenak dia tidak dapat berkata apa-apa, akan tetapi kemudian dia menjatuhkan diri berlutut. “Ampunkan hamba... ahhh, hamba tidak tahu...”
Puteri itu tertawa, melempar pedangnya yang disambut oleh seorang di antara para pengawal wanitanya. Kemudian puteri itu maju, memegang pundak Ceng Ceng dan menariknya berdiri. Mereka itu sebaya, dan perawakan mereka pun tidak berselisih banyak. Mereka berdiri berhadapan, saling memandang dan kemudian keduanya tersenyum dengan rasa suka timbul di hati masing-masing.
“Paduka... paduka Puteri Syanti Dewi...?”
Puteri itu mengangguk, tersenyum dan memegang tangan Ceng Ceng, digandengnya dan ditariknya dara itu masuk ke dalam kamarnya yang besar dan indah. Puteri itu memberi isyarat kepada semua pelayan dan penjaganya agar tidak mengganggu mereka berdua, kemudian pintu kamarnya ditutupkan dari luar dan dia berkata sambil tersenyum lebar. “Nah, duduklah dan anggap ini kamarmu sendiri, Ceng Ceng. Ehhh, siapakah nama lengkapmu? Kau tentu seorang Han dari Tiongkok, bukan? Kau tidak seperti orang Mancu.”
“Benar, hamba she Lu bernama Ceng akan tetapi biasa disebut Ceng Ceng.”
“Ah, engkau puteri guru Perwira Jayin yang bernama Lu Kiong, kakek yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi itu?”
“Bukan anaknya, melainkan cucunya. Paduka sangat baik terhadap hamba, padahal hamba telah mengagetkan paduka dan telah berani memasuki tempat ini...”
“Hushh, kalau kau tak merubah sebutan-sebutan itu, aku akan kehilangan rasa sukaku kepadamu, Ceng Ceng. Tahukah kau betapa muak hatiku dengan semua ini? Setiap hari disembah-sembah orang, setiap hari mendengar sebutan paduka tuan puteri atau yang mulia dan lain-lain yang kosong dan palsu, mendengar orang merendahkan diri dan menyebut diri hamba yang rendah dan sebagainya. Alangkah rinduku diperlakukan seperti manusia biasa, bukan seperti seorang dewi atau seorang siluman yang bukan manusia. Tadi hatiku girang sekali menyaksikan sikapmu yang terbuka, menyebutku dengan kata kau atau anda saja. Akan tetapi begitu kau meniru sikap mereka yang merendahkan diri seperti orang menjilat, aku menjadi tidak senang.”
“Habis...?” Ceng Ceng meragu dan terheran, juga geli rasa hatinya mengapa ada seorang puteri raja yang menyatakan pendapat seperti itu.
“Engkau Ceng Ceng, dan aku Syanti saja. Kau sebut saja namaku.”
“Ini... ini... mana hamba berani...”
“Kalau tidak berani, lekas kau pergi dari sini dan aku tidak mau bersahabat denganmu lagi.”
“Ahhhh...” Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan merasa kecewa sekali. “Hamba ingin sekali... bersahabat... hamba kagum dan suka kepada paduka...”
“Hushh! Hanya satu syaratnya, yaitu kau menganggap aku sebagai sahabat atau... eh, bagaimana kalau sebagai saudara? Berapa usiamu?”
“Kurang lebih lima belas tahun.”
“Kalau begitu sama dengan aku. Nah, untuk menghormatiku biarlah kau menganggap aku lebih tua setengah bulan darimu, dan kau menyebut aku enci (kakak), dan aku menyebutmu moi-moi (adik perempuan). Selanjutnya kau harus ber-engkau dan ber-aku kepadaku, tidak ada lagi paduka-padukaan atau hamba-hambaan. Bagaimana, maukah kau?”
Ingin Ceng Ceng menari kegirangan. Siapa bisa percaya! Dia, seorang dara dusun, seorang gadis gunung, diakui sahabat baik, bahkan saudara oleh Puteri Syanti Dewi yang terkenal itu! Duduk berdua sekamar dengan puteri itu, bicara dengan sebutan engkau dan aku! Mana mungkin ini? Hanya dapat terjadi dalam mimpi! Mimpikah dia? Diam-diam Ceng Ceng mencubit pahanya sendiri.
“Haiiii, Ceng-moi, apa yang kau lakukan itu?” Puteri Syanti memandang heran ketika melihat Ceng Ceng mencubit pahanya sendiri dan meringis karena merasa nyeri.
“Ehh...! Ohhh...! Tidak... tidak apa-apa... eh, enci Syanti.”
Puteri Syanti tertawa lebar sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih seperti mutiara, rongga mulut yang merah dan lidah yang kecil yang bergerak hidup dan berwarna merah muda.
“Senang hatiku mendengar kau menyebutku enci! Ceng-moi, sebagai saudara kita tidak boleh menyimpan rahasia. Aku melihat kau tadi mencubit pahamu sampai kau meringis kesakitan. Mengapa kau begini lucu, mencubit paha sendiri?”
“Habis, tidak ada yang mencubit... eh, maksudku, kalau ada yang cubit, tentu kutampar mukanya, apa lagi kalau dia seorang pria!”
Jawaban ini membuat sang puteri terkekeh geli. “Bagaimana kalau yang mencubit itu pria kekasihmu?”
“Kekasih?” Ceng Ceng bertanya, seolah-olah tidak mengerti apa artinya kata-kata ini.
“Kekasih, pria yang kau cinta. Bagaimana kalau dia yang mencubit pahamu?”
“Cinta? Aku tidak tahu, aku tidak mengerti apa itu cinta. Kalau ada pria melakukan hal itu, berarti dia manusia kurang ajar dan tentu akan kutampar mukanya sampai bengkak-bengkak!”

“Ouhhh...!” Puteri itu menutupi mulutnya dan memandang heran.
“Apakah kau hendak mengatakan bahwa engkau belum pernah berpacaran?”
“Hehh? Berpacaran?”
“Ya, mempunyai teman pria yang kau sukai, dengan siapa engkau bersendau-gurau, bersenang-senang, bermain-main bersama dan sebagainya.”
Ceng Ceng menggeleng kepala dan memandang dengan mata jujur. Puteri itu menarik napas panjang dan berkata kepada diri sendiri, “Betapa anehnya! Dan kukira dara yang hidup bebas di luar, tidak seperti aku yang dikurung di istana, dapat lebih menikmati hidup, dapat memilih pacar dan calon jodoh sendiri...”
“Enci Syanti, apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak mengerti.”
“Sudahlah, adik Ceng, memang hanya orang yang tidak mengerti itulah justru yang beruntung, tidak dilanda suka-dukanya. Aku mengulangi pertanyaanku tadi, mengapa kau tadi mencubit pahamu?”
“Karena aku masih tak percaya bahwa aku, seorang gadis gunung, dapat duduk sejajar dengan Puteri Syanti Dewi, bercakap-cakap seperti sahabat bahkan seperti saudara. Aku mengira bahwa aku sedang mimpi, maka kucubit pahaku.”
“Hi-hik, kau memang lucu! Aku suka sekali padamu, adik Ceng.”
“Dan aku... aku tidak pernah mempunyai seorang sahabat seperti engkau, enci Syanti. Aku suka sekali padamu.”
“Kalau begitu...!” Puteri itu meloncat. “Benar! Sekarang aku tidak terlalu berduka lagi. Ahhh, kau tahu, adik Ceng, aku selalu menangis dan bersusah hati setelah sri baginda memutuskan perjodohanku dengan pangeran putera Kaisar Tiongkok! Aku merasa seolah-olah masa depanku gelap, seolah-olah aku akan dikirim ke neraka. Sekarang ada engkau! Engkau harus menemani aku, adikku! Ya, engkau harus menemani aku, barulah aku sanggup menghadapi kepergian ini!”
“Apa...? Aku...? Ikut bersamamu ke kota raja, di Tiongkok? Ke istana kaisar?” Jantung di dada Ceng Ceng berdegup keras. Makin hebat dan menarik saja pengalaman ini!
“Maukah engkau, adik Ceng? Katakanlah engkau mau, kasihanilah aku yang amat memerlukan kehadiran seorang sahabat, seorang saudara yang sangat kucinta dalam perjalananku yang jauh dan amat menggelisahkan hatiku ini” Dan puteri itu memandang Ceng Ceng dengan air mata berlinang!
Ceng Ceng tersenyum lalu mengangguk kuat-kuat. “Aku mau! Dengan senang hati, enci Syanti!”
“Adikku...!” Saking girangnya puteri itu lalu menubruk dan memeluk Ceng Ceng, lalu mencium pipinya. Ceng Ceng membalas pelukan itu dan mereka seperti enci-adik yang mencurahkan perasaan masing-masing yang penuh keharuan, seperti kakak-beradik yang telah lama sekali tidak berjumpa, dan baru sekarang bertemu.
“Tetapi bagaimana kalau kongkong melarangku?” Akhirnya Ceng Ceng yang teringat akan keadaannya, bertanya ragu.
“Jangan khawatir. Aku akan minta kepada sri baginda agar engkau menjadi pengawal pribadiku, dan perintah ayahku sri baginda tentu akan ditaati oleh kongkong-mu.”
Ceng Ceng mengangguk-angguk dan mereka bercakap-cakap dengan penuh gembira, kemudian tidur bersama dalam pembaringan puteri itu yang mewah, harum dan enak sekali dipakai.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Puteri Syanti Dewi. Setelah puteri ini menyatakan kehendaknya mengangkat Ceng Ceng sebagai pengawal pribadinya, pangeran tua sendiri pun tak berani melarang sehingga Perwira Jayin yang tadinya mendengar akan perbuatan Ceng Ceng dan hendak membawa pulang sumoi-nya itu, jadi ‘mundur teratur’ dan terpaksa dia mengirim laporan kepada suhunya di dusun tentang keadaan Ceng Ceng yang kini diangkat oleh sang puteri menjadi pengawal pribadi, bahkan sudah ditentukan oleh puteri itu bahwa Ceng Ceng akan mengawalnya kalau tiba saatnya dia diboyong oleh rombongan utusan kaisar!
Sementara itu, pada malam hari itu juga ketika merundingkan persoalan raja yang terancam bahaya dengan para panglima dan pembantunya, pangeran tua mengambil keputusan untuk mengirim pasukan yang terdiri dari seribu orang prajurit, dipimpin oleh Panglima Jayin sendiri untuk mencari raja dan menyelamatkannya dari ancaman bahaya.
Berangkatlah Panglima Jayin menunggang kuda memimpin seribu orang prajurit itu pada malam hari itu juga. Bhutan bukanlah sebuah negara besar dan karena negara itu selalu berada dalam keadaan aman, jarang sekali dilanda perang, maka tentaranya juga tidak terlatih dan tidak banyak jumlahnya. Kalau sekarang dikerahkan seribu orang pasukan adalah karena mereka hendak menolong dan melindungi raja mereka. Obor-obor dipasang mengiringi keberangkatan barisan itu keluar dari benteng kota raja.
Akan tetapi ketika barisan itu tiba di pintu gerbang kota raja, terdengar teriakan penjaga dan Panglima Jayin cepat menengok. Kiranya di antara sinar obor tampak berkelebat bayangan orang yang melompati dinding benteng yang sangat tinggi itu dengan gerakan seperti seorang burung terbang saja.
“Kejar dia! Tangkap! Panah dia!” Panglima Jayin yang merasa curiga sekali memerintah dengan suara nyaring.
Beberapa orang prajurit ahli panah sudah menyerang bayangan itu, akan tetapi karena gerakan bayangan itu cepat laksana burung terbang, serangan anak-anak panah itu sia-sia belaka dan dalam sekejap mata saja bayangan itu telah lenyap ke dalam kota raja.
Panglima Jayin mengangkat tangan menahan gerakan barisannya, lalu mengumpulkan para perwira pembantunya dan menyuruh mereka menahan barisan untuk berhenti di luar tembok kota raja karena dia ada urusan penting. Seorang diri panglima ini lalu membalapkan kudanya kembali ke kota raja, menuju ke istana.
Dalam hati Panglima Jayin mulai merasa curiga terhadap para tamu agung, yaitu para rombongan utusan kaisar. Bukankah mala petaka terjadi ketika rombongan itu di Bhutan? Kebetulan sajakah ini, atau ada apa-apa di balik kedatangan rombongan itu? Mereka datang pada saat raja berburu dan rombongan raja dihadang oleh pasukan musuh yang kini dia tahu adalah orang-orang Mongol dan Tibet yang telah lama sering mengadakan gangguan kepada Pemerintah Bhutan.
Orang-orang campuran antara bangsa Mongol dan Tibet yang sebenarnya merupakan orang-orang pelarian negara mereka sendiri ini telah membentuk sebuah perkumpulan besar atau dapat juga dikatakan sebuah ‘kerajaan’ kecil, dipimpin oleh seorang tokoh hitam yang kabarnya berasal dari Tiongkok dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Akan tetapi, selama ini, karena jumlah mereka tidaklah banyak dibandingkan dengan jumlah barisan Kerajaan Bhutan, gangguan mereka selalu dapat dihadapi dengan kekerasan dan sudah lama mereka tidak pernah terdengar beritanya lagi. Mengapa kini tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu raja yang sedang berburu, tepat ketika rombongan utusan kaisar tiba?
Bayangan yang dilihatnya meloncat seperti terbang tadi memakai kuncir, tanda bahwa bayangan itu adalah seorang dari Tiongkok! Kecurigaan hati Panglima Jayin terhadap rombongan utusan kaisar makin besar, maka dia menahan barisannya dan kini dia kembali ke istana untuk menemui mereka, untuk melihat keadaan dan kalau perlu bertindak.
Ketika panglima memasuki pintu gerbang istana, menitipkan kuda kepada para penjaga dan dia berlari-lari masuk ke tempat di mana para tamu itu bermalam, ternyata di situ juga sedang dalam keadaan ribut-ribut. Semua tamu itu telah terbangun dan banyak pula para pengawal istana yang berkumpul di situ. Ketika mereka melihat Panglima Jayin, maka segera menyambutnya dan kepala pengawal kaisar yang memimpin rombongan utusan kaisar itu dengan langkah lebar menghampiri Jayin dengan muka merah dan alis berkerut.
“Apa yang sudah terjadi?” tanya Jayin dengan pandang mata penuh selidik kepada pengawal kaisar yang berjenggot panjang itu.
Pengawal ini ini bernama Tan Siong Khi. Ketika mendengar pertanyaan Jayin dia memandang tajam dan berkata, “Seharusnya kami yang mengajukan pertanyaan ini, panglima!”
Jayin mengerutkan alisnya, terheran akan tetapi juga tidak senang mendengar kata-kata itu, “Hemm... apakah sesungguhnya yang telah terjadi?”
“Ada orang menyelundup masuk ke tempat penginapan kami, sikapnya mencurigakan sekali. Aku sendiri sudah menyerangnya dan berusaha menangkapnya, akan tetapi gagal dan dia berhasil melarikan diri dan lenyap.”
Tentu saja Jayin terkejut, “Benarkah? Seperti apa orangnya?”
“Keadaan gelap, dan gerakannya gesit. Kami tidak dapat melihat jelas mukanya. Akan tetapi yang amat mengherankan, mengapa dia dapat memasuki istana yang terjaga kuat dan bagaimana mungkin dia melarikan diri dari istana dan dari dalam kota raja?”
Biar pun ucapan Tan Siong Khi diucapkan seperti orang yang merasa heran dan penasaran, namun di dalamnya terkandung kecurigaan yang agaknya dinyatakan untuk mengimbangi sikap Jayin yang datang-datang memperlihatkan kecurigaan pula.
Jayin mengerutkan alisnya lagi. Memang sukarlah baginya keadaan seperti itu. Kecurigaannya terhadap rombongan utusan ini memang makin besar. Siapa tahu keributan dengan alasan orang luar memasuki tempat penginapan mereka ini hanya sandiwara belaka!
Akan tetapi untuk menuduh begitu saja, tidak mungkin jika tidak ada bukti nyata. Pula, mereka ini adalah utusan dari negara yang besar dan kuat, bahkan rajanya sendiri sampai mengorbankan puterinya untuk menjadi isteri seorang Pangeran Mancu hanya karena mengharapkan ikatan keluarga agar Bhutan terlindung sebagai keluarga Kerajaan Mancu yang menguasai seluruh Tiongkok.
Akan tetapi Jayin adalah seorang panglima yang sudah berpengalaman, tidak hanya berpengalaman dalam medan perang, tetapi juga berpengalaman dalam hal diplomasi. Dengan cerdik dia lalu berkata dengan muka sungguh-sungguh, “Tan-ciangkun, kami sedang menghadapi urusan besar yang juga menyangkut kepentingan rombongon utusan kaisar. Raja kami sedang terancam bahaya.” Dia lalu menuturkan bagaimana rajanya yang sedang berburu itu diserbu oleh musuh dan kini tidak tahu berada di mana dan bagaimana pula keadaannya.
“Kalau raja kami tidak dapat segera diselamatkan, tentu tugas yang ciangkun lakukan akan gagal pula. Maka setelah ciangkun berada di sini, saya pribadi mohon petunjuk ciangkun yang sudah tentu memiliki kepandaian dan pengalaman lebih luas sebagai pengawal kaisar sebuah negara besar. Saya harap ciangkun tidak akan berkeberatan untuk membantu kami melakukan penyelidikan untuk menolong raja kami.”
Tan Siong Khi juga bukanlah seorang pengawal bodoh. Tentu saja dia mengerti apa arti permohonan yang diajukan dengan halus oleh Jayin itu. Untuk urusan dalam seperti itu, tidak selayaknya kalau panglima ini minta bantuan orang luar. Tentu saja lahirnya saja menyatakan minta bantuan, akan tetapi sebetulnya dia akan dibawa sebagai sandera karena panglima ini agaknya mencurigai rombongannya! Maka dia tersenyum dan berkata, “Kami diperintah untuk menjemput mempelai, sekarang melihat Raja Bhutan yang akan menjadi besan dari kaisar kami terancam bahaya, sudah tentu saya suka membantu.”
“Kalau begitu, marilah, Tan-ciangkun. Malam ini juga kita berangkat dan tentaraku sudah siap di luar tembok benteng kota raja.”
Panglima Jayin memerintahkan orangnya mempersiapkan seekor kuda lain dan tak lama kemudian berangkatlah kedua orang perwira tinggi ini, menunggang kuda keluar dari kota raja dan memimpin pasukan yang seribu orang besarnya itu. Obor di tangan para prajurit yang bertugas membawa obor dan berada di depan, tengah, dan belakang, kelihatan dari jauh seperti seekor naga sakti yang menyala-nyala keemasan terbang melayang rendah di atas tanah. Mereka menuju ke Pegunungan Himalaya, ke arah utara.

INDEX KHO PING HOO
Jilid1 | Jilid2 | Jilid3 | Jilid4 | Jilid5 | Jilid6 | Jilid7 | Jilid8 | Jilid9 | Jilid10 | Jilid11 | Jilid12 | Jilid13 | Jilid14 | Jilid15 | Jilid16 | Jilid17 | Jilid18 | Jilid19 | Jilid20 | Jilid21 | Jilid22 | Jilid23 | Jilid24 | Jilid25 | Jilid26 | Jilid27 | Jilid28 | Jilid29 | Jilid30
INDEX KHO PING HOO
Jilid1 | Jilid2 | Jilid3 | Jilid4 | Jilid5 | Jilid6 | Jilid7 | Jilid8 | Jilid9 | Jilid10 | Jilid11 | Jilid12 | Jilid13 | Jilid14 | Jilid15 | Jilid16 | Jilid17 | Jilid18 | Jilid19 | Jilid20 | Jilid21 | Jilid22 | Jilid23 | Jilid24 | Jilid25 | Jilid26 | Jilid27 | Jilid28 | Jilid29 | Jilid30
Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat dan ide hanya kebetulan belaka.

KHO PING HOO
PENDEKAR TIONGHOA
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Diterbitkan oleh: CV. Mega

--₪֍¦ JILID 15 ¦֍₪--


Cuaca sudah gelap, malam sudah tiba dan rombongan Bun Beng masih juga belum memperoleh tempat penginapan.
“Tidak mengapalah, Paman,” Akhirnya Syanti Dewi berkata karena maklum bahwa mereka bertiga itu bersusah payah mencarikan penginapan, khusus untuk dia seorang! “Kalau memang di mana-mana penuh, mencari pun tidak ada gunanya. Malam ini kita lewatkan di pinggir jalan juga tidak apa. Paman tahu bahwa aku bukan seorang yang takut menghadapi kesukaran.”
Bun Beng tersenyum. Tentu saja dia tahu. Selama melakukan perjalanan dengan Syanti Dewi ke utara, di waktu dia sakit payah dan jalan pun tidak bisa, boleh dibilang gadis itulah yang merawatnya, yang mengatur segalanya, bahkan setiap malam tidur di mana saja! Akan tetapi dia tahu pula bahwa Kian Bu bersikeras untuk mencarikan tempat penginapan yang baik bagi gadis itu!
“Suheng, bagaimana kalau aku memasuki sebuah di antara gedung-gedung besar itu? Aku boleh paksa seorang di antara mereka meminjamkan kamar untuk Adik Syanti!” Kian Bu berkata.
Bun Beng menggeleng kepala. “Jangan mencari perkara di dalam suasana seperti ini, Sute. Biarlah kita melewatkan malam di pinggir jalan, kita pilih tempat yang agak sunyi seperti dikatakan Dewi tadi. Malam nanti aku akan pergi ke Teng-bun untuk menyelidiki suasana. Engkau dan kakakmu menjaga Dewi di sini.”
Terpaksa Kian Bu menurut dan mereka lalu memilih pinggir jalan yang agak sunyi, lalu duduk di atas tanah begitu saja. Banyak pula para pengungsi lain yang juga seperti mereka, melewatkan malam di pinggir jalan! Suasana makin tegang dan tampaknya malam itu akan terjadi sesuatu yang hebat. Bun Beng mulai penyelidikannya dengan mendengarkan percakapan-percakapan di antara kelompok-kelompok pengungsi tak jauh dari situ. Bermacam-macam keterangan diperolehnya tentang kota Koan-bun ini.
Ada yang mengatakan bahwa pembesar setempat masih setia kepada pemerintah, akan tetapi sebagian banyak pembesar lainnya sudah condong kepada pemberontak. Bahkan kabarnya pasukan di situ pun sudah menjadi kaki tangan pemberontak. Ada yang mengabarkan lagi bahwa malam itu juga pemberontak akan melakukan serangan. Pendeknya bermacam-macam berita simpang-siur yang didengarnya. Dia menceritakan semua yang didengarnya itu kepada Kian Lee, Kian Bu dan Syanti Dewi sambil makan malam sederhana berupa roti kering yang dibawa oleh kedua orang kakak beradik itu sebagai bekal. Akan tetapi tiba-tiba Bun Beng menghentikan ceritanya dan diam-diam dia memberi isyarat kepada mereka bertiga untuk tidak bicara, telunjuknya menuding ke arah belakangnya.
Orang itu agaknya juga seorang pengungsi, sudah tua dan membawa bungkusan. Dia datang dan berjongkok, mengeluh panjang pendek tak jauh dari rombongan Bun Beng. Ketika tiba-tiba rombongan itu berhenti bicara, dia berdiri lagi dan pergi. Akan tetapi sejak itu, sering sekali kakek ini lewat di situ, juga beberapa orang lain yang Bun Beng lihat adalah orang-orang yang sama sehingga tahulah dia bahwa mereka telah dimata-matai atau diawasi!
Jalan itu makin ramai, dan makin banyak saja orang-orang yang berkelompok di tepi jalan. Agaknya mereka pun kehabisan tempat, ataukah memang sengaja berkelompok di situ? Bun Beng mulai curiga dan dia memperingatkan kedua orang sute-nya agar waspada.
“Siapa tahu kalau-kalau mereka ini adalah pengungsi-pengungsi palsu yang sengaja mengurung kita,” bisiknya.
“Sikat saja!” Kian Bu sudah bangkit dan memandang marah.
“Sstttt, tenanglah, Bu-te!” Kian Lee menarik tangannya sehingga dia terduduk kembali. Kian Lee maklum bahwa adiknya itu benar-benar telah mabuk asmara dan serangan demam cinta itu membuat Kian Bu selalu ingin menonjolkan dirinya di depan gadis yang dicintanya.
Diam-diam dia mendoakan mudah-mudahan adiknya itu dapat lebih berbahagia dalam cintanya, tidak seperti dia, mencinta seorang gadis yang dia tidak ketahui sekarang berada di mana! Akan tetapi karena dia sudah mendengar dari Jenderal Kao Liang bahwa Lu Ceng itu adalah adik angkat dari Syanti Dewi dan hal itu tidak pernah disinggungnya, juga tidak oleh Kian Bu yang telah dipesannya selama mereka berdua melakukan perjalanan bersama Syanti Dewi, maka kini dalam kesempatan menanti dalam suasana tegang itu, ingin dia mencari keterangan kepada Syanti Dewi tentang diri gadis yang dicintanya itu.
“Adik Syanti, aku... aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” katanya berbisik agar jangan terdengar orang lain kecuali mereka berempat. “Aku ingin bertanya tentang Lu Ceng atau Candra Dewi...”
“Aihhhh...!” Syanti Dewi hampir menjerit ketika mendengar disebutnya nama Lu Ceng dan tak terasa lagi air matanya bercucuran di sepanjang kedua pipinya. Tentu saja Kian Lee dan Kian Bu terkejut.
Gak Bun Beng menghela napas panjang. “Sute, mengapa engkau menanyakan dia? Dia adalah adik angkat Dewi, dan sudah tewas secara menyedihkan sekali.”
“Justru itulah yang akan saya bicarakan, Suheng! Adik Candra... dia itu... Nona Lu Ceng itu, dia belum mati!”
Sepasang mata yang lebar itu terbelalak, dan dengan bingung Syanti Dewi menoleh kepada Bun Beng. Pendekar ini memandang Kian Lee dengan tajam dan penuh teguran, kemudian dia berkata, “Sute, jangan bicara yang bukan-bukan! Aku sendiri telah turun ke dalam sumur di mana dia terjerumus untuk menyelidiki dan baru turun sebagian saja aku sudah pingsan. Dia sudah tewas.”
“Kami juga mendengar dari Jenderal Kao Liang bahwa dia sudah mati di dalam sumur maut, sungguh pun Jenderal Kao tidak bercerita tentang Suheng,” kata Kian Bu. “Akan tetapi... tenangkan hatimu, Moi-moi... sesungguhnya Nona Lu Ceng itu masih hidup. Kami sudah berjumpa beberapa kali dengan dia, bahkan yang terakhir ini kami melihat dia di kota raja!”
“Ahhh...! Be... benarkah? Benarkah itu?”
Kian Lee lalu menceritakan pertemuannya dengan Ceng Ceng di rumah Jenderal Kao, dan betapa gadis itu melarikan diri tidak mau menemui mereka atau Jenderal Kao, betapa jenderal itu sekeluarganya menyembahyangi nona itu!
“Kami yakin dia masih hidup, Adik Syanti. Hanya saja entah mengapa dia tidak mau menjumpai siapa pun, seperti menyimpan rahasia...” Kian Lee berkata dengan nada duka.
“Aahhh, benarkah itu? Benarkah dia masih hidup...? Ahhh, Paman... semoga begitu...!” Syanti Dewi dalam kegembiraan dan pengharapannya memegang lengan Gak Bun Beng erat-erat dan air matanya bercucuran.
“Mudah-mudahan begitulah...! Dia seorang gadis yang amat baik, menurut penuturanmu dan penuturan Jenderal Kao,” kata Bun Beng sambil dengan halus menarik lengannya yang dipegang erat-erat oleh dara itu.
“Lee-ko, mengapa engkau menanyakan dia?” Tiba-tiba Syanti Dewi bertanya sambil memandang wajah Kian Lee.
Untung mereka duduk di tepi jalan yang gelap sehingga tidak kelihatan betapa wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Akan tetapi Kian Bu mengerti betapa kakaknya menjadi gugup mendengar pertanyaan ini, maka dialah yang menjawab,
“Kami mendengar dari Jenderal Kao bahwa dia adalah adik angkatmu, maka Lee-ko mengajukan pertanyaan tadi.”
Syanti Dewi menghela napas panjang. “Dia adalah seorang yang amat baik, dan biar pun hanya adik angkat, akan tetapi kucinta seperti saudara kandungku sendiri. Kalau tidak ada dia, mungkin aku tidak kuat menanggung derita ketika kami berdua melarikan diri....”
Lalu dengan suara perlahan dia menceritakan tentang pengalamannya ketika dia meninggalkan Bhutan dan diserbu di tengah perjalanan kemudian dia bersama Ceng Ceng dan kakeknya melarikan diri. Betapa Kakek Lu tewas dan Ceng Ceng terus mengawalnya sampai akhirnya mereka celaka karena perahu yang ditumpanginya terguling dan dia ditolong oleh Gak Bun Beng.
“Tadinya aku mengira dia tewas di sungai itu karena kami berdua tenggelam dan hanyut. Akan tetapi, ternyata dia tidak tewas di sungai dan tahu-tahu aku mendengar tentang dia di utara, tewas di sumur maut hanya beberapa saat sebelum aku bersama Paman Gak tiba di sana. Dan sekarang, kembali ada berita bahwa dia tidak mati... ya Tuhan, semoga benar demikianlah!”
“Sayang dia selalu melarikan diri...” Kian Lee berkata lirih yang kemudian disambungnya untuk menyembunyikan perasaan hatinya. “Kalau tidak, tentu dia sekarang sudah dapat bertemu dengan engkau, Moi-moi.”
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara genta yang dipukul keras sekali. Genta atau lonceng itu digantung di atas benteng penjagaan dan kalau genta itu dipukul sedemikian rupa berarti bahwa kota itu terancam bahaya! Keadaan menjadi geger! Dari berita mulut ke mulut, ternyata bahwa kota itu malam-malam kedatangan pasukan asing dari utara yang berkekuatan kurang lebih seribu orang pasukan liar dan ganas dari suku bangsa biadab.
Pintu-pintu benteng ditutup, penjagaan diperketat dan semua prajurit lari hilir mudik dengan sibuknya. Orang-orang berlarian pulang ke rumah masing-masing, pintu-pintu rumah ditutup namun di jalan tidak menjadi sunyi, bahkan sebaliknya karena para pengungsi yang berada di jalan-jalan lari berserabutan tidak karuan. Jerit-jerit tangis mulai terdengar dari mereka yang terpisah dari keluarganya, anak-anak hilang, barang-barang hilang, dan terjadilah keributan yang amat membingungkan. Berbondong-bondong orang berlari dan memenuhi jalan di mana rombongan Bun Beng berada.
“Awas, siap dan jaga...!” Bun Beng berbisik dan dia sudah mengelak ketika ada sesosok bayangan menerjangnya dengan pukulan. Cepat dia menggerakkan tangannya dan bayangan itu roboh tanpa bersuara karena sudah ditotoknya pingsan. Bayangan-bayangan lain datang mengurung dan kedua orang saudara Suma juga cepat beraksi dan merobohkan beberapa orang.
Akan tetapi, mereka segera hanyut oleh banjir manusia yang saling dorong, karena ada pasukan berkuda yang lewat di situ. Itu adalah pasukan yang dipersiapkan untuk menghadapi bahaya sewaktu-waktu di pintu gerbang, siap untuk menerjang keluar. Saking paniknya, rakyat mengira bahwa itulah pasukan liar dan ganas yang dikabarkan datang, maka mereka tidak ingat apa-apa lagi, satu-satunya keinginan hanya untuk lari menjauh sehingga terjadilah dorong-mendorong dan himpit-menghimpit. Biar pun Gak Bun Beng, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun menghadapi arus manusia yang seperti air membanjir itu, mereka kewalahan juga. Tentu saja mereka tidak mungkin harus memukul semua orang yang tidak berdosa itu karena orang-orang itu juga terdorong dan terdesak serta terhimpit oleh arus manusia.
“Dewi...!”
“Moi-moi...!”
Bun Beng dan Kian Bu berusaha sekuat mungkin untuk mencegah Syanti Dewi terseret oleh arus manusia, namun tidak mungkin lagi. Manusia sudah berdempet-dempet, tidak ada lagi tempat untuk kaki berpijak dan mau tidak mau mereka terbawa oleh arus manusia dan melihat betapa Syanti Dewi makin menjauh dari mereka!
“Paman...!” Syanti Dewi menjerit, akan tetapi jeritannya bercampur dengan jeritan-jeritan wanita dan kanak-kanak lain yang terjepit dan terhimpit. Keadaan menjadi panik dan geger, seolah-olah dunia sedang kiamat.
Karena keadaan gelap, maka kini topi caping buatan Kian Bu yang dipakai oleh Syanti Dewi hampir tidak tampak lagi dan tiba-tiba saja topi itu lenyap.
“Dewi...!”
“Moi-moi...! Moi-moi...!” Kian Bu berteriak-teriak, memaksa dengan tenaganya untuk mendekat, akan tetapi setibanya di tempat di mana yang terakhir kali dia melihat Syanti Dewi tadi, gadis itu sudah tidak nampak bayangannya lagi.
Sepasukan tentara yang datang melalui jalan itu membelah arus manusia. Karena takut para pengungsi itu saling desak memberi jalan dan keadaan menjadi makin panik. Arus manusia yang tadinya memenuhi jalan itu terbelah menjadi dua, semua mepet ke tepi jalan di kanan kiri. Bun Beng terpisah dari dua orang saudara Suma, dia terpaksa terdorong ke kiri jalan sedangkan dua orang saudara itu di seberang lain dan tak lama kemudian Bun Beng tidak dapat melihat mereka lagi karena obor-obor yang dibawa para prajurit tadi sudah menjauh sehingga keadaan menjadi gelap lagi.
Dia merasa khawatir sekali akan diri Syanti Dewi, namun dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin mencari Syanti Dewi. Nanti kalau sudah agak reda dan dia dapat leluasa bergerak, tentu dia akan bisa menemukan gadis itu. Betapa pun juga, Syanti Dewi bukanlah gadis lemah dan sudah cukup pandai untuk menjaga diri sendiri. Selain itu, juga dia yakin bahwa Kian Lee dan Kian Bu tentu juga berusaha keras untuk menemukan gadis itu kembali.
Tiba-tiba seorang wanita setengah tua yang berada di tempat itu, tidak jauh dari tempat dia berdiri, menjerit dan roboh. Dia sudah sejak tadi terhimpit dan tidak dapat keluar dari himpitan manusia. Karena tidak tahan dia menjerit dan roboh pingsan dalam keadaan masih berdiri di antara himpitan orang-orang! Melihat ini, tentu saja semua orang berusaha menjauhkan diri dan Bun Beng cepat mendesak ke depan, menarik dan memanggul tubuh wanita yang pingsan dan bermuka biru itu keluar dari himpitan dan menuju ke pinggir sekali di mana orang tidak begitu berdesakan. Orang-orang itu berdesakan karena mereka hendak berdulu-duluan pergi dari tempat itu mencari tempat yang lebih aman, tidak tahu bahwa di seluruh kota keadaannya sama saja, semua orang dalam keadaan panik dan geger.
Bun Beng menurunkan tubuh wanita itu, memeriksa sebentar lalu memijat beberapa jalan darah sehingga wanita itu mengeluh dan siuman kembali. Akan tetapi dia tidak dapat berdiri karena kakinya salah urat dan membengkak, terinjak banyak orang dalam himpitan tadi.

“Ouhhhh... kakiku...” keluhnya dengan muka pucat dan menahan rasa nyeri dengan menggigit bibirnya. “Terima kasih... atas bantuan Tuan...”
“Kau tidak bisa jalan?” Bun Beng lalu bertanya kepada wanita yang berpakaian seperti pelayan itu.
Wanita itu menggeleng kepalanya.
“Di mana rumahmu? Apakah engkau juga pengungsi?”
“Bukan, saya adalah pelayan dari gedung di sana itu...”
“Kalau begitu, mari kuantar ke sana,” kata Bun Beng tanpa ragu-ragu lagi dan dia lalu memondong tubuh wanita itu dan membawanya menuju ke gedung yang ditunjuk oleh wanita pelayan itu.
“Ahh, engkau sungguh amat baik, Tuan...” Pelayan itu berkata dengan terharu.
Semenjak kecil, selamanya dia adalah pelayan yang melayani orang, yang dipandang rendah dan yang selalu harus menghormat orang lain. Baru sekarang ini dia merasa diperhatikan orang, dianggap sebagai manusia, ditolong dan orang yang gagah perkasa dan bersikap seperti seorang bangsawan tinggi biar pun pakaiannya sederhana ini malah tidak ragu-ragu untuk memondongnya!
“Dalam keadaan seperti ini kita harus tolong-menolong...” Bun Beng menjawab singkat, mengerti akan perasaan hati pelayan ini.
Dia terkejut juga ketika tiba di pekarangan gedung itu. Sebuah gedung yang besar dan megah! Beberapa orang pelayan pria dan wanita berlari keluar dan mereka menjadi ribut-ribut melihat pelayan setengah tua itu dipondong orang.
“Eh, Kim-ma, engkau kenapa?”
Mereka itu cepat menyambut dan menggotong Kim-ma ketika mendengar bahwa Kim-ma mengalami luka karena tergencet arus manusia. Ada yang mengomel kenapa dalam suasana seperti itu Kim-ma keluar ke jalan raya! Para pelayan itu menggotong Kim-ma ke dalam dan agaknya sudah melupakan penolong pelayan itu. Bun Beng juga tidak peduli dan dia sudah akan keluar lagi ketika tiba-tiba dari dalam keluar empat orang dengan langkah tergesa-gesa.
Melihat empat orang ini Bun Beng menjadi heran sebab tentu saja ia mengenal mereka, terutama sekali seorang di antara mereka, yang bertubuh gendut dan di pinggangnya terdapat sebatang golok besar! Mereka itu bukan lain adalah empat orang yang pernah ribut di dalam warung mi dan bertempur melawan pemuda tampan berpedang.
Sementara itu, ketika Si Gendut melihat Bun Beng, dia terkejut sekali. Tentu saja dia mengenal laki-laki setengah tua ini yang duduk semeja dengan Tek Hoat. Si Gendut tokoh Tiat-ciang-pang ini menduga bahwa tentu laki-laki ini pun anak buah Tek Hoat yang dia tahu telah berkhianat terhadap bengcu karena pemuda itu bersekongkol dengan pemberontak. Tentu orang ini pun merupakan mata-mata pemberontak.
“Tangkap mata-mata!” bentaknya sambil mencabut golok besarnya, diturut oleh tiga orang temannya yang segera mengurung Bun Beng. Pendekar ini maklum bahwa dalam keadaan sekacau itu, tidak ada gunanya ribut mulut karena memberi keterangan pun agaknya tidak akan dipercaya oleh Si Gendut yang berangasan dan bodoh ini.
Empat orang tokoh Tiat-ciang-pang itu bersama anak buahnya yang berjumlah lebih dua puluh orang, memang menerima tugas dari Ceng Ceng untuk mencari pemuda laknat musuh besarnya dan sekaligus menyusul dan menyelidiki Tek Hoat yang tidak dipercayanya. Ketika Si Gendut dan kawan-kawannya memperoleh kenyataan bahwa Tek Hoat berhubungan dengan pemberontak, mereka terkejut sekali.
Sebagai anggota-anggota Tiat-ciang-pang, biar pun mereka itu terdiri dari golongan perampok dan pencopet, akan tetapi mereka benci kepada pemberontak. Maka mereka segera menemui Tek Hoat di dalam warung itu, menuntut hasil penyelidikan Tek Hoat tentang musuh bengcu, dan juga minta pertanggungan jawabnya karena pemuda itu mengadakan hubungan dengan pemberontak! Maka seperti telah diceritakan di bagian depan, Tek Hoat tidak sudi melayani mereka dan merobohkan mereka lalu pergi.
Rombongan orang Tiat-ciang-pang ini kemudian melakukan pengejaran dan mereka pun memasuki kota Koan-bun. Melihat pergolakan di situ, tanpa ragu-ragu lagi mereka lalu menghubungi Perwira Phang di gedung itu yang mereka tahu adalah seorang yang setia kepada kerajaan, dan mereka menawarkan tenaga bantuan mereka! Di tempat itu mereka bertemu dengan banyak orang-orang kang-ouw yang lihai-lihai dan tentu saja penawaran bantuan empat orang Tiat-ciang-pang yang mewakili rombongan mereka yang dua puluh orang itu diterima baik oleh Perwira Phang. Kemudian mereka disuruh mengatur anak buah mereka untuk menyelidiki keadaan pasukan asing yang kabarnya mengurung kota Koan-bun itu. Maka Si Gendut dan teman-temannya keluar dan bertemu dengan Bun Beng yang mereka sangka mata-mata pemberontak dan langsung mengeroyoknya sambil berteriak marah.
Akan tetapi tentu saja mereka ini sama sekali bukan lawan Bun Beng. Pendekar ini membiarkan mereka menerjangnya, lalu menyambut dengan gerakan kedua tangannya dan dalam beberapa gebrakan saja mereka roboh terpelanting dan terjengkang. Si Gendut berteriak-teriak dan ketika Bun Beng sudah melangkah hendak pergi keluar dari pekarangan itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan membuat Bun Beng terpaksa berhenti dan menengok.
Terkejut jugalah dia ketika melihat di bawah penerangan lampu-lampu yang tergantung di depan dan kanan kiri gedung itu, belasan orang yang bergerak dengan cepat dan sigap sekali mengejarnya dan mengurungnya! Mereka itu terdiri dari bermacam orang, semuanya laki-laki, ada yang muda dan ada yang tua, pakaian dan sikap mereka jelas membayangkan orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi.
“Mata-mata pemberontak, menyerahlah engkau!” bentak seorang di antara mereka yang sudah agak tua namun masih gagah sikapnya.
Bun Beng tercengang karena dia seperti pernah mengenal orang ini akan tetapi sudah lupa lagi. Sebelum dia menjawab, dua orang di antara mereka telah meloncat maju dan hendak menangkap kedua lengannya dari kanan kiri. Bun Beng mengerutkan alisnya dan sekali lengannya bergerak, dua orang itu langsung terlempar lima meter jauhnya dan terbanting terguling-guling!
Semua orang terkejut sekali menyaksikan kehebatan tenaga ini. “Kau melawan? Bagus, engkau sudah bosan hidup agaknya!” Belasan orang itu lalu mencabut senjata masing-masing dan menerjang maju.
Bun Beng melihat bahwa gerakan mereka itu tidak boleh dipandang ringan, sama sekali tidak bisa disamakan dengan Si Gendut dan teman-temannya. Dari gerakan mereka dia tahu bahwa mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat tinggi dan merupakan lawan yang tangguh juga kalau maju sekaligus sedemikian banyaknya. Dia lalu meloncat dan menggunakan kecepatan gerak tubuhnya, mencelat ke sana-sini di antara sambaran sinar senjata dan dalam belasan jurus saja dia sudah mampu membagi tamparan sehingga empat lima orang kehilangan senjata mereka yang terlempar ke sana-sini.
“Mundur semua...!” Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring. “Dia bukanlah lawan kalian, biarkan aku saja yang menghadapinya!” Suara ini nyaring sekali, jelas bahwa pembicaranya adalah seorang wanita yang memiliki khikang yang amat tinggi sehingga mengejutkan hati Bun Beng.
Maklum bahwa dia kini berhadapan dengan lawan lihai, dia cepat meloncat ke atas, berjungkir balik dan turun melayang seperti seekor burung di depan sebuah patung singa yang besar, patung batu yang berada di depan gedung itu dengan maksud bahwa di tempat itu, dengan punggung terlindung arca besar ini, dia tidak akan dapat dibokong musuh.
Wanita itu yang baru keluar dari gedung dengan tangan kosong, bagaikan seekor burung walet saja telah melayang mengejar Bun Beng dan bagaikan sehelai bulu ringannya, kedua kaki yang kecil bersepatu indah itu hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, menandakan bahwa ginkang-nya sudah mendekati kesempurnaan. Bun Beng merasa tegang dan siap sedia karena maklum bahwa lawan ini benar-benar hebat bukan main dan dia pun merasa heran mengapa tempat ini penuh dengan orang-orang pandai.
Kini mereka berhadapan dan sinar lampu menerangi tempat itu, memungkinkan mereka untuk saling pandang. Seperti ada halilintar menyambar dan tepat mengenai kedua orang itu, seketika timbul perubahan pada wajah Bun Beng dan wanita itu. Bun Beng terbelalak, mukanya pucat, alisnya berkerut, mulutnya ternganga dan seluruh tubuhnya berkeringat. Dia terhuyung dan terpaksa menyandarkan diri pada arca singa itu agar tidak roboh.
Wanita itu amat cantik biar pun usianya sudah mendekati empat puluh tahun, sedikitnya tiga puluh lima tahun. Pakaiannya indah, sikapnya agung, sepasang matanya seperti bintang dan bersinar tajam sekali, gerak-geriknya gesit kuat namun halus. Akan tetapi pada saat itu, dia pun memandang pucat, matanya terbelalak, tubuhnya menggigil.
“Kau... kau...?” Bun Beng berhasil mengeluarkan suara yang gemetar karena seujung rambut pun dia tidak mengira akan berjumpa dengan wanita ini di tempat itu.
“Kau... Gak... Suheng... aughhhh...!” Puteri Milana memejamkan matanya sehingga air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata itu mengalir keluar, napasnya sesak dan lehernya seperti dicekik rasanya, dia terhuyung, menggerakkan tangan kirinya ke leher dan tentu sudah roboh ke atas tanah kalau saja Bun Beng tidak cepat menyambarnya.
“Milana... Sumoi...!” Dia berbisik.
Sejenak dia mendekap tubuh itu dengan penuh perasaan kasih sayang, dengan penuh perasaan rindu dendam ke dadanya, seolah-olah dia hendak memasukkan tubuh itu ke dalam tubuhnya sendiri melalui penekanan itu agar tidak terpisah lagi. Air matanya bercucuran dan dari tenggorokannya keluar bunyi aneh seperti keluhan seekor binatang yang terluka. Akan tetapi Bun Beng segera sadar akan keadaan Milana dan tanpa mempedulikan pandang mata terheran-heran dari semua orang kang-ouw itu, dia memondong tubuh Milana dan melangkah ke arah gedung.
“Tahan...!” Beberapa orang kang-ouw meloncat dan mengepung dengan pedang di tangan.
“Saudara-saudara, mundurlah! Dia adalah suheng dari Sang Puteri!” Tiba-tiba orang tua yang pertama kali menegur Bun Beng itu berseru keras, kemudian menghadapi Gak Bun Beng sambil menjura. “Gak-taihiap, maafkanlah saya tadi yang tidak mengenal Taihiap.”
Kini Bun Beng teringat semua. Pertemuannya dengan Milana seolah-olah membuka tabir yang selama ini menutupi ingatannya karena dia sudah tidak mempedulikan lagi akan keadaan di sekelilingnya, tidak mau lagi mengingat-ingat urusan yang lalu.
“Ahhh, engkau tentu Hoo-ciangkun, pengawal istana, bukan? Sumoi pingsan dan dia menderita pukulan batin, harus cepat ditolong,”
“Silakan, Taihiap...”
Pada saat itu muncullah seorang perwira dan dia inilah Perwira Phang, pemilik gedung itu. Dia tadi pun sudah keluar dan menyaksikan segalanya dan mendengar percakapan antara Hoo-ciangkun dengan laki-laki gagah yang memondong Puteri Milana itu, dia pun cepat-cepat mempersilakan Bun Beng masuk.
Dengan pengerahan sinkang-nya, Gak Bun Beng menyalurkan hawa hangat untuk membantu Milana yang telah direbahkan di atas pembaringan itu agar siuman kembali. Mereka hanya berdua di kamar itu karena para orang kang-ouw tidak ada yang berani tinggal di situ, juga para pelayan disuruh keluar oleh Bun Beng karena pendekar ini maklum bahwa percakapan antara mereka setelah Milana siuman nanti tidak boleh didengar oleh lain telinga.
Milana mengeluh lirih, dan begitu membuka matanya dia memandang ke kanan kiri sambil memanggil, “Suheng... Gak Bun Beng...”
“Aku di sini, Sumoi.”
Milana menengok, melihat Bun Beng mendekati pembaringan lalu menubruk, kedua lengannya merangkul, mukanya disembunyikan ke atas dada pria yang selamanya dicintanya ini dan dia menangis.
“Suheng, mengapa engkau menghilang selama belasan tahun ini...?”
Bun Beng menarik napas panjang. “Sumoi, apa kebaikannya kita saling bertemu?”
“Suheng, aku menderita selama ini...”
“Jangan mengira aku pun hidup bahagia, Sumoi...”
Hening sejenak, hanya terdengar isak Milana di atas dada Bun Beng. Gak Bun Beng lupa diri dan dia merangkul, mengelus rambut yang halus itu, seperti dulu, belasan tahun yang lalu, sudah lama sekali, ketika dia pun memeluk dan mengelus rambut itu penuh kasih sayang.
“Suheng, kau... kau kejam...,” Milana terisak.
“Ahh, Milana, mengapa kau bisa berkata demikian...?”
Bukankah dara kekasihnya itu yang dulu lebih dulu menikah? Akan tetapi dia tidak tega menuduhnya demikian maka dia melanjutkan, “Nasib kita yang kejam, Sumoi... dan... dan ingatlah, kau sudah bersuami, tidak baik begini...”
“Akan tetapi aku... aku....”
Milana tidak melanjutkan kata-katanya dan dengan halus Bun Beng melepaskan tangan mereka yang saling rangkul itu dan melangkah mundur, aman dari jangkauan tangan Milana. Mereka kini berdiri saling pandang, sampai lama mereka tidak mengeluarkan kata-kata. Memang dalam saat seperti itu, kata-kata sudah tidak ada gunanya lagi karena sinar mata mereka telah saling mengeluarkan seribu satu macam kata-kata dan mereka sudah dapat saling menangkap isi hati masing-masing.
Mata Milana berkedip-kedip, bibirnya mulai tersenyum manis dan wajahnya tidak pucat lagi. “Gak-Suheng, kau memang nakal. Mengapa lalu membiarkan diri tenggelam dalam duka dan tidak pernah muncul lagi? Mengapa ketika bertemu di kota raja kau lantas melarikan diri? Suheng, aku masih Milana, sumoi-mu yang dulu itu...”
Bun Beng menggeleng kepalanya. “Sungguh pun bagiku engkau masih Milana yang dulu, takkan pernah berubah sampai aku mati, akan tetapi... tidak boleh begitu, Sumoi, suamimu...”
“Hushhh, baiklah, kita tidak bicara tentang itu sekarang ini. Belum waktunya, Suheng, apa lagi aku menghadapi tugas berat menumpas pemberontak. Kita sudah siap. Jenderal Kao sudah siap dengan pasukan dari kota raja dan dari sisa pasukannya yang melarikan diri dari Teng-bun. Pertemuanku denganmu ini sungguh merupakan peristiwa mengagetkan tetapi juga membahagiakan, baik bagiku pribadi mau pun bagi perjuangan menumpas pemberontak karena aku memperoleh bantuan yang luar biasa berupa tenagamu, Suheng, dan...”
Tiba-tiba dua orang berlari memasuki kamar itu dengan sikap tegang. Mereka itu adalah Perwira Phang pemilik gedung itu dan Hoo-ciangkun pembantu Milana. “Celaka, rumah ini telah terkurung oleh pasukan pemberontak!”
“Hemm, bagaimana mungkin mereka tahu? Kita semua terdiri dari orang-orang sendiri, dan para pelayan pun tidak ada yang keluar...”
“Ada seorang pelayan wanita tua yang terhimpit dan kutolong tadi,” tiba-tiba Bun Beng berkata.
“Ah, Kim-ma! Benar juga!” Phang-ciangkun membanting kakinya.
“Kiranya dia telah dibeli oleh pemberontak. Tentu dia yang membocorkan rahasia bahwa Paduka berada di sini!” katanya kepada Milana.
“Tidak perlu gelisah. Kita dapat dengan mudah menerjang ke luar. Akan tetapi bagai mana dengan berita pasukan asing itu?”
“Agaknya itu pasukan dari barat yang datang melalui padang pasir di utara. Kabarnya dipimpin oleh Raja Tambolon sendiri. Dan kabarnya rumah Kepala Daerah dan markas sudah pula dikurung pasukan pemberontak.”
“Hemm, sudah waktunya bagi kita untuk pergi. Gak-suheng, kami akan segera keluar dari kota ini untuk bergabung dengan Jenderal Kao. Harap kau suka ikut dan membantu kami.”
“Tentu saja aku suka membantu, Sumoi. Akan tetapi aku mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu mencari Syanti Dewi...”
“Puteri Bhutan? Kiranya engkau yang telah menolongnya! Bukankah dia berada di Teng-bun dan aku sudah mengutus dua orang adikku...”
“Aku sudah berjumpa dengan kedua Sute Kian Lee dan Kian Bu, dan sebelum mereka datang aku sudah menyelamatkan puteri itu. Kami berempat tiba di sini dan tadi di dalam keributan, Sang Puteri itu terpisah dariku, juga kedua orang Sute. Maka aku akan mencari mereka lebih dulu...”
Terdengar suara hiruk-pikuk di luar dan agaknya para penjaga sudah mulai diserbu pasukan pemberontak yang mengepung. “Baiklah, waktu tidak ada lagi untuk bicara. Kami pun membutuhkan tenaga bantuan dari dalam. Sebaiknya kalau Suheng dan dua orang adikku merupakan tenaga bantuan dari dalam. Kalau bisa menghubungi orang-orang Tiat-ciang-pang lebih baik, Suheng, mereka adalah bala bantuan yang lumayan bagi kita...”
“Si Gendut tadi...”
“Ya, dan masih banyak lagi. Nah, mari kita keluar. Suheng, selamat berpisah... dan...” Karena di situ terdapat banyak orang, Milana tidak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya pandang matanya saja yang penuh arti dapat diterima oleh Bun Beng.
Sudah jelas bagi pendekar ini bahwa Sang Puteri menginginkan agar dia tidak pergi menyembunyikan diri lagi, agar mereka dapat bercakap-cakap lebih lanjut. Dia hanya mengangguk, dan mereka semua segera lari keluar setelah Puteri Milana dan para perwira menyambar barang-barang yang berharga bagi mereka agar jangan terjatuh ke tangan pemberontak.
Di luar terjadilah pertandingan yang berat sebelah. Banyak sudah para penjaga, yaitu para prajurit anak buah Perwira Hoo, roboh oleh pasukan pemberontak yang selain jumlahnya dua puluh orang lebih, juga rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi begitu Milana, Bun Beng dan orang-orang kang-ouw itu keluar dan menerjang, mereka mawut, roboh dan terlempar ke sana-sini seperti pohon-pohon yang tumbang diterjang sekawanan gajah mengamuk.
Dengan sangat mudahnya Milana bersama para pengikutnya merobohkan semua pemberontak, lalu lari ke luar dan menghilang di dalam kegelapan malam. Bun Beng juga merobohkan beberapa orang lalu meloncat dan lenyap dari situ, jantungnya masih berdebar dan perasaan hangat masih memenuhi hatinya oleh pertemuan yang tidak terduga-duga dengan wanita bekas kekasihnya itu.
Dapat dibayangkan betapa khawatir hati Kian Bu melihat betapa Puteri Syanti Dewi kini tidak kelihatan lagi. Tadinya dia masih dapat melihat topi caping buatannya itu yang dapat dijadikan tanda di mana adanya Sang Puteri, akan tetapi kini tanda itu pun lenyap pula ditelan kegelapan dan ditelan arus manusia.
“Celaka, Lee-ko, kita harus mengejarnya!”
“Tenanglah, Bu-te. Kulihat tadi dia bergerak mengikuti arus ini, mari kita maju terus ke sana,” jawab Kian Lee.
Kian Bu menjadi tidak sabar karena cemasnya. Dia menjadi kasar dan dengan nekat dia mendorong sana-sini di antara orang-orang itu. Melihat sikap adiknya, Kian Lee hanya menggeleng kepala, akan tetapi agar jangan sampai tertinggal dan terpisah dari adiknya pula, dia pun terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk membuka jalan sehingga ke mana pun kedua orang muda ini bergerak, orang-orang di depannya berteriak-teriak dan terdorong ke kanan kiri, tidak kuat menahan dorongan tangan kedua orang muda yang amat kuat itu.
Namun, sampai pagi kedua orang muda itu masih belum berhasil menemukan Syanti Dewi sehingga tentu saja mereka berdua, terutama sekali Kian Bu, menjadi sangat gelisah. Orang-orang tidaklah berdesak-desakan seperti tadi lagi dan keduanya dapat mengaso dan duduk di tepi jalan yang masih penuh orang hilir mudik.
“Jangan gelisah, Bu-te. Tentu Suheng juga mencarinya, mungkin mereka berdua sudah berkumpul kembali, tinggal kita yang harus mencari mereka.”
“Mudah-mudahan begitu, Lee-ko. Akan tetapi... hatiku khawatir sekali. Jangan-jangan hilangnya adik Syanti Dewi memang dibuat orang. Ingat saja mereka yang mengepung kita ketika keributan itu mulai.”
Sejenak mereka mengaso, kemudian mereka berjalan lagi. Dalam keadaan cemas dan gemas itu, Kian Bu dan Kian Lee mendorong lagi ke kanan kiri mencari jalan. Tiba-tiba Kian Lee terkejut sekali ketika lengan kanannya sedang mendorong orang di sebelah depan, sebuah lengan lain menangkisnya dengan keras sekali.
“Dessss...!”
Karena tak mengira bahwa dia akan ditangkis orang sedemikian hebatnya, pula karena memang dia hanya menggunakan sedikit tenaga saja untuk mendorong, Kian Lee lalu terdorong oleh tangkisan itu dan terhuyung ke belakang, menabrak beberapa orang yang tentu saja menjadi marah-marah,
“He, apa kau buta?”
“Kurang ajar, jalan begini lebar menabrak orang!”
Banyak makian dari orang-orang yang sudah cemas dan marah itu kepada Kian Lee yang masih terhuyung-huyung. Untuk menjaga agar tidak sampai roboh terpelanting, Kian Lee mengeluarkan tenaganya mencengkeram ke arah baju orang terdekat, yaitu seorang laki-laki tua bertubuh tinggi kurus yang memanggul pikulan.
Akan tetapi, tiba-tiba orang itu terhuyung ke samping sehingga cengkeraman Kian Lee luput dan seperti tidak disengaja, pikulannya menyambar karena tangan Kian Lee yang luput mencengkeram baju tadi.
“Plakkk!”
Kian Lee sudah dapat mengatur keseimbangan badannya dan dia menarik tangannya sambil menyeringai. Sakit bukan main punggung tangannya dihantam ujung pikulan tadi. Dia memandang dengan marah, akan tetapi orang itu seperti tidak tahu apa-apa dan Kian Lee menahan kemarahannya. Orang itu tidak bersalah, pikirnya, karena dia sendirilah yang salah mendorong orang. Dia melirik ke depan dan melihat seorang laki-laki tinggi besar dengan brewok kasar seperti kawat, sedang berdiri bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan mata melotot. Kian Lee terkejut.
Dia maklum bahwa laki-laki brewok ini dan Si Pembawa Pikulan adalah orang-orang pandai dan dia heran sekali mengapa di tempat itu terdapat begitu banyak orang pandai. Dia terkejut ketika mendengar ribut-ribut di sebelah belakangnya. Ketika dia menoleh, dia melihat Kian Bu sudah bersitegang dengan seorang yang berpakaian sastrawan, seorang yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, sikapnya halus akan tetapi sinar matanya liar.

Cepat dia menghampiri adiknya yang sudah mengepal tinju hendak menyerang sastrawan itu.
“Bu-te, jangan berkelahi!”
“Habis dia hendak membokongmu, Lee-ko. Ketika kau terhuyung tadi, aku melihat dia menghampirimu dan tentu saja aku menangkap tangannya agar tidak memukulmu.”
“Hemm, bocah lancang. Kalau aku memukulnya, apakah dia masih bisa bicara denganmu?” Sastrawan itu berkata halus akan tetapi penuh dengan ejekan.
“Sudahlah, Bu-te, mari kita pergi.” Kian Lee menangkap tangan adiknya dan diajak pergi dari situ. Dia maklum bahwa kecemasan hati adiknya karena kehilangan Syanti Dewi membuat adiknya itu menjadi pemarah. Setelah pergi agak jauh Kian Lee berkata, “Mereka bertiga tadi bukanlah orang sembarangan.”
“Aku pun menduga begitu, akan tetapi aku tidak takut!”
Kian Lee tersenyum. “Siapa takut? Akan tetapi, dalam keadaan kacau seperti ini tidak baik kalau mencari permusuhan. Tugas klta belum selesai, kita belum menyelidiki sesuatu, bahkan kini kita berpisah dari Suheng dan Syanti Dewi. Kalau kita melibatkan diri dalam perkelahian yang tidak ada sebabnya, tentu lebih repot lagi. Hayo kita terus mencari, dekat pintu depan gedung besar itu banyak orang-orang, siapa tahu mereka berada di sana.”
“Minggir! Minggir!”
Orang-orang cepat minggir ketika dari dalam pekarangan gedung itu keluar sebuah kereta berkuda, dikawal oleh selosin tentara di depan dan selosin lagi di belakang. Kian Lee dan Kian Bu ikut minggir, akan tetapi ketika tirai kereta tersingkap sedikit, mereka dapat melihat Si Pemuda tampan berpedang dan seorang laki-laki tua duduk di dalamnya. Mereka tidak tahu siapa lagi yang berada di dalam kereta itu karena tirainya sudah tertutup kembali.
“Lee-ko...!” Tiba-tiba Kian Bu memegang lengan kakaknya. “Kau melihat pemuda itu?”
Kian Lee mengangguk. “Dia muncul di mana-mana, sungguh aneh.”
“Ingat sikapnya kepada Syanti? Jangan-jangan dia yang menculiknya, jangan-jangan Syanti berada di dalam kereta itu!”
“Ah, mungkinkah itu...?”
“Mari kita mengikuti kereta itu, Lee-ko!”
Kian Lee mengangguk dan keduanya lalu menyelinap di antara orang banyak, mengikuti kereta berkuda yang dikawal ketat itu. Untung jalan terhalang banyak orang sehingga kereta itu tidak terlalu cepat jalannya dan dapat diikuti terus oleh mereka yang harus menyelinap ke kanan kiri agar jangan menabrak orang lain. Kereta itu menuju ke sebuah rumah gedung besar sekali yang letaknya di dekat tembok benteng. Itulah rumah kepala daerah!
Melihat kereta itu memasuki pintu gerbang halaman gedung, dan karena semua penjaga sibuk menyambut kereta itu dengan pengawasan ketat sehingga mereka agak lengah, Kian Lee dan Kian Bu mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat dan memasuki kebun samping gedung itu, terus menyelinap dan bersembunyi di antara tetumbuhan kembang di tempat itu, perlahan-lahan mendekati gedung.
Melihat besarnya gedung itu, mereka makin bersemangat karena menyangka bahwa tentu dara yang mereka cari berada di gedung itu, entah menjadi tamu entah menjadi tawanan. Teringat mereka ketika pemuda tampan itu menawarkan tempat penginapan kepada Syanti Dewi. Bukan hal tidak mungkin bahwa ketika terpisah dari mereka, Syanti Dewi tertolong oleh pemuda berpedang itu dan dibawa ke gedung ini!
Dua orang pemuda itu tentu saja tidak pernah menduga bahwa mereka telah memasuki tempat yang dijadikan sarang dan pertemuan oleh para pimpinan pemberontak! Gedung itu adalah milik Kepala Daerah yang pada saat itu telah tewas dibunuh oleh Tek Hoat, dan keluarganya semua ditahan di dalam gedung dan dijaga. Pendeknya, tanpa ada yang mengetahuinya, Tek Hoat dan anak buahnya telah merampas gedung ini dan dijadikan tempat pertemuan dengan diam-diam dan tentu saja gedung Kepala Daerah itu tidak dicurigai orang.
Ketika itu, di dalam ruangan yang paling dalam dari gedung itu, tampak beberapa orang sedang duduk berunding. Mereka ini bukanlah orang-orang sembarangan, karena mereka merupakan puncak pimpinan para pemberontak dan tokoh-tokoh sakti yang membantu mereka. Seorang yang berpakaian panglima tinggi duduk memimpin perundingan itu dan mereka semua sedang mempelajari sebuah peta gambar dengan diterangkan oleh panglima tinggi itu. Panglima itu bukan lain adalah Panglima Kim Bouw Sin, bekas wakil Jenderal Kao Liang yang telah memberontak dan menjadi kaki tangan nomor satu dari kedua orang Pangeran Liong di kota raja!
Di belakang panglima ini kelihatan dua orang pengawalnya yang amat diandalkan, dan yang telah membebaskannya dari tahanan di Teng-bun tempo hari, yaitu dua orang kakek kembar Siang Lo-mo! Dua orang kakek kembar ini oleh Pangeran Liong Bin Ong sendiri dikirim ke Teng-bun untuk mengepalai pembebasan Kim Bouw Sin dan selanjutnya diangkat sebagai pengawal pribadi panglima yang amat penting bagi gerakan pemberontakan itu. Juga terdapat beberapa orang perwira pembantu yang mulai memperoleh tugas dan petunjuk dari Panglima Kim Bouw Sin untuk mengamati gerakan pemberontakan mereka yang dianggap sudah matang untuk mulai digerakkan. Akan tetapi mereka sedang bingung juga menghadapi munculnya pasukan liar secara tiba-tiba itu.
Mereka sedang merundingkan soal pasukan liar itu ketika pengawal datang mengiringkan Tek Hoat dan orang tua yang duduk di dalam kereta. Semua orang bangkit berdiri lalu memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki ketika orang tua itu masuk. Kiranya orang ini bukan lain adalah Pangeran Liong Khi Ong, orang kedua dari biang keladi pemberontak! Kini lengkaplah tokoh-tokoh pemberontak berkumpul dan berunding di situ.
Panglima Kim Bouw Sin secara lengkap melaporkan keadaan mereka kepada pangeran tua itu. “Seribu orang pasukan liar itu menurut hasil penyelidikan adalah pasukan dari barat dan kabarnya dipimpin oleh Raja Tambolon sendiri yang belum kelihatan muncul. Kami masih sangsi harus mengambil tindakan apa dan kami semua menanti keputusan dari Paduka Pangeran,” Kim Bouw Sin berkata.
“Hemmm, orang-orang liar itu menambah repot saja,” Liong Ki Ong berkata. “Padahal menurut penyelidikan, Milana juga sudah bergerak, bahkan wanita itu sudah pula meninggalkan kota raja secara diam-diam, kabarnya mengerahkan orang-orang pandai untuk menghadapi gerakan klta. Juga berita rahasia menyampaikan bahwa pasukan istimewa dari kota raja sudah diberangkatkan. Hal ini harus kita selidiki dan jangan sampai kita kedahuluan oleh mereka,” Liong Ki Ong berkata.
“Selain itu, juga Jenderal Kao Liang telah mengirim beberapa orang penyelidik ke Koan-bun sini dan ke Teng-bun, maka kita harus lebih waspada,” berkata pula Kim Bouw Sin. “Kabarnya, ada beberapa orang yang mencurigakan telah berada di kota ini, akan tetapi kami telah menyebar mata-mata sehingga Paduka tidak perlu khawatir.”
“Yang mengkhawatirkan hanyalah gerakan Puteri Milana dan datangnya pasukan liar dari Tambolon itu,” kata Liong Khi Ong. “Bagaimana pendapatmu, Tek Hoat?” Pangeran ini selalu mengandalkan nasehat pembantunya yang amat lihai ini.
“Sudah jelas bahwa Puteri Mllana tentu menggunakan tenaga orang-orang pandai dari golongan kang-ouw. Akan tetapi harap Paduka jangan khawatir karena saya pun sudah mengerahkan bantuan kaum hek-to. Sayang saya tidak dapat mengerahkan seluruh anggota kaum sesat karena hanya sebagian saja yang tunduk kepada saya, akan tetapi jumlah mereka cukup banyak. Sebagian sudah saya suruh, bersiap-siap di kota raja menanti saat penyerbuan dan sebagian lagi saya suruh bersiap-siap di sekitar Teng-bun. Ada pun puteri itu sendiri, biar pun kabarnya amat lihai, namun saya tidak jeri menghadapinya, apa lagi di sini terdapat Siang Lo-mo.”
Dua orang kakek kembar itu mengangguk-angguk. “Dia memang hebat, tapi kami tidak takut,” kata Pak-thian Lo-mo.
“Dengan ilmu kami yang baru, sekali ini kami sanggup mengalahkannya,” kata pula Lam-thian Lo-mo.
“Bagus! Kalau begitu kita tidak perlu mengkhawatirkan orang-orang kang-ouw yang membantu Puteri Milana. Akan tetapi, bagaimana dengan pasukan liar itu? Walau pun Tambolon pernah bersekutu dengan kita, tetapi kedatangannya ini hanya mengacaukan rencana kita saja. Bagaimana baiknya?”
“Pasukannya hanya seribu orang, kalau menggempurnya sekarang saya kira tidak banyak kesukaran. Dalam waktu sehari saja saya sanggup membasmi mereka semua, cukup mengerahkan lima ribu orang saja!” Kim Bouw Sin berkata.
“Saya kira itu bukan merupakan siasat yang baik, Kim-ciangkun,” kata Tek Hoat. “Dalam keadaan seperti sekarang ini, menghadapi kekuatan kerajaan yang besar dan kuat, kita harus menyimpan tenaga, bahkan kalau perlu menambah kekuatan kita. Tambolon datang pada saat kacau ini tentu hanya untuk mencari kesempatan baik guna mengeduk keuntungan, maka mengapa kita tidak bujuk saja mereka? Biarlah kita suruh mereka menyerbu dusun Ang-kiok-teng dan menggempur pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Thio Luk Cong dengan janji menyerahkan dusun itu kepadanya! Ini hanya siasat untuk sementara saja, biar anak buahnya menjadi puas merampok, membunuh dan memperkosa. Selain hal ini melemahkan kedudukan musuh, juga kita mendapatkan bantuan mereka. Kelak, apa sih sukarnya menendang mereka keluar kalau urusan sudah selesai?”
“Bagus!” Pangeran Liong Khi Ong menepuk-nepuk tangan. “Bagus, Tek Hoat. Akalmu ini memang hebat. Bagaimana pendapatmu, Ciangkun?” Liong Khi Ong bertanya sambil memandang kepada semua orang.
Panglima Kim bersama semua perwira mengangguk-angguk. Memang siasat itu baik sekali.
“Kalau begitu, sekarang juga hubungilah Tambolon, Kim-ciangkun. Sebaiknya kalau engkau sendiri yang berhadapan dengan dia agar dia percaya penuh.”
Kim Bouw Sin mengangguk lalu bersama dua orang kakek kembar yang menjadi pengawalnya dan beberapa orang perwira meninggalkan tempat itu. Mereka langsung menuju ke benteng dan naik ke benteng itu mengatur siasat. Seorang kurir diutus menyerahkan surat panggilan kepada pimpinan pasukan liar yang bertenda di luar kota itu.
Tak lama kemudian muncullah tiga orang penunggang kuda, yaitu seorang komandan pasukan liar yang dikawal oleh dua orang tinggi besar. Mereka ini dipersilakan turun di atas jembatan gantung, lalu komandan pasukan liar yang rambutnya awut-awutan dan dahinya diikat kain putih itu melangkah maju dengan kasar dan sombong. Dia menoleh ke kanan kiri dan memandang rendah kepada barisan penjaga, kemudian bertemu di tengah jembatan dengan Panglima Kim Bouw Sin.
Begitu bertemu, dia bertolak pinggang dan suaranya keras dan kasar sekali ketika dia bertanya, “Urusan apakah yang hendak dibicarakan?” Dia mengerti bahasa Han, akan tetapi bahasa itu diucapkan dengan kaku dan tidak memakai banyak peraturan sopan santun.
Kim Bouw Sin mendongkol. Orang ini hanyalah seorang perwira pasukan liar yang besarnya hanya seribu orang. Kalau dia menghendaki, betapa mudahnya membasmi mereka habis! Dan orang ini bersikap demikian kasar kepadanya, padahal dia adalah panglima besar barisan pemberontak yang kelak tentu akan menjadi panglima besar dari pemerintah baru di kerajaan! Sekarang pun dia telah mengepalai barisan yang tidak kurang dari lima laksa orang banyaknya!
“Apakah engkau komandan dari pasukan yang berada di luar itu?” Panglima Kim Bouw Sin bertanya.
“Benar, akulah orang yang diserahi pimpinan atas pasukan maut kami itu!” jawab Si Komandan dengan bangga.
“Kalau begitu, kami persilakan Ciangkun untuk masuk ke dalam benteng agar kita dapat mengadakan perundingan.”
“Ha-ha-ha-ha, apa lagi yang hendak dirundingkan? Tugasku hanya memimpin pasukan, istirahat, menggempur, membasmi, menawan atau membunuh. Kami sedang menanti perintah, begitu perintah tiba kami akan menghancurkan dan membumi hanguskan kota ini, ha-ha-ha!”
Tentu saja Kim Bouw Sin menjadi makin marah. Kalau saja tidak ingat akan perintah Pangeran Liong Khi Ong, tentu dia sudah menyuruh tangkap dan bunuh komandan pasukan asing ini.
“Kalau begitu, dengan siapakah kami harus berunding?”
“Tentu saja dengan pimpinan kami, dengan raja kami yang sakti dan yang sudah siap menghancurkan kota ini.”
“Hemm, dengan Raja Tambolon? Kalau begitu, di mana adanya beliau?”
Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan beberapa orang penjaga di pintu benteng itu terlempar ke kanan kiri. Muncullah tiga orang laki-laki dan seorang di antara mereka lalu menudingkan ibu jari kiri ke hidungnya sendiri sambil berkata, “Inilah adanya aku, Raja Tambolon!”
Kim Bouw Sin terkejut sekali dan menoleh. Orang yang mengaku sebagai Raja Tambolon itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka brewok, kelihatan kasar dan kuat, matanya terbelalak lebar penuh kebengisan. Biar pun pada saat itu orang ini berpakaian seperti seorang petani atau buruh kasar, namun jelas betapa sikapnya keagung-agungan dan sikap ini adalah sikap orang yang biasanya ditaati perintahnya.
Orang kedua yang berada di sebelah kiri Raja Tambolon yang menyamar itu adalah seorang laki-laki tua bertubuh tinggi kurus, bersikap angkuh dan pandang matanya seperti pandang mata seorang guru besar terhadap murid-muridnya, tangan kirinya memegang sebatang pikulan keranjang kosong di pundak kirinya. Ada pun orang ketiga yang berusia empat puluh tahunan, termuda di antara mereka, adalah seorang berpakaian sastrawan miskin dan berada di belakang raja suku bangsa liar itu.
Panglima Kim Bouw Sin bermata tajam dan dapat mengenal orang. Jelas bahwa tiga orang yang menyamar ini bukanlah orang-orang biasa dan komandan pasukan liar di depannya itu tertawa sambil memandang kemudian memberi hormat dengan sigapnya kepada Raja Tambolon, maka dia pun cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil berkata, “Maafkan kami yang tidak mengenal sehingga tidak mengadakan penyambutan!”
“Ha-ha-ha!” Raja Tambolon tertawa bergelak. “Kami pun tidak membutuhkan sambutan melainkan diam-diam menyelinap ke dalam. Kalian lihat betapa mudahnya kalau kami melakukan gerakan, ha-ha-ha. Engkau tentu Kim Bouw Sin Tai-ciangkun yang terkenal itu, bukan?”
“Benar, Ong-ya. Kami persilakan Ong-ya untuk masuk ke benteng dan mengadakan perundingan bagi keuntungan kita bersama.”
“Bagus, bagus! Ha-ha-ha, Kimonga, kau tarik mundur semua pasukan. Kirim gerobak untuk mengambil ransum dari kota ini dan... heh-heh-heh, Tai-ciangkun, engkau tentu tidak begitu pelit untuk memberi sekedar hiburan kepada anak buah pasukanku, bukan? Ha-ha-ha!”
“Jangan khawatir, Ong-ya,” berkata panglima itu dan mereka lalu memasuki benteng untuk mengadakan perundingan seperti yang telah direncanakan oleh Tek Hoat dan Pangeran Liong Khi Ong tadi.
Selagi Panglima Kim Bouw Sin yang dikawal oleh kedua orang kakek kembar Siang Lo-mo memasuki kamar perundingan di dalam tempat penjagaan di benteng bersama Raja Tambolon yang dikawal ketat oleh dua orang pengawalnya yang menyamar sebagai sastrawan dan petani itu, di gedung kepala daerah yang telah dijadikan sarang para pimpinan pemberontak itu terjadi geger.
Ternyata bahwa tidak hanya bekas gedung Kepala Daerah ini yang kini telah dikuasai pemberontak dan dijaga oleh pasukan yang telah menjadi kaki tangan pemberontak, bahkan malam ketika terjadi keributan itu, pihak pemberontak sudah mempergunakan kesempatan itu untuk bertindak. Bukan hanya Perwira Phang yang diserbu sehingga Puteri Milana dan yang lain-lain terpaksa melarikan diri, juga semua perwira yang setia kepada pemerintah disergap dan dibunuh!
Pasukan dikuasai dan mereka yang melawan dibunuh, dan banyak pula yang melarikan diri. Mereka yang menakluk masih dipergunakan berikut para perwira mereka yang menakluk sehingga penjagaan tetap dapat dilakukan, hanya kini dicampur dengan pasukan dari pemberontak, diawasi oleh perwira-perwira dari pemberontak. Demikian hebatnya pengaruh pemberontak sudah mencengkeram Koan-bun yang hanya sepuluh li jauhnya dari Teng-bun, sehingga dalam waktu semalam saja tanpa banyak perlawanan kota benteng itu telah terjatuh ke tangan pemberontak yang operasinya dipimpin sendiri oleh Panglima Kim Bouw Sin.
Pengambil alihan kota Koan-bun itu terjadi secara diam-diam dan dengan amat mudah sehingga pasukan dari Teng-bun hanya tinggal masuk saja melalui pintu benteng yang sudah dibuka lebar. Dan semua peristiwa ini ditonton oleh pasukan Tambolon yang berkemah di luar kota sambil tertawa-tawa dan bernyanyi-nyanyi secara liar tanpa melakukan sesuatu karena mreka menanti perintah dari pemimpin besar mereka, yaitu Raja Tambolon yang bersama dua orang pengawalnya menyelundup masuk kota Koan-bun. Maka ketika datang kurir dari Panglima Kim Bouw Sin, komandan pasukan Kimonga yang datang memenuhi undangan itu tidak berani mengambil keputusan apa-apa.
Tentu saja semua peristiwa ini diketahui dengan baik oleh Puteri Milana dan Jenderal Kao Liang. Akan tetapi mereka tidak mau mengambil tindakan, bahkan membiarkannya saja karena merasa belum tiba waktunya. Pada saat itu pula, Jenderal Kao sedang menyusun kekuatan dan diam-diam telah melakukan persiapan-persiapan untuk segera menumpas pemberontak dan sekaligus membasmi pasukan liar yang dipimpin Raja Tambolon yang telah muncul di tempat itu.
Pasukan Tambolon ini terdiri dari pasukan inti, pasukan pilihan dan anggotanya terdiri dari bermacam suku bangsa, campuran dari suku bangsa Tibet, Mongol, Turki dan ada pula orang Han bekas anggota Pek-lian-kauw. Namun mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang liar dan ganas, pandai berkelahi dan berani mati.

Sementara itu, kegegeran pagi hari itu di gedung Kepala Daerah disebabkan oleh Kian Lee dan Kian Bu. Seperti diketahui, dua orang kakak beradik itu berhasil menyelundup masuk ke taman bunga gedung itu dan diam-diam mereka menghampiri gedung dan terus saja mereka menyelinap masuk melalui pintu belakang dan ubek-ubekan mencari Syanti Dewi! Mereka telah menangkap pelayan sampai lima orang banyaknya yang mereka paksa mengaku, akan tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang tahu tentang Syanti Dewi. Terpaksa mereka menotok pingsan para pelayan itu dan terus masuk makin dalam dengan maksud mencari Syanti Dewi atau menyelidiki pemuda berpedang dan orang tua yang naik kereta tadi.
Ketika mereka tiba di gudang belakang, mereka mendengar keluh-kesah dan tangis dari dalam gudang itu. Kian Bu dan Kian Lee meloncat ke atas genteng dan mengintai. Tampak oleh mereka isteri kepala daerah dan keluarganya yang dikumpulkan menjadi satu di tempat itu. Mereka hanya saling pandang akan tetapi tidak mampu melakukan sesuatu.
“Beginilah perang.” Kian Lee berbisik. “Betapa kejam dan jahatnya!”
Ketika mereka turun, tiba-tiba terdengar jerit tertahan seorang wanita dari sebuah kamar belakang dekat gudang. Kian Bu yang menyangka bahwa suara itu mungkin suara Syanti Dewi, sudah cepat mencelat dan mengintai dari celah jendela kamar itu, diikuti oleh Kian Lee. Apa yang tampak oleh mereka di sana membuat Kian Bu hampir saja mendobrak jendela kalau tidak cepat lengannya ditangkap oleh kakaknya. Seorang laki-laki berpakaian perwira kelihatan sedang memperkosa seorang wanita muda yang melihat pakaiannya tentulah keluarga dari kepala daerah tadi!
“Diamlah, kalau aku mau, betapa mudahnya membunuhmu sebagai anggota keluarga yang melawan kami. Diam!”
Kian Lee menarik tangan Kian Bu menjauh dari situ. Muka mereka merah sekali, sepasang mata Kian Bu mengeluarkan sinar berapi dan sampai lama mereka duduk berlindung di belakang bangunan untuk menenteramkan hati yang bergolak panas. Tak lama kemudian, tampak perwira tadi keluar dari kamar itu. Kian Lee tidak dapat lagi mencegah adiknya yang memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan dan sekali menggerakkan tangan, batu itu menyambar dan tepat mengenai pelipis perwira itu.
Tanpa sempat mengeluarkan teriakan, perwira itu terjungkal dengan pelipis pecah dan tentu saja dia tewas seketika! Terdengar suara aneh di dalam kamar itu dan ketika mereka cepat mengintai lagi, mereka melihat wanita muda itu dengan tubuh telanjang bulat sudah rebah telentang di atas lantai dan sebatang gunting menancap di antara buah dadanya yang masih muda. Wanita itu telah membunuh diri!
“Perang... akibat perang...,” Kian Lee mengeluh.
“Bedebah dia! Bukan akibat perang Lee-ko. Bahkan di waktu damai sekali pun ada saja manusia keji yang melakukan perbuatan biadab seperti ini!”
“Benar, Bu-te, akan tetapi tidaklah sebanyak di waktu perang. Semua itu terjadi karena terbuka kesempatan, dan di waktu perang terbuka segala macam kesempatan bagi orang-orang yang batinnya lemah sehingga mudah menurutkan nafsu jahat melakukan hal-hal yang biadab seperti ini. Engkau tentu sudah membaca tentang perang sejak dahulu kala, pembunuhan kejam tanpa sebab tertentu, perampokan semena-mena, perkosaan yang biadab, semua terjadi dalam perang. Di waktu damai, membunuh manusia pun akan berurusan dengan yang berwajib, akan tetapi di waktu perang, membunuh sebanyak-banyaknya bukan apa-apa, bahkan makin banyak makin baik, makin besar jasanya!”
“Perang! Phuh, muak aku, Lee-ko!”
“Hemm, kau lupa apa yang menyebabkan kita berdua berada di sini?”
“Ya, sebabnya adalah pemberontakan.”
“Perang juga!”
“Kita terseret mau tidak mau karena kita membela Enci Milana.”
“Dan Enci Milana terseret karena hendak membela kerajaan.”
“Dan kerajaan membela siapa?”
“Aha, membela diri sendiri tentunya, membela kedudukannya. Pemerintah mana yang tidak akan membela kedudukannya, Bu-te? Semua pemerintah yang sedang berkuasa di dunia ini, tentu tidak akan rela begitu saja kalau ditentang, dan setiap penentangnya dianggap pemberontak dan akan dibasmi oleh pemerintah itu.”
“Hemm, siapakah pemerintah itu, Lee-ko?”
“Pemerintah? Tentu saja kaisar dan para pembesarnya.”
“Jadi orang-orang juga, bukan? Orang-orang yang telah memperoleh kedudukan tinggi, tentu saja mempertahankan kedudukannya. Dan siapakah yang memberontak?”
“Yang memberontak sudah jelas adalah kedua orang Pangeran Liong dan dibantu para pembantunya.”
“Juga orang-orang yang tidak mendapat bagian, atau orang-orang yang tidak puas dengan kekuasaan mereka sekarang ini, dan ketidak puasan itu tentulah karena mereka berada di bawah, bukan? Hemmm, andai kata pemberontakan mereka berhasil, tentu mereka akan berbalik menjadi di atas dan memperoleh kekuasaan, Lee-ko, dan merekalah yang menjadi pembesar-pembesar wakil pemerintah.”
“Ya, dan tentu timbul pula mereka yang tidak puas karena tidak mendapat bagian tadi, karena iri dan ingin di atas. Maka tidak akan ada habisnyalah pemberontakan dan peperangan ini, Bu-te!”
Kian Bu menggeleng-geleng kepalanya. “Manusia memang gila!”
“Kita juga. Kita juga manusia dan kita sekarang pun terlibat!”
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dan muncullah belasan orang prajurit. “Tangkap mata-mata!”
“Jangan sampai lolos!”
“Bunuh! Dia telah membunuh Kok-ciangkun!”
“Ada pelayan-pelayan yang pingsan!”
Kian Lee dan Kian Bu terkejut. Karena keenakan bercakap-cakap tadi mereka kurang waspada, sehingga ketahuan oleh penjaga yang segera mengajak teman-temannya mengepung mereka. Kian Lee dan Kian Bu meloncat dengan niat untuk melarikan diri keluar dari gedung itu. Akan tetapi para prajurit pemberontak itu menerjang mereka dan dengan cepat kedua orang kakak beradik itu menggerakkan kaki tangan dan enam orang prajurit berpelantingan ke kanan kiri!
“Bu-te, lari...!” Kian Lee berseru kepada adiknya.
Kian Lee khawatir bahwa adiknya yang suka bergurau dan suka menggoda orang, suka berkelahi pula itu akan memperpanjang waktu pertempuran di situ, padahal tempat itu adalah tempat yang amat berbahaya, sarang dari para pimpinan pemberontak. Agaknya sekali ini Kian Bu juga maklum akan bahaya, maka dia cepat melompat mengejar kakaknya setelah kembali dia merobohkan dua orang pengeroyok terdepan.
Sisa para prajurit pemberontak itu mengejar, akan tetapi tentu saja mereka jauh kalah cepat oleh Kian Lee dan Kian Bu yang sudah meloncat ke bagian belakang dari kompleks gedung besar itu. Mereka maklum bahwa lari melalui depan amat berbahaya. Akan tetapi, begitu tiba di halaman belakang, mereka bertemu dengan banyak prajurit yang dipimpin oleh pemuda berpedang!
“Huh, kiranya kalian mata-mata!” bentak pemuda itu yang bukan lain adalah Tek Hoat.
“Dan engkau anjing pemberontak!” Kian Bu memaki. Memang dia sudah tidak senang dan benci kepada pemuda ini semenjak dia hampir ditabrak oleh kudanya, dan baru sekaranglah dia teringat akan pemuda ini yang pernah menculik Jenderal Kao. “Kiranya engkau Si Penculik itu!”
Bentakan Kian Bu ini pun menyadarkan Kian Lee dan marahlah pemuda ini. Tak disangkanya bahwa pemuda yang kelihatan sopan dan gagah itu ternyata adalah pemuda kaki tangan pernberontak yang pernah menculik Jenderal Kao. Kini dia pun teringat dan cepat dia menerjang maju pula bersama Kian Bu.
Biar pun dia maklum bahwa dua orang pemuda ini lihai, Tek Hoat yang terlalu percaya kepada kepandaiannya sendiri, memandang rendah. Apa lagi dia masih belum ingat bahwa dua orang ini adalah mereka yang dulu pernah membela Jenderal Kao. Terlalu banyak dia berhubungan dengan orang-orang pandai dalam pekerjaannya membantu Pangeran Liong sehingga dia lupa kepada dua orang pemuda ini. Akan tetapi begitu mendengar Kian Lee menyebutnya penculik, dia terkejut dan mengingat-ingat. Seketika teringatlah dia akan dua orang pemuda yang dulu pernah membantu Jenderal Kao ketika dia dan Siang Lo-mo menyerbu rombongan jenderal itu.
“Aihhh, jadi kaliankah mereka itu?” bentaknya sambil mengerahkan kedua tangannya dengan tenaga sinkang untuk menangkis pukulan Kian Lee dan Kian Bu.
“Duk! Plakkk!”
“Ahhhh...!”
Tubuh Tek Hoat terlempar ke belakang dan dia merasa sambungan lengannya hampir terlepas. Demikian dahsyat pukulan-pukulan yang ditangkisnya tadi, pukulan yang mendatangkan hawa dingin dan tentu sudah melukai sebelah dalam dadanya melalui tangkisannya kalau dia tidak cepat-cepat bergulingan sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi tubuh sebelah dalam. Dia sudah meloncat lagi dan segera mencabut Cui-beng-kiam!
Sementara itu, ketika Tek Hoat terlempar dan bergulingan, para prajurit telah menerjang kedua orang pemuda itu, dibantu pula oleh beberapa orang berpakaian preman yang merupakan kaki tangan Tek Hoat dan bekerja sebagai mata-mata atau penyelidik. Ilmu silat mereka ini tentu saja lebih tinggi dari pada para prajurit, akan tetapi dengan mudah Kian Bu dan Kian Lee menyapu mereka seperti petani membabat rumput saja.
Melihat Tek Hoat mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan hawa menyeramkan, dua orang saudara itu maklum bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka yang amat ampuh, maka mereka cepat mengulur tangan menyambut serangan para prajurit bertombak dan sambil menendangi mereka, Kian Lee dan Kian Bu berhasil merampas dua batang tombak bergagang besi.
“Mundur semua, kurung saja mereka!” Tek Hoat membentak marah sekali ketika melihat betapa para prajurit dan kaki tangannya sama sekali tidak berdaya menghadapi dua orang pemuda itu. Semua prajurit lalu mundur, mengurung dengan senjata ditodongkan ke depan. Jumlah mereka yang banyak sekali membuat dua orang kakak beradik itu memandang khawatir.
Akan tetapi Tek Hoat tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mencari jalan lari karena dia sudah mengeluarkan suara melengking yang menggetarkan jantung semua orang yang hadir di situ kecuali Kian Lee dan Kian Bu, lalu tubuhnya mencelat ke depan didahului oleh sinar pedang Cui-beng-kiam yang menyeramkan. Pedang ini adalah pedang ciptaan mendiang Cui-beng Koai-ong, datuk Pulau Neraka yang seperti iblis, maka dibuatnya juga dengan cara mukjijat dan entah sudah minum berapa banyak darah manusia, sudah menghisap berapa banyak nyawa korbannya sehingga kalau dipergunakan, pedang itu mengeluarkan hawa mukjijat yang amat menyeramkan.
“Sing... sing... tranggg... krek! Krek...!”
Kian Lee dan Kian Bu terkejut sekali ketika tombak rampasan mereka patah ketika bertemu dengan sinar pedang di tangan lawan itu. Tek Hoat tersenyum mengejek dan terus menyerang dengan gencar, pedang Cui-beng-kiam di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang dahsyat menyambar-nyambar.
Namun dua orang lawannya itu adalah putera-putera dari Pulau Es yang sejak kecil telah digembleng oleh orang tua mereka yang sakti. Maka Kian Lee dan Kian Bu sedikit pun tidak menjadi gentar biar pun mereka maklum bahwa lawan mereka ini bukan orang sembarangan melainkan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memegang sebatang pedang yang ampuh dan mukjijat pula.
Tanpa bersepakat lebih dulu mereka telah tahu bagaimana caranya menghadapi lawan yang berpedang mukjijat, sedang mereka sendiri hanya memegang potongan tombak! Cepat mereka mengeluarkan ilmu mereka dan mengerahkan tenaga, menggunakan keringanan tubuh yang luar biasa sehingga tubuh mereka kini bergerak mencelat ke sana sini seperti dua ekor burung walet yang amat ringan beterbangan di antara sambaran sinar pedang Cui-beng-kiam, kadang-kadang menggunakan tombak buntung mereka untuk menusuk dan menotok jalan darah!
“Ahhh...!” Tek Hoat berseru kaget sekali.
Dia juga mengeluarkan kecepatannya sehingga tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedang, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang yang sama sekali tidak dapat dicium oleh sinar pedangnya itu, yang mengelak ke sana-sini amat cepatnya dan tidak pernah mau menangkis pedang dengan tombak mereka, kemudian sambil mengelak, ujung tombak buntung mereka memasuki lowongan antara gerakan pedang di waktu menyerang untuk melakukan penotokan jalan darah yang amat berbahaya, perlahan-lahan Tek Hoat mulai terdesak! Hampir saja Tek Hoat yang selama ini menganggap diri sendiri paling pandai di dunia, bahkan Siang Lo-mo sendiri mengaku kelihaiannya, tidak percaya bahwa dia sampai bisa terdesak, padahal dia memegang Cui-beng-kiam sedangkan dua orang lawannya hanya memegang tombak buntung.
Mana mungkin ini? Dengan penasaran dia mengeluarkan pekik mengerikan, pekik yang mengandung khikang luar biasa sehingga beberapa orang prajurit yang terlampau dekat terjungkal pingsan, kemudian dia mengeluarkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin secara bergantian.
Namun sia-sia belaka. Sungguh pun Kian Lee dan Kian Bu terkejut menyaksikan gerakan yang bermacam-macam dan kesemuanya amat luar biasa itu, namun dengan ilmu silat mereka yang kokoh kuat dan bersih dari Pulau Es, mereka dapat menandingi gerakan lawan dan selalu dapat mengelak sambil mengirim tusukan-tusukan kilat. Mereka terus mendesak Tek Hoat dan setiap kali ada prajurit atau pembantu Tek Hoat berani maju, dua orang maju, roboh dua orang, empat orang maju roboh pula semua, bahkan pernah sekaligus delapan orang roboh oleh dua orang pemuda lihai ini sehingga akhirnya tidak ada lagi yang berani maju melainkan mengurung dan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tombak dan golok.
Tek Hoat menyesal sekali mengapa dua orang pembantunya yang paling diandalkan, yaitu Pak-thian Lo-mo, pada saat itu mengawal Panglima Kim Bouw Sin mengadakan perundingan dengan Raja Tambolon. Kalau berada di situ, tentu dia dibantu oleh Siang Lo-mo akan dapat menawan dua orang pemuda hebat ini.
“Bu-te, mundur ke jembatan!” Tiba-tiba Kian Lee berseru.
Kian Lee cepat memutar tombak buntungnya, melakukan penusukan kilat bertubi-tubi ke arah sepasang mata lawan. Tek Hoat terkejut sekali. Karena khawatir menghadapi serangan aneh yang amat berbahaya itu, dia memutar pedangnya di depan mukanya untuk melindungi matanya yang terus diserang oleh ujung tombak buntung.
Kesempatan itu dipergunakan oleh dua orang saudara Suma untuk mundur ke jembatan yang merupakan jalan terakhir di taman belakang menuju ke tembok yang mengurung kompleks gedung. Kalau dapat melewati jembatan sungai buatan kecil di taman itu mereka akan dekat dengan dinding dan sekali melompat melewati dinding tentu akan berada di luar dan mudah melarikan diri.
Akan tetapi, tiba-tiba bayangan yang amat cepat gerakannya, bahkan seperti dilontarkan saja, melayang dari dinding itu dan tahu-tahu telah tiba di atas jembatan itu. Semua orang terkejut menyaksikan betapa ada orang dapat meloncat dari dinding ke jembatan bagitu saja! Tek Hoat sendiri tidak mengenal orang ini, juga semua prajurit tidak ada yang mengenalnya. Sebaliknya, Kian Lee dan Kian Bu juga belum pernah melihat wanita yang buruk rupanya ini.
Wajah wanita ini buruk sekali untuk ukuran wanita, serba kasar dan serba besar dan kaku, pantasnya wajah seorang laki-laki kasar yang tidak tampan. Rambutnya riap-riapan sudah bercampur uban dan sekiranya buah dadanya tidak menonjol dan tampak membusung di balik bajunya yang panjang itu tentu dia akan disangka laki-laki. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat akar pohon yang bentuknya seperti ular.
Beberapa lamanya nenek ini berdiri di atas jembatan, kemudian dia mengeluarkan suara tertawa aneh dan suaranya juga besar seperti suara laki-laki. Kemudian sekali kedua kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan dan dari atas tongkatnya bergerak menusuk ke arah ubun-ubun Kian Lee!
“Hehhh!” Kian Lee mengelak sambil berseru kaget, otomatis pula tombak buntungnya menusuk dari bawah ke arah lambung nenek itu, seperti kilat menyambar cepatnya.
“Heiiiii... ternyata kau hebat juga!” Nenek itu memekik, tongkatnya menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya.
“Takkk!”
Tubuh nenek itu mencelat lagi, jelas bahwa menghadapi tenaga Swat-im Sinkang dari Kian Lee, dia terkejut dan tidak dapat bertahan selagi tubuhnya berada di udara. Akan tetapi begitu kakinya menyentuh tanah, dia sudah mencelat tapi ke arah Kian Bu dan tongkatnya membuat gerakan seperti pedang menyambar ke arah leher Kian Bu dan disambung dengan tusukan ke arah bawah pusar.
Gerakan nenek ini cepat dan kuat, namun Kian Bu yang biar pun masih muda sudah memiliki tingkat kepandaian hebat itu secara otomatis sudah menangkis dan berbareng meloncat ke belakang, kemudian tombak buntungnya membalas dengan serangan maut yang ditujukan ke arah hidung Si Nenek Buruk!
“Huh, luar biasa!” Nenek itu berseru, mencelat ke belakang lalu melompat lagi ke depan, terus menyerang Kian Bu dan Kian Lee secara bergantian.
Dua orang pemuda itu kini menghadapi serangan-serangan aneh dari wanita buruk itu dan juga dari Tek Hoat yang menjadi girang dan sudah memutar pedangnya lagi. Karena terkejut dan bingung melihat gerakan aneh dari wanita itu, untuk beberapa lamanya Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu terdesak hebat.
Gerakan wanita itu memang aneh sekali. Tubuhnya mencelat ke atas dengan kedua kaki berbareng, mencong ke kanan kiri, depan belakang, bahkan mumbul-mumbul seperti seorang anak kecil bermain-main, kadang-kadang sampai tinggi sekali dan menyerang dengan tongkatnya dari atas. Menghadapi gaya serangan yang aneh seperti ini, yang belum pernah dilihatnya, Kian Lee dan Kian Bu takjub dan terdesak. Juga Tek Hoat menjadi kagum sekali, juga girang karena nenek yang tidak dikenalnya siapa ini datang-datang terus membantunya, sehingga dia terbebas dari desakan dua orang muda yang amat lihai itu.
“Bu-te, mari pergunakan pelajaran terakhir!” tiba-tiba Kian Lee berseru kepada adiknya.
Kian Bu mengangguk dan tiba-tiba mereka melontarkan tombak buntung itu ke depan. Kian Lee melontarkan tombaknya ke arah Tek Hoat dan Kian Bu melontarkannya ke arah nenek buruk. Biar pun hanya tombak buntung akan tetapi lontaran kedua orang kakak beradik ini tidak boleh dipandang ringan. Kalau mengenai dinding tebal sekali pun, tombak buntung itu akan dapat menembus, apa lagi tubuh manusia! Tenaga yang mendorong tombak sehingga meluncur ini adalah tenaga sakti yang membuat tombak meluncur melebihi anak panah cepatnya.
“Cringg...!”
“Trakkk...!”
Tek Hoat dan nenek itu berhasil menangkis tombak buntung yang menyambar mereka akan tetapi mereka merasa betapa telapak tangan mereka yang memegang senjata menjadi panas dan nyeri sehingga mereka terkejut sekali. Tek Hoat menjadi makin girang melihat dua orang pemuda itu ‘membuang’ senjata mereka, agaknya mereka sudah putus harapan dan agaknya pelajaran terakhir adalah melontarkan tombak tadi.

“Ha-ha, itukah pelajaran terakhir kalian?” ejeknya.
Akan tetapi dia berseru kaget dan cepat memutar pedang dan meloncat ke belakang ketika Kian Bu sudah menerjangnya dengan kedua tangan kosong. Dari kedua tangan pemuda itu menyambar hawa yang amat dingin dan amat panas, yang dingin keluar dari tangan kiri, yang panas keluar dari tangan kanan. Betapa mungkin ini? Tek Hoat sendiri telah mempelajari ilmu-ilmu sinkang dari kitab-kitab peninggalan kedua datuk Pulau Neraka, bahkan dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah melatih ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi, akan tetapi baru sekarang dia menghadapi lawan yang sekaligus dapat menggunakan dua pukulan yang berbeda, bahkan berlawanan tenaga sinkang-nya, panas dan dingin! Selain kedua pukulan yang mengandung dua hawa sakti bertentangan atau berlawanan ini, juga gerakan Kian Bu amat cepatnya, tubuhnya meluncur ke sana-sini seperti kilat!
Melihat adiknya sudah bergerak, Kian Lee kemudian juga melakukan gerakan yang sama. Tubuhnya mencelat seperti kilat menyambar, mengimbangi gerakan nenek yang aneh tadi, dan kedua tangannya menyerang dari kanan kiri, mengeluarkan hawa panas dan dingin secara berbareng sehingga nenek itu terkejut, berteriak keras dan mencelat mundur.
Memang itulah pelajaran terakhir yang dimaksudkan oleh Kian Lee tadi. Sebelum mereka keluar dari Pulau Es, ayah mereka telah menggembleng mereka secara tekun untuk mempelajari ilmu ini, ilmu yang dikombinasikan oleh Pendekar Super Sakti, mengambil inti dari gerakan ilmu silatnya Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Badai dan Kilat) dengan menggunakan inti pukulan Hwi-yang Sin-ciang (Tenaga Sakti Inti Api) dan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) digabung menjadi satu!
Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun tidak mungkin dapat dipelajari oleh orang yang berkaki dua maka Pendekar Super Sakti hanya mengambil inti gerakannya saja, membuat gerakan kedua orang puteranya itu seperti kilat cepatnya, mencelat ke sana-sini tak terduga-duga oleh lawan! Dan karena ilmu ini harus dimainkan dengan kedua tangan yang masing-masing merupakan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, maka dua orang pemuda itu tadi telah membuang tombak buntung mereka.
Setelah kedua orang kakak beradik itu mengeluarkan ilmu yang aneh dan hebat ini, mereka dapat mengimbangi lawan dan tidak terdesak lagi sungguh pun hawa pukulan mereka yang berselang-seling panas dan dingin itu hanya dapat mendesak lawan agak menjauh dan tidak berani terlalu dekat, akan tetapi mereka pun tidak dapat terlalu mendesak karena senjata kedua orang lawan mereka amat lihai.
Tek Hoat menjadi penasaran bukan main. Kembali dia bertemu dengan ‘batu’! Tidak disangkanya sama sekali bahwa di dunia ini terdapat orang muda yang begini hebat, setelah dia terkejut bertemu dengan pemuda tinggi besar yang dulu menolong Jenderal Kao, yang juga amat lihai ilmunya. Kiranya bukan hanya dia seorang saja yang menjadi jago muda di kolong langit ini. Kenyataan ini sedikitnya telah menghancur leburkan kebanggaannya, membuka matanya sehingga dia tidak akan berani lagi menganggap dirinya sebagai jago muda nomor satu di dunia!
Sementara itu, nenek yang didesak oleh Kian Lee yang lebih berani mendesak dari pada Kian Bu karena nenek itu hanya bersenjata tongkat, bukan pedang mukjijat seperti yang dipegang oleh lawan Kian Bu, berkali-kali mengeluarkan lengking mengerikan dan aneh, seperti suara jerit seekor binatang yang terjepit. Tiba-tiba dia meloncat agak jauh ke belakang dan ketika Kian Lee mengejarnya dengan gerakan kilat, tiba-tiba wanita itu tertawa dan tangan kirinya melontarkan sebuah benda bulat ke arah pemuda ini. Kian Lee sedang meloncat dan lontaran itu cepat sekali, maka dia tidak sempat lagi mengelak dan sambil mengerahkan tenaga ke arah kaki kirinya dia menendang benda hitam bulat itu.
“Darrrrr...!”
Benda itu meledak ketika ditendang oleh Kian Lee dan pemuda ini mengeluh, terlempar ke bawah dan darah membasahi celana karena pahanya telah terluka oleh pecahan besi. Kiranya benda itu adalah semacam senjata peledak yang ampuh dan karena tidak mengira sama sekali bahwa benda itu akan meledak, maka Kian Lee menjadi kurang hati-hati dan pahanya terkena pecahan besi sehingga kulit dan dagingnya terluka yang lumayan parahnya.
“Lee-ko...!” Kian Bu berseru kaget sekali dan sekali meloncat, dia telah berada di depan nenek itu, terus menyerangnya dengan kedua tangannya sambil mengerahkan seluruh tenaga.
Dipukul dengan Hwi-yang Sin-ciang berbareng dengan Swat-im Sin-ciang secara hebat itu, Si Nenek terkejut dan biar pun dia sudah mengelak, tetap saja dia terdorong oleh hawa pukulan sehingga dia terhuyung-huyung dengan muka pucat dan roboh. Cepat dia bergulingan, kemudian meloncat ke atas lagi.
Suma Kian Bu sudah menarik kakaknya bangun, kemudian menggandeng kakaknya itu, meloncat ke atas jembatan.
“Lepaskan aku, aku bisa membela diri. Mari kita ke dinding itu...” kata Kian Lee sambil menyeret kaki kirinya yang sukar digerakkan
Melihat seorang pemuda telah terluka, para prajurit dan pembantu Tek Hoat menjadi berani. Mereka mengejar dan beberapa orang telah menyerang dengan tombaknya. Kian Bu menjadi marah, dia membalik, merampas sebatang tombak dan memutar tombak itu, merobohkan enam orang sekaligus, ada yang dikemplang tombak, ada yang ditusuk, ada yang ditendang dan ada yang didorong oleh tangan kirinya.
“Hayo, Lee-ko...!” Dia hendak menggandeng kakaknya lagi akan tetapi pada saat itu, seorang pembantu Tek Hoat yang gerakannya cukup gesit dan kuat, seorang yang berjenggot dan berkumis pendek telah menusuk dari belakang dengan tombaknya.
“Haiiittt...!” Kian Bu berseru, kaki kirinya yang seperti bermata itu diputar ke belakang dan dengan tepat menangkis tombak itu, lalu dia membalik, tombak yang dipegangnya menyambar ke arah kepala orang berkumis pendek, sedangkan pedang Si Kumis itu telah terlempar oleh tangkisan kaki Kian Bu.
“Ouhhhh...!” Orang itu mengelak, akan tetapi tetap saja telinga kirinya kena dihantam tombak sehingga remuk.
“Wadouuuhhh...!”
Dia berloncatan sambil memegangi telinga kirinya yang sudah tidak berdaun lagi, dan saking sakitnya dia tidak melihat kanan kiri atas depan lagi, maka tanpa disengaja dia menabrak dan menghalangi Tek Hoat yang sedang lari hendak mengejar Kian Lee dan Kian Bu. Karena tiba-tiba ditabrak pembantunya sendiri yang sedang kesakitan, Tek Hoat marah-marah dan ditendangnya pembantu yang sudah tidak berdaun telinga kiri lagi itu.
“Ngekkk!” Pembantu itu terlempar, terbanting dan tidak bergerak lagi.
Kian Bu dan Kian Lee sudah dikepung lagi oleh nenek dan para prajurit dan selain Kian Bu mengamuk dengan hebat, Kian Lee yang sudah terluka pahanya itu pun masih melawan. Setiap ada tombak menusuknya, dia menangkis dan pemegang tombaknya lalu terpelanting. Pada saat yang amat berbahaya itu tampaklah berbondong-bondong bayangan orang banyak berloncatan dari dinding belakang.
Mereka itu bukan lain adalah Si Gendut anggota Tiat-ciang-pang bersama kawan-kawannya. Mula-mula hanya belasan orang saja yang berloncatan masuk dan langsung saja Si Gendut dan kawan-kawannya itu menerjang para prajurit pemberontak yang mengeroyok Kian Bu dan Kian Lee. Melihat ini, Tek Hoat menjadi kaget dan marah, dan mengira bahwa orang-orang yang datang itu ada yang sepandai dua orang pemuda tadi. Akan tetapi ketika mendapat kenyataan bahwa yang datang hanya gerombolan kaum sesat dari Tiat-ciang-pang yang dipimpin Si Gendut, dia memandang rendah dan cepat dia melakukan pengejaran karena Kian Bu dan Kian Lee sudah tidak kelihatan di tempat itu lagi.
Kian Bu yang tadi melihat kesempatan baik selagi keadaan kacau dengan munculnya Si Gendut dan kawan-kawannya, cepat mengempit tubuh kakaknya dan meloncat naik ke atas dinding kebun lalu meloncat pula turun. Banyak prajurit yang juga berloncatan naik dan melakukan pengejaran.
“Lepaskan aku, biar aku dapat melawan!” Kian Lee berkata.
Kian Bu yang mendapat kenyataan bahwa kakaknya tidak terluka terlalu berat dan hanya terpincang-pincang itu, melepaskan kakaknya. Mereka melakukan perlawanan sambil melarikan diri menyelinap ke tengah kota di antara rumah-rumah orang. Akan tetapi, nenek buruk itu sudah dapat menyusul mereka dan bersama banyak prajurit dia telah mengeroyok Kian Bu yang terpaksa berpisah dari kakaknya karena nenek itu merupakan lawan yang tidak ringan.
“Toanio, tangkap dia hidup-hidup!”
Suara Tek Hoat ini mengejutkan Kian Bu, apa lagi ketika dia menengok dan tidak dapat melihat kakaknya lagi, hatinya menjadi panik sekali, dan dia tidak dapat menghindarkan pukulan tongkat nenek itu yang mengenai pundaknya. Baiknya, tubuh pemuda itu sudah secara otomatis dihuni oleh tenaga sakti yang amat hebat sehingga tanpa pengerahan pun, tenaga saktinya melindungi pundak dan biar pun terasa nyeri bukan main, tidak ada tulang yang patah oleh pukulan maut dari nenek itu. Akan tetapi dia terhuyung dan menabrak pohon di pinggir rumah, dan pada saat itu, Tek Hoat sudah meloncat dekat, tangan kiri pemuda ini menghantam ke arah punggung Kian Bu untuk merobohkan dan menangkap pemuda ini hidup-hidup.
“Wuuuutttt... plakkkk!”
Tek Hoat terbelalak ketika melihat betapa telapak tangannya bertemu dengan telapak tangan orang lain dan seluruh tubuhnya menjadi tergetar hebat. Ia masih mengerahkan tenaga Inti Bumi ke telapak tangannya dan mendorong, akan tetapi sedikit pun tangan itu tidak bergeming, bahkan ketika laki-laki setengah tua yang dikenalnya sebagai laki-laki teman kedua orang pemuda lihai tadi mendorong, dia tidak dapat bertahan dan terhuyung ke belakang! Hebat! Ternyata laki-laki ini malah lebih lihai dari dua orang pemuda itu, dan bukan itu saja, agaknya laki-laki ini pun mahir menggunakan tenaga sakti Inti Bumi!
Laki-laki itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Cepat dia menarik tangan Kian Bu dan berkata, “Mari kita pergi...!”
Kian Bu meragu, “Lee-ko...”
“Di mana dia?”
“Entah, kami berpisahan, dia terluka pahanya...”
“Keparat!” Tek Hoat berteriak marah dan kini menyerang Gak Bun Beng dengan pedang Cui-beng-kiam!
Bun Beng terkejut melihat pedang ini dan cepat mengelak dengan rendahkan tubuhnya. Sambil mengelak tangan kanannya menyambar tanah pasir dan begitu tangan ini bergerak, tanah pasir yang merupakan senjata rahasia yang amat dahsyat menyambar ke arah pedang itu, disusul dorongan telapak tangan kirinya ke arah Tek Hoat.
“Trikk-trikk-cringgg... aihh...!”
Tek Hoat cepat meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat. Hantaman tanah pasir pada pedangnya tadi selain membuat pedangnya menyeleweng, juga tangannya yang terkena pasir terasa sakit dan bahkan kulitnya terluka berdarah sedangkan hantaman tangan kiri tadi biar pun tidak sampai mengenai dadanya, namun hawa pukulannya hampir tidak kuat dia menahannya, begitu dingin seperti membekukan isi dadanya! Dia menjadi jeri dan hanya melongo melihat kedua orang itu melarikan diri dan lenyap di balik rumah-rumah.
“Kejar...!” Dia berseru dan menyuruh para prajurit mengejar, sedangkan dia sendiri menghampiri nenek itu.
“Mereka hebat, dan laki-laki yang baru datang tadi... hemm, hanya satu orang saja di dunia ini yang memiliki kepandaian seperti itu.” kata Si Nenek menghela napas panjang.
“Siapa?” Tek Hoat bertanya penasaran. “Pendekar Super Sakti?”
“Memang, dan itulah anehnya. Sudah jelas dia bukan Pendekar Super Sakti, akan tetapi kepandaiannya hebat, dan dua orang pemuda itu! Hemmm, aku tidak akan heran kalau mendengar bahwa mereka adalah keluarga Pendekar Super Sakti dari Pulau Es...”
“Dan Toanio (Nyonya Besar) sendiri siapakah? Saya berterima kasih atas bantuan Toanio.”
“Hi-hi-hik, karena kau tampan sekali maka aku membantumu! Memang kami berniat membantu pemberontakan menumbangkan pemerintah yang sudah banyak merugikan kami, akan tetapi Suheng dan Sumoi adalah orang-orang yang ku-koai (aneh), mereka membawa mau sendiri sehingga hanya aku seorang yang mencoba membantumu. Aku mendengar bahwa pihak pemberontak mempunyai seorang tangan kanan yang lihai, muda, tampan dan berjuluk Si Jari Maut. Tentu engkau, bukan?”
Tek Hoat tersenyum. “Saya bernama Ang Tek Hoat dan tidak salah dugaan Toanio. Marilah kita masuk ke dalam gedung itu dan kita bicara. Toanio tidak keliru membantu kami dan akan kuperkenalkan kepada Pangeran Liong Khi Ong yang kebetulan berada di sini.”

Mereka lalu berjalan sambil bercakap-cakap menuju gedung bekas kepunyaan Kepala Daerah itu.
Ke manakah perginya Kian Lee? Pemuda ini yang merasa betapa dada kirinya sakit sekali maklum bahwa pecahan besi itu tentu mengandung racun dari obat peledak, terasa panas, perih dan kaku. Dan dia mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Terlalu banyak lawan, dan nenek itu, juga pemuda berpedang itu amat lihai. Dia sendiri tentu tidak akan kuat menghadapi mereka, dan kalau Kian Bu harus melawan sendiri, tentu berbahaya. Akan tetapi dia pun tahu bahwa sampai mati pun Kian Bu tentu tidak akan mau meninggalkannya. Maka dialah yang harus meninggalkan adiknya agar Kian Bu juga cepat pergi dari tempat berbahaya itu, tidak melanjutkan pertandingan dan akan mencarinya.
Kesempatan ini tiba ketika dia melihat seekor kucing bergerak memasuki sebuah pintu yang terbuka sedikit. Cepat dia menyelinap dan tanpa diketahui oleh siapa pun dia lalu membuka daun pintu itu, menyelinap masuk, lalu memasang palang pintu dari dalam. Kemudian dia terhuyung-huyung memasuki rumah itu yang ternyata cukup besar dan lega.
“Meong...! Meong...! Meonggg...!”
Kian Lee terbelalak melihat begitu banyaknya kucing di dalam rumah ini! Ada lima enam ekor kucing yang bagus-bagus merubungnya dan dia bergidik seolah-olah kucing itu adalah musuh-musuh yang hendak mengeroyoknya. Matanya memandang ke arah binatang-binatang itu penuh perhatian, siap untuk melawan kalau mereka menyerang!
“Meong... meong... meooonggg...!”
Kucing-kucing itu mengelilingi, seolah-olah terheran-heran dan menyelidikinya sambil mengeluarkan bunyi bermeong saling sahut dan dari dalam muncullah kucing-kucing lain. Semua indah dan cantik, bermacam-macam warna bulunya, dan semua bersih terpelihara dengan leher dihias kalung yang mengeluarkan bunyi maka riuh rendahlah suara kerincingan di kalung itu ketika kini muncul lagi belasan ekor kucing darl dalam sehingga jumlahnya ada dua puluh ekor lebih!
Betapa pun cantik dan bagus kucing-kucing gemuk itu, dengan bulu halus bersih bermacam warna, namun bergidik juga Kian Lee melihat begini banyak kucing yang mengurungnya. Menghadapi pengeroyokan orang-orang yang ganas dia tidak gentar, akan tetapi dikelilingi begini banyak kucing, menimbulkan perasaan ngeri dan seram! Pahanya yang sebelah kiri terasa sakit dan panas, mengucurkan darah cukup banyak dan dia menggoyang-goyang kepalanya karena terasa pening. Lebih dua puluh pasang mata kucing yang bersinar tajam dan aneh itu seolah-olah menyihirnya, membuatnya pusing dan berkunang-kunang. Dia berusaha menggoyang-goyang kepala, membuka buka lebar matanya, akan tetapi kepalanya makin berat dan pusing, dia terhuyung-huyung.
“Ouhhhh...” Hampir dia roboh kalau dia tidak buru-buru menangkap sebatang tiang di dalam ruangan itu, sejenak ia bersandar pada tiang.
“Heiii, Belang...! Putih...! Heiii, Hitam... ada apa kalian ribut-ribut di situ...?” Suara yang halus bening dan penuh keriangan ini masih dapat menembus pendengaran Kian Lee yang mulai terngiang-ngiang. “Hei, kucing-kucing lucu, di mana Su-kouw (Bibi Guru)...?”
Lalu pandang mata Kian Lee yang sudah mulai gelap itu melihat bayangan seorang gadis cantik yang tampak olehnya seperti munculnya sinar terang dalam kegelapan, seolah-olah dia melihat seorang bidadari terbang melayang dan turun dari angkasa mengulurkan tangannya untuk menolong.
“Uuhhh...!” Dan dia pun terguling dan roboh ke atas lantai tak sadarkan diri.
Kian Lee mengeluh dan mengerang. Dia mendapatkan dirinya teruruk sebuah rumah yang terbakar, kakinya terhimpit balok terbakar. Seluruh tubuh terasa panas, kaki yang terhimpit balok nyeri bukan main dan tak dapat digerakkan. Tiba-tiba hujan turun, api yang membakar sekelilingnya padam, paha kirinya yang terhimpit balok terkena air, terasa dingin akan tetapi rasa dingin yang menggantikan kedudukan api yang tadi menyiksa. Rasa dingin yang menusuk-nusuk, terasa sampai di tulang paha kaki kirinya dan lapat-tapat dia mendengar suara menghiburnya, seperti suara gadis yang selama ini terbayang di depan matanya, suara Lu Ceng.
Tercium olehnya bau harum sedap yang lamat-lamat, dan tampak olehnya seraut wajah, cantik bukan main, wajah Lu Ceng yang dirindukannya...!
Kian Lee membuka sedikit matanya dan ternyata mimpinya itu menjadi kenyataan, karena benar saja dia melihat seraut wajah cantik jelita. Dia menjadi terharu! Mengapa mimpinya menjadi kenyataan dan mungkinkah Lu Ceng begini baik kepadanya, duduk bersimpuh di dekatnya dan menggunakan jari-jari tangan yang halus lentik menyusuti dahinya dengan sehelai sapu tangan yang dibasahi, begitu lembut dan mesra!
Mungkinkah gadis itu begini baik kepadanya, dengan sepasang mata yang menyinarkan kelembutan dan kemesraan, bibir yang tipis basah kemerahan itu membentuk senyum menggairahkan? Keharuan membuat Kian Lee menggerakkan tangan kanannya, seperti bukan kemauannya sendiri dia mengusap dagu dan pipi wajah cantik di depannya itu, berbisik halus, “Engkaukah ini... engkau...?”
Sepasang mata yang tadinya memandang lembut dan mesra itu terbelalak keheranan, lalu bibir yang mungil itu terbuka, terkekeh, tampak deretan gigi yang kecil rata dan putih mengkilap. “Hi-hi-hik, kau lucu...!”
Kian Lee mengejap-ngejapkan matanya, kini dia baru sadar betul. Ketika dia membuka mata dan memandang lagi, dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa wajah itu bukanlah wajah Ceng Ceng, bukanlah wajah gadis yang dirindukan, sungguh pun wajah ini juga cantik, bahkan terlalu cantik jelita, wajah seorang gadis cilik, seperti setangkai kuncup bunga yang sudah mulai tampak keindahannya, menjanjikan keadaan dan kecantikan luar biasa apa bila telah mekar menjadi bunga tak lama lagi!
Kian Lee cepat menggerakkan tubuhnya, bangkit duduk. Hampir dia berteriak karena paha kirinya terasa nyeri.
“Ngeonggg...! Ngeooongggg...!”
Kian Lee terperanjat dan memandang ke kanan kiri. Penuh kucing!
“Hushhh, Belang! Hitam! Jangan nakal lho!” Gadis itu membentak halus dan kucing-kucing itu menyingkir agak menjauh dari Kian Lee, sedangkan gadis itu kemudian membungkuk dan memondong seekor kucing kecil berbulu putih yang amat cantik.
Kian Lee mendapatkan dirinya tadi rebah di atas lantai, ketika dia meraba paha kirinya yang dia ingat telah terluka, dia mendapatkan kenyataan bahwa paha di dalam pipa celananya itu telah diobati dan dibalut orang. Dia meraba-raba, mengerahkan tenaga sinkang ke arah paha dan mendapat kenyataan yang menggirangkan hatinya bahwa rasa panas dari racun obat peledak itu telah lenyap, atau telah menjadi tawar oleh obat penolaknya yang mujarab sekali.
“Eh, di mana aku...?” Dia berkata.
Gadis itu sambil mengusap-usapkan pipinya yang tadi diraba tangan Kian Lee kepada punggung kucing yang penuh bulu halus, memandang kepadanya dengan muka yang dimiringkan dan mata bersinar, wajah berseri-seri, tersenyum dan menjawab nakal, “Di dalam rumah!”
“Ya, tentu. Tapi rumah siapa?”
Sepasang mata itu bergerak nakal, dan bibir merah itu tersenyum dikulum sebelum menjawab, seolah-olah dia hendak mencari ‘akal’ untuk menjawab, kemudian keluar jawabannya dengan mata bersinar-sinar, “Rumah orang!”
Kian Lee tertegun sejenak, memandang gadis cilik itu dan tiba-tiba dia tertawa. Gadis ini mengingatkan dia kepada adiknya, Kian Bu! Betapa sama sifatnya, sama-sama nakal dan suka menggoda orang, karena dia yakin benar bahwa jawaban-jawaban aneh itu disengaja untuk menggoda, jelas tampak dari pandang mata gadis itu yang persis seperti pandang mata Kian Bu kalau sedang menggodanya.
“Eh, kenapa kau ketawa-tawa? Apanya yang lucu?” Tiba-tiba sifat gadis itu berubah, kalau tadi menahan geli mempermainkan orang, kini penuh penasaran!
“Aku tertawa karena engkau mengingatkan aku akan seseorang. Akan tetapi sudahlah, adik yang baik. Ini rumah siapakah?”
“Rumah bibiku, bibi guruku.”
“Jadi diakah yang mengobati kakiku yang terluka?”
Gadis itu menggeleng. “Bukan, dia belum datang. Yang ada hanya kucing-kucingnya yang kelaparan karena belum diberi makan. Kalau tidak kebetulan aku datang ke sini, tentu kucing-kucing kelaparan ini sudah menggerogoti habis daging-dagingmu ketika kau pingsan tadi.”
Kian Lee bergidik. Dara cilik ini cantik manis sekali, akan tetapi di dalam kata-kata dan sikapnya tersembunyi sesuatu yang menyeramkan, seperti ketika membayangkan betapa kucing-kucing kelaparan itu akan menggerogoti daging-dagingnya!
“Kalau begitu, siapa yang mengobati kakiku?”
“Di rumah ini hanya ada kucing-kucing ini dan aku. Kucing-kucing ini tentu tidak bisa mengobati luka di kakimu yang penuh dengan racun obat peledak, biar pun mereka akan menggunakan lidah-lidah mereka yang kasar untuk secara bergantian menjilati luka di kakimu itu.”
Kembali Kian Lee bergidik. Cara gadis cilik ini menggambarkan sesuatu benar-benar membikin orang merasa ngeri.
“Kalau begitu, engkaukah yang telah mengobatinya?” tanyanya dengan heran sekali.
“Hemm, entah siapa, kau cari saja sendiri. Yang ada hanya aku dan kucing-kucing ini, dan kucing-kucing ini tentu saja tidak bisa mengobati. Eh, masih ada lagi selain aku dan kucing-kucing ini, tapi aku sangsi apakah mereka itu dapat mengobatinya.”
“Mereka siapa?” Kian Lee bertanya sambil memandang ke kanan kiri, bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
“Mereka inilah.” Gadis cilik itu telah melepaskan anak kucing yang tadi dipondongnya, dan tahu-tahu dia kini sudah mengeluarkan dua ekor ular yang membuat Kian Lee terbelalak dan melongo karena mengenal ular-ular itu sebagai dua ekor ular yang paling berbisa! Dan jelas bahwa dua ekor ular itu bukanlah ular-ular yang telah dijinakkan atau telah tidak mengandung bisa lagi. Dua ekor binatang menjijikkan itu mendesis-desis dan dari desisnya saja sudah mengepulkan uap hitam yang amat berbisa! Akan tetapi, gadis cilik itu mempermainkan dua ekor ular ltu seperti memainkan dua helai sapu tangan sutera saja layaknya!
Kini Kian Lee memandang gadis itu dengan pandang mata lain. Mengertilah dia bahwa betapa pun halus dan cantik manis tampaknya, ternyata gadis cilik itu mempunyai kepandaian hebat untuk menaklukkan ular berbisa, dan tentu dengan sendirinya ahli tentang racun, maka dia dapat mengobati pahanya yang terluka dan terkena racun. Buktinya, gadis cilik ini tadi mengatakan bahwa luka di pahanya terkena racun obat peledak!
Kian Lee lalu bangkit berdiri. Pahanya masih agak nyeri, akan tetapi karena sudah terbebas dari racun, rasa nyeri dapat dipertahankan dan dia dapat menggerakkan kaki kirinya seperti biasa. Lalu dia menjura kepada gadis cilik yang sudah memondong lagi anak kucing putih sedangkan dua ekor ular tadi entah disembunyikan di mana, mungkin di saku baju luarnya yang panjang dan lebar itu.
“Nona, saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Nona yang amat besar tadi. Saya Suma Kian Lee tidak akan melupakan...”
“Wah, kau she Suma?!” tiba-tiba gadis cilik itu membentak.
“Benar, mengapa?” Kian Lee bertanya heran, apa lagi melihat betapa sepasang mata itu kini terbelalak lebar memandangnya seperti mata orang marah!
“Aku... aku benci orang yang she-nya Suma! Semua orang she Suma adalah musuh besarku, demikian kata ayahku. Maka kalau kau she Suma, aku pun menyesal telah mengobati lukamu... akan tetapi... hemm, kau... tampan dan gagah, engkau tentu orang baik, maka aneh kalau kau she Suma karena menurut Ayah, she Suma adalah she orang-orang yang jahat dan menjadi musuh besar kami.”
Kian Lee mengerutkan alisnya. “Kalau boleh saya bertanya, Nona...”
“Nanti dulu, aku benci caramu menyebut aku nona! Aku sudah muak karena setiap hari orang-orang kami menyebutku nona dengan sikap menjilat hingga tiap kali mendengar sebutan nona, aku membayangkan sikap orang menjilat-jilat yang menjemukan! Jangan panggil aku nona, baru aku mau mendengarkan!”
Kian Lee makin heran. Bocah ini benar-benar aneh, manis tapi menyeramkan, menarik tapi manja menggemaskan, masih bersikap kanak-kanak akan tetapi telah memiliki ilmu demikian tinggi tentang racun!
“Baiklah, aku akan menyebut siauw-moi (adik kecil)...”
“Iihhh, kau kira aku masih bayi? Aku sudah hampir dua belas tahun! Dan engkau pun belum begitu tua, kau pantas menjadi kakakku. Kenapa tidak menyebut aku adik saja, jangan pakai kecil segala!” katanya manja dan berlagak seperti telah dewasa, akan tetapi lagaknya ini malah membayangkan bahwa gadis cilik ini memang masih mentah!
Akan tetapi karena maklum bahwa gadis cilik ini memiliki watak yang ku-koai (aneh), Kian Lee yang merasa berterima kasih telah ditolong itu berkata, “Baik, Moi-moi. Aku ulang lagi, kalau boleh aku bertanya, engkau ini siapakah dan siapa pula ayahmu yang begitu membenci she Suma?”
“Namaku? Aku Kim Hwee Li.”
Kian Lee mengingat-ingat. Tidak pernah dia mendengar nama ini dan dia hanya tahu bahwa nama Hwee Li ini terdengar manis sekali.
“Dan ayahmu?”
“Tidak perlu kukatakan.”
“Kenapa?”
“Engkau tentu akan lari terbirit-birit mendengarnya. Sudah banyak pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang kujumpai dan kuajak berteman, kalau mendengar nama ayahku lalu lari ketakutan meninggalkan aku. Aku tidak ingin kau pun ketakutan seperti itu dan berlari pergi setelah kuperkenalkan namanya.”
“Ahhh, masa? Katakanlah, aku tidak akan lari...” Tiba-tiba Kian Lee menghentikan kata-katanya karena pintu depan diketuk orang.
Gadis itu menjadi kaget dan kelihatan ketakutan sekali. Kini baru tampak oleh Kian Lee betapa gadis cilik yang amat cantik jelita ini memiliki wajah yang amat pucat, dan sekarang, dengan mata terbelalak ketakutan itu wajahnya kelihatan makin pucat lagi.
“Celaka...!” bisiknya dan jari-jari tangannya yang memegang lengan Kian Lee menggigil. “Kau... kau bersembunyilah di sini saja, jangan bergerak, jangan bernapas... jangan mengeluarkan suara... biar aku menghadapi Sukouw... jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan engkau menjadi korban Sukouw!”
Kian Lee yang menjadi bingung karena tidak mengerti itu hanya mengangguk, lalu dia duduk kembali, bersembunyi di balik tiang dan dinding, akan tetapi dia mengintai ke arah pintu depan.
Sedangkan Hwee Li dengan sikap ditenang-tenangkan dan memondong kucing putih mulus, melangkah ke arah pintu lalu membuka pintu. Daun pintu terbuka lebar dan terdengar orang mendengus marah dan muncullah seorang kakek yang membuat Kian Lee kini benar-benar menahan napas karena dia mengenal kakek ini sebagai kakek raksasa yang lihai dan menyeramkan, dan tidak heranlah dia kini mengapa gadis cilik itu demikian lihai, karena kakek yang muncul ini bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, Ketua Pulau Neraka!
Hek-tiauw Lo-mo yang masuk dengan marah itu terbelalak kaget dan heran ketika melihat bahwa yang membukakan pintu adalah puterinya sendiri. Dengan menudingkan telunjuk kanannya yang besar dan berkuku panjang ke arah muka gadis cilik yang tenang-tenang saja itu, dia menghardik, “Hwee Li! Mengapa engkau yang berada di sini? Mana bibi gurumu?”
“Bibi Guru tidak ada di rumah, Ayah. Aku kesal Ayah tinggalkan di pondok kosong bersama anak buah yang kasar-kasar itu, maka aku datang mengunjungi Sukouw. Akan tetapi dia pun tidak ada dan aku senang di sini bermain-main dengan kucing-kucingnya. Ayah, biarkan aku bermain-main di sini sendiri bersama kucing-kucing ini, kalau tidak boleh aku akan menangis sehari semalam!”
“Wah-wah, kau memang manja dan tidak beres! Aku perlu dengan bibi gurumu, entah ke mana perginya pelacur tak tahu malu itu! Nah, biar engkau di sini menanti dia pulang, nanti kalau dia pulang katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Suruh dia datang mengunjungi pondok kita.”
“Baik, Ayah. Kau baik sekali, Ayah, engkau ayah yang baik. Terima kasih!” berkata demikian, Hwee Li mengantar ayahnya keluar dan menutupkan kembali daun pintunya. Kemudian sambil tertawa kecil dia berlari menghampiri Kian Lee.
Kian Lee sudah bangkit berdiri, jantungnya masih berdebar tegang. “Dia itu ayahmu? Hemm, kiranya ayahmu Hek-tiauw Lo-mo...”
Hwee Li terkejut dan memandang wajah yang tampan itu penuh pertanyaan. “Jadi engkau sudah mengenal ayahku?”
Kian Lee mengangguk, akan tetapi tentu saja dia tidak bisa menceritakan kepada gadis cilik yang telah menolongnya ini bahwa dia adalah musuh ayahnya itu. Dia tidak tega mengatakan ini.
“Dan kau tidak takut kepada ayahku?”
“Tidak, mengapa takut? Dia seorang ayah yang baik, bukan?”
Hwee Li melepaskan kucingnya dan memegang kedua tangan Kian Lee. “Aihhh, Twako, engkau hebat! Engkaulah orang pertama yang mengatakan bahwa engkau tidak takut kepada ayahku! Padahal semua orang takut. Memang dia seorang ayah yang baik, akan tetapi... kadang-kadang... aku pun takut kepadanya. Dia bisa baik, terutama jika kepadaku, akan tetapi bisa juga... hemmm... amat kejam... ahhh, sudahlah, tidak baik membicarakan ayah sendiri, bukan?”
Kian Lee mengangguk, terheran-heran. Bagaimana seorang iblis tua seperti Hek-tiauw Lo-mo dapat mempunyai seorang anak perempuan begini cantik jelita?
“Engkau tadi tampaknya lebih ketakutan ketika mengira bahwa yang datang adalah bibi gurumu. Mengapa? Siapakah bibi gurumu?”
“Bibi guruku ada dua orang. Twa-sukouw, bibi guru pertama, cukup menyeramkan akan tetapi tidaklah seperti Ji-sukouw, bibi guru kedua yang amat mengerikan. Kalau dia yang datang dan melihatmu, aku tidak tahu bagaimana akan bisa menyelamatkan engkau.”
“Kenapa?”
“Dia tidak akan melepaskan pemuda tampan dan gagah seperti engkau, tentu engkau akan dilarikannya dan paling lama tiga hari engkau akan kedapatan mati di suatu tempat.”
“Hemm, apa yang dilakukannya?”
“Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ayah pun membenci kebiasaannya yang mengerikan itu. Setiap kali dia tentu menculik pemuda tampan dan membunuhnya, aku tidak tahu apa yang dilakukannya, hanya pernah aku melihat pemuda-pemuda yang dibunuhnya. Mengerikan!” Hwee Li bergidik.
Kian Lee teringat akan nenek bertongkat yang amat lihai itu, yang membuat pahanya terluka. “Seperti apakah kedua orang bibi gurumu itu?” tanyanya.
“Yang seorang buruk sekali akan tetapi yang kedua cantik sekali. Engkau tentu telah bertemu dengan bibiku yang cantik itu, dan untung engkau tidak sampai dibawanya lari, hanya terkena senjatanya. Pahamu itu terkena senjata rahasia peledak, bukan?”
Kian Lee mengangguk. “Benar, akan tetapi yang melepasnya bukanlah seorang wanita cantik, melainkan seorang nenek buruk sekali, nenek yang bertongkat dan...”
“Ah, dia itu Twa-sukouw!” Hwee Li berseru heran. “Tentu dia telah mencuri senjata rahasia Ji-sukouw! Ketahuilah, ahli pembuat senjata rahasia peledak itu adalah Ji-sukouw. Eh, Twako, kenapa kau sampai bertanding melawan Twa-sukouw?”
“Hemm... karena dia membantu pemberontak.”
“Pemberontak, pemberontak! Urusan kerajaan dan pemberontak ini menjemukan hatiku, Twako! Agaknya Ayah dan kedua orang bibi guruku melibatkan diri pula. Entah di pihak siapa Ayah berdiri, dan Twa-sukouw, menurut penuturanmu, jelas berdiri di pihak pemberontak. Entah pula dengan Ji-sukouw. Hem, aku jemu! Twako, mari kau antarkan aku kembali ke Pulau Neraka saja, kau tentu kaget mendengar bahwa aku datang dari Pulau Neraka, bukan?”
“Tidak, Hwee Li. Aku tahu bahwa ayahmu adalah Ketua Pulau Neraka berjuluk Hek-tiauw Lo-mo.”
“Eh, jadi kau sudah mengenal Ayah sebagai Ketua Pulau Neraka?”
“Aku sudah mengenal ayahmu, akan tetapi tidak tahu tentang bibi gurumu dan tentang dirimu baru sekarang aku mengetahuinya. Dua tahun lebih yang lalu aku dan adikku pernah berkunjung ke Pulau Neraka dan kau tidak ada di sana...”
“Hehh...? Benarkah? Dua tahun yang lalu... hemm, aku masih dikurung di dalam kamar latihan, tidak boleh keluar sama sekali dan baru setahun yang lalu aku diperbolehkan keluar oleh Ayah. Dua tahun yang lalu...? Kakak beradik...? Wah, wah, aku sudah mendengar tentang keributan itu! Jadi engkau dari Pulau Es?”
Kian Lee mengangguk dan Hwee Li segera meloncat mundur ke belakang, memandang ketakutan. “Tentu engkau akan membunuh aku!”
“Tidak, tidak Hwee Li. Engkau adalah gadis yang baik sekali, mengapa pula aku harus membunuhmu?”
“Engkau dan adikmu itu putera-putera Pendekar Siluman...”
“Pendekar Super Sakti!”
“Tocu (Majikan Pulau) dari Pulau Es musuh besar Ayah!”
“Tapi aku tidak memusuhimu, juga tidak memusuhi ayahmu atau siapa pun juga, Hwee Li.”
“Benarkah? Aku girang sekali kalau begitu. Aihhh, putera Pulau Es. Pantas engkau she Suma! Wah, kalau begitu, engkau harus cepat pergi dari sini, Twako. Kalau Ayah tahu engkau putera dari Pulau Es, tentu celaka. Dan kalau Ji-sukouw keburu datang, engkau pun tentu akan diculiknya. Pergilah, akan tetapi, jangan kau lupa kepadaku, ya?”
Kian Lee mengangguk dan tersenyum. “Engkau anak manis dan telah menyelamatkan aku, Hwee Li. Mana mungkin aku bisa lupa kepadamu?” Kian Lee lalu berjalan ke pintu, agak terpincang. Setelah mengintai dari belakang pintu ke luar dan tidak melihat siapa pun, dia membuka daun pintu dan hendak melangkah keluar.
“Twako...!”
Kian Lee menoleh dan melihat gadis cilik itu berdiri pucat, dia melangkah masuk lagi, berdiri di depan Hwee Li. Gadis ini cantik luar biasa, sungguh pun masih belum dewasa benar sudah nampak kecantikannya.
“Ada apakah, Hwee Li?”
“Twako, kau benar-benar... tidak akan lupa kepadaku?”
Kian Lee tersenyum dan menggeleng kepalanya.
“Dan aku... aku suka kepadamu, Twako!”
Kian Lee terharu, dan meraba serta mencubit dagu yang manis itu. “Tentu saja, engkau seperti adikku sendiri!”
Mulut yang manis itu cemberut. “Aku tidak suka menjadi adikmu!”
“Habis bagaimana?”
“Kita adalah sahabat, bukan kakak dan adik.”
“Baiklah, engkau sahabatku yang paling baik dan manis, Hwee Li. Ehh, aku lupa untuk bertanya tadi. Siapakah nama kedua orang sukouw-mu itu?” Kian Lee perlu untuk menanyakan nama mereka, terutama Si Nenek Lihai karena nenek itu telah menjadi musuhnya, membantu pemberontak, bahkan telah melukainya.
“Twa-sukouw berjuluk Hek-wan Kui-bo (Nenek Setan Lutung Hitam), dan Ji-sukouw berjuluk Mauw Siauw Mo-li (Siluman Kucing). Engkau berhati-hatilah kalau bertemu dengan mereka, Twako, terutama kalau bertemu dengan Ji-sukouw. Dia lebih lihai dan lebih berbahaya dari Twa-sukouw.”
“Terima kasih, Hwee Li. Nah, selamat tinggal.”
“Jangan lupa kepadaku, Twako, dan sekali-kali carilah aku.”
Kian Lee mengangguk, tersenyum, lalu meloncat keluar dari pintu, akan tetapi ketika dia membalik, tanpa disengaja dia menginjak sesuatu yang lunak.
“Awas, Twako...!” Hwee Li mengingatkan.
Kian Lee meloncat ketika mendengar suara kucing menjerit dan kucing yang terinjak ekornya itu menyerangnya dengan kaki depan, mencakar, akan tetapi Kian Lee telah lebih dulu mengelak.
“Wah, berbahaya! Semua kuku dari kucing-kucing di sini mengandung racun berbahaya, Twako.”
“Ehh?”
“Ji-sukouw suka sekali memelihara kucing dan... ehh, dia sendiri sifatnya seperti kucing. Semua kucing ini adalah peliharaannya.”
Kian Lee menghela napas. Aneh-aneh orang dunia kang-ouw ini, pikirnya. Dan setelah Ketua Pulau Neraka dan dua orang sumoinya itu muncul, tentu akan terjadi geger. Dia mengangguk lagi dan kini melesat ke luar, sebentar saja lenyap meninggalkan Hwee Li yang cemberut dikelilingi kucing-kucing itu.

INDEX KHO PING HOO
Jilid1 | Jilid2 | Jilid3 | Jilid4 | Jilid5 | Jilid6 | Jilid7 | Jilid8 | Jilid9 | Jilid10 | Jilid11 | Jilid12 | Jilid13 | Jilid14 | Jilid15 | Jilid16 | Jilid17 | Jilid18 | Jilid19 | Jilid20 | Jilid21 | Jilid22 | Jilid23 | Jilid24 | Jilid25 | Jilid26 | Jilid27 | Jilid28 | Jilid29 | Jilid30

Comments