Friday, March 13, 2009

Makam Tanpa Nisan

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

1

MATAHARI belum lama tenggelam. Namun pulau kecil di pantai barat pesisir Andalas itu telah ter­bungkus kegelapan. Kesunyian yang mencengkam dibayang-bayangi oleh deru angin laut dan debur ombak yang memecah di pasir pulau. Sesekali kunang-kunang be­terbangan di udara, sesaat menjadi titik-titik terang yang tak ada artinya lalu menghilang lenyap dan kembali ke­gelapan kelam menghantui.
Sesosok tubuh berjalan terbungkuk-bungkuk dalam ke­gelapan. Gerakan kedua kakinya enteng dan hampir tidak terdengar. Namun binatangbinatang melata yang ber­telinga tajam dan ada disekitar situ masih dapat men­dengar gerakan langkah kaki orang ini lalu cepat-cepat melarikan diri menjauh.
Di samping serumpun pohon bakau orang ini hentikan langkahnya. Telinganya dipasang tajamtajam. Kedua mata­nya memandang tak berkesip ke muka. Di depannya dalam kegelapan dia melihat, ada mata air kecil jernih, yang mem­bentuk sebuah parit dangkal. Dia mengikuti parit itu ke arah seberang sana hingga pandangan matanya tertumbuk pada akar sebuah pohon yang sangat besar.
Lama orang ini menatap pohon besar yang tegak menyeramkan sejarak dua puluh langkah dari tempatnya berdiri. Matanya memandang ke arah batang pohon yang besarnya lebih dari tiga pemelukan tangan manusia itu. Lalu dia menyeringai dan gelengkan kepala. Dari mulutnya terdengar ucapan perlahan.
"Di saat orang hendak melakukan kebaikan, menjenguk sahabat yang berpulang, masih saja ada makhluk-makhluk lain hendak berbuat kejahatan."
Orang ini kembali memandang ke arah pohon, lalu dia berseru. "Manusia dibalik pohon! Apa maksudmu sengaja sembunyi disitul Hendak menghadang dan membokong?!"
Tak ada sahutan.
Angin laut bertiup kencang. Semak-semak dan daun­daun pepohonan terdengar bergemerisik. Seekor kadal hutan melintas cepat di depan kaki orang yang tegak dekat mata air.
"Ah, dia tak mau menjawab…" kata orang yang barusan bicara. "Kalau begitu terpaksa aku harus meneruskan langkah." Dengan tangan kanannya dia mematahkan sebuah ranting kecil di samping. Lalu bertongkatkan ranting ini, orang itu meneruskan langkahnya. Melompati parit kecil di depannya. Sesaat kemudian dia telah sampai di hadapan pohon besar. Sosok tubuhnya masih saja tetap terbungkuk-bungkuk seperti tadi. Namun sepasang mata dan telinganya dipasang benar-benar.
Satu langkah dia akan melewati pohon besar, tiba-tiba laksana setan keluar dari sarangnya satu bayangan putih melompat keluar dari balik pohorl. Sebuah benda ber­bentuk tombak yang memiliki dua mata menderu ke arah kepalanya!
"Membokong adalah pekerjaan pengecut!" seru orang yang diserang. tangan kanannya yang memegang ranting digerakkan dengan sebat ke atas. Orang ini tahu sekali bahwa ranting yang dipegangnya tidak akan menang melawan tombak besi yang menghantam ke arahnya. Karena itu dia sengaja tidak mau menangkis tetapi ber­usaha memukul lengan yang memegang tombak bermata dua itu.
Si penyerang gelap rupanya tahu apa yang hendak di­perbuat lawan. Sambil menggeser kakinya dan miringkan tubuh ke kanan, tombaknya yang tadi mengemplang kini ditusukkan ke dada. Tak ada jalan lain. Mau tak mau yang diserang sekarang terpaksa pergunakan rantingnya untuk menangkis. Ranting kecil itu menyelusup ke depan, masuk di antara dua mata tombak.
Orang memegang tombak terkejut ketika merasakan bagaimana tombak besinya laksana ditahan satu kekuatan dahsyat membuatnya tidak mampu untuk mendorong walau sudah kerahkan seluruh tenaganya. Dengan nekad kalau tadi dia hanya andalkan tenaga luar, orang ini kerah­kan tenaga dalam lalu sambil mendorong dia keluarkan bentakan keras.
Kraaakkkk!
Ranting kayu berderak patah. Tapi tongkat bermata dua terpelanting ke kiri, nyaris terlepas. Si pemilik tombak mundur tiga langkah, matanya memandang ke depan, coba menembus kegelapan untuk dapat melihat wajah orang yang gagal diserangnya itu. Tapi sia-sia saja. kegelapan malam begitu pekat sehingga walau berada cukup dekat dia tidak bisa melihat wajah orang itu, apalagi mengenali­nya.
Maka diapun bertanya membentak. "Siapa di situ?!"
Jawaban yang didapatnya justru bentakan pula. "Kau yang menghadang dan menyerang! Aku yang lebih layak menanyakan siapa dirimu!"
Orang dibalik pohon keluarkan suara mendengus.
"Aku Kiyai Surah Ungu dari Banten! Katakan siapa diri­mu?!"
"Kiyai Surah Ungu dari Banten…?" mengulang orang yang masih memegang patahan ranting. "Ah… ah… ah! Bukankah kau orangnya yang bergelar Pangeran Tanpa Mahkota, yang menjauhkan diri dari Kesultanan karena tidak suka dengan kehidupan Keraton yang menurutmu menjijikkan?"
Dalam gelap berubahlah paras orang dibalik pohon. Rasa terkejut membuat dia mengeluarkan seruan tertahan.
"Kau telah mengetahui siapa diriku, lalu kau sendiri siapa adanya?!" tanya Kiyai Surah Ungu.
"Aku belum mau memberi tahu sebelum aku men­dengar apa keperluanmu jauh-jauh datang ke pulau terpencil ini!"
"Kau keliwat mendesak. Tapi tak jadi apa karena kau ada di atas angin. Aku kemari untuk melayat seorang kawan yang kabarnya meninggal beberapa waktu lalu dan dimakamkan di pulau ini! Nah aku sudah mengatakan yang sebetulnya padamu, sekarang giliranmu memberi tahu siapa dirimu dan apa pula keperluanmu gentayangan di tempat ini!"
Orang yang ditanya tertawa pendek. "Belum…. Belum Kiyai. Aku belum akan menjawab pertanyaanmu. Masih ads pertanyaan-pertanyaan lain yang perlu kuajukan…. ‘
"Kau membuat aku jadi jengkel dan marah! Apa kau kira diriku ini seorang pesakitan yang tengah diperiksa dan perlu ditanyai segala-galanya?!"
"Jangan cepat jengkel, apalagi marah Kiyai Surah Ungu. Di malam yang gelap begini dimana kita tidak dapat melihat wajah satu sama lain, tipu menipu bisa saja terjadi!"
"Apa maksudmu dengan kata-kata itu?!" tanya Kiyai Surah Ungu.
""Lupakan saja ucapanku tadi. Aku ingin tahu siapa sahabat yang kau katakan meninggal dan dimakamkan di pulau ini…"
"Kau pasti kenal. Dia seorang tokoh silat nomor satu di kawasan Andalas ini, Pernah membuat nama besar dan menggegerkan seantero tanah Jawa beberapa puluh tahun lalu. Dia pernah menyandang gelar Pendekar Gila Patah Hati. Adapula yang memberinya julukan Iblis Gila Pencabut Jiwa. Namun di kalangan golongan putih dia lebih dikenal dengan panggilan Si Tua Gila. Nah sekarang apakah kau sudah puas atau masih hendak merahasiakan dirimu sendiri?!"
"Ah, rupanya kita mempunyai tujuan yang sama!"
Kiyai Surah Ungu merasa heran. Tujuan yang sama belum tentu berarti hati yang sama! ""Katakan apa maksudmu…?"
"Aku merasa kau ikuti sejak aku menjejakkan kaki di pulau ini. Kecurigaan membuatku sengaja menghadangmu di balik pohon ini. "
"Begitu…?" Orang itu batuk-batuk beberapa kali.
"Kita ternyata adalah dua sahabat lama yang puluhan tahun tak pernah bertemul"
Kiyai Surah Ungu maju dua langkah.
"Aku memang rasa-rasa pernah mendengar suaramu. Rasa-rasa mengenali. Tapi…Ah! Otakku sudah agak pikun. Sulit bagiku menerka kalau kau tidak segera memberi tahu slapa dirimul"
"Aku Ramadi Watampone dari Bugis!"
"Astaga! Betul kiranya aku berhadapan dengan kawan sendiri! Bukankah kau yang di timur dikenal dengan nama besar Pendekar Badik Emas?!"
Orang yang mengaku bernama Ramadi Watampone tertawa perlahan. "Ulah manusia memang banyak, aku kebagian menerima ulah dalam bentuk gelar seperti itu!"
Kiyai Surah Ungu sisipkan tombak pendeknya di pinggang. Dia menyalami Ramadi Watampone. Kedua orang ini kemudian malah saling berangkulan.
"Puluhan tahun tidak bertemu. Sekali bertemu di tempat gelap di pulau terpencil begini! Siapa yang tidak saling curiga!" kata Kiyai dari Banten itu. "Nah, kukira kehadiranmu disini tentulah juga untuk melayat sahabat yang mendahului kita."
"Kau betul Kiyai Surah. Hanya sayang, kita sama-sama tidak sempat melihat wajah Tua Gila penghabisan kali sebelum dikubur…"
"Ada baiknya kita segera sama-sama menuju ke makam sahabat kita itu. Biar aku berjalan duluan…"
"Kalau begitu aku mengikuti dari belakang," kata Ramadi Watampone.
Dalam gelap kedua orang yang sama-sama berusia hampir tujuh puluh tahun itu berjalan beriringan menuju bagian pulau sebelah timur. Tak berapa lama kemudian mereka keluar dari kerapatan pepohonan dan sampai pada sebuah lapangan kecil yang dikelitingi oleh batu-batu karang runcing diseling oleh batu-batu cadas membentuk dinding setengah lingkaran.
Karena tempat ini agak terbuka maka kepekatan malam masih bisa ditembus pandangan mata. Di ujung depan, di sebelah tengah lapangan tampak dua gundukan tanah kuburan yang masih merah.
Dari dua makam itu hanya satu yang memiliki batu nisan.
Kiyai Surah Ungu dan Ramadi Watampone melangkah ke arah makam namun di tengah lapangan langkah kedua orang ini mendadak tertahan. Ada dua sosok tubuh meng­geletak tak berapa jauh dari makam. Ketika diperiksa keduanya ternyata tidak bernyawa lagi. Wajah mereka ter­tutup darah yang mulai mengering. Pada kening masing­masing kelihatan sebuah lobang sebesar kuku ibu jari. Dari lobang inilah darah sebelumnya mengucur.
"Kiyai Surah… Kau mengenali siapa adanya mayat­mayat ini?!"
Yang ditanya menggeleng. Malah balik bertanya "Kau…?"
"Tak pernah kulihat wajah keduanya sebelumnya. Tapi dari dandanan mereka pasti yang seorang dari dunia per­silatan dan satu lagi yang masih menggenggam keris seperti orang bangsawan. Mungkin juga pejabat dari sebuah kerajaan…"
Kiyai Surah mengambil keris dari genggaman mayat. Meneliti badan dan hulu senjata itu lalu berkata, "Gagang keris menunjukkan senjata ini berasal dari Istana Gading di selatan…"
"Kita menghadapi satu peristiwa pembunuhan, Kiyai!" kata Ramadi Watampone alias Pendekar Badik Emas.
"Itulah yang ada dibenakku…" jawab Kiayi Surah Ungu seraya memandang berkeliling. Hanya pepohonan dan batu-batu cadas serta batu-batu karang yang tampak menghitam dalam kegelapan.
"Sulit, dipercaya, pada saat kita hendak menyambangi makam seorang sahabat, tahu-tahu dihadapkan pada peristiwa seperti ini. Siapa yang dibunuh dan siapa yang membunuh?’
Ramadi Watampone memegang tubuh salah satu mayat lalu berkata, "Meski darah di mukanya mulai mengering tapi tubuhnya masih agak hangat. Pertanda orang ini belum lama menemui kematian…"
"Jangan-jangan pembunuhnya masih berada di sekitar sini… " ujar Kiyai Surah lalu memandang berkeliling sekali lagi. Kemudian dia berpaling pada Ramadi dan berkata, "Sahabatku, ingat waktu kukatakan padamu ada sese-orang yang mengikutiku sejak aku menjejakkan kaki di pulau ini? Aku tadinya menduga kau yang menguntit. Sekarang aku punya dugaan lain. Mungkin sekali pem­bunuh itulah yang mengikutiku…!"

***

2

Untuk beberapa lamanya kedua orang tua itu sama­sama jongkok dan saling pandang dengan perasaan tidak enak. "Aku punya firasat ada orang lain tengah memperhatikan gerak gerik kita saat ini…" berbisik Kiayi Surah Ungu.
Ramadi Watampone jadi merasa tidak enak mendengar kata-kata itu. Tengkuknya seperti dihembus angin dingin. Setelah berdiam sesaat dia lalu berkata, "Apapun yang terjadi di tempat ini harus kita lupakan dulu. Maksud utama kita kemari adalah untuk berziarah melihat makam sahabat kita Tua Gila. Mari kita ke makam sana …"
"Tunggu dulu sahabat," berkata Kiyai Surah seraya me­megang lengan Ramadi. "Kalau kita berada di makam, punggung kita harus membelakangi dinding batu-batu cadas dan batu-batu karang. Dengan begitu kita tak mungkin dibokong orang. Siapapun yang hendak mem­bunuh kita pasti akan muncul di arah depan…"
"Kau betul. Kita harus berhati-hati…" kata Ramadi pula. "Sebaiknya melangkah mundur."
Kedua orang itu kemudian mendekati dua buah makam dan melangkah mundur dalarn gelap. Begitu sampai keduanya mengambil kedudukan di belakang batu nisan. Mereka memperhatikan keadaan sekeliling beberapa saat.
"Aneh…" kata Ramadi Watampone. "Mengapa ada dua makam di tempat ini?"
"Keanehan itu sudah kupertanyakan dalam hati sejak pertama kali aku melihat dua makam ini tadi," menyahuti Kiyai Surah Ungu. "Yang satu ada nisannya. Terbuat dari batu hitam. Di sini digurat nama Tua Gila. Tapi makam satu di sebelahnya ini sama sekali tidak memiliki batu nisan…"
"Apakah sahabat kita Tua Gila mempunyai istri?" tanya Ramadi Watampone.
Kiayl Surah menggeleng. "Setahuku kakek-kakek itu tak pernah punya istri… Kalaupun ini makam istrinya, lalu mengapa tidak ada batu nisannya?"
"Hemmm, sulit diduga makam siapa yang satu ini," berkata Pendekar Badik Emas.
"Ada satu keanehan lagi…" ujar Kiyai Surah.
"Apa?"
"Kedua kuburan ini sama-sama masih merah tanahnya. Berarti siapapun yang dimakamkan di dua kubur ini waktunya tidak berbeda banyak …"
"Kau benar," kata Ramadi dan hatinya merasa tidak enak. lalu setengah berbisik dia bertanya: "Apakah kau mencium bau sesuatu…?"
Kiayi Surah Ungu menatap Ramadi sesaat lalu meng­hirup udara malam dalam-dalam, coba membaui sesuatu yang dimaksudkan Ramadi Watampone.
"Memang ada bau sesuatu. Tapi sulit kuterka bau apa…" kata sang Kiayi kemudian. "Bau apa yang tercium oleh hidungmu, Pendekar Badik Emas?"
"Seperti bau asap…" jawab Ramadi pula. "Baunya ada tapi bentuknya tidak kelihatan."
"Sudahlah. Mari kita membaca doa dan apa saja untuk almarhum sahabat kita Tua Gila. Mudahmudahan dia di­berikan tempat yang paling baik oleh Yang Maha Kuasa."
Ramadi mengangguk. Kedua orang tua itu lalu mem­baca berbagai surat suci dan memanjatkan doa panjang bag! Tua Gila. Menjelang dini hari baru mereka selesai. Ramadi Watampone memandang pada sang Kiyai lalu ber­tanya apa yang akan mereka lakukan sekarang.
"Sesudah menengok makam Tua Gila sebenarnya kita bisa saja segera meninggalkan pulau ini. Tetapi tidak pantas rasanya kalau kita tidak mengurusi jenazah kedua orang ini…" berkata Kiyai Surah.
"Kalau begitu kita terpaksa menunggu sampai pagi."
"Kita tidak punya peralatan cukup untuk menggali kubur dan menanam jenazah mereka. Aku punya cara yang lebih gampang. Kita memanggul masing-masing seorang dari keduanya. Membawanya ke atas perahu. Lalu membuang­nya di tengah lautan. Itu lebih balk dari pada meninggalkan mereka membusuk atau dirusak binatang di tempat ini."
Baru saja Kiyai Surah berkata begitu tiba-tiba dikejauh­an terdengar suara raungan anjing, panjang meng­gidikkan.
Kiyai Surah merapatkan kerah jubahnya. "Aneh… Di pulau seperti ini ada anjing..:" katanya.
"Makin lama berada di pulau ini semakin tidak enak perasaanku," berucap Ramadi Watampone berterus-terang. "Kita berangkat sekarang?"
Kiyai Surah mengangguk.
Kedua orang itu lalu membungkuk, untuk memanggul masing-masing satu jenazah. Namun belum sempat mereka menyentuh tubuh-tubuh tak bernyawa itu tiba-tiba keduanya merasa ada seseorang bergerak di belakang mereka.
Kiyai Surah dan Ramadi Watampone segera membalik. Keduanya sama melengak kaget. Hanya delapan langkah di hadapan mereka tegak sesosok tubuh tinggi besar. Selain pakaian warna kuning yang dikenakannya, orang ini juga bermantel hitam dalam sebatas lutut. Wajahnya ter­lindung oleh kepekatan malam hingga tak bisa dikenali. Di kepalanya bertengger sebuah topi tinggi
"Hati-hati… Mungkin sekali kita tengah berhadapan dengan pembunuh kedua orang itu, Ramadi …" bisik Kiyai Surah.
"Aku malah memastikan orang di depan kita ini pem­bunuh kedua orang ini," sahut Ramadi Watampone. Lalu tangannya digeser ke letak dimana senjatanya terselip yaitu sebilah badik berbadan dan bergagang emas.
Kiyai Surah Ungu melakukan hal yang sama. Berjaga­jaga dengan mendekatkan tangan kanannya pada tombak bermata dua yang tersisip di pinggangnya.
"Kalian mau bawa ke mana dua mayat itu?!" Tiba-tiba sosok yang tegak di depan sana bertanya.
Suaranya garang dan keras.
"Kami bermaksud mengurus jenazah-jenazah ini. Mem­buangnya di tengah laut," menjawab Kiyai Surah.
"Kalian tidak akan sempat melakukan itu!" Orang tinggi besar berkata.
"Kenapa tidak?!" tanya Ramadi Watampone.
"Karena kutuk telah jatuh terhadap siapa saja yang menjejakkan kaki di pulau ini. terhadap siapa saja yang Menziarahi makam Tua Gila! Dalam beberapa saat kalian berdua akan menemui kematian seperti kedua orang itu!"
Terkejutlah Kiyal Surah dan Pendekar Badik Emas.
"Jadi kau yang membunuh kedua orang itu?!" tanya Kiyai Surah puia. Tangannya telah memegang batang tombak erat-erat.
"Kamu sudah tahu kenapa bertanya?!"
"Katakan siapa kau adanya!" tanya Ramadi.
"Kalian tak layak bertanya! Manusia-manusia sahabat Tua Gila sudah kusumpah untuk mati di tempat inil Di depan makam Tua Gila sendiri!"
"Kita tidak bersilang sengketa, mengapa menginginkan jiwa kami?!" tanya Kiyai Surah.
Si tinggi tertawa pendek. "Kematian memang tidak selalu disebabkan oleh silang sengketa. Tetapi Tua Gila telah menanam bahala dan silang sengketa beberapa tahun yang silam. Dan aku telah bersumpah siapa saja sahabat Tua Gila yang muncul di sini akan kuhabisi nyawa­nya. Termasuk kalian berdua!"
Sehabis berkata begitu orang tinggi besar itu melompat ke depan. Kedua tangannya membuat gerakan aneh dan menimbulkan angin deras. Kedua kakinya yang melompat menimbulkan getaran sewaktu menjejak di tanah.
Kiyai Surah dan Ramadi yang sejak tadi memang sudah berjaga-jaga cepat menghindar ke samping. Dari kiri kanan mereka lalu balas menyerang.
Tapi angin yang menyambar dari kedua tangan orang tinggi besar itu membuat dua orang tua ini terhuyung­huyung.
Pendekar Badik Emas dan Kiyai Surah Ungu serta merta kerahkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki lalu menghantam secara bersamaan.
Orang yang diserang jadi terkejut juga. Dari mulutnya keluar suara seperti menggereng. Kernbali kedua tangan­nya bergerak untuk menangkis serangan kedua lawannya.
Bukkk!
Bukkk!
Terdengar dua kali suara bergedebuk begitu tangan masing-masing beradu keras. Kiyai Surah Ungu terpental empat langkah. Lengannya seperti dihantam potongan besi. Paras sang Kiyai berubah pucat. Pendekar Badik Emas mengalami hal yang sama. Tubuhnya mencelat tiga langkah dan dari mulutnya terdengar seruan kesakitan.
Si tinggi besar tertawa bergelak.
"Aku senang melihat manusia-manusia seperti kalian. Walau ilmu kepandaian cuma sejengkal tapi berani me­nantang!"
Bukan main panasnya hati Kiayi Surah Ungu dan Pendekar Badik Emas. Mereka telah mendalami ilmu silat, tenaga dalam bahkan kesaktian selama bertahun-tahun.
Dalam dunia persilatan mereka dihormati dan menjadi dua tokoh yang disegani. Kini seorang tak dikenal enak saja mengejek kepandaian mereka!
"Manusia sombong! Lekas beri tahu siapa kau sebenar­nya?!" membentak Ramadi Watampone alias Pendekar Badik Emas.
Yang dibentak malah tertawa.
"Bukankah kau manusianya yang bergelar Pendekar Badik Emas dan kawanmu itu Si Pangeran Tanpa Mahkota?"
Kiyai Surah Ungu dan Ramadi Watampone sama-sama terkesiap mendengar kata-kata itu. Dan si tinggi besar me­lanjutkan kata-katanya.
"Memandang nama besar kalian, aku memberi ke­longgaran memperpanjang sedikit seat kematian kalian. Kalian berdua kupersilahkan mengeluarkan senjata masing-masing. Perlihatkan Tombak Dwi Sula-mu Kiyai Surah Ungu. Dan kau Pendekar Badik Emas, bukankah kau datang dari jauh? Sangat sayang kalau aku sampai tidak melihat senjata mustikamu. Tunjukkan padaku kehebatan badik emasmu!"
Dua orang tua kembali terkesiap karena orang yang tidak mereka kenal itu ternyata tahu banyak tentang diri mereka, termasuk senjata-senjata yang mereka miliki. Namun merasa diejek dan dianggap remeh bahkan ditantang maka baik Kiyai Surah maupun Pendekar Badik Emas ini tidak merasa sungkan lagi.
Keduanya keluarkan senjata masing-masing. Sesaat kemudian sebilah badik emas sudah tergenggam di tangan Ramadi Watampone yang bergelar Pendekar Badik Emas sedang sebatang tombak bermata dua tampak menyilang di depan dada Kiayi Surah Ungu yang dijuluki Pangeran Tanpa Mahkota.
"Bagus…! Kalian boleh maju berbarengan!"
Dua orang tua itu menunggu sesaat. Ketika si tinggi besar tidak tampak mengeluarkan senjatanya maka kedua orang itupun serta merta menyerbu. Badik emas berkiblat menaburkan sinar kekuning-kuningan dalam kegelapan malam. Tombak Dwi Sula menderu mencari sasaran di tenggorokan lawan.
Serangan dua tokoh silat kelas tinggi itu bukan serangan main-main. Siapapun lawan pastilah nyawanya akan sangat terancam jika diserang demikian rupa. Tapi lagi-lagi si tinggi besar keluarkan suara tertawa. Lalu dia gerakkan tangannya kiri kanan.
Dua benda hitam sebesar ujung jari kelingking ber­bentuk bulat melesat dalam kegelapan malam. Baik Kiyai Surah Ungu maupun Ramadi Watampone hanya men­dengar suara berdesing tapi tidak melihat bendanya.
Ketika mereka kemudian menyadari ada benda yang melesat ke arah mereka, Kiyai Surah sapukan tombak ber­mata duanya ke atas. Ramadi Watampone babatkan badik­nya di udara. Namun gerakan kedua orang ini sudah sangat terlambat.
Di lain kejap terdengar jeritan mereka merobek kegelapan malam hampir bersamaan.
Tubuh kedua jago tua ini terkapar di tanah di hadapan dua buah makam. Satu di belakang makam Tua Gila, satunya di belakang makam tanpa nisan! Keduanya menemui ajal dengan mata membeliak!
Di kening masing-masing tampak sebuah lubang mengerikan sebesar ujung ibu jari tangan. Dari lubang ini mengalir keluar darah yang segera saja membasahi wajah dan mata mereka!
Begitu kedua orang itu meregang nyawa sosok tinggi tadi menyelinap dan lenyap di celah antara batu karang dan batu cadasl Tak lama kemudian dikejauhan kembali ter-dengar suara panjang lolongan anjing.
Angin malam bertiup tambah keras dan tambah dingin. Ombak di pantai pulau berdebar semakin keras.

***

3

PUNCAK Gunung Singgalang disaput awan kelabu sejak pagi. Semakin lama awan kelabu ini semakin tebal dan akhirnya membuat suasana mendung menutupi daerah luas sekitar gunung. Namun sampai siang hujan tak kunjung turun.
Di lereng barat Gunung Singgalang, seorang tua duduk termenung di ruang depan rumah kayu berkolong tinggi. Di halaman seorang lelaki tengah asyik membakar seekor ikan besar sambil menyanyi dan sekali-kali melirik ke arah orang tua di atas rumah. Bau sedap ikan panggang ini menebar kemana-mana.
Orang yang membakar ikan untuk kesekian kalinya me­mandang ke arah orang tua di atas rumah. Dalam hatinya dia berkata, "Kasihan orang tua Itu. Sulit diduga sudah berapa tahun uslanya. Kelihatannya dia sudah pasrah untuk meninggalkan dunia. Tapi Yang Kuasa masih belum Jugs mengutus mataikat maut…"
Bagi orang yang baru pertama kali melihat orang tua di atas rumah, mungkin bisa serasa terbang nyawanya oleh rasa takut. Tapi si pembakar ikan yang sudah bertahun­tahun tinggal bersamanya menjadi kawan dan pembantu, tidak lagi merasa ngeri melihat wajah itu.
Wajah dan keadaan tubuh orang tua tersebut memang menyeramkan untuk dipandang. Mukanya pucat berkerut dan sangat cekung. Kedua matanya hanya merupakan sepasang rongga besar yang menggidikan. Salah satu telinganya sumplung. Dimulutnya tak sepotong gigipun bersisa. Kedua tangannya kiri kanan buntung sebatas per­gelangan.
"Saringgih…." tiba-tiba terdengar suara orang tua itu. Halus melengking.
"Ambo Nyanyuk…" menyahuti lelaki yang membakar Man. Dia berhenti mengipas bara api pemanggang ikan.
"Akan lamakah pekerjaanmu itu selesai?"
"Ah, Nyanyuk sudah lapar sekali rupanya!" Orang tua bermata seperti setan gelengkan kepala.
"Aku belum ingin makan Saringgih. Ada sesuatu yang aku pikirkan."
"Ah, pantas sejak tadi ambo lihat Nyanyuk duduk termenung- menung:
"Aku merasa kita harus segera meninggalkan Gunung Singgalang ini."
Singgih tercenung mendengar ucapan orang tua itu. Kipas bambu diletakkannya di tanah lalu die melangkah ke dekat tangga. "Angan-angan apa yang ada di pikiran Nyanyuk?"
"Nyanyuk Amber tidak pernah berangan-angan. Aku mendapat firasat yang tidak enak. Juga ada isyarat mimpi yang kuterima malam tadi…" Jawab orang tua itu sementara angin meniup-niup rambutnya yang putih jarang.
"Kalau begitu ceritakanlah pada ambo mimpi Nyanyuk itu," kata Saringgih lalu menaiki tangga dan duduk di hadapan orang tua bernama Nyanyuk Amber.
"Malam tadi aku mimpi melihat udara hitam kelam di pantai pulau ini. Paginya ketika aku terjaga entah mengapa aku tiba-tiba saja teringat pada seorang sahabat lama yang tinggal di sebuah pulau di barat Andalas. Aku berpikir, jangan-jangan ada sesuatu terjadi atas dirinya. Usianya lebih tua dariku. Sudah sakit-sakitan. Sejak beberapa tahun berselang aku tidak pernah mendengar kabar berita­nya. Kau sendiri sudah beberapa lama tidak pernah turun gunung untuk menyirap kabar dan segala kejadian yang ada di luaran. Aku khawatir kalau-kalau sesuatu terjadi atas dirinya…"
"Jalan pikiran Nyanyuk selama ini biasanya tidak pernah meleset," kata Saringgih. "Jadi akan berangkatkah kita hari ini, Nyanyuk?"
"Tidak… Tidak hari ini Saringgih, Tapi sekarang!"
"Sekarang Nyanyuk? Ah, kenapa secepat itu?"
"Kau tahu perjsianan ke sana sangat jauh. Kau harus membawaku melalul perjalanan darat paling tidak selama dua hari: Lalu mengarungi laut hari. Kalau keberangkatan ditunda-tunda, kapan akan sampainya di sana Saringgih?’
"Kalau begitu Nyanyuk bilang, ambo hanya mengikut saja. Tapi biar saya selesaikan panggangan ikan Itu. Kita makan dulu baru berangkat. Begitu kan Nyanyuk?"
"Tidak, tidak begitu Saringgih. Ikan bakarmu sudah cukup matang. Bungkus dan kita makan di perjalanan…"
Saringgih ternganga, garuk-garuk kepala namun akhir­nya hanya bisa mengangkat bahu.
"Selesal kau membungkus ikan itu, siapkan jubah hitamku Saringgih," terdengar Nyanyuk Amber berkata.
"Jubah hitam katamu Nyanyuk?"
"Kau sudah dengar dan aku tidak perlu mengatakannya sampai dua kaIi!"
"Agaknya kita akan menghadapi urusan besar lagi kali ini Nyanyuk?" tanya Saringgih.
"Betul. Urusan besar. Mungkin sangat besar dalam hidupku. Karenanya kau juga kupinta menyiapkan diri dengan kerismu yang bernama Pusaka Dewa itu…"
"Balk Nyanyuk, saya akan membungkus ikan bakar itu. Menyiapkan baju hitammu dan membekal keris Pusako Dewa." Lalu Saringgih bergegas menuruni tangga. Dengan selembar daun pisang dibungkusnya ikan besar yang barusan dibakarnya.
Lalu dia naik atas rumah, masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sebilah keris. Setelah Itu dia masuk ke dalam kamar Tdyanyuk Amber dan mengambil sehelai baju hitam lengan panjang terbuat dari kain sangat tebai. Baju yang berupa jubah pendekar ini dikenakannya ke tubuh Nyanyuk Amber.
Pada bagian bahu kiri kanan baju hitam ini terdapat se­buah saku. Dan pada masing-masing saku tersisip selusin senjata berbentuk anak panah kecil sepanjang seterrgah jengkal, terbuat dari perak putih.
"Kau sudah siap Saringgih?"
"Siap Nyanyuk?"
"Tak ada yang ketinggalan?"
Saringgih berpikir sejenak lalu menjawab. "Rasanya tidak ada Nyanyuk."
"Bagus kalau begitu. Jangan lupa ikan bakarmu. Bisa­bisa kita kelaparan di tengah jalan."
Saringgih mengangguk lalu jongkok di hadapan orang tua yang sejak tadi duduk saja di lantai. Ketika si pem­bantu ini mendukung Nyanyuk Amber di punggungnya kelihatanlah kini keadaan tubuhnya di sebelah sepasang tangan buntung tetapi kedua kakinyapun juga bunting!
Siapakah sebenarnya orang tua yang memiliki banyak cacat ini?

Nyanyuk Amber adalah salah satu dari beberapa tokoh silat tingkat tinggi yang paling disegani di pulau Andalas. Dia memiliki seorang murid yang kemudian dijuluki Raja Rencong Dari Utara. Celakanya sang murid tergoda oleh nafsu hendak menguasai dunia persilatan. Cara yang ditempuhnya adalah sesat dan keji yaitu mengundang semua tokoh persilatan di pulau Andalas untuk datang ke tempat kediamannya, lalu membunuh mereka secara masal!
Sebagaf seorang guru tentu saja Nyanyuk Amber meng­halangi maksud jahat muridnya itu. Ternyata kesetanan Raja Rencong sudah sedemikian jauhnya sehingga dia kemudlan tega membuat buta kedua mata Nyanyuk Amber, memotong tangan dan kaki orang tua itu. Meskipun dalam usia tua dan tidak berdaya seperti itu, namun kemudian Nyanyuk Amber bersama-sama Pendekar 212 Wiro Sableng berhasil menumpas dan menamatkan riwayat Raja Rencong Dad Utara. (Baca serial Wiro Sableng berjudul Raja Rencong Dari Utara).
Setelah dua hari menempuh perjalanan darat akhirnya Saringgih dan Nyanyuk Amber sampai di pantal barat pulau Andalas. Saringgih segera mencarl perahu yang bisa meng­angkut mereka ke tempat tujuan yaitu sebuah pulau tak jauh dari pesisir barat. Tapi ternyata tak ada seorang pemilik perahupun yang mau mengantarkan mereka.
"Aneh!" kata Nyanyuk Amber. "Apakah mereka takut melihat tampangku atau mungkin pemilik perahu itu sudah kebanyakan uang sehingga tak mau lagi bekerja. Saringgih, kau tahu mengapa mereka tidak mau mengantarkan kita ke pulau?"
"Mereka tidak mau mengatakan, Nyanyuk. Tapi dari gelagat ambo kira orang-orang itu merasa kawatir…" jawab Saringgih.
"Apa yang mereka kawatirkan? Temui salah seorang dari mereka. Katakan kita akan membayar dua kali lipat."
"Ambo justru menjanjikan bayaran tiga kali lipat Nyanyuk. Tapi semua mereka tetap menggeleng."
"Kalau begitu kita sewa perahu saja dan. Kau terpaksa jadi tukang kayuh,"
"Ambo tak keberatan Nyanyuk. Cuma disewapun mereka tidak mau!"
"Kapuyuak!" mengomel Nyanyuk Amber. "Apa pun alasan mereka kali ini?"
"Salah seorang memberitahu, ada empat kawan mereka yang telah menyewakan perahu. Tujuan para penyewa itu sama dengan tujuan kita yaitu ke pulau. Tapi sampal hari ini keempat penyewa itu tak pernah kembali. Perahu mereka itu lenyap! Orangorang di pantai menduga keras ada malapetaka yang telah menimpa keempat penyewa perahu itu!"
Nyanyuk Amber yang didudukkan Saringgih di bawah se­batang pohon tampak termenung sambil mengusap-usap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis putih.
"Mereka tak mau mengantar, Mereka juga tak mau kita sewa perahu mereka. Sudah, kalau begitu kita beli saja satu! Habis perkaral Bukankah kau cukup membawa uang, Saringgih?"
"Kira-kira begitu. Tapi seandainya tidak cukup bagai­mana Nyanyuk?"
"Mudah saja! Gadaikan keris Pusako Dewa milikmu!" sahut Nyanyuk Amber.
"Apa…? Ini bukan senjata sembarangan Nyanyuk. Tapi senjata pusaka tujuh turunan. Dan Nyanyuk sendiri sudah ikut menambahkan tuahnya!"
"Kita dalam kesulitan Saringgih. Kau boleh pilih. Gadai­kan keris itu atau kau gadaikan kepalamu…" habis berkata begitu Nysnyuk Amber tertawa terkekeh-kekeh hingga kelihatan gusinya yang tidak bergigi sama sekali.
Saringgih geleng-geleng kepala. Dia menggaruk seluruh saku pakaiannya, mengambii semua uang yang dibawanya Ialu menghitung.
"Mudah-mudahan uang ini cukup. Dari pada menggadai­kan keris atau kepala! Bagusnya si tua ini saja yang di­gadaikan! Tapi… siapa pula yang mau menerima kepala setan itu…!" kata Saringgih mengomel sendirian.
"Kepala si tua siapa yang kau maksudkan itu Saringgih?" Rupanya ucapan pembantunya tadi terdengar oleh Nyanyuk Amber.
"Ah, tidak. Anu Nyanyuk. Bukan kepala siapa-siapa. Tapi kepala ambo yang dibawa…" jawab Saringgih lalu cepat­cepat meninggalkan tempat itu sambil tersenyum-senyum.

***

4

Menjelang matahari tenggelam perahu yang di­dayung Saringgih sampal di pulau tujuan. Di bagian air lout yang dangkal pembantu itu melompat turun lalu mendorong perahu ke pasir pantai.
"Kita sudah sampai Nyanyuk… "
"Aku tahu. Apa yang kau lihat sekitar tempat ini, Saringgih?"
Si pembantu memandang berkeliling. "Laut, pantai, sang surya yang hendak tenggelam, pepohonan, batu-batu karang…"
"Hanya itu…?!" ujar Nyanyuk Amber. "Kedua mataku tidak melihat karena buta. Tapi kau tidak melihat sesuatu yang penting dan kau tidak buta! Jangan tolol Saringgih! Buka matamu lebar-lebar!"
Saringgih memandang lagi berkeliling. "Ah, orang tua ini memang benar, mengapa aku sampai tidak melihatnya tadi," kata pembantu itu dalam hati. "Saya memang melihat sesuatu Nyanyuk. Ada tiga… Tidak… Bukan tiga tapi ada empat buah perahu kecil jauh di sebelah sana…"
Nyanyuk Amber usap-usap dagunya. "Ada empat perahu di pantai sini. Berarti keempat penyewa perahu itu memang telah sampal di sini. Tapi tak pernah kembali ke pulau besar. Mereka raib secara aneh."
"Kita perlu berhati-hati Nyanyuk…"
"Betul. Karena itu buka matamu lebar-lebar. Apakah kau ada melihat jejak-jejak kaki di pasir pantai?"
"Tak dapat saya pastikan Nyanyuk. Kita harus me­nyelidiki ke dekat empat perahu itu…"
"Dukung aku ke sana!"
Saringgih lalu mendukung Nyanyuk Amber di punggung­nya melangkah ke tempat empat perahu yang berada di tempat pasir pulau.
"Nah sekarang katakan apa yang kau lihat!"
"Ada empat perahu di bagian pulau ini, Nyanyuk. Yang dua di depan kita, dua lainnya tak jauh di sebelah sana."
"Berarti, dua perahu yang pertama datang bersamaan. Dua perahu lainnya berbeda waktu… Apa lagi Saringgih?"
"Di atas pasir memang kelihatan ada legukan-legukan. Tapi tidak begitu jelas apakah bekas jejak manusia atau jejak kaki binatang…"
Nyanyuk Amber mengangguk. Dia mendongak ke langit beberapa saat. Hidungnya menghirup udara laut dalam­dalam. Tercium udara yang mengandung garam. Namun indera yang tajam dari orang tua ini juga membaui sesuatu. Dia berpaling ke deretan pohon-pohon lalu barkata, "Kita masuk ke dalam pulau Saringgih. Melangkah saja lurus­lurus ke depan. Jangan membelok. Jangan berhenti sebelum aku memberi tanda…"
"Tidakkah sebaiknya kita makan dulu di sini Nyanyuk? Persediaan makanan kita masih banyak…"
"Pikiranmu tidak lain ke perut saja Saringgih. Dasar gadang lambuang! kau boleh makan sambil mendukung­ku!" kata Nyanyuk Amber pula.
Makin jauh mereka masuk ke dalam pulau kecil itu semakin berkurang kencangnya tiupan angin laut. Udara pun tidak mengandung garam lagi. Namun ada sesuatu yang mencucuk liang hidung dan rongga pernafasan kedua orang itu.
"Kau mencium bau sesuatu Saringgih?" bertanya Nyanyuk Amber.
"Betul Nyanyuk. Bau busuk… " jawab si pembantu. Saat itu sebenarnya dia sudah keletihan mendukung orang tua itu di punggungnya tapi dia tak berani mengatakan.
"Bau busuk yang berasal dari apa menurutmu Saring­gih?" bertanya lagi Nyanyuk Amber.
"Sulit diterka, Nyanyuk. Mungkin itu berasal dari bang­kai binatang…"
"Kau betul," berkata Nyanyuk Amber. "Itu memang bau bangkai binatang. Binatang berkaki dua!"
"Maksud Nyanyuk…?"
"Maksudku adalah bau bangkai manusia! Kau tahu, bangkai manusia adalah yang paling busuk dari segala bangkai yang ada di dunia ini!"
Saringgih hentikan langkahnya.
"Jangan-jangan itu adalah bangkai orang-orang yang menyewa perahu…"
"Kukira begitu. Jalan terus Saringgih. Kita akan segera melihat sesuatu. Agaknya hari mulai gelap. Buka matamu lebar-lebar. Jangan sampai terserandung. Aku tak mau ter­sungkur ke tanah karena ketololanmu!"
Saringgih melangkah terus sambil mendukung si orang tua di punggungnya. Dia melewati sebuah mata air jernih dan sejuk. Tenggorokannya yang kering membuat dia ingin sekali berhenti sebentar, meneguk air membasahi rangkungan dan juga membasahi mukanya yang saat itu terasa tebal akibat seharian penuh disapu angin laut.
"Jalan terus Saringgih! Kalau aku tidak bilang berhenti, jangan berani berhenti!"
Terdengar suara Nyanyuk Amber dekat telinga Saring­gih. Pembantu ini diam-diam mengomel dalam hati. "Orang tua ini seperti bisa membaca apa yang ada dalam benak­ku!"
Melanjutkan perjalanan di sela-sela pepohonan dan semak belukar sekitar seratus langkah lebih di mana bau busuk tercium semakin santar sementara keadaan tambah gelap, mendadak sontak Saringgih hentikan langkahnya. Orang tua yang dipunggungnya hampir terlepas dari pegangannya.
"Saringgih! Kau berhenti melangkah tanpa perintahku! Dadamu berdebar keras. Kedua lututmu terasa goyah. Kudukmu terasa dingin. Apa yang kau lihat di depan matamu?!" Nyanyuk Amber cepat ajukan pertanyaan.
Saat itu memang Saringgih merasakan jantungnya ber­debar keras, sepasang lutut goyah dan tengkuk, merinding dingin sedang sepasang matanya membeliak kasar. Dia hendak menjawab namun sesaat lidahnya terasa kelu.
"Cepat katakan apa yang kau lihat Saringgih! Keselamatan kita di tempat asing ini banyak tergantung dari cepat lambatnya kau memberi tahu aku!"
"Nyanyuk… di depan kita ada lapangan kecil…"
"Kantuik! Persetan dengan tanah lapang itu! Pasti ada hal lain yang lebih penting dari tanah lapang sialan itu!"
"Kau… kau benar Nyanyuk. Di ujung lapangan ada dua buah kuburan. Satu pakai batu nisan hitam, satunya tidak. Tapi… di samping kiri dan kanan kedua makam itu ada masing-masing lima tiang kayu. Pada empat tiang, dua di kiri dua di kanan terikat sesosok mayat. Rusak, busuk, mulai berbelatungan…"
"Ada yang kau kenali diantara keempat mayat itu?"
"Sulit Nyanyuk. Wajah mereka tertutup darah mengering dan sudah sangat rusak..:"
"Melangkah lebih dekat. Perhatikan apa yang me­nyebabkan kematian mereka. Diracun, ditusuk senjata tajam atau terkena pukulan sakti…"
Sambil mendukung Nyanyuk Amber, Saringgih me­langkah lebih dekat ke arah kedua makam. Dibukanya matanya besar-besar. Selain sulit untuk meneliti sebab kematian keempat orang diikat tegak ketiang kayu itu, juga saat itu hari bertambah gelap.
"Keempat orang ini agaknya menemui kematian dalam cara yang sama Nyanyuk. Muka mereka bersimbah darah…"
"Berarti sebab musabab kematian ada pada bagian kepala. Ayo kau perhatikan lagi lebih teliti…"
Untuk bisa melihat lebih jelas terpaksa Saringgih maju lagi dua langkah padahal saat itu perutnya sudah mau meledak muntah dan hidungnya tak sanggup lagi didera bau busuk yang luar biasa.
"Nyanyuk… Ambo melihat ada lobang kecil sebesar ujung jari pada setiap kening mayat…" kata Saringgih ketika pada akhirnya dia melihat lobang-lobang aneh dalam ukuran dan bentuk yang bersamaan pada kening masing-masing mayat!
"Bagus Saringgih. Sekarang coba kau perhatikan ciri-ciri keempat orang itu, termasuk pakaiannya lalu katakan padaku. Siapa tahu aku bisa menduga siapa-siapa mereka yang menemui ajal secara aneh di pulau ini!"
"Sulit diberi tahu Nyanyuk. Soalnya keempat mayat sudah sangat rusak. Pakaian merekapun sudah tidak karuan lagi. Tapi, ambo melihat ada tiga buah senjata ter­geletak di tanah. Kelihatannya bukan senjata-senjata sembarangan."
"Coba kau ceritakan senjata apa yang kau lihat itu!"
"Yang di sebelah kanan terletak di depan kaki mayat, berupa sebuah tombak pendek bermata dua…" menerangkan Saringgih.
"Tongkat pendek bermata dua… Hemmmmmm." ber­guman Nyanyuk Amber. "Bagian bawah tempat pegangan­nya dilapisi kulit…"
"Betul Nyanyuk…"
"Itu adalah Tombak Dwi Sula dari Banten! Berarti mayat di depan senjata ini adalah mayat Kiyai Surah Ungu! Seorang Pangeran Banten yang menyingkir dari keraton!"
Nyanyuk Amber terdiam sesaat lalu, "Ceritakan tentang senjata yang kedua…" katanya.
"Sebilah badik Nyanyuk. Berwarna kuning legam. Mungkin terbuat dari emas…"
"Kuning sampai ke hulunya?" tanya Nyanyuk Amber.
Ketika Saringgih membenarkan, wajah tua cekung itu nampak menjadi kelam. "Pendekar Badik Emas dari Bugis ternyata telah jadi korban pula," kata si orang tua perlahan. "Lalu apa senjata yang ke tiga Saringgih?"
"Sebilah keris bergagang gading…"
"Hemm… Tak bisa kuduga siapa pemiliknya. Tapi senjata ini biasanya merupakan senjata andalan orang-orang penting Istana Gading di pesisir selatan! Sulit diduga apa sebenarnya yang terjadi di pulau ini. Saringgih, tadi kau bilang ada dua makam di ujung lapangan."
"Benar Nyanyuk…"
"Satu ada batu nisan hitam. Satunya tanpa nisan…"
"Betul Nyanyuk."
"Apa yang tertulis pada makam yang ada batu nisan­nya?" bertanya lagi Nyanyuk Amber.
Saringgih majukan kepalanya sedikit untuk dapat mem­baca guratan pada batu nisan. "Disini hanya tertulis Tua Gila. Tak ada tulisan lain …"
"Ada… bagiku itu sudah cukup. Ternyata benar telah ter­jadi sesuatu atas diri sabahatku. Tua Gila aku tidak menyangka kau bakal mendahuluiku…" Untuk beberapa lamanya Nyanyuk Amber termenung larut dalam kesedih­an.
"Tak ada tanda-tanda pada makam yang katamu tidak bernisan itu, Saringgih?" Si orang tua kemudian ajukan per­tanyaan.
"Sama sekali tidak ada. Namun seperti kuburannya Tua Gila, kubur satu inipun tanahnya masih merah…"
"Aneh. Siapa yang dikubur disamping kuburnya Tua Gila? Istrinya…? Setahuku dia tidak beristri! Muridnya? Hemmm…? Aku memang pernah mendengar Tua Gila mengambil seorang murid. Tapi masih sangat kecil. Paling tidak usia muridnya itu baru sekitar enam tahun. Lalu di mana anak itu? Di dalam kubur yang satu ini…? Saringgih, kubur tanpa nisan itu apakah sama besar dengan makam Tua Gila? Atau lebih kecil?"
"Sama besar Nyanyuk…" sahut Saringgih.
"Berarti ini makam orang gede! Ah, sulit kuduga siapa yang dikubur disini…" kata Nyanyuk Amber lalu setelah diam sesaat orang tua ini berkata.
"Saringgih kau ambil obat pelawan bau pusuk yang ada dalam saku baju celanaku sebelah kanan. Teteskan cairan yang ada di dalamnya ke kaki setiap mayat. Setelah itu kembalikan obat itu padaku…"
Si pembantu merogoh saku kanan Nyanyuk Amber. Di saku ini ditemuinya sebuah botol kecil. Botol ini berisi cairan berwarna coklat.
"Kau pergi teteskan obat itu. Tapi lebih dahulu dudukkan aku di depan makam Tua Gila. Aku ingin mengheningkan cipta dan berdoa…"
"Nyanyuk terus terang sejak menginjakkan kaki di pulau ini hatiku merasa tidak enak. Begitu selesai Nyanyuk berdoa sebaiknya lekas-lekas saja kita tinggalkan tempat ini."
Nyanyuk Amber tidak berkata apa-apa. Saringgih me­nundukkan mukanya di depan makam Tua Gila lalu melangkah mendekati mayat- mayat yang diikat di tiang. Dengan tengkuk merinding ketakutan setengah mati dan sambil menekap hidung pembantu ini teteskan cairan di dalam botol masing-masing satu tetes ke setiap kaki mayat yang membusuk itu.
Begitu cairan menyentuh kaki mayat, terdengar letupan…. Lalu mengepul asap coklat yang perlahan-lahan naik ke atas menutupi sosok mayat. Sesaat kemudian asap itu menipis dan akhirnya lenyap sama sekali. Bersamaan dengan lenyapnya asap coklat, bau busuk yang mengham­par di tempat itupun sirna perlahan-lahan.
"Obat aneh…" kata Saringgih dalam hati sambil menutup botol kecil itu kembaii. Pembantu ini tahu bahwa walaupun mempunyai daya pemusnah bau busuk yang ampuh namun kekuatan obat itu hanya mampu bertahan selama satu hari satu malam. Setelah itu bau busuk pasti akan muncul kembali.
Setelah pembantunya memasukkan botol obat kembali itu dalam saku celananya, Nyanyuk Amber mulai berdoa untuk arwah Tua Gila. Dalam berdoa seperti itu dia tiba-tiba mencium bau sesuatu. Bau asap rokok. Meskipun hatinya kini menjadi tidak tenang namun orang tua ini meneruskan juga membaca doa sampai selesai. Begitu selesai dia ber­tanya. "Saringgih…! Aku tahu kau tidak merokok. Tetapi aneh, aku mencium bau asap di tempat ini…"
"Ambo juga menciumnya Nyanyuk," menyahuti si pem­bantu sambil memandang berkeliling.
Tengkuknya terasa lebih dingin.
"Aku merasa ada mahluk bernafas disekitar tempat ini." kata Nyanyuk Amber yang membuat Saringgih tambah me­rinding. "Aku juga mendengar ada suara ketukarr-ketukan sangat halus. Seolah-olah datang dari perut pulau…"
"Nyanyuk, bukankah lebih baik kita segera pergi saja dari sini?" kata Saringgih pula.
"Diam Saringgih… Aku mendengar ada suara sesuatu di kejauhan… Seperti suara langkahlangkah kaki!"
Tiba-tiba kedua orang itu sama-sama tercekat. Saring­gih malah sampai tersentak saking kagetnya. Suara raungan anjing memecah kesunyian. Panjang dan meng­gidikkan.
"Suara anjing di pulau sekecil ini. Sungguh aneh…" kata Nyanyuk Amber seraya memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Nyanyuk…" kata Saringgih dengan suara bergetar. "Ambo bisa kencing di celana kalau masih terus berada di tempat ini…"
"Kita akan segera pergi. Tapi tunggu sampai aku me­mastikan bahwa yang kudengar sebelum raungan anjing tadi adalah benar-benar suara kaki manusia…"
Kalau saja bukan orang tua itu yang harus dijaga dan diikuti ucapannya mungkin saat itu Saringgih sudah me­lompat dan lari meninggalkan tempat itu.
"Tak ada suara apa-apa Nyanyuk. Pastilah…! Mungkin suara desau angin laut atau gemerisik pepohonan yang tadi kau dengar… Bukan suara langkah kaki…"
"Aneh, aku seperti yakin itu adalah suara langkah kaki. Telapaknya bergerak sangat perlahan. Disengaja agar di­miringkan. Telinganya dipasang baik-baik."
Saringgih kembali memandang berkeliling. Pertama sekali ke arah pepohonan dan semak belukar dari jurusan mana tadi mereka datang. Tak kelihatan apa-apa. Lalu pembantu ini mengalihkan pandangannya ke arah batu­batu cadas hitam dan batu-batu karang tinggi yang mem­bentuk dinding setengah lingkaran di sebelah kiri. Tepat ketika dia memandang di sebuah celah antara dua batu karang tinggi mendadak dia melihat bayangan hitam besar bergerak.
"Nyanyuk…" suara pembantu flu tersendat dan tercekat.
"Ada apa Saringgih?"
"Ambo melihat sesuatu. Ada sosok bayangan besar di celah batu karang di kiri kita …."
"Itu bayangan batu-batu karang saja agaknya Saringglh. Kenapa kau musti merasa takut?"
"Tidak Nyanyuk. Bayangan batu pasti diam. Tapi bayangan yang saya lihat bergerak perlahan-lahan!
Nyanyuk! Ada orang tinggi besar melangkah keluar dari celah batu karang!" seru Saringgih dengan muka pucat.

***

5

Nyanyuk Amber meskipun terkejut mendengar ucapan pembantunya itu namun tetap berlaku tenang dan berkata. "Jangan takut. Tenang saja. Lekas beri tahu aku ciri-ciri orang itu… Kalau dia memang manusia, bukannya setan!"
Kedua mata Saringgih terpentang lebar kearah celah batu karang. Bayangan besar pada batu bergerak terus.
Perlahan tapi pasti. Lalu bayangan itu lenyap dan kini sebagal gantinya muncul sesosok tubuh tinggi besar. Orang ini berewokan, mengenakan baju kuning serta sehelai mantel panjang berwarna hitam. Di kepalanya ada sebuah topi tinggi.
"Apa yang kau lihat Saringgih… Lekas katakan padaku!" desis Nyanyuk Amber. Dengan suara tersendat-sendat pembantu itu segera mengatakan ciri-ciri orang tinggi besar yang melangkah mendatangi itu. Dalam takutnya Saringgih melangkah ke dekat Nyanyuk Amber. tiba-tiba sosok di depan sana keluarkan suara membentak garang dan keras.
"Jangan ada yang berani bergerak!"
Gerak langkah Saringgih tertahan.
"Si… siapa kau…?" Saringgih beranikan diri bertanya walau suaranya gagap.
"Budak! Kau tak layak bertanya!" si tinggi besar mem­bentak. Tujuh langkah dari hadapan makam dia berhenti. Lalu dia berpaling pada Nyanyuk Amber yang masih duduk bersila di kaki makam Tua Gita. "Kakek buta! Apakah kau sudah selesai berdoa?!"
Ditanya sekasar itu Nyanyuk Amber batuk-batuk be­berapa kali lalu balik bertanya, "Siapa tanya siapa?!"
"Kurang ajar! Aku tuan rumah di pulau ini! Aku yang layak bertanya!"
"Hemm, aku tidak tahu kalau kau tuan rumah di pulau ini. Setahuku sahabatku Tua Gila yang tinggal di sini…"
"Jadi… Tua Gila sahabatmu, hah? Apakah kacungmu ini tidak mengatakan bahwa di sini ada makam Tuan Gila yang menyatakan bahwa sahabatmu itu sudah mampus dan dikubur?!"
Nyanyuk Amber sunggingkan senyum. "Sebagai tuan rumah rupanya kau tidak pandai bicara sopan dan lunak…"
"Pertu apa bicara dengan manusia-manusia yang sebentar lagi akan jadi bangkai!" sentak si tinggi besar. Dia bergerak maju satu langkah.
Nyanyuk Amber tertawa mengekeh. Sebaliknya Saring­gih menyumpah dalam hati. "Gila!! Dalam keadaan seperti ini dia masih bisa tertawa seenaknya!"
"Semua manusia pasti akan jadi bangkai. Itu sudah ketentuan Tuhan. Tapi bukan berarti manusia bisa mendahului Tuhan, mencabut nyawa manusia sesamanya! Cakapmu yang sombong menyatakan bahwa kaulah yang telah membunuh keempat orang itu, lalu mayatnya kau ikat di tiang!"
"Ha …ha…ha! Matamu buta tapi banyak melihat! Apakah kau sadar kalau sebentar lagi jumlah mayat akan ber­tambah menjadi enam? Kau dan kacungmu itu lalu akan kuikat ke tiang-tiang kayu sana!"
"Bagus kau telah memberi tahu!" sahut Nyanyuk Amber seenaknya. "Tua bangka sepertiku memang tidak berguna lagi hidup di dunia. Tubuhku sudah karatan. Lalu apa yang ditakutkan menemui kematian?!"
Mendengar ucapan Nyanyuk Amber itu kembali Saring­gih menyumpah dalam hati. "Kau tidak takut mati! Tapi aku masih kepingin hidup!"
"Kalau kau memang sudah siap untuk mati berarti aku tidak terlalu susah payah membunuhmu!" kata orang tinggi besar bertopi dan bermantel hitam.
"Tidak… Kau tidak akan susah membunuh tua bangka sepertiku. Hanya saja sebelum mati aku kepingin tahu mengapa kau menginginkan nyawaku? Juga nyawa ke­empat orang yang kau bunuh terdahu!u!"
"Jawabnya mudah dan singkat! Kutuk telah jatuh bahwa semua sahabat Tua Gila yang menginjakkan kakinya di tempat ini akan menemui kematian! Mati di tanganku!"
"Ah… Kau ini malaikat maut jadi-jadian rupanya!" ujar Nyanyuk Amber. "Tapi hari ini kau berhadapan dengan aku raja diraja segala malaikat jadi-jadian! Lekas berlutut di hadapanku, terangkan siapa dirimu. Minta ampun dan bunuh diri!"
Merah padam wajah si tinggi besar bermantel hitam itu. Tangan kanannya dipukulkan ke arah Nyanyuk Amber. Serangkum angin menderu menghajar orang tua itu. Saringgih berseru memberi ingat.
Orang tua bermata buta, bertangan dan berkaki buntung itu gerakkan bahu kanannya. Gerakan ini menyentakkan lengan panjang jubah yang dikenakannya. Dari ujung lengan jubah itu melesat keluar satu gelombang angin yang mengeluarkan suara bersiuran. Dua angin dahsyat saling tabrak di udara.
Saringgih melihat bagaimana bentrokan angin pukulan mengandung tenaga dalam tinggi itu membuat Nyanyuk Amber terbanting jatuh punggung di tanah. Sebaliknya orang bermantel hitam terjajar jauh ke belakang dan tersandar ke dinding karang.
"Kurang ajar! Tingkat tenaga dalam tua bangka buruk itu tidak rendah. Kalau tidak segera kuhantam dengan pukulan melumpuhkan, bisa-bisa aku mendapat celaka se­belum menghabisi nyawanya!"
Orang ini lalu menanggalkan mantelnya. Saringgih yang saat itu sudah melompat ke dekat Nyanyuk Amber segera memberitahu apa yang dilihatnya.
"Saringgih, kau menjauhlah. Cari perlindungan di balik pohon atau batu…"
"L.ebih baik Nyanyuk saya dukung dan larikan dari sini saat ini juga!" kata Saringgih.
"Kalau kau mau selamat ikuti ucapanku!" si orang tua membentak halus. Mendengar itu Saringgih tak berlaku ayal lagi. Dia melompat ke balik sebuah pohon.
Tepat pada saat dia sampai dibaJik pohon, di depan sana orang bertubuh tinggi besar kebutkan mantel hitamnya. Terdengarnya suara menggemuruh laksana ads tanah longsor. Bersamaan dengan itu satu gelombang angin laksana hantaman topan menghampar ganas me­nebar hawa panas. Batu pasir berhamburan. Semak belukar rambas. Tanah bergetar dan daun-daun pepohon­an jatuh luruh, batang dan cabang-cabangnya berderak­derak!
Nyanyuk Amber berseru keras. Dia kerahkan tenaga dalam penuh lalu goyangkan bahunya kiri kanan. Dua gelombang angin melesat menyongsong gemuruh angin lawan. Namun sambaran angin yang keluar dari mantel hitam lawan ternyata lebih dahsyat, membuat orang tua cacat ini tak bisa bertahan. Dengan tubuh mandi keringat karena berusaha menahan serangan lawan akhirnya Nyanyuk Amber terdorong lalu terseret mental beberapa jauh.
Nyanyuk Amber kini dapat membaca keadaan.
Dia segera berteriak pada pembantunya.
"Saringgih! Lekas lari ke perahu!"
"Nyanyuk! Kau sendiri bagaimana… Ambo akan dukung kau. Kita lari sama-sama!" kata pembantu yang setia itu.
Sambil berguling-guling si orang tua berteriak. "Lakukan apa yang aku bilang! Tunggu aku diperahu!"
Mendengar ini Saringgih segera tancap diri, lari sekencang yang bisa dilakukannya menuju perahu di tepi pantai.
Ketika melihat lawan tersapu jauh oleh pukulan angin mantel hitamnya, si tinggi besar gerakkan tangannya ke sebuah kantong di pinggang kiri. Ketika tangan itu digerak­kan ke depan, melesatlah dua buah benda hitam sebesar ujung jari kelingking. Dalam gelapnya malam senjata rahasia berwarna hitam ini sulit untuk dapat dilihat. Tapi telinga Nyanyuk Amber sudah dapat mendengar ada se­suatu yang melesat ke arahnya dalam kegelapan malam.
Pada saat tubuhnya dihantam angin dahsyat tadi dan menyadari bahwa dirinya tak bisa bertahan, begitu tubuh­nya kena disapu, dengan cerdik orang tua ini lipat tubuh­nya lalu gulingkan dirinya ke belakang. Tangan dan kakinya yang buntung membuat tubuhnya bisa mengkerut menjadi bulat laksana sebuah bola. Hal ini membuat daya gulingnya jadi berlipat ganda. Selagi dia bergulingan itulah dia men­dengar ada benda melesat ke arah kepalanya!
Nyanyuk Amber tundukkan kepalanya ke bahu kanan. Mulutnya menarik sebatang senjata rahasia berbentuk anak panah kecil yang tersisip di saku jubah pendek yang dikenakannya. Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam­nya ke tenggorokan, orang tua ini meniup keras-keras.
Anak panah perak itu melesat dalam kegelapan malam, memapas ke arah datangnya suara berdesing. Sesaat kemudian terdengar suara berdentingan. Anak panah Nyanyuk Amber berhasil menghantam benda bulat yang menyambar di udara. Walaupun anak panah perak itu patah berantakan namun benda yang dihantamnya mental jauh hingga si orang tua selamat dari hantaman senjata rahasia lawan yang diarahkan ke keningnya! Nyanyuk Amber dengan cepat terus menggulingkan dirinya sehingga akhirnya dia sampai di tepi pasir.
Dengan mengeluarkan suara menggereng geram si tinggi besar mengejar. Dia mengeruk lagi kantong di pinggang kirinya lalu sambil lari dia hantamkan senjata rahasianya. Untuk kedua kalinya pula Nyanyuk Amber me­nangkis dengan panah peraknya. Namun sekali ini tangkisannya meleset. Senjata rahasia lawan berdesing ke arah kepalanya. Dalam saat yang sangat berbahaya itu bahu Nyanyuk Amber menyerempet gundukan batu. Dengan cepat orang tua ini memutar tubuhnya lalu jatuh­kan diri di balik gundukan batu itu. Dia selamat. Senjata rahasia lawan Iewat seujung kuku di atas kepalanya! Tanpa menunggu lebih lama lagi orang tua ini kembali gulingkan diri di atas pasir.
Saringgih yang menunggu di atas perahu berteriak keras.
"Nyanyuk! Ambo di sini!"
Teriakan ini sudah cukup bagi Nyanyuk Amber untuk mengetahui arah di mana pembantunya berada. Orang tua ini lipat tubuhnya lebih dalam. Lalu tubuh itu melenting dan mencelat di udara, jatuh tepat diatas perahu. Seringgih serta merta mendayung perahu itu cepat-cepat ke tengah lautan.
Orang tinggi besar menggeram keras. Dia berusaha iari mengejar masuk ke dalam laut sampai tubuhnya teng­gelam sebatas pinggang. Namun perahu yang dikayuh Saringgih telah jauh ditengah. Dengan geram orang ini masih berusaha melepaskan lagi satu senjata rahasia. Namun senjata rahasianya itu hanya sempat menghantam bagian belakang perahu dan menancap di kayu perahu itu.
Kembali orang ini menggeram.
"Kakek cacat itu ternyata memiliki kepandaian hebat.
Baru dia seorang yang sanggup menangkis serangan senjata rahasiaku! Aku belum pernah melihatnya sebelum­nya. Tapi dari ciri-cirinya… Jangan-jangan dia adalah Nyanyuk Amber, tokoh silat dari puncak Singgalang, bekas guru Raja Rencong Dari Utara! Kurang ajar! Mengapa tadi aku tidak menghantamnya dengan lima senjata rahasia sekaligus! Kalau dia berani muncul lagi, tak akan kuberi ampun bangsat tua itu!" Lalu sambil mengepalkan kedua tinjunya orang ini memutar tubuh dan lenyap dalam ke­gelapan malam.
Sementara itu di atas perahu.
"Manusia itu luar biasa… Serangahnya ganas memati­kan! Hampir saja aku benar-benar hendak dibuatnya jadi bangkai!" kata Nyanyuk Amber seraya berusaha duduk sementara perahu meluncur denan cepat. "Kita sudah cukup jauh ke tengah. Manusia itu pasti tidak dapat lagi melihat kita. Sekarang putar arah perahu ini, Saringgih!"
Tentu saja si pembantu menjadi heran.
"Di putar kemana Nyanyuk? Bukankah kita kembali ke pulau besar?"
"Tidak. Kita kembali ke pulau itu!"
Saringgih tersentak kaget dan hentikan mendayung perahu.
"Ambo yang salah dengar atau Nyanyuk yang salah ucap?!"
"Kau tidak salah dengar! Aku tidak salah ucap! Kita kembali ke pulau menyelinap lewat arah selatan pada bagian yang berbatu-batu barang…"
"Nyanyuk! Kau barusan saja lepas dari maut! Sekarang malah hendak kembali ke tempat cilaka itu!"
"Saringgih tugasku menyelidiki kematian sahabatku Tua Gila. Aku merasa ada sesuatu yang aneh di balik kematian­nya itu. Jika kau takut kembali ke pulau, antarkan saja aku sampai di pantai selatan. Biar aku naik ke pulau seorang diri. Kau boleh kembali ke Gunung Singgalang!"
Saringgih jadi merasa tidak enak mendengar kata-kata itu. maka diapun menyahuti. "Nyanyuk, kita pergi sama­sama. Pulangpun harus sama-sama…"

***

6

Karena pulau itu tidak terlalu besar maka dalam waktu tak selang berapa lama perahu yang dikayuh Saringgih telah sampai di bagian barat yaitu bagian yang pantainya penuh dengan batu-batu karang tinggi diseling batu-batu cadas hitam. Saat itu tengah terjadi pasang naik sehingga mereka bisa masuk jauh ke daratan.
Angin laut menerpa bebatuan di sepanjang pantai me­nimbulkan suara aneh di telinga Saringgih.
"Ceritakan padaku keadaan di sekitar sini." kata Nyanyuk Amber begitu dia merasa perahu mulai meluncur perlahan.
"Air laut sedang pasang naik Nyanyuk. kita bisa masuk terus ke pedalaman pulau. Pesisir di sini penuh dengan batu-batu karang menjulang tinggi serta batu-batu cadas hitam…"
"Bagus, berarti kita sampai di arah yang tepat. Di bagian belakang kawasan makam Tua Gila. Kau harus menyem­bunyikan perahu ini. Cari tempat yang baik untuk kita. Dan jangan meninggalkan jejak atau tanda-tanda sedikitpun!"
Di celah batu-batu besar hitam Saringgih menghentikan perahunya, lalu dia mendukung Nyanyuk Amber turun ke darat.
"Nyanyuk, ambo melihat ada lengkungan dalam salah satu dinding karang. Mungkin sekali goa…"
"Bawa dan tinggalkan aku disana. Lalu kau lekas cari tempat yang baik untuk menyembunyikan perahu." kata Nyanyuk Amber pula.
Saringgih mendukung orang tua itu menuju lengkungan batu. Ternyata lengkungan itu bukan sebuah goa melain­kan lengkungan biasa saja namun cukup besar untuk mereka berdua.
Sebelum Saringgih pergi mencari tempat untuk me­nyembunyikan perahu Nyanyuk Amber meminta agar pem­bantunya itu mencari ranting-ranting dan semak belukar sebanyak mungkin untuk menutupi bagian terbuka ruangan batu yang akan mereka jadikan tempat ber­sembunyi sekaligus guna menghalangi kerasnya tiupan angin dari laut.
"Nyanyuk, apa kita benar-benar akan menuju makam Tua Gila malam ini juga?" bertanya Saringgih sambil menancapkan ranting-ranting, serta belukar di depan legukan batu karang.
"Aku sudah memikirkan hal itu kembali. Malam ini kita tetap di sini saja. Kau tentu letih, perlu istirahat dan tidur," jawab Nyanyuk Amber, "Besok saja, kalau matahari telah terbit kita kembali ke lapangan yang ada dua makam itu…"
Paginya ketika matahari muncul dan pasang telah turun ternyata tempat mereka berada cukup jauh dari pantai. Dari situ mereka dapat melihat pantai dengan jelas. Se­baliknya seseorang yang datang dari arah pantai agak sulit melihat mereka karena ada sebuah batu karang cukup tinggi menghalangi pemandangan.
"Nyanyuk, kau ingin ambo mencari ikan dan membakar­nya untuk sarapan pagi?" bertanya Saringgih.
"Jangan jadi orang tolol! Aku tak ingin mahluk yang katanya kini menguasai pulau ini melihatmu. Membakar ikan sama saja mengundang kedatangan mahluk celaka itu kemari!"
Saringgih terdiam menyadari ketololannya sendiri. Dalam hati dia berkata " Alamat akan kosong perutku pagi ini."
"Ada hal lebih penting yang harus kita lakukan…"
"Hal apa Nyanyuk?"
"Dukung aku ke tempat kau menyembunyikan perahu."
Begitu sampai di tempat perahu disembunyikan, yaitu dibalik sebuah batu karang lancip orang tua itu minta di­turunkan lalu pada pembantunya dia berkata.
"Malam tadi salah sebuah senjata rahasia yang di­lemparkan ke arah kita mengenai bagian belakang perahu. Senjata rahasia itu pasti masih menancap disana. Coba kau periksa!"
Saringgih melakukan apa yang diperintahkan Nyanyuk Amber. Sesaat kemudian terdengar pembantu ini berkata. "Kau betul Nyanyuk. Ada bagian kayu perahu yang ber­lobang tetapi tidak sampai tembus. Sebuah benda bulat menancap di dalamnya. Ambo sudah berusaha men­cungkil, tapi sulit sekali…"
"Kalau kau cungkil dengan mulut atau jari tanganmu tentu saja sulit, Saringgih. Pergunakan ujung kerismu!"
"Nyanyuk, keris Pusako Dewa milikku bukan senjata sembarangan. Masakan dipakai untuk mencungkil…"
Nyanyuk Amber cepat memotong kata-kata pembantu­nya itu. "Benda yang hendak kau cungkil juga bukan senjata sembarangan Saringgih! Paling tidak senjata seperti itu telah menewaskan empat tokoh yang kau lihat telah jadi mayat itu! Bahkan nyaris membunuhku! Keluar­kan kerismu dan cungkil senjata rahasia itu dengan hati­hati!"
Saringgih tak bisa berkata apa-apa lagi. Dikeluarkannya keris pusaka yang terselip di pinggangnya lalu dengan ujung senjata ini dia mulai mencungkil benda yang me­nancap di kayu belakang perahu. Setelah beberapa lama terdengar suara pembantu itu berkata.
"Ambo berhasil mencungkil senjata rahasia ini, Nyanyuk! Bentuknya seperti kelereng…"
"Kelereng…?" mengulang Nyanyuk Amber.
Dengan tangan gemetar si pembantu menggenggamnya lalu memegang-megang benda bulat itu dengan ujung jarinya. Benda bulat terasa licin dan besarnya seujung jari kelingking.
"Hemmm…" Nyanyuk Amber bergumam, Otaknya be­kerja keras untuk menerka senjata rahasia yang dikatakan Saringgih itu. Lalu dia bertanya. "Saringgih, katakan pada­ku apa warna benda bulat yang besarnya lebih kecil dari kelereng ini?"
"Hitam legam. Mengeluarkan sinar redup menggidik­kan!" sahut Saringgih.
Paras orang tua bermata buta itu berubah.
"Mutiara Setan…" desisnya. "Pasti ini Mutiara Setan! Senjata ini tidak beracun. Tetapi sekali menancap di tubuh manusia dia akan bergerak menutup jalan darah, me­nembus dan menghancurkan urat-urat besar hingga korban tak mungkin ditolong. Apalagi kalau sampai me­nembus kepala. Korban pasti akan mati seketika! Itulah yang terjadi dengan empat tokoh silat yang sekarang telah menjadi mayat!"
"Nyanyuk, kalau kau sudah tahu nama senjata rahasia itu berarti kau juga tahu siapa pemiliknya," berkata Saringgih.
Si orang tua mengangguk. "Kita harus hati-hati. Sangat hati-hati. Manusia yang kita hadapi saat ini sejahat iblis selicik setan!"
"Siapa orangnya. Nyanyuk?" tanya Saringgih ingin tahu.
"Nanti saja kau lihat sendiri. Kita berangkat sekarang!"
Walaupun masih ingin berlama-lama di tempat itu namun Saringgih tak bisa membantah, Dia jongkok di hadapan si orang tua. Ketika dia siap untuk mendukung tiba-tiba Saringgih melihat sesuatu di tengah taut.
"Nyanyuk, ada perahu sedang menuju ke arah pulau…"
"Pasti sahabat yang hendak menziarahi makam Tua Gila. Ada beberapa orang kau lihat di atas perahu?"
"Masih terlalu jauh. Kurang jelas. Tapi ambo kira cuma satu orang…"
"Tunggu saja beberapa saat lagi. Begitu perahu men­darat kau lekas katakan ciri-ciri orang yang datang."
Saringgih menunggu. Sesaat demi sesaat perahu di tengah taut semakin mendekat ke pulau dan akhirnya ber­henti tertahan di pasir pantai. Penumpangnya melompat turun ke pasir lalu menyeret perahunya ke dekat sebuah batu. Seutas tali yang terikat pada ujung perahu dilibat­libatkannya ke batu dan dibuhulnya kuat-kuat. Orang ini tampak mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu menggeliat beberapa kali. Sambil bersiul-siul dia me­langkah meninggalkan pantai.
"Saringgih lekas katakan siapa orang yang barusan datang itu! Dan tengah menuju ke mana dia!"
"Ambo tak kenal. Belum pernah melihatnya sebelum­nya. Orangnya masih muda Nyanyuk. Berpakaian serba putih. Ikat kepalanya juga putih. Rambutnya menjulai gondrong. Dia melangkah seenaknya. Sambil bersiul-siul. Agaknya dia tidak tahu malapetaka apa yang bisa menimpa dirinya di pulau ini! Saat ini dia melangkah terus memasuki pulau. Dia melompati batu-batu besar dengan gerakan enteng"
"Pakaian putih ikat kepala putih. Rambut gondrong. Ber­jalan seenaknya malah sambil bersiul-siul!" Nyanyuk Amber mengulangi ucapan pembantunya tadi. Otaknya bekerja keras mengingat-ingat. Dan tiba-tiba saja dia ingat. Mulut­nya yang kempot tersenyum. Lalu orang tua ini segera hendak berteriak menyebut nama orang itu. Namun begitu dia sadar terlakannya pasti akan didengar orang tinggi besar di dalam pulau, Nyanyuk Amber segera kancingkan mulutnya rapat-rapat.
"Lekas kita susul pemuda itu!" katanya pada pembantu­nya.
Namun saat itu tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang. Langit di atas pulau dan taut di sekitarnya ditutup gumpalan awan kelabu kehitaman. Udara serta merta men­jadi gelap. Lalu terdengar guntur menyambar. Di tengah laut kilat bersabung sambar menyambar.
"Celaka Nyanyuk! Badai menyerang pulau ini!" teriak Saringgih lalu cepat-cepat berpegangan pada dinding batu di samping agar tidak terpental di hantam angin.
"Siapa takutkan badai. Lekas dukung aku dan susul pemuda tadi!" kata Nyanyuk Amber keras-keras di antara deru angin yang menggelegar.
Saringgih terpaksa segera mendukung orang tua itu. Namun ketika dia baru saja melangkah keluar dari legukan batu, satu sambaran angin melabrak dengan keras. Saringgih dan Nyanyuk Amber terpelanting ke dalam legukan lalu sama-sama jatuh ke tanah. Nyanyuk Amber terdengar menyerapah sedang Saringgih meringis ke­sakitan sambil memegangi baglan keningnya yang benjol terantuk dinding batu.

***

7

Pendekar 212 Wiro Sableng lunjurkan kedua kakinya di lantai perahu, berhenti mendayung dan mem­biarkan perahu itu meluncur dihanyutkan gelombang ke arah pantai. Semakin dekat ke pantai pulau semakin jelas kelihatan barisan batu-batu karang dan batu-batu cadas di tepi pasir. Sepasang mata murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini memandang tak berkesip pada dua buah batu karang yang menjulang lancip ke udara dan paling tinggi diantara batu-batu karang yang terdapat di teluk sempit di pulau itu. Ingatannya kembali pada masa beberapa tahun silam ketika dia digembleng secara ganas oleh kakek sakti bergelar Tua Gila.
Waktu itu sore hari. Air laut sedang pasang naik. Dia dibawa ke teluk. Tubuhnya diikat dengan sejenis benang sakti berwarna putih yang disebut Benang Kayangan. Lalu dia disuruh memanjat naik ke puncak salah satu batu karang yang tinggi terjal itu. Tua Gila sendiri kemudian naik ke atas batu karang yang satu lagi. Berulang kali tubuh Pendekar 212 mencelat mental dihantam ombak. Setiap kali tubuhnya terlempar Tua Gila menyentakkan benang sakti yang dipegangnya hingga Wiro kembali terlempar ke puncak karang. Dengan susah payah akhirnya Wiro ber­hasil tegak di atas batu karang itu namun saat itu dia sudah sampai pada batas kekuatannya. Darah keluar dari mata, hidung dan telinganya dan akhirnya pendekar ini jatuh pingsan tidak sadarkan diri lagi. Dikemudian hari Wiro baru maklum bahwa apa yang dilakukan Tua Gila atas dirinya menjadi dasar ilmu silat tangguh yang tak ada tandingannya yang kemudian diajarkan kepadanya yaitu Ilmu Silat Orang Gila.
Kini setelah bertahun-tahun dari kejauhan dia dapat melihat dua puncak karang tidak beds seperti keadaannya dulu. Luapan rasa gembira tercermin di wajah sang pendekar. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Tua Gila, manusia aneh bermulut kasar tetapi berhati polos. Rupa­nya dia tidak tahu kalau sesuatu telah terjadi dengan orang tua itu.
Begitu bagian bawah perahu bergeser dengan pasir Wiro segera melompat turun. Perahu itu diseretnya ke darat lalu dilkatkannya ke sebuah batu. Di tepi pantai Wiro tegak sejenak, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi menghirup Wars dalam-dalam dan menggeliatkan badan­nya beberapa kali.
Lalu dengan setengah berlari dia masuk kebagian dalam pulau melewati daerah berbatu-batu. Pada saat itulah udara tiba-tiba menjadi gelap. Mendung tebal menyungkup pulau. Angin kencong bertiup dahsyat. Guruh menggelegar dan kilat sabung menyabung.
"Badai celaka!" maki Pendekar 212 Wiro Sableng dan terus lari bahkan kini sambil berteriak. "Tua Gila! Aku dating! Tua Gila! Aku Wiro Sableng datang menyambangi­mu!"
Namun suara teriakan Wiro itu tenggelam diteIan gelegar guntur dan deru badai yang amat keras. Pendekar itu berjalan terus walaupun tersaruk-saruk karena gelapnya udara yang tidak beda dengan kepekatan malam.
"Tua Gila! Aku Wiro Sableng datang! Tua Gila!" kembali Wiro berteriak. Dia bergerak di antara lamping-lamping batu karang tinggi, memanjat batu-batu cadas besar dan akhirnya sampal di satu tempat terbuka yaitu lapangan kecil di mana terletak dua makam.
Murid Sinto Gendeng ini hendak berteriak kembali me­manggil Tua Gila namun mulutnya serta merta terkunci ketika tiba-tiba di bawah hujan lebat dan tiupan angin keras serta gelapnya udara dia melihat empat sosok tubuh yang telah jadi mayat dan sangat rusak terikat pada empat tiang kayu.
"Astaga! Aku belum sampal ke neraka! Mengapa pemandangan mengerikan begini bisa ada dl pulau ini! Gila dan aneh! Mayat rusak begitu mengapa tidak berbau busuk?" Tentu saja sang pendekar tidak tahu kalau Nyanyuk Amber telah meneteskan sejenis cairan yang mampu melenyapkan bau busuk untuk beberapa waktu lamanya. Belum habis keterkejutan murid Eyang Sinto Gendeng itu, pandangan matanya kemudian membentur duo buah makam yang terletak di depan tiang-tiang kematian!
"Eh, kuburan siapa ini…?" bertanya Pendekar 212 dalam hati. Mendadak saja dia menjadi merasa tidak enak. "Jangan-jangan orang tua itu…"
Wiro melompat ke hadapan makam bernisan batu hitam. Dia berputar untuk dapat melihat guratan tulisan yang ada dibatu itu.
"Tua Gila…!" desis Wiro ketika samar-samar dia dapat membaca tulisan yang tergurat di atas batu nisan. Tubuh­nya terasa lemas dan pendekar ini langsung jatuh berlutut di samping makam. Kedua matanya berkaca-kaca. "Orang tua… Kenapa kau pergi begitu cepat…" Wiro menutup mukanya dengan kedua tangan lalu mengusap wajahnya yang basah berulang kali. Sambil liiemegangi batu nisan hitam murid Sinto Gendeng memandang berkeliling. Kini baru disadarinya bahwa tanah makam itu masih merah. Begitu juga tanah kubur yang disebelahnya. Lalu dia melihat pula keanehan lain itu.
"Mengapa kubur yang satu ini tidak ada batu nisan?
Kubur siapa pula ini.?" Wiro coba menduga-duga. Dia ingat pada anak kecil berusia dua tahun lalu yang kemudian diambil murid oleh Tua Gila.
Jika anak itu masih hidup uslanya sekarang sekitar enam tahun. Dimana anak Itu kini? Apakah kubur yang satu ini kuburannya?
"Tanah kubur masih merah. Berarti duo jenazah yang ada di sini belum lama dimakamkan. Lalu siapa yang menguburkan mereka?"
Wiro menatapi kedua makam itu lama-lama. Kemudian dia melihat ada kabut tipis di sekitar makam.
"Aneh, setahuku tak pernah ada kabut di pulau inil"
Hujan menders deras. Apa yang disangkakan Wiro sebagai kabut itu lenyap. Kini tinggal bau sesuatu yang merasuk hidungnya. "Sepertinya yang kulihat tadi bukan kabut. Tapi asap… Ada bau rokok sekitar tempat init" Wiro memandang berkeliling. "Aneh… Setan atau jin lautkah yang merokok.. . ?°
Tak lama setelah asap lenyap, bau rokokpun ikut sirna. Lalu lapat-lapat, seolah-olah datang dari suatu terowongan jauh di perut bumi Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng mendengar suara ketukan-ketukan sangat halus. Semula dia menyangka telinganya salah dengar. Namun ketika diperhatikannya baik-baik, diantara deru badai memang ada suara ketukan halus terdengar be­berapa kali. Lenyap sebentar lalu terdengar lagi.
Murid Sinto Gendeng menggeser tubuhnya lebih dekat ke makam. Lalu perlahan-lahan telinga kirinya didekatkan ke batu nisan hitam. Kembali terdengar suara ketukan. Lewat batu nisan itu kini matah ketukan itu terdengar lebih jelas. Wiro mengorek sebuah batu kecil. Dengan batu itu dia mengetuk batu nisan hitam beberapa kali. Suara ketukan yang tadi lenyap kini terdengar lagi. Lalu diam. Wiro mengetuk lebih keras. Seperti dibalas dia mendengar jawaban suara ketukan. Ketika Wiro hendak mengetuk sekali lagi, saat itulah dia melihat dalam kegelapan sepasang kaki berkasut kulit sampai sebatas lutut me­langkah di atas tanah yang becek. Setiap langkah yang dibuatnya menimbulkan getaran di tanah. Wiro angkat kepala Pendekar 212 melengak kaget ketika melihat satu sosok tubuh tinggi besar bermantel hitarri tahu-tahu sudah tegak di hadapannya. Orang ini bermuka panjang yang tertutup kumis dan berewokan liar, mengenakan topi tinggi. Sepasang matanya sangat besar. Desauan nafas yang keluar dari mulutnya seperti suara gerengan harimau. Di ketiak kirinya orang tinggi besar ini mengepit sebuah benda hitam.
Tiba-tiba orang ini menyeringai. Mulutnya terbuka. Kelihatan gigi-giginya yang besar serta taring seperti harimau. Seringai lenyap. Dari mulut orang ini kini keluar suara tawa berkakakan.
"Manusia kutuk sumpah! Akhirnya kau datang juga! Ha… ha… ha …. Sahabatmu Tua Gila memang sudah lama menunggu! Ha… ha… ha…!"
Perlahan-lahan Wiro bangkit berdiri.
"Siapa kau?!" Wiro membentak.
Yang ditanya menjawab dengan tawa bergelak. Lalu benda hitam yang sejak tadi di kempitnya diturunkan dan secepat kilat ditancapkannya di bagian kepala makam di samping makam Tua Gila. Ternyata benda yang ditancap­kannya itu adalah sebuah batu nisan yang bentuk dan ukurannya sama dengan nisan yang ada di makam Tua Gila!
Menurut taksiran Wiro batu hitam itu beratnya puluhan kati. Orang bermantel sanggup menancapkannya sampai setengahnya berarti dia memiliki kekuatan luar biasa!
Makam yang tadi tidak bernisan itu kini lengkap sudafi dengan batu nisannya!
Sepasang mata Pendekar 212 membelalak ketika melihat nama yang tergurat di atas batu nisan. Ternyata itu adalah namanya sendiri. Wiro Sablengt Berarti makam itu adalah kuburannya sendiri!
Orang bermantel hitam masih tertawa panjang. Tiba-tiba tawanya berhenti dan terdengar ucapannya "Bagus, kau telah datang untuk melihat makammu sendiri!" Dengan kaki kirinya yang berkasut kulit orang ini menginjak sebuah batu yang menonjol di dekat kepala nisan. Terdengar suara berdesir. Lalu terjadilah hal yang aneh. Tanah kuburan yang baru ditancapi batu nisan perlahan- lahan kelihatan terangkat. Ternyata tanah merah itu di bagian bawahnya adalah sebuah batu tebal empat persegi panjang yang tidak beda dengan sebuah pintu penutup!
Ketika besi penutup terbuka lebar Wiro melirik ke bawah. Dalam gelap dia dapat melihat lobang kosong itu berdinding dan bertantai batu tebal. Sebuah pipa kecil aneh terdapat dibagian bawah besi penutup.
"Liang kuburmu sudah kusediakan Pendekar 212! Kau mau masuk secara baik-baik atau perlu aku bantu meng­gotongmu ke dalam?!"
"Bangsat keparat ini tidak bersenda gurau!" kata Wiro dalam hati. Dia melirik ke makam di sebelah kiri. Rahang­nya menggembung. "Berarti kau juga yang telah memasuk­kan sahabatku Tua Gila ke dalam makam yang satu ini!" katanya menuduh.
"Ha …ha… ha…! Dugaanmu tepat…"
"Di mana murid Tua Gila yang berusia enam tahun? Apa kau pendam juga di makam ini?!"
"Untuk sementara anak itu ada di bawah kekuasaanku. Nyawanya tergantung pada gurunya si Tua Gila. Ha… ha… ha… Silahkan masuk Pendekar 212. Tapi serahkan dulu senjata mustika Kapak Maut Naga Geni 212 padaku. Lemparkan senjata itu kehadapanku. Juga berikan padaku buku Seribu Macam Ilmu Pengobatan. Jangan coba mem­bangkang apa lagi melawan. Aku bisa membunuhmu secepat aku membalikkan telapak tangan! kapak dan buku itu! Lekas!"
"Hujan begini deras. Badai melanda begini hebat! Tapi belum pernah aku melihat orang yang gilanya sehebatmu! Kau memendam sahabatku Tua Gila! Kau menculik murid­nya! Kini menyuruh aku masuk ke dalam liang kubur! Malah mengemis dulu minta senjata dan buku!"
"Mulutmu pandai bicara! Aku mau lihat apa kau masih bisa bicara kalu mulutmu itu sudah kurobek!"
Tiba-tiba orang bermantel putar tubuhnya sambil me­mukulkan kedua tangannya sekaligus ke depan. Dua gelombang angin yang sangat keras melabrak murid Sinto Gendeng. Tubuh pendekar ini terdorong ke arah lobang kubur.
Wiro membentak keras lalu cepat menghantam dengan pukulan Tameng sakti menerpa hujan.

***

8

ORANG bertopi tinggi berseru kaget ketika melihat bagaimana serangan balasan lawan bukan saja membuyarkan hantamannya tetapi juga membuat kedua kakinya goyang bergetar. Dia menyeka mukanya yang basah oleh air hujan dengan tangan kiri lalu mencoba menyergap Wiro dengan satu lompatan.
Pendekar 212 sambut serangan lawan dengan jotosan ke arah perut. Jotosan itu mendarat di sasarannya dengan telak tapi si tinggi besar tidak bergeming sedikitpun. Malah dia menyeringai memperlihatkan taringnya. Wiro membuat gerakan berputar setengah lingkaran. Laksana kilat kaki kanannya melesat ke atas.
Bukkk!
Kaki kanan itu menghantam rahang lawan dengan keras, membuat orang itu terpelanting dan jatuh terbanting di tanah yang becek. Paling tidak pasti tulang rahangnya pecah, begitu Wiro berpikir. Tapi murid Sinto Gendeng ini jadi tercengang ketika dilihatnya orang itu berdiri kembali tanpa menunjukkan rasa sakit apalagi cidera. Hanya topi tingginya yang lepas dan jatuh ke tanah. Kelihatan rambutnya yang panjang lebat riap-riapan, dan basah oleh air hujan.
Dengan tenang dia mengambil topinya. Kesempatan ini dipergunakan oleh Wiro untuk menendang ke arah kepala. Dari mulut si tinggi besar terdengar suara menggereng. Lalu tangan kirinya bergerak cepat menangkap per­gelangan kaki Wiro yang menendang. Begitu tertangkap orang ini membuat gerakan aneh dan tahu-tahu tubuh Pendekar 212 sudah terangkat ke atas lalu dibantingkan ke bawah. Tubuh pendekar itu jatuh tepat di dalam liang kubur.
Sambil menyeringai si tinggi besar melompat hendak menekan batu di kepala makam. Maksudnya segera hendak menurunkan batu tebal penutup kuburan. Wiro yang tahu apa artinya kalau dia sampai terperangkap di datam liang kubur itu segerar melompat sambil lepaskan pukulan yang dipelajarinya dari Tua Gila yaitu Kincir padi Berputar. Tangan kanannya menabas pergelangan kaki lawan yang hendak menekan batu rahasia. Melihat serangan yang bisa memutus kakinya itu si tinggi besar cepat melompat selamatkan diri. Kesempatan ini segera dipergunakan oleh Wiro untuk melompat keluar dari dalam kuburan.
Di bawah hujan lebat dan badai kedua orang itu kembali berhadap-hadapan. Sesast keduanya berputar­putar. Wiro membuka serangan dengan jurus kepala naga menyusup awan. L.engan kanannya berkelebat ke atas­seperti hendak menghajar dagu tetapi disaat yang sama jotosan kanan menyusup ke arah dada lawan.
Yang diserang keluarkan suara mendengus. TUbuhnya berkelebat ke kiri. Dua tangannya disilangkan. Begitu silangan dibuka maka tangan kanan Wiro terjepit diantara kedua lengannya laksana jepitan besi! Selagi Pendekar 212 berusaha melepaskan jepitan itu kaki kanan lawan menderu menghantam perutnya.
Murid Sinto Gendeng mengeluh tinggi. Tubuhnya men­celat sampai dua tombak. Sebelum dia bisa berdiri dengan benar, dua jotosan melanda mukanya. Kembali pendekar ini terpental. Hidungnya mengucurkan darah sedang mata kirinya lebam membiru.
Si tinggi besar keluarkan suara tawa bergerak dan men­dekati Wiro dengan kedua tangan terpentang. Baru lawan sempat maju dua langkah Wiro segera sambut dengan jurus segulung ombak menerpa karang. Serangan ini dibuka dengan satu tendangan tipuan, ketika lawan mengelak Wiro susul dengan satu lompatan seraya tangan kiri membabat ke leher.
"Serangan tak berguna! Terima pukulanku!" ejek lawan lalu cepat sekali tangan kanannya melesat ke dada Wiro. Murid Sinto Gendeng cepat menangkis tapi luput. Jotosan lawan menghantam dadanya dengan telak. Pendekar 212 terbanting jatuh punggung di tanah. Dari mulutnya kelihatan ada darah keluar. Tulang-tulangnya serasa berantakan. Ketika lawan datang hendak menendangnya wiro segera menimbun seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan. Tangan itu sebatas lengan sampal ke ujung-ujung jari berubah menjadi putih perak menyilaukan. Udara yang tadi dingin berubah menjadi panas.
Si tinggi besar mengekeh.
"Aku mau lihat pukulan sinar matahari yang terkenal itu!" katanya mengejek lalu tegak berkacak pinggang.
"Leleh tubuhmu!" teriak Wiro seraya menghantam.
Sinar putih berkilat. Hawa panas menghampar. Si tinggi besar masih tegak bertolak pinggang. Malah kini kembali keluarkan suara tawa bergelak. Tiba-tiba dia menggerak­kan kedua tangannya. Dua telapak tangan menghadap ke depan dan didorongkan perlahan saja. Ada hawa aneh yang memancarkan sinar hitam redup menyongsong pukulan sinar malahari. Lalu bummmm!
Satu ledakan keras berdentum laksana merobek langit. Pukulan sinar matahari buyar berantakan. Pendekar 212 Wiro Sableng keluarkan seruan kaget. Tubuhnya terguling beberapa langkah. Dari mulutnya kelihatan lebih banyak darah keluar. Di bagian lain lawannya tampak mengerenyit. Pakaian kuning yang dikenakannya di bawah mantel hangus hitam sebagian tetapi tubuhnya sendiri tidak apa­apa, begitu juga mantel hitam yang dikenakannya!
"Saatmu untuk masuk ke liang kubur Pendekar 212!" kata si tinggi besar. Lalu kaki kanannya ditendangkan ke tubuh Wiro.
Dalam keadaan terluka seperti itu Pendekar 212 masih sempat menghindar dengan menggulingkan diri lalu cepat berdiri. Baru tegak dan belum sempat memasang kuda­kuda lawannya sudah menyerbu dengan serangan­serangan tangan kosong yang ganas. Wiro keluarkan jurus­jurus silat Tua Gila yang didapatnya Tua Gila. Tapi lawan menyambut dengan taws mengejek.
"Keluarkan seluruh jurus silat orang Gila! kalau penciptanya saja bisa kuhajar apalagi kau yang cuma cecunguknya!"
Lalu serangan lawan datang menghantam susul menyusul. Semua gerak silat orang Gila yang selama ini tidak ada duanya dibuat mentah. Wiro terdesak hebat dan mundur terus. Tanpa disadari dia mundur membelakangi liang kubur yang menganga. Tiba-tiba lawan membuka mantel hitamnya lalu mengebutkan mantel ini ke arah Wiro.
Murid Sinto Gendeng seperti mendengar gemuruh suara air bah. Angin sedahsyat topan keluar dari mantel yang dikebutkan menyapu tubuhnya. Wiro membentak dan lindungi diri dengan pukulan sakti benteng topan melanda samudera! Tapi tak ads gunanya. Tubuhnya telah te­rjengkang lebih dahulu, lalu tersapu mental. Kapak Muat Naga Geni 212 yang terselip di pinggangnya ikut tersapu ke udara. Wiro berusaha melompat untuk menggapai senjata mustika itu. Namun di depan sana lawan kembali kebutkan mantelnya. Tak ampun lagi murid Eyang Sinto Gendeng itu mencelat masuk ke dalam Hang kubur. Kepalanya membentur dinding makam yang terbuat dari batu tebal.
Pemandangannya seperti gelap. Di saat itu pula si tinggi besar meiompat. Tangannya menempel pada batu yang menyembul dl kepala makam.
"Pendekar 212! Sebelum meregang nyawa kau dengar baik-baik. Beberapa tahun lalu kau telah membunuh adikku Datuk Sipatoka di bukit Tambun Tulang! Hari ini kau terima pembalasan dariku. Kau hanya bisa bertahan empat hari dalam liang kubur ini. Tapi jika kau mau memberi tahu di mana kau menyimpan buku Seribu Macam limu Pengobatan, nyawamu akan kuselamatkan. Beri tanda dengan tiga ketukan pada batu penutup makam! Kalau kau keras kepala dan tak mau memberi tahu, kau akan jadi bangkai secara perlahan-lahan dalam makam itu! Ha… ha… ha …!"
Orang yang mengaku kakak Datuk Sipatoka itu tertawa bergelak lalu tekan batu yang menyembul di kepala makam. Batu tebal penutup makam serta merta jatuh ke bawah. Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang berada dalam keadaan antara sadar dan tiada terpendam di dalamnya!
Sesaat sebelum penutup batu itu jatuh mendadak ter­dengar seseorang berteriak.
"Wiro!"
Manusia tinggi besar tersentak kaget. Dia cepat me­nyambar Kapak Maut Naga Geni 212 yang tercampak di tanah lalu memandang berkeliling.
Saat itu badai dan hujan telah mereda. Udara beralih terang sedikit demi sedikit. Sepasang mata lebar si tinggi besar jelalatan kian kemari. Tapi dia tidak berhasil melihat dimana adanya orang yang barusan berteriak menyebut nama Pendekar 212. Maka diapun membentak.
"Siaps yang berteriak! Lekas unjukkan diri!"
Tak ads jawaban. Dia memandang pada senjata mustika yang ada dalam genggamannya. Perlahan-lahan disalurkan tenaga dalam ke tangan kanan. Lalu Kapak Maut Naga Geni 212 dibabatkannya beberapa kall. Sinar menyilaukan berkelibat disertai suara seperti lebah mengamuk dan menclerunya haws panas. Pohon-pohon berderak patah dan hangus. Semak belukar rambas dan mengepulkan asap. Batu-batu karang dan batu-batu cadas yang kena hantaman sinar senjata mustika itu retak lalu mental berkeping-keping.
"Senjata luar biasal" kata si tinggi besar dalam hati. Dia memandang berkeliling. Tempat itu kini sunyi senyap. Hanya debur ombak terdengar di kejauhan. Dan dia masih belum dapat mengetahui siapa atau di mana orang yang tadi berteriak.
"Suara yang berteriak tadi jelas suara perempuan… Atau mungkin telingaku keliru menangkap bunyi suara…?!" Dia memandang sekali lagi berkeliling lalu berteriak, "Hantu atau jin perempuan! Kau tak berani unjukkan diri! Jangan kira kau bisa bersembunyi! Aku akan menemukanmu! Masih banyak tiang-tiang kosong mengikat bangkaimu di tempat ini!"
Habis berteriak begitu orang ini cepat berkelebat dan tubuhnya yang tinggi besar kemudian lenyap di celah antara dua batu karang.

***

9

Siapakah sebenarnya orang tinggi besar yang memiliki ilmu silat hebat serta kesaktian luar biasa itu? Yang sanggup menghajar Pendekar 212 sampai babak belur bahkan memendamnya di liang makam yang agaknya memang telah sejak lama disiapkan.
Untuk menjawab hal ini kita kembali pada masa be­berapa tahun silam ketika Pendekar 212 Wiro Sableng mengarungi laut Jawa untuk sempai ke pulau Andalas. Seorang tokoh silat dari pulau Madura bernama Kiai Bangkalan ditemui mati terbunuh di tempat kediamannya di Goa Belerang. Dari penyelidikan yang dilakukan Wiro, diketahui bahwa pembunuhnya adalah Datuk Sipatoka seorang tokoh silat jahat di pulau Andalas yang diam di Bukit Tambun Tulang.
Wiro segera berlayar ke pulau Andalas untuk mencari si pembunuh. Ternyata Datuk Sipatoka bukan saja mem­bunuh Kiai Bangkalan tetapi juga mencuri sebuah kitab, langka berjudul Seribu Macam Ilmu Pengobatan.
Dalam pelayaran perahu yang ditumpangi Wiro diserang badai hingga terbalik. Wiro berhasil menyelamatkan diri dengan sebuah papan. Selagi terkatung-katung di tengah laut yang diamuk gelombang besar dia melihat seorang anak kecil timbul tenggelam dipermainkan ombak. Ter­nyata anak itu masih hidup dan segera diikatkannya ke papan. Dia sendiri tidak memikirkan keselamatannya lagi. Sesaat sebetum Wiro tenggelam ditelan gelombang tiba­tiba muncul sebuah perahu berpenumpang kakek aneh.
Orang tua ini menyelamatkan Wiro dan anak kecil tadi.
Ternyata kakek itu adalah seorang tokoh silat sakti mandraguna yang diam di sebuah pulau dan dikenal dengan nama Tua Gila. Dari orang tua ini Wiro kemudian mendapat pelajaran beberapa jurus ilmu silat langka yaitu Ilmu Silat Orang Gila sedang si anak kecil diambil jadi muridnya.
Berkat beberapa petunjuk yang diberikan Tua Gila Wiro akhirnya sampal di sarang Datuk Sipatoka. Ternyata sang datuk memang bukan manusia sembarangan. Selain tinggi ilmu silatnya orang ini juga memiliki berbagai pukulan sakti. Untung saja saat itu Tua Gila muncul. Bersama-sama mereka kemudian menumpas manusia jahat itu. Datuk Sipatoka terbunuh dan buku Seribu Macam Ilmu Pengobatan ditemukan oleh Tua Gila lalu diberikan pada Pendekar 212 Wiro Sableng.
Kematian Datuk Sipatoka dan hancurnya sarang manusia jahat itu ternyata tidak habis sampai disitu saja. Kematian Datuk Sipatoka menimbulkan dendam kesumat pada seorang sakti dan jahat yaitu kakak kandung sang Datuk bernama Datuk Tinggi Raja Di Langit yang diam di Kepulauan Pagai.
Namun ketika mengetahui bahwa adiknya terbunuh oleh Tua Gila dan Pendekar Kapak Maut naga Geni 212 yang merupakan orang-orang dunia persilatan dengan name besar maka Datuk Tinggi terpaksa menahan hati dan bersabar. Die maklum tak bakal menang menghadapi kedua lawan yang berkepandaian tinggi itu. Maka dia menyusun satu rencana sambil memperdalam ilmu kepandalannya sendiri. Dia mempelajari pula ilmu silat Orang Gila ciptaan Tub Gila tetapi khusus menekuni kelemahan-kelemahannya. Dengan care begitu jika kelak dia berhadapan dengan musuh besarnya itu dia akan mudah menentukan segala serangannya.
Untuk menghdapai Pendekar 212 Wlro Sableng. Datuk Tinggi Raja Di langit menggembleng tenaga dalamnya dan membuat sebuah mantel hitam yang kelak akan menjadi senjata yang dapat diandalkannya. Di samping itu sang datuk telah menciptakan pula semacam senjata rahasia yang bakal menggemparkan dunia persllahn, yang terbuat dari mutiara hitam dan kelak oleh orang-orang persilatan disebut sebagal Mutiara Setan.
Setelah empat tahun menyiapkan diri, diam-diam Datuk Tinggi Raja Di Langit berangkat ke pulau kediaman Tua Gila. Dalam perjalanan dia menyebar kabar bahwa Tua Gila telah meninggal dunia. Hal ini untuk mengundang para sahabat Tua Gila datang ke pulau itu untuk berziarah. Datuk Tinggi ternyata bukan saja mendendam untuk mem­bunuh Tua Gila, tetapi juga semua sahabat orang tua itu akan dilenyapkannya. Dan tujuan utamanya menyebar berita palsu itu adalah agar Pendekar 212 Wiro Sableng yang menjadi musuh utamanya muncul pula di pulau itu untuk dihabisinya. Di samping itu Datuk Tinggi Raja Di Langit juga sangat berminat untuk memiliki Benang Kayangan milik Tua Gila, Kapak Maut Naga Geni 212 milik Wiro serta mencari tahu di mana kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan yang dulu pernah dimiliki adiknya Datuk Sipatoka.
Ketika Datuk Tinggi sampai di pulau kediaman Tua Gila ternyata orang tua itu belum kembali dari suatu perjalanan jauh. Dia hanya menemukan murid Tua Gila, seorang anak lelaki yang baru berusia enam tahun. Dengan mudah Datuk Tinggi meringkus anak ini, mengikatnya dan membawanya ke sebuah goa sempit di antara celah-celah batu karang dimana dia bersembunyi.
Datuk Tinggl kemudian menggeledah gubuk kayu kediaman Tua Gila. Benda yang dicarinya yaitu buku Seribu Macam Ilmu Pengobatan tidak ditemukan.
"Berarti benar kabar yang kuterima di luaran, Kitab Itu telah diberikan dan berada di tangan Pendekar Kapak maut Naga Geni 212!" kata Datuk Tinggi dalam hati. Lalu cepat-cepat dia meninggalkan gubuk tersebut.
Sambil menunggu kedatangan Tua Gila, Datuk Tinggi pergunakan kesempatan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan rencananya. Dia membuat dua buah makam yang diberi peralatan rahasia. Bagian atas makam dilapisi batu yang bisa dibuka dan ditutup jika sebuah batu pada masing-masing kepala makam di tekan. Lantai dan dinding makam juga dilapisi dengan batu-batu tebal. Di kedua makam ini kelak dia akan menjebloskan dan mendekam Tua Gila serta Pendekar 212 Wiro Sableng sampai kedua orang itu menemui ajal secara perlahan-lahan. Dua buah batu nisan hitam bertuliskan nama Tua gila dan Wiro Sableng tak lupa disiapkannyal
Setelah menunggu hampir satu minggu akhirnya Tua Gila muncul pada suatu malam. Dia langsung menuju ke tempat kediamannya sebuah gubuk kayu di bagian tenggara pulau. Ada dua hal yang membuat Tua Gila ter­kejut begitu memasuki gubuk. Pertama isi gubuknya ke­lihatan berantakan seperti ada yang membongkar setiap sudut tempat itu. Hal kedua dia tidak menemukan murid­nya, anak lelaki yang baru berusia enam tahun itu.
"Heran, ke mana anak itu? Kalau masih siang pasti dia tengah bermain-main di hutan kecil atau di lapangan. Atau di tepi pantai. Tapi malam-malam begini…?" membatin Tua Gila. Maka diapun keluar gubuk mulal mencari sambil tiada hentinya berteriak memanggil muridnya itu.
"Malin… Malin Sati! Di mana kau…?"
Mula-mula Tua Gila mencari sepanjang tepi pantai terdekat. Ketika sang murid tidak dijumpai orang tua ini kembali memasuki pulau dan akhirnya sampai di lapangan kecil. Disini dua menghentikan langkah sambil me­mandang terheran-heran. Ada dua gundukan tanah di­lihatnya di ujung lapangan.
"Dua buah kuburan…" desis tua Gila. "Kuburan siapa…" Satu berbatu nisan. Satunya tidak…"
Tua Gila bergegas mendatangi. Dihadapan makam ber­nisan langkahnya tertahan. Meskipun malam gelap namun matanya masih dapat membaca nama yang tertulis di atas batu itu. Tua Gila! Namanya sendiri!
Tua Gila menyeringai.
"Siapa pula yang bercanda dengan segala kegilaan ini?" katanya dalam hati. Namun sesaat kemudian seringainya lenyap. Parasnya berubah. "Mungkin ini bukan senda gurau… " Dia berjalan mengelilingi kedua makam itu.
Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara raungan anjing. Tua Gila terkesiap.
"Puluhan tahun hidup di pulau ini baru kali ini aku men­dengar suara lolongan anjing! Tak pernah ada anjing di pulau ini. Atau itu suara hantu laut? Mungkin juga binatang jadi-jadian…?" Tua Gila memandang berkeliling. Orang tua sakti ini kemudian menyadari, walau dia belum melihat sosok tubuh lain di tempat itu tapi dia merasa pasti ada seseorang yang tengah memperhatikan gerak geriknya saat itu. Perlahan-lahan Tua Gila menatap tajam setiap sudut gelap yang ada disekitarnya. Tiba-tiba dia meng­hantam ke arah celah dua batu karang di depan sana.
Serangkum gelombang angin menderu. Dua batu karang bergetar. Tua Gila hendak menghantam sekali lagi. Pada saat itulah dari celah batu karang muncul melompat sesosok tubuh tinggi besar yang langsung menyergapnya.
Tua Gila cepat menyingkir seraya memukul. Tapi serangannya hanya mengenai tempat kosong karena yang diserang tahu-tahu sudah melompat ke samping dan dari samping lepaskan satu pukulan mengandung gelombang angin yang hebat sehingga Tua Gila terhuyung-huyung hampir jatuh!
"Tenaga dalam dan pukulan orang ini luar biasa sekali!" kata Tua Gila lalu dia melompat mundur seraya mem­bentak. "Penyerang tak dikenal!" Kau mencari mati berani menginjakkan kaki di pulauku! Katakan siapa dirimu!"
Yang ditanya menjawab dengan suara tawa bergelak. Orang ini bertubuh tinggi besar. Mengenakan baju kuning yang disebelah luar dilapisi mantel dalam berwarna hitam. Dia memakai kasut kulit sampai sebatas lutut. Di Kepala­nya ada sebuah topi tinggi. Mukanya tertutup kumis dan berewok sedang sepasang matanya besar sekali.
"Mulutmu busuk, taringmu seperti harimau! Jangan ter­tawa keras-keras di hadapanku! Pasti kau binatangnya yang telah mengobrak-abrik isi gubukku…!"
Suara tawa orang tinggi itu semakin keras.
Tua gila ingat pada Malin Sati. Rahang dan pelipis orang tua ini langsung mengembung. Mukanya yang hanya tinggal kulit pembalut tengkorak nampak berubah.
"Pasti kau juga telah menculik muridku! Lekas kembali­kan Malin Sati! Jika anak itu sampai tergores saja kulitnya akan kupatahkan batang lehermu!"
"Memang aku yang membongkar isi rumahmu. Aku juga yang menculik muridmu…"
Mendengar pengakuan si tinggi itu, Tua Gila meng­gembor marah. Tubuhnya melayang sebat, tangan kanannya bergerak membabat ke arah batang leher orang.
Si tinggi besar cepat membungkuk lalu balas meng­hantam ke arah perut Tua Gila. Orang tua ini terkesiap, cepat berkelit. Setelah itu dia kembali menyerbu dengan mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat orang gila. Tubuhnya gerabak gerubuk seperti orang mabok. Tapi setiap tangan atau kakinya bergerak, itu adalah gerakan menyerang yang sulit diduga dan sangat berbahaya.
"Ilmu silat orang gila!" seru si tinggi bermantel hitam.
"Dulu memang ditakuti orang! Tapi bagiku ilmu silatmu tidak lebih dari gerakan seekor ayam yang tertelan karet!"
Habis berkata begitu orang bermantel itu lalu meng­hadapi Tua Gila dengan jurus-jurus tak kalah anehnya.
Tua Gila terkesiap ketika melihat jurus-jurus yang di­mainkan lawannya adalah kebalikan dari setiap gerakan ilmu silatnya. Dengan sendirinya jurus apapun yang di­keluarkannya untuk menyerang, dengan sangat mudah dapat dimentahkan lawan.
Melihat Tua Gila terkesiap orang tinggi itu tertawa bergelak. Dia melangkah ke kepala makam di sebelah kiri di mana terdapat sebuah batu sebesar kepalan. Batu ini ternyata dibenamkan ke tanah dan dihubungan dengan sebuah alat rahasia. Ketika batu di tekan terdengar suara berdesir lalu secara aneh bagian atas kuburan sebelah kiri yang bertanah merah bergerak ke atas. Di sebelah bawah tanah merah ini terdapat lapisan batu sangat tebal. Kini Tua Gila dapat melihat bagian dalam makam. Dinding dan lantainya berlapiskan batu tebal. Makanr itu hampir dua tombak lebih dalamnya.
"Sudah saatnya aku mengucapkan selamat jalan pada­mu Tua Gila!"
"Eh, setan ini tahu namaku!" rutuk Tua Gila.
"Kau kaget aku tahu siapa dirimu?! Tua Gila, dengar baik-baik. Kematianmu tak dapat dihindari. Liang kubur sudah kusediakan. Aku tadinya ingin membunuh dan mencincang tubuhmu sampai lumat. Tapi aku mau berbaik hati agar kau bisa mati wajar-wajar saja. Untuk itu kau harus menyerahkan padaku senjatamu berupa benang sakti Benang Kayangan…"
"Manusia kadal! Jadi itu maksudmu datang ke pulau ini?!"
"Bukan itu saja Tua Gila! Di luaran aku telah menyebar kabar bahwa kau telah meninggal dunia! Berarti akan banyak tokoh silat para sahabatmu berdatangan kemari. Mereka termasuk manusia-manusia yang kena kutukku! Siapapun sahabatmu akan kubunuh mati ditempat ini!"
"Gilal" teriak Tua Gila.
"Tidak… Aku belum gila!"
"Kalau tidak gila apa alasanmu membunuh orang-orang yang tidak ada dosa kesalahan itu?!"
"Apa alasanku akan kukatakan nanti. Kau harus dengar dulu maksudku yang lain datang ke tempat ini. Aku minta kau juga menyerahkan kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan!"
Tua Gila tertawa mengekeh.
"Rupanya kau jenis pencuri tengik!" ejek Tua Gila. "Buku yang kau cari tidak ada padaku. Kalau pun ada masakan aku mau memberikannya padamu!"
"Bagus, pengakuanmu itu menyatakan bahwa kitab tersebut memang benar berada di tangan Pendekar 212 Wiro Sableng! Tapi masih harus kita buktikan. Muridmu itu pasti akan segera pula muncul di sini begitu mendengar kabar kematianmu!"
"Dia bukan muridku! Aku hanya mengajarkan beberapa jurus ilmu silat padanya!"
Si tinggi besar tertawa bergumam.
"Sekarang kukatakan padamu mengapa aku mengingin­kan jiwamu! Juga ingin menghabisi siapa saja yang menjadi sahabatmu, termasuk dan terutama sekali Pendekar 212 Wiro Sableng!"
"Hebat! Lekas kau katakan!"
"Beberapa tahun yang lalu kau bersama Pendekar 212 rnenyerbu bukit Tambun Tulang, menghancurkan tempat itu dan membunuh Datuk Sipatoka! Betul begitu atau kau berani berdusta?!"
"Iblis! Seumur hidup aku tidak pernah berdusta! Memang benar aku membantu Pendekar 212 membunuh Datuk Sipatoka penguasa bukit Tambun tulang! Manusia keji itu pantas untuk disingkirkan dari muka bumii"
Orang berbadan tinggi besar keluarkan suara seperti menggereng.
"Karena kau penyebab kematian Datuk Sipatoka, make hari ini aku membalaskan dendam kesumat sakit hati kematiannya! Aku adalah kakak kandung Datuk Sipatoka, bergelar Datuk Tinggi Raja Di Langit!"
"Aha… Raja di langit sudah turun ke bumi mencari penyakit!" teriak Tua Gila mengejek.
"Sebelum kau ku pendam dalam makam batu itu, lekas serahkan Benang Kayangan padaku!" Datuk Tinggi berkata sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Kau inginkan benang sakti itu. kau terimalah!" kata Tua Gila sambil menggerakan tangan ke balik pakaian putih­nya. Ketika tangan itu keluar dari balik pakaian tiba-tiba melesat sebuah benda putih berbuntal-buntal hendak menggelung tangan kanan Datuk Tinggi. Orang yang sudah mengetahui sekali kehebatan benang putih itu cepat menarik pulang tangannya. Sekali terlambat dan sampai lengannya digulung Benang Kayangan pasti tanggal anggota tubuhnya itu!
Sambil menghindar Datuk Tinggi Raja Di Langit pukul­kan tangan kiri. Tua Gila terkejut besar ketika melihat bagaimana angin pukulan lawan sanggup membuat benang saktinya tergoyang-goyang dan tak berhasil menyambar apalagi menggulung tangan kanan lawan. Dia gerakkan tangan yang memegang benang. Ujung benang melesat dan menyambar ganas ke arah leher Datuk Tinggi Raja Di Langit.
Kini sang datuklah yang jadi terkejut. Sambil keluarkan seruan keras manusla tinggi besar itu jatuhkan diri ke tanah, lalu dengan satu gerakan sangat cepat dia mem­buka mantel hitamnya. Sambil menyeringai dia bertanya.
"Kau mau memberikan Benang kayangan itu atau tidak, Tua Gila?!"
Sebagai jawaban Tua Gila kembali menggerakkan tangan kanannya. Benang Kayangan kelihatan berkilauan tanda prang tua itu telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Senjata ini melesat ke arah mulut Datuk Tinggi, siap untuk menggulung lidahnya. Begitu tergulung, sekali sentak saja lidah orang itu akan terbetot tanggal!
Tapi lebih cepat dari datangnya sambaran Benang Kayangan, Datuk Tinggi Raja Di Langit sudah kebutkan mantel hitamnya.
Tua Gila mendengar seperti air bah bergulung ke arah­nya. Lalu ada angin sangat dahsyat badai menyambar ke arahnya. Tubuh dan kedua kakinya serta merta bergoyang sedang Benang Kayangan membalik seperti menyerang ke arah dirinya sendiri.
Tua Gila menggeram. Tangan kirinya lepaskan pukulan sakti yang juga mengeluarkan angin dahsyat.
Datuk Tinggi Raja Di langit tersenyum mengejek. "Pukulan Dewa Topan menggusur gunung! Apa hebatnya!" katanya., mantel di tangannya berkelebat.
Wusss!
Tua Gila berteriak keras. Tubuhnya tersapu angin serangan lawan. Dia berusaha bertahan tapi sia-sia saja. Orang tua itu terlempar masuk ke dalam liang kubur berlantai dan berdinding batu. Dia cepat hendak melompat keluar tapi tubuhnya terasa lemas. Darah mengucur dari hidungnya.
Datuk Tinggi Raja Di Langit tertawa mengekeh dan tegak di tepi makam.
"Berikan Benang Kayangan itu padaku Tua Gilal"
"Iblisl kau ambillah sendiri!" jawab Tua Gila. Orang tua ini buka mulutnya lebar-lebar lalu benang putih yang menjadi senjatanya itu dibuntalnya dan dimasukkan ke dalam mulut lalu cepat-cepat ditelannya! Sambil memegang-megang perutnya Tua Gila berkata, "Kau harus membelah perutku lebih dahulu untuk mendapatkan benang sakti itul"
Datuk tinggi mendengus geram. Dia menjawab. "Aku tidak telalu terburu-buru. Bagaimanapun juga aku akan mendapatkan benang itu. Kelak kau sendiri yang akan memuntahkan dan memberikannya padakut Ingat, kau hanya bisa bertahan selama tujuh hari Tua Gila! Ketuk batu penutup makammu jika kau memang kepingin hidup! Jangan lupa, muridmu berada di tanganku!’
Lalu dengan gerakan sangat cepat Datuk tinggi Raja Di Langit diinjak batu hitam yang menonjol di belakang kepala makam. Tanah msnh yang berlapiskan batu tebal jatuh dengan keras Tua Gila coba menahan batu itu dengan kakinya, tapi terlambat. Orang tua ini masih sempat mendengar suara tawa bekakakan Datuk Tinggi sebelum dirinya terpendam dalam liang kubur batu itu!

***

10

PADA saat badai mulai melanda pulau kecil itu, dibagian pantai sebelah timur, sebuah biduk tampak diombang-diambingkan ombak yang bergulung menggemuruh. DI atas biduk kecil in!, penumpangnya seorang dara berpakaian ungu yang menutupi wajahnya dengan cadar ungu sedang rambut hitam panjang tergerai lepas melambai-lambai di tiup angin mendayung inati­matian agar biduknya jangan sampai tenggelam. Namun beberapa ratus langkah sebelum mencapai pasir pantai, biduk itu akhirnya terbalik.
Biduk dan penumpang lenyap dilamun ombak. Tak lama kemudian baru kelihatan kepala gadis itu menyembul. Cadarnya terlepas dari wajahnya. kini tampak wajahnya yang jelita, beralis hitam lengkung dan berhidung mancung. Wajah cantik ini nampak tegang. Dia menghitung jarak, menduga-duga apakah dia akan sanggup berenang mencapai pantai.
Ombak raksasa kembali bergulung menghantam gadis berpakaian ungu. Kembali sosok tubuh itu lenyap. Lalu timbul lagi untuk kemudian dihempaskan ombak. Ketika dia hendak mulai mencoba berenang, dara ini tiba-tiba sadar. Berenang melawan ombak yang menggila seperti itu hanya akan menghabiskan tenaga. Bukankah lebih balk mengambangkan tubuh saja, membiarkan ombak memukul dan menyeretnya ke arah pantai?
Maka gadis itu lalu mengambil sikap menelentang. Tangan dan kakinya digerakkan perlahan secara beraturan.
Tubuhnya tampak mengambang. Dalam keadaan seperti itu ombak besar kembali datang. Kecerdikan si gadis ternyata membawa hasil. Begitu ombak mendera dirinya, tubuhnya yang mengambang itu mencelat di atas air, terlempar ke arah daratan. Begitu terjadi sampai empat kali. Kali yang kelima akhirnya kakinya terasa menyentuh dasar laut di bagian yang dangkal. Sang dara balikkan did lalu menjejakkan kakinya dan melangkah di dasar lautan menuju tepi pasir.
"Badai celaka! Untung Tuhan masih menolongku selamat sampai ke pantai! Kalau tidak untuk melihat kubur seorang sahabat tak akan aku menyiksa diri menantang maut seperti ini," kata si gadis lalu gerakkan kepalanya untuk mengibas air laut yang membasahi rambutnya. Dia memandangi pakaiannya yang basah kuyup. Di bawah hujan lebat dan angin keras dia lalu berlari memasuki pulau. Sebelumnya dia tidak pernah datang ke pulau itu. Tapi mencari sebuah makam di pulau sekecil itu rasanya tak bakal sulit. Sang dara terus menyusup diantara semak belukar dan akhirnya sampai di bagian pulau yang penuh dengan batubatu cadas hitam serta batu-batu karang.
Di salah satu bagian kawasan pulau berbatu-batu ini dia melihat sebuah lobang pada salah satu lamping batu karang. Si gadis cepat menuju ke arah lobang ini dengan maksud beristirahat sebentar sambil menunggu redanya badai.
Ketika dia sampai di mulut goa sang dara dikejutkan oleh apa yang dilihatnya didalam goa batu itu. Seorang anak lelaki berusia sekitar enam tahun duduk tersandar ke dinding goa. Mulutnya ditutup dengan sehelai kain hingga dia tidak bisa mengeluarkan suara. Pergelangan tangan dan kakinya diikat dengan tali yang dibuat dari sambungan akar-akar pohon.
Si anak lelaki tak kalah terkejutnya ketika melihat munculnya seorang gadis cantik berpakaian ungu yang tidak dikenalnya dalam keadaan basah kuyup. Di pinggang­nya ada sebuah saluang. Semula si anak mengira yang datang adalah manusia tinggi besar dan berewokan yang telah menculiknya. Anak ini goyang-goyangkan kepalanya memberi tanda.
Dara berbaju ungu segera buka ikatan kain yang menutup mulut anak itu. Belum sempat dia bertanya, si anak sudah membuka mulut.
"Kakak yang baik. Terima kasih kau telah menolong. Says Malin Sati, murld kakek bernama Tuan Gila…"
"Ah… Kau murid Tua Gila! Justru aku datang untuk menyambangi makam gurumu itu!"
Si anak tampak terkejut. "Guru… Kakek Tua Gila… Kata kakak kau hendak menyambangi makam guru? Apa yang terjadi dengan beliau…?"
"Anak, katamu kau murid Tua Gila. Gurumu meninggal kau tidak tahu! Aneh!"
"Apa…?!" anak itu seperti hendak menjerit. "Tidak mungkin. Bukankah guru tengah melakukan perjalanan?"
"Eh, bagaimana ini? Berita yang tersiar di luaran ialah bahwa Tua Gila telah meninggal dunia dan dimakamkan di pulau tempat kediamannya ini."
"Kakak tolong kau lepaskan dulu ikatan pada tangan dan kaki saya. Orang jahat itu telah mengikatku sejak empat hari lalu. Saya hanya diberinya makan sedikit!"
"Siapa orang jahat yang mau kau katakan itu Malin?" tanya gadis itu sambil melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Malin Sati.
"Seorang tinggi besar bermuka buas, berkumis dan berjenggot lebat. Saya ditangkapnya sewaktu sedang bermain di pantai. Lalu diikat dan dibawa ke dalam goa ini…"
"Kau tahu mengapa orang itu menangkap dan meng­ikatmu lalu membawamu ke sini?" tanya dara berpakaian ungu sambil menggoyang-goyangkan rambutnya yang basah.
"Saya tidak tahu kakak," jawab murid Tua Gila. "Lalu di mana orang yang mengikatmu itu sekarang?"
"Dia pasti masih berada. di pulau ini. Karena pada waktu-waktu tertentu dia setalu kemari untuk melihat dan mengawasi saysa.."
Gadis baju ungu tampak berpikir-pikir.
"Kakak, kau ini siapa? Ada hubunganmu dengan guru?’ bertanya malin Sati.
"Namaku Pandansuri. Aku datang dari Wars, Aku berhutang budi bahkan nyawa pada gurumu. Beberapa tahun lalu gurumu bersama seorang pendekar muda pernah menyelamatkan diriku. ltutah sebabnya aku merasa sangat penting untuk menziarahi makamnya."
"Tidak, tidak mungkin! Guru jelas sedang pergi, tak ada di pulau. Bagaimana mungkin kakak mengatakan hendak menziarahi makamnya? Di pulau ini sama sekali tidak ada kuburan!"
"Ini adalah aneh! Sebagai murid kau tentu tidak berdusta mengatakan bahwa gurumu masih hidup," Kata Pandansari pula. "Kalau begitu mari kita cari orang yang telah menangkap dan menyekapmu di goa ini!"
"Hati-hati, manusia itu jahat sekali. Ilmu kepandaiannya pasti tidak rendah. Dan saya yakin ilmunya dipergunakan untuk berbuat jahat!"
Pandansuri pegang kepala anak itu lalu berkata, "Kita pergi sebentar lagi kalau badai mulai reda."
Malin Sati bangkit berdiri. "Maafkan saya kakak. Saya tidak bisa menunggu. Saya harus menyelidiki apakah guru telah kembali, lalu apakah benar ada makam di pulau ini."
"Kau murid baik, Malin. Mari kita sama-sama me­nyelidik."
Dibawah hujan lebat dan angin kencang kedua orang flu tinggalkan goa di dinding batu karang.
"Kau tentu tahu setiap sudut pulau ini. Kau jalan di depan," kata Pandansari.
Malin Sati berjalan di sebelah depan. Sang dara meng­ikuti dari belakang. Tak selang berapa lama keduanya sampai di gubuk kediaman Tua Gila. Si anak terkejut ketika melihat isi gubuk berantakan sedang gurunya tak ada di situ.
"Pasti ini perbuatan manusia jahat itu!" kata Malin Sati dengan kepalan tinjunya. Dia melangkah keluar gubuk. Saat itu hujan mulai reda tapi tiupan angin masih keras dan mengeluarkan suara menggidikkan.
"Saya harus menyelidiki seluruh pulau! Orang jahat itu jangan- jangan telah mencuri sesuatu dari gubuk guru!"
Tanpa berpaling pada Pandansuri Malin Sati langsung melangkah pergi.
Sang dara cepat memegang bahu anak itu lalu berkata. "Seperti katamu, orang jahat yang menyekapmu itu pasti masih ada di pulau ini. Kita harus berhati-bati. Biar aku yang di depan sekarang. Bisakah kau berjalan tanpa mengeluarkan suara?"
Malin Sati mengangguk. Lalu seolah-olah seperti hendak membuktikan dia melangkah cepat diantara semak belukar sedang di tanah jejak kakinya kelihatan tidak melesak dalam.
"Ah, Tua Gila tentu telah mengajarkan ilmu meringan­kan tubuh pada anak ini…" kata Pandansuri dalam hati.
Kedua orang itu bergerak menuju bagian tengah pulau. Pandansuri di sebelah depan, Malin Sati di belakangnya. Kadang-kadang anak ini karena ingin lebih cepat, me­langkah mendahului. Terpaksa si gadis menariknya cepat­cepat. Di suatu tempat Pandansuri hentikan langkahnya.
"Aku mendengar suara orang tertawa di kejauhan.
Apakah kau mendengarnya?"
Malin Sati gelengkan kepala mendengar pertanyaan Pandansuri itu.
"Ikuti aku. Tapi harus lebih hati-hati…" kata Pandansuri lalu bergerak ke jurusan di mana dia tadi mendengar datingnya suara orang tertawa.
Pandansuri sampai di depan sebuah lapangan kecil yang becek. Gadis ini cepat menekap mulut Malin Sati dan menariknya ke balik sebatang pohon besar ketika di­dengarnya si anak sempat mengeluarkan suara tercekat sewaktu melihat pemandangan di depannya.
Kalau Malin Sati terkejut dan bergidik melihat empat sosok mayat rusak yang terikat di tiang serta adanya dua buah makam dimana salah satunya terbuka secara aneh, maka Pandansuri lebih terkesiap pada perkelahian yang terjadi antara seorang manusia bertubuh tinggi besar dengan seorang pemuda yang segera dikenalinya sebagai pemuda bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212.
Pemuda inilah yang dulu menyelamatkannya bersama Tua Gila dari tangan ayah angkatnya yang sesat yaitu Raja Rencong Dari Utara.
Seat itu Pandansuri menyaksikan bagaimana tubuh Wiro terpental masuk ke dalam liang kubur batu akibat hantaman mantel sakti orang tinggi besar. Ketika orang itu tampak menekan sesuatu di kepala makam. Ketika batu penutup makam terhempas jatuh Pandansuri secara tidak sadar keluarkan seruan memanggil nama pendekar itu.
"Wiro!"
Suara teriakan Pandansuri inilah yang membuat Datuk Tinggl Raja Di Langit jadi tersentak dan dia segera menyadari bahwa ada orang lain di tempat itu.
Pandansuri sendiri begitu sadar telah berbuat ke­salahan segera menarik lengan Malin Sati lalu berkelebat meninggalkan pohon tepat pada saat Datuk Tinggi kiblat­kan Kapak Naga Geni 212 yang memporak-porandakan pepohonan dan bebatuan di tempat itu.

***

11

Di dalam liang makam batu yang gelap itu bahkan tangan di depan matapun tidak kelihatan- Pendekar 212 Wiro Sableng masih berada dalam keadaan setengah sadar. Hantaman mantel sakti Datuk Tinggi Raja Di Langit bukan main dahsyatnya. Di samping itu kepalanya juga telah membentur dinding batu dengan keras.
Selang beberapa lama setelah kesadarannya kembali pulih, murid Eyang Sinto Gendeng ini berusaha berdiri. Kedua tangannya coba mendorong g, batu tebal penutup makam Tapi batu yang berat itu tidak bergeming sedikit pun. Akhirnya dia hanya bisa tegak tersandar memikirkan bagaimana mencari jalan keluar dari sekapan. Aneh, tubuhnya terasa sangat letih. Dicobanya mengerahkan tenaga dalam tapi tidak berhasil. Ada sesuatu yang menye­babkan hal itu dan dia tidak tahu apa.
Perlahan-lahan Wiro kembali duduk di lantai makam. Dalam gelap dia pergunakan lengan bajunya untuk me­nyeka darah yang mulai mengering di bawah hidung dan di sudut bibirnya. Saat itu hidungnya mencium bau aneh dalam ruangan batu itu, Dia lalu ingat pada pipa kecil yang ada di batu tebal di atasnya. Dalam gelap dia meraba dan berhasil menyentuh pipa itu. Wiro berpikir-pikir apa keguna­an pipa itu, Mungkin untuk keluar masuknya udara? Dengan pipa sekecil itu beberapa lama dia bisa bertahan di tempat itu? Datuk Tinggi memberinya waktu empat hari. Berarti itulah batas kehidupannya! Empat hari tanpa makan tanpa minum. Dan disekap di ruang batu seperti itu terasa udara menjadi makin panas saat demi saat.
"Bangsat itu minta kitab Seribu Macam Ilmu Peng­obatan! Gila! Kalaupun aku membawa kitab itu tak bakal aku serahkan padanya! Agaknya aku sudah ditakdirkan menemui kematian dengan cara begini rupa…"
Pikiran Pendekar 212 menjadi kacau. Sekujur tubuhnya terasa sakit dan lemas. Kepalanya juga masih mendenyut­denyut. Pakaiannya basah oleh keringat. Tiba-tiba dia ingat makam di sebelahnya. Sebelumnya dia telah mendengar suara ketukan sayup-sayup datang dari dalam makam itu. Ketika dia mengetuk, dari dalam terdengar suara ketukan balasan. lalu dia ingat pula pada asap seperti asap rokok yang ada di sekitar makam.
"Kalau diriku dijebloskan hidup-hidup begini, jangan­jangan Tua Gila juga mengalami nasib sama…" Wiro lalu keluarkan batu hitam pasangan Kapak Maut Naga Geni 212 yang masih tersisip di pinggangnya. Dengan batu hitam itu diketuknya dinding batu sebelah kanan, dua kali berturut-turut. Lalu dia menunggu. Tak ada jawaban.
"Mungkin orang tua itu sudah …" Wiro tidak teruskan ucapannya, kembali dia mengetuk. Tiba-tiba dari balik dinding batu ada suara ketukan balasan. Perlahan sekali.
"Kakek Tua Gila! Kau ada di situ?!" Wiro berteriak keras­keras.
Jawaban yang terdengar hanya ketukan halus.
"Kakek Tua Gila! Kau yang mengetuk…!?"
"Siapa yang menyebut namaku?!"
Ada suara menyahuti. Halus dan jauh tetapi cukup jelas terdengar oleh murid Sinto Gendeng:
"Aku Wiro Sab!eng!" Wiro berteriak keras-keras. Hatinya gembira mendapatkan jawaban. Lalu keningnya jagi meng­kerut ketika didengarnya suara di kejauhan itu berkata. "Nasib kita sama jeleknya! Tidak, aku lebih jelek. Kau tentu baru saja dijebloskan dalam makam batu! Aku sudah sejak tiga hari lalu…!" Terdengar suara tawa mengekeh.
"Ah, benar rupanya oratig tua itu dijebloskan di makam sebelah! Gila! Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa tertawa," kata Wiro dalam hati. Lalu pendekar ini bertanya. "Bagaimana kau bisa bertahan hidup kek?"
"Hanya karena belas kasihan Yang Kuasa!"
"Selagi di luar aku melihat dan mencium seperti asap rokok, Apakah kau yang merokok?!"
"Tidak sa!ah! Hanya itu yang bisa menjadi penyumpal mulut dan perutku! Tapi aku tidak akan biasa bertahan lama. Paling lama empat hari lagi malaikat maut pasti menemuiku! Mengapa kau tahu-tahu muncul di pulau ini. Kemunculan yang membawa celaka dirimu! Tua bangka sepertiku mati di tempat ini tidak menjadi apa. Tapi kau masih muda…!"
Wiro terdiam sesaat mendengar kata-kata terakhir Tua Gila itu. Lalu dia membuka mulut.
"Di luaran tersebar berita bahwa kau telah meninggal dunia. Itu sebabnya kuperlukan datang kemari. Ternyata ini jebakan belaka! Apa betul keparat yang menjebloskan diriku itu adalah kakak Datuk Sipatoka yang kita habisi beberapa tahun lalu di Bukit Tambun Tulang?! Siapa nama bangsat itu?!"
"Namanya aku tidak tahu. Dia menyebut dirinya dengan gelar Datuk Tinggi Raja Di Langit! Dia memang kakak Datuk Sipatoka…! Dia muncul membawa dendam kesumat!"
"Bagaimana kau bisa dikalahkan lalu dijebloskan ke dalam makam batu itu kek?!"
"Mantel hitamnya itu! mantel itu merupakan senjata hebat luar biasa! Tua bangka ini tak sanggup menghadapinya! Siapapun tak bakal sanggup mengalah­kannya! Kecuali ada yang berhasil menarik lepas mantel hitam saktinya itu!"
Wiro teringat pada jubah Kencono Geni milik keraton di Jawa. Siapa saja yang mengenakan jubah itu tak satu kekuatanpun sanggup mengalahkannya.
"Di samping itu," terdengar lagi suara Tua Gila. "Datuk Tinggi memiliki senjata rahasia yang luar biasa. Orang-orang dalam dunia persilatan di Andalas menyebut senjata itu Mutiara Setan. Senjatanya memang mutiara sungguhan tapi berwarna hitam. Tidak beracun namun ganas sekali. Siapa saja yang sampai ditancapi Mutiara Setan tubuhnya pasti akan menemui kematian dalam waktu sekejapan. Datuk Tinggi selalu mencari sasaran di kening lawan!"
"Mutiara Setan!" desis Wiro. "Senjata aneh dan mahal harganya!"
"Anak muda, apakah datuk keparat itu minta buku Seribu Macam Ilmu Pengobatan padamu?!" bertanya Tua Gila dari makam sebelah.
"BetuI!" jawab Wiro. "Tentu saja aku tidak membawa buku itu ke mana-mana. Sekalipun kubawa tak akan ku­berikan padanya!"
"Padaku dia juga minta buku itu! Kukatakan kalau buku itu tidak ada padaku. Lalu dia minta senjataku Benang Kayangan. Tapi dia tidak bisa mendapatkannya karena benang sakti itu keburu kumasukkan ke dalam mulut dan kutelan! Kini senjata langka itu aman dalam perutku!" Tua Gila tertawa mengekeh. Lalu dia meneruskan ucapannya. "Iblis tinggi itu memberikan waktu tujuh hari padaku! Jika aku tidak memberi tanda dengan ketukan maka tamatlah riwayatku!"
Wiro menghela nafas panjang. "Kalau begitu aku lebih celaka darimu, kek! Datuk Tinggi berhasil merampas senjata warisan Eyang Sinto Gendeng!"
"Maksudmu Kapak Naga Geni 212?!"
"Betul kek!"
"Ahl Padahal jika, senjata itu ada padamu saat ini, mungkin bisa dipergunakan untuk membobol dinding atau atap makam keparat ini!" kata Tua Gila pula. Tapi dia segera menyambung. "Mungkin juga tidak! Senjata itu tidak akan ada gunanya di dalam tempat ini. Karena kita tidak bisa mengerahkan tenaga dalam!"
"Betul kek. Aku tadi coba mengerahkan tenaga dalam tapi tidak berhasil! Apa yang ada di tempat celaka ini?!"
"Datuk Tinggi menaburi semacam obat. Tidakkah kau membaui hawa aneh dalam makammu?!"
"Memang ada hawa aneh di sini!"
"Hawa itulah yang membuat peredaran darah kita tak bisa dipacu sehingga tenaga dalam tak bisa dialirkan. Haws itu pula yang membuat sekujur tubuh kita menjadi lemah!"
"Apa daya kita sekarang kek? Apakah kita tidak mungkin bisa keluar dari tempat celaka ini?!"
"Tipis sekali kemungkinannyal Mungkin satu berbanding seribu! Kita akan sama-sama berkubur di tempat ini! Kita berdua pasti banyak dosa! Berdoa sajalah dan mints ampun pada Yang Kuasa atas segala dosa-dosa kita! Ha… Ha… ha …!"
Wiro terdiam.
"Anak muda! Kau takut menghadapi kematian?!" ter­dengar Tua Gila bertanya.
"Semua orang akan mati kek. Tapi kalau kematian datangnya seperti ini, perlahan-lahan dan tersiksa, lebih baik aku memilih dipancung saja! Kita harus mencari akal kek!"
"Aku sudah tiga harl mencari akal. Sampai persediaan rokokku habis! Tapi sia-sia saja!" jawab Tua Gila.
"Waktu aku sampal di tempat ini, aku melihat ada empat sosok mayat diikat ke tiang kayu!"
"Pasti korban-korban jebakan Datuk Tinggi! Kau kenal siapa-siapa mereka?!"
"Belum sempat memeriksa Datuk keparat itu sudah muncul! Tapi ada satu hal. Sewaktu aku dijebloskan ke dalam makam ini, aku masih sempat mendengar sese-orang berterlak menyebut namaku! Mudah-mudahan saja ada yang bakal menolong kita!"
"Jangan terlalu berharap anak muda! Yang memanggil­mu itu bukan mustahil adalah malaikat maut yang sudah mengenalimu!" kata Tua Gila pula lalu kembali tertawa gelak-gelak. Dalam hatinya Pendekar 212 jadi me­nyumpah. Dia duduk bersandar ke dinding batu dan ulur­kan kedua kakinya lurus-lurus. Hawa di tempat itu semakin panas. Jangan-jangan dia tidak mampu bertahan sampai empat hari."
"Kek! Demi menyelamatkan nyawamu aku bersedia memberikan kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan itu!"
"Jangan tolol!" membentak Tua Gila dari makam sebelah. "Sekalipun kau berikan seribu buku dan seribu senjata mustika pada Datuk Tinggi, manusia keparat itu tetap saja akan membunuh kita! Keinginan utamanya adalah membalaskan dendam kesumat kematian adiknya. Yaitu membunuh kita berdua dan semua sahabat kita yang tertipu muncul di pulau ini! Kalau memang ingin selamat sudah sejak kemarin-kemarin kuberikan Benang Kayangan padanya!"
"Jadi beginilah perjalailan hidupku!" kata Wiro. Untuk pertama kalinya dia menggaruk kepalanya berulang kali. "Mati terjebak dalam makam batu!"
"Kau terlalu mengawatirkan kematian dirimu! Apalah kau sudah punya anak?!" Tua Gila bertanya dari sebelah.
"Kawin saja belum! Bagaimana punya anak?!" sahut Wiro setengah mengomel.
Tua Gila terdengar tertawa gelak-gelak.
Wiro memaki panjang pendek dalam hati. Lalu dia me­lengak ketika lapat-lapat dia mendengar suara orang me­ngorok!
"Pasti itu si Tua Gila! Edan! Bagaimana dalam keadaan seperti ini dia masih bisa enak-enakan tidur! Malah sampai ngorok segala!" kata Wiro dalam hati merutuk tidak henti­hentinya.
Pendekar 212 berusaha mengatur jalan nafas dan per­edaran darah. Lalu berusaha menghimpun tenaga dalam. Tapi setiap dikerahkan selalu tidak berhasil. Sementara tubuhnya terasa semakin lemas.
Pendekar ini tidak tahu berapa lama dia telah berada dalam pendaman makam batu itu ketika tiba-tiba dia men­dengar suara berdesir. Sesaat kemudian ada angin bertiup masuk ke dalam liang batu itu. Lalu Wiro melihat sedikit cahaya dan menyusul terbukanya atap batu makam!
"Kakek Tua Gila! Batu penutup makamku terbuka!" teriak Wiro memberi tahu. Lalu cepat berdiri.
Tapi untuk melompat keluar dari makam yang dalamnya lebih tinggi dari tubuhnya itu dia tidak sanggup oleh keadaan tubuhnya yang lemas. Wiro berjingkat dan berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Hujan dan badai tak ada lagi. Tapi udara di atasnya diselimuti kegelapan walau tidak segelap dalam liang batu tadi. Ini memberi pertanda bahwa saat itu hari telah malam.
Wiro berusaha lagi untuk bisa keluar dari dalam lobang itu. Namun sia-sia. Tubuhnya masih sangat lemas. Dia mendongak ke atas don melihat sepasang kaki di tepi makam batu. Lalu ada tangan yang diulurkan untuk mem­bantunya keluar dari makam. Dalam gelap Wiro dapat me­lihat orang yang hendak menolongnya itu. Dia tidak kenal lelaki ini. Tapi jelas bukan Datuk Tinggi. Maka Pendekar 212 ulurkan pula tangannya siap untuk ditarik ke atas. Sesaat kemudian Wiro telah keluar dari dalam liang maut. itu.
"Pandeka mudo, Nyanyuk Amber berpesan agar kau lekas mengatur jalan darah dan pernafasan. Menghirup udara segar sebanyak-banyaknya agar dapat menghimpun tenaga dalam!"
"Nyanyuk Amber? Orang tua itu ada di sini?!" tanya Wiro.
"Pandeka akan bertemu dengan beliau. Lekas lakukan apa yang beliau pesankan."
"Sahabat, kau sendiri siapa? Terima kasih kau telah menolongku!"
"Ambo Saringgih, pembantu Nyanyuk Amber. Ambo harus menolong Tua Gila di makam sebelah!" lalu Saringgih tinggalkan Wiro. Pendekar 212 segera duduk bersila, mengatur jalan nafas, darah dan mulai coba mengalirkan tenaga dalamnya. Hal itu tidak dapat dilakukannya dengan cepat karena lebih dari setengah harian diri sudah sempat dipendam dalam makam batu.
Sementara itu Saringgih telah bergerak ke makam yang satunya. Sesuai petunjuk Pandansuri pembantu Nyanyuk Amber ini segera menekan batu kecil yang menonjol di belakang kepala makam. Terdengar suara berdesir, lalu perlahan-lahan bagian atas makam berikut batu nisannya bergerak ke atas. Terdengar suara orang tersentak kaget di dasar makam. Lalu dalam gelap tampak dua tangan kurus tinggal kulit pembalut tulang menggapai-gapai di tepi lobang batu. Saringgih cepat menangkap salah satu lengan Itu lalu menariknya kuat-kuat ke atas.
Pembantu Nyanyuk Amber ini merasakan jantungnya seperti copot ketika melihat sosok dan wajah orang yang barusan ditolongnya. Dia telah terbiasa dengan keangker­an wajah Nyanyuk Amber. Namun manusia yang kini ter­duduk di hadapannya ini memiliki tubuh dan kepala yang tidak bedanya seperti jerangkong hidup! Orang yang barusan ditolongnya ini menatap padanya dengan se­pasang matanya yang sangat cekung. Pandangannya dingin mengerikan. Dan dia sama sekali tidak meng­ucapkan satu patah katapun, apalagi mengatakan terima kasih! Seperti Wiro orang ini kemudian duduk bersila mengatur jalan nafas dan darah serta menghimpun tenaga dalam.

***

12

MARI kita ikuti apa yang terjadi sebelum batu penutup makam Pendekar 212 Wiro Sableng tiba­tiba terbuka. Seperti dituturkan ketika mengenali bahwa pemuda yang terpental masuk ke dalam liang makam adalah Wiro Sableng yang dikenalnya, Pandansuri anak angkat Raja Rencong Dari Utara tanpa sadar telah berteriak memanggil nama Wiro. Teriakannya ini mengejut­kan Datuk Tinggi Raja Di Langit. Apalagi suara yang ber­teriak jelas suara perempuan. Dia menantang agar orang yang berteriak unjukkan diri. Tapi Pandansuri tidak mau muncul. Karena sama-sama dari utara Pandansuri sudah tahu betul siapa adanya Datuk Tinggi. Satu lawan yang berat untuk dihadapi, apalagi saat itu dia bersama Malin Sati, murid Si Tua Gila yang baru berusia enam tahun.
Ketika Datuk Tinggi menghantamkan Kapak Maut Naga Geni 212 yang membuat pepohonan dan batu-batu di tempat itu menjadi berantakan, Pandansuri cepat menarik lengan Malin Sati, Kedua orang ini melarikan diri dibawah cuaca yang masih buruk. Udara yang masih gelap ikut membantu hingga walau masih mengejar di belakang tapi Datuk Tinggi telah tertinggal jauh.
Pandansuri sengaja menempuh bagian pulau yangt rapat dengan pepohonan, lalu membelok ke arah dimana Nyanyuk Amber dan Saringgih berada dalam sebuah legukan batu berbentuk goa.
Saat itu karena badai dirasakan mulai reda maka Nyanyuk Amber yang sudah tidak sabaran untuk mengejar pemuda berpakaian putih berambut gondrong seperti yang dilihat dan diberitahukan oleh Saringgih kepadanya. Ber­dasarkan ciri-ciri yang dikatakan pembantunya itu Nyanyuk Amber sudah dapat menduga bahwa si pemuda bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, dengan siapa dia be­berapa tahun lalu menghancurkan sarang Datuk Sipatoka dan membunuh manusia jahat itu di Bukit Tambun Tulang.
"Saringgih! Lekas dukung aku! Kita harus mengejar pemuda yang kau lihat itu. Badai kurasa sudah mulai reda!’
Saringgih segera lakukan apa yang diperintahkan Nyanyuk Amber. Baru satu langkah dia keluar dari legukan batu, pembantu ini cepat bersurut kembali.
"Eh, ada apa Saringgih?!" tanya si orang tua. Telinganya di pasang.
"Ada orang mendatangi dari jurusan pantai sebelah kanan!" melapor sang pembantu.
"Cepat katakan ciri-cirinyal"
"Ada dua orang Nyanyuk. Yang pertama seorang perempuan berambut panjang, berpakaian serba ungu…"
"Seorang perempuan berpakaian serba ungu! Apakah wajahnya ditutupi dengan cadar ungu?"
"Tidak Nyanyuk. Wajahnya tidak ditutup apa-apa. Dari sini jelas terlihat parasnya cantik. Di pinggangnya ada sebuah saluang."
"Tak ada dugaan lain. Orang ini adalah Pandansuri, anak angkat Raja Rencong. Tetapi kenapa tidak bercadar? Ah mungkin dia sudah mengikuti perkembangan zaman! Saringgih, lekas katakan ciri-ciri orang kedua!"
"Seorang anak lelaki kecil. Umurnya belum sampai tujuh tahun."
"Anak lelaki? Di pulau ini ada anak lelaki?! Pasti itu murid si Tua Gila!"
"Kedua orang itu sudah mendekat kemari Nyanyuk. Kelihatannya mereka seperti dikejar sesuatu!"
Telinga Nyanyuk Amber menangkap suara kaki-kaki yang berlari itu mendekati legukan batu, maka dia cepat berseru.
"Pandansuri, lekas masuk ke dalam legukan batu!"
Pandansuri tentu saja jadi terkejut ketika dia men­dengar ada suara menyebut namanya. Dia memegang lengan Malin Sati erat-erat seraya memandang ke arah legukan batu yang tertutup rapat oleh pohon-pohon kecil serta semak belukar.
Semak belukar terkuak. Saringgih muncul. Tentu saja Pandansuri tidak mengenali orang ini. Tapi dia seperti pernah mendengar suara orang yang tadi menyebut nama­nya.
"Malin, kau kenal orang itu?" tanya Pandansuri. Malin Sati menggeleng.
"Saudara… Siapa kau?!" tanya Pandansuri.
Dari dalam legukan batu kembali terdengar suara halus tadi. "Pandansuri, lekas masuk. Untuk sementara kalian akan aman berada di sini!"
Saringgih menguak semak belukar lebih lebar. mata Pandansuri kemudian melihat sosok tubuh yang duduk di lantai legukan batu.
Gadis ini terkejut dan juga girang. Dia berseru.
"Nyanyuk Amber!" Lalu bersama Malin Sati Pandansuri masuk dengan cepat kedalam legukan batu. Saringgih segera menutup tempat itu kembali dengan semak belukar dan pohon-pohon kecil.
Sampai di dalam Pandansuri langsung jatuhkan did, bersimpuh di hadapan Nyanyuk Amber. Sementara Saringgih dan Malin Sati terheran-heran. Sepasang mata Saringgih tidak berkedip memandang Pandansuri. Belum pernah dia melihat gadis secantik yang satu ini.
"Kakek guru, apakah kau baik-baik saja?" bertanya sang dara.
"Alhamdulillah. Aku seperti apa yang kau lihat. Kuharap kau begitu juga. Apakah kau kini sudah tidak mengenakan cadar ungu lag! Pandan?"
Sang dara memegang wajahnya. _"Cadar itu lepas ketika saya menuju pantai…"
"Kedatanganmu kemari pasti dengan maksud yang sama. Menyambangi makam Tua Gila…"
"Betul Nyanyuk. Tapi saya melihat banyak keanehan dan hal-hal menggidikkan di pulau ini…"
"Aku sudah tahu apa yang kau maksudkan itu. Empat orang tokoh silat dibunuh dan mayatnya dilkat di tiang kayu. Ada dua makam. Satu bernisan Tua Gila. Satunya tanpa nisan..:’
"Rupanya kakek guru sudah tahu semua apa yang ter­jadi. Tapi apakah kakek juga tahu bahwa Pendekar 212 Wiro Sableng barusan saja dijebloskan Datuk Tinggi Raja Di Langit ke dalam makam kedua?!"
Terkejutlah Nyanyuk Amber mendengar kata-kata Pandansuri itu.
"Celaka!" ujar si orang tNa. "Aku baru saja hendak mengejarnya. Padahal aku tadinya berharap dialah yang bakal dapat menghajar Datuk Tinggi Raja Di Langit keparat itu!"
"Kakak Datuk Sipatoka itu memang bukan manusia sembarangan…" kata Pandansuri pula.
"Pandan, kau dan si datuk itu sama-sama dari utara. Apa saja yang kau ketahui tentang dirinya. Sepak terjang­nya sangat meresahkan orang-orang rimba persilatan!"
"Manusia itu memang biang racun segala malapetaka. Dia bercita-cita menguasai dunia persilatan di Pulau Andalas. Untuk itu dia telah membekali diri dengan ber­bagai ilmu. Antaranya senjata rahasia Mutiara Setan yang sangat berbahaya. lalu sebuah jubah berupa mantel hitam yang dapat mengeluarkan angin sedahsyat badai…"
"Mantel itu memang luar biasa. Aku sudah sempat kena hantamannya:.:" kata Nyanyuk Amber lalu menceritakan pada Pandansuri bagaimana dirinya hampir celaka di tangan Datuk Tinggi Raja Di Langit.
"Kita menghadapi masalah besar. Tua Gila dikabarkan meninggal. Makamnya diliputi keanehan. Beberapa tokoh silat menemui ajal Pendekar 212 dipendam dalam makam batu! Kita harus menghentikan Datuk Tinggi. Ini bukan pekerjaan mudah. kita harus mempergunakan akal…"
"Kau betul kakek guru. Datuk Tinggi punya segudang ilmu. Dia ahli segala peralatan rahasia. Termasuk me­rancang dua makam batu yang bisa dibuka dan ditutup bagian atasnya!" Pandansuri pula. "Disamping itu senjata andalan Wiro yakni Kapak Maut Naga Geni 212 telah jatuh ke tangan Datuk Tinggi…"
"Ah, celaka! Banar-benar celaka!"
"Kakek guru! Saya tahu letak alat rahasia untuk mem­buka dan menutup makam Pendekar 212. Saya sempat melihat Datuk Tinggi menjalankan alat . itu. Kalau kita biasa membebaskan Wiro, pasti lebih mudah bagi kita menghadapi Datuk Tinggi. Hanya ada satu cara untuk dapat mengalahkannya. Menanggalkan mantel hitam yang melekat di tubuhnya!"
"Hal itu sama saja dengan kita hendak menguliti harimau hidup!" kata Nyanyuk Amber.
"Tak ada jalan lain kakek guru. Dia tak mempan ditotok. Selama mantel itu masih melekat ditubuhnya tak ada senjata atau pukulan saktipun yang mempan atas dirinya!"
Nyanyuk Amber menghela nafas panjang. Orang tua ber­mata buta ini lama termenung tapi otaknya bekerja keras. Sesaat kemudian orang tua ini angkat kepalanya.
"Hanya ada satu orang untuk dapat mengalahkan manusia keparat itu, Pandansuri. Dan ini semua sangat tergantung pada kesediaan dirimu untuk melakukannya… "
"Katakan apa yang harus saya lakukan kakek guru," ujar Pandansuri.
Nyanyuk Amber tampak seperti bimbang.
"Tak usah ragu-ragu, kek!"
Orang tua itu memberi isyarat dengan anggukan kepala agar si gadis mendekat. Lalu Nyanyuk Amber membisikkan sesuatu ke telinga Pandansuri. Serta merta kelihatan paras sang dara menjadi sangat merah.

***

13

SETELAH berusaha mencari orang yang tadi berteriak namun tak berhasil menemuinya Datuk Tinggi Raja Di Langit segera menuju ke goa kecil di mana dia me­ninggalkan Malin Sati. Saat itu hujan mulai reda dan angin tidak sekencang sebelumnya pertanda badal akan segera berhenti.
Begitu masuk ke dalam goa, terkejutlah sang datuk. Murid Tua Gila yang ditinggalkannya dalam keadaan terikat tak ada lagi di tempat itu! Di lantai goa bertebaran akar­akar pohon yang dijadikan tali untuk pengikat kedua kaki dan tangan anak itu.
Paras seram Datuk Tinggi berubah tambah angker. Dia ingat kembali pada suara seruan perempuan sewaktu Pendekar 212 dijebloskan ke dalam makam batu.
"Seseorang telah melepaskan anak itu! Dia pasti! Bagaimana aku tidak bisa mengetahui kemunculannya? Badai celaka tadi yang jadi ulah! Sekali kutemukan anak itu sebaiknya kuhabisi saja!"
Datuk Tinggi segera membalikkan tubuh. Dia kembali menuju ke lapangan di mana dua makam terletak. Menurutnya siapapun yang ada di pulau itu pastilah akan berada di tempat itu. Mungkin untuk menziarahi makam Tua Gila, tetapi mungkin sekali untuk berusaha melepas­kan orang tua yang disekapnya dalam makam batu.
Sampai di lapangan Datuk Tinggi segera menyelidik setiap sudut. Setelah berpikir sesaat din lalu naik ke atas sebatang pohon besar berdaun lebat. Dia akan mendekam dan bersembunyi di atas pohon itu. Cepat atau lambat pasti akan muncul orang yang ditunggunya.
Sampai siang bahkan menjelang rembang petang tak ada yang muncul. Keadaan sekitar lapangan sunyi sepi. Dikejauhan terdengar deburan ombak memecah di pantai. Datuk Tinggi mulai merasa tak sabar. Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam dan slang akan berganti malam. Dia mulai berpikir-pikir apakah akan segera turun saja dari atas pohon.
"Tidak mustahil orang itu justru menunggu sampai malam turun. Baru muncul di tempat ini!" Berpikir begitu Datuk Tinggi memutuskan untuk tetap saja berada di atas pohon sementara per!ahanlahan udara mulai tenggelam dalam kegelapan. Malam mulai merayap.
Tiba-tiba Datuk Tinggi Raja Di Langit. dongakkan kepala. Kedw telinganya dipasang baik-baik. Dia mendengar suara sesuatu.
"Aneh! Tak mungkin ada suara saluang di pulau ini! Tapi telingaku tidak salah tangkap! Itu memang suara saluang! Siapa pula yang meniupnya?!"
Datuk Tinggi menunggu sesaat. Suara yang didengarnya semakin jelas. Orang ini segera turun dari atas pohon, melangkah ke arah barat yaitu clad arah mana asalnya suara tiupan saluang itu.
Beberapa saat saja Datuk Tinggi meninggalkan tempat itu, sesosok tubuh menyelinap keluar clad rerumpunan semak belukar. Orang ini ternyata adalah Saringgih, pembantu Tua Gila. Mengendap-endap dia mendekati dua buah makam di ujung lapangan. Sesuai dengan petunjuk Pandansuri dia segera mencari batu hitam yang tersembul keluar di belakang kepala makam bernisan Wiro Sableng. Karena sudah diberi petunjuk tidak sulit bagi Saringgih untuk menemukan batu hitam itu. Begitu dilihatnya langsung ditekannya kuat-kuat. Terdengar suara berdesir dan perlahan-iahan bagian atas makam berderak mem­buka!
Datuk Tinggi melangkah dengan hati-hati tanpa mengeluarkan suara. Semakin dekat dia ke pantal pulau sebelah barat semakin jelas terdengar suara tiupan salung itu. Bahkan kini dia mendengar suara orang menyanyi. Suara perempuan!
Datuk Tinggi menyelinap dibalik batu-batu karang. Di bagian batu karang paling ujung yang dekat ke pantai dia hentikan langkah. Dari sini dia melihat seorang perempuan duduk di atas sebuah batu hitam membelakanginya. Rambutnya yang panjang terurai di punggung pakaiannya yang berwarna ungu. Kedua tangannya memegang sebuah saluang yang ditiupnya dengan suara merdu, diselingi dengan suara nyanyian yang berhiba-hiba.

Indak disangko larinyo ruso
larinya kancang ka dalam guo
Indak disangko ka cando Iko
Nasib sangsaro sabatang karo

Tinggi-tinggi si matohari
Ayam bakokok di tanah Cino
Baiko bana buruakno diri
Ayah tiado bundopun tiado

Urang Piaman pal ka koto
Urang Talu manjunjung balango
Sangsaro datang siliah batimpo
Kakasiah dicinto lah hilang pulo

(Tidak disangka larinya rusa)
(Larinya kencang ke dalam goa)
(Tidak disangka akan seperti ini)
(Nasib sengsara sebatang kara)

(Tinggi-tinggi si matahari)
(Ayam berkokok di tanah Cino)
(Begini benar nasibnya diri)
(Ayah tidak ibupun tiada)

Orang Piaman pergi ke kota)
(Orang Talu menjunjung belanga)
(Sengsara dating silih berganti)
(Kekasih tercinta telah pergi pula)

Sehabis menyanyi perempuan yang duduk di batu kembali meniup saluangnya. Kali ini tiupan gadis itu terdengar tersendat sendat. Sambil menangis sesengguk­an dia meletakkan saluangnya di atas batu. Lalu perlahan­lahan dia melangkah ke arah laut. Di tepi pasir perempuan itu tegak tidak bergerak. Angin laut melambai-lambaikan rambutnya yang panjang. Lalu dia memalingkan kepalanya ke kiri. Sesaat Datuk Tinggi dapat melihat wajah perempuan itu. Temyata dia seorang gadis berparas cantik jelita.
"Siapa adanya gadis ini..?" bertanya sang datuk dalam hati. "Agaknya dia muncul di sini bukan untuk melihat makam Tua Gila. Berarti dia bukan karib atau sahabat orang tua itu. Dari syair yang dinyanyikannya jelas dia meratapi nasib dirinya yang sebatang kara. Tanpa ayah tanpa ibu. Kekasih yang dicintai pergi pula. Hemmm…"
Datuk Tinggi usap dagunya yang ditumbuhi berewok lebat. Dia sudah siap melangkah untuk mendekati gadis itu namun niatnya terhenti ketika tiba-tiba dia menyaksikan sesuatu yang membuat darahnya menjadi panas dan mengalir cepat. Rangsangan nafsu segera menjalari setiap sudut tubuhnya yang tinggi besar. Sudah cukup lama dia tidak pemah melihat tubuh perempuan, apalagi me­nyentuhnya.
Di alas pasir sana, selagi buih ombak membasahi kaki­nya, gadis berambut panjang itu tampak membuka baju ungunya. Baju yang ditanggalkan dicampakkan di atas pasir. Kelihatan punggungnya yang putih mulus.
Nafas Datuk Tinggi Raja Di Langit mulai memburu. Dari mulutnya keluar suara menggeram. Matanya dipentang lebar-lebar. Lalu tampak gadis itu mulai membuka ikatan celana ungunya. Celana itu merosot sampal ke pinggul.
Lalu tampak si gadis melangkah memasuki air laut. Setiap langkah yang dibuatnya membuat pakaiannya semakin merosot jatuh ke bawah. Di dalam air gadis itu kemudian kelihatan melemparkan pakaiannya yang terakhir ke dekat baju yang tadi dicampakkannya di atas pasir. Berarti di dalam air laut itu tak sepotong pakaianpun lagi melekat di badannya!
Dengan tubuh bergetar dilanda nafsu Datuk Tinggi Raja Di Langit. melompat keluar dari balik batu karang dan lari menuju laut.
Gadis di dalam air serta merta balikkan tubuhnya ketika mendengar ads orang mendatangi. Dia terpekik sambil cepat-cepat menutupi bagian dadanya yang berada di atas batasan air laut. Sepasang mata Datuk Tinggi membeliak melihat kepadatan tubuh sang dara.
"Orang gagah bertubuh tinggi besar! Si… siapa kau…?!" si gadis bertanya dengan gagap.
"Aku Datuk Tinggi Raja Di Langit! Jangan takut! Aku tidak menyakitimu…!"
"Tapi Datuk mengintip saya mandi di laut! Sekarang malah datang mendekati Datuk nakal sekali!"
Datuk Tinggi tertawa lebar. Dari nada ucapan si gadis jelas dia tidak marah. maka Datuk Tinggipun bertanya.
"Gadis cantik, siapa namamu. Bagaimana tahu-tahu muncul di sini. Apa kau diam di pulau ini?"
"Saya gadis malang Datuk. Says tengah mencari kekasih yang pergi. Entah masih hidup entah sudah tiada. Dan… dan… saya terkejut…"
"Terkejut melihatku?!’
"Betul… Terkejut karena… karena wajah kekasih yang hilang itu mirip sekali dengan Datuk…"
"Ah…! Kalau begitu biarlah diriku menjadi pengganti­nya!" kata Datuk Tinggi pula lalu masuk ke daiam laut.
"Datuk Apakah Datuk hendak menemani saya mandi…?"
"Ya… Aku akan menemanimu mandi di laut yang sejuk itul" jawab Datuk Tinggi sambil terus melangkah. Air laut mencapai betisnya.
"Tidak adakah orang yang akan melihat kita berdua-dua di sini?!" tanya si gadis.
"Jangan kawatir. Pulau ini tidak berpenghuni!"
"Ah… Tapi, apakah Datuk akan mandi dengan masih berpakaian seperti itu? Lucu…!"
Datuk Tinggi tertawa bergelak. "Pucuk dicinta ulam tibal Gadis itu jelas minta agar aku menanggalkan pakaian!" kata sang datuk dalam hati. Lalu tanpa pikir panjang dengan cepat sekali dia menanggalkan mantel hitamnya. Melemparkan mantel ini ke atas pasir. Mencapakkan topi tingginya.
Kemudian membuka baju kuningnya. Kapak Naga Geni 212 yang diselipkannya di pinggang juga dilemparkan dekat mentelnya hitamnya. Tak ketinggalan kantong kain berisi senjata rahasianya yaitu Mutiara Setan. Terakhir sekali kasut kulit yang masih merekat di kakinya terbang di udara.
Sambil tertawa lebar dan mengangkat kedua tangannya Datuk Tinggi mendekati si gadis.
"Datuk! Kejar saya!" kata si gadis lalu dia menyelam ke dalam air.
"Kau akan kukejar kekasihku!" jawab Datuk Tinggi pula seraya masuk ke dalam laut lebih tengah.
Pada saat itulah tiba-tiba dari balik batu-batu karang yang gelap berkelebat tiga sosok tubuh. Orang pertama maju menyambar Kapak Naga Geni 212 dan pakaian ungu sedang orang kedua melompat menyambar mantel hitam milik Datuk Tinggi. Orang yang ketiga membuat gerakan aneh yaitu berguling seperti bola dan cepat sekali dia menyambar kantong kain berisi Mutiara Setan dengan mulutnya! Ketiga orang ini kemudian berjejer di tepi pasir. Dua tegak berkacak pinggang sedang yang yang tadi menyambar kantong senjata rahasia dengan mulutnya duduk di pasir! Kantong kain itu dijatuhkan dipangkuannya tapi sebelumnya dia telah memasukkan lima butir Mutiara Setan ke dalam mulutnyal.

***

14

Datuk Tinggi Raja Di Langit melompat dalam air untuk dapat menangkap tubuh gadis tadi. Tapi dia hanya menangkap air karena dengan cepat sekali gadis itu berenang ke tepi pasir. Begitu tubuhnya keluar laut orang yang tegak di tepi pasir sambil memegang Kapak Naga Geni 212 melemparkan pakaian ungunya.
Dalam gelap malam gadis itu lari ke balik batu karang dan cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali. Sesaat kemudian dia sudah bergabung dengan tiga orang tadi.
Datuk Tinggi tentu saja terkejut besar melihat apa yang terjadi. Dia berenang ke tepi pasir tapi kedua kakinya kemudian berhenti ketika menyadari bahwa dirinya saat itu sama sekali tidak berpakaian.
Sepuluh langkah dihadapannya berdiri orang tua ber­tubuh dan bermuka jerangkong yang bukan lain adalah Tua Gila. Di sebelahnya tegak Pendekar 212 Wiro Sableng. Lalu duduk bersila adalah Nyanyuk Amber, kakek sakti tanpa mata, tanpa tangan dan tanpa kaki. Dari balik batu karang kemudian muncul Pandansuri yang saat itu telah mengenakan pakalan ungunya kembali. Gadis ini meng­ambil saluangnya dari atas batu lalu berdiri di samping Tua Gila. Agak disebelah belakang Datuk Tinggi melihat murid Tua Gila berdirl di sebelah pembantu Nyanyuk Amber.
"Celaka besar! Bagaimana bisa begini kejadiannya?! Bagaimana kedua orong yang disekap dalam makam batu Itu bisa lolos?! Mantelku…! Mutiaraku…!"
Datuk Mata Tinggi memandang melotot pada Tua Gila yang memegang mantelnya, lalu memperhatikan dengan dada membara pada kantong senjata rahasianya yang ada di pangkuan Nyanyuk Amber.
"Celaka! Bagaimana aku bisa lolos?!" Datuk Tinggi melirik ke arah pakaiannya yang tercampak di pasir.
"Datuk Tinggil" terdengar Tua Gila berkata. "Kami memberi kesempatan padamu agar kau bisa mati berpakaian lengkap!" Orang tua ini menganggukkan kepalanya pada Pandansuri.
Si gadis maju lalu dengan ujung saluangnya satu per­satu pakaian Datuk Tinggi termasuk topi dan kasutnya di lemparkannya ke arah si pemilik. Pakaian, topi dan kasut itu terapung-apung di air laut. Datuk Tinggi belum bergerak untuk mengambilnya.
"Ayo lekas kenakan pakaian, topi dan kasutmu!" beteriak Wiro. "Terlalu lama telanjang kau bisa masuk angin! Atau mungkin minta sahabatku gadis cantik ini membantumu mengenakan pakaianmu satu persatu?!"
Tua Gila dan Nyanyuk Amber tertawa gelak-gelak.
Paras Datuk Tinggi mengelam sedang wajah Pandansuri bersemu merah.
"Kembalikan mantel hitam dan kantong kain itu!" mem­buka mulut Datuk Tinggi untuk pertama kalinya.
"Keluar dari dalam laut! Kau bisa mengambilnya sendiri!" jawab Tua Gila.
Datuk Tinggi tidak bergerak. Mulutnya keluarkan suara menggeram. Tiba-tiba orang ini berlaku nekad. Dia keluar dari dalam air laut tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Pandansuri cepat palingkan muka.
"Kalian mau membunuhku lakukanlah cepat!" teriak Datuk Tinggi. Dia melangkah mendekat. Tiba-tiba dia me­nubruk ke arah Nyanyuk Amber yaitu orang yang paling dekat. tangan kananya menyambar ke arah pangkuan si orang tua dimana dilihatnya terletak kantong kain berisi Mutiara Setan.
Mulut kempot Nyanyuk Amber mengembung. Lalu kelihatan orang tua ini meniup. Sebuah benda hitam melesat di udara. Datuk Tinggi berseru kaget ketika mengenali benda itu bukan lain adalah senjata rahasianya sendiri! Terpaksa di membuang diri ke samping. Mutiara hitam melesat membabat rambut diatas telinganya. Datuk tinggi keluarkan keringat dingin!
Datuk Tinggi ternyata masih dapat mempergunakan akalnya dalam keadaan kepepet Itu. Sambit mengelakan serangan senjata rahasia yang melesat dari mulut Nyanyuk Amber, dia sengaja membuat diri ke arah Tua Gila yang memegang mantel hitamnya. Dengan gerakan kilat dia berusaha merampas senjata Itu. Tap! Tua Gila tidak bodoh. Mantel ditangannya dikebutkan satu kali!
Terdengar teriakan Datuk Tinggi. Tubuhnya terpental di­hantam angin laksana badai yang keluar dari mantel sakti itu. Darah tampak mengucur dari hldungnya. Datuk Tinggi menggerang. Dengan kalap dia bangkit dan kembali hendak menyergap Tua Gila. Sekali ini gerakkannya ter­tahan oleh tendangan kaki kiri Pendekar 212. Tubuhnya terlipat lalu tersungkur di pasir, megap-megap sulit ber­nafas.
"Kalian bunuh saja diriku! Bunuh saja!" teriak Datuk Tinggi. "Manusia-manusia pengecut! Beraninya main keroyok!"
Tua Gila mendengus. Mantel ditangannya diserahkan pada Pendekar 212.
"Kalau kau ingin perkelahian satu lawan satu, tua bangka ini siap melayanimu! Coba perlihatkan kembali ilmu silat Orang Gila ciptaanmu itu!"
Seperti diketahui, selama empat tahun Datuk Tinggi memang telah menyiapkan did merancang sendirl Ilmu pemunah ilmu silat Tua Gila. Merasa mendapat kesempatan maka Datuk Tinggi segera berdiri lalu menyerbu Tua Gila. Tapi dia lupa, kekuatan tenaga dalam­nya sebenarnya ada pada mentel hitam sakti yang kini tidak dimilikinya lagi. Setelah menempur dengan jurus­jurus hebat selama beberapa kali gebrakan akhirnya Tua Gila berhasil menghantamkan tangan kanannya, ke dada Datuk Tinggi.
Darah muncrat dari Datuk Tinggi. Tubuhnya terjengkang di pasir. Pada seat itu sambil tertawa mengekeh Tua Gila tunjukkan kesaktiannya. Benang Kayangan yang ditelannya dan mendekap dalam perutnya sejak beberapa hari di­muntahkannya kembali. Lalu dengan benang sakti itu di­ringkusnya kedua kaki Datuk Tinggi. Sekali dia melangkah maka terseretlah tubuh Datuk Tinggi. Wiro segera meng­ikuti. Saringgih cepat mendukung Nyanyuk Amber dan Malin Sati mengikuti dari belakang.
Selama tubuhnya diseret Datuk Tinggi menjerit-jerit tiada henti. Sekujur tubuh den mukanya luka berkelukuran. Rombongan orang-orang itu akhimya sampai di lapangan kecil di tengah pulau di mana dua makam terletak dalam keadaan terbuka.
Datuk Tinggi segera maklum apa yang akan terjadi atas dirinya. Maka diapun meraung setinggi langit!
Tua Gila menyeringai. Tangannya yang memegang benang sakti digerakkan. Benang menggeletar. Tubuh Datuk Sakti terbetot lalu melayang masuk ke dalam makam di mana Tua Gila disekap sebelumnya!
"Jangan! Keluarkan aku! Ampun! Aku masih ingin hidup!" teriak Datuk Tinggi berulang kali sampai suaranya parau.
Tua Gila berpaling pada muridnya. "Sati! Kau tahu apa tugasmu!"
Anak enam tahun ini segera melompat ke bagian belakang kepala makam. Dengan kakinya dia menekan kuat-kuat batu hitam yang merupakan alat rahasia penutup bagian atas makam. Terdengar suara berdesir. Lalu batu penutup makam itupun jatuh dengan suara keras! Jeritan Datuk Tinggi sertat merta lenyap.
Pendekar 212 menggaruk kepalanya. Mantel hitam yang sejak tadi pegangnya dilemparkannya ke dalam makam batu di mana sebelumnya dia disekap. Nyanyuk Amber mengatakan sesuatu pada pembantunya. Saringgih kemudian mengambil kantong kain berisi Mutiara Setan dari balik pinggang pakaian orang tua itu lalu melemparkannya ke dalam makam.
"Semuanya berakhir sudah…!" kata Tua Gila dan kembali dia memberi isyarat pada muridnya. Malin Sati sekali lagi pergunakan kaki untuk menekan batu hitam. Sekali ini yang terletak di belakang makam dimana Wiro sebelumnya mendekam. Bagian atas makam menderu turun setelah lebih dahulu terdengar suara berdesir.
Sesaat keadaan di tempat itu tenggelam dalam kesunyian. Tiba-tiba terdengar suara Nyanyuk Amber bergumam seperti menelan sesuatu.
"Senjata setan itu masih tertinggal dimulutku!" kata Nyanyuk Amber, lalu dia meniup keras-keras. Dua buah mutiara hitam menyambar dalam gelapnya malam. Terdengar suara benda keras pecah berantakan. Yang hancur adalah batu hitam alat rahasia yang dapat menutup dan mernbuka makam batu di sebelah kiri. Sekali lagi orang tua itu menlup. Dan buah mutiara setan yang masih bersisa dalam mulutnya meleset menghancurkan batu hitam kedua di belakang makam sebelah kanan.
"Sekarang urusan benar-benar beres!" kata Nyanyuk Amber. "Manusia iblis itu tak mungkin keluar selamatkan diri! Mantel dan senjata setannya tak mungkin jatuh ke tangan orang lain!"
"Masih ada yang perlu dirapihkan!" Pendekar 212 Wiro Sableng keluarkan ucapan sambil mencabut Kapak Maut Naga Geni 212 dari pinggangnya. "Tua Gila dan Wiro Sableng belum pernah mati!"
Lalu senjata itu berkiblat dua kali. Suara gemuruh seperti tawon mengamuk disertal sinar panas menyilaukan berkelebat.
Traaakkk!
Traaakkk!
Duo batu nisan hitam masih tampak berdiri di kepala kedua makam batu. Tapi bagian atas yang bergurat nama Tua Gila dan Wiro Sableng telah dipapas putus!
Sambil menyeringal dan garuk kepala Pendekar 212 berpaling ke arah Pandansuri yang tegak di sampingnya.
"Aku ini manusla tidak sopan. Sejak tadi belum sempat menegurmu. Apa kabar sahabatku cantik jelilta? Apakah kau hendak mengajakku mandi bersama di laut malam ini?!"
Paras Pandansuri menjadi cemberut. Gadis ini meng­angkat tangannya hendak menampar wajah Pendekar 212. Tapi Wiro melihat gerakan itu perlahan saja tanda sang dara tidak sungguhan hendak menamparnya. Wiro cepat menangkap tangan itu lalu mendekatkannya ke hidungnya dan menciumnya dengan mesra.

TAMAT
Jakarta, 5 Agustus 1990

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog