Friday, March 13, 2009

Kamandaka Si Murid Murtad

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

Kapak Maut Naga Geni 2121

GEROBAK sapi itu bergerak perlahan. Yang menjadi kusirnya seorang lelaki tua berjanggut dan berambut putih duduk tenang-tenang saja karena dia memang tidak terburu-buru. Di sampingnya duduk seorang dara. Rambutnya yang hitam pendek dikuncir ke atas hingga wajahnya yang jelita tampak lucu. Gadis ini adalah anak tunggal si orang tua berjanggut putih. Dara ini memang ber­sifat riang ceria. Sepanjang perjalanan dia selalu menyanyi kecil sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya yang memegang sebuah tongkat bambu. Melihat pakaian ringkas warna putih yang dikenakan ayah dan anak ini jelas keduanya adalah orang-orang persilatan.
"Mintari anakku," berkata lelaki tua di atas gerobak pada anak gadisnya. "Kalau sampai di tempat pertemuan para tokoh silat di Selatan nanti, jangan sekali-kali kau berlaku sembrono. Kau duduk saja di sampingku. Jangan bicara kalau tidak diminta. Ingat, di situ juga ada Datuk Alam Rajo Di Langit, tokoh silat dari tanah Minang yang akan membawamu ke Pulau Andalas. Semua ilmu ke­pandaianku sudah kuwariskan padamu. Selanjutnya Datuk Alam yang akan membawamu ke tanah Minang dan menggemblengmu di sana. Ingat juga, Datuk itu adalah orang tua yang sangat saleh. Karena itu selama di sana jangan sekali-kali kau meninggalkan sembahyang."
Gadis bernama Mintari itu sesaat terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Tak lama kemudian kembali dia menyanyi-nyanyi sambil membolang-balingkan tongkat bambunya.
"Anakku, apakah kau tidak akan mengatakan sesuatu?"
bertanya sang ayah.
Mintari hentikan nyanyiannya, "Saya ada satu per­tanyaan ayah," ucapnya.
"Katakanlah anakku."
"Setahu saya di tanah Jawa ini terdapat banyak sekali tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi. Tidak terhitung pula orang-orang sakti. Lalu mengapa ayah menginginkan saya pergi jauh-jauh ke negeri Minang mengikuti Datuk Alam Rajo kalau hanya untuk menempa ilmu silat dan kesakti­an?"
Sang ayah tersenyum mendengar ucapan anak gadis­nya itu. Setelah mendehem beberapa kali diapun men­jawab. "Pernahkah kau mendengar ujar-ujar yang mengata­kan: Jauh berjalan banyak yang dilihat. Menuntut ilmu kalau perlu sampai di Negeri Cina. Memang ayah tahu tidak sedikit orang pandai di tanah Jawa ini. Tapi tanah Minang juga dikenal gudang segala ilmu. Di sana kau dapat pula mendalami ilmu agama. Dan mengenai Datuk Alam Rajo jangan kau anggap enteng dia…"
"Harap maafkan, saya tidak menganggap enteng orang tua satu itu ayah. Jangan ayah salah sangka."
"Lalu mengapa kau kelihatannya tidak suka pergi bersamanya?"
"Karena sebenarnya saya ingin dekat dengan ayah," jawab Mintari.
Sang ayah tertawa. "Kau bukan anak kecil lagi. Umurmu sudah sembilan belas tahun kalau ayah tidak salah ingat. Ayah melepasmu dengan segala keikhlasan."
"Saya tahu ayah," kata Mintari pula. Lalu dipegangnya tangan ayahnya seraya berkata. "Kalau saya tidak ada, siapa yang mengurus ayah?"
Ucapan anak gadisnya itu membuat hati si orang tua tersentuh. Memang sejak ibu Mintari meninggal dunia enam tahun yang lalu, anak gadisnya itulah yang mengurus dirinya. Setelah diam sesaat orang tua ini berkata. "Kalau kau pergi dan sanggup mengurus diri sendiri, masakan aku tua bangka begini tidak sanggup berbuat yang sama…?"
Baru saja ayah Mintari berkata begitu tiba-tiba ter­dengar suara tawa mengekeh menyusul ucapan lantang.
"Kau betul Ki Pamilin! Orang tua sepertimu harus dapat mengurus diri sendiri! Hari ini aku mau lihat apakah kau benar-benar bisa mengurus diri sendiri!"
Ayah dan anak itu sama-sama terkejut dan memandang berkeliling.
"Ayah, ada suara tapi tak kelihatan orangnya!" bisik Mintari.
Ki Pamilin, ayah Mintari berusaha bersikap tenang tapi waspada. Dia tahu kalau ada seorang berkepandaian tinggi berada di tempat itu. Manusia yang muncul seperti itu biasa-nya tidak membawa niat baik.
"Tenang saja Mintari. Tak ada yang perlu ditakutkan." balas berbisik Ki Pamilin.
Tiba-tiba ada suara angin berdesir disertai berkelebat­nya satu bayangan. Tahu-tahu sepuluh langkah di tengah jalan di hadapan mereka tegak berdiri seorang berpakaian dan berdestar serba biru. Bajunya tidak berkancing hingga dadanya yang bidang berotot tersingkap lebar. Ki Pamilin hentikan gerobak sapinya.
Yang tegak menghadang di tengah jalan itu ternyata seorang pemuda berparas gagah. Hal ini membuat hati si orang tua agak tenteram sedikit. Lain halnya dengan Mintari. Gadis ini tidak suka melihat perjalanannya dihadang oleh seorang tak dikenal yang bersikap sombong.
"Anak muda, siapakah dirimu. Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Ki Pamilin.
"Aku sudah lama mendengar nama besarmu yang menyandang gelar Pendekar Tangan Baja. Hari ini aku ingin menjajaki sampai dimana kehebatan sepasang tanganmu. Buktikan bahwa kau memang orang tua yang bisa meng­urus diri sendiri!" Habis berkata begitu pemuda ini meman­dang pada Mintari. Sepasang bola matanya membesar dan membersitkan sinar aneh. Hati Ki Pamilin mendadak sontak jadi berdebar. Pengalaman hidup membuat dia mengenali arti cahaya yang keluar dari kedua mata pemuda itu.
"Anak muda, hidup bukan mencari lantai terjungkat. Ilmu kepandaian bukan untuk membuat silang sengketa."
"Orang tua, kata-katamu enak di dengar. Apakah itu berarti kau tidak punya nyali untuk melayaniku barang sejurus dua jurus?"
Mintari yang sudah sejak tadi merasa jengkel melihat tingkah dan mendengar ucapan-ucapan pemuda itu membuka mulut bersuara keras.
"Kami masih ada keperluan yang lebih penting! Mana punya waktu melayani pemuda sombong sepertimu!"
Pemuda di tengah jalan tertawa gelak-gelak. Ditanggal­kannya destar birunya. Lalu destar ini, dikipas-kipaskannya. Saat itu sinar matahari memancar terik dan udara memang panas.
"Adik, suaramu merdu dan wajahmu secantik bidadari. Bolehkah aku tahu namamu? Tadipun aku sebetulnya sudah kagum mendengar suara nyanyianmu."
Mintari keluarkan suara mendengus dari hidungnya. "Ketepilah. Kami mau lewat!"
"Adik cantik, percakapan kita bisa diteruskan kemudian. Aku ingin mendengar jawaban ayahmu. Apakah dia se-orang pengecut?"
"Ayahku bukan seorang pengecut! Dia hanya tidak mau mengotori tangan melayani kadal hutan macammu!" jawab Mintari.
Mendengar kata-kata itu kembali pemuda di tengah jalan tertawa bergelak. Tetapi dalam tertawa sepasang matanya tampak seperti dikobari api. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap lalu terdengar suara brett!
Mintari terpekik. Ki Pamilin berteriak keras. Orang tua ini marah sekali. Langsung dia melompat turun dari atas gerobak. Tangan kanannya menghantam ke arah dada si pemuda. Yang diserang sunggingkan senyum mengejek dan angkat tangan ngan kirinya untuk menangkis.
Buuukk!
Ki Pamilin yang memang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Tangan Baja terjajar dua langkah ke belakang. Lengan kanannya mendenyut sakit dan tampak merah. Wajah orang tua ini jadi berubah. Sebagai seorang tokoh silat yang disegani bukan sembarang orang bisa membuat­nya terjajar seperti itu.
"Pemuda kurang ajar! Siapa kau sebenarnya, dan apa maumu?!" sentak Ki Pamilin.
Si pemuda kenakan destarnya kembali. Sambil ber­kacak pinggang dia berkata. "Namaku Kamandaka. Orang mengenalku dengan panggilan Pendekar Tangan Halilin­tar!"
Mendengar nama dan gelar itu kembali paras Ki Pamilin berubah. Dia sempat mundur satu langkah. Yang terpikir saat itu adalah keselamatan anak gadisnya.
Di depannya pemuda yang mengaku bernama Kaman­daka bergelar Pendekar Tangan Halilintar lagi-lagi sung­gingkan senyum sinis.
"Pendekar Tangan Baja berhadapan dengan Pendekar Tangan Halilintar! Bukan ini satu pertemuan yang luar biasa?!"

***

Kapak Maut Naga Geni 2122

DI ATAS gerobak Mintari rapatkan baju putihnya yang robek akibat tarikan kurang ajar Kamandaka. Dengan tubuh gemetar oleh amarah gadis ini me­lompat dari gerobak itu. Dia bermaksud hendak menyerang si pemuda. Tetapi hatinya jadi bimbang ketika melihat bagaimana ayahnya yang memiliki kepandaian begitu tinggi tampak terjajar dalam bentrokan pukulan Tadi.
"Orang muda, kalau kau benar Kamandaka manusia terkutuk yang dicari-cari di tujuh penjuru angin itu, maka ketahuilah hari ini hari terakhir bagimu melihat dunia!"
"Ha …ha! Ternyata kau bukan seekor macan kertas. Kalau kau memang punya nyali mari kita teruskan berbincang-bincang dengan tangan dan kaki. Namun sebelumnya aku ingin memastikan dulu agar anak gadismu ini tidak pergi ke mana-mana!" Habis berkata begitu Kamandaka melompat ke hadapan Mintari dan menyergap dengan satu totokan.
Dari samping Ki Pamilin datang menyambar dengan pukulan ke arah kepala Kamandaka hingga pemuda ini tidak sempat meneruskan totokannya ke tubuh si gadis. Serangan yang dilancarkan Ki Pamilin mengandung tenaga dalam tinggi, mengeluarkan suara bersiur menggidikkan. Namun dengan tenang Kamandaka mengelak. Gerakannya mengelak tampak aneh. Tubuhnya berputar membelakangi lawan. Lalu tiba-tiba kaki kanannya mencelat ke atas seperti tendangan seekor kuda. Kalau Ki Pamilin tidak bertindak waspada tendangan dahsyat itu pasti akan menghantam rahang kanannya!
Tendangan yang melesat itu kini mendarat pada kayu besar yang jadi tambatan sapi penarik. Terdengar suara berderak. Kayu itu pecah berantakan mengejutkan sapi penarik gerobak. Binatang ini sempat lari beberapa belas langkah lalu berhenti dekat kelokan jalan sambil tiada henti mengibas-kibaskan ekornya.
Dengan rahang menggembung Ki Pamilin lancarkan serangan. Tubuhnya seperti merunduk. Kedua tangannya diulurkan ke depan. Kamandaka melihat bagaimana sepasang tangan itu kini berubah menjadi keputih-putihan.
"Ah, kau mengeluarkan ilmu kesaktian Tangan Baja!" seru Kamandaka. Memang inilah yang ditunggu-tunggunya. Sudah sejak lama dia mencari-cari orang tua bergelar Pendekar Tangan Baja ini hanya sekedar untuk menjajal ilmu kepandaiannya. Kini bukan saja dia menemul orang yang dicarinya, malah orang ini muncul membawa serta anak gadisnya yang cantik jelita.
Kamandaka menunggu dengan kedua kaki di­renggangkan. Sepasang lengan di silang di depan dada. Ketika kedua lengan ini saling digosokkan maka kelihatan jelas warnanya berubah menjadi hitam. Diam-diam Ki Pamilin menjadi terkesiap jnga melihat hal ini. Sejak lama dia sudah mendengar akan kehebatan dan keganasan Pendekar Tangan Halilintar. Dan selama ini belum ada satu lawan atau seorang tokoh silatpun yang mampu menghadapi pukulan halilintar itu. Karenanya si orang tua memutuskan untuk menggempur Kamandaka lebih dulu.
Didahului dengan satu bentakan keras Ki Pamilin dorong-kan kedua tangannya. Dorongan ini perlahan saja. Tetapi apa yang terjadi sungguh dahsyat!
Dari kedua tangan Ki Pamilin seperti menyembur keluar dua jalur sinar putih. Inilah sinar baja yang mengandung hawa panas. Meskipun hanya berbentuk sinar tetapi ke­kuatan dan kerasnya tidak beda seperti batangan baja!
Wus!
Wus!
Dua sinar menyambar ke arah kepala dan dada Kamandaka.
"Bagus!" Seru si pemuda memuji tapi sebenarnya dia jelas hendak mengejek dan memandang rendah lawan. Begitu dua sinar baja menderu ke depan Kamandaka melompat ke samping. Dari samping dia dorongkan telapak tangan kanannya.
Dua sinar baja laksana dua batangan terdorong ke samping. Menghantam sebatang pohon jati. Pohonini laksana ditembus tombak raksasa, berderak patah lalu tumbang dengan suara menggemuruh.
Ki Pamilin merasakan dadanya seperti terbakar karena geram tetapi bersamaan dengan itu tengkuknya menjadi dingin. Selama ini belum pernah dia langsung menyerang musuh dengan pukulan Tangan Baja kalau bukan musuh yang benar-benar tangguh. Sekali dia mengeluarkan se­rangan tersebut tak pernah ada lawan yang mampu menghindar dari kematian. Kini dia telah melakukan hal itu dan ternyata lawan dengan mudah dapat menghindarinya!
"Luar biasa, dari mana anak semuda ini punya kepandaian begini hebat!" kata Ki Pamilin dalam hati. Diam-diam dia merasa malu. Selama ini dia telah menyandang nama besar sebagai Pendekar Tangan Baja dalam dunia persilatan. Ter-nyata hari ini dia tersandung oleh seorang yang usianya hanya sepertiga usianya! Dengan cepat Ki Pamilin membalik. Kalau tadi dia hanya mengerahkan setengah bagian tenaga datam yang dimiliki­nya, kini dia mengalirkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua lengannya hingga sepasang tangannya menjadi ber­kilat.
"Bagus!" Kamandaka memuji. "Kalau sudah seluruh tenaga dalammu kau kerahkan, tunggu apa lagi! Ayo hantamlah!"
"Pemuda ini sombong sekali. Kudengar kejahatan yang dilakukannya setinggi langit sedalam lautan! Kalau aku tidak membunuhnya hari ini biar aku mengucilkan diri dari dunia persilatan untuk selama-lamanya!" Lalu dengan rahang terkatup rapat Ki Pamilin dorongkan kedua tangannya ke arah Kamandaka. Kini dua larik sinar baja yang melesat keluar dari kedua tanangan orang tua itu tampak lebih besar dan lebih menyilaukan. Hawa panas ikut menyambart
Ketika Ki Pamilin mengalirkan tenaga dalamnya pada kedua tangan, diam-diam Kamandaka telah pula mengatur hawa sakti yang berpusat di perutnya, lalu menyalurkannya pada kedua tangannya. Sambil menyalurkan hawa sakti Kamandaka menyilangkan kedua lengannya di depan dada lalu naik ke atas di depan kepala. Kedua tangan pemuda ini tampak berubah menjadi hitam. Tiba-tiba dua lengan yang bersilang itu membuka lalu dihantamkan ke depan. Terdengar suara meledak seperti suara halilintar membelah langit. Tanah bergoncang. Pepohonan berderak­derak seperti hendak tumbang. Satu gelombang sinar hitam menggebubu ke depan.
Dua sinar baja pukulan sakti Ki Pamilin laksana teng­gelam ditelan gelombang hitam yang dahsyat itu. Orang tua ini tersentak kaget. Tubuhnya terdorong keras. Dia ber­usaha bertahan sambil dorongkan lagi kedua tangannya dan merapal aji kesaktian lain untuk memperkuat diri.
Kamandaka tertawa mengekeh.
"Keluarkan seluruh ilmumu Pendekar Tangan Baja!" katanya. Lalu kedua lengannya yang masih ada di depan kepala disilangkan kembali. Saat itu juga terdengar suara ledakan dahsyat. Langit laksana hendak runtuh. Tanah seperti terbongkar. Ki Pamilin lenyap dalam buntalan sinar hitam. Lalu terdengar suara orang tua itu menjerit.
Tubuh orang tua itu terlempar sampai satu tombak. Mukanya tampak putih laksana kain kafan tapi anehnya perlahan-lahan berubah menjadi hitam, pertanda bahwa pukulan sakti yang dilepaskan Kamandaka selain dialas dengan kekuatan tenaga dalam luar biasa juga mengan­dung racun sangat jahat.
"Ayah!"
Mintari terpekik melihat apa yang terjadi dengan ayah­nya. Gadis ini memburu. Kamandaka cepat ulurkan tangan menyambar pinggang si gadis.
"Manusia jahanam!" teriak Mintari. Dia berbalik dan tongkat bambu di tangan kanannya dihunjamkan ke perut Kamandaka. Baju biru Kamandaka tampak berlobang besar. Tetapi hebatnya perutnya tidak cidera sedikitpun. Malah Mintari merasa ada satu dorongan keras ketika ujung tongkat menyentuh perut pemuda itu yang membuat tangannya bergetar.
"Gadis hebat!" seru Kamandaka. "Tunjukan kehebatan­mu kalau nanti kau berada dalam pelukanku!"
Mendidih amarah Mintari mendengar kata-kata itu. Dia membalik dan kini tongkatnya menusuk kuat-kuat ke mulut si pemuda. Sekali ini Kamandaka tidak mau berlaku ayal lagi. Perutnya bisa kebal dan sanggup menahan tusukan tongkat bambu ataupun senjata tajam. Tetapi pada kedua matanya sama sekali tidak ada kekebalan. Selain itu dia tahu bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi berkat gemblengan ayahnya.
Kamandaka cepat menggeser kedua kakinya sambil miringkan kepalanya ke kiri. Bersamaan dengan itu tangan kanannya melesat ke atas menangkap ujung tongkat. Begitu ujung tongkat berada dalam genggamannya, Kamandaka dengan cepat menariknya. Karena tidak sempat melepaskan tongkat itu maka Mintari ikut tertarik ke depan. Sebelum dia bisa berbuat sesuatu apa tahu-tahu dia sudah berada dalam pelukan Kamandaka. Malah satu ciuman si pemuda sempat menyambar pipinya!
"Jahanam kurang ajarl" Makian itu disertai gerakan mencakar ke muka Kamandaka. Tapi Mintari kalah cepat. Kamandaka lebih cepat menotok jalan darahnya hingga tubuh si gadis kaku tak bisa bergerak lagi. Hanya suaranya saja terdengar memaki tak putus-putusnya.
Sambil tertawa-tawa Kamandaka memanggul tubuh Mintari. Salah satu tangannya mengelus-elus tubuh bagian bawah belakang gadis itu sehingga semakin keras kutuk serapah keluar dari mulut Mintari.
"Sekarang kau memaki diriku. Tapi lihat sebentar lagi kau akan tergila-gila padaku. Berpisah sesaatpun kau tak akan mau!" berkata Kamandaka sambil membawa Mintari ke arah gerobak sapi. Tubuh gadis ini dibaringkannya di lantai gerobak sebelah belakang.
Dari dalam mulut Ki Pamilin tampak banyak darah mengalir. Nafasnya sesak dan dari tenggorokannya ter­dengar suara seperti ayam dipotong. Samar-samar dia melihat Kamandaka memanggul tubuh Mintari ke arah gerobak.
"Ya Tuhan, tolong anakku. Selamatkan dia…" orang tua ini hanya bisa memohon dalam hati. Tangannya coba diangkat untuk melepaskan pukulan ke arah si pemuda. Tetapi kekuatannya sudah punah. Pemandangannya ber­tambah gelap. Pada saat jantungnya berhenti berdetak, nyawanyapun lepas meninggalkan jazad.
Di atas gerobak Kamandaka berlutut di samping tubuh Mintari. Mulutnya menyeringai, nafasnya menderu diburu nafsu. Tangan kanannya bergerak. Terdengar suara pakai­an robek beberapa kali.
"Manusia jahanaml Iblis! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Mintari.
"Nanti juga akan kulepaskani Sekarang biar kita bersenang-senang dulu!"
"Lebih baik kau bunuh diriku!" teriak Mintari lalu dia menjerit berulang kali.
Suara jeritan gadis yang terancam kehonmatannya itu bukan membuat hiba apalagi takut dalam diri Kamandaka. Malah pemuda ini semakin bernafsu. Dibukanya baju dan celana birunya. Kedua tangannya meraba kian kemari. Ketika dia siap untuk melakukan kebejatan itu tiba-tiba di belakangnya terdengar suara derap kaki kuda. Kamandaka menoleh ke belakang.
Dua orang penunggang kuda berseragam perajurit Kerajaan mendatangi dengan cepat. Melihat ada gerobak berhenti di tengah jalan dan ada suara perempuan men­jerit dari atas gerobak itu, kedua perajurit ini hentikan kuda masing-masing di samping gerobak.
Tentu saja keduanya terkejut melihat pemandangan di dalam gerobak terbuka itu.
"Hail Perbuatan gila apa yang kau lakukan ini?!" salah seorang perajurit membentak.
"Siang bolong! Di tengah jalan1" Perajurit yang satu lagi ikut menghardik.
Melihat munculnya dua orang perajurit Kerajaan ini Mintari merasa dirinya pasti akan mendapat pertolongan. Maka diapun berkata. "Tolong. Tolong selamatkan diriku dari manusia durjana ini!"
Dua perajurit pandangi wajah cantik dan tubuh mulus yang menggeletak di atas gerobak itu. Mau tak mau keduanya jadi tercekat dan terangsang. Yang satu berulang kali membasahi bibirnya dengan ujung lidah. Sedang yang satu lagi memandang dengan mata tak berkesip. Yang ter­akhir ini berpaling pada Kamandaka.
"Kau tahu kalau kau telah membuat satu kesalahan besar yang bisa membuat kepalamu dijirat tali gantungan?"
Kamandaka diam saja. Dia sudah merasa kalau kedua perajurit itu mulai dikobari nafsu. Benar saja karena yang satu kemudian berkata.
"Sobat, jika kau mau membagi-bagi rejeki besar ini pada kami berdua, kami tidak akan menangkapmu atau mem­buat perkara!"
Kamandaka menyeringai. "Kalau kalian memang berminat aku bersedia memenuhi permintaan kalian. Malah kalau mau kalian boleh bersenang-senang lebih dulu. Naiklah ke atas gerobak ini. Aku mengalah tidak jadi apa."
Mendengar kata-kata Kamandaka itu, dua perajurit tadi tanpa tunggu lebih lama segera turun dari kuda dan siap naik ke atas kereta.
"Hus! Tunggu dulu!" kata Kamandaka. "Sebelum naik lebih baik kalian tanggalkan dulu semua pakaian yang melekat di tubuh kalian Gerobak ini sempit. Akan sulit membuka pakaian di sini!"
"Kau benar!" kata salah seorang perajurit. Lalu tanpa malu-malu dia segera menanggalkan pakaiannya. Kawan­nya tidak mau ketinggalan, segera pula melakukan hal yang sama.
"Nah sekarang kalian sudah siap! Ayo lekas naik ke atas gerobak. Aku biar menunggu di dekat pohon sana sambil berjaga jaga," kata Kamandaka pula.
Dua orang perajurit yang tanpa pakaian itu naik ke atas gerobak. Namun belum sempat kaki mereka menginjak lantai kereta, kedua tangan Kamandaka bergerak me­mukul. Terdengar suara bergedebuk dua kali. Kedua perajurit itu keluarkan jeritan hampir berbarengan. Tubuh mereka terbanting ke tanah. Keduanya mengerang seketika lalu tak berkutik lagi. Mereka mati dengan muka remuk.
Kamandaka meludah ke tanah. Dia berpaling pada Mintari yang tergeletak dengan muka pucat. Kembali gadis ini memekik keras. Namun sekali ini tak ada sesuatupun yang bisa menghalangi perbuatan terkutuk Kamandaka

***

Kapak Maut Naga Geni 2123

DI LAMPING bukit Pendekar 212 Wiro Sableng hentikan larinya. Sejenak dia tegak berdiam diri lalu memandang ke bawah bukit. Lapat-lapat dia men­dengar suara ringkikan kuda jauh dibawah sana. Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini dapat mem­bedakan mana ringkikan kuda biasa dan mana yang tidak biasa. Segera dia menuruni bukit ke arah terdengarnya suara ringkikan kuda itu. Dia sengaja mengambil jalan me­mintas walau harus menempuh bagian bukit yang dirapati pepohonan serta semak belukar. Ketika akhirnya Pendekar ini sampai di kaki bukit, dia menemui sebuah jalan dan me­lihat ada bekasbekas jejak roda di tanah.
Wiro ikuti jejak-jejak roda itu. Belum lama berjalan langkahnya mendadak terhenti. Di kejauhan, dekat jalan yang menikung tampak sebuah gerobak sapi. Di samping kiri gerobak kelihatan dua sosok mayat dengan kepala pecah dan tubuh telanjang bulat. Dua helai pakaian seragam perajurit kelihatan tercampak di tanah. Tak jauh dari situ ada dua ekor kuda. Salah seekor diantaranya meringkik tiada henti. Wiro meneruskan langkahnya. Dia melihat sosok tubuh ke tiga, menggeletak dekat sebatang pohon yang tumbang. Sang pendekar kerenyitkan kening dan garuk-garuk kepalanya. Sosok tubuh ketiga ini tak bisa dikenali. Sekujur badan dan pakaiannya berwarna hitam seolah-olah baru saja keluar dari lumpur jelaga.
"Ini bukan warna hitam biasa. Orang ini menemui ajal akibat racun jahat…" membatin murid Sinto Gendeng. Saat itulah dia mendengar suara erangan halus. Dia berpaling ke arah gerobak sapi, tadi gerobak itu dilewatinya begitu saja. Suara erangan itu justru datang dari arah gerobak. Wiro cepat mendekati gerobak, melompat ke atasnya. Kedua kaki Pendekar 212 laksana dipantek ke lantai gerobak. Matanya hampir terpejam tak kuasa memandang.
"Tolong… tolong…" Gadis yang meoggeletak di lantai gerobak keluarkan suara kelu. Kedua matanya hanya membuka sedikit. Sekujur tubuhnya terutama di bagian leher dan dada penuh dengan luka-luka bekas gigitan.
Sambil membalikkan tubuh Wiro membuka bajunya. Dengan pakaian ini ditutupnya tubuh Mintari. Tapi baju itu tidak dapat menutupi sekujur tubuh gadis yang malang itu. Wiro memandang seputar gerobak. Ada sebuah buntalan di bawah tempat duduk kereta sebelah depan. Ketika di­periksanya dia menemukan sehelai kain warna kuning yang cukup lebar. Dengan kain ini ditutupinya tubuh gadis itu sedang bajunya dipakainya kernbali. Lalu Wiro mem­bawa gerobak itu ke tempat yang teduh.
"Saudari, dapat kau menceritakan apa yang terjadi?" Jawaban yang keluar dari mulut Mintari adalah jeritan keras. Lalu gadis ini menangis tersengguk-sengguk. Dalam hati Pendekar 212 sudah dapat menduga nasib buruk apa yang telah menimpa gadis ini. Namun yang jadi pertanyaan apa sangkut paut kedua perajurit Kerajaan yang mati telanjang serta seorang yang tewas dengan tubuh hitam itu.
"Ayah… Tolong… Ayah…"
Wiro kerenyitkan kening. Diperhatikannya lagi keadaan tubuh gadis yang menggeletak di Iantai gerobak itu. Baru dia menyadari kalau tubuh itu berada dalam keadaan ter­totok. Wiro membungkuk untuk lepaskan totokan itu.
"Kau…kau siapa…?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Mintari. Untuk pertama kali si gadis tiba-tiba merasa takut.
"Jangan takut. Aku kebetulan lewat di tempat ini. Aku berusaha menolongmu…"
Mintari membuka kedua matanya lebih lebar. Peman­dangannya masih meremang. Dia tak dapat melihat jelas wajah orang yang berlutut di sampingnya. Kemudian di­rasakannya ada sentuhan pada bagian tubuhnya yang membuat dia bisa menggerakkan kedua tangan dan kaki­nya kembali.
Begitu menyadari totokannya telah lepas, Mintari ber­usaha melompat berdiri. Tapi terhuyung-huyung dia hampir jatuh. Wiro cepat memegang tangannya dan menutupkan kain kuning kembali ke tubuh Mintari lalu menyandarkan gadis itu ke pinggiran gerobak. Mintari memandang dengan mata membeliak padanya.
"Tenanglah, kau tak usah takut. Aku bukan orang jahat," kata Wiro meyakinkan si gadis.
"Ayah…" Mintari memandang berkeliling. Wiro mengikuti pandangannya.
"Ayahmu ada di sini?" tanya Wiro.
"Ayah…Manusia itu pasti sudah membunuh ayah…" Kemudian gadis ini melihat tubuh hitam yang menggeletak dekat pohon. Satu jeritan keluar dari mulutnya. Tubuhnya tampak seperti kejang. Wiro berusaha menenangkan gadis itu. Di sudut depan gerobak dia melihat sebuah bumbung bambu. Ketika dibukanya ternyata berisi air. Air dalam bumbung ini segera diminumkannya pada Mintari. Dengan susah payah si gadis berusaha meneguk air itu. Sehabis minum dia kelihatan agak tenangan.
"Sekarang kau bisa mengatakan apa yang terjadi?" tanya Wiro.
Mintari tak menjawab. Kain kuning dibungkuskannya erat-erat ke tubuhnya lalu dia berusaha turun dari atas gerobak. Terhuyung-huyung dia melangkah mendekati se­sosok tubuh hitam dekat pohon. Wiro melangkah di sampingnya. Di depan tubuh hitam itu Mintari hentikan langkahnya. Matanya memperhatikan tidak berkesip. Kemudian dilihatnya cincin berbatu yang melingkar di jari manis tangan kanan. Meskipun sudah hangus namun dia masih bisa mengenali cincin itu.
"Ayah!" jerit Mintari. Kedua kakinya goyah dan tubuhnya langsung jatuh. Wiro cepat memegang gadis ini sebelum terbanting ke tanah.

***

Hari itu hari kelima di bulan lima, suatu pertemuan rahasia diadakan di sebuah rumah tua di kaki Bukit Sedayu di kawasan Selatan. Yang bertindak sebagai tuan rumah adalah Raden Bintang, bekas Tumenggung yang telah lama mengundurkan diri dari segala macam urusan Kerajaan. Dalam dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Rantai Bayangan. Lelaki berusia enam puluh tahun ini konon memiliki sebuah senjata aneh. Jika dia membaca mantera maka di tangan kanan atau tangan kirinya kelihatan muncul dan tergenggam sebuah rantai besi berwarna hitam. Rantai ini kelihatan seperti bayangan. Tapi jika di­pakai untuk, memukul atau menggebuk maka sasarannya bisa patah atau hancur remuk seperti terkena hantaman rantai sungguhan.
Di tempat kediamannya pagi itu telah berkumpul hampir dua puluh orang tokoh dunia persilatan di Jawa Tengah, Timur dan dari Barat. Bahkan salah seorang tamu datang jauh-jauh dari Pulau Andalas. Dia adalah seorang kakek berdestar dan berpakaian serba hitam. Kedua kaki dan pergelangan tangannya dilingkari gelang akar bahar. Dialah Datuk Alam Rajo Di Langit seorang tokoh silat yang telah punya rencana untuk membawa Mintari ke tempat ke­diamannya guna digembleng dengan berbagai ilmu ke­pandaian, silat serta kesaktian dan juga ilmu agama.
Saat itu masih ada beberapa tokoh silat yang belum muncul. Sementara menunggu acara resmi dibuka pada siang hari tepat maka para tamu mengobrol berbagai macam hal sambil menikmati minuman dan juadah yang dihidangkan. Sesekali terdengar suara gelak tertawa.
Dalam pertemuan itu akan dibicarakan beberapa hal. Namun ada satu hal penting yang akan diperbincangkan secara amat rahasia.
Dua orang tamu lagi datang. Setelah menyalami tuan rumah keduanya mengambil tempat duduk diantara para hadirin. Menjelang tengah hari Raden Bintang berdiri dari kursinya. Setelah mendehem beberapa kali dia berkata.
"Saudara-saudara sekaum persilatan. Saya melihat masih ada dua kursi yang kosong. Karena waktu kita sempit sedang yang akan dibicarakan dalam perternuan ini bukan cuma satu mata acara, lalu mengingat bahwa Saudara-saudara tentu harus kembali ke tempat asal masing-masing. Bagaimana kalau saya meminta agar acara pertemuan dimulai saja secara resmi. Mudah­mudahan dua tamu yang belum datang akan segera muncul di tempat ini."
"Saya rasa kami semua setuju," menjawab salah se-orang dari yang hadir. Yang lain-lainnya sama mengiyakan.
"Terima kasih. Kalau begitu acara bisa segera kita mulai," kata Raden Bintang pula dengan senyum gembira dan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain.
Raden Bintang mengambil sebuah palu kayu yang ter­letak di atas meja. Ketika dia hendak mengetukkan palu ini sebagai tanda dimulainya acara tiba-tiba terdengar suara bergemeratak. Raden Bintang berpaling ke halaman diikuti oleh para hadirin. Sebuah gerobak sapi tampak memasuki halaman dengan cepat. Kusirnya seorang pemuda be­rambut gondrong berpakaian dan berikat kepala putih.
"Kita kedatangan tamu. Tapi bukan yang diundang," kata Raden Bintang. "Di antara yang hadir apakah ada yang mengenalinya?"
Tidak seorang hadirinpun memberikan jawaban.
Pemuda berambut gondrong turun dari gerobak. Sesaat dia memandang agak bimbang pada orang-orang yang ada di dalam rumah besar itu.
Namun akhirnya dia melangkah juga. Di tangga atas bangunan dia berhenti dan memberi penghormatan dengan menundukkan kepala.
"Maafkan saya mengganggu. Apakah di sini pertemuan para tokoh silat dari tiga kawasan Pulau Jawa?"
"Sebutkan dulu siapa dirimu anak muda, baru ajukan pertanyaan," kata Raden Bintang.
"Saya Wiro Sableng. Saya datang membawa surat dari Eyang Sinto Gendeng. Beliau tidak bisa datang karena ada halangan."
Semua yang hadir di tempat itu termasuk Raden Bintang alias Rantai Bayangan sama-sama terkejut men­dengar nama yang disebutkan.
"Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!" semua orang menyebut gelar itu dalam hati masing-masing. Mereka tentu saja sudah lama mendengar nama besar Pendekar 212 yang berulang kali membuat kegegeran dalam dunia persilatan. Dikagumi para tokoh silat golongan putih, ditakuti oleh mereka dari golongan hitam dan para pen­jahat. Selama ini Pendekar 212 mereka anggap selalu muncul dan menghilang secara misterius, jarang me­nampakkan diri secara langsung di depan para tokoh silat. Kabarnya bertampang tolol, kadang-kadang suka kurang ajar tetapi berhati polos: Semua yang hadir tidak menduga kalau Pendekar 212 masih begitu muda dan sangat sederhana.
Wiro menyerahkan surat titipan gurunya kepada Raden Bintang. Tuan rumah bermaksud segera membacanya namun urung ketika mendengar Pendekar 212 berkata. "Maafkan saya, ada yang lebih penting dari surat itu. Seseorang di atas gerobak membutuhkan pertolongan. Di atas gerobak juga ada sesosok mayat."
Semua yang hadir di situ tentu saja menjadi kaget. Be­berapa di antaranya segera berdiri dan keluar dari rumah besar mengikuti Pendekar 212 yang melangkah menuju gerobak.
Mereka yang ikut mendekati gerobak menjadi terkejut ketika menyaksikan apa yang ada di dalam gerobak itu. Wiro mengangkat tubuh Mintari yang berada dalam keada­an lemah, terbungkus dengan kain kuning.
"Gadis ini butuh istirahat dan perawatan. Saya mohon disediakan kamar untuknya…" kata Wiro lalu melangkah kembali ke arah rumah besar sambil mendukung Mintari.
Seorang berpakaian hitam menyeruak diantara orang banyak. Lalu terdengar suaranya seperti harimau meng­gereng disusul seruan keras.
"Mintari! Apa yang terjadi denganmu Nak?!"
Wiro hentikan langkah dan berpaling. Yang lain-lain ikut menoleh. Yang tadi berseru ternyata adalah Datuk Alam Rajo Di Langit. Dia mengenali gadis yang berada dalam dukungan Pendekar 212 itu.
"Datuk," ujar Raden Bintang. "Kau mengenali gadis ini?"
"Namanya Mintari. Dia calon muridku! Atas persetujuan ayahnya Ki Pamilin yang bergelar Pendekar Tangan Baja aku akan membawanya ke Pulau Andalas! Sungguh tidak disangka kalau saat ini aku menemuinya dalam keadaan begini. Di mana ayahnya?!"
"Ya dimana Ki Pamilin? Dia salah seorang tokoh silat yang kita undang!" kata Raden Bintang pula.
"Tokoh silat itu telah jadi korban pembunuhan biadab!"
Orang banyak yang ada di tempat itu termasuk tuan rumah Raden Bintang menjadi geger. Lalu suasana hening beberapa saat lamanya. Dan semua mata kini ditujukan pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang barusan memberi keterangan.
Wiro menggoyangkan kepalanya ke arah gerobak. Dua kali lompat saja Raden Bintang sudah sampai di samping gerobak. Matanya membeliak melihat sosok tubuh hitam yang menggeletak mengerikan di atas lantai gerobak.
"Hanya ada satu manusia yang bisa membuat seorang menemui ajal seperti ini. Yaitu murid murtad Ketua Partai Semeru Raya di Timur Orangnya bernama Kamandaka bergelar Pendekar Tangan Halilintar!"
"Benar, menurut penuturan gadis ini memang orang itu yang membunuh ayahnya," kata Wiro pula.
Kembali tempat itu dilanda kegemparan.
Salah seorang dari mereka berkata. "Justru acara kita paling penting dalam pertemuan ini adalah untuk mem­bicarakan manusia terkutuk itu! Belum sempat berunding kini sudah jatuh lagi satu korban baru!"
"Dan anak gadis Ki Pamilin ini pasti sudah…" Orang yang bicara tidak tega meneruskan ucapannya.
Seseorang memberi Isyarat agar Wiro mengikutinya. Mintari dibawa masuk ke dalam sebuah kamar. Dua orang perempuan separuh baya yang sebenarnya adalah juru masak untuk menyediakan makanan dalam pertemuan itu masuk ke dalam kamar guna merawat Mintari.
Atas permintaan Raden Bintang, Wiro kemudian me­nuturkan apa yang diketahuinya yakni mulai ketika pertama kali dia menemui para korban sampai pada pen­jelasan yang disampaikan Mintari sebelum jatuh pingsan.
Mau tak mau acara pertemuan hari itu ditunda sampai jenazah Ki Pamilin diurus dan dimakamkan di halaman belakang rumah besar. Menjelang sore semua orang ber­kumpul kembali di dalam rumah. Raden Bintang berpaling pada Pendekar 212.
"Saya sudah membaca surat Eyang Sinto Gendeng. Saya dan tentu semua orang yang ada disini merasa menyesal tokoh sakti dari Jawa Barat itu tidak bisa hadir. Karenanya dengan segala kehormatan kami mengundang Pendekar 212 untuk mewakilinya."
Kalau sudah begini sikap urakan Wiro jadi keluar. Dia masih berdiri tapi kini garuk-garuk kepala. "Maafkan saya," katanya. "Kalau tidak salah isi surat itu hanya mengatakan bahwa Eyang tidak bisa datang. Beliau tidak memberi wewenang pada saya untuk bertindak sebagai wakil pada pertemuan para tokoh ini."
"Pendekar 212 walau Eyang Sinto Gendeng memang tidak menuliskan bahwa kau boleh mewakilinya, tapi kami semua yang hadir di sini sama menyetujui dan tak ada yang keberatan," Kata tuan rumah pula.
Kembali Pendekar 212 menggaruk kepala. "Mohon maaf. Saya merasa tidak punya bobot untuk tegak sama tinggi dan duduk sama rendah dengan semua orang pandai yang ada di sini. Izinkan saya minta diri…"
Raden Bintang merasa agak tersinggung. Maka diapun cepat berkata ketika dilihatnya Wiro hendak membalik. "Pertemuan ini sangat penting. Kita akan membicarakan tindakan yang harus diambil terhadap Kamandaka murid Partai Semeru Raya itu! Jika dibiarkan semakin banyak korban yang jatuh. Kau menyaksikan sendiri bagaimana kejinya dia membunuh Ki Pamilin dan merusak kehormat­an anak gadis orang tua itu. Menghabisi nyawa dua perajurit Kerajaan. Bahkan belasan tokoh silat sebelumnya telah dihabisinya. Apakah kau ingin berlepas tangan saja…?"
Kalau tadi Raden Bintan yang merasa agak tersinggung, kini sebaliknya Pendekar 212 Wiro Sableng yang merasa tersinggung dan dipojokkan.
"Kalau saya tidak ikut dalam perternuan ini bersama para tokoh yang saya hormati, bukan berarti saya hanya bertopang dagu berlepas tangan. Guru saya Eyang Sinto Gendeng mengajarkan bahwa pada saat-saat penting ada kalanya seseorang harus lebih banyak bertindak dari pada banyak bicara. Kamandaka sudah berbuat jahat menebar maut dan kebejatan sejak beberapa bulan lalu. Apa yang telah dilakukan orang-orang persilatan? Saya minta diri…"
Wiro membalikkan badannya dan melangkah cepat meninggalkan rumah besar itu tanpa melihat bagaimana paras Raden Bintang menjadi kemerahan akibat kata-kata yang diucapkannya tadi. Sambil melangkah Pendekar 212 Wiro Sableng menggerendeng. "Pertemuan… pertemuan! Berunding, bicara tak habis-habisnya. Seharusnya sudah sejak dulu-dulu mereka melakukan tindakan nyata, bukan cuma bicara!"
Baru saja Wiro mengomel seperti itu di sebelahnya ter­dengar satu suara. "Kau betul anak muda! Urusan kapiran macam begini tidak bakal beres kalau cuma dibicarakan di belakang meja sambil minum-minum dan makan-makan. Aku ikut bersamamu!"
Wiro berpaling. Orang yang melangkah di sampingnya ternyata adalah orang tua berpakaian serba hitam dan memakai gelang bahar pada kaki dan tangannya. Dia bukan lain adalah Datuk Alam Rajo di Langit. Tokoh silat dari Andalas yang sebelumnya punya rencana membawa Mintari ke tempat kediamannya.
"Orang tua, kau mau ikut aku ke mana?" bertanya Wiro sambil terus melangkah.
"Mencari pemuda keparat bernama Kamandaka itu tentu!"
"Siapa bilang aku saat ini pergi mencarinya?"
Datuk Alam Rajo Di Langit jadi terkesima dan hentikan langkahnya. Di depannya Wiro kembali berkata. "Saat ini bukankah lebih penting bagimu merawat calon muridmu itu? Persoalan Kamandaka biar serahkan saja pada para tokoh silat di Tanah Jawa ini."
Ingat pada Mintari Datuk Alam Rajo Di Langit jadi bimbang. Lalu perlahan dia berkata. "Memang sebaiknya aku lebih memperhatikan keadaan calon muridku itu." Di­pegangnya bahu Pendekar 212 lalu orang tua ini balikkan tubuh, kembali menuju rumah besar tempat pertemuan.
Ketika dia sampai di tempat itu kembali ternyata semua orang yang ada di situ tengah dilanda kegemparan.
Terheran-heran Datuk Alam Rajo Di Langit bertanya. "Apa yang terjadi? Banyak orang bermuka pucat kulihat. Kegemparan apa yang ada di sinil"
Seseorang menjawab. "Gadis malang bernama Mintari itu lenyap di culik orang!"
"Hah?!" Datuk Alam Rajo Di Langit terbeliak.Dia langsung melompat masuk ke dalam rumah, terus menuju kamar di mana Mintari dirawat. Yang ditemuinya di kamar itu hanya dua orang perempuan separuh baya yang se­belumnya diperintahkan merawat Mintari. Kedua perempu­an ini tertegak di sudut kamar dengan muka pucat!
Datuk Alam Rajo Di Langit dekati kedua perempuan itu. "Lekas ceritakan apa yang terjadi!" bentaknya keras dan tidak sabaran.
Dengan suara gemetar salah seorang dari dua perempuan itu berkata. "Saya tengah membasuh muka dan tubuh gadis itu. Teman saya ini baru saja meletakkan sehelai sapu tangan di keningnya yang panas. Tiba-tiba jendela di sebelah sana terpentang lebar. Lalu ada sese-orang masuk seperti bayangan. Dia berkelebat ke atas tempat tidur. Tubuh gadis itu dipanggulnya. Lalu dia meng­hilang lewat jendela."
"Kalian mengenali siapa orangnya?" Raden Bintang ajukan pertanyaan.
"Gerakannya cepat. Tapi kalau saya tidak salah tangkap dia adalah seorang nenek kurus berkulit hitam. Di kepala­nya ada tusuk kundai…"
Datuk Alam Rajo Di Langit berpaling pada Raden Bintang. Yang lain-lainnya juga berlaku demikian. Saling pandang dan saling menduga.
"Bisa saja tidak mungkin," kata Raden Bintang perlahan. "Namun manusia dengan ciri-ciri seperti itu hanva ada satu. Sinto Gendeng dari Gunung Gede di Jawab Barat. Guru Pendekar Kapak Maut Naga Geni 2l2!"
"Lekas kita selidiki ke luar!" teriak Datuk Alam Rajo Di Langit. "Yang lain-lainnya coba mengejar pemuda murid Sinto Gendeng tadi!"
Semua tetamu yang ada di tempat itu segera berbagi menjadi dua rombongan. Satu menyelidiki kemana lenyap­nya Mintari bersama nenek penculik. Satu rombongan lagi mengejar Pendekar 212 Wiro Sableng.
Namun kedua orang itu telah raib tak dapat lagi dikejar.

***

Kapak Maut Naga Geni 2124

DALAM sebuah rumah kayu di puncak Gunung Semeru lima orang duduk bicara mengelilingl sebuah meja bulat. Dari sikap dan air muka mereka jelas mereka tengah membicarakan satu masalah yang penting.
Kelima orang itu masing-masing adalah Gamar Seno­patri, Ketua Partai Semeru Raya yang menyandang gelar Dewa Tapak Sakti. Sang Ketua berusia hampir 70 tahun tapi keadaan tubuh dan wajahnya seperti baru ber-usia 50 tahun. Rambutnya baru sedikit yang berwarna putih. Dia digelari seperti itu karena kedua telapak tangannya ber­warna biru, mengandung kesaktian langka di mana dua tangan itu sanggup meremukkan benda sekeras apapun.
Orang ke dua adalah Ageng Seto, Ketua Cabang Partai wilayah Utara. Di sebelahnya duduk Ageng Sembodo yang merupakan adik Ageng Seto dan menjabat sebagai Ketua Cabang Partai wilayah Selatan. Ageng Sembodo adalah orang paling muda di antara ke lima orang itu, berusia 35 tahun dan memiliki wajah gagah.
Lelaki ketiga adalah Ketua Cabang Partai wilayah Timur, bernama Ki Rono Bayu, berusia 76 tahun, jadi lebih tua dari sang Ketua Partai Semeru.
Orang ke empat yaitu Rana Tumalaya, dipercayakan sebagai Ketua Cabang Partai wilayah Barat.
Setelah mengusap wajahnya beberapa kali, Ketua Partai Semeru Raya berkata. "Memang sulit dipercaya kalau tidak dilihat sendiri. Kamandaka, pemuda yang jadi murid harapan masa depan Partai, dikenal cakap gagah, berjiwa penuh kesatria dan memiliki iman yang tinggi. Kini diketahui telah menebar angkara murka keji di rimba per­silatan. Dosanya makin hari makin menggunung. Kalau ingatannya tidak terganggu, tidak mungkin dia melakukan semua itu. Atau mungkin dia memiliki semacam ilmu yang diamalkan secara sesat?"
"Mungkin sekali begitu Ketua," menyahuti Ki Rono Bayu. "Lima orang anak murid Partai Cabang Timur sempat menemui Kamandaka di sekitar Karanganyar, tak jauh dari kaki sebelah barat Gunung Karangpandan. Karena se­belumnya sudah saling mengenal maka para murid saya tidak sungkan-sungkan menasihati agar Kamandaka kembali ke jalan benar dan segera menghadap Ketua Partai untuk minta ampun. Namun apa yang mereka terima sungguh mengenaskan. Empat orang murid partai dibunuh dengan tangan kosong. Yang satu sempat melarikan did. Dia memberi tahu bahwa Kamandaka telah memiliki satu ilmu kesaktian baru yaitu berupa pukulan Tangan Halili­ntar. Itu pula konon gelar yang dipakainya kini dalam dunia persilatan."
"Tangan Halilintar!" desis Gamar Senopatri. "Dari mana anak itu mendapatkan ilmu kesaktian itu. Apa yang telah membuatnya berubah menjadi setan? Membunuh bahkan memperkosa!" Ketua Partai Semeru Raya ini geleng-geleng­kan kepala sambil memegangi kalung baja putih dengan perhiasan berbentuk kepala singa. Sepasang mata singa ini diberi batu delima merah sehingga kelihatan berkilau- kilau seperti memantulkan bara api.
"Seorang pemuka agama di selatan mengetahui tempat kediaman Kamandaka. Agaknya sudah saatnya kita harus turun tangan…" berucap Ketua Cabang Partai wilayah Selatan yaitu Ageng Sembodo.
Gamar Senopatri alias Dewa Tapak Sakti usapusapkan kedua telapak tangannya yang biru satu sama lain. "Memang sudah saatnya. Biar aku sendiri yang akan menemui anak itu. Membawanya kemari untuk bertobat dan menebus segala dosa. Kalau dia tidak mau akan ku­bunuh di tempat!"
Baru saja Ketua Partai Semeru Raya itu berkata demikian, tiba-tiba, ada suara menyahuti.
"Ki sanak benar! Murid murtad itu memang patut di­bunuh. Dipancung kepalanya, dicincang sekujur tubuhnya!"
Terdengar angin bersiur. Lampu minyak yang tergantung di atas meja bergoyang-goyang. Ke lima y orang yang ada di ruangan itu cepat berdiri. Mereka berpaling ke kanan.
Di ambang pintu tegak seorang kakek berdestar dan berpakaian serba hitam. Pergelangan tangan dan kakinya dilingkari gelang akar bahar. Tampangnya sekeras batu karang dan pandangan matanya seperti api menyambar. Dia adalah Datuk Alam Rajo Di Langit, tokoh silat dari Andalas yang beberapa hari lalu menghadiri pertemuan para tokoh silat di Selatan.
"Tamu terhormat dari mana yang datang tidak memberi salam?" tegur Ketua Partai Semeru Raya sekaligus menyindir.
Datuk Alam Rajo Di Langit parasnya tidak berubah sedikitpun oleh teguran itu. Kedua matanya menyapu dengan cepat satu demi satu enam orang yang ada di ruangan itu.
"Yang mana di antara kalian Ketua Partai Semeru Raya?"
Gamar Senopatri mendehem beberapa kali sebelum menjawab. Dari pakaian sang tamu dia segera maklum kalau orang itu datang dari seberang.
"Tamu dari seberang rupanya datang mencari saya. Saya Ketua Partai Semeru Raya. Nama saya Gamar Senopatri. Siapakah kiranya ki sanak?"
"Jadi kau rupanya guru Kamandaka. Pemuda bejat yang gentayangan malam melintang menebar maut, menculik dan memperkosa!"
Paras Ketua Partai Semeru Raya jadi berubah. Empat Ketua Cabang tampak tegang. Selama ini belum ada orang yang datang membawa persoalan menyangkut diri Kaman­daka.
"Saya memang guru Kamandaka," kata Gamar Seno­patri. "Terangkan dulu siapa ki sanak dan apa maksud kedatangan jauh-jauh ke sini?"
"Setahuku kau diundang dalam pertemuan para tokoh silat di Selatan. Mengapa tidak muncul atau mengirim wakil?"
"Akh, ki sanak rupanya utusan para tokoh silat dalam pertemuan itu."
"Siapa bilang begitu? Aku datang mauku sendiri!" sahut Datuk Alam Rajo Di Langit.
"Kalau begitu silahkan duduk. Mari kita bicara secara baik-baik."
Datuk Alam mendengus. "Siapa sudi duduk dengan kalian orang-orang yang tidak bertanggung jawab?!"
Lima orang disekitar meja tampak marah. Yang empat masih bisa menahan diri tapi yang paling muda yaitu Ageng Sembodo langsung membentak.
"Apa maksud ucapanmu orang tua berpakaian hitam?! Datang tidak tahu juntrungan! Bicara tidak karuanl Jangan salah kalau orang macammu bisa digebuk!"
Datuk Alam menyeringai. "Orang muda, di negeriku manusia bermulut enteng sepertimu sudah lama disingkir­kan! Kalian orang-orang Partai Semeru hanya bisa bicara tapi tidak pernah bertindak! Sahabatku Ki Pamilin bergelar Pendekar Tangan Baja dibunuh oleh Kamandaka secara keji! Anak gadisnya yang bakal menjadi calon muridku diperkosa! Aku datang membawa kabar buruk itu agar kalian segera berbuat sesuatu! Dan tadi kau bilang aku datang tanpa juntrungan! Bicara tidak karuan! Orang sepertimu seharusnya dirobek mulutnya!"
Para lima orang Ketua Partai Semeru Raya tampak berubah. Ageng Sembodo mengelam wajahnya.
"Kenapa kalian jadi diam semua? Apa sudah disambat hantu bisu?!" sentak Datuk Alam Rajo Di Langit. Dia menunjuk tepat-tepat pada Ketua Partai Semeru Raya. "Kalau dalam waktu satu bulan kau tidak bisa menangkap muridmu dan menghukumnya dengan hukuman mati, aku akan muncul lagi di tempat ini. Saat itu seluruh puncak Semeru akan aku obrak-abrikl Nyawa kalian tidak ada harganya lagi bagiku! Ingat baik-baik!"
Datuk Alam Rajo Di Langit membalikan tubuh hendak pergi. Tapi Gamar Senopatri cepat berkata.
"Ki Sanak harap mau berlaku hormat sedikit. Walau marah dan dendam membara jadi satu, tapi kita orang-orang tua tentu bisa berkepala dingin. Silakan duduk dulu agar kita bisa bicara baik-baik."
Habis berkata begitu Ketua Partai Semeru Raya ini angkat tangan kanannya yang berwarna biru. Satu ke­kuatan yang tidak terlihat bergerak ke arah sebuah kursi kayu. Kursi ini tampak terangkat. Lalu perlahan-lahan seperti melayang bergerak mendekati Datuk Alam Rajo Di Langit dan turun di sampingnya.
"Silakan duduk, ki sanak!" kata Gamar Senopatri. Dia memberi isyarat pada empat Ketua Cabang. Bersama­sama mereka kemudian duduk di kursi masing-masing.
Sesaat Datuk Alam tampak menunjukkan sikap bimbang. Namun kemudian akhirnya dia duduk juga di kursi itu dan diam-diam mengetahui kalau Ketua Partai Semeru Raya sengaja memamerkan kehebatan tenaga dalamnya. Kakek ini membatin. "Hemmm…. Mulutnya bicara manis tetapi ada segumpal kesombongan di dalam hatinya."
"Nah sekarang kita bisa bicara panjang lebar mengenai muridku si Kamandaka itu," kata Ketua Partai Semeru Raya pula.
"Ah, waktuku sempit. Lagi pula aku sudah memperingat­kan kalian agar segera turun tangan mencari dan me­nangkap Kamandaka."
"Urusan kami dengan Kamandaka adalah urusan guru dengan murid. "Urusan dalam Partai. Jadi harap ki sanak tidak keliwat mendesak…"
Sepasang mata Datuk Alam Rajo Di Langit mendelik. "Mungkin apa yang ki sanak bilang betul adanya. Tetapi apa kata ki sanak menyangkut pembunuhan, penculikkan dan perkosaan, yang dilakukan oleh Kamandaka? Apa itu bisa dianggap sebagai urusan dalam? Ingat ki sanak. Seluruh tokoh rimba persilatan tidak menganggap hal itu urusan dalam Partai atau hanya sekedar urusan guru dengan murid!"
Gamar Senopatri dan empat Ketua Partai tak bisa ber­kata apa-apa.
"Ada hal lain yang aku rasa kurang sedap. Masakan tuan rumah selaku Ketua Partai Semeru Raya yang begini besar tega-teganya memberikan kursi reyot pada tamu yang datang dari jauh."
Setelah berkata begitu Datuk Alam Rajo Di Langit segera berdiri dan tinggalkan ruangan itu.
Gamar Senopatri dan empat orang Ketua Cabang Partai tentu saja heran mendengar ucapan Datuk Alam Rajo Di Langit itu. Mereka segera memburu ke pintu tapi sang Datuk Alam Rajo Di Langit sudah lenyap. Padahal puncak Semeru di kawasan itu merupakan pedataran yang agak luas.
"Gerakannya luar biasa cepat," kata Gamar Senopatri mengagumi. "Sayang dia sama sekali belum mengatakan siapa dirinya." Lalu Ketua Partai Semeru Raya ini berpaling ke arah kursi yang tadi sempat diduduki tamunya.
"Apa yang tidak beres dengan kursi ini? Kursi begini kokoh dikatakan reyot!" berkata Ageng Sembodo. Lalu kursi kayu itu dipegangnya pada bagian sandaran dan diangkat­nya. Terjadi hal yang aneh. Sambungan kayu-kayu kursi tiba-tiba bertanggalan dan jatuh ke lantai hingga Ageng Sembodo kini hanya memegang bagian sandarannya sajal
"Manusia luar biasa!" mau tak mau pujian itu keluar dari mulut sang Ketua Partai. Lalu sambungnya. "Sebaiknya kita teruskan pembicaraan."
Kelima orang itu kembali duduk mengitari meja bundar.
"Sembodo, tadi kau mengatakan ada orang yang tahu letak tempat kediaman Kamandaka," Gamar Senopatri membuka pembicaraan.
"Benar Ketua. Di sebuah goa di pantai Selatan. Sulitnya goa ini terletak dibawah laut. Jadi sulit untuk memasuki­nya. Kalau tidak salah goa itu bernama goa Kranggan."
"Kalau begitu besok kau dan aku berangkat ke sana."
"Tunggu dulu Ketua," kata Ki Rono Bayu begitu men­dengar kata-kata pimpinannya. "Soal maksud Ketua untuk turun tangan sendiri tidak kami ragukan. Namun harap Ketua jangan tergesa-gesa turun tangan sendiri. Beri dulu kesempatan pada kami untuk mendatangi kediaman Kamandaka. Jika bertemu akan kami seret dia ke hadapan Ketua."
"Saya setuju pendapat Ki Rono Bayu itu," kata Rana Tumalaya. Ke empat orang Ketua Cabang Partai sama menyetujui hingga sang Ketua tidak bisa berbuat apa-apa lagi: Maka diputuskan bahwa Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu akan berangkat ke Selatan besok pagi. Namun se­belum pertemuan dibubarkan, Ageng Seto mengajukan sebuah usul.
"Setahu saya Kamandaka punya hubungan dekat dengan murid Partai yang bernama Kintani. Bagaimana kalau kita manfaatkan kedekatan hubungan itu. Kita minta bantuan gadis itu untuk membujuk Kamandaka agar mau menyerahkan diri dan ikut secara baik-baik ke puncak Semeru ini."
"Itu pemikiran yang baik," kata Rana Tumalaya. "Entah bagaimana pendapat yang lain-lain."
"Saya tidak setuju. Perjalanan ke Selatan cukup jauh dan sulit. Melibatkan Kintani terlalu berbahaya." Yang bicara adalah Ageng Sembodo.
Ketua Partai mengusap dagunya. Dia tidak mau me­mandang ke arah Ageng Sembodo. Tetapi Ketua Cabang Partai yang muda ini sekilas dilihatnya mengalami pe­rubahan air muka. Gamar Senopatri dan juga semua orang yang ada di situ secara diam-diam mengetahui ada semacam perlombaan antara Kamandaka dan Ageng Sembodo untuk memperebutkan Kintani. Ternyata Kaman­daka lebih mendapat tempat di hati si gadis. Sejak Kamandaka meninggalkan pucak Semeru lalu berbuat se-gala macam kejahatan di rimba persilatan, Kintani nampak sangat terguncang. Sebaliknya Ageng Sembodo merasa bahwa kesempatan baginya untuk mendapatkan gadis itu jadi terbuka lebar. Bagaimanapun sang Ketua Partai pasti tidak akan merelakan Kintani berhubungan lagi dengan Kamandaka, apalagi merestui keduanya sebagai suami istri.
"Bagaimana pendapat Ketua?" bertanya Rana Tuma­laya.
"Apa yang dikatakan Ageng Sembodo memang benar. Perjalanan ke Selatan jauh dan sulit. Namun mengapa tidak kita pergunakan kesempatan ini untuk memberikan tambahan gemblengan pada Kintani?" Gamar Senopatri alias Dewa Tapak Sakti memandang pada para Ketua Cabang satu persatu. Karena tidak ada yang bicara maka diapun mengambil keputusan. "Panggil Kintani, saya akan bicara padanya."
Sebenarnya Ageng Sembodo hendak berkata dan ber­usaha mencegah maksud membawa serta Kintani itu. Dia kawatir pertemuan si gadis dengan pemuda yang dicintai­nya itu akan membawa akibat yang justru malah membuat suasana tambah keruh. Tetapi melihat pada air muka Ketua Partai, Ageng Sembodo memilih lebih baik dia diam saja. Malah dia diam-diam ingin memanfaatkan perjalanan itu untuk lebih mendekatkan diri dengan Kintani.

***

Kapak Maut Naga Geni 2125

BUKIT Selarong hampir tak pernah didatangi orang.
Selain lerengnya yang terjal dan penuh dengan
bebatuan, pohon-pohon disitu tumbuh sangat rapat. Kabarnya di sekitar situ juga sering terlihat binatang­binatang buas seperti harimau dan srigala hutan.
Namun siang itu terlihat kelebatan tubuh seseorang yang dengan cepat mendaki bukit, melompat dari batu satu ke batu lainnya, menyelinap sebat diantara pepohonan. Dia ternyata seorang nenek kurus tinggi berkulit sangat hitam. Muka dan matanya cekung. Alisnya putih. Di kepalanya yang ditumbuhi rambut jarang berwarna putih ada lima buah tusuk kundai perak. Dari ciri-ciri yang disebutkan ini jelas si nenek adalah Eyang Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 dari Gunung Gede.
Si nenek mendekati bukit Slarong sambil memanggul sosok tubuh Mintari yang terbungkus kain berwarna kuning. Jadi dialah yang telah menculik gadis itu sewaktu berada di tempat kediaman Raden Bintang, tokoh silat yang bergelar Rantai Bayangan.
Semakin tinggi ke atas bukit semakin dingin terasa udara. Mintari perlahan-lahan sadar dari pingsannya. Begitu siuman gadis ini langsung menjerit. Pertama karena ingat akan apa yang ketika menyaksikan angkernya wajah si nenek yang memanggul melarikannya.
"Gadis sialan!" Sebagaimana biasa Sinto Gendeng enak saja memaki. "Jeritanmu mengejutkanku! Untung aku tidak latah dan melemparkanmu ke bawah bukit!’
"Nen… nenek. Kau siapa…?" tanya Mintari.
"Diam sajalah! Nanti kalau sudah sampai di tempat tujuan baru kau boleh bertanya panjang lebar! Tidak baik bicara di jalanan. Kalau setan mendengar dan ikut bicara baru tahu rasa kau. Hik…hik…hik…!" Si nenek tertawa cekikikan.
Mintari jengkel ada takutpun ada. Hendak menutup mulut dia merasa kawatir. Maka diapun bertanya kembali. "Kau ini sebetulnya mau bawa aku kemana Nek?"
"Anak setan!" si nenek gebuk pantat Mintari. "Kalau aku bilang diam, jangan berani membuka mulut!"
Akhirnya terpaksa gadis itu berdiam diri.
Di salah satu lereng bukit Slarong terdapat sebuah telaga kecil berair jernih. Kesinilah Sinto Gendeng mem­bawa Mintari. Di salah satu tepian telaga terdapat sebuah gundukan batu berbentuk goa. Eyang Sinto Gendeng ber­henti di depan goa dan menurunkan Mintari. Dari kepitan­nya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang ternyata isinya adalah sehelai baju dan celana putih.
"Nenek…."
"Lekas kau pakai pakaian itu. Kalau sudah baru nanti kita bicara!" Sinto Gendeng memotong ucapan Mintari.
Mau tak mau gadis itu melakukan juga apa yang dikata­kan si nenek. Selesai berpakaian dia tegak memperhatikan si nenek yang melangkah kakinya ke dalam air telaga. Tiba­tiba Eyang Sinto Gendeng hentikan langkahnya, berpaling memandang Mintari.
"Nah sekarang kau boleh omong. Bicara dan tanya apa saja yang kau mau. Tapi ingat jangan lama dan panjang lebar. Aku tidak punya waktu banyak. Aku manusia yang lebih banyak berbuat dari pada bicara ngulon-ngidul! Ayo buka mulutmu!"
"Nek… seingat saya, sebelum jatuh pingsan seorang pemuda menolong saya…." Apa yang telah dialaminya terbayang kembali di pelupuk mata Mintari. Gadis ini menangis keras dan jatuhkan diri berlutut di tepi telaga.
"Saya dirusak secara keji. Ayah saya dibunuh. Apa guna­nya lagi hidup ini…!" Mintari menjerit. Lalu tampak dia melompat. Dengan nekad gadis ini berlari cepat ke dinding batu di samping goa, siap untuk membenturkan kepalanya!
"Anak tolol!" teriak Eyang Sinto Gendeng marah. Sekali dia berkelebat dia sampai lebih dulu di depan dinding batu. Tangan kanannya yang kurus diangkat. Telapak tangannya menangkap kening Mintari hingga kepala gadis itu tidak sampai membentur dinding batu!
Si nenek gerakkan tangan kanannya. Mintari terbanting ke tepi telaga, menangis keras-keras.
"Itulah kelemahan perempuan! Cis! Memalukan!" kata Sinto Gendeng. "Biasanya hanya menangis, putus asa lalu bertindak nekadl Apa kau tidak punya hati untuk merasa dan otak untuk berpikir? Kalau punya hati untuk merasa dan otak untuk berpikir? Kalau kau mampus apa yang akan kau dapat? Sorga tidak neraka pasti! Karena ter­kutuklah orang-orang yang mati bunuh diri!"
Mintari mengusap air matanya. Dia memandang pada si nenek yang telah menyelamatkan jiwanya. "Maafkan saya Nek. Pikiran saya benar-benar kalut. Saya tidak sanggup menahan sengsara yang amat berat ini. Tolong beri tahu siapa nenek ini adanya. Mengapa membawa saya ke tempat ini?"
Mulut Eyang Sinto Gendeng tampak komat-kamit.
"Pemuda yang menolongmu itu adalah muridku. Nama­nya Wiro Sableng. Aku gurunya bernama Sinto Gendeng…!"
Mintari terkesiap mendengar si nenek menyebut nama­nama aneh itu. Sableng dan Gendeng! "Ah, aku ber­hadapan dengan seorang nenek kurang waras rupanya. Tapi aku yakin manusia seorang nenek kepandaian tinggi. Aku ingat cerita guru tentang seorang nenek sakti yang diam di puncak Gunung Gede. Jangan-jangan dia ini orang­nya. Murid itu pasti Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!"
"Kau mau tanya apa lagi?!" Sinto Gendeng memandang dengan mata dibesarkan pada Mintari.
Si gadis lantas menjawab.
"Turut cerita yang pernah saya dengar dari guru, apakah nenek orang sakti yang diam di puncak Gunung Gede dan murid nenek itu bukankah yang dijuluki orang sebagai Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?"
"Bagus, otakmu tajam juga. Kalau kau sudah tahu aku tidak perlu lagi menjawab pertanyaanmu. Aku bisa mulai…"
"Tunggu dulu Nek. Saya ingin tahu sebab apa Nenek membawa saya kemari," kata Mintari pula.
"Anak tolol! Justru hal itu yang hendak aku terangkan padamu!" berkata Eyang Sinto Gendeng dengan wajah merengut.
"Maafkan kalau saya keliwat mendesak. Tapi per­temuan dengan seorang tokoh besar dunia persilatan se­perti Nenek sungguh membuat saya senang…."
"Dasar anak tolol! Aku membawamu kemari bukan untuk bersenang-senang!"
Melihat Eyang Sinto Gendeng seperti marah, Mintari cepat berkata. "Maafkan Nek. Maksud saya…."
"Sudah! Kau dengan saja apa yang aku bilang. Jawab apa yang aku tanya. Mengerti…. "
"Saya mengerti Nek…."
"Panggil aku Eyang!"
"Baik Nek eh Eyang "
"Kau tahu siapa yang membunuh Ayahmu?"
"Tahu Eyang."
"Tahu siapa? Sebutkan orangnya."
"Kamandaka. Dia murid sesat dan murtad Ketua Partai Semeru Raya. Bergelar Tangan Halilintar."
‘"Kau tahu siapa yang merusak kehormatanmu?"
"Manusia terkutuk yang sama Eyang. Kemahakah itu!"
"Jadi kau sudah tahu dengan jelas," kata Sinto Gendeng. "Lantas apakah aku tidak ingin membalaskan sakit hati kematian Ayahmu serta perlakukan keji yang di­lakukan Kamandaka terhadapmu?"
"Itu memang tersurat dalam benak dan tergurat dalam hati saya Eyang. Tapi manusia itu kepandaiannya tinggi, sekali. Ayah saja mati ditangannya."
"Anak tolol! Kalau Ayahmu tidak mampu apa berarti kau juga tidak mampu?!"
"Saya sudah mencoba Eyang tapi gagal." Jawab Mintari.
"Satu saat jika kau bertemu lagi dengan Kamandaka, kau tak akan gagal. Itu sebabnya aku membawamu kemari. Ada satu ilmu pukulan yang harus kau pelajari untuk dapat mempercudangi Kamandala."
"Astaga, rupanya Eyang hendak mengambil saya jadi murid!" seru Mintari lalu buru-buru jatuhkan diri berlutut.
Si nenek tertawa.
"Siapa bilang aku mengambilmu jadi murid? Muridku cukup satu. Si pemuda sableng bernama Wiro itu!"
Paras Mintari berobah.
"Seperti kukatakan tadi, kau akan kuberi pelajaran menguasai satu ilmu pukulan sakti. Pukulan Sinar Matahari…!"
"Saya pernah mendengar kehebaran pukulan sakti yang menggegerkan dunia persilatan itu," kata Mintari pula.
Di hadapannya Eyang Sinto Gendeng tegak dengan kedua kaki dikembangkan. Tangan kanannya diangkat per­lahan-lahan. Mintari melihat bagaimana tangan itu sampai sebatas lengan berubah menjadi putih seperti perak ber­kilauan. Tiba-tiba si nenek menghantam ke depan. Ter­dengar suara menderu dahsyat disertai berkiblatnya sinar terang benderang dan hawa panas menghampar. Menyusul suara menggelegar.
Di depan sana dinding batu yang keras hancur berantakan. Mintari sampai leletkan lidah melihat kehebat­an pukulan sakti itu. Padahal Eyang Sinto Gendeng baru kerahkan sepertiga saja dari tenaga dalamnya!
"Pukulan Sinar Matahari…" kata Sinto Gendeng pada dirinya sendiri. "Hebat luar biasa! Tapi tidak mampu mengalahkan kehebatan Pukukan Halilintar Kamandaka…! Gila! Edan betul!" Paras cekung Sinto Gendeng menunjuk­kan rasa kecewa yang mendalam.
"Eyang…" kata Mintari. "Kalau pukulan Sinar Matahari tidak mampu mengalahkan Pukulan Halilintar Kamandaka, lalu mengapa Eyang hendak mengajarkannya juga pada saya?"
Si nenek menyeringai. "Aku tahu dan aku tidak bodoh! Ilmu pukulan Sinar Matahari yang akan kuajarkan padamu akan kuberi satu tambahan kekuatan hingga bisa menyelusup menggepur ambalas pukulan sakti Kamandaka. Namun harus kau ketahui, ilmu pukulan itu hanya bisa kau kuasai selama tida puluh hari dan hanya bisa kau pergunakan satu kali saja. Setelah tiga puluh hari ilmu tersebut akan lenyap. Berarti dalam waktu tiga puluh hari kau harus dapat menemukan Kamandaka!"
Sesaat Mintari terkesiap mendengar kata-kata Sinto Gendeng itu. lalu akhirnya terdengar dia berkata. "Terima kasih Eyang. Saya akan pelajari ilmu pukulan itu baik-baik."
"Berdiri di depankul" kata Eyang Sinto Gendeng. "Aku mau jajal sampai di mana tingkat tenaga dalammul"
Mintari tegak dua langkah di hadapan Eyang Sinto Gendeng. "Kepalkan tangan kananmu, ulurkan tepat-tepat ke hadapanku!"
Kembali si gadis melakukan apa yang dikatakan si nenek. Sinto Gendeng sendiri melakukan hal yang sama tapi dengan tangan kiri. Kedua tangan mereka yang terkepal saling bersentuhan. "Tekan yang kuat!" kata Sinto Gendeng.
Mintari menekankan tangan kanannya ke depan!"
"Bagus! Sekarang kerahkan seluruh tenaga dalam!"
Mintari segera kerahkan tenaga dalamnya. Tubuhnya sampai ke lengan yang diacungkan tampak bergetar keras. Eyang Slnto Gendeng menunggu sampai seluruh kekuatan tenaga dalamsi gadis terhimpun di kepalan tangan kanannya. Ketika hal itu tercapi baru nenek sakti ini mengerahkan tenaga dalamnya. Dia mulai dengan seper­sepuluh bagian. Naik dua persepuluh. Ketika mencapai tingkat seperempatnya, di hadapannya Mintari nampak goyang kedua lututnya. Di kening gadis ini memercik keringat. Pakaiannya juga basah oleh keringat. Eyang Sinto putar kepalan tangan kirinya ke samping kiri. Saat itu pula terdengar suara jeritan Mintari. Gadis ini terpental enam langkah, jatuh masuk ke dalam telaga. Mukanya tampak seputih kertas!
Dengan cepat Mintari berenang ke tepi telaga. Di hadapan Sinto Gendeng dia berkata. "Maafkan saya mengecewakan Eyang."
"Tidak jadi apa. tapi kau perlu meningkatkan tenaga dalammu sampai paling tidak dua kali dari yang sekarang ini. Kalau kau tidak mampu melakukannya berarti seumur hidup kau tidak bakal dapat membuat perhitungan dengan Kamandaka!"
"Jika Eyang mau membimbing, saya akan berusaha keras untuk meningkatkan tenaga dalam saya…"
"Kau butuh waktu paling sedikit dua bulan. Kau harus sungguh-sungguh!"
"Saya akan sungguh-sungguh Eyang. Saya berjanji!"
Sinto Gendeng menyeringai. "Berjanji lebih bagus dari pada bersumpah! Berapa banyak saja manusia yang ber­sumpah palsu!"
"Terima kasih Eyang. Kau memberi saya kesempatan…"
"Sudah, lupakan segala macam peradatan. Kita mulai sekarang juga. Duduk bersila di depan mulut goa sana. Letakkan kedua tanganmu di atas ujung paha dekat lutut. Lalu kerahkan tenaga dalammu dari perut. Tapi jangan di­alirkan. Tetap di perut dan tahan!"

***

Kapak Maut Naga Geni 2126

TIGA penunggang kuda itu berhenti di tepi pantai. Mereka adalah Ki Rono Bayu, Ketua Cabang Partai Semeru raya wilayah Timur. Lalu Ageng Sembodo, Ketua Cabang wilayah Selatan dan yang ketiga seorang gadis berkulit putih. Dia mengenakan pakaian ringkas putih dan mengenakan ikat kepala. Wajahnya yang cantik ke­merahan disengat sinar matahari. Gadis ini adalah anak murid Partai yang bernama Kintani.
"Dimana letak goa Kranggan itu?" bertanya Ki Rono Bayu tidak sabaran.
Ageng Sembodo tidak segera menjawab. Dia me­mandang ke tengah laut tetapi pandangannya kosong. Dia tengah membayangkan pembicaraannya dengan Kintani malam tadi.
Waktu itu mereka berkemah dan membuat api unggun di pinggir sebuah anak sungai. Ki Rono Bayu sudah tertidur karena keletihan.
Ageng Sembodo dan Kintani tidak segera bisa tidur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ageng Sembodo untuk mendekati si gadis. Dia memulai pembicaraan dengan ber­tanya bagaimana perkembangan ilmu silat serta tenaga dalam si gadis. Kintani menjawab ada kemajuan tetapi tidak banyak.
"Kau harus rajin berlatih Kintani. Ketua sangat meng­harapkan kau menjadi salah seorang murid Partal yang bisa diandalkan," kata Ageng Sembodo pula. Lalu dia ber­tanya. "Apakah kau masih mengngat-ingat Kamandaka?"
"Dia saudara seperguruan, saudara se Partai. Tentu saja tidak ada yang lupa padanya."
Ageng Sembodo tersenyum. "Kau hanya mengingatinya sebagai saudara seperguruan dan saudara se-Partai?"
"Maksud Ketua Cabang apa?" tanya Kintani.
"Panggil saja namaku."
"Baik. Lalu maksud Ageng Sembodo apa?"
"Aku tahu, semua orang tahu kalau kau ada hubungan khusus dengan pemuda itu. Kalian saling mencinta."
Kintani diam saja walau wajahnya tampak bersemu merah.
"Setelah dia kini menempuh hidup sesat, murtad, apa­kah kau masih mencintainya Kintani?"
"Saya yakin ada sesuatu yang menyebabkan dia jadi begitu. Saya tahu dia orang baik. Kalau saya bertemu dia, hal itu yang perlu saya tanyakan lebih dulu."
"Justru jika kita bertemu dengan dia, kita tidak punya waktu banyak untuk bicara soal lain. Dirinya dikejar dosa dan hukum. Ingat hal itu Kintani. Dia bukan anak murid Partai lagi. Sekali kita menemuinya dia akan kita seret ke hadapan Ketua. Jika dia menolak. Ketua sudah berpesan dan memberi wewenang untuk membunuhnya di tempat. Kalaupun dia bisa dihadapkan pada Ketua Partai, umurnya tak akan lama. Dia akan dijatuhi hukuman mati1"
Si gadis diam kembali.
"Dari sekarang kau harus mulai melupakannya Kintani. Kalau tidak kau akan hanyut dalam derita batin."
Kintani masih berdiam diri.
Ageng Sembodo menggeser duduknya. Dipegangnya tangan Kintani seraya berkata. "Kau pasti tahu Kintani. Sejak lama aku mencintaimu. Jika kau sudi, masa depan yang baik akan menanti kita. Ketua Partai pasti merestui hubungan kita."
Ageng Sembodo menunggu sambil menatap paras si gadis di sebelahnya.
"Apa jawabmu Kintani?"
Tak ada jawaban.
"Aku percaya kau juga menaruh perasaan yang sarna terhadapku. Hanya halangan diri Kamandaka yang mem­buatmu tidak bisa menerima kenyataan itu. Bukankah demikian….?"
"Saya tidak tahu Ageng…" sahut Kintani.
Ageng Sembodo mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis. Sesaat lagi hidungnya akan mencium dan menyen­tuh pipi Kintani, gadis ini jauhkan kepalanya dan lepaskan jari-jari tangannya dari pegangan Ageng Sembodo.
"Saya letih. Saya mengantuk. Besok kita harus melanjut­kan perjalanan jauh. Sebaiknya kita tidur saja…"
"Kau pergilah tidur. Aku akan berjaga-jaga sambil me­mandangi wajahmu yang cantik…" jawab Ageng Sembodo.
Ki Rono Bayu memandang pada Ageng Sembodo dengan perasaan heran. Dalam hati dia membatin. "Aku bertanya dia tak menjawab. Matanya tertuju ke arah laut. Apa yang ada dalam benak orang ini?"
"Ageng Sembodo, aku bertanya apa kau tidak men­dengar?"
Ageng Sembodo seperti kaget. Dia berpaling pada orang tua itu seraya berkata. "Maafkan saya. Mohon per­tanyaannya diulangi."
"Saya tadi bertanya dimana letak goa Kranggan sarang Kamandaka itu?" Suara Ki Rono Bayu jelas terdengar jengkel.
"Ah… Goa itu rasanya berada di sekitar tempat ini Ki Rono. Untuk pastinya kita harus menemui seseorang yang tahu betul letak pastinya. Ikuti saya…"
Ki Rono Bayu dan Kintani mengikuti Ageng Sembodo yang memacu kudanya menyusuri pantai ke arah timur. Di saw tempat dia membelok ke kiri memasuki sebuah perkampungan nelayan. Di ujung perkampungan Ageng Sembodo hentikan kudanya di depan sebuah rumah yang saat itu dikeillingi oleh orang banyak. Bau busuk menebar dari dalam rumah.
"Ini rumahnya," kata Ageng Sembodo pada Ki Rono Bayu. "Tapi heran, ada apa orang berkerumun di sini?" Ageng Sembodo turun dari kudanya dan bertanya pada salah seorang yang ada di tempat itu. "Betul ini rumah Suro Ampel?"
Orang yang ditanya mengangguk dan memandang pada Ageng Sembodo serta Ki Rono Bayu dan Kintani. Orang-orang di sekitar situ juga sama memperhatikan mereka.
"Saudara ini siapa? Apakah bermaksud menemui Suro Ampel pemuka agama di kampung ini?" tanya orang yang tadi menganggukkan kepalanya.
"Betul," sahut Ageng Sembodo. "Ada apa orang banyak berkerumun di sekitar sini?" tanyanya kemudian.
"Ada hal-hal yang tidak biasa. Sudah dua hari Suro Ampel tidak keluar dari dalam rumahnya. Sejak pagi tadi ada bau busuk keluar dari dalam rumah. Kami penduduk kampung menaruh curiga. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan diri Suro Ampel. Kami tengah berunding untuk menjebol pintu rumahnya dan memeriksa ke dalam…"
Ageng Sembodo tidak menunggu orang itu mengakhiri ucapannya. Dia melompat ke hadapan pintu rumah. Sekali tendang saja pintu yang terbuat dari papan itu jebol hancur berantakan. Bersamaan dengan Itu bau busuk yang menjijikkan keluar lebih santar dari dalam rumah.
Ada beberapa orang yang ikut masuk ke dalam rumah. Mereka langsung hentikan langkah ketika sampai di bagian tengah rumah. Di antara kegelapan tampak menggeletak sesosok tubuh di lantai. Mukanya tidak bisa dikenali karena sudah hancur dan membusuk. Sosok tubuh yang sudah jadi mayat inilah yang mengeluarkan bau busuk.
Meski mukanya hancur namun dari bentuk tubuh serta pakaian yang melekat di tubuh mayat Ageng Sembodo segera tahu mayat itu adalah mayat Suro Ampel, orang yang dicarinya dan yang tahu letak pasti goa Kranggan. Tanpa menunggu lebih lama Ketua Cabang Partai Semeru wilayah Selatan ini segera keluar dari tempat itu. Di luar diceritakannya apa yang ditemuinya di dalam.
"Tak ada jalan lain. Kita harus menunggu sampai besok pagi. Besok, kalau pasang surut terjadi, saya rasa saya bisa mengenali dimana letak goa itu."
Ki Rono Bayu hanya bisa angkat bahu dengan kesal sedang Kintani menghela nafas panjang. Perjalanan itu begitu jauh dan meletihkan. Lalu dia tidak dapat mem­bayangkan apa yang bakal terjadi.
"Apa pendapatmu Ageng?" tanya Ki Rono Bayu.
"Apa lagi. Suro Ampel pasti korban keganasan Kaman­daka."
"Apa dosa manusia itu?" tanya Kintani.
"Kamandaka tidak ingin dia memberi tahu letak goa Kranggan yang jadi sarangnya," jawab Ageng Sembodo.
Pantai Selatan luar biasa indahnya ketika sang, surya menyembul, mulai menerangi bumi dengan sinarnya yang merah kuning kemilau. Air laut berubah laksana hamparan permadani emas yang bergoyang- goyang.
Di tepi pasir Ageng Sembodo tegak bertolak pinggang. Matanya tak berkesip memandang ke arah gundukan batu yang menyembul dipermukaan air laUt yang kini men­dangkal dalam keadaan pasang surut. Sore kemarin gundukan batu itu tidak kelihatan karena pasang naik menutupinya. Dia berpaling pada Ki Rono Bayu dan Kintani, lalu berkata.
"Lihat, itu satu-satunya gundukan batu yang menyembul di permukaan laut. Pasti disitu letak goa Kranggan!"
KI Rono Bayu tertawa mendengar ucapan Ageng Sem­bodo itu. "Gundukan batu itu tidak lebih dari gundukan batu biasa. Mana mungkin ada goa di situ!"
"Kita tunggu saja sampai beberapa saat lagi. Akan kita lihat kalau air laut sudah sampai ke dasar batu," kata Ageng Sembodo yang merasa dicemoohkan.
Ketiga orang itu menunggu. Makin tinggi matahari naik, makin dalam air laut turun. Akhirnya sebuah lobang kelihatan dibawah gundukan batu.
Lobang ini setinggi orang membungkuk dan lebarnya hanya cukup untuk sesosok tubuh manusia.
"Lihat! Itu pasti goanya!" kata Ageng Sembodo.
Setengah berlari dia menghampirl lobang itu dan mengintai ke dalam. Bagian dalam lobang diselimuti kegelapan. Cahaya matahari hanya sedikit sekali mampu menerangi dari arah yang berlawanan dengan mulut lobang. Bagian dalam lobang tampak merupakan suatu penurunan. Air laut di dalamnya tertahan oleh sanding batu yang menutupi setengah dari lobang.
Ki Rono Bayu membungkuk dan mengintai ke dalam. Dia merasakan sesuatu menyapu wajah dan tubuhnya.
"Ada angin berhembus dari dalam lobang!" kata orang tua ini. "Pertanda di dalam sana ada ruangan yang ber­hubungan dengan udara luar. Tapi jelas bukan udara laut…"
"Bagaimana Ki Rono mengetahui udara di sana bukan udara laut?" tanya Ageng Sembodo pula.
"Udara laut saat ini masih dingin dan mengandung garam. Sedang udara yang kucium terasa hangat dan ber­bau embun…"
"Berarti lobang ini berhubungan dengan darattan!" kata Ageng Sembodo.
"Kau benar. Tapi dimana dan bagaimana berhubungan­nya perlu kita selidiki." Ki Rono Bayu berpaling pada Kinanti.
"Kinanti, kau tunggu di tempat ini. Jangan ke mana­mana. Aku dan Ageng Sembodo akan memasuki goa dan menyelidiki."
Kinanti mengangguk. "Hati-hatilah dan jangan terlalu lama di dalam sana. Saya merasa tidak tenang ditinggal sendirian."
Sebenarnya Ageng Sembodo juga tidak senang dengan tindakan Ki Rono Bayu yang mengatur agar mereka berdua masuk sedang Kinanti ditinggal sendirian. Dengan meng­gerendeng dalam hati Ageng Sembodo masuk juga ke dalam lobang membungkuk-bungkuk, diikuti oleh Ki Rono Bayu di sebelah belakang. Hanya beberapa saat setelah kedua orang itu memasuki lobang, di balik gundukan batu sebelah kanan tanpa diketahui Kintani bergerak sesosok tubuh tanpa suara.
Begitu hanya tinggal tiga langkah dari Kintani orang ini melompat dan menyergap si gadis. Dalam kejutnya dara murid Partai Semeru Raya itu hendak berteriak tetapi mulutnya disekap hingga dia tidak bisa keluarkan suara sedikitpun. Bahkan nafasnya tertahan membuat dadanya sesak turun naik.
Untungnya Kintani tidak hilang akal. Kedua siku tangannya dihantamkan ke belakang.
Bukkkk!
Bukkkk!
Dua siku mendarat dengan keras di tubuh orang yang menyergapnya. Namun Kintani merasa seperti meng­hantam kapas! Pukulan-pukulannya itu sama sekali tidak membuat orang yang menyergapnya bergeming sedikitpun. Bahkan sambil menyeringai orang itu berbisik.
"Kintani, aku memang sudah menduga kau bakal datang mencariku. Aku memang sudah lama merindukan­mu. Mulai detik ini kau akan ikut kemana aku pergi. Kita tidak akan berpisah selama-lamanya…"
Dua mata Kintani membeliak besar. Dia mengenali suara itu. Dalam dirinya ada rasa terkejut dan takut. Namun diam-diam ada juga rasa bahagia.
"Jika kau berjanji tidak menjerit, akan kulepaskan sekapan di mulut dan hidungmu…" Orang yang menyergap­nya kembali berkata.
Si gadis angguk-anggukkan kepalanya tanda dia meng­ikuti tidak akan berteriak. Perlahan-lahan si penyergap lepaskan sekapannya.
Begitu dirinya terasa lepas Kintani secepat kilat me­nyambar leher dan rambut orang di belakangnya. Sosok tubuh itu kemudian ditariknya dan dibantingkannya ke arah batu!
Tubuh yang dibanting lewat punggung itu memang jatuh di batu. Namun tidak tergeletak cidera malah sambil ter­tawa-tawa orang itu duduk bersila di atas batu itu. Kintani membalikkan tubuh siap hendak menghantam. Kini dengan pukulan sakti mengandung tenaga dalam. Namun gerakannya tertahan ketika dia melihat wajah orang itu. Sepasang mata mereka saling beradu.
"Ya Tuhan! Benar dia rupanya!" kata Kintani dalam hati.

***

Kapak Maut Naga Geni 2127

BIBIR Kintani bergetar ketika menyebut, "Mas Kaman.
Jadi betul kau tinggal di sini." Pemuda di atas batu
kembali tertawa. Rambutnya yang gondrong me­lambai-lambai di tiup angin laut. Wajahnya klimis meski pakaian birunya lecak dan basah. Dia tidak mengenakan destar.
"Kintani, dari ucapanmu jelas kalian datang kemari untuk menyelidiki…"
"Jadi Mas Kaman telah melihat Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu?"
"Daerah seluas ribuan tombak ini adalah kekuasaanku. Tidak satupun yang lepas dari penglihatanku! Keduanya masuk ke liang neraka. Berarti tidak bakal dapat keluar lagi!" jawab orang di atas batu yang memang Kamandaka alias Tangan Halilintar adanya.
"Maksud Mas Kaman mereka akan menemui ajal?"
"Mereka datang mencari mati sendirii Mereka bakal mendapatkannya."
"Jangan Mas Kaman. Jangan dicelakai mereka…" kata Kintani memohon. Dia memperhatikan sepasang mata pemuda itu. Sepasang mata itu tidak seperti dulu lagi. Dulu ada cahaya lembut yang membuat Kintani merasa sejuk jika dipandang. Saat ini dia menyaksikan betapa kedua mata itu laksana menyambarkan api yang mengerikan.
"Kalian diutus oleh Ketua Partai bukan?" tanya Kamandaka.
"Benar sekali. Syukur kalau Mas Kaman sudah menge­tahuinya."
"Apa saja perintah yang kalian jalankan?"
"Ketua dan juga guru kita meminta agar Mas Kaman kembali ke puncak Semeru…"
Kamandaka menyeringai. Dia menengadah ke langit lalu tundukkan kepala dan meludah.
"Enak saja dia memerintah begitu. Mengapa dia tidak datang sendiri?"
"Mas Kaman jangan bicara begitu. Dia adalah Ketua dan guru kita!" ujar Kintani.
"Dulu memang aku pernah menganggap begitu. Meng­hormati dan mempercayainya sebagai guru dan Ketua Partai. Tapi setelah kuketahui siapa dirinya, aku ber­sumpah akan membunuhnya!"
"Mas Kaman, apa sesungguhnya yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kau kini punya jalan pikiran dan berucap seperti itu?"
"Tidak ada yang berubah dengan diriku…"
"Tapi kau melakukan pembunuhan. Kau menculik dan… dan… mem…"
"Memperkosa!" sambung Kamandaka tidak sabaran. "Katakan saja begitu! Itu sebabnya aku dicap sebagai murid murtad! Murtad! Kamandaka si murid murtad! Sungguh sedap didengar telinga! Ha.., ha… ha …!"
"Mas Kaman, apakah kau bersedia ikut bersama kami kembali ke puncak Semeru?" tanya Kintani.
"Mau saja, Kintani. Tapi…"
"Tapi apa Mas Kaman?"
"Tak ada yang bakal membawa aku ke sana…"
"Kami, kami yang akan membawamu ke sana menemui guru," kata Kintani pula.
Kamandaka alias Tangan Halilintar tersenyum. "Kalian tak akan pernah kembali ke Semeru. Itu sebabnya ku­katakan tak akan ada yang membawaku ke sana!"
"Jadi Mas Kaman hendak membunuh kami? Saya adik seperguruanmu di dalam Partai. Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu adalah Ketua-Ketua Cabang. Apa kau tega mem-bunuh kami?"
"Setan atau malaikatpun jika berseteru dan membenci­ku akan ku bunuh!" kata Kamandaka. Perlahan-lahan dia turun dari batu, melangkah di air laut yang dangkal meng­hampiri Kintani. Dulu-dulu jika didekati Kamandaka, Kintani selalu merasakan dadanya berguncang keras. Tapi guncangan itu justru dirasakannya sangat membahagia­kan. Kini didekati sambil dipandang tidak bersikap malah membuat si gadis merasa ngeri. Kuduknya terasa dingin.
"Mas Kaman …Banyak tokoh silat dari berbagai penjuru tengah mencari Mas Kaman. Mereka semua punya niat untuk menghabisi Mas Kaman. Kalau Mas bisa kembali ke Semeru dan minta ampun pada Ketua Gamar Senopati…"
"Minta ampun? Aku minta ampun pada tua bangka keparat itu? Justru dia yang harus minta ampun padaku!"
"Mas Kaman, mengapa kau sampai berkata begitu?"
Kamandaka memegang bahu Kintani. "Ikut aku ke dalam goa. Jangan berani menolak!" Kamandaka ulurkan tangannya. Kintani mundur ketakutan. Kamandaka kelihat­an jengkel. "Seharusnya begitu tadi aku melihatmu sangat layak aku segera membunuhmu! Tapi aku sadar. Ada sesuatu dalam hatiku terhadapmu yang kurasakan sejak dulu sampai saat ini."
Paras Kintani tampak kemerahan. "Kalau Mas Kaman masih mempunyai perasaan itu, Mas Kaman harus mau meluluskan permintaan saya…"
"Permintaan apa?" tanya Kamandaka.
Dengan suara perlahan-lahan Kintani berkata. "Kembali ke puncak Semeru. Jalani hidup yang lurus dan benar!"
Kamandaka tertawa. "Kau rupanya sudah jadi seorang Pendeta atau seorang Ustad atau seorang Resi. Huh!" Dipegangnya lengan Kintani erat-erai lalu ditariknya ke mulut lobang. "Ikut aku!"
"Tidak! Jangan…" pekik Kintani. Keduanya saling tarik menarik. Tapi Kintani kalah kuat. Selangkah demi selang­kah dia terseret ke arah lobang di gundukan batu. Di depan lobang Kamandaka hentikan tarikannya. Pandangan kedua matanya sesaat tampak mesra. Kintani jadi luluh. Ketika pemuda itu melingkarkan kedua tangannya di punggung, memeluknya, si gadis tidak kuasa menolak. Dia memang sudah lama menyukal Kamandaka. Tiada disadarinya dia sengaja merebahkan kepalanya di dada Kamandaka.
"Kau mencintai diriku Kintani. Aku tahu…" bisik Kaman­daka seraya membelai rambut gadis itu. "Kau akan tinggal di sini. Kita hidup sebagai suami istri. Kau dan aku akan bahagia. Ha …ha…ha…"
"Dia gila berkata begitu…" kata Kintani dalam hati lalu menjauhkan kepalanya dari dada si pemuda dan melepas­kan pelukan Kamandaka. "Jika Mas. Kaman mau kembali ke puncak Semeru, jika Ketua Partai merestui, baru saya bersedia menjadi istri Mas Kaman…"
"Kurang ajar! Tidak ada yang bisa mengatur diriku! Juga tidak kau!" teriak Kamandaka. Tangan kanannya diangkat ke atas. Kintani melihat bagaimana tangan itu sampai ke lengan menjadi sangat hitam. Ketika tangan itu dipukulkan ke batu, tak ampun lagi setengah dari gundukan batu besar di laut dangkal itu menjadi hancur berantakan. Akibatnya lobang yang di batu menjadi tambah besar.
"Pukulan Halilintar…" membatin Kintani dengan wajah pucat. Selagi dia terdiam memandangi Kamandaka, pemuda ini cepat menyambar pinggangnya. Si gadis di­panggulnya di bahu kiri lalu dengan membungkuk-bungkuk dia memasuki lobang di batu itu. Kintani ingin meronta, ingin melepaskan diri. Namun di dalam rasa takutnya ada pula bayangan rasa bahagia. Bahagia karena setelah sekian lama baru kini dia dapat berjumpa lagi dengan pemuda yang selama ini memang dicintainya dan juga di­ketahuinya memiliki sifat aneh kalau tidak mau dikatakan seperti orang kurang waras. Ada bayangan maut pada senyumnya. Ada kematian pada sinar matanya. Dengan perasaan cinta kasih yang mereka miliki dapatkah dia me­rendam semua keburukan dan kejahatan pemuda itu. Dapatkah dia menguasai Kamandaka?
"Turunkan saya. Saya bisa berjalan sendiri…" kata Kintani.
"Aku masih kuat memanggulmu sampai ke ujung bumipun Kintani! Tapi jika kau mau jalan sendirl dan ber­janji tidak akan berbuat macammacam itu aku juga sukai"
Lalu Kamandaka turunkan gadis itu dari bahunya. Begitu menginjak tanah Kintani jadi heran. Ternyata mereka kini bukan lagi berada dalam sebuah goa atau terowongan, melainkan di alam terbuka. Di sebuah tempat ketinggian yang ditumbuhi banyak pohon kelapa pendek serta penuh batu-batu besar berwarna coklat kemerahan.
"Di mana kita ini Mas Kaman?" tanya Kintani.
"Inilah daerah kediamanku. Sebentar lagi kau akan me­lihat rumah kita. Kau dan aku akan tinggal di sana sampai hari kiamat! Ha… ha…ha…!"
Kini rasa takut dalam diri Kintani melebihi rasa sukanya terhadap pemuda itu. Dia coba mengingat-ingat. Waktu Kamandaka memanggulnya, pemuda itu melangkah biasa tapi cepatnya sama seperti orang berlari. Dia dibawa me­masuki lobang yang bagian dalamnya berbentuk goa atau terowongan. Mula-mula terowongan ini menurun, kemudian mendaki dan berputar. Putaran ini membalik ke belakang. Berarti kalau sebelumnya mereka bergerak ke arah laut, kini dia dibawa membalik ke arah darat setelah melewat sebuah lobang yang ditutupi dengan semak belukar. Sayup-sayup Kintani mendengar suara deburan ombak pertanda bahwa tempat itu masih berada dekat kawasan laut.
Kamandaka mendekat dan memegang tangan Kintani. "Ikuti aku," kata pemuda ini. "Sebelum kita menuju ke rumah, aku harus melakukan sesuatu dulu. Kau datang bersama dua binyawak bukan? Nah, kedua binyawak itu harus kupersiangi lebih dulu!"
Kintani tahu sekali. Yang disebut Kamandaka dengan nama binyawak itu adalah Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu. Membayangkan apa yang dimaksud dengan ucapan mempersiangi yang dikatakan Kamandaka tadi, semakin dingin tengkuk Kintani. Lengannya di tarik kuat-kuat. Dia dibawa melangkah cepat dan sesekali melompat ke atas batu-batu besar. Aneh, jika dia melakukannya sendiri mungkin belum tentu mampu. Tapi pegangan Kamandaka pada lengannya seperti menyalurkan suatu hawa sakti hingga tubuhnya terasa lebih enteng dan dengan mudah dia mengikuti gerakan pemuda itu.
"Nah, itu dia dua ekor binyawak yang aku katakan padamu!" Tiba-tiba Kamandaka berkata seraya menunjuk ke depan.
Kintani memandang ke arah yang ditunjuk. Di dekat sebuah batu besar dilihatnya Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu tengah berdiri sambil memandang berkeliling.
"Binyawak busuk! Kalian mencariku?! Kalian tahu kalau berani muncul di sini berarti sama saja mengantar nyawa?"
Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu terkejut. Mereka cepat berpaling. Suara orang berseru itu terdengar cukup jauh. Tetapi begitu suaranya sirap orangnya sudah berada di depan mereka. Dan bukan hanya sendirian! Tapi ber­sama Kintani!

***

Kapak Maut Naga Geni 2128

HANYA beberapa saat setelah Kamandaka alias Tangan Halilintar membawa Kintani memasuki goa Kranggan, dua sosok tubuh berkelebat di tepi pantai dari jurusan yang berlawanan.
Yang pertama adalah seorang kakek berpakaian serba hitam, bergelang bahar dan kedua tangan dan kakinya. Dia datang dari jurusan barat. Di tepi pasir dia berhenti sejenak. Matanya memperhatikan gundukan batu dengan lobang besar di bagian tengahnya yang terletak beberapa tombak di sebelah depan.
"Pasti ini tempatnyal Hemm…. Kamandaka manusia bejat murtadl Akhirnya kutemui juga sarangmu! Jangan harap kau bisa lolos dari tanganku!" Habis berkata begitu orang tua ini berkelebat. Dia melesat di atas air laksana terbang dan di lain saat dia sudah berada di atas gundukan batu. Tanpa ragu-ragu dia segera hendak memasuki lobang yang menjadi pintu goa. Namun ada sesuatu yang membentur sudut matanya datang dari arah timur laksana seekor burung Rajawali.
Orang tua ini cepat berpaling. Dia merasakan ada angin menyambar. Dengan sigap dia hendak memukul. Namun cepat tarik pulang serangannya ketika mengenali siapa adanya orang yang ada di hadapannya.
"Hampir tiga bulan lalu aku meaemuimu di tempat per­temuan para tokoh silat. Kini kau muncul di sini. Apa maksudmu datang ke tempat ini, Pendekar 212?!" tanya orang tua berpakaian dan berdestar serba hitam.
Yang ditanya garuk-garuk kepala.
"Mungkin kita punya maksud yang sama, Datuk Alam Rajo Di Langit," Jawab Wiro sambil menyeringai.
"Bagus kalau begitu. Ternyata kau memang benar ter­masuk manusia yang tidak banyak bicara lebih suka berbuat! Tapi aku ingatkan satu hal padamu pendekar muda!"
"Heh, apa yang hendak kau peringatkan pada saya Datuk?"
"Jika kita menemui Kamandaka, ingat baik-baik. Hanya aku yang berhak turun tangan! Kau jangan ikut campur!"
"Mengapa begitu?" tanya Wiro sambil kembali meng­garuk-garuk kepalanya.
"Dia telah membunuh sahabatku Ki Pamilin. Dia juga telah merusak kehormatan anak Ki Pamilin calon muridku!"
"Terserah saja padamu Datuk. Kalau kau yang ingin maju, biar aku jaga muntahannya saja!" jawab Pendekar 212 Wiro Sabeleng.
Datuk Alam Rajo Di Langit masuk ke dalam goa. Wiro mengikuti dari belakang. Pada saat bagian dalam goa yang berupa terowongan itu berputar membalik, Wiro hentikan langkahnya. Otaknya bekerja. "Jika goa ini berputar dan ber balik ke belakang, berarti siapa saja yang mengikutinya akan menuju kembali ke tepi pantal. Ke arah daratan. Lebih baik aku kembali dan menyelidiki bagian pantal yang ditutupi oleh bukit-, bukit batu…"
"Hai! Kau mau ke mana? Mengapa kembali?!" Datuk Alam Rajo Di Langit berseru ketika dilihatnya Wiro mem­balik langkah.
"Datuk jalanlah terusl Saya mau buang hajat kecil dulu!" jawab Wiro. Begitu orang tua itu meneruskan perjalanan­nya, cepat-cepat Pendekar 212 melangkah menuju mulut goa.
Kita kembali pada kejadian saat Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu memasuki goa Kranggan. Semakin jauh masuk ke dalam semakin tercium baunya hawa daratan. Goa yang tadinya gelap redup kini perlahan-lahan menjadi terang. Ada sinar di sebelah depan sana. Beberapa ratus langkah lagi berjalan akhirnya mereka sampai di hadapan semak belukar rapat yang dari celahcelahnya merambas cahaya matahari pagi.
Ki Rono Bayu singkapkan semak belukar dan pe­pohonan kecil di depannya. Begitu semak belukar tersibak terkejutlah orang tua ini. Ternyata di depan mereka terbentang satu kawasan bukit batu. Berarti dia dan Ageng Sembodo kini berada di daratan!
"Tipuan sialanl" maki Ki Rono Bayu. Dia segera keluar dari dalam goa diikuti Ageng Sembodo.
Kawasan daerah berbatu-batu itu merupakan suatu bukit besar dan tinggi. Dari keadaannya yang sunyi senyap Ki Rono Bayu bisa menduga bahwa daerah ini jarang di datangi orang luar. Udara terasa sejuk padahal masih dekat pantai.
"Sunyi-sunyi saja…." bisik Ageng Sembodo. Kesunyian ini menimbulkan rasa tegang di dalam dirinya.
Saat itu kedua orang itu berada di dekat batu besar. "Kita harus segera menyelidiki tempat ini. Aku merasa pasti ini kawasan yang jadi markas atau tempat bersembunyinya Kamandaka."
"Perasaan kita sama. Mari kita mulai menyelidik!" jawab Ageng Sembodo.
Namun baru saja mereka hendak bergerak mendadak ada suara membentak.
"Binyawak busuk! Kalian mencariku?! Kalian tahu kalau berani muncul di sini berarti sama saja mengantar nyawa?!"
Dua orang Ketua Cabang Partai Semeru Raya itu cepat berpaling. Keduanya langsung terkejut! Di hadapan mereka kini tegak Kamandaka. Dan dia tidak seorang diri. Tapi bersama Kintani yang dicekalnya tangan kirinya!
"Kamandaka murid murtad penuh dosal Akhirnya kami temui juga kau!" kata Ageng Sembodo setengah berteriak. Lalu dilihatnya bagaimana Kamandaka memegang tangan gadis yang dicintainya. Maka diapun kembali berteriak. "Lepaskan peganganmu pada Kintani. Kintani lekas kemari!"
Si gadis tampak bingung sebaliknya Kamandaka keluar­kan suara tertawa bergelak. "Ageng Sembodo!" kata Kamandaka langsung menyebut nama. Mengingat usia yang terpaut cukup jauh dan kedudukan Ageng Sembodo sebagai salah satu Ketua Cabang Partai Smeru Raya, seharusnya Kamandaka memanggil lelaki itu secara lebih hormat. Misalnya dengan panggilan Mas atau Kang Mas. Hal ini sudah cukup membuat Ageng Sembodo tambah mendidih amarahnya.
"Dasar manusia tidak berbudi tidak punya peradatan! Iblis! Lebih baik kau segera menyerahkan diri. Nyawamu masih bisa diperpanjang sampai kau menghadapi Ketua Partai!"
"Budi dan peradatan hanya dipakai oleh orang-orang yang suka pamrih dan gila hormat! Sama dengan dirimu! Baru jadi Ketua Cabang mulut dan sikapmu seperti semua orang ini budakmu! Aku sudah bersumpah untuk menyiangi tubuh kalianl Kalian akan kukembalikan ke puncak Semeru tanpa kulit dan daging!"
Kamandaka angkat tangan kanannya sementara tangan kiri masih memegangi Kintani. Matanya me­mandang membara ke arah Ageng Sembodo.
"Tunggu dulu!" Ki Rono Bayu cepat membuka mulut. "Kamandaka, kami datang membawa pesan dari Ketua Partai…"
"Aku tidak perduli kalian membawa pesan apa dan dari siapa. Pokoknya siapa yang berani menginjakkan kaki di tempat ini harus mati!"
"Pesan yang kami bawa itu," kata Ki Rono Bayu me­neruskan tanpa perdulikan bentakan Kamandaka, "ialah membawamu kembali ke puncak Semeru guna menghadap Ketua. Aku percaya, apapun dosa yang telah kau buat di masa lalu pasti Ketua mau mempertimbangkan hukuman­nya secara adil!"
Kamandaka menyeringai. "Jadi kalian berdua tidak lebih dari pada dua kacung pembawa pesani Manusia-manusla tolol! Mengapa tidak si Gamar Senopatri itu sendiri yang datang menemuiku kemari!"
"Jangan menghina Ketua dan jangan keliwat mendesak, Kamandaka!" memperingatkan Ki Rono Bayu yang tampak­nya mulai kesal.
"Kalian berdua begitu menghormati Ketua Partai Semeru itu! Kalian tidak tahu siapa dia sebenarnya! Manusia-manusia tolol yang senang ditipu!"
"Apa maksudmu dengan ucapan itu?!" Tanya Ageng Sembodo membentak.
"Kau tanyakan saja nanti pada jin laut tempat mayatmu akan kulemparkan!" jawab Kamandaka. Dia menarik Kinanti ke belakang lalu melompat ke hadapan kedua orang Ketua Cabang Partai itu. "Saat kalian untuk mati sudah dating!" katanya.
Ageng Sembodo tidak takut dan menganggap enteng Kamandaka. Dia maju menyongsong gerakan lawan. Tapi KI Rono Bayu yang sudah berpengalaman dan tahu betul kehebatan ilmu andalan Kamandaka cepat berkala. "Sudahlah, mengapa kita harus ribut-ribut. Kamandaka bagaimanapun kami berdua tidak mau bertindak sendiri sendiri. Kami tetap menghormatimu sebagal anak murid Partai. Apalagi murid langsung dari Ketua. Banyak manfaat­nya jika kau mau ikut sama-sama kami ke puncak Semeru."
"Kalau aku datang ke puncak Semeru, satu-satunya yang aku lakukan adalah membunuh manusia keparat ber­nama Gamar Senopatri alias Dewa Tapak Sakti itu!" Kamandaka mundur satu langkah. Kedua tangannya diangkat ke atas dan perlahan-lahan disilang. Tapi dia belum merapal aji kesaktian yang dimilikinya. Dia ingin menjajal kehebatan ilmu silat tangan kosong kedua Ketua Cabang ini.
Didahului satu bentakan nyaring, Kamandaka me­lompat. Kedua tangannya yang tadi disilang dibentangkan ke samping. Menggebuk ke arah Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu Kedua serangan ini di arahkan ke masing­masing kepala lawan.
Ageng Sembodo yang sejak tadi sudah tidak dapat me­nahan amarahnya balas menghantam dengan tangan kanannya ke arah Kamandaka sedang Ki Rono Bayu lebih bertindak hati-hati. Dia tidak mau melakukan bentrokan melainkan menghindar ke samping dan setelah membuat kuda-kuda kukuh dia baru membalas dengan satu sodokan ke arah ulu hati Kamandaka.
Tiba-tiba Kamandaka hentikan seluruh gerakannya. Tubuhnya laksana seekor burung besar yang mengem­bangkan sayapnya.
Bukkki
Bukkk!
Jotosan Ki Rono Bayu menghantam ulu hati Kamandaka dengan keras. Begitu juga pukulan Ageng Sembodo meng­hajar lengan kiri Kaman- ‘ daka. Tapi pemuda ini sedikitpun tidak bergeming. Malah sambil menyeringai dia memper­hatikan bagaimana kedua penyerangnya mengerenyit kesakitan.
"Pukul lagi! Cari sasaran yang paling empuk!" ejek Kamandaka.
Maka kedua lawannyapun tanpa ampun melancarkan gebukan bertubi-tubi ke kepala dan tubuhnya. Kamandaka masih menyeringai. Tiba-tiba dia keluarkan suara bentakan dahsyat.
Sepasang kakinya membuat gerakan menggeser. Lutut ditekuk. Hantamannya yang pertama mendarat di dada Ki Rono Bayu. Ketua Cabang Partai yang berusia lanjut ini terpekik. Tubuhnya tersandar ke dinding batu. Dari mulut­nya meleleh darah kental. Tulung dadanya remuk melesak. Dia mengalami kesulitan bernafas. Tapi semua ini seperti tidak dirasakannya.
"Manusia iblisl Murid murtad keparat!" kutuk Ki Rono Bayu. Dia berpaling pada Ageng Sembodo dan anggukkan kepalanya seraya berbisik. "Pukulan Api Biru…"
Ageng Sembodo maklum apa yang dimaksud si orang tua. Cepat dia kempiskan perut dan menghimpun seluruh tenaga dalam ke tangan kanan. Kedua Ketua Cabang ini sambil menghimpun tenaga dalam hati merapal aji kesaktian pukulan Api Biru. Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu saling memberi isyarat dengan mata masingmasing. Lalu didahului suara bentakan garang kedua Ketua Cabang Partai Semeru Raya ini pukulkan tangan kanan masing­masing. Dua larik sinar biru menderu laksana lempengan besi panjang tipis. Siap menggunting dan memutuskan leher Kamandakal
"Pukulan Api Biru!" seru Kamandaka yang mengenali pukulan sakti itu. Kedua tangannya segera diangkat. Dua lengan bersilang di depan mukanya dan dua lengan ini segera berubah jadi hitam. Ketika kedua lengan bersilang ini dilepaskan dua larik cahaya hitam berkiblat disertai suara meledak seperti suara halilintar menyambar. Hawa panas menghampar. Dua larik sinar biru pukulan Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu tenggelam dalam cahaya hitam Pukulan Halilintar yang dilepaskan Kamandaka. Lalu ada dua suara letusan susul menyusul. Pekik Ki Rono Bayu terdengar duluan. Tubuhnya terlempar jauh. Sekujur badannya mulai dari kepala sampai ke kaki tampak memutih. Lalu anehnya perlahan-lahan berubah jadi hitam gosong!
Kinanti tidak berani menyaksikan apa yang terjadi dengan orang tua Kedua Cabang Partai wilayah Timur itu. Dari mulutnya keluar jeritan ketika sinar hitam yang satu lagi menghantam ke arah Ageng Sembodo.
"Mas Kaman! Jangan bunuh dia!" pekik Kinanti.
Teriakan Kinanti ini membuat kamandaka menarik pulang tangannya. Sinar hitam Pukulan Halilintar meredup dan akhirnya lenyap sama sekali.
"Kau inginkan binyawak ini hidup, baik! Satu nyawa lolos tak jadi apa. Dia boleh pergi agar bisa memberi tahu pada Gamar Senopatri apa yang terjadi di sini. Aku…hek…!" Ucapan Kamandaka terhenti. Satu pukulan menghantam dadanya! Ketika dia bicara tadi kesempatan ini diperguna­kan oleh Ageng Sembodo untuk melancarkan pukulan. Pukulannya kulannya tepat menghantam dada Kaman­daka. Pemuda ini tidak bergerak dari tempatnya walau memang ada rasa sakit akibat pukulan itu.
Penasaran Ageng Sembodo lancarkan pukulan lagi secara bertubi- tubi.
"Cukup!" seru Kamandaka tiba-tiba. Tangan kanannya dibabatkan dari samping kiri ke kanan.
Traakk!
Traakkl
Ageng Sembodo menjerit setinggi langit. Kedua lengannya terkulai patah. Tubuhnya sampai terbungkuk­bungkuk menahan sakit. Kamandaka tendang pantat orang ini. "Kalau kau tidak lekas minggat dari sini, jangan kira aku tidak akan membunuhmu. Sekalipun kekasihmu ini meminta aku tidak membunuhmu!"
Paras Kintani tampak menjadi merah oleh kata-kata terakhir Kamandaka itu.
"Kamandaka!" Ageng Sembodo berucap. "Hari ini aku mengaku kalah! Tapi ingat! Lain waktu aku akan datang lagi untuk mengambil kepalamu!"
"Kacung Ketua Partal Semeru Raya!" kata Kamandaka seraya mencekal leher pakaian Ageng Sembodo. "Katakan pada Ketuamu, jika dia punya nyali aku tunggu dirinya di sini. Jika malam bulan purnama di muka dia tidak muncul sudah tiba saatnya aku akan mencarinya untuk minta nyawa anjingnya! Nah sekarang pergi kau dari sinil"
Kamandaka tarik kuat-kuat leher pakaian lelaki itu lalu melemparkannya ke dinding batu. Karena kedua lengannya patah dia sama sekali tidak mampu untuk menahan dirinya terbanting ke batu. Ketika tubuhnya terbanting, mukanya ikut menghantam batu hingga tulang hidungnya patah dan bibirnya pecah!
"Kintani, ikuti aku. Tinggalkan tempat ini."
Kintani melirik ke arah Kamandaka. Pemuda ini cepat berkata. "Kalau kau bergerak satu langkah saja mengikuti­nya, akan kubunuh!" ancam Kamandaka. Mau tak mau Kintani terpaksa hanya bisa tegak tak bergerak.
"Manusia keparat! Aku bersumpah akan mem­bunuhmu!" kutuk Ageng Sembodo. Dia memandang sesaat pada mayat Ki Rono Bayu. Ingin dia membawa pergi mayat yang gosong hitam itu. Namun dalam keadaan kedua tangannya lumpuh cidera begitu rupa di mana berjalan sajapun dia mengalami kesulitan dan rasa sakit, mana mungkin dia mendukung atau memanggulnya. Tersaruk­saruk dia tinggalkan tempat itu.

***

Kapak Maut Naga Geni 2129

KAMANDAKA membawa Kintani ke puncak bukit batu paling tinggi. Sampai di atas Kintani melihat sebuah bangunan yang bagian depannya berbentuk sebuah goa besar namun atapnya ditata seperti atap bangunan kayu. Keadaan di sebelah dalam dan bagian luarnya serba bersih. Ada bau wewangian keluar dari arah goa batu itu.
"Ini rumah kita!" kata Kamandaka seraya tangannya kembali memegang lengan si gadis. Kintani diam saja. "Kau akan tinggal di sini bersamaku, Kintani."
Baru saja Kamandaka berkata begitu dari dalam goa keluar dua orang perempuan. Yang satu masih sangat muda. Menurut taksiran Kintani usianya sekitar delapan belas tahun. Satunya lagi lebih tua namun jelas belum mencapai dua puluh lima tahun. Keduanya memiliki wajah cantik. Yang membuat darah Kintani tersirap ialah cara kedua perempuan itu berpakaian. Apa yang mereka kena­kan tidak bisa disebut pakaian karena bagian-bagian tubuh mereka hampir tidak terlindung. Bahkan bagian dada dan bawah perut tersingkap menusuk pemandangan.
"Mas Kamandaka! Kami kira kau akan pergi lama. Ternyata sudah pulang!" Perempuan yang muda berucap. Lalu keduanya hentikan langkah ketika melihat Kaman­daka ternyata tidak sendiri. Bayangan rasa cemburu jelas terlihat diwajah kedua perempuan itu.
"Siapa mereka?" tanya Kintani berbisik.
"Kekasih-kekasihku," sahut Kamandaka. "Tapi mulai sekarang tidak lagi." Lalu pada kedua perempuan itu Kamandaka berkada. "Saat ini juga kalian boleh pergi dari
sini. Jangan coba kembali!"
Dua perempuan itu tampak terkejut besar.
"Mas…? Mengapa tiba-tiba kau mengambil keputusan begitu?" tanya perempuan yang tua.
"Saya tahu!" menyahuti yang muda sambil melirik pada Kintani. "Mas Kamandaka telah mendapat seorang kekasih baru yang lebih cantik dari kami!"
"Kalau sudah tahu mengapa tidak segera minggat?!" ujar Kamandaka melotot.
"Kami… kami bersedia membagi tempat bersama dia!" berkata perempuan yang muda.
"Di sini tidak ada tempat lagi bagi kalian berdua. Lekas pergi!"
"Mas Kaman, sebaiknya biar saya yang pergi!" kata Kintani pula. Lalu cepat dia membalikkan diri. Tapi Kaman­daka lebih cepat lagi menjambak rambut gadis itu dan mendorongnya ke dalam rumah batu. Pemuda ini kemu­dian berpaling pada dua orang kekasihnya.
"Kalau kalian tidak mau pergi jangan menyesal kalau wajah kalian akan kurusak dan kuubah jadi wajah setan!"
Mendengar hal ini keduanya jadi ketakutan. Setelah berpandangan sebentar mereka cepat-cepat tinggalkan tempat itu di iringi gelak tawa Kamandaka. Puas tertawa Kamandaka kembali mendekati Kintani. "Sekarang saatnya kita bersenang-senang. Mari masuk ke dalam."
"Bersenang-senang bagaimana maksud Mas Kaman?"
"Jangan pura-pura tidak tahu Kintani. Kau tahu aku suka padamu dan kau mencintaiku! Dua orang yang ber­cinta apapun bisa dilakukan! Bukankah kita sekarang me­rupakan sepasang suami istri?"
Paras Kintani jadi berubah pusat. "Saya.. saya tidak keberatan menjadi istri Mas Kaman. Asalkan kita meng­hadap, guru dulu. hanya dia yang bisa mewakilkan kedua orang tua kita yang sudah tiada untuk menikahkan kita."
"Kawin pakai nikah segala kuno!" kata Kamandaka. Ditariknya tangan Kintani. Gadis itu setengah diseret masuk ke bagian dalam bangunan batu. Ternyata bangun­an itu cukup luas. Di salah satu bagian terdapat sebuah tempat tidur dari batu yang dilapisi tikar jerami lembut. Kamandaka mendorong Kintani ke atas tempat tidur itu.
"Saya tidak mau Mas Kaman. Jangan lakukan itu pada saya!" kata Kintani pula.
"Jika bukan mencariku mengapa kau mau datang jauh­jauh kemari?"
"Mas Kaman tadi sudah mendengar ucapan Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu. Kami diperintah Ketua…"
"Lupakan perintah itu!"
"Saya mohon kita segera pergi menemui Ketua agar semua persoalan selesai. Kalau tidak seumur-umur Mas Kaman akan jadi orang buruan Partai."
Kamandakan tertawa gelak-gelak mendengar hal itu. "Aku tidak mau bicara lagi tentang Ketua ataupun orang-orang Partai. Mereka semua adalah calon-calon korbanku! Mereka akan segera mampus!" Lalu Kamandaka berusaha memeluk dan menciumi gadis itu. Kintani cepat menjauh seraya berkata. "Mas Kaman, jika kau betul sayang padaku jangan perlakukan aku seperti ini…."
"Hmmm…" kedua mata Kamandaka berkilat-kilat me­mandang setiap bagian tubuh Kintani. "Jangan buat aku kehilangan kesabaran Kintani." Pemuda itu kembali men­dekat.
"Kalau Mas Kaman meneruskan perbuatan keji ini, saya terpaksa melawan. Lebih baik saya mati berkelahi di tangan Mas Kaman dari pada dinodai!"
"Begitu? Aku mau lihat sampai di mana kehebatan murid Gamar Senopati yang satu ini!"
Habis berkata begitu Kamandaka lalu tanggalkan pakaian yang melekat ditubuhnya. Kintani sampai terpekik menyaksikan hal itu dan mencoba lari keluar. Tapi Kamandaka berhasil mengejar dan mendekapnya. Mau tak mau Kintani segera menghantam dengan tangan dan kaki.
Dipukul ditendangi Kamandaka justru diam saja. Bahkan tegak tolak pinggang. Dalam keadaan lawan ber­telanjang bulat seperti itu seperti tentu saja sulit bagi Kintani untuk menyerang karena dia sudah tidak kuasa menghindari pandangan yang menusuk mata itu. Akhirnya dia kembali mencoba tari. Namun lagi-lagi sial. Kali ini malah dia harus menerima tamparan dua kali berturut­turut yang membuatnya terbanting ke lantai batu. Sebelum dia sempat bangun Kamandaka telah menyergapnya. Tangannya kiri kanan merobek pakaian yang dikenakan Kintani. Gadis ini menjerit marah dan menyerang dengan kalap. Tetapi sia-sia belaka. Tingkat kepandaiannya jauh di bawah Kamandaka. Ketika tenaganya terkuras habis di­tambah dengan beberapa pukulan yang dihantamkan Kamandaka ke tubuhnya, dia hanya bisa tegak tersandar ke dinding. Dia tidak punya daya apa-apa lagi selain menangis ketika Kamandaka mendukung dan membawa­nya ke atas tempat tidur batu.
Kamandaka menyeringai. Sekujur tubuhnya panas ter­bakar nafsu. Sama sekali tidak ada rasa welas asih dalam dirinya padahal gadis itu adalah prang yang pernah di­kasihinya dan balas menyayanginya. Sesaat lagi Kaman­daka akan melakukan perbuatan terkutuknya tiba-tiba satu bayangan berkelebat masuk dan satu bentakan meng­guntur di dalam ruangan batu itu!
"Laknat terkutuk! Memang kau ternyata manusia keji biadab! Kau membunuh sahabatku! Kau memperkosa calon muridku! Sekarang aden datang untuk mengirimmu ke liang narako!"
Kamandaka melompat dari atas tubuh Kintani. Di hadapannya tegak seorang tua berpakaian dan berdestar hitam. Sepasang matanya laksana kilatan api. Kamandaka tidak kenal orang ini. Dari pakaian serta bentuk destarnya jelas dia bukan orang Jawa. Dari logat bicaranya dia jelas orang seberang.
"Ucapanmu seperti malaikat! Tapi kulihat tampangmu seperti setan!" kata Kamandaka mengejek.
Orang tua di depannya tertawa pendek. "Orang mau mampus memang suka bicara ngacok!" katanya. "Coba den lihat dulu jantungmu!" Si orang tua bergerak sedikit. Tapi tahu-tahu tangan kanannya sudah melesat ke arah dada kiri Kamandaka. Jari-jari tangan membuat gerakan me­ngeruk. Si pemuda terkejut dan cepat berkelit. Serangan lawan menghantam dinding batu. Terdengar suara batu lebur. Berpaling ke kiri Kamandaka melihat bagalmana serangan berupa cengkeraman orang tua berpakaian hitam itu meremukkan dinding batu hingga di dinding itu kini tampak lobang sedalam seperempat jengkal!
Kamandaka sadar kalau terlambat saja tadi dia menghindar jantungnya pasti benar-benar bisa dicongkel lawan berdestar hitam bergelang bahar itu! Meskipun demikian dia tidak takut. Sambil menyeringai Kamandaka maju mendekati. Kedua lengannya disilangkan di depan dada tapi dia masih belum mau merapal aji kesaktian Halilintar. Didahului oleh suara seperti harimau meng­gereng Kamandaka melompati lawannya. Kedua tangannya dipukulkan serentak. Si orang tua yang adalah Datuk Alam Rajo Di Langit terkejut ketika merasakan dua larik angin yang menyambar bukan olah-olah dahsyatnya. Bukan saja pakaian hitamnya tapi sekujur tubuhnyapun ikut bergetar. Kedua lututnya menjadi goyah. Cepat tokoh silat dari An­dalas ini rubah kuda-kuda kedua kakinya. Tubuhnya merunduk Begitu dua angin pukulan lewat, kaki kanannya melesat ke atas setinggi dua tombak, menghantam rahang kanan Kamandaka dengan tepat.
Selagi Kamandaka terpental ke dinding lalu melosoh ke lantai batu, kesempatan ini dipergunakan oleh Kintani untuk melarikan diri. Sambil melompat dari atas tempat tidur batu dia masih sempat menyambar pakaiannya. Di luar sadar dia lari keluar bangunan batu dalam keadaan masih bertelanjang bulat!
Meskipun tendangan Datuk Alam Rajo Di Langit sanggup membuatnya mental dan jatuh ke pantai namun Kamandaka sama sekali tidak cidera. Bahkan rasa sakitpun hampir tidak terasa karena terlindung oleh kesaktian yang dimilikinya.
Ketika dia tegak kembali di hadapan sang Datuk, sepasang matanya tampak beringas ganas.
"Anjing tua. Bersiaplah untuk mampus!"
"Kanciang! Binatang! Waang yang akan mampus lebih dulu!" teriak Datuk Alam Rajo Di Langit. Lalu tangan kanan dipukulkan ke depan. Ada angin kelabu menyambar, menebar bau aneh. Jika lawan sempat menghisap bau aneh itu tubuhnya serta merta akan jadi lemas dan jatuh tak berdaya. Kamandaka sudah maklum bahaya pukulan lawan itu. Dengan cepat dia menyilangkan kedua lengan­nya dan merapal aji kesaktian Pukulan Halilintar hingga se­pasang lengan itu menjadi hitam. Begitu lengan yang bersilang dibuka serta dipukulkan ke depan, terdengar suara menggelegar seperti halilintar menyambar. Ruangan batu itu seperti hendak runtuh! Hawa panas menghampar dan dua larik sinar hitam menderu ganas, menyambung dan meneggelamkan sinar kelabu pukulan Datuk Alam Rajo Di Langit. Orang tua ini terdengar menggerung keras. Tubuhnya terpelanting ke luar bangunan, jatuh melingkar di atas gundukan batu berlumut. Sesaat tubuh itu tampak memutih lalu berubah hitam mengepulkan asap mengeri­kan.
Kamandaka bergegas keluar dari banguanan batu. Kintani tidak kelihatan. Pemuda ini menyumpah dalam hati. Dia melangkah mendekat mayat Datuk Alam lalu di­tendangnya hingga tubuh hitarn gosong itu terpental dan bergulingan ke bawah bukit batu.
Kamandaka melompat dari satu batu ke batu lainnya. Di satu tempat yang ke tinggian dia melihat dua sosok tubuh dibalik pepohonan dan berbatu. Secepat kilat dia bergerak ke arah sana.

***

Kapak Maut Naga Geni 21210

KARENA tidak mengikuti terowongan, Pendekar 212 Wiro Sableng sampai lebih dulu dari Datuk Alam Rajo Di Langit. Namun sebelum naik ke puncak bukit di mana tempat kediaman Kamandaka alias Pendekar Tangan Halilintar terletak, di salah satu lereng murid Eyang Sinto Gendeng itu melihat dua orang perempuan berlari dari atas’ bukit. Walau heran melihat ada dua orang perempuan turun dari atas bukit, sebenar­nya Wiro tidak; mau perduli. Namun dia jadi tertarik sewaktu menyaksikan bagaimana pakaian yang dikenakan kedua perempuan itu sama sekali tidak dapat dikatakan pakaian. Karena hampir tidak satu bagian tubuh merekapun yang tertutup utuh oleh pakalan itu!
Wiro cepat memintas dan menghadang dekat sebuah batu besar.
"Hai!" serunya. "Kalian ini bidadari yang turun dari langit atau setan-setan penunggu bukit batu ini yang tengah mencari tempat untuk buang hajat!"
Dua orang gadis terkejut. Sambil berpegangan mereka hentikan lari. Melihat yang menegur ternyata seorang pemuda berambut gondrong yang tampangnya cakap­cakap konyol, rasa kejut mereka jadi sirna. Yang tua ber­bisik pada kawannya.
"Boleh juga yang satu ini…"
"Aku lebih suka dia dari pada Kamandaka keparat itu!" bisik yang muda.
"Kenapa bicara sendiri dan tidak menjawab?" tanya Wiro.
Sambil menahan tawa yang tua berkata. "Mulutmu enak saja kalau bicaral Kami tidak tahu kalau di sini ada bidadari. Juga tidak tahu kalau bukit batu ini ada setan penunggunya! Tapi yang jelas di atas sana ada iblis doyan perempuan. Kalau sudah bosan dan dapat yang baru yang lama ditendangnya!"
"Tadi kudengar kalian berbisik menyebut nama sese-orang. Kamandaka… Benar?!"
Dua perempuan itu mengangguk.
"Dia ada di atas sana? Kediamannya di atas sana?!"
Dua yang ditanya lagi-lagi mengangguk.
"Kalau begitu aku harus segera menuju ke sana," kata Wiro pula.
"Tunggu dulu!" Perempuan yang tua berkata. "Jangan berani-beranian naik ke atas puncak bukit. Kami saja hendak dilemparkannya. Apalagi kau! Manusia penghuni puncak bukit itu aneh dan luar biasa jahatnya. Dia bisa bercinta suatu ketika tapi di lain saat dia bisa membunuh seorang gadis cantik tanpa berkesip. Kami hampir saja jadi korbannya!"
Yang muda cepat menyambung. "Dari pada pergi ke atas sana, lebih baik turun bersama kami. Aku suka saja kau mau bawa ke mana!"
"Aku juga!" kata perempuan yang satu lagi.
Pendekar 212 jadi garuk-garuk kepala. Dia harus meng­akui kedua perempuan itu berparas cantik dan bagian­bagian tubuhnya yang tersingkap sangat menggiurkan.
"Kalau kuikuti rayuan mereka, urusanku bisa kapiran!" membatin murid, Sinto Gendeng. "Begini saja," katanya. "Tunggu aku di kaki bukit! Kalau orang di atas sana tidak membunuhku, aku pasti akan menemui kalian!"
"Siapa sudi menunggu datangnya mayat!" jawab perempuan yang tua karena dia sudah merasa pasti Wiro akan dibunuh oleh Kamandaka. Tak ada seorangpun yang boleh menginjak tempat kediamannya. Kedua perempuan itu cepat tinggalkan tempat itu. Wiro pandangi mereka dari belakang sambil membasahi bibir dengan ujung lidah dan geleng-geleng kepala.
Belum lama dia meneruskan menaiki bukit batu itu tiba­tiba dia melihat lagi seorang perempuan dengan rambut tergerai lepas lari dari atas puncak bukit. Sinar matahari membuat tubuhnya yang tanpa pakaian seperti berkiiau­kilau. Dia lari sambil membawa pakaian.
"Aneh, ada lagi seorang perempuan turun dari atas bukit. Yang satu ini malah telanjang polos!" Ketika perempuan itu menyelinap lenyap di balik sebuah batu besar, Pendekar 212 cepat mendekati. Didapatinya di balik batu itu perempuan tadi tengah mengenakan pakaian. Ketika selesai dipakai ternyata pakaian itu robek-robek di beberapa tempat. "Siapa pula yang satu ini?" pikir Wiro lalu dia mendehem keras-keras.
Gadis di balik batu tersentak kaget. Ketika dilihatnya pemuda gondrong itu mendatangi sambil tersenyum­senyum dia menjadi curiga dan marah.
"Pemuda kurang ajar! Kau mengintai orang berpakaian!"
"Maaf Saudari. Jangan salahkan aku kalau sampai berada di tempat ini. Kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa mengapa tadi kau kulihat lari tanpa pakaian? Lalu mengapa berpakaian di tempat terbuka ini dan mengapa pakaian yang kau kenakan robek-robek? Siapa kau Saudari? Apa yang terjadi dengan dirimu? Tadipun aku me­lihat ada dua orang perempuan lari dari atas bukit dengan pakaian tidak senonoh!"
Karena orang bicara dengan baik dan mengatakan apa adanya, perempuan itu yang bukan lain adalah Kintani jadi mengendur amarahnya. "Aku Kintani, anak murid Partai Semeru Raya."
"Berarti kau adalah saudara seperguruan dengan orang bernama Kamandaka itu!"
"Ya, tidak salah. Orangnya ada di atas bukit batu sana. Baru saja dia membunuh salah seorang Ketua Cabang Partai. Saat ini dia tengah berkelahi melawan seorang tua berpakaian serba hitam."
Secara singat Kintani lalu menerangkan apa yang di­alaminya, mulai dari saat dia disergap oleh Kamandaka di depan mulut goa Kranggan.
"Ah, pasti Datuk Alam yang tengah dihadapinya…" kata Wiro. Dia segera hendak tinggalkan gadis itu.
"Tunggu," kata Kintani. "Kalau kau tidak keberatan, pinjami aku pakaianmu…"
Wiro garuk-garuk kepalanya tapi ditanggalkannya juga pakaiannya. Lalu diberikannya pada Kintani. Si gadis segera mengenakan pakaian itu. Karena pakaian itu lebih besar dari tubuhnya, dirinya terlindung sampai ke lutut.
"Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini." Lalu tanpa menunggu lebih lama gadis itu segera tinggalkan tempat itu.
Kembali murid Sinto Gendeng geleng-geleng kepala. Dalam hati dia berkata. "Besar nian rejekiku hari ini. Me­lihat tiga perempuan cantik. Dua hampir telanjang. Yang satu barusan benar-benar telanjang!"
Ketika Kamandaka sampai di balik batu, Kintani telah berlalu sedang Wiro juga telah berkelebat menuju puncak bukit.
"Sialan!" maki Kamandaka. Dia harus memilih, me­ngejar Kintani atau menyusul pemuda tak dikenal yang lari ke arah tempat kediamannya. Kamandaka memilih yang terakhir. Tapi dia tidak langsung mengejar melainkan menguntit dari belakang. Walaupun tingkat ke.pandaian Kamandaka sungguh luar biasa, namun sepasang telinga Pendekar 212 se-rta nalurinya tidak bisa ditipu.
Memang murid Sinto Gendeng ini tidak mau berpaling. Namun dia maklum kalau ada seseorang menguntitnya di sebelah belakang.
Wiro kerenyitkan kening sewaktu sampal di depan rumah aneh yang keseluruhannya dibuat dari batu itu dan menjadi satu dengan dinding batu besar di puncak bukit. Hidungnya kemudian mencium bau seperti daging ter­bakar. Dia memandang berkeliling. Pandangannya kemudi­an terpaku pada sesosok tubuh hitam gosong, meng­geletak di antara dua celah batu besar. Dia lantas ingat pada kematian yang sama dialami oleh Ki Pamilin, ayah gadis bernama Mintari dulu.
"Korban keganasan Tangan Halilintar!" kata Wiro dalam hati. "Jangan-jangan ini mayatnya Datuk Alam, tokoh silat dari pulau Andalas itu!" Wiro merasakan tengkuknya men­jadi dingin. Dia lalu melangkah menuju bagian depan bangunan batu. Baru saja dia hendak melangkah masuk, sesiur angin menerpa dari samping.
"Hemmm…Si penguntit mulai menyerang. Aku yakin dia pasti si Kamandaka keparat itu1"
Tanpa berpaling Pendekar 212 lepaskam pukulan Tameng sakti menerpa hujan. Pukulan jarak jauh yang menghantam ke arahnya terpental ke atas. Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat lalu menyusul deru angin deras sekali.
Wiro alirkan sebagian tenaga dalamnya ke tangan kanan lalu memukul ke depan.
Bukkk!
Dua lengan beradu keras.
Murid Sinto Gendeng keluarkan seruan tertahan. Batu yang dipijaknya laksana amblas dan tubuhnya mencelat sampai dua tombak, terbanting ke sebuah batu besar. Tangan kanannya mendenyut sakit. Ketika diperhatikan lengannya yang tadi beradu keras dengan lengan si pemukul tampak bengkak kemerahan. Luar biasa! Belum pernah Pendekar 212 bentrokan dan langsung cidera seperti itu. Sewaktu dia memandang ke depan seorang pemuda berwajah cakap tapl menyunggingkan senyum maut tegak di depannya. Celakanya manusia ini sama sekali tidak mengenakan pakaian!
Wiro usap-usap lengannya yang cidera. "Heran, apa di bukit batu ini semua orang harus tidak pakai pakaian!" kata Wiro dalam hati.
"Hemmmm… Ternyata Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!" kata pemuda di depan Wiro.
"Sialan! Bagaimana kunyuk ini mengenaliku!" tanya Wiro dalam hati. Dia lupa saat itu dia sama sekali tidak mengenakan baju hingga rajah 212 yang ada di dadanya terlihat dengan jelas.
"Nama besarmu menggetarkan delapan penjuru angina! Kau memang salah seorang tokoh silat yang aku cari! Kau beruntung masuk dalam daftar kematianku, Pendekar 212! Tapi sebelum mati aku ingin melihat pukulan saktimu yang bernama pukulan sinar matahari itu!" Habis berkata begitu Kamandaka tertawa gelak- gelak.
Murid Sinto Gendeng balas tertawa tak kalah kerasnya.
"Tadi malam aku bermimpi!" katanya sambil cengar- cengir. "Aku melihat kau terbang ke langit. Kepala ke bawah dan pantat menungging ke atas.
Ada sederetan dibadari menunggumu di lapisan langit pertama. Namun pengawal penjaga bidadari mengusirmu karena kau datang bertelanjang bulat seperti ini. Memalu­kan! Dan yang menjijikkan, menurut pengawal kau datang sehabis berak belum sempat cebok alias ngepet! Ha…ha…ha…ha…!"
"Jahanam, berani kau mempermainkan aku!" terlak Kamandaka marah. "Tunggu aku di sini. Jangan berani pergi!" Lalu Kamandaka berkelebat masuk ke dalam bangunan batu. Tak lama kemudian dia keluar lagi telah mengenakan pakalan biru dan kain pengikat kepala yang juga berwarna biru.
"Ah, ternyata kau tidak jelek-jelek amat!" Wiro sambut kedatangan Kamandaka dengan ejekan itu. "Tapi di balik tampangmu yang cakap aku melihat bayangan iblis. Bayangan mahluk berhati seribu keji seribu jahat!"
"Jahanam! Jangan pidato! Keluarkan pukulan sinar mataharimu!" teriak Kamandaka.
Wiro tenang saja. Diam-diam dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Dia tahu apa maksud lawan menantang­nya. Kalau dia melepaskan pukulan Sinar Matahari, pasti Kamandaka akan mengeluarkan pukulan Halilintar. Wiro maju dua langkah. Dia masih penasaran karena dalam gembrakan pertama tadi sudah kena diciderai lawan. Maka diapun berkata. "Menurut Ketua Partai Semeru Raya, kau bukan saja seorang murid murtad, tapi juga bodoh! Selagi digembleng di puncak Semeru katanya kau merupakan murid paling bodoh, tapi sombong besar kepala. Apa betul begitu sobat?"
"Anjing kurap! Aku bukan sobatmu!" teriak Kamandaka. "Lihat serangan! Kau akan lihat apa aku benar-benar se-orang bodoh!"
Belum lagi selesal ucapan itu dua jotosan beruntun menderu ke arah dada dan kepala Pendekar 212. Sekali ini karena sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam maka Wiro menangkis serangan lawan dengan pukulkan kedua lengannya ke atas.
Bukkkk!
Bukkkk!
Kalau tadi Pendekar 212 yang terpental dan berseru ke­sakitan maka kali ini Kamandaka yang mencelat sampai dua tombak dan terduduk jatuh. Mukanya kelihatan merah gelap menahan sakit dan amarah. Kedua tangannya se­perti tanggal.
"Jahanam…" serapahnya. Kakinya ditekuk. Tubuhnya tiba-tiba melesat ke depan. Serangan berantai yang di­lancarkan pemuda ini sungguh berbahaya. Kedua tangan­nya bukan saja menjotos dan memukul tetapi juga men­cakar. Satu cakaran sempat melukai dada kiri Pendekar
212. Tiga guratan dalam yang mengucurkan darah terlihat di dada itu.
Diam-diam Wiro memuji kehebatan pemuda yang jadi lawannya ini. Belum pernah dia digempur sehebat itu. Ilmu silat yang dipelajarinya dari Sinto Gendeng tidak sanggup dipakai untuk bertahan. Terpaksa Wiro keluarkan ilmu silat orang gila yang didapatnya dari Tua Gila di pulau Andalas.
Kamandaka menjadi heran dan juga kalap ketika sepuluh jurus menggempur kini jangankan memukul atau menendang, menyentuh lawanpun dia sepertl tidak mampu! Padahal gerakan silat yang dilakukan Wiro seperti orang main-main, seperti orang mabok! Malah dua tiga kali jotosan dan tendangan Wiro sempat mampir di tubuhnya menimbulkan rasa sakit yang memanggang amarahnya.
"Jahanam! Baiknya kuhabisi pemuda keparat ini sekarang juga!" Pikir Kamandaka. Lalu dia melompat ke atas sebuah batu. Kedua kaki direnggangkan. Mata me­natap tajam ke depan. Tampang membesi. Perlahan-lahan kedua tangannya diangkat ke atas. Dua lengan saling ber­silangan. Mulut bergerak-gerak.
Di bawah sana Pendekar 212 melihat kedua lengan lawan berubah menjadi hitam.
"Setan alas Itu hendak lepaskan pukulan Halilintar!" kata Wiro dalam hati. Segera dia angkat tangan kirinya untuk membentengi diri dengan pukulan benteng topan melanda samudera.
Tangan kanan digerakkan ke depan. Pada saat kedua lengan Kamandaka berubah menjadi hitam, lengan kanan Wiro juga berubah memancarkan sinar putih perak menyilaukan!
Kamandaka menyeringai melihat hal itu. Ada semacam rasa senang dalam hatinya untuk mencoba pukulan sakti setiap tokoh silat yang ditemuinya. Dia sudah lama men­dengar kehebatan pukulan Sinar Mataharl. Kali ini dia akan membuktikannya sendiri. Dua lengan yang bersilang tiba­tiba dilepas. Serentak dengan Itu terdengar suara seperti halilintar merobek udara. Dua larik sinar hitam meng­gebubu ke arah Pendekar 212 membawa hawa panas luar biasa!
Tenang tapi ada juga rasa tegang di lubuk hatinya murid Eyang Sinto Gendeng gerakkan tangan kiri. Pukulan benteng topan melanda samudera menderu membentengi dirinya. Dari tangan kanan dia melepas pukulan sinar matahari. Sinar putih menyilaukan seperti membelah langit. Udara sepanas di neraka.
Dentuman keras seperti gunung meletus laksana hendak menghancur luluhkan bukit batu itu ketika sinar hitam yang keluar dari tangan Kamandaka beradu dengan sinar putih pukulan sakti yang dilepaskan Wiro. Masing­masing merasakan kedua kaki mereka bergetar hebat dan tubuh laksana dipanggang api. Di udara sinar hitam dan sinar putih laksana dua ekor naga mengamuk berkelahi bergulung-gulung.
Tiba-tiba Wiro merasakan kedua kakinya goyah dan dadanya sakit. Ini satu pertanda bahwa pukulan Benteng Melanda Samudera dan pukulan Sinar Matahari tidak mampu menahan hantaman pukulan Halilintar!
"Celaka!" teriak Wiro dalam hati. Terbayang di depan matanya tubuh Ki Pamilin dan tubuh Datuk Alam yang menemui ajal menghitam gosong! Itulah rupanya nasib yang bakal diterimanya saat itu!
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar suara perempuan berseru.
"Mas Kaman! Saya bersedia jadi istrimu asal, jangan bunuh pemuda itu!"
Kamandaka kenal betul suara itu. Suara Kintani. Pemusatan pikirannya jadi terganggu. Hal ini dirasakan oleh Wiro karena lututnya yang goyah kembali pulih. Namun dia belum mampu menyelamatkan diri dari tekanan pukulan sakti lawan. Di udara dilihatnya sinar putih pukulan Sinar Matahari semakin redup tenggelam dalam sinar hitam pukulan Halilintar. Sesaat sebelum sinar putih pukulan saktinya sirna, Pendekar 212 keluarkan seruan keras. Tubuhnya melayang ke bawah bukit, ber­lindung di balik sebuah batu besar. Wuss!
Pukulan Halilintar menderu. Batu besar tempat Wiro berlindung kelihatan mengepul putih lalu berubah menjadi hitam dan perlahan-lahan hancur rontok. Tubuh Pendekar 212 selamat dari serangan maut itu namun dirinya ter­pental jauh terkena hempasan angin pukulan. Wiro terguling-guling ke bawah bukit. Sekujur tubuhnya memar. Di keningnya ada luka yang mengucurkan darah. Dadanya mendenyut sakit seperti dihimpit batu besar. Dari mulutnya meleleh darah. Dia terhempas di kaki bukit batu dalam keadaan setengah pingsan setengah sadar. Samar-samar dilihatnya ada seseorang berlari ke arahnya, bersimpuh di sampingnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan­nya. Lalu dia melihat bayangan lain di sampingnya. Menyusul suara orang tertawa cekikikan.
"Anak setan!" Ada suara memanggil memaki. "Itulah akibat kalau malang melintang terus-terusan. Tak pernah muncul untuk minta tambahan ilmu. Ilmu kesaktian manusia sudah semakin tinggi. Sudah bertambah! Ilmumu ltu ke itu juga! Sekarang kau rasakan sendiri bagaimana rasanya babak belur di hantam orang! Hik.., hik… hik!"
Di dunia ini hanya ada satu orang yang memanggil dirinya dengan sebutan "anak setan". Orang itu adalah gurunya sendiri. Eyang Sinto Gendeng. Seperti mendapat satu kekuatan, Wiro bangkit dari haribaan orang yang me­mangkunya. Orang yang memangku berkata. "Tidur saja. Kau terluka di dalam cukup parah!"
Wiro tidak perdulikan. Dia mengenali itu adalah suara Kintani gadis yang dipinjaminya baju. Dia tetap bangklt bahkan berdiri. Dia memandang ke depan. Benar, memang dia. Gurunya! Perlahan-lahan Wiro jatuhkan diri berlutut.
"Eyang, maafkan muridmu yang selama ini tidak pernah meminta petunjukmu! Soalnya murid tidak mau menyusah­kan Eyang…"
"Ah, itu kan cuma ucapan seseorang yang pura-pura menyesal! Sudah tutup dulu mulutmu!" Nenek tua di depan Pendekar 212 menjejalkan sesuatu ke dalam mulut Wiro. "Telan cepat kalau kowe masih mau hidup!" katanya. Obat sebesar jempol kaki itu dengan susah payah ditelan juga oleh Wiro. Kintani kemudian menopang punggungnya, menyeka darah di mulutnya. Wajah Wiro yang tadl pucat kini tampak mulai segar kembali. Perlahan-lahan dia berdiri.
"Nah kowe sudah sembuh! Ayo ikut aku ke puncak bukit! Ada tontonan menarik yang bakal kita saksikan!" kata Eyang Sinto Gendeng pula. Dia berpaling ke kiri. Di situ tegak seorang gadis jelita, berambut diikat buntut kuda. "Kau sudah siap Mintari? Tabahkan hatimul"
Gadis itu ternyata adalah Mintari, anak Ki Pamilin yang bergelar Tangan Baja. Si gadis menatap ke arah Wiro, pemuda yang dulu menolongnya.
"Heran, bagaimana dia bisa muncul bersama Eyang?" Who bertanya dalam hati.
Sinto Gendeng maklum apa yang ada di benak . Wiro. Maka diapun berkata. "Saat, ini dia bisa kau anggap se­bagai adik seperguruanmu, Wiro. Kalau urusannya nanti sudah selesai dia kembali ke asalnya. Bukan saudara se­perguruanmu lagi karena dia memang tak pernah kuangkat sebagai murid!"
"Saya tidak mengerti Eyang…"
"Nanti kowe juga bakal mengertil" jawab Sinto Gendeng.
Di kejauhan tampak ada empat orang naik ke puncak bukit batu. Gerakan mereka sebat dan cepat.
"Tontonan menarik akan segera mulal. Ayo ikut aku ke puncak bukit!" kata Sinto Gendeng. Keempat orang itu segera naik ke puncak bukit batu. Kintani dan Mintari sengaja mengapit Wiro yang keadaannya masih agak lemah.

***


Kapak Maut Naga Geni 21211

DI PUNCAK gunung Semeru pagi itu Ketua Partal Gamar Senopatri yang bergelar Dewa Tapak Sakti duduk dikelilingi oleh Rana Tumalaya Ketua cabang wilayah Barat dan Ageng Seto Cabang wilayah Utara. Lalu ada dua orang murid Partai yang tingkat kepandaiannya hampir mendekati para Ketua Cabang.
"Malam tadi saya bermimpi. Ada dua ekor burung merpati jatuh di pangkuan saya. Yang satu tidak bernafas lagi. Mati. Yang satunya megap-megap. Kedua sayapnya patah dan kepalanya terluka. Merpati satu ini akhirnya mati di pangkuan saya."
Sang Ketua diam sesaat lalu meneruskan bicaranya. "Saya bukan orang yang percaya pada mimpi. Namun setiap mimpi mempunyal takbir dan maknanya sendiri­sendirl. Dua saudara kita Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu sudah seminggu meninggalkan kita. Saya menaruh kawatir, mimpi tadi malam merupakan pertanda buruk bagi kita. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan mereka…"
"Kalau Ketua mengizinkan, saya akan turun gunung untuk menyelidik," berkata Ageng Seto.
Lama Ketua Partai Semeru Raya itu terdiam. Akhirnya dia berkata. "Saat ini saya merasa harus pergi ke goa Kranggan di Selatan. Bukan saja untuk mencari tahu ke­adaan dua Ketua Cabang itu, juga untuk langsung mencari Kamandaka murid sesat dan murtad itu."
"Saya akan mendampingi Ketua," kata Ageng Seto pula.
"Saya jugal" kata Rana Tumalaya.
Dua anak murtad murid tingkat tinggi yang ada di situ mengatakan hal yang sama pula.
"Tidak semua bisa pergi. Harus ada yang menunggu d! sini guna mengurus segala sesuatunya," kata Gamar Senopatri pula. Dia berpaling pada Ageng Seto. "Kau punya kepentingan lebih besar untuk Ikut bersama saya. Kau harus tahu apa yang terjadi dengan adikmu Ageng Sembodo."
"Terima kasih atas kepercayaan Ketua membawa saya," Ageng Seto merasa gembira.
"Kalian berdua juga ikut saya," kata Ketua Partai se­lanjutnya seraya menggoyangkan kepala pada dua anak murid Partai. Kedua orang ini menundukkan kepala sambil mengucapkan terima. kasih. "Dan kau Dimas Rana Tumalaya. Kau terpaksa tinggal untuk menjaga dan mengurus segala sesuatunya selama kami pergi."
"Akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya Ketua," jawab Rana Tumalaya walau hati kecilnya sebenarnya ingin sekali pergi mendampingi Ketua Partai.
Beberap hari kemudian rombongan dari gunung Semeru itu sampai di pantai Selatan di mana terletak goa Kranggan. Seperti yang dilakukan Wiro, setelah masuk goa dan mengetahul bahwa terowongan di dalamnya membalik ke arah daratan, Gamar Senopatri membawa membawa orang-orangnya keluar goa dan menempuh jalan darat hingga akhimya sampai di bukit batu. Pada saat yang bersamaan Eyang Sinto Gendeng dan Mintari sampai pula di tempat itu. Tujuan kedua orang ini jelas untuk menuntut balas atas kematian ayah Mintari serta kekejian yang dilakukan Kamandaka atas dirinya. Seperti dituturkan se­belumnya Eyang Sinto Gendeng telah menculik Mintari selagi berada di rumah kediaman Raden Bintang. Gadis malang Ki Pamilin ini dibawanya ke suatu telaga di Bukit Slarong. Di sini Mintari diberinya pelajaran meningkatkan kekuatan tenaga dalam. Setelah itu diajarinya ilmu sakti pukulan Sinar Matahari. Pukulan sakti yang diajarkan si nenek pada Mintari memiliki kekuatan lebih hebat dad pukulan Sinai Matahari yang telah diwariskannya pada muridnya Wiro Sableng. Hal ini karena Sinto Gendeng menyadari bahwa pukulan Sinar Mataharl yang lama tidak bakal sanggup menumbangkan pukulan Halilintar yang di­miliki Kamandaka. Namun karena Mintari bukan muridnya maka Eyang Sinto Gendeng hanya memberikan kemampu­an memiliki selama tiga puluh had pada Mintari. Selewat­nya waktu tersebut kesaktian itu akan lenyap dengan sendirinya. Di samping itu Mintari hanya bisa memperguna­kan ilmu kesaktian itu satu kali saja.
Di puncak bukit batu Kamandaka tampak melangkah mundar-mandir di depan rumah batunya.
Hatinya geram sekali. Kalau saja tadi Kintani tidak muncul dan mengganggu pemusatan pikirannya, pasti Pendekar 212 dapat dikalahkannya dan ditambusnya sampai gosong dengan pukulan Halilintar. Kini pemuda itu lenyap di kaki bukit. Kintani sendiri melarikan diri entah ke mana. Rasa geram semakin membakar dirinya ketika dia membayangkan tubuh Kintani yang sudah siap untuk ditidurinya!
"Jahanam! Keparat!" maki Kamandaka.
Selagi dia memaki-maki begitu dari arah Barat lereng bukit batu dilihatnya ada empat orang lelaki muncul men­daki. Di sebelah depan… Kamandaka segera mengenalinya dari pakaian yang dikenakannya.
"Jahanam itu akhirnya muncul juga!" katanya. "Segala urusan akan kuselesaikan hari ini! Akan kubuka kedok busuk bangsat itu!"
Tiba-tiba ekor mata Kamandaka melihat ada gerakan lain di lamping Timur bukit batu. Di jurusan ini juga ada empat orang yang g mendatangi. Dua gadis, satu nenek dan satu lagi seorang pemuda yang dari jauh segera dikenalinya yaitu Pendekar 212 Wiro Sableng. Sedang salah satu dari gadis yang datang tak pelak lagi adalah Kintani.
"Manusia-manusia celaka! Semua akan kubikin mampus!" kertak Kamandaka dalam hati. Lalu dia me­lompat ke atas batu datar di depan rumah batu. Kedua kakinya merenggang sedang kedua tangan dirangkapkan di depan dada. Begitu dua rombongan bongan itu sampal sekitar sepuluh langkah di depannya Kamandaka lantas pentang suara.
"Selamat datang mahluk-mahluk pencari mati! Siapa di antara kalian yang ingin mampus lebih dulu?!"
Paras empat orang dari gunung Semeru tampak be­rubah merah sementara Sinto Gendeng dan tiga orang anggota rombongannya tenang-tenang saja malah ada yang menyengir-nyengir!
Ketua Partai Semeru Raya menatap paras Kamandaka sesaat lalu melirik ke samping. Dia terkejut ketika mengenali Sinto Gendeng dan heran melihat mengapa Kintani berada bersama rombongan si nenek. .
"Kamandaka, kami datang jauh jauh bukan untuk mencarI kematian," Gamar Senopatri membuka mulut. "Kami datang justru untuk menghukummu! Dosamu selangit tembus sedalam lautan! Berlututlah minta ampun kepada Tuhan sebelum aku menjatuhkan hukuman mati atas dirimu di tempat ini juga!"
Kamandaka tampak melongo. Dia memandang tak ber­kesip pada Ketua Partai Semeru Raya itu. Lalu perlahan­lahan tampak dia menekuk kedua kaki seperti hendak berlutut. Ternyata pemuda ini hanya pura-pura saja. Justru ketika pantatnya bergerak turun tiba-tiba dia keluarkan suara kentut yang keras sekali. Sehabis kentut dia tertawa gelak-gelak!
Dari rombongan yang dipimpin oleh Singo Gendeng, terdengar pula suara tertawa bekakakan. Itu adalah suara tawa Wiro Sableng yang memang tidak bisa menguasai diri.
Sinto Gendeng mendelik dan membentak. "Husss! Ku­robek mulutmu kalau tidak hentikan tawamu!"
Wiro terpaksa tutup mulutnya. Kedua matanya melirik ke kiri kanan yaitu ke arah Kintani dan Mintari. Kintani senyum-senyum saja. Sedang Mintari mendongak ke langit sambil pejamkan mata. Pasti ada sesuatu yang sangat mempengaruhi dirinya saat itu yakni niatnya untuk menuntut balas. Mintari turunkan kepalanya dan berbisik pada Sinto Gendeng. "Eyang, kalau Ketua Partai Semeru itu berhasil membunuh Kamandaka, berarti saya tidak akan pernah membalaskan sakit hati dendam kesumat…."
Si nenek tersenyum. Dia menjawab. "Tidak satu orang-pun bisa mengalahkan Kamandaka, kecuali kau. Lihat saja nanti. Jangan banyak tanya lagi. Siapa yang berani bicara nanti kutampar!"
Mintari dan Kintani kancingkan mulutnya rapat-rapat sementara Wiro sambil garuk-garuk kepala berusaha menahan ketawa hingga mukanya merah sampai ke telinga.
Di sebelah sana empat wajah orang-orang gunung Cemeru tampak merah kelam membesi.
Gamar Senopatri berkata dengan suara bergetar tanda dia berusaha menekan amarah.
"Orang yang mau mati memang suka berbuat tolol! Kami tahu kau pasti telah membunuh Ki Rono Bayu. Dalam perjalanan ke mari kami menemui mayat Ageng Sembodo. Dosamu tak mungkin diampuni lagi Kamandaka!"
"Dari tadi kau bicara melulu! Kapan kau mau ber­tindak?!" Kamandaka berkata lantang.
"Saat ini juga murid murtad!" jawab Gamar Senopatri.
"Bagus! Tapi sebelum kau membual hendak mem­bunuhku, biar aku bicara dulu. Agar semua orang tahu siapa dirimu sebenarnya. Dan mengapa aku melakukan semua kejahatan ini! Tujuanku lain tidak adalah agar satu ketika aku dapat berhadapan denganmu. Kini saat yang kutunggu sejak beberapa bulan lalu sudah tiba! Bukan aku yang bakal menerima kematian. Tapi kau! Sesuai dengan kejahatan dan kebusukan yang pernah kau buat dua puluh lima tahun silam. Ketika aku baru berusia tiga tahun!" Ketika berkata itu Kamandaka berulang kali menudingkan telunjuknya ke arah Gamar Senopatri hingga Ketua Partai ini tambah merah wajahnya dan bergetar seluruh tubuh­nya. Sementara bicara kedua mata Kamandaka selalu ter­tuju pada seuntal kalung baja putih dengan hiasan kepala seekor singa yang tergantung di leher sang Ketua.
Apa yang diucapkan Kamandaka tadi tentu saja mem­buat Gamar Senopatri terkejut. Bahkan yang lain-lain yang ada di tempat itu jadi ikut bertanya-tanya.
"Gamar Senopatri! Hari ini kubuka kedok busukmu!" kata Kamandaka enak saja dia menyebut langsung nama orang tua itu. "Dua puluh lima tahun lalu, di hutan Sasakan kau pernah menghadang satu keluarga kecil yang tengah pindah dari Kaliurang ke Sleman. Kepala rombongan itu adalah seorang lelaki bernama Abdi Gontor. Dia bertindak sebagai sais pedati sementara istrinya duduk dl sebelah­nya. Istrinya bernama Widi Sinten. Seorang anak lelaki berusia tiga tahun berada di bagian belakang pedati. Sampai di sini apa kau bisa ingat Gamar Senopatri?"
Semua orang saat itu menyaksikan bagaimana wajah Ketua Partai Semeru Raya tiba-tiba menjadi pucat pasi seputih kain kafan! Mulutnya komat-kamit tapi tidak ada suara yang keluar. Dadanya turun naik.
Di atas batu Kamandaka kembali membuka mulut. "Mungkin ingatanmu masih belum pulih. Biar kuteruskan ceritaku! Perempuan bernama Widi Sinten itu adalah kekasihmu di masa muda. Namun dia meninggalkanmu karena ternyata kau punya lebih dari lima orang kekasih. Kau mengkhianati cintanya dan kawin di mana-mana. Ketika Widi Sinten kawin dengan Abdi Gontor baru kau sadar bahwa sesungguhnya kau benar-benar mencintainya. Kau inginkan dirinya lagi tapi sudah terlambat. Rasa sayangmu berubah jadi rasa benci sakit hati. Kau cegat rombongan mereka di hutan Sasakan. Kau bunuh Abdi Gontor. Lalu kau rusak kehormatan Widi Sinten! Sehabis diperlakukan secara keji begitu Widi Sinten bunuh diri dengan sebilah keris milik suaminya di tempat itu juga!" Sampai di situ Kamandaka tampak seperti tidak dapat menguasai diri. Tubuhnya bergetar hebat dan suaranya ditelan isakan tangis. Sesaat kemudian baru dia bisa meneruskan kata-katanya.
"Kejadian itu disaksikan oleh anak mereka yang berusia tiga tahun. Si anak menangis dan takut. Berusaha turun dari pedati tapi terjatuh. Kepalanya membentur tanah hingga jatuh pingsan. Ketika siuman dia tidak dapat lagi mengingat apa yang telah terjadi dengan kedua orang tuanya. Entah karena apa kau kemudian mengambil anak itu, meminta seseorang mengasuhnya lalu menjadikannya murid dalam Partal. Selama lebih dari dua puluh empat tahun ingatannya tentang peristiwa itu menjadi gelap. Namun enam bulan yang lalu sebuah benda yang tiba-tiba dilihatnya membuat dia ingat kembali apa yang terjadi di masa lalu itu. Benda itu adalah kalung baja putih yang melingkar di lehermu! Kalung itu dilihat si anak waktu kau membunuh dan memperkosa ibunya. Kalung itu kemudian dilihat anak yang sama enam bulan lalu ketika untuk pertama kalinya kau memakainya kembali pada suatu upacara kebesaran Partai!"
Suasana di puncak bukit itu hening seperti di pekuburan. Suara anginpun tidak kedengaran. Ketegangan tegangan menggantung di udara. Kedua mata Kamandaka berkaca-kaca. Suaranya bergetar ketika dia menyambung kata-katanya.
"Kau tahu siapa anak itu Gamar Senopatri? Anak itu adalah aku! Kamandaka! Muridmu yang katamu sudah kau anggap seperti anak sendiri!"
Semuanya mata memandang pada Gamar Senopatri. Ketua Partai Semeru Raya ini merasakan tenggorokannya kering. Di atas kepalanya matahari seperti hanya sejengkal. Tubuh dan pakalannya mandi keringat.
"Ceritaku belum habis Gamari Setelah aku tahu kau pembunuh ayahku dan manusia yang merusak ibuku, aku pergi meninggalkan Semeru. Aku menghubungi tokoh­tokoh persilatan minta pandangan mereka apa yang dapat aku lakukan. Tak satu orangpun yang mau memberi nasihat. Apalagi bertindak menghukummu! Semua mereka
pengecutl Aku anggap sama saja mereka itu bersekutu dengan dirimu! Ketika seorang sakti memberiku ilmu pukulan Halilintar, semua tokoh- tokoh silat keparat itu kuhabisi satu demi satu. Gadis-gadis kuculik dan ku­perkosa. Kubayangkan mereka adalah anak gadismu sendiri! Lalu aku merencanakan untuk menyamaratakan puncak Semeru, menghancurkan Partai Semeru Raya dan mematahkan batang lehermu! Orang-orang persilatan menganggap aku manusia sesat. Kau menyebut aku murid murtad! Mungkin aku sesat dan murtad. Tapi semua berpangkal sebab kepadamu! Kau tidak lebih baik dariku Gamar Senopatri! Kedokmu sudah kubuka. Berarti kematianmu sudah di depan mata! Bersiaplah!"
Tubuh Ketua Partai Semeru Raya itu tampak ber­guncang. Ageng Seto dan dua murid Partai cepat me­megangnya.
"Tinggalkan saya…" kata Gamar Senopatri pada orang-orang itu. "Menjauhlah. Aku sudah siap menerima hukumanku!"
Ageng Seto maju ke depan. "Kamandaka!" serunya. "Kuharap persoalan ini selesal sampai di sini saja. Kami akan kembali ke puncak Semeru. Apa yang kau lakukan nanti adalah urusan dan tanggung jawabmu sendiri!" Habis berseru begitu Ageng Seto memegang bahu Gamar Senopatri lalu berbisik. "Ketua, mari kita tinggalkan tempat ini."
Tapi Gamar Senopatri gelengkan kepala.
Di atas batu Kamandaka tampak menyllangkan kedua lengannya. Lengan-lengan Itu berubah menjadi hitam.
"Ketua! Awas!" Kintani berteriak. Tapi terlambat.
Suara seperti halilintar memekakkan telinga. Bukit batu bergetar hebat. Dua larik sinar hitam menderu menebar hawa panas luar biasa. Dua orang anak murid Partai yang berada agak jauh masih bisa melompat selamatkan diri. Tapi Gamar Senopatri dan Ageng Seto tak mampu berbuat suatu apa. Kedua orang Itu hanya keluarkan suara raungan pendek. Tubuh mereka terpental jauh. Keduanya menemui ajal dalam keadaan tubuh hitam gosong mengepulkan asap. Bau daging terbakar menyesakkan nafas dan mengidikkan semua orang yang ada di tempat itu.
Untuk beberapa lamanya Kamandaka masih tegak di atas batu datar di depan rumah batu. Eyang Sinto Gendeng berpaling pada Mintari dan berkata perlahan.
"Tontonan bagus sudah selesai. Giliranmu sudah tiba, Mintari," kata si nenek.
Gadis itu mengangguk. "Semoga saya berhasil, Eyang "
"Jangan kawatir. Kau pasti berhasil!" jawab Sinto Gendeng. Lalu dia melangkah menemani gadis itu sampai lima belas langkah di hadapan batu datar di mana Kamandaka berada sementara Wiro dan Kintani tetap berada di tempat semula.
Kamandaka menatap kosong ketika Mintari tegak di depannya. Dia seperti tidak melihat gadis itu sampai pada saat Mintari berkata dengan suara keras.
"Kamandaka! Kudengar ceritamu tadi cukup mengharu­kan. Kau pernah kehilangan ingatan selama lebih dari dua puluh empat tahun. Tapi apa kau juga hilang ingatan atas apa yang kau lakukan terhadap ayahku dan diriku beberapa bulan lalu?!"
"Heh…. Siapa kau? Suaramu lantang dan wajahmu cantik!" Otak kotor Kamandaka mulal bekerja rupanya.
"Beberapa bulan lalu kau membunuh ayahku Ki Pamilin bergelar Tangan Baja. Di tempat yang sama kau kemudian merusak kehormatanku! Ingat.. ?"
"Ya, aku memang ingat…" jawab Kamandaka.
"Lalu sekarang apa maumu? Minta diperkosa lagi?" Kamandaka tertawa mengekeh. Tapi jelas tawa itu seperti dipaksakan. Dia seperti belum dapat melenyapkan keguncangan hatinya saat-saat menjelang dia menghabisi Gamar Senopatri tadi.
"Kejahatan harus dibalas dengan keadilan! Keadilan satu-satunya bagimu adalah mati!" teriak Mintari. Lalu dia angkat tangan kanannya. Tangan itu sampai sebatas siku berubah menjadi putih perak dan sangat menyilaukan. Hawa panas terasa mencekam tempat sekitar situ. Pendekar 212 Wiro Sableng sempat terkejut melihat hal itu. "Gila! Mengapa lengan itu bisa sangat menyilaukan seperti itu. Aku sendiri tidak mampu berbuat seperti itu. Ah, si Eyang pasti sudah main kayu! Mengajarkan sesuatu pada orang lain tapi tidak mengajarkannya padaku!" Baru saja saja Wiro mengucapkan kata-kata itu dalam hatinya tiba-tiba ada suara menglang di telinganya.
"Anak setan! Jangan kowe berpikir yang bukan-bukan! Kau sendiri yang salah. Selama ini kau hanya senang malang melintang. Tidak pernah memikirkan untuk mem­perdalam serta menambah ilmu kepandaian!"
Wiro melirik ke arah si nenek yang tegak tak berapa jauh dari tempatnya berdiri. Itu tadi suara si nenek yang mempergunakan ilmu bersuara jarak jauh. Wiro hanya bisa garuk-garuk kepala. Memandang ke depan dilihatnya lengan Mintari semakin memancarkan sinar menyilaukan.
"Pukulan Sinar Matahari!’ seru Kamandaka dengan nada serta mimik mengejek. "Siapa yang mengajarkan padamu? Pasti nenek jelek itu atau pemuda gondrong sebelah sana!" Kamandaka tertawa panjang. "Kumpulkan seratus orang yang mampu melancarkan pukulan Sinar Matahari. Tak satupun yang akan mampu menghadapi pukulan Halilintar!"
"Takaburmu membawa celaka!" teriak Mintari. Tangan­nya perlahan-lahan diangkat lebih tinggi.
"Eh, gadis ini tidak main-main. Sebenarnya sayang kalau dia harus kubunuh! Tapi apa boleh buat!" Begitu Kamandaka membatin. Lalu dia silangkan kedua tangannya di depan kepala. Kedua tangan itu serta merta menjadikan hitam. Sambil sunggingkan senyum merendah­kan, Kamandaka lepaskan silangan kedua tangannya dan memukul ke depan.
Wuss!
Wuss!
Dua larik sinar hitam menderu dahsyat disertai suara gelegar halihntar. Untuk kesekian kalinya bukit batu itu seperti diguncang gempa dan langit seperti mau roboh!
Mintarl keluarkan pekik keras. Tangan kanannya meng­hantam ke depan. Hawa panas menggebubu. Selarik sinar putih kebiruan menyilaukan menyambar ganas. Ratusan bunga api memercik di udara ketika dua larik sinar hitam bertemu dengan selarik sinar putih kebiruan.
Kedua kaki Mintari tampak goyang. Kamandaka menye­ringai. Kintani dan Wiro menahan nafas. Tapi Sinto Gendeng tenang-tenang saja. Malah dari mulutnya ter­dengar suara dia menyanyi. "Kejar terus, tahan terus…. Hitam tak pernah menang dari putih… Kejar terus, tahan terus… Hitam tak pernah menang dari putih…"
Di udara dua larik sinar hitam pukulan Halilintar ber­usaha menggelamkan sinar putih pukulan Sinar Matahari. Namun sekali ini tampak sinar-sinar hitam Itu terdorong ke belakang hingga Kamandaka merasakan kedua Iengannya bergetar keras. Hal ini tak pernah kejadian sebelumnya. Dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya hingga wajahnya jadi merah dan sekujur tubuhnya mandi keringat.
Tiba-tiba Mintari putar telapak tangan kanannya. Gerakan ini disusul dengan gerakan mendorong ke depan .
Wussss!
Pukulan Sinar Matahari menggebubu laksana topan prahara. Dua larik sinar hitam pecah dan bertebaran lalu lenyap. Sinar putih terus melabrak ke depan.
"Jahanam!" Masih terdengar makian Kamandaka. Itu adalah ucapannya yang terakhir sebelum tubuhnya terseret sinar putih panas dan menyilaukan itu. Pemuda itu terbanting ke dinding batu di samping rumah batu. Untuk sesaat lamanya tubuhnya yang melepuh matang merah Itu laksana dicetak masuk ke dalam dinding batu. Lalu perlahan-lahan tubuh itu mencuat keluar dan jatuh tergelimpang di atas batu.
Mintari jatuhkan diri dan tekap mukanya dengan kedua tangannya. Sinar putih menyilaukan pada tangan kanannya sudah lenyap. Dia menangis terisak-isak. Satu tangan memegang bahunya, mengira itu adalah Eyang Sinto Gendeng yang memegangnya, gadis ini berkata. "Eyang, terima kasih. Saya berhasil Eyang. Terima kasih…"
"Eyang sudah lenyap entah kemana," jawab satu suara. Mintari berpaling. Yang memegang bahunya dan yang barusan bicara ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Di sampingnya berdiri Kintani. "Dia sempat berpesan agar aku mengurus kalian berdua. Ah, bagai­mana ini… Kalian kan bukan anak-anak kecil lagi."
Perlahan-lahan Mintari berdiri. Dia memandang pada Kintani sambil mengusap air matanya. Lalu dia berkata. "Bersamamu Wiro, kami mau jadi anak-anak kecil kembali."
"Tapi kami anak-anak kecil yang nakal. Hingga kau pasti bakal kewalahan mengurus kami!" menyambung Kintani.
Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepala. Lalu dia berdiri di antara kedua gadis itu dan memegang bahu mereka. Sambil melangkah Wiro tersenyum-senyum.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Mintari.
Ditanya begitu sang pendekar justru malah tertawa gelak-gelak. "Aku ingat ketika kalian kutemui lari dari puncak bukit nyaris tanpa pakaian sama sekali!"
Kedua gadis itu terpekik. Lalu cubitan-cubitan menye­ngat lengan, pinggang dan punggung Pendekar 212 mem­buat dia kelojotan dan terlonjak-lonjak kian kemari. Pembalasan dua gadis itu ternyata tidak sampai di sana saja. Dari belakang keduanya menarik celana Wiro ke bawah kuat-kuat hingga tubuh bawah sebelah belakang pemuda ini tersingkap lebar. Sementara Wiro kalang kabut menarik celananya, Mintari dan Kintani telah melarikan diri ke bawah bukit.
"Anak-anak nakal! Kalau dapat kukejar akan kuciumi kalian berdua!" teriak Wiro.
Mintari dan Kintani berhenti lalu lambaikan tangan menggoda. Ketika Wiro mengejar keduanya lari kembali sambil tertawa terpingkal-pingkal.

TAMAT

1 komentar:

Yudie Crane on May 23, 2014 at 12:03 PM said...

Anak² nakal..Kalian berdua memang nakal.. Hahahaha....!!! :D

 

Tanztj's Weblog