Sunday, March 8, 2009

Siluman Teluk Gonggo

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

1

MATAHARI bersinar terik membakar jagat. Pemuda berambut gondrong berpakaian serba putih dengan ikat kepala juga kain putih merasakan tenggorokannya kering. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Dia merasa bersyukur karena sepeminuman teh berlalu akhirnya dia sampai di sebuah kampung. Paling tidak dia bisa minta air segar pada penduduk. Tapi kebetulan di mulut jalan di temuinya sebuah kedai.
Pemuda ini masuk ke dalam kedai dan memesan minuman. Untuk mengurangi rasa panas dia berkipas-kipas sambil menunggu pesanan. Pada saat itulah tiga orang penunggang kuda berhenti di depan kedai. Sejenak si gondrong perhatikan ke tiga pendatang ini. Kelihatannya seperti orang-orang yang tengah mengadakan perjalanan jauh dan ingin melepaskan lelah sambil membasahi tenggorokan. Si gondrong palingkan kepala tak perdulikan orang-orang itu.
Ketika pelayan meletakan minuman di hadapan si pemuda, tahu-tahu ke tiga penunggang kuda tadi sudah melompat dan berdiri di hadapannya. Sekilas si pemuda melirik, lalu acuh tak acuh dia terus berkipas-kipas. Salah satu tangannya menjangkau gelas minuman. Tapi gerakannya tertahan oleh bentakan salah seorang tamu di sampingnya.
"Jadi menurutmu ini bangsatnya?!" Yang membentak ini berusia sekitar tiga puluh tahun, berambut pendek, memelihara berewok dan berbadan tinggi kekar.
Lelaki di sampingnya, seorang tua berambut kelabu, memandang sejenak pada pemuda rambut gondrong, sejurus kemudian dia anggukan kepala.
"Memang dia bangsatnya. Aku pasti betul!" kata si rambut kelabu.
Lelaki ke tiga seorang pemuda berbadan tegap lantas saja membuka mulut: "Jika dia malingnya tunggu apa lagi?!"
Sret! Dari balik pinggangnya pemuda ini cabut sebilah golok dan mengacungkannya ke arah pemuda berambut gondrong yang duduk di belakang meja.
Seperti seorang buta dan tuli layaknya, si gondrong ini seolah-olah tak melihat orang-orang di sekitarnya atau tak mendengar percakapan-percakapan di dekatnya. Dia terus saja berkipas-kipas dan malah kini mengambil gelas berisi minuman.
"Setan! Kau berani berlagak tolol pilon di depan kami!" sentak pemuda yang memegang golok. Tangan kanannya di ayunkan. Prang! Gelas di tangan pemuda gondrong papas berantakan. Sebagian isinya tumpah membasahi meja serta pakaian pemuda ini. Bagian bawah gelas yang papas di tebas golok tajam masih berada dalam genggaman tangan kiri pemuda itu. Di dalamnya masih berada sedikit sisa minuman. Si gondrong goleng-goleng kepala lalu menyeringai. Dari mulutnya keluar suara siulan. Lalu seenanknya sisa minuman yang masih ada dalam gelas yang tinggal sepotong itu diteguknya sampai habis!
Semua tamu yang ada di kedai melengak heran tetapi diam-diam juga menjadi tegang. Sebaliknya tiga lelaki yang berada di hadapan si gondrong jadi naik pitam. Dan pemuda yang memegang golok kembali menghardik: "Pencuri ternak! Kau memang di cincang!"
Untuk kedua kalinya golok besar itu berkelebat. Kali ini dibacokan ke kepala si gondrong. Beberapa orang tamu mengeluarkan seruan tegang karena sudah membayangkan sesaat lagi akan belahlah kepala pemuda berambut gondrong itu dihantam golok!
Tetapi gilanya manusia yang dirinya terancam bahaya maut itu justru kelihatan tenang-tenang saja. Malah cengar-cengir.
Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar merupakan satu kejutan.
Sedetik sebelum golok besar itu menghantam sasarannya, terdengar pekikan keras. Golok kelihatan mencelat ke atas dan menancap di langit-langit kedai. Pemuda yang tadi memegang senjata itu terhuyung empat langkah ke belakang sambil pegangi siku tangan kanannya. Entah kapan si gondrong ini bergerak tahu-tahu dia telah menangkis serangan maut yang dilancarkan bahkan memukul tangan sambungan siku orang yang inginkan jiwanya!
"Pelayan! Ambilkan minuman baru. Rasa hausku belum habis, tahu-tahu ada saja monyet kesasar yang datang mengganggu!" Si gondrong berseru memanggil pelayan sambil salah satu kakinya dinaikan keatas kursi.
"Bangsat pencuri! Berani kau mencelakai adikku!" Tiba-tiba lelaki berewok hantamkan tinju kanannya yang besar kuat ke dada si gondrong.
"Buk!
Tinju tepat mendarat dengan kerasnya di dada si gondrong. Tapi yang menjerit kesakitan bukannya pemuda itu, malah justru si berewok. Tubuhnya terjajar ke belakang dan tangan kanannya kelihatan merah bengkak!
Marah dan kesakitan si berewok berteriak "Laknat! Sekalipun kau punya ilmu setan, aku mau lihat apa kau kebal senjata!" Sebilah belati di cabutnya dari pinggang lalu secepat kilat ditikamkannya ke arah si pemuda.
Seperti tadi waktu di serang dengan golok, tak kelihatan pemuda rambut gondrong itu bergerak tahu-tahu golok sudah mental dan penyerang kena di hantam. Kali inipun terjadi hal yang sama. Lelaki berewok menjerit kesakitan ,belati ditangannya mental ke udara dan menancap di langit-langit kedai, tepat disamping golok!
"Pelayan! Mana minuman baru! Lekas, aku benar-benar kehausan!" teriak si gondrong. Sampai saat itu sedikitpun dia tidak beringsut dari kursi yang di didukinya!
Kini semua orang dalam kedai itu serta merta menjadi maklum. Pemuda berpakaian putih, berambut gondrong, bertampang lugu bahkan seperti agak sinting ini, bukan manusia sembarangan.
Pelayan datang setengah berlari membawakan minuman. Kali ini digelas besar.
Setelah meneguk isi gelas sampai setengahnya, si gondrong hembuskan nafas panjang. Perlahan-lahan dia palingkan kepalanya ke arah lelaki tua berambut kelabu yang tegak di samping mejanya dengan mulut menganga dan tampak terkesiap.
Si gondrong sunggingkan senyum. "Orang tua berambut kelabu. Apa kau juga hendak turun tangan terhadapku?!"
"Maling ternak, kau tunggulah disini! Sekali kulaporkan yang kau lakukan, orang-orang Adipati Japara akan datang menghajar dan menangkapmu!".
Orang tua berambut kelabu menjawab sambil mengancam. Tampaknya dia tak punya nyali untuk ikut-ikutan turun tangan.
Si gondrong tertawa.
"Gila! Tuduhanmu sungguh tidak enak. Maling ternak! Maunya kupecahkan mulutmu dan juga dua kembarmu itu! Menuduh seenaknya. Tanpa alasan, tanpa bukti. Tak ada saksi!"
"Saksiku adalah mataku sendiri! Aku masih belum buta! Memang kau yang mencuri selusin kerbau yang ku gembalakan di tepi hutan Manuk!"
"Cc…cc…cc…" si gondrong leletkan lidah.
"Benar kau belum buta, orang tua. Tapi mungkin sudah lamur. Kau pasti salah lihat!"
"Tidak mungkin! Lekas katakan dimana kau sembunyikan kerbau-kerbau curian itu!"
Si gondrong geleng-gelengkan kepala.
"Dengar orang tua. Namaku WIRO SABLENG. Mungkin aku pemuda gendeng, tapi bukan pencuri kerbau!"
"Bukan pencuri kerbau! Puah! Pencuri kerbau bukan, tapi maling kerbau ya!" mendamprat pemuda yang sambungan sikunya copot.
Si rambut gondrong yang ternyata adalah pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Dia berpaling pada si rambut kelabu. "Orang tua, coba kau jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi."
"Tidak perlu!" potong lelaki berewok. "Jelas kau malingnya. Ayahku tak mungkin salah lihat!"
"Oh, jadi si rambut kelabu ini ayahmu," ujar Wiro. "Yang ini pasti adikmu. Dengar berewok. Mencuri selusin kerbau bukan soal mudah. Paling sedikit harus dilakukan oleh tiga orang. Kalian lihat sendiri. Aku disini cuma sendirian."
"Jangan coba mengelabui kami. Kawan-kawanmu saat ini tentu tengah menggiring kerbau-kerbau itu ke satu tempat!"
Lama-lama murid Eyang Sinto Gendeng ini jadi jengkel juga. Seumur hidup malang-melintang di dunia persilatan baru hari itu dituduh jadi maling, pencuri kerbau! Kembali digaruk-garuk kepalanya. "Mau percaya atau tidak, terserah. Aku tidak mencuri kerbau kalian. Aku tak pernah berada di sekitar Gili Manuk. Aku datang dari timur dan…"
"Memang mana ada maling mau mengaku!" tukas si rambut kelabu memberengut.
Wiro Sableng menyeringai dingin dan si berewok kembali membuk mulut: "Tanda-tanda yang kami ikuti menuju ke tempat ini. Disini ayahku menemukanmu. Ciri-ciri pencuri itu tepat seperti dirimu…"
"Mungkin ayahmu hanya melihat dari jauh" Wiro coba membela diri.
"Jauh atau dekat bukan soal. Yang jelas kau memang telah melarikan kerbau-kerbau kami!"
"Berewok. Jika kau tetap menuduhku sebagai pencuri, berarti kau tak bakal menemukan pencuri sebenarnya. Kau benar-benar akan kehilangan kerbau-kerbaumu…Jika katamu pencuri itu menuju kejurusan sini, tentu dia atau mereka masih belum jauh dari sini. Kalian masih punya kesempatan untuk mengejar!" Habis berkata begitu Wiro berdiri dan berkata pada adik si berewok. "Mari kusambungkan kembali tulang sikumu."
"Tak perlu!" jawab si pemuda sambil pegangi tangannya yang cidera.
"Ya, memang tak perlu," kakaknya yang berewok menimpali beringas. Lalu dia mengajak adik dan ayahnya segera melapor ke Kadipaten.
"Kalian ayah dan anak sama saja keras kepalanya. Lebih baik untuk sementara kalian jadi patung saja, supaya tidak menggangguku!" Dengan bergerak cepat Wiro Sableng menotok ke tiga orang itu hingga tak mampu lagi bergerak. Setelah membayar minumannya dia lambaikan tangan pada ke tiga beranak itu dan melangkah pergi.
"Maling kerbau! Jangan lari kau!" teriak si berewok.
"Bangsat pencuri!" adiknya menimpali. "Sekali engkau lari ke ujung dunia akan kukejar dan kucincang!"
Sang ayah tak ketinggalan berteriak: "Petugas-petugas Kadipaten akan menangkap dan menghajarmu!"
Mereka ingin mengejar namun tak mampu bergerak. Akhirnya hanya bisa memaki-maki sementara Wiro sudah tak kelihatan lagi.

JAUH di sebelah timur tampak menjulang gunung Muryo. Dengan mempergunakan ilmu lari "kaki angin" pendekar itu lari kencang kejurusan itu. Tujuannya adalah Japara. Disitu dia akan mencari keterangan mengenai suatu tempat yang hendak didatanginya.
Sang surya mulai condong kebarat. Di depan sana terbentang daerah berbukit-bukit. Sebagaimana lazimnya keadaan alam, jika ada bukit-bukit maka di situ akan terdapat pula lembah-lembah.
Wiro berdiri di puncak sebuah bukit, memandang berkeliling. Lembah dan bukit di daerah itu tampak hijau subur, tetapi masih liar belum dibuka manusia. Sesaat kemudian, ketika dia siap untuk meneruskan perjalanan, mendadak langkahnya tertahan.
Jauh di bawah sana, di dasar salah satu lembah dilihatnya dua penunggang kuda tengah menggiring serombongan kerbau. Tak dapat dipastikan berapa jumlah binatang itu, namun Wiro yakin bahwa ternak tersebut pastilah kerbau curian, milik ke tiga beranak di kedai yang tadi menuduhnya sebagai pencuri.
Sesaat Wiro berpikir. Lalu tanpa tunggu lebih lama dia segera berlari menuruni bukit. Sesampainya di lembah diam-diam dia mengikuti kedua penggiring ternak itu. Mereka masih muda-muda. Seorang diantaranya berpakaian putih-putih, berambut gondrong dan memakai ikat kepala sapu tangan putih. Sepintas lalu ciri-cirinya memang sama dengan Wiro. Murid Sinto Gendeng ini merutuk dalam hati. Inilah pangkal Tidak salah kalau orang tua berambut putih itu menuduh bahwa dialah yang telah mencuri selusin kerbau mereka!
Walau yakin kedua pemuda itu pencuri, namun Wiro tidak segera turun tangan. Dia terus mengikuti perjalanan mereka dari balik semak belukar. Hal ini tidak sulit dilakukan. Walaupun menunggang kuda, tapi karena harus menggiring kerbau, dua pemuda itu terpaksa bergerak perlahan.
"Dimana kita akan istirahat?" tanya pemuda penunggang kuda berambut gondrong.
"Kita tidak akan istirahat Kunto. Jika kemalaman di jalan bisa berabe!"
Si gondrong yang bernama Kunto menyahuti: "Kau selalu kawatir kemalaman. Mengapa tidak lewat jalan umum saja? Dalam waktu dua jam kita akan sampai ke kota. Dan menikmati hasil penjualan kerbau-kerbau ini!"
Sang kawan tidak kelihatan senang. Dia berkata: "Kau masih terlalu hijau untuk jadi pencuri ternak. Lewat jalan umum memang lebih cepat tapi sama saja dengan menyerahkan batang lehermu pada petugas-petugas Kadipaten. Aku yakin pemilik ternak ini telah melapor ke Kadipaten!"
Kunto tertawa. “Ario, kaulah yang tolol. Apa kau tidak tahu kalau orang-orang Kadipaten hanya mau mendengar laporan dan minta uang pada si pelapor tapi tidak pernah melakukan sesuatu? Apalagi mengurusi kerbau. Kecuali jika pemilik kerbau itu menjanjikan separoh dari kerbaunya yang hilang akan diberikan pada mereka!”
“Ya, aku tahu hal itu,” jawab Ario. “Tapi aku tetap tak mau cari penyakit. Kalau tidak melapor ke Kadipaten bukan mustahil pemilik kerbau itu mengumpulkan orang sedesa dan mengejar kita. Sekali tertangkap kita akan mereka gebuk sampai lumat!”
Kunto terdiam sesaat. Lalu bertanya: “Kalau kau sudah takut begitu lalu bagaimana kita membawa ternak ini langsung ke kota dan menjualnya seolah-olah milik kita?”
“Aku tidak tolol dan tidak akan melakukan seperti itu. Ternak ini aku titipkan dulu di luar kota di tempat Sumengkar. Kita cari pembeli di kota, jika harga cocok baru di bawa ke tempat Sumengkar.”
“Susah-susah ke kota bagaimana kalau kerbau itu aku saja yang membeli?” tiba-tiba satu suara meimpal.
Tentu saja Kunto dan Ario kaget bukan main!
Keduanya sesaat saling pandang. Setan atau manusiakah yang barusan bicara? Keduanya lalu sama-sama berpaling ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Memandang berkeliling juga tak seorangpun kelihatan. Aneh. Jelas mereka mendengar suara, tapi dimana orangnya? Ario dan Kunto kembali saling pandang. Keduanya menunjukan wajah takut.
“Kudengar daerah sekitar sini banyak dedemitnya,” bisik Kunto seraya rapatkan kudanya ke kuda kawannya. “Jangan-jangan…”
“Mungkin kita cuma salah dengar,” sahut Ario. “Tiupan angin kadang-kadang seperti suara manusia. Apalagi kalau kita sedang melamun.”
“Kita tidak sedang melamun, Ario. Suara manusia mana bisa sama dengan suara desau angin. Kalau bukan suara manusia itu tadi, pasti suara setan. Mari kita bergerak lebih cepat!”
Kedua orang itu segera menghalau kerbau-kerbau di depan mereka.
“Hai! Tunggu dulu!” tiba-tiba suara tadi kembali terdengar. Lebih jelas dan lebih keras. “Kalian belum menjawab pertanyaanku!”
Kunto menggigil sekujur tubuhnya. Dia ingin menghambur duluan meninggalkan tempat itu. Ario pegang hulu goloknya. Dengan mata liar dia memandang berkeliling lalu membentak dengan suara bergetar: “Setan atau manusiakah yang bicara!? Harap tunjukan muka!”
Terdengar suara tawa bergelak. Tiba-tiba semak belukar di samping kiri jalan tersibak. Seorang pemuda berambut gondrong sambil cengar-cengir menyeruak keluar. Dia bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.
“Siapa kau?!” sentak Ario. Kunto segera lenyap rasa takutnya ketika dilihatnya yang muncul ternyata hanya manusia biasa dan sendirian pula.
“Aku manusia biasa, bukan setan bukan dedemit. Kalian belum jawab pertanyaanku. Mau jual kerbau-kerbau ini padaku?”
Dalam hati Ario membatin. Pemuda di depannya itu memperlihatkan tindak tanduk seperti orang kurang waras. Maka dia bertanya: “Kau bergurau atau bagaimana, sobat?!”
“Orang mau beli kerbau dibilang bergurau!” Wiro menggerutu.
“Kau punya uang untuk membeli ternak ini semua?!” Kunto ajukan pertanyaan.
Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan sebuah kantong kulit. Ketika digoyangnya kantong itu mengeluarkan suara berdering. Kunto dan Ario saling pandang. Kunto mendekati kawannya dan berbisik: “Jika bisa dibereskan disini kita tak usah susah-susah ke kota”
Ario mengangguk.
“Kalau kau punya tiga puluh ringgit perak, kau boleh ambil semua kerbau ini!” berkata Ario.
“Ah, itu terlalu mahal sobat,” kata Wiro Sableng. “Terlalu mahal untuk kerbau-kerbau kurus tak berdaging yang seperti binatang sakit ini. Apalagi kerbau curian pula!”
Paras Ario dan Kunto kontan berubah.
“Pemuda asing. Apa maksudmu mengatakan kerbau curian?” bentak Ario.
“Siapa mengatakan apa?” tanya Wiro.
Kunto jadi jengkel. “Barusan kau menuduh kami pencuri kerbau!”
“Aku tidak menuduh begitu. Aku cuma bilang kerbau ini kerbau curian…”
“Sudah! Tak usah bicara panjang lebar. Kalau kau sanggup bayar dua puluh ringgit perak kau boleh ambil kerbau-kerbau ini!”
“Itu juga masih keliwat mahal sobat,” kata Wiro sambil timang-timang uang di dalam kantong.
“Lalu kau mau bayar berapa?!” bentak Ario.
“Setengah ringgit perak kurasa sudah cukup pantas untuk selusin kerbau ini!”
“Kurang ajar! Kau hendak mempermainkan kami! Bajingan tengik!” Kunto menarik tali kekang kudanya hingga binatang ini melompat kehadapan Wiro.
“Siapa yang kurang ajar? Siapa yang bajingan tengik? Siapa pula yang main-main?” tukar Wiro. Dari dalam kantong kulit di keluarkannya sebuah mata uang perak. Dengan kedua tangannya enak saja dia mematahkan uang perak itu hingga terbelah dua. Tentu saja ini membuat Ario dan Kunto terkejut. Karena mematahkan uang perak dengan tangan biasa merupakan suatu hal yang mustahil.
Ario jadi curiga. Jika pemuda asing yang seperti kurang waras ini memiliki kepandaian tinggi, bukan tak mungkin dia adalah seorang jagoan dari Kadipaten yang sengaja menyamar untuk membuntuti mereka.
“Orang muda, apakah kau petugas Kadipaten? Atau dari Kotaraja?” tanya Ario.
Wiro Sableng tertawa dan garuk-garuk kepalanya.
“Aku bukan petugas Kadipaten. Apalagi Kotaraja. Aku datang kemari untuk membeli kerbau kalian. Nah ini uangnya setengah ringgit. Terimalah!”
Wiro lalu lemparkan potongan uang yang tadi di belahnya ke arah Kunto. Lemparan itu kelihatannya biasa-biasa saja, perlahan. Tetapi begitu mengenai dada Kunto langsung lelaki ini menjerit kesakitan. Kesakitan dan marah Kunto segera hendak cabut goloknya. Tapi heran! Celaka! Dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Juga bagian-bagian tubuhnya yang lain. Sekujurnya badannya kaku tegang! Masih untung dia bisa membuka mulut dan berteriak: “Ario! Bangsat ini menotokku!”
Kagetlah Ario. Tanpa menunggu lebih lama dia segera mencabut goloknya dan membabatkan senjata ini ke kepala Pendekar 212 Wiro Sableng.
“Bajingan tengik! Kau betul-betul ingin mampus!”
“Puah! Kalianlah yang perlu di hajar!” damprat Wiro.
Dia menunduk. Golok Ario berkelebat di atas kepalanya. Sesaat kemudian Ario terdengar menjerit dan seperti Kunto tubuhnyapun kini kaku kejang dihantam totokan. Tanpa perdulikan jeritan dan caci maki kedua orang itu Wiro membelintangkan Keduanya diatas kuda milik Kunto. Dia sendiri lalu naik ke atas kuda Ario lalu menggiring kedua pencuri itu bersama selusin kerbau menuju kampung dimana Kunto dan Ario telah mencuri binatang-binatang tersebut.
Hari telah malam ketika Wiro sampai di kedai di mulut jalan itu. Tapi di dalam kedai orang banyak masih berkumpul menyaksikan pemilik kerbau dan kedua anaknya yang masih berdiri tegak dalam keadaan kaku. Tak ada satu orangpun yang tahu bagaimana caranya melepaskan totokan mereka. Banyak yang mencoba dengan jalan mengurut-urut atau memukul-mukul, tetapi sia-sia. Akhirnya semua orang hanya bisa melihat saja tanpa bisa berbuat sesuatu. Dalam keadaan itulah Wiro muncul dan masuk kembali kedalam kedai. Serta merta banyak orang menyingkir. Bukan saja mereka merasa takut terhadap pemuda ini, tetapi juga kaget melihat dua sosok tubuh yang dilemparkan Wiro ke lantai kedai. Apa pula yang telah terjadi, pikir semua orang.
Orang tua berambut kelabu membuka mulut siap untuk memaki. Tapi Wiro cepat menutup mulutnya dengan tangan kiri sementara dua anaknya memandang dengan mata melotot, beringas tetapi tak berani keluarkan suara. Kalau saja Keduanya tidak dalam keadaan tertotok, pastilah keduanya sudah menyerang Wiro.
“Orang tua,” kata Wiro pula. “Kau lihat pemuda gondrong yang menggeletak di depan kakimu itu? Selintas tampang dan perawakannya mirip aku, bukan?”
Si rambut kelabu sejenak memandang pemuda yang terbujur di lantai dalam keadaan tertotok itu. “Apa maksudmu? Siapa mereka?” tanya orang ini begitu Wiro lepaskan tekapannya dari mulut lelaki itu.
“Merekalah yang mencuri kerbaumu. Yang gondrong itu bernama Ario. Temannya Kunto. Kerbau-kerbaumu ada di luar kedai!”
“Kurang ajar! Jadi!”
“Jadi ya jadi!” kata Wiro sambil senyum-senyum. “Sekarang kalian baru percaya kalau aku bukan pencuri. Nah kalian mau berbuat apa terhadap mereka. Mau ke Kadipaten memang itu baiknya. Mau di gebuk lebih dulu asal tidak sampai mampus, aku tak mau ikut campur!”
Habis berkata begitu Wiro lantas lepaskan totokan pada tubuh orang tua itu dan kedua anaknya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia berkelebat ke pintu.
“Hai, tunggu dulu!” seru orang tua pemilik kerbau. Dia dan kedua anaknya mengejar ke pintu. Namun sampai di luar dia hanya melihat kegelapan. Selusin kerbau mereka berkeliaran di halaman kedai.


2

KIRA-KIRA setengah hari perjalanan dari gunung Muryo di sebelah tenggara terdapat sebuah bukit kecil yang amat rimbun di tumbuhi semak belukar dan pepohonan liar. Menurut penduduk yang tinggal jauh dari situ, konon tak pernah seorang manusiapun sejak tiga puluh tahun silam berani berada dekat bukit itu. Apalagi coba mendatanginya. Pohon-pohon jati yang tumbuh disitu amat bagus jenisnya. Namun tak seorangpun penebang kayu yang mau datang kesitu untuk menebangnya. Kenapa sampai terjadi demikian tentu ada sebab-musababnya.
Menurut orang-orang tua yang tahu kisahnya, sebelum tiga puluh tahun yang lalu, bukit itu seperti bukit-bukit lainnya di sekitar situ banyak di datangi orang. Kemudian terbetik berita bahwa setiap orang yang berani datang ke bukit itu pasti tak akan kembali lagi. Entah hilang kesasar entah mati. Yang jelas orang atau mayatnya tak pernah di temui kembali.
Selama bertahun-tahun terjadi hal semacam itu hingga penduduk takut. Bukit itu di anggap angker. Tak seorangpun lagi berani datang dekat-dekat ke situ. Dan entah siapa yang mulai menamakannya, bukit satu itu lalu diberi nama Bukit Hantu!
Pada malam-malam tertentu, terutama ketika sedang gelap bulan, dari puncak bukit terdengar suara pekik jerit aneh mengerikan. Sekali-sekali suara jeritan itu diseling oleh lolongan anjing. Karena diketahui tak seorangpun diam di bukit itu.
Namun hari itu terjadi satu kelainan yang bisa di katakan satu keluar biasaan. Sewaktu awan kelabu bergerak dan berarak dari arah tenggara, seorang penunggang kuda berpakaian mewah tampak memacu kuda tunggangannya menuju Bukit Hantu. Apakah dia seorang asing yang tidak tahu angker dan bahayanya memasuki daerah itu? Tetapi dari gerak-gerik dan caranya orang ini menunggangi kuda menempuh jalan agaknya dia mengetahui betul seluk beluk daerah tersebut. Sekurang-kurangnya pernah mendatangi tempat itu sebelumnya.
Di pertengahan lereng Bukit hantu, orang ini hentikan kudanya. Sesaat dia memandang berkeliling, lalu mengelus tengkuk kudanya sambil bergerak turun.
“Kembalilah pulang. Cukup kau mengantarkan aku sampai di sini…”
Sang kuda, yang sejak tadi dari kaki bukit menunjukan sikap aneh, tiba-tiba menaikkan kedua kakinya tinggi-tinggi dan meringkik keras, lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan tuannya.
Orang berpakaian bagus dan mahal itu menghela nafas dalam. Paling tidak usianya sudah mencapai lima puluh tahun. Meskipun tampangnya sudah mulai keriputan tapi juga membayangkan sifat keras dan buas!
Tak lama sesudah kudanya pergi, orang ini melanjutkan perjalannnya menuju puncak bukit dengan jalan kaki. Kira-kira sepeminuman teh lagi dia akan sampai ke puncak Bukit Hantu, jalan yang di tempuhnya mulai tidak sesukar sebelumnya. Semak belukar hampir tak ada sama sekali seperti pernah di tebang dan di rapikan orang. Bahkan di hadapannya kini muncul satu jalan kecil dan rata menuju ke puncak. Dimulut jalan kecil mendadak sontak sepasang kaki orang ini berhenti melangkah dan laksana dipakukan ketanah!
Dia sudah mendengar seribu satu macam kangkeran yang ada di bukit itu. Tapi adalah tidak menduga sama sekali kalau apa yang di saksikannya di hadapannya saat itu benar-benar akan membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin! Tiga puluh tahun yang silam, selagi dia masih seorang pemuda, pemandangan itu belum ada. Pastilah apa yang kini dilihatnya berasal dari puluhan manusia yang pernah dikabarkan hilang di Bukit Hantu!
Berdiri disitu maulah laki-laki ini membalikkan tubuh dan lari meninggalkan bukit tersebut. Namun sesuai dengan ketentuan, hari itu adalah “Hari Perjanjian”. Dia harus datang sesuai dengan sumpahnya. Kalau dia mungkin, makhluk aneh mengerikan, yang selalu mendatanginya setiap malam Jum’at akan datang lagi kepadanya dan sekali ini untuk mencekiknya sampai mati, mencopot kepalanya!
Agaknya tak ada jalan kembali. Memutar haluan berarti mati secara mengerikan.
Sekilas tebayang olehnya istri serta keempat orang anak yang disayanginya. Dia akan meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya demi memenuhi sumpah tiga puluh tahun yang lewat. Tapi tak apa. Dia coba menghibur diri. Toh istri dan anak-anaknya kini hidup bahagia dalam sebuah rumah besar dan mewah, harta berlimpah, sawah lading luas, ternak berkandang-kandang. Semua kekayaan itu tak akan habis sampai tujuh turunan.
Dikatupkannya mulut rapat-rapat. Dengan menetapkan hati serta pikiran dan melangkah maju kembali. Jalan kecil di hadapannya tampak memutih. Putih oleh tulang belulang manusia beraneka bentuk. Dan di atas jalan tulang belulang inilah kakinya melangkah. Kedua tepi jalan kecil itu dibatasi dengan puluhan tengkorak kepala manusia. Tubuhnya terasa bergetar. Dia terus melangkah. Perutnya terasa mual. Akhirnya dia sampai di ujung jalan. Dihadapannya tegak kini sebuah bangunan kecil yang keseluruhannya terbuat dari tulang belulang manusia. Berapa puluh atau berapa ratus manusiakah yang telah jadi korban di atas bukit ini? Dari sela-sela dinding tulang kelihatan merambas asap aneka warna. Hidungnya dilanda oleh bau aneh. Bau harum aneh yang menggidikkan karena berbaur jadi satu dengan bau anyir busuk!
Bangunan kecil itu mempunyai sebuah pintu yang tidak tertutup. Dari tempatnya berdiri, lelaki tadi dapat melihat kedalam. Di dalam bangunan tulang ini tampak duduk seorang lelaki kurus bermuka dahsyat. Jika dia masih benar seorang manusia maka wajahnya adalah sepuluh kali lebih mengerikan dari wajah setan! Manusia ini memiliki rambut putih panjang yang menutupi Sebagian wajahnya. Di belakang tikar kecil dimana manusia ini duduk terdapat lima buah belanga. Di dalam belanga ada cairan masing-masing berwarna hitam, merah, biru, ungu dan hijau. Dari setiap belanga mengepul asap yang warnannya sesuai dengan cairan di dalamnya.
Orang itu menggerakkan kepalanya. Rambut putih yang menutupi sebagian wajahnya tersibak. Kini kelihatanlah keseluruhan wajahnya yang mengerikan itu.
Lelaki di ambang pintu serasa terbang semangatnya sewaktu si muka setan tiba-tiba mengeluarkan suara seperti lolongan srigala di malam buta. Begitu kerasnya lolongan itu hingga bangunan tulang belulang serta tanah yang di pijak terasa bergetar. Anehnya mulut si muka setan sedikitpun tak kelihatan membuka!
Sesaat kemudian terdengar suaranya: “Bagus! Kau datang tepat pada waktunya Sonya! Sebelum kau melangkah ke hadapanku, sebelum kau memasuki bangunan ini, tanggalkan dulu pakaian bagusmu dan pakai ini!” Ternyata suara si muka setan halus seperti perempuan, hanya saja mengandung pengaruh yang hebat luar biasa. Dari balik pakaiannya yang seperti jubah berwarna hitam di keluarkannya satu stel pakaian butut penuh tambalan dan bau apek. Pakaian itu dilemparkannya kehadapan orang di ambang pintu yang dipanggilnya dengan nama Sonya.
Setelah lebih dulu menjura, Sonya mengambil pakaian butut bau itu. Dibukanya pakaian yang dikenakannya, dilemparkannya jauh-jauh lalu dikenakannya pakaian yang diberikan si muka setan. Setelah berganti pakaian diapun masuk ke dalam bangunan tulang.
“Duduk!”
Si muka setan tudingkan jarinya yang kurus dan berkuku panjang. Sonya lalu duduk di hadapannya.
“Ceritakan dengan singkat garis kehidupanmu sejak tiga puluh tahun silam kau meninggalkan bukit ini!” kata si muka setan pula.
Sonya menelan ludahnya baru menjawab: “Berkat ilmu yang Datuk ajarkan aku telah menjadi kaya raya. Aku kawin dan punya empat orang anak.”
“Kau senang? Bahagia…?”
Sonya mengangguk.
“Pada detik kau duduk di hadapanku ini, kau telah dan harus meninggalkan kesenangan dan kebahagiaan itu!”
“Aku tahu Datuk,” jawab Sonya.
“Kau bakal dapat kebahagiaan lain! Asal saja kau tempuh cara hidup seperti yang kututurkan tiga puluh tahun yang lewat!”
“Aku akan tempuh Datuk.”
“Lengkap dengan syarat utamannya!”
“Lengkap dengan syarat utamannya, “ mengulang Sonya.
“Bagus. Sekarang coba kau katakan syarat utama itu!”
“Syarat utama itu ialah setiap permulaan tahun baru aku harus membunuh anakku yang paling kecil dan melemparkannya ke dalam laut.” Suara Sonya bergetar.
“Bagus! Ternyata kau betul-betul masih ingat syarat utama itu!” kata sang Datuk pula. Lalu dari mulutnya keluar suara tawa aneh menggidikkan. Kemudian sambil menuding ke belakang dia bertanya: “Adakah kau melihat lima buah belanga itu?”
“Ada Datuk.”
“Berdirilah!”
Sonya berdiri.
“Di dalam belanga itu terdapat cairan berlainan warna. Masing-masing cairan harus kau minum sebanyak tiga teguk. Sebagian sisanya diguyurkan ke kepala dan badanmu. Segera mulai dengan belanga di ujung kiri!”
Sonya melangkah mendekati belanga di ujung kiri. Di situ terdapat cairan berwarna merah pekat, kental dan mengepulkan asap. Sesuai dengan perintah sang Datuk muka setan maka diminumnya cairan itu sebanyak tiga teguk. Belum lagi minum, baru mencium bau cairan, Perutnya sudah terasa mual dan tenggorokannya mau muntah.
“Kau ragu Sonya?!” suara sang Datuk bernada menegur dan mengancam Sonya segera meneguk cairan busuk itu tiga teguk. Lalu menyiram kepala dan badannya dengan cairan yang sama. Kemudian dia mendekati belanga kedua dan seterusnya.
“Sudah Datuk,” suara Sonya seperti tercekik.
“Bagus. Sekarang duduk di hadapanku!”
Dengan sekujur kepala serta pakaian basah kuyup dan berbau busuk, Sonya duduk kembali di hadapan si muka setan.
“Pejamkan matamu Sonya!”
Sonya Menurut dan pejamkan matanya.
“Sekarang buka!”
Sonya buka kedua matanya. Pandangan matanya kini membersit aneh. Liar menyeramkan. Bagian mata yang tadi putih kini kelihatan merah.
“Bagaimana perasaanmu?” bertanya Datuk.
“Tubuhku terasa hangat. Sangat ringan. Di samping itu ada perasaan aneh, yang aku tidak tahu, menyelimuti diriku…”
“Itu bukan perasaan aneh. Kau harus dapat menerangkannya. Ayo!”
Sonya berpikir kemudian menjawab. “Betul. Bukan perasaan aneh. Perasaan itu adalah nafsu. Nafsu untuk membunuh. Nafsu untuk ingin melihat kematian manusia lain secara mengerikan!”
Orang tua berambut putih panjang bermuka setan tertawa panjang. “Bukan hanya nafsu untuk membunuh Sonya! Bukan hanya hasrat untuk melihat kematian yang menyeramkan. Tapi ada lagi satu nafsu kini mendekam dalam tubuhmu. Nafsu kotor!”
Sonya mengangguk aneh.
“Ya. Nafsu kotor,” katanya mengulang. “Nafsu terhadap perempuan,” sambungnya dengan suara berdesis.
Kembali sang Datuk keluarkan suara tertawa panjang.
“Bila kau sudah meninggalkan tempat ini, kau harus hidup menurut kehendak hatimu Sonya. Menurut nafsu yang kini tertanam dalam dirimu! Kau boleh membunuh semaumu. Kau boleh mengumbar nafsumu terhadap perempuan mana saja yang kau inginkan! Tentunya kau pilih yang cantik-cantik bukan Sonya? Tak perduli anak atau istri orang. Apalagi janda…hik…hik…hik!”
Sonya hanya bisa mengangguk.
“Sebelum pergi kau harus tinggal disini selama satu minggu. Sesudah itu baru kau boleh pergi. Dengar Sonya?”
“Tentu Datuk.”
“Kelak jika ilmu itu telah kau kuasai, dunia luar akan menjadi geger! Dan tak satu tokoh silat atau orang saktipun di dunia luar yang dapat mengalahkanmu! Itulah kehebatan ilmu siluman cipataanku!” Sang Datuk tertawa lagi panjang dan lama.
Sonya ikut tertawa.
Tiba-tiba sang Datuk hentikan tawanya dan berdiri.
“Kau akan tinggal selama tujuh hari disini. Selama tujuh hari kau akan tidur bersamaku, melayaniku sambil aku mengajarkan ilmu padamu. Kau dengar dan mengerti Sonya?”
“Dengar Datuk, tapi kurang mengerti…”
Sang Datuk menyeringai dan tertawa kembali. Tiba-tiba dia buka jubah hitamnya dan kini dia tegak berdiri dihadapan Sonya dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali!
Sonya terbeliak kaget. Dari sosok tubuh telanjang yang berdiri di hadapannya itu tidak disangkanya kalau sang Datuk ternyata adalah seorang perempuan!
“Datuk, jadi kau…”
“Hik…hik…hik. Aku memang seorang perempuan Sonya. Kau kecewa tubuhku tidak sebagus tubuh perempuan muda…?!”
“Ti…tidak Datuk,” sahut Sonya. Walau yang dilihatnya memang hanya tubuh tinggal kulit pembalut tulang. Perut dan dada keriput.
“Sekarang kau harus lebih dulu melayaniku Sonya…”
Meski tubuh itu jelek luar biasa, tapi nafsu aneh mendekam dalam dirinya telah membakar birahi Sonya. Dia mengangguk dan melangkah mendekat. Lalu seperti seekor singa lapar dirangkulnya tubuh sang Datuk. Keduanya segera saja berguling di lantai!

PAGI hari kedelapan. Sonya duduk di hadapan sang Datuk muka setan.
“Semua ilmu baru cipataanku telah kau kuasai Sonya. Sebelum kau meninggalkan tempat ini akan kutegaskan lagi Beberapa hal kepadamu. Pertama begitu turun dari bukit ini kau harus pergi ke TELUK GONGGO di pantai utara. Aku telah membangun sebuah tempat di sana yang dapat kau tinggali sebagai istana. Dari luar pintu bangunan itu hanya merupakan sebuah goa buruk, mudah saja mencarinya.
Hal kedua yang akan kuberitahukan ialah selama dunia terkembang kau tak bakal mengalami kematian. Kecuali jika terjadi dua hal. Pertama Kau tak boleh kena air hujan. Jika itu sampai terjadi ilmu siluman yang kau miliki akan luntur dan seseorang dengan mudah bakal dapat membunuhmu! Pantangan kedua yang bisa menyebabkan kematianmu ialah binatang itu…”
Datuk muka setan mendongak ke atas langit-langit bangunan. Di sana di dalam sebuah sangkar yang terbuat dari tulang-tulang iga manusia tampak seekor burung nuri merah.
“Nyawamu adalah juga nyawanya Sonya. Dengan kata lain kau baru bisa mati kalau seseorang membunuh burung itu!”
“Bagaimana kalau binatang itu sewaktu-waktu sakit dan mati. Apakah aku juga akan mati Datuk?”
“Tidak, kau tidak akan mati. Cuma mampus! Karenanya kau harus rawat dia baik-baik!” kata Datuk sambil tertawa gelak-gelak. “Dan jangan lupa syarat utama tempo hari. Kau tidak diperkenankan menjenguk anak istrimu; Pada hari Pertama pergantian tahun kau baru boleh mendatangi mereka, tapi hanya untuk membunuh anakmu yang paling kecil! Tahun berikutnya anakmu yang paling muda, begitu seterusnya. Jika keempat anakmu sudah habis maka kau harus mencari anak orang lain tapi yang berusia tidak boleh lebih dari tiga tahun!”
Sonya mengangguk tanda mengerti.
“Jika kau lalai melaksanakan syarat itu maka siluman peliharaanku akan mendatangimu. Menyiksamu selama tujuh tahun sebelum menamatkan riwayatmu!” Sang Datuk lalu mengambil burung Nuri dalam sangkar dan menyerahkannya pada Sonya. “Bawa ini dan simpan di istanamu di Teluk Gonggo. Sebelum kau pergi ada satu hal yang akan terjadi Sonya.”
“Hal apakah Datuk?” tanya Sonya sambil mengambil burung Nuri.
“Nanti kau akan lihat sendiri. Jika hal itu sudah terjadi kau bakarlah bangunan ini dengan segala apa yang ada di dalamnya! Dengan segala apa yang ada di dalamnya! Ingat itu baik-baik!”
Selesai berkata begitu Datuk muka setan menyeringai aneh. “Kau puas melayaniku selama satu minggu Sonya?”
“Puas Datuk.” Diam-diam Sonya menduga sang Datuk akan menyuruhnya lagi melayani nafsu gilanya. Sang Datuk melolong panjang.
“Bagus. Kalau begitu aku akan mati dengan perasaan tenang!” Selesai berkata begitu sang Datuk hantamkan tinju kanannya ke kepalanya sendiri!
Prak!
Tak ampun lagi kepala itu pun pecah. Darah dan otak berhamburan. Tubuhnya terguling tanpa nyawa. Sonya kaget bukan main. Tubuhnya bergetar dan dari sela bibirnya tiba-tiba melesit suara tertawa aneh disusul suara lolongan seperti srigala. Dia tertawa menyaksikan kematian menyeramkan gurunya sendiri!
Sesuai dengan pesan sang guru, semua yang ada di dalam bangunan harus di musnahkan!

—-


3

BUKIT HANTU……..?” kata orang kedai sambil memandang tamunya yang duduk mengunyah nasi di hadapannya.
Wiro mengangguk.
“Orang muda, rupanya kau belum pernah mendengar berita atau cerita tentang bukit itu hingga menanyakan jalan terdekat menuju ke situ!”
“Banyak sekali yang kudengar pak.”
“Kalau begitu pikiranmu kurang sehat. Selama ini tak seorangpun berani dekat-dekat kesana, apalagi bermaksud mengunjunginya. Siapa yang berani mendekati bukit itu tak pernah kembali. Jangankan kau yang punya satu nyawa, sekalipun kau punya tiga nyawa pasti ketiga nyawamu bakal melayang!”
“Sudahlah pak, kalau kau tak keberatan tunjukan saja arahnya. Soal mati biar aku yang tanggung akibatnya.”
Pemilik kedai angkat bau. Dia menunjuk lewat pintu kedai. “Lihat gunung itu?”
Wiro manggut.
“Itu gunung Muryo. Pergilah ke arah tenggara. Di sana akan kau temui daerah berbukit-bukit. Bukit paling tinggi itulah Bukit Hantu!”
Selesai makan, Wiro membayar apa-apa yang dipesannya lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu diikuti pandangan pemilik kedai. “Masih ada saja orang yang mencari mati di dunia ini!” gumamnya.
Dengan mengandalkan ilmu larinya, tak lama Setelah matahari pagi naik, Pendekar 212 Wiro Sableng sudah sampai di puncak Bukit Hantu. Ternyata dia terlambat. Hanya sepenanakan nasi sebelumnya Sonya meninggalkan tempat itu. Yang ditemuinya hanyalah tumpukan tulang belulang yang menghitam jadi arang. Ketika diperhatikannya lebih teliti, dibawah tumpukan tulang belulang putih itu dilihatnya sesosok tubuh manusia yang telah gosong. Dengan sebatang cabang kayu kecil disibakannya tulang-tulang itu.
“Pasti ini si keparat Datuk Siluman,” kata Wiro dalam hati. “Sialan. Aku terlambat. Seseorang telah duluan membunuhnya!” Meskipun bukan dia yang turun tangan namun murid Eyang Sinto Gendeng ini merasa lega juga karena manusia penimbul malapetaka besar bagi dunia persilatan telah tamat riwayatnya.
Karena tak ada hal lain yang akan dilakukannya maka Wiro segera meninggalkan Bukit Hantu sambil bersiul-siul. Jalan yang ditempuhnya justru yang sebelumnya juga ditempuh oleh Sonya!
Satu bulan yang lalu, beberapa tokoh silat di wilayah timur telah meminta bantuan Pendekar 212 untuk memusnahkan Datuk Siluman yang bercokol di Bukit Hantu. Hidup matinya manusia jahat ini amat menentukan ketentraman dunia persilatan. Bukan rahasia lagi bahwa diketahui Datuk Siluman itu telah menciptakan suatu ilmu hitam yang amat hebat, dan kelak akan menimbulkan malapetaka dahsyat bilamana tidak segera dicegah. Nyatanya kini Datuk golongan hitam itu telah menemui ajalnya. Seseorang telah menghancurkan batok kepalanya lalu membakar sang Datuk bersama tempat kediamannya. Siapakah yang telah melakukan hal itu? Jago atau tokoh silat dari mana? Tentu saja Wiro tidak mengetahui kalau Datuk Siluman sengaja bunuh diri setelah lebih dulu mewariskan semua ilmu hitam yang dimilikinya kepada murid tunggalnya yang cuma di gembleng selama satu minggu yaitu Sonya.
Kita tanggalkan dulu perjalanan Wiro dan mengikuti perjalanan Sonya. Saat itu dia tengah menuju ke pantai utara, yaitu sesuai dengan perintah gurunya. Dia berada sekitar dua jam perjalanan di depan Wiro. Menjelang tengah hari Sonya sampai di tepi sebuah telaga berair jernih. Dia berhenti di situ dan duduk di bawah pohon yang rindang. Burung Nuri dalam sangkar tulang yang jadi pautan nyawanya di letakan di tanah dijaganya hati-hati.
Udara yang panas seperti saat itu membuat dia ingin turun ke telaga dan mandi. Tapi dia khawatir kalau-kalau disekitar situ ada binatang buas yang selagi dia mandi menyergap burung Nurinya. Sekali burung itu disergap binatang buas maka putus pulalah nyawanya!
Setelah hilang letihnya, Sonya bersiap meninggalkan tepian telaga. Pada saat itulah lapat-lapat didengarnya suara rentak kaki kuda dan gemeletak roda-roda kereta. Sonya menyelinap dan bersembunyi ke balik pohon besar. Tak lama kemudian kelihatanlah serombongan penunggang kuda mengawal sebuah kereta barang. Begitu melihat telaga berair jernih dan sejuk, lelaki gemuk berpakaian bagus yang duduk di samping kusir kereta berseru: “Kita istirahat dulu di sini!”
Maka rombonganpun berhentilah.
Lelaki gemuk berpakaian bagus itu adalah seorang saudagar kayu yang tengah membawa barang dagangannya menuju Jepara. Namanya Raden Mas Kuncoro. Bersamanya ikut lima orang pengawal yang dipimpin oleh Rah Brojo, seorang jago silat berkepandaian tinggi. Memang meskipun masa itu daerah Jawa Tengah cukup aman, tetapi saudagar seperti Raden Mas Kuncoro mana berani mengangkut barang tanpa pengawal. Sudah lazim para pedagang menyewa pengawal-pengawal berkepandaian tinggi demi keselamatan harta dan nyawa selama perjalanan.
Sang saudagar turun dari kereta. Setelah meneguk air sejuk dari dalam sebuah kantong kulit yang dibawanya, diapun melangkah ke tepi telaga guna mencuci muka serta kakinya. Saat itulah pandangannya menangkap sosok tubuh Sonya yang berdiri di balik pohon besar sambil memegangi sebuah sangkar aneh berisi Nuri merah.
Raden Mas Kuncoro adalah seorang saudagar yang gemar memelihara burung. Di tempat kediamannya sengaja dia membangun sebuah bangunan besar dimana dipeliharanya puluhan jenis burung yang bagus-bagus. Melihat Sonya berdiri memegangi burung Nuri tertariklah hatinya. Dia seperti tidak melihat kelainan pada tampang dan pakaian Sonya. Pikirannya hanya tertuju pada burung dalam sangkar tulang. Sementara rombongan duduk di tepi telaga sebelah lain, Kuncoro melangkah mendatangi Sonya.
“Burung Nuri itu bagus sekali,” Raden Mas Kuncoro menyapa. Sambil tersenyum.
Sonya diam saja.
“Burungmu?”
“Ya, Kenapa?” Sonya balik bertanya.
“Bagus sekali. Bagus sekali. Belum pernah aku melihat Nuri seperti satu ini.” Saudagar itu membungkuk agar dapat melihat binatang itu lebih jelas. “Sangkarnya Kenapa aneh begini?”
“Bagiku tidak aneh,” sahut Sonya kaku.
Kuncoro mengangkut kepalanya. Sikap pemilik burung itu dianggapnya tidak ramah. Membuatnya tidak enak. Ketika diperhatikannya tampang Sonya hatinya tambah tidak enak. Ada rasa ngeri melihat wajah manusia itu. Lalu pakaiannya yang kotor penuh tambalan dan bau busuk yang membersit dari tubuh orang itu.
“Dengar saudara,” kata Kuncoro. “Aku seorang penggemar burung. Kau mau menjual Nuri ini?”
Sonya seperti kaget. Tetapi sesaat kemudian dia tersenyum. Senyum aneh di mata sang saudagar.
“Katakan saja harganya pasti kubayar,” kata Raden Mas Kuncoro seraya meraba sabuk uang di pinggangnya.
“Burung ini tak kujual,” kata Sonya tandas.
“Sepuluh ringgit emas!” kata Raden Mas Koncoro tak tanggung-tanggung. Sepuluh ringgit emas adalah harga gila dan amat mahal untuk seekor burung meskipun sebagus Nuri itu. Tapi bagi seseorang yang senang akan suatu benda harga bukan menjadi persoalan. Apalagi bagi seorang seperti saudagar itu. Sepuluh ringgit emas bukan apa-apa baginya. Dengan tenang Kuncoro keluarkan sabuk uangnya.
Sonya pencongkan mulut dan berkata: “Lima puluh ringgit emas pun burung ini tak akan kujual!”
Saudagar itu terkesiap sejenak. Dia berpikir-pikir. Lalu sambil tersenyum dia berkata: “Begini saja saudara, kau ikut kerumahku. Di sana kau boleh pilih tiga ekor Nuri yang sama seperti ini. Kemudian kutambah dua puluh ringgit emas dan serahkan Nuri itu padaku!” Sang saudagar merasa pasti kali ini Sonya akan menyetujui. Tapi jawaban Sonya membuat dia terkejut.
“Sekali aku bilang burung ini tidak dijual, tetap tak akan kujual. Kau tidak tuli bukan?!”
“Tiga burung Nuri ditambah tiga puluh ringgit emas!” kata Raden Mas Kuncoro sambil mengangkat kedua tangannya.
“Sekalipun nyawamu nanti kau berikan padaku burung ini tak akan kujual!” sahut Sonya dan memutar tubuh meninggalkan tempat itu. Kuncoro memegang bahunya.
“Tawaranku masih belum selesai. Aku bisa menaikkannya lagi. Berapa kau suka, saudara? Kau jangan main-main….”
Sonya hentikan langkahnya, berpaling menghadapi Kuncoro. Sepasang matanya membersitkan sinar aneh. Sinar menggidikkan.
“Siapa bilang aku main-main. Aku akan buktikan bahwa aku tidak main-main. Nah mampuslah!”
Sonya mengangkat tangan kanannya. Lima jari tangan kanannya yang berkuku panjang terpentang mengerikan. Lalu terdengar pekik Raden Mas Kuncoro. Tubuhnya roboh ditepi telaga. Mukanya hancur mengerikan. Hampir tak dapat dikenali lagi. Hidungnya tanggal dan mulutnya robek. Itulah keganasan “Cakar Siluman”, ilmu yang telah dipergunakan Sonya untuk menamatkan sang saudagar hanya dengan sekali gerakan saja!
Mendengar jeritan Kuncoro dan melihat sosok tubuh saudagar itu roboh ke tanah, lima pengawal tersentak kaget dan melompat mendatangi. Rah Brojo paling depan. Matanya membeliak melihat kematian sang saudagar.
Suaranya bergetar, rahangnya menggembung. “Orang asing! Pasal apakah maka kau sampai membunuhnya begini keji?!”
“Tak ada pasal tak ada lantaran!” jawab Sonya.
“Kenapa kau lalu membunuhnya?”
“Karena aku ingin membunuhnya. Habis perkara!”
“Kalau begitu kau adalah iblis edan yang harus dihajar!”
Rah Brojo hantamkan satu jotosan ke dada Sonya. Gerakannya cepat dan keras. Yang di serang tertawa aneh. Sinar mengerikan kembali membersit di kedua matanya. Dia berkelit mengelakkan jotosan lawan. Di lain kejap sambil dibarengi teriakan “Mampuslah!”, tangan kanannya kirimkan cakaran ke muka kepala pengawal itu.
Sebagai kepala pengawal kereta dagang Rah Brojo memiliki ilmu silat tinggi ditambah segudang pengalaman. Cepat-cepat dia menghindar ke samping. Cakaran lawan berhasil dielakkannya. Tapi kelima jari tangan itu tiba-tiba saja membalik cepat dan memburu ke mukanya. Kali ini Rah Brojo tak sanggup lagi berkelit. Jeritannya yang terdengar. Tubuhnya terhempas ke tanah. Dia mati dengan muka rusak mengerikan seperti yang barusan dialami Raden Mas Kuncoro.
“Manusia biadab! Bersiaplah untuk mati!” teriak seorang pengawal kereta. Bersama tiga kawannya, dengan bersenjatakan golok dan dibantu pula oleh kusir kereta yang memegang sepotong besi panjang , mereka serentak mengurung dan menyerbu Sonya!
Dikeroyok lima begitu rupa Sonya menunggu dengan keluarkan suara aneh. Dengan tangan kiri masih tetap memegang sangkar tulang, lelaki ini berkelebat. Kelima penyerangnya terkesiap ketika mendapatkan orang yang menjadi sasaran lenyap dari hadapan mereka. Senjata masing-masing malah ada yang saling beradu satu sama lain. Belum habis rasa kaget mereka tiba-tiba terdengar bentakan:
“Mampuslah!”
Setelah itu suara pekik terdengar susul-menyusul. Empat pengawal tersungkur di tanah dengan muka hancur mengerikan. Satu-satunya yang masih hidup yakin kusir kereta, yang lumer nyalinya, tanpa tunggu lebih lama segera putar badan ambil langkah seribu. Tapi nasibnya cuma tertunda tiga langkah. Pada langkah ke empat lima jari tangan dengan ganas berkelebat di depannya. Untuk kesekian kalinya lima jari siluman meminta korban!
Sonya membersihkan tangannya yang penuh darah. Lalu dia menggeledah pakaian para korban. Setiap uang dan benda berharga yang ditemuinya diambilnya. Jumlah terbanyak yang didapatnya adalah dari tubuh Raden Mas Kuncoro.
Pendekar 212 Wiro Sableng yang sampai di tempat itu dua jam kemudian merasa heran menemukan beberapa ekor kuda dan kereta tanpa kelihatan seorang manusiapun. Namun keheranannya itu berubah menjadi rasa terkejut sewaktu menemui tujuh mayat yang bergelimpangan di tepi telaga. Semuanya mati dengan muka hancur mengerikan!
Murid Sinto Gendeng ini mengrenyit, geleng-geleng kepala dan garuk rambutnya.
Apa yang sebenarnya telah terjadi di sini? Rombongan itu di serang rampok? Lalu mengapa kereta barang tidak di ganggu?
“Gila!” maki Wiro dalam hati.
Setelah mengurus jenazah itu sebisa yang dilakukannya dia lalu lanjutkan perjalanan.

—-

4

Sonya sengaja menempuh hutan belantara agar lebih cepat sampai ke tujuan yaitu Teluk Gonggo di pantai utara. Namun sewaktu malam tiba dan Perutnya terasa lapar, mau tak mau dia segera mendatangi kampung terdekat.
Kampung Waringin merupakan kampung ramai karena terletak dipersimpangan tiga jalan arus perdagangan. Kampung ini tidak beda dengan sebuah kampung kecil. Disini terdapat sebuah rumah makan yang bagian belakangnya disewakan untuk penginapan. Kesinilah Sonya pergi untuk mengisi perutnya.
Di dalam rumah makan saat itu telah banyak pengunjungnya. Kedatangan Sonya tentu saja menarik perhatian tamu dan pemilik kedai. Bajunya yang kotor penuh tambalan dan bau badannya yang busuk membuat semua orang merasa jijik dan menjauhi. Tapi Sonya mengambil tempat duduk tanpa perdulikan hal itu.
“Pengemis dari mana yang berani-beranian masuk ke kedaiku!” kata pemilik kedai dalam hati dengan mendongkol. Mula-mula hendak disuruhnya Sonya keluar. Tapi ketika dilihatnya wajah Sonya yang membayangkan sinar aneh, beratlah dugaannya bahwa Sonya adalah seorang pengemis berotak miring. Agar tidak terjadi keributan maka pemilik kedai ini membiarkan saja Sonya duduk disalah satu sudut.
Sonya berseru memanggil pelayan dan memesan makanan. Setelah mendengar makanan apa yang diminta oleh tamunya, maka bertanyalah pelayan rumah makan itu.
“Pengemis, apakah kau punya cukup uang untuk membayar harga makanan mahal yang kau pesan?”
Air muka Sonya tampak berubah. Kelam membatu dan sepasang matanya membersitkan sinar menggidikkan.
“Katakan berapa harga kepalamu. Aku akan bayar detik ini juga!” kata Sonya pada si pelayan.
Karena ngeri, si pelayan cepat-cepat memutar tubuh. Ucapan Sonya ini membuat semua orang tambah memperhatikannya dan juga burung Nuri dalam sangkar aneh yang diletakannya di atas meja.
Kebetulan saat itu di rumah makan tersebut terdapat rombongan Adipati Cokroningrat dari Leles. Sambil menyantap makanannya Adipati memperhatikan gerak-gerik Sonya. Sekali-sekali dia berbisik pada pembantu yang duduk di sampingnya. Selesai makan sang Adipati mengatakan sesuatu pada pembantunya itu dan si pembantu lalu berdiri, melangkah ke hadapan Sonya yang saat itu asyik menggerogoti paha ayam goreng.
“Pengemis,” demikian pembantu Adipati menegur. “Selesai makan harap kau menemui atasanku. Adipati Leles. Beliau ingin bicara soal burung yang kau bawa ini.”
Tidak menjawab apa-apa, seperti tidak mendengarkan orang bicara, Sonya terus saja melahap paha ayam. Pembantu Adipati itu kembali ke tempatnya. Mereka menunggu sampai Sonya selesai makan. Setelah selesai makan dan kelihatannya Sonya masih tetap saja duduk tenang-tenang di tempatnya Cokroningrat berkata pada pembantunya.
“Mungkin dia lupa. Panggil lagi. Suruh ke sini.”
Si pembantu datangi Sonya sekali lagi.
“Pengemis, seperti kataku tadi lekas kau menghadapi Adipati!”
Sepasang mata Sonya menyipit.
“Jika dia yang perlukan aku, suruh dia merangkak kemari!”
Kata-kata itu diucapkan Sonya dengan suara lantang hingga semua orang dalam rumah makan ikut mendengar dan terkejut mendengar ucapan yang berani serta kurang ajar itu. Adipati Leles sendiri kelihatan berubah wajahnya. Serta merta, merasa terhina, dia berdiri dan mendatangi meja Sonya. Dia menyeret sebuah kursi dan duduk di hadapan lelaki yang diduganya pengemis itu.
“Kata-katamu tadi kasar dan kurang ajar. Kau tak tahu tengah berhadapan dengan siapa, pengemis bau?”
“Berlalulah dari hadapanku. Atau kusemburkan seribu kata hina dan kotor di mukamu?!”
Rahang Cokroningrat menggembung. Sebetulnya ingin sekali dia menampar muka pengemis itu. Tapi mengingat dia ada satu maksud maka ditahannya kemarahannya. Dia melirik pada burung Nuri merah.
“Burung ini milikmu?”
Sonya mengangguk. Sikapnya tak acuh.
“Sangkarnya aneh. Dari tulang. Tulang kambing atau tulang kerbau?”
Sonya menyeringai. “Itu bukan tulang kambing. Bukan tulang kerbau. Bukan tulang binatang. Itu tulang belulang manusia!”
Adipati Cokroningrat terkejut. Diperhatikannya lagi sangkar itu. Dia memang belum pernah melihat tulang belulang manusia. Tapi kalau itu dikatakan tulang-tulang manusia tak percaya dia. Pengemis ini agaknya berotak miring.
“Dengar, burung itu tak pantas kau pelihara. Kau pasti tak bisa merawatnya. Jual saja padaku…”
“Oh, itu rupanya maksudmu,” ujar Sonya dan lagi-lagi sambil menyeringai. “Berapa kau sanggup membelinya, Adipati?”
“Dua ringgit perak!”
Sonya tertawa gelak-gelak.
“Setan, Kenapa pengemis ini tertawa! Dasar gila!” maki Cokroningrat dalam hati.
Dari balik pakaiannya Sonya mengeluarkan dua ringgit emas dan meletakkannya di atas meja.
Terkejutlah sang Adipati. Juga semua orang yang ada di situ. Siapa menduga kalau pengemis edan macam begitu memiliki dua ringgit emas?!
Malu dan terhina Adipati Leles dan berkata. “Baiklah, akan kubayar tiga ringgit emas!”
Sonya kembali mengeruk pinggang pakaiannya. Dikeluarkannya tiga ringgit emas dan diletakannya di atas meja.
“Sudah, kubeli Nurimu enam ringgit emas!” Adipati itu cepat-cepat meletakan enam ringgit emas di hadapan Sonya. Sebaliknya Sonyapun keluarkan enam ringgit emas dan menyodorkannya ke hadapan Cokroningrat!
Kini marahlah Adipati itu. Tapi dia berusaha menahan diri. “Katakan berapa kau mau jual burung itu!”
Sonya tertawa. Sebuah kantong kulit digebrakannya di atas meja. Ini adalah kantong milik saudagar Kuncoro yang telah dibunuh dan dirampoknya. Kantong itu digoyang-goyangnya. Terdengar suara berdering.
Di dalam kantong itu terdapat lebih dari seratus ringgit emas. Kau mau…?
Gelaplah muda Cokroningrat. Dia benar-benar dibikin malu.
“Pengemis hina dina! Mulut dan sikapmu benar-benar keterlaluan!”
“Ambil uangmu dan berlalu dari hadapanku Paduka Adipati sialan!”
“Haram jadah. Kalau kau bukan orang sinting sudah kupecahkan batok kepalamu!”
“Sinting atau tidak, biar aku beri pelajaran manusia kurang ajar ini!” Yang berkata adalah pembantu Adipati. Tapi sang Adipati cepat menarik pembantunya. Setelah mengambil uangnya yang enam ringgit dari atas meja dia kembali ke tempat duduknya semula. Dia tak mau terjadi keributan dalam rumah makan itu. Dia berbisik pada pembantunya: “Kita hadang dia ditengah jalan.” Sang pembantu mengerti dan mengangguk.
“Aneh, kenapa lampu pada mati?” ujar pemilik rumah makan. Dia memanggil pelayan dan menyuruh agar lampu di hidupkan. Karena tak ada jawaban maka lampu-lampu itu dihidupkannya sendiri.
Ketika seluruh rumah makan terang benderang kembali maka terkejut dan hebohlah semua orang yang ada disitu. Betapakan tidak! Pelayan rumah makan kedapatan menggeletak di lantai dengan muka hancur mengerikan. Nyawanya tak disangsikan lagi pasti sudah melayang. Di seberang sana, Adipati Cokroningrat beserta pembantunya mengalami nasib yang sama. Mati dalam keadaan masih duduk di kursi masing-masing, muka hancur, hidung tanggal, biji-biji mata berbusaian dan bibir robek. Tubuh sang Adipati dan pembantunya berada dalam keadaan kaku tegang, begitu juga si pelayan yang malang. Nyatalah bahwa ketiganya telah ditotok sebelum dibunuh!
Memandang ke sudut ruangan, pengemis aneh tadi dan juga burung Nurinya tak ada lagi disitu. Di meja hanya ada sekeping uang perak. Sesuai dengan harga makanan yang dipesannya.
Sonya tak mau melewati Jepara karena dia ingin lekas-lekas sampai di Teluk Gonggo. Dengan ilmu larinya yang aneh, yang dipelajarinya secara aneh dari datuk Siluman, pada hari ke tiga dia sampai pada suatu daerah liar penuh dengan batu-batu. Disini angin bertiup Sangat keras. Satu pertanda bahwa tak lama lagi dia akan sampai di daerah pantai.
Menjelang rembang petang, ketika dia mendongak memandang langit, berubahlah paras Sonya. Dari arah tenggara berarak cepat awan tebal hitam. Dalam waktu singkat mendung telah menyungkup udara sedang dikejauhan kilat tampak mulai menyambar, sesekali diselingi suara gelegar guntur.
Dia berhenti berlari, memandang berkeliling mencari tempat untuk berteduh bila hujan turun. Tak ada sebatang pohonpun yang tumbuh di daerah berbatu-batu itu. Sekalipun ada tak mungkin dia bisa berlindung tanpa terkena air hujan.
Angin bertiup tambah kencang.
Sonya tambah cemas.
Burung dalam sangkar tulang kelihatan gelisah. Binatang ini menggelepar kian kemari dan mengeluarkan suara aneh, membuat Sonya bertambah kecut.
Dalam keputus asaannya Sonya berlari kencang kejurusan timur. Memang nasibnya baik. Kira-kira sepeminuman teh berlari disalah satu lamping bukit batu ditemuinya sebuah lobang setinggi dada. Tak menunggu lebih lama dia segera memasuki lobang ini. Hanya beberapa saat saja setelah dia masuk ke dalam lobang hujan lebat turun laksana dicurahkan dari langit!
Sonya menarik nafas lega. Wajahnya yang tadi pucat karena ketakutan kini berdarah kembali. Dia coba masuk lebih jauh ke dalam lobang agar jangan sampai terkena tampiasan atau percikan air hujan. Angin bertiup keras dan dingin. Akhhirnya dia duduk menjeleplok dalam lobang itu. Setelah duduk beberapa lama Sonya merasakan sesuatu yang aneh. Hawa dingin dari luar tidak terasa lagi meskipun angin masih terus bertiup. Di sekitarnya teras hangat. Di samping itu hidungnya mencium bau harum semerbak. Tak syak lagi hawa hangat dan bau harum itu pastilah datang dari dalam lobang. Mungkin ada makhluk penghuni di dalam sana? Tapi mengapa lobang itu tampak gelap dan seperti buntu?
Sambil terus membawa burung Nuri dalam sangkar, perlahan-lahan Sonya masuk membungkuk-bungkuk lebih jauh kedalam lobang. Tambah ke dalam tambah hangat terasa udara dan bau harum semakin keras. Di sebelah atas lobang batu itu tampak tambah meninggi hingga kalau tadi dia harus membungkuk-bungkuk, kini dia dapat berjalan seperti biasa.
Langkahnya terhenti di hadapan sebuah batu besar hitam dan rata. Semula disangkanya dia sudah sampai diujung lobang dan buntu. Namun sewaktu diperhatikannya baik-baik, disamping kanan batu ditemuinya sebuah celah sepemasukan tubuh manusia. Sonya melangkah mendekati celah. Hati-hati dia mengulurkan kepalanya, mengintai ke ruang di belakang batu.
Sepasang mata Sonya membesar ketika menyaksikan pemandangan yang hampir tak dapat dipercayanya. Tepat dibelakang batu hitam itu terdapat sebuah tangga terbuat dari batu mar-mar putih, menurun menuju sebuah ruangan empat persegi yang lantainya dihampari permadani merah berbunga-bunga.
Di atas permadani itu duduk seorang lelaki tua bermuka putih, berambut kelabu menjela bahu. Di hadapannya bersila seorang perempuan berpakaian kuning polos yang wajahnya tak dapat dilihat oleh Sonya karena duduk memunggungi batu.
Pada saat itu terdengar si orang tua berambut kelabu berkata:
“Muridku, batapapun seseorang mendalami ilmu silat dan kesakitan harus pula mempelajari ilmu yang menyangkut keagamaan serta segala sesuatu yang ada hubungannya dengan budi nurani manusia luhur. Itu semua akan menjadi semacam kendali baginya untuk mempergunakan kepandaian silat serta kesaktiannya hanya untuk maksud kebaikan semata, bukan untuk berbuat jahat. Agama dan hati nurani luhur mengingatkan seseorang untuk tidak menyeleweng dari rel kebenaran, menjaganya agar jangan menjadi sesat! Karena itulah meski saat ini kau telah memiliki ilmu silat yang tinggi, namun kau belum mengizinkan kau meninggalkan tempat ini guna mencari musuh besarmu. Soal balas dendam soal mudah Dwiyana. Kau harus tinggal disini selama dua tahun lagi guna mempelajari agama dan seluk beluk budi luhur. Sambil belajar itu semua kau sekaligus dapat pula melatih dan memperdalam ilmu silatmu. Bukankah itu lebih baik bagimu?”
“Jika Eyang berpendapat begitu tentu itu memang lebih baik. Dan saya akan menurut saja…” jawab perempuan berpakaian kuning.
Kini mengertilah Sonya. Kedua orang itu adalah guru dan murid. Dan sang murid dapat dipastikannya adalah seorang gadis. Meski dia belum dapat melihat paras gadis itu, namun satu hawa jahat telah menggerayangi diri Sonya. Sepasang matanya memancarkan sinar aneh. Ujung lidahnya tiada henti dileletkan membasahi bibir sedang cuping hidungnya kembang kempis. Nafsu kotor mulai membakar manusia dengan cepat!
“Nah muridku, kuharap kau tidak kecewa dengan keputusanku ini,” kata sang guru.
“Sama sekali tidak Eyang,” menyahuti murid yang bernama Dwiyana. “Malah saya menghaturkan banyak terima kasih atas perhatian dan petunjuk Eyang. Apa yang Eyang lakukan semata adalah untuk kebaikan saya.”
Sang guru mengangguk-angguk. Lalu batuk-batuk beberapa kali. Sesaat dia memandang ke arah batu hitam di atas ruangan. Dia tampak tersenyum lalu buka mulut:
“Kalau ada tamu di luar sana, megapa berdiri saja? Silahkan masuk……….”
Sonya terkesiap. Dia menahan nafas. Si rambut kelabu itu rupanya memiliki indera keenam. Dengan menyeringai kemudian Sonya memasuki celah. Batu lalu melangkah menuruni anak tangga demi anak tangga. Si orang tua memberi isyarat pada muridnya. Dwiyana berdiri lalu duduk di sudut ruangan.
Di ujung ruangan Sonya hentikan langkah. Sesaat pandangannya saling beradu dengan mata orang tua itu. Sebuah lampu kecil kelihatan terletak di sebuah ruangan lain, lalu sebuah pendupaan yang mengeluarkan asap harum. Sonya melirik pada Dwiyana. Ternyata gadis itu memiliki paras cantik. Tambah berkobarlah nafsu terkutuk dalam tubuh murid Datuk Siluman ini! Perlahan-lahan dia melangkah ke hadapan orang tua yang duduk bersila di atas permadani merah.

—-


5

Sekali saja melihat paras Sonya baik si orang tua maupun Dwiyana segera mengetahui bahwa manusia bertampang buruk bengis yang mengenakan baju dekil bertambal-tambal ini bukan seorang manusia baik-baik. Sinar matanya menunjukkan hal itu. Namun demikian si orang tua penghuni goa batu mempersilahkan tamunya duduk dengan sikap ramah.
"Tamu aneh yang datang membawa burung Nuri dalam sangkar aneh, apakah kau seorang pemburu?"
"Namaku Sonya. Aku bukan pemburu," jawab Sonya dengan nada kaku. "Kau sendiri siapa?" dia balik bertanya.
Yang ditanya tersenyum.
"Orang memanggilku Malaikat Berambut Kelabu. Tapi walau bagaimanapun aku hanyalah seorang manusia biasa. Seorang tua peot keriput yang sudah dimakan usia. Namaku Akik Mapel."
Sonya seperti tidak acuh mendengar jawaban itu. Dia lebih tertarik pada gadis yang duduk di sudut ruangan. Dia berpaling pada Dwiyana dan memandang lekat-lekat. Dipandang begitu rupa dengan hati kesal Dwiyana tundukkan kepala.
Untuk kesekian kalinya Sonya basahi lagi bibirnya dengan ujung lidah. Akik Mapel juga mulai merasa tak suka dengan tindak tanduk tamu yang tidak diundang ini.
"Gadis itu muridmu?" tanya Sonya .
Akik Mapel mengangguk. Sejak tadi dia telah mencium bau busuk yang keluar dari tubuh dan pakaian Sonya. Masih untung ruangan itu diasapi dengan ramuan pengharum.
"Di luar hujan. Aku terpaksa berteduh di sini," menerangkan Sonya.
"Aku tahu. Sebenarnya kau datang dari mana dan hendak menuju kemana?"
Sonya mengerling lagi pada Dwiyana. Lalu angkat bahu. "Aku tidak tahu datang dari mana dan kau mau kemana."
"Ah, itu adalah lucu," kata adik Mapel. Dia menggoyangkan kepalanya pada muridnya. "Lekas hidangkan minuman untuk tamu kita."
"Tak usah. Aku tak haus," jawab Sonya cepat. Dia khawatir kalau-kalau Akik Mapel sudah menaruh curiga dan memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Dia malah kini berpikir-pikir apa segera saja bertindak mengumbar keinginan jahat terkutuknya.
"Burung itu milikmu?" tiba-tiba Akik Mapel bertanya.
"Lalu punya siapa lagi? Apa kau menginginkannya?!"
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin tahu mengapa binatang itu bersangkar aneh."
"Di dalam dunia ini memang banyak hal aneh-aneh, Akik Mapel. Dan semua keanehan itu berakhir pada kematian!"
Kata-kata Sonya itu membuat Akik Mapel kerenyitkan kening.
"Betul tidak, Akik Mapel?"
Akik Mapel batuk-batuk sebelum menjawab. "Mungkin…mungkin betul," jawabnya. Diam-diam dia mulai meragukan apakah sang tamu memiliki otak sehat.
"Nah, bagaimana kalau saat ini kukatakan bahwa sebentar lagi akan terjadi satu keanehan yang berkahir pada kematian?"
"Maksudmu Sonya?"
"Bahwa sebentar lagi kau bakal mati di tanganku?!"
Akik Mapel menatap wajah tamunya. Sinar aneh dilihatnya memancar dari sepasang mata Sonya.
"Kau hendak melakukan keanehan yang mahal Sonya. Kalau tidak mau kukatakan gila!"
Sonya tertawa gelak-gelak. Lalu disusul oleh suara lolongan panjang seperti raungan srigala!
Tiba-tiba laksana kilat tangan kanannya yang berkuku panjang meluncur kedepan, mencengkeram ke muka Akik Mapel. Orang tua ini kaget bukan kepalang. Cepat-cepat tangan kanannya diangkat ke atas untuk melindungi muka sekaligus menepis serangan lawan. Maka terjadilah bentrokan dua lengan yang menimbulkan suara keras!
Akik Mapel merasakan lengannya sakit dan panas. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh terbanting ke atas permadani. Di hadapannya dilihatnya Sonya tertawa menyeringai. Menandakan bahwa manusia bermuka setan ini memiliki kepandaian amat tinggi.
Setelah menenangkan hatinya, Akik Mapel berkata: "Sonya, aku sejak tadi menduga bahwa kedatanganmu kemari tidak membawa maksud baik. Ternyata dugaanku terbukti!"
Sonya kembali tertawa panjang. "Apa kau tuli kakek-kakek pikun? Sudah kukatakan bahwa kau akan mati ditanganku!"
Sekali lagi Sonya menggerakkan tangan kanannya yang berkuku panjang. Melancarkan serangan "cakar siluman" yang sebelumnya telah meminta lebih dari setengah lusin korban. Menyadari bahwa lawannya yang berilmu tinggi itu benar-benar ingin mencelakainya, orang tua itu beringsut ke belakang sambil tundukan kepala. Begitu melompat bangun dia tendangkan kaki kanannya ke kepala lawan!
Sonya keluarkan suara lolongan srigala haus daging dan darah manusia. Walaupun kaki kanan Akik Mapel sudah menderu dekat di depan keningnya, tapi dia sama sekali tidak membuat gerakan untuk mengelak. Namun tiba-tiba dia tampak menggerakkan kedua tangannya. Sesaat kemudian Akik Mapel tersentak kaget ketika merasakan bagaimana pergelangan kaki kanannya tahu-tahu telah dicekal lawan amat kuatnya. Betapapun dia berusaha melepaskan kakinya namun sia-sia belaka.
Akik Mapel tekuk lutut sambil miringkan tubuh ke bawah. Tinju kirinya menderu ke dada lawan sedang tangan kanan menemplang ke batok kepala Sonya. Inilah gerakan yang dinamakan "beringin sakti tumbang."
Akan tetapi sebelum kedua tinjunya itu mencapai sasaran, Akik Mapel merasakan pergelangan kakinya dipuntir sakit sekali dan tubuhnya melayang berputar di udara, kemudian terlempar ke dinding ruangan batu!
Jika saja orang tua itu bukan seorang tokoh silat yang lihay, niscaya tubuhnya akan remuk ketika melabrak dinding batu yang luar biasa kerasnya itu!
Tanpa kehilangan akal karena dilemparkan begitu rupa, Akik Mapel ulurkan kedua tangannya ke depan untuk menyentuh dinding batu dengan telapak tangan lalu mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, kakek ini jatuhkan diri, seterusnya bergulingan di lantai. Dengan cara begini dia berhasil menyelamatkan diri.
Sonya tertawa mengekeh dan perlahan-lahan bangkit dari duduknya.
"Eyang, biar aku yang menghajar manusia busuk ini!" Dwiyana tiba-tiba melompat dan bergerak mendekati Sonya.
"Kembali ke tempatmu Dwiyana! Kalau belum kugebuk dia, belum puas hatiku!" sahut sang guru. Dia sudah dapat mengukur kehebatan lawannya dan diam-diam menyadari kalau ketinggian ilmunya belum bisa menandingi ilmu manusia muka setan ini, apalagi muridnya. Karena itu dia mencegah tindakan Dwiyana.
"Betul sekali ucapan gurumu. Gadis cantik molek, sebaiknya kau tetap di sudut sana. Sayang kalau tubuhmu yang mulus itu tergores luka. Apalagi kalau sampai kena gebuk!"
"Sonya!" tukas Akik Mapel. "Aku beri kesempatan padamu untuk meninggalkan goa ini. Kalau tidak, aku akan betul-betul menggebukmu sampai babak belur!"
Sonya hanya tertawa. Dia pejamkan kedua matanya dan berdiri tanpa bergerak. "Kakek pikun. Kau mau menggebukku? Silahkan!"
Mau tak mau Akik Mapel jadi tambah marah dan penasaran. Didahului suara menggembor orang tua ini menerjang. Gerakan tubuhnya mengeluarkan deru angin deras. Kedua tangannya didorongkan ke depan. Dua larik angin bersiur keras. Ruangan batu bergoyang laksana dilanda lindu. Sonya terhuyung-huyung.
"Setan alas!" maki Sonya marah ketika angin deras serbuan Akik Mapel membuat sangkar dan burung di dalamnya terlepas dari pegangannya dan mental ke sudut ruangan. Di saat itu pula telapak tangan Akik Mapel telah menghantam ke arah keningnya, siap untuk menghancurkan kepala Sonya.
Sampai saat itu Akik Mapel mempunyai anggapan bahwa Sonya adalah seorang berilmu tinggi tetapi berotak miring. Karenanya sewaktu serangannya dirasakannya betul-betul akan menamatkan riwayat lawannya itu, timbullah perasaan tak tega di hati orang tua ini. Dia tarik pulang tangannya dan sebagai ganti mengirimkan totokan kilat ke arah pangkal leher.
Sonya mendengus. Dia tahu apa artinya kalau totokan untuk sempat mendarat di sasarannya. Untuk kesekian kalinya manusia muka iblis ini keluarkan suara lolongan srigala. Suara lolongannya lenyap sedetik kemudian. Tubuhnya pun ikut lenyap! Akik Mapel terkesiap kaget.
Sebelum orang tua itu mengetahui di mana lawannya berada, satu hantaman menghajar tubuhnya sebelah belakang. Akik Mapel mengeluh tinggi. Tubuhnya terhantar di permadani. Tulang punggungnya sebelah kanan hancur! Dengan susah payah dia mencoba bangun sementara di hadapannya Sonya berdiri dengan sikap mengejek. Tangan kanan bertolak pinggang sedang tangan kiri memegang sangkar tulang.
“Manusia gila keparat! Terima ini!” Tiba-tiba terdengar bentakan Dwiyana. Murid Akik Mapel yang sudah tidak sabaran ini menyerbu.
Sonya yang hendak menyerang Akik Mapel, terpaksa batalkan gerakannya ketika merasakan siuran angin serangan datang dari samping. Cepat dia berkelit dan berpaling, lalu menyeringai.
“Gadis galak, sebaiknya kau tetap di sudut sana. Aku tak ingin membuat tubuhmu yang mulus jadi luka. Aku sendiri yang akan rugi nanti jadinya!”
“Setan! Jaga batang lehermu!” teriak Dwiyana dengan muka merah. Hatinya geram karena serangan tangan kosongnya dapat dielakkan lawan dengan mudah. Tidak menunggu lebih lama gadis ini segera cabut sebilah pedang mustika terbuat dari perak yang tersisip di belakang punggungnya. Serangkum sinar putih berkiblat ketika senjata ini di babatkan ke leher Sonya dengan dahsyat.
Di saat muridnya menggempur dengan pedang, Akik Mapel tidak tinggal diam. Dia lepaskan satu pukulan sakti bernama “sinar pelangi”. Patut diketahui, ilmu pukulan ini lebih dari sepuluh tahun dipelajari dan diyakini oleh kakek sakti itu, dan merupakan satu dari sekian banyak pukulan sakti yang terkenal dan pernah menggegerkan dunia persilatan. Apalagi saat itu Akik Mapel mengepulkan lebih tiga perempat kekuatan tenaga dalamnya untuk Melancarkan pukulan tersebut!
Tujuh warna pelangi berkiblat. Ruangan baru bergoncang keras.
Wuus !
Sinar pukulan sakti itu menyapa ke seluruh bagian tubuh Sonya. Di kejap itu pula terdengar bentakan keras. Dwiyana merasakan selarikan angin menyambar ke arahnya, membuat pedangnya tergeser ke samping. Tubuhnya terdorong ke belakang sampai beberapa langkah. Penasaran gadis ini susul serangannya yang tadi buyar dengan satu tusukan. Namun dia harus cepat menjauhkan diri kalau tidak pukulan gurunya sendiri akan menghantamnya.
Akik Mapel hampir tidak percaya ketika melihat bagaimana Sonya mampu mengelak dan bertahan terhadap pukulannya. Selama malang melintang di dunia persilatan, tak satu lawanpun sebelumnya yang sanggup bertahan terhadap pukulan “sinar pelangi”.
“Apakah masih ada pukulan saktimu yang lain?” tanya Sonya mengejek yang membuat Akik Mapel serasa di panggang. Sebelum dia sempat membuka mulut, dilihatnya muridnya sudah menyerbu kembali dengan serangan pedang perak.
Melihat amukan si gadis Sonya mundur beberapa langkah. Begitu sambaran senjata lawan lewat, cepat dia dorongkan tangan kanannya ke dada Dwiyana hingga gadis ini jatuh terguling di lantai.
“Bedebah kurang ajar! Terkutuk!” teriak Dwiyana. Gerakan tangan Sonya tadi bukan hanya sekedar mendorong, tetapi sekaligus sengaja meremas payudara si gadis. Dwiyana melompat beringas dan siap menyerbu kembali.
“Sudah! Kau tidurlah enak-enak di sudut sana!” kata Sonya lalu jentikkan jari telunjuk tangan kanannya. Selarik asap hitam panjang yang tak ubahnya seperti seutas tali meluncur ke arah Dwiyana dan berputar bergelung-gelung di sekitar kepala si gadis.
Dwiyana menghantam dengan tangan kirinya. Angin pukulannya keras sekali. Tetapi asap hitam itu tak mampu dimusnahkannya malah kini gelungannya semakin menyempit, membuat gadis ini terpaksa mundur ke sudut ruangan yang diinginkan Sonya. Dalam pada itu detik demi detik Dwiyana merasakan kedua kelopak matanya menjadi berat, kepalanya pusing dan pemandangannya berkunang. Akhirnya secara aneh gadis ini terduduk di sudut ruangan batu. Kedua matanya terpejam. Punggungnya tersandar. Sikapnya persis seperti orang sedang tidur duduk!
Akik Mapel terbeliak melihat kejadian ini. Seumur hidup baru sekali itu dia melihat ilmu aneh begitu rupa. Hatinya berdebar. Bukan karena takut menghadapi lawan yang jauh lebih hebat dari dia, tetapi karena sudah dapat menduga apa sebenarnya maksud Sonya memperlakukan Dwiyana seperti itu.
Dari balik pakaiannya Akik Mapel cepat keluarkan tasbih yang terbuat dari untaian mutiara. Tasbih ini pernah di rendam selama tiga tahun hingga dari putih kini warnannya kelihatan biru gelap dan memancarkan sinar angker.
Sesaat Sonya perhatikan benda di tangan lawannya lalu tertawa menyeringai.
“Hai, itu senjatamu Akik Mapel?” ujar Sonya. Tahu-tahu dia sudah berkelebat untuk merampas mutiara tersebut. Tapi hal ini tidak terlalu mudah untuk melakukannya. Akik Mapel mengelak sebat. Sesaat kemudian segulung sinar biru menggidikkan melabrak ke arah delapan bagian tubuh Sonya!
Serangan tasbih itu memang hebat dan ganas. Dan Akik Mapel jarang sekali mengeluarkan senjata andalannya ini kalau tidak dalam keadaan Sangat berbahaya dan terdesak.
Yang diserang keluarkan suara menggereng laksana singa lapar terluka. Dia menyelusup di antara gulungan sinar biru. Memang hebat sekali murid Datuk Siluman ini. Dia masih sanggup menyelamatkan diri dari gempuran sinar maut itu. Bahkan kembali mencoba untuk merampas mutiara di tangan Akik Mapel. Ketika untuk kesekian kalinya dia tidak mampu untuk merampas tasbih itu, marahlah manusia muka setan ini!
Sonya pindahkan sangkar burung ke tangan kanan dan lambaikan tangan kirinya. Terdengar suara mendesis. Asap hitam pekat keluar berguling dari telapak tangannya, menderu dan membungkus ke arah kepala Akik Mapel. Si orang tua terbatuk-batuk, tak tahan oleh bau sengit asap hitam aneh. Dia kerahkan tenaga dalam dan menghembus ke depan. Tak terlambat. Tubuhnya dirasakannya menciut, makin kecil, makin pendek. Sebaliknya tubuh Sonya dilihatnya bertambah besar dan menjadi tinggi. Dia merasa seperti seekor siput atau seekor semut yang baru keluar dari lubang.
“Celaka, ilmu iblis apa pula ini!” keluh orang tua itu.
“Akik Mapel! Lihat mukaku! Pandang mataku!” kata Sonya. Suaranya lantang, menggema dalam ruangan batu itu. Semula dia ingin membunuh kakek ini. Tapi Selintas pikiran muncul dalam benaknya.
Akik Mapel yang sudah terpengaruh oleh kekuatan iblis mengikuti apa yang dikatakan lawannya. Dia mendongak dan memandang ke wajah Sonya. Menatap sepasang mata itu.
“Katakan siapa aku! Katakan lekas!” terdengar suara Sonya.
“Kau Sonya…….Sonya!” sahut Akik Mapel.
“Sonya siapa?!”
“Sonya majikanku. Kau tuan besarku!”
“Dan kau sendiri Sekarang siapa huh?!”
“Aku….? Tentu saja hamba sahayamu,” jawab Akik Mapel.
Sonya tertawa gelak-gelak.
“Sebagai hamba sahaya kau harus turut setiap perintah majikan. Kau mengerti Akik Mapel!”
“Mengerti. Aku mengerti Sonya!”
“Bagus!” Sonya lalu lambaikan tangan kirinya.
Asap hitam sedikit demi sedikit lenyap. Wajah Akik Mapel yang sebelumnya berwarna putih polos kini kelihatan menghitam akibat ilmu siluman lawannya.
“Sekarang kau Pergilah keluar! Tunggu aku di mulut goa!” kata Sonya pula. “Tapi berikan dulu tasbih itu!”
Akik Mapel menurut. Senjata mustikannya diserahkan pada Sonya lalu dia melangkah keluar ruangan.
“Hai tunggu dulu,” seru Sonya.
“Apa lagi Sonya?”
“Sialan! Mulai saat ini Panggil aku Paduka. Mengerti….?”
“Baik. Aku akan Panggil kau Paduka…..”
Dengan terbungkuk-bungkuk Akik Mapel meninggalkan tempat itu. Ilmu siluman telah merubah jalan pikiran sehatnya. Dia berdiri di mulut goa seperti yang di perintahkan. Pandangan matanya kuyu. Di luar hujan masih terus turun dengan lebatnya.
Di dalam ruangan batu Sonya melangkah mendekati Dwiyana. Dipandangnya wajah gadis yang sedang “tertidur” itu. Diletakkannya sangkar burung ke lantai. Lalu tangan kanannya dilambaikan ke wajah Dwiyana. Asap hitam berguling-gulung membungkus kepala si gadis. Lalu dia tersentak bangun dan terbatuk-batuk. Sonya lambaikan tangannya. Asap hitam lenyap. Matanya dan mata Dwiyana saling pandang.
“Dwiyana. Lihat mukaku. Pandang mataku…..”
Dwiyana mengangkat kepalanya dan menatap wajah serta mata Sonya.
“Mulai hari ini kau menjadi gadis peliharaanku, mengerti?”
Dwiyana mengangguk.
“Kau harus melayani apa mauku!”
Dwiyana kembali mengangguk.
“Kau harus Panggil aku Paduka!”
Si gadis mengangguk lagi.
“Sekarang berdiri!”
Dwiyana berdiri.
“Tanggalkan pakaianmu!”
Di luar kesadaran akal sehatnya yang telah di sungkup oleh kekuatan iblis, Dwiyana mulai membuka pakaiannya. Setiap gerakan gadis ini di saksikan Sonya tanpa berkesip dan lidah menjulur basah. Akhirnya Dwiyana berdiri di hadapannya tanpa selembar benang pun menutupi auratnya.
Sonya tertawa panjang. Hidungnya kembang kempis.
“Melangkah lebih dekat kesini, Dwiyana…..”
Dwiyana mendatangi.
“Lebih dekat lagi!”
Si gadis maju hingga tubuhnya beradu dengan badan Sonya. Buah dadanya yang kencang tertekan rata sewaktu Sonya merangkul punggungnya dengan penuh nafsu.
“Sekarang kau harus meninggalkan pakaianku, Dwiyana….”
Si gadis menurut. Dia ulurkan kedua tangannya dan membuka pakaian Sonya satu demi satu.
Dipukau oleh ilmu siluman, sampai jauh malam Dwiyana terus saja melayani nafsu terkutuk Sonya yang seperti tidak ada ujungnya itu. Sementara di luar sang guru duduk termenung. Tak beda seperti seekor anjing yang bertugas menjaga pintu, dan tak berani masuk ke dalam tanpa izin majikannya. Malang sekali nasib guru dan murid itu.

6

TUJUH HARI sesudah meninggalkan Bukit Hantu maka sampailah Sonya ke Teluk Gonggo. Selama perjalanan itu belasan manusia telah menjadi korban keganasan ilmu silumannya. Beberapa orang berkepandaian tinggi dan beberapa perempuan berparas cantik dibawanya ketempat kediamannya yang baru, yang kelak bakal menjadi satu markas atau sarang sumber malapetaka yang menimpa dunia persilatan. Umumnya orang-orang lelaki yang dibawanya itu adalah jago-jago silat kelas satu yang berhasil ditundukkannya dan diperbudaknya. Sedang orang-orang perempuan sebelumnya telah diperkosanya secara keji untuk kemudian dijadikannya perempuan peliharaan pemuas nafsunya.
Malapetaka besar itu segera menjadi kenyataan sebulan kemudian. Dunia persilatan delapan penjuru angin menjadi geger ketika terjadi pembunuhan besar-besaran secara mengerikan atas tiga partai silat. Seisi partai mulai dari sang ketua sampai murid partai yang paling rendah bahkan pelayan, mati dibunuh dengan cara yang sama. Yaitu muka hancur. Itulah kebiadaban ilmu “cakar siluman”.
Kemudian beberapa tokoh terkenal dunia persilatan lenyap secara aneh sedang beberapa lainnya ditemukan mati dengan muka hancur rusak hampir sulit untuk dikenali. Selama berbulan-bulan peristiwa yang menggemparkan itu berjalan terus tanpa diketahui siapa biang pelakunya. Beberapa orang sakti mempunyai dugaan bahwa segala malapetaka mengerikan itu tak dapat tidak hanya bisa dilakukan oleh satu orang yakin Datuk Siluman dari Bukit Hantu. Beramai-ramai mereka mengadakan perundingan lalu menyerbu ke puncak Bukit Hantu. Namun yang mereka temui hanyalah reruntuhan bangunan tulang yang telah menghitam jadi arang. Sesosok tubuh yang merupakan tengkorak acak-acakan terjepit di bawah reruntuhan itu.
“Kalau Datuk Siluman sudah mati, berarti ada seorang manusia iblis lainnya yang menjadi biang racun kejahatan ini. Tapi Siapakah dia?” tanya seorang tokoh sambil memandang pada kawan-kawannya.
“Tidak dapat tidak dia punya sangkut paut tertentu dengan Datuk Siluman.” Jawab tokoh yang lain.
“Kalau manusia itu seorang muridnya, kurasa itu mustahil.” Ikut bicara jago silat lainnya. “Setahuku Datuk Siluman tak pernah punya murid.”
Dengan perasaan kecewa tokoh-tokoh silat itu akhirnya meninggalkan Bukit Siluman.
Minggu demi minggu berlalu, berganti bulan ke bulan. Bencana yang menimpa dunia persilatan semakin hebat. Disamping terbunuh dan diculiknya tokoh-tokoh silat tingkat tinggi, disamping musnahnya beberapa partai persilatan, juga diketahui lenyapnya gadis-gadis atau perempuan-perempuan cantik dari kampung, desa dan kota.
Usaha-usaha yang dilakukan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan untuk mencari dan mengejar pelaku yang telah membuat keonaran keji itu, sebegitu jauh masih menemui jalan buntu. Rasa cemas kini menyelimuti seantero rimba persilatan. Namun tidak ada yang berputus asa.
Pada permulaan awal bulan dua belas para tokoh silat itu mengadakan pertemuan rahasia di suatu tempat di utara Sragen. Baru saja pertemuan hendak dibuka tiba-tiba di pintu yang dikunci terdengar suara ketukan.
Brajapati, seorang tokoh silat dari pantai selatan yang memimpin pertemuan itu memandang berkeliling. Semua undangan telah duduk di kursi masing-masing. Berarti tak ada yang harus ditunggu atau datang terlambat. Semua hadirin menjadi tidak enak. Dan ini jelas terbayang di wajah masing-masing. Siapa gerangan yang mengetuk pintu itu?
Perlahan-lahan Brajapati berdiri dari kursinya dan melangkah ke pintu. Meski tokoh-tokoh silat lainnya masih tetap duduk di tempatnya masing-masing tetapi rata-rata secara diam-diam mereka telah berjaga-jaga kalau sampai tiba-tiba terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tiga langkah dari ambang pintu Brajapati berhenti.
“Siapa di luar?” tanya jagoan ini sambil tangan kanannya diangkat ke atas, siap melepaskan satu pukulan tangan kosong.
“Aku….” Terdengar sahutan dari balik pintu.
“Aku siapa?” bentak Brajapati.
“Perbolehkan aku masuk….”
“Katakan dulu siapa kau!” jawab Brajapati. Tenaga dalamnya dilipat gandakan dan dialirkan ke tangan kanannya yang siap menghantam.
“Aku Hang Juana dari Tegal Alas. Bukankah kalian ingin mengetahui siapa yang selama ini menimbulkan bencana dalam dunia persilatan? Lekas buka pintu!”
Brajapati dan beberapa tokoh silat di situ sebelumnya memang sudah pernah mendengar nama Hang Juana. Itu sekitar sepuluh tahun yang silam. Dia dikenali sebagai seorang kakek yang ahli membuat berbagai macam senjata, terutama senjata pesanan perwira-perwira kerajaan.
Tanpa ragu-ragu Brajapati membuka daun pintu dengan tangan kirinya. Dibawah pandangan sekian banyak pasang mata, seorang kakek berpakaian butut rombeng masuk terbungkuk-bungkuk. Dia berdiri di ujung meja pertemuan dan memandang berkeliling.
“Orang tua, Silahkan duduk,” Brajapati menarik sebuah kursi.
Hang Juana menggeleng.
“Aku tak bisa lama-lama di sini,” kata si kakek pula.
“Kenapa?” tanya Brajapati. Karena Hang Juana tak mau menjawab maka dia melanjutkan ucapannya: “Tadi kau mengeluarkan ucapan yang mengatakan seolah-olah kau tahu siapa yang menjadi biang racun penimbul malapetaka selama ini….”
Hang Juana mengangguk. “Orangnya masih ada sangkut paut dengan Datuk Siluman dari Bukit Hantu…”
“Memang sudah kami duga!” kata beberapa tokoh silat hampir bersamaan.
“Siapa manusianya dan di mana sarangnya?” tanya Brajapati.
“Manusianya bernama……….”
Tiba-tiba laksana ada angin besar melabrak masuk, semua lampu yang ada di ruangan itu padam! Bau busuk menebas menusuk hidung. Ucapan Hang Juana terputus digantikan jeritan yang mengerikan.
Brajapati melihat sesosok bayangan berkelebat di hadapannya. Secepat kilat jagoan dari pantai selatan ini hantamkan tangan kanannya ke depan. Sesiur sinar putih menderu ke arah tubuh yang berkelebat. Tapi yang diserang serta merta lenyap dari pemandangan. Dilain kejap justru terdengar pekik Brajapati setinggi langit. Lalu suasana di ruangan yang gelap gulita itu menjadi sunyi senyap seperti di pekuburan. Ketegangan menggantung di udara hitam.
“Hidupkan lampu!” Seseorang berteriak.
Beberapa orang segera menyalakan lampu di empat sudut ruangan. Begitu lampu menyala maka semua tokoh silat yang ada di situ melengak ngeri!
Dua sosok tubuh menggeletak di lantai ruangan pertemuan. Mereka adalah Hang Juana dan Brajapati. Keduanya tak bergerak dan tak bernapas lagi. Muka mereka yang berselomotan darah terlalu ngeri untuk dipandang.
Meski semua yang hadir di situ adalah tokoh silat kelas satu berilmu tinggi, namun menyaksikan kematian Hang Juana dan Brajapati begitu rupa tak urung membuat hati tercekat ngeri. Dada berdebar dan lutut bergetar. Dua korban manusia siluman itu kini menggeletak di depan mereka. Untung mereka masih hidup. Karena sebenarnya jika mau manusia iblis itu pasti mampu melakukan hal yang sama terhadap mereka semua!
Khawatir akan menyusul terjadinya hal-hal yang tak diingini, dengan membawa mayat Brajapati dan Hang Juana semua tokoh silat yang hadir segera meninggalkan tempat itu. Dengan demikian untuk kesekian kalinya gagal pulalah usaha untuk menyelidiki siapa adanya manusia penyebar malapetaka itu.

—-


7

BULAN PURNAMA telah sejak lama lenyap terlindung di balik gumpalan awan hitam. Bintang-bintang pun menghilang satu demi satu. Saat itu mendekati tengah malam. Jika pertengahan malam kali ini berlalu maka berarti untuk ke sekian kalinya dunia memasuki tahun baru, memasuki usia baru. Bumi Tuhan ini bertambah tua juga.
Di kejauhan lapat-lapat terdengar suara lolongan anjing. Pada saat itulah sesosok tubuh kelihatan lari memasuki Tegaltritis dari jurusan timur. Tak lama kemudian sampailah orang ini di samping sebuah tembok tinggi satu bangunan yang paling bagus dan mewah di kampung tersebut. Tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan orang ini langsung masuk ke halaman depan dengan melompati tembok.
Gedung besar di hadapannya sunyi senyap tanda semua penghuni sudah tidur lelap. Hanya pada beberapa tempat terdapat lampu-lampu kecil menyala. Sekali menggenjot tubuh orang ini kemudian melompat ke genting bangunan. Dengan menerobos genting dan langit-langit dia masuk ke dalam gedung, sampai ke sebuah kamar dimana terdapat dua buah tempat tidur berkelambu putih dan biru muda.
Di atas tempat tidur berkelambu putih, tiga orang anak kelihatan tidur dengan nyenyaknya. Sesaat orang yang barusan menerobos masuk itu memperhatikan wajah ketiga anak itu. Dadanya terasa sesak menggemuruh. Cepat-cepat dia berpaling dan melangkah ke dekat tempat tidur yang berkelambu biru.
Di atas tempat tidur yang satu ini berbaring nyenyak seorang perempuan. Wajahnya membayangkan keletihan dan keputus-asaan hingga lebih tua dari usia sebenarnya. Meski demikian kecantikannya masih belum pupus. Disamping perempuan itu bergelung seorang anak lelaki berusia dua tahun. Rambutnya hitam, alis matanya tebal. Kembali orang di luar kelambu merasakan dadanya sesak. Dipejamkannya kedua matanya.
“Haruskah kulakukan ini….? Haruskah kulakukan?!” Pertanyaan itu menghujam berulang kali dalam hatinya.
Tiba-tiba ada satu bayangan wajah manusia yang maha mengerikan menjelma di ruang matanya.
“Ingat sumpah utamamu Sonya! Ingat. Itu harus kau lakukan! Harus! Kalau tidak aku akan bangkit dari alam kematian. Makhluk peliharaanku akan menyiksamu selama tujuh tahun!”
Lelaki di samping tempat tidur itu ternyata adalah Sonya. Kedua tangannya terkepal. Rahangnya mengatup kencang. Perlahan-lahan Dibukanya kembali kedua matanya. Kini pada sepasang mata itu kelihatan membersit sinar aneh. Sinar ganas jahat. Kebimbangan yang tadi menguasai hatinya serta merta lenyap. Sonya menyibakkan kelambu biru. Ditanggalkannya pakaiannya. Lalu dibetotnya pakaian perempuan di atas tempat tidur yang bukan lain adalah istrinya sendiri. Perempuan itu terkejut dan bangun dari tidurnya. Belum sempat dia menjerit, Sonya sudah menutup mulutnya dan menaiki tubuhnya. Sonya kini memperkosa istrinya sendiri sampai akhirnya perempuan itu pingsan!
Setelah melampiaskan nafsunya Sonya segera membungkus anak lelaki yang ada di atas tempat tidur anaknya sendiri lalu melompat ke atas langit-langit kamar. Sesaat kemudian ketika perempuan itu siuman dan mendapatkan anaknya tak ada lagi maka diapun menjerit: “Anakku! Anakku! Tolong…penculik!”
Hari itu murid Eyang Sinto Gendeng sampai di sebuah kota kecil bernama Nganglek. Rasa haus membuat dia melangkahkan kaki memasuki sebuah kedai minuman. Di jalan besar yang di laluinya itu terdapat dua buah kedai. Yang satu besar dan bersih, lainnya kecil serta kotor. Wiro hendak memasuki kedai yang besar ketika di kedai kecil sebelah sana dilihatnya suatu hal yang menarik. Pendekar ini segera memutar langkah menuju kedai buruk itu. Dia duduk disebuah sudut agak dalam.
Dekat pintu kedai duduk dua orang laki-laki berpakaian hitam bermuka kumal tak terurus. Pada lengan masing-masing memakai gelang akar bahar besar. Satu benda yang sudah dapat dipastikan gagang senjata menonjol di balik pinggang pakaian keduanya. Mereka memperhatikan Wiro dengan pandangan mata tajam.
“Hanya seorang pemuda kampung tolol. Tak perlu di curigai,” berbisik lelaki bermuka hitam kepada kawan di sebelahnya.
Kawannya yang mempunyai cacat besar bekas luka di pipi kiri masih memandang beberapa lama pada Wiro. Akhirnya memalingkan muka dan kembali memperhatikan ke arah pintu seperti ada yang tengah di tunggu.
Wiro meneguk minumannya. Tak selang beberapa lama masuklah seorang lelaki berbadan kurus pendek. Begitu masuk dia langsung menemui dua orang berpakaian serba hitam tadi. Mereka bicara berbisik-bisik. Lelaki muka hitam mengeluarkan beberapa keeping uang perak yang kemudian diserahkannya pada si kurus pendek. Orang yang menerima uang ini segera berlalu.
Wiro membayar minumannya. Ketika dia keluar dari kedai di lihatnya si kurus tadi sudah berada di ujung jalan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan dua orang di dalam kedai, Wiro sengaja mengambil jalan yang berlawanan. Namun di balik sebuah bangunan cepat pendekar ini berputar dan Dilain saat dia sudah melangkah cepat mengejar si kurus.
Lelaki kurus pendek itu ternyata menuju ke tepi sungai. Di sebuah tikungan sungai yang ditumbuhi pohon-pohon bambu amat lebat, tertambat sebuah perahu. Orang ini hentikan langkahnya. Seorang lelaki berbadan tinggi kekar melompat enteng dari dalam perahu dan bicara dengan si kurus. Yang terakhir ini kemudian cepat-cepat tanggalkan tempat itu.
Setelah menunggu beberapa lamanya, Wiro keluar dari balik rerumpunan pohon bambu. Dia berdiri ditepi sungai dengan sikap seperti seorang hendak menyeberang. Ketika dia melirik ke arah perahu, ternyata di balik atap perahu kelihatan tiga pasang kaki. Sementara itu lelaki tinggi besar yang masih tegak di tebing sungai memperhatikan Pendekar 212 dengan mata melotot penuh selidik. Wiro justru melangkah mendekatinya.
“Saudara, aku ingin menyeberang. Apakah kau bisa membawaku ke tepi sungai sebelah sana?” berkata Wiro.
Si tinggi besar ini bernama Prakunto. Dia memandang Wiro dari rambut gondrong sampai ke kakinya yang kotor, melirik pada tiga kawannya dalam perahu lalu tertawa bergelak.
“Pangeran dari mana yang berani memerintahku seenaknya?”
“Oh…oh…oh! Aku bukan pangeran, sobat. Agaknya kau khawatir soal ongkos. Jangan takut. Aku punya uang untuk membayar. Sebutkan saja berapa ongkosnya sampai ke seberang!”
Kembali Prakunto tertawa gelak-gelak.
“Monyet gondrong! Aku tak butuh uangmu. Lekas minggat dari sini!”
“Ah, jangan begitu sobat. Kau tolonglah aku menyeberang,” pinta Wiro pula.
“Manusia edan! Kau berani memaksaku?!”
“Tidak. Aku tidak memaksa. Tapi minta tolong!”
Prakunto ulurkan tangannya meraba dada Wiro Sableng hingga pemuda ini bergelinyang kegelian.
“Ngg…kulihat dadamu cukup kekar,” kata Prakunto pula. “Begini saja. Bagaimana kalau kita adakan perjanjian baku jotos. Kalau aku menang serahkan seluruh uang yang ada padamu dan berlalu dari sini!”
“Bagaimana kalau aku yang menang?” balik bertanya Wiro.
Prakunto tertawa meledak diikuti oleh ke tiga kawannya yang ada dalam perahu.
“Kalau kau yang menang, jangankan ke seberang sana, ke nerakapun kau akan ku antar!”
“Baik! Bagaimana caranya adu jotos ini….?”
“Kita saling pukul tiga kali. Siapa yang nanti jatuh atau terhuyung ke belakang berarti kalah!”
“Ah, mudah sekali itu…,” kata Wiro sambil senyum-senyum.
“Siapa yang mulai memukul lebih dulu?!”
“Silahkan kau yang memukulku lebih dulu,” jawab Prakunto yang tidak memandang sebelah mata pada pemuda bertampang dungu di hadapannya itu.
Wiro melangkah ke hadapan Prakunto. Diulurkannya tangannya ke dada si tinggi besar ini, meraba-raba beberapa lamanya hingga Prakunto menjadi kesal.
“Aku suruh kau memukul dadaku. Bukan memijat-mijat. Tolol!” hardik Prakunto.
“Ah, dadamu keliwat lunak. Seperti agar-agar. Aku khawatir sekali pukul saja dadamu bisa murak berantakan. Nanti kau tak bisa balas memukulku. Bagusnya kau saja yang memukulku lebih dulu!”
Prakunto benar-benar jadi naik darah mendengar ucapan Wiro Sableng. Sementara ke tiga kawannya sudah keluar dari perahu dan tegak mengelilingi mereka.
“Pemuda ingusan! Mulutmu sombong sekali!” sentak Prakunto.
“Eh, jadi adu jotos ini tidak diteruskan? Nyatanya kau Cuma seorang pengecut. Badan saja yang tinggi kekar tapi nyali selembek tahi ayam!”
Diejek begitu Prakunto jadi naik pitam. Tiga kawannya juga tampak marah.
“Kau Bersiaplah. Sekali pukul nyawamu akan kubuat melayang!” kata Prakunto.
Wiro mundur beberapa langkah dan berdiri sambil tolak pinggang. “Silahkan pukul. Jangan salah. Pilih tempat yang empuk!”
Tinju kanan Prakunto mengepal besar dan kokoh. Dari jarak dua langkah tinjunya itu di ayunkan sekuat-kuatnya ke dada Pendekar 212 Wiro Sableng.
Buk!
Terdengar suara bergedebuk keras sewaktu tinju yang besar itu mendarat di dada Wiro. Baik Prakunto maupun tiga kawannya sudah sama membayangkan bagaimana jotosan itu akan membuat Wiro terlempar, roboh muntah darah dan melayang ke akherat.
Tapi jangankan terjungkal atau terhuyung, serambutpun tubuh pendekar itu tidak bergeming. Di lain pihak Prakunto merasakan tinjunya mendarat di sebuah permukaan selembut kapas. Membuat lelaki ini ternganga keheranan.
“Heh, kau rupanya punya ilmu juga….,” ujar Prakunto seraya menyeringai. “Tapi tunggu, masih ada dua pukulan lagi. Jaga pukulanku yang kedua!” Lalu untuk kedua kalinya Prakunto hantamkan tinju kanannya yang beratnya tak kurang dari lima puluh kati. Untuk kedua kalinya pula terdengar suara buk! Dan untuk kesekian kalinya si tinggi besar itu terheran-heran karena sasaran yang dihantamnya terasa demikian lembut. Dia memandang pada Wiro dengan mata meloncat sementara murid Eyang Sinto gendeng itu cuma cengar cengir tak acuh.
“Pukulan terakhir sobat!” seru Prakunto.
“Keluarkan seluruh tenagamu, luar dalam. Pukullah lebih keras. Masakan manusia setinggi dan sebesarmu ini pukulannya tidak terasa apa-apa, seperti orang menggelitik saja!”
Muka Prakunto merah padam. Dia merasa malu terutama terhadap ketiga kawannya. Tenaga dalamnya disalurkan seluruhnya ke tangan kanan hingga mempunyai daya hantam sebat dua ratus kati. Jangankan tubuh manusia, tembok tebal atau kepala kerbaupun pasti hancur luluh.
“Kau sudah siap?!” tanya Prakunto. Tinju kanannya tampak bergetar.
“Sudah sejak tadi-tadi sobat!” sahut Wiro seenaknya.
Prakunto kertakkan rahang.
“Mampuslah!” bentak Prakunto. Berbarengan dengan itu tinju kanannya berkelebat deras sampai mengeluarkan suara menderu. Mendarat tepat di dada kiri Pendekar 212, pada bagian jantungnya!
Terdengar satu jeritan setinggi langit!
Prakunto berdiri terbungkuk-bungkuk. Tangan kirinya tiada henti mengusap tangan kanan yang tadi di pakai meninju. Kalau dua kali Pertama tadi memukul dada lawan dirasakannya lunak lembut, tetapi kali yang ketiga dada pemuda itu seperti berubah menjadi dinding karang yang luar biasa keras dan atosnya. Dua buah jari tangan kanannya patah, kulitnya terkelupas dan mengucurkan darah di beberapa bagian.
“Bagaimana sobat? Kau telah memukulku tiga kali. Kini giliranku!” kata Wiro.
“Baik, baik….,” kata Prakunto menahan sakit dan malu. Dia berdiri memasang kuda-kuda. Wiro mundur mengambil ancang-ancang untuk memukul. Tiba-tiba salah seorang kawan Prakunto mendekati lelaki itu dan berbisik: “Kunto, kita tak ada waktu melayani pemuda edan ini lebih lama. Sebentar lagi kereta itu akan tiba. Kau mau didamprat dan digebuk Jakasempar? Seberangkan saja dia agar tidak mengganggu kita lebih lam!”
“Tapi aku toh musti melayaninya!” sahut Prakunto.
“Persetan! Seberangkan dia!”
Prakunto berpikir sejenak.
“Hai, mengapa kalian ini? Aku sudah siap memukul!” Wiro berseru.
“Sobat, biarlah. Walau kau belum memukul tapi aku mengaku kalah. Aku akan antarkan kau ke seberang,” kata Prakunto pula.
Wiro tersenyum dan garuk-garuk kepalanya. Dia melompat ke dalam perahu. Hanya sebentar saja dia pun sampai ke seberang sungai. Wiro ucapkan terima kasih dan naik ke darat sementara Prakunto mengayuh perahunya kembali ke seberang yang lain. Hanya sesaat dia mencapai tepi sungai, sepuluh orang berkuda sampai di tempat itu. Rombongan ini di pimpin oleh lelaki muka hitam yang dilihat Wiro di kedai di Nganglek.
“Bagaimana Jaka….?” tanya Prakunto pada si muka hitam yang bernama Jakasempar.
“Kalian bersiap. Cari tempat berlindung yang baik. Sebentar lagi kereta itu akan lewat. Ingat, gadis itu tak boleh mendapat cidera barang sedikitpun!”
Maka keempat belas orang itupun bersembunyi di tempat yang terpencar di tikungan sungai. Kira-kira sepeminuman the berlalu, di kejauhan terdengar suara rentak kaki-kaki kuda dan gemeletak roda kereta. Tak lama kemudian dari balik tikungan muncullah sebuah kereta putih, dikawal oleh sepuluh prajurit Kadipaten dibawah pimpinan seorang lelaki tua gagah bernama Wilacarta.
Begitu kereta memperlambat jalannya karena memasuki tikungan maka terdengarlah ringkik binatang penarik kereta itu. Lima pisau terbang menghambur dan menancap di kaki dua ekor kuda penarik kereta dan Membuatnya tersungkur. Kereta hampir saja terbalik ke dalam sungai. Bersamaan dengan itu Jakasempar dan anak buahnya berlompatan dari tempat persembunyian masing-masing, langsung menyerbu prajurit-prajurit pengawal dengan senjata terhunus!
Daerah luar kota Jepara akhir-akhir ini memang kurang aman. Karenanya melihat kemunculan belasan orang bermuka bengis itu, Wilacarta segera maklum kalau rombongan tengah dihadap perampok. Tapi karena saat itu dia dan anak buahnya sama sekali tidak membawa uang atau harta berharga Kecuali mengawal Sri Ayu Pandan, Putri Adipati Jepara, maka penghadangan itu terasa agak aneh dimata Wilacarta. Namun saat itu tak ada waktu untuk berpikir panjang.
Orang tua gagah ini berteriak memberi semangat pada anak buahnya. Lalu mencabut pedang dari pinggang. Dia sama sekali tidak menduga justru rombongan yang menghadang itu memang tidak hendak merampok harta atau uang, melainkan hendak menculik puteri Adipati Jepara. Setelah gadis itu di tangan mereka, Jakasempar akan meminta uang tebusan dalam jumlah besar.
Pertempuran berkecamuk hebat. Pihak Kadipaten selain kalah jumlah, lawan yang mereka hadapi rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi hingga dalam tempo singkat dua orang prajurit roboh mandi darah.
Ketika tadi kereta menyungkur tanah karena dua kuda yang menariknya roboh, dari dalam kereta terdengar pekik perempuan. Tirai jendela tersingkap dan tampaklah satu kepala berambut hitam legam berwajah rupawan. Dialah Sri Ayu Pandan, puteri Adipati Jepara. Belum habis kejut sang gadis akibat tersungkurnya kereta, tiba-tiba dari semak belukar dilihatnya berlompatan manusia-manusia bertampang bengis bersenjata golok atau pedang dan mereka ini langsung menyerang para pengawal. Takutnya puteri Adipati ini bukan kepalang. Dia berteriak tiada henti.
Wilacarta putar pedangnya dengan sebat. Dia berhasil merobohkan seorang lawan dan melukai seorang lainnya. Ketika dilihatnya Jakasempar bergerak mendekati kereta, kepala pengawal ini segera menghadang. Namun dia tak mampu menghalangi lebih jauh karena secepat kilat tiga orang anak buah Jakasempar melompat kehadapannya dan langsung menyerbu.
Kusir kereta yang merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan puteri majikannya, dengan bersenjatakan sepotong besi panjang menyerang Jakasempar dari samping. Serangan itu dengan mudah dapat dielakkan oleh Jakasempar. Sebagai balasan Jakasempar menghadiahkan satu tusukan golok yang ganas. Karena memang tidak memiliki kepandaian silat apa-apa, kusir kereta itu akhirnya menemui ajal dengan dada ditembus golok.
Jakasempar menendang pintu kereta hingga tanggal berantakan. Di dalam sana Sri Ayu Pandan menyudut ketakutan. Jakasempar tersenyum menyeringai melihat tubuh mulus dan wajah cantik gadis itu. Dalam benaknya sudah muncul pikiran kotor. Puteri itu diculik dan dimintai tebusan uang dalam jumlah besar. Tapi apa salahnya sebelum dikembalikan pada orang tuannya akan dipakai sebagai pemuas nafsu lebih dulu?
“Gadis cantik. Kau tak usah takut. Mari ikut aku…” kata Jakasempar seraya mengulurkan tangan untuk menarik Ayu Pandan. Namun sebelum jari-jari tangannya sempat menyentuh tubuh gadis itu mendadak dari samping melesit sebuah benda besar. Jakasempar cepat bersurut mundur. Benda itu menghantam tangga kereta dan ternyata adalah sosok tubuh seorang anak buahnya sendiri yang telah menjadi mayat!
Terkejut bukan kepalang, Jakasempar palingkan kepala. Dan membeliaklah mata manusia muka hitam ini. Enam langkah di hadapannya berdiri pemuda rambut gondrong yang sebelumnya pernah dilihatnya di kedai Nganglek. Pakaiannya basah kuyup. Apakah dia yang telah melemparkan tubuh anak buahnya itu tadi?
Pemuda berpakaian kuyup itu adalah Wiro Sableng. Sesampainya di seberang tadi, dia pura-pura berlalu, tapi diam-diam menyelinap ke balik semak-semak dan mengintai. Dia yakin sekali orang-orang yang ditemuinya di kedai dan di tepi sungai itu tengah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang jahat. Dan keyakinannya itu tak lama kemudian menjadi kenyataan. Yaitu dengan munculnya kereta putih yang telah ditunggu untuk di hadang. Pada saat pertempuran sedang berkecamuk, Wiro terjun kesungai, berenang menyeberang. Itulah sebabnya pakaiannya basah kuyup.
“Bangsat! Pemuda ini memang sudah kucurigai sejak dari Nganglek!” kertak Jakasempar. Dia melangkah mendekati Wiro dan membentak: “Keparat! Kau berani mencampuri urusanku! Berarti kau berani mampus!”
Wut!
Golok besar di tangan Jakasempar menderu. Membabat ke dada Wiro Sableng. Ketika Wiro berhasil mengelakkan serangan itu, serta merta serangan kedua dan ketiga datang susul menyusul laksana kilat! Kiranya kepala rampok ini memiliki ilmu golok yang lihai. Dia mengharap dalam beberapa gebrakan saja akan dapat mencincang tubuh lawannya. Namun dia tidak tahu, dengan siapa hari itu dia berhadapan.
Jakasempar membuka jurus kedua dengan serangan berantai kembali. Wiro berkelebat cepat diantara taburan sinar golok lawan. Awal jurus ketiga pendekar ini mempercepat gerakannya hingga tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang dan Jakasempar mejadi bingung karena kehilangan lawan. Sambaran goloknya terus menerus menghantam tempat kosong.
Selagi Jakasempar kebingungan Wiro hantamkan tangan kanannya ke kening penjahat ini. Jakasempar menjerit. Tubuhnya terbanting ketanah tak sadarkan diri. Keningnya yang memang sudah hitam kini tampak tambah hitam karena hangus. Dan pada kening itu kini tertera tiga deretan angka 212! Dari mata, hidung serta mulutnya mengalir darah!
Tiga orang anak buah Jakasempar yang melihat pemimpin mereka dicelakai begitu rupa dengan cepat menyerang.
“Manusia-manusia tak berguna. Bisanya cuma membuat keonaran! Majulah bila minta digebuk!” kertak Wiro Sableng. Begitu ketiga lawannya berlompatan menyerang maka terdengarlah plak, plak, plak! Tiga tamparan mendarat di kening mereka. Ketiganya menggeletak di tanah menerima nasib seperti pemimpin mereka.
“Pemuda keparat! Makan pedangku ini!” satu suara membentak. Dikejap yang sama satu tebasan pedang menyambar batang leher Pendekar 212. Wiro keluarkan suara bersiul dan melompat kebelakang. Yang menyerangnya dengan ganas itu ternyata Prakunto. Ditangannya tergenggam sebilah pedang berlumuran darah. Dengan pedang itu dia telah membunuh dua prajurit Kadipaten dan melukai parah Wilacarta. Orang tua itu kini tergeletak dekat roda kereta, dengan menahan sakit bukan kepalang dan darah masih mengucur di bekas lukanya.
“Hai! Rupanya kau masih belum puas dengan adu jotos tadi?!” mengejek Wiro.
“Baku jotos dan pedang lain, sobat!” jawab Prakunto sambil tusukan pedang yang digenggamnya di tangan kiri karena tangan kanannya cidera akibat adu jotos dengan Wiro tadi.
Wiro keluarkan satu siulan lagi. Dia berkelit ke kiri. Begitu ujung pedang lewat di sampingnya, Wiro gerakan tangan kanan memukul siku Prakunto. Lelaki ini terpekik karena sambungan sikunya terlepas. Dia kembali menjerit sewaktu tapak tangan Pendekar 212 menghantam keningnya hingga hangus. Prakunto terbujur di tanah, melintang di atas tubuh Jakasempar!
Ketika Wiro memandang berkeliling ternyata pertempuran sudah selesai. Kusir kereta dan beberapa prajurit Kadipaten tewas. Yang lain-lainnya termasuk Wilacarta menderita luka-luka. Dipihak penjahat empat orang mati, dua orang melarikan diri sedang delapan lainnya, diantaranya Jakasempar dan Prakunto menderita luka-luka dan pingsan.
Dari dalam kereta masih terdengar jeritan-jeritan Sri Ayu Pandan yang masih diselimuti ketakutan. Wiro mendatangi.
“Hentikan jeritanmu. Pertempuran sudah berhenti. Tak ada yang harus ditakutkan lagi!” berkata Wiro.
Puteri Kadipaten itu turunkan kedua tangannya yang tadi dipakai untuk menutupi muka. “Kau…kau siapa?” tanyanya masih takut dan curiga.
Wiro garuk-garuk kepala. Sebelum dia memberi jawaban, dari belakangnya seseorang berkata: “Pendekar 212, ikutlah bersamaku.”
Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini terkesiap kaget dan berpaling. Dihadapannya berdiri seorang kakek-kakek yang mata kirinya picak sedang disampingnya tegak seorang anak lelaki berusia sekitar lima belas tahun, berpakaian serba putih dan berparas cakap. Jika seseorang mengenali julukannya, maka orang itu pasti bukanlah manusia sembarangan.
“Orang tua, kau siapa ….?” Tanya Wiro.
“Siapa aku nanti kuterangkan. Yang penting kau harus ikut aku Sekarang juga!”
“Heh? Ikut kau? Kemana? Jalan-jalan…..?” tanya Wiro bergurau.
“Jangan banyak tanya dan jangan bergurau. Waktuku amat singkat,” jawab orang tua mata picak.
“Ngg…kalau begitu kau pergilah sendirian. Siapa sudi turut denganmu. Aku masih ada tugas mengurusi orang-orang Kadipaten ini!”
“Biar muridku yang mengurus mereka,” kata si picak. “Kepentinganku ada hubungannya dengan malapetaka yang menimpa dunia persilatan saat ini!”
Ucapan itu membuat Wiro Sableng yang barusan hendak melangkah tubuh berbalik kembali.
“Apa katamu orang tua….?!”
Si orang tua tak menjawab melainkan memutar tubuh. Setelah mengatakan sesuatu pada anak lelaki di sebelahnya, dia lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Tampaknya dia melangkah biasa saja. Namun hanya sesaat dia telah lenyap di tikungan jalan. Dengan garuk-garuk kepala Wiro Sableng terpaksa mengejar si mata picak aneh itu. Ternyata orang tua ini menuju Jepara.


8

HARI masih pagi. Sinar sang surya masih kuning kemerahan tanda belum lama keluar dari tempat peraduannya. Sura Gandara berdiri di ambang pintu rumah makannya, memperhatikan pelayan-pelayan membereskan bagian depan rumah makan itu. Di Jepara, Sura yang berbadan gemuk macam kerbau bunting itu terkenal sebagai pemilik rumah makan paling besar, paling lezat tetapi murah harganya.
Dari dalam sabuknya di keluarkan secuil tembakau dan kertas. Maka mulailah dia menggulung sebatang rokok klinting. Baru saja dia menyalakan rokok itu, tiba-tiba berubahlah parasnya.
Di seberang jalan tampak empat orang berpakaian jubah putih yang di bagian dadanya terpampang sulaman bunga teratai besar berwarna merah darah.
“Empat Teratai Darah……….” kata Sura Gandara dalam hati. Rasa tak enak segera menyungkupi dirinya. Sekitar satu tahun yang lewat empat manusia itu pernah datang ke rumah makannya. Kedatangan mereka hanya membuat keonaran. Rumah makan waktu itu menjadi centang perenang porak poranda akibat dipakai sebagai tempat perkelahian oleh Empat Teratai Darah melawan musuhnya Empat Naga Hitam. Meskipun kali ini Kedatangan mereka belum tentu akan berbuat keonaran lagi, namun tetap saja Sura Gandara merasa cemas. Buktinya pagi-pagi sekali, selagi rumah makan masih belum buka, mereka sudah muncul. Tentu ada apa-apanya.
Sura Gandara tak bisa berpikir lebih panjang karena keempat orang itu sudah berdiri di hadapannya.
Sura menjura hormat. Dengan senyum yang dipaksakan dia berkata: “Satu kehormatan lagi bahwa kalian orang-orang gagah sudi datang ke tempatku. Sebenarnya rumah makan masih belum buka dan masih kotor. Jika orang-orang gagah tidak keberatan dengan keadaan ini, Silahkan masuk.”
Kakek-kakek bermuka putih bernama Sumo Kebalen yang menjadi pemimpin Empat teratai Darah anggukkan kepala sedikit lalu masuk diikuti ketiga adik seperguruannya.
“Suasana begini tak jadi apa,” kata Sumo Kebalen seraya duduk. “Yang penting cepat hidangkan makanan dan minuman yang lezat!”
“Orang gagah Sumo Kebalen. Jangan khawatir. Apa yang kau minta akan segera di hidangkan,” jawab Sura Gandara. “Mungkin ini suatu kelancangan. Tapi jika aku yang hina buruk ini boleh bertanya, gerangan apakah yang membuat empat orang gagah muncul pagi-pagi begini di Jepara?”
“Kami tengah menunggu seseorang. Karenanya selagi kami makan kuharap kau berdiri di depan pintu. Larang setiap orang yang mau masuk. Kecuali orang yang kami tunggu itu ….”
“Celaka, pasti akan terjadi lagi keonaran di tempat ini,” keluh Sura Gandara ketika mendengar keterangan Sumo Kebalen tadi. Namun dia masih kepingin tahu. Karenanya dia bertanya kembali. “Maaf Sumo. Siapakah manusianya yang orang gagah tunggu ini?”
“Seorang lelaki bermata buta sebelah. Namanya Rangga Lelanang. Sudah. Kau jangan banyak tanya Sura! Lekas hidangkan makanan. Kami sudah lapar!”
“Baik, baik….” Jawab Sura sambil manggut-manggut. Lalu dia berteriak memanggil pelayan. Selesai memberi perintah, sesuai yang dikatakan Sumo Kebalen, pemilik rumah makan ini kemudian pergi berdiri di pintu masuk, berjaga-jaga.
Orang kedua dalam Empat Teratai Darah adalah seorang nenek-nenek berbadan tinggi kurus bernama Supit Inten. Nenek-nenek ini merupakan saudara seperguruan Sumo Kebalen. Dalam dunia persilatan bukan rahasia lagi bahwa kedua tokoh ini menjalani hidup bersama tanpa kawin alias kumpul kebo.
Orang ketiga dan keempat adalah dua gadis kembar berbadan langsing. Paras mereka sebenarnya tidak begitu cantik. Tetapi karena pandai memoles muka berhias berlebihan maka jadinya lumayan juga. Gadis pertama bernama Inang Pini sedang adiknya Inang Resmi.
Pada dasarnya Empat Teratai Darah tidak dapat dikatakan sebagai tokoh-tokoh silat golongan putih. Mereka seringkali diketahui bersekutu dengan jago-jago golongan hitam. Dalam malang melintang di rimba persilatan mereka tak pernah berpisah. Hari itu mereka datang ke rumah makan Sura Gandara untuk menunggu Kedatangan seorang musuh bernama Rangga Lelanang, yaitu kakek-kakek lihay yang pernah menghina almarhum guru mereka sewaktu diadakan pertemuan antara tokoh-tokoh silat golongan hitam di puncak gunung Merapi dua tahun yang lalu.
Tidak seorangpun dari Empat Teratai Darah sebelumnya pernah melihat atau bertemu dengan Rangga Lelanang. Namun ciri-ciri si kakek ini sudah mereka ketahui jelas dari sang guru sebelum menutup mata delapan belas bulan yang lalu. Dengan memakai seorang perantara Empat Teratai darah mengirimkan sepucuk surat undangan kepada Rangga Lelanang guna datang ke rumah makan itu, untuk menyelesaikan soal malu besar penghinaan tempo hari.
Selagi Empat Teratai Darah sedang asyik menyantap makanan lezat di atas meja, pada saat itu pulalah Wiro Sableng dan si kakek mata picak bernama Lor Gambir Seta sampai di tempat itu.
Si kakek sebenarnya tak ingin singgah karena ingin lekas-lekas sampai ke tempat tujuan. Tapi Wiro sudah tak tahan lapar dan memaksa masuk ke rumah makan. Dengan jengkel si kakek terpaksa mengikuti. Tetapi baru saja mereka sampai di depan pintu, Sura Gandara sudah menyongsong dengan sikap menghadang.
“Harap dimaafkan, rumah makan belum buka. Datang saja nanti kalau matahari sudah mulai naik,” berkata Sura Gandara.
Wiro Sableng melirik ke dalam rumah makan. Lalu menyeringai dan berkata: “Kalau betul rumah makan ini belum buka kenapa kulihat ada empat kunyuk sedang enak-enakan makan di dalam sana?!”
Paras Sura Gandara berubah. Kalau saja ucapan Wiro tadi sempat terdengar oleh Empat Teratai Darah bisa berabe.
“Orang muda, harap kau jangan bicara seenaknya. Empat orang itu adalah tamu-tamu istimewa…”
“Hai, tamu-tamu istimewa macam bagaimana?” tanya Wiro. “Kulihat mereka biasa-biasa saja. Cuma mungkin memang sedikit aneh. Si kakek itu bermuka putih seperti singkong rebus. Si nenek sudah peot tapi agak genit. Dua gadis seperti topeng yang diberi pupur tebal….!”
Si gemuk Sura Gandara maju dan mencekal kerah kemeja Wiro. “Gondrong! Jaga mulutmu kalau tak mau Celaka….”
Lor Gambir Seta menepuk bahu Wiro dan berkata agar mereka mencari rumah makan lain saja. Tetapi pendekar kita tetap tak bergerak. Pemilik rumah makan itu menjadi marah. Ketika dia hendak menampar, tiba-tiba pandangannya lekat pada wajah Lor Gambir Seta yang bermata picak. Agaknya manusia inilah musuh besar yang tengah di tunggu-tunggu Empat Teratai Darah. Maka cepat-cepat dia melepaskan cekalannya dan membungkuk dalam-dalam.
“Mohon dimaafkan. Aku tidak melihat dalamnya laut tingginya gunung. Kalian berdua Silahkan masuk…”
Wiro tersenyum sedang Lor Gambir Seta kerenyitkan kening. Perubahan sikap Sura Gandara yang tiba-tiba ini pasti ada apa-apanya. Namun dia tak bisa berpikir panjang karena Wiro sudah melangkah masuk ke dalam rumah makan sambil bersiul-siul.
Mendengar suara siulan, Empat Teratai Darah yang asyik bersantap angkat kepala. Dua sosok tubuh tampak masuk mengikuti pemilik rumah makan. Ketika melihat Lor Gambir Seta, Sumo Kebalen serta merta hentikan makannya. Begitu juga tiga saudara seperguruannya.
“Orang yang kita tunggu telah datang,” bisik pemimpin Empat Teratai Darah itu.
Sementara itu Wiro serta Lor Gambir Seta telah mengambil tempat duduk di bagian lain rumah makan. Ketika pelayan datang untuk melayani mereka tiba-tiba Sumo Kebalen berseru: “Tak ada seorang tamu lain boleh dilayani tanpa izinku!”
Pelayan terkejut dan cepat-cepat masuk ketika dilihatnya Sumo Kebalen pelototkan mata.
Wiro Sableng pencongkan mulut dan batuk-batuk. Sementara orang tua bermata picak duduk tenang-tenang saja, memandang keluar jendela.
“Kakek, kau kenal empat kunyuk itu…?” bisik Wiro.
Tanpa palingkan kepalanya dari jendela si kakek mata satu menjawab: “Mereka Empat Teratai Darah”.
Wiro manggut-manggut. Saat itu pandangannya membentur sebuah kaleng kosong di dekat meja. Maka pendekar ini mulai bertingkah batuk-batuk, mengeluarkan suara seperti orang mau muntah dan meludah beberapa kali ke dalam kaleng itu.
Sumo Kebalen tahu kalau apa yang dilakukan Wiro itu tidak lain hanya untuk menghinanya. Wajahnya yang putih tampak mengelam. Tanpa berdiri dari duduknya dia berkata: “Adik-adikku. Kurasa terlalu banyak meja dan kursi malang melintang dalam ruangan ini. Coba kalian tolong rapikan!”
Dari tempat duduk masing-masing, Supit Inten, Inang Pini dan Inang Resmi memukulkan telapak tangan ke arah meja dan kursi yang ada disitu. Hebat sekali. Benda-benda itu berpentalan ke tepi ruangan hingga bagian tengah rumah makan itu kini terbuka lapang.
“Bagus!” seru Sumo Kebalen. Lalu dia berdiri dan melangkah ke tengah ruangan. Sambil bertolak pinggang dia memandang ke jurusan kakek mata picak yang duduk di dekat Wiro.
“Rangga Lelanang! Jangan kau pura-pura tidak tahu kami!”
Wiro berpaling pada Lor Gambir Seta. Orang jelas bicara padanya tapi si kakek ini duduk tenang-tenang saja tanpa berpaling sedikitpun.
Merasa dianggap remeh tak diperdulikan, Sumo Kebalen melompat ke hadapan Wiro dan Gambir Seta. Tangan kanannya menggebrak meja hingga hancur berkeping-keping. Gilanya Lor Gambir Seta masih saja tak bergeming dari tempat duduknya sementara Wiro mulai naik darah.
Wiro menatap wajah Sumo Kebalen sesaat lalu berkata: “Pangeran tua bermuka putih dari mana yang pagi-pagi begini mengamuk di rumah makan orang? Kau kemasukan atau mabuk tuak?!”
Sepasang mata Sumo Kebalen seperti hendak melompat keluar. Rahangnya menggembung. Wiro berdiri dari kursinya. Lor Gambir Seta masih seperti tadi. Diam tak bergerak. Supit Inten dan dua gadis kembar berdiri dari kursi masing-masing.
"Bocah bau apek. Kau menyingkirlah dari hadapanku. Sekali lagi kau berani buka mulut, kubanting tubuhmu sampai melesak di lantai rumah makan ini!"
Habis berkata begitu Sumo Kebalen lalu gerakan tangan kirinya mendorong bahu Pendekar 212 Wiro Sableng. Dorongan itu kelihatannya biasa-biasa saja. Tetapi nyatanya mengandung tenaga dalam dahsyat yang sanggup merobohkan tembok batu Sumo Kebalen sengaja hendak memberi pelajaran pada pemuda yang dianggapnya kurang ajar itu. Sekali dorong pasti si gondrong ini mencelat mental. Tetapi betapa kagetnya manusia muka putih ini!
Wiro sudah maklum kalau dari getaran hawa yang keluar dari telapak tangan Sumo Kebalen, orang itu bukan hanya sekedar mendorong biasa saja. Tapi bermaksud hendak mencelakakannya! "Orang tua," kata Wiro seraya menghadang tangan dengan tangan kirinya, "Kalau bicara tak usah pakai pegang-pegang segala. Aku bukan perempuan!"
Sesaat kemudian, telapak tangan Pendekar 212 saling beradu dengan telapak tangan Sumo Kebalen. Kagetlah kepala Empat Teratai Darah ini. Telapak tangannya terasa panas, lengannya bergetar keras.
Satu tenaga dorongan yang hebat membuat tubuhnya terhuyung tiga langkah. Paras Sumo Kebalen membesi. Kalau tadi dia hanya mengerahkan seperempat tenaga dalamnya saja maka kini dia lipatkan gandakan menjadi dua kali atau setengah dari seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya. Tapi celakanya malah kini dia dibuat terjajar empat langkah!
"Keparat!" maki Sumo Kebalen. Dia tak mau dibuat malu dipecundangi seorang pemuda tak di kenal yang bertampang gendeng. Maka kini dia alirkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan. Tapi untuk ketiga kalinya pimpinan Empat Teratai Darah ini tampak terhuyung. Malah kini sampai enam langkah. Wiro telah kerahkan dua pertiga tenaga dalamnya.
Meski sadar kini kalau pemuda itu bukan sembarangan namun Sumo Kebalen tetap membentak untuk menutup malunya: "Bangsat! Apa kau muridnya manusia bernama Rangga Lelanang ini?!" Kalau sang murid memiliki kepandaian yang begitu tinggi tentu sang guru lebih hebat lagi.
"Aku bukan muridnya!" jawab Wiro. "Nah, kau mau tanya apa lagi?!"
Sumo Kebalen kini palingkan kepalanya pada kakek yang duduk di samping Wiro.
"Tua bangka mata picak! Jangan kau pura-pura tuli! Empat Teratai Darah datang ke sini untuk membalas sakit hati penghinaan yang kau lakukan terhadap guru kami dua tahun lalu di puncak Merapi!"
Si orang tua mata satu tetap tak bergerak atau memalingkan kepala. Mendidihlah amarah Sumo Kebalen. Seumur hidup belum pernah dia di hina orang begitu rupa, apalagi di hadapan adik-adik seperguruannya.
"Edan!" maki Sumo Kebalen. Kaki kanannya bergerak menendang. "Kau makan kakiku ini Rangga Lelanang"
Karena tendangan kepala Empat Teratai Darah itu adalah tendangan maut, tentu saja kali ini si kakek mata satu tak bisa berdiam diri lagi. Dengan gerakan enteng tapi cepat dia melompat dari kursi. Tendangan menghantam kursi yang tadi didudukinya hingga hancur berantakan. Ketika kembali hendak mengejar, Sumo dapatkan si kakek mata satu sudah berdiri menghadang gerakannya. Untuk pertama kali dia membuka mulut.
"Sumo Kebalen! Aku bukan Rangga Lelanang. Namaku Lor Gambir Seta. Aku sama sekali tak ada urusan dengan kalian ataupun guru kalian. Atau juga dengan nenek moyang kalian!" "Bangsat tua! Jangan dusta!" Sesosok tubuh melompat ke hadapan Lor Gambir Seta. Inang Pini. Menyusul Inang Resmi dan nenek-nenek bernama Supit Inten. "Kami yakin kaulah yang telah menghina guru kami di puncak Merapi dua tahun lalu!"
Lor Gambir Seta tersenyum. "Gadis, parasmu cukup cantik. Tapi tidak berkesesuaian dengan mulutmu yang kurang ajar! Aku jauh lebih tua darimu. Apa gurumu sebelum mampus tidak pernah memberi pelajaran budi pekerti padamu?!"
Inang Pini yang memang sudah dirasuk nafsu balas dendam menjawab dengan mencabut pedangnya.
"Mulutku tak seberapa kurang ajarnya, mata picak! Pedangku justru lebih kurang ajar!"
Habis berkata begitu Inang Pini gerakkan pergelangan tangan kanannya dan mata pedang berkiblat ganas ke arah batang leher Lor Gambir Seta.
Si kakek goleng-goleng kepala. "Bakatmu rupanya memang untuk jadi orang kurang ajar. Jangan salahkan aku kalau terpaksa harus memberi pelajaran!"
Lor Gambir Seta bergerak sewaktu pedang lawan hanya tinggal seperempat jengkal dari batang lehernya. Tubuhnya lenyap. Pedang lawan menebas tempat kosong. Bersamaan dengan itu terdengar keluhan Inang Pini. Gadis itu kini tampak tertegun kaku tak bisa bergerak lagi. Satu totokan lihay telah bersarang di tubuhnya.
"Bagus! Kau sudah beri pelajaran pada adikku mata picak! Kini aku yang ganti memberi pelajaran padamu!"
Yang berseru adalah Supit Inten. Dia tutup ucapannya dengan satu pukulan mengemplang ke batok kepala Lor Gambir Seta.
"Ah, kau pun nenek sama saja tololnya dengan adikmu tadi! Biar aku sekalian beri pelajaran padamu!" jawab Lor Gambir Seta. Tubuhnya berkelebat. Tangannya bergerak dan terdengar keluhan Supit Inten. Detik itu pula tubuhnya tampak kaku tegang seperti Inang Pini!
"Ada lagi yang minta diberi pelajaran?!" tanya Lor Gambir Seta.
Baru saja orang tua ini berkata Inang Resmi datang menyerbu. Dia menghantamkan kedua tangannya sekaligus. Dari telapak tangan kanan melesat sinar merah sedang dari telapak tangan kiri menghambur dua lusin senjata rahasia berbentuk paku rebana berwarna hitam. Senjata rahasia ini sebelumnya telah di rendam dalam racun ular selama satu tahun. Siapa saja yang terkena paku rebana ini pasti akan menemui kematian dalam waktu satu jam!
Menurut Sumo Kebalen, paling tidak enam dari dua lusin senjata rahasia adik seperguruannya akan dapat menghantam tubuh Lor Gambir Seta yang dianggapnya Rangga Lelanang itu. Memang dalam ilmu melemparkan senjata rahasia Inang Resmi telah di gembleng khusus selama tiga tahun dan merupakan yang terlihay di antara Empat Teratai Darah.
Lor Gambir Seta maklum kalau bahaya besar mengancamnya. Si gadis benar-benar inginkan nyawanya. Sambil melompat dan berseru nyaring, kakek itu pukulkan tangan kirinya. Dua lusin paku rebana hitam mencelat ke atas, menancap pada langit-langit rumah makan yang terbuat dari papan. Sinar merah yang tadi juga di lepaskan si gadis, mengenai tempat kosong, terus melabrak dinding rumah makan hingga hancur berhamburan. Sura Gandara, si pemilik rumah makan menyumpah panjang pendek dalam hati. Hari itu bukan keuntungan yang didapatnya, malah bencana yang merugikan!
Inang Resmi gigit bibirnya. Dua lusin paku rebana tidak berhasil. Dia akan coba tiga lusin sekaligus. Masakan tak ada yang dapat menghantam tubuh lawan? Gadis ini sudah siap melepaskan senjata rahasianya sebanyak tiga puluh enam buah ketika tiba-tiba dia terkesiap karena dilihatnya lawannya lenyap dari hadapannya.
"Bangsat tua, kau bersembunyi di mana?!" bentak Inang Resmi. Tiba-tiba gadis ini mengeluh pendek. Tubuhnya terhuyung ke depan lalu tak bergerak lagi. Punggungnya dilanda totokan lihay. Membuat dia kaku tegang dengan masih menggenggam tiga lusin paku rebana hitam.
Ketua Empat Teratai Darah mengeluh dalam hati. Tidak disangkanya kakek mata picak ini begitu lihaynya. Namun menyerah tidak ada dalam kamusnya.
"Rangga Lelanang! Kalau tidak ku bunuh kau hari ini biar aku mati bunuh diri!" teriak Sumo Kebalen.
Si kakek ganda tertawa. "Tak pernah kulihat manusia setololmu!" katanya. Lalu dengan sikap tak perduli dia menarik sebuah kursi dan duduk seenaknya.
Sumo Kebalen menggereng. Lalu keluarkan suara bentakan dahsyat. Seluruh bangunan rumah makan bergetar. Pemilik rumah makan yang gemuk macam kerbau bunting itu ketakutan, apa lagi pelayan-pelayan.
Lor Gambir Seta melompat ke samping. Dinding di belakangnya hancur berantakan. Sumo Kebalen potong gerakan lawan dengan satu tendangan ke arah perut. Tetapi tendangan ini hanya tipuan belaka karena secepat kilat dia susupkan satu jotosan ke pangkal leher lawan. Namun Lor Gambir Seta agaknya memang bukan tandingan kakek muka putih ini.
Sewaktu tendangan lawan dilihatnya mengapung Lor Gambir Seta segera maklum kalau serangan itu tipuan belaka. Kemudian ketika dilihatnya jotosan datang dengan deras, si picak ini cepat tundukkan kepala dan sekaligus menghantam paha kanan lawan dengan lututnya. Sumo Kebalen terpental. Dia bergulingan di lantai lalu cepat tegak kembali. Namun belum sempat dia mengimbangi diri satu totokan hinggap di dadanya, membuat dia kini kaku tak berdaya. Empat Teratai Darah kini tertegak di tengah rumah makan dalam keadaan kaku tegang tak bisa bergerak. Cukup lucu menyaksikan keadaan mereka saat itu.
Sumo Kebalen kerahkan tenaga dalamnya ke dada untuk membuyarkan totokan. Tapi totokan itu bukan totokan sembarangan. Kalau bukan Lor Gambir Seta sendiri yang memusnahkannya, totokan itu baru lenyap setelah tiga jam.
"Keparat kau Rangga Lelanang! Pengecut!" maki Sumo Kebalen. "Lepaskan totokan ini. Mari kita berkelahi sampai seribu jurus!" Lor Gambir Seta tidak perdulikan ucapan orang, sebaliknya Wiro Sableng tertawa gelak-gelak dan mencibir ke arah Sumo Kebalen. "Kambing muka putih," katanya. "Lagakmu hebat betul. Hendak berkelahi seribu jurus. Nyatanya kau sudah jadi pecundang di bawah sepuluh jurus!" Saking marahnya Sumo Kebalen lantas meludahi Wiro Sableng. Meski sudah mengelak namun tampiasan air ludah masih sempat memercik di muka pendekar ini. "Sialan. Benar-benar sialan!" maki Wiro. Dibetotnya ujung jubah Sumo Kebalen hingga robek. Kakek muka putih ini terbanting ke lantai dan memaki panjang pendek. Wiro seka ludah di mukanya dengan robekan pakaian si kakek. Lalu robekan pakaian itu diludahinya berulang-ulang, setelah itu dibuntalnya bulat-bulat dan disumpalkannya ke mulut Sumo Kebalen hingga kakek ini megap-megap, tercekik dan sulit bernapas. "Pendekar 212," kata Lor Gambir Seta, "Kalau kau hendak mengisi perut cepatlah! Kita tak punya waktu banyak."
Wiro berteriak memanggil pelayan yang datang dengan ketakutan. Makanan dan minuman yang di pesan segera di hidangkan. Wiro langsung menyantapnya. Lalu dia ingat pada orang tua di sebelahnya. "Hai, kau tidak makan?"
Yang ditanya menggeleng. "Kau saja yang makan. Dan cepat"
Sementara itu Supit Inten, Inang Pini dan Inang Resmi tidak hentinya berteriak memaki-maki. Tapi baik Wiro maupun Lor Gambir Seta tidak perdulikan.
"Rangga Lelanang!" teriak Supit Inten. "Aku bersumpah akan memisahkan kepala dan tubuhmu!"
"Nenek-nenek tolol! Namanya bukan Rangga Lelanang, tapi Lor Gambir Seta!" jawab Wiro.
"Rupanya si mata picak itu terlalu pengecut untuk mengakui namanya yang asli!" menukas Inang Resmi.
"Kalian bertiga perempuan-perempuan cerewet. Tak bisa diam! Mengganggu makanku saja!" damprat Wiro. Lalu dari dalam mangkok sayur diambilnya tiga buah melinjo dan dilemparkannya ke arah ke tiga perempuan itu. Langsung saja ketiganya jadi terbungkam tak bisa bicara lagi!
Sumo Kebalen yang megap-megap di lantai jadi terbeliak. Kini disaksikannya sendiri, nyatanya pemuda rambut gondrong yang dianggapnya tolol itu memiliki kepandaian menotok yang luar biasa. Pasti ilmunya tidak kalah dari si mata picak itu.
Selesai makan Wiro melangkah mendekati Sumo Kebalen dan memeriksa pakaian kakek muka putih ini. Dan kantong jubah sebelah kanan Wiro menemukan beberapa keping uang emas dan perak. Wiro mengambil sekeping uang perak menyodorkannya pada Sura Gandara.
"ini pembayar harga makanan dan minuman. Lebih dan cukup" Lalu diangsurkannya lagi sekeping uang perak. "Dan ini untuk pembayar ganti kerusakan rumah makanmu!"
Si gemuk Sura Gandara yang tahu jelas dari mana asal uang itu tentu saja tidak berani menerimanya.
"Hai, ambillah!" kata Wiro.
"Aku tak berani, itu uang Sumo Kebalen. Nanti aku dihajarnya" jawab Sura Gandara.
"Kalau dia berani berbuat begitu, beritahu aku. Aku akan ganti menghajarnya!" sahut Wiro pula. Lalu dua keping uang perak itu disusupkannya ke dalam saku pakaian pemilik rumah makan. Sura Gandara merasa seolah-olah mengantongi bara panas!

9

SANG surya telah jauh menggelincir ke barat. Sinarnya yang sebelumnya putih memerah dan memerihkan jagat kini telah berubah redup kekuning-kuningan. Pada saat itu Wiro Sableng dan orang tua bermata satu sampai di sebuah pedataran berumput liar. Di ujung pedataran menunggu sebuah hutan belantara. Sejauh itu berjalan baik Wiro maupun si orang tua tak satu pun pernah bicara.
Wiro mengikuti saja si mata satu itu memasuki rimba belantara. Setelah masuk sejauh perjalanan dua kali peminuman teh, di pertengahan rimba nampak sebuah pondok kecil. Dinding dan atap bangunan ini sudah bolong-bolong. Keadaan pondok reyot ini hanya menunggu roboh saja lagi. Dugaan Wiro bahwa si kakek akan menuju ke pondok tersebut tidak meleset. Pintu pondok mengeluarkan suara berkereketan ketika dibuka. Kedua orang ini masuk dan si kakek menutupkan pintu kembali.
Wiro memandang berkeliling. Tak ada jendela atau lobang angin. Lama-lama terasa pengap di dalam situ. Di mana-mana abu menebar. Di sudut-sudut pondok tampak labah-labah membuat sarangnya.
"Perlu apa kita masuk ke sini kalau cuma tegak dan membisu begini rupa?" tanya Wiro akhirnya kesal.
Orang tua itu tak menjawab. Dia berdiri tanpa bergerak dengan kepala setengah mendongak. Kelihatannya dia seperti tengah memasang telinga tajam-tajam.
"Kita menunggu seseorang di sini?" tanya Wiro lagi.
Tetap tidak ada jawaban, ini menjengkelkan murid Sinto Gendeng. Ketika dia hendak membuka mulut kembali tiba-tiba Lor Gambir Seta melangkah ke salah satu sudut pondok. Dilihatnya orang tua ini menggerakkan jari-jari tangannya, menekan salah satu bagian dari tiang pondok yang sudah lapuk dimakan bubuk.
Wiro terkejut dan hampir tak percaya ketika tiba-tiba lantai pondok yang terbuat dari papan itu membuka di sebelah tengah dan di bawahnya kelihatan sebuah tangga batu, menurun menuju sebuah gang.
Lor Gambir Seta melangkah menuruni tangga setelah terlebih dulu memberi isyarat pada Wiro agar mengikuti. Melihat sikap si mata satu ini yang terus-terusan terasa aneh, mau tak mau lama-lama pendekar kita jadi curiga. Dia tak mau mengikut turun dan tetap di tempatnya.
"Lekas masuk!" kata Lor Gambir Seta ketika dilihatnya Wiro tak bergerak.
Wiro menggeleng.
"Terus terang aku mulai curiga terhadapmu, orang tua!"
"Curiga atau tidak lekas masuk. Aku tak punya waktu lama!"
"Soal waktu itu urusanmu. Cukup aku mengikutimu sampai di sini. Selamat tinggal" Wiro putar tubuh dan siap melangkah keluar pondok. Namun ucapan si kakek membuatnya kemudian batalkan niat.
"Kau ingin melihat dunia persilatan musnah di tangan manusia jahat itu? Kau ingin pembunuhan, penculikan dan pemerkosaan berlangsung terus sampai kiamat? Hingga kelak pada suatu ketika aku dan juga kau bakal menjadi korban keganasannya?"
Wiro jadi garuk-garuk kepala. Lalu menjawab: "Kakek aneh, kalau kau memang punya maksud baik, kenapa kau terlalu banyak merahasiakan segala sesuatunya padaku? Kau selalu menutup mulut. Tak pernah menjawab setiap kutanya. Bukan mustahil kau memang Rangga Lelanang seperti yang dikatakan oleh Empat Teratai Darah!"
"Siapa diriku setiap orang boleh menduga seribu cara seribu macam. Maksud baikku terhadap dunia persilatan tak ada artinya. Tidak beda dengan setetes air yang dicemplungkan ke dalam lautan. Kalau kau tak mau ikut aku, perduli setan. Asal jangan kau nanti menyesal seumur hidup sampai ke liang kubur!"
Habis berkata begitu Lor Gambir Seta kembali menuruni tangga batu. Wiro bersiul, garuk-garuk kepala.
Tiba-tiba dari mulut gang sebelah bawah tangga batu menggema satu suara halus tapi amat jelas.
"Pendekar 212 jangan terlalu banyak bercuriga. Kau berada di tengah-tengah orang-orang yang satu haluan…"
"Heh… siapa pula yang bicara itu?" tanya Wiro Sableng. Dilihatnya Lor Gambir Seta terus melangkah menuruni tangga. Akhirnya pendekar kita melangkah juga mengikuti kakek mata satu itu. Begitu sampai di anak tangga terakhir, bagian atas lobang tertutup dengan sendirinya. Keadaan kini jadi gelap gulita. Tapi Lor Gambir Seta melangkah cepat seperti dalam terang saja, seolah-olah dia punya mata lebih dari satu! Wiro setengah memaki tetapi juga penuh rasa ingin tahu mengikuti terus. Lorong itu ternyata amat panjang. Akhirnya mereka sampai di hadapan sebuah pintu batu berwarna putih. Wiro berpikir-pikir siapa gerangan orang yang tadi mengeluarkan suara halus tapi jelas itu. Pasti orangnya ada di belakang pintu itu. Dan pastilah dia seorang manusia luar biasa karena sanggup mengirimkan suara sedemikian jauh.
Lor Gambir Seta mengetuk pintu batu itu. Pintu bergeser ke samping secara aneh. Di belakang pintu kelihatan sebuah lorong panjang diterangi lampu-lampu minyak. Keduanya memasuki lorong. Pintu batu putih di belakang mereka menutup dengan sendirinya. Pada ujung lorong muncul sebuah pintu batu yang kali ini berwarna merah. Seperti tadi kembali Lor Gambir Seta mengetuk pintu batu ini tiga kali. Pintu terbuka.
Di hadapan Wiro tampak sebuah ruangan amat besar yang keseluruhan lantai, dinding dan langit-langitnya tertutup permadani berbunga-bunga. Di ujung kamar terdapat sebuah jendela. Jauh di belakang jendela tampak sebuah sungai dengan air terjun yang tinggi. Segala sesuatunya di luar jendela itu adalah rimba belantara yang tak pernah dijejaki manusia.
Yang menarik perhatian Wiro saat itu ialah dua orang yang berada di samping kanan ruangan besar. Yang satu seorang kakek berbadan gemuk macam gentong, tetapi mengenakan pakaian yang kekecilan.
Orang ini berbaring melunjur di atas sebuah kursi malas. Sebatang pipa terselip di sela bibirnya. Asap pipa itu menaburkan bau yang tidak sedap.
Di sebelah si gemuk duduklah seorang tua berjanggut putih. Di pangkuannya terletak dua buah bumbung tuak. Meskipun orang ini agak membelakang, tapi Wiro segera mengenalinya.
"Dewa Tuak!" Wiro berseru memanggil.
Orang yang dipanggil tidak berpaling, melainkan keluarkan suara tertawa bergelak, lalu berkata: "Cepatlah masuk Wiro. Agar kita bisa lebih lekas berunding mengatur rencana."
Wiro kerenyitkan kening. Sesaat dia memandang pada Lor Gambir Seta. Selagi si mata satu ini menutup pintu batu merah, Wiro melangkah ke hadapan kakek janggut putih yang dipanggilnya Dewa Tuak, lalu menjura dalam, dan juga menjura pada Si gemuk di kursi malas. Menurut dugaan Wiro si gemuk inilah tadi yang telah mengirimkan suara jarak jauh.
"Duduk…" si gemuk mempersilahkan. Suaranya halus. Wiro duduk di kursi yang terletak di samping Dewa Tuak sementara Lor Gambir Seta mengambil kursi lain.
"Guru, harap maafkan," kata Lor Gambir Seta pada si gemuk yang menghisap pipa. "Dua bulan mencari baru aku berhasil menemui pemuda ini."
"Ah, ternyata si gemuk ini guru si picak," kata Wiro dalam hati.
Si gemuk menyedot pipanya dalam-dalam, lalu meniupkan asap tampak dia membuka mulut. Wiro menyangka si gemuk ini hendak mulai bicara. Ternyata dia menguap lebar-lebar dan lama sekali.
"Jika satu jam saja kalian terlambat, pasti aku sudah tidur lagi. Dan segala sesuatunya akan percuma saja karena aku tak akan bangun dalam tempo enam kali bulan purnama!" kata si gemuk pula. Suaranya halus dan sember.
"Dapatkah kita mengatur rencana sekarang?” tanya Dewa Tuak sambil usap-usap bumbung tuaknya.
Si gemuk untuk kedua kalinya menguap lebar dan panjang hingga matanya tampak berair.
"Dewa Tuak," Wiro menyeling. "Mohon dijelaskan dengan orang gagah dari manakah saat ini aku berhadapan dan siapa nama atau gelarnya. Lalu bagaimana pula kita sampai bisa bertemu di sini."
"Semuanya telah diatur," memberitahu Lor Gambir Seta.
"Ya, ya. Diatur untuk satu rencana besar," sambung Dewa Tuak.
"Jelasnya rencana besar apa?" tanya Wiro kembali.
Si gemuk berdehem beberapa kali. "Aku akan terangkan anak muda. Aku akan terangkan." Dia menoleh pada Dewa Tuak. "Coba terangkan dulu siapa aku ini padanya…."
Dewa Tuak mengangguk lalu berkata, "Wiro, saat ini kita berada di tempat kediaman tokoh paling tua di dunia persilatan. Umurku lebih dari delapan puluh tahun. Tapi si gemuk ini berusia dua kali umurku…."
"Buset!" terlompat kata-kata itu dari mulut Wiro secara tak sengaja saking kagetnya. Menyadari ketidaksopanannya buru-buru pemuda ini minta maaf. Dan Dewa Tuak melanjutkan penjelasannya. "Dia tokoh silat paling tua. Juga paling gemuk. Beratnya hampir dua setengah kwintal. Di samping itu dia mendapat cap sebagai manusia paling malas di seluruh dunia karena sifatnya yang doyan tidur, itu sebabnya dalam dunia persilatan dia diberi nama Si Raja Penidur!"
Terbelalaklah Wiro Sableng ketika mendengar siapa adanya si gemuk itu. Selagi di gembleng di puncak gunung Gede oleh gurunya Eyang Sinto Gendeng, sang guru pernah menerangkan bahwa satu-satunya manusia yang dianggap paling tinggi ilmu kepandaiannya dalam dunia persilatan ialah seorang lelaki gemuk bergelar Si Raja Penidur. Usianya sudah amat lanjut. Karena sifatnya yang pemalas dan suka tidur, dia jarang muncul dalam rimba parsilatan, karenanya kurang di kenal. Menurut Eyang Sinto Gendeng kalau sekali Raja Penidur ini tidur maka tiga sampai empat bulan mungkin belum bangun-bangun sekalipun gunung meletus dibawah ranjangnya.
Kini Wiro tahu itulah sebabnya Lor Gambir Seta selalu mendesak agar cepat-cepat dalam perjalanan. Wiro benar-benar tidak menduga kalau hari itu dia bakal bertemu muka dengan tokoh nomor satu itu.
"Sekarang soal rencana," kata Si Raja Penidur. Tapi ucapannya terputus karena lagi-lagi menguap dan kucak-kucak mata. "Meskipun aku bisanya cuma tidur dan malas-malasan di sini, tapi apa yang terjadi di dunia persilatan tidak luput dari perhatianku. Beberapa tokoh silat berkunjung ke sini tiga bulan lalu dan menerangkan semua kejadian di luar sana. Kejadian-kejadian yang benar-benar menggegerkan, biadab terkutuk serta tak mungkin dibiarkan lebih lama." Si gemuk ini berhenti sesaat untuk menguap, baru meneruskan.
"Menurut hematku hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu siluman dan mampu terbuat seperti itu yakin Datuk Siluman dari Bukit Hantu. Maka kusuruh muridku Lor Gambir Seta untuk melakukan penyelidikan. Siapa sebenarnya keparat biang bencana itu dan di mana dia bercokol. Ternyata diketahui Datuk Siluman sudah mati. Tertembus di bawah runtuhan rumahnya, atau dibunuh orang atau bunuh diri. Ini memberi pengertian bahwa ada seorang lain yang jadi penimbul malapetaka itu, dengan ilmu mirip sekali seperti yang di miliki Datuk Siluman. Dan penyelidikan muridku ternyata tidak sia-sia…. Ah… aku mengantuk. Tak tahan beratnya mata ini. Aku mau tidur…."
"Guru!" berkata Lor Gambir Seta. "Jika kau tidur percumalah semua ini!"
Si Raja Penidur menguap, lalu mengulet dan geleng-gelengkan kepalanya berulang kali untuk membuang kantuk. Setelah menyedot pipanya dalam-dalam baru dia melanjutkan: "Bangsat penimbul malapetaka keji itu bernama Sonya. Dia bercokol di sebuah goa yang bangunan dalamnya tidak beda dengan tempatku ini. Goa itu terletak di Teluk Gonggo!" Si gemuk kembali menguap. "Sonya memiliki ilmu siluman yang luar biasa. Mungkin dia bukan murid Datuk Siluman karena sejauh kuketahui Datuk Siluman tidak punya murid. Tetapi tidak bisa tidak manusia biadab ini pasti memiliki hubungan dengan Datuk Siluman. Ilmu hitamnya lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari lautan. Dan celakanya dia tidak bisa mati, tidak bisa dibunuh!"
Wiro batuk-batuk lalu berkata: "Raja Penidur, aku tolol ini mohon penjelasanmu. Bagaimana ada manusia yang tidak dapat dibunuh, tidak bisa mati! Setiap makhluk hidup pasti mati. Itu hukum Yang Kuasa!"
Dewa Tuak dan Lor Gambir Seta tersenyum. Rupanya kedua orang ini sudah tahu banyak tentang manusia bernama Sonya itu.
"Apa yang kau katakan itu memang benar, orang muda," jawab Raja Penidur. "Tapi Sonya bukan manusia biasa lagi, tak dapat disebutkan manusia. Dia malah sudah melebihi siluman. Dan hanya akan mati bila kita mengetahui titik kelemahannya atau pantangannya. Kabarnya dia punya dua pantangan. Aku cuma tahu satu, sialan betul!" Raja Penidur kembali menguap. Dia memandang pada Lor Gambir Seta dan berkata: "Muridku, jelaskan padanya pantangan itu."
Lor Gambir Seta mengangguk. "Ketinggian ilmu kesaktian dan kehebatan ilmu kebal manusia siluman ini akan punah bilamana tubuhnya terkena air hujan."
Wiro garuk-garuk kepala sedang Dewa Tuak kerenyitkan kening sambil usap-usap janggutnya yang putih.
"Aneh dan hampir tak masuk akal…" kata Dewa Tuak.
"Memang setiap ilmu siluman selalu diselimuti keanehan," kata Lor Gambir Seta.
Raja Penidur menyambung. "Rasanya Sonya tidak sendirian. Selain memelihara puluhan perempuan culikan, dia juga dikelilingi oleh tokoh-tokoh silat baik dari golongan putih maupun hitam. Mereka menjadi budaknya di luar sadar. Perempuan-perempuan malang itu harus diselamatkan. Juga tokoh-tokoh silat golongan putih. Terhadap mereka dari golongan hitam kalian tak usah ragu-ragu bertindak. Jika selama ini mereka sukar diatur dan sulit dibasmi, kali ini kalian punya kesempatan untuk turun tangan. Persoalannya kuserahkan pada kalian bertiga…."
"Raja Penidur," berkata Wiro. "Kau bilang persoalannya kini pada kami bertiga. Jika tokoh-tokoh silat kawakan sebelumnya tak berhasil membekuk manusia siluman itu, bagaimana mungkin aku yang masih hijau ini bisa turun tangan?"
Si gemuk tertawa mengekeh. "Jangan terlalu merendahkan diri orang muda. Siapa yang tidak tahu Sinto Gendeng? Siapa yang tidak pernah dengar muridnya yang berjuluk Pendekar 212? Aku yakin kalian bertiga bisa bekerjasama membantai manusia siluman terus lagi pula ingat akan satu ujar-ujar. Kapal besar belum tentu tenggelam oleh ombak besar. Tetapi mungkin tenggelam oleh bocor kecil. Dewa Tuak, ingat, kau bertugas membawa air hujan dalam bumbung bambumu itu!"
Dewa Tuak usap-usap bumbung bambunya. "Ah, malang nian nasibku kali ini. Agaknya aku terpaksa puasa minum tuak selama menjalankan tugas ini!"
"Lor Gambir Seta, kau punya tugas menyelamatkan tokoh-tokoh golongan putih yang disekap di Teluk Gonggo. Dan Wiro, kau berkewajiban membasmi mereka yang dari golongan hitam!"
"Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan yang puluhan itu dan kabarnya cantik-cantik? Siapa yang dapat tugas menyelamatkan?" tanya Wiro.
Dewa Tuak tertawa gelak-gelak. Lor Gambir Seta senyum-senyum sedang Si Raja Penidur kembali menguap.
"Mereka sudah barang tentu harus diselamatkan. Aku percaya kau bisa mengaturnya Wiro," jawab Si Raja Penidur kemudian.
"Kau sendiri tidak ambil bagian dalam tugas besar ini?”
"Aku…?" ujar Raja Penidur ketika mendengar pertanyaan Wiro itu. Dihembuskannya asap pipanya jauh-jauh. "Perlu apa aku turun tangan mencapaikan diri. Lebih enak tidur di sini!" Dia menguap kembali.
"Kalian saksikan sendiri," kata Lor Gambir Seta sambil menggoyangkan kepala ke arah gurunya yang sudah pulas. "Baru delapan minggu yang lalu dia bangun setelah tidur selama empat bulan. Dan kini sudah pulas lagi. Untung kita lekas sampai di sini. Kalau tidak berarti dunia persilatan akan terus tenggelam dalam malapetaka sampai beberapa bulan dimuka!"
Wiro hanya garuk-garuk kepala. Telah banyak dilihatnya tokoh-tokoh silat bersifat aneh. Tapi si gemuk satu ini nomor satu aneh!

10

ANGIN bertiup kencang, memapasi lari tiga ekor kuda yang dipacu menuju ke utara. Dari debu yang melekat di tubuh kuda serta para penunggangnya nyata bahwa mereka telah menempuh perjalanan jauh. Sekeluarnya dari rimba belantara mereka memasuki daerah berpasir yang ditumbuhi pohon kelapa. Orang-orang ini adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, Lor Gambir Seta dan Dewa Tuak. Mereka menghentikan kuda masing-masing di ujung bukit pasir yang terjal.
"Kita berhenti di sini. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki," kata Lor Gambir Seta seraya melompat turun dari punggung kuda, diikuti dua orang lainnya.
"Tapi ada beberapa hal penting yang harus kuterangkan pada kalian. Sonya manusia siluman berhati iblis itu memiliki ilmu-ilmu luar biasa. Tiga di antaranya amat berbahaya. Pertama yang disebut Cakar Siluman. Karenanya dalam menghadapinya nanti jangan terlalu dekat. Ilmunya yang kedua bernama Asap Jalur Penidur. Jika seseorang sampai terlingkar oleh asap tersebut pasti akan menjadi lemah dan jatuh tidur, ilmu ketiga, ini yang paling berbahaya ialah Asap Tenung Siluman. Siapa yang sampai menciumnya pasti berubah jalan pikirannya dan merasa bahwa dia adalah budak atau hamba sahaya Sonya. Dengan demikian Sonya bisa menyuruhnya berbuat apa saja! Karenanya begitu berhadapan dengan manusia siluman itu harus dapat menyiramkan air pantangan berupa air hujan ke tubuhnya!"
Setelah memandang berkeliling sejenak Lor Gambir Seta memberi isyarat untuk meneruskan perjalanan. Pada saat dia dan Wiro mulai melangkah, di sebelah belakang Dewa Tuak keluarkan dua buli-buli kecil dari balik pakaiannya. Seperti telah diketahui, karena dua bumbung bambu yang dibawanya kini di isi air hujan maka dia terpaksa membawa tuak kegemarannya di dalam buli-buli tersebut. Dibukanya tutup buli-buli lalu mendongak dan mulai meneguk minuman itu.
Tiba-tiba Dewa Tuak turunkan buli-bulinya dan menyemburkan air minuman dalam mulutnya ke depan. Delapan buah pisau terbang yang meluncur ke arah Lor Gambir Seta dan Wiro Sableng runtuh ke tanah.
"Bangsat! Siapa yang berani membokong!" bentak Dewa Tuak. Wiro dan Lor Gambir Seta terkejut, cepat berpaling dan baru menyadari bahwa keduanya baru saja diselamatkan oleh kakek janggut putih itu.
"Pisau itu melesat dari arah bawah tebing pasir! Pasti pembokong itu ada di sana" kata Dewa Tuak. Buli-buli tuaknya di simpan lalu dia melompat ke bawah bukit pasir, diikuti Wiro dan Lor Gambir Seta.
Selagi ketiganya melayang di udara. Tiga lusin pisau terbang menderu lagi ke arah mereka.
"Keparat!" maki Wiro. Tangan kanannya dlpukulkan ke depan. Lor Gambir Seta dan Dewa Tuak juga dorongkan telapak tangan kanan. Tiga puluh enam pisau maut itu mental, jatuh ke pasir.
"Bangsat! Lekas keluar dari balik batu" teriak Wiro. Dia melihat jelas, serangan pisau itu keluar dari balik sebuah batu besar. Ketika ditunggu tak ada yang keluar, Wiro lepaskan pukulan "Kunyuk Melempar Buah". Satu gumpal angin keras laksana batu karang menghantam batu besar itu dengan dahsyatnya hingga hancur berantakan. Di saat itu pula terdengar suara jeritan. Di balik batu besar yang telah hancur tampak tiga lelaki bermuka hitam.
Yang satu menggeletak dengan dada hancur. Dua lainnya masih untung hanya menderita luka dalam. Setelah terhuyung sesaat, keduanya lantas cabut senjata dan menyerbu ke arah Wiro dan kawan-kawan.
"Mereka pasti budak-budak Sonya" seru Lor Gambir Seta dan berkelebat menotok lawan yang menyerangnya. Sebaliknya Wiro tak memberi ampun. Orang yang coba menebaskan senjatanya ke lehernya dihantam di bagian dada dengan jotosan tangan kiri hingga muntah darah dan terkapar di pasir.
"Muka hitam!" sentak Lor Gambir Seta seraya menjambak rambut orang yang berhasil ditotoknya. "Sebelum kau jadi budak manusia siluman bernama Sonya, apakah kau dari golongan hitam atau putih?!"
"Apa perdulimu, mata picak?!" jawab si muka hitam.
Lor Gambir Seta menggereng. Dewa Tuak membisikkan sesuatu kepadanya. Lor Gambir Seta lalu berkata: "Nyawamu kuampuni. Tapi lekas beri tahu di mana sarangnya Sonya I"
Si muka hitam tertawa. "Baik, tapi lepaskan dulu totokanmu!"
Tanpa curiga Lor Gambir Seta lepaskan totokan di tubuh si muka hitam. Tetapi begitu totokannya terlepas secepat kilat si muka hitam hantamkan tinjunya ke batok kepala sendiri! Dia menggeletak mati dengan kepala rengkah.
"Kalian saksikan sendiri!" ujar kakek mata picak itu antara terkesiap dan juga penasaran. "Dia sudah menjadi kerbau yang sangat, patuh pada Sonya. Lebih suka bunuh diri dari pada berkhianat!"
Ketiganya lalu melanjutkan perjalanan menempuh pedataran pasir penuh pohon kelapa. Selang beberapa lama mereka sampai di tepi pantai berbentuk cekung setengah lingkaran. Angin laut bertiup lembut dan air laut tampak tenang. Burung elang beterbangan di udara. Pemandangan di sini indah sekali. Inilah Teluk Gonggo. Di sini pulalah manusia siluman Sonya membuat markasnya. Tapi di sebelah mana?
Ketiga orang itu bergerak dengan hati-hati. Bukan mustahil mereka bakal mendapat rintangan-rintangan maut lainnya dari budak-budaknya Sonya. Mereka mendekati daerah berbatu-batu di bagian teluk sebelah kanan. Biasanya di tempat seperti Ku terdapat lobang atau celah yang dijadikan pintu masuk. Di bagian yang menghadap ke laut, mereka tidak menemukan apa-apa. Ketiganya berputar menyelidiki bagian belakang bebukitan batu ini.
"Hai, itu ada lobang!" Wiro tiba-tiba berseru dan menunjuk pada sebuah lobang di sela-sela dua batu besar. Ketiganya segera menuju ke situ. Ternyata mulut lobang tertutup oleh satu sarang gonggo (labah-labah) yang luar biasa besarnya.
"Lobang buntu. Tak mungkin ada yang memakai sebagai jalan masuk!" kata Wiro garuk-garuk kepala.
"Celaka! Perangkap setan apa pula ini!" kata Lor Gambir Seta. Tubuhnya dan juga tubuh Wiro sudah terhisap sampai sebatas pinggul.
Melihat kedua kawannya itu menghadapi bahaya besar Dewa Tuak cepat keluarkan benang sutra putih saktinya yang selalu dibawanya.
"Bertahanlah! Lihat benangku ini!" seru Dewa Tuak. Benang itu meluncur ke bawah langsung melibat pinggang serta dada Wiro dan si kakek. Untuk dapat menarik keduanya dari hisapan pasir maut itu Dewa Tuak kerahkan seluruh tenaga luar dan dalam. Sekali sentak, tubuh Wiro dan Lor Gambir Seta berhasil di tarik keluar.
"Kurang ajar! Licik!" maki Wiro begitu selamat.
"Dewa Tuak, dua kali kau menyelamatkan jiwa kami. Kami menghaturkan terima kasih," kata Lor Gambir Seta sementara Wiro cengar-cengir.
Dewa Tuak angkat bahu dan menjawab: "Bukan saatnya kita berbasa basi dengan segala peradatan!
Lor Gambir Seta menghela nafas panjang. Dia memandang ke lobang batu yang ada sarang gonggonya.
"Aku yakin, inilah pintu masuk ke sarangnya Sonya."
"Tapi ada serang gonggonya begitu, mana mungkin?" ujar Wiro.
"itu bukan sembarang gonggo. Aku akan buktikan," kata Lor Gambir Seta. Diikuti oleh kedua orang itu dia menghampiri mulut lobang. Membaui manusia di dekatnya, gonggo besar itu mulai menggerakkan kaki-kakinya. Pandangan matanya membuas dan dari mulutnya keluar sebentuk lidah aneh bercabang dua berwarna hijau berkilat-kilat tanda mengandung racun jahat.
Lor Gambir Seta mengambil sehelai sapu tangan. Benda ini di buntalnya lalu dilemparkan ke serang gonggo. Secepat kilat binatang ini menyambar dan menghancur luluhkannya.
Wiro membungkuk mengambil sebuah batu sebesar setengah kepalan. Batu ini dilemparkannya ke sarang gonggo. Seperti sapu tangan tadi, batu ini pun di lumat hancur oleh gonggo itu dalam waktu singkat! Mata Pendekar 212 membeliak menyaksikan hal ini.
"Hebat…! Hebat!" kata Dewa Tuak. "Aku mau tahu apakah binatang ini doyan tuakku!" Lalu diteguknya tuak dalam buli-buli. Tiga teguk berturut-turut. Tegukan pertama dan kedua ditelannya. Tegukan ketiga tetap dalam mulut dendengan mengerahkan tenaga dalam tuak itu disemburkannya ke arah gonggo di lobang batu.
Kepala binatang itu hancur. Tubuhnya remuk berkeping-keping. Kaki-kakinya menggelepar dan putus-putus. Sarangnya musnah. Sesaat kemudian terjadilah hal yang aneh. Baik gonggo maupun sarangnya berubah menjadi asap hitam untuk kemudian musnah tak berbekas.
"Gonggo siluman!" desis Wiro.
Lor Gambir Seta memberi isyarat. Ketiganya segera menyelinap ke dalam lobang dengan sangat hati-hati. Ternyata lobang itu tidak seberapa dalam. Langkah mereka terhenti oleh sebuah pintu papan.
"Awas, kurasa ini pintu siluman dengan berbagai senjata rahasia," kata Dewa Tuak memperingatkan.
Lor Gambir Seta mengangguk. Dia memberi tanda agar kedua orang itu bertiarap. Lalu tangan kanannya di pukulkan ke depan.
"Braak!"
Pintu papan hancur berantakan. Dikejap itu pula beralur lima puluh batang golok terbang di atas tubuh ketiga orang yang bertiarap itu. Begitu senjata-senjata maut itu lewat, ketiga orang tersebut cepat melompat dan menerobos masuk lewat pintu yang hancur. Mereka sampai ke sebuah ruangan besar yang penuh dengan puluhan manusia. Di hadapan mereka berdiri kira-kira dua puluh orang lelaki dan setengah lusin perempuan yang kesemuanya bermuka hitam. Mereka adalah tokoh-tokoh silat golongan putih dan hitam yang telah diculik dan di jadi kan budak oleh Sonya. Dengan muka hitam begitu rupa sulit bagi Wiro dan kawan-kawan untuk mengenali mereka. Ini berarti mereka tidak mengetahui yang mana tokoh golongan hitam dan mana tokoh golongan putih yang harus mereka selamatkan.
Di belakang jejeran orang-orang Itu, di satu lantai yang agak tinggi, duduklah seorang lelaki berusia setengah abad, berwajah luar biasa seramnya. Rambutnya awut-awutan, kumis dan cambang bawuk tidak terurus. Sepasang matanya menyorot ganas. Dia mengenakan pakaian buruk dekil penuh tambalan. Tubuh dan pakaiannya ini menebar bau yang sangat busuk!
Di sekeliling si bau busuk ini, duduk bersimpuh lima belas orang perempuan. Karena muka mereka tidak hitam maka dapat di saksikan bahwa mereka semua adalah gadis-gadis berwajah cantik. Dan yang membuat Pendekar 212 jadi sesak nafas sedang Dewa Tuak serta Lor Gambir Seta menjadi jengah ialah bahwa kelima belas gadis itu tak satu pun mengenakan pakaian alias bertelanjang bulat!
Dari balik sebuah ruangan tiba-tiba muncul seorang gadis yang parasnya cantik di antara semua gadis di ruangan itu. Dia melangkah tanpa pakaian menghampiri lelaki berpakaian buruk dekil itu dan langsung duduk di pangkuannya.
"Gila betul!" kata Wiro dalam hati.
Gadis itu bukan lain adalah Dwiyana, murid Akik Mapel. Akik Mapel sendiri saat itu duduk di sudut ruangan bersama yang lain-lainnya. Mereka siap menyerbu tiga orang yang baru datang itu, hanya menunggu perintah majikan mereka.
Lor Gambir Seta berbisik pada Wiro dan Dewa Tuak: "Keparat yang berpakaian rombeng busuk Sonya yang harus kita lenyapkan. Kita harus bertindak cepat!"
Sebelum ketiga orang ini bergerak tiba-tiba di antara orang banyak menyeruak empat manusia bermuka hitam. Satu laki-laki dan tiga perempuan.
Meski tidak dapat mengenali wajah mereka tetapi dari jubah putih berbunga teratai merah yang mereka kenakan, Wiro Sableng serta Lor Gambir Seta segera mengetahui bahwa keempat orang ini bukan lain adalah Empat Teratai Darah yang beberapa hari lalu pernah bentrokan dengan mereka di sebuah rumah makan. Bagaimana keempat orang ini tahu-tahu sudah berada di sarangnya Sonya?
Tiga jam setelah ditotok oleh Lor Gambir Seta, totokan di tubuh Empat Teratai Darah punah dengan sendirinya. Penuh rasa dendam, keempatnya bermaksud untuk menemui seorang tokoh silat golongan hitam guna minta bantuan. Dalam perjalanan itulah mereka berpapasan dengan Sonya. Mengetahui bahwa Empat Teratai Darah merupakan kelompok berkepandaian tinggi dan cukup terkenal dalam dunia persilatan maka Sonya segera menyerang mereka dengan asap tenung siluman. Dalam keadaan tak sadar keempat orang itu kemudian dibawanya ke Teluk Gonggo.
"Rangga Lelanang! Dan kau pemuda gondrong sedeng" membentak kepala Empat Teratai Darah yakni Sumo Kebalen. "Dicari-cari tidak ketemu. Akhirnya hari ini kalian datang mengantar nyawa!"
"Hai! Kau rupanya “sahut Wiro seraya mencibir.
"Kalau aku tidak salah dulu mukamu putih macam kain kafan. Sekarang kenapa berubah jadi pantat dandang?!" Wiro lalu tertawa gelak-gelak dan diam-diam tangan kanannya meraba gagang Kapak Maut Naga Geni 212 yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Di sampingnya Dewa Tuak keluarkan buli-bulinya dan "gluk-gluk-gluk”, dia meneguk minuman itu seenaknya seolah-olah sedang berada di tempat perjamuan. Lor Gambir Seta sendiri sejak tadi sudah siapkan pukulan tangan kosong di tangan kiri sedang di tangan kanannya kini tergenggam sebuah senjata aneh yakni sebuah tanduk kerbau yang amat besar dan runcing salah satu ujungnya.
"Pendekar 212” bisik Lor Gambir Seta. "Ingat, kita harus bertindak cepat. Musuh-musuh golongan hitam harus disingkirkan dulu sebelum Sonya turun tangan."
Wiro mengangguk.
Sumo Kebalen menggereng marah mendengar ucapan Wiro tadi. Dia melompat diikuti tiga adik seperguruannya. Wiro dan Lor Gambir Seta siap menyongsong.
Wiro cabut senjatanya. Sinar putih berkiblat ketika Kapak Maut Naga Geni 212 mulai beraksi. Terdengar suara mengaung laksana seribu tawon mengamuk. Dilain kejap Empat Teratai Darah sudah menggeletak di lantai. Mereka menemui ajal tanpa mengeluarkan sedikit suara pun saking cepatnya sambaran senjata Wiro. Dan mereka tidak pernah tahu senjata apa yang telah menamatkan riwayat mereka.
Lor Gambir Seta tertegun melihat gebrakan kilat yang dibuat Wiro. Orang tua mata satu ini sudah sejak lama mendengar kehebatan pendekar gondrong ini, tapi baru hari ini dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Jika saja bukan di tempat itu terjadinya, pastilah dia akan berseru memuji.
Sementara itu Dewa Tuak yang sudah tahu banyak tentang Wiro tertawa gelak-gelak dan teguk tuaknya. Begitu suara tawanya lenyap tempat itu telah berubah jadi kacau balau. Gadis-gadis yang telanjang berpekikan, lelaki-lelaki bermuka hitam menggembor marah.
Sonya bertepuk tiga kali dan berteriak: "Hamba Sahayaku! Bunuh tiga bangsat pangacau itu!" Laksana air bah orang-orang bermuka hitam serta merta menyerbu. Dewa Tuak semburkan tuak dari mulutnya. Dua orang penyerang berteriak roboh dengan tubuh bergelimpangan darah. Teman-temannya yang berhasil menyelamatkan diri segera mengeroyok Dewa Tuak. Tokoh silat berusia 80 tahun ini putar kedua bumbung bambunya. Tiga orang musuh lagi terjelepak oleh serangan yang tidak mereka duga ini.
Baik Wiro maupun Dewa Tuak serta Lor Gambir Seta tidak dapat mengetahui mana para penyerang yang berasal dari golongan hitam dan mana dari golongan putih. Karenanya sebelum pertempuran berlangsung lebih jauh Lor Gambir Seta berteriak: "Manusia-manusia muka hitam berasal dari golongan putih dengar. Kami tidak mau kesalahan tangan. Lekas mundur, selamatkan diri kalian!"
Tapi otak manusia-manusia golongan putih itu telah terjebak dalam Ilmu siluman Sonya hingga tak satu dari mereka yang ambil peduli dan mendengar perintah itu.
Dewa Tuak menyemburkan tuaknya terus menerus. Tabung bambu dihantamkannya kian kemari. Selagi musuh menghindar Dewa Tuak pergunakan kesempatan ini untuk mendekati Sonya.
Sonya melompat ke samping kiri. Matanya tidak lepas pada genangan air di lantai. Dari tempat yang dirasakannya aman, dia keluarkan ilmu silumannya yang bernama "Asap Jalur Penidur. Asap kecil hitam melesat bergulung-gulung, melejit ke arah Dewa Tuak, Lor Gambir Seta dan Wiro Sableng.
"Lekas menyingkir" teriak Lor Gambir Seta.

11

SAMBIL berteriak Lor Gambir Seta melompat keluar menjauhi kalangan pertempuran. Dalam mundur menjauh ini dia sempat menotok dua lawan bermuka hitam yang menurut dugaannya adalah dari golongan putih.
Pendekar 212 babatkan kapak saktinya ke depan. Asap siluman yang menyerbunya terpental dan buyar hingga dia selamat dari malapetaka. Lain halnya dengan Dewa Tuak. Tokoh kawakan ini hantamkan tangan kirinya ke atas. Asap hitam buyar namun dari samping membalik kembali dan menyerbu ke arahnya!
"Celaka!" keluh Dewa Tuak ketika dirasakannya kepalanya mendadak pusing dan sepasang matanya menjadi berat laksana dicantoli batu Dia menahan nafas dan kerahkan tenaga dalam. Lututnya goyah dan tubuhnya mulai menghuyung. Namun dia masih sanggup bertahan dengan menutup seluruh inderanya.
Melihat Dewa Tuak dalam bahaya Wiro segera bertindak cepat. Didahului teriakan menggelegar murid Eyang Sinto Gendeng ini berkelebat. Tiga orang terjungkal. Dua bobol perutnya, satu lagi hampir tanggal lehernya. Selagi tubuhnya mengapung di udara, Wiro lepaskan pukulan sinar matahari yang panas dan menyilaukan. Asap siluman yang hampir menguasai Dewa Tuak musnah. Dewa Tuak sendiri terpental dan jadi kalang kabut ketika sebagian janggut putihnya terbakar oleh pukulan sinar matahari.
"Gila! Edan! Ooala” teriak Dewa Tuak dan cepat padamkan janggutnya yang terbakar.
"Kurang ajar!" kutuk Sonya geram. Sedang matanya membersitkan sinar maut. Tak dapat dipercayanya kalau hari itu semua asap-asap ilmu silumannya dapat di musnahkan lawan, satu hal yang tak pernah kejadian sebelumnya.
Sonya mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara lalu kedua telapak tangannya disatukan dan saling digesek.
“Gorda! Keluarlah! Bunuh pemuda berambut gondrong itu!"
Serangkum asap hitam keluar dari celah kedua telapak tangan manusia siluman itu mengeluarkan suara mendesis. Asap itu kemudian berubah menjadi sesosok makhluk yang luar biasa seram dan besarnya. Kepalanya menyondok langit-langit ruangan yang tingginya hampir tiga meter itu. Sepasang matanya yang merah hampir sebesar buah kelapa. Mulutnya menyeringai memperlihatkan barisan gigi-gigi raksasa. Dia melangkah mendekati Wiro. Setiap langkah yang dibuatnya menggoyangkan lantai ruangan!
Tiba-tiba makhluk bernama Gorda ini ulurkan kedua tangannya yang besar dan panjang, berbulu dan berkuku runcing. Wiro meskipun agak tergetar tapi cepat babatkan Kapak Naga Geni 212. Didahului sinar putih perak, senjata mustika itu membabat salah satu tangan Gorda. Makhluk ini menggerung dan melangkah mundur. Tangan kirinya hampir putus dan anehnya mengeluarkan darah seperti darah manusia.
Menyadari bahwa senjatanya hanya mampu menciderai lawan maka murid Eyang Sinto Gendeng ini segera menggenjot tubuhnya dan melayang ke udara. Sekali lagi Kapak Maut Naga Geni 212 berkilat.
"Craass!"
Terdengar seperti suara ratusan srigala melolong serentak. Kepala makhluk siluman itu menggelinding. Darah bergenangan. Namun sesaat kemudian sosok tubuh siluman itu lenyap. Darahnya yang membasahi lantai pun ikut lenyap tiada bekas!
Sonya terkesiap melihat apa yang terjadi hingga dia lengah ketika Pendekar 212 Wiro Sableng kini menerjang ke arahnya dan membacokkan Kapak Maut Naga Geni 212. Sonya tak punya kesempatan untuk mengelak. Senjata warisan Eyang Sinto Gendeng itu mendarat di dadanya dan "trang!" Terdengar bunyi keras. Tubuh Sonya tak bergerak sedikit pun. Kapak Naga Geni 212 laksana menghantam dinding baja yang maha atos. Inilah untuk pertama kalinya senjata mustika sakti itu tidak mempan menghadapi kehebatan ilmu kebal siluman yang di miliki Sonya. Dewa Tuak dan Lor Gambir terbeliak.
Saking kagetnya Wiro sampai lupa penjagaan dirinya. Dia. terkesiap dengan mulut ternganga. Justru saat itulah Sonya melompatinya dengan tangan kanan lancarkan serangan "Cakar Siluman yang sudah sama diketahui kehebatannya. Jangankan tubuh manusia, tembok besi pun pasti hancur dibuatnya. Kini Pendekar 212 lah yang tidak punya kesempatan untuk selamatkan diri.
Satu detik lagi muka Wiro Sableng akan hancur remuk diremas cakaran siluman itu, tiba-tiba dari samping menderu air hujan yang disemburkan Dewa Tuak! Ketika air hujan itu menyirami tubuhnya, terdengar suara seperti air disiramkan di atas bara panas. Pakaiannya melepuh, kulit dan dagingnya mengelupas matang mengepulkan asap dan mengumbar bau menjijikkan!
Dewa Tuak semburkan sekali lagi air hujan dalam mulutnya. Tubuh Sonya bergetar hebat. Mukanya yang angker kelihatan seperti membesar. Pipinya menggembung dan mulutnya tertutup rapat-rapat. Tiba-tiba mulut itu membuka dan terdengarlah jeritannya yang mengerikan sepasang matanya membeliak. Dia lari bangun jatuh seputar ruangan, kadang-kadang bergulingan. Orang-orang bermuka hitam yang keseluruhannya telah ditotok oleh Lor Gambir Seta tampak berdiri gelisah. Sementara dari ruangan sebelah di mana gadis-gadis cantik tadi berkumpul, terdengar suara mereka memekik aneh.
"Lekas kau selesaikan manusia siluman itu Wiro!" kata Lor Gambir Seta.
Pendekar kita ragu sejenak. Sambil pandangi Sonya dan kapaknya.
"Tak usah ragu. Hantamlah!" kata kakek mata picak itu.
Wiro bergerak. Kapak Naga Geni 212 berkelebat. Untuk kedua kalinya senjata itu menghantam tubuh Sonya. Kalau tadi sama sekali tidak mempan, maka sekarang kelihatan bagaimana senjata itu hampir membabat putus pinggang Sonya. Anehnya dari luka besar di tubuhnya itu sama sekali tidak mengeluarkan darah.
Sonya terhuyung-huyung, lantai yang diinjaknya laksana roboh. Tubuhnya terjungkal. Dari tubuh itu kini mengepul asap, makin tebal dan makin hitam. Dari mulutnya menggelepar jeritan dahsyat. Jeritan yang tidak beda dengan lolongan srigala. Begitu lolongan itu berhenti maka putuslah nyawa manusia siluman ini.
Bersamaan dengan matinya Sonya, maka lenyap pulalah segala macam ilmu siluman yang menguasai tokoh-tokoh silat yang ada di ruangan itu, yang selama ini menjadi budak Sonya, disuruh membunuh dan menculik. Wajah-wajah yang tadinya hitam berkilat secara aneh kini perlahan-lahan berubah menjadi muka manusia wajar. Mereka tampak terheran-heran begitu lepas dari kungkungan ilmu siluman. Memandang wajah-wajah mereka, Wiro, Dewa Tuak dan Lor Gambir Seta segera mengenali mana-mana tokoh silat dari golongan putih. Murid Si Raja Penidur itu segera melepaskan totokan di tubuh mereka.
Begitu bebas dari totokan, mereka semua menjura dalam-dalam dan tiada hentinya mengucapkan terima kasih. Beberapa di antara mereka ada yang berkaca-kaca matanya.
Wiro memandang pada empat tokoh golongan hitam yang ada di tempat itu masih dalam keadaan tertotok. "Apa yang akan kita lakukan terhadap mereka?" tanya Wiro.
"Jika mereka menyesal atas segala perbuatan mereka di masa lampau dan selanjutnya mau menempuh hidup baik, aku akan beri ampunan pada mereka!" jawab Lor Gambir Seta.
Tanpa ditanya lagi empat tokoh silat itu serempak membuka mulut, mohon ampun dan berjanji untuk menempuh hidup baru yang benar. Lor Gambir Seta lalu lepaskan totokan mereka. Keempatnya menjura, mengucapkan terima kasih lalu tinggalkan tempat itu.
Dewa Tuak menghela nafas dalam lalu teguk tuaknya. Dia menyumpah dan bantingkan buli-buli itu ke lantai.
"Sialan! Tuakku habis!" keluhnya. "Mati aku…!"
Wiro tertawa gelak-gelak sedang Lor Gambir Seta cuma mengulum senyum.
"Aku tak betah lagi di sini. Aku harus pergi. Aku harus dapatkan tuak! Kalau tidak bisa mati!"
"Aku pun harus pergi sekarang," berkata Lor Gambir Seta.
"Hai tunggu!" Wiro tiba-tiba berseru.
"Ada apa lagi pendekar?" tanya Lor Gambir Seta sementara Dewa Tuak terus-terusan menggerutu.
"Bagaimana dengan gadis-gadis cantik di ruangan sebelah itu?" tanya Wiro.
Dewa Tuak memandang sebentar pada Lor Gambir Seta. Dewa Tuak kedipkan mata lalu kedua tokoh silat itu sama-sama tertawa mengekeh. Kakek yang kebakaran janggut itu lantas berkata: "Kami sudah tua bangka, mana pantas mengurusi boneka-boneka itu. Kau uruslah mereka. Tapi ingat, jangan main gila. Jangan berbuat apa yang dilakukan manusia siluman bernama Sonya itu"
Selesai berkata begitu Dewa Tuak berkelebat pergi. Disusul oleh Lor Gambir Seta.
"Tunggu dulu!" seru Wiro. Tapi kedua tokoh itu sudah lenyap.
Wiro garuk-garuk kepala. Perlahan-Lahan dia melangkah ke ruangan sebelah. Ruangan itu di tutup oleh sebuah pintu. Wiro membuka daun pintu. Begitu pintu terbuka berpekikkanlah keenam belas gadis cantik tanpa pakaian di dalam sana. Kalau sebelumnya mereka tidak merasa malu sama sekali, setelah Sonya mati dan ilmu silumannya sirna, maka kini setelah kesadarannya pulih, gadis-gadis itu jadi kalang kabut. Mereka berusaha menutupi aurat masing-masing dengan kedua tangan. Tentu saja mereka tak dapat menyembunyikan banyak. Wiro menutup pintu dan kembali ke ruangan semula. Dia memandang pada tokoh-tokoh silat golongan putih yang masih di situ.
"Dengar, kita butuh pakaian untuk gadis-gadis itu…" kata Wiro.
Seorang lelaki bermuka putih maju. Dia bukan lain adalah Akik Mapel alias Malaikat Berambut Kelabu.
"Pendekar," katanya, "Di bawah ruangan ini ada sebuah gudang. Sonya menyimpan segala macam barang di situ, termasuk pakaian gadis-gadis itu. Aku akan segera mengambilnya."
"Cepatlah agar gadis-gadis itu tidak kedinginan," kata Wiro pula.
Akik Mapel menekan sebuah tombol rahasia. Lantai ruangan terbuka. Tampak sebuah tangga menuju ke sebuah ruangan. Orang tua ini segera masuk. Di sini dia mengambil enam belas potong pakaian perempuan. Ketika hendak keluar kepalanya membentur sesuatu. Mendongak ke atas dilihatnya burung Nuri Merah dalam sangkar tulang. Akik Mapel tahu betul binatang ini adalah peliharaan kesayangan Sonya. Tak dapat membalas dendam terhadap pemiliknya, sebagai gantinya Akik Mapel membanting sangkar tulang Itu ke lantai dan menginjak mati burung di dalamnya.
Setelah mengenakan pakaian, enam belas orang gadis itu keluar dari dalam ruangan. Rata-rata mereka mengucurkan air mata, termasuk Dwiyana, murid Akik Mapel. Gadis ini kemudian memimpin kawan-kawan senasibnya menghaturkan terima kasih pada Wiro Sableng.
Pendekar kita jadi jengah dan sambil garuk-garuk kepala berkata: "Aku tak berani menerima ucapan terima kasih kalian. Ada orang lain yang lebih pantas menerimanya. Dialah yang mengatur rencana penyelamatan ini. Orangnya berjuluk Si Raja Penidur!
Tentu saja gadis-gadis itu tidak tahu siapa adanya Raja Penidur. Sebaliknya para tokoh silat yang ada tampak melengak kaget. Mereka tidak menyangka kalau manusia paling lihay di dunia persilatan itu masih hidup.
"Kalau begitu sebaiknya kita menyambanginya di tempat kediamannya," mengusulkan Akik Mapel. Semuanya setuju. Akik Mapel memimpin jalan, diikuti para tokoh silat, lalu Wiro Sableng yang diapit oleh keenam belas dara-dara cantik itu. Dia berjalan sambil senyum-senyum.
"Eh, ada apakah?" berpaling Akik Mapel.
"Ah, kalian orang-orang tua jalan terus sajalah. Biarkan kami orang-orang muda berjalan di belakang sini seenaknya," jawab Wiro Sableng.
Akik Mapel hanya bisa angkat bahu. Yang lain-lainnya mengulum senyum. Dan mereka berjalan terus. Teluk Gonggo semakin jauh di belakang mereka.

TAMAT

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog