Sunday, March 15, 2009

Misteri Pedang Naga Merah

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : DADU SETAN

1

JUMENA prajurit Kadipaten Losari yang tengah tertidur pulas tak jauh dari pintu gerbang timur, tenggelam dalam mimpi aneh. Dalam mimpi dia melihat dua orang lelaki berkepala sangat besar mendaki keluar dari sebuah jurang yang mengepulkan kabut kelabu. Lelaki pertama seorang kakek bungkuk bertongkat kayu dan bercaping hijau, menaiki jurang sambil memegang lengan lelaki muda di belakangnya. Padahal lelaki muda inilah yang seharusnya menuntun si kakek naik ke atas jurang. Setiap dia menarik nafas panjang, caping hijau di atas kepala si kakek naik ke atas sampai satu jengkal lalu turun lagi. Waktu caping naik ke atas kelihatan kepala si kakek yang luar biasa besar.
Kabut tipis sesaat lenyap. Sekilas dalam mimpinya Jumena melihat wajah orang di belakang kakek bercaping. Prajurit ini tersentak dari mimpi dan terbangun duduk. Mukanya keringatan padahal saat itu dia berada di udara terbuka dan malam hari pula. Dia mengenali wajah itu. Tapi mengapa kepalanya berubah besar?
“Ini kali kedua aku mengimpikan Raden Rayi Jantra dan kakek bercaping itu. Berkepala sangat besar, keluar dari jurang. Apa artinya …?” Setelah merenung cukup lama kantuk Jumena datang lagi. Prajurit ini kembali berselunjur dan meneruskan tidurnya.
Belum lama pulas seorang prajurit temannya datang menghampiri dan membangunkan.
Jumena nyalangkan dua mata, letakkan tangan kanan di gagang golok besar yang terletak di pangkuannya lalu menatap pada prajurit yang berdiri di hadapannya.
“Ada apa? Aku rasa belum giliranku jaga,” Jumena merasa tergangu.
“Ada orang mencarimu.” Prajurit yang membangunkan memberi tahu lalu melangkah pergi.
Jumena menggeliat. Mengucak mata kemudian menoleh ke samping kiri. Pandangannya membentur sosok tegap seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian putih. Prajurit yang berbaring bersandar ke tembok batas timur Kadipaten Losari ini kerenyitkan kening lalu berdiri.
“Kau…Aku tidak lupa padamu,” kata Jumena. ”Aku mengira tidak akan menemuimu lagi. Waktu di jurang kau pergi begitu saja.”
“Jumena, aku juga tidak lupa padamu. Itu sebabnya aku mencarimu.”
“Malam-malam buta, hemmm rasanya hampir pagi. Ada apa?”
“Jumena, kita duduk dan bicara di balik pohon besar sana saja,” kata si rambut gondrong yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Wiro pegang bahu prajurit itu lalu membawanya ke balik pohon besar tak jauh dari pintu gerbang timur Kadipaten Losari.
Sampai di balik pohon setelah duduk berhadap-hadapan Jumena bertanya lagi. “Ada apa? Eh, sampai saat ini aku belum tahu namamu.”
“Panggil aku Wiro,” jawab Pendekar 212. “Jumena, waktu di jurang kau memberi tahu tentang atasanmu bernama Rayi Jantra yang katamu dibuang ke jurang. Apakah mayatnya sudah ditemukan?”
Jumena menggeleng. “Ada keanehan.”
“Keanehan bagaimana?” tanya Wiro.
“Kejadian di jurang aku laporkan pada Prajurit Kepala. Prajurit Kepala lanjut melapor pada Adipati Losari Raden Seda Wiralaga. Hari itu juga Adipati mengirim pasukan besar ke jurang di perbatasan. Semua mayat berhasil diangkat ke atas jurang. Keadaannya sangat rusak. Empat jenasah tak dikenal bermuka hangus. Dua mayat kemudian diketahui adalah prajurit Kadipaten bernama Lebak dan Meneng. Jenasah Raden Rayi Jantra tidak ditemukan.”
“Mungkin mayatnya tidak termasuk yang dibuang di jurang.”
“Boleh jadi. Namun ada keanehan lain. Aku bermimpi. Sampai dua kali. Kali kedua barusan saja. Dalam mimpi aku melihat Raden Rayi Jantra berpegangan tangan dengan seorang kakek bercaping hijau. Kepala mereka besar sekali. Keduanya berusaha mendaki jurang, naik ke atas.”
“Jangan-jangan atasanmu itu masih hidup.” Wiro coba mengartikan mimpi Jumena.
“Mudah-mudahan begitu. Kalau dia masih hidup dan kembali bertugas, aku pasti akan mendapat kenaikan pangkat. Dia janji padaku.” Jumena menghela nafas panjang. “Kau belum menerangkan apa keperluanmu. Apa masih mau menanyakan soal kancing kayu tempo hari?” (Mengenai pertemuan Wiro dengan Jumena pertama kali harap baca Episode sebelumnya berjudul “Dadu Setan)
Wiro tertawa, menggaruk kepala. Jumena menatap wajah sang pendekar. Sepasang matanya membesar. Tiba-tiba dia berkata, “Aku ingat sesuatu!”
“Apa?” tanya Pendekar 212.
“Wajahmu!”
Wiro mengusap mukanya. “Kenapa wajahku?”
“Sama dengan yang dibuat juru lukis itu! Eh, namamu tadi siapa?”
“Aku tdak mengerti maksudmu. Juru lukis apa?”
“Wiro! Kau pasti orangnya!”
“Bicara yang benar. Jangan sepotong-sepotong!”
“Kau tahu perihal kematian Adipati Brebes?”
“Aku mendengar ceritanya,” jawab Wiro. Dalam hati dia berkata, “Aku yang membunuh manusia bejat itu!”
“Atas perintah Adipati Losari, berdasarkan keterangan saksi termasuk seorang kakek berjuluk Si Kuda Iblis alias Ki Sentot Balangnipa, seorang juru gambar membuat lukisan wajah si pembunuh. Aku sempat melihat gambar yang sekaligus surat perintah penangkapan itu ketika hendak ditunjukkan pada Adipati Losari. Wajah yang dibuat juru lukis itu adalah wajahmu! Besok siang surat selebaran akan ditempel dimana-mana. Kau dituduh sebagai pembunuh Adipati Brebes. Diperintahkan tangkap hidup atau mati! Imbalannya lima ringgit emas! Kau orangnya yang bernama Wiro Ssableng, berjuluk Pendekar Dua Satu Dua? Betul? Pasti betul!”
Wiro terkejut namun dengan tenang dia berkata, “Adipati Brebes pantas dihabisi karena hendak
menodai seorang gadis sahabatku. Berita menyebar cepat sekali. Mengapa Adipati Losari di wilayah barat yang mengeluarkan surat penangkapan, bukan pejabat Kerajaan di wilayah timur?”
“Adipati Brebes Karta Suminta adalah sahabat kental Adipati Losari Seda Wiralaga. Aku rasa saat ini di wilayah timur kau juga sudah dicari.”
Wiro menggaruk kepala. “Kau prajurit Losari. Setelah tahu siapa aku mengapa tidak menangkapku?”
Jumena usap-usap golok besar yang dipegangnya lalu tertawa.
Ikutan menggaruk kepala. “Aku prajurit kecil. Ingin hidup tenang. Kalau aku menangkapmu, apa kau tidak bakal menekuk batang leherku? Aku banyak mendengar cerita tentang kehebatanmu. Seorang prajurit butut sepertiku ingin melawan pendekar besar sepertimu? Ha-ha! Aku tidak mau mencari penyakit. Apalagi mencari mati!”
“Kau tidak tergiur pada hadiah lima ringgit emas? Kau bisa melaporkan aku pada atasanmu atau langsung pada Adipati Losari. Selain lima ringgit emas mungkin kau bakal dapat kenaikan pangkat dua tingkat sekaligus!”
Prajurit Jumena tersenyum. “Aku ingin hidup tenang. Apa arti lima ringgit emas kalau kelak nyawaku bakalan amblas! Lagipula kalau Adipati Brebes hendak menodai seorang gadis, rasanya dia memang pantas dibunuh! Selama ini gedung kediamannya dikenal sebagai sarang keluar masuk gadis-gadis cantik, bahkan istri orang. Ada yang datang karena mengharap imbalan atau hadiah besar. Ada yang memang perempuan nakal. Tapi banyak juga yang diambil secara paksa.”
“Jadi kau tidak akan menangkapku? Tidak akan melapor pada atasanmu?” tanya Wiro pula.
Prajurit Kadipaten Losari itu gelengkan kepala.
Wiro tepuk-tepuk bahu Jumena.
“Aku mendengar banyak cerita hebat tentang dirimu. Antara lain kau memiliki sebuah senjata yang disebut Kapak Maut Naga Geni Dua Satu Dua. Katanya senjata itu bisa mengeluarkan api, angin panas dan mengeluarkan suara mengaung dahsyat. Aku tak melihat kau membekal senjata sakti itu. Dimana kau simpan? Boleh aku melihat dan memegangnya barang sebentar?”
Wiro tertawa, “Nanti, satu kali akan aku perlihatkan padamu.”
Jumena tampak kecewa. Wiro pegang bahu prajurit itu. “Jumena, kau kenal seorang pemuda bernama Danang Seta dari desa Jatiwaluh?”
“Dia sahabatku sejak kecil. Teman sepermainan.” Jawab Jumena. “Kenapa kau tanyakan dirinya? Memangnya kau kenal dia?”
“Sahabatmu tewas dibunuh orang petang menjelang malam tadi.”
Jumena terkejut bukan main. Rasa tak percaya membuat dia lama menatap wajah Wiro. Setelah menghela nafas panjang dan menahan sengguk prajurit ini berkata perlahan. “Kasihan Danang. Kematiannya pasti ada kaitan dengan apa yang diketahuinya tentang satu tempat rahasia. Padahal mungkin dia cuma tahu sedikit. Kekasihnya, seorang gadis bernama Ningrum yang tahu banyak.”
“Ningrum juga sudah menemui ajal. Dibunuh!” Menerangkan Wiro.
Jumena terbelalak. “Bagaimana kejadiannya?”
Wiro lalu menuturkan sesuai cerita yang didengarnya dari Purnama.
“Jadi Ningrum juga dibunuh,” Jumena gelengkan kepala berulang kali. Setelah mengusap wajahnya dia berkata, “Gadis kekasih Danang Seta itu belakangan ini dibanjiri harta kekayaan luar biasa. Tapi dirinya juga dipenuhi berbagai rahasia. Mungkin Adipati Brebes yang membunuhnya?”
Wiro menggeleng. “Adipati itu menemui ajal lebih dulu. Sudah kukatakan, aku yang membunuh Karta Suminta.”
Jumena terdiam beberapa lama. Akhirnya dia berkata. “Atasanku Rayi Jantra pernah mengungkapkan rasa curiganya terhadap Ningrum puteri Surah Pamulih itu. Ningrum diketahui banyak berhubungan dengan para ejabat tinggi di wilayah timur dan barat. Ada kabar selentingan bahwa Ningrum membantu orang-orang di timur untuk menggagalkan usaha orang di barat yang hendak mendirikan satu kerajaan di pantai utara. Danang pernah bilang Ningrum sulit ditemui. Di rumah dia hanya ada tiga atau empat hari dalam sebulan. Selebih itu tidak diketahui dimana dia berada.”
“Ada orang yang ingin membungkam Danang Seta dan Ningrum,” kata Wiro pula.
Jumena mengangguk. Dia meraba tengkuk sendiri yang mendadak terasa dingin. Ada rasa takut muncul dalam diri prajurit ini.
“Jumena, ingat apa yang kau sampaikan padaku waktu bertemu di jurang?”
“Aku ingat, tapi mungkin tidak semuanya,” jawab Jumena.
“Kau cerita tentang kematian Nyi Inten Kameswari yang makamnya dibongkar lalu jenasahnya ditemukan dalam keadaan perut robek terbongkar. Kau juga cerita tentang Anom Miharja, suami Nyi Inten yang katanya mati bunuh diri tapi menurut atasanmu dia dibunuh. Kau juga cerita tentang ditemukannya mayat beberapa orang Cina. Tentang Raden Rayi Jantra yang berusaha menyelidiki asal usul kekayaan Anom Miharja dan Nyi Inten. Lalu yang aku tidak bisa lupa, kau bicara tentang dua buah dadu yang saling diperebutkan beberapa tokoh sakti. Diantaranya Pengemis Muka Bopeng, Raden Kumalasakti dan Eyang Sepuh Kembar Tilu. Ketiga orang itu sudah tewas semua! Dibunuh!”
“Ya, sekarang aku jadi ingat. Aku cerita apa adanya sesuai yang aku ketahui. Turut apa yang aku dengar Pengemis Muka Bopeng dibunuh Eyang Sepuh Kembar Tilu di sebuah warung. Dia menyamar sebagai Raden Kumalasakti dan berusaha dapatkan dua buah dadu. Yang diberikan si nenek padanya ternyata dadu palsu. Raden Kumalasakti yang asli kemudian dibunuh oleh Pengemis Siang Malam…”
“Aku menyaksikan kematian Raden Kumalasakti. Kejadiannya di sarang Pengemis Siang Malam,” kata Wiro pula. “Yang jadi pertanyaan, jika Eyang Sepuh Kembar Tilu memberikan dua buah dadu pada Raden Kumalasakti berarti sebelumnya sudah ada perjanjian di antara mereka bahwa dua buah dadu memang harus diserahkan pada Raden Kumalasakti. Nah, siapa Raden Kumalsakti ini sebenarnya?”
“Aku hanya tahu walau dia bukan orang dari wilayah barat tapi banyak hubungan dengan para petinggi di sini.”
“Kau tahu mengapa dia inginkan dua buah dadu?”
Jumena menggeleng.
“Kau tahu mungkin si Raden ini dan si nenek Eyang Sepuh Kembar Tilu berada di bawah perintah atau bekerja untuk orang yang sama? Siapa kira-kira?”
“Aku tidak tahu,” jawab Jumena.
Wiro penasaran. “Sebelum menemui ajal, Danang Seta sahabatmu berkata bahwa kau tahu satu tempat rahasia bergelimang uang, harta dan perempuan. Menurut Danang, Ningrum kekasihnya mungkin ada sangkut pautnya dengan tempat itu. Beri tahu padaku tempat apa itu dan dimana letaknya.”
“Pastinya tempat itu berbentuk apa aku tidak tahu. Juga tepat letaknya. Namun ada yang mengatakan tak jauh dari Losari ada sebuah bangunan rahasia di sebuah bukit batu ….”
Belum sempat prajurit Jumena mengakhiri ucapannya tiba-tiba di kejauhan ledakan dahsyat menggoncang seantero kawasan disusul nyala api terang benderang serta suara jerit kematian. Lalu ada orang berteriak.
“Api! Rumah juga terbakar!”

***

2

WIRO terhuyung-huyung. Telinganya mendenyut pekak. Jumena sempat mencabut golok namun terpental dan jatuh terduduk. Sekitar dua puluh langkah dari pintu gerbang di tembok timur itu terdapat sebuah rumah jaga. Ledakan dahsyat membuat rumah jaga hancur berkeping-keping. Kobaran api membumbung ke udara. Sebelumnya ada dua prajurit di dalam rumah jaga itu. Ketika ledakan menggelegar keduanya mencelat mental lalu tergelimpang di tanah dalam keadaan tubuh hangus buntung tercabik-cabik dan anggota badan cerai berai. Wiro cepat melompat ke arah rumah jaga yang sudah rata dengan tanah.
Saat itu dari balik deretan rumpun bambu lebat melesat keluar seekor kuda hitam. Penunggangnya seorang kakek berjubah biru gelap, berwajah merah, berkepala botak. Di balik punggung jubah kelihatan sebatang ranting pohon mengkudu lengkap dengan delapan helai daunnya. Sementara semua orang yang ada di situ lari ke jurusan rumah jaga yang hancur, kakek berkuda justru membedal tunggangannya ke arah berlawanan.
Walau sempat melihat Wiro tidak perdulikan si kakek. Dia tengah memperhatikan dengan tengkuk merinding dua prajurit yang menemui ajal secara mengerikan ketika tiba-tiba di belakang sana terdengar jeritan seseorang. Jeritan Jumena! Wiro berpaling kaget.
Kakek berwajah merah raib bersama kudanya di kegelapan. Jumena tampak tergelimpang di tanah. Sebilah golok, golok miliknya sendiri menancap di pertengahan dadanya. Wiro berteriak lalu menghambur menghampiri.
“Jumena!”
Sepasang mata Jumena tinggal putihnya saja. Tubuh bergelimang darah. Namun telinga masih bisa mendengar dan mulutnya masih sanggup berucap.
Dalam bingungnya Wiro pegang gagang golok yang menancap di tubuh prajurit itu. Hendak ditarik tapi tak jadi karena takut darah akan bertambah banyak mengucur.
“Jumena! Siapa yang membunuhmu?” Wiro bertanya setengah berteriak.
“Kakek mu…muka merah pen…penunggang kuda it..itu…” Suara Jumena tersendat-sendat.
“Kau tahu siapa dia?” tanya Wiro lagi.
Mulut Jumena terbuka, bibir bergetar. Tak ada suara yang keluar.
“Kau tadi menyebut bukit batu. Bukit batu apa? Dimana?” tanya Wiro. Namun prajurit itu tak mampu menjawab. Matanya nyalang. Nyawanya putus sudah!
Saat itu beberapa orang prajurit Kadipaten berdatangan. Di antara kerumunan para prajurit seorang perempuan bertutup wajah, berikat kepala serta berpakaian merah kembang-kembang menyeruak ke depan. Dari mulutnya keluar bentakan.
“Saudara Wie! Kau membunuh prajurit itu!”
Wiro tersirap kaget. Lepaskan pegangannya pada gagang pedang dan memandang melotot pada orang yang barusan keluarkan ucapan dan ternyata bukan lain adalah Kiang Loan Nio Nikouw. Sementara itu salah seorang prajurit yang berkerumun di tempat itu berkata.
“Dia membunuh kawan kami! Ketika kami datang dia masih memegang gagang golok!”
“Siapa nama prajurit yang dibunuh ini?” tanya sang paderi dari Tionggoan pada prajurit-prajurit
Kadipaten.
“Jumena!”
“Aah!” Wajah dibalik kain merah paderi Loan Nio berubah. “Aku sudah menduga namanya Jumena.” Sang paderi berpaling pada Pendekar 212 dan lanjutkan ucapannya.
“Saudara Wie, kau bukan cuma sengaja membunuhnya. Tapi punya niat jahat untuk menutupi satu rahasia dan perkara besar yang tengah aku selidiki!”
“Nionio, aku tidak membunuh prajurit itu. Seorang kakek bermuka merah, menunggang kuda yang melakukan!” jawab Wiro.
Loan Nio Nikouw memandang para prajurit di depannya. Lalu bertanya. “Prajurit Kadipaten, apa kalian melihat seorang kakek bermuka merah menunggang kuda?”
Enam prajurit yang ada di tempat itu sama gelengkan kepala.
“Pemuda gondrong ini mengarang cerita! Jelas dia yang membunuh Jumena! Dia masih memegang gagang golok ketika kami datang! Kawan-kawan mari kita tangkap bangsat pembunuh ini! Kalau melawan cincang sampai lumat!”
“Kalian semua yang gila! Kalian yang mengarang cerita! Aku tidak membunuh Jumena! Dia sahabatku!” Wiro rasanya ingin sekali menampar mulut prajurit yang barusan bicara.
“Saudara Wie, kau terlalu banyak berdusta. Aku tahu orang-orang ini tak akan mampu menangkapmu! Apalagi mencincangmu! Biar aku yang akan turun tangan melakukan!”
“Nionio, apa maksudmu?” Wiro bertanya dengan mata mendelik.
“Aku berharap kau bisa dijadikan sahabat untuk menolong. Ternyata kau musuh dalam selimut! Cukup lama aku bercuriga padamu. Kecurigaanku ternyata menjadi kenyataan. Seharusnya tempo hari aku biarkan dirimu dibunuh Ki Beringin Reksa dan Walang Gambir! Sekarang saatnya kau harus disingkirkan!”
Sepasang mata Loan Nio Nikouw tampak seperti menyala. Habis keluarkan ucapan dia gerakkan tangan ke punggung.
“Srett”
Cahaya merah memancar terang ketika Ang Liong Kiam atau Pedang Naga Merah keluar dari sarungnya. Tanpa banyak cerita lagi senjata mustika itu langsung dibabatkan ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.
“Nionio! Tahan! Mari kita bicara dulu!” teriak Wiro sambil melompat mundur.
Sang paderi hanya menyeringai dan keluarkan suara mendengus. Pedang mustika di tangan kanannya terus berkelebat. Hanya setengah jengkal lagi senjata sakti itu akan membabat perut Pendekar 212 tiba-tiba Loan Nio Nikouw menjerit kaget. Bersamaan dengan itu tubuhnya terpental. Kalau dia tidak cepat imbangi diri niscaya akan jatuh duduk di tanah. Di balik cadar penutup wajahnya tampak berubah pucat, mata membesar dan tengkuk dingin.
“Dadaku mendenyut sakit. Pelipisku sakit bukan main. Dua kakiku goyah! Apa yang terjadi?” Loan Nio Nikouw berucap dalam hati. Dia pandangi senjatanya. Tangan kanannya yang memegang pedang bergetar dan terasa kesemutan. Dia merasa lega melihat senjata saktinya berada dalam keadaaan utuh.
Dengan cepat paderi perempuan ini memasang kuda-kuda baru. Mata menatap tak berkesip ke arah Pendekar 212.
Hal yang sama terjadi dengan tubuh Wiro. Malah keadaannya lebih parah. Tubuh terhuyung ke belakang lalu jatuh duduk di tanah. Hal ini terjadi karena ketika menyerang Loan Nio Nikouw kerahkan tenaga dalam sementara Wiro tidak. Dia merasa seperti ditiban batu besar yang membuat sekujur tubuh seolah luluh lantak. Wiro ingat pada kejadian sewaktu Ki Sentot Balangnipa menyerangnya dua kali dengan Pedang Naga Merah di Kadipaten Brebes. Mereka sama-sama terpental dan sama-sama terluka di dalam. Wiro cepat alirkan hawa sakti ke seluruh tubuh.
“Nionio! Tahan! Tunggu! Kita bicara dulu!” teriak Wiro ketika melihat sang paderi melangkah ke arahnya, siap menyerang kembali. Tapi sang paderi tidak perduli.
“Sial! Kenapa urusan jadi begini?” Wiro memaki lalu melompat bangun. Melihat sorotan mata yang begitu galak dari Nionio Nikouw Wiro sadar orang tak bisa diajak bicara. Maka dia kerahkan tenaga dalam ke tangan kiri kanan. Wiro sadar pedang di tangan paderi itu bukan senjata sembarangan. Selain itu Nionio Nikouw juga memiliki ilmu silat dan ilmu pedang hebat. Kalau tidak bisa menjaga diri, dia bisa konyol di tangan paderi nekad ini.
“Wuttt!” Pedang Naga Merah berkelebat dalam jurus bernama Naga Merah Membelah Bumi. Jurus ini berupa bacokan ganas dari atas ke bawah. Cahaya merah berkiblat. Wiro cepat membungkuk dan rundukkan kepala. Begitu pedang sakti lewat di samping kepalanya kaki kanan ditendangkan ke arah kaki lawan. Namun seperti tadi ada kekuatan gaib tak kelihatan yang saling hantam. Kali ini Wiro tersungkur. Untung dia masih bisa gulingkan diri hingga mukanya tidak berkelukuran dihantam tanah. Untuk beberapa lamanya dia hanya bisa tertelungkup diam. Kepalanya yang tadi hendak dibacok terasa seperti remuk. Mulut lelehkan darah kental. Di depannya Loan Nio Nikouw terpental dan terjengkang di tanah. Cadar merah penutup wajahnya tanggal, tercampak ke tanah. Seperti Wiro di sudut bibir paderi ini tampak ada lelehan darah sementara wjahnya yang cantik kelihatan pucat pasi.
Tiba-tiba Loan Nio Nikouw berteriak keras lalu semburkan darah di mulutnya.
“Pemuda jahat!” Sang paderi yang biasanya memanggil Wiro dengan sebutan Saudara Wie kini menyebut sang pendekar sebagai pemuda jahat. “Kau boleh punya ilmu setan! Apa kau kira aku tidak bisa melukai dan mencincangmu?”
Mulut sang paderi berkomat-kamit entah melafalkan apa. Wiro cepat berdiri bangkit. Tangan kanan dimelintangkan di atas dada. Loan Nio Nikouw angkat pedang ke atas. Ujung pedang mengarah ke kepala Wiro. Menusuk cepat ke arah kening. Murid Eyang Sinto Gendeng bersurut satu langkah. Tangan di depan dada bergerak ke depan. Dalam melindungi diri sambil lancarkan serangan Benteng Topan Melanda Samudera Wiro sengaja mengibas, tidak melancarkan pukulan. Di dalam hatinya pemuda ini masih punya rasa tidak tega untuk mencelakai sang paderi. Padahal orang sudah nekad hendak membunuhnya. Sebelumnya waktu di goa, pukulan sakti itu telah membuat Liok Ong Cun muntah darah.
“Bess!”
Angin keras melabrak ke depan. Tubuh Loan Nio Nikouw bergetar. Dia berusaha bertahan. Dua kaki laksana menancap di tanah. Wiro merasa pukulannya tertahan tembok gaib. Di depannya ujung lancip Pedang Naga Merah keluarkan dua kali kilatan cahaya merah.
“Tembus!”
Tiba-tiba paderi perempuan itu berteriak keras.
Pedang Naga Merah yang tadi hendak menusuk kening lawan, laksana kilat tiba-tiba melesat ke samping kanan lalu membalik membuat babatan dahsyat ke arah pinggang. Inilah jurus ilmu pedang yang disebut Menusuk Matahari Membelah Rembulan.
Wiro merasa dua kakinya laksana dipantek ke tanah, tak bisa digerakkan untuk melompat cari selamat. Dia mendengar suara bergemuruh seolah ada batu besar menggelinding menghantam dirinya dari samping kanan.
Mata Pedang Naga Merah mendarat telak di pinggang kanan Pendekar 212.
“Brett!”
“Tring!”
Wiro terpental ke samping. Sebuah benda putih panjang yang menahan hantaman pedang sakti mencelat dari pinggang bajunya yang robek dan jatuh di tanah. Benda ini adalah suling perak milik Loan Nio Nikouw yang ditemukan oleh dua nenek kembar dan kemudian diserahkan pada sang pendekar. Keberadaan suling perak di pinggang Wiro boleh dikatakan sebagai ikut menyelamatkan sang pendekar selain adanya kekuatan gaib yang kembali muncul secara aneh.
Pada saat Wiro terguling jatuh dan terkapar megap-megap disertai lelehan darah mengucur di sudut mulut, Loan Nio Nikouw telah lebih dulu tergelimpang tertelungkup di tanah. Paderi ini semburkan ludah bercampur darah sampai dua kali. Mulut keluarkan erangan, namun sepasang mata mendelik besar memandang ke arah suling perak miliknya yang jatuh di tanah.
“Sulingku…. Ah pemuda jahat ini ternyata pencurinya.” Dengan dada turun naik karena sulit bernafas, tangan kanan masih memegang Pedang Naga Merah, Loan Nio Nikouw beringsut ke depan hingga akhirnya dia berhasil menggapai suling perak. Begitu suling perak berada dalam genggaman tangan kirinya, paderi ini semburkan lagi ludah dan darah lalu jatuh pingsan.
Saat itu setelah seolah lupa akan nasib mengerikan yang menimpa dua kawan mereka di rumah jaga, puluhan prajurit Kadipaten Losari yang berada di tempat itu merasa sadar. Salah seorang di antara mereka berteriak.
“Tangkap pemuda gondrong pembunuh Jumena itu!”
“Jangan ditangkap! Langsung cincang saja!” Seorang prajurit lain balas berteriak.
Belasan golok dicabut siap dibacokkan. Lusinan tombak siap dihunjam. Pada saat yang begitu genting tiba-tiba terdengar suara ha-hu ha-hu. Dua bayangan samar berkelebat mengangkat tubuh Pendekar 212.
Puluhan prajurit terkesiap. Tidak yakin apakah yang menggotong pemuda gondrong itu manusia atau setan atau mahluk apa. Mereka baru mengejar dan melempar tombak serta golok sewaktu dua sosok samar berupa dua nenek berambut kelabu berjubah kuning melarikan Wiro ke arah timur.
“Kejar! Jangan biarkan lolos!” Seorang pengawal berteriak.
Tiba-tiba dari arah pintu gerbang ada seorang berucap.
“Yang sudah kabur tak usah dikejar! Nyawanya hanya tinggal beberapa hari saja! Namun kalian semua tetap mendapat hukuman karena telah berlaku lalai.”
Semua prajurit menoleh ke arah pintu gerbang timur. Melihat orang tinggi besar, berjanggut dan berkumis tipis yang berdiri di pintu gerbang itu, mereka serta merta jatuhkan diri berlutut.
“Ada tamu asing terluka. Perempuan pula! Mengapa kalian biarkan dia tertelungkup di tanah? Apa kalian tidak punya rasa hiba perikemanusiaan? Bawa dia ke gedung Kadipaten!”
Habis berkata begitu orang di pintu gerbang memutar tubuh dan melangkah masuk ke halaman dalam. Dia naik ke atas sebuah gerobak kuda. Sais gerobak segera menarik tali kekang. Orang ini adalah Adipati Losari Raden Mas Seda Wiralaga.
Empat prajurit segera menggotong tubuh Loan Nio Nikouw. Namun sebelum sempat mencapai pintu gerbang timur tiba-tiba melesat satu bayangan biru. Orang ini bergerak luar biasa cepat. Empat prajurit yang menggotong Loan Nio Nikouw terjengkang kena hantaman kaki dan tangan. Dengan gerakan kilat si baju biru menyambar tubuh sang paderi lalu membawanya kabur dan lenyap dalam kegelapan malam.
Seorang prajurit yang sempat melihat wajah si baju biru berteriak .
“Setan tengkorak menculik gadis asing!”
Adipati Seda Wiralaga yang mendengar teriakan itu terkejut bukan main. Dengan cepat dia menyuruh sais memutar gerobak ke arah pintu gerbang. Sebelum mencapai pintu gerbang, dari atas gerobak dia melesat ke udara. Tembok setinggi hampir satu setengah tombak dilewati begitu saja. Namun bayangan Loan Nio Nikouw dan orang yang memboyongnya kabur tak kelihatan lagi.
Ketika belasan prajurit mendatanginya Adipati Losari ini langsung mendamprat.
“Kalian tolol semua! Cari Ki Sentot Balangnipa! Perempuan asing itu harus diselamatkan! Kerahkan pasukan berkuda untuk mengejar!”

***

3

LIOK ONG CUN memboyong Kiang Loan Nio Nikouw ke goa dimana dulu Wiro pernah membawanya setelah diselamatkan dari perbuatan mesum Adipati Brebes Karta Suminta. Sampai di goa pemuda yang menutup wajahnya dengan topeng tengkorak ini tak berani membuat api unggun. Khawatir akan menarik perhatian orang-orang Kadipaten yang diketahuinya tengah melakukan pengejaran. Untungnya saat itu sudah hampir pagi. Walau di dalam goa diselimuti kegelapan, di luar keadaan sudah mulai terang­terang tanah.
Liok Ong Cun duduk di samping sosok Loan Nio Nikouw yang terbaring menelentang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Tangan kanan diulur memegang urat nadi di pergelangan tangan kiri sang paderi. Lewat urat nadi itu dia merasakan denyut jantung Loan Nio Nikouw yang tidak teratur dan terkadang lemah hampir tak terasa. Dalam hati, dia bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gadis itu. Ketika menyelamatkan sang paderi dia masih sempat melihat Pendekar 212 Wiro Sableng dilarikan dua nenek aneh, dikejar puluhan prajurit Kadipaten.
Saat itu keadaan agak gelap di dalam goa tidak memungkinkan Ong Cun memeriksa Loan Nio Nikouw lebih seksama. Untuk membantu memberi kekuatan agar bisa bertahan pemuda berkepandaian tinggi ini alirkan tenaga dalam dan hawa sakti yang dimilikinya ke tubuh Loan Nio Nikouw lewat pergelangan tangan.
Tak lama kemudian di ufuk timur fajar menyingsing dan cahaya sang surya merambat masuk ke dalam goa. Liok Ong Cun kini dapat melihat jelas sosok Loan Nio Nikouw. Wajah sang paderi tampak pucat. Di pipi dan dagu kiri ada lelehan darah setengah mengering. Tangan kiri memegang seruling perak, sementara tangan kanan menggenggam Ang Liong Kiam.
“Loan Nio terluka di dalam. Kelihatannya di sebelah dada. Aku harus membuka pakaiannya, “ Liok Ong Cun berucap dalam hati.
Beberapa saat pemuda ini duduk terdiam, mata menatap sosok sang paderi. Rasa rikuh yang ada dalam hatinya hanya berlangsung seketika. Karena saat itu bersamaan dengan debaran jantung yang mengeras dan aliran darah yang cepat serta memanas, mendadak muncul satu suara di lubuk hatinya. Suara iblis yang membuat tubuhnya bergetar oleh rangsangan.
“Liok Ong Cun, kau tahu gadis ini sejak dulu tidak pernah mencintaimu. Kau tidak akan pernah dapat memilikinya apalagi menikahinya. Kau harus pergunakan siasat. Tiduri gadis itu. Ini saat yang paling baik bagimu untuk melakukan. Kalau hal itu kau laksanakan maka kau akan berhasil menundukkannya. Jangan tunggu ssampai dia sadar…”
Liok Ong Cun usap keringat yang membasahi tengkuknya. Dua tangan gemetar keras sewaktu diulurkan membuka baju merah dan menyibakkan pakaian dalam berupa kain putih penutup dada Loan Nio Nikouw. Untuk beberapa lama pemuda ini menatap terpesona melihat keelokan dada Loan Nio Nikouw yang putih kencang walau ada tanda merah kebiruan di celah antara dua payudara. Pemuda ini tarik nafas dalam, terduduk tak bergerak di lantai goa. Semakin dia memandang wajah dan dada Loan Nio Nikouw, semakin keras debar jantung, semakin kencang dan semakin cepat aliran darahnya. Maksud untuk menolong kini tenggelam oleh gejolak nafsu terkutuk.
Cuping hidung Liok Ong Cun mengembang, dada turun naik dan nafas memburu. Perlahan-lahan tangan kanannya yang sejak tadi berada di atas dada sang paderi mulai bergerak mengusap. Sentuhan pertama terasa nikmat luar biasa, membuat Liok Ong Cun serasa terbakar. Sekujur tubuhnya bergeletar oleh rangsangan hebat.
“Loan Nio, kalau saja kau mau jadi istriku, aku tak perlu melakukan hal ini…” Liok Ong Cun berucap.
“Liok Ong Cun, jangan bicara tolol! Dari dulu kau tahu gadis ini tak pernah menyukaimu. Kau selama ini hanya bermimpi mengharapkannya akan jadi istrimu! Jangan tunggu sampai dia sadar. Kesempatan hanya datang satu kali…” Lagi-lagi ada suara lain di lubuk hati pemuda she Liok ini. Dia rundukkan kepala mencium wajah sang paderi. Mulutnya berucap perlahan. “Loan Nio, sekarang kau tak akan pernah lepas lagi dari tanganku…” Wajah si pemuda turun ke leher, ciumannya lalu meluncur ke dada. Sementara dua tangannya merayap ke bagian tubuh terlarang. Sewaktu tangan kanan Liok Ong Cun meluncur ke bawah, ke arah pinggang celana si gadis, tiba-tiba di luar sana terdengar suara derap kaki kuda. Menyusul suara seseorang berteriak.
“Ada goa di sini! Kalian berdua coba periksa!”
Dua orang berpakaian prajurit Kadipaten melompat turun dari atas kuda, cepat masuk ke dalam goa sementara prajurit ketiga berjaga-jaga dan tetap berada di atas tunggangannya. Hanya sesaat kemudian terdengar dua jeritan keras disusul mencelatnya sosok dua prajurit yang barusan masuk ke dalam goa. Keduanya tergelimpang dengan kepala remuk tak bernyawa lagi. Kaget prajurit ketiga yang berada di depan goa dan masih duduk di punggung kuda bukan alang kepalang. Sambil mencabut golok dia melompat turun.
“Kurang ajar! Siapa berani membunuh prajurit Kadipaten?”
Belum sempat mencapai mulut goa tiba-tiba dari dalam goa melesat satu bayangan biru. Prajurit malang itu hanya melihat satu sambaran cahaya hijau. Dia coba menangkis dengan golok di tangan kanan.
“Traangg!”
Golok besar patah dua. Prajurit yang masih memegang kutungan senjata itu keluarkan suara menggorok lalu terjungkal roboh. Darah menyembur dari lehernya yang nyaris putus!
Liok Ong Cun berdiri dengan dada turun naik. Dibalik topeng wajahnya mengelam akibat nafsu yang tertahan serta kemarahan luar biasa. Tiga ekor kuda meringkik keras. Yang seekor langsung menghambur. Yang dua lagi berputar-putar lalu cepat ditangkap oleh Liok Ong Cun dan tali kekangnya diikatkan ke sebatang pohon. Setelah memperhatikan keadaan sekeliling dan merasa aman, tidak tunggu lebih lama dia masuk kembali ke dalam goa. Saat itu Loan Nio Nikouw masih belum sadar. Masih tergeletak terlentang di lantai goa sementara pakaian tersingkap mulai dari atas sampai ke bawah.
Nafsu Liok Ong Cun yang tadi tertahan kini menggelegak kembali. Malah setelah membunuh tiga prajurit Kadipaten dirinya jadi bertambah ganas. Kalau tadi rabaan dan sentuhannya masih dilakukan secara lembut kini berubah menjadi kasar karena nafsu telah membuat dirinya menjadi setan. Pemuda ini jatuhkan diri di samping Loan Nio Nikouw. Memeluk dan menciumi sang paderi. Tak lama kemudian di dalam goa itu terdengar jeritan Liok Ong Cun yang mirip seperti lenguh suara kerbau disembelih yaitu ketika dia sampai pada puncak kenikmatan nafsu bejatnya.
Liok Ong Cun tidak tahu berapa lama dia terbaring mandi keringat ketika tiba-tiba telinganya menangkap suara tarikan nafas diiringi gerakan tubuh Loan Nio Nikouw yang terbujur di sampingnya.
“Liok Ong Cun! Lekas bangun! Pergunakan siasat!” Suara iblis di hati Liok Ong Cun kembali bicara. Pemuda ini cepat bangun dan kenakan pakaian lalu rapikan baju serta celana panjang Loan Nio Nikouw. Saat itu sang paderi walau sudah mulai siuman namun sepasang matanya masih terpejam. Liok Ong Cun tepuk­tepuk pipi Loan Nio Nikouw. Begitu dua mata Nikouw ini mulai terbuka, dengan gerakan cepat pemuda ini melompat keluar goa.
Begitu sampai di luar goa Liok Ong Cun berteriak keras.
“Loan Nio! Kau ada di dalam goa?”
Tak ada jawaban.
“Loan Nio!”
Sepasang mata Loan Nio Nikouw perlahan-lahan terbuka.
“Siapa yang berteriak…. Seperti suara Liok Ong Cun…” Loan Nio Nikouw tiba-tiba pegangi perut. Ada rasa perih di sebelah bawah auratnya. Dia menatap ke atas. Berpaling ke samping. Terkejut ketika menyadari dirinya ada dalam sebuah goa. Lebih dari itu dia masih bisa mengenali, goa ini adalah goa dimana dulu dia pernah berada ketika dibawa oleh Pendekar 212 Wiro Sableng.
Bagaimana aku bisa berada di sini lagi? Apa yang terjadi…” Sang paderi bergerak bangun, coba duduk bersandar di dinding goa. Saat itulah dia melihat keadaan baju serta celananya yang tersingkap tak karuan. Langsung Loan Nio Nikouw menjerit keras. Sebelumnya dia pernah mengalami hal seperti itu. Tapi kini keadaannya jauh lebih parah.
Di luar goa Liok Ong Cun cabut pedang Ceng Coa Kiam atau Pedang Ular Hijau, berteriak menyebut nama Loan Nio lalu melompat masuk.
“Loan Nio! Kau ada di sini! Apa yang terjadi! Ah, jangan-jangan aku terlambat!”
Inilah sandiwara terkutuk yang tengah dilakukan Liok Ong Cun sesuai dengan bisikan iblis di dalam hatinya yang kotor keji. Si pemuda jatuhkan diri di samping sang paderi.
“Loan Nio, ketika aku sampai di sekitar goa, aku melihat pemuda berambut gondrong jahat itu berkelebat keluar lalu kabur ke arah timur. Aku urung mengejar karena mendengar jeritanmu. Ada tiga prajurit Kadipaten tewas di luar sana. Loan Nio aku khawatir sesuatu telah terjadi dengan dirimu. Sesuatu yang keji telah dilakukan oleh si gondrong keparat itu!” Sambil berkata Liok Ong Cun peluk Loan Nio Nikouw. Dalam keadaan terguncang berat seperti itu walau dia tidak suka pada Liok Ong Cun namun antara sadar dan tidak Loan Nio Nikouw biarkan saja dirinya dipeluk. Dia menangis dalam pelukan si pemuda. Tiba-tiba paderi itu berteriak keras. Tangan dan kakinya menerjang. Liok Ong Cun sampai terpental. Loan Nio Nikouw rapikan pakaiannya, ambil pedang dan suling perak lalu lari keluar goa.
“Loan Nio! Kau mau kemana?” Liok Ong Cun mengejar. Dia cepat cekal lengan kiri paderi itu. “Loan Nio, kau perlu waktu dan tempat untuk menenangkan diri. Aku tahu satu rumah kayu di tengah hutan tak jauh dari sini. Di sana kau pasti aman. Mari aku antar kau ke sana…”
“Ong Cun, Aku merasa… sesuatu terjadi dengan diriku. Aku…”
“Aku tahu Loan Nio. Itu sebabnya kau harus ikut aku ke tempat yang aman…”
Loan Nio kembali menangis. Memandang berkeliling dia melihat tiga orang berpakaian prajurit Kadipaten tergeletak tewas. Di sebelah sana ada dua ekor kuda tertambat di sebatang pohon. Dia hanya menurut sewaktu Liok Ong Cun menolong menaikkannya ke atas punggung salah seekor kuda. Lalu keduanya tinggalkan tempat itu.

***

DI DALAM rumah di tengah hutan belantara itu terdapat sebuah ranjang bambu beralas jerami kering.
“Loan Nio, berbaringlah. Izinkan aku memeriksa dirimu. Aku tak sengaja melihat tanda merah kebiruan di pertengahan dadamu. Kau terluka di dalam. Cukup parah. Aku akan berusaha mengobatimu…”
“Terima kasih. Dadaku memang terasa sakit sekali. Seperti remuk. Aku masih mengingat-ingat bagaimana asal kejadiannya. Tapi, bisakah kau meninggalkan aku barang beberapa lama. Aku bisa mengobati diriku sendiri. Selain itu aku ingin istirahat dan ketenangan…”
Liok Ong Cun unjukkan wajah hiba, belai kening dan rambut sang paderi. Dengan telapak tangan didekapnya dua pipi sang paderi. “Loan Nio, jika itu maumu, baiklah. Tak jauh dari sini ada sebuah telaga. Airnya dangkal tapi ikannya banyak. Sementara kau beristirahat aku akan menangkap ikan besar-besar untukmu. Kau perlu makan…”
Loan Nio Nikouw tersenyum. Senyum yang selama ini tak pernah dilihat Liok Ong Cun, apalagi senyum yang khusus ditujukan padanya.
“Istirahatlah. Tidur kalau bisa. Aku tidak akan lama,” kata Liok Ong Cun pula. Dia memberanikan diri mencium kening Loan Nio Nikouw. Hati pemuda ini berbunga-bunga. Ternyata sang paderi tidak menolak atau menghindari ciuman itu.
Ketika sang surya menaik tinggi, Liok Ong Cun kembali ke rumah kayu di tengah hutan belantara. Dia berjalan cepat sambil bersiul-siul membawa empat ekor ikan besar yang siap untuk dipanggang.
“Loan Nio! Aku kembali.”
Liok Ong Cun buka pintu rumah. Sesaat dia tertegun karena dapatkan Loan Nio Nikouw tidak ada di atas ranjang, tidak ada di dalam rumah.
“Loan Nio?”
Tak ada jawaban. Liok Ong Cun keluar, menyelidik seputar rumah kayu. “Loan Nio!” Suara teriakan pemuda itu menggelegar di seantero rimba belantara. Tak ada jawaban, sang paderi tetap tak kelihatan. Pemuda bertopeng muka tengkorak ini tidak mengetahui kalau saat itu ada dua pasang mata memperhatikannya di balik rumpunan semak belukar.
“Mungkin dia pergi ke telaga. Menempuh jalan lain. Berselisih jalan dengan aku. Aku kesini dia kesana.” Memikir begitu Liok Ong Cun cepat kembali ke telaga. Namun tetap saja Loan Nio Nikouw tidak ditemui. Telaga dan sekitarnya sunyi seperti pekuburan.
“Kemana perginya gadis itu? Melarikan diri atau ada yang menculik?” Liok Ong Cun berdiri di tepi telaga sambil berpikir-pikir.
“Tadi dia tersenyum padaku. Tidak menolak ketika kucium keningnya. Atau… mungkin dia sudah tahu jelas apa yang terjadi dengan dirinya? Mungkin juga dia tahu kalau aku yang melakukan?” Pemuda ini usap wajahnya yang tertutup topeng muka tengkorak.
“Kalau dia tahu aku yang melakukan perbuatan itu, pasti saat ini dia sudah mencari dan membunuhku!” Liok Ong Cun tarik nafas panjang lalu memutuskan kembali ke rumah di tengah hutan.
Ketika dia sampai di rumah kayu, Liok Ong Cun melihat dua orang berdiri di depan pintu. Seorang nenek berjubah biru, memiliki muka seram, rambut kelabu awut-awutan. Orang kedua seorang bocah berambut jabrik berusia sekitar dua belas tahun.
Mengenakan pakaian hitam bergambar naga kepala kuning di bagian dada. Anak ini tampak tengah melongok-longok ke dalam rumah. Si bocah jelas bukan lain adalah Naga Kuning sementara si nenek sudah pasti sang kekasih yang dikenal dengan julukan Gondoruwo Patah Hati. Seperti diketahui Naga Kuning sebenarnya adalah seorang kakek sakti berusia lebih dari seratus tahun dan dikenal dengan julukan Kiai Paus Samudera Biru. Si nenek yang berpenampilan seram asli bernama Ning Intan Lestari, walau sudah lanjut usia namun bisa memperlihatkan ujud aslinya di masa muda, yaitu berupa seorang perempuan cantik jelita.
“Kalian siapa?” Liok Ong Cun langsung membentak, marah dan juga penuh curiga. Tentu saja dalam bahasa Cina.
Naga Kuning bersurut kaget. Sementara si nenek tegak tenang-tenang saja.
“Orang bermuka tengkorak tadi Nek. Wah, dia marah besar! Lihat, matanya mendelik. Tadi dia ngomong bahasa apa?” Naga Kuning keluarkan ucapan.
“Dia orang Cina. Ingat kabar ditemukannya mayat beberapa orang Cina di pantai Losari beberapa waktu lalu? Jangan-jangan orang ini salah satu di antara para pendatang asing itu,” Gondoruwo Patah Hati menjawab.
“Gadis yang tadi kabur dari dalam rumah juga orang Cina,” ucap si bocah. “Kita tidak mengerti bahasa orang ini. Jauh-jauh mengikuti ternyata Cuma bikin urusan. Sudah, kita pergi saja.”
Si nenek ikut saja ucapan si bocah. Tapi ketika keduanya hendak melangkah pergi Liok Ong Cun segera menghadang. Dengan suara lebih merendah pemuda ini bertanya.
“Kalian siapa? Mengapa bisa berada di sini?”
“Kami tidak mengerti bahasamu!” berkata Gondoruwo Patah Hati sambil goyang-goyangkan tangan kanan.
Liok Ong Cun geleng-geleng kepala. Dia sadar kalau orang tidak tahu bahasa yang diucapkannya. Maka sambil membuat gerakan tangan dia memperagakan pertanyaan. ”Kalian apa melihat seorang perempuan berpakaian merah? Tadi dia ada di dalam rumah kayu ini…”
Melihat gerakan tangan orang Naga Kuning berkata, “Nek, aku bisa menduga. Dia bertanya perempuan yang ada di dalam rumah. Yang tadi kita lihat lari keluar dalam keadaan pakaian tak karuan rupa.”
“Aku rasa begitu,” sahut si nenek. Lalu nenek ini memandang pada Liok Ong Cun dan menunjuk­nunjuk ke arah kanan. Di situ ada jalan setapak di antara kelebatan semak belukar.
“Perempuan dalam rumah lari ke sana?” Liok Ong Cun bertanya sambil ikut menunjuk.
Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati sama-sama anggukkan kepala.
Liok Ong Cun membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Dia siap memutar langkah untuk mengejar Loan Nio Nikouw ke arah jalan setapak namun tiba-tiba tampangnya di bawah topeng tengkorak berubah. Sepasang mata membeliak ketika secara tak sengaja dia melihat sebuah benda putih yang bukan lain adalah suling perak milik Loan Nio Nikouw, terselip di pinggang pakaian hitam Naga Kuning.
“Ternyata kalian berdua bukan orang baik-baik. Kalian telah berbuat jahat mencuri suling perak milik Loan Nio Nikouw! Mungkin kalian punya teman-teman yang telah menculik Nikouw itu dan coba menipuku!”
Liok Ong Cun cabut pedang Ceng Coa Kiam. Mata mendelik dan senjata ditudingkan ke arah suling di pinggang si bocah. Melihat hal ini anak berambut jabrik berkata.
“Waduh Nek! Si muka tengkorak marah sekali! Dia pasti mengira aku mencuri suling perak ini! Lihat, dia hendak menyerangku!”
“Gunung,” Gondoruwo Patah Hati memanggil si bocah dengan nama aslinya. “Jika dia meminta secara baik-baik kau boleh serahkan suling itu. Tapi jika dia memaksa secara kurang ajar jangan berikan! Lagi pula suling itu bukan miliknya. Tapi milik perempuan cantik yang jatuh ke tanah waktu lari dari dalam rumah!”
“Wutt!”
Cahaya hijau berkiblat ketika pedang Ceng Coa Kiam berkelebat membabat ke arah pinggang Naga Kuning. Si bocah berambut jabrik ini cepat melompat mundur. Ketika Liok Ong Cun memburu dia cepat melesat ke atas. Di udara membuat gerakan jungkir balik. Begitu melayang turun tertawa haha-hihi tangan kanannya menderu kirimkan serangan ke kepala lawan dalam jurus Naga Murka Menjebol Bumi.
Liok Ong Cun berseru kaget. Bukan saja tidak menyangka lawan sanggup loloskan diri dari serangan kilatnya tadi, tapi malah mampu membalas serangan dengan satu pukulan cepat. Tidak percaya kalau anak sekecil itu bisa mempermainkannya, Liok Ong Cun babatkan lengan kanan ke atas menangkis pukulan.
“Bukk!”
Dua lengan saling beradu. Naga Kuning mengeluh pendek, lentingkan tubuh ke atas dan melompat turun ke tanah. Liok Ong Cun sendiri tampak meringis kesakitan. Kalau tidak cepat dia imbangi diri pasti akan jatuh terduduk di tanah. Ketika memperhatikan lengan kirinya ternyata lengan itu telah bengkak merah!
“Bocah setan!” Liok Ong Cun memaki marah. “Sampai dimana kehebatanmu!” Pemuda muka tengkorak ini lalu menyerbu Naga Kuning dengan jurus Thian Yau Te Soan atau Langit Goyang Bumi Berputar. Pedang Ular Hijau menyentak garang laksana ular sungguhan. Udara dan tanah seperti dibuncah lindu. Naga Kuning merasa kepalanya jadi pening dan dua kaki bergetar goyah.
“Manusia sialan!” maki Naga Kuning. Dia cepat kerahkan tenaga dalam ke kaki dan hawa sakti ke kepala. Bersamaan dengan itu tangan kanannya ditarik ke belakang siap melepas satu pukulan tangan kosong mengandung kekuatan tenaga dalam yang bisa menumbang pohon menghancurkan batu besar. Liok Ong Cun sebaliknya membentak keras dan kembali lancarkan serangan pedang.
Walau maklum kekasihnya itu tidak akan mudah dijadikan sasaran pedang sakti di tangan lawan namun Gondoruwo Patah Hati melompat maju seraya berkata.
“Gunung, biar aku yang melayani bangsat muka tengkorak ini! Aku ingin mencoba ilmu baruku!”
“Ah kamu Nek. Terserahlah! Tanganmu sudah gatal rupanya. Padahal kalau gatal bagusnya dipakai mengusap-usap tubuhku saja! Hik…hik!” kata si bocah berambut jabrik bercanda jahil lalu melompat mundur.
Gondoruwo Patah Hati hadapi lawan bersenjata mustika dengan tangan kosong. Dua tangan dipentang ke atas.
“Krek…krek…” Sepuluh jari tangan keluarkan suara berkeretak lalu dari ujung-ujung jari mencuat kuku panjang memancarkan cahaya hitam menggidikkan.
Walau Liok Ong Cun kerenyitkan kening melihat sepuluh jari tangan si nenek namun pemuda ini sama sekali tidak merasa jerih.
“Nenek muka setan! Kau boleh punya segala macam ilmu iblis! Kau baru tahu rasa kalau sudah kutabas dua lenganmu!” Liok Ong Cun membentak keras.
Pedang Ceng Coa Kiam menderu keras mengincar ke arah pinggang. Namun setengah jalan membalik dan membabta ke arah tenggorokan, Gondoruwo Patah Hati gerakkan dua tangan. Sepuluh larik sinar hitam melesat seolah berubah menjadi potongan-potongan besi.
“Traang…traang!”
Bunga api memercik di udara. Liok Ong Cun berseru kaget. Ceng coa Kiam hampir terlepas dari genggaman. Melihat kejadian ini si pemuda jadi ciut nyalinya. Masih untung mata pedangnya tidak gompal. Selain itu dia juga ingat pada Loan Nio Nikouw yang harus dikejarnya.
“Dua mahluk setan! Jangan mengira aku pergi karena takut! Lain hari jika bertemu lagi aku akan menabas buntung batang leher kalian!”
“Hai! Kau inginkan suling?” Naga Kuning berseru sambil angkat suling perak tinggi-tinggi.
Liok Ong Cun tidak perduli. Dia terus lari memasuki jalan setapak diantara kelebatan semak belukar. Gondoruwo Patah Hati jentikkan lima jari tangan kanannya.
“Wusss!”
Lima larik sinar merah panas menyambar ke arah Liok Ong Cun.
Tapi si nenek memang tidak ada niat untuk mencelakai pemuda itu. Serangannya hanya merambas dan menghanguskan semak belukar di samping kanan Liok Ong Cun. Itupun sudah membuat pemuda ini seperti mau pancarkan air kencing saking kaget dan kabur lintang pukang sambil memaki panjang pendek.
“Hebat Nek,” Naga Kuning memuji. “Ilmu Kuku Api-mu nyaris sempurna.”
“Apakah kau masih minta diusap?” tanya Gondoruwo Patah Hati sambil pentang sepuluh jari tangannya yang berkuku panjang hitam.
“Tergantung, bagian mana yang mau kau usap!” jawab Naga Kuning.
“Bocah gatal!” damprat si nenek.
Naga Kuning tertawa cekikikan. Lalu bertanya, “Nek, kau bisa menduga apa sebenarnya yang terjadi antara dua orang asing tadi?”
“Menurutku mereka adalah sepasang kekasih yang baru saja mengerjakan hal terlarang.
Kelihatannya mereka melakukan waktu masih di goa.” Jawab Gondoruwo Patah Hati. “Menurutmu bagaimana?” Si nenek balik bertanya.
Naga Kuning usap-usap suling perak di tangan kirinya. Dia menyeringai lalu menjawab. “Yang aneh bagiku adalah sewaktu kita tak sengaja memergoki mereka di goa yang ada mayat tiga prajurit Kadipaten. Lelaki muka tengkorak keluar dari goa, berteriak-teriak lalu masuk lagi ke dalam goa. Dia tidak gila. Aku punya dugaan dia tengah melakukan satu sandiwara keji. Kita menguntit mereka naik kuda sampai di rumah kayu ini. Ketika si muka tengkorak pergi, yang perempuan kabur melarikan diri. Nek, apapun yang mereka lakukan aku mengira perbuatan itu tidak dilakukan atas dasar suka sama suka. Kau menyaksikan sendiri ketika keluar goa pakaian perempuan muda itu tak karuan rupa, malah ada bagian yang robek. Yang perempuan mungkin baru sadar dan menyesal telah berbuat keliru sewaktu berada di rumah kayu. Itu sebabnya dia melarikan diri. Nek, bagaimana kalau sekarang kita masuk ke dalam rumah kayu. Memeriksa…”
Si nenek besarkan mata, senyum-senyum lalu gelengkan kepala.
“Heh, mengapa kau tidak mau? Katanya mau mengusap aku.”
“Yang aku khawatir sampai di dalam rumah bukan aku yang mengusapmu tapi kau yang mengusap diriku. Hik…hik…hik. Kalau di dalam sana kau punya pikiran ngawur dan aku tak kuasa menampik, hik…hik…hik.” Si nenek tertawa gelak-gelak.
“Usilnya mulutmu!” kata Naga Kuning sambil menepuk pantat si nenek. Gondoruwo Patah Hati terpekik lalu mengejar. Naga Kuning melesat ke atas punggung salah satu dari dua ekor kuda yang sebelumnya dipergunakan oleh Liok Ong Cun dan Loan Nio Nikouw lalu menggebrak kabur sambil tertawa panjang. Si nenek tidak tinggal diam. Dia segera melompat ke punggung kuda satunya dan memacu binatang itu ke arah perginya si bocah berambut jabrik.
“Gunung! Awas kau! Aku tidak akan mengusap tubuhmu! Tapi meremas!” teriak si nenek.
Di depan sana terdengar jawaban Naga Kuning. “Wow Nek! Remasanmu pasti mantap asyik! Aku suka! Hik…hik…hik!”

***

4


PUNCAK TIMUR Gunung Gede. Sang surya belum lama menampakkan diri di ufuk timur. Hujan rintik-rintik yang mulai turun tidak mengusik Kiai Gede Tapa Pamungkas. Saat itu kakek sakti tokoh sepuh rimba persilatan yang dianggap setengah dewa ini duduk bersila di tepi telaga tiga warna. Saputan angin membuat rambut dan janggut putihnya yang panjang melambai-lambai.
Sejak dua minggu lalu sang Kiai merasa kurang tenteram di tempat kediamannya di gedung batu pualam yang terletak di dasar telaga. Sekejappun dia tidak bisa memicingkan mata, apalagi terlelap tidur. Ada hawa aneh menjalari sekujur tubuhnya. Di bagian kepala, ubun-ubun dan dua pelipis sering berdenyut. Tenggorokan, mulut dan bibir terasa kering. Di sebelah bawah sepasang kakinya kesemutan seolah hilang rasa. Selain itu sesekali tubuhnya terasa panas dingin seperti diserang demam. Yang lebih aneh, terkadang dia merasakan ada tekanan keras di pertengahan dada. Puncaknya terjadi malam tadi selagi dia duduk berzikir. Tiba-tiba bangunan batu pualam kediamannya bergetar keras. Baru sekali ini hal seperti itu terjadi. Apakah telaga diguncang gempa? Apakah bumi ini mau kiamat?
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba telinganya menangkap suara berkerontangan tiada henti. Sang Kiai keluar dari dalam kamar tidurnya, terhuyung-huyung melangkah masuk ke sebuah ruangan di sebelah kamar tidurnya. Di pintu ruangan langkah sang Kiai terhenti. Ada hawa luar biasa dingin membersit keluar dari dalam ruangan yang agak redup itu. Suara berkerontangan terdengar semakin keras.
“Pedang Naga Suci Dua Satu Dua…” ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan bibir bergetar. Setengah menggigil orang tua ini melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah meja batu pualam warna biru. Di atas meja ini terletak satu peti kaca berukuran panjang tiga perempat tombak. Di dalam peti kaca kelihatan sebilah pedang mengeluarkan cahaya putih dan memancarkan hawa dingin. Pada badan pedang tertera guratan tiga buah angka. Angka 212. Gagang pedang terbuat dari gading kuning berbentuk kepala seekor naga betina. Di dalam peti kaca senjata itu tampak bergerak-gerak tiada henti mengeluarkan suara berkerontangan disertai kepulan asap tipis.
Menyaksikan kejadian itu mulut Kiai Gede Tapa Pamungkas langsung berkomat-kamit. Dua tangan diulurkan menyentuh peti kaca. Terasa hawa dingin luar biasa seolah dia memegang batangan es. “Pedang sakti…” sang Kiai berucap perlahan. “Apapun yang terjadi tenangkan dirimu.
Berlindunglah dibawah Kuasa dan Kasih Tuhan Seru Sekalian Alam.” “Settt!” Tiba-tiba pedang putih di dalam peti kaca berhenti bergerak. Lalu seperti seekor ular bergulung
hingga menyerupai bentuk ikat pinggang. Namun pada saat yang sama sang Kiai mengalami satu kejadian hebat. Satu kekuatan tak kelihatan menghantam dadanya. Tubuh sang Kiai bergoncang hebat. Walau tidak sampai terpental atau rebah namun dada mendenyut sakit dan nafas menyesak. Ketika selempang kain putih di bagian dada disibakkan, Kiai Gede Tapa Pamungkas terkejut. Di pertengahan dadanya tampak tanda merah kebiruan seolah dia baru saja dihantam satu jotosan atau tendangan keras. Kiai Gede Tapa Pamungkas bersandar ke dinding ruangan, atur jalan darah dan tenaga dalam serta alirkan hawa sakti ke bagian dada yang cidera. Ketika kakek ini mengusap bibirnya yang kering jari-jarinya menyentuh cairan hangat. Begitu diperhatikan ternyata cairan itu adalah darah yang keluar dari dalam mulutnya. Hantaman kekuatan gaib tadi telah membuat Kiai sakti ini terluka di dalam! Orang lain mungkin akan roboh pingsan, bahkan menemui ajal!
Sang Kiai duduk di lantai. Mata dipejamkan, hati dan pikiran disatukan. Dalam hati dia berkata. “Ya Tuhan, Engkau Yang Maha Kuasa Maha Mengetahui. Petunjuk apakah yang tengah Kau berikan padaku? Adakah aku telah berniat salah, atau mungkinkah aku telah bertindak keliru. Jika aku salah melangkah berbuat dosa mohon ampunan-Mu Ya Allah. Namun tolong tunjukkan padaku apa arti semua ini.”
Satu malam suntuk Kiai Gede Tapa Pamungkas berdoa dan menunggu. Namun petunjuk Yang Kuasa tak kunjung datang. Dalam keadaan tubuh tak karuan rasa, letih dan panas dingin, keesokan paginya orang tua ini memutuskan keluar dari gedung batu pualam, naik ke permukaan telaga dan duduk di salah satu pinggirannya. Mulai bersamadi mengheningkan cipta dan rasa.
Sampai saat itu hujan terus turun dan makin lebat. Sesekali kilat menyambar disusul gelegar suara guntur. Tubuh dan pakaian sang Kiai yang tak basah dan tak tersentuh air hujan itu diam tak bergerak. Menjelang tengah hari mata yang sejak tadi terpejam tiba-tiba berkedut. Perlahan-lahan sepasang mata dibuka. Kiai Gede Tapa Pamungkas melihat banyak cahaya biru muncul di arah timur. Tak selang berapa lama melayang turun lima sosok gadis berwajah cantik. Luar biasanya mereka mampu berdiri di atas permukaan air telaga seolah berdiri di atas tanah biasa. Kawasan telaga serta merta menjadi terang benderang oleh cahaya biru.
Gadis yang berdiri p paling depan berpakaian ketat dilapisi manik-manik putih dan merah. Bagian dada pakaian begitu rendah dan di sebelah samping ada belahan hampir mencapai pinggul. Rambut hitam tebal digulung di atas kepala. Di sebelah depan ada sebuah mahkota kecil terbuat dari kerang merah. Gadis luar biasa cantik ini memiliki sepasang mata berwarna biru, menghias diri dengan kalung, anting serta gelang terbuat dari kerang hijau.
Di kiri kanan gadis bermata biru berdiri masing-masing dua orang gadis yang tak kalah cantik, mengenakan pakaian ketat hitam dengan belahan rendah pada dada dan belahan tinggi di sebelah samping. Keempat gadis ini mengangkat tangan kanan mengembang lima jari. Dari ujung-ujung jari memancar cahaya biru. Cahaya inilah yang membuat keadaan di sekitar telaga menjadi terang benderang.
“Kiai Gede Tapa Pamungkas, mohon maafmu kalau kehadiran saya dan para pengiring mengganggu ketenteraman Kiai.” Si cantik bermata biru menyapa. Belum pernah sang Kiai mendengar suara perempuan sebening dan selembut suara si mata biru ini.
“Tamu terhormat dari manakah yang datang menyambangi diriku di tempat terpencil dan pada waktu cuaca buruk begini rupa?” Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya. Matanya agak risih melihat dandanan lima gadis cantik. Maka diapun berkata. “Jika kalian memiliki pakaian lain harap mau mengganti. Cuaca kurang baik akhir-akhir ini, udara dingin, hujan dan angin bertiup kencang. Aku khawatir kalian nanti sakit.”
Gadis bermata biru tersenyum. Dia berpaling pada empat pengiringnya. Liama gadis ini kemudian usapkan tangan kiri masing-masing dari atas ke bawah. Saat itu juga pakaian yang mereka kenakan berubah menjadi jubah berlengan panjang. Menutup sempurna aurat mereka, bahkan kakipun kini tidak kelihatan.
Kiai Gede Tapa Pamungkas lepaskan nafas lega. “Terima kasih. Sekarang kalian boleh menerangkan siapa kalian dan ada maksud baik apa datang kesini.”
“Saya dan kawan-kawan diutus oleh penguasa dan pelindung laut selatan.”
“Ah, jadi kalian ini adalah orang-orangnya Nyi Roro Kidul?”
“Betul Kiai…”
Mendengar itu sang Kiai segera hendak bergerak bangkit untuk memberi penghormatan tapi cepat dicegah oleh si mata biru.
“Kiai, tak usah memakai peradatan segala. Kami tahu Kiai kurang sehat…”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.
“Aku rasa-rasa pernah mengenalmu. Sering mendengar keberadaanmu dalam rimba persilatan. Waktu penyerbuan ke Seratus Tiga Belas Lorong Kematian, bukankah kau ada di sana? Tapi untuk tidak salah menduga mohon diberi tahu dengan siapa aku berhadapan saat ini.”
Si mata biru sebenarnya segan memberi tahu siapa dirinya. Namun khawatir dianggap kurang menghormati akhirnya dia menerangkan. “Kiai, saya ini Ratu Duyung…”
Kiai Gede Tapa Pamungkas ternganga tercengang namun sesaat kemudian dia tertawa lebar. Kepala digeleng-geleng lalu diangguk-anggukkan. Dalam hati orang tua ini berkata. “Jadi inilah gadis paling cocok menjadi pasangan hidup cucu muridku Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng…”
Si mata biru tatap wajah Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Ah, apakah dia mendengar suara hatiku tadi?” Membatin sang Kiai. Lalu dia berucap. “Ratu Duyung, ceritakan maksud kedatanganmu dan para pengiring.”
“Kiai, kami tidak lama. Nyi Roro Kidul minta kami memberi tahu bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi dalam rimba persilatan tanah Jawa jika tidak segera dilakukan pencegahan.”
“Mohon aku dijelaskan hal apakah itu?”
Di utara kilat menyambar disusul gelegar guntur yang membuat air telaga bergoyang-goyang dan tanah di tepian telaga bergetar.
“Saat ini di tanah Jawa telah kedatangan seorang gadis cantik dari negeri Tiongkok. Menurut kabar dia adalah seorang paderi. Dia datang membekal sebilah pedang mustika bernama Ang Liong Kiam atau Pedang Naga merah. Menurut penglihatan Nyi Roro Kidul konon pedang sakti itu adalah hasil perkawinan maya antara Kapak Naga Geni Dua Satu Dua dan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua. Bila Pedang Naga Merah dipergunakan untuk menyerang pemilik Kapak Naga Geni Dua Satu Dua atau Pedang Naga Suci Dua Satu Dua, keduanya akan mendapat celaka yang bisa merenggut jiwa. Begitu juga jika antara Kapak Naga Geni dan Pedang Naga Suci sampai bersilang sengketa. Selain itu kehadiran Pedang Naga Merah akan menimbulkan banyak bencana terutama bagi yang memilikinya, kecuali senjata itu disucikan lebih dulu oleh Kiai selaku sepuhnya…”
Kejut Kiai Gede Tapa Pamungkas bukan alang kepalang. Namun kakek sakti ini masih bisa menguasai diri walau wajahnya jelas tampak berubah. Dia lantas ingat akan apa yang terjadi dengan Pedang Naga Suci 212 di dalam peti kaca.
“Tuhan Maha Besar. Tuhan berbuat sekehendak-Nya……” Kiai Gede Tapa Pamungkas berucap perlahan lalu menarik nafas panjang berulang kali.
“Ratu Duyung, aku mengucapkan terima kasih atas jerih payahmu datang ke sini untuk menyampaikan pesan. Sampaikan salam hormat dan terima kasihku pada Nyi Roro Kidul. Pesannya akan sangat aku perhatikan.”
“Salam Kiai akan kami sampaikan. Sekarang saya dan para pengiring mohon diri.”
“Ratu Duyung, apakah kau punya kabar tentang cucu muridku Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng?” Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya.
Ditanya mengenai sang pendekar Ratu Duyung tampak agak sedikit rikuh.
“Sejak peristiwa penyerbuan ke Seratus Tiga Belas Lorong Kematian tempo hari, saya tidak pernah bertemu dengan dia, Kiai.”
Kiai Gede Tapa Pamungkas mengangguk. “Aku mendengar kabar bahwa orang berjuluk Pangeran Matahari telah menemui ajal beberapa waktu lalu. Benarkah? Siapa yang membunuhnya? Bagaimana kejadiannya?”
“Saya juga hanya mendengar kabar Kiai. Tidak menyaksikan sendiri. Pangeran Matahari tewas di puncak Gunung Merapi dihakimi para tokoh rimba persilatan. Saya dengar dia menemui ajal secara mengerikan sekali. Saya rasa hal itu sangat pantas menjadi bagiannya. Ah, cukup lama saya sudah mengganggu Kiai. Saya dan para pengiring mohon diri.”
Kiai Gede Tapa Pamungkas bangun dari duduk bersilanya.
“Ratu Duyung, jika kau berkesempatan bertemu dengan Wiro, datanglah berdua ke sini…”
“Ada apakah Kiai?” tanya Ratu Duyung dengan dada berdebar.
Sang Kiai tersenyum. “Aku hanya ingin ngobrol,” jawab orang tua itu.
Ratu Duyung tak menjawab, hanya menganggukkan kepala beberapa kali, lalu melangkah mundur sambil rundukkan kepala memberi penghormatan.
Tak lama setelah Ratu Duyung pergi, Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap ke langit. Saat itu hujan telah reda. Sambil pejamkan mata orang tua ini menghitung hari. “Hari ini Rabu Pon menurut hitungan Jawa. Lusa hari Kamis Wage, berarti malam Jum’at Kliwon, waktu yang tepat bagiku menemui kedua mahluk itu. Perkawinan maya…” Kiai Gede Tapa Pamungkas tarik nafas dalam dan geleng-gelengkan kepala.
“Jika semua berlangsung sesuai kewajaran seharusnya yang muncul dan terlahir adalah sebilah keris sakti mandraguna. Bukan sebilah pedang. Lalu bagaimana pedang itu bisa berada di tangan seorang paderi asing dari negeri Cina?” Kiai Gede Tapa Pamungkas memandang berkeliling lalu menatap ke langit. Hujan telah berhenti. Langit tampak biru cerah. Perlahan-lahan orang tua ini langkahkan kaki memasuki telaga, melangkah di permukaan air. Tepat di pertengahan telaga tubuhnya meluncur ke bawah dan lenyap dari pemandangan.

***

5

MALAM Jum’at Kliwon. Kepulan asap berbau belerang tercium santar dan terasa hangat keluar dari dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu. Saat itu menjelang tengah malam. Udara dingin luar biasa. Sepotong batang kecil pohon cemara menancap di tanah kawah yang miring. Di ujungnya menyala api yang menjadi penerangan di tempat itu. Di sebelah kanan batang cemara yang menyala ada satu pendupaan menebar harumnya bau kemenyan, menyekat bau belerang.
Di atas sebuah batu berwarna kekuningan berdiri sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas. Tegak dengan dua tangan dirangkapkan di atas dada. Sesekali tangan kanannya diulurkan menjatuhkan potongan-potongan kemenyan ke dalam pendupaan. Janggut dan pakaiannya melambai-lambai ditiup angin. Sepasang mata menatap ke arah barat, di mana pada arah yang tidak kelihatan menjulang Gunung Burangrang. Pada saat­saat tertentu dia alihkan pandangan ke arah timur, di jurus beradanya Gunung Bukit Tunggul.
Malam bergulir perlahan tetapi pasti. Kiai Gede Tapa Pamungkas perhatikan gugusan bintang di langit. Dia tahu saat itu sudah melewati tengah malam. Orang tua sakti yang selalu tenang dalam menghadapi segala kejadian kali ini memperlihatkan ada bayangan rasa cemas di wajahnya yang klimis, terlebih ketika angin bertiup kencang dan hujan rintik mulai turun. Sang Kiai perhatikan nyala api di ujung potongan kayu cemara. Kalau api itu sampai padam, maka itu adalah satu pertanda bahwa usaha yang dilakukannya saat itu akan menemui kegagalan. Dia harus menunggu dua puluh satu hari. Sementara itu dikhawatirkan bencana besar dalam rimba persilatan akan menjadi kenyataan sebagaimana yang disampaikan oleh Ratu Duyung selaku utusan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan.
“Tuhan, hanya kepada Engkau aku berharap. Hanya kepada Engkau aku minta tolong,” Kiai Gede Tapa Pamungkas mengucap dalam hati.
Tiba-tiba di sebelah timur, di arah puncak Gunung Bukit Tunggul kelihatan cahaya putih berkilau tiada henti. Hujan rintik-rintik serta merta sirna dan tiupan angin yang tadi begitu kencang lenyap. Kiai Gede Tapa Pamungkas tampungkan dua tangan ke atas sambil hati mengucapkan perasaan bersyukur.
Hanya sesaat kemudian setelah terjadinya kilatan cahaya putih di sebelah timur, di arah barat dari jurusan Gunung Burangrang berkiblat pula cahaya putih agak kebiruan.
“Naga Geni, Naga Suci aku melihat cahaya kalian. Aku sudah menunggu cukup lama. Harap kalian segera datang di hadapanku. Aku ingin menuntaskan semua persoalan malam ini juga.”
Baru saja Kiai Gede Tapa Pamungkas mengeluarkan ucapan tiba-tiba dua cahaya di arah barat dan timur melesat laksana kilat ke jurusan kawah Gunung Tangkuban Perahu. Dua cahaya itu kemudian muncul di hadapan Kiai Gede Tapa Pamungkas dalam bentuk samar dua ekor ular besar.
“Perlihatkan ujud nyata kalian!” Ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.
“Dess!”
Sosok samar di sebelah kanan meletup buyar lalu menyatu kembali dan membentuk ujud seekor naga jantan berwarna putih, yang tadi disebut sebagai Naga Geni. Di atas keningnya menempel sebuah batu permata besar berwarna merah. Binatang ini kedipkan matanya yang berwarna merah tiga kali, gelungkan tubuh bagian bawah sementara tubuh bagian atas tegak agak merunduk menatap ke arah Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Dess!”
Hal yang sama terjadi dengan sosok samar di sebelah kiri. Setelah meletup dan buyar lalu membentuk ujud seekor naga betina, memiliki permata besar berwarna hijau di atas kening. Sepasang matanya yang hijau dikedipkan tiga kali lalu gelungkan ekor, sementara tubuh sebelah atas tegak dengan kepala agak merunduk. Inilah naga betina yang dipanggil dengan nama Naga Suci.
Setelah tatap dua mahluk dahsyat yang dalam keadaan tegak bergelung begitu rupa tingginya hampir satu tombak di atas kepala Kiai Gede Tapa Pamungkas, si orang tua berkata.
“Naga Geni, Naga Suci, terima kasih kalian telah bersedia datang memenuhi panggilanku. Sebelum kita bicara harap kalian tunjukkan ujud asli kalian.”
Dari masing-masing kepala sepasang naga keluar kepulan asap tipis yang menebar bau harum mengalahkan santarnya bau kemenyan pendupaan. Lalu ada tabir merah dan putih kebiruan membungkus Naga Geni dan Naga Suci. Sewaktu tabir itu perlahan sirna, ujud dua ekor naga berubah menjadi ujud seorang pemuda tampan dan seorang gadis berwajah cantik jelita. Si pemuda mengenakan destar merah, rambut menjulai panjang sebahu, bertelanjang dada berbulu, memakai celana panjang hitam berkilat serta sabuk besar terbuat dari kain merah berkilat melingkar di pinggang. Di keningnya menempel sebuah batu permata sebesar ujung jari kelingking berwarna merah berkilau. Sang gadis jelita mengenakan pakaian seperti kemben. Di kening menempel sebuah permata juga berwarna biru. Sepasang muda-mudi ini menyalami sang Kiai dan mencium tangan orang tua itu.
“Puluhan tahun telah berlalu. Kalian ternyata masih tetap segagah dan secantik pertama kali aku melihat kalian. Ini satu berkah yang harus kalian syukuri pada Tuhan Yang Maha Kuasa.”
Mendengar ucapan, sang pemuda Naga Geni dan si gadis Naga Suci rundukkan tubuh namun tak mengeluarkan ucapan apa-apa. Setelah menatap sepasang muda-mudi itu sejurus, Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.
“Naga Geni, Naga Suci, ada satu kenyataan terjadi di rimba persilatan. Seorang paderi dari negeri jauh datang ke tanah Jawa membekal sebilah pedang bernama Ang Liong Kiam atau Pedang Naga Merah. Nyi Roro Kidul penguasa samudera selatan, melalui seorang utusannya memberi tahu bahwa pedang itu adalah hasil hubungan perkawinan diri kalian berdua. Aku tidak akan melanjutkan ucapanku sebelum aku mendengar terlebih dahulu apa pendapat kalian berdua.”
Naga Geni memandang pada Naga Suci lalu berpaling pada Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Kiai, apa yang Kiai dengar, apa yang disampaikan utusan Nyi Roro Kidul memang benar adanya. Kami telah menempuh jalan keliru dalam penantian perkawinan sakral. Alam penantian yang telah berlangsung puluhan tahun itu kami akhirnya tersesat dalam alam cinta kasih yang keliru. Kami berbuat diluar kepatutan, kami melakukan dosa hingga akhirnya Naga Suci melahirkan seorang anak dalam bentuk sebilah pedang. Untuk semua yang telah kami lakukan itu kami mohon maaf kepadamu dan mohon ampun pada Tuhan. Kami bersedia untuk menerima hukuman.”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tatap wajah Naga Geni sesaat lalu berpaling pada Naga Suci.
“Naga Suci, apakah pengakuan Naga Geni itu menjadi pengakuanmu juga?”
“Benar Kiai. Saya mengaku salah. Saya rela menerima hukuman. Cuma ada satu permintaan saya. Maksud saya permintaan kami berdua.”
“Apa permintaan kalian?”
“Hukuman apapun yang akan dijatuhkan jangan sampai kami dipisahkan. Kalaupun kami akan dihukum mati jasad kami berdua dalam satu liang kubur. Saat ini kami sudah sangat menderita, sengsara. Karena sejak Pedang Naga Merah lahir, kami hidup terpisah, Naga Geni di Gunung Bukit Tunggul. Saya di Gunung Burangrang. Selain itu kami tak pernah bertemu dengan putera kami walau ujudnya hanya sebilah pedang.” Ucapan Naga Suci tersendat-sendat dan sepasang matanya berkaca-kaca.
Kiai Gede Tapa Pamungkas terdiam, untuk beberapa lama tak bisa berkata apa-apa karena haru. Setelah menarik nafas panjang dia baru bersuara.
“Aku memanggil kalian bukan untuk menghukum. Tapi mencari jalan bagaimana menyelamatkan dunia persilatan dari bencana yang tak pernah terduga.” Sang Kiai lalu sibakkan kain putih pakaiannya di bagian dada. “Tanda merah ini adalah hantaman dahsyat kekuatan gaib yang keluar dari Pedang Naga merah, Pedang Naga Suci atau Kapak Naga Geni. Pedang yang terlahir dari hasil hubungan kalian akan menimbulkan bencana bagi siapa saja yang memilikinya serta orang-orang sekitarnya. Aku mengharap kalian berdua berusaha mencari pedang itu, mengambilnya dan menyimpannya di satu tempat yang aman. Kalian harus melakukan itu karena pedang itu adalah anak kalian berdua.”
“Kiai, kami memang rindu pada anak kami. Namun hal itu tidak mungkin kami lakukan. Karena usia pedang belum mencapai seratus tahun.”
Kiai Gede Tapa Pamungkas berpaling pada Naga Geni yang barusan bicara. “Maksudmu?”
“Kiai, seratus tahun dalam ukuran usia pedang sama dengan dua puluh tahun ukuran alam di sini. Jika ukuran tahun itu belum tercapai kami akan hangus dan menemui ajal pada saat bersentuhan dengan pedang. Kami tidak takut akan kematian karena menanggung akibat perbuatan kami. Namun itu tidak menolong karena sekalipun kami menemui ajal, Pedang Naga Merah akan tetap ada….”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tercengang dan geleng-gelengkan kepala. “Rimba persilatan harus diselamatkan. Banyak korban yang bakal jatuh. Apa yang harus aku lakukan?”
“Kiai, satu-satunya jalan untuk mengamankan pedang itu adalah dengan jalan menyatukannya dengan Kapak Naga Geni serta Pedang Naga Suci selama tujuh hari tujuh malam. Dan selama waktu itu kami harus mendampingi tanpa boleh tidur barang sekejappun. Kita perlu seseorang untuk mendapatkan Pedang Naga Merah.”
“Kalau aku bisa mendapatkan pedang itu, apakah kalian berdua bersedia menjadi pendamping?” tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.
“Kami bersedia melakukan apa saja sesuai dengan kemampuan demi menebus dosa kesalahan kami, “ jawab Naga Geni.
“Benar Kiai, kami sangat sayang pada Putera Langit. Kami bersedia menerima bencana asal dia tidak terganggu apalagi sampai menderita. Kami juga sangat berharap dan melakukan segala daya agar dia bisa berada di tangan kami.”
“Tunggu dulu. Siapa yang kau maksudkan dengan Putera Langit?” tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Anak kami itu Kiai. Kami memberi nama Putera Langit pada pedang itu.” Menerangkan Naga Suci. “Ah….” Kiai Gede Tapa Pamungkas terpana sesaat lalu tersenyum. Sambil mengusap janggut putihnya dia berkata. “Nama bagus. Sangat gagah kedengarannya.”
“Kiai,” ucap Naga Suci. “Sebagai orang tuanya kami sudah sangat rindu untuk dapat bertemu lagi dengan anak kami itu. Sampai Kiai memanggil kami saat ini, kami baru tahu kalau Putera Langit sudah berada lagi di tanah Jawa ini. Memang sejak beberapa minggu belakangan ini saya merasa tanda-tanda tertentu. Baru tahu arti tanda-tanda itu setelah bertemu Kiai.”
“Pedang itu konon berada di tangan seorang paderi perempuan dari Tiongkok. Adalah aneh, senjata sakti mandraguna yang adalah putera kalian itu bisa berada di tangan orang asing di negeri jauh.”
“Kiai, ini menyangkut satu kisah lama. Semua terjadi karena kelalaian kami. Selain itu kami selalu dihantui rasa takut karena telah berbuat salah. Biar saya menceritakan pada Kiai,” kata Naga Geni pula.
“Sewaktu pedang baru berusia beberapa hari dan panjangnya hanya setengah jengkal, terjadi banjir bandang. Pedang tercecer di satu tempat ketika saya tengah berusaha menyelamatkan Naga Suci. Pedang kemudian ditemukan oleh seorang bocah bernama Bayumurti yang tinggal di Semarang. Anak ini menganggap pedang kecil itu sebagai barang mainan. Pedang kemudian diberikan Baayumurti sebagai tanda mata pada seorang gadis Cina teman sepermainannya yang kemudian pulang bersama orang tuanya ke Tiongkok. Ketika kami mengetahui hal itu, gadis Cina itu telah berlayar ke Tiongkok. Kejadiannya lebih dari dua belas tahun silam. Saya yakin paderi yang muncul saat ini membawa Pedang Naga Merah adalah gadis Cina dulu itu.”
Setelah terdiam dan merenung sejenak Kiai Gede Tapa Pamungkas akhirnya berkata. “Kisah luar biasa. Benar-benar luar biasa. Naga Geni, Naga Suci, kalian sekarang boleh pergi. Bilamana Pedang Naga Merah sudah berada ditanganku, aku akan memanggil kalian kembali. Di tempat ini.”
“Kiai, kami mohon maafmu dan kami mohon diri.”
“Tunggu dulu…” Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.
“Ada apa Kiai?” tanya Naga Geni.
Bertahun-tahun kalian memisahkan diri. Satu tinggal di timur, satu di barat. Untuk apa menyiksa diri? Kalian boleh memilih tinggal bersama di Gunung Burangrang atau di Gunung Bukit Tunggul.”
Naga Geni dan Naga Suci saling berpandangan. Mereka hampir tak percaya mendengar apa yang dikatakan si orang tua. Sebelumnya mereka menyangka akan mendapat dampratan bahkan hukuman. Ternyata kini sang Kiai ingin mempersatukan mereka kembali.
“Kiai,” kata Naga Geni pula. “Betulkah kata Kiai itu? Kami boleh tinggal bersama?” Suaranya tersendat karena haru sementara Naga Suci usap air mata yang menggelinding di pipinya.
“Ya, aku mengizinkan. Asal saja kalian bisa menjaga diri. Jangan sampai lahir lagi pedang ini pedang itu atau Putera Langit yang baru.” “Kiai, saya mengucapkan banyak terima kasih,” kata Naga Geni.
“Saya juga,” kata Naga Suci pula. ”Kiai telah memberikan kepercayaan. Mudah-mudahan kami tidak akan berbuat keliru lagi.”
“Selanjutnya kami akan merundingkan dimana kami berdua akan tinggal. Kami akan memberi tahu pada Kiai. Sekarang kami mohon diri.” Naga Geni menyambung ucapan Naga Suci.
Naga Geni dan Naga Suci kemudian menyalami dan mencium tangan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Perlahan-lahan ujud sepasang muda-mudi gagah dan cantik ini berubah menjadi naga lalu melesat ke udara dan di satu arah lenyap dari pemandangan.
Walau saat itu udara dingin luar biasa namun wajah dan tubuh serta pakaian sang Kiai basah oleh keringat. Untuk beberapa lamanya dia kembali duduk bersila di tepi telaga. Tubuhnya yang tadi terasa letih kini agak nyaman. Hawa panas dingin mulai berkurang. Orang tua sakti ini ingat pada peristiwa puluhan tahun silam ketika dia pertama kali menerima Kapak Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212 dari kakek gurunya. Sang kakek menerangkan, suatu ketika kelak, dari perkawinan antara Kapak dan Pedang akan lahir sebilah keris sakti mandraguna. Kenapa kini yang muncul sebilah pedang dan membawa malapetaka pula? Karena senjata itu dilahirkan dari perkawinan maya yang keliru?
Kiai Gede Tapa Pamungkas berdiri. “Aku harus mencari seseorang untuk mendapatkan Pedang Naga Merah dari tangan paderi asing itu. Mungkin aku harus menemui Sinto Gendeng….” Sang Kiai tarik nafas panjang. Kemudian dia keluarkan satu siulan keras. Lalu mulut itu berucap.
“Kaki Putih, aku membutuhkan dirimu…”
Saat itu juga di kejauhan terdengar suara ringkikan keras. Kurang dari sekejapan mata muncullah seekor kuda hitam. Hebatnya, walau tubuh hitam namun keempat kakinya, mulai dari lutut ke bawah berwarna putih. Kuda tinggi besar ini rundukkan kepala lalu menjilat tangan Kiai Gede Tapa Pamungkas kiri kanan. Setelah mengusap tengkuk kuda bernama Kaki Putih ini, sang Kiai segera melompat naik ke punggungnya.
“Antar aku ke puncak utara. Menemui nenek bernama Sinto Gendeng yang dulu pernah kau buat jatuh karena dia mengencingi punggungmu!”
Kuda hitam berkaki putih meringkik panjang seolah tertawa mendengar kata-kata sang Kiai.

***

6

DUA NENEK kembar rambut kelabu bermata merah untuk beberapa lama duduk berdiam diri sambil pandangi Pendekar 212 Wiro Sableng yang tergeletak di lantai berdebu dalam keadaan tidak sadar diri. Saat itu menjelang pagi dan mereka berada di dalam sebuah rumah tua setengah runtuh yang telah lama ditinggal penghuninya.
“Ha-hu ha-hu.” Nenek sebelah kanan keluarkan suara, tangan kiri menunjuk ke dada Wiro, tangan kanan ditepukkan ke dada sendiri lalu dilambaikan ke arah luar bangunan. Dengan isyarat ini dia memberi tahu saudara kembarnya bahwa Wiro menderita cidera di dada, dia akan memeriksa dan mengobati si pemuda. Untuk itu dia minta saudaranya itu keluar dulu dari dalam rumah.
Nenek satunya pencongkan mulut. Balas memberi isyarat yang mengatakan bahwa dia yang akan memeriksa Wiro dan saudaranya itu saja yang keluar dari situ. Yang diberi isyarat geleng-geleng kepala. Dua nenek sama-sama unjukkan tampang cemberut. Akhirnya melalui gerak isyarat keduanya menyetujui bahwa mereka berdua akan bersama-sama memeriksa dan mengobati Wiro.
Maka nenek sebelah kiri mulai membuka pakaian putih sang pendekar. Temannya membantu. Begitu baju terbuka kelihatan dada yang bidang kekar. Dua mata si nenek sama-sama bersinar, mulut merekah senyum, dua tangan sama-sama mengusap. Namun ketika melihat ada tanda merah kebiruan di pertengahan dada keduanya sama-sama keluarkan suara tertahan.
“Ha-hu ha-hu!”
Nenek yang satu keluarkan sebuah kantong kecil dari balik jubah kuning. Kesempatan ini dipergunakan oleh saudara kembarnya untuk menyeka lelehan darah setengah mengering di sudut bibir Wiro sambil pergunakan kesempatan membelai pipi sang pendekar. Si nenek satunya langsung saja menepuk tangan saudara kembarnya itu. Yang ditepuk hanya mesem-mesem. Dari dalam kantong kain nenek pertama tadi mengambil dua butir obat berwarna putih. Obat dimasukkan ke dalam mulut Wiro lalu dengan dua jari tangan kiri dia menotok tenggorokan pemuda itu. Saudaranya ikut menotok urat besar di beberapa bagian tubuh Wiro yaitu pangkal leher, dada dan dekat ulu hati.
“Ha-hu ha-hu!” Nenek sebelah kanan menunjuk telapak kaki Wiro.
Keduanya kemudian sama-sama mengangkat kaki Wiro kiri kanan lalu telapak kaki, di bagian tumitditekan dengan telapak tangan sambil mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti. “Ha-hu ha-hu!” Dua telapak kaki keluarkan kepulan asap merah. Di saat yang sama dua kaki Wiro melejang keras hingga dua nenek kembar terjengakang. Walau kaget namun keduanya unjukkan wajah gembira. Darah mengucur kental di sudut mulut Pendekar 212. Perlahan-lahan kesadarannya muncul. Wiro menggeliat sambil keluarkan suara mengerang lalu berusaha bangun. Dua nenek membantu dan menyandarkannya ke dinding rumah.
“Ha-hu ha-hu!”
Wiro tatap dua nenek kembar di depannya lalu tersenyum. Dua nenek kembar bersorak gembira.
“Ha-hu ha-hu!”
Dari balik jubah dua nenek keluarkan secarik kain lalu berebutan menyeka lelehan darah di mulut dan dagu sang pendekar.
Wiro tampak kaget dan sadar kalau dirinya terluka di dalam. Saat itu baru dia merasakan rasa sakit di dadanya. Ketika diperhatikan, dia melihat ada tanda merah kebiruan dipertengahan dada.
“Siapa yang menghantamku. Aku terluka di dalam. Bagaimana kejadiannya?” Ingatan murid Sinto Gendenggini belum sepenuhnya pulih.
Dua nenek sama-sama memberi isyarat dengan gerakan tangan sambil keluarkan suara ha-hu ha-hu coba memberi keterangan. Namun melihat semua gerak isyarat itu Wiro malah jadi bingung. Dia coba mengingat-ingat apa yang terjadi.
“Aku berada di tembok timur Kadipaten Losari….” Wiro berucap perlahan.
“Ha-hu ha-hu!” Dua nenek angguk-anggukkan kepala. Wiro melintangkan jari telunjuk di atas bibir. Dua nenek mesem-mesem.
“Ada prajurit yang dibunuh. Namanya Jumena… Aku dituduh sebagai pembunuh. Aku diserang. Lalu muncul Paderi Cina itu..”
“Ha-hu ha-hu!” Dua nenek unjukkan wajah marah. Tangan kanan digerak-gerakkan seolah memegang senjata tajam.
“Nionio Nikouw. Dia menyerangku dengan pedang memancarkan cahaya merah. Aku terpental roboh. Sebelum pingsan aku melihat paderi itu juga tergeletak di tanah…”
“Ha-hu ha-hu!” Dua nenek angkat tangan masing-masing, membuat gerakan menimang-nimang lalu menunjuk ke lantai rumah.
“Ya…ya. Aku tahu maksud kalian. Kalian menggotongku. Lalu membawa aku ke sini. Lalu mengobatiku. Kalian pasti meraba-raba tubuhku…”
Dua nenek tertawa cekikikan.
“Terima kasih. Makin banyak hutang budi dan nyawaku pada kalian….”
“Ha-hu ha-hu,” dua nenek berseru sambil goyang-goyangkan tangan.
“Kalian bisa saja minta aku tidak memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan justru bagaimana cara membalas semua hutang besar ini.”
Dua nenek tiba-tiba ulurkan wajah sambil salah satu tangan menepuk-nepuk pipi masing-masing.
Wiro tertawa lebar. “Begitu? Jadi dengan mencium pipi kalian, semua hutang piutang kalian aggap impas lunas? Geblek!”
“Ha-hu ha-hu.”
Wiro garuk-garuk kepala. “Baiklah, aku akan mencium kalian sebagai tanda terima kasih. Tapi bagiku tetap saja aku punya hutang budi dan nyawa pada kalian. Mungkin baru bisa dianggap impas kalau aku berhasil mencari tahu siapa pembunuh kakak kembar kalian Eyang Sepuh Kembar Tilu.”
Dua nenek tidak menyahuti. Masih tetap ulurkan wajah. Wiro tersenyum. Pertama sekali diciumnya nenek sebelah kanan. Lalu beralih mencium nenek sebelah kiri.
“Ha-hu ha-hu!”
Ketika menarik kepalanya Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut. Wajah buruk dua nenek itu telah berubah menjadi wajah cantik dua perempuan muda berkulit putih. Rambut yang kelabu tampak hitam. Mata yang merah juga berubah hitam. Hanya pakaian mereka yang tidak berubah yaitu tetap jubah kuning. Selain itu tubuh serta pakaian dua perempuan jelita ini menebar bau harum mewangi.
Murid Sinto Gendeng batuk-batuk, garuk-garuk kepala. Dua nenek yang kini berujud dua perempuan muda cantik masih tak bergerak. Kepala masih terulur.
“Heh, mau dicium lagi?” tanya Wiro.
““Ha-hu ha-hu!” Dua perempuan muda menyahuti sambil anggukkan kepala berulang kali.
Wiro peluk keduanya, lalu menciumi berganti-ganti berulang kali. Dua perempuan itu sesekali membalas ciuman Wiro.
“Sudah…sudah!” Wiro akhirnya lepaskan rangkulan serta hentikan ciuman. Dua perempuan muda tersipu-sipu. “Baiknya kalian kembali ke ujud semula. Nanti aku bisa pusing, kalian jadi pening lalu nanti bisa-bisa ada yang bunting!”
Wiro tertawa gelak-gelak. Dua perempuan muda cekikikan sambil tangan mereka menjalar mencubiti paha sang pendekar. Perlahan-lahan ujud mereka kembali ke bentuk semula, yakni dua nenek berwajah seram, rambut kelabu dan bermata merah.
“Nah, begitu lebih baik. Jalan pikiranku jadi tidak terganggu. Ingat, walau sudah kucium tapi aku tetap punya hutang pada kalian.”
“Ha-hu ha-hu!”
Wiro menghela nafas panjang lalu berdiri. Dua nenek ikutan berdiri. Wiro memandang keluar lewat dinding rumah tua yang sudah ambruk. Ingatannya kembali pada apa yang sebelumnya dialami.
“Jumena, prajurit itu. Kasihan dia tewas dibunuh. Aku yakin pembunuhnya adalah orang tua bermuka merah yang menunggang kuda. Tapi, siapa dia? Mengapa membunuh prajurit tak berdosa?”
“Ha-hu ha-hu!”
“Eh, kalian melihat penunggang kuda itu?”
Dua nenek anggukkan kepala.
“Betul dia yang membunuh prajurit Kadipaten bernama Jumena?” Dua nenek kembali mengangguk.
“Lantas mengapa kalian tidak mencegah?”
Dua nenek peragakan gaya orang menunggang kuda, lalu tangan diletakkan di kening, menunjuk­nunjuk ke atas, kemudian memegang punggung. Wiro geleng-geleng kepala. Sulit dia mengerti apa yang tengah diterangkan dua nenek itu. Nenek di samping kiri kemudian berjongkok. Dengan jari tangannya dia membuat gambar di lantai berdebu. Ternyata gambar sehelai daun. Lalu nenek ini tempelkan tangan kanan di kening sambil tangan kiri menunjuk ke gambar daun.
Wiro mengerenyit, menggaruk kepala.
“Daun…daun di kening…”
“Ha-hu ha-hu!”
Wiro menggaruk lagi. Dua nenek kembali menunjuk ke atas lalu dua tangan diturunkan ke bawah, menempel ke badan dan mata dipejamkan.
“Orang mati,” ucap Wiro.
Dua nenek mengangguk, “Ha-hu ha-hu!”
“Aku mengerti! Daun menempel di kening orang mati. Siapa yang mati? Tunggu… aku ingat. Saudara kembar kalian. Eyang Sepuh Kembar Tilu waktu menemui ajal ada daun mengkudu di keningnya.”
“Ha-hu ha-hu!” Dua nenek peragakan lagi orang menunggang kuda, menunjuk ke gambar daun lalu menepuk punggung.
“Orang naik kuda. Di punggung… Kenapa punggungnya?”
Dua nenek menunjuk lagi ke gambar daun di lantai rumah.
“Hemm. … Orang berkuda ada daun di punggungnya…”
“Ha-hu ha-hu!” Dua nenek anggukkan kepala berulang kali.
“Daun….daun apa? Daun mengkudu?”
Dua nenek bersorak, acungkan jempol lalu mengangguk-angguk.
Wiro garuk-garuk kepala. Dia coba merangkai semua keterangan dua nenek itu. “Ada penunggang kuda. Yang aku lihat orangnya kakek muka merah. Membunuh prajurit bernama Jumena. Kalian berdua melihat tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena orang berkuda membawa daun pantangan, daun mengkudu di punggungnya. Jika kalian sampai tersentuh daun itu bisa celaka menemui ajal seperti Eyang Sepuh Kembar Tilu. Benar begitu?”
Dua nenek mengangguk. “Ha-hu ha-hu.”
“Ini luar biasa,” kata Wiro pula. “Waktu ada ledakan dan waktu prajurit Jumena dibunuh, kalian berdua belum menampakkan diri. Betul?”
Dua nenek mengangguk.
“Berarti kasat mata kalian berdua tidak kelihatan. Tapi kakek penunggang kuda itu tanpa melihat dia mengetahui kehadiran kalian. Itu sebabnya dia berjaga diri dengan membawa daun mengkudu, ditaruh di punggung. Jika dia tahu daun itu adalah daun pantangan bagi kalian, berarti kemungkinan dialah orang yang membunuh Eyang Sepuh Kembar Tilu!”
“Ha-hu ha-hu!” Dua nenek keluarkan suara keras dan unjukkan wajah seram geram.
“Eyang Sepuh Kembar Tilu dibunuh karena ada sangkut paut dengan dadu setan. Jumena dibunuh karena dia tahu satu rahasia besar. Aku rasa kematian kedua orang ini ada kaitannya…” Wiro melangkah mondar-mandir. Waktu hentikan langkah dia ajukan pertanyaan. “Paderi Cina itu, kalau aku tidak salah ingat, waktu dia menyerangku denganpedang merah, dia terjungkal roboh lebih dulu. Kalian tahu apa yang kemudian terjadi dengan dirinya?”
Nenek kembar di sebelah kanan membuat peragaan orang digotong dan dilarikan. Nenek satunya membuat gambar tengkorak di lantai berdebu.
“Jadi ada orang yang menolong dan melarikannya. Seorang bermuka tengkorak.”
“Ha-hu ha-hu!”
“Pasti pemuda Cina bernama Liok Ong Cun itu. Kalian pernah melihatnya di telaga…” Wiro mengusap dadanya yang sesekali terasa sakit. Tiba-tiba saja dia teringat pada Purnama. Si jelita dari
Latanahsilam itu. Hatinya membatin. “Dalam keadaan genting biasanya dia muncul menampakkan diri.
Mengapa sekali ini tidak? Apa dia tidak lagi berada di dekatku?”
“Nenek berdua, aku tidak akan menahanmu lama-lama di tempat ini. Kalian boleh pergi. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian berdua. Jika aku boleh minta tolong lagi, harap kalian mencari tahu dimana dan siapa adanya kakek muka merah yang membunuh Jumena…”
Dua nenek unjukkan wajah takut.
“Tidak perlu takut. Manusia itu tidak akan terus-terusan membawa daun mengkudu kemana dia pergi.”
“Ha-hu ha-hu…”
“Dari dandanan dan bentuk wajahnya aku rasa dia seorang dari rimba persilatan. Aku belum pernah melihat tampang kakek itu sebelumnya.”
“Ha-hu ha-hu.” Dua nenek membuat gerakan tangan.
“Kalian betanya aku mau kemana?”
“Ha-hu ha-hu.”
“Aku akan ke Losari. Menurut Jumena mulai pagi ini lukisan wajahku ditempel dan disebar di kota Kadipaten itu. Ada hadiah lima ringgit emas bagi siapa yang menangkapku hidup atau mati. Aku dituduh telah membunuh Adipati Brebes. Aku mau tahu apa benar, tampangku sudah malang-melintang dimana­mana. Aku jadi orang terkenal sekarang! Ha ha!”
Wiro lambaikan tangan. Dua nenek membalas dengan letakkan tangan kanan di atas bibir lalu dilambaikan. Keduanya melesat pergi dan lenyap dari pemandangan.
Belum sekejapan dua nenek meninggalkan rumah tua, tiba-tiba terdengar ringkikan kuda disusul seruan nyaring.
“Anak setan! Rupanya kau sudah kehabisan gadis cantik. Sampai-sampai mengambil dua nenek­nenek peot jelek jadi gendakmu!”
Wiro melengak kaget. Dia segera melompat ke halaman samping rumah tua.

***

7

DI HALAMAN samping rumah tua berdiri seekor kuda hitam berkaki putih. Di atas punggungnya duduk dengan sikap keren seorang nenek berkulit hitam, berdandan medok tebal nyaris celemongan. Pakaiannya sehelai jubah hitam selutut dan celana panjang juga berwarna hitam. Pakaian ini kelihatan bagus dan masih baru. Tangan kanan memegang satu gulungan kertas. Di balik punggung jubah tersembul sebatang tongkat kayu Di leher kuda tergantung sebuah caping bambu. Si nenek pencongkan mulut kempotnya lalu menyeringai.
Astaga! Kalau bukan lima tusuk konde perak yang menancap di batok kepala, Pendekar 212 Wiro Sableng hampir-hampir tidak mengenali nenek aneh ini. Apalagi setelah mengendus dalam-dalam dia tidak mencium bau pesing.
“Eyang Sinto!” Seru Wiro begitu mengenali nenek penunggang kuda berdandan medok ini bukan lain adalah gurunya. Pemuda ini cepat-cepat mendatangi Sinto Gendeng, menyalami dan mencium tangannya.
“Nek, maaf kalau saya hampir tidak mengenalimu. Dandananmu lain sekali. Bedak putih, alis kereng hitam, bibir merah mencorong, pipi diberi merah-merah. Pakaianmu kelihatannya baru. Lalu hemmmm…” Wiro mendongak sambil menghirup udara dalam-dalam. “Kau pakai obat atau wewangian apa hingga saya tidak mencium bau pesing tubuh dan pakaianmu?”
“Plaakk!”
Si nenek kemplangkan gulungan kertas di tangan kanan ke kepala muridnya. “Aku berdandan macam apa, aku mau mengenakan pakaian cara apa, aku mau bau pesing atau tidak, bukan urusanmu. Enak saja kau bicara!” Si nenek lalu sodokkan ujung gulungan kertas ke dada muridnya. “Tanda merah ini! Apa bekas gigitan dua nenek jelek tadi?”
Wiro garuk kepala. Dia masih berpikir-pikir apa yang terjadi dengan Eyang Sinto Gendeng. Bersolek mencorong dan berpakaian rapi serta tampak begitu gembira.
“Kau tak bisa menjawab! Nah, bilang saja habis berbuat apa kau dengan dua nenek itu?”
Wiro tertawa. “Eyang, mereka itu sahabatku. Tanda di dada ini bekas pukulan. Mereka tadi mengobatiku. Mereka telah beberapa kali menyelamatkan jiwaku.”
Si nenek menyeringai. Dia ingat tanda yang sama yang dilihatnya di dada Kiai Gede Tapa Pamungkas waktu bertemu empat hari lalu. Tapi dasar jahil, dia masih menggoda muridnya.
“Nah, nah. Waktu diobati pasti tadi kau diraba-raba. Lalu kau balas meraba! Betul ‘kan? Apa nikmatnya meraba tubuh peot! Hik…hik…hik!”
Wiro ikut tertawa gelak-gelak.
Si nenek ketukkan lagi gulungan kertas di tangan kanan ke kepala Wiro lalu berkata. “Lihat ini!” Gulungan kertas disodorkan pada Wiro.
Wiro ambil gulungan kertas lalu membukanya. Disitu terpampang lukisan kasar wajahnya disertai tulisan besar :

“PENDEKAR 212 WIRO SABLENG. Buronan pembunuh. Siapa yang bisa menangkap Hidup Atau Mati Mendapat Hadiah Lima Ringgit Emas. Tertanda Adipati Losari. SEDA WIRALAGA”

“Di tengah jalan aku menemui selebaran itu ditempel di sebuah pohon. Pasti banyak lagi di tempat lain, terutama di sekitar Losari. Kasihan, kepala bau apekmu dihargai cuma lima ringgit emas. Murah buaaanget! Hik…hik…hik.” Setelah tertawa si nenek bertanya. “Siapa yang kau pateni?” Sinto Gendeng pindahkan susur yang dikunyah dalam mulut dari kiri ke kanan lalu kucurkan ludah merah ke tanah.
“Karta Suminta. Adipati Brebes.” Menjawab Pendekar 212.
“Gila! Dia bukan manusia sembarangan. Banyak temannya orang-orang berkepandaian tinggi!”
“Saya tahu Eyang. Tapi dia orang jahat.”
“Gendeng! Banyak orang jahat di muka bumi ini! Kenapa kowe bunuh Adipati itu?” tanya Sinto Gendeng dengan mata mendelik.
“Dia hendak memperkosa seorang sahabat saya, Eyang.” Jawab Wiro.
“Sahabatmu yang mana? Anggini? Bidadari Angin Timur. Ratu Duyung atau gadis dari alam roh itu. Eh, siapa namanya? Ada dua kalau aku tidak salah!”
“Bunga dan Purnama, Nek.” Ucap Wiro.
“Ya…ya! Apa salah satu dari mereka yang hendak diperkosa Karta Suminta?”
“Bukan Nek. Bukan salah satu dari mereka.”
“Ah, rupanya kau punya kekasih baru? Hik…hik…hik! Beri tahu aku siapa orangnya!”
“Seorang gadis Cina. Seorang paderi,” jawab Wiro pula.
“Oala!” Sinto Gendeng dongakkan kepala lalu tertawa panjang.
“Benar rupanya cerita Kiai Gede Tapa Pamungkas. Ada gadis cantik datang dari Cina. Ternyata dia telah jadi kekasih barumu! Hik…hik! Cepat juga cara kerjamu, anak setan!”
“Namanya Nionio Nikouw. Dia bukan kekasih saya, Nek. Dulu dia sahabat. Tapi sekarang sudah jadi musuh. Tadi malam di tembok timur Kadipaten dia berusaha hendak membunuh saya.”
“Dengan sebilah pedang berwarna merah?”
“Bagaimana Eyang tahu?”
“Kiai Gede Tapa Pamungkas bercerita padaku lima hari yang lalu. Tapi saat ini aku mau dengar cerita dari mulutmu. Mulai dari kematian Adipati Brebes sampai kemunculan gadis Cina yang kini kau bilang sudah jadi musuhmu itu!” Habis berkata begitu Sinto Gendeng melesat dari punggung kuda, duduk berjuntai di talang rumah yang sudah hampir roboh, mulut komat-kamit mengunyah susur. Kalau saja nenek ini tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, diduduki seperti itu talang rumah pasti sudah runtuh!
Memenuhi permintaan gurunya Wiro menceritakan semua apa yang diketahui dan apa yang terjadi. Mulai dari kedatangan para tokoh silat dari Tionggoan, perihal dadu setan sampai kejadian tadi malam dimana dia hendak dibunuh oleh Nionio Nikouw dan berakhir pada pertolongan dua nenek kembar.
Mulut Sinto Gendeng terpencong-pencong mendengar kisah sang murid. “Kau tahu asal usul pedang merah yang kini ada di tangan paderi Cina itu?”
Wiro menggeleng.
“Kiai Gede Tapa Pamungkas mendatangiku di puncak utara Gunung Gede. Dia bercerita banyak. Pedang itu konon bernama Pedang Naga Merah. Pedang itu adalah anak haram yang lahir dari perkawinan Kapak Naga Geni Dua Satu Dua dan Pedang naga Suci Dua Satu Dua.”
Wiro terkesiap. Garuk-garuk kepala lalu tertawa gelak-gelak.
“Anak setan! Jangan asal mangap! Mengapa kau ketawa? Apa yang lucu?” Sinto Gendeng membnetak sambil delikkan matanya yang memiliki rongga dalam. Lima tusuk konde di atas kepala bergoyang-goyang.
“Nek, bagaimana mungkin kapak dan pedang kawin lalu punya anak haram sebilah pedang!”
“Anak setan! Kau tahu apa. Gusti Allah punya kuasa! Biar aku kasih pengertian padamu! Kau sendiri yang barusan cerita setiap ada orang menyerangmu dengan Pedang Naga Merah kau dan orang itu pasti terpental. Lihat bekas hantaman di dadamu itu! Itu satu pertanda ada satu kekuatan gaib hebat yang mencegah terjadinya pertumpahan darah. Mana ada pasalnya seorang anak berani membunuh ayahnya sendiri? Maksudku pedang merah itu adalah anak dan kapak di dalam tubuhmu adalah ayahnya. Jika sampai terjadi si anak membunuh ayah maka berarti kualat! Itu sebabnya ada satu kekuatan gaib yang membentengi dirimu juga membentengi si penyerang. Tapi kekuatan itu begitu luar biasa hingga muncul sebagai serangan hebat yang tak bisa dielakkan oleh orang yang diserang maupun yang menyerang.”
Eyang Sinto pindahkan lagi susur di dalam mulut dari kiri ke kanan. Lalu berkata. “Anak setan, apa kau lupa. Kau kawin-kawinan dengan perempuan cantik bernama Nyi Retno mantili itu, anak kalian ternyata sebuah boneka kayu! Hik…hik…hik!”
Wiro hanya bisa menyengir mendengar kata-kata sang guru. Dia meraba-raba perut, menggosok dada. Seperti diketahui, Kiai Gede Tapa Pamungkas secara gaib telah memasukkan Kapak Naga Geni ke dalam tubuh Wiro (baca serial Wiro Sableng Episode “Lentera Iblis)
Mengenai boneka kayu Nyi Retno Mantili bisa dibaca kisahnya dalam serial Wiro Sableng Episode “Perjanjian Dengan Roh”.
“Di alam fana ini…” Sinto Gendeng lanjutkan cerita. “Naga Geni bisa memunculkan diri berpenampilan sebagai seorang pemuda gagah, tidak jelek sepertimu!”
“Iya Nek, saya memang jelek. Bau apek lagi!” kata Wiro sambil mencibir.
“Naga Suci mampu muncul sebagai seorang gadis cantik! Pedang Naga Merah yang merupakan anak mereka, mereka beri nama Putera Langit. Menurut keterangan Naga Geni sewaktu masih kecil pedang itu pernah hilang. Ditemui seorang anak bernama Bayumurti di Samarang lalu diberikan pada seorang anak perempuan sewaktu dia mau pulang ke Cina. Anak perempuan Cina itu pasti adalah paderi yang sekarang berada di tanah Jawa ini.”
Wiro manggut-manggut. Dia ingat Nionio Nikouw memang pernah menceritakan tentang seorang sahabat yang tengah dicarinya. Anak bernama Bayumurti itu yang tentunya sekarang sudah menjadi seorang pemuda sebaya sang paderi.
“Nek, aku ingat sesuatu. Orang bernama Bayumurti ini mungkin sekali adalah salah seorang Kepala Pasukan Kerajaan timur yang namanya menjadi terkenal karena beberapa waktu yang lalu berhasil menghancurkan sarang perampok di hutan Jatiuruk dan membunuh dedengkot pimpinannya.”
“Begitu?” ucap Sinto Gendeng. Dia tidak tampak tertarik pada keterangan Wiro. Lalu si nenek meneruskan. “Selain itu kehadiran Pedang Naga Merah yang bisa dianggap sebagai senjata liar, dapat menimbulkan orang malapetaka pada pemilik maupun orang sekitarnya. Buktinya paderi itu hampir diperkosa. Kau hampir dijagal!” Eyang Sinto Gendeng kemudian menceritakan bagaimana kejadian Pedang Naga Merah seperti yang didengarnya dari Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Aku diperintahkan Kiai untuk menemuimu. Kau ditugaskan mencari dan mengambil pedang itu dari tangan paderi Cina.”
Wiro menggaruk kepala. “Mengapa musti saya Eyang?”
“Apa katamu?!” Si nenek mendelik. “Ooo… Aku tahu. Maunya kau aku yang harus mencari pedang itu! Beraninya kau memerintah diriku!”
“Maafkan saya Eyang. Saya tidak bermaksud begitu. Kalau Kiai dan Eyang memerintahkan saya, tentu saja akan saya laksanakan. Namun saya minta waktu.”
“Maksudmu?”
“Sekarang ini saya tengah menyelidiki satu perkara menyangkut dadu setan yang tadi saya ceritakan. Perkara ini berkaitan dengan paderi Cina itu. Kalau pedangnya diambil, semua urusan bisa kacau. Saya tak mungkin mendapatkan dadu setan, tidak mampu membuka rahasia yang menyelubungi kematian beberapa sahabat dan….”
”Huss! Ceritamu panjang amat! Aku tidak mau dengar semua itu! Yang aku tahu kau harus menyerahkan Pedang Naga Merah ke tanganku paling lambat dalam tempo tiga puluh hari!”
“Tiga puluh hari Nek? Apa tidak bisa ditambah? Soalnya saya…”
“Kau kira aku tengah berdagang apa! Kau berani menawar-nawar!”
“Maafkan saya Eyang. Kalau pedang itu saya dapatkan, harus saya antar kemana?” Wiro mengalah karena tahu tidak bakal menang dalam bicara dengan si nenek.
“Aku tunggu kau di puncak Gunung Gede. Dan kau harus datang bersama Ratu Duyung!”
Kening Pendekar 212 jadi mengkerut. “Mengapa harus dengan Ratu Duyung Nek?”
“Anak setan! Kau ini banyak tanya sekali! Mana aku tahu! Itu kehendak Kiai Gede Tapa Pamungkas!”
Wiro garuk-garuk kepala.
“Eh, apa jawabmu?!” sentak si nenek.
“Ba … baik Nek. Saya akan datang bersama Ratu Duyung.”
“Dalam waktu paling lambat tiga puluh hari!”
“Dalam waktu tiga puluh hari!” Wiro mengulangi ucapan gurunya.
“Nek, saya bermaksud menyelidik kakek muka merah penunggang kuda yang membunuh prajurit Jumena itu. Dia bisa jadi salah satu kunci semua perkara besar ini. Mungkin kau mengenali siapa orang itu adanya?”
Sinto Gendeng pencongkan mulut. Lalu menjawab. “Mana aku tahu! Monyet pantatnya juga merah! Tapi bukan pembunuh prajurit itu, ‘kan?”
Selagi Wiro merasa penasaran mendengar ucapan gurunya itu si nenek melesat dari atas talang rumah, turun di punggung kuda hitam. Dia ambil caping bambu yang tergantung di leher kuda lalu caping dilemparkan ke arah Wiro.
“Anak setan! Kau sedang dicari orang! Kau perlu menutupi kepala dan wajahmu! Pakai ini!”
“Terima kasih Nek.” Ucap Wiro masih jengkel. Dia tangkap caping yang dilempar.
Disangkanya sang guru akan segera pergi, ternyata nenek itu masih duduk di atas punggung kuda hitam berkaki putih, menatap ke arahnya.
“Eyang Sinto, kau masih ingin mengatakan sesuatu?”
“Ingat cerita pedang merah aku jadi ingat pada guyonan orang. Kau pernah dengar guyonan Puteri Raja dari Negeri Keling?”
Dalam herannya Wiro gelengkan kepala. Dalam hati dia berkata. “Ada apa dengan nenek ini. Seumur hidup baru kali ini dia bersifat aneh seperti ini. Mau bicara soal guyonan segala.”
“Anak setan, kau dengar ceritaku.” Kata Sinto Gendeng pula. “Ada seorang puteri Kerajaan Keling bernama Bebinaki yang tidak mau kawin-kawin. Tapi diketahui punya dua orang kekasih. Yaitu pemuda bernama Jahembut, seorang pengusaha yang punya seratus lebih kapal dagang. Pemuda lainnya seorang saudagar batu permata kaya raya, bernama Gempursingh. Satu ketika istana dilanda kehebohan. Sang puteri diketahui berbadan dua alias hamil alias bunting.”
“Jelas bukan aku yang melakukan, Nek.” Celetuk Wiro bergurau.
“Anak setan! Kau tak usah bicara. Dengar saja ceritaku!” bentak Sinto Gendeng. Lalu dia meneruskan. “Raja Bajeber dan Permaisuri Simpulkani berusaha mencari tahu siapa yang telah membuat puteri mereka melendung begitu rupa. Tak ada yang tau. Hik…hik. Bebinaki ditanyai tidak mau mengaku walau dipaksa berulang kali. Akhirnya anak yang dikandung lahir. Seorang lelaki. Diberi nama Bajened. Konon masing-masing dua kekasih sang puteri yaitu si Jahembut dan Gempursingh mengaku bahwa Bajened adalah anak mereka, merekalah ayah sang bayi. Mereka inginkan anak itu. Istana kembali dilanda kehebohan. Bagaimana membuktikan bahwa ayah si Bajened ini adalah Jahembut atau Gempursingh….”
“Wah Nek, kalau melihat nama saya kira si Gempursingh itu yang punya pekerjaan,” kata Wiro pula memotong cerita sang guru.
“Setan, kau memotong ceritaku saja dari tadi!” Kata Sinto Gendeng sambil delikkan mata. Kemudian dia melanjutkan. “Akhirnya setelah satu tahun berlalu Raja dan Permaisuri melalui seorang juru tenung berhasil menemukan satu cara untuk mengetahui siapa sebenarnya ayah Bajened. Jahembut dan Gempursingh dipanggil ke istana. Di halaman berumput di belakang Istana dibentang sehelai permadani besar. Di atas permadani diletakkan sebuah permata yaitu sebagai pelambang diri Gempursingh. Selain permata, di atas permadani juga diletakkan mainan sebuah kapal-kapalan sebagai pelambang diri Jahembut. Bajened yang berusia satu tahun lalu diturunkan dari gendongan, diletakkan di atas permadani. Jika anak ini lebih dulu memegang mainan kapal-kapalan, berarti Jahembut-lah ayahnya. Tapi jika anak itu menyentuh permata lebih dulu, berarti Gempursingh-lah bapak anak itu. Setelah merangkak berputar-putar di atas permadani, anehnya Bajened sama sekali tidak menaruh perhatian pada kapal-kapalan ataupun batu permata apalagi menyentuhnya. Malah tidak terduga anak ini tinggalkan permadani, merangkak di atas halaman berumput ke arah sebuah benda yang tergeletak di tanah dan ternyata adalah sebilah arit pemotong rumput. Arit itu adalah milik Tajidun, pemuda yang bekerja sebagai juru taman di istana. Berarti ayah Bajened adalah si Tajidun itu!”
Wiro tertawa gelak-gelak mendengar cerita sang guru.
“Wah, tajinya si Tajidun mantap juga ya Nek. Guyonanmu bagus Nek. Ada lagi yang lain?”
“Cukup satu itu dulu! Aku harus pergi! Jagan lupa tugasmu menemukan Pedang Naga Merah.”
“Baik Nek.” Wiro lalu menyalami dan mencium tangan Eyang Sinto Gendeng. Sambil menggaruk kepala memperhatikan kepergian sang guru Wiro berkata dalam hati. ”Ada apa sebenarnya dengan nenek itu. Dia tampak sangat gembira. Berpakaian rapi bagus dan baru. Berdandan mencorong. Hemm… Kalau aku hubungi riwayat Kapak Naga Geni dan Pedang Naga Suci selain Kiai Gede Tapa Pamungkas hanya ada dua orang yang saling terkait. Yaitu Eyang sendiri dan Tua Gila. Eh, jangan-jangan nenek ini hendak bertemu dengan kakek itu. Kekasih di masa mudanya! Ha…ha! Pantas dia kelihatan gembira, bersolek dan berdandan seperti itu!”
Wiro kembangkan kembali gulungan kertas yang dipegangnya.
“Sialan!” makinya dalam hati. Gulungan kertas kemudian dibanting hingga amblas masuk ke dalam tanah. Caping bambu lalu ditaruh di atas kepala. Sambil melangkah dia ingat pada Ratu Duyung.
“Dimana aku harus mencari gadis bermata biru itu. Terakhir sekali dia bersama si kakek Setan Ngompol. Tapi waktu kakek itu muncul, dia tidak ikut.” Wiro hendak menggaruk kepala.
Namun tangannya terhalang oleh caping bambu. Pemuda ini memaki sendiri dalam hati sambil ketuk-ketuk caping di kepalanya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. “Untung! Untung Eyang Sinto tadi tidak bertanya tentang Kitab Seribu Pengobatan. Kalau dia tahu kitab itu hilang lagi pasti aku didampratnya habis-habisan. Sial! Siapa yang tega-teganya mencuri kitab itu?!”
Baru saja Wiro menggerendeng seperti itu tiba-tiba dia mendengar suara bentakan-bentakan keras diseling tawa cekikikan. Suara itu datangnya dari arah kanan dimana terdapat sebuah bukit dialiri satu kali kecil. Baik yang membentak maupun yang tertawa dua-duanya adalah suara perempuan. Wiro segera lari ke arah bukit.
Hanya sesaat setelah Wiro pergi, satu bayangan samar seorang perempuan muda berpakaian serba putih berkelebat. Dia letakkan kembangan tangan di atas tanah, tepat dimana tadi Wiro membanting gulungan kertas. Luar biasa sekali! Gulungan kertas yang amblas di dalam tanah itu tertarik dan melesat ke luar. Dengan cepat perempuan samar ambil gulungan kertas, sambil duduk di satu gundukan tanah dia membuka lalu membaca.
“Ah, dia dalam kesulitan. Apakah aku harus menolong? Maukah dia menerima pertolonganku?” Perlahan-lahan bayangan samar berubah utuh. Dalam kejelasan sosoknya ternyata dia adalah Bunga alias Suci, gadis alam roh, salah seorang dari sekian banyak gadis yang mengasihi Pendekar 212 Wiro Sableng. Wajah pucat Bunga tampak sedih. Hatinya kembali berkata. “Sejak kemunculan perempuan bernama Purnama itu, dia sepertinya tidak lagi memperdulikan diriku. Bagaimana aku harus berbuat? Mungkin aku harus tahu diri kalau diriku bukan pasangan yang cocok baginya. Dia insan dunia fana. Aku mahluk dari alam roh. Mungkin aku harus berlaku pasrah…”
Bunga usut air mata yang membasahi pipinya. Perlahan-lahan bangkit berdiri.
“Mungkin aku tidak perlu khawatir dengan Purnama. Namun apakah Wiro sadar akan bahaya yang mengancam yang datang dari paderi Cina itu? Seandainya aku datang menemuinya, menceritakan semua duga dan firasatku. Apakah dia mau mempercayai?” Bunga gelengkan kepala. Setelah menghela nafas dalam akhirnya Bunga campakkan ke tanah kertas yang dipegangnya lalu tinggalkan tempat itu.

***

8

PEMANDANGAN dari lamping bukit batu itu indah sekali. Di timur membentang pedataran berumput ditumbuhi berbagai macam bebungaan. Di sebelah utara menjulang gunung biru. Di kaki gunung terbentang hamparan sawah dibelah oleh sebuah sungai yang siang itu tampak berkilau oleh saputan cahaya sang surya. Ke arah barat membentang Teluk Losari dengan air laut yang kelihatan berwarna kehijau-hijauan.
Di satu bagian datar lamping bukit batu yang terletak di kawasan selatan, dua orang duduk bersila berhadap-hadapan sementara angin sejuk bertiup perlahan. Beberapa langkah di belakang mereka terdapat sebuah mulut goa berbentuk segi empat. Yang duduk di sebelah kanan seorang pemuda berwajah tampan berkulit putih, berambut lebat ikal dan hitam, mengenakan baju dan celana abu-abu. Dia adalah Jatilandak, pemuda dari Latanahsilam, negeri 1200 tahun lalu. Berkat petunjuk dalam Kitab Seribu Pengobatan, pemuda yang dulu tubuhnya berwarna kuning pekat serta ditumbuhi duri-duri panjang dan tajam itu kini telah mengalami kesembuhan. Keadaannya tidak beda dengan pemuda biasa.
Perempuan muda cantik jelita berpakaian biru yang duduk di hadapan Jatilandak saat itu adalah Luhmintari, yang bukan lain ibu Jatilandak sendiri yang oleh Wiro kemudian diberi nama Purnama. Sang ibu inilah yang telah menyembuhkan penyakit serta keadaan tubuh puteranya berdasarkan cara pengobatan dalam Kitab Seribu Pengobatan. Mereka sangat bersyukur dan merasa berhutang budi besar pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang telah sudi meminjamkan kitab tersebut. Saat itu ibu dan anak ini tengah berbincang­bincang membicarakan beberapa hal penting.
“Ibu, saya sudah menyelidik. Rasanya tidak ada kemungkinan bagi kita dan para kerabat lainnya bisa kembali ke negeri Latanahsilam, ke alam seribu dua ratus tahun silam…”
Luhmintari terdiam sesaat lalu berucap perlahan. “Agaknya Latanahsilam hanya akan tinggal sebagai kenangan. Yang penting sekarang adalah kita bisa hidup kerasan di tanah Jawa ini. Lihat tempat ini. Sejuk nyaman. Pemandangan indah sekali dan ada sebuah goa yang bagus untuk ditempati.“ Walau punya putera seusia Jatilandak namun keadaan Luhmintari tidak beda seperti seorang gadis remaja. “Anakku, sejak berpisah di kaki Gunung Merapi dengan gadis bernama Bidadari Angin Timur itu, apa kau pernah bertemu lagi dengan dia?”
Jatilandak menggeleng. “Kami hanya sempat berbuat janji. Akan bertemu lagi di air terjun Batu putih tepat pada satu Suro. Sampai saat ini aku belum tahu dimana letak air terjun itu dan kapan satu Suro itu.”
Luhmintari tertawa. “Kau banyak teman. Kau bisa menanyakan pada mereka.”
“Ibu, menurutmu bagaimanakah gadis itu?”
“Maksudmu?” Luhmintari balik bertanya pada puteranya. “Ah, seharusnya aku tak perlu bertanya. Kau telah jatuh hati pada si rambut pirang itu.”
Wajah Jatilandak menjadi merah.
“Sudah, kau tak perlu menjawab. Jawabannya sudah kulihat di wajahmu yang merah. Menurutku dia baik-baik saja. Cantik luar biasa. Kalau kau memang bisa mendapatkannya mengapa tidak? Namun…”
“Namun apa Ibu?” tanya Jatilandak.
“Turut cerita yang aku dengar gadis itu sejak lama menyukai Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng…” Waktu menyebut nama sang pendekar wajah Luhmintari tampak berseri dan sepasang matanya berbinar cerah. Namun sesaat kemudian ada bayangan lain yang merupakan satu ganjalan.
“Yang aku dengar memang begitu. Namun kabarnya sahabatku Pendekar Dua Satu Dua itu seperti tidak menyambuti perhatian Bidadari Angin Timur.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Luhmintari dengan pandangan mata tak berkesip.
Jatilandak hanya tersenyum dan angkat bahu.
“Tidak ada salahnya kau mendekati gadis itu. Tapi hati-hati dan tahu dirilah. Kita ini bukan orang-orang yang berasal dari negeri ini. Mereka semua tahu. Di depan kita mereka semua bersikap baik. Tapi di lubuk hati mereka mana mungkin kita menyelami. Bisa saja mereka menganggap tingkatan kita berada di bawah mereka. Selain itu Bidadari Angin Timur tahu keadaan dirimu sebelumnya. Ini bisa merupakan ganjalan. Kita hanya bisa berharap mudah-mudahan saja mereka memang tulus semua.”
“Ibu, dua hari aku beada di sini bersamamu aku sering melihat Ibu lebih banyak melamun. Apakah Ibu merasa kesepian atau tengah memikirkan sesuatu?”
Luhmintari menghela nafas dalam. “Memang banyak yang menjadi pikiran dalam benakku….”
“Memikirkan seseorang?”
Perempuan cantik dari Latanahsilam it tak menjawab.
“Ibu tak mau berterus terang padaku.”
“Ada sesuatu yang aku risaukan.”
“Kalau Ibu mau mengatakan mungkin aku bisa membantu.” Kata Jatilandak pula.
Luhmintari kembali menghela nafas dalam. Lalu berkata. “Sejak beberapa waktu belakangan ini ada satu mahluk yang selalu mengikuti diriku. Dia muncul secara tiba-tiba. Terkadang dia berbuat jahil dan mengucapkan kata-kata kotor. Terkadang dia seolah mampu mengacaukan jalan pikiranku.”
“Ibu tahu siapa orangnya?”
“Jika dia memang orang dari negeri ini, sudah sejak lama dapat aku ketahui. Namun ternyata aku mengalami kesulitan menjajagi. Hal ini memberi pertanda bahwa mahluk itu berasal dari negeri Latanahsilam. Pernah satu kali aku menyidik dengan ilmu Penciuman Nafas Sepanjang Badan. Dari baunya aku tahu dia memang berasal dari negeri leluhur kita. Jahatnya, dia tidak mau menampakkan diri. Pengecut! Aku tidak tahu sakit hati apa yang ada pada dirinya hingga dia berlaku jahil padaku!”
“Mahluk itu, laki-laki atau perempuan?” tanya Jatilandak.
“Perempuan,” jawab Luhmintari.
Jatilandak berpikir dan berusaha mengingat-ingat. “Setahuku ada seorang mahluk yang disebut gadis dari alam roh. Namanya Bunga. Aku mengenalnya ketika kami bersama-sama menumpas komplotan yang bermarkas di Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Dari pembicaraan para sahabat aku ketahui bahwa gadis alam roh itu adalah kekasih Pendekar Dua Satu Dua. Jangan-jangan dia yang selama ini menjahilimu.”
“Aku tak berani berburuk sangka,” jawab Luhmintari alias Purnama.
“Namun aku menyangsikan. Karena jika dia memang mahluk alam roh dari dunia di sini, aku pasti
bisa melihat bahkan mencekalnya. Tapi mahluk yang sering mengikutiku ini sulit untuk dilihat. Pertanda dia bukan dari alam sini. Aku sudah yakin dia berasal dari Negeri Latanahsilam.”
“Biar Ibu merasa aman aku akan mendampingi Ibu sampai beberapa lama. Sampai kita bisa mengetahui siapa adanya mahluk itu. Aku bersumpah untuk menghabisinya jika dia sampai mencelakai Ibu.”
“Terima kasih kau mau berbuat begitu. Tapi Ibu tidak merasa takut. Hanya agak terganggu. Tidak tahu apa maunya mahluk itu."
"Selain mahluk jahil itu, apakah ada hal lain yang menjadi pikiran Ibu?" tanya Jatilandak pula. "Aku merasa perlu berterus terang padamu mengenai satu hal," Jatilandak tatap wajah ibunya. Coba menerka apa yang hendak dikatakan Luhmintari.
"Sejak pertama kali bertemu di negeri ini dengan pemuda bernama Wiro itu, Ibu merasa seolah­olah…." Luhmintari tidak bisa meneruskan ucapannya. Jatilandak pegang tangan Luhmintari. "Ibu menyukai pemuda itu?" Sang putera langsung menduga.
"Lebih dari menyukai." Jawab sang ibu polos.
"Ibu mengasihinya? Mencintainya?" Luhmintari menatap ke arah laut hijau di kejauhan lalu perlahan anggukkan kepala. Jatilandak terdiam untuk beberapa jurus lamanya. "Ibu tahu, mencintai pendekar itu akan banyak kendala dan ganjalan yang akan Ibu hadapi. Yang paling berat karena begitu banyak gadis cantik menyukainya."
"Aku tahu tahu hal itu. Namun apakah Wiro menyukai, maksudku mengasihi mereka?"
"Apakah Wiro mengetahui kalau Ibu mencintainya?" "Walau sehari-hari dia kelihatan bersikap aneh, terkadang lugu, sering berlaku konyol bahkan kurang ajar, namun Ibu tahu dia seorang yang punya perasaan dalam. Ibu yakin dia tahu kalau Ibu menyukainya. Cuma, entahlah. Rasanya seperti Ibu dia juga punya banyak kendala.” Luhmintari menatap ke langit. "Jatilandak, sang surya sudah tinggi. Ibu harus pergi dulu. Apakah kau akan tetap di sini sampai Ibu kembali?"
"Kalau Ibu tak mau ditemani aku ingin pergi mencari Bidadari Angin Timur. Aku tak bisa menunggu sampai hari yang disebut Satu Suro itu."
"Kalau begitu, baiknya kita berangkat sekarang saja. Di kaki bukit kita berpisah." Ibu dan anak lalu tinggalkan bukit batu. Di kaki bukit batu Jatilandak pergi ke arah timur sedang Luhmintari menuju ke utara. Setelah berjalan seorang diri cukup jauh, Luhmintari merasa ada saputan angin dingin di kuduknya.
"Hemm…mahluk jahil kurang ajar itu muncul lagi. Sekali ini agaknya aku harus menghajarnya. Biar dia tahu rasa!" Di kejauhan Luhmintari melihat ada sebuah bukit. Dia segera lari ke arah bukit. Turut penciumannya serta pendengaran halus tajam yang dimilikinya dia tahu kalau mahluk tadi masih terus mengikuti. Begitu sampai di puncak bukit, Luhmintari hentikan langkah bertolak pinggang lalu keluarkan ucapan keras.
"Banyak mahluk dan manusia pengecut di muka bumi ini! Tapi terus-terusan menjadi pengecut adalah hal memalukan! Mengapa kau tidak berani unjukkan diri! Apa maumu sebenarnya?!" Ucapan keras Luhmintari disambut oleh suara gelak tawa perempuan.
"Mahluk bernama Luhmintari yang konon kini bernama Purnama! Hik… hik! Kau tidak layak melihat ujudku!" Ibu Jatilandak ini terkesiap. Dalam hati dia berkata. "Hanya orang-orang Latanahsilam yang tahu nama asliku! Semakin kuat keyakinanku kalau mahluk jahil ini benar-benar berasal dari Latanahsilam!"
"Sombong sekali! Atau memang benar-benar pengecut!" "Kau boleh memaki dari pagi sampai malam! Aku tidak akan melayani permintaanmu!"
"Dasar pengecut! Mengapa aku tidak layak melihat ujudmu?! Takut ketahuan siapa diri buruk dan busuk" Luhmintari mengejek.
"Hik … hik! Karena aku masih perawan gadis asli. Sedang kau perempuan yang pernah kawin dan melahirkan! Kau hanya gadis jejadian!"
Paras cantik Luhmintari alias Purnama bersemu merah.
"Mahluk pengecut! Ujudmu pasti buruk! Aku masih tetap seorang gadis walau sudah menikah! Itu hukum dan kenyataan di Latanahsilam! Kau sendiri apa pernah menikah? Tampangmu pasti buruk. Buktinya tidak ada pemuda di Latanahsilam yang suka padamu! Kau boleh sombong dengan kegadisanmu. Tapi kau lupa kau bukan lain hanya seorang perawan tua! Aku tahu sekarang! Kau terpesat ke negeri ini karena ingin mencari laki! Tapi tidak ada yang mau! Itu sebabnya kau jadi gadis gatal, dengki menggangguku!"
Sambil bicara Luhmintari kerahkan hawa sakti ke mata serta perdayakan ilmu Nafas Sepanjang Badan. Dia berusaha untuk melihat siapa adanya mahluk dihadapannya itu. Namun dia hanya melihat bayangan sangat samar. Seorang perempuan berpakaian putih, berambut panjang hitam tergerai lepas.
Terdengar suara orang meludah lalu teriakan marah. Mahluk samar goyangkan kepala.
"Wuttt!”
Rambut hitam melesat, memapas tak ubah seganas pedang tajam.
Luhmintari cepat melompat mundur. Pohon kecil di sampingnya terbabat buntung dan kepulkan asap.
"Mahluk jahat pengecut! Bukan kau saja yang bisa menyerang!" teriak Luhmintari lalu goyangkan dua bahunya. Saat itu juga dari tubuhnya memancar keluar cahaya biru bergemerlap. Mahluk samar merasa ada satu kekuatan dahsyat menerjang ke arahnya. Dia coba bortahan sambil dorongkan dua tangan.
"Bumm! Bummm!"
Dua ledakan dahsyat menggelegar di puncak bukit. Mahluk samar menjerit keras, Sosok gaibnya terpental ke bawah bukit namun secepat kilat dia melesat kembali ke arah lawan. Luhmintari sendiri saat itu jatuh berlutut di tanah, wajah seputih kertas dan rambutnya yang tadi tergulung kini terlepas panjang menjela pinggang.
"Luhmintari! Perempuan tolol pemimpi di siang bolong! Tidak tahu ;malu! Kau tidak akan pernah mandapatkan pemuda itu! Kau tak akan pernah kawin untuk kedua kali! Yang menjadi nasibmu adalah kematian untuk kedua kali! Terima ajalmu!"
Dua kilatan cahaya pulih berkiblat di puncik bukit. Bersamaan dengan itu terdengar suara menggelegar. Langit laksana mau runtuh, bukit seperti hendak terbongkar. Luhmintari berteriak lantang. Cahaya biru bergulung keluar dari tubuhnya menyambut hantaman dua kilatan cahaya putih. Untuk beberapa lama di puncak bukit itu terlihat satu pemandangan luar biasa. Gulungan cahaya biru saling dorong­mendorong dengan dua cahaya putih. Nyala api memercik mengerikan. Dua kaki Luhmintari bergetar dan perlahan-lahan terdorong ke belakang. Gadis dari Latanahsilam ini lipat gandakan tenaga dalam. Namun hekkk! Darah menyembur dari mulutnya.
Mahluk samar tertawa panjang.
"Luhmintari! Kematianmu sudah di depan mata!"
Dua larik cahaya putih memancar terang sementara cahaya biru yang keluar dari tubuh Luhmintari berubah redup. Sesaat lagi tubuh Luhmintari akan terpental hancur luluh tiba-tiba berkelebat seorang berpakaian putih, mengenakan caping bambu. Luhmintari kemudian mendengar suara seseorang berkata. Di saat yang sama dia merasa ada dua telapak tangan hangat menempel di punggungnya.
"Purnama, kerahkan tenagamu. Kita serang bersama-sama!"
"Wiro!" ucap Luhmintari alias Purnama. Mengenali suara itu, Luhmintari seolah mendapat satu kekuatan luar biasa. Begitu dia merasa ada hawa hangat memasuki tubuhnya lewat punggung yang menandakan ada aliran tenaga dalam luar biasa hebat membantunya, gadis dari negeri 1200 tahun silam Ini goyangkan bahu lalu pukulkan dua tangan. Satu mengarah lurus ke depan, satunya ke udara.
"Blaar! Blaaar!"
Bukit laksana dihantam halilintar. Daun-daun pepohonan meranggas gugur dan jatuh ke tanah dalam keadaan hangus kehitaman. Belasan lobang tampak terkuak di tanah bukit. Di udara yang mendadak redup terdengar jeritan perempuan. Lalu kutuk serapah. "Luhmintari! Kau tak akan pemah bisa mengalahkanku! Aku akan selalu menghantuimu kemana kau pergi! Kau tak akan pernah mendapatkan pemuda itu! Tidaakkkk!”
Luhmintari balikkan tubuh. Si cantik ini tenggelam dalam pelukan hangat Pendekar 212 Wiro Sableng. Darah yang mengucur di bibirnya membasahi baju putih sang pendekar. Dia batuk-batuk beberapa kali. Suaranya agak tersendat ketika menyebut nama pemuda itu.
"Wiro. Kau mengenakan caping…."
Wiro mendudukkan gadis itu di tanah sementara udara perlahan mulai cerah. Setelah menyeka darah di dagu Purnama Wiro membuka caping lalu bertanya. “Apa yang terjadi? Aku lihat kau berkelahi seperti orang kesurupan. Aku tidak melihat lawanmu. Aku coba melihat dengan ilmu menembus pandang. Tapi tidak berhasil. Tadi aku hanya sempat mendengar teriakannya."
"Wiro, aku juga tidak tahu pasti siapa mahluk itu. Dia sejak lama mengikuti diriku tapi tak pernah berani unjukkan diri…" "Pasti mahluk dari alam gaib." "Ya, dari Latanahsilam," kata Luhmintari. "Kau tidak bisa mengenali?"
"Sulit. Terlalu samar. Tadi aku sempat melihat bayangan sosok seorang perempuan pakaian putih berambut hitam panjang."
"Kau kenal Bunga?" tanya Wiro.
"Aku pernah melihatnya. Tapi aku yakin bukan dia mahluknya. Karena tadi setelah kita hantam bersama ujudnya sempat kulihat sekilas berubah seperti sosok seorang nenek tua. Tapi sangat samar. Tak bisa kukenali. Wiro, aku senang kau datang. Aku bahagia kau mau menolong. Wiro, bajumu kotor oleh darahku…"
Pendekar 212 tersenyum. Merangkul hangat Luhmintari lalu bertanya. "Mahluk itu tadi keluarkan ucapan bahwa kau tidak akan pernah mendapatkan pemuda itu. Pemuda siapa maksudnya?"
Purnama surukkan wajah cantiknya di dada Pendekar Wiro Sableng. Dia hanya bisa menggeleng perlahan. Namun dalam hati dia bekata. "Kau tahu siapa adanya pemuda itu Wiro. Kau tahu. Aku tengah memeluknya erat-erat saat ini…."
"Purnama, mahluk tadi mungkin memendam satu kemarahan. Mungkin kau mengasihi seorang pemuda yang juga dikasihinya. Dan dia merasa kau telah merebut kekasihnya itu."
Purnama terdiam. Namun hatinya tak tahan lagi. Sudah saatnya dia harus berterus terang.
"Wiro, memang itu agaknya yang kejadian. Kau tahu, kaulah pemuda yang jadi rebutan itu! Apakah selama ini kau tidak menyadari kalau aku….”
Purnama tidak sanggup meneruskan ucapannya. Desah tangis memutus kata-katanya. Murid Sinto Gendeng sendiri saat itu masih merangkul tubuh Purnama dengan tangan kanan sementara tangan kiri menggaruk kepala.
"Purnama," bisik Pendekar 212. "Kita baru beberapa kali bertemu. Bagaimana mungkin…. Ah, aku mengerti. Kau telah beberapa kali menolongku, menyelamatkan jiwaku."
"Barusan kau telah melakukan hal yang sama," kata Purnama pula.
Wiro belai rambut panjang hitam dan harum si gadis. Lalu berkata. "Purnama, kau masih ingat paderi Cina bernama Nionio Nikouw itu?"
Purnama angkat kepalanya dari dada Wiro, menatap wajah si pemuda sejurus. "Ada apa dengan paderi itu?"
Wiro melihat ada bayangan rasa cemburu di wajah cantik jelita itu. Sambil memegang dagu Purnama ini dia berkata. "Paderi itu membekal sebilah pedang bernama Ang Liong Kiam atau Pedang Naga Merah. Aku mendapat tugas dari guruku Eyang Sinto Gendeng untuk mengambil senjata mustika itu…"
"Mengapa?"
"Pedang itu sebenarnya bukan milik Nionio Nikouw. Tapi milik para sepuh alam gaib rimba persilatan tanah Jawa."
"Aku tidak mengerti."
Wiro lalu menceritakan riwayat Pedang Naga Merah yang oleh Naga Geni dan Naga Suci diberi nama Putera Langit
"Kisah luar biasa…" kata Purnama begitu Wiro mengakhiri penuturannya. "Rasanya tidak akan mudah bagimu untuk mendapatkan pedang itu. Paderi itu tidak akan menyerahkan pedang begitu saja. Pedang itu sama dengan nyawanya."
"Aku tahu kesulitan itu. Tapi aku menerima tugas Eyang Sinto yang harus dilaksanakan. Apapun yang terjadi."
"Tugasmu bertambah berat. Karena bukankah sampai saat ini belum ketahuan dimana beradanya Kitab Seribu Pengobatan? Belum diketahui siapa pencurinya"
Pendekar 212 garuk-garuk kepala. "Kepalaku cuma satu, tangan hanya dua. Bagaimana aku harus melaksanakan semua ini?"
Purnama tersenyum. "Kepalamu memang satu, tangan cuma dua. Tapi otakmu ada seribu. Kau punya banyak akal."
Wiro tertawa gelak-gelak lalu memegang bahu Purnama dan berbisik. "Kau mau ikut mencari paderi Cina itu?”
Wajah Purnama berseri-seri.
"Wiro aku pernah bilang selama kau tidak menolak aku akan pergi kemana kau pergi. Lagi pula lenyapnya Kitab Seribu Pengobatan itu sebagian adalah tanggung jawab kelalaianku. Kau tahu dimana mencari paderi itu?"
"Dia pernah bercerita tentang seorang sahabat di masa kecil. Tinggal di Semarang. Cerita itu juga aku dengar dari Eyang Sinto. Sahabat kecil yang sekarang tentunya sudah jadi pemuda itu bernama Bayumurti, salah seorang dari empat Kepala Pengawal Kerajaan Timur.”
"Kalau begitu kita pergi ke Semarang."
"Tidak perlu. Aku mendengar kabar Bayumurti telah diangkat menjadi Adipati Brebes, mengganti Karta Suminta.”
"Berarti kita menyelidik ke Brebes." Kata Purnama pula. Wiro mengangguk.
Tiba-tiba di lereng bukit sebelah timur ada kilatan cahaya merah. Mula-mula hanya berupa titik, kemudian melesat ke arah mereka makin besar dan makin besar.
"Wusss!"
Wiro cepat menarik pinggang Purnama. Keduanya jatuhkan diri di tanah lalu bergulingan ke arah lereng bukit sebelah barat.
"Bummm!”
Puncak bukit laksana ditebas pedang raksasa. Bagian atas gundul berhamburan ke udara. Wiro dan Purnama sama lepaskan nafas lega. Keduanya bersihkan tanah yang mengotori tubuh dan pakaian.
"Pasti mahluk perempuan kurang ajar itu!" kata Purnama, "Dia tak berani mendekat. Mengirimkan serangan dari jauh! Pengecut!"
“Kita harus berhati-hati. Kita berdua jadi incarannya,” kata Wiro pula lalu meletakkan caping di kepalanya.
"Baru sekali ini aku lihat kau memakai caping. Takut kepanasan?"
"Adipati Losari membuat selebaran. Menangkap diriku hidup atau mati. Imbalannya lima ringgit
emas. Aku terpaksa harus menutupi sebagian wajah jelekku," jawab Wiro pula.
"Wiro, kau ingin aku bersamamu seperti ujudku saat ini. Atau sembunyi kembali di alam gaib?" tanya Purnama.
"Hemmm. aku rasa aku lebih suka melihat wajahmu.”
"Begitu?"
Wiro mengangguk.
"Dess!" saat itu juga ujud Purnama berubah. Tubuhnya lenyap. Yang kelihatan hanya bagian kepala, melayang di samping Wiro.
"Purnama, apa-apaan ini?!"
Wajah jelita itu tertawa. "Tadi kau bilang lebih suka melihat wajahku! Nah sesuai ucapanmu tubuhku mulai dari leher sampai ke kaki aku sembunyikan."
Wiro tertawa gelak-gelak. Dicubitnya pipi merah Purnama hingga gadis ini terpekik, "Maksudku aku suka melihat wajah dan tubuhmu yang utuh. Kalau sepotong-sepotong seperti ini orang yang melihat bisa heboh!”
Purnama tertawa lagi.
"Dess!"
Tubuhnya kembali utuh mulai dari kepala sampai ke kaki.
"Nah, begini?" tanya Purnama sambil berdiri bertolak pinggang dan membalikkan tubuh beberapa kali.
Wiro tersenyum. "Ya, seperti itu. Tapi tunggu. Harus aku periksa dulu. Jangan-jangan tubuhmu hanya angin melompong!" Wiro lalu ulurkan dua tangan memegang kepala, turun memegang pipi. "Tidak, kepalamu bukan angin….” Dua tangan Wiro turun lagi ke bawah, memegang pundak. Ketika dua tangan itu turun hendak meraba dada, padahal Wiro Cuma pura-pura, Purnama langasung mencubit perut Pendekar 212 hingga pemuda ini melintir terbungkuk kesakitan. Purnama tertawa gelak-gelak lalu tarik tangan Wiro.

***

9

BAYUMURTI, Adipati Brebes pengganti Karta Suminta yang baru saja mengadakan perjalanan jauh, memasuki gedung Kadipaten dengan sekujur badan teasa letih. Di ruang tengah gedung dia membasahi muka dengan air pancuran kecil di samping kolam yang baru dibuat. Sambil mengeringkan wajahnya dengan sehelai sapu tangan Bayumurti masuk ke dalam kamar, langsung merebahkan diri di atas ranjang.
“Raden, apakah saya boleh menyalakan lampu minyak dalam kamar?” tanya seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu.
“Tidak usah. Tutup saja pintunya. Sisakan sedikit celah agar cahaya dari luar masuk.”
Pelayan melakukan apa yang dikatakan Bayumurti lalu pergi.
Hampir-hampir tertidur, tiba-tiba Adipati ini menyadari bahwa dia tidak sendirian di dalam kamar itu. Cepat Bayumurti bergerak bangun. Memandang seputar kamar. Ternyata benar! Di salah satu sudut ruangan yakni di ujung kiri ranjang ada sebuah kursi kayu. Di atas kursi duduk seorang yang meskipun gelap masih dapat dikenali bahwa dia adalah perempuan. Apalagi ada aroma bau wewangian keluar dari tubuh dan pakaiannya.
“Siapa?!”
Bayumurti bertanya. Suaranya datar tanda dia dapat menguasai diri dalam keterkejutan. Namun tangannya langsung mencekal gagang sebilah keris yang terselip di pinggang.
“Nyalakan lampu. Kau akan melihat siapa diriku.” Perempuan di atas kursi menjawab. Suaranya halus dan merdu.
Bayumurti segera menyalakan sebuah lampu minyak yang terletak di atas meja batu pualam di dinding kiri kamar. Begitu keadaan menjadi terang Bayumurti melihat yang duduk di atas kursi adalah seorang perempuan mengenakan pakaian biru, rambut hitam dilepas bagus namun wajahnya tertutup sehelai kain biru. Di pangkuannya melintang sebilah pedang bersarung perak berlapis emas.
“Luar biasa! Seorang perempuan bercadar mampu masuk ke dalam gedung Kadipaten, menembus kamar tidurku tanpa seorang penjagapun mengetahui!”
Perempuan yang duduk di kursi tertawa perlahan.
“Kau tak mengenali diriku. Kau tidak mengenali suaraku. Tidak heran. Berapa tahun kita tak pernah bertemu? Lebih dari dua belas tahun.”
“Tunggu, sebelum kau meneruskan bicara, harap buka cadar biru penutup wajahmu. Aku harus tahu dulu siapa kau!”
“Bayumurti, apa kau tidak ingin melakukannya sendiri? Seperti sewaktu kita masih kecil, bermain bersama teman-teman. Kau jadi penjahat, aku jadi puteri culikan…"
Adipati Brebes itu tertegun seketika. Lalu dia melangkah mendekat perampuan itu. Tangan kiri melepas cadar biru sementara tangan kanan masih tetap memegang huluk keris di pinggang.
Bayumurti melihat satu wajah cantik sekali, berkulit putih, bermata bening bagus, hidung kecil mancung, bibir merah menyeruak senyum.
"Kau bisa mengingat siapa aku sekarang?"
Bayumurti letakkan kain biru penutup wajah di tepi tempat tidur. Dia coba mengingat-ingat tapi tidak berhasil. Lalu dia gelengkan kepala.
"Dua belas tahun silam. Kau memberikan sebuah kenang-kenangan padaku. Sebuah pedang kecil. Menyerupai mainan. Panjang sejengkal. Kau ingat sekarang?"
Sepasang alis mata tebal Bayumurti naik ke atas. Dua mata menatap tak berkesip. Tiba-tiba mulutnya berseru.
"Loan Nio! Sulit aku percaya kalau ini benar-benar kau!"
Bayumurti melangkah maju. Dua tangan diulurkan hendak memeluk tapi tak jadi. Dua tangan ditarik kembali. Perempuan cantik di atas kursi letakkan pedang di meja di samping kursi lalu berdiri. Kini dia justru yang ulurkan tangan merangkul lelaki muda itu. Pelukannya erat hangat dan lama. Darah Bayumurti jadi bergelora. Dia membalas pelukan itu lebih kencang dan lebih hangat.
"Dua belas tahun berpisah, aku tidak pernah melupakanmu," bisik si cantik yang bukan lain adalah Kiang Loan Nikouw, paderi perempuan dari Tionggoan. Tampaknya dia tidak akan cepat-cepat melepaskan pelukannya.
"Loan Nio, aku juga selalu ingat dirimu. Namun sejak kau pergi sama sekali tidak ada kabar. Tahu­tahu saat ini kau muncul seolah bidadari yang turun dari langit Ah, kau memang bidadari. Sejak kecil dulu aku sering memanggilmu bidadari. Ingat?"
Loan Nio tersenyum, anggukkan kepala berulang kali.
"Bagaimana ceritanya kau tiba-tiba muncul dan tahu aku di sini?"
"Aku akan cerita. Mengenai dirimu, kabar seperti angin. Menebar cepat. Ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di Losari, aku menyelidik dan tahu kalau kau telah menjadi seorang Kepala Pasukan di Kerajaan Timur. Kemudian aku menyirap kabar baru bahwa kau telah diangkat menjadi Adipati di kota ini, menggantikan Adipati lama yang tewas dibunuh." Perlahan-lahan Loan Nio lepaskan pelukannya. "Ada satu hal yang perlu aku beri tahu. Kau mungkin tidak percaya."
Loan Nio melangkah ke meja kecil untuk mengambil pedang. Senjata ini dicabut dari sarung hingga kamar itu menjadi terang oleh kilauan cahaya merah.
"Senjata luar biasa!" ucap Bayumurti kagum.
"Pedang ini adalah pedang kecil yang dulu kau berikan padaku sebagai hadiah. Waktu aku dan orang tuaku kembali ke Tiongkok.”
"Apa… ?" Tentu saja Bayumurti tidak bisa percaya.
"Kau tidak percaya, aku juga tidak akan percaya kalau tidak melihat sendiri kenyataannya. Setelah bertahun-tahun di tanganku, pedang ini berubah besar dan panjang serta memiliki kesaktian luar biasa. Aku sendiri terkejut setengah mati. Aku tak berani menceritakan pada orang tuaku. Tidak pada siapapun. Juga tidak pada suhuku di Perguruan Siauwlim.”
"Ah, kau telah menjadi seorang pendekar kangouw rupanya!" (kangouw = rimba persilatan Tiongkok)
"Bayu, pedang itu bukan senjata sembarangan. Mungkin tidak ada duanya di dunia ini. Karena gagangnya berbentuk kepala naga dan badan pedang memancarkan cahaya merah, aku memberinya nama Pedang Naga Merah atau Ang Liong Kiam." "Aku merasa bersyukur telah menemukan dan memberikannya padamu." Kata Bayumurti pula.
"Seumur hidup tidak akan putusnya aku merasa berterima kasih padamu," jawab Loan Nio Nikouw.
"Loan Nio, apakah kau datang ke sini bersama orang tuamu?" Paderi perempuan itu sarungkan kembali pedang sakti.
"Aku datang sendiri. Membekal tugas dari Wakil Ketua Perguruan." Loan No diam sebentar seperti berpikir. Lalu dia berkata. "Bayu, kau harus tahu kalau aku sekarang sudah menjadi seorang paderi."
“Paderi?” Loan Nio Nikouw mengangguk lalu gerakkan tangannya ke kepala, menarik lepas rambutnya yang hitam panjang yang ternyata rambut palsu, menyibak kepalanya yang botak. Bayumurti terdiam sesaat. Ketika Loan Nio hendak mengenakan rambut palsunya kembali Adipati ini mencegah.
"Jangan, aku suka melihatmu tanpa rambut itu. Kau cantik sekali Loan Nio. Ah…"
"Kau senang diriku tanpa rambut?" tanya sang paderi. Bayumurti mengangguk. Loan Nio tertawa.
"Loan Nio, kau tidak rikuh kita berdua-dua dalam kamar ini? Apa lagi sekarang kau telah menjadi seorang paderi?" Paderi perempuan itu gelengkan kepala. Malah dia kemudian tutupkan pintu kamar yang masih sedikit terbuka dan menguncinya sekaligus.
"Aku rindu padamu. Malam ini aku akan tidur di sini sampai menjelang pagi. Boleh?" Bayumurti kembali dibuat terkejut mendengar ucapan itu hingga dia tidak bisa menjawab. Loan Nio Nikouw duduk ke kursi.
"Bayu, selain menemuimu karena rindu, aku juga butuh bantuanmu. Semoga kau bisa menolong."
"Apapun permintaanmu aku pasti akan berusaha membantu. Ada apa Loan Nio?"
"Aku ditugaskan mencari sepasang benda yaitu dua buah dadu yang disebut sebagai dadu setan."
"Aku pernah mendengar tentang dua buah dadu itu. Kabarnya keberadaan dua dadu itu di tanah Jawa telah menyebabkan banyak orang menemui ajal. Malah ada kabar mengatakan bahwa kematian Adipati Brebes Karta Suminta ada sangkut pautnya dengan benda itu. Beberapa tokoh rimba persilatan terlibat. Termasuk Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng. Dia dituduh sebagai pembunuh Karta Suminta. Selebarannya sebagai orang buronan ada dimana-mana."
Disebutnya nama Wiro membuat Loan Nio Nikouw terdiam. Menurut Liok Ong Cun, pendekar itu telah merusak kehormatannya di goa. Dan yang sangat merisaukan hatinya seharusnya dia sudah datang bulan beberapa hari lalu. Namun sampai hari itu hal itu tidak terjadi. Selain itu perutnya kerap kali terasa mual. Tanda-tanda yang menakutkan. Kalau dia sampai hamil, berarti celaka besar menghadang dirinya.
"Bayu, aku ingin bercerita lebih banyak. Namun tubuhku terasa letih. Bolehkah aku beristirahat dan tidur di ranjang itu untuk beberapa ketika?" "Silahkan, jika kau mau. Aku akan keluar sambil berjaga-jaga." "Tidak, tetap saja di sini. Aku ingin tidur dalam pelukanmu."
Jantung Bayumurti jadi berdebar. Darahnya memanas.
"Bayu, ingat waktu kau mencium aku pertama kali…? Aku tidak pernah melupakan hal itu."
"Itu terjadi waktu kita main-mainan di masa kecil. Waktu itu permainan kita kau jadi anak, aku jadi ayah.” jawab Bayumurti. Diam-diam walau hasratnya menggelora namun ada kegelisahan muncul di hati Adipati Brebes yang baru ini. "Loan Nio, kau tidurlah. Aku keluar sebentar…"
"Tidak, jangan tinggalkan aku Bayu…" Loan Nio pegang tangan lelaki muda itu kencang sekali. "Kemarilah…"
Bayumurti tetap berdiri di tempatnya. "Apa yang terjadi dengan gadis ini? Dia muncul secara tiba­tiba. Bicara tentang dadu setan. Lalu sikapnya yang sangat berani. Aku tahu di masa kanak-kanak dulu dia sangat suka dan sayang padaku. Tapi kini aku dan dia sudah sama-sama dewasa. Harus ada batasan. Aku khawatir…."
"Bayu, aku kedinginan…."
"Aku akan mengambilkan selimut untukmu."
"Aku tidak butuh selimut. Aku butuh dirimu. Peluk aku Bayu. Hanya tubuhmu yang bisa memberi kehangatan pada diriku. Aku menyukaimu sejak masa kanak-kanak dulu. Apakah kau tidak menyukaiku." Loan Nio Nikouw tarik tangan Bayumurti. Kali ini lebih kuat hingga keduanya jatuh tergolek di atas ranjang.
"Loan Nio, suka di masa kanak-kanak tidak bisa disamakan dengan suka di masa dewasa."
"Aku tidak ingin mendengar ucapan seperti itu," kata Loan Nio Nikouw pula sambil dua kakinya disilang merangkul pinggang Bayumurti.
Sampai di sini, walau nafsu mulai membakar namun rasa takut lebih kuat berkecamuk. Bayumurti lepaskan dirinya dari pelukan tangan dan rangkulan kaki Loan Nio Nikouw.
"Loan Nio, ada sesuatu dalam dirimu. Mungkin semua yang kau lakukan dan kau ucapkan terjadi diluar sadarmu."
Paderi perempuan itu tertawa.
"Bayu, dengar baik-baik. Aku suka padamu. Jika kau tidak suka padaku, buruk sekali nasib diriku."
"Aku juga suka padamu, Loan Nio. Tapi bukan berarti kita bisa berbuat kehendak hati kita."
"Bayu, aku ingin malam ini milik kita berdua."
"Loan Nio, maafkan aku…"
"Kau menolak. Berarti aku harus membunuh manusia satu itu!"
Loan Nio bangkit dan turun dari atas ranjang.
"Kau hendak membunuh siapa, Loan Nio? Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Bayumurti heran. "Sikap dan tutur bicaramu aneh."
"Dari kecil aku memang aneh! Apa kau baru tahu sekarang?" jawab Loan Nio sambil tersenyum. Dia melangkah ke jendela. Membuka daun jendela lalu sekali melompat tubuhnya melesat keluar kamar, lenyap di kegelapan halaman samping gedung Kadipaten.
Bayumurti tidak berusaha mengejar. Dia hanya berdiri di belakang jendela memperhatikan kepergian Loan Nio Nikouw sambil hati masih bertanya-tanya. "Ada apa dengan gadis itu. Aku merasa ada suatu maksud yang coba disembunyikannya di balik semua sifat dan sikapnya tadi. Atau mungkin ada seseorang mengirimnya untuk menghancurkan diri dan kedudukanku?"

***

10

DALAM perjalanan ke arah timur Wiro dan Purnama melewati kawasan bukit dan jurang batu yang cukup terjal. Kusir gerobak yang mereka sewa tidak berani memacu dua kuda penarik gerobak terlalu cepat. Hampir setengah harian berada di kawasan itu akhirnya mereka memasuki satu jalan menurun ditumbuhi banyak pohon kelapa. Pemandangan di bawah sana indah sekali. Di sebelah barat tampak laut luas kehijauan.
"Aku haus." Kata Pendekar 212 lalu minta kusir gerobak berhenti dekat sebatang pohon kelapa yang banyak buahnya dan masih muda-muda. Wiro tepuk bahu kusir gerobak sedang tangannya yang lain menunjuk ke arah buah kelapa.
"Raden, kalau Raden menyuruh saya mengambil buah kelapa, maaf saja. Saya tidak bisa memanjat." Kata kusir gerobak pula, seorang lelaki berusia setengah abad.
"Kalau begitu aku pinjam golokmu," kata Wiro.
Kusir gerobak loloskan golok dari sarung yang terselip di pinggang, serahkan pada Wiro. Setelah mengusap badan golok beberapa kali, Wiro lemparkan senjata itu ke atas, ke arah pohon kelapa yang banyak buahnya.
"Crass!"
Golok menabas. Tiga buah kelapa melayang jatuh. Golok berputar di udara. Wiro gerakkan tangan. Golok melesat turun dan sesaat kemudian sudah berada dalam genggaman tangan kirinya. Wiro serahkan golok pada kusir gerobak. "Tolong dikupas kelapanya. Selesai minum kita lanjutkan perjalanan."
Setelah puas meneguk air kelapa rombongan siap melanjutkan perjalanan. Namun mendadak dua kuda penarik gerobak meringkik keras dan angkat dua kaki depan ke atas, membuat gerobak hampir saja terguling.
Bersamaan dengan itu terdengar suara orang berkata. “Tenang … tenang. Kuda penarik gerobak! Tidak perlu takut! Kalian ‘kan tidak mencuri kelapaku!"
Dua kuda mendadak jadi jinak lalu turunkan kaki masing-masing.
Wiro memberi isyarat pada Purnama. "Ada orang aneh menghadang gerobak," bisik Wiro. Lalu dia tarik lengan si gadis dan sama-sama melompat turun dari gerobak.
Di tengah jalan saat itu ada seorang kakek bertubuh tinggi, kurus kerempeng, berpakaian rombeng compang-camping. Di dadanya tergantung sebuah kantong kain yang sudah lusuh. Dua tangan terkulai panjang di samping melewati lutut. Kepala di sebelah atas tengah botak plontos sedang di samping rambut putih menjulai panjang sampai ke bahu. Sepasang mata tampak sipit, nyaris tertutup. Di leher tergantung empat buah batok kelapa. Melihat Wiro dan Purnama, kakek ini menyeringai.
"Hati-hati Wiro," bisik Purnama. "Kakek ini kelihatannya bukan orang sembarangan.”
"Kalian berdua, habis menenggak air kelapa milikku lantas mau pergi begitu saja. Enak betul!"
Wiro dan Purnama saling pandang. Wiro lalu keduanya buru-buru membungkuk. Wiro berkata. "Mohon maafmu, orang tua. Kami kebetulan lewat dan kebetulan haus. Melihat banyak kelapa…."
"Semua serba kebetulan katamu! Ha…ha…hal! Tetap saja kalian aku namakan pencuri!”
"Sekali lagi mohon maafmu, Kek. Kami bersedia membayar tiga buah kelapa yang airnya sudah kami minum,” kata Wiro pula.
"Begitu? Ha.. ha… ha! Kalian punya banyak duit rupanya! Baik, kalian mau bayar berapa?” bertanya kakek kurus kerempeng.
Dari salah satu kantong pakaiannya Wiro keluarkan sekeping uang logam bolong terbuat dari tembaga laki disodorkan pada si kakek. Si kakek mengambil uang itu, membolak-baliknya beberapa kali lalu tertawa gelak-gelak. Waktu ketawa kelihatan gusinya atas bawah yang tidak bergigi lagi.
“Uang butut untuk tiga buah kelapa! Sungguh tidak pantas!” Lalu enak saja orang tua tinggi kerempeng ini masukkan uang tembaga bolong ke dalam mulut. Dan krek… krek… krek, terdengar suara mulutnya mengunyah uang logam itu. Padahal dia sama sekali tidak punya gigi barang sepotongpun!
Kusir gerobak ternganga Wiro dan Purnama walau terkesiap namun kini tambah berlaku waspada. Kakek aneh berkepandaian tinggi ini bisa saja punya niat jahat dan melakukan sesuatu secara mendadak.
"Kek,” Purnama berkata. “Dengan uang itu sebetulnya kami bisa membeli sepuluh pohon kelapa, bukan cuma tiga buah kelapa. Harap kau sudi menerima."
Si kakek perhatikan Purnama. Matanya yang tadi sipit tiba-tiba membuka besar sekali. Lalu dia kembali tertawa.
"Aku tidak mau bicara dengan gadis cantik!” katanya. "Perempuan cantik hanya mengacaukan jalan pikiran. Urusan bisa-bisa jadi ngawur dan tidak selesai! Aku hanya mau bicara sama pemuda ini. Gondrong! Kelapaku bukan kelapa sembarangan. Aku menyebutnya Kelapa Dewa. Jadi jangan kurang ajar membayar murah!”
"Lalu kau minta bayaran berapa Kek?" Wiro mengalah sambil mengeruk lagi saku pakaiannya padahal Purnama memberi isyarat untuk mencegah.
Sambil usap-usap kepalanya yang botak si kakek enak saja berkata. "Aku minta bayaran lima ringgit emas!" Wiro dan Purnama, juga kusir gerobak sama-sama terkesiap kaget.
"Kenapa kalian diam? Bilang saja mau bayar atau tidak?!"
"Kek, tentu saja kami mau bayar. Tapi jumlah yang kau minta tidak masuk akal. Lagi pula kami tidak punya uang sebanyak itu!”
Si kakek menyeringai. Kembali memperlihatkan gusinya yang tak bergigi.
"Uang yang aku minta sama dengan harga kepalamu! Bukan begitu? Aku tidak mengambil kepalamu dan menyerahkannya pada Adipati Losari. Nah apa tidak adil kalau sekarang kau memberi aku lima ringgit emas?!”
Wiro terkejut. Jadi berita selebaran yang dibuat Adipati Losari Seda Wiralaga rupanya sudah sampai di telinga kakek aneh ini.
"Kalau tak mampu bayar ya sudah. Urusan bisa saja dibikin sederhana.” Kakek kurus kerempeng lepas tiga dari empat batok kelapa yang tergantung dilehemya lalu dilempar ke tanah. "Pulangkan air kelapaku! Kalian bertiga kencing di batok itu!"
Wiro melengak terkejut. Lalu tertawa gelak-gelak. Sambil membuat gerakan hendak menurunkan celananya dia berkata. "Aku dan kusir gerobak ini bisa saja kencing di batok itu. Tapi sahabatku gadis ini mana mungkin melakukan hal itu."
"Mungkin atau tidak aku tidak perduli. Bagaimana caranya dia mau kencing, itu urusannya. Aku juga tak bakal ngintip. Apa selama ini dia tidak pernah kencing. Ha …ha… ha!"
Purnama jadi marah. "Orang tua! Lama-lama kau jadi tambah kurang ajar. Baik aku akan kencing di batok itu. Tapi nanti kau harus minum air kencingku sampai habis! Bagaimana caranya kau mau minum, pakai mulut, hidung atau dengkulmu itu urusanmu!"
Si kakek menatap terkesiap lalu tertawa bergelak.
"Gadis cantik, silahkan kau ambil salah satu dari tiga batok kelapa itu!"
Tidak tunggu lebih lama Purnama segera melompat mengambil batok kelapa di sebelah tengah. Tapi begitu tangannya menyentuh, dia tidak sanggup mengambil batok kelapa itu. Batok seperti menempel ke tanah. Memperhatikan hal itu Wiro segera mendekat si kakek, membungkuk memberi penghormatan lalu berkata.
"Orang tua, kami berterima kasih atas pelajaran yang kau berikan. Ini membuat kami harus berhati­hati dalam melakukan setiap perbuatan. Kami mohon maafmu. Sekarang kami mohon izin untuk meneruskan perjalanan."
"Cek… cek… cek… cek!" Si kakek keluarkan suara berdecak. "Enak sekali. Kelapaku dijarah. Diminta bayar tidak sanggup. Disuruh kencing juga tidak mau. Sudah, aku memberi keringanan pada kalian. Salah satu dari kalian harus tinggal di sini untuk jadi kacungku!" Si kakek memperhatikan satu persatu ke tiga orang itu. Mulai dari Wiro, lalu kusir gerobak, akhirnya Purnama. Setelah cukup lama dia memperhatikan si gadis maka dia berkata. "Aku pilih kusir gerobak itu!"
"Tidak bisa kek! Dia harus ikut bersama kami!" Ucap Wiro.
"Gondrong! Kau harus bersyukur. Aku meminta kusir gerobak. Bukan sahabatmu yang cantik ini!"
"Walau dia cuma kusir gerobak, tapi kami tetap membelanya." Kata Wiro pula.
"Kalau begitu sikap dan langkah kalian, memang pantas aku memberi pelajaran! Kalau mau jadi maling jadi maling besar. Jangan cuma jadi maling kelapa!" Habis keluarkan ucapan si kakek gerakkan tangannya. Tiga batok kelapa melesat ke atas, bertumpuk jadi satu dengan batok yang keempat di atas telapak tangan kiri. Si kakek bersiul keras. Saat itu juga empat batok melayang ke udara, ketika turun si kakek cepat menyambuti. Dan astaga! Ternyata tangan orang tua aneh ini kini telah bertambah, bukan cuma dua, tapi sudah jadi empat! Masing-masing tangan memegang sebuah batok kelapa!
"Gondrong! Kau duluan!" Hardik si kakek. Tubuhnya melesat ke arah Wiro. Empat tangan bergerak cepat. Dari dalam batok kelapa menyambar cahaya masing-masing berwarna merah, biru, hitam dan kuning!
"Empat Batok Menebar Pahala!" Si kakek berseru menyebut jurus serangannya.
Diserang seperti itu Wiro tentu saja tidak tinggal diam. Dia buka caping di atas kepala. Setelah melompat ke belakang menghindari empat sinar yang menyambar dia lepaskan satu pukulan tangan kosong dengan mengandalkan hampir setengah dari kekuatan tenaga dalamnya. "Wuuttt!”
Pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung menderu.
Tubuh si kakek bergoncang keras namun dua kakinya masih menginjak tanah. Malah mulutnya umbar suara tertawa.
"Empat Batok Minta Sedekah!"
Si kakek kurus berpakaian rombeng gerakkan empat tangan. Sinar empat warna lenyap. Namun empat tangan si kakek berubah jadi panjang. Tanpa sama sekali menggeser dua kakinya, empat tangan meng­hantam ke arah Wiro. Dahsyat sekali karena empat bagian tubuh yang sekaligus jadi sasaran serangan!
Murid Sinto Gendeng hadapi serangan lawan dengan jurus Kipas Sakti Terbuka. Dua tangan dikembang ke atas lalu membeset ke samping.
“Bukk! Bukk!”
Dua lengan beradu. Si kakek menggerung kesakitan. Sementara Wiro terpental. Kini dua tangan si kakek yang lain melesat panjang dan plak….plak! Dua batok kelapa menghajar bagian dada serta pundak Wiro, membuat pendekar ini roboh ke tanah tapi cepat melompat bangkit.
Yang membuat Wiro kaget adalah ketika menyaksikan dua buah batok kelapa yang tadi menghantam dirinya kini menempel di bagian dada dan pundak. Sementara itu di empat tangan si kakek tetap terlihat empat buah batok kelapa. Wiro coba tarik dua batok kelapa yang menempel di tubuhnya. Ternyata tidak bisa! Makin dipaksa makin kencang dua batok kelapa itu menempel. Ketika dia kerahkan tenaga dalam untuk menanggalkan, kulit serta daging pundak dan dadanya seolah-olah ikut tertarik. Sakitnya bukan main.
Si kakek tertawa. “Mau lagi?!”
“Sett… plak… plak!"
Dua tangan melesat panjang. Wiro lagi-lagi tak bisa mengelak. Kini ada dua batok kelapa lagi yang menempel. Di perut dan pinggul.
"Ha… ha… ha!" Kakek tinggi kerempeng tertawa bergelak. Empat tangannya melesat tiada henti. Saat itu lebih dari dua puluh batok kelapa telah melekat di kepala, muka, dada serta punggung Pendekar 212.
"Jahanam! Ilmu setan apa ini?!" Teriak Wfro. Dua tangannya sibuk kalang-kabut coba menanggalkan batok-batok kelapa terutama yang menempel di bagian wajah.
"Orang tua! Kalau kau tidak memusnahkan batok kelapa itu jangan menyesal!" Purnama berteriak mengancam.
"Gadis cantik! Kau juga mau batok kelapa? Mau ditaruh dimana? Ayo bilang! Mau di dada kiri kanan biar tambah montok? Ha… ha… ha!"
"Tua bangka kurang ajar!" Wajah Purnama mengelam. Dia lambaikan tangan kanannya ke arah si kakek. Serangkum angin menyapu. Saat itu juga orang tua ini tampak kelojotan lalu sekujur tubuhnya diam, tak bisa bergerak. Mulut ikut gagu hanya mampu mengeluarkan suara uuhh….uuhhh. Dia berusaha mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti untuk membuyarkan kelumpuhan yang melanda dirinya. Tapi tak mampu.
Purnama cepat mendekat Wiro. Dia coba melepaskan salah satu batok kelapa yang menempel di tubuh Wiro. Tapi tidak berhasil. Setelah memperhatikan dan memeriksa sekujur tubuh Wiro, Purnama berkata.
"Wiro, kosongkan pikiranmu. Menatap lurus ke depan. Jangan mengerahkan hawa sakti atau tenaga dalam. Aku akan mencoba. Mudah-mudahan berhasil…" Wiro menggaruk kepalanya yang ditempeli dua batok kelapa. "Kalau tidak berhasil, seumur hidup aku akan jadi manusia batok! Kakek sialan!"
Purnama bentangkan sepuluh jari tangan. Satu persatu setiap ujung jari ditiup. Hingga mengepulkan asap tipis. Lalu tanpa pengerahan tenaga dalam gadis dari negeri 1200 tahun silam ini totok seluruh bagian tubuh Wiro di antara celah-celah belasan batok kelapa. Wiro merasa dirinya laksana digigit ribuan semut hingga dia menggigil menahan sakit. Lalu terjadi keanehan. Sekujur badannya mandi keringat
"Pluk…pluk…pluk…”
Satu persatu batok yang menempel di kepala, muka serta sekujur tubuh Wiro terlepas dan jatuh ke tanah. Begitu menyentuh tanah batok jejadian ini melayang ke arah si kakek lalu lenyap. Di saat bersamaan dua tangan jejadian si kakek ikut sirna, namun keadaannya masih tetap tidak bisa bergerak tidak mampu bersuara.
Wiro dekati si kakek.
"Kek, kau keterlaluan mempermainkan orang."
"Uuhh… uhh… uhhh."
"Sekarang giliranku mempermainkanmu!"
Wiro turunkan tangan kanannya ke bawah lalu ditekapkan ke bagian bawah perut si kakek. Orang tua ini merasa bagian di antara dua pahanya dingin-dingin sejuk. Mata berkedap-kedip. "Uhh…. uhhh… uhhh." "Wiro, apa yang kau lakukan?" Purnama bertanya. Sang pendekar letakkan telunjuk tangan kiri di atas bibir, wajah tersenyum dan mata dikedip. Sesaat kemudian, perlahan-lahan dia bergerak mundur menjauhi kakek tinggi kurus itu lalu melangkah ke arah satu pohon besar. Tangan kanannya yang ditekap seolah memegang sesuatu kini dikembangkan lalu ditempelkan ke batang pohon. Ketika Wiro turunkan tangan Purnama langsung membuang muka. Kusir gerobak terbelalak. Si kakek sendiri seperti mau melompat tanggal sepasang matanya. Bagaimana tidak. Benda yang ditempelkan Wiro di batang pohon itu, dari bentuk serta warnanya jelas adalah anggota rahasia miliknya!
"Uuhhhh…." Si kakek meraung panjang. Purnama tak berani berbalik. Dalam hati dia berkata. "Ilmu Menahan Darah Memindah Jasad. Pasti Wiro mendapatkan dari Hantu Selaksa Angin sewaktu berada di Latanahsilam…."
"Kek, kalau mau kencing, kencing sajal Ha… ha … ha! Mari kuambilkan tampungannyal" Murid Sinto gendeng lalu ambil salah satu batok kelapa di tangan si kakek dan letakkan di bawah pohon sambil tiada henti tertawa.
"Uuhhh….uuuhhhhhh." Si kakek meraung. Dalam hati dia menyumpah habis-habisan.
Waktu itu di atas pohon ada seekor bajing liar warna coklat. Sepasang mata membesar berkedap­kedip. Hidung dan moncong mengendus-endus. Rupanya binatang ini sudah melihat keberadaan anggota rahasia milik si kakek yang menempel di batang pohon. Perlahan-lahan sang bajing merayap turun mendekat.
"Uuuhhh….uuhhhhhh!" Si kakek tak bisa berbuat apa selain mendelik dan keluarkan suara uhhh.. berkepanjangan. Dalam hati dia tak habis pikir dan keluarkan kutuk serapah. Ilmu iblis apa yang dimiliki si gondrong itu hingga bisa memindahkan anggota rahasianya ke batang pohon. Kalau sampai bajing di atas pohon melahap barangnya itu celakalah dia seumur-umur!
Wiro memberi isyarat pada Purnama lalu melompat ke atas gerobak.
"Wiro, orang tua itu. Kau akan meninggalkannya dalam keadaan sebegitu rupa?"
"Kalau kau mau membebaskannya dari kaku dan gagu silahkan. Tapi aku tidak akan mengembalikan perkutut bututnya itu ke tempat semula!" Jawab Wiro sambil senyum-senyum.
Karena kasihan Purnama lambaikan tangan kanan. Serangkum angin menyapu tubuh si kakek. Saat itu juga dia mampu bergerak dan berteriak kalang kabut. Pertama sekali dilakukannya adalah berbalik mem­belakangi orang-orang itu lalu turunkan celana. Dia ingin memastikan bahwa anggota rahasianya benar­benar sudah dipindah ke pohon. Kakek ini terkesiap pucat ketika menyaksikan bagian bawah perutnya kini memang ternyata licin kosong melompong!
"Tunggu! Jangan pergi dulu! Bagaimana ini! Hai!" Si kakek lari mondar-mandir dari pohon ke gerobak.
Wiro tertawa gelak-gelak. Supir gerobak juga ikutan ngakak. Hanya Purnama yang berdiam diri, tak berani menoleh ke arah pohon.
"Gadis cantik! Tolong!" si kakek pegang tangan Purnama.
Menyembah-nyembah berulang kali. "Tolong! Minta sahabatmu itu mengembalikan anuku yang disana! Ampun, tolong…. Aduh, aku mau kencing tapi tidak bisa!"
Makin keras teriakan si kakek, makin kalang kabut dia, makin keras pula tawa Wiro dan kusir gerobak.
"Ayo jalan!" Wiro berkata pada kusir gerobak.
"Ampun! Jangan pergi! Tolong dulu!" Si kakek ambil kantong kain yang tergantung di dadanya. Isi kantong dituang ke lantai gerobak di depan kaki Wiro. Isinya ternyata puluhan uang logam. "Gondrong! Kau boleh ambil semua uang itu! Itu pencarianku selama satu bulan! Ambil! Tapi tolong! Ampun! Kembalikan barangku!"
"Sabar Kek…" kata Wiro sambil pegang bahu si kakek. "Burung merpati itu selalu terbang pulang ke sarangnya. Nanti burungmu juga akan kembali."
"Tidak mungkin! Burungku tak ada sayapnya!" jawab si kakek yang membuat Wiro dan kusir gerobak tertawa gelak-gelak. Purnama sendiri tak dapat menahan gelinya. Gadis ini duduk tundukkan wajah tersipu-sipu.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar suara orang batuk-batuk. Lalu dari balik pohon besar muncul seorang lelaki muda yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan dua tongkat kayu di bawah ketiak. Dua kakinya dibalut dedaunan dan ditopang dengan potongan kayu. Wajahnya penuh bekas luka yang mulai mengering. Orang ini menatap ke arah gerobak, memandang ke jurusan si kakek. Lalu menoleh ke batang pohon di sampingnya. Karuan saja lelaki muda ini jadi tersentak kaget, mengerenyit, akhirnya tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Ilmu Menahan Darah Memindah Jasad." Lelaki dekat pohon keluarkan ucapan.
Wiro terkejut. Garuk kepala dan berkata perlahan. "Purnama, kau kenal orang itu. Dia tahu dan menyebut ilmu yang aku pergunakan untuk memindahkan anunya si kakek ke batang pohon."
"Aku tidak kenal orang itu. Sebaiknya kita jangan pergi dulu, Wiro."
Wiro memberi isyarat pada kusir gerobak lalu melompat turun.
"Kek," orang di samping pohon menegur; "Aku sudah bilang jangan berlaku jahil. Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya!"
"Aku menyesal. Aku tidak bermaksud jahat! Aku hanya ingin menjajalnya. Aku ingin melihat dia mengeluarkan ilmu Pukulan Sinar Matahari. Tapi yang dikeluarkannya Pukulan Menjambret Burungku! Ampun…."
Sampai di hadapan lelaki muda bertongkat Wiro bertanya. "Sahabat, siapa dirimu? Dua kakimu kulihat cidera parah. Sekujur tubuhmu penuh luka. Kakek itu apamu?"
"Kau tidak mengenal diriku. Tapi aku tahu siapa dirimu. Kau yang selama ini sangat kukagumi. Aku banyak mendengar cerita tentang kehebatanmu. Termasuk berbagai macam ilmu kesaktian yang kau miliki. Satu diantaranya adalah yang tadi aku sebutkan. Bukankah aku saat ini berhadapan dengan Pendekar Kapak Maut Naga Geni Dua Satu Dua Wiro Sableng?"
"Aku memang Wiro. Tapi aku tidak sehebat yang kau bayangkan. Sahabat, kau belum menerangkan siapa dirimu."
"Aku Rayi Jantra."
Wiro kaget bukan kepalang tapi juga gembira. Dia tidak menduga akan bertemu dengan Kepala Pasukan Kadipaten Losari yang memang tengah dicarinya itu.
"Sahabatmu Jumena ternyata benar. Dia tidak yakin kau telah menemui ajal. Dia berkali-kali pernah mengimpikan dirimu. Bersama seorang kakek. Mungkin kakek yang lagi kalang kabut itu? Siapa dia?"
"Dia Pengemis Empat Mata Angin, guru Pengemis Siang Malam yang keluarganya pernah kau selamatkan dari tangan manusia-manusia jahat Kumalasakti, Kuncir Merah dan Ki Beringin Reksa…."
"Kalau dia tahu aku pernah menolong muridnya, mengapa dia berbuat jahat terhadapku?"
"Dia tidak jahat. Sebenarnya dia hanya ingin menjajal dirimu. Seperti diriku, dia sudah lama mendengar kehebatanmu. Dia ingin melihat Pukulan Sinar Matahari yang kau miliki. Namun caranya jahil. Hingga akhirnya dia babak belur sendiri."
Wiro tersenyum, garuk-garuk kepala dan memandang ke arah Pengemis Empat Mata Angin yang saat itu berdiri di depan pohon, pandangi barang miliknya. Dia ingin mengambil anggota rahasianya itu tapi takut menyentuh. Akhirnya dalam bingung orang tua ini hanya berlutut di tanah sambil kening disandarkan ke pohon. "Aku menyesal memperlakukannya seperti itu. Nanti akan aku kembalikan barangnya ke tempat asal. Bagaimana kau sampai mengenal dirinya?"
"Waktu aku dibuang ke jurang atas perintah Ki Sentot Balangnipa, Pengemis Empat Mata Angin tengah bertapa di dasar jurang. Dia berusaha menolong orang-orang yang dilempar, namun hanya aku seorang yang bisa diselamatkan."
"Aku mendengar riwayatmu dari Jumena. Sayang perajurit itu tewas di tangan seorang pembunuh gelap. Aku tengah menyelidiki siapa orang itu. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku butuh perto­longanmu. Menurut Jumena kau tahu tentang satu tempat rahasia di satu bukit."
"Aku sudah mendengar kematian Jumena." Kata Rayi Jantra pula. "Mengenai yang tadi kau tanyakan, baiknya kita bicara di tempat yang aman. Ada sebuah lorong batu tak jauh dari sini. Selama dalam pengobatan aku tinggal di sana ditemani kakek pengemis itu."
"Sahabatku ini ahli pengobatan," kata Wiro sambil memegang bahu Purnama. "Mudah-mudahan dia bisa membantu mempercepat kesembuhanmu."
Rayi Jantra membungkuk dalam. "Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih."
"Kita naik gerobak saja. Biar aku jalan kaki." Kata Wiro pula.
"Tunggu!" tiba-tiba terdengar teriakan Pengemis Empat Mata Angin. "Gondrong! Kau lebih baik membunuhku kalau tidak mengembalikan…”
"Tenang Kek. Akan aku kembalikan perabotanmu itu sekarang juga," kata Wiro lalu melangkah ke pohon. Tangan kanannya ditekapkan ke barang milik si kakek yang menempel di pohon dan hampir disantap bajing liar. Lalu perabotan antik itu ditempelkan kembali di tempat semula.
Sesaat setelah Wiro dan orang-orang itu pergi si kakek cepat-cepat buka celananya. Ah! Dia merasa lega. Barang antiknya sudah kembali di tempat semula. Tapi ketika lebih memperhatikan Pengemis Empat Mata Angin jadi tersentak kaget. Dia langsung berteriak dan mengejar rombongan.
"Hai! Tunggu dulu!"
"Ada apa lagi Kek?" tanya Wiro.
"Anuku!"
"Kenapa anumu? Bukankah sudah aku kembalikan ke sarangnya?"
"Benar! Tapi kau memasangnya terbalik! Kantong menyannya ada di sebelah atas. Seharusnya dibawah!"
Wiro, Rayi Jantra dan kusir gerobak tertawa gelak-gelak. Purnama tersipu merah wajahnya.
"Baik Kek! Nanti aku betulkan! Tapi sebenarnya terbalik begitu lebih angker lebih mantap Kek! Kata Wiro pula disambut gelak tawa semua orang.

TAMAT
Episode berikutnya:
SANG PEMBUNUH

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog