Friday, March 13, 2009

Dosa Yang Tersembunyi

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

1
SI PINCANG MANTILO

KELELAWAR Pemancung Roh menggeledah semua kamar yang ada di dalam bangunan bawah tanah. Namun Bintang Malam tidak ditemui. Dia lalu memeriksa tempat-tempat lain yang diduganya bisa dijadikan tempat persembunyian. Tetap saja istri yang paling disayanginya dan tengah hamil itu tidak ditemukan. Istri paksaan lainnya yang berjumlah sebelas orang tidak satupun mengetahui dimana beradanya atau kemana perginya Bintang Malam. Malah diam-diam sebelas perempuan itu sama bersepakat, jika ada kesempatan mereka juga akan melarikan diri. Kelelawar Pemancung Roh tidak bodoh.
"Kalau mereka punya anggapan Bintang Malam kabur melarikan diri, pasti dalam benak sebelas perempuan ini juga ada rencana seperti itu!" Kelelawar Pemancung Roh memerintahkan semua istrinya masuk ke kamar masing­masing. Lalu pintu dikuncinya dari luar. Di depan pintu yang terakhir dikuncinya Kelelawar Pemancung Roh ber­pikir. “Jahanam rambut gondrong itu membantai dua puluh kelelawar kepala bayi. Tapi masih ada puluhan kelelawar biasa yang menjaga kawasan Teluk. Kalau perempuan itu memang melarikan diri, puluhan kelelawar pasti akan men­cegah, akan menyerangnya. Aku punya dugaan Bintang Malam belum meninggaikan Teluk Akhirat. Pasti ber­sembunyi di satu tempat. Dimana…?"
Kelelawar Pemancung Roh kembali ke ruang batu yang ada kolam dan kursi besar. Duduk sendirian di kursi batu di depan kolam Ikan Dajal penguasa Teluk Akhirat itu ingat pada Sinto Gendeng. Salah satu kelelawar kepala bayi memberitahu padanya bahwa atas perintah Tuyul Orok si nenek dibawa ke Bukit Jati, dimasukkan ke dalam Goa Air Biru. Jika nenek itu memang berada di goa tersebut berarti dia harus segera menuju ke tempat itu. Tapi menyadari bahwa Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Sinto Gendeng masih ada di dalam bangunan bawah tanah. Kelelawar Pemancung Roh jadi berpikir-pikir. Apakah dia lebih dulu membunuh Wiro baru kemudian Sinto Gendeng. Atau Sinto Gendeng dulu menyusul muridnya
"Pendekar 212 membunuh dua puluh kelelawar kepala bayi, membunuh anak-anakku. Jahanam itu juga menciderai diriku. Dua tulang igaku dibuat patah. Dan dia pasti masih berkeliaran di tempat ini! Siapa yang harus kuhabisi lebih dulu. Muridnya atau sang guru? Apakah dendam empat puluhan tahun harus menunggu aku menyelesaikan dendam hari ini?"
Kelelawar Pemancung Roh meraba sisi tubuhnya sebelah kiri. Walau dua tulang iganya patah akibat tendangan Wiro namun saat itu dia tidak merasa sakit sedikitpun. Bahkan dia percaya dengan ilmu kesaktian yang dimilikinya dua tulang yang cidera itu telah bertaut kembali. Inilah kehebatan makhluk aneh penguasa Teluk Akhirat itu. Sambil terus berpikir dia keluarkan ikat kepala sutera hitam berbatu yang berhasil di rampasnya waktu berkelahi dengan Wiro.
"Ini bukan batu sembarangan. Pasti sebuah jimat yang bisa dijadikan senjata luar biasa ampuh! Cahayanya bisa membuat mata buta. Batu ini juga dihuni satu makhluk gaib. Muncul berupa kepala seekor srigala putih raksasa. Hampir aku ditelannya. Setahuku Pendekar 212 Wiro Sableng tidak memiliki senjata seperti ini. Kalau ini memang miiiknya, agaknya senjata akan makan tuan. Aku bisa membunuhnya dengan benda ini!" Sambil menyeringai Kelelawar Pemancung Roh kaitkan kain sutera hitam itu di kepalanya. Lalu kembali dia menimbang-nimbang.
“Membunuh nenek keparat yang dalam keadaan tak berdaya itu jauh lebih mudah dari pada menghadapi Pendekar 212. Ada baiknya sang murid terpaksa kubiarkan menunggu kematiannya. Biar dendengkotnya aku habisi lebih dulu."
Kelelawar Pemancung Roh turun dari kursi batu. Sambil melangkah tinggalkan tempat itu dia memaki dirinya sendiri. "Menyesal besar aku! Mengapa tadi tidak kulemparkan saja jahanam tua bangka itu ke dalam kolam. Biar dibantai Ikan Dajal! Sekarang urusan jadi panjang tak karuan begini rupa.

HANYA terpaut selisih waktu sedikit saja, tak berapa lama setelah Kelelawar Pemancung Roh meninggalkan ruangan batu. Wiro sampai di tempat itu. Sesaat dia bersandar di dinding, pegangi dadanya yang sakit lalu menyeka darah yang setengah mengering di dagunya. Dari balik pakaiannya Wiro mengeluarkan sebuah kantong obat. Sepotong obat yang masih bersisa di dalam kantong itu segera ditelannya. Lalu dia tegak bersandar ke dinding. Memperhatikan seputar ruangan.
"Kursi batu itu, pasti itu yang dipakai Kelelawar Pemancung Roh untuk masuk dan keluar ke pantai. Kekuatan gaib apa yang dimiliki jahanam itu bisa menaik turunkan kursi batu begini berat…." Wiro palingkan pan­dangannya ke arah kolam batu yang tertutup gelagar kayu.
Airnya bening, tapi aneh pandanganku tidak bisa me­nembus sampai ke dasar. Apa isi kolam ini? Mengapa di­tutup begini rupa? Kolam tempat mandi Kelelawar Pe­mancung Roh?"
Selagi Wiro berpikir-pikir seperti itu tiba-tiba sudut matanya menangkap gerakan seseorang di sampingnya. Wiro berpaling. Orang itu dengan cepat melenyapkan diri di balik dinding. Dari sosoknya yang kecil jelas dia bukan Kelelawar Pemancung Roh. Wiro cepat mengejar. Dia hanya menemui satu lorong batu kosong. Di salah satu bagian dinding lorong batu tergantung sebuah lukisan. Lukisan beberapa gadis cantik bertelinga seperti kelelawar dalam keadaan bugil.
Wiro berhenti di depan lukisan besar itu seolah tengah menikmatinya. Namun sebenarnya saat itu dia tengah me­masang telinga. Dia mendengar suara nafas orang. Wiro tersenyum. Garuk-garuk kepalanya.
“Gadis-gadis bugil di dalam lukisan ini, walau seolah hidup dan tersenyum padaku jelas tak bisa bernafas." Ucap sang pendekar dalam hati. Lalu dia ulurkan tangan turun­kan lukisan besar itu. Baru sedikit lukisan digeser tiba-tiba dari balik lukisan melompat seorang pemuda. Rupanya di balik lukisan itu ada satu ruangan kosong sedikit lebih kecil dari ukuran sebuah lemari.
"Hai! Berhenti! Jangan lari!" Teriak Wiro.
Diteriaki seperti itu pemuda yang lari dengan terpincang­pincang malah mempercepat larinya. Tapi dia jadi terkejut pucat ketika entah bagaimana kejadiannya tahu-tahu Wiro sudah berada di depannya, menghadnng larinya. Pemuda pincang ini cepat balikkan diri lari ke arah berlawanan. Wiro segera mengejar. Begitu terkejar dia puntir telinga pemuda ini.
“Ampun! Jangan bunuh! Jangan bunuh diriku!" Pemuda itu berteriak kesakitan sambil berusaha menarik tangan Wiro.
“Siapa mau membunuhmu?!” Wiro masih belum lepas­kan jewerannya.
“Kau… kau membunuh puluhan kelelawar kepala bayi. Pasti kau juga mau membunuhku…"
"Aku membunuh mereka karena mereka mau mem­bunuhku! Apakah kau juga mau membunuhku?"
“Ti… tidak. Aduh, ampun…"
"Pincang, siapa namamu? Apa tugasmu di tempat ini?" Tanya Wiro dan perlahan-lahan lepaskan jewerannya.
Si pemuda perhatikan Wiro dari kepala sampai ke kaki. Wajahnya masih menunjukkan rasa takut. Setelah agak yakin Wiro tidak bermaksud jahat padanya baru dia mau menjawab.
“Saya Mantilo. Saya mengurus segala keperluan Sang Pemimpin."
“Berarti kau tahu banyak seluk beluk tempat ini. Kalau aku bertanya jangan sekali berani berdusta! Katakan di mana Sang Pemimpinmu berada”.
“Saya tidak tahu. Mungkin dia tidak ada di tempat ini. Sudah kabur…"
"Kalau dia pergi ke tempat lain, kau pasti tahu kemana perginya. Jangan coba berdusta. Bisa-bisa kubetot dua telingamu, kujadikan seperti telinga kelelawar…."
"Saya benar-benar tidak tahu. Biasanya Sang Pemimpin hanya bersamadi di Teluk. Atau pergi ke Bukit Jati."
"Saat ini dia tidak bersamadi di Teluk. Kursi batunya ada di sini. Berarti dia pergi ke Bukit Jati. Tunjukkan aku jalan ke sana.”
"Demi Tuhan, jangan! Jangan paksa aku menunjukkan jalan ke Bukit Jati itu. Sang Pemimpin akan membunuhku seperti dia membunuh sepuluh kelelawar kepala bayi. Padahal mereka adalah anak-anaknya sendiri. Nyawaku jauh lebih tidak berharga baginya dibanding dengan kelelawar bayi itu."
"Kau boleh pilih, mati ditangan Sang Pemimpin yang belum tentu kejadiannya, atau mati di tanganku saat ini juga!" Wiro angkat tangan kanannya siap hendak meng­gebuk kepala Mantilo.
Si pincang ketakutan setengah mati.
"Tidak… Jangan. Saya akan tunjukkan…."
"Tunggu, ada apa di Bukit Jati itu? Kenapa makhluk kampret itu suka pergi ke sana."
"Disitu ada Goa Air Biru. Di situ ada seorang kakek bernama Ki Sepuh Tumbal Buwono…"
Keterangan pemuda pincang terputus karena di ujung lorong terdengar suara teriakan-teriakan perempuan di­sertai suara pintu digedor.
"Suara jeritan perempuan. Banyak sekali. Suara gedoran pintu. Siapa mereka? Apa yang terjadi?" tanya Wiro.
"Mereka para istri Sang Pemimpin. Sang Pemimpin membunuh anak-anak mereka lalu mengunci mereka di dalam kamar masing-masing. Mereka sekarang berada dalam ketakutan. Ingin keluar dari kamar."
"Pasti ada sebabnya pemimpinmu berbuat begitu."
"Salah seorang istri Sang Pemimpin melarikan diri. Istri­istri lainnya tidak tahu kemana perginya…."
"Bintang Malam, pasti yang lari itu istrinya yang bernama Bintang Malam." pikir Wiro. "Mantilo, lekas antarkan aku ke Goa Air Biru."
"Saya akan antarkan. Tapi apakah sebelas istri Sang Pemimpin itu tidak perlu ditolong lebih dulu. Saya mendengar ancaman Sang Pemimpin. Jika dia tidak menemui istrinya yang lari dan sebelas perempuan itu tidak memberitahu dimana beradanya istrinya yang satu itu maka semua mereka akan diceburkan ke dalam kolam Ikan Dajal."
“Hem…. Hatimu baik juga masih mau mengingatkan me­nolong orang lain. Pasti mereka perempuan-perempuan cantik dan masih muda-muda ujar Wiro sambil senyum. Mantilo juga ingin tersenyum tapi tidak berani. “Tadi kau menyebut kolam Ikan Dajal. Kolam apa itu." Eh, tadi aku melihat sebuah kolam bertutup gelagar kayu hitam. Letak­nya di depan kursi batu di ruangan sana…
"Betul, itu kolam yang saya maksudkan. Kolam Ikan Dajal adalah kolam maut. Jika seseorang diceburkan ke sana, ikan raksasa yang ada didalamnya akan melahap habis dag orang itu. Dalam beberapa kejapan mata saja orang itu hanya akan tinggal tulang belulang. Sebelumnya ada seorang nenek aneh hendak diceburkan Sang Pe­mimpin ke dalam kolam. Entah mengapa dia menunda. Ketika Sang Pemimpin kembali si nenek sudah lenyap entah ke mana."
Wiro terkejut mendengar keterangan si pincang Mantilo.
"Kau tahu pasti, nenek itu lenyap bukan diceburkan ke dalam kolam Ikan Sundal?"
"Ikan Dajal, bukan Ikan Sundal…"
"Dajal sama Sundal hampir sama! Kenapa perlu diributkan!" bentak Who. "Jawab pertanyaanku. Kau yakin nenek itu tidak dicemplungkan ke dalam kolam?"
"Saya yakin. Karena setiap ada orang atau binatang suguhan yang diceburkan ke dalam kolam, saya yang selalu mengambil tulang belulangnya, dibantu seorang teman. Namanya Habili. Saya tidak tahu dia berada di mana sekarang.”
Wiro garuk kepalanya. Keterangan pemuda pincang ber­nama Mantilo itu mungkin benar. Tapi mungkin pula Kelelawar Pemancung Roh memang telah menceburkan si nenek ke dalam kolam maut lalu menyurun Habili mem­bersihkan kolam.
Ada sesuatu yang mundadak muncul dibenak Wiro. Keterangan Pelangi Indah. Dipadu dengan keterangan Bintang Malam, Kelelawar Pemancung Roh memiliki nyawa pinjaman Nyawanya berada pada satu makhluk yang tidak pernah menginjakkan kaki di tanah. Ikan adalah makhluk yang seumur hidup selalu berada dalam air dan tidak punya kaki dan tidak mungkin menginiak tanah.
"Pecah sekarang rahasia kematian makhluk jahanam itu!" Wiro kepalkan tinju. "Mantilo. Sebelum kita menolong sebelas perempuan itu, aku harus lebih dulu memusnah­kan Ikan Dajal dalam kolam batu. Ikut aku, jangan coba lari!"

***

2
MIMPI DUA GADIS CANTIK

SEJAK Pendekar 212 meninggalkan puncak timur Gunung Merapi yang menjadi tempat kediaman Kelompok Bumi Hitam, gadis cantik bernama Rembulan korap kali kedapatan oleh teman-temannya sedang duduk menyendiri. Hal ini juga telah diketahui oleh Pelangi Indah. Ketua Kelompok Bumi Hitam.
Pagi itu kembaii Pelangi Indah menemui Rembulan tengah duduk bermenung diri dekat pancuran besar tempat di mana para gadis bersiram mandi dan mencuci pakaian sambil bercengkerama. Ketika rombongan teman­temannya pergi Rembulan sengaja mencari tempat duduk yang baik dekat pancuran. Kain hitam tipis yang jadi cadar wajahnya terlipat di atas pangkuan.
Gadis itu tidak tahu berapa lama dia duduk termenung di tepi pancuran itu ketika tiba-tiba dia nendengar ada langkah kaki bergerak perlahan mendatangi ke arah tempatnya duduk. Cepat-cepat Rembulan mengenakan cadar hitamnya dan bangkit berdiri. Ternyata yang datang bukan siapa-siapa melainkan Pelangi Indah, sahabat dan Ketua Kelompok Bumi Hitam. Sang Ketua tidak mengena­kan cadar. Rembulan buka kembali cadar yang barusan di­kenakannya.
"Benar rupanya keterangan para sahabat. Kau duduk menyendiri, termenung di tempat ini. Sudah lama kau ber­kelakuan seperti ini. Rembulan, gerangan apa yang ada di dalam pikiran dan hatimu?"
Rembulan tersipu.
“Duduklah aku akan duduk di sebelahmu. Mungkin ada yang hendak kau jelaskan padaku.”
Rembulan kembali duduk ke atas batu besar dekat pancuran. Pelangi duduk di sebelahnya.
"Apa yang harus aku jelaskan Ketua?" tanya Rembulan.
"Mengapa kau akhir-akhir ini banyak bersepi diri, ter­menung seperti memikirkan sesuatu?"
"Tidak ada yang aku pikirkan, perlu apa pula bermenung diri. Hanya saja…."
"Hanya saja apa?" tanya Pelangi Indah.
"Udara di puncak Merapi belakangan ini terasa agak panas. Tempat ini, agaknya satu-satunya tempat yang paling tepat untuk duduk menyejukkan diri."
“Menyepi seorang diri, tidak mengajak sahabat lainnya?" Ujar Pelangi Indah.
"Kalau semua para sahabat anggota Kelompok Bumi Hitam berada di tempat ini, lantas siapa yang menjaga tempat kediaman kita?"
Pelangi Indah tertawa.
"Rembulan, kau pandai menyimpan rahasia hati. Tetapi harap mau berterus-terang padaku. Jika ada kegelisahan atau ada ganjalan di hatimu, siapa tahu aku bisa me­nolong."
Rembulan terdiam, lalu berpaling menatap wajah jeiita Pelangi indah.
"Sang Ketua, terima kasih kau ada perhatian begitu besar terhadapku. Sebenarnya ini hanya satu hal kecil saja. Yang aku merasa tidak perlu menjelaskan atau mencerita­kan pada Ketua."
"Rembulan, kau lupa pada semua pelajaran yang ada dalam kitab pegangan kita. Antara Hitam Dan Putih. Di situ ada bab yang mengupas perihal masalah-masalah kecil. Begitu banyak manusia menganggap enteng hal-hal kecil, bahkan melupakannya. Manusia lupa bahwa mereka ter­antuk dan tergelincir lalu jatuh oleh batu kecil, bukan batu besar. Sahabatku, kau tak ingin berbagi rasa dengan aku Ketuamu?"
Rembulan pegang tangan Pelangi Indah. Setelah diam sejenak dia berkata.
"Tadi malam…"
"Tadi malam kenapa? Ada apa?" tanya Pelangi Indah ketika dilihatnya Rembulan ragu-ragu meneruskan ucapan.
"Aku bermimpi."
"Aahh…. Apa mimpimu? Suatu yang bagus? Suatu yang indah?"
"Ketua masih ingat pada pemuda bernama Wiro Sableng yang beberapa waktu lalu berada di sini?"
Pelangi Indah berdiri dari duduknya. Jari-jari tangannya yang halus dan bagus memotes selembar daun pepohonan di dekatnya, lalu kembali duduk di samping Rembulan.
"Tentu saja aku ingat pemuda itu. Siapa bisa melupakan orang yang telah menolong kita begitu besar. Jadi kau bermimpi tentang dirinya?"
"Benar Ketua."
"Bagaimana mimpimu itu?"
"Aku melihat Wiro berdiri di puncak satu bukit batu. Di tangan kanannya dia memegang ikat kepala kain sutera hitam berbatu yang menurut Ketua telah diberikan pada­nya. Tiba-tiba langit yang tadinya terang benderang ber­ubah kelam. Lalu ada satu makhluk besar bercahaya seperti seekor burung raksasa menukik dari langit, me­nembus kegelapan dan menyambar pemuda itu. Wiro per­gunakan ikat kepala kain sutera untuk membentengi diri dan memukul makhluk yang menyerang. Makhluk itu menguik keras, terpental tapi sempat merampas ikat kepala kain sutera lalu terbang dan lenyap di langit gelap. Wiro sendiri terpelanting dari puncak bukit batu, jatuh terguling ke dalam sebuah jurang. Suara jeritannya yang keras dan panjang terasa seolah masih bergaung di telinga….”
Rembulan berpaling. Dilihatnya Pelangi Indah me­mandang ke arah pancuran. Dari raut wajahnya sang Ketua seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ketua, apakah kau mendengar apa yang barusan saya tuturkan?" Bertanya Rembulan.
"Aneh…" Ucap Pelangi Indah.
“Mimpiku aneh menurut Ketua?"
"Mimpimu dan mimpiku."
"Rupanya Ketua juga bermimpi?"
Pelangi Indah mengangguk. "Mimpiku sangat sama dengan mimpimu."
Bagaimana bisa terjadi?" uiar Rembulan.
"Justru itulah makanya aku katakan aneh. Bedanya aku bermimpi dua malam yang lalu dan kau baru tadi malam." Jawab Pelangi Indah pula. Lalu dia menatap paras Rem­bulan dan dalam hatinya Ketua Kelompok Bumi Hitam ini berkata. "Mimpimu adalah sebagian saja dari apa yang membuat dirimu sering termenung dan memencilkan diri. Ada hal lain yang lebih besar yang menyebabkan kau ber­keadaan seperti ini."
"Ketua…."
“Hemmm?"
“Mungkinkah pemuda itu tengah berada dalam bahaya?’"
"Bukan itu saja. Agaknya petunjuk dalam mimpi mem­beritahu bahwa ikat kepala kain sutra yang ditempeli batu Mustika Mata Srigala telah dirampas seseorang dari tangan Wiro."
"Wiro adalah seorang pendekar besar. Apa semudah itu musuh mengalahkan lalu merampas ikat kepala kain sutera hitam?" Ujar Rembulan pula.
“Setiap ilmu itu, betapapun tingginya pasti selalu ada yang lebih tinggi. Ujar-ujar mengatakan Di atas lagit masih ada langit. Ini membuat seseorang berilmu tinggi tidak boleh lengah, harus selalu menambah dan mengasah ilmu, bersikap rendah diri sambil terus menjaga kewaspadaan."
"Pendekar 212 memiliki dan melakukan semua itu. Mengapa dia masih dapat dikalahkan?" Kata Rembulan pula.
Pelangi Indah menyahuti. "Acap kali kejahatan itu selalu berada satu langkah di depan kebenaran. Harap camkan itu baik-baik. Ingat sewaktu Ki Tawang Alu memperlakukan kita secara culas dengan ilmunya yang tinggi?"
Rembulan angguk-anggukkan kepala. "Saya akan selalu ingat ucapan dan nasihat Ketua."
Pelangi Indah bangkit dari duduknya. Dia melangkah mendekati pancuran, membasahi dua tangannya lalu mengusapkan air sejuk itu ke wajahnya hingga wajah yang cantik itu tampak segar dan lebih cantik. Kemudian Pelangi Indah balikkan badan ke arah Rembulan.
"Rembulan sahabatku. Dari keterangan Wiro, kita tahu bahwa dia dan gurunya akan menuju Teluk Akhirat. Mungkin di tempat itu dia mengalami malapetaka. Dan musuh yang dihadapinya pasti bukan lain Kelelawar Pemancung Roh."
Mendadak saja Rembulan sudah menduga apa yang ada dalam pikiran Ketua Kelompok Bumi Hitam itu. Maka dia cepat berkata.
"Ketua, kita masih berhutang budi pada Pendekar 212. Sampai kapanpun dan apapun yang kita lakukan untuknya rasanya semua budi besarnya itu tidak akan terbalas. Karenanya izinkan aku meninggalkan Gunung Merapi. Aku akan ke Teluk Akhirat untuk melihat keadaannya. Jika memang benar dia dalam bahaya aku akan berusaha menolong."
Pelangi Indah tersenyum. Dalam hati gadis ini berkata. "Sebenarnya perihal diri pemuda itulah yang setiap hari menjadi lamunannya. Kini dia hendak bertindak men­dahului diriku. Jangan-jangan apa yang aku rasakan men­jadi perasaannya pula. Ah, apakah aku harus berterus terang padanya agar tidak kedahuluan?"
“Rembulan, hatimu sungguh baik. Tidak melupakan budi orang. Wiro telah berjasa besar bagi Kelompok Bumi Hitam. Namun lebih dari itu aku merasa dirikulah yang paling berhutang besar padanya. Kalau dia tidak me­nyerahkan Kalung Srigala Perak itu seumur hidup aku akan tersiksa dalam Santet Seratus Tahun." (Baca serial TDS sebelumnya berjudul "Srigala Perak")
"Jadi Ketua mengizinkan aku segera berangkat menuju Teluk Akhirat? Kalau begitu aku mohon restumu."
"Tidak Rembulan." ucap Pelangi Indah yang membuat wajah Rembulan berubah karena putus harapan. “Aku sendiri yang akan pergi ke Teluk Akhirat."
"Ketua bisa mewakilkan padaku."
"Tanggung jawab tertinggi dalam Kelompok Bumi Hitam ada padaku. Jadi aku harus turun tangan sendiri. Selama aku pergi kau menjadi wakilku di sini."
Rembulan terdiam. Kepala ditundukkan. Lalu suaranya terdengar perlahan ketika berucap. “Aku menurut apa kata Ketua.”
Pelangi Indah dekati gadis itu, pegang bahunya lalu ber­kata. “Rembulan, perasaan kita bisa saja sama. Namun sekali ini kau harus mengalah. Bukan karena aku Ketua. Kuharap kau bisa mengerti…"
Di balik rimbunan semak belukar seorang bermata bagus dan sejak tadi mengintip serta mendengar per­cakapan Pelangi Indah, perlahan-lahan menggeser kakinya. Dalam hati orang ini berkata. "Aku harus mendahului Ketua. Jika kemudian hari Ketua menghukumku karena telah berlaku lancang mendahului, aku pasrah. Aku tidak bisa melupakan dirinya. Aku bahagia dalam hukuman asal­kan dapat bertemu dengan dia, apa lagi bisa menolongnya. Aku tahu jalan memintas mencapai Teluk Akhirat. Dua hari lebih cepat dari jalan biasa."
Sebelum Pelangi Indah dan Rembulan tinggalkan tempat itu, orang dibalik scmak belukar telah lebih dulu berkelebat pergi.

***

3
MUSNAHNYA IKAN DAJAL

PENDEKAR 212 Wiro Sableng dan pemuda pincang Mantilo sampai di ruangan yang ada kursi batu dan kolam besar. Wiro mengelilingi kolam itu dua kali. Dia tidak melihat benda apapun di dalam kolam walau airnya jernih bening.
"Aneh, tak ada ikan besar yang kau katakan itu. Aku tidak melihat apa-apa.” Kata murid Sinto Gendeng sambil menatap Mantilo.
“Memang begitu keadaannya. Tak satu matapun bisa menembus sampai ke dasar kolam. Percaya pada saya, ikan maut itu ada di dalam kolam batu ini."
"Perlu aku buktikan dulu,” kata Wiro. Dia melangkah mendekati kolam. Ketika dilihatnya Mantilo berjalan ke arah kursi batu. Wiro segera membentak "Kau mau berbuat apa?”
"Saya tahu bagaimana caranya menggeser kayu penutup kolam.” jawab Mantilo.
"Kalau begitu lakukanlah. Awas kalau kau berani me­nipu!”
Mantilo memanjat ke atas kursi batu besar. Dengan ibu jarinya dia menekan kuat-kuat sebuah tombol di lengan kursi sebelah kanan. Perlahan-lahan gelagar kayu penutup kolam bergeser ke samping. Mantilo melompat turun dari atas kursi batu. “Jangan berdiri terlalu dekat ke kolam. Ikan Dajal mampu melesat keluar kolam, membuat sambaran yang bisa memutus leher. Itu sebabnya Sang Pe­mimpin menutup bagian atas kolam."
Tanpa perdulikan ucapan Mantilo. Wiro melangkah maju. Dia berdiri dua langkah di tepi kolam.
"Pelangi Indah memberitahu. Nyawa Kelelawar Pe­mancung Roh ada pada satu makhluk yang tidak pernah menginjak tanah. Aku yakin makhluk di dalam kolam inilah tempat dia menumpangkan nyawa! Kalau aku binasakan Ikan Dajal ini. Kelelawar Pemancung Roh pasti amblas ke­kuatannya."
Baru saja Wiro berkata dalam hati, tiba-tiba tidak ter­duga dan dalam kecepatan luar biasa, satu makhluk putih besar sekali melisat keluar kolam.
“Wuttt"
Dalam kejutnya Wiro melihat satu benda tipis laksana golok besar menebas, membeset di atas kepalanya. Dengan cepat murid Sinto Gendeng rundukkan kepala dan melompat ke belakang. Dia sampai terjengkang di lantai batu dalam usaha menyelamatkan kepala. Tak urung ada bagian rambut di atas ubun-ubun serta ujung ikat kepala­nya kena disambar dan dibabat putus! Dinginlah tengkuk sang pendekar. Wajahnya sesaat pucat tak berdarah. Mantilo melompat dan menarik bahunya, berusaha men­jauhkan Wiro dari tepi kolam.
“Gila! Hampir kepalaku dibuat menggelinding!" Wiro garuk-garuk kepala lalu bangkit berdiri. Mantilo kembali memberi ingat agar Wiro menjauhi kolam. Tapi pemuda pincang ini jadi tertegun ketika dia melihat bagaimana Wiro mengangkat tangannya ke atas dan perlahan-lahan se­batas siku ke bawah tangan itu berubah menjadi seperti perak, putih menyilaukan. Udara di ruangan batu itu men­dadak terasa panas sekali.
Tiba-tiba Wiro hantamkan tangan kanannya ke dalam kolam.
"Wusss!"
Satu sinar putih berkiblat. Ruangan batu laksana di­terangi kilatan petir. Udara panas luar biasa membuat Mantilo menjerit ketakutan dan lari ke arah pintu
“Byaaarrr!"
Air kolam batu seperti mendidih dan muncrat ke atas.
Kembaii Mantiio menjerit ketika dapatkan kulit lengannya yang kecipratan air kolam melepuh seolah di­guyur air panas.
Di dalam kolam muncul suara aneh. Seperti suara orang menggergaji tidak berkeputusan. Lalu suara itu lenyap. Ber­ganti dengan suara seperti belasan kerbau melenguh ber­samaan. Air kolam kembali muncrat. Ada bau aneh, bau daging terpanggang. Lalu, dengan mata mendelik Wiro me­lihat bagaimana dari dalam kolam perlahan-lahan meng­apung keluar satu sosok makhluk raksasa dalam keadaan kelojotan. Sosok ini berbentuk seekor ikan luar biasa besarnya. Hampir seluruh tubuh ikan ini yang tadinya ber­warna putih kini menggembung merah terkelupas dan mengepulkan asap. Salah satu matanya hancur tinggal me­rupakan rongga kosong hangus. Mulut ikan ini terbuka lebar, memperlihatkan barisan gigi dan taring besar se­tajam deretan mata gergaji raksasa. Darah hitam me­ngucur tiada henti dari mulut makhluk ini.
"Ikan Dajal…" desis Wiro. Pasti ini makhluknya yang ber­nama Ikan Dajal. Mudah mudahan Eyang Sinto belum menjadi santapannya. Kalau sampai orang tua itu sudah dilahapnya, kualat aku seumur-umur."
Wiro palingkan kepala ke arah dimana tadi Mantilo berada. Tapi ternyata pemuda pincang itu ak ada lagi di tempat itu.
"Sialan!" maki Wiro.
Dia segera keluar dari ruangan batu. Wiro tidak tahu mau menuju kemana. Sementara itu di kejauhan kembali terdengar suara teriakan-teriakan serta gedoran pintu. Sebelas istri Kelelawar Pemancung Roh rupanya masih terus berusaha keluar dari dalam kamar yang dikunci.
Di depan Wiro ada beberapa lorong batu. Dia berpikir­pikir apakah akan menolong perempuan itu lebih dulu baru mencari jalan ke Goa Air Biru.
“Perempuan-perempuan, walau dikunci dalam kamar paling tidak untuk sementara berada dalam keadaan aman. Tapi kalau guruku, siapa yang menjamin keselamatannya?" Wiro garuk kepala. Akhirnya dia kembali ke lorong yang ada lukisan. Menyusuri lorong ini sejauh dua puluh tombak, Wiro melihat cahaya terang di depan­nya. Ketika dia sampai di ujung lorong dan menyeruak di antara semak belukar yang menutupi. Wiro dapatkan diri di satu tempat. jauh dari pantai.
Wiro memandang berkeliling. "Bukit Jati… Goa Air Biru. Dimana letaknya?"
Selagi dalam kebingungan seperti itu tiba-tiba Wiro men­dengar suara menguik riuh di atas kepalanya. Murid Sinto Gendeng dongakkan kepala. Sekitar dua puluh kelelawar beterbangan berputar-putar di atas kepalanya. Melihat hal ini Wiro segera alirkan tenaga dalam ke tangan kanan. Sesaat lagi binatang sisa makhluk peliharaan Kelelawar Pemancung Roh itu pasti akan menyerbunya dengan ganas. Tapi aneh, setelah ditunggu beberapa lama kelelawar-kelelawar itu tidak menyerang.
"Aneh, mereka hanya berputar-putar di atas kepalaku sambil menguik. Apa artinya ini?" pikir murid Sinto Gendeng. Tiba-tiba dilihatnya kelelawar kelelawar itu ber­putar ke bawah lalu dengan kecepatan lebih rendah terbang ke arah timur. Wiro terus memperhatikan tapi tetap tak bergerak di tempatnya.
Di depan sana kelelawar terbang kembali ke arah Wiro. berputar beberapa kali, melayang rendah dan kembali terbang ke arah timur. Demikian sampai tiga kali. Wiro menggaruk kepala coba mengartikan apa maksud binatang-binatang itu berkelakuan seperti itu. Kali keempat kelelawar melakukan hal yang sama. Wiro rasa-rasa mulai tahu apa yang dimaui binatang tersebut. Dia berlari meng­ikuti arah terbangnya kelelawar menuju timur.
Tak berapa lama berlari pohon-pohon kelapa mulai ber­kurang, berganti dengan pohon-pohon lain. Di satu tempat kelelawar yang terbang di udara kembali membuat gerakan berputar. Memandang ke depan Wiro melihat satu bukit kecil membentang dari barat ke arah timur. Bukit ini tertutup oleh pohon-pohon jati yang dari besar serta bentuknya telah berumur puluhan tahun.
"Bukit Jati." ujar Wiro. "Kelelawar itu menuntunku ke bukit ini. Sekarang di mana terletaknya Goa Air Biru. Lalu bagaimana aku harus berterima kasih pada binatang­binatang itu?"
Di atas sana kelelawar yang terbang berputar perlahan­lahan turun merendah melewati sebuah pohon kelapa yang putus disambar petir. Tiba-tiba itu satu demi satu kelelawar itu menukik ke arah semak belukar. Lenyap sebentar lalu keluar lagi. Kemudian kembali menukik memasuki semak belukar, sesaat setelah itu keluar kembali.
Wiro kini maklum. Binatang-binatang itu berusaha mem­beritahu bahwa Wiro harus masuk ke balik semak belukar itu. Tidak menunggu lebih lama, begitu sekitar dua puluh kelelawar keluar dari semak belukar untuk ketiga kalinya Wiro segera mendatangi, menguak semak belukar dan terkejut melihat sebuah goa batu berwama biru.
"Aku benar-benar berterima kasih pada kalian." ucap Wiro sambil memandang ke udara. Dia hanya bisa melambaikan tangan. Kalau dari dulu kalian bersikap ber­sahabat denganku, tidak akan aku membunuh kawan­kawan kalian." Wiro lambaikan tangannya sekali lagi. Kelelawar di atas sana keluarkan suara menguik panjang lalu melesat lenyap ke arah utara.

***

4
WULANDAYU

SATU sosok tinggi besar melangkah memasuki Goa Air Biru. Dia berhenti di depan telaga, memandang berkeliling dengan cepat lalu memperhatikan Ki Sepun Tumbal Buwono yang duduk tak bergerak dalam cegukan batu, sepasang mata terpejam.
“Tidak ada siapa-siapa di sini selain tua bangka itu. sepuluh kelelawar kepala bayi memberitahu mereka telah membawa Sinto Gendeng ke tempat ini. Mungkin anak­anak jahanam itu berdusta padaku. Atau mungkin Sinto Gendeng memang sudah ke sini, lalu ada yang memindah­kannya ke tempat lain.” Kelelawar Pemancung Roh menge­lilingi telaga satu kali, lalu masuh ke dalam cegukan batu.
“Ki Sepuh, aku tahu kau tidak sedang bersemadi. Kau juga tidak sedang tidur. Buka dua matamu dan jawab per­tanyaanku!” Suara keras Kelelawar Pemancung Roh meng­gaung dalam cegukan batu.
Perlahan-lahan orang tua yang kepalanya dimasukkan dalam kerangkeng besi membuka dua matanya. Dua bola mata yang kebiruan menatap ke arah Kelelawar Pemancung Roh.
“Ada kain sutera hitam berbatu melingkari keningnya. Batu itu agaknya bukan batu sembarangan. Dari mana agaknya murid murtad ini mendapatkannya?” Ki Sepuh berkata dalam hati. Lalu baru keluarkan ucapan.
“Damar Soka, ratusan hari telah berlalu sejak terakhir kali kau datang ke sini. Hari ini kau muncul. Katakan apa penyebabnya."
"Tua bangka jahanam! Sudah berapa kali aku katakan! Jangan kau pernah berani menyebut nama itu! Aku adalah Kelelawar Pemancung Roh penguasa Teluk Akhirat! Bukan Damar Soka!"
Ki Sepuh Tumbal Buwono tertawa perlahan. "Kau takut pada namamu sendiri. Kau takut pada baying-bayangmu sendiri. Padahal seumur hidup bayang-bayang itu selalu mengikuti kemana kau pergi. Tidak ada satu orangpun bisa melupakan masa silam. Apa lagi dengan selangit dosa seperti dirimu.”
"Ki Sepuh, jika kau berani berpanjang dan berlancang mulut, saat ini juga akan kutarik ke dua kakimu sampai lehermu putus dan kepalamu tertinggal di dalam kerangkeng besi celaka itu!”
Kembali Ki Sepuh tertawa perlahan.
"Aku mencari dua orang yang kabur dari bangunan kediamanku. Pertama seorang nenek bernama Sinto Gendeng. Aku mendapat keterangan sepuluh tuyul kepala bayi membawa nenek itu ke dalam goa ini…"
"Lalu apakah kau ada melihat nenek yang kau cari itu?" tanya Ki Sepuh pula. "Siapa orang kedua yang tengah kau cari?’
"Istriku. Bintang Malam."
"Hemmm…. Apakah kau juga melihat perempuan itu di sini?"
Sepasang mata sipit Kelelawar Pemancung Roh yang aslinya bernama Damar Soka itu mendelik. Mulutnya ber­gumam beberapa kali.
"Aku memang tidak melihat. Tapi aku yakin dua orang itu pernah berada di tempat ini. Lekas kau beri tahu ke mana keduanya dipindahkan? Siapa yang memindahkan?"
“Dua orang yang kau cari tidak pernah datang ke tempat ini."
"Kau berdusta! Aku tahu!" Suara Kelelawar Pemancung Roh menggelegar. Dia melangkah ke hadapan Ki Sepuh, memegang rantai besi yang menjulai dari langit-langit batu ke bagian atas kerangkeng besi di kepala si kakck. "Sekali kutendang tubuhmu atau kubetot rantai besi ini, lehermu akan putus. Apa itu yang kau inginkan?"
"Aku sudah lama menunggu saat yang kau sebutkan itu. Lima tahun mendekam di tempat ini aku tidak pernah tidur. Kematian akan membuatku tidur nyenyak. Ha… ha… ha…"
Saking geramnya Kelelawar Pemancung Roh goyang rantai besi hingga kerangkeng di kepala Ki Sepuh ikut bergerak. Bagian berbentuk mata gergaji taiam yang melingkar di leher si kakek menggores kulit dan daging lehernya. Untuk kesekian kalinya darah mengucur. Walau rasa sakit bukan alang kepalang tapi dengan menggigit bibir Ki Sepuh bisa bertahan hingga dia tidak sampai berteriak.
Kelelawar Pemancung Roh lepaskan pegangannya pada rantai besi lalu melangkah mengitari tubuh Ki Sepuh Tumbal Buwono yang mengenakan jubah biru besar gombrong. Di belakang tubuh si kakek dia berhenti agak lama. Memandang ke langit-langit cegukan, memperhati­kan lantai batu lalu melihat ke arah telaga. Ki Sepuh pejamkan mata, tidak bergerak tapi sengaja batuk-batuk beberapa kali agar Kelelawar Pemancung Roh tidak men­dengar suara hembusan nafas dua orang yang mendekam di dalam jubah gombrongnya.
Di dalam jubah kalau Bintang Malam dalam takutnya berusaha menahan nafas, si nenek Sinto Gendeng setengah mati menahan air kencingnya agar tidak ter­pancar.
Kelelawar Pemancung Roh keluar dari cegukan batu.
"Ki Sepuh, aku memang tidak menemukan siapa-siapa di tempat ini. Tapi aku tahu kau berdusta! Kalau aku bisa membuktikan aku akan kembali untuk memutus lehermu!"
"Lebih cepat kau lakukan lebih baik. Dan mungkin aku akan mengucapkan terima kasih adamu. Damar Soka.”
Karena kembali disebut dengan nama aslinya. Kelelawar Pemancung Roh melompat ke hadapan Ki Sepuh. Tangan kanannya diulurkan.
“Srett!"
Lima jari tangan Kelelawar Pemancung Roh berubah menjadi cakar besi bergelimang darah!
"Kau ingin mengorek jantungku, atau mau membusai perutku, silahkan. Makin cepat kau membunuhku lebih enak rasanya."
"Tua bangka jahanam!"
Lima jari tangan Kelelawar Pemancung Roh bergetar berkeretakan. Tapi tangan itu tidak bergerak. Makhluk tinggi besar ini tidak melakukan apa-apa.
Ki Sepuh Tumbal Buwono menyeringai.
Kelelawar Pemancung Roh bantingkan kakinya ke lantai batu hingga tempat itu bergetar, air telaga bergoyang ber­gemericik. Dengan rahang menggembung penguasa Teluk Akhirat berkata.
“Jika aku kembali menemuimu, mungkin itulah batas terakhir kehidupanmu!"
"Ancamanmu sungguh enak didengar, Damar Soka. Di dalam arwah, aku pasti akan bertemu dengan Wulandayu, ibumu yang kau bunuh secara keji! Jika ada titipan pesan, pasti akan kusampaikan padanya."
Kelelawar Pemancung Roh alias Damar Soka berteriak keras mendengar disebutnya nama Wulandayu oleh si kakek. Seperti orang gila dia memukul-mukul dadanya sendiri lalu sambil tiada hentinya merutuk dia tinggalkan Goa Air Biru.
Di dalam jubah biru gombrong Bintang Malam keluarkan suara.
"Kek, Kelelawar Pemancung Roh sudah pergi. Apa saya boleh keluar sekarang?"
"Aku juga. Keringatmu baunya asem tidak enak. Bisa mati pengap aku di dalam sini." Sinto Gendeng ikut bicara.
"Kalian berdua tetap di dalam jubah sampai aku mem­beritahu bahwa kalian boleh keluar."
Bintang Malam diam saja. Tapi Sinto Gendeng memaki panjang pendek.
“Nek, kancing mulutmu. Aku khawatir murid murtad itu masih belum pergi jauh dari tempat ini.”
"Kalau kelewat lama berada di sini, mulut atas memang bisa aku kancing. Tapi aku tidak menjamin bisa mengancing mulut sebelah bawah! Hik… hik… hik!"
Ki Sepuh terbatuk-batuk kecil mendengar ucapan Sinto Gendeng itu. Dia berkata. “Kalau tadi aku tidak men­ceburkan dirimu ke dalam telaga hinggai bersih dan tidak berbau, lalu tubuhmu masih digelimangi bau pesing, Kelelawar Pemancung Roh pasti dapat mencium bau kencingmu dan dia akan tahu bahwa kau sembunyi di dalam jubah. Sekarang kau tahu mengapa aku menyuruh menceburkan dirimu dalam telaga. "
Sinto Gendeng terdiam. Sesaat kemudian dia berkata. “Ya sudah. Sekarang mulutku atas bawah akan kukancing rapat-rapat!”
“Kek, aku ada satu pertanyaan," Bintang Malam bersuara.
“Kau lagi! Satu berhenti bicara satunya malah mmbuka mulut. Apa yang kau ingin tanyakan?"
"Tadi kau mengatakan ibu Kelelawar Pemancung Roh yang bernama Wulandayu itu mati dibunuh oleh Kelelawar Pemancung Roh sendiri."
Benar. Dan itu merupakan satu dosa besar yang selama ini selalu berusaha disembunyikan oleh murid murtad itu. Kenyataannya memang hanya ada tiga orang yang mengetahui kejadian itu. Yang dua orang telah meninggal dunia. Tewas secara aneh. Mungkin dibunuh oleh Kelelawar Pemancung Roh. Orang ketiga masih hidup dan mungkin akan segera menemui ajal pula. Orang itu adalah diriku sendiri!"
“Bagaimana setega itu dia membunuh ibunya sendiri." Ujar Bintang Malam pula.
"Peristiwanya sekitar tiga puluh tahun silam." tanpa di minta Ki Sepuh Buwono lalu bercerita. “Semasa mudanya Damar Soka banyak berteman dan bergaul dengan orang-orang jahat, termasuk para perampok. Dia suka berjudi, mengganggu anak istri orang dan tukang mabuk. Waktu itu dia masih bujangan. Aku sebagai gurunya berulang kali menemui dan menghukumnya, namun anak itu agaknya tidak bisa dibuat jera, apalagi disuruh bertobat. Suatu hari akhirnya dia aku usir dari pertapaan. Suatu malam dia kalah besar dalam perjudian. Dalam keadaan mabuk berat dia pulang ke rumah. Entah setan apa yang masuk ke dalam dirinya, dia melihat ibunya yang sedang tidur pulas bukan seperti ibunya. Tapi seolah-olah perempuan itu adalah seorang lain, seorang gadis. Terjadilah perbuatan luar biasa kejinya itu. Damar Soka merusak kehormatan ibunya. Ketika ibu dan anak sadar apa yang terjadi Damar Soka lalu membunuh ibunya. Sebelum menghembuskan nafas penghabisan. Wulandayu, ibu Damar Soka menjatuhkan sumpah dan kutuk terhadap anaknya. Akibat sumpah dan kutuk itu sosok Damar Soka berubah seperti ujudnya yang sekarang ini. Selain itu dia tidak akan menemui kematian dan sepanjang hidupnya dia akan mengalami banyak kesengsaraan. Kecuali jika satu makhluk yang meminjamkan nyawanya dibunuh lebih dulu. Sampai saat ini tidak satu orangpun mengetahui makhluk apa itu adanya. Setelah peristiwa itu Damar Soka melenyapkan diri selama hampir tiga puluh tahun. Ketika dia kembali menemuiku kelihatannya dia sudah menjadi orang baik-baik. Aku menerimanya kembaii sebagai murid. Memberi beberapa ilmu tambahan. Dia kemudian meminta beberapa ilmu terlarang padaku. Aku hanya nemberikan satu ilmu Yaitu Ilmu Seribu Hawa Kematian. Setelah ilmu itu kuberikan dia memaksa minta ilmu-ilmu lainnya. Aku menolak. Diriku lalu diperlakukannya seperti yang kau saksikan saat ini. Seluruh tenaga dalam dan kesaktianku disedotnya. Aku lalu dikerangkeng seperti ini."
Bintang Malam merasa dingin kuduknya mendengar cerita Ki Sepuh Tumbal Buwono itu. Sinto Gendeng terdiam bungkam namun hatinya nenyumpah habis-habisan.
“Kek, bagaimana kalau…."
"Ki Sepuh Tumbal Buwono menepuk tangan Bintang Malam lalu berbisik.
"Ada orang datang…."

***

5
KEPALA-KEPALA YANG MENGGELINDING

DUGAAN Ki Sepuh Tumbal Buwono benar. Sekeluar­nya dari dalam Goa Air Biru Kelelawar Pemancung Roh berdiri di dekat semak belukar. Saat itu bukan saja dia berusaha mengingat-ingat semua percakapan dengan si kakek yang membuatnya marah setengah mati, tapi dia juga mengingat seluruh keadaan di dalam cegukan batu. Ada sesuatu yang semula tidak mencurigakan, yang setelah berada di luar goa membuat dia berpikir dua kali.
"Aku ingat aku melihat ada alur air setengah mengering antara telaga dan cegukan tempat tua bangka keparat itu duduk bersila. Dalam telaga air biru tidak ada makhluk apapun. Tapi jejak air yang kulihat memberi pertanda sepertinya ada satu benda besar dikeluarkan dari dalam telaga, lalu diseret sampai ke lantai batu cegukan dinding." Makhluk tinggi besar itu mendongak ke langit. "Aneh, tidak seekor kelelawarpun kelihatan berkeliaran. Mereka tidak menemui ajal semua. Apa yang terjadi? Di mana kelelawar penjaga Teluk Akhirat?" Sesaat perhatian Kelelawar Pemancung Roh terbagi. Namun kemudian kembali ingatannya pada jejak panjang di lantai batu dalam telaga. "Aku yakin ada seseorang di tempat itu. Si nenek jahanam. Lalu dimana Bintang Malam?" Makhluk tinggi besar ini kepalkan dua junya. Lalu dengan cepat dia balikkan badan, bergegas masuk ke dalam Goa Air Biru.
Di dalam ruang cegukan batu Ki Sepuh Tumbal Buwono merasa tercekat ketika melihat kemunculan Kelelawar Pemancung Roh untuk kedua kalinya.
“Agaknya ada sesuatu yang mencurigainya. Mungkin dia tahu…"
Kelelawar Pemancung Roh berdiri ditepi telaga. Alur air yang mulai mengering di lantai batu masih kentara. Dia ikuti alur itu dan sampai di hadapan Ki Sepuh.
“Orang tua pendusta! Kau tahu apa hukuman yang bakal kau terima. Kau menyembunyikan orang di tempat ini!"
"Damar Soka, kecurigaanmu tidak beralasan. Kau belum buta. Apa kau lihat ada orang lain di tempat ini?!"
"Ada!" teriak Kelelawar Pemancung Roh. Lalu dia me­langkah ke belakang si kakek dan menarik ke atas jubah biru gombrong Ki Sepuh. Matanya membelalak, mulutnya memaki keras ketika dari balik jubah tersembul sosok Sinto Gendeng dan Bintang Malam. Dengan amarah me­luap Kelelawar Pemancung Roh cekal leher si nenek, jambak rambut Bintang Malam lalu membantingkan ke dua orang ini di hadapan Ki Sepuh. Sinto Gendeng terkapar, memaki tak berdaya sementara Bintang Malam setelah keluarkan pekikan ketakutan, mendekam di lantai dengan wajah pucat.
Dalam hati Ki Sepuh mengeluh. "Nasib paling buruk sudah datang. Tadi tak ada kecurigaan dalam dirinya. Bagaimana dia bisa kembaii dan menemukan dua orang yang kusembunyikan dalam jubahku? Aku tidak takut mati. Tapi bagaimana nasib dua orang ini?"
“Damar Soka, aku siap menerima hukuman darimu. Jika aku melepas nyawa, kutukku akan bersatu dengan kutuk ibumu. Hari nahasmu akan datang! Dan kau akan menemui ajal dalam seribu sengsara!"
"Makhluk jahanam ini pasti juga akan membunuh kami berdua! Hai! Aku tidak takut kau bunuh. Aku berjanji tidak akan ikut-ikutan mengutukmu! Asal kau mau membebas­kan perempuan hamil ini. Membiarkannya keluar dari dalam goa sekarang juga!" Sinto Gendeng keluarkan suara.
"Nenek celaka! Tutup mulut peotmu! Nyawa kakek ini tidak ada harganya bagiku, apa lagi nyawa kalian berdua! Buka mata kalian besar-besar. Lihat bagaimana aku menghabisi tua bangka tak berguna ini!"
Habis berkata begitu Kelelawar Pemancung Roh tendingkan kaki kanannya. Sinto Gendeng berteriak marah. Untuk kesekian kalinya dia coba mengerahkan Ilmu Sepasang Sinar Inti Roh. Tapi lagi-lagi gagal.
"Dukkk!"
Tendangan Kelelawar Pemancung Roh mendarat telak di dada Ki Sepuh Tumbal Buwono. Tendangan yang memiliki bobot hampir lima ratus kati itu bukan saja membuat hancur dan melesak dada si kakek, tapi juga membuat tubuhnya mencelat mental ke dinding batu sebelah belakang dalam keadaan tanpa kepala. Darah menyembur mengerikan. Bintang Malam terpekik tubuhnya bergetar dilanda ketakutan. Sinto Gendeng kembali berteriak keras dan keluarkan kutuk serapah habis­habisan.
Sewaktu Kelelawar Pemancung Roh menendang dada Ki Sepuh hingga tubuh kakek ini terpental, kepalanya tak ikut mencelat karena tertahan oleh kerangkeng besi. Bagian bawah kerangkeng yang berbentuk mata gergaji besar dan tajam dan menjirat lehernya langsung menghunjam leher itu hingga putus! Apa yang terjadi sungguh mengerikan. Darah yang muncrat dari potongan kepala serta yang menyembur dari leher yang tcrsisa membasahi lantai batu!
Kelelawar Pemancung Roh dengan beringas mencekal leher Sinto Gendeng dan Bintang Malam.
"Bagi kalian berdua akan kupilihkan cara mati paling enak. Kalian akan kuceburkan ke dalam kolam Ikan Dajal!" Sinto Gendeng kembali keluarkan kutuk serapah. Bintang Malam menjerit tiada henti. Setengah berlari Kelelawar Pemancung Roh segera keluar dari dalam Goa Air Biru. Namun makhluk tinggi besar ini serta merta keluarkan suara menggembor dan hentikan langkah ketika di depan sana, di mulut goa seorang pemuda berpakaian serba putih, rambut gondrong setengah terbabat, tegak meng­hadang. Di tangan kanan pemuda ini memegang sebilah kapak bermata dua memancarkan cahaya menyilaukan. Sementara tangan kiri yang diangkat ke atas memancar­kan warna seputih perak. Di luar goa saat itu udara mulai redup karena sang surya sebentar lagi akan tenggelam.
"Keparat kurang ajar!" maki Kelelawar Pemancung Roh.
"Makhluk laknat! Lepaskan dua orang itu dan serahkan padaku ikat kepala kain sutera hitam yang melingkar di keningmu!” Pemuda di mulut goa membentak lalu me­langkah mendekati Kelelawar Pemancung Roh.
Kelelawar Pemancung Roh memandang dengan mata dibesarkan, rahang menggembung lalu tertawa bergelak.
"Kalau aku tidak mau melepaskan kedua orang ini dan tidak mau menyerahkan ikat kepala kain sutera, kau mau berbuat apa?! Ha… ha… ha!"
"Aku bersumpah membantaimu saat ini juga!"
Kelelawar Pemancung Roh menyeringai, keluarkan suara mendengus.
"Pendekar 212, aku mau lihat kau bisa berbuat apa! Silahkan kau melepas pukulan Sinar Matahari. Silahkan kau pergunakan Kapak Maut Naga Geni 212 untuk menyerangku. Dua manusia tak berguna ini akan aku jadi­kan tameng menghadapi semua seranganmu! Ha… ha… ha… ha!"
Pemuda gondrong di mulut goa yang memang adalah Pendekar 212 Wiro Sableng adanya tersentak kaget dan memaki dalam hati. Dia terpaksa berhenti empat langkah di hadapan Kelelawar Pemancung Roh.
"Keluar dari dalam goa! Cepat! Atau kubenturkan kepala gurumu dan perempuan celaka ini satu sama lain!"
"Bangsat! Aku harus berbuat apa!" Wiro lagi-lagi merutuk. Keadaannya tidak menguntungkan. Ketika dengan terpaksa dia siap melangkah mundur ke arah mulut goa, tiba-tiba di depan sana dia menyaksikan satu hal luar biasa.
Tubuh tanpa kepala Ki Sepuh Tumbal Buwono yang ter­kapar di lantai batu secara aneh tiba-tiba bergerak ke atas. Lalu laksana anak panah lepas dari busurnya tubuh itu melesat ke arah Kelelawar Pemancung Roh yang tegak membelakangi sambil mencekal Sinto Gendeng dan Bintang Malam. Seram dan ngerinya darah masih mengucur keluar dari kutungan leher. Kelelawar Pemancung Roh mendengar suara bersiur di belakangnya Dia menoleh. Terlambat!
"Dukkk!"
Dua kaki mayat Ki Sepuh Tumbal Buwono menumbuk keras punggung Kelelawar Pemancung Roh lalu sosok tanpa kepala itu terbanting jatuh ke lantai. Makhluk tinggi besar terpelanting ke depan. Sinto Gendeng dan Bintang Malam terlepas dari cekalannya. Selagi dia terhuyunq­huyung coba mengimbangi diri, saat itulah Wiro melompat ke depan. Tangan kiri melepas pukulan Sinar Matahan tangan kanan babatkan kapak sakti. Dua sinar putih menyilaukan berkiblat disertai hawa panas luar biasa. Goa Air Biru laksana neraka.
”Wuuutt!"
"Craass!"
"Wusss!"
Tubuh Kelelawar Pemancung Roh mencelat jauh ke dalam goa, menghantam dinding batu, terbanting jatuh ke lantai dalam keadaan hangus mengepulkan asap. Kepala­nya tak ada lagi di lehernya, menggelinding di lantai hitam hangus kepulkan asap, lalu jatuh masuk ke dalam telaga. Ikat kepala kain sutera hitam yang ada batu Mustika Mata Srigala masih melingkar di keningnya dan kelihatan merah membara. Batu ini mengeluarkan suara cesss ketika ber­sentuhan dengan air telaga.

***

6
ORANG DI ATAS BIDUK

WIRO selipkan kapak saktinya di balik pinggang pakaian lalu cepat memanggul Sinto Gendeng dan Bintang Malam di bahu kiri kanan dan lari ke mulut goa. Ketika muncul di pantai, sang surya telah tenggelam. Udara mulai kelam. Wiro mencari tempat yang baik, lalu turunkan dua orang yang digendongnya.
Sementara Bintang Malam masih tercekat diam dan pucat Sinto Gendeng menegur sang murid. Tentu saja dimulai dengan makian.
“Anak Setan! Rupanya kau berhasil menemukan rahasia kematian makhluk jahanam itu? Kalau makhluk yang men­jadi andalan nyawanya tidak dibunuh mana mungkin tadi kau bisa membantai buntung kepala makhluk jahanam itu."
"Kira-kira begitu Eyang.” Jawab Pendekar 212. "Di tempat kediamannya aku menemukan seekor ikan raksasa bernama Ikan Dajal. Ikan ini adalah makhluk yang tidak pernah punya kaki, tidak pernah menyentuh tanah. Makhluk itu sudah kubinasakan."
"Aku hampir saja dijadikan santapan makhluk celaka itu oleh Kelelawar Pemancung Roh." Ucap Sinto Gendeng. "Anak Setan! Kau tahu apa yang terjadi dengan diriku? Kelelawar Pemancung Roh menotok tubuhku sebelah atas dengan ilmu totokan bernama Totokan Tiga Lapis Jalan Darah. Aku tidak bisa membebaskan diriku. Menurut Ki Sepuh ada senjata tertentu yang bisa melepas totokan celaka ini. Lekas kau pergunakan kapak saktimu…"
Ucapan Sinto Gendeng terputus ketika tiba-tiba Bintang Malam berucap dengan wajah memperlihatkan rasa kaget dan takut luar biasa. Tangannya gemetar menunjuk ke pantai.
“Lihat…!"
Sinto Gendeng memutar matanya. Pendekar 212 paling­kan kepala.
"Edan!" rutuk si nenek
"Gila bagaimana mungkin!” ujar Wiro.
"Luar biasa! Berarti dia belum mati. Dia tidak bisa dibunuh!"
"Berarti…" Wiro menggaruk kepala. “Ikan Dajal itu bukan makhluk yang meminjamkan nyawa pada Kelelawar Pemancung Roh!"
Dalam udara Teluk Akhirat yang mulai remang menggelap kelihatan sosok tanpa kepala Kelelawar Pemancung Roh berjalan dengan langkah terhuyung­huyung menuju pantai. Di tangan kanannya dia menenteng kepalanya sendiri Wiro memperhatikan.
“Astaga!” Pendekar 212 keluarkan seruan pendek.
"Apa yang ada di benakmu Anak Setan?!" tanya Sinto Gendeng.
“Nek, kau lihat kain hitam hangus dari sutera yang me­lilit di kutungan kepala Kelelawar Pemancung Roh?"
Sinto Gendeng delikkan mata. "Aku lihat. Aku belum buta."
"Benda itu milikku. Ada batu menempel di kain hitarn itu…."
"Pasti batu sakti. Dari mana kau mendapatkannya? Kau curi?"
"Tidak Nek, seseorang memberikan padaku."
"Katamu kain itu terbuat dari sutera. Pasti seorang perempuan yang memberikan padamu. Cantik?"
“Nanti saja aku ceritakan Nek. Saat ini aku harus segera mengambil benda itu."
"Jangan bodoh. Tetap di tempatmu anak setan. Aku mencium ada bahaya di sekitar sini. Lihat saja apa yang akan terjadi…"
"Tapi batu sakti itu Nek."
“Nanti bisa dicari. Kalau perlu aku ganti dengan biji kambing yang mengkilap!"
Wiro menggerutu dalam hati. Dia siap hendak bergerak ke arah Kelelawar Pemancung Roh. Tapi Sinto Gendeng kembali mempenngatkan.
"Anak Setan, jangan berani bergerak di tempatmu!"
Saat itu Kelelawar Pemancung Roh melangkah menuju ke arah laut. Di satu tempat dia berhenti. Kutungan kepala­nya diletakkan di atas leher. Lalu sambil menekan kepala itu dia lanjutkan langkah.
"Dia menuju ke laut. Ada apa? Apa yang hendak di­lakukannya”’ ujar Wiro. Lalu dia ingat keterangan Mentari Pagi. Makhluk itu tidak pernah jauh dari air.
Di depan sana dua kaki Kelelawar Pemancung Roh mulai masuk ke dalam air laut. Lalu menyusul pahanya. Se­telah tubuhnya masuk sebatas dada di kejauhan terdengar suara aneh berulang kali.
"Kukukkk.. kukuuukkk… kukuuk…"
"Suara apa itu? Sinto Gendeng membuka mulut sambil memutar bola mata. Wiro dan Bintang Malam memandang berkeliling.
Di dalam laut Kelelawar Pemancung Roh lepaskan pegangan pada kepalanya. Bersamaan dengan itu dari mulutnya keluar suara tawa bergelak. Suara tawa ini baru berakhir ketika keseluruhan kepala Kelelawar Pemancung Roh tenggelam ke bawah air laut.
"Nek, apakah… apakah Kelelawar Pemancung Roh benar-benar hidup kembaii?" Bintang Malam bertanya.
"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." sahut Sinto Gendeng.
“Lihat!" Wiro berseru snmbil menunjuk ke arah laut.
Dalam udara yang mulai gelap, kepala Kelelawar Pemancung Roh kelihatan muncul dan permukaan air. Dari mulutnya berulang kali dia menyemburkan air laut. Tiba­tiba dari tengah laut muncul sebuah biduk. Di atasnya duduk seorang berikat kepala kain merah, mengenakan pakaian serba hitam. Orang di atas biduk tidak mengayuh, malah rangkapkan dua tangan di depan dada. Tapi biduk itu meluncur pesat dengan sendirinya ke arah tersembul­nya kepala Kelelawar Pemancung Roh. Di antara hembusan angin, makhluk di dalam air ini mendengar suara riak air laut memecah dipapas biduk. Dia palingkan kepala. Belum sempat Kelelawar Pemancung Roh mem­perhatikan dengan jelas siapa adanya orang di atas biduk, tiba-tiba salah satu tangan yang mendekap di dada ber­gerak dan sreeet! Kain sutera hitam berbatu sakti yang me­lingkar di kening Kelelawar Pemancung Roh terbetot lepas. Makhluk ini keluarkan teriakan keras. Namun sebelum dia sempat berbuat sesuatu, biduk telah berputar lalu melesat ke tengah laut, lenyap dalam kegelapan Kepala Kelelawar Pemancung Roh sendiri kemudian ikut lenyap dari per­mukaan laut. Semua kejadian itu disaksikan oleh Wiro. Sinto Gendeng dan Bintang Malam dengan terheran-heran.
"Anak Setan, kau bisa menduga siapa orang di atas biduk itu?" Sinto Gendeng bertanya.
"Sulit kuduga Nek…." jawab sang murid. Lalu Wiro ber­usaha membebaskan totokan di tubuh Sinto Gendeng. Dia bahkan mempergunakan kapak sakti namun totokan itu tak bisa dimusnahkan.
Sinto Gendeng menarik nafas panjang "Anak Setan, agaknya kau harus mencari Kalajengking Putih…."
"Kalajengking Putih? Buat apa Eyang?"
"Menurut Ki Sepuh hanya binatang itu satu-satunya yang bisa memusnahkan totokan di tubuhku."
Wiro garuk garuk kepala Dalam hati dia mengeluh. “Tambah celaka nasibku. Bakalan patah pinggangku! Dulu dia masih bisa kudukung di atas bahu. Kini dalam keadaan lumpuh dan tertotok seperti ini terpaksa aku harus meng­gendongnya. Kalajengking Putih! Binatang sialan! Ke mana aku akan mencarinya?’
Sebelum meninggalkan Teluk Akhirat Wiro bersama Bintang Malam terlebih dulu membebaskan sebelas perempuan istri-istri paksaan Kelelawar Pemancung Roh. Lalu Wiro juga mengurus jenazah Ki Sepuh Tumbal Buwono. Kerangkeng besi dihancurkan dengan kapak sakti. Kepala si kakek disatukan dengan badannya lalu di­kubur di tepi pantai.
Yang lebih merepotkan Pendekar 212, tidak seperti sebelas perempuan lainnya. Bintang Malam tidak mau di antar pulang ke desanya. Perempuan yang tengah hamil muda ini bersikeras akan ikut kemana Wiro dan Sinto Gendeng pergi.
“Anak Setan," bisik Sinto Gendeng ke telinga muridnya. "Perempuan satu ini memang jauh lebih cantik dari yang lain-lain. Ada apa dia ingin ikut bersamamu…"
“Aku tidak tahu Eyang…" jawab Wiro sambil menggaruk kepala.
"Pasti ada apa-apanya. Eh, selama ini kau belum pernah melihat orang bunting secantik dia, bukan? Jangan-jangan kau sudah berbuat yang aneh-aneh terhadapnya hingga dia kecantel padamu? Apapun yang terjadi dengan Kelelawar Pemancung Roh, perempuan itu sudah bisa disebut sebagai seorang janda."
“Aku tidak pernah berbuat apa-apa Nek. Sumpah!" kata Wiro pula.
“Anak Setan, ini satu pertanda bahwa kau benar-benar belum bisa menerima ilmu Sepasang Sinar Inti Roh itu. Dengan perempuan bunting saja kau masih tergoda. Aku tahu ini pengalaman baru bagimu. Hik… hik… hik!"
"Sumpah Eyang, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan perempuan itu." kata Wiro mengulang sumpah. Sang guru hanya ganda tertawa.

TAMAT
Ikuti Petualangan Pendekar 212 Wiro Sableng selanjutnya dalam :
MUSTIKA MATA SRIGALA

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog