Friday, March 13, 2009

Bahala Jubah Kecono Geni

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

SATU

SUARA GAMELAN MENGALUN dari arah bangsal yang terletak di sebelah timur sementara di bangsal besar yang disebut Bangsal Agung siap dilangsungkan suatu upacara besar yakni peresmian Raden Mas Ario Joko Pitolo dinyatakan sebagai putera mahkota. Meskipun penobatannya sendiri baru akan dilangsungkan beberapa tahun di muka, namun upacara peresmian dirinya sebagai putera mahkota merupakan upacara adat yang selalu dilaksanakan secara besar-besaran.
Ratusan undangan memenuhi Bangsal Agung. Mereka terdiri dari para tetamu khusus dari luar serta puluhan pejabat dan petinggi kerajaan, termasuk para tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Kiyai Singgih Kanyoman berdiri dari kursi besar yang didudukinya, memandang ke arah rombongan pemain gamelan lalu mengangkat tangan kanan memberi isyarat. Serta merta suara gamelan mengalun perlahan dan akhirnya berhenti.
Orang tua berusia sembilan puluh tahun ini memutar tubuhnya ke arah kanan dimana Sri Baginda di atas singgasana emas. Di sebelah kiri duduk permaisuri. Di sebelah belakang di atas lantai pualam beralas permadani tebal berderet-deret duduk keluarga istana beserta sanak kerabat terdekat. Patih Jolosengoro duduk di barisan kanan bersama-sama dengan para menteri dan pejabat tinggi kerajaan lainnya.
Calon putera mahkota sendiri duduk di sebuah singgasana kecil pada ujung yang berhadapan dengan singgasana Sri Baginda Raja, dikawal oleh dua orang perajurit keraton bersenjatakan tombak serta memegang tameng. Di kiri kanan duduk mengapit saudara-saudaranya baik yang kandung maupun yang sebapak dari dua istri Sri Baginda, lalu di sebelah belakang duduk pula saudara-saudara yang berasal dari para selir Sri Baginda.
Di luar keraton, terutama di alun-alun besar yang ditumbuhi pohon-pohon beringin raksasa meskipun tidak dapat melihat langsung upacara yang akan diadakan namun rakyat banyak ikut berkumpul menyemut.
Kiyai Singgih Kanyoman, abdi dalem tertua dengan jabatan Kanjeng Pangeran beringsut ke hadapan Sri Baginda lalu menghaturkan sembah sujud. Setelah diberi isyarat maka diapun kembali berdiri dan melangkah mundur ke tempatnya semula.
“Para hadirin sekalian…,” kata Kiyai Singgih Kanyoman yang dipercayai memimpin upacara kebesaran hari itu. “Kita sampai pada acara yang ditunggu-tunggu yaitu upacara peresmian Yang Mulia Raden Mas Ario Joko Pitolo dengan resmi dinyatakan sebagai putera mahkota. Sesuai adat tradisi kerajaan, sebelum seorang putera mahkota baru resmi diangkat sebagai bakal pengganti ayahandanya yaitu Sri Baginda Raja yang sekarang, maka kepadanya akan diserahkan dua buah pusaka kerajaan yang menjadi pelambang sahnya dirinya kelak dinobatkan sebagai Raja. Adapun pusaka pertama ialah sebilah keris bernama Ki Pandan Anom yang pada kesempatan ini akan diserahkan dan disisipkan di pinggang kanan belakang Raden Mas Ario Joko Pitolo oleh Sri Baginda sendiri.
Pusaka kedua ialah sehelai jubah sakti bernama Kencono Geni, yang dalam kesempatan ini akan dikenakan pada calon putera mahkota juga oleh Sri Baginda sendiri. Selesai keris disisipkan dan jubah dikenakan maka akan dilanjutkan dengan pengujian keampuhan jubah sakti yang terkenal atos tak mempan api tak mempan senjata tajam.”
Kiyai Singgih Kanyoman tutup ucapannya dengan mengangkat tangan kanan. Gamelan kembali terdengar mengalun. Raden Mas Ario Joko Pitolo duduk tak bergerak dan terlihat tenang. Pemuda berusia enam belas tahun ini mengenakan pakaian putera mahkota lengkap dengan topi tinggi dan tampak gagah sekali.
Dari sebuah bangunan yang terletak di samping Bangsal Agung saat itu terlihat dua orang gadis remaja melangkah perlahan-lahan mengikuti alunan suara-suara gamelan. Keduanya berjalan saling berdampingan.
Yang di sebelah kanan membawa nampan emas di atas mana terletak keris Ki Pandan Anom pada sehelai sapu tangan beludru berwarna hijau. Gadis kedua membawa sebuah kotak kayu berukir yang dari keadaannya menunjukkan bahwa kotak itu berusia puluhan tahun. Di dalam kotak kayu yang ditataki sapu tangan beludru merah inilah disimpan pusaka kerajaan berupa sehelai jubah yang diberi nama jubah Kencono Geni.
Adapun kedua gadis yang membawa benda-benda pusaka itu adalah puteri-puteri Sri Baginda sendiri, satu kakak dan satunya lagi adik Raden Mas Ario Joko Pitolo.
Diiringi oleh gadis-gadis cilik sebanyak enam orang, kedua gadis pembawa pusaka kerajaan melangkah memasuki Bangsal Agung lalu beringsut ke hadapan putera mahkota. Bersamaan dengan itu alunan gamelan terdengar melembut perlahan.
Kiyai Singgih Kanyoman maju beringsut mendekat pada gadis yang membawa nampan emas dimana terletak keris Ki Pandan Anom. Dengan sikap khidmat abdi dalem ini merapatkan kedua telapak tangannya melakukan sembah lalu dengan sangat hati-hati dia mengulurkan kedua tangan untuk menyentuh dan mengangkat senjata pusaka itu. Keris Ki Pandan Anom di dekatkan ke hidungnya seolah hendak menciumnya. Pada saat itulah suara gamelan terdengar mengeras dan Sri Baginda beserta permaisuri bangkit berdiri dari singgasana lalu melangkah ke arah tempat dimana Kiyai Singgih Kanyoman duduk bersimpuh.
Begitu Sri Baginda berada di hadapannya, Kiyai Singgih melakukan sikap berlutut sambil mengangkat Ki Pandan Anom tinggi-tinggi. Sri Baginda mengambil senjata pusaka itu. Raden Mas Ario Joko Pitolo berdiri. Lalu Sri Baginda mendekati puteranya ini dan menyelipkan keris Ki Pandan Anom di pinggang belakang sebelah kanan sang putera.
Suara gamelan sesaat terdengar meninggi lalu kembali perlahan. Kiyai Singgih Kanyoman kini beringsut ke arah gadis yang memegang kotak kayu. Dengan sangat khidmat dia membuka kotak itu. Dari dalam mana dia kemudian mengeluarkan sebuah jubah terbuat dari kain sutera merah berlapis kain beludru juga berwarna merah, dihias umbai-umbai benang berwarna kuning emas pada sepanjang tepinya.
Kiyai Singgih Kanyoman masih dengan beringsut membawa jubah itu kepada Sri Baginda yang kemudian mengambilnya dan membuka lipatannya. Dibantu oleh permaisuri Sri Baginda mengenakan jubah itu ke tubuh puteranya. Jubah sutera berlapis beludru merah ini panjangnya ternyata sampai sebatas lutut.
Setelah penyisipan keris dan pemakaian jubah Sri Baginda dan permaisuri kembali duduk di singgasana. Baginda dan permaisuri kembali duduk di Singgasana.
“Hadirin yang kami hormati, tiba saatnya kita akan melakukan uji coba untuk membuktikan keampuhan jubah sakti yang kini dikenakan oleh calon Raja kita,” Kiyai Singgih Kanyoman menutup ucapannya dengan berpaling pada Sri Baginda.
“Sri Baginda, apakah upacara uji coba dapat dimulai?” bertanya abdi dalem itu.
Di atas singgasana Sri Baginda menganggukkan kepala. Melihat isyarat ini Kiyai Singgih bangkit berdiri seraya mengangkat tangannya. Gamelan kembali menggema. Dari bangsal dimana tadi keluar dua puteri Sri Baginda membawa benda-benda pusaka kini tampak keluar dengan sikap gagah tiga orang pemuda masing-masing membawa sebilah pedang. Begitu masuk ke Bangsal Agung ketiganya menjura dalam di depan singgasana lalu menjura pula di hadapan Raden Mas Ario Joko Pitolo.
“Tiga pemuda perajurit keraton!” berkata Kiyai Singgih Kanyoman. “Kalian diizinkan mem­pergunakan pedang untuk menusuk atau membacok Raden Mas Ario. Terserah bagian mana yang kalian pilih. Kepala, tubuh sebelah atas atau tubuh bagian perut ke bawah….. Raden mas, apakah Raden Mas sudah siap?”
“Saya sudah siap Kiyai Singgih,” jawab putera mahkota pula.
Tiga pemuda melintangkan pedang di depan dada, kembali menjura seraya berkata berbarengan. “Izinkan kami Raden Mas Ario….”
“Kalian telah mendapat izin,” jawab putera mahkota dengan sikap tenang dan gagah tanpa bergerak dari tempatnya berada.
Tiga pemuda kembali menjura. Mereka lalu menyebar. Dua di sebelah depan, satu dari belakang.
Walau tadi Singgih Kanyoman mengatakan bahwa mereka boleh mengarahkan serangan ke setiap bagian tubuh Raden Mas Ario, namun dari ketiga pemuda berpedang itu tak seorangpun berani mengarahkan senjatanya ke kepala putera mahkota.
Bangsal Agung sunyi senyap. Semua mata ditujukan pada tiga pemuda yang saat itu tampak tengah mengangkat tangan yang memegang pedang. Ketegangan menggantung di udara. Lalu terdengar suara tiga bilah pedang berkesiuran. Satu membacok bahu kiri dekat pangkal leher Raden Mas Ario. Satunya menusuk ke bagian perut sedang yang di belakang membabat ke punggung.
Pedang yang mengarah pangkal leher sampai lebih dahulu. Disusul oleh tusukan ke arah perut. Pada detik itu juga terdengar jeritan keras keluar dari mulut Raden Mas Ario. Darah muncrat dari dua luka besar yaitu pada pangkal leher dan bagian perut. Melihat kejadian ini, penyerang ke tiga yang berada di belakang batalkan sambaran pedangnya dan melompat dengan muka pucat. Dua pemuda di sebelah depan jauh lebih pucat wajah masing-masing.
Bangsal Agung kini dilanda kegemparan. Sri Baginda berseru keras. Permaisuri menjerit seraya menutup wajahnya. Hampir semua orang yang hadir di tempat itu sama keluarkan teriakan. Para pemain gamelan di bangsal lain lari berhamburan ke Bangsal Agung. Dua puteri Sribaginda dan enam anak yang tadi bertindak sebagai pengiring menjerit-jerit tiada henti. Sementara itu di tengah Bangsal Agung Raden Mas Ario Joko Pitolo tampak terhuyung-huyung sambil pegangi perutnya. Tubuhnya yang bersimbah darah kemudian jatuh terkapar di atas permadani. Sri Baginda saat itu sudah melompat, mendorong dua pemuda yang tadi melakukan uji coba menyerang ke arah leher dan perut hingga dua pemuda itu jatuh terjengkang. Kiyai Singgih Kanyoman yang telah lebih dahulu memeluk tubuh Raden Mas Ario diterjaknya hingga terpental. Sri Baginda lalu jatuhkan diri merangkul puteranya yang saat itu mulai megap-megap.
“Joko…Joko Pitolo puteraku…kau tidak boleh mati! Gusti Allah….Apa yang sebenarnya terjadi ini?!” Suara Sri Baginda terdengar sesak dan parau. Dia maklum kalau nyawa puteranya itu tidak tertolong lagi.
Ketika kepala Raden Mas Ario terkulai ke samping, meraunglah Sri Baginda. Beberapa orang menteri berlompatan, tetapi tak satupun yang bisa mereka lakukan.
Di samping Sri Baginda Kiyai Singgih Kanyoman tampak membesi dan mengelam wajahnya. Orang tua ini beringsut mendekati sosok tubuh Raden Mas Ario yang telah jadi mayat. Dengan tangan gemetar ditariknya salah satu ujung jubah sutera berlapis beludru merah yang masih dikenakan sang putera mahkota lalu diciumnya dalam-dalam. Berubahlah paras abdi dalem berusia sembilan puluh tahun ini.
“Tak ada bau kayu cendana…..,”desisnya. Lalu sang Kiyai berteriak. “Jubah ini palsu!”
Kembali Bangsal Agung dilanda kegemparan besar. Seseorang kemudian terdengar berteriak. “Periksa bangsal tempat penyimpanan pusaka keraton!”
Tiga orang perwira, dua orang menteri dan lebih dari selusin perajurit ditambah beberapa abdi dalem segera menghambur ke bangsal tempat penyimpanan senjata serta pusaka-pusaka kerajaan.
“Heran! Tak ada perajurit yang mengawal di tempat ini!” kata seseorang.
Yang lain menyahuti. “Juga tak ada seorang abdi dalempun di sini!”
“Sebaiknya kita masuk memeriksa!” seseorang memberi saran.
Rombongan orang-orang itu segera menghambur masuk. Mendadak yang sebelah muka hentikan langkah seraya berseru dan menunjuk ke depan. Dekat pintu masuk menuju ruangan penyimpanan pusaka kerajaan bergelimpangan enam sosok tubuh. Empat perajurit pengawal bangsal, dua lagi abdi dalem. Semua telah jadi mayat dengan leher seperti disembelih!
“Ya Tuhan! Siapa yang melakukan kekejaman begini ganas?! Kutuk apa yang jatuh atas kerajaan….?”
Orang-orang segera membuka jalan begitu mendengar ucapan itu. Yang datang adalah Kiyai Singgih Kanyoman yang melangkah dengan nafas megap-megap dan wajah pucat pasi.
“Ini bukan kutuk! Ini pasti perbuatan Raden Jayengseno!” satu suara menyahuti lalu satu sosok tubuh tinggi tegap berdiri di samping Kiyai Singgih Kanyoman. Orang ini adalah Kudopati, kepala pengawal keraton. Tampangnya yang galak tampak geram. Pelipisnya tiada berhenti bergerak-gerak dan rahangnya menggembung.
Kiyai Singgih seperti hendak menggeleng. Namun orang tua ini batalkan gelengan kepalanya, ganti dengan mengeluarkan ucapan. “Sulit dipercaya bahwa Raden Jayengseno yang punya pekerjaan. Bukankah dia tengah menyepi dan bersamadi di pantai selatan?”
Kudopati menyeringai. “Manusia satu itu sangat licik dan punya seribu akal. Katanya saja dia pergi ke pantai selatan. Tapi bukan mustahil dia sebenarnya berkeliaran menyebar maut di keraton ini. Kiyai Singgih, aku yakin dia ada sangkut paut dengan jubah palsu itu.”
“Maksudmu dia mencuri jubah yang asli lalu mengganti dengan jubah palsu?” tanya Kiyai Singgih.
“Persis!” jawab kepala pengawal keraton. Kembali rahangnya menggembung dan pelipisnya bergerak-gerak.
“Peristiwa ini memang perlu diselidiki….”
“Aku akan minta izin Sri Baginda untuk menangkap Jayengseno. Aku akan berangkat saat ini juga agar besok pagi bisa sampai di tempat manusia itu bersamadi!” Setelah berkata begitu Kudopati lantas balikkan tubuh dan tinggalkan bangsal tempat penyimpanan barang-barang pusaka kerajaan itu.

DUA

PATIH JOLOSENGORO, kepala pengawal keraton Kudopati dan Kiyai Singgih Kanyoman duduk bersimpuh di hadapan Sri Baginda. Tak satupun di antara mereka yang berani bicara. Suasana hening telah berlangsung lama sekali di ruangan tertutup di bagian belakang keraton. Wajah Sri Baginda jelas menunjukkan bahwa dirinya masih sangat terguncang dengan musibah yang barusan terjadi.
“Mengapa kalian diam saja…?” tiba-tiba terdengar Sri Baginda bertanya. Suaranya serak tanpa nada. Lalu tangan kanannya bergerak memukul sebuah arca kecil di sampingnya. Arca batu yang berusia ratusan tahun itu hancur berantakan. “Kalian semua tidak bisu! Bicaralah! Katakan sesuatu! Jangan diam saja!” teriak Sri Baginda.
Tiga orang yang duduk di depan raja tersentak kaget dan juga kecut. Patih Jolosengoro memberi isyarat pada Kiyai Singgih Kanyoman. Orang tua ini lalu membungkuk dalam-dalam. Setelah itu diapun berkata. “Daulat Sri Baginda, izinkan saya menyampaikan laporan. Bangsal tempat penyimpanan senjata telah kami periksa. Tak ada satu benda pusakapun yang hilang. Kami menemui empat orang pengawal dan dua orang abdi dalem telah jadi mayat dalam bangsal itu. Mereka menjadi korban pembunuhan secara keji dan kejam…….. “
“Ki Singgih, apakah kau juga telah memeriksa keris Pandan Anom yang tersisip di pinggang puteraku?” bertanya Sri Baginda dengan kepala terkulai ditunjang tangan kanannya.
“Sudah Sri Baginda. Keris itu asli, tidak palsu…,” menerangkan Kiyai Singgih Kanyoman.
Lalu Patih Jolosengoro berkata. “Ada petunjuk menyatakan bahwa setelah berhasil menukar Jubah Kencono Geni dengan jubah sama tapi palsu, penjahat berusaha pula hendak mencuri atau menukar keris Pandan Anom. Namun keburu ketahuan. Untuk menghilangkan jejak penjahat lalu menghabisi empat pengawal dan dua abdi dalem yang ada di bangsal penyimpanan barang-barang pusaka….”
“Manusia biadab! Terkutuk!” Rahang Sri Baginda menggembung dan kedua tangannya dikepalkan. “Aku ingin mematahkan leher penjahat itu dengan tanganku sendiri!” Kemudian Sri Baginda berpaling pada Kiyai Singgih Kanyoman dan bertanya.
“Apakah sudah diatur acara pemakaman Raden Mas Ario….?”
“Sudah kami siapkan dan kami atur Sri Baginda…,” jawab Kiyai Singgih Kanyoman. Sampai di situ Kudopati memberi isyarat pada sang Kiyai. Mengerti akan isyarat itu maka Kiyai Singgih Kanyoman kembali membuka mulut.
“Selanjutnya saya mewakili kepala pengawal keraton dimas Kudopati. Yang bersangkutan minta izin untuk menangkap Raden Jayengseno yang saat ini tengah bersamadi di salah satu goa di pantai selatan.”
Sri Baginda menatap wajah kepala pengawal keraton itu sesaat lalu berkata “Aku memang banyak mendengar kabar tidak baik mengenai puteraku itu. Pasal apa yang membuatmu hendak menangkapnya, Kudopati?”
Kepala pengawal keraton membungkuk dalam-dalam lalu menjawab. “Maafkan saya Sri Baginda. Bukankah sejak lama kita mengetahui bahwa Raden Jayengseno membekal hati culas dan iri….”
Sri Baginda mengangkat tangannya. “Cukup, Kudopati.
Aku memberimu izin menangkap dan mengusut puteraku itu. Tapi ingat! Soal nyawanya hanya aku yang menentukan!”
Sri Baginda mengusap wajahnya beberapa kali. Ketika dia hendak berdiri, dia melirik sesaat pada Patih Jolosengoro. “Mapatih, jika tak ada yang ingin kau katakan, aku akan segera meninggalkan tempat ini”
“Maafkan saya Sri Baginda. Jika saya boleh mengeluarkan pendapat, saya merasa sangat mustahil Raden Jayengseno melakukan pencurian jubah Kencono Geni lalu menggantikannya dengan jubah palsu yang sangat mirip. Apalagi kalau sampai kita menuduh tanpa bukti bahwa dia yang membunuh empat pengawal dan dua abdi dalem. Sejak dua bulan lalu seperti kita ketahui Raden Jayengseno bertapa di pantai selatan. Mana mungkin dia turun tangan melakukan pencurian dan sekaligus membunuh enam orang tidak berdosa itu? Terus terang dirinya memang diselimuti berbagai keanehan. Mungkin saja hal itu terdorong oleh suatu keinginan yang tidak kesampaian. Namun untuk mencuri benda pusaka lalu membunuh para pengawal dan abdi dalem, rasanya belum sampai sejauh itu keburukan perangai Raden Jayengseno.”
“Maafkan saya kalau memotong kata-kata paman patih “ ujar Kudopati pula yang merasa tidak enak mendengar ucapan patih kerajaan tadi. “Saya mana berani menuduh Raden Jayengseno mencuri dan membunuh kalau tidak ada dasarnya. Putera mahkota calon raja kita tewas terbunuh. Kita wajib menyelidiki hal ini. Raden Jayengseno tentunya memang bukan satu-satunya orang yang patut kita curigai. Mungkin sangkaan itu keliru. Karena itulah saya minta izin pada Sri Baginda untuk menemui Raden Jayengseno di pantai selatan. Memeriksanya dan jika terdapat tanda-tanda bahwa memang dia terlibat dalam peristiwa berdarah hari ini maka saya langsung akan menangkapnya dan membawanya ke hadapan Sri Baginda.”
“Aku setuju dengan jalan pikiranmu Kudopati. Kau boleh membawa serombongan pasukan untuk menangkap Raden Jayengseno. Bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Jika dia terbukti bersalah akan kupancung batang lehernya! Sekarang kau boleh pergi. Sebelum kau berlalu lipat gandakan pengawalan istana. Pasang perwira-perwira muda di tempat-tempat tertentu. Lakukan perintahku Kudopati!”
“Daulat Sri Baginda. Perintah Baginda akan saya jalankan,” sahut Kudopati pula seraya membungkuk.
Sri Baginda tampak seperti termenung. Sesaat kemudian terdengar suaranya datar.
“Mapatih, umumkan kepada rakyat bahwa kerajaan akan melangsungkan masa berkabung selama empat puluh hari….”
Patih Jolosengoro membungkuk seraya berkata. “Perintah akan saya jalankan Sri Baginda.”

***

TIGA

KUDA COKLAT ITU dipacu kencang sejak pagi. Ketika memasuki rimba belantara di daerah selatan binatang yang kehabisan tenaga ini tidak mau terseok-seok. Namun penunggangnya seperti tidak mau tahu terus saja menghentak-hentakkan tali kekang kuda, memukul pinggul binatang itu agar terus lari sekencang-kencangnya.
Meskipun sudah kehabisan tenaga, seperti tahu tugas penting yang menjadi tanggung jawabnya, sang kuda berusaha lari sekencang yang bisa dilakukannya.
Si penunggang sengaja menempuh hutan belantara itu karena inilah satu-satunya jalan memotong yang paling singkat. Jika dia menempuh jalan lain, dia khawatir Kudopati bersama rombongannya akan sampai lebih dahulu di tempat tujuannya.
Pada masa itu hutan di wilayah selatan jarang dimasuki orang. Karenanya keadaannya selain lebat liar, pohon dan tanah hutan diselimuti berbagai jenis lumut licin.
Bagaimanapun setianya si kuda coklat terhadap penunggangnya, namun tenaga dan kekuatan binatang ini ada batasnya. Di antara kerapatan pepohonan jati kuda ini terserandung akar benalu. Didahului oleh satu ringkikan keras binatang itu tersungkur. Penunggangnya berteriak keras dan jatuh terguling-guling di tanah hutan yang penuh lumut. Pakaian kuningnya menjadi kotor. Ikat kepalanya lepas entah kemana dan kini rambutnya yang panjang tergerai lepas sampai ke pinggang. Ternyata dia adalah seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun.
Sambil meringis menahan sakit sang dara merangkak mendekati kuda coklatnya yang tergolek di kaki pohon. Diusapnya hidung binatang ini seraya berkata: “Kliwon….kau tak apa-apa….? Kita harus melanjutkan perjalanan Kliwon. Bisakah kau bangkit? Ayo Kliwon berdirilah….”
Tapi kuda coklat itu untuk beberapa saat hanya diam dan kedip-kedipkan kedua matanya. Agaknya binatang ini mengerti ucapan tuannya, hanya saja tenaganya belum pulih untuk berdiri, apalagi lari melanjutkan perjalanan.
“Oh Kliwon….Kasihan kau tak bisa berdiri. Kau pasti letih dan sakit. Demi Tuhan aku berharap jangan ada bagian tubuhmu yang cidera, apalagi sampai patah kaki. Kau harus berdiri Kliwon. Ayo! Mari kubantu!”
Gadis baju kuning berhasil berdiri. Dengan susah payah dicobanya mengangkat leher kuda hitam itu. Namun sang kuda masih belum sanggup berdiri.
“Kudamu keletihan. Kaki kanannya sebelah depan terkilir. Jangan paksakan dia berdiri….” Tiba-tiba satu suara menegur. Suara itu terdengar aneh, seperti bergumam tanda orang yang bicara tengah makan atau mengunyah sesuatu dalam mulutnya.
Sang dara seperti mendengar suara setan saking kagetnya. Dia cepat berpaling dan terkesima ketika dapatkan dirinya berhadap-hadapan dengan seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong. Mulutnya komat-kamit dan bercelemongan warna merah. Tangan kirinya memegang beberapa untai buah jamblang hutan yang besar dan merah kehitaman. Buah itulah yang tengah dilahapnya ketika bicara tadi.
Melihat sang dara kaget, si pemuda segera sunggingkan tawa lebar dan buru-buru berkata.
“Jangan takut Aku bukan setan atau dedemit hutan. Lihat aku makan buah jamblang yang manis ini. Kalau setan atau dedemit mana doyan jamblang? Ha…ha…ha….!”
Sang dara undur selangkah. Dia memang bisa yakin kalau pemuda di depannya itu bukan setan atau dedemit Tapi bertemu di tengah hutan dengan seseorang yang tidak dikenal, menegur cara seperti itu serta pakai tertawa bergelak segala sementara mulutnya masih penuh buah jamblang, maka hanya ada satu kesimpulan yang dapat ditarik si gadis. Pemuda yang di hadapannya itu adalah seorang kurang waras yang kesasar di tengah rimba belantara. Seperti menyesali nasibnya sendiri, gadis itu berkata. “Ah….dalam keadaan sulit begini, ketemu orang gendeng lagi!”
“Eh!” pemuda yang mendengar dirinya disebut gendeng itu jadi melengak lalu semburkan buah jamblang yang tengah dimakannya ke tanah. Kedua matanya memandang pada sang dara dan tangan kanannya menggaruk kepala. Lalu dia menggeleng-geleng beberapa kali.
“Ketemu baru sekali sudah bisa menuduh orang lain gendeng….” Si pemuda keluarkan suara mendecak beberapa kali. “Saudari, kau berkuda sendirian di rimba belantara yang jarang dilalui manusia ini, siapa kau dan apa keperluan-mu lewat disini….?”
“Jarang dilalui manusia buktinya aku menemui manusia di sini….,” menyahuti sang dara.
“Ah, syukur kau masih menganggap aku manusia. Melihat parasmu yang pucat karena terkejut tadi aku merasa kau pasti menduga diriku setan hutan. Ha…ha…ha….”
“Sudahlah! Orang sedang kesusahan kau enak-enak tertawa. Aku tak mau kau ganggu lebih lama….”
“Siapa berani mengganggu gadis secantikmu?!”
“Aku tak mau bicara denganmu kecuali kau bisa membantuku!” berkata si gadis.
“Membantumu? Tentu saja aku mau. Katakan pertolongan apa yang kau inginkan?” tanya si pemuda pula.
“Bisa kau mendapatkan seekor kuda agar aku dapat melanjutkan perjalanan?”
“Ah, itu namanya kau meminta tanduk pada kucing! Kau lihat aku tidak membawa kuda! Di rimba belantara begini rupa dimana bisa mencari kuda?!”
“Lalu bagaimana kau masuk ke dalam hutan ini?!”
“Jalan kaki.”
“Jalan kaki? Aku tidak percaya!” jawab si gadis lalu memandang berkeliling seolah-olah mencari-cari sesuatu. Tapi memang dia tidak melihat seekor kudapun di sekitar situ. Maka diapun lantas berkata. “Kalau kau memang seekor kucing yang tidak bisa menolongku, pergi saja sana….”
“Tunggu dulu adik baju kuning. Mengadakan kuda aku memang tidak bisa. Tapi aku bisa menolong kudamu itu. Aku bisa mengurut kakinya yang terkilir.”
“Oh jadi sampean ini tukang urut rupanya….” kata sang dara. Dia menyangka si pemuda akan jadi marah karena jengkel, paling tidak akan merah wajahnya. Tapi justru si pemuda kembali tertawa dan menjawab.
“Aku memang ahli urut. Bapakku jagoan mengurut. Bapak dari bapakku ahli mengurut. Bapak dari bapak dari bapakku tukang urut terkenal. Lalu bapak dari bapak dari bapak….”
“Sudah! Jika situ memang pandai mengurut ayo tolong kudaku,” kata si gadis pula. Dalam hati dia menahan rasa geli melihat sikap dan mendengar ucapan pemuda berambut gondrong itu.
Si pemuda kembali tertawa lebar lalu jongkok di depan kuda coklat. Mula-mula diusapnya leher binatang ini.
“Kliwon, aku temanmu. Aku mau menolongmu! Jangan kau tendang aku kalau kuurut kaki kananmu ya….?”
Lalu pemuda itu mulai mengelus-elus kaki kanan sebelah depan kuda coklat yang terkilir. Sesaat binatang itu tampak seperti hendak menendang dan beringas. Namun setelah kembali dielus-elus dia mulai jinak dan membiarkan saja kaki kanannya diurut.
“Nah, mudah-mudahan kakimu sembuh sekarang!” kata si pemuda sesaat kemudian. Dia berpaling pada gadis di sebelahnya dan berkata. “Bantu aku membangunkan binatang ini…. Angkat lehernya, aku akan mengangkat kaki depannya.”
Dengan susah payah kuda coklat itu akhirnya bisa juga ditegakkan kembali.
“Terima kasih. Kau telah menolong aku. Aku tak akan melupakan jasamu….,” kata gadis baju kuning lalu hendak cepat-cepat saja melompat ke atas punggung binatang itu.
“Hai! Tunggu dulu!” berkata si pemuda. “Kudamu ini masih belum bisa ditunggangi. Kalau dipaksa dia akan ambruk kembali!”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya sang dara pula.
“Tuntun dulu sampai kira-kira dua ratus langkah. Setelah itu baru kau boleh menungganginya….”
“Dua ratus langkah tidak dekat. Aku tidak ingin terlambat!”
“Kalau kau paksakan malah akan terlambat seumur-umur. Sebenarnya apa yang kau kejar saudari?”
“Aku tidak mengejar siapa-siapa…”
“Kalau begitu dirimu yang tengah dikejar orang!”
“Juga tidak!”
“Hem…,” si pemuda garuk-garuk kepala.
“Sudahlah, aku tidak bermaksud menyelidik atau mengetahui urusanmu. Aku tengah menuju ke selatan. Kalau kau juga hendak menuju ke sana, kita bisa sama-sama….”
“Kau jalanlah duluan. Dan hitungkan bagiku sampai dua ratus langkah seperti yang kau katakan tadi….”
Si pemuda tertawa. Ucapan si gadis satu pertanda bahwa dia tidak menolak melanjutkan perjalanan bersama-sama. Maka pemuda ini pegang tali kekang kuda coklat dan menuntun binatang itu sementara si gadis melangkah mengikuti dari belakang.
“Namaku Wiro Sableng…. Siapa namamu?” berkata pemuda gondrong sambil melangkah menuntun kuda.
“Aku tidak dapat mengatakannya” jawab si gadis.
“Ah, kau mungkin malu. Tapi mungkin juga belum percaya padaku,” ujar si gondrong yang ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede. “Kau tak mau memberi tahu siapa namamu tak jadi apa. Tapi dari kalung yang melingkar di lehermu aku tahu kau adalah orang dalam keraton! Jangan-jangan kau seorang puteri!”
Terkejutlah dara berbaju kuning itu. Dia memandang ke dadanya. Ternyata mata kalung berbentuk lambang keraton yang dilingkari kuntum melati tersembul keluar dari balik pakaiannya. Kalung seperti ini hanya dimiliki dan dipakai oleh para dara puteri keraton.
“Matamu tajam dan pengetahuanmu luas juga!” kata si gadis.
“Itu berarti kau tak lagi dapat menyembunyikan rahasia dirimu, bukan? Aneh….aneh…. Ada seorang puteri keraton berjalan sendirian, tanpa pengiring tanpa pengawal. Memasuki rimba belantara pula. Menuju ke selatan daerah sepi banyak rintangan dan bahaya, apa gerangan yang tengah dicarinya….?”
“Ucapanmu seperti seorang penyair saja!” berkata sang dara. “Aku memang tidak bisa merahasiakan diriku lagi. Aku Ayu Purini….”
“Tidak pakai Raden di depannya?” tanya Wiro sambil terus melangkah menuntun kuda coklat.
“Di hutan begini tidak laku segala macam gelar,” jawab Purini.
Murid Sinto Gendeng tertawa mendengar jawaban itu.
“Sekarang apakah kau mau menceritakan mengapa kau melakukan perjalanan seorang diri begini? Dari pakaian ringkas yang kau kenakan berarti kau memang sengaja mempersiapkan diri.”
“Hal itu tidak bisa kuberitahukan padamu….”
“Kenapa begitu?”
“Soalnya aku tidak tahu siapa kau sebenarnya….”
“Yang jelas aku bukan orang dari keraton. Emperannya sajapun tidak!”
Kini Ayu Purini yang tersenyum mendengar ucapan itu.
Saat itu baik Wiro maupun Purini sudah sama-sama menghitung sampai langkah ke dua ratus. Hutan gelap yang mereka tempuh kini tampak terang oleh cahaya yang datang dari depan. Tiupan angin lembab mengandung garam berhembus ke arah mereka. Juga dari depan terdengar suara deburan ombak.
Tak selang berapa lama keduanya sampai di ujung hutan dan ternyata di hadapan mereka kini terbentang pasir pantai dan laut luas dengan ombak menggemuruh tiada henti-hentinya.
“Kita sudah sampai di pantai!” ujar Purini lalu mendahului Wiro melangkah ke depan. Tapi saat itu pula gadis ini kembali masuk ke dalam hutan. Malah dia mendorong Wiro dan menarik kuda coklat berlindung di balik kerapatan pohon dan semak belukar.
Dari arah barat terdengar derap kaki kuda banyak sekali. Tak lama kemudian serombongan orang terdiri dari lebih selusin prajurit keraton serta seorang perwira lewat di depan mereka dengan cepat.
“Pasukan kerajaan….,” kata Wiro seraya berpaling pada Purini. “Eh, wajahmu kulihat berubah. Jangan-jangan mereka tengah mencarimu.”
“Dengar, aku harus menuju ke muara Kali Opak. Masih jauhkah tempat itu dari sini? Aku harus mendahului rombongan tadi. Kalau tidak bisa celaka….!”
“Celaka? Siapa yang celaka?!” tanya Wiro.
“Aku butuh pertolonganmu. Kau tahu liku-liku daerah sekitar sini?”
“Tahu betul sih tidak. Tapi yah lumayan. Kau bilang mau ke muara Kali Opak dan harus lebih dulu tiba disana dari rombongan tadi. Betul begitu?”
“Ya, ya! Kau bisa menolongku?!” tanya Purini. Tampaknya ada kecemasan besar dalam dirinya.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau memang mau ke muara Kali Opak….”
“Sudahlah. Jangan hal itu dipersoalkan. Keselamatan Jayengseno terancam. Aku harus menolongnya.”
“Siapa Jayengseno itu?”
“Saudaraku….”
“Saudara atau pacar?”
“Jangan bergurau juga! Kalau sampai terlambat tak ada gunanya aku mengadakan perjalanan sejauh ini!”
“Kalau begitu ikuti aku. Ada jalan berputar, memotong ke arah muara Kali Opak dari arah barat. Mudah-mudahan kita bisa mendahului rombongan itu. Kau boleh menunggangi si Kliwon ini sekarang. Kurasa kakinya sudah cukup kuat.”
“Kau sendiri bagaimana?” tanya Purini.
“Asal kau tidak memacunya kencang-kencang dan membiarkan aku berlari di sebelah depan maka kau tak usah khawatir aku akan ketinggalan di belakang.”
“Baik…larilah. Aku akan mengikuti dari belakang!” kata Ayu Purini pula. Lalu dari balik pakaian kuningnya dia mengeluarkan sebuah benda. Ketika benda itu dikenakannya ke mukanya ternyata adalah sebuah topeng tipis yang membuat wajah aslinya tidak lagi dapat dikenali.
Pendekar 212 geleng-geleng kepala. “Ternyata kau seorang pemain tari topeng!” Wiro tertawa lalu masuk kembali ke dalam hutan, lari di sebelah depan.

***

EMPAT

KETIKA UNTUK KEDUA kalinya mereka keluar dari dalam hutan, ternyata mereka sampai di lamping sebuah bukit kecil. Di balik bukit itu terletak muara Kali Opak yang menjadi tujuan Ayu Purini. Sampai di puncak bukit gadis itu memandang berkeliling. Tidak tampak rombongan pasukan keraton tadi. Jalan memintas yang ditunjukkan si pemuda ternyata mampu membuat rombongan itu tertinggal jauh di belakang.
“Kita sudah sampai di muara Kali Opak. Nah mau menuju kemana sekarang?” tanya Wiro pula. Memandang jauh ke arah ujung muara dia melihat beberapa perahu pencari ikan.
Ayu Purini menunjuk ke arah timur kaki bukit dimana aliran Kali Opak sedikit menikung. “Kau lihat bekas reruntuhan candi itu…?” Wiro mengikuti arah yang ditunjuk lalu anggukkan kepala. “Aku harus segera kesana.” Selesai berucap begitu Ayu Purini sentakkan tali kekang kuda coklat. Si Kliwon melompat dan lari menuruni bukit.
Pendekar 212 terpaksa mengejar. Dia sampai di reruntuhan candi pada saat Ayu Purini telah turun dari kudanya dan melangkah cepat menuju sebuah arca berbentuk kepala singa pada sebuah pilar segi empat. Sesaat gadis itu tampak seperti berpikir mengingat-ingat.
“Dua kali ke kanan, satu kali ke kiri….,” katanya seorang diri.
“Apa yang dua kali ke kanan satu kali ke kiri?” tanya Wiro tak mengerti.
Tanpa menyahuti pertanyaan orang, Ayu Purini pegang kepala singa lalu membuat gerakan memutar ke kanan. Arca itu tidak bergerak sedikitpun.
Kembali si gadis kelihatan seperti mengingat-ingat. “Tak mungkin aku keliru….,” katanya. Lalu dengan mengerahkan seluruh tenaga dia kembali berusaha memutar arca kepala singa itu ke kanan. Terdengar suara berderik. Murid Sinto Gendeng mengerenyit tak percaya ketika dia melihat bagaimana bagian leher dari kepala singa itu tiba-tiba kelihatan berputar perlahan-lahan. Melihat kepala arca akhirnya bergerak, si gadis seolah mendapat kekuatan baru. Dia kembali memutar kepala singa itu ke kanan. Setelah itu dia memutarnya balik ke kiri.
Terdengar suara berkelik disusul oleh suara menderu halus. Murid Sinto Gendeng sempat ternganga sambil garuk-garuk kepala ketika dia melihat bagaimana secara aneh arca batu berbentuk kepala singa itu bergeser ke samping kiri. Di tempat bekas tegaknya semula ini kelihatan sebuah lobang selebar bahu manusia. Ketika dia coba melongok lobang itu ternyata berupa sebuah tangga batu dengan anak tangga berjumlah dua belas. Di kaki tangga agak terlindung oleh kegelapan kelihatan sebuah cekungan. Dari dalam cekungan itu muncul sepasang lutut dalam keadaan bersila.
Wiro membuka mulut hendak bertanya. Namun belum sempat bersuara Ayu Purini sudah mendahului.
“Aku akan masuk ke dalam. Jika rombongan orang-orang keraton tadi datang kemari cepat tutupi lobang ini. Jangan sampai mereka mengetahui ada lobang di sini. Aku tak akan lama!”
“Ayu….”
Tapi sang dara sudah masuk ke dalam lobang dan melangkah menuruni tangga batu. Wiro hanya bisa tegak sambil garuk-garuk kepala.
Baru saja kepala Ayu Purini lenyap di mulut lobang, di arah barat Wiro tiba-tiba melihat rombongan orang berkuda datang dari ujung kaki bukit. Wiro cepat menarik si Kliwon dan menarik leher kuda itu hingga akhirnya binatang itu tergolek di atas pasir, terlindung oleh reruntuhan candi. Dia sendiri kemudian segera berjongkok dan berlindung di balik arca kepala singa.
Kudopati, kepala pasukan pengawal keraton yang menjadi pimpinan rombongan orang-orang itu hentikan kudanya dan memandang berkeliling.
“Muara kali ini gundul plontos. Tak ada hutan, tak ada bukit cukup tinggi. Jika Jayengseno melakukan samadi pasti dia melakukannya dalam sebuah goa. Tapi kalian lihat sendiri. Sama sekali tidak ada tempat yang bisa membentuk goa di sekitar muara ini!” Dua belas orang prajurit keraton ikut memandang berkeliling mendengar ucapan pimpinan mereka itu.
“Mungkin goa itu berada dibawah laut?” berucap salah seorang perajurit. Lalu dia menambahkan. “Berarti kita harus menunggu sampai terjadi pasang surut….”
“Perajurit tolol! Jayengseno bukan ikan yang bisa hidup di air. Bukan juga penyu yang bisa hidup di air dan di darat!” menggerendeng Kudopati. Dia memandang jauh ke tirnur. “Aku melihat reruntuhan candi di ujung sana. Mari kita selidiki tempat itu!” Lalu dia menggebrak kudanya. Setengah jalan sebelum sampai ke reruntuhan candi kepala pengawal keraton yang cerdik ini hentikan kudanya dan memandang ke arah bukit kecil di sebelah kanan.
“Kalian lihat pasir di bukit itu. Ada jejak kaki kuda dan kaki manusia. Kedua jejak itu menuju ke arah reruntuhan candi….”
“Berarti goa itu mungkin ada di sekitar reruntuhan itu,” menyahuti seorang bawahan.
“Mungkin sekali. Namun agaknya ada orang yang telah mendahului kita!” Kudopati tarik tali kekang kudanya, menghambur cepat menuju reruntuhan candi.
Ketika dia sampai di tempat itu segera saja dia dan anak-anak buahnya melihat seekor kuda coklat terbaring di pasir di belakang reruntuhan.
“Dugaan kita tidak salah! Tapi ada kuda tak ada manusia! Tak bisa kupercaya!” Diikuti oleh selusin anak buahnya Kudopati melompat turun dari kuda masing-masing. Tepat pada saat dia menginjakkan kakinya di pasir, saat itu pula dia baru melihat ada sesosok tubuh berpakaian putih tergolek di atas reruntuhan candi, dekat sebuah arca berbentuk kepala singa.
“Orang gila dari mana yang tidur-tiduran di tempat ini di bawah terik panas matahari?!” membatin kepala pengawal keraton itu dia memberi isyarat pada anak buahnya. Dua belas perajurit segera menyebar dan mengurung tempat itu. Kudopati lalu melompat ke dekat arca dan menegur dengan suara keras.
“Manusia berpakaian putih lekas bangun! Katakan siapa dirimu dan mengapa berada di tempat ini!”
Orang yang terbaring di atas reruntuhan candi yang tentunya adalah Pendekar 212 Wiro Sableng usap-usap kedua matanya seperti orang baru bangun tidur. Tapi dia tetap saja berbaring di tempatnya. Karena kalau dia bangun berarti Kudopati akan dapat melihat lobang batu yang sengaja ditutupinya dengan tubuhnya.
“Tak mau menjawab akan kutebas batang lehermu!” teriak Kudopati lalu tangannya bergerak ke arah hulu golok yang terselip di pinggangnya.
“Ah Siapa tuan besar ini yang mengganggu ketenteraman nelayan yang baru saja kehilangan perahu….”
“Perduli setan dengan perahumu! Kami tengah mencari suatu tempat. Aku yakin tempat itu ada di sekitar sini!”
“Tempat apa….?” tanya Wiro sambil kembali usap-usap kedua matanya.
“Sebuah goa! Tempat seseorang bersamadi!”
“Goa….? Goa apa?! Aku sudah tinggal lebih dari dua puluh tahun di daerah ini. Jangankan gua! Lobang kampretpun tak ada di sekitar sini!” jawab Wiro lalu menyengir.
“Aku melihat kuda dan dirimu di sini. Tapi tidak melihat orang kedua!”
“Orang kedua siapa maksudmu?”
“Ada kuda, ada penunggangnya. Lalu ada seorang lagi yang berjalan kaki! Lekas katakan dimana kawanmu satu lagi itu!”
“Otakmu sebelah depan cerdik, tapi yang sebelah belakang tolol!” tukas Wiro pula. “Aku sampai ke tempat ini bukan menunggangi kuda itu, tapi menuntunnya! Kaki kuda itu barusan cidera. Lihat saja keadaannya yang tergolek begitu rupa….”
“Mulutmu bicara kurang ajar! Sikapmu bicara dengan tidur seperti itu juga kurang ajar! Tahukah kau tengah berhadapan dengan siapa?!” membentak Kudopati.
“Eh, mana aku tahu sedang berhadapan dengan siapa? Apalagi aku tak begitu jelas melihat mukamu. Silau oleh sinar matahari….”
“Pemuda kurang ajar! Tulang-tulang igamu layak kuhancurkan!” kata Kudopati hampir berteriak. Lalu kaki kanannya menendang kuat-kuat ke arah rusuk kanan Pendekar 212 Wiro Sableng.
Murid Sinto Gendeng cepat sorongkan siku tangan kirinya ke arah datangnya serangan. Bukkk!
Wiro mengerenyit menahan sakit pada sikunya yang dihantam telapak kaki Kudopati. Sebaliknya kepala pengawal itu mengeluh tinggi dan terpental dua langkah. Telapak kakinya sakit bukan kepalang, laksana barusan menendang batu keras.
Kini otak Kudopati cepat membaca keadaan. Pemuda aneh berambut gondrong berpakaian putih itu bukan pemuda sembarangan. Dia belum pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Jangan-jangan si gondrong aneh ini adalah kawan Jayengseno, sekaligus penjaganya.
“Lekas katakan dimana Jayengseno bersamadi! Kalau tidak kupenggal kepalamu!” Kudopati lantas cabut golok besarnya.
“Heran! Tadi kau berkata mencari goa! Sekarang menyebut nama seseorang. Siapa sih Jayengseno itu?!”
“Kau berani berpura-pura! Padahal kau pasti kaki tangan pangeran culas itu! Coba kau rasakan dulu ketajaman golokku! Daun kupingmu terlalu lebar. Pantas di kikis sedikit!”
Wutt!
Golok di tangan Kudopati menderu ke arah telinga kiri Wiro Sableng. Tapi serangannya meleset.
Pada saat itu pula Wiro merasakan punggungnya yang sengaja dibaringkan untuk menutupi lobang tiba-tiba ada yang mendorong dari bawah keras sekali sehingga dia terangkat dan terguling ke kiri. Bersamaan dengan itu dua sosok tubuh muncul dari dalam lobang. Yang disebelah depan langsung menegur membuka mulut.
“Perlu apa kau mencariku, Kudopati? Sampai-sampai berani mengganggu samadiku?!”

***

LIMA

YANG MENEGUR ITU adalah seorang pemuda bertubuh tinggi semampai. Karena hanya mengenakan sehelai celana pendek berwarna putih maka kelihatanlah tubuhnya yang tegap penuh otot. Dadanya ditumbuhi bulu. Wajahnya yang tampan tertutup oleh cambang bawuk serta kumis liar.
Kudopati tidak segera menjawab. Kedua matanya memandang meneliti seolah-olah ingin meyakinkan dulu bahwa manusia di hadapannya itu adalah orang yang dicarinya. Kemudian dia mengerling pada orang berpakaian kuning yang mengenakan topeng tipis menutupi wajahnya.
“Hemm…..Jadi di sini tempatmu bersembunyi!” kata Kudopati kemudian. “Ternyata kau punya dua penjaga. Satu pemuda gondrong ini, satu lagi manusia pemalu yang sengaja melindungi wajahnya di balik topeng!”
“Bersembunyi? Aku bersembunyi katamu? Apa maksudmu Kudopati….?” Pemuda bercelana putih bertanya. Suaranya keras tapi sikapnya tenang saja. Dia telah melihat ada dua belas prajurit bersenjata mengurung tempat itu. Sebenarnya pemuda ini yang bukan lain adalah Raden Jayengseno, putera tertua Sri Baginda dari seorang selir, sudah mengetahui apa yang terjadi dari Ayu Purini waktu di dalam lobang tadi.
Kudopati segera hendak menjawab. Tapi Jayengseno mengangkat tangannya. “Tunggu dulu! Sebelum kau bicara aku ingin memberi ingat! Sikapmu terhadapku sungguh sangat tidak sopan. Walaupun aku putera dari seorang selir, garis kedudukanku jelas lebih terhormat dari pada dirimu yang hanya seorang perajurit kepala!”
Merah padam paras Kudopati. Namun kemudian tampak dia menyeringai. “Aku tahu, semua orang tahu kalau yang namanya Raden Jayengseno itu adalah putera tertua Sri Baginda. Tapi putera tertua dari seorang selir. Karena itulah kau beranggapan bahwa kau mempunyai hak untuk dinobatkan sebagai pangeran putera mahkota! Jayengseno, kau dicurigai sebagai pencuri jubah Kencono Geni. Menukarnya dengan yang palsu hingga menyebabkan kematian Raden Ario Joko Pitolo, satu-satunya putera Sri Baginda yang berhak atas tahta kerajaan!”
“Kau pandai mengarang fitnah!”
“Siapa mengarang?! Aku datang atas perintah Sri Baginda!” sahut Kudopati keras.
“Kalau begitu kau juga telah berhasil mengelabuhi ayahku! Angkat kakimu dari sini Kudopati! Aku tak ingin kau ganggu lebih lama!’
“Jawab dulu pertanyaanku ! Dimana kau sembunyikan jubah Kencono Geni itu?!”
“Kau tanyakan pada jin laut sana!” jawab Jayengseno.
“Jika kau tidak mau menerangkan, terpaksa aku menangkapmu dan membawamu ke hadapan Sri Baginda di Kotaraja!”
Raden Jayengseno tersenyum. “Pergilah sebelum kutampar mulut lancangmu!”
Rahang Kudopati menggembung. Berbekal perintah Sri Baginda ditambah dengan kedudukannya sebagai kepala pengawal keraton dia merasa dirinya pada kedudukan yang lebih tinggi dari putera raja dari seorang selir itu. Maka dia berteriak memberi perintah untuk menangkap Jayengseno. Dua belas perajurit kerajaan segera bergerak.
“Tunggu dulu!” tiba-tiba Wiro berseru.
“Pemuda gondrong! Kau hanya seekor monyet. Jadi tidak perlu ikut campur urusan orang! Atau kaupun mau aku tangkap?!” bentak Kudopati.
“Perwira, mulutmu memang seperti comberan. Lagakmu seperti jamban busuk! Apa kau punya bukti kalau Raden Jayengseno yang mencuri dan menukar jubah pusaka itu?”
“Itu bukan urusanmu monyet!”
Wiro ganda tertawa dipanggil monyet untuk kedua kalinya itu. Dia berkata: “Seingatku, sudah dua bulan aku berada di tempat ini menjaga Raden Jayengseno. Bagaimana dia bisa kau tuduh sebagai pencuri jubah pusaka itu?”
Dusta Pendekar 212 itu sesaat membuat Kudopati terkesima.
Wiro tertawa. Dia berpaling pada Jayengseno. “Nah, dia tak bisa menjawab. Raden, kau kembalilah masuk ke dalam lobang. Teruskan samadimu. Serahkan kunyuk-kunyuk kesasar ini padaku!”
“Bangsat! Kau berani menghina!” teriak Kudopati. Dia kembali memberi isyarat pada dua belas perajurit. Lalu mendahului menyergap ke arah Pendekar 212. Sebelum menangkap Jayengseno dia ingin lebih dahulu menghajar si gondrong ini.
Tinju kanan Kudopati melayang ke arah muka Wiro Sableng. Serangan itu mengeluarkan suara angin deras tanda Kudopati memiliki tenaga luar yang besar dan berbahaya. Murid Eyang Sinto Gendeng cepat menghindar ke samping. Lutut kirinya menekuk. Bersamaan dengan itu kaki kanannya menendang ke arah perut Kudopati.
Kudopati tidak heran melihat lawan mampu mengelak bahkan balas menyerang. Tadipun waktu tendangannya ditangkis dengan lutut dia sudah menyadari kalau pemuda yang disebutnya monyet ini memiliki kepandaian tinggi. Karenanya Kudopati kini ingin sekali membunuh Wiro secepat-cepatnya. Entah kapan tangan kanannya bergerak, tahu-tahu sebilah golok besar sudah tergenggam. Kini dia menyerbu dengan senjata itu!
Sementara itu dua belas perajurit telah melompat ke atas reruntuhan candi. Enam orang bersenjata tombak, enam lagi menghunus golok. Yang memegang golok menyerbu di sebelah depan.
Jayengseno melompat ke atas sebuah batu candi sementara Ayu Purint yang memang tidak punya ilmu kepandaian apa-apa segera menjauh. Rasa takut menyelimuti diri gadis ini. Walau wajahnya terlindung di balik topeng tipis namun gadis ini masih merasa khawatir kalau-kalau Kudopati dan para perajurit itu mengenalinya.
“Perajurit-perajurit kerajaan! Dengar kata-kataku!” berseru Jayengseno.
“Jangan dengarkan ucapannya!” berteriak Kudopati.
Jayengseno tidak perduli dan meneruskan bicaranya. Tinggalkan tempat ini! Aku tidak ingin mencelakai kalian! Cepat!”
“Kami hanya menjalankan perintah atasan, Raden! Mana kami berani berlaku tidak taat!” jawab salah seorang perajurit.
Plaak!
Baru saja perajurit ini berucap begitu tamparan Raden Jayengseno telah mendarat di pipinya. Tubuhnya melintir hampir jatuh, bibirnya pecah berdarah. Sebelas perajurit lainnya sesaat tampak menjadi bimbang. Namun teriakan Kudopati membuat mereka kembali menyerbu. Terpaksa Jayengseno menyambar golok perajurit yang tadi ditamparnya lalu menghadapi sebelas pengeroyok yang datang menyebarnya.
Sebagai seorang putera raja Raden Jayengseno memang membekal ilmu silat yang tidak rendah. Saat itupun dia sengaja mengucilkan diri untuk menggembleng tenaga dalamnya. Gerakan silatnya mantap dan kelebatan tubuhnya ringan. Namun ada satu hal, Jayasengseno belum punya pengalaman sama sekali mela­kukan dan menghadapi kekerasan. Sehari-hari putera Sri Baginda dari seorang selir ini adalah seorang pemuda yang sopan dan lembut
Dalam beberapa kali gebrakan saja Raden Jayangseno berhasil menendang seorang perajurit dan menjotos perajurit lainnya. Bahkan dia sempat melukai lawan yang ketiga. Namun serbuan yang lain-lainnya bertambah gencar. Perlu diketahui dua belas penyerang itu memang adalah anggota-anggota pasukan tingkat rendahan saja. Namun mereka datang dari kelompok khusus yang sengaja disiapkan dan terlatih dalam melakukan penyerangan atau menangkap lawan hidup-hidup.
Setelah menggempur sepuluh jurus, delapan perajurit itu kini berhasil merangsak maju dan mendesak Raden Jayengseno ke sudut timur reruntuhan candi. Dalam satu gebrakan hebat, Jayengseno berhasil menusuk perut salah seorang penyerangnya, namun saat itu pula dua golok memukul dengan keras badan golok yang dipegangnya. Senjata itu terlepas mental dari pegangannya. Di lain kejap dua ujung tombak sudah menempel di leher Jayengseno sedang sebilah golok ditekankan ke arah perutnya. Putera selir ini tak bisa berbuat apa-apa. Ayu Purini menyaksikan kejadian itu dengan tubuh bergetar dan keluarkan keringat dingin.
Kudopati adalah murid seorang jago silat di daerah Sleman. Sembilan tahun digembleng kemudian dia berguru pada seorang tokoh silat istana. Pada tokoh inilah dia mendapat gemblengan tenaga dalam tingkat tinggi. Kemampuannya yang dianggap luar biasa kemudian memungkinkannya dipercayai jabatan sebagai kepala pengawal keraton. Apalagi kabarnya diapun telah pula berguru pada seorang tua misterius di puncak gunung Merapi dimana dia mendapat pelajaran dan akhirnya menguasai beberapa pukulan sakti.
Tetapi hari itu Kudopati berhadapan dengan lawan yang kadar kedigjayaannya telah dikenal dunia persilatan di delapan penjuru angin. Setelah menggebrak hebat dengan serangan goloknya selama lima jurus, Kudopati tiba-tiba keluarkan seruan kaget ketika tangannya yang hendak membacokkan senjata ke arah kepala Wiro, mendadak terasa seperti kesemutan. Dari arah depan ada satu gelombang angin yang menekan hingga tangannya mengapung di udara. Kini sadarlah kepala pengawal itu kalau lawannya memiliki kekuatan tenaga dalam yang hebat.
Maka diapun merapal aji kesaktian. Lalu tangan kirinya dihantamkan ke depan seraya berteriak. “Mampus!”
Wuss!
Serangkum angin menerpa dahsyat. Tubuh Pendekar 212 tampak bergetar goyang. Menyaksikan itu Ayu Purini sudah seperti terbang nyawanya.
“Kalau pemuda inipun kalah, celakalah diriku. Mereka pasti menangkap aku. Oh….Bagaimana ini?!” keluh Ayu Purini.
Di depan sana untuk menguatkan daya serangannya, Kudopati hentakkan kaki kiri ke atas lantai candi. Lantai itu terasa bergetar keras dan tubuh Pendekar 212 tampak jatuh terbanting. Mengira lawan sudah tidak berdaya dan paling tidak telah mengalami luka dalam yang parah, Kudopati cepat memburu dengan tabasan golok ke arah leher.
Praang!
Mata golok menghantam lantai batu sampai mengeluarkan pijaran bunga api. Tubuh Pendekar 212 sesaat sebelum golok menyambar lehernya sudah berguling ke kiri. Ketika Kudopati berusaha memburu terus tiba-tiba sebuah bongkahan batu candi melayang ke arah kepalanya. Batu ini adalah batu yang dipungut Wiro sewaktu berguling tadi. Mau tak mau Kudopatrterpaksa menyelamatkan kepalanya.
Hal ini membuat gerakannya tertahan sesaat. Ketika lemparan batu lewat di atas kepalanya dan kembali dia hendak melanjutkan serangan, tendangan kaki kanan Pendekar 212 mendarat lebih dahulu di tulang kering kaki kirinya.
Kraaakk!
Terdengar suara patahnya tulang kaki Kudopati. Bersamaan dengan itu terdengar jerit kesakitan kepala pengawal ini. Tubuhnya langsung roboh ke lantai candi dan kelojotan tiada henti karena menahan sakit.
Wiro cepat berdiri lalu menghampiri para pengurung Raden Jayengseno.
“Pimpinan kalian sudah tidak berdaya! Gotong dia dan tinggalkan tempat ini!”
“Apapun yang terjadi kami tetap akan menangkap Raden Jayengseno!” menjawab salah seorang perajurit.
“Kalau begitu kau akan kuhajar paling dulu!” mengancam Wiro.
“Kalau itu kau lakukan kawanku akan menusuk tembus batang leher Raden Jayengseno!” mengancam perajurit tadi.
Wiro menyeringai. “Kau ditugaskan menangkap Raden Jayengseno hidup-hidup. Jika kau berani membunuhnya, Sri Baginda akan memancungmu!”
Selagi perajurit itu berada dalam keadaan bimbang Wiro melangkah ke tempat Kudopati duduk menginjak kaki kiri kepala pengawal yang patah itu sehingga Kudopati menjerit setinggi langit.
“Perintahkan anak buahmu melepaskan Raden Jayengseno. Atau kuinjak hancur kakimu yang patah ini hingga kau jadi cacat seumur-umur!”
“Bangsat!” rutuk Kudopati marah sekaii. Tapi dalam keadaan tidak berdaya seperti itu dia tidak bisa berbuat apa, terpaksa mengikuti kehendak Wiro. Maka kepala pengawal inipun berseru pada semua anak buahnya.
“Lepaskan Jayengseno. Hari ini dia bebas tapi cepat atau lambat kita akan menangkapnya kembali! Bantu aku naik ke atas kuda. Kita kembali ke Kotaraja!”
Mendengar perintah pimpinan mereka itu, delapan perajurit yang mengurung Jayengseno segera mundur. Sebagian dari mereka menolong Kudopati naik ke atas kuda. Yang lainnya membantu teman-teman mereka yang luka termasuk seorang tewas.
Sebelum meninggalkan tempat itu Kudopati menoleh pada Jayengseno. “Mimpimu sudah tamat Jayengseno. Jangan kira kau bakal bisa menjadi pangeran putera mahkota!”
“Aku tidak pernah mimpi seperti itu Kudopati. Justru aku muak dengan tata kehidupan keraton yang hanya mengukur tinggi rendah manusia dari darah dan keturunannya!” menyahuti Jayengseno.
Kudopati menyeringai. “Kelak kalau tali gantungan dibuhulkan ke lehermu, aku akan meminta agar kedua tanganku yang akan melakukannya!”
Jayengseno tertawa hambar. “Mimpimu mungkin tidak akan pernah jadi kenyataan Kudopati. Mungkin aku kelak yang akan menjiratkan tali gantungan ke lehermu!”
Kudopati hendak bergerak pergi namun dia ingat pada Pendekar 212 Wiro Sableng dan berpaling pada pemuda itu.
“Monyet gondrong, umurmu juga tak bakal lama! Aku akan memburumu sekalipun ke neraka!”
“Ah, aku tidak mendengar apa yang barusan kau katakan Kudopati. Mungkin kau bicara kurang keras atau telingaku mulai tuli. Bicaralah lebih keras!” kata Wiro pula lalu dia melangkah mendekati Kudopati yang duduk di atas kuda. Tangan kanannya menyambar kaki kepala pengawal yang patah itu dan menariknya kuat-kuat. Kudopati berteriak kesakitan. “Ah, kurang keras Kudopati! Bicaralah lebih keras!” kata Wiro pula lalu kembali membetot kaki orang itu kuat-kuat hingga Kudopati untuk kesekian kalinya menjerit kesakitan. Sambil tertawa gelak-gelak Wiro pukul pinggul kuda tunggangan Kudopati.

***

ENAM

ABDI DALEM BERUSIA empat puluh tahun itu memandang pada atasannya yang berusia hampir dua kali usianya. “Bapak Kamilun, sampean memanggilku ada apakah….?”
“Tolong sampaikan pada Lurah, malam ini aku tidak bisa menjalankan tugas,” kata Abdi dalem bernama Kamilun.
“Akan saya sampaikan. Tapi kalau saya boleh tahu, halangan apakah yang sedang sampean hadapi…?” bertanya abdi dalem yang muda.
“Sumini, cucu perempuanku yang berusia sepuluh tahun itu sedang sakit. Badannya panas dan dia seringkali mengigau….”
“Kalau begitu biar saya mintakan obat.”
“Tidak perlu susah-susah. Aku sudah mendapat obat. Tapi sakit anakku agak aneh. Dia mengigau seperti orang ketakutan. Berulangkali dia menyebut-nyebut jubah Kencono Geni dan keris Ki Pandan Anom. Seolah-olah sakitnya ini ada hubungannya dengan musibah yang barusan menimpa keraton kita ini….”
Berubahlah paras abdi dalem muda.
“Bolehkah saya melihat cucumu itu?”
Kamilun mengangguk lalu membawa bawahannya itu ke dalam sebuah kamar. Di dalam kamar itu tampak tidur di atas pangkuan ibunya seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat dan wajahnya pucat. Pada keningnya ditempelkan sehelai daun sirih.
Si ibu menyeka keringat di tubuh Sumini berulang kali. Abdi dalem muda gelengkan kepala. Sebelumnya dia sudah sering melihat Sumini. Anak ini bertubuh sehat gemuk. Tapi kini keadaannya tampak sangat kurus. Padahal baru beberapa hari mengalami sakit.
Si anak tampak menggeliat. Perlahan-lahan kedua matanya yang terpejam membuka nyalang dan memandang secara aneh ke sudut kamar sebelah atas. Tiba-tiba anak perempuan ini menggeliat lalu menjerit dan menutupi mukanya dengan kedua tangan seraya berteriak.
“Jangan….jangan ambil keris itu. Jangan ! Kembalikan jubah itu! Kembalikan jubah Kencono Geni….Aduh….jangan pukul aku! Ampun….! Jangan pukul! Lepaskan jambakanmu! Aduh….Ampun….!”
Untuk menjerit seperti itu Sumini harus keluarkan tenaga sangat banyak dan kembali sekujur badannya basah oleh keringat. Sehabis menjerit anak ini tampak lemas lalu menangis tersendu-sendu. Sang ibu mendukung sambil mengusap muka dan keningnya.
“Nah, kau saksikan sendiri….,” kata Kamilun pada bawahannya.
“Igauannya memang aneh. Apakah sampean atau orang pandai sudah coba mengajaknya bicara? Kalau kita tahu apa yang ditakutinya mungkin kita bisa mengobatinya.”
Kamilun tidak berkata apa-apa. Abdi dalem muda yang bernama Kamio itu memberanikan diri. “Jika sampean mengizinkan, saya akan coba mengajaknya bicara.”
“Silahkan, aku juga ingin menyaksikan. Siapa tahu kita bisa mengungkapkan sakit aneh cucuku ini….,” kata Kamilun pula.
“Tapi sebelumnya saya minta sepotong kencur lebih dahulu….” kata Kamio.
Setelah kencur diberikan, Kamio lalu menggigit dan mengunyahnya. Kunyahan kencur itu kemudian diletakkannya di atas kening disamping daun sirih. Lalu dia meniup kening Sumini beberapa kali.
“Sum….Sumini….Kau tidak tidur kan…. Coba buka kedua matamu…,” berkata Kamio dengan suara lembut. Dia mengulangi ucapan itu.sampai tiga kali baru kelihatan Sumini membuka kedua matanya.
“Anak bagus, anak.pandai. Kau sedang sakit, nak. Apakah kau mau sembuh….? Tentu kau ingin sembuh dan bermain lagi dengan teman-temanmu….”
Sumini mengangguk sangat perlahan. “Tapi….,” tiba-tiba saja keluar ucapan dari mulut anak itu.
“Tapi apa cucuku….?” sang kakek ikut bicara.
“Tidak…. Sumini tidak mau lagi pergi ke tempat itu. Tidak….”
“Tempat yang mana anakku?” tanya Kamio.
“Bangsal….bangsal itu. Sumini tidak mau lagi kesana. Tidak mau lagi bekerja disana. Tidak mau lagi membersihkan meja dan kursi. Tidak mau lagi membersihkan peti-peti pusaka….”
“Tentu….tentu kau tidak usah ke sana lagi anakku,” kata Kamio. Lalu dia berpaling pada abdi dalem Kamilun seraya bertanya: “Apakah cucumu sebelumnya memang ikut membantu di bangsal penyimpanan benda-benda pusaka keraton?”
Kamilun mengangguk. “Pada hari kejadian itu malah dia tertidur disana….”
“Jangan-jangan dia menyaksikan sesuatu,” bisik Kamio.
“Cobalah kau tanyakan terus….”
Kamio lantas bertanya. “Sumini, mengapa kau tidak suka lagi pergi ke bangsal itu? Bukankah di situ udaranya sejuk, suasananya tenteram dan banyak hikmahnya, anakku?”
“Sumini takut….Sumini takut…..”
Ketika anak perempuan itu mulai kelihatan hendak menangis, Kamio dan ibunya cepat membujuk.
“Kami bertiga ada disini. Lihat ada kakekmu, ada ibumu. Tidak perlu takut. Apa yang kau takutkan Sumini?”
“Orang itu….Saya melihat orang itu….”
“Orang siapa? Siapa yang kau lihat Sumini?” tanya sang ibu yang mendukung Sumini.
“Orang itu. Tinggi besar…..Bermata besar berambut putih….. Pencuri….!”
“Ah, kau melihat pencuri rupanya. Terhadap pencuri kita tidak perlu takut. Pengawal keraton akan menangkapnya! Apa yang dicuri orang itu Sumini? Kau melihat apa yang dicurinya? Kau mengenali pencuri itu?”
“Orang itu mencuri jubah Kencono Geni lalu memasukkan sebuah bungkusan ke dalam peti. Lalu dia juga hendak mencuri keris Ki Pandan Anom tapi tidak jadi karena ada penjaga yang datang. Lalu orang itu membunuh semua penjaga. Lalu….” Sampai disitu Sumini kelihatan seperti ketakutan dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kamio cepat meniup kening dan mengusap ubun-ubun anak itu. Lalu dia saling berpandangan dengan Kamilun dan berbisik. “Cucu sampean mengetahui satu rahasia besar…. Saya akan menanyainya lagi….”
Kamilun mengangguk.
“Sumini, nak. Kau jangan takut ada kakek dan ibumu disini,” berkata Kamio. “Kau anak pandai. Kau sudah mengatakan pada kami bahwa kau melihat orang tinggi besar berambut putih, bermata besar mencuri jubah pusaka. Juga hendak mencuri keris pusaka. Apakah kau kenal orang itu Sumini?”
Yang ditanya diam saja.
“Mungkin kau lupa. Cobalah mengingat….” kata Kamilun.
“Saya tidak lupa kek….Saya ingat. Tapi saya takut..” jawab si anak.
“Jangan takut. Kalau orang itu hendak mengganggumu kakekmu akan mementung kepalanya, aku akan memukul dadanya. Nah ayo katakan siapa pencuri itu….” mendesak Kamio.
Mulut Sumini terbuka. “Pencuri itu….,” anak ini sesaat memandang ke sudut atas kamar. “Pencuri itu seperti….”
Jendela kamar di samping kiri tiba-tiba terpentang lebar. Di luar tampak satu bayangan. Sesuatu berdesing dalam kamar. Terdengar jeritan Sumini. Bayangan di luar jendela lenyap. Lalu menyusul terdengar raungan ibu Sumini sedang Kamilun dan Kamio sama berseru keras ketika menyaksikan bagaimana sebuah pisau menancap dalam di leher Sumini!

***

TUJUH

MALAPETAKA YANG MENIMPA keluarga abdi dalem Kamilun ternyata tidak hanya sampai pada pembunuhan keji atas diri cucunya saja. Menjelang pagi penduduk di sebelah timur keraton menemukan abdi dalem berusia delapan puluh tahun itu telah menjadi mayat bersama anaknya yaitu ibu Sumini di dalam rumah mereka, sementara jenasah Sumini belum sempat di urus.
Seluruh kawasan keraton menjadi gempar. Terlebih ketika diketahui lenyapnya abdi dalem bernama Kamio. Apakah orang ini ikut menjadi korban pula atau lenyap melarikan diri? Berbagai prasangka bermunculan. Salah satu diantaranya ialah bahwa Kamio melarikan diri karena dialah yang telah menghabisi abdi dalem Kamilun sekeluarga. Dituduhkan bahwa Kamio ada sangkut pautnya dengan lenyapnya jubah Kencono Geni. Anggota keluarga Kamilun mengetahui hal itu. Itulah sebabnya orang tua yang sudah mengabdi pada keraton sepanjang usianya itu dibunuh bersama anak perempuan dan cucunya! Kepada rakyat luas segera diumumkan bahwa Kamio menjadi buronan dan harus ditangkap hidup atau mati!
Di keraton sendiri, di bawah pimpinan langsung Patih Jolosengoro disertai petunjuk Sri Bagindra dibentuk dua kelompok pasukan. Yang pertama berjumlah lima puluh perajurit dan tiga perwira, dikepalai oleh Kudopati yang masih berada dalam keadaan cidera. Kaki kirinya yang patah telah diobati dan diganjal dengan sepotong kayu. Kemana-mana dia memakai tongkat yang dikepit di ketiak kirinya. Meskipun dalam keadaan sakit tapi dendamnya terhadap Jayengseno, terutama pemuda gondrong yang telah membuat dia cidera demikian rupa, telah menimbulkan semangat balas dendam yang menyala dalam dirinya: Oleh Sri Baginda dia tetap diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin kelompok ini dan bertugas mencari dan mengejar kembali Jayengseno.
Bagi Kudopati, Jayengseno tidak menjadi masalah. Yang menjadi persoalan besar justru si gondrong yang ada bersamanya. Agar dia tidak tersandung kedua kalinya maka Kudopati memasukkan ke dalam kelompoknya seorang tokoh silat istana bernama Narowongso yang terkenal dengan senjatanya berupa pecut yang bisa mengeluarkan api. Di samping itu Kudopati juga meminta bantuan gurunya seorang kakek sakti dari gunung Merapi. Dari kakek yang bernama Kunto Ismoro inilah dia mendapat pengajaran ilmu tenaga serta pukulan-pukulan sakti. Kudopati merasa penasaran karena belum sempat mengeluarkan pukulan-pukulan saktinya yang jitu dia sudah keburu dipecundangi oleh pemuda berambut gondrong yang sampai saat itu tidak diketahui siapa nama atau gelarnya.
Kelompok kedua berjumlah hanya sepuluh perajurit, seorang perwira, di pimpin oleh seorang Tumenggung berkepandaian tinggi bernama Gelung Kamiyoso. Kelompok kedua ini ditugaskan untuk mencari dan menangkap abdi dalem Kamio.
Disamping itu Patih Jolosengoro juga menyebar puluhan mata-mata untuk ikut membantu mencari Jayengseno, si gondrong dan Kamio.
Sebelum dua rombongan itu berangkat, Patih Jolosengoro sempat menyampaikan pesan pada pimpinan kedua kelompok itu.
“Sri Baginda sudah hilang kesabarannya. Kalian harus menemukan jubah Kencono Geni, paling tidak mengetahui dimana beradanya. Sri Baginda juga berpesan, kalau keadaan memang tidak memungkinkan lagi maka Jayengseno dan Kamio boleh langsung kalian habisi di tempat….”
Maka dengan membekal tugas dan pesan itu kedua kelompok tersebut segera meninggalkan kotaraja. Sampai saat itu lenyapnya Ayu Purini dari kawasan keraton masih belum diketahui siapapun, kecuali ibunya yang juga merupakan selir Raja. Sang ibu meskipun tidak tahu apa yang terjadi dengan puterinya itu namun berusaha merahasiakan lenyapnya Purini karena dia kawatir nasib anak perempuannya itu bisa-bisa sama dengan yang dialami Kamio. Apalagi dia mengetahui bahwa dari sekian banyak saudara sebapak, yang paling erat hubungannya adalah Ayu Purini dengan Raden Jayengseno.
Meskipun sadar kalau Jayengseno tak bakal ada lagi di reruntuhan candi di muara Kali Opak, namun Kudopati memutuskan untuk pertama kali menuju ke tempat itu guna menghancurkan sisa-sisa reruntuhan yang pernah dijadikan tempat bersamadi oleh Jayengseno. Paling tidak satu tempat persembunyian putera sulung Sri Baginda itu telah dimusnahkan.

HARI ITU ADALAH hari kedua ketiga orang itu meninggalkan Kali Opak, bergerak menuju ke barat laut melintasi rimba belantara kecil lalu menyusun kaki sebuah bukit. Tujuan mereka adalah sebuah dusun kecil di dekat candi Mendut.
Sepanjang jalan Jayengseno bersikeras untuk segera kembali ke kotaraja. Dia merasa perlu menjernihkan suasana. Fitnah yang dicorengkan kepada dirinya harus dibersihkan. Tetapi Wiro dan Ayu Purini menasihati agar maksud itu ditunda dahulu.
“Suasana di kotaraja, terlebih di keraton pasti masih diselimuti kegegeran dan kemarahan. Sulit mengetahui mana kawan dan mana lawan. Apalagi Sri Baginda sudah jatuh dalam pengaruh dan hasutan…..,” berkata Wiro.
“Pendapat sahabat kita ini benar adanya mas Jayeng,” menimpali Ayu Purini. Saat itu dia tidak lagi mengenakan topeng tipisnya. “Terlalu berbahaya. Kita teruskan saja perjalanan ke Mendut sambil menyirap kabar. Sampai di Mendut kita suruh orang-orang kepercayaan kita untuk menyelidiki perkembangan di keraton….”
Jayengseno menarik nafas dalam. “Pikiran dua kepala mungkin memang lebih baik dari pada satu kepala,” katanya.
“Baiklah, aku mengikuti saran kalian.”
Ketika akan memasuki hutan belantara kecil di utara muara Kali Opak tiba-tiba tampak ada seorang berkuda memacu tunggangannya dengan cepat ke arah mereka. Ketiga orang itu menyelinap ke balik pohon. Si penunggang kuda rupanya memang telah melihat mereka karena dia justru mengarahkan kudanya ke jurusan pohon. Sewaktu penunggang kuda ini hanya tinggal beberapa puluh meter saja lagi, ternyata orang itu berseragam abdi daiem keraton.
Jayengseno segera keluar dari balik pohon. Begitu si penunggang kuda sampai di hadapannya dia segera menegur.
“Abdi dalem! Kau datang sebagai mata-mata atau sebagai apa?!”
“Ampun Raden Jayeng,” kata si penunggang kuda begitu melompat turun ke tanah. “Saya memang sengaja mencari Raden sekaligus menyelamatkan diri dari kejaran manusia-manusia penyebar fitnah! Saya bersyukur pada Gusti Allah bisa dipertemukan dengan Raden Jayeng di tempat ini….”
“Hemm….Siapa namamu? Ceritakan apa yang terjadi!” ujar Jayengseno pula. Saat itu Ayu Purini dan Wiro sudah keluar pula dari balik pohon. Si abdi dalem tentu saja jadi terkejut ketika mengenali puteri Sri Baginda itu lalu cepat-cepat menunduk memberi penghormatan.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, abdi dalem….,” menegur Raden Jayengseno.
“Maafkan saya Raden….,” kata abdi dalem. Lalu dia mulai memberi keterangan. “Nama saya Kamio….” Selanjutnya Kamio menerangkan apa yang telah terjadi dengan keluarga abdi dalem Kamilun. Bagaimana dia sendiri kemudian dituduh sebagai pembunuh dan tersangkut dalam perkara lenyapnya jubah pusaka sakti Kencono Geni.
Raden Jayengseno mengusap dagunya beberapa kali. “Rupanya ada harimau di bawah selimut keraton!” kata Jayengseno kemudian.
“Apa yang harus kita lakukan mas Jayeng?” bertanya Ayu Purini lalu melirik pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu tegak sambil garuk-garuk kepala. Tiba-tiba dia ingat pada salah satu bagian keterangan Kamio. Cepat Wiro berkata: “Tadi kau bilang cucu abdi dalem Kamilun sempat melihat sendiri pencuri jubah pusaka itu. Katanya seorang lelaki tinggi besar berambut putih, bermata besar. Coba kau ingat-ingat siapa orang dalam kalangan keraton yang punya ciri-ciri seperti itu….”
“Setahuku banyak orang dalam keraton yang punya ciri-ciri seperti itu “ kata Raden Jayengseno pula.
“Coba disebutkan….,” pinta Wiro. “Dua atau tiga orang abdi dalem. Lalu beberapa anggota pengawal. Seorang anggota penabuh gamelan. Kudopati….. Tidak, dia tidak berambut putih….Tapi mungkin saja dia memakai rambut palsu….”
Wiro menggeleng. “Jika Sumini yang malang itu mengenali siapa adanya si pencuri berarti orang itu tidak menyamar ketika melakukan kejahatannya. Hanya sayang anak itu tidak sempat mengatakan siapa orangnya. Keburu dirinya dibunuh lebih dahulu. Kurasa ibu dan kakeknya juga dibunuh dengan alasan yang sama. Yaitu sudah sempat mendengar keterangan menyangkut ciri-ciri orang itu. Kamio beruntung masih bisa melarikan diri. Tapi sekarang jiwanya terancam…. Nah, masih adakah orang dalam keraton dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan tadi?”
“Apakah tidak ada kemungkinan bahwa penjahatnya adalah orang luar keraton?” bertanya Purini.
“Mungkin saja,” sahut Jayengseno.
Tapi Wiro justru gelengkan kepala.”Jika dia orang luar Sumini tak bakal mengenalinya. Kurasa ini sudah hampir pasti pekerjaan orang dalam. Buktinya dia juga membunuh para pengawal dan beberapa abdi dalem yang ada di bangsal penyimpanan benda-benda pusaka….”
“Kau benar,” kata Jayengseno pula.
“Kalau begitu selama kita berada di luar tembok keraton, kita tak bakal dapat mencari tahu siapa adanya penjahat yang menimbulkan malapetaka itu,” berkata Purini. Lalu dia menyambung. “Aku tiba-tiba saja ingat. Ada dua pejabat tinggi keraton yang memiliki ciri-ciri seperti dikatakan abdi dalem Kamio. Pertama menteri pertanahan, kedua patih kerajaan sendiri….”
Jayengseno gelengkan kepala.”Dua orang itu dianggap sesepuh kerajaan. Telah mengabdi selama puluhan tahun. Bahkan mapatih sendiri sesuai penjelasan abdi dalem ini langsung turun tangan melakukan penyelidikan dan pengejaran.”
“Bagaimana kalau aku menyamar jadi abdi dalem lalu menyelinap masuk ke dalam keraton,” berkata Wiro.
“Akalmu cukup panjang. Tapi keraton sangat luas. Ada beberapa bangunan besar. Aku khawatir kau tersesat dan keburu ketahuan sebelum berhasil menyelidik….”
“Kalau begitu kita bertiga masuk dengan menyamar!” kata Wiro pula. Ayu dan Jayeng menyetujui usul itu. Lalu Jayengseno berkata pada Kamio. “Pergilah ke hutan Dadap. Disitu ada rumah tempat Raja mengaso pada waktu berburu. Untuk sementara kau bisa bersembunyi disitu.”
Abdi dalem bernama Kamio itu menghatur sembah lalu minta diri.

***

DELAPAN

MALAM ITU WALAUPUN tidak terlalu sulit namun dengan penuh rasa tegang dengan menyamar, Raden Jayengseno, Ayu Purini dan Pendekar 212 Wiro Sableng berhasil masuk ke dalam keraton lewat pintu gerbang utara. Saat itu udara agak mendung dan angin bertiup kencang pertanda hujan mungkin akan segera turun.
Pusat tujuan mereka adalah bangsal penyimpanan senjata dan barang-barang pusaka kerajaan. Ternyata bangsal itu kini dijaga secara sangat ketat baik siang apalagi malam hari.
Jayengseno berjalan di sebelah depan. Dia sengaja mengambil jalan yang agak jauh agar sampai di bagian belakang bangunan. Sesuai rencana dia dan Wiro akan memanjat sebuah tembok rendah lalu naik ke atas atap bangsal. Ayu Purini akan disuruh tunggu di sebuah sudut.
Ketika melewati halaman luas sebelum mencapai bagian belakang bangsal penyimpanan senjata tiba-tiba angin kencang bertiup. Daun-daun pohon beringin bersiur keras. Debu dan pasir beterbangan. Blangkon yang melekat di kepala Pendekar 212 yang memang agak kebesaran terpental diterbangkan angin. Cepat-cepat Wiro memungutnya, menggulung rambut gondrongnya ke atas lalu mengenakan blangkon itu kembali.
Beberapa saat kemudian ketika ketiga orang itu bergerak hampir mencapai bagian belakang bangsal penyimpanan senjata, dari sebuah lorong dua orang pengawal yang melakukan tugas keliling tampak keluar dan melangkah ke jurusan mereka. Sewaktu berpapasan tiga pengawal ini memberi penghormatan. Namun setelah dua langkah lewat, salah seorang dari mereka memegang lengan dua temannya dan membisikkan sesuatu. Dua pengawal itu segera berpaling. Setelah memperhatikan ke arah Pendekar 212, salah seorang di antaranya segera berseru.
“Tunggu!”
Tiga abdi dalem sesaat saling pandang dan terpaksa hentikan langkah.
“Ada apakah…?” menegur Jayengseno.
Pengawal yang ditanya tidak menyahuti melain melangkah mendekati Wiro. Setelah memperhatikan kepala sang pendekar sekali lagi maka diapun berkata. “Empat melihat seorang abdi dalem memakai blangkon terbalik!”
Jayengseno dan Ayu Purini terkejut dan sama memandang ke arah blangkon di kepala Wiro. Astaga! Blangkon yang tadi jatuh dan dikenakan kembali itu ternyata memang terbalik. Buhul atau bagian belakangnya berada di sebelah depan!
Wiro yang tak kalah kagetnya cepat-cepat memutar blangkon itu. Namun karena terburu-buru justru rambutnya yang gondrong sempat terburai keluar.
Makin heranlah tiga pengawal tadi.
“Seorang abdi dalem berambut panjang tanpa diikat!” seorang diantaranya berkata.
Kawannya memandang tak berkedip. Sambil memberi isyarat, dia bertanya. “Sampean ini sudah berapa lama jadi abdi dalem keraton? Kami terpaksa memeriksa sampean!”
“Pengawal, tak ada yang perlu dicurigai!” berkata Jayengseno. “Tadi ada angin yang menerbangkan blangkonnya. Karena terburu-buru dia salah mengenakannya!”
“Ada yang tidak beres. Lihat saja! Abdi dalem satu ini tegak membelakangi gedung kuning kediaman Sri Baginda!” kata si pengawal pula.
“Celaka!” keluh Ayu Purini daiam hati. Tegak memunggungi gedung kediaman Sri Baginda memang suatu pantangan bagi siapa saja yang berada dalam jajaran keraton. “Kalian bertiga ikut kami ke rumah penjagaan!”
“Kami ada urusan penting atas perintah patih. Jangan keliwat menganggu!” kata Jayengseno.
“Urusan kalian bisa dilanjutkan kemudian setelah kami melakukan pemeriksaan. Mari ikut….”
“Kalau begitu kalian yang harus ikut kami untuk dihadapkan pada patih kerajaan!” kertak Jayengseno.
Tapi pengawal itu gelengkan kepala. Dia tahu bahwa dalam bertugas kedudukannya tidak bisa ditakut-takuti dengan gertakan apapun. Ketika ketiga abdi dalem itu tetap bersikeras untuk tidak mau mengikuti para pengawal ke rumah penjagaan, salah seorang pengawal mengangkat tangannya. Teman di sampingnya segera lari ke sebuah sudut dimana terletak sebuah kentongan lalu memukul kentongan itu berulang kali. Dalam waktu singkat dari mana-mana bermunculan belasan pengawal.
“Kalian berdua lekas ikut aku!” kata Jayengseno. Sewaktu ketiganya hendak bergerak, dua pengawal segera menghalangi. Wiro cepat totok keduanya hingga kaku tak bisa bergerak lagi. Tapi mulut mereka masih bisa berteriak-teriak.
Jayengseno sambil memegang lengan Ayu Purini lari sekencang-kencangnya ke bagian halaman yang gelap. Wiro mengikuti sambil sesekali menoleh ke belakang. Ketika dilihatnya ada serombongan pengawal mengejar cepat sekali, Wiro segera pukulkan kedua tangannya ke tanah. Pendekar ini lepaskan pukulan sakti “Topan Melanda Samudera” tapi tidak dengan tenaga dalam penuh. Hanya menghalangi dan menutupi pemandangan para pengejar.
Begitu para pengejar terdengar batuk-batuk dan ada yang merintih karena kelilipan, kesempatan ini dipergunakan oleh Jayengseno dan Purini serta Wiro untuk berkelebat ke arah tembok pendek di sebelah selatan, melompati tembok ini terus lari ke arah tembok besar keraton.
Di pintu gerbang Jayengseno sengaja mendatangi enam orang pengawal yang berjaga-jaga dan belum tahu apa yang terjadi di keraton sebelah dalam.
“Kalian semua jangan ada yang meninggalkan tempat ini. Sejumlah pengawal akan datang untuk memperkuat penjagaan. Kami akan melapor pada patih kerajaan….”
“Apa yang tengah terjadi di keraton? Mengapa kentongan dipukul terus menerus?” tanya seorang pengawal.
“Masih belum jelas. Ada yang mengatakan seorang hidung belang menyusup ke dalam keputeran….” jawab Jayengseno lalu cepat memberi isyarat pada Wiro dan Purini agar segera mengikutinya. Ketiganya keluar dari pintu gerbang itu lalu lari sekencang-kencangnya menyusun pinggiran alun-alun yang gelap oleh naungan pohon-pohon beringin. Di satu tempat yang dirasakan cukup aman ketiganya berhenti.
“Maafkan keteledoranku….,” kata Wiro sambil duduk di akar pohon.
Ayu Purini tak bisa berkata apa-apa. Nafasnya sesak dan mukanya masih pucat. Sesaat kemudian baru dia bisa membuka mulut, bertanya: “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Seluruh kotaraja dalam waktu dekat pasti sudah tahu apa yang terjadi. Ruang gerak kita menjadi sempit. Kita tidak bisa lagi menyamar sebagai abdi dalem begini rupa,” kata Wiro seraya hendak membuka pakaian luriknya.
“Jangan dibuka dulu,” berkata Jayengseno cepat.
“Ikuti aku. Ada sebuah tempat di timur kotaraja yang sering dipergunakan Sri Baginda untuk beristirahat. Untuk beberapa lama sampai keadaan aman kita bisa bersembunyi disana.”
Lalu ketiga orang itu segera hendak tinggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba dari arah depan mendatangi serombongan penunggang kuda. Beberapa di antaranya membawa obor.
“Yang datang adalah Kiyai Singgih Kanyoman bersama para pengawal!” bisik Jayengseno ketika mengenali orang tua yang berkuda di paling depan. “Celaka, kita sudah terlihat!”
Apa yang dikatakan Jayengseno memang benar. Abdi dalem dengan pangkat tertinggi dan usia paling tua dalam kawasan keraton telah melihat mereka berada di tempat itu. Mereka baru saja dari luar kota. Ketika mendengar suara kentongan bertalu-talu dari arah keraton, rombongan ini mempercepat lari kuda masing-masing. Namun di bawah sebatang pohon mereka melihat tiga orang berpakaian abdi dalem yang gerak geriknya mencurigakan. Langsung saja Kiyai Singgih Kanyoman mengarahkan kudanya pada ke tiga orang itu.
“Kalian berdua cepat tinggalkan tempat ini. Tunggu aku di tempat peristirahatan Raja,” ujar Wiro cepat. “Kau tahu letak bangunan itu?” tanya Purini.
“Ya, aku tahu. Pergi cepat…. Biar aku menahan orang-orang yang datang ini!”
Jayengseno dan Ayu Purini segera berkelebat dan menghilang dalam kegelapan.
Begitu sampai di hadapan Wiro, Kiyai Singgih Kanyoman langsung membentak. “Malam-malam begini abdi dalem keraton berada di tempat yang tidak semustinya! Mana kawanmu yang dua tadi?!”
“Mereka pergi ke kepatihan guna melaporkan kejadian dalam keraton. Ada penyusup masuk ke dalam kaputeran!” jawab Wiro pula.
Sepasang mata Kiyai Singgih Kanyoman menatap tajam ke dada baju lurik yang dikenakan Wiro. Tadi Wiro hendak membuka pakaiannya ini tapi tak jadi. Celakanya dia lupa mengancingkan bagian atasnya kembali sehingga di balik baju lurik itu Ki Singgih Kanyoman dapat melihat jelas pakaian putih yang dikenakan Wiro.
Ki Singgih lalu mengambil sebuah tongkat yang disisipkannya di kantong perbekalan. Dengan ujung tongkat ini dia mengait blangkong di kepala Wiro. Blangkon jatuh di tanah. Rambut gondrong Pendekar 212 langsung menyembul acak-acakan.
“Orang ini bukan abdi dalem! Tangkap dia!” teriak Ki Singgih Kanyoman.
Sepuluh perajurit dan dua perwira melompat turun dari kuda masing-masing, langsung menyerbu Pendekar 212. Semua mereka mengandalkan tangan kosong karena sama menyangka bahwa dalam waktu singkat dan mudah mereka akan sanggup meringkus si gondrong itu!

***

SEMBILAN

KI SINGGIH KANYOMAN terkejut besar ketika melihat bagaimana dalam dua kali gerakan berturut-turut para pengiringnya dibikin roboh oleh pemuda berambut gondrong itu. Bahkan perwira yang coba menelikung si pemuda dari belakang jatuh terbanting ke tanah kena sikut dan merintih sambil pegangi bagian tulang iganya yang patah!
Singgih Kanyoman jadi marah lalu berteriak. “Pergunakan senjata! Jangan ragu membunuhnya!”
Mendengar seruan ini maka para perajurit yang ada segera menghunus senjata masing-masing. Ada yang berupa pedang, banyak pula yang memegang golok.
Wiro tak ingin menurunkan tangan terlalu keras pada perajurit-perajurit yang hanya menjalankan perintah itu. Namun dia juga tak ingin jadi bulan-bulanan senjata lawan. Maka begitu orang menyerbunya Pendekar 212 segera melompat ke belakang. Sambil melompat dia menyambar leher pakaian perwira yang terduduk sambil merintih kesakitan. Tubuh perwira itu kini dipergunakannya sebagai tameng untuk meng­hadapi serbuan senjata lawan. Tentu saja para perajurit itu menjadi terkesiap dan tidak mungkin meneruskan serangan tanpa membahayakan keselamatan atasan mereka.
Melihat lawan tidak lagi berani menyerang, Wiro lemparkan tubuh sang perwira lalu secepat kilat memutar tubuh meninggalkan tempat itu.
Namun tidak terduga, dari atas kudanya Ki Singgih Kanyoman tampak laksana melayang terbang dan sesaat kemudian dia sudah menghadang di depan Pendekar 212 sambil melintangkan tongkat kayunya.
“Ah, abdi dalem tua ini rupanya memiliki kepandaian tidak sembarangan!” kata Wiio dalam hati seraya bersiap-sedia.
“Serahkan dirimu untuk pengusutan atau kau memilih kupecahkan kepalamu dengan tongkat ini sekarang juga!” berkata Ki Singgih Kanyoman.
“Orang-orangmu menyerang duluan! Sekarang kau malah mengancam hendak memecahkan kepalaku! Apa salahku…?!”
Orang tua itu tertawa mendengar kata-kata Wiro Sableng.
“Mulutmu pandai bicara. Tapi kau berusaha hendak sembunyi di balik selembar lalang. Aku menaruh curiga kau ini adalah pemuda berambut gondrong yang pernah dilaporkan berada di tempat samadi Raden Jayengseno. Dua kawanmu yang kabur tadi dapat pula kupastikan adalah Jayengseno sendiri dan puteri Sri Baginda yang bernama Purini….”
“Ah, lenyapnya Purini sudah diketahui rupanya,” kata Wiro dalam hati.
“Orang tua, siapapun adanya diriku, siapapun adanya kedua orang yang melarikan diri itu tidak perlu dijadikan urusan. Kami bertiga bukan orang-orang jahat.”
“Begitu….? Hanya para penjahat yang berani menantang kerajaan. Hanya orang-orang bersalah yang mau melarikan diri….!”
“Tidak selamanya begitu, orang tua. Orang benar tapi difitnah apakah dia akan diam saja? Orang mencari keadilan tapi malah hendak ditangkap, apakah dia diam saja?!”
“Hemm…. Ucapanmu itu menambah kepastian bahwa kau benar-benar kaki tangan Jayengseno, pencuri jubah Kencono Geni!”
Habis berkata begitu Ki Singgih Kanyoman gerakkan tangan kanannya. Tongkat yang dipegangnya melesat ke arah mata kanan Pendekar 212. Tidak mau berlaku ayal murid Sinto Gendeng cepat berkelit. Dari samping dia menghantam dengan tangan kiri ke arah badan tongkat.
Ki Singgih sengaja menunggu, tidak mau menarik tongkatnya. Tapi begitu pukulan lawan hampir mengenai tongkat, dia gerakkan per-gelangan tangannya demikian rupa sehingga tongkat menggebuk tangan kiri Wiro dengan keras.
Murid Shinto Gendeng mengeluh kesakitan. Selain sakit dia juga menjadi penasaran. Baru sekali ini dia mampu dihantam lawan hanya dalam satu gebrakan. Sampai dimana sesungguhnya kehebatan orang tua ini?
Sambil sunggingkan senyum mengejak Ki Singgih menghujani Wiro dengan serangan tongkat. Senjata itu menderu-deru mengeluarkan angin yang memerihkan mata. Wiro menyambut dengan gerakan-gerakan gesit. Dia sengaja bertahan dengan jurus ilmu silat orang gila yang didapatnya dari Tua Gila dan ketika balas menyerang dia pergunakan jurus-jurus silat Eyang Sinto Gendeng.
Tiga jurus berlalu, lalu tiga jurus lagi. Tidak terasa perkelahian itu sudah memasuki jurus ke dua puluh. Ilmu tongkat Ki Singgih Kanyoman memang luar biasa. Wiro tidak berkesempatan untuk mendesak apalagi berusaha merampas tongkat itu. Bertahan terus menerus bisa berbahaya. Maka pemuda ini terpaksa mulai keluarkan beberapa pukulan saktinya.
Ketika ada angin dahsyat mulai menerpa ke arahnya Ki Singgih Kanyoman bukannya menjadi kaget. Rupanya orang tua ini memang sejak tadi sudah menunggu ingin melihat sampai dimana kehebatan si gondrong ini. Dari saku pakaiannya dia mengeluarkan sebuah sapu tangan. Setiap dia melambaikan sapu tangan ini, angin pukulan yang dilepaskan Wiro seperti dibendung oleh satu tembok baja yang atos.
Wiro menjadi serba salah. Kalau dikerahkannya seluruh kekuatan tenaga dalam dan menghantam dengan pukulan-pukulan sakti simpanan dia khawatir si orang tua akan cedera berat. Padahal dia tak ingin melakukan hal itu. Setelah memutar akal akhirnya Wiro menemui cara yang dianggapnya paling baik. Orang tua seumur Ki Singgih Kanyoman mungkin punya daya tahan terhadap hawa panas, tetapi terhadap udara dingin belum tentu. Maka Pendekar 212 segera merapal aji pukulan “Angin Es” Kedua tangannya diangkat ke atas: Telapak tangan membuka dan diputar-putar dengan cepat. Udara malam yang memang sudah dingin itu kini tiba-tiba berubah menjadi dingin luar biasa.
Ki Singgih Kanyoman tersentak kaget. Dia kerahkan tenaga dalam untuk melawan hawa dingin sambil mengalirkan hawa panas ke seluruh tubuhnya. Tapi terlambat. Sekujur badannya terasa ngilu terbungkus oleh hawa dingin yang hebat. Gerahamnya bergemeletakan. Di sekitarnya semua pengiringnya kelihatan berdiri dengan tubuh bergetar keras menggigil kedinginan, lalu satu demi satu mereka berjatuhan ke tanah dengan tubuh bergelung. Hanya Ki Singgih saja yang masih sanggup berdiri tapi keadaannya menderita sekali. Dia tak mampu bergerak seolah-olah tubuhnya dibungkus lapisan es. Tangan kirinya yang memegang sapu tangan tergantung kaku di udara sedang tangan kanannya yang menggenggam tongkat terkulai ke bawah juga dalam keadaan kaku tegang.
Satu-satunya suara yang bisa dikeluarkannya ialah suara menggigil dan suara bergemeletakan geraham-gerahamnya yang masih utuh walau usianya sudah mencapai sembilan puluh tahun. Penderitaan Ki Singgih ternyata tidak hanya sampai disitu. Dari bawah perutnya terdengar suara mendesir halus. Lalu tampak selangkangnya basah disusul ada air yang menetes ke tanah! Bau pesingnya kencing membersit di tempat itu!
Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa mengekeh melihat kejadian itu. Lalu dia buka baju dan kain yang dikenakannya. Pakaian ini kemudian diselubungkannya ke tubuh Ki Singgih.
“Mudah-mudahan pakaian tambahan ini dapat mengurangi rasa dinginmu. Karena aku memang bukan abdi dalem seperti katamu, aku tidak membutuhkan pakaian itu lagi.” Wiro tepuk-tepuk pipi keriput Ki Singgih yang sedingin es itu lalu berkata. “Selamat tinggal orang tua. Kau telah menjalankan tugasmu dengan baik. Satu ketika akan kubuktikan padamu bahwa Raden Jayengseno bukanlah pencuri jubah Kencono Geni seperti yang kau tuduhkan itu!”
Kiyai Singgih Kanyoman menyeringai buruk. “Aku kira kau tak bakal punya kesempatan membuktikannya! Lehermu akan dipancang lebih dahulu!”
Pendekar 212 balas tersenyum lalu tarik selampai di tangan kiri Ki Singgih dan pergunakan saputangan ini untuk menyeka mukanya. Setelah itu saputangan kembali disempilkannya diantara jari-jari tangan kiri si orang tua. Kemudian dia melompat ke atas punggung kuda milik Ki Singgih. “Jangan kau tuduh aku mencuri kudamu. Aku cuma meminjamnya! Kau barusan ngompol di celana. Jangan lupa cebok Kiyai! Ha…ha…ha…!”
“Aku bersumpah akan memenggal sendiri kepalamu!” kata Ki Singgih Kanyoman dengan mata membeliak.
Sambil tertawa Wiro tinggalkan tempat itu.
Beberapa puluh tombak setelah Wiro berlalu, hawa Pendekar 212 berlalu, hawa yang sangat dingin berangsur-angsur lenyap. Ki Singgih Kanyoman dan semua perajurit yang ada di tempat itu mulai bisa menggerakkan anggota tubuh masing-masing. Yang pertama dilakukan si orang tua ialah menarik kain dan baju yang menyelubungi tubuhnya. Benda itu dibantingkannya ke tanah. Matanya berkilat-kilat dan pelipisnya bergerak-gerak tanda amarahnya tidak terkirakan. Bukan saja marah tetapi juga sangat malu dipermainkan begitu rupa oleh seorang pemuda tak dikenal.
“Ki Singgih, izinkan kami mengejar pemuda itu…,” berkata seorang perajurit.
“Tak ada gunanya….,” jawab Ki Singgih Kanyoman. “Kita harus menuju keraton sekarang juga!”

***

SEPULUH

BANGUNAN YANG BIASA dipakai Raja untuk beristirahat di sebelah timur kotaraja tampak sunyi dan gelap di bagian bawahnya, Namun di sebelah atas ada cahaya lampu. Bangunan berbentuk joglo ini agaknya kurang terpelihara. Mungkin karena sudah sangat lama ini Sri Baginda tidak pernah berkunjung lagi ke tempat ini.
Pendekar 212 hentikan kudanya di halaman yang ditumbuhi rumput liar. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak semestinya di tempat itu. Raden Jayengseno dan Ayu Purini pasti telah sampai lebih dahulu di situ. Namun sama sekali tidak kelihatan kuda-kuda tunggangan mereka.
Wiro perhatikan tingkat atas bangunan. Lalu memandang berkeliling. Gelap dan sunyi.
“Raden! Ayu! Apakah kalian ada di dalam?!” berseru Wiro.
“Kami sudah lama sampai! Masuklah cepat!” Terdengar orang menjawab. Itu suara Raden Jayengseno.” Teriakannya datang dari sebelah atas bangunan.
Wiro merasa lega. Dia segera menarik tali kekang kuda untuk maju ke arah tangga depan bangunan. Namun tiba-tiba sudut matanya menangkap sekilas kilauan dekat pohon besar di halaman kiri.
“Hemmm….Ada yang tidak beres di tempat ini….,” kata Wiro dalam hati. Dia tidak mau menoleh ke arah kilauan yang tadi dilihatnya. Namun dia yakin sekali itu adalah secercah cahaya yang jatuh pada sebilah senjata tajam lalu memantul kembali. Berarti ada orang bersembunyi di kegelapan sana. Mungkin bukan cuma satu orang.
“Raden!” Wiro kembali berseru. “Aku akan mengambil dulu barang yang kau pesankan. Aku segera kembali!”
Habis melontarkan seruan menipu itu Wiro cepat putar kudanya lalu tinggalkan halaman itu secepat-cepatnya. Di sebuah tikungan dia membelok ke kiri memasuki deretan pepohonan. Di sini dia menunggangi kudanya perlahan-lahan hingga tidak mengeluarkan suara. Jalan yang di tempuhnya berkeliling demikian rupa hingga tak lama kemudian dia sampai di bagian belakang rumah peristirahatan.
Dekat sebatang pohon nangka hutan, Wiro turun dari kudanya. Setelah mengikatkan tali kekang ke batang pohon itu dia menyelinap dalam gelap, melangkah mengendap-endap sampai akhirnya tiba di tembok pembatas halaman belakang. Keadaan masih seperti tadi. Sunyi gelap tapi penuh mencurigakan. Seperti seekor tupai, Wiro memanjat pohon besar yang salah satu cabangnya menjulai ke dekat atap bangunan.
Sampai di atas pohon dia memandang ke bawah. Masih sunyi dan gelap. Tak ada gerakan-gerakan. Namun kedua matanya dapat melihat di beberapa bagian, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan benar-benar, mendekam beberapa sosok tubuh.
“Kalau Raden Jayeng dan Purini ada di dalam bangunan, lalu di luar sana ada orang-orang yang berjaga-jaga, pasti telah terjadi sesuatu dengan kedua sahabatku itu,” pikir Wiro. Hampir tanpa suara dia melompak ke atas bangunan yang terbuat dari ijuk tebal.
Dengan mempergunakan jari-jari tangannya Wiro membuka tumpukan ijuk hingga berlubang cukup besar. Lewat lubang itu dia hendak mengintai ke dalam. Namun niatnya ini menjadi urung ketika tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda mendatangani halaman depan. Wiro memperhatikan tajam-tajam, berusaha menembus kegelapan malam.
Seekor kuda memasuki halaman depan dan berhenti tak berapa jauh dari tangga. Penunggangnya tampak turun dengan susah payah dan mempergunakan tongkat untuk menopang ketiak kirinya. Di bahu kanannya dia membawa sebuah bungkusan.
“Ah dia!” desis Wiro ketika mengenali siapa adanya penunggang kuda itu. Orang ini melangkah menuju tangga dan Wiro tak dapat melihatnya lagi karena terhalang atap bangunan.
Belum lagi penunggang kuda bertongkat itu mencapai tangga bangunan mendadak dari empat jurusan melompat sepuluh orang berpakaian serba hitam dengan berbagai senjata di tangan. Seragam pakaian hitam yang mereka kenakan adalah seragam perang pasukan kerajaan.
“Apa-apaan ini?!” bentak orang yang barusan turun dari kuda.
Mengenali suara serta melihat lebih jelas wajah orang yang membentak, sepuluh orang yang semula siap hendak menyerang serta merta merunduk dan mengundurkan diri, kembali ke tempat mereka bersembunyi semula. Hanya seorang saja yang masih berdiri yang rupanya adalah pemimpin mereka.
“Harap maafkan. Kami tidak tahu kalau kepala pengawal keraton yang datang…!”
“Kalian punya tugas apa disini?!”
“Kami diperintahkah untuk berjaga-jaga dan membunuh siapa saja yang mendekati bangunan ini…”
“Hemmm….Siapa yang memberi perintah?!”
“Kami tidak berani memberi tahu. Silahkan masuk dan bertemu sendiri….”
Tiba-tiba dari tingkat atas bangunan dimana nampak ada lampu minyak menyala terdengar orang berseru.
“Kudopati! Naiklah ke tingkat atas!”
“Ah…. Dia benar-benar sudah berada disini!” kata Kudopati, kepala pengawal keraton. Tanpa menunggu lebih lama dengan bantuan tongkat di ketiak kirinya dia naik ke serambi depan lalu mendorong pintu hendak masuk. Baru saja daun pintu bergerak, tiba-tiba dari langit-langit serambi melesat ke bawah sebuah benda.
Kudopati yang mendengar suara berdesing cepat melompat ke kiri dan tersandar ke dinding. Satu langkah di hadapannya, di bekas tempatnya berdiri tadi kini menancap sebatang tombak.
“Hai!” teriak Kudopati. “Kelicikan apa ini?! Kau hendak membunuhku?!”
Dari tingkat atas bangunan terdengar suara tawa bergelak.
“Kau masih bisa berteriak. Berarti belum mati! Ha…ha…ha! Silahkan masuk, Kudopati. Kau terlalu memikirkan apa yang kau inginkan! Apakah kau lupa kalau bangunan ini dipasangi alat-alat dan senjata rahasia?!”
“Semua alat dan senjata rahasia telah dicabut dari bangunan ini! Pasti kau memasangnya kembali!” berteriak Kudopati.
“Jangan mengomel saja! Naiklah ke atas agar urusan kita bisa segera diselesaikan!” Orang di tingkat atas bangunan berkata.
Kudopati terlebih dahulu cabut goloknya baru masuk. Setiap langkah dan gerakan dilakukannya dengan sangat hati-hati. Meskipun bagian bawah bangunan itu gelap sekali, namun karena sebelumnya sudah berulang kali datang ke sini, kepala pengawal keraton itu tidak sulit mengetahui dimana letaknya tangga kayu yang menuju ke tingkat atas. Dia segera melangkah. Tapi baru saja kaki kanannya menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba dari bawah anak tangga kelima melesat sebilah pisau terbang, tepat mengarah ke dada Kudopati. Secepat kilat Kudopati babatkan goloknya.
Traaang!
Pisau terbang terpental sedang Kudopati merasakan tangannya yang memegang golok bergetar keras.
“Tua bangka keparat! Menjebak secara pengecut!” maki Kudopati. “Dengar! Terpaksa aku membatalkan pertemuan ini! Tapi ingat! Rahasiamu akan kubongkar!”
Di tingkat atas terdengar suara tawa pendek lalu orang di atas sana berkata. “Kudopati, rahasiaku adalah rahasiamu juga! Jangan bicara mengancam seperti itu!”
“Lantas apa maumu?! Mengapa kau perlakukan aku seperti ini?!”
“Aku hanya sekedar menguji. Ternyata kau masih hebat. Padahal kaki kirimu patah. Kau berjalan dengan bantuan tongkat. Lalu di bahumu kau membawa bungkusan pula. Sekarang ayolah. Teruskan menaiki tangga. Jangan khawatir tak ada lagi senjata gelap di tempat ini. Cukup dua tadi itu saja!”
Meskipun mengomel panjang pendek namun akhirnya Kudopati melangkah juga menaiki tangga.
Di atas atap Pendekar 212 Wiro Sableng yang sudah tidak sabaran segera mengintai lewat lobang yang di buatnya.
Ada dua pemandangan yang mengejutkan Pendekar 212 begitu matanya melihat ruangan di bawahnya yang diterangi sebuah lampu minyak itu.

***

SEBELAS

PEMANDANGAN PERTAMA yang membuat Pendekar 212 tercekam ialah ketika menyaksikan bagaimana kedua sahabatnya, Jayengseno dan Ayu Purini berada di tingkat atas bangunan dalam keadaan tak berdaya. Keduanya tertegak dekat dinding tanpa bisa bergerak.
“Pasti Ayu dan Raden Jayeng telah ditotok orang!” kata Wiro dalam hati.
Pemandangan kedua yang membuat murid Sinto Gendeng itu terkejut ialah melihat siapa yang berdiri di samping Ayu Purini sambil memegang sebilah pisau. Orang ini bertubuh tinggi besar, berambut putih dan memiliki sepasang mata besar. Dia bukan lain adalah Jolosengoro, Patih kerajaan!
Melihat keadaan di ruangan di bawahnya itu, Pendekar 212 menduga-duga apa yang sebelumnya terjadi. Seperti direncanakan Ayu Purini bersama Raden Jayengseno mendatangi bangunan itu untuk menghindarkan diri dari pencarian orang-orang kerajaan. Ternyata tidak diduga rupanya di situ telah berada Patih Jolosengoro. Mungkin sebelumnya sempat terjadi perkelahian di tingkat atas bangunan itu. Namun mungkin juga Ayu serta Jayeng kena dibokong. Jolosengoro memang memiliki kepandaian tinggi sehingga akhirnya mampu menotok kaku Ayu dan Jayeng. Tetapi mengapa tadi Raden Jayeng menyahuti seruan Wiro dan malah menyuruhnya masuk? JeJas itu adalah jebakan! Lalu mengapa Raden Jayeng melakukan hal itu? Wiro berpikir lagi. Matanya kembali membentur pisau di tangan sang patih.
“Hemm…. Aku tahu sekarang!” kata Wiro lagi dalam hati. “Pasti patih itu mengancam akan melukai atau membunuh Ayu Purini kalau Raden Jayeng tidak mengikuti perintahnya menyahuti panggilanku tadi! Apa arti semua ini….?”
Belum sempat Pendekar 212 memecahkan keanehan atas apa yang disaksikannya itu, dari lobang tempat dia mengintai, kelihatan kepala pengawal keraton yaitu Kudopati sudah naik ke tingkat atas bangunan. Ketiak kirinya di topang sebuah tongkat sedang di bahunya ada sebuah bungkusan kain.
Sesaat Kudopati memandang ke arah Jolosengoro lalu berpaling pada Raden Jayengseno dan Ayu Purini.
“Ah…ah…ah! Dicari-cari ternyata kalian ada disini! Jayengseno, hari ini tamatlah riwayatmu. Mimpi indahmu untuk dapat jadi putera mahkota dan menguasai singgasana akan berubah menjadi mimpi buruk berdarah! Dan hai! Ternyata kau ditemani oleh saudara perempuanmu! Dua orang anak Sri Baginda dari dua orang selir ternyata sama belangnya! Sama-sama jadi pengkhianat! Ayu Purini, jadi kaulah orang bertopeng di reruntuhan candi tempo hari! Hebat! Bagus! Sungguh luar biasa! Mana teman kalian pemuda gondrong itu!”
“Kalian berdua yang luar biasa! Perjanjian busuk apa yang kalian lakukan di tempat peristirahatan Raja!” membentak Raden Jayengseno.
Patih Jolosengoro tertawa mengekeh.
“Kau akan melihat sendiri apa perjanjian pertemuan kami ini Jayengseno! Tapi…. Kau tak akan sempat mengatakannya pada siapapun. Karena umurmu tak bakal lama!”
“Paman patih! Apa maksudmu dengan katakata itu?” bertanya Ayu Purini dengan suara keras.
“Ah! Anak selir ini galak juga rupanya!” ujar Jolosengoro. “Tapi nasibmu mungkin akan lebih baik dari saudaramu itu. Asal kau nanti mau ikut kemana aku pergi…!”
“Tua bangka bermulut kotor!” teriak Ayu Purini.
“Hati dan kelakuannya pasti lebih kotor!” menyambung Raden Jayeng.
Plaakkk!
Tamparan Patih Jolosengoro mendarat di pipi kiri Raden Jayeng. “Berani lagi kau membuka mulut kupatahkan batang iehermu saat ini juga!”
“Kau hanya berani mengancam tapi tidak punya nyali melakukannya! Aku sudah bisa menduga siapa kau sebenarnya! Ciri-ciri dirimu sama dengan ciri-ciri yang disebutkan anak perempuan abdi dalem Kamilun! Kau yang mencuri jubah Kencono Geni!”
“Kurang ajar! Kau memang minta mati cepat!” kertak Jolosengoro. Pisau di tangan kanannya langsung ditusukkan ke leher Raden Jayeng. Ayu Purini terpekik. Namun gerakan tangan sang patih cepat ditahan oleh Kudopati.
“Sabar dulu Mapatih. Membunuh kampret ini semudah membalik telapak tangan! Biar kita selesaikan dulu urusan kita….”
Meskipun amarah membuatnya tidak dapat menahan diri, namun akhirnya Jolosengoro turunkan tangannya yang memegang pisau lalu melangkah ke sebuah meja dimana terdapat dua buah kursi. Dia dan Kudopati lalu duduk berhadap-hadapan. Kudopati meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja, mengangsurkannya ke depan Jolosengoro seraya berkata. “Aku menyerahkan apa yang kau minta. Sekarang serahkan apa yang kuminta.”
Patih Jolosengoro tersenyum. Dari batik pakaiannya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang dibawanya di atas meja, disamping bungkusan yang diletakkan Kudopati.
Kudopati segera hendak menyentuh dan membuka bungkusan itu, tapi tangannya cepat dipegang oleh Jolosengoro. Sang patih berkata: “Sabar sedikit Kudopati. Benda yang kuserahkan ini jangan kau sentuh sebelum kau memeriksa dulu isi bungkusan yang kau bawa!”
“Aku bukan bangsa penipu. Kau boleh memeriksa isi bungkusan ini. Tapi aku juga perlu memeriksa isi bungkusanmu! Kita sama-sama memeriksa!”
“Aku tidak keberatan!” jawab Jolosengoro pula. Lalu dia menarik bungkusan yang tadi disodorkan Kudopati. Isi bungkusan itu langsung dituangkannya. Terdengar suara bergelundungan ketika isi bungkusan berjatuhan di atas meja. Ternyata beberapa bongkah benda kuning. Ada tujuh bongkah besar semuanya. Emas! Di hadapan Jolosengoro, Kudopati membuka bungkusan kain yang diserahkan padanya. Ketika benda dalam bungkusan itu dikeluarkan, terbelalaklah Raden Jayeng dan Ayu Purini. Benda itu adalah sebentuk pakaian terbuat dari sutera merah berlapis emas! Jubah pusaka kerajaan! Jubah Kencono Geni!
“Jadi memang benar dugaanku! Kaulah pencuri jubah Kencono Geni! Patih keparat! Pengkhianat busuk!” teriak Raden Jayengseno.
Jolosengoro seperti tidak mendengar makian itu. Perhatiannya tertuju pada tujuh bongkah emas. Matanya memandang dan meneliti lekat-Iekat. Tanpa setahunya, diam-diam tangan kanan Kudopati bergerak ke bawah meja, menyusup tanpa suara. Lalu secepat kilat tangan itu menyambar golok yang tersisip di
pinggangnya. Secepat kilat pula senjata itu kemudian dibacokkannya ke kepala Jolosengoro!
Bukkk!
Golok beradu dengan batok kepala. Jolosengoro terjengkang akibat sangat kerasnya bacokan itu. Tapi kepalanya sama sekali tidak apa-apa. Jangankan luka, benjutpun tidak! Bacokan maut itu tidak berbekas, tidak mempan! Jolosengoro kebal senjata!
“Kudopati keparat!” hardik Jolosengoro seraya melompat berdiri sementara Kudopati terbelalak tak percaya. Dia jadi curiga. Jubah merah yang dipegangnya dikembangkan lebar-lebar. Salah satu ujungnya di dekatkan ke hidungnya lalu dicium. Tak ada bau kayu cendana!
“Jubah palsu! Bangsat penipu!” teriak Kudopati tak kalah berangnya dari Jolosengoro. Lalu jubah itu dibantingkannya ke lantai! Di lain saat dia sudah memburu ke arah patih kerajaan itu dengan goloknya. Senjata ini berkelebat ganas, berulang kali menghantam kepala dan tubuh sang patih. Tapi tak satu bacokanpun mampu melukai orang berambut putih bertubuh besar itu!

***

DUA BELAS

PATIH JOLOSENGORO TERTAWA BERGELAK sambil berkacak pinggang. “Puaskan hatimu Kudopati. Pilih bagian tubuhku yang paling empuk! Ha…ha…ha….!”
Kudopati melompat mundur dengan wajah berubah. Tubuhnya hampir tegelimpang karena tongkat di ketiak kirinya terpeleset.
“Mapatih! Aku tidak mengira otak dan hatimu sejahat iblis! Jadi pencuri dan kini jadi penipu!”
Kembali Jolosengoro tertawa gelak-gelak lalu menyahuti. “Apa kau kira kau orang jujur?! Apa kau kira aku tidak tahu tujuh bongkah emas itu adalah palsu semua?!”
Wajah Kudopati kini tampak menjadi merah padam. “Berarti…. berarti kau mengenakan jubah Kencono Geni yang asli!”
“Dugaanmu betul dan tepat!” jawab Jolosengoro lalu membuka baju yang dikenakannya. Ternyata di bawah pakaian itu dia memang mengenakan jubah Kencono Geni.
“Celaka!” keluh Kudopati. Senjata apapun yang dipergunakannya, pukulan sakti apapun yang dikeluarkannya tak akan ada arti apa-apa bagi Jolosengoro.
Saat itu sang patih telah melangkah mendekati Kudopati. Kepala pengawal ini mundur sambil mengacung-acungkan goloknya. Tiba-tiba dengan nekad dia coba menusuk salah satu mata Jolosengoro. Patih kerajaan itu miringkan kepala. Lalu tidak terduga kaki kanannya menendang tongkat yang menopang ketiak kiri Kudopati. Tak ampun lagi kepala pengawal ini langsung terhuyung dan jatuh terduduk di lantai.
“Kudopati, cerita dirimu cukup sampai!” kata Jolosengoro sambil melangkah mendekati. Dia mengambil pisau yang terselip di pinggangnya, siap menyembelih kepala pengawal keraton itu. Namun sebelum mata pisau sampai di leher Kudopati tiba-tiba ada suara kaki di tangga lalu menyusul suara keras laksana petir menyambar dibarengi oleh berkiblatnya sinar merah. Dilain kejap pisau di tangan Jolosengoro terlerpas mental lalu jatuh hangus menghitam!
Meskipun tidak cidera sedikitpun numun Jolosengoro sempat mengeluarkan seruan kaget. Ketika memandang ke depan, di bawah nyala lampu minyak yang tidak seberapa terangnya itu dia melihat sesosok tubuh berpakaian dan berikat kepala serba hitam. Wajah orang itu ditumbuhi kumis dan berewok tebal. Sepasang matanya sangat sipit, hampir merupakan garis sedang diatas kedua mata itu merimbun alis tabal hitam. Jolosengoro kenal sekali siapa adanya orang yang di tangan kanannya memegang seutas pecut itu. Dia adalah Narowongso, salah seorang tokoh silat istana. Sebelumnya Narowongso berangkat bersama-sama Kudopati untuk melakukan pengejaran atas Jayengseno serta kawannya pemuda berambut gondrong itu. Lalu mengapa kini tahu-tahu dia bisa menyusul muncul?
Kudopati sendiripun merasa heran melihat kehadiran Narowongso di tempat itu. Jangan-jangan gurunya yang bernama Kunto Ismoro juga ada di tempat itu.
Seperti dituturkan sebelumnya dalam melakukan pengejaran terhadap Jayengseno dan Pendekar 212 Wiro Sableng telah meminta bantuan Narowongso dan gurunya yang diam di gunung Merapi yaitu Kunto Ismoro. Suatu ketika Kudopati memberi tahu bahwa untuk satu keperluan dia harus kembali ke kotaraja.
Hanya beberapa saat setelah Kudopati meninggalkan rombongannya, muncul firasat rasa curiga dalam diri Narowongso. Maka diam-diam, tanpa memberi tahu pada siapapun di dalam rombongan, tokoh silat istana itu mengikuti Kudopati yang akhirnya membawanya ke tempat itu. Sebagai orang istana, tentu saja orang-orang Jolosengoro yang melakukan penjagaan di sekitar halaman tidak berani menghalangi Narowongso.
“Terima kasih kau telah menyelematkan nyawaku, Narowongso,” kata Kudopati seraya mencoba bangkit sambil bersandar ke dinding.
“Tetap di tempatmu Kudopati!” membentak Narowongso. “Jangan berani meninggalkan tempat ini! Saat ini kau memang selamat. Tapi hukuman Raja tak bakal luput atas dirimu!”
Narowongso berpaling ke arah Jolosengoro. “Kau juga, patih Jolosengoro. Menyerah lebih baik bagimu dan serahkan jubah Kencono Geni itu. Aku berjanji akan memintakan keringanan hukuman bagimu!”
Jolosengoro tertawa bergelak mendengar kata-kata tokoh silat istana itu.
“Kau lupa kalau aku ini atasanmu Narowongso! Lupakan apa yang kau saksikan di tempat ini. Kembali ke kotaraja. Tutup mulutmu seumur-umur dan kau akan selamat dari tanganku! Lakukan perintahku!”
Narowongso balas tertawa mengekeh sambil putar-putar pecut saktinya.
“Aku memberi kesempatan padamu! Jika kau menyia-nyiakan berarti penyesalan sampai di liang kubur! Kau mau mengembalikan jubah pusaka kerajaan itu atau tidak?”
“Jika, kau menginginkannya silahkan ambil sendiri!” tantang Jolosengoro pula.
“Begitu? Baik! Lihat pecut!” teriak Narowongso. Tangan kanannya yang memegang pecut bergerak. Maka terdengarlah suara laksana dentuman halilintar disertai berkiblatnya sinar merah berulang kali. Tubuh Jolosengoro tergoncang-goncang. Pakaian yang dikenakannya robek-robek serta mengepulkan asap. Tetapi tubuhnya tidak cidera sedikitpun! Narowongso putar tangannya sekali lagi. Ujung pecut menyambar ke arah leher. Sesaat kemudian terjiratlah leher Jolosengoro. Sekali Narowongso menyentakkan pecut itu maka tubuh Jolosengoro keras dan melesat ke depan. Kepalanya menghantam dinding kayu yang keras.
Braaakk!
Dinding kayu itu amblas berlobang. Tetapi kepala Jolosengoro tidak apa-apa. Malah sambil berbalik patih kerajaan ini tertawa mengekeh. Dia melangkah mendekati Narowongso dengan kedua tangan terpentang, siap untuk mencekik tokoh silat istana itu. Narowongso hantam kedua tangan Jolosengoro dengan pecut apinya, tapi sama sekali tidak dirasakan oleh sang patih.
“Jubah pusaka itu benar-benar luar biasa. Kalau aku tidak dapat menghajar manusia ini, berarti aku bakal mendapat celaka!” Narowongso lalu merapal ajian seraya mengalirkan tenaga dalam dari tangan ke pecut. Didahului bentakan garang, tokoh silat ini lalu hantamkan pecutnya ke arah Jolosengoro.
Pecut berkelebat dengan mengeluarkan suara seperti petir, Bersamaan dengan itu terdengar suara wuusss! Lidah api menyambar ganas, langsung menyelubungi tubuh Jolosengoro. Seluruh pakaian yang dikenakannya, termasuk kasut di kedua kakinya terbakar hangus jadi abu. Tapi dia tetap tegak berdiri tanpa kurang suatu apa. Kini tampak jelas jubah Kencono Geni yang melekat ditubuhnya.
“Gila!” Pendekar 212 memaki di atas atap. “Agaknya kapakku, segala pukulan saktiku juga tak bakal mempan selama orang itu masih mengenakan jubah Kencono Geni. bagaimana aku bisa merampas jubah itu…? Bagaimana aku bisa membuatnya tidak berdaya….?”
Selagi Wiro berpikir-pikir demikian di bawah sana tiba-tiba Patih Jolosengoro melompat ke hadapan Narowongso. Kedua tangannya terpentang dan melesat ke depan ke arah batang leher tokoh silat istana itu. Narowongso yang sadar kalau lawan hendak mencekik lehernya segera hantamkan pecut saktinya. Kembali terdengar suara laksana petir menggelegar disertai sambaran sinar merah.
Namun gerakan Jolosengoro lebih cepat lagi. Narowongso berseru kaget ketika melihat bagaimana sang patih menangkap pecutnya dengan kedua tangannya. Lalu sebelum dia sempat berbuat sesuatu pecut yang panjangnya lebih dari dua puluh jengkal itu sudah menjirat lehernya.
Narowongso meronta sambil berusaha menarik kedua tangan Jolosengoro. Namun pecut menjirat semakin kuat. Raden Jayeng, Ayu. Purini, Kudopati dan Pendekar 212 yang ada di atas atap bangunan sama-sama menyaksikan bagaimana lidah Narowongso mulai terjulur. Kedua matanya yang sipit kini mendelik besar. Terdengar suara patahnya tulang leher Narowongso ketika Jolosengoro menyentakkan jiratan pecut. Nyawanya putus saat itu juga!
Tubuh tak bernyawa itu kemudian ditendang hingga jatuh ke lantai bawah bangunan dengan suara bergedebukan!
Perlahan-lahan Jolosengoro balikkan tubuhnya. Saat itu Kudopati tengah merangkak untuk mengambil tongkatnya yang tadi tercampak oleh tendangan Jolosengoro. Hanya seujung jari lagi tongkat itu akan disentuhnya, tiba-tiba Jolosengoro menendangnya. Untuk kedua kalinya tongkat itu terpental dan kini melayang jatuh ke tingkat bawah.
“Jolosengoro….Kita lupakan saja urusan sampai disini. Aku akan menutup mulut dan tidak akan menceritakan pada siapapun apa yang telah kau lakukan. Asalkan…..”
“Asalkan apa, Kudopati?!” tanya Jolosengoro dengan menyeringai.
“Asalkan kau biarkan aku meninggalkan tempat ini.”
“Begitu….?”
“Aku mohon padamu Jolosengoro…,” kata Kudopati pula memelas.
“Baik! Kukabulkan permintaanmu! Bahkan aku berbaik hati menyuruh orang-orangku untuk menggotongmu meninggalkan tempat ini!”
“Terima kasih Jolosengoro! Terima kasih!” kata Kudopati seraya menyembah berulang-ulang.
Jolosengoro keluarkan suara suitan nyaring tiga kali berturut-turut. Dari persembunyian mereka di halaman yang gelap dua lusin orang berseragam perang serba hitam membanjir masuk, langsung menuju ke tingkat atas bangunan.
“Kami menunggu perintahmu, Mapatih Jolosengoro!” kata pimpinan mereka.
“Gotong kepala pengawal keraton meninggalkan tempat ini!” memberi tahu Jolosengoro.
Empat orang maju mendekati kepala pengawal keraton itu lalu menggotongnya. Ketika orang-orang itu hendak melangkah pergi sekali lagi Kudopati menghaturkan terima kasih, malah kali ini sambil melambaikan tangan.
“Terima kasih Jolo. Aku tidak melupakan budi besarmu ini….,” kata Kudopati pula.
“Tunggu dulu!” berseru Jolosengoro.
Empat anggota pasukan yang menggotong Kudopati hentikan langkah. Mereka memandang pada Jolosengoro. Kudopati juga palingkan kepalanya.
“Agar tidak kesepian di jalan, aku.memberikan seorang kawan untukmu, Kudopati! Gotong juga Raden Jayengseno!”
Atas perintah Jolosengoro itu maka empat orang berpakaian hitam segera mendekati Raden Jayengseno yang tertegak kaku tidak berdaya. Mereka langsung menggotongnya walau Jayengseno berulang kali berteriak agar dirinya diturunkan.
Patih Jolosengoro tertawa lebar lalu berkata. “Bawa kedua orang itu ke Torowulan. Lemparkan mereka ke dalam jurang Cadas Parereg!”
Paras Kudopati menjadi pucat. Jayengseno berusaha setengah mungkin. Ayu Purini terdengar berteriak. “Patih durjana! Bebaskan Raden Jayeng! Awas! Kau kelak akan menerima hukuman sangat berat!”
Jolosengoro tertawa. “Kau orang perempuan diam sajalah! Ini urusan orang laki-laki!” katanya. Lalu dia menggerakkan tangan, memberi isyarat agar ke delapan anggota pasukan itu segera meninggalkan tempat itu.
Namun baru saja mereka hendak melangkah, di anak tangga teratas muncul abdi dalem Kiyai Singgih Kanyoman bersama enam orang pengiringnya.
Bagaimana orang tua ini bisa sampai ke tempat itu?
Seperti diceritakan sebelumnya, setelah dipermalukan oleh Pendekar 212, orang tua itu langsung menuju keraton. Dia tentu saja terkejut ketika mendapat keterangan apa yang telah terjadi di dalam keraton. Karena memang sangat mendendam terhadap Wiro, maka Ki Singgih Kanyoman segera meninggalkan keraton untuk melakukan pengejaran. Dia sengaja membawa seorang ahli jejak sehingga dengan mudah dapat diketahui ke jurusan mana Pendekar 212 sebelumnya menghilang.
Patih Jolosengoro sama sekali tidak merasa takut terhadap abdi dalem paling tua yang memang punya pengaruh besar dalam keraton ini. Namun dia masih menanam sedikit rasa hormat. Maka diapun berkata sesopan mungkin.
“Ki Singgih Kanyoman, aku gembira sampean bisa berada di sini. Menyaksikan sendiri apa yang terjadi hingga aku tidak susah-susah menerangkannya…..”
Ki Singgih Kanyoman tersenyum hambar. “Kau gembira, aku tidak. Kau bilang tidak susah, aku justru merasa sangat susah. Mana aku pernah menyangka bahwa patih kerajaan sendiri rupanya yang jadi sumber bahala!”
“Ki Singgih, agaknya ada sedikit perbedaan jalan pikiran antara kita….. Kau salah sangka…..Mungkin menduga…..”
Ki Singgih langsung memotong ucapan Jolosengoro itu. “Kita memang berbeda Jolosengoro. Aku mengabdikan diri pada keraton dan Raja dengan sepenuh ketulusan. Kau sebaliknya mengabdi dengan membekal maksud jahat. Kau pencuri, aku bukan. Jelas kita berbeda. Kau pengkhianat aku bukan. Jelas kita memang berbeda…..”
Lama-lama Jolosengoro jadi kesal juga mendengar kata-kata Ki Singgih itu. Maka diapun membentak.
“Cukup omonganmu sampai di situ. Sekarang katakan apa yang ada di kepalamu!”
Ki. Singgih tertawa dan menjawab. “Apa yang ada di kepalaku sederhana saja, Jolosengoro. Pertama tanggalkan jubah Kencono Geni itu dan serahkan padaku….”
“Sebelumnya Narowongso juga berkata begitu. Akhirnya dia mampus di tanganku!”
Ki Singgih tidak perdulikan kata-kata orang, lalu meneruskan ucapannya. “Kedua bebaskan Raden Jayengseno karena terbukti kini bukan dia yang jadi pencuri jubah pusaka kerajaan itu. Ketiga, Kudopati akan ku bawa ke kotaraja untuk mempertanggung jawabkan keterlibatannya dalam pengkhianatan kotor ini! Ke empat, serahkan dirimu secara baik-baik “
“Empat permintaanmu, hanya satu yang bisa kukabulkan. Kau boleh ambil Kudopati!”
Ki Singgih Kanyoman gelengkan kepala. “Empat yang kuminta empat pula yang harus kudapat!”
“Tua bangka keras kepala! Rupanya kau ingin menyusul Narowongso!” hardik Jolosengoro. Habis menghardik begitu Jolosengoro langsung hantamkan tinju kanannya ke arah dada si orang tua.
Pada saat itulah atap di atas ruangan tiba-tiba jebol. Sesosok tubuh melayang turun. Jolosengoro merasakan sambaran angin yang sangat deras. Dia kaget sekali ketika tubuhnya terdorong keras ke samping yang menyebabkan jotosannya tadi hanya mengenai tempat kosong.
Cepat-cepat sang patih mengimbangi tubuhnya. Memandang ke depan dia melihat seorang pemuda berambut gondrong tegak berkacak pinggang.
“Bangsat gondrong! Siapa kowe?!” bentak Jolosengoro.
Pendekar 212 yang dibentak seperti tidak acuh. Dia malah menolah pada orang-orang yang menggotong Raden Jayeng dan Kudopati.
“Turunkan Raden Jayengseno. Kalian boleh bawa kepala pengawal itu!”
“Setan! Kau tidak layak memerintah orang-orangku!” teriak Jolosengoro. “Lekas kalian bawa kedua orang itu dan lemparkan ke jurang Cadas Parereg!”
Mendengar perintah itu empat orang yang menggotong Raden Jayeng dan empat orang yang menggotong Kudopati segera bergerak ke tangga.
Saat itulah Pendekar 212 berkelebat. Terdengar pekik ke empat orang berseragam hitam yang menggotong Raden Jayeng. Mereka terlempar jauh. Dua terbanting ke lantai di tingkat atas itu, satu jatuh terguling di tangga dan satunya lagi melayang jatuh ke tingkat bawah. Yang satu ini patah lehernya, langsung menemui ajal. Raden Jayengseno sendiri saat itu kelihatan sudah tertegak di dinding sebelah kiri tanpa kurang suatu apa, malah kini bisa bergerak karena dengan cepat begitu berhasil membebaskan Jayengseno, Pendekar 212 segera melepaskan totokan di tubuhnya.

***

TIGA BELAS

WALAUPUN EMPAT ANGGOTA pasukan itu memang tidak memiliki kepandaian tinggi, namun apa yang dilakukan oleh Pendekar 212 benar-benar membuat Jolosengoro sempat terkesiap. Seumur hidup baru sekali itu dia melihat gerakan silat yang begitu cepat dan luar biasa! Jolosengoro diam-diam merasa yakin kalau pemuda berambut gondrong ini adalah orang yang diceritakan Kudopati sebelumnya, dan merupakan kawan Raden Jayengseno.
“Anak muda, siapapun kau adanya jangan pergunakan kepandaian untuk melawan Patih kerajaan!” berkata Jolosengoro.
Wiro tertawa lebar dan menyahuti. “Anak tua, siapapun kau adanya jangan pergunakan akal panjangmu untuk berbuat licik menjadi pengkhianat kerajaan!”
Merahlah wajah Jolosengoro mendengar ejekan itu.
“Usiamu masih muda. Apakah mau mati percuma di tanganku?!” ujar Jolosengoro masih berusaha sabar walau ucapannya terdengar sangat geram.
“Usiamu sudah tua bangka. Apakah mau mati percuma sebagai pengkhianat?!”
Mendengar ucapan Wiro itu Jolosengoro tidak dapat lagi menahan amarahnya. Dia segera hendak menyerbu namun saat itu Raden Jayengseno telah melompat ke hadapannya.
“Jolosengoro! Kejahatan dan dosamu terlalu besar. Tapi jika kau dengan suka rela mau mengembalikan jubah Kencono Geni itu, aku akan memintakan keringanan hukuman dari Raja!”
“Anak selir! Jangan kau banyak mulut!” damprat Jolosengoro dan langsung tendangkan kaki kanannya. Namun dari samping Wiro berkelebat memotong dan mematahkan serangannya. Ketika dengan geram dia hendak memburu Wiro, mendadak saja mukanya mengerenyit dan kedua matanya kesilauan. Di hadapannya pemuda berambut gondrong itu tegak memegang sebuah senjata yang terasa aneh di mata Jolosengoro. Senjata itu adalah sebilah kapak bermata dua yang memancarkan hawa panas serta cahaya menyilaukan.
“Hemm…. Jadi kau memang sudah bertekad untuk mencari kematian!” kata Jolosengoro pula lalu menerjang ke depan.
Tangan kanan Pendekar 212 bergerak. Kapak Maut Naga Geni 212 berkiblat memancarkan cahaya sangat menyilaukan, menebar hawa panas dan mengeluarkan suara laksana ribuan tawon mengamuk!
Bukk!
Salah satu mata kapak menghantam dada kanan Jolosengoro dengan tepat dan keras. Orang bertubuh tinggi besar ini terpental sampai ke dinding. Tapi tubuhnya sama sekali tidak ter-luka sedikitpun, Bahkan kain sutera merah jubah Kencono Geni tidak lekuk, apalagi robek dihantam Kapak Maut Naga Geni 212.
“Celaka! Ini awal kesulitan bagiku!” keluh Wiro. Senjata warisan Eyang Sinto Gendeng segera disimpannya kembali di balik pakaian. Baru saja kapak sakti itu terselip di pinggangnya, Jolosengoro sudah melompat dan menerkamnya. Seperti tadi ketika membunuh Narowongso kedua tangannya terpentang.
Rupanya dia juga ingin membunuh Pendekar 212 dengan jalan mematahkan lehernya.
Bukkk!
Buuuk!
Dua kali jotosan Wiro Sabieng mendarat di tubuh Jolosengoro. Kali ini Jolosengoro tidak bergeming sedikitpun. Dia terus merangsak ke dapan hingga akhirnya langkah Wiro terhenti karena punggungnya tertahan dinding. Melihat hal ini Jolosengoro langsung menyerbu. Saling jotos berlangsung dengan seru. Tiga jotosan Wiro masuk mengenai lawan tapi tidak dirasakan. Sebaliknya dua kepalan Jolosengoro sempat mampir di dada dan hidung Pendekar 212.
Darah mengucur dari hidung Wiro. Sang pendekar memaki panjang pendek. Tangan kanannya di angkat. Ujung jari sampai ke siku kelihatan berubah menjadi putih seperti perak. Pukulan Matahari!
Buummmm!
Wusss!
Pukuian sakti sinar matahari yang dilepaskan Wiro menghantam ke arah tubuh Jolosengoro dengan telak. Namun setengah jengkal sebelum sinar panas menyilaukan pukulan sakti itu akan mencapai jubah Kencono Geni tiba-tiba dari jubah merah itu membersit aneh satu hawa berkekuatan dahsyat yang bukan saja mampu membendung pukulan sakti yang dilepaskan murid Sinto Gendeng malah sekaligus mampu membalikkan pukulan sakti itu untuk menghantam pemiliknya sendiri!
Wiro jatuhkan dirinya ke lantai begitu pukulan sinar matahari menghantam ke arahnya. Punggungnya terasa seperti di sengat api ketika pukulan sakti itu lewat di atasnya. Lalu terdengar suara bergemuruh ketika pukulan itu menghantam dinding hingga hancur berantakan dan di kejapan yang sama api berkobar!
“Raden Jayeng! Lekas tolong Ayu!” teriak Wiro lalu melompat menghindari serangan Jolosengoro yang datang membabi buta.
Ketika Jayengseno berlari ke arah Ayu Purini, Jolosengoro berusaha memotong jalannya. Sementara itu kobaran api mulai membesar. Empat orang berseragam hitam yang tak mau dilamun api lepaskan tubuh Kudopati yang mereka gotong. Kepala pengawal keraton ini jatuh bergedebuk ke lantai. Empat orang anak buah Jolosengoro itu kemudian menghambur lari menuruni tangga. Kudopati dengan cerdik serosotkan tubuhnya di tangga. Dengan cara itu dia bisa sampai ke lantai bawah, selamat dari kobaran api tetapi tulang kaki kirinya yang patah terasa berderak. Untuk beberapa lamanya kepala pengawal keraton ini terkapar di lantai setengah mati menahan sakit!
“Patih keparat! Ini bagianmu!” teriak Raden Jayeng ketika Jolosengoro menghadang dan hendak menjambak rambutnya. Sambil merunduk Jayengseno hantamkan tinjunya ke selangkangan patih pengkhianat itu.
Pukulan yang dilepaskan Raden Jayeng menghantam telak anggota rahasia Jolosengoro. Tetapi lelaki tinggi besar ini tidak bergeming sedikitpun. Jubah Kencono Geni memberi kekebalan kesetiap sudut tubuhnya! Kini giliran Jolosengoro untuk menghantam, Jayengseno dengan satu pukulan keras ke arah kepala putera Sri Baginda itu.
Dua sosok tubuh melayang melindungi putera raja itu. Dua lengan melintang menangkis pukulan.
Lengan Wiro Sableng dan lengan Ki Singgih Kanyoman.
Jolosengoro terpental ke atas, tapi cepat melayang sambil menendang ke arah kepala Wiro sementara Jayengseno pergunakan kesempatan untuk meneruskan usahanya menolong Ayu Purini. Begitu dia dapat melepaskan totokan di tubuh saudaranya itu, Raden Jayeng segera menyuruh Ayu Purini lari ke tangga dan seterusnya menuju ke tingkat bawah. Dia sendiri kemudian bergabung bersama Wiro dan Ki Singgih Kanyoman mengeroyok Jolosengoro.
Wiro berulang kali berhasil menjotos lawan namun tidak ada hasilnya. Jolosengoro sekebal tembok baja. Beberapa kali pula dicobanya menotok orang ini. Totokannya bersarang di dua tempat yang bisa membuat siapapun menjadi kaku dan gagu. Tetapi totokan itu sama sekali tidak berbekas pada Jolosengoro yang mengenakan jubah Kencono Geni.
Malah Jolosengoro sempat memukul roboh Ki Singgih Kanyoman sampai muntah darah. Dalam keadaan megap-megap abdi dalem lanjut usia ini terjajar ke tangga. Menyadari tubuhnya akan terguling di tangga lalu terhempas di lantai bawah, Ki Singgih Kanyoman tiba-tiba menarik lengan Jolosengoro. Akibatnya Jolosengoro ikut jatuh bergulingan di tangga.
Pada saat Jolosengoro melayang jatuh itulah selintas pikiran muncul di benak Pendekar 212. Dia melihat satu kesempatan baik yang tidak boleh disia-siakan. Kesempatan itu hanya ada pada saat tubuh Jolosengoro bergulingan seperti itu. Wiro jejakkan kedua kakinya lalu melompat searah jatuhnya Jolosengoro. Begitu tepat berada di atasnya Wiro segera menyambar leher jubah Kencono Geni yang dikenakan Jolosengoro lalu menariknya kuat-kuat.
Sesaat tubuh besar sang patih ikut terangkat. Lalu terdengar suara kain robek dan bersamaan dengan itu tubuh Jolosengoro jatuh lagi ke bawah, terguling di tangga lalu jatuh ke lantai saling tumpang tindih dengan Ki Singgih Kanyoman!
Pendekar 212 sendiri kemudian berhasil menjatuhkan diri dengan kedua kaki menjejak lantai lebih dahulu sedang jubah Kencono Geni tergenggam di tangan kanannya.
Satu hal yang tidak terduga terjadi atas diri Jolosengoro. Ketika jubah sakti itu lepas dari tubuhnya dan robek di beberapa bagian, tubuh sang patih kini sama sekali tidak tertutup apapun alias bertelanjang bulat. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah dia tidak mengenakan pakaian dalam di balik jubah itu?
Sebenarnya Jolosengoro memang mengenakan pakaian dalam. Namun pada saat api yang keluar dari pecut Narowongso membakar tubuhnya, pakaian dalam itu ikut terbakar jadi abu. Akibatnya sewaktu jubah dibetot lepas tinggallah tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa lagi!
Menyadari dirinya tidak mengenakan jubah Kencono Geni, apalagi kini dia berada dalam keadaan telanjang bulat yang tidak dapat dibayangkannya sebelumnya, Jolosengoro jadi iumer nyalinya. Dia melompat ke pintu hendak melarikan diri. Tetapi kakinya sempat dijegal Ayu Purini hingga orang ini jatuh berdebam ke lantai dan nanar beberapa saat lamanya.
Bangunan di tingkat atas terdengar berderak. Jayengseno menarik Ayu keluar dari bangunan itu. Ki Singgih Kencono berusaha bangkit. Walau dengan terhuyung-huyung orang tua ini berhasil keluar mencapai halaman. Wiro tarik tubuh Jolosengoro dan Kudopati. Sesaat kemudian terdengar suara bergemuruh ketika bagian atas bangunan bertingkat itu roboh dan api menggebu ke atas.
Pendekar 212 Wiro Sableng lipat jubah Kencono Geni baik-baik lalu menyerahkannya pada Jayengseno seraya berkata: “Maafkan kalau jubah itu robek di beberapa bagian….”
“Tidak jadi apa. Yang robek bisa dijahit kembali. Yang penting barang pusaka ini sudah kita dapatkan kembali. Terima kasih Wiro. Kau telah berjasa besar pada kerajaan….”
Wiro geleng-geleng kepala. Jayengseno menyerahkan .jubah Kencono Geni pada Ki Singgih Kanyoman. yang segera menerimanya dengan air mata berlinangan.
Jayengseno kemudian melangkah ke tempat Jolosengoro dan Kudopati bergeletakan di tanah. Dia mengangkat tubuh Jolosengoro dan menyandarkannya ke sebatang pohon. Lalu Kudopati ditariknya dengan paksa hingga tersandar pula di batang pohon di samping sang patih.
“Katakan! Siapa di antara kalian yang membunuh keluarga abdi dalem Kamilun?!” bertanya Raden Jayeng dengan suara keras.
“Bukan aku! Bukan aku !” jawab Kudopati seraya menggoyang-goyangkan tangan kanannya.
“Kalau begitu kau yang punya pekerjaan, Jolosengoro?!”. tanya Jayengseno.
Patih kerajaan itu terdengar berguman. Lalu menyusul suaranya tersendat. “Aku….aku menyesal melakukannya….”
“Penyesalan yang tidak ada gunanya!” tukas Raden Jayeng. Lalu tangan kanannya yang sudah dialiri tenaga dalam dihantamkan ke kepala Jolosengoro. Batok kepala sang patih rengkah! Matanya mencelet! Tubuhnya kemudian melosoh ke bawah. Kudopati menjerit seperti melihat setan menyaksikan kematian Jolosengoro lalu tubuhnya ikut melosoh pula dan jatuh duduk di atas akar pohon.
“Hai! Kau hendak kemana?!” tanya Raden Jayeng ketika melihat Pendekar 212 melompat ke atas seekor kuda. Ayu Purini ikut mengejar.
“Malam hampir pagi. Sebelum pagi aku harus sudah ada di satu tempat. Selamat tinggal kawan-kawan….,“ jawab Wiro seraya mengangkat tangannya memberi salut. Sesaat ketika hendak menarik tali kekang, dia ingat sesuatu lalu berpaling pada Ki Singgih Kanyoman yang saat itu duduk menjelepok di tanah.
“Kiyai, maafkan kalau aku pernah berlaku kurang ajar padamu….“
“Ah, aku sudah melupakan semua kejadian itu,” jawab sang abdi dalem polos dan ikhlas.
Wiro tersenyum. “Terima kasih,” katanya. Lalu menyambung. “Kalau aku boleh bertanya, kulihat kau masih mengenakan pakaian yang sama. Apakah kau sudah cebok Kiyai….?”
Kiyai Singgih Kanyoman merah padam wajahnya. Kedua matanya melotot. Dia hendak mendamprat karena lagi-lagi dipermalukan di depan orang. Namun kemudian amarahnya menyurut. Dan di wajahnya yang tua itu menyeruak senyum. Lalu meledaklah tawanya terkekeh-kekeh. Wiro lebih keras tawanya. Ayu Purini dan Raden Jayeng yang tidak tahu ceritanya ikut-ikutan tertawa. Hanya Kudopati yang terhenyak bungkam di bawah pohon. Dia sudah membayangkan hukuman apa yang bakal dijatuhkannya atas dirinya.
Wiro hentakkan tali kekang kuda. Lambaikan tangan lalu lenyaplah sang pendekar di kegelapan malam.

TAMAT

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog