Sunday, March 22, 2009

Purnama Berdarah

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

1

HUJAN lebat mendera Pantai Selatan. Suara hujan yang diterpa hembusan angin keras yang datang dari laut menimbulkan suara menggidikkan di telinga siapa saja yang mendengarnya. Di bawah hujan lebat itu seorang penunggang kuda memacu tunggangannya sepanjang tepian pantai, menembus hujan dan deru angin ke arah timur. Tepat di satu bukit karang yang menjulang orang ini hentikan kudanya. Sambil menepuk tengkuk binatang itu dia berkata. “Jangan ke mana-mana. Tunggu di sini sampai aku kembali!”
Seperti mengerti akan ucapan orang, kuda itu mendekatkan kepalanya ke bahu tuannya dan menjilat bahu itu beberapa kali. Ketika petir kelihatan menyambar di tengah laut, penunggang kuda tadi telah lenyap dari tempat itu. Dia melompat ke sebuah celah sempit di kaki bukit karang. Di dalam celah itu ada bagian bukit yang berbentuk seperti tangga kasar. Orang ini menaiki tangga itu dengan gerakan cepat. Tangga batu karang itu licin dan ada yang berselimutkan lumut. Hujan lebat membuat udara menjadi redup gelap. Kalau tidak memiliki kepandaian tinggi tak mungkin orang itu bisa menaiki tangga batu begitu cepat.
Di puncak tangga batu membentang sebuah pedataran batu yang penuh dengan gerunjul-gerunjul karang runcing. Pada sebelah kiri pedataran menjulang bukit berbentuk dinding setinggi lima tombak. Pada salah satu bagian di kaki dinding inilah kelihatan sebuah lobang besar yang merupakan mulut goa. Orang tadi bergegas menuju pintu goa. Di mulut goa dia berhenti sebentar. Dia mengusap wajahnya dua kali berturut-turut lalu baru masuk ke dalam.
Bagian dalam goa batu karang itu terasa hangat dan merupakan satu terowongan lurus sedalam sepuluh tombak. Di ujung terowongan kelihatan menyala sebuah lampu minyak yang meliuk-liuk terkena tiupan angin dari luar. Di belakang lampu ini terhampar sehelai kulit binatang yang sudah dikeringkan. Bagian kepalanya yang berupa kepala seekor srigala menghadap ke dinding goa sebelah kiri. Di atas kulit binatang itu, di sebelah kanan tampak satu sosok tubuh terbalut kulit binatang tegak kepala di bawah kaki ke atas. Kedua telapak tangan menjejak kulit di lantai goa sedang sepasang kaki bersilang di sebelah atas. Rambutnya yang panjang riap-riapan terjulai ke bawah dan wajahnya tertutup oleh janggutnya yang panjang menjulai. Udara di dalam goa itu menebar bau tidak sedap.
Orang yang barusan masuk dalam keadaan basah kuyup sesaat tegak memperhatikan sosok tubuh yang tegak kepala ke bawah kaki ke atas itu. Lalu mulutnya terbuka berucap, “Eyang Srigala Karang, saya datang untuk kedua kali!”
Tubuh yang tegak kaki ke atas kepala di bawah itu tidak bergerak. Namun di balik janggut panjang yang menutupi hampir keseluruhan wajahnya, sepasang matanya terbuka sedikit. Menyusul mulutnya bersuara, “Kemala, kau datang untuk kedua kali. Berarti hatimu telah tetap untuk meminta agar aku meluluskan keinginanmu?!”
“Betul sekali Eyang Srigala Karang.” Orang ini ternyata adalah seorang perempuan.
“Bagus kalau begitu. Aku sudah katakan bahwa sekali kau memutuskan meminta bantuanku, berarti kau harus memenuhi segala syarat dan aturan!”
“Saya akan memenuhi,” jawab Kemala yang pakaian dan rambutnya basah kuyup.
“Aku sudah katakan. Kalau kau melanggar syarat dan aturan maka apa yang kau minta akan berbalik mencelakai dirimu sendiri!”
“Saya sudah mengerti hal itu Eyang.”
“Apa yang kau minta segera terkabul. Setelah kau melihat sendiri nanti, maka baru aku akan mengatakan syarat-syaratnya.”
“Eyang, apakah tidak sebaiknya Eyang mengatakan lebih dulu syarat-syarat itu?” ujar Kemala.
“Kau yang meminta bantuan, aku yang menentukan syarat. Lagi pula apa sulitnya memenuhi syarat yang tidak sukar?”
Orang yang berdiri di depan lampu minyak diam sejurus. Maka terdengar orang yang disebut dengan Eyang Srigala Karang itu berkata. “Aku tidak suka pada orang-orang yang datang dengan hati meragu bimbang. Jika perasaan itu ada dalam hati sanubarimu, cepat-cepat saja meninggalkan goa ini! Aku tidak punya terlalu banyak waktu mengurusi tamu sepertimu! Aku mau dengar jawabanmu!”
“Saya tidak ragu. Apapun nanti syarat dari Eyang akan saya penuhi.” kata Kemala pula.
Eyang Srigala Karang keluarkan suara tawa mengekeh, membuat orang di depannya sesaat jadi tercekat. “Aku akan pertemukan kau dengan makhluk yang akan menjadi sahabat dan suruhanmu!” kata Eyang Srigala Karang. Lalu tangan kiri sang Eyang tampak terangkat dari atas tikar kulit binatang. Tangan ini bergerak ke arah kepala srigala yang dikeringkan. Kemudian mengusap kepala itu tiga kali berturut-turut. Pada akhir usapan ketiga tiba-tiba asap kelabu mengepul keluar dari dua telinga, mata, dan hidung yang ada di kepala srigala yang telah dikeringkan itu. Bersamaan dengan itu terdengar suara seperti gerengan atau auman binatang. Demikian kerasnya suara ini hingga lantai dan dinding goa bergetar. Kemala tercekat sesaat. Kedua matanya dibuka lebar-lebar. Dia menyaksikan bagaimana kepulan asap itu berbuntal menjadi satu. Lalu berubah menjadi sosok seekor binatang buas berupa srigala yang mengerikan. Kedua mata binatang ini berwarna merah, laksana bara api. Telinganya mencuat ke atas. Mulutnya sampai ke gigi, taring, dan lidahnya tampak basah oleh darah. Begitu juga dua kaki depannya yang memiliki kuku-kuku panjang runcing. Binatang ini berputar menghadap ke arah Kemala lalu menggereng keras. Kemala merasakan nyawanya seperti terbang. Tapi perempuan ini cepat menguasai dirinya kembali.
“Kawanmu ini harus kau panggil dengan nama Datuk. Jika kau ingin menemuinya dan menyuruh dia melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang menjadi keinginanmu, maka kau cukup menyebut namanya tiga kali berturut­turut. Dia akan muncul di hadapanmu menunggu perintah. Dia hanya akan melakukan satu perintah saja yaitu mencabik-cabik sampai mati setiap orang yang kau inginkan. Namun ingat, pembunuhan itu hanya bisa kau lakukan pada malam bulan purnama. Lain dari saat yang telah ditentukan itu, Datuk tidak akan melakukannya. Dia hanya akan berkeliaran di mana-mana atau muncul jika kau panggil, tapi tidak akan melakukan perintah membunuh!”
“Mengapa Datuk hanya bisa melakukan pembunuhan pada malam bulan purnama saja Eyang?” tanya Kemala.
“Begitu yang telah ditentukan oleh alam gaib dan ilmu gaib. Tak seorang pun bisa merobahnya. Malam bulan purnama adalah malam yang indah. Malam kebanyakan orang lelaki dan perempuan saling bermesraan dan merasakan saat-saat paling bahagia!” jawab Eyang Srigala Karang. “Kau harus menerima ketentuan ini. Kau telah berjanji.”
“Ya, saya menerimanya Eyang,” kata Kemala pula dengan suara perlahan.
Eyang Srigala Karang tertawa mengekeh. “Aku tahu, kau ingin membunuh dan membunuh sebanyak dan secepat mungkin. Jika keinginanmu itu diikuti, dalam waktu singkat puluhan orang akan menjadi korbanmu. Sekarang siapkan dirimu untuk menerima syarat-syarat yang harus kau lakukan.”
Kemala tegak lurus-lurus tak bergerak.
“Syarat pertama! Setiap setelah tiga kali melakukan pembunuhan pada tiga malam purnama, seorang pemuda yang memiliki sepasang telinga panjang ke atas seperti srigala akan muncul di kamar tidurmu. Kau harus melayani pemuda ini, memenuhi apa yang dimintanya termasuk bermesraan dengannya…”
“Eyang!” seru Kemala terkejut sekali dan parasnya langsung berubah.
“Kau tak boleh menolak, tak layak membantah. Itu syarat yang tidak bisa dirobah! Ingat ucapan-ucapanku sebelumnya!”
“Tapi Eyang, saya…”
“Berani kau bicara lagi maka Datuk akan kusuruh mencabik-cabik sekujur tubuhmu mulai dari kepala sampai kaki!”
Datuk, si srigala bermata merah itu keluarkan suara lolong raungan keras. Dua sinar merah api seperti berkelebat keluar dari kedua matanya, menyambar ke arah Kemala. Gadis ini tersentak mundur.
Eyang Srigala Karang kembali mengekeh. “Datuk, mulai saat ini kau bertuan pada gadis di hadapanmu ini. Ikuti segala perintahnya sesuai dengan aturan. Ingat, kau hanya boleh membunuh pada malam bulan purnama!”
Srigala itu kembali meraung panjang.
“Sekarang kau boleh pergi Datuk!”
Eyang Srigala Karang mengusap kepala srigala yang sudah dikeringkan tiga kali berturut-turut. Binatang bermata merah itu perlahan-lahan berubah menjadi asap lalu lenyap dari pemandangan.
“Syarat kedua dan terakhir!” terdengar Eyang Srigala.
Kemala terdiam. Sepasang matanya menatap ke arah wajah yang tertutup janggut itu.
“Tanggalkan seluruh pakaianmu!”
Kemala seperti mendengar petir menyambar di depan hidungnya! “Apa kata Eyang?!”
“Tanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhmu!”
“Apa maksud Eyang?!” tanya Kemala. Suaranya keras pertanda ada hawa amarah memasuki dirinya.
“Apa maksudku tak perlu kau ketahui! Aku memerintahkan supaya kau membuka seluruh pakaianmu! Seka
rang juga! Ini syarat yang harus kau lakukan!”
“Syarat gila!” teriak Kemala.
Eyang Srigala Karang tertawa panjang. “Jika kau menolak perintah, Datuk akan muncul membunuhmu!”
“Saya tidak takut! Syarat yang Eyang katakan tidak mungkin saya lakukan!”
“Apa sulitnya membuka pakaian!”
“Membuka pakaian memang mudah! Tapi ada maksud busuk dalam diri Eyang hendak mencemari saya!”
Eyang Srigala Karang kembali tertawa. Begitu suara tawanya sirap dari mulutnya keluarlah suara seperti raungan srigala dalam rimba belantara di malam gelap gulita.
Tiba-tiba tubuhnya yang sejak tadi berdiri di atas kedua tangannya bergerak berjumpalitan. Kini dia tegak di atas kedua kakinya. Wajahnya yang sejak tadi tertutup oleh janggutnya yang panjang sekarang terlihat jelas. Ternyata dia memiliki wajah mirip seekor srigala, lengkap dengan gigi-gigi serta taring-taring besar runcing. Kedua telinganya panjang mencuat ke atas. Keseluruhan wajahnya sampai ke telinga tertutup oleh selapis bulu-bulu berwarna coklat. Lalu kedua matanya menyerupai sepasang mata Datuk makhluk srigala itu. Berwarna merah laksana bara api!
“Kalau kau tidak mau membuka sendiri pakaianmu, terpaksa aku yang akan melakukannya!” kata Eyang Srigala Karang.
Eyang Srigala Karang mengulurkan tangan kanannya ke depan ke arah Kemala. Ketika tangan itu membuat gerakan-gerakan aneh, terjadilah hal yang sulit dipercaya. Seluruh pakaian yang melekat di tubuh Kemala seolah-olah terbang, lepas bertanggalan hingga kini gadis itu tegak menjerit dalam keadaan bugil. Kemala berteriak tiada henti sambil kedua tangannya berusaha menutupi auratnya.
Eyang Srigala Karang tertawa panjang.
“Syarat harus dipenuhi! Aturan harus diikuti! Ah…! Tubuhmu ternyata putih sekali. Bagus dan mulus. Mendekatlah kemari biar dapat kujamah…”
“Manusia keparat! Kau rupanya tidak lebih dari seorang dukun cabul!” teriak Kemala.
“Kau tidak lebih baik dariku! Kau meminta ilmu hitam untuk melampiaskan kebusukanmu! Mendekat kataku!”
“Tua bangka cabul! Aku bersumpah akan membunuhmu!”
“Kalau kau tidak mau mendekat, biar aku yang mendatangi!” kata Eyang Srigala Karang pula. Lalu dia maju selangkah demi selangkah.
Kemala yang dalam keadaan terancam tampak tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Kalau tadi kedua tangannya dipergunakan untuk menutupi auratnya sedapat­dapatnya, kini dia sengaja menurunkan kedua tangan itu dan mengembangkan kedua tangannya ke samping. Gerakan ini membuat sepasang mata api Eyang Srigala Karang menjadi silau oleh pemandangan yang membakar nafsunya. Dia menyangka Kemala telah siap menyerahkan diri mematuhi syarat yang dikatakannya. Kedua tangannya diulurkan hendak menjamah dada si gadis.
Sesaat lagi jari-jari tangan yang kotor menjijikkan itu akan menyentuh payudara Kemala, tiba-tiba gadis ini keluarkan bentakan keras. Tubuhnya berkelebat. Tangan kanannya menghantam ke depan.
Bukkk!
Eyang Srigala Karang berseru kesakitan. Tubuhnya terpental membentur dinding akibat jotosan Kemala yang telak menghantam dada kirinya. Jantungnya seperti berhenti berdenyut. Kedua mata apinya membelalak. Dia sama sekali tidak menyangka akan dihajar seperti itu.
“Kau… kau…” kata orang tua bermuka srigala itu sambil berdiri tertatih-tatih dan memegangi dadanya yang mendenyut sakit. “Kau memukulku. Perbuatanmu merangsang nafsuku! Lihat… lihat apa yang akan kulakukan!” Eyang Srigala Karang lalu menggerakkan kedua tangannya membuka pakaiannya sendiri yang terbuat dari kulit binatang yang dikeringkan.
“Manusia terkutuk!” teriak Kemala.
Dampratan itu dibalas dengan tawa mengekeh oleh Eyang Srigala Karang. Tapi tawanya lenyap begitu tendangan Kemala menabas salah satu kakinya hingga tubuhnya terbanting ke lantai goa. Sambil meringis kesakitan orang tua ini masih bisa berusaha berdiri. Dia tegak terhuyung-huyung memandangi Kemala dengan mata berapi-api. Ternyata meskipun memiliki ilmu gaib yang aneh, orang tua ini sama sekali tidak menguasai kepandaian silat. Maka sewaktu ketiga kalinya serangan Kemala mendarat di tubuhnya, Eyang Srigala Karang melolong kesakitan. Hidungnya yang dihantam jotosan keras mengucurkan darah. Sekarang hawa amarah lebih menguasai dirinya daripada nafsu bejatnya. Dia sama sekali tidak menduga kalau gadis di hadapannya memiliki kepandaian silat. Orang tua ini melompat ke arah kepala srigala yang dikeringkan. Dia berusaha mengusap kepala srigala itu dengan tangan kirinya. Jelas dia hendak memanggil Sang Datuk! Kemala yang tahu apa yang hendak dilakukan orang tua itu kembali berkelebat. Kali ini pukulannya melanda lambung Eyang Srigala Karang. Selagi tubuh orang tua itu tertekuk ke depan, Kemala menyambar dan menjambak rambutnya yang panjang riap-riapan. Lalu kepala itu ditariknya kuat-kuat, dibantingkan ke dinding goa karang!
Praaakk!
Untuk kesekian kalinya terdengar suara jeritan keras dan panjang dari mulut Eyang Srigala. Keningnya tampak rengkah dan darah membasahi wajahnya yang tertutup bulu-bulu halus berwarna coklat itu. Tapi dia belum mati. Suara menggereng kini terdengar berkepanjangan dari tenggorokannya. Kemala cepat menyambar pakaiannya yang terhamparan di lantai goa lalu berkelebat menuju mulut goa. Di luar sebelum melenyapkan diri dia mengusap wajahnya dua kali berturut-turut.
Eyang Srigala Karang merangkak mendekati kepala srigala yang diawetkan. Namun sebelum berhasil mencapainya, tubuhnya tergelimpang di lantai. Darah makin banyak mengucur dari luka mengerikan di keningnya. Dalam keadaan sekarat orang tua ini melafatkan sesuatu yang diakhiri dengan ucapan: “Datuk Putra datanglah. Aku perlu dirimu…”
Begitu ucapan itu berakhir terdengar suara menderu seperti gemuruh ombak memecah di tepi pantai. Lalu dalam goa, entah dari mana datangnya muncul sosok tubuh seorang pemuda yang mengenakan destar. Wajahnya tampan namun dia memiliki sepasang telinga yang panjang mencuat ke atas serta berbulu seperti telinga seekor srigala. Sedang kedua matanya berwarna biru dan pandangannya menggidikkan. Di samping si pemuda mendekam sosok lain yang ternyata adalah sang Datuk, yaitu srigala bermata api.
“Orang tua, aku sudah datang. Katakan kepentinganmu!” Pemuda berdestar hitam dan bertelinga seperti srigala berkata.
“Kau lihat apa yang terjadi pada diriku! Gadis itu yang melakukan. Gadis bernama Kemala itu! Aku akan segera menemui kematian! Tapi aku akan mati secara penasaran! Aku ingin pembalasan. Lakukan sesuatu! Bunuh gadis itu! Suruh Datuk mencabik-cabik tubuhnya!”
Pemuda bernama Datuk Putra gelengkan kepala. “Perjanjian apa yang sudah kau buat dengan gadis itu tidak bisa dirubah. Dia memiliki kekuatan untuk menguasai dan memerintah Datuk…”
“Aku tidak peduli! Kau harus melakukan sesuatu, Datuk Putra!” kata Eyang Srigala Karang hampir berteriak tapi kemudian dia mengeluh kesakitan sambil memegangi dadanya.
“Aku akan perhatikan permintaanmu. Cuma mungkin belum bisa dilakukan apa-apa sebelum 40 kali bulan purnama. Kau melakukan kekeliruan. Meminta syarat yang seharusnya tidak menjadi syarat! Kau terjebak oleh nafsu kotormu sendiri!”
Eyang Srigala Karang terbujur di lantai goa. Kedua matanya yang merah kini telah tertutup darah dari rengkahan kepalanya.
Pemuda dari alam gaib bernama Datuk Putra berpaling pada srigala bermata api di sampingnya. “Kau sudah mendapatkan tuan yang baru. Kau harus berada di mana dia berada. Pergilah…”
Srigala yang mulut dan kedua kaki depannya bergelimangan darah itu meninggikan kepalanya, menggereng beberapa kali, lalu memutar diri dan melompat ke mulut goa. Datuk Putra membungkuk mengambil lampu minyak. Minyak lampu itu disiramkannya ke sekujur tubuh Eyang Srigala Karang. Lalu disulutkannya api pelita ke salah satu bagian tubuh si orang tua.
Wussss!
Serta merta api besar menggebubu membakar tubuh Eyang Srigala Karang. Datuk Putra tetap berada dalam goa itu sampai seluruh tubuh sang Eyang musnah dimakan api yang secara aneh tubuh itu terbakar tanpa mengeluarkan bau daging terpanggang. Selain itu ketika api akhirnya padam, tubuh itu kini hanya tinggal berbentuk seonggok tulang belulang yang hitam menggosong!
Dengan sisa-sisa tikar kulit binatang yang sebagian terbakar hangus termasuk kepala srigala yang dikeringkan, Datuk Putra membungkus tulang belulang Eyang Srigala Karang. Tulang belulang ini kemudian dibawanya ke tepi pantai. Dia mendongak ke langit yang sampai saat itu masih mengucurkan hujan lebat. Kemudian tikar kulit berisi tulang-tulang Eyang Srigala Karang itu dilemparkannya jauh-jauh ke tengah laut.
“Kau aman di tempatmu yang baru,” kata Datuk Putra seraya memandang ke tengah laut. “Jika kau berkeras untuk muncul di dunia ini kembali, kau harus sanggup menanggung segala akibatnya. Kita memang orang-orang dari dunia gelap dan hitam. Tapi berbuat kekeliruan tidak ada ampunannya!”
Di tengah laut tampak halilintar menyambar. Lautan sekilas jadi terang benderang. Datuk Putra rangkapkan kedua tangannya di depan dada. Sepasang matanya dipejamkan. Daun telinganya yang mencuat panjang ke atas tampak bergerak-gerak tiada henti. Lalu seperti tadi kemunculannya yang entah dari mana, sesaat kemudian tubuhnya pun lenyap entah ke mana!

2
SEBENARNYA saat itu sedang musim penghujan. Hampir tiap hari, siang atau malam hujan turun. Namun pada siang dan malam hari pesta perkawinan Rumini, puteri Kepala Desa Cadas Brantas, dengan seorang pemuda bernama Randu Wulung yang kabarnya adalah seorang perwira muda di jajaran pasukan kerajaan, udara tampak cerah. Siang hari ketika upacara pernikahan dilangsungkan tidak setetes hujan-pun turun. Begitu pula pada malam harinya. Udara terasa sejuk segar dan di langit bulan purnama tiga belas hari tampak indah menghias langit yang ditaburi bintang gemintang.
Yang punya hajat tentu saja merasa bersyukur sedang para tamu ikut senang sambil bertanya-tanya pawang hujan dari mana yang dipakai oleh tuan rumah sehingga begitu ampuh mencegah turunnya hujan.
Lewat tengah malam pesta perkawinan usai sudah. Semua tamu pulang ke rumah masing-masing. Rombongan pemain gamelan sudah lama pergi. Rumah Kepala Desa yang tadinya ramai kini tampak sunyi walau masih ada dua lampu minyak besar yang sengaja dinyalakan terus di beranda depan.
Pagi harinya Kepala Desa dan isterinya telah lama bangun. Suami istri ini bersama sanak keluarga dan karib kerabat duduk berkumpul di ruang tengah rumah besar sambil menikmati kopi hangat dan sarapan pagi.
“Sepasang pengantin yang berbahagia rupanya masih tertidur pulas…” kata seorang di antara keluarga yang masih merupakan paman pengantin perempuan sambil senyum-senyum.
“Maklum saja. Namanya pengantin baru,” menyahuti anggota keluarga yang lain lalu menghirup kopi hangatnya sampai mengeluarkan suara keras.
Obrol punya obrol tak terasa pagi bergerak siang. Dua pengantin di dalam kamar masih juga belum keluar.
“Tak enak rasanya kalau mereka masih terus di dalam kamar. Matahari sudah tinggi,” kata Kepala Desa pada istrinya. “Coba kau bangunkan mereka…”
Istri Kepala Desa bangkit dari duduknya. Lalu melangkah ke bagian depan kiri rumah besar di mana terletak kamar pengantin. Perempuan ini mengetuk pintu kamar. Mengetuk sampai berulang kali dan karena tak ada jawaban akhirnya dia kembali ke ruang tengah, memberitahu pada suaminya.
“Mereka mungkin masih sangat pulas. Jadi harus keras mengetuk membangunkan mereka,” kata Kepala Desa. Dia bangkit berdiri. “Sudah, biar aku saja yang membangunkan.”
Kepala Desa Cadas Brantas mengetuk pintu kamar pengantin. Mula-mula perlahan saja. Lalu lebih keras. Dan lebih keras lagi bahkan sambil berseru memanggil-manggil nama anak perempuannya. Tetap saja tak ada jawaban.
Beberapa orang anggota keluarga yang ada di ruangan tengah ikut berdiri dan berkumpul di depan pintu kamar. “Coba ketuk lebih keras,” kata salah seorang dari mereka.
Kepala Desa kali ini bukan lagi mengetuk, tapi menggedor pintu kamar.
“Aneh, apa mereka begitu pulas hingga tidak terbangun oleh gedoranku?!” kata Kepala Desa sambil memandang pada orang-orang yang ada di depan pintu.
“Tak ada lobang tempat mengintip. Berarti tak ada jalan lain. Kita harus mendobrak pintu!” kata seorang anggota keluarga yang berbadan tinggi besar. “Kalau Kangmas izinkan tentunya.”
Kepala Desa Cadas Brantas meraba dagunya lalu mengangguk, “Ya, kita dobrak saja,” katanya menyetujui.
Lelaki tinggi besar tadi mundur beberapa langkah sementara semua orang yang ada di pintu bersibak ke samping. Dengan kaki kanannya yang kuat orang tinggi besar menghantam pintu kamar hingga pintu itu hancur berantakan. Begitu pintu terpentang lebar, Kepala Desa masuk ke dalam kamar diikuti beberapa orang, di antaranya istrinya sendiri. Begitu masuk ke dalam kamar hampir semua orang secara berbarengan keluarkan seruan keras. Isteri Kepala Desa paling keras jeritannya. Dia menutupi mukanya dengan kedua tangan lalu terhuyung-huyung dan pasti roboh kalau tidak lekas ada yang memegangi.
“Gusti Allah! Apa yang terjadi di sini?!” teriak Kepala Desa. “Anakku Rumini! Randu Wulung!”
Hari itu juga tersiar kabar mengerikan dan menyedihkan di seluruh desa Cadas Brantas. Sepasang pengantin baru, Rumini dan Randu Wulung, pagi tadi ditemukan telah jadi mayat. Rumini terkapar menelentang di atas ranjang pengantin. Suaminya menggeletak di lantai dekat tempat tidur. Pakaian pengantin yang masih melekat di tubuh masing-masing penuh dengan robekan-robekan besar. Robekan-robekan itu ternyata sangat dalam. Bukan hanya mengoyak pakaian mereka tapi sampai tembus ke daging tubuh dua manusia malang itu. Yang lebih mengerikan, wajah Rumini dan Randu Wulung hampir tak bisa dikenali. Karena wajah-wajah mereka juga tampak koyak robek mengerikan. Kamar pengantin yang seharusnya menjadi kamar bahagia itu diperciki darah mulai dari ranjang sampai ke lantai dan beberapa bagian dinding.
Jelas sepasang pengantin itu menemui ajal karena dibunuh. Tapi dibunuh dengan apa dan siapa pelakunya?!
Menurut dugaan orang banyak, sepasang pengantin itu menemui ajal karena dikoyak muka dan tubuhnya dengan sejenis senjata tajam, mungkin pisau atau clurit besar.
“Aku tidak punya musuh. Siapa yang begitu jahat menghabisi nyawa anak menantuku! Kejam! Jahat luar biasa!” kata Kepala Desa Cadas Brantas sambil mengepal­kepalkan kedua tinjunya dan berulang kali mengusap mukanya. Sementara itu istrinya berada dalam kamar masih menangis dan sesekali menjerit memilukan. Rumini adalah anak mereka satu-satunya. Bilamana gadis itu meninggal dunia karena sakit mungkin tidak demikian hebat duka kedua orang tuanya. Namun Rumini mati dibunuh orang, secara luar biasa kejam begitu rupa! Pada hari perkawinannya pula! Orang tua mana yang bisa pasrah!
“Bapak Santiko,” kata seorang lelaki separuh baya berbadan tegap. Dia adalah Gandar Seto, Perwira Tinggi atasan Randu Wulung yang menyempatkan diri datang ke Cadas Brantas untuk menghadiri pesta perkawinan pemuda bawahannya itu. Karena istrinya kurang sehat, perwira ini membawa serta anak perempuannya sebagai wakil sang ibu. Anak perempuan Gandar Seto yang bernama Ratih Kiranasari bertubuh tinggi semampai, berkulit putih dan memiliki wajah termasuk cantik. Namun dalam usianya yang hampir memasuki 30 tahun itu dia masih juga belum bersuami, belum menemukan jodoh. Hal ini sebenarnya menjadi salah satu ganjalan tidak enak dalam diri sang ayah. Pada masa itu kebanyakan gadis sudah menikah dan berumah tangga di usia 16 atau 17 tahun. Bahkan ada yang telah kawin di usia lebih muda dari itu. Karenanya tidak disalahkan kalau banyak orang berpendapat bahwa Ratih Kiranasari sudah termasuk yang disebut perawan tua.
Malam itu Gandar Seto dan puterinya menginap di rumah seorang kenalan di desa Cadas Brantas. Pagi harinya ketika hendak berangkat ke Kotaraja, begitu mendengar berita duka kematian sepasang pengantin yang menggegerkan itu, dengan bergegas Perwira Tinggi ini mendatangi rumah duka yang sebelumnya merupakan rumah pesta perkawinan itu. Setelah menyuruh anak gadisnya tetap berada dalam kereta, Gandar Seto segera turun dan masuk ke dalam rumah.
Perwira Tinggi ini sudah sering melihat kematian orang. Baik di medan perang maupun ketika menumpas para penjahat dan perampok pengacau Kerajaan. Namun belum pernah dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian yang mengerikan begini rupa.
“Ganas. Kejam sekali!” kata Ganda Seto dalam hati. Lalu dia menemui Kepala Desa Santiko yang duduk terkulai di sebuah kursi besar.
“Bapak Santiko,” tegurnya sambil memegang bahu Kepala Desa itu. “Saya tahu ini cobaan yang sangat berat dan besar bagimu dan istri. Namun saya harapkan kau bisa tabah menghadapinya. Saya berjanji untuk menyelidiki kematian Rumini dan Randu. Saya sendiri nanti yang akan memancung batang leher pembunuh biadab itu!”
Kepala Desa itu menatap wajah Gandar Seto sesaat lalu dianggukkannya kepalanya yang berwajah pucat itu perlahan sekali.
“Saya tidak punya musuh. Baik di masa muda saya maupun saat ini. Siapa orangnya yang begitu kejam dan berhati keji membunuh anak menantuku pada malam hari bahagia mereka.”
“Setahu saya Randu Wulung juga tidak punya musuh. Dia disenangi orang di dalam maupun di luar jajaran pasukan kerajaan. Dia seorang calon perwira tinggi yang diharapkan Sri Baginda menggantikan kami yang sudah tua-tua ini. Saya dan tentu saja kerajaan sangat kehilangan dirinya…” Perwira Tinggi itu diam sesaat. Lalu dengan suara rawan dia meneruskan ucapannya. “Hidup ini memang aneh. Dalam keanehan itu ada berbagai rasa jahat, iri hati dan kedengkian. Bukan mustahil bawahan saya menjadi korban ketiga hal tersebut.”
“Raden Gandar…” kata Kepala Desa Cadas Brantas dengan suara bergetar. “Tolong… kau usutlah perkara ini sampai berhasil menangkap pembunuhnya.”
“Saya berjanji. Tadi pun saya sudah coba melakukan penyelidikan singkat. Agaknya si pembunuh masuk lewat jendela. Saya dapatkan jendela kamar pengantin dalam keadaan terbuka. Ada beberapa bagian daun jendela yang menunjukkan tanda-tanda bekas dicongkel.”
“Maafkan kalau saya ingin memberitahukan sesuatu,” kata seorang anggota keluarga. Dia adalah lelaki tinggi besar yang tadi mendobrak pintu kamar untuk dapat masuk ke dalam.
Kepala Desa Cadas Brantas dan Perwira Tinggi Gandar Seto berpaling pada orang ini.
“Apa yang hendak kau beritahukan Padullah?”tanya Santiko.
“Malam tadi saya hampir tertidur waktu lapat-lapat saya mendengar suara seperti lolongan binatang di kejauhan. Terdengarnya seperti suara raungan anjing. Tetapi setelah saya simak saya yakin betul itu bukan suara lolongan anjing. Saya tidak dapat memastikan suara lolongan binatang apa. Mungkin anjing hutan atau srigala. Tapi kita tahu sendiri di sekitar sini tidak pernah ada anjing atau srigala hutan. Walau hati saya mendadak jadi tidak enak, saya mencoba memejamkan mata, tidur. Lalu saya mendengar ada suara halus. Suara seperti jendela atau pintu terbuka. Tapi saya ragu saat itu. Mungkin saja yang saya dengar adalah hembusan angin malam atau desah daun-daun pepohonan yang tertiup angin. Lalu akhirnya saya tertidur…”
Baik Kepala Desa Santiko maupun Perwira Tinggi Gandar Seto kelihatannya sama-sama tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Padullah itu.
“Saya menunda kepulangan ke Kotaraja pagi ini. Saya tetap di sini sampai kedua jenazah dimakamkan,” kata Gandar Seto pula. “Namun puteri saya Ratih Kiranasari akan saya suruh pulang lebih dulu. Saya akan keluar untuk memberitahu padanya.”
Perwira Tinggi itu lalu menemui puterinya. Gadis itu akhirnya berangkat ke Kotaraja hanya ditemani kusir kereta. Sebelum pergi Gandar Seto berkata pada anaknya agar begitu sampai di Kotaraja dia menghubungi seorang pejabat Keraton, memberitahu apa yang telah terjadi dengan diri Perwira Muda Randu Wulung.

3
KERETA yang dikemudikan kusir tua itu meluncur meninggalkan desa Cadas Brantas. Untuk mencapai Kotaraja kendaraan ini harus menempuh satu daerah berbukit-bukit kemudian melewati kawasan rimba belantara Jati Mundu. Hutan Jati Mundu merupakan hutan penghubung kawasan luar kota dengan pinggir timur Kotaraja. Hutan ini menjadi pusat lalu lintas semua orang yang mau ke atau meninggalkan Kotaraja. Hutan Jati Mundu tidak terlalu luas, tetapi pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya besar-besar, berusia ratusan tahun hingga batang-batangnya banyak yang diselimuti lumut. Di samping itu semak belukarnya pun lebat-lebat. Namun demikian, walau keadaannya seperti itu, tidak ada orang yang merasa takut melewati rimba belantara ini. Hutan Jati Mundu dikenal aman. Tak ada binatang buas seperti harimau atau ular. Bukan pula jadi tempat persembunyian atau sarangnya orang-orang jahat seperti begal dan rampok.
Setelah melewati jalan menurun di kaki bukit, kereta yang dikemudikan kusir tua itu mulai memasuki hutan Jati Mundu. Saat itu tirai jendela depan kereta terbuka dan satu wajah cantik muncul.
“Pak Tua, tak usah melarikan kuda terlalu cepat. Perlahan saja. Saya letih, mau mencoba tidur sebelum sampai di Kotaraja. Malam tadi saya menghadiri pesta perkawinan sepasang pengantin yang malang itu sampai larut. Jadi kurang tidur…”
Kusir kereta berambut putih itu menoleh. “Saya menurut apa kata Den Ayu saja. Tapi bukankah ayah Den Ayu berpesan agar kita cepat-cepat sampai di Kotaraja lalu menghubungi seorang pejabat di sana?”
“Kau betul Pak Tua, Kotaraja tidak terlalu jauh dari sini. Lagi pula hari masih pagi. Memang ada pesan yang harus disampaikan. Namun semua itu tidak akan menolong menghidupkan sepasang pengantin yang terbunuh itu. Jadi perlahan-lahan saja Pak Tua. Saya tak mau tidur singkat saya terganggu.”
“Baik Den Ayu. Saya akan menuruti apa kata Den Ayu,” jawab kusir kereta. Lalu dalam hati orang tua yang sudah mengabdi puluhan tahun pada ayah sang dara itu membatin. “Kasihan. Wajahnya cantik, budi pekertinya tak ada yang tercela. Kenapa belum ada juga laki-laki yang berkenan di hatinya untuk dijadikan suami? Atau mungkin benar kata-kata orang, Den Ayu Ratih tinggi hati dan terlalu memilih. Kasihan kalau dia nanti benar-benar jadi perawan tua seumur hidupnya.” Lalu sesuai dengan yang diperintahkan anak majikannya itu kusir kereta memperlambat lari kuda.
Memasuki Hutan Jati Mundu udara terasa redup dan sejuk. Hari masih terlalu pagi. Belum ada satu orang pun yang berpapasan dengan kereta itu. Seringkali terdengar suara kicau burung-burung hutan yang bertengger di pepohonan atau berterbangan kian kemari.
Di bagian lain hutan Jati Mundu seorang pemuda pejalan kaki yang melewati hutan itu sambil bersiul-siul membawakan lagu tidak menentu tiba-tiba tergagau dan tersurut mundur ketika di hadapannya muncul sosok tubuh seekor binatang bermoncong panjang. Semula dikiranya seekor anjing hutan. Tapi ketika diperhatikan binatang itu lebih banyak berupa seekor srigala liar.
Yang membuat si pemuda khawatir ialah menyaksikan moncong binatang itu berselomotan cairan merah. Ketika binatang ini menggereng kelihatan gigi-gigi dan taring­taringnya yang besar runcing juga tertutup cairan merah. Si pemuda memperhatikan sepasang kaki depan binatang. Seluruh kuku-kuku srigala liar ini panjang runcing berkeluk juga diselimuti cairan merah. Lalu pada beberapa bagian bulu tubuhnya yang berwarna coklat terang tampak ada percikan-percikan cairan berwarna sama. Ketika lidahnya dijulurkan jelas kelihatan cairan merah bercampur dengan ludahnya.
“Darah…” desis si pemuda dalam hati. “Mungkin binatang ini baru saja menyantap seekor kelinci hutan atau anak menjangan. Tapi mungkin juga barusan membunuh orang!” Pikirnya lebih jauh. Yang membuat pemuda ini bertindak waspada bukan saja karena melihat darah itu namun menyaksikan adanya kilapan sinar aneh pada sepasang mata srigala hutan yang berwarna merah itu! “Srigala biasa tidak memiliki dua mata merah bersinar seperti itu. Makhluk apa sebenarnya yang ada di depanku ini?” Lalu pemuda ini ingat. “Setahuku, kata orang di hutan Jati Mundu ini jangankan binatang buas, seekor lalat pun tak bakal ditemui. Tapi bagaimana hari ini aku tiba-tiba berhadapan dengan makhluk celaka ini? Nasibku yang apes atau bagaimana?!”
Srigala bermata merah itu membuka mulutnya. Gigi-gigi dan taringnya yang runcing kemerahan mencuat mengerikan. Lidahnya yang basah merah terjulur keluar. Kepalanya merunduk dan kedua kakinya diluruskan panjang-panjang ke depan tanda siap menerkam.
“Binatang ini hendak menyerangku,” kata si pemuda. Tangan kanannya cepat bergerak ke pinggang. Sebilah kapak bermata dua yang memancarkan cahaya putih berkilau kini tergenggam di tangan pemuda itu. Dalam hati dia berkata, “Binatang atau iblis serang diriku! Niscaya kubelah kepalamu dengan Kapak Naga Geni 212 ini!”
Entah mengapa srigala bermata aneh angker itu perlahan-lahan bergerak mundur. Kedua kaki depannya ditarik, kepalanya yang merunduk ditegakkannya kembali. Setelah menggereng sekali lagi binatang ini lalu memutar diri, melompat masuk ke dalam serumpunan semak belukar dan lenyap!
Si pemuda menarik nafas lega. Sambil tangan kirinya menggaruk kepalanya yang berambut gondrong, tangan kanannya menyelinapkan senjata mustikanya ke balik pakaiannya. Si pemuda yang tentu saja Pendekar 212 dari Gunung Gede bernama Wiro Sableng itu siap meneruskan perjalanannya. Mulutnya hendak mengeluarkan siulan lagi sekedar untuk menenteramkan perasaan akibat melihat binatang aneh tadi. Namun gerakannya tertahan.
Telinga Wiro menangkap suara derak roda kereta dan derap kaki kuda di dalam hutan itu. Dia cepat bergerak ke jurusan datangnya suara.
Di pinggir sebuah jalan tanah yang cukup lebar dalam hutan pemuda ini berhenti. Sesaat kemudian sebuah kereta ditarik seekor kuda dan dikemudikan oleh kusir tua berambut putih muncul dari kelokan jalan. Pemuda ini cepat menyongsong. Sambil mengangkat tangan kanannya dia berseru.
“Pak Tua! Hentikan dulu keretamu!”

***

Beberapa saat sebelum kereta itu dihentikan. Ratih Kiranasari berada di pinggiran hutan Jati Mundu. Gadis ini membawa sebuah keranjang bambu berisi manggis dan mangga hutan yang besar-besar dan matang. Dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Udara pagi itu cerah dan segar sekali. Apalagi angin bertiup sepoi-sepoi sejuk. Tiba­tiba satu jeritan keluar dari mulut sang dara ketika mendadak sekali seekor binatang berbentuk srigala melompat keluar dari semak-semak di tepi jalan dan merunduk siap menerkam dirinya.
Binatang ini keluarkan gerengan aneh. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan gigi, taring dan lidah yang berselomotan darah. Sehabis menggereng binatang ini melompat menyergap Ratih Kiranasari. Moncongnya terbuka lebar sedang sepasang kaki depan yang berkuku runcing menerjang siap merobek muka dan tubuhnya!
Sekali lagi puteri Perwira Tinggi itu menjerit. Lalu tubuhnya tersentak. Kedua matanya terbuka. Sekujur tubuhnya keringatan. Dadanya turun naik. Nafasnya memburu sesak. Dia menyibakkan tirai jendela di sampingnya. Disadarinya kereta saat itu berhenti di tengah hutan. Digosoknya kedua matanya. Ternyata dia barusan bermimpi. Lalu dia menarik tirai jendela sebelah depan dan memanggil kusir kereta.
“Pak Tua, ada apa kau menghentikan kereta?”
“Ada seorang tak dikenal menghentikan kereta,” jawab kusir tua itu.
Lewat jendela kecil di belakang kusir kereta itu, Ratih Kiranasari memandang ke luar, ke arah jalanan di depannya. Di sebelah sana dilihatnya seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian dan berikat kepala serba putih tegak mengangkat tangan lalu melangkah mendekati kereta yang berhenti. Ratih Kiranasari untuk beberapa saat lamanya seperti terpana melihat pemuda itu. “Pakaiannya sederhana, tubuhnya tegap penuh otot, wajahnya tampan dan mulutnya setiap saat melempar senyum. Siapa gerangan pemuda ini yang membuat hatiku jadi tergetar. Jelas dia bukan seorang petani atau pencari kayu di rimba belantara ini..”
Selagi puteri Perwira Tinggi ini bertanya-tanya dalam hati seperti itu, di luar sana didengarnya suara kusir tua berkata pada si pemuda.
“Anak muda, ada apa kau menyuruh aku menghentikan kereta?” tanya kusir kereta. Melihat gelagatnya pemuda ini bukan orang jahat, rampok atau begal. Dia sama sekali tidak membawa senjata dan tampangnya tidak seram. Meskipun heran namun kusir tua itu tidak menaruh curiga apalagi takut.
Pemuda di depan kereta menjawab. “Ada seekor binatang buas gentayangan di rimba belantara ini. Jika kau hendak meneruskan perjalanan hati-hatilah. Sebaiknya menyiapkan golok atau parang!”
Kusir tua itu menatap wajah pemuda gondrong itu sesaat lalu sambil tertawa dia berkata, “Anak muda, puluhan tahun aku hidup di wilayah ini. Ratusan kali aku melewati hutan Jati Mundu ini. Belum pernah diketahui orang ada binatang buas di sini. Juga rampok atau begal. Dan melihat wajah dan sikapmu kau tentu bukan seorang penjahat!”
Si gondrong balas tertawa. “Terima kasih kau mengatakan aku bukan orang jahat. Tapi kau harus percaya pada keteranganku tentang binatang buas itu. Aku barusan saja melihatnya dalam hutan ini. Mungkin dia masih berkeliaran di sekitar sini. Mulut dan sepasang kaki depannya penuh darah tanda dia baru saja membunuh makhluk bernyawa. Entah binatang entah manusia! Jadi hati-hatilah. Kau hendak menuju ke mana, Pak Tua? Apa yang kau bawa dalam kereta?”
Pertanyaan terakhir Wiro Sableng membuat kusir tua itu mulai curiga. “Kalau memang ada binatang buas di sekitar sini, mengapa kau sendiri tidak takut dan meninggalkan hutan ini?” tanya kusir tua itu pula.
Yang ditanya jadi garuk-garuk kepala. Lalu dia berkata. “Terserah kaulah, Pak Tua. Aku hanya memberitahu agar kau berhati-hati…”
Kusir tua itu hendak menyentakkan tali kekang kuda agar binatang itu berjalan kembali. Namun di belakangnya terdengar suara Ratih Kiranasari. Sejak tadi gadis ini telah memperhatikan pemuda yang tegak di depan kereta itu. Lewat jendela kecil di belakang punggung kusir kereta Ratih berkata. “Pak Tua, jangan pergi dulu. Suruh pemuda itu mendekat ke samping kereta. Saya mau bicara dengannya.”
“Akan saya beritahu Den Ayu,” jawab kusir kereta. Lalu dia berkata pada si pemuda. “Anak muda, puteri majikanku ingin bicara denganmu. Melangkahlah ke samping kereta sebelah kiri.”
“Ah, ada seorang puteri rupanya dalam kereta. Sungguh aku tidak menduga,” jawab pemuda tadi lalu dia melangkah cepat-cepat ke samping kiri kereta. Saat itu pula kain tirai jendela tersingkap dan satu wajah jelita muncul menjenguk keluar.
“Hemm… Ini rupanya sang puteri. Wajah dan dandanannya anggun. Kulitnya putih tapi agaknya sudah agak berumur.” kata Wiro menilai dalam hati.
“Saudara, apa betul kau memberitahu kusir kereta ada seekor binatang buas di hutan ini?”
“Betul sekali. Saya barusan sempat melihatnya. Hampir saja saya hendak diterkam dijadikan mangsa.”
Ratih Kiranasari tersenyum. Waktu tersenyum ini kelihatan lesung pipit muncul di kedua pipinya dekat dagu. “Rupanya binatang itu takut padamu,” katanya. Lalu dia bertanya. “Binatang buas yang kau lihat itu apakah sebangsa harimau atau singa. Atau ular besar?”
“Bukan, bukan harimau atau singa. Bukan juga ular besar. Tapi seekor anjing hutan. Seekor srigala… Mulut, gigi dan lidah serta sepasang kaki depannya berlumuran darah. Kedua matanya berwarna merah dan menyorotkan sinar angker!”
“Aneh,” kata Ratih.
“Apanya yang aneh?” bertanya si pemuda.
“Apa yang kau katakan begitu sama dengan apa yang barusan aku mimpikan. Tadi aku sempat tertidur dalam kereta. Dalam mimpi aku sedang berjalan di hutan lalu muncul binatang berbentuk srigala itu. Aku terbangun sewaktu binatang ini siap menerkamku.”
Si pemuda garuk-garuk kepala. “Ya betul aneh. Bagaimana mungkin mimpimu sama dengan apa yang saya lihat. Sebaiknya kau segera meneruskan perjalanan. Tutup rapat-rapat semua jendela…”
“Terima kasih kau memberitahu tentang srigala itu. Kalau aku boleh bertanya, apakah kau tinggal di sekitar sini?” tanya Ratih.
“Saya datang dari jauh.”
“Apakah kau punya nama?”
Pendekar 212 tertawa lebar. “Setiap orang tentu saja punya nama…”
“Lalu siapa namamu?”
“Wiro…”
“Cuma Wiro? Pendek amat!”
“Sebetulnya ada sambungannya. Tapi sudahlah…” Pemuda itu garuk-garuk kepalanya sambil senyum-senyum. Dia sengaja tidak mau menerangkan nama belakangnya yaitu Sableng!
“Orang tak mau memberitahu masakan aku memaksa,” kata Ratih pula. “Jika kau benar melihat srigala dalam mimpiku itu berkeliaran di hutan Jati Mundu ini, terus terang aku merasa khawatir. Aku harap kau menolong tidak setengah-setengah.”
“Maksudmu?” tanya Wiro.
“Apakah kau mau ikut menemani kami sampai di Kotaraja?”
Wiro tak menjawab. Terdengar Ratih Kiranasari berkata lagi. “Hitung-hitung sebagai pengawal. Kalau binatang buas menyeramkan itu muncul menghadang, melihat kau tentu dia akan lari. Tak berani mengganggu…”
Wiro garuk-garuk kepala dan memandang pada kusir kereta. Orang tua ini berkata setengah berbisik. “Ikuti saja permintaan anak majikanku. Tidak banyak pemuda yang beruntung mendapat tawaran begini baik darinya. Kurasa dia suka padamu!”
Wiro menyeringai. “Kebetulan saya memang hendak ke Kotaraja. Baiklah, saya akan menemanimu.”
Ratih tersenyum gembira. Wiro melompat ke atas kereta. Duduk di depan di samping kusir tua. Si gadis berkata. “Jika kau mau kau boleh duduk di dalam sini.”
“Terima kasih. Biar saya duduk di sini saja,” jawab Wiro.
Kusir tua menarik tali kekang kuda. Begitu kereta mulai bergerak berbisik pada Wiro, “Tidak pernah aku melihat pemuda setololmu. Diajak duduk di dalam sana mengapa kau menolak?”
Wiro menyengir. “Bagaimana kalau kau saja yang duduk di sampingnya. Biar aku yang mengemudikan kereta.”
Kusir tua itu tertawa gelak-gelak. “Anak muda, kau yang disukainya, bukan si tua bangka ini!”
Wiro tertawa. “Siapa nama gadis cantik itu?” tanyanya.
“Ratih Kiranasari,” jawab kusir kereta.
“Nama bagus orangnya pun cantik…”
“Anak muda, ketahuilah tidak banyak pemuda yang beruntung sepertimu. Bisa diajak seperjalanan seperti saat ini.”
“Maksud Pak Tua apa?”
“Puteri majikanku itu kata kebanyakan orang cantik tapi tinggi hati. Banyak pemuda yang menyukainya, ingin memperistrikannya. Tapi karena merasa anak seorang Perwira Tinggi dia berlagak jual mahal. Banyak pilih. Akibatnya sampai saat ini dia masih belum kawin. Orang mulai usil. Mengatakan dia sebagai perawan tua.”
“Belum kawin tapi benar-benar masih perawan, kan?” ujar Wiro.
“Anak muda. Aku punya firasat puteri majikanku ini suka padamu,” bisik si orang tua.
“Kau ngaco saja Pak Tua! Seorang puteri pejabat tinggi suka pada pemuda gelandangan macamku? Kau tahu sendiri, dia minta aku ikut seperjalanan karena khawatir dengan binatang buas itu…”
“Eh, soal binatang buas itu apakah bukan karanganmu saja. Maksudmu sebenarnya adalah ingin berkenalan dengan gadis itu. Yah mudah-mudahan dia memang suka padamu. Tampangmu tidak jelek-jelek amat!”
Wiro tersenyum pencong mendengar ucapan kusir tua itu.
“Dengar,” Kusir itu kembali membuka mulut. “Jika kau memang suka padanya, aku mau membantu mengatakan pada orang tuanya. Kalau sampai kau dipungut jadi menantu, wah kau bakalan diberikan jabatan lumayan di Kotaraja. Tapi jika hal itu benar-benar terjadi jangan lupa hadiah untukku!”
“Makin lama makin tak karuan igauanmu!” tukas Wiro. Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba di sebelah belakang terdengar jeritan Ratih Kiranasari.
Wiro singkapkan tirai jendela kecil di belakangnya. Ratih dilihatnya duduk ketakutan. Mukanya pucat dan matanya membeliak memandang keluar jendela.
“Ada apa?” tanya Wiro sementara kuda penarik kereta memperlihatkan ulah aneh.
“Bin… binatang itu…” kata Ratih dengan suara gugup ketakutan. Dia menunjuk ke luar jendela dengan tangan gemetar. Kuda kereta tiba-tiba terdengar meringkik. Wiro berpaling ke arah yang ditunjuk Ratih. Dia melihat apa yang menakutkan gadis itu.
Di balik semak-semak sepanjang jalan yang dilalui kereta, kelihatan bayangan sosok tubuh srigala bermata merah yang sebelumnya sempat ditemui Wiro. Binatang ini bergerak sejajar dan searah jalannya kereta. Kusir kereta sibuk berusaha menenangkan kuda yang tampak ketakutan.
“Pak Tua,” kata Wiro, “Jalankan terus kereta ini.” Lalu dia siap-siap melompat.
“Kau hendak ke mana?” tanya kusir kereta.
“Saya berusaha agar binatang itu tidak menyerang kereta,” jawab Wiro. Lalu dia melompat turun dari kereta dan berlari di sepanjang jalan antara srigala dan kereta.
Di satu kelokan jalan srigala buas itu memutar larinya mendekati Wiro.
“Anak muda, binatang itu hendak menyerangmu!” teriak kusir kereta. Dari dalam kereta Ratih Kiranasari juga sudah melihat apa yang bakal terjadi. Gadis ini menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya berdoa agar Wiro selamat dari binatang buas itu.
“Jangan perdulikan saya!” teriak Wiro. “Larikan terus kereta!” Lalu dia hentikan larinya. Srigala bermata api dengan moncong dan kaki depan berselomotan darah yang merasa ditantang, lari ke arah Wiro. Pendekar 212 siapkan pukulan Kunyuk Melempar Buah di tangan kanan. Ketika binatang itu hanya tinggal lima langkah dari hadapannya dia segera angkat tangan kanannya untuk menghantam. Tapi srigala bermata api tiba-tiba hentikan gerakan dan kini dia malah duduk di tengah jalan dengan lidah basah berdarah terjulur-julur. Kedua matanya menatap tajam ke arah Wiro.
Melihat binatang ini tak jadi menyerang, murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede hentikan pula gerakannya menghantam dengan pukulan sakti. Srigala itu perlahan­lahan rundukkan tubuhnya. Kedua kaki depannya dilunjurkan dan dagunya diletakkan di atas kedua kakinya itu. Matanya yang tadi bersinar merah mengerikan kini tampak memandang sayu ke arah Wiro. Dari mulutnya terdengar suara seperti anjing menggerang halus pilu dan jinak. Sikapnya seperti minta dikasihani.
“Aneh, binatang apa ini sebenarnya. Mengapa dia tiba­tiba berubah seperti menderita sesuatu yang menyakitkan dan bersikap jinak.” Dengan agak ragu Wiro melangkah mendekati srigala itu. Tiba-tiba binatang ini mengangkat kepalanya dan melolong panjang. Lolongannya tidak terdengar buas, tapi lagi-lagi memilukan. Walau demikian Wiro sempat kaget dan tersurut dua langkah. Kemudian dilihatnya srigala itu kembali meletakkan kepalanya di atas kedua kakinya.
Setelah memperhatikan sejenak Wiro beranikan diri lagi mendekati srigala itu. Tangan kanannya tetap disiapkan untuk melepaskan pukulan sakti Kunyuk Melempar Buah jika sewaktu-waktu srigala itu tiba-tiba menerkam dan menyerangnya. Semakin dekat Wiro padanya semakin memilukan terdengar suara erangan binatang ini.
“Makhluk berbentuk srigala, apapun kau adanya, jika kau bersikap bersahabat, aku pun akan bersahabat denganmu…” kata Wiro bicara pada srigala itu.
Sepasang mata yang sayu merah tampak berkedip­kedip beberapa kali. Wiro ulurkan tangan kirinya. Dibelainya kepala lalu tengkuk srigala itu.
“Ah, kau ternyata mau bersahabat denganku!” kata Wiro. “Kalau begitu biar aku pergi. Jangan turuti aku. Sekali kau masuk ke Kotaraja orang-orang pasti akan membunuhmu.”
Wiro mengusap lagi kepala binatang itu. Ketika dia hendak bergerak pergi, srigala ini menjulurkan lidahnya yang basah berdarah dan sempat menjilat punggung telapak tangan kiri si pemuda. Wiro mengernyit jijik dan cepat menjauh.
Pada saat itu terdengar suara derap kaki kuda dan gemeletak roda-roda kereta. Wiro berpaling. Ternyata kereta yang membawa Ratih Kiranasari dan dikemudikan oleh kusir tua itu muncul kembali.
Srigala yang melunjur di tengah jalan tiba-tiba bangkit dengan cepat. Kedua daun telinganya berdiri tegang ke atas. Dari mulutnya terdengar suara menggereng keras lalu binatang ini melompat ke balik semak-semak dan lenyap dalam rimba belantara.
“Pak Tua, kenapa kau kembali?!” tanya Wiro begitu kereta berhenti di sampingnya.
“Den Ayu Ratih yang menyuruh. Dia khawatir kau diapa­apakan oleh binatang itu. Ternyata tadi kau malah kulihat mengusap-usap kepalanya!”
Tirai samping jendela terbuka. Wajah cantik Ratih Kiranasari muncul. “Wiro, kau tidak apa-apa?”
Wiro tersenyum. “Binatang itu ternyata aneh. Tampangnya memang mengerikan. Tapi ternyata dia tidak menyerang saya…”
Ratih memperhatikan tangan kiri si pemuda. “Ada noda darah di tangan kirimu,” katanya kemudian.
Wiro memperhatikan. Memang di punggung tangan kirinya ada noda darah bekas jilatan lidah srigala tadi. Wiro mengambil setangkai daun. Dengan daun ini disekanya noda darah itu. Wiro lalu melompat ke atas kereta.
“Pak Tua lekas putar kereta. Kita harus meninggalkan hutan ini cepat-cepat!”

4
GANDAR Seto dan istrinya sama-sama memandang pada puteri mereka satu-satunya dengan mata tak berkedip dan wajah yang menyatakan keheranan. “Banyak keanehan terjadi akhir-akhir ini, Salah satu di antaranya adalah dirimu Ratih,” kata Perwira Tinggi itu pada puterinya.
Ratih Kiranasari hanya bisa menatap wajah kedua orang tuanya sesaat lalu tundukkan kepala.
Sang ibu memegang lengan anak gadisnya itu lalu berkata. “Anakku, kami berdua tidak merasa heran jika kau mengatakan telah tertarik pada seorang pemuda. Memang terus terang kami memang sangat mendambakan agar kau segera menemukan seorang calon suami. Aku dan ibumu sudah sama lanjut dan ingin melihat kau punya suami, lalu punya anak, cucu kami. Tapi kalau pemuda itu ternyata seorang pemuda yang tidak diketahui asal-usul dan juntrungannya, tentu saja kami sangat keberatan anakku. Batalkan saja niatmu untuk mempertemukannya pada kami.”
“Jangan-jangan dia seorang pemuda gelandangan!” kata Gandar Seto pula menimpali ucapan istrinya.
“Saya memang tidak tahu asal usulnya. Namun saya yakin dia bukan gelandangan…”
“Buktinya kau ketemu dia di Hutan Jati Mundu. Dia tidak tinggal di Kotaraja dan juga bukan orang sekitar sini. Lalu siapa sebenarnya pemuda yang kau katakan itu?”
“Ayah, dia seorang pemuda yang punya ilmu. Buktinya saya lihat sendiri dia bisa menjinakkan seekor srigala buas di hutan itu.”
Perwira Tinggi itu tertawa gelak-gelak.
“Di Jati Mundu tak ada binatang buas. Apalagi srigala. Yang kau lihat dijinakkannya itu jangan-jangan hanya seekor kambing hutan!”
“Ayah, saya tidak terlalu bodoh membedakan mana kambing dan mana srigala. Binatang yang saya lihat diusapnya itu sama sekali tidak bertanduk!”
“Mungkin saja kambing betina! Jelas tidak punya tanduk!” tangkis sang ayah.
“Kalau ayah dan ibu tidak percaya tanyakan saja pada Pak Tua Tejo, kusir kita. Dia ikut melihat apa yang saya saksikan.” Ratih terus berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.
“Sudahlah anakku. Taruh pemuda itu punya ilmu kepandaian dan dia memang bisa menjinakkan binatang buas dalam Hutan Jati Mundu seperti katamu. Tapi satu hal harus kau ingat, kami orang tuamu tidak akan menjodohkanmu dengan seorang pemuda gelandangan! Kami lebih suka kau jadi seorang perawan tua seumur hidup daripada punya menantu yang memberi malu dan menurunkan derajat kami!”
Berubahlah paras Ratih Kiranasari mendengar kata­kata ayahnya itu. Kedua bola matanya tampak seperti membesar dan mengeluarkan sinar yang sesaat sempat membuat ayah dan ibunya tercekat. Gadis ini bangkit dari kursinya.
“Ayah dan ibu terlalu diperbudak oleh kedudukan, jabatan, tingkatan dan derajat. Ayah dan ibu lupa! Semua manusia dilahirkan sama, terbuat dari darah dan daging! Saya tidak meminta ayah ibu menjodohkan saya dengan pemuda yang ayah katakan sebagai gelandangan itu karena dia juga belum tentu mau pada saya! Dan saya benar-benar tidak mengerti, ada orang tua yang lebih suka melihat anak gadisnya menjadi perawan tua hanya karena gila jabatan dan derajat!”
“Ratih!” teriak Gandar Seto keras sekali.
Ratih sendiri saat itu sudah bangkit berdiri lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Pintu dikuncinya dari dalam. Sunyi sesaat lalu terdengar isak tangisnya. Gandar Seto dan istrinya berusaha masuk ke dalam kamar dan mengetuk pintu berulang kali. Tapi Ratih menutupi wajahnya dengan bantal dan menangis lebih keras.
Gandar Seto geleng-gelengkan kepala. Kedua suami istri itu saling pandang beberapa ketika. Perwira Tinggi ini akhirnya mengangkat bahu dan berkata. “Biarkan saja. Nanti kalau dia sudah tenang pasti mengerti sendiri.”
“Saya rasa ada baiknya kau menemui kusir kita itu Ppak,” berkata sang istri.
Paras Perwira Tinggi itu tampak berubah. Dia menatap istrinya sesaat lalu berkata. “Nah, nah… nah! Rupanya hatimu mulai mendua. Kalau kau memang ingin bermenantukan gelandangan yang kata anakmu itu pandai menjinakkan binatang buas, silahkan kau temui dan bicara sendiri dengan Tejo!” Habis berkata begitu Gandar Seto tinggalkan istrinya masuk ke dalam kamar tidur sambil membanting pintu. Tinggal kini sang istri yang tegak sendiri termangu-mangu di depan pintu. Sesaat kemudian dia kembali mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu. Tapi tetap saja tak ada jawaban.
Perempuan ini akhirnya masuk ke dalam kamar menemui suaminya.
“Yang saya takutkan, Pak-ne,” katanya, “Jika kita terlalu keras saya khawatir anak itu akan melarikan diri, minggat dari rumah ini. Kita juga nanti yang akan malu.”
“Kalau dia memang mau minggat aku tidak akan mencarinya. Mungkin itu lebih baik. Aku tidak takut kehilangan anak daripada menerima malu besar. Kalau dia kabur bersama pemuda gelandangan itu, akan kubunuh kedua-duanya!” kata Gandar Seto dengan wajah keras membesi.

***

Di bagian belakang gedung kediaman Perwira Tinggi Gandar Seto ada sebuah gudang besar didampingi kandang kuda dan kereta. Tak berapa jauh dari bangunan itu ada sebuah rumah kecil. Malam terasa dingin. Meski di langit ada bulan purnama empat belas hari namun halaman belakang gedung besar itu diselimuti kegelapan. Dalam kegelapan inilah tampak seseorang mengendap­endap menuju bagian depan bangunan kecil. Di depan pintu dia berhenti, memandang berkeliling sebentar lalu mulai mengetuk. Walaupun bagian dalam rumah berada dalam keadaan gelap namun penghuninya ternyata belum tidur. Begitu pintu diketuk terdengar suara orang bertanya dari dalam.
“Siapa?”
“Pak Tua Tejo, buka pintu. Cepat! Saya mau bicara…?”
Pintu segera terbuka. “Den Ayu Ratih? Malam-malam begini Den Ayu menemui saya ada apakah?”
Orang yang datang itu ternyata adalah Ratih Kiranasari, puteri Perwira Tinggi. Dia langsung masuk ke dalam rumah kecil itu, tegak bersandar di pintu. Ketika kusir tua Tejo hendak menyalakan lampu minyak, gadis itu cepat mencegah.
“Ada apa sebenarnya, Den Ayu?”
Dengan singkat dan cepat Ratih menceritakan pembicaraannya dengan kedua orang tuanya.
“Lalu, mengapa Den Ayu datang ke mari? Apa yang bisa saya lakukan?”
“Pak Tua Tejo tahu di mana pemuda bernama Wiro itu menginap di Kotaraja?”
“Saya tidak tahu. Bukankah sewaktu berpisah kemarin pagi saya dengar Den Ayu berjanji akan menemuinya lagi di satu tempat?”
“Betul, tapi masih dua hari lagi. Saya perlu bertemu dengan dia sekarang juga. Saya akan minta dia menemui kedua orang tua saya.”
“Itu satu maksud yang baik. Tapi saya sarankan jangan sekarang-sekarang ini. Mereka lagi bingung. Mungkin juga marah. Beri kesempatan barang beberapa hari. Kalau mereka sudah tampak biasa-biasa saja baru pemuda itu disuruh datang.”
Ratih terdiam.
“Maaf Den Ayu. Kalau pemuda bernama Wiro itu dipertemukan dengan kedua orang tua Den Ayu, apa yang harus dilakukannya? Melamar Den Ayu?”
“Siapa meminta dia melamar aku?!”
“Lalu… Ah, saya mungkin tidak mengerti. Katakan saja apa yang harus saya lakukan,” kata kusir tua Tejo.
“Pak Tua harus mulai mencari pemuda itu malam ini juga! Pak Tejo harus menolong saya!”
“Tentu. Pasti saya mau menolong. Tapi mencari pemuda bernama Wiro itu malam-malam begini rasanya satu pekerjaan sia-sia belaka…”
Ratih Kiranasari tampak kecewa.
“Den Ayu, masuk kembali ke dalam gedung. Tidurlah. Besok kita bicarakan lagi hal ini. Kalau ada penjaga yang sempat melihat Den Ayu ada di tempat ini saya khawatir mereka bisa salah sangka…”
Tanpa berkata apa-apa gadis itu keluar dari rumah kecil itu. Kusir tua Tejo memandang sambil menggelengkan kepala. Mengira puteri majikannya itu benar-benar kembali ke rumah dan tidur, orang tua ini menutupkan pintu kembali. Ternyata Ratih tidak kembali ke dalam rumah. Seperti orang yang berjalan sambil tidur gadis ini melangkah sepembawa kakinya. Penjaga yang terkantuk-kantuk di pintu gerbang sama sekali tidak melihat gadis ini lewat di depannya.

***

“Nandang, hari sudah larut malam. Aku khawatir ada ronda dusun melihat kau berada di sini…” kata perempuan yang duduk sambil mendekap pemuda di sampingnya. Saat itu mereka duduk di atas sebuah bangku panjang sambil bersandar pada batang pohon besar di sebelah belakang.
“Halaman ini luas sekali. Banyak pohon dan semak­semaknya. Mata ronda dusun tak akan dapat memandang sampai ke sini. Lagi pula lampu di dalam rumah sudah kau matikan. Kalaupun ada yang memperhatikan pasti mereka mengira kau sudah tidur, Sarti.” Menjawab pemuda yang mendekap tubuh langsing Sarti.
“Sinar bulan purnama cukup terang. Saya khawatir Nandang…”
“Ah, apa yang harus dikhawatirkan. Bukankah kau sendiri tadi yang meminta agar kita duduk bermesraan di tempat ini sambil memandang bulan purnama empat belas hari yang indah itu?”
Sarti terdiam. Untuk kesekian kalinya dirasakannya jari­jari tangan pemuda itu meraba dan memeras lembut dadanya hingga tubuhnya kembali menggeletar dan darahnya menjadi panas.
“Lagi pula, Sarti…” kata si pemuda berbisik ke telinga Sarti. “Kau tidak mengajakku masuk ke dalam rumah kali ini. Aku tidak akan pergi sebelum kita melewati malam yang begini indah seperti malam-malam sebelumnya.”
“Nandang, aku khawatir suamiku akan kembali malam ini. Kalau dia sampai menemukan kita di dalam kamar, di atas tempat tidur…”
“Aku yakin Sentot pasti tidak akan pulang malam ini. Paling cepat besok pagi. Aku tahu banyak yang harus diurusnya di Wates. Ajak aku ke kamarmu Sarti…”
“Jangan malam ini Nandang. Waktu kita masih banyak.”
“Kalau begitu kita lakukan di sini saja? Lihat bulan purnama itu. Indah sekali…”
“Jangan Nandang…” menolak Sarti tapi dia tidak berusaha menepiskan sepasang tangan si pemuda yang mulai melucuti pakaiannya.
“Kita tidak pernah bermesraan di tempat terbuka seperti ini. Apalagi ada rembulan yang begitu indah. Tidakkah kau merasakan dorongan yang meluap-luap dalam tubuhku, kekasihku…?” bisik Nandang sambil menciumi telinga Sarti hingga perempuan muda ini menggelinyang. Saat itu kebayanya sudah lepas dari tubuhnya. Angin malam bertiup dingin tapi Sarti merasakan badannya seperti dikobari api. Dari mulutnya terdengar suara sesalan halus. “Aku menyesal dan akan menderita seumur hidup mengapa ayah mengawinkan aku dengan Sentot yang hampir dua puluh tahun lebih tua dariku. Sementara gadis­gadis dusun kulihat kawin dengan pemuda-pemuda gagah…”
“Jangan sesali hidup ataupun orang tuamu,” kata Nandang pula seraya tangannya meluncur ke bawah. “Lupakan Sentot. Bukankah aku akan selalu berada di dekatmu setiap saat kau membutuhkan diriku?”
Sarti menyusupkan kepalanya ke dada Nandang. “Aku memang membutuhkanmu Nandang. Aku tak bisa berpisah denganmu. Bawa aku ke mana kau pergi…”
“Akan tiba saatnya Sarti. Pasti…” jawab Nandang lalu merebahkan istri Sentot di atas bangku panjang. Sambil tersenyum Sarti memperhatikan pemuda kekasihnya itu membuka bajunya. Di atasnya bulan purnama empat belas hari memancarkan sinar indah sekali. Belum pernah Sarti melihat bulan purnama seindah itu. Keindahan itu seperti bertambah-tambah ketika Nandang meneduhi tubuhnya, menciumi lehernya dengan penuh nafsu. Sarti memagut punggung pemuda ini kuat-kuat. Tapi tiba-tiba sekali dilepaskannya.
“Ada apa, Sarti?” bertanya Nandang.

5
MELIHAT wajah Sarti yang seperti ketakutan Nandang memandang berkeliling. Lalu dia bertanya sekali lagi. “Ada apa…?” “Aku mendengar sesuatu. Suara gemerisik semak-semak. Aku khawatir ada orang mengintai perbuatan kita…”
“Itu hanya perasaanmu saja. Tidak ada siapa-siapa di sekitar sini,” kata Nandang pula lalu ciumannya bertubi­tubi mendarat di wajah, leher dan dada Sarti. Sesaat perempuan ini jadi hanyut lupa diri. Namun di lain ketika kedua tangannya mendorong dada Nandang ke atas.
“Eh, apa-apaan kau ini, Sarti?” Nandang jadi kesal.
“Apa kau tidak mendengar? Ada suara gemerisik semak-semak. Aku seperti melihat bayangan sesuatu di sebelah sana…” Sarti memandang ke jurusan gelap dekat serumpunan pohon salak.
“Supaya kau tidak ketakutan terus biar aku menyelidik ke sekitar pohon salak itu. Ada-ada saja kau Sarti. Kau tunggu di sini…”
Sarti menutupi tubuhnya dengan kain panjang. Nandang memegang lengannya seraya berkata. “Awas kalau kau mengenakan pakaianmu kembali. Aku akan menyelidik. Cuma sebentar. Pasti kau hanya takut tak beralasan… Tak ada apa-apa di sekitar sini.”
Nandang bangkit berdiri. Dia tidak perduli lagi kalau saat itu dia sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Dalam keadaan bugil pemuda ini melangkah ke arah pohon salak. Dia datang dari sebelah kiri. Sepi, tak ada siapa atau bayangan apa pun di situ. Nandang meneruskan langkahnya memutari pohon salak ke sebelah belakang. Juga tidak ada apa-apa.
“Sarti… Sarti… Jangan-jangan dia hanya mempermainkan aku,” kata Nandang. Dia segera hendak meninggalkan tempat itu. Namun sudut matanya menangkap dua buah cahaya aneh di sebelah kiri. Pemuda ini cepat berpaling. Nafasnya tertahan. Beberapa langkah di depan kirinya dilihatnya sosok binatang seperti seekor anjing besar mendekam duduk dengan moncong terbuka. Kedua matanya berwarna merah, memancarkan sinar aneh menggidikkan. Lidahnya terjulur basah. Taring dan gigi-giginya besar tajam mengerikan. Suara nafas makhluk ini terdengar seperti gerengan harimau. Tengkuk Nandang menjadi dingin. Namun jika dia menoleh ke samping kanan binatang itu, terlihat satu pemandangan lain. Di bawah sinar bulan purnama tegak seorang perempuan berwajah cantik, mengenakan kemben dan kain panjang halus. Rambutnya yang panjang tergerai lepas di atas bahunya yang putih. Kalau binatang di sampingnya menyorotkan pandangan yang mengerikan sebaliknya perempuan cantik ini tampak tersenyum. Hanya saja Nandang tidak memperhatikan bahwa di balik senyum itu tersembunyi satu bayangan angker menyeramkan.
“Kau… kau siapa…?” tanya Nandang dengan suara agak tersendat.
Perempuan muda dan cantik di depannya tidak menjawab. Kedua matanya memperhatikan tubuh si pemuda yang sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Pandangan perempuan itu membuat Nandang sadar akan keadaan dirinya. Dia menurunkan kedua tangannya berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya.
Si cantik di depannya kembali tersenyum. “Tak usah kau menutupi aurat. Aku suka melihat tubuhmu yang tegap!”
Ucapan itu tentu saja membuat dada Nandang jadi berdebar. “Ah, wanita muda cantik berpengawal anjing besar ini jangan-jangan seorang peri…” membatin Nandang.
“Anak muda, apakah kau mau membagi kesenangan yang kau berikan pada perempuan di atas bangku itu padaku?” Tiba-tiba si cantik di bawah bulan purnama berkata.
Semakin menggeletar sekujur tubuh Nandang.
“Aku tidak tahu siapa kau adanya…”
“Namaku Kemala. Apakah nama itu tidak bagus?”
“Bagus sekali. Sebagus orangnya…” jawab Nandang.
Perempuan cantik itu tertawa perlahan. “Kau pemuda pandai memuji dan merayu. Pantas perempuan itu tergila­gila padamu meski sudah jadi istri orang. Sekarang jawab pertanyaanku tadi.”
Nandang tak bisa menjawab.
“Apa wajahku lebih buruk dari istri Sentot. Apa tubuhku lebih jelek dari perempuan kekasih gelapmu itu?”
Nandang harus mengakui bahwa wajah perempuan di depannya jauh lebih cantik dari Sarti, juga potongan tubuhnya begitu indah dan sangat menggiurkan. Namun tetap saja dia tidak mau menjawab.
“Kau tidak mau membagi kebahagiaan itu padaku?” Si cantik bertanya lagi sambil mengusap kepala binatang di sampingnya.
“Dengar, aku…”
“Sudahlah! Tak usah banyak bicara lagi!” Si cantik menghentikan usapannya pada kepala srigala besar di sampingnya lalu berkata. “Datuk, lakukan tugasmu…”
Sepasang mata srigala ini membersitkan sinar merah mengerikan. Bersamaan dengan itu dari mulutnya keluar suara lolongan panjang. Nandang merasakan nyawanya seperti terbang dan lututnya bergetar goyah. Sebelum sempat dia melakukan sesuatu tiba-tiba srigala besar itu sudah melompat dan menerkamnya. Nandang berteriak keras. Tapi suara teriakan itu putus begitu kaki kanan srigala yang berkuku panjang menyambar lehernya. Batang leher Nandang koyak besar mengerikan. Tulang lehernya patah. Darah menyembur muncrat!
Di atas bangku panjang di bawah pohon Sarti setengah terlompat ketika mendengar suara lolongan binatang dari arah pohon salak. Lalu menyusul suara teriakan orang.
“Itu Nandang…” kata Sarti dalam hati. Mukanya mendadak pucat. Cepat-cepat dia menutupi tubuhnya dengan kain panjang lalu dengan dada berdebar dia melangkah ke arah pohon salak ke jurusan mana tadi lenyapnya Nandang.
“Nandang… Nandang…” memanggil Sarti. Tak ada jawaban. “Nandang kau di mana…?” Sarti sampai di dekat pohon salak lalu memandang perkeliling. Tiba-tiba satu jeritan keras keluar dari mulut Sarti. Kedua matanya seperti hendak tanggal dari rongganya. Hanya beberapa langkah di hadapannya menggeletak tubuh Nandang. Tubuh tanpa pakaian itu bergelimang darah penuh luka cabik-cabik. Wajahnya hampir tak bisa dikenali lagi. Salah satu matanya mencuat keluar, hidungnya tanggal dan mulutnya sobek. Di lehernya ada luka terbuka yang masih mengucurkan darah!
Sarti membalikkan tubuh untuk melarikan diri dalam ketakutannya. Namun di hadapannya tiba-tiba saja muncul seekor binatang besar menghadangnya dengan mulut berlumuran darah terbuka mengerikan. Kedua matanya seperti bara api menyala! Untuk kedua kalinya Sarti menjerit. Dia melangkah mundur ketakutan. Kakinya terserandung akar pohon yang menonjol di atas tanah. Tubuhnya jatuh terduduk. Srigala besar melangkah mendekati. Saat itulah dalam takutnya Sarti melihat ada sosok seorang perempuan cantik melangkah di belakang srigala besar itu.
“Tolong… tolong…!” jerit Sarti.
“Perempuan serakah! Tak ada yang bakal bisa menolongmu!” Si cantik di belakang srigala berkata. “Sudah punya suami tak cukup bagimu! Masih mau main gila dengan lelaki lain! Apa kau kira hanya kau satu-satunya perempuan yang hidup di dunia ini?!”
“Tolong! Siapa kau…?!” teriak Sarti.
“Datuk, bunuh perempuan itu!”
Mendengar perintah itu srigala besar meraung panjang lalu menerkam tubuh Sarti. Perempuan ini masih sempat menjerit sekali lagi. Lalu suara jeritannya lenyap, bertukar dengan suara tubuh yang dicabik-cabik srigala itu.
Sosok tubuh Sarti terbujur di tanah dalam keadaan hancur koyak mengerikan. Si cantik bernama Kemala yang rambutnya tergerai lepas ke bahu sesaat memperhatikan tubuh itu tanpa bergeming. Lalu dia berkata pada binatang di depannya.
“Datuk, kau boleh pergi sekarang. Kita bertemu lagi tiga puluh hari di muka. Tepat pada saat purnama tiga belas hari muncul di langit.”
Srigala bermata merah itu memutar tubuhnya lalu merunduk seperti menyembah. Setelah menggereng keras binatang ini melompat ke kiri dan lenyap dalam kegelapan malam.
Tempat itu kini kembali sunyi senyap. Di langit rembulan masih tampak seindah sebelumnya. Hanya kini ada awan hitam bergerak menutupi.
Perempuan yang tinggal seorang diri di tempat itu terdengar menghela nafas panjang. Lalu diusapnya wajahnya dua kali berturut-turut dan tinggalkan tempat itu bersamaan dengan bertiupnya angin malam yang dingin.

6
ISTRI Gandar Seto tidak bisa memicingkan matanya sementara suaminya sudah tertidur ngorok di sebelahnya. Pikiran perempuan ini masih mengingat pada ketegangan yang terjadi antara dia dan suaminya di satu pihak dan dengan puteri mereka Ratih Kiranasari. Setelah bolak-balik beberapa kali akhirnya perempuan ini turun dari tempat tidur. Di luar kamar dia termenung sesaat sebelum kemudian melangkah menuju kamar tidur anaknya. Dia tahu Ratih telah mengunci kamar itu dari dalam. Tetapi entah mengapa dia tidak mengetuk pintu melainkan langsung membukanya. Agak heran ternyata dia mendapatkan pintu kamar tidak dikunci. Perempuan ini masuk ke dalam. Kamar berada dalam keadaan gelap. Namun caha­ya rembulan yang menyeruak masuk lewat lobang angin cukup membantu hingga dia dapat melihat keadaan seisi kamar. Di atas ranjang sama sekali tidak ada sosok tubuh puterinya!
“Ke mana anak itu…?” bertanya istri Perwira Tinggi ini dalam hati. Diperiksanya kamar sekali lagi. Setelah memastikan Ratih tidak ada dalam kamar, perempuan ini cepat keluar. Dia memeriksa seluruh rumah. Anak gadisnya tetap tidak ditemukan. Dia segera menuju ke pintu depan, membuka dan melihat ke luar. Penjaga di pintu gerbang tampak tertidur pulas. Penjaga yang biasa meronda tidak kelihatan. Perempuan ini tidak dapat lagi menahan rasa khawatirnya. Setengah berlari dia masuk ke dalam kamar, membangunkan suaminya dan memberitahu kalau puteri mereka lenyap entah ke mana.
“Jangan-jangan dia telah diculik pemuda asing itu Pak­ne!” kata istri Gandar Seto.
Gedung kediaman Perwira Tinggi itu menjadi heboh. Semua pengawal dipanggil. Setelah dimaki habis-habisan mereka diperintahkan untuk segera mencari Ratih Kiranasari. Namun orang-orang itu termasuk Gandar Seto sendiri tidak tahu harus mencari ke mana. Tejo si kusir tua jadi bingung. Malam itu sebelumnya putri majikannya itu telah menemuinya dan menanya apakah dia tahu di mana beradanya pemuda bernama Wiro. “Kini kalau dia tiba-tiba lenyap jangan-jangan dia mencari pemuda itu. Den Ayu Ratih, kenapa senekad itu dirimu…”
Gerak gerik kusir tua yang tidak seperti biasanya itu terlihat oleh Gandar Seto. Perwira Tinggi ini jadi curiga. Dia menghampiri orang tua ini dan berkata. “Pak Tejo, sikapmu agak lain kulihat. Aku rasa kau tahu apa yang terjadi dengan anakku… Selain kami orang tuanya kau adalah orang yang paling dekat dengan Ratih. Apa yang kau ketahui Pak Tejo?!”
“Saya… saya tidak tahu…” Kusir tua itu bukan saja jadi gugup tetapi juga mulai ketakutan.
Saat itu tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda.
“Ada orang datang!” seru seorang pengawal.
Semua orang yang ada di depan gedung sama berpaling ke arah pintu gerbang. Seekor kuda ditunggangi dua orang memasuki halaman dan sampai di tangga depan gedung. Semua orang karuan saja jadi terkejut. Karena yang duduk di sebelah belakang adalah Ratih Kiranasari sendiri, sedang di sebelah depan yang memegang tali kekang kuda adalah seorang pemuda tak dikenal berambut gondrong.
Gandar Seto melompat. Dengan cepat dipegangnya pinggang puterinya lalu diturunkannya ke tanah. Sepasang matanya memperhatikan sekujur tubuh anaknya mulai dari rambut sampai ke kaki.
“Ratih, kau tidak apa-apa? Kau barusan dari mana?!”
Gadis itu tak menjawab. Ibunya sudah sampai pula di tempat itu, memeluknya lalu membimbingnya ke dekat tangga gedung. Gandar Seto kini membelalak memandang pada si gondrong yang masih duduk di atas kuda dan yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.
“Kau siapa?!” bentak Perwira Tinggi itu keras sekali.
Wiro segera turun dari punggung kuda. Dia membungkuk dengan sikap hormat. “Saya Wiro. Saya…” jawab Pendekar 212. Belum sempat dia meneruskan ucapannya Gandar Seto sudah mendamprat.
“Jadi kau pemuda gelandangan yang…”
“Ayah! Jangan menghina dia!” Tiba-tiba terdengar teriakan Ratih Kiranasari.
Perwira Tinggi itu melotot ke arah anaknya. Hampir terlompat makian dari mulutnya. Dengan suara bergetar dia berkata. “Kau membelanya! Benar rupanya kau menyukai pemuda ini! Anak tak tahu diri. Memberi malu orang tua!” Gandar Seto berpaling pada Wiro. “Berani kau main gila dengan anakku! Kau bawa anakku di malam buta lalu kau kembalikan lagi dengan cara seperti ini! Benar-benar kurang ajar! Kupecahkan kepalamu!”
Gandar Seto melompat ke hadapan Wiro.
“Perwira, biar saya jelaskan dulu…” kata Wiro.
Namun jotosan Perwira Tinggi itu sudah menghantam pipi kanannya lebih dulu.
Bukkk!
Wiro terjajar dan terpuntir ke belakang. Pipi kanannya tampak memar merah dan bengkak. Ratih Kiranasari berteriak dan lari dari pegangan ibunya. Dia cepat memegang pinggang ayahnya ketika lelaki ini hendak menghajar Wiro kembali.
“Jangan, Ayah! Jangan pukul dia! Dia yang menolong saya…”
“Menolongmu? Dia? Si gelandangan ini? Apa yang sebenarnya terjadi anakku?! Dia membawamu dari rumah ini lalu kau bilang dia menolongmu!”
“Tidak, saya pergi dari rumah mau saya sendiri. Saya tidak sadar apa yang saya lakukan. Ketika dia menemui saya, saya tergolek di sebuah pondok di pinggiran Desa Gedangan. Dia lalu membawa saya pulang ke mari…”
“Ceritamu tidak masuk akal! Kau mengarang! Kau pasti telah diguna-gunainya hingga bisa keluar malam-malam untuk menemuinya! Pemuda jahanam! Apa yang telah kau lakukan pada anak gadisku?!”
Gandar Seto mendorong Ratih Kiranasari ke samping lalu dia menyerbu Wiro dengan ganas. Si gadis menjerit keras. Dia melompat di antara ayahnya dan Pendekar 212. Wiro tahu betul serangan yang dilancarkan oleh Perwira Tinggi itu bukan serangan main-main atau hanya sekedar melampiaskan kemarahan. Tetapi merupakan serangan ganas yang bisa membunuhnya karena jelas dirasakannya serangan itu disertai tenaga dalam tinggi. Di Kotaraja siapa yang tidak kenal dengan Perwira Tinggi Gandar Seto yang dijuluki Manusia Besi. Dia dikabarkan memiliki aji kesaktian yang jika dikeluarkan akan merubah sekujur tubuhnya menjadi sekeras dan seatos besi. Apa saja yang kena gebuk atau tendangannya pasti akan hancur binasa, termasuk tubuh manusia jika kena dihantamnya! Dan kini agaknya dia telah mengeluarkan aji kesaktiannya itu untuk menyerang Wiro yang dianggapnya telah melakukan sesuatu yang memalukan atas diri puterinya.
Ratih yang sudah tahu akan ilmu yang dimiliki ayahnya itu dan takut Wiro akan mendapat celaka cepat menghalangi. Kedua tangannya dirangkulkannya ke tubuh ayahnya sehingga Perwira Tinggi itu kini jadi sulit bergerak.
“Anak setan! Lepaskan rangkulanmu!” teriak Gandar Seto. “Atau kepalamu ikut aku pecahkan saat ini juga!”
“Jangan ayah! Dia tidak bersalah! Dia tidak melakukan apa-apa! Dia menemukan saya dalam keadaan setengah sadar lalu membawa saya ke mari!”
“Anak setan! Siapa percaya ucapanmu!” Gandar Seto menggerakkan tubuhnya tapi Ratih pun mengencangkan rangkulannya hingga lelaki itu tidak bisa berbuat banyak selain membentak dan memaki habis-habisan.
“Wiro! Pergilah! Lari cepat!” teriak Ratih. Gadis ini khawatir dia tidak bisa bertahan lama sebelum ayahnya melemparkannya ke tanah.
Pendekar 212 sesaat masih tertegak di tempat itu. Pipinya yang memar masih sakit. Tapi hatinya lebih sakit lagi diperlakukan dan dihina semena-mena seperti itu.
“Pengawal! Jangan biarkan bangsat ini lari! Tangkap dia!” teriak Gandar Seto sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan puterinya. Delapan orang pengawal segera menyerbu ke arah Wiro.
“Wiro! Lari!” teriak Ratih sekali lagi.
Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya. Lalu sekali lompat saja dia sudah berada di atas punggung kuda. Namun empat orang pengawal masih sempat mengejarnya. Pengawal kelima malah sudah merangkul leher kuda tunggangannya. Di saat itu pula Gandar Seto hampir dapat melepaskan diri dari pelukan anak gadisnya.
Wiro gerakkan kaki kiri menendang salah seorang pengawal yang coba menarik pinggangnya. Orang ini terjungkal dan tergelimpang di tanah sambil menjerit-jerit kesakitan. Pengawal yang coba menahan lari kuda dengan merangkul leher binatang itu dihantamnya dengan satu pukulan ke atas batok kepalanya hingga melosoh jatuh dan pingsan dengan mata melotot. Ketika kudanya mulai bergerak, seorang pengawal lagi berusaha menghalangi sambil membabatkan sebilah golok pendek. Wiro jambak rambut orang ini lalu menyeretnya sampai belasan langkah. Di satu tempat orang ini dihempaskannya ke tanah. Begitu jatuh, kaki kiri kuda sebelah belakang menginjak dadanya. Terdengar suara berderak patahnya tulang-tulang iga. Pengawal ini menjerit pendek lalu diam entah pingsan entah mati.
“Kejar!” teriak Gandar Seto marah sekali. Beberapa orang pengawal segera menyiapkan kuda. Namun gerakan mereka tertahan ketika di kejauhan terdengar suara kentongan dipukul orang dari arah selatan. Lalu disahuti oleh kentongan lain dari jurusan berbeda. Malam yang tadinya sepi ini kini jadi ramai oleh suara kentongan.
“Anak kurang ajar!” hardik Gandar Seto marah. Tangan kanannya melayang dan, plakk! Tamparannya mendarat di pipi Ratih Kiranasari yang sampai saat itu masih memeluki tubuhnya. Darah kelihatan mengucur di sela bibirnya sebelah kiri. Perlahan-lahan gadis ini lepaskan pegangannya lalu melangkah pergi. Sang ayah seperti sadar apa yang telah dilakukannya cepat mengejar, namun saat itu ada dua orang penunggang kuda memasuki halaman. Begitu sampai di hadapan Gandar Seto keduanya melompat turun dan menjura. Salah seorang dari mereka berkata.
“Perwira, kami dari Desa Gedangan. Kepala Desa meng–Zutus kami untuk memberikan laporan. Satu hal mengerikan telah terjadi di desa kami…”
“Apa yang terjadi di desamu?!” tanya Gandar Seto dengan rahang menggembung tanda menahan amarah.
“Seorang pemuda desa bernama Nandang ditemukan mati dalam keadaan muka dan tubuh tercabik-cabik. Di samping mayatnya tergeletak mayat Sarti, istri penduduk desa bernama Sentot. Keadaannya sama. Mati dengan tubuh koyak-koyak mengerikan…”
“Gila!” teriak Gandar Seto.
Orang desa yang satu lagi terdengar menambahkan. “Tubuh Nandang dan Sarti ditemukan tanpa pakaian sama sekali…”
Gandar Seto kepalkan kedua tinjunya. Kepalanya mendongak. Di langit tak sengaja dia melihat rembulan empat belas hari. Di mata Perwira Tinggi ini, bulan purnama yang begitu indah terlihat seperti sebuah bola api yang mengerikan. Sekilas kembali terbayang kematian mengerikan yang terjadi malam kemarin atas diri bawahannya Randu Wulung dan Rumini, sepasang pengantin yang sangat malang itu. Semua mereka menemui kematian dengan cara yang sama! Biadab mengerikan!
“Jangan-jangan pemuda gondrong bernama Wiro itu yang melakukannya…” desis Gandar Seto.
Ucapan yang meskipun perlahan ini ternyata masih sempat terdengar oleh Ratih Kiranasari yang saat itu sesenggukan tenggelam dalam pelukan ibunya. Si gadis mengangkat kepalanya. Lalu berkata, “Ayah! Kau sungguh keterlaluan! Kini kau menuduh pemuda itu sebagai pembunuh Nandang dan Sarti!”
Amarah Gandar Seto menggelegak kembali. Dengan langkah-langkah besar dia mendekati puterinya. Tangan kanannya diangkat siap untuk menampar lagi. Namun kali ini Perwira Tinggi ini masih bisa menguasai dirinya. Perlahan-lahan tangannya diturunkan kembali. Dia memandang berkeliling. Begitu dia melihat kusir tua Tejo, dia segera berkata. “Siapkan kudaku! Kita harus menemui Patih Kerajaan malam ini juga! Keamanan Kotaraja terancam. Dua pembunuhan terjadi dua malam berturut-turut! Seorang pemuda gelandangan yang sangat aku curigai gentayangan bebas! Aku yakin dia makhluk jahatnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu!”

7
PENDEKAR 212 Wiro Sableng menatap wajah kusir tua yang basah oleh keringat itu beberapa saat lalu sambil menggaruk kepala dia berkata, “Kotaraja dan tempat-tempat ramai lainnya tidak aman bagiku sekarang ini Pak Tua. Perwira Tinggi Gandar Seto kabarnya telah mengeluarkan perintah untuk mencari dan menangkap diriku hidup atau mati! Gila! Aku dituduh sebagai pembunuh sepasang pengantin Randu Wulung dan Rumini. Lalu aku juga dikatakan yang menghabisi pemuda sesat Nandang dan Sarti di Gedangan. Edan!”
“Anak muda, harap kau jangan marah. Apa betul bukan kau yang membunuh keempat orang itu?”
Kedua mata Pendekar 212 memandang mendelik. “Pak Tua, kalau bukan kau yang bicara begitu sudah kubetot lepas lidahnya…”
“Jangan marah padaku Wiro. Itulah anggapan semua orang di Kotaraja dan sekitarnya saat ini. Atau mungkin…”
“Mungkin apa?” tanya Pendekar 212 jadi tambah jengkel.
“Perwira Tinggi majikanku juga punya anggapan semua korban itu mati akibat koyakan binatang buas. Lalu dia ingat pada cerita puterinya tentang srigala yang ditemukan di Hutan Jati Mundu. Jangan-jangan srigala itu binatang peliharaanmu…”
“Itu lebih gila! Lebih edan!” kata Wiro.
“Kalau tidak mengapa binatang buas itu begitu jinak padamu, anak muda…?”
“Itu yang aku tidak mengerti,” jawab Wiro sambil garuk­garuk kepala. Lalu dia berkata, “Saat ini aku tidak lebih dari seorang buronan. Tapi belum ada seorang petugas pun dari Kotaraja mengetahui kalau aku ada di sini. Kau berhasil mencari dan menemukanku, Pak Tua. Sungguh hebat! Sekarang katakan apa keperluanmu.”
“Terus terang, aku disuruh oleh Den Ayu Ratih. Dia ingin bertemu dengan kau malam ini…”
“Hemmm…” Wiro kembali garuk-garuk kepala.
“Kau harus menemuinya Wiro. Dia merindukan dirimu tanda dia benar-benar menyukaimu. Katanya sudah satu minggu lebih dia tidak melihatmu…”
Wiro mengusap pipi kanannya yang masih kelihatan bengkak akibat jotosan Gandar Seto tempo hari.
“Anak muda, aku tahu kau tentu sangat membenci ayahnya karena telah memukulmu. Lebih dari itu dia juga telah menuduhmu dan menjadikan dirimu sebagai seorang buronan. Namun jangan kau melihat semua itu. Den Ayu Ratih memerlukanmu.”
“Baiklah Pak Tua. Di mana aku harus menemuinya?” tanya Pendekar 212.
“Kau tahu reruntuhan Candi Blorok di timur desa Tumpakrejo?”
Wiro berpikir sebentar lalu mengangguk.
“Den Ayu Ratih akan datang ke sana. Tepat pada pertengahan malam…”
“Sendirian?”
“Aku minta menemaninya. Tapi dia bersikeras akan datang seorang diri…”
“Baiklah. Aku akan menunggu di Candi Blorok,” kata Wiro.
Tejo si kusir tua tersenyum. Sebelum pergi dia memberi hormat dan berkata. “Anak muda, kau orang baik. Kalau kau nanti memang berjodoh dengan puteri majikanku itu nasibku tentu akan tambah baik…”

***

Di langit tak ada bulan. Bintang pun cuma ada satu
dua. Malam gelap, sunyi dan dingin. Bangunan Candi Blorok yang beberapa bagiannya sudah runtuh tampak menghitam angker dalam kegelapan malam. Satu bayangan putih berkelebat di belakang candi lalu lenyap dalam kegelapan dan tahu-tahu dia sudah berada di pelataran candi sebelah dalam. Sesaat dia memandang berkeliling. Setelah memastikan tak ada orang lain di tempat itu, dia lalu pergi duduk di atas sebuah arca tanpa kepala.
“Memang lebih baik biar aku yang menunggu,” kata orang ini dalam hati. Dia memandang ke langit di atasnya. “Belum tengah malam,” dia kembali membatin. Lalu pikirannya mengelana jauh. “Walaupun gadis itu menyukaiku setengah mati dan aku memang ada rasa senang padanya, tapi untuk berjodoh dengan dirinya… Ah! Ini satu hal yang berat. Bahkan tidak mungkin. Apa yang akan dibicarakannya malam ini? Kalau dia merayuku dengan kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya dan aku tidak bisa bertahan bisa celaka diriku!” Orang yang duduk di atas arca buntung ini lalu garuk-garuk kepala. Gerakannya terhenti ketika tiba-tiba dia mendengar ada suara derap kaki kuda di kejauhan. Makin lama suara itu makin keras tanda semakin dekat dan memang mengarah ke candi di mana dia berada.
Orang itu bangkit dari arca yang didudukinya. Di samping kiri candi dilihatnya mendatangi seorang penunggang kuda. “Ah, dia datang…” Orang ini menarik nafas lega dan tersenyum. Namun kemudian kedua matanya menyipit dan senyumnya lenyap. “Eh, bukan dia. Penunggang kuda itu seorang lelaki, bukan Ratih…” Orang ini melangkah ke dinding candi sebelah kiri agar bisa melihat lebih jelas. Begitu dia mengenali penunggang kuda itu parasnya jadi berubah oleh rasa kejut. “Astaga! Itu Perwira Tinggi Gandar Seto! Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di tempat ini?! Jangan-jangan…”
Orang yang datang menunggang kuda coklat memang adalah Perwira Tinggi Gandar Seto. Dari pakaian ringkas yang dikenakannya serta sebilah golok besar yang terselip di pinggangnya jelas kalau kedatangannya ke tempat itu bukan suatu kebetulan belaka. Dan ini segera terbukti. Setelah hentikan kudanya di depan Candi Blorok, Perwira Tinggi itu lalu berteriak.
“Manusia buronan bernama Wiro! Lekas serahkan diri! Kau sudah terkurung! Jangan harap bisa lolos!”
Murid Eyang Sinto Gendeng yang memang adalah orang yang berada dalam Candi Blorok seperti disentakkan. Kedua matanya membesar ketika memandang berkeliling. Dari kegelapan di seputar bangunan candi muncul banyak sekali orang. Jumlah mereka tidak kurang dari seratus. Sebagian menunggang kuda. Kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian pasukan kerajaan.
“Kurang ajar! Aku dijebak!” maki Pendekar 212 dengan kedua tangan terkepal. Dia kembali memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Di samping Perwira Tinggi Seto kini dilihatnya berjejer enam orang penunggang kuda. Empat di antara mereka adalah perwira-perwira muda Kerajaan yang dari sikap mereka jelas memiliki ilmu kepandaian tinggi. Murid Eyang Sinto Gendeng tidak begitu mengkhawatirkan kehadiran empat perwira muda itu maupun puluhan prajurit yang telah mengurung seantero bangunan Candi Blorok. Yang dirisaukannya selain si Perwira Tinggi sendiri terlebih lagi adalah dua orang yang berada di kiri kanannya. Orang di sebelah kiri seorang nenek berambut putih jarang, berkulit hitam. Sekilas tampangnya seperti Eyang Sinto Gendeng. Di keningnya ada sebuah benjolan hampir menyerupai tanduk pendek. Bibirnya sumbing hingga seluruh gigi atasnya yang masih utuh berwarna hitam tonggos kelihatan menjorok ke luar, menjijikkan. Di tangan kirinya nenek ini memegang sebuah pendupaan berisi bara api menyala dan menabur asap kelabu berbau aneh. Pendupaan itu tentu saja panas sekali tetapi si nenek memegangnya tenang-tenang saja seperti memegang sebuah kayu.
Pendekar 212 mengingat-ingat. “Kalau aku tidak salah duga nenek berbibir sumbing itu dikenal dengan julukan Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut. Kepandaian silatnya tidak seberapa. Tetapi pendupaan di tangan kirinya itu telah membuat dirinya menjadi momok nomor satu dan ditakuti di tanah Jawa ini!” Lalu dalam hati Wiro memaki­maki dirinya sendiri habis-habisan yang telah berlaku bodoh hingga sampai tertipu dan terjebak di tempat itu. “Kusir tua keparat itu, dia ternyata ular kepala dua!”
Wiro mengalihkan perhatiannya pada kakek berpakaian merah yang menunggangi kuda di sebelah kanan Perwira Tinggi Gandar Seto. Kepalanya yang gundul sengaja dicat merah. Ketika menyeringai kelihatan gigi-giginya juga dicat merah. “Si Bayangan Api…” desis Wiro. “Aneh, mengapa jago-jago tingkat tinggi ini bisa bergabung dengan orang-orang Kerajaan?” pikir Wiro lagi.
Murid Eyang Sinto Gendeng ini tidak tahu bahwa secara diam-diam Gandar Seto telah melakukan penyelidikan atas dirinya. Dari beberapa sumber dia kemudian mengetahui bahwa pemuda bernama Wiro itu sebenarnya adalah Wiro Sableng yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Menyadari siapa sebenarnya orang buronannya maka itulah sebabnya Gandar Seto membawa serta si Bayangan Api dan Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut, ditambah dengan empat orang perwira muda berkepandaian tinggi dan puluhan prajurit.
Beberapa orang di Kotaraja yang kenal siapa adanya Pendekar 212 tidak menyetujui cara Gandar Seto yang langsung melakukan pencarian terhadap Wiro. Mereka mengusulkan agar menghubungi Sinto Gendeng terlebih dahulu di Gunung Gede karena mereka tidak bisa percaya begitu saja kalau murid nenek sakti itu kini telah menjadi orang jahat dan melakukan pembunuhan keji di beberapa tempat. Namun Gandar Seto dapat meyakinkan Patih Kerajaan bahwa tindakannya adalah benar dan harus cepat dilaksanakan sebelum pemuda buronan itu kembali melakukan pembunuhan lagi. Di samping itu Gandar Seto juga menyimpan dendam tertentu terhadap Pendekar 212. Dia menganggap pemuda ini juga menjadi biang racun yang hendak menjerat puterinya.
“Pendekar 212 Wiro Sableng!” teriak Gandar Seto. “Apakah kau nyatanya begini pengecut tidak berani menyerahkan diri?!”
Wiro tentu saja terkejut ketika orang menyebut gelar dan nama panjangnya. “Dari mana keparat ini tahu siapa diriku,” katanya dalam hati dan masih tetap berlindung di balik dinding candi.
Dari atas kudanya Perwira Tinggi Gandar Seto kembali berteriak. “Pendekar 212! Jika kau tidak mau menyerahkan diri maka aku akan menyerbu ke dalam candi!”
“Sialan! Dia benar-benar tahu kalau aku berada di tempat ini!” maki murid Eyang Sinto Gendeng. Sambil mengalirkan tenaga dalam ke tangan kanan akhirnya dia keluar dari balik dinding dan melangkah menuruni bagian depan Candi Blorok. Tiga langkah dari depan reruntuhan tangga Pendekar 212 berhenti. Dia memandang pada Gandar Seto dan bertanya.
“Aku sudah berada di hadapanmu. Katakan apa keperluanmu Perwira Tinggi!”
“Kau yang harus mengatakan apa kau mau ditangkap hidup-hidup dengan tubuh utuh atau ingin menyerahkan diri setelah sekujur tubuhmu mulai dari kepala sampai ke kaki kami cincang lumat!” Gandar Seto menjawab dengan pelipis bergerak-gerak dan rahang menggembung tanda dia mulai mendekati puncak amarahnya.
“Perwira, kau ingin menangkap dan mencincang diriku! Katakan apa salahku!”
Gandar Seto keluarkan suara mendengus. “Lagakmu sungguh hebat! Kau membunuh secara keji empat orang tak berdosa. Kau bahkan menculik puteriku…”
“Tuduhan dusta! Kau punya bukti kalau aku yang membunuh empat orang itu? Kau juga punya bukti bahwa aku menculik puterimu? Padahal puterimu sendiri mengatakan aku tidak menculiknya. Aku menemuinya dalam keadaan setengah sadar di dekat Gedangan!”
Perwira Tinggi itu menggerakkan tangannya. Empat orang perwira muda melompat turun dari kuda masing­masing, langsung mengurung Pendekar 212.
“Manusia iblis ini tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama. Cincang sampai lumat!” perintah Gandar Seto kemudian.
Empat golok besar mengeluarkan suara berseresetan begitu dicabut dari sarungnya. Tanpa menunggu lebih lama keempat perwira muda yang mengurung menyerbu Wiro. Empat bilah golok besar berkelebat dalam kegelapan malam.
Murid Eyang Sinto Gendeng berteriak keras. Lututnya ditekuk. Tubuhnya merunduk. Bersamaan dengan itu dia hantamkan kedua tangannya ke depan. Dua orang perwira muda berteriak kesakitan. Tubuh mereka mencelat mental lalu terhampar di tanah. Megap-megap sebentar setelah itu pingsan tak berkutik lagi.
Dua bilah golok lagi datang membabat dari belakang. Murid Eyang Sinto Gendeng jatuhkan diri ke tanah. Tiba­tiba tubuh itu membalik sambil kaki kanan menendang. Terdengar dua kali suara bergedebukan. Dua perwira muda yang tadi menyerang dari belakang sama-sama menjerit. Yang satu langsung roboh begitu tulang kering kaki kirinya patah dihantam tendangan Wiro. Satunya lagi mencelat lalu terkapar di tanah dengan perut pecah. Nyawanya tidak ketolongan lagi!
Selagi Wiro bergerak bangkit, Gandar Seto yang sudah gatal tangan menarik tali kekang kudanya. Binatang ini melompat ke depan ke arah Wiro. Bersamaan dengan itu Perwira Tinggi lepaskan satu pukulan jarak jauh. Serangkum angin menderu menyambar Pendekar 212 membuat tubuhnya bergetar keras. Dia merasakan seperti ada sebuah jaring yang tak kelihatan membungkus tubuhnya. Sebelum dirinya menjadi tidak berdaya, Wiro jatuhkan tubuh ke tanah lalu berguling ke kiri guna menghindari injakan empat kaki kuda tunggangan Gandar Seto. Ketika Perwira Tinggi itu berusaha memutar kudanya dan hendak menyerang kembali, Pendekar 212 untuk pertama kalinya lepaskan serangan balasan. Dia berlaku cerdik. Dia tidak menghantam ke arah Gandar Seto. Yang ditujunya justru kuda tunggangan Perwira Tinggi itu. Kuda betina ini meringkik keras sewaktu angin pukulan jarak jauh yang dilepaskan Wiro melabrak rusuknya. Tubuhnya terhuyung ke kiri. Selagi penunggangnya berusaha mengendalikan kuda itu, Wiro kembali menghajar dengan pukulan sakti berikutnya yaitu Benteng Topan Melanda Samudera.
Angin sederas topan prahara membuat kawasan di sekitar Candi Blorok jadi bergetar. Gandar Seto dan kudanya terhempas ke kiri. Sebelum binatang ini jatuh tersungkur Perwira Tinggi itu sudah lebih dulu melompat ke udara. Gerakannya melompat disertai dengan gerakan mencabut golok besar di pinggang. Begitu dia menukik, tubuhnya kelihatan melesat ke arah Wiro. Senjata di tangannya menyambar ganas. Yang diincar adalah batang leher murid Sinto Gendeng itu!
Untuk kesekian kalinya Wiro terpaksa jatuhkan diri. Hanya kali ini gerakan mengelak itu disertai dengan tendangan kaki ke arah tangan lawan yang memegang senjata.
Kraakk!
Terdengar suara patahan tulang begitu kaki kanan Wiro menghajar lengan Gandar Seto. Perwira Tinggi ini menjerit keras. Goloknya terlepas mental sedang tangan kanannya kelihatan mengambai-ambai!
Semua orang yang ada di tempat itu tentu saja sangat terkejut menyaksikan apa yang terjadi. Gandar Seto yang dikenal dengan julukan Manusia Besi, memiliki tubuh atos tak mempan senjata tajam, kini ternyata mengalami hari naas. Kena diciderai hingga patah lengan kanannya! Iblis Sumbing diam-diam merasa tidak enak sedang si Bayangan Api sesaat tampak tertegun. Mereka jadi berpikir. Rupanya nama besar Pendekar 212 bukan satu nama kosong belaka!
Beberapa orang perajurit cepat bergerak hendak menolong Perwira Tinggi yang cidera itu. Namun saat itu kakek berpakaian dan berkepala botak merah sudah mendahului. Sekali dia berkelebat turun dari kudanya, tubuhnya berubah laksana sambaran api. Di lain kejap tahu-tahu dia sudah merangkul Gandar Seto yang kemudian dibawanya ke tempat yang lebih aman.
“Harap kau tidak bergerak dari tempat ini Perwira. Kulihat cideramu cukup parah!” kata si Bayangan Api. “Biar aku yang akan menangkap pemuda itu. Aku akan menghajarnya sampai lumat lebih dulu sebelum kuhabisi nyawanya…”
Ketika dia hendak melangkah mendekati Wiro, nenek berjuluk Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut sudah memajukan kudanya seraya berkata. “Sobatku, kau jaga saja perwira itu. Biar aku yang menangani kecoak satu ini!” Lalu sambil meninggikan tangannya yang memegang pendupaan, nenek itu mengarahkan kudanya mendekati Wiro. “Manusia bernama Wiro Sableng, bergelar Pendekar 212 murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede! Apa kau sudah tahu kalau nyawamu hanya tinggal beberapa kejapan lagi?”
Karena mulutnya sumbing maka kata-kata yang diucapkannya terdengar lucu dan sulit dimengerti Wiro. Seumur-umur baru kali itu dia mendengar orang sumbing bicara. Maka pemuda ini pun berkata.
“Nek, kalau bicara biar betul. Jangan telo seperti orok! Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan!” Brengseknya waktu bicara ini Wiro sengaja menirukan suara si nenek yang tidak karuan! Tentu saja hal ini membuat Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut menjadi marah setengah mati. Tangan kirinya yang memegang pendupaan diturunkan sejajar bahu. Kepulan asap kelabu berbau aneh semakin menggebubu.
Tiba-tiba dari mulut yang sumbing itu keluar suara pekik menggidikkan. Bersamaan dengan itu tangan kanannya bergerak. Tahu-tahu dari tangan si nenek ada lima buah senjata rahasia berbentuk paku menyambar ke arah murid Sinto Gendeng.
Dari sinar redup hitam yang keluar dari lima buah senjata rahasia itu Wiro segera maklum kalau senjata­senjata terbang itu mengandung racun jahat. Maka dia segera menghantam dengan pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan. Lima senjata rahasia berbentuk paku mencelat bermentalan. Tapi si nenek justru malah tertawa nyaring. Kepalanya merunduk seperti hendak mencium Wiro. Pendupaan di tangan kirinya didekatkan ke mulut. Wiro kirimkan satu jotosan kilat ke lambung lawan yang masih berada di atas punggung kudanya ini. Tapi tiba-tiba sekali si nenek meniup. Asap kelabu berbau aneh menyambar ke arah muka Wiro. Murid Sinto Gendeng cepat menutup jalan nafasnya dan berusaha melompat menjauhi. Namun terlambat! Hawa aneh yang keluar dari asap kelabu itu telah lebih dahulu menyusup memasuki hidung dan mulutnya. Saat itu juga Wiro merasakan kepala dan kedua matanya menjadi sangat berat. Sekujur anggota badannya terasa lemah. Dia seperti amblas ke dalam sebuah lobang gelap dan tidak sadarkan diri lagi. Jatuh tergelimpang di depan kaki kuda tunggangan Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut.
Nenek tua ini tertawa mengekeh lalu memandang pada si Bayangan Api. “Kau tunggu apa lagi sahabatku? Lekas ringkus pemuda itu. Kita bawa ke hadapan Patih Kerajaan agar dia segera dijatuhi hukuman mati. Atau ada yang akan mempesianginya saat ini juga?!”
“Aku yang akan menghabisinya!” kata Gandar Seto lalu dengan susah payah berusaha berdiri. “Pinjami golokmu!” katanya pada seorang prajurit yang tegak di sampingnya.
“Dimas Gandar. Tak perlu susah-susah. Biar kuseret pemuda keparat ini ke hadapanmu!” kata si Bayangan Api pula. Lalu dicekalnya salah satu pergelangan kaki Wiro. Tubuh pemuda itu kemudian diseretnya ke hadapan si Perwira Tinggi. Rahang Gandar Seto tampak menggembung. Matanya berkilat. Golok yang di tangan kiri digenggamnya erat-erat. Begitu sosok Wiro dilemparkan di hadapannya, dengan bergegas Perwira Tinggi ini ayunkan senjatanya ke arah batang leher Pendekar 212!

8
MURID Sinto Gendeng hanya bisa terima nasib. Dia menghadapi kematian dengan sepasang mata tidak berkesip sementara golok di tangan kiri Gandar Seto membabat deras ke bawah. Sesaat lagi bagian tajam dari senjata itu akan menebas putus batang lehernya tiba-tiba entah dari mana munculnya satu bayangan berkelebat. Gerakan tubuhnya mengeluarkan angin deras. Tubuh Gandar Seto tahu-tahu terjajar sampai tiga langkah. Dari mulutnya keluar seruan pendek disusul dengan terlepas mentalnya golok yang ada di tangan kirinya!
“Manusia kurang ajar! Siapa kau?!” teriak Perwira Tinggi itu. Ketika dia dan semua orang yang ada di situ memandang ke depan, mereka menyaksikan satu pemandangan yang sulit dipercaya!
Seorang gadis berpakaian hijau gelap tegak di tengah kalangan perkelahian dengan memanggul tubuh Pendekar 212 di bahu kirinya. Pandangannya tampak bengis tetapi kebengisan ini tidak melenyapkan kecantikan wajahnya.
“Ada bidadari nyasar dan ikut campur urusan kita…” kata si Bayangan Api lalu tertawa mengekeh.
“Siapa kau?’“ Gandar Seto kembali membentak.
“Mengapa kau menginginkan pemuda itu?!” ikut membentak Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut.
Lalu si Bayangan Api menimbrung kembali. “Apa hubunganmu dengan Pendekar 212?!”
Gadis di tengah kalangan menyeringai sinis.
“Siapa aku kalian tak layak bertanya. Mengapa aku inginkan pemuda ini bukan urusan kalian. Apa hubunganku dengan dirinya perlu apa kalian mengetahui?!”
“Gadis cantik! Lagakmu sombong banget!” kata si Bayangan Api sambil usap-usap kepalanya yang gundul dan dicat merah itu. Mata kirinya dikedipkan berkali-kali. “Dengar, berikan pemuda itu pada kami!”
“Untuk apa?!” tanya gadis cantik itu.
“Kau tak layak bertanya!” jawab si Bayangan Api lalu tertawa mengekeh. Kedua tangannya diulurkan ke depan. “Lekas serahkan pemuda itu padaku! Atau aku akan mengambilnya bersama-sama tubuhmu sekaligus!”
“Tua bangka buruk berkepala seperti pantat monyet!” bentak si gadis yang memanggul Wiro. “Kalau kau merasa mampu coba kau rampas pemuda ini dariku!”
Tampang si Bayangan Api jadi tampak merah seperti udang rebus. “Gadis yang masih bau pupuk! Rupanya kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa hingga bicara kurang ajar seenaknya!”
“Aku cukup tahu siapa kau! Gelarmu si Bayangan Api. Kau mengerjakan apa saja asal dibayar. Seperti tadi aku bilang, kepala botakmu yang merah sama dengan pantat monyet.”
Tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan. Yang tertawa ternyata adalah Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut. “Kau gadis kocak! Celotehmu enak didengar. Aku mulai suka denganmu. Gadis jelita, apakah kau juga tahu siapa diriku?” Sambil berkata begitu nenek berbibir sumbing yang keningnya ada benjolan seperti tanduk ini melangkah mendekati si gadis. Yang didekati tenang saja seolah tidak takut sama sekali.
“Kau minta aku menerangkan siapa dirimu?!” Gadis di tengah kalangan sunggingkan senyum. “Aku mulai dengan usiamu nenek tua! Umurmu saat ini kalau aku tidak salah duga sudah hampir tujuh puluh! Benar?!”
“Eh, kau benar!” jawab si nenek dan diam-diam merasa heran.
“Kau datang dari Madura, mencari makan di tanah Jawa. Betul?!”
“Ah, kau juga betul!” jawab Iblis Sumbing mangkel tapi tambah heran.
“Kau dijuluki orang Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut!”
“Kau gadis hebat. Pasti kau seorang tokoh persilatan baru yang mulai naik daun!” Memuji si nenek.
“Apa sudah cukup penjelasanku tentang dirimu?!”
“Eh!” Si nenek jadi agak tersentak. Kini dia mulai merasa tidak enak. “Apa lagi yang kau ketahui tentang diriku?”
“Banyak!”
“Misalnya?”
“Bukan misalnya. Tapi nyatanya! Kau mau dengar?”
“Bilang saja!”
“Kau tidak bakalan malu nantinya?!”
“Gadis sialan! Malu? Mengapa musti malu?!”
Si gadis perdengarkan suara tertawa panjang. “Baiklah, akan kukatakan apa adanya. Bibirmu sumbing bukan cacat dari lahir. Seorang musuh merobek bibirmu itu!”
“Astaga!” Si nenek terkejut dalam hati. “Siapa gadis ini sebenarnya. Mengapa dia tahu banyak tentang diriku?”
“Orang itu membuatmu cacat dalam satu perkelahian. Gara-gara kau menculik anak gadisnya. Betul…?”
Wajah buruk Iblis Sumbing berubah gelap. “Cukup! Hentikan ocehanmu! Sekarang serahkan pemuda itu padaku dan lekas minggat dari sini!”
“Ha… ha…! Sekarang kau takut sendiri mendengar ocehanku. Padahal aku belum selesai! Aku tahu kau bangsa perempuan yang tidak suka pada lawan jenismu. Karena itu seumur-umur kau tidak pernah kawin! Kau lebih suka bercinta dengan perempuan…”
“Gadis sundal haram jadah! Biar kurobek mulut kotormu!” Iblis Sumbing menggembor lalu tangan kirinya tiba-tiba berkelebat ke arah muka si gadis. Yang diserang tundukkan kepala dan pukulkan tangan kanannya untuk menangkis. Karena menganggap enteng, si nenek tidak berusaha menghindari terjadinya bentrokan lengan.
Bukkk!
Gadis jelita yang memanggul tubuh Wiro merasakan lengannya bergetar keras. Sebaliknya Iblis Sumbing keluarkan jerit kesakitan. Tangannya seperti dipukul besi. Rasa sakit pada lengannya itu menjalar ke seluruh tubuh hingga dia terhuyung-huyung sampai tiga langkah. Marah dan malu membuat si nenek jadi kalap.
Didahului oleh satu teriakan dahsyat si nenek melompat ke depan. Pendupaan di tangan kirinya diturunkan ke muka. Asap kelabu mengepul deras. Lalu dia meniup kuat­kuat, Wusss!
Asap kelabu yang menebar bau aneh dan sangat berbahaya menderu ke muka si gadis, langsung masuk ke rongga hidung dan mulutnya. Sesaat dia tampak seperti kelagapan. Iblis Sumbing tertawa panjang. Sekejapan lagi gadis ini akan tidak berdaya, limbung lalu jatuh seperti apa yang telah terjadi dengan pemuda yang barusan ditolongnya.
Tetapi alangkah terkejutnya si nenek ketika melihat gadis di hadapannya itu bukannya jatuh malah dari mulutnya terdengar suara tawa panjang menimpali suara tawanya sendiri! Selagi perempuan tua ini dibungkus rasa kaget tiba-tiba si gadis runcingkan mulutnya dan meniup asap kelabu yang mengepul keluar dari dalam pendupaan.
Wusss!
Kepulan asap itu kini berhembus deras ke arah si pemilik pendupaan. Senjata makan tuan!
Iblis Sumbing menjerit keras. Kedua matanya terasa perih dan karena dia barusan membuka mulut begitu lebar, kepulan asap serta merta memenuhi mulutnya terus memasuki rongga-rongga pernafasan. Akibatnya tak tertolong lagi. Sekujur tubuhnya menjadi lemas. Mata dan kepalanya terasa berat. Sesaat kemudian tak ampun lagi tubuhnya amblas jatuh ke tanah.
Kakek bergelar si Bayangan Api cepat menolong Iblis Sumbing sementara Gandar Seto melompat ke arah gadis yang memanggul Wiro sambil berteriak pada anggota pasukannya untuk bantu menyerang. Puluhan perajurit berserabutan melakukan penyerangan. Gadis yang jadi bulan-bulanan serangan tertawa nyaring. Tubuhnya tiba­tiba mencelat ke atas. Sungguh luar biasa ilmu meringankan tubuhnya. Sulit sekali dicari orang pandai yang mampu melompat setinggi itu sambil membawa beban manusia di bahunya!
“Kejar! Jangan biarkan dia melarikan diri!” teriak Gandar Seto.
Beberapa perajurit melemparkan golok dan tombak mereka. Tetapi tak satu pun yang mengenai sasaran,
“Keparat! Seharusnya aku membawa serta pasukan panah!” maki Gandar Seto. Dalam keadaan salah satu tangannya patah begitu rupa Perwira Tinggi ini mencoba menyusul melompat ke atas sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong. Tapi hantamannya luput. Sosok tubuh si gadis dilihatnya berkelebat turun ke arah kiri candi.
“Biar aku yang mengejar!” Di bawah sana terdengar suara teriakan si Bayangan Api. Seperti angin dia berkelebat ke samping kiri Candi Blorok. Dia masih sempat melihat bayangan si gadis. Serta merta kakek ini lepaskan pukulan sakti. Tapi serangannya hanya menghantam pinggiran candi. Bangunan yang kena hantam ini hancur berserakan.
“Gadis keparat! Apa kau kira bisa lolos dari tanganku!” kertak si Bayangan Api. Tidak percuma dia mendapat gelar seperti itu. Sekali dia bergerak tubuhnya tenyap dan hanya bayangan merah tertinggal di belakangnya. Saat itu dia sudah berada di bagian candi yang lain. Di satu tempat gelap dia kembali melihat bayangan orang yang dikejarnya. Dengan geram orang tua berkepala botak ini keruk saku pakaian merahnya. Setengah lusin senjata rahasia berupa panah-panah kecil berwarna merah melesat dalam kegelapan malam meninggalkan cahaya merah panjang seperti nyala api di ekornya.
“Pasti kena!” kata si Bayangan Api penuh yakin karena selama ini tidak ada yang bisa lolos dari serangan senjata rahasianya itu. Ia berkelebat menyusul ke arah lesatan senjatanya, Tapi dia jadi terperangah dan berseru kaget ketika tiba-tiba dari depan dilihatnya ada satu gelombang angin dahsyat yang membuat lima panah merah yang tadi dilepaskannya berbalik dan menghantam ke arah dirinya sendiri pada lima sasatan yang sulit dielakkan!
“Perempuan celaka. Kurang ajar!” maki si Bayangan Api panjang pendek. Dia jatuhkan diri ke tanah. Tiga anak panah lewat di atas tubuhnya. Anak panah ke empat menembus leher pakaiannya. Anak panah ke lima menancap di bahu kirinya. Si botak tua ini menjerit kesakitan!

9
HAWA aneh berasal dari asap kelabu pendupaan Iblis Sumbing yang membuat Pendekar 212 jadi lumpuh tak berdaya perlahan-lahan keluar dari rongga hidungnya setiap dia bernafas. Perlahan-lahan pula dia mulai sadar dan ingat apa yang telah dialaminya. Dalam keadaan masih lemas dia hanya bisa berdiam diri di atas panggulan bahu kiri perempuan yang melarikannya. Wiro berusaha melihat wajah orang yang menolongnya itu tapi tak berhasil.
“Kuharap saja tuan penolongku ini bukan seorang nenek sakti berwajah menyeramkan,” kata Wiro dalam hati. “Bau tubuhnya harum semerbak. Ilmu larinya tinggi sekali. Dia memiliki tenaga luar biasa. Siapa perempuan ini sebenarnya?” Wiro coba mengingat-ingat. “Mungkin Pandansuri, anak angkat mendiang Raja Rencong Dari Utara? Tak mungkin dia berada sejauh ini sampai ke tanah Jawa. Barangkali Anggini, murid Dewa Tuak…” Wiro berusaha memutar kepalanya agar dapat melihat wajah perempuan yang memanggulnya. Tapi masih susah. “Anggini selalu mengenakan pakaian ungu. Agaknya bukan dia. Astaga! Jangan-jangan Dewi Bunga Mayat!” Wiro kembali mengingat lebih dalam. “Ah, bukan dia. Dewi Bunga Mayat selalu berkebaya putih dan mengenakan kain panjang. Tubuhnya menebar harum bunga kenanga. Yang mendukungku ini memiliki wewangian semerbak yang tak pernah aku baui sebelumnya. Tapi, rasa-rasanya…”
Selagi berpikir-pikir seperti itu tiba-tiba Wiro merasakan orang yang memanggulnya menghentikan larinya. Lalu perlahan-lahan tubuhnya diturunkan, dibaringkan di atas tanah. Wiro tidak perdulikan di mana dia berada. Yang dilakukannya saat itu adalah segera melihat wajah orang di sampingnya itu. Hati sang pendekar jadi berdebar. Kedua matanya membesar dan mulutnya berdecak melihat bahwa orang yang menolongnya ternyata seorang gadis muda berwajah cantik. Dia mengenakan baju ringkas warna biru.
Seperti mendapat kekuatan Wiro bangkit dan duduk di tanah. Karena si gadis bersimpuh di sebelahnya maka tubuh dan wajah mereka berada begitu dekat. Sepasang mata bening sang dara memandang tak berkedip padanya.
“Gadis cantik tuan penolong. Aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana. Kalau aku boleh tahu siapa kau ini adanya?”
Gadis di samping Wiro tersenyum mendengar ucapan itu.
“Tolong menolong adalah satu keharusan dalam dunia persilatan. Memberitahu siapa diriku bukan satu keharusan,” berkata sang dara.
Wiro tertawa lebar. “Ah, bagaimana aku akan mengingat budi orang. Kalau namanya saja aku tidak tahu… Dan aku bukan cuma berhutang budi. Tapi nyawa. Kau telah menyelamatkan diriku dari nenek bermulut sumbing itu.”
“Sudah, hal itu tidak perlu diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kau sudah selamat. Dan aku harus segera meninggalkan tempat ini.”
Wiro memandang berkeliling. Ternyata dia dan gadis penolongnya itu berada di puncak sebuah bukit kecil. Ketika dilihatnya si gadis hendak berdiri, cepat Wiro memegang tangannya. Untuk sesaat lamanya kedua orang ini saling berpandangan.
“Sahabatku yang cantik. Sebelum pergi beritahu siapa namamu. Dan katakan apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu.”
Gadis itu masih menatap Wiro beberapa jurus lamanya lalu berkata. “Aku bisa memberikan seribu nama padamu.”
“Kalau begitu sebutkanlah. Siapa tahu aku bisa menghafalnya,” jawab Wiro sambil menahan tawa.
“Kau cerdik dalam kelucuanmu Pendekar 212!”
“Eh, dia tahu siapa diriku!” membatin Wiro.
“Namaku Kemala. Panggil aku dengan nama itu.”
“Namamu indah, wajahmu cantik. Aku benar-benar seperti kedatangan bidadari.” Wiro lalu lepaskan pegangannya pada tangan si gadis. “Terima kasih. Aku akan mengingat nama itu sepanjang zaman. Kalau saja aku bisa bertemu lagi kelak…”
“Pendekar 212. Ada satu cara jika kau memang ingin membalas budi kebaikanku.”
“Katakanlah.”
“Temui seorang gadis bernama Ratih Kiranasari. Dia menyukaimu. Bukan cuma suka tapi juga cinta. Bawa dia ke mana kau pergi. Ambil dia jadi istrimu…”
Murid Eyang Sinto Gendeng jadi melengak. Perlahan­lahan dia bangkit berdiri. Gadis bernama Kemala juga berdiri. Keduanya berdiri berhadap-hadapan.
“Permintaanmu terlalu berat. Tidak mungkin kupenuhi. Bagaimana kau bisa tahu…”
“Kabulkan saja harapanku. Sekarang aku harus pergi,” kata sang dara.
“Tunggu!” ujar Wiro. “Aku bisa memenuhi permintaanmu menemui puteri Perwira Tinggi itu. Tapi aku tak mungkin membawanya ke mana aku pergi. Apa lagi mengambilnya jadi istri. Orang gelandangan macam aku ini…”
Gadis di hadapan Wiro maju selangkah. “Kalau dengan aku, kau mau…?!” Wiro jadi salah tingkah dan garuk-garuk kepala. Dia tak bisa menjawab. Jantungnya berdetak keras membuat debaran pada dadanya.
Kemala berdiri sangat dekat di hadapannya. Dia dapat merasakan hembusan nafas gadis cantik itu. Si gadis berjingkat. Tubuhnya kini hampir sama tinggi dengan Pendekar 212. Kedua tangannya digelungkan di belakang leher Wiro. Kepalanya diangkat. Sesaat kemudian bibirnya menempel di permukaan bibir Wiro. Ketika sang pendekar memberikan reaksi, Kemala mengecup bibir pemuda itu penuh nafsu. Wiro siap merangkul dan balas melumat bibir yang membara itu. Namun dia hanya merangkul angin. Kemala secara luar biasa cepatnya berkelebat pergi. Di satu tempat dia berhenti lalu mengusap wajahnya dua kali. Setelah itu dia pun lenyap dari tempat itu.
Di atas puncak bukit itu kini hanya Pendekar 212 seorang diri tenggelam dalam kegelapan malam.
Wiro termangu sambil garuk-garuk kepala. “Ilmunya luar biasa. Kecupannya membuat aku seperti mau gila. Gadis aneh. Muncul menolong secara aneh. Perginya juga aneh. Sebelum pergi meninggalkan pesan aneh! Gila! Bagaimana aku harus kawin dengan puteri Perwira Tinggi itu? Ayahnya saja benci setengah mati padaku. Ingin membunuhku! Ah! Bagaimana ini! Daripada kawin biar aku menanggung dosa mungkir janji! Melanggar pesan orang! Kalau dengan dia sih… ah!” Wiro tidak meneruskan ucapannya.

***

Tepat tigapuluh hari berlalu sejak kematian mengerikan menimpa diri Sarti dan Nandang di Desa Gedangan, pagi hari itu Kotaraja digemparkan oleh peristiwa pembunuhan yang bentuk serta keadaannya sama dengan yang dialami Sarti dan Nandang serta Randu Wulung dan Rumini. Korban kali ini adalah puteri sulung seorang bangsawan yang baru melangsungkan perkawinan selama tiga bulan di mana sang isteri berada dalam keadaan hamil muda. Keduanya ditemukan telah jadi mayat dalam kamar tidur. Sekujur muka serta badan luka dicabik-cabik mengerikan.
Perwira Tinggi Gandar Seto didampingi oleh Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut serta si Bayangan Api pagi itu juga segera menemui Patih Kerajaan. Tangan kanannya yang patah tampak dibalut dan masih belum begitu sembuh.
Tanpa banyak basa basi dan peradatan segala, Perwira Tinggi itu langsung saja bicara menyangkut masalah besar yang telah menggemparkan Kotaraja itu.
“Paman Patih, ini adalah kali yang ketiga sepasang orang yang sedang berkasih-kasihan menemui ajal. Dibunuh secara keji dan kejam. Saya meminta izinmu untuk melakukan sesuatu…!”
Patih kerajaan mengusap janggut putihnya. “Apa yang hendak kau lakukan Dimas Gandar?”
“Saya akan memperbanyak menyebar mata-mata di seluruh negeri. Si pembunuh harus segera dibekuk batang lehernya! Kalau tidak pasti korban-korban berikutnya akan segera menjadi mangsa si pembunuh biadab itu!”
Patih kerajaan mengangguk. “Aku setuju sekali maksudmu itu Dimas Gandar. Kalau aku tidak salah ingat, bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau sudah tahu siapa orangnya. Yaitu seorang pendekar sesat bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212? Bukti perbuatan jahatnya masih tampak pada tangan kananmu yang cidera.”
Paras Perwira Tinggi Gandar Seto tampak menjadi kemerahan.
“Betul sekali Paman Patih. Pencarian atas dirinya tetap kami lakukan… Hanya saja saya mulai merasa adanya sedikit keraguan. Jangan-jangan bukan dia pelakunya.”
“Semua urusan kuserahkan padamu Dimas Gandar. Kalaupun bukan dia orangnya, apakah kau tidak bermaksud menangkap pemuda itu? Bagaimanapun juga dia telah mencelakaimu. Dan pernah menculik puterimu.”
Gandar Seto terdiam.
“Bagaimana keadaan puterimu sekarang Dimas Gandar?” Patih kerajaan mengalihkan pembicaraan setelah melihat sang perwira seperti tertekan tidak enak.
“Ratih Kiranasari ada dalam keadaan baik-baik saja Paman Patih. Terima kasih atas perhatianmu.”
Patih tua itu mengangguk. Dia memandang pada dua orang yang ikut menemani bawahannya itu lalu berkata. “Kulihat kau membawa serta dua orang sahabat berkepandaian tinggi yang bisa diandalkan. Lalu apa sulitnya menangkap si pembunuh biadab dan mencari Pendekar 212 Wiro Sableng?”
Karena Gandar Seto tak bisa menjawab maka si Bayangan Api lalu membuka mulut. “Seperti Paman Patih ketahui kami bertiga pernah menjebaknya di Candi Blorok. Tapi kita lihat saja hasilnya. Pendekar 212 bukan seorang pendekar tingkat bawah. Kami memang berniat untuk memburunya sampai kapan pun. Namun sekali ini kami tidak saja harus mengandalkan kepandaian tapi juga kecerdikan. Apalagi tiga kali pembunuhan itu kami rasa ada sisi keanehannya di balik kekejaman dan kekejian nyata yang kita lihat.”
“Hem… aneh bagaimana maksudmu?” tanya Patih Kerajaan,
“Tiga kali pembunuhan terjadi atas diri lelaki perempuan yang merupakan pasangan saling berkasih sayang, walau satu pasang yaitu Nandang dan Sarti merupakan pasangan sesat memalukan. Lalu hal lain yang kami perhatikan, ketiga pembunuhan itu terjadi pada setiap bulan purnama. Selanjutnya kematian mereka dalam cara yang sama yaitu mati seperti dicabik-cabik binatang buas. Menurut beberapa orang yang mengetahui, menjelang saat terjadinya peristiwa mengerikan itu terdengar seperti suara lolongan anjing! Hal lain, Den Ayu Ratih, puteri Perwira Tinggi Gandar Seto mengatakan pernah melihat seekor srigala berkeliaran di Hutan Jati Mundu. Bukan mustahil binatang ini pembunuhnya. Tapi dia tidak seorang diri. Pasti ada yang memelihara dan memerintahkannya. Kami bertiga tadinya yakin Pendekar 212 yang memelihara binatang buas itu. Namun seperti tadi yang dikatakan Perwira Tinggi Gandar Seto, kami mulai merasa ragu. Apa benar dia terlibat dalam semua pembunuhan itu atau tidak.”
“Segala keanehan akan tetap terpendam aneh. Semua hal yang bersifat rahasia akan tetap tidak terungkap jika kita tidak memecah dan mengungkapkannya. Oleh karena itu sekali lagi aku katakan, kalian bertiga aku tugaskan untuk menyingkap keanehan dan misteri ini, menangkap pelakunya. Entah dia itu seekor binatang buas, seorang manusia atau punsetan iblis! Jika kalian merasa masih kurang kuat, aku bersedia menghimpun beberapa orang pandai lagi untuk membantu…”
“Terima kasih atas petunjuk Paman Patih,” kata Gandar Seto pula. “Biarlah kami bertiga dulu meneruskan pengusutan. Bilamana dirasakan perlu akan tenaga tambahan kami tentu akan memberitahu Paman Patih. Sekarang kami bertiga mohon diri…”
Patih Kerajaan berdiri dari kursinya lalu mengantarkan ketiga orang itu sampai ke pintu.

10
MALAM sebelum pagi yang menggemparkan itu. Seorang berpakaian biru gelap berlari kencang dari jurusan timur. Dari rambutnya yang riap-riapan jelas dia adalah seorang perempuan. Hampir dia sampai ke pinggiran Kotaraja di kawasan timur itu tiba-tiba perempuan ini hentikan larinya. Cahaya rembulan tiga belas hari menimpa kepala dan tubuhnya. Ternyata perempuan ini adalah seorang gadis muda berwajah cantik jelita.
Si gadis menoleh ke belakang. Lalu memandang berkeliling. “Jelas tadi kurasa ada seseorang mengikuti. Tapi tahu-tahu dia lenyap seperti ditelan bumi. Biar kupancing.”
Gadis itu melanjutkan larinya kembali. Sambil berlari dia memasang telinganya tajam-tajam. Sekitar duapuluh langkah berlari telinganya kembali menangkap ada seseorang membayang-bayanginya dari belakang. Di satu tempat kembali gadis ini hentikan larinya lalu membalik dan hantamkan tangan kanannya ke jurusan di mana dia merasa pasti beradanya orang yang mengikutinya.
Wuuuttt!
Angin pukulan yang deras bersiuran di kegelapan malam.
Braaak!
Sebatang pohon waru kecil patah dan tumbang dengan suara berisik. Hanya itu yang terdengar lalu sepi lagi. Tak ada suara orang menjerit atau mengeluh kesakitan terkena pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi yang tadi dilepaskan si gadis. Dengan jengkel gadis itu memutar tubuh hendak melanjutkan perjalanan. Tapi dia jadi melengak kaget ketika tiba-tiba di hadapannya terdengar suara menggemuruh seperti deburan ombak. Lalu entah dari mana asal muasalnya tahu-tahu di hadapan si gadis berdiri seorang pemuda berdestar hitam. Wajahnya tampan tapi kedua telinganya lancip mencuat ke atas serta berbulu seperti telinga seekor anjing hutan atau srigala. Sepasang bola matanya bercahaya biru dalam kegelapan malam. Sesaat si gadis tampak tercekat. Namun dia segera dapat menguasai dirinya. Dalam hati dia membatin. “Seperti perjanjian yang dikatakan Eyang Srigala Karang ternyata dia memang datang… Bagaimana aku menolaknya…”
“Gadis bernama Kemala. Kau pernah melihat diriku. Apa kau masih mengenali…?”
“Aku mengenali,” jawab si gadis yang ternyata Kemala adanya.
“Katakan siapa diriku!” Pemuda bertelinga srigala dan bermata biru memerintah.
“Kau Datuk Putra. Pendatang dari dunia gelap. Penguasa rimba belantara alam gaib hitam…”
“Bagus! Kau ternyata tidak lupa siapa diriku. Tapi apakah kau juga ingat perjanjian yang kau buat dengan Eyang Srigala Karang?”
Kemala terdiam.
“Jawab pertanyaanku Kemala!”
“Sebetulnya aku tidak punya perjanjian apa-apa dengan orang tua itu. Tapi dia memang mengatakan sesuatu tentang dirimu. Bahwa kau kelak akan muncul kalau aku sudah melakukan tiga kali pembunuhan…”
“Memang betul begitu. Tapi apa kau juga ingat apa yang harus kau lakukan untukku?”
Kembali Kemala tak bisa menjawab.
Pemuda bermata biru yang disebut dengan nama Datuk Putra tersenyum. “Perjanjian yang kau buat dengan Eyang Srigala Karang mengikat dirimu dengan diriku. Sekarang ikuti aku…” katanya. Lalu membalikkan diri dan melangkah pergi.
Kemala memperhatikan.
Gadis ini terkejut ketika dia melihat bahwa Datuk Putra bukan melangkah di rimba belantara atau di satu kawasan tepi Kotaraja yang penuh semak belukar. Tapi pemuda bermata biru itu dilihatnya melangkah menaiki tangga panjang yang berlapiskan permadani biru indah sekali. Di kiri kanan jalan berderet bunga-bunga aneka warna yang menyebar bau harum semerbak. Datuk Putra melangkah perlahan, menaiki anak tangga satu demi satu. Di depan sana kelihatan sebuah bangunan besar berbentuk istana, terang benderang bermandikan cahaya putih kebiruan, hijau dan merah lembayung.
Kemala mengedipkan kedua matanya berulang kali. Bahkan kemudian mengusapnya. Apa yang dilihatnya memang satu kenyataan. Dia tidak bermimpi. Dan entah apa yang mendorongnya, gadis ini menggerakkan kedua kakinya. Selangkah demi selangkah mengikuti Datuk Putra menaiki tangga menuju pirttu yang terbuka dari bangunan berbentuk istana.
Di depan pintu Datuk Putra tampak menghentikan langkahnya lalu memutar tubuh, berpaling ke arah Kemala yang saat itu baru saja menjejakkan kedua kakinya di anak tangga teratas.
“Kekasihku, masuklah…” terdengar Datuk Putra berkata sambil membuat gerakan tangan yang mempersilahkan Kemala masuk ke dalam istana.
Otak si gadis walaupun sangat terpukau dengan suasana sekelilingnya tapi masih bisa bekerja baik. “Kekasihku…? Dia memanggil aku kekasih…? Apa sebenarnya yang hendak dilakukannya padaku?” Lalu kembali Kemala ingat akan ucapan Eyang Srigala Karang beberapa bulan lalu. “Setiap setelah tiga kali melakukan pembunuhan pada tiga malam purnama, seorang pemuda yang memiliki sepasang telinga panjang ke atas seperti srigala akan muncul di kamar tidurmu. Kau harus melayani pemuda ini, memenuhi apa yang dimintanya termasuk bermesraan dengannya… kau tak boleh menolak. Tak layak membantah. Itu syarat yang tidak bisa dirobah!”
“Masuklah…” Datuk Putra kembali mempersilahkan seraya membungkuk dengan sikap hormat seorang pangeran mempersilahkan tuan puteri. Perlahan-lahan Kemala melangkah memasuki pintu besar istana. Datuk Putra mengikutinya dari belakang. Ruangan besar di balik pintu itu ternyata adalah sebuah kamar yang luar biasa indahnya. Di lantai terhampar permadani tebal dan lembut. Di dinding tirai aneka warna menghias. Di tengah ruangan terletak sebuah tempat tidur yang rangka-rangkanya berwarna kuning berkilauan seolah terbuat dari emas. Bau ruangan itu benar-benar luar biasa harumnya.
“Kau harus melayani pemuda ini, memenuhi apa yang dimintanya termasuk bermesraan dengannya…” Kembali terngiang suara Eyang Srigala Karang di kedua telinga Kemala. Bulu kuduk gadis ini jadi merinding. Dia membalikkan diri hendak menuju ke pintu dan segera meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba saja dua daun pintu besar itu bergerak dan menutup dengan cepat, menimbulkan suara keras.
“Kemala, tak ada yang perlu ditakutkan. Menurut perjanjian seharusnya aku datang ke kamar tidurmu. Tetapi sekarang kita malah berada di suatu tempat yang maha indah. Mengapa harus takut? Jangan sia-siakan waktu. Kita punya kesempatan bersenang-senang sampai sebelum matahari terbit.”
“Datuk Putra, apa yang hendak kau lakukan?”
“Ah, merdu sekali suaramu menyebut namaku.” kata pemuda bertelinga srigala dan bermata biru itu. “Kita kemari dan berada di tempat ini untuk memenuhi perjanjian. Nah mendekatlah padaku agar kita bisa bermesraan…”
“Aku tidak sudi…” kata Kemala seraya melangkah mundur mendekati pintu.
Datuk Putra tersenyum. Kedua tangannya bergerak menanggalkan kancing-kancing pakaiannya. Dia menatap pada Kemala dengan pandangan mesra lalu berkata. “Kekasihku, ikuti apa yang aku lakukan. Buka pakaianmu.”
“Tidak…!” jawab Kemala. Di hadapannya dilihatnya Datuk Putra benar-benar membuka seluruh pakaiannya. Sesaat kemudian selagi dia berada dalam keadaan takut dan jijik menyaksikan pemandangan di depannya, tiba-tiba Datuk Putra melompat ke arahnya. Dari tenggorokkannya terdengar suara menggembor seperti suara srigala. Sekali terkam saja tubuh Kemala sudah berada dalam pelukannya.
“Tidak! Lepaskan!” teriak si gadis. Kedua tangan Datuk Putra bergerak. Kemala menjerit. Entah bagaimana kedua tangan pemuda itu tahu-tahu berhasil menanggalkan pakaian atasnya hingga Kemala kini berada dalam keadaan polos di sebelah atas. Sepasang tangan Datuk Putra kini bergerak ke bawah. Saat itu rasa takut Kemala berubah menjadi amarah. Gadis ini gerakkan tubuhnya. Dua tangannya ikut bekerja.
Tubuh Datuk Putra tiba-tiba mental ke atas. Selagi tubuh pemuda ini mengapung jatuh, Kemala gerakkan tangan kanannya. Serangkum angin menderu dahsyat menghantam ke arah dada Datuk Putra. Pemuda bermata biru ini membuat gerakan jungkir balik di udara. Lalu tubuhnya melesat ke kiri. Sekali lagi tubuhnya berputar lalu di lain kejap pemuda ini sudah tegak di sudut kamar yang luas itu. Dia berpaling ke atas ketika terdengar suara bergemuruh. Pukulan tangan kosong yang dilepaskan Kemala menghantam tembok ruangan sebelah atas kiri hingga hancur berantakan dan kini kelihatan sebuah lobang di dinding itu.
“Kekasihku, tidak kusangka kau mempunyai ilmu kepandaian begitu tinggi. Tentunya akan lebih sedap bermesraan dengan orang secantik dan sepandaimu ini…”
Sambil berkata begitu Datuk Putra melangkah mendekati Kemala. Wajahnya tampak begitu mesra. Tapi begitu dia hanya satu langkah saja lagi dari hadapan si gadis tiba­tiba dari mulutnya keluar suara lolongan dahsyat. Bersamaan dengan itu luar biasa cepatnya tangan kanannya melesat menghantam ke batok kepala Kemala!
“Manusia ingkar janji! Pecah kepalamu!” bentak Datuk Putra.
Suara lolongan yang dahsyat membuat Kemala sesaat jadi tercekat. Untung gadis ini cepat menguasai diri dan sadar bahaya maut yang mengancam. Dengan cepat tangan kirinya dipukulkan melintang ke atas.
Bukkk!
Dua lengan saling beradu sampai menimbulkan suara keras. Kemala merasakan lengan kirinya seperti dipukul dengan besi. Sesaat tubuhnya tergontai-gontai. Sebaliknya Datuk Putra tampak menyeringai. Tubuh atau lengannya tidak bergeming sedikit pun. Namun tiba-tiba seringainya lenyap seperti direnggut setan. Lengan kanannya yang tadi beradu keras dengan lengan kiri Kemala tiba-tiba terasa panas seperti disengat bara api. Sengatan ini menjalar ke seluruh tubuhnya dengan cepat, membuat getaran yang menyakitkan laksana disayat pisau berapi. Datuk Putra cepat kerahkan tenaga dalam untuk melindungi diri dan menumpas rasa sakit. Namun baru saja dia hampir berhasil menguasai diri tiba-tiba tinju kanan Kemala menderu menghantam lambungnya.
Datuk Putra menjerit keras. Tubuhnya terlontar ke belakang, menghantam dinding ruangan dengan keras.
“Gadis iblis!” desis Datuk Putra seraya bangkit berdiri. “Kau bukan saja mengingkari janji, tapi berani berbuat kurang ajar. Melakukan kesalahan besar!” Datuk Putra melolong keras. Kedua tangannya diangkat ke atas. Ternyata kedua tangan itu telah berubah menjadi dua kaki depan srigala. Kuku-kukunya mencuat keluar mengerikan.
“Kau akan mati dengan tubuh tercabik-cabik. Seperti kau membunuh korban-korbanmu!” Sekali lagi Datuk Putra melolong. Wajahnya yang tampan mendadak berubah menjadi seperti seekor srigala. Mulutnya membuka lebar. Lidahnya terjulur dan gigi-giginya tampak besar runcing, taringnya mencuat mengerikan.
“Makhluk iblis! Kau kira aku takut padamu!” hardik Kemala. Begitu Datuk Putra yang kepala dan kakinya telah berubah jadi srigala itu mengembor dan menerkamnya, si gadis angkat kedua tangannya ke atas lalu serentak dido
rongkan ke depan.
Wuttt! Wuuuttt!
Dua larik gelombang angin yang mengeluarkan sinar hitam keluar dari telapak tangan Kemala kiri kanan. Tubuh Datuk Putra terangkat ke atas begitu dua larik cahaya hitam itu menghantam tubuhnya. Dari mulutnya keluar suara raungan keras lalu tampak ada cairan merah mengalir dari sela-sela lidah dan giginya! Makhluk manusia berkepala srigala ini jatuh terkapar di lantai. Hanya sesaat karena di lain kejap dia cepat berdiri. Kepala dan kedua tangannya kembali ke bentuk semula.
“Gadis laknat! Aku tidak main-main lagi. Serahkan dirimu atau kau mati saat ini juga!” berkata Datuk Putra. Daun telinganya yang seperti srigala bergerak-gerak.
“Aku mau lihat apa kau benar-benar bisa membunuhku!” jawab Kemala lalu gadis ini tertawa panjang. Mukanya yang cantik membersitkan sinar bengis.
“Kalau begitu terimalah kematianmu saat ini juga!” kata Datuk Putra. Kedua matanya yang biru memandang tak berkedip. Ditujukan tepat-tepat pada Kemala. Tiba-tiba cahaya biru pada kedua bola matanya menjadi terang benderang. Di lain saat dua larik sinar biru keluar menderu dari sepasang mata pemuda dari alam gaib itu.
Wusss!
Wusss!
Kemala sempat terpekik. Lalu cepat menghindar.
Dua larik sinar biru menderu dan menghantam Kemala. Masih setengah jalan gadis ini sudah dapat merasakan hawa sangat panas yang keluar dari kedua sinar angker itu. Didahului oleh satu bentakan garang tubuh Kemala terangkat ke atas lalu seperti melayang tubuh ini berkelebat ke kiri. Dua larik sinar dahsyat menderu lewat di samping kepala si gadis, terus menghantam dinding ruangan besar. Kain tirai menjadi hangus dan api mulai berkobar di ruangan itu. Di belakang kain tirai, dinding ruangan hancur berkeping-keping.
“Kepandaianmu tinggi, ilmumu bagus!” memuji Kemala. “Sayang kau kurang cepat!” Lalu gadis ini balas menghantam dengan tangan kanannya. Serangkum cahaya hitam yang membersitkan bau menggidikkan menderu menghantam Datuk Putra. Pemuda ini terbanting ke dinding. Tubuhnya sebelah kanan jelas tampak hangus, namun tak ada bau daging terbakar pertanda dia memang bukan makhluk manusia adanya! Tiba-tiba dia menggerang lalu berdiri sambil memandang beringas ke arah Kemala.
“Kau kira aku sudah kalah? Kau kira kau bisa membunuh diriku? Ha… ha… ha… Nyawamu ada di tanganku Kemala!” Selangkah demi selangkah Datuk Putra maju mendekati Kemala.
“Makhluk iblis keparat!” maki Kemala dalam hati. Lalu dia berbisik. “Datuk, Datuk, Datuk datanglah cepat. Kau kutugaskan untuk membunuh makhluk ini!”
Tiba-tiba ada suara menggelegar di atas atap bangunan. Menyusul menerobosnya satu sosok panjang berwarna coklat. Sesaat kemudian seekor srigala besar yang kuku-kuku kaki depan dan mulutnya berselemotan darah mendekam di samping Kemala. Sepasang matanya mengeluarkan sinar merah laksana bara api.
“Datuk, bunuh makhluk di depanmu! Cabik-cabik tubuhnya!”
Srigala yang dipanggil dengan nama Datuk itu menggereng keras. Punggungnya naik ke atas. Kedua kakinya dijulurkan ke depan sedang kepalanya merunduk. Binatang ini siap menerkam Datuk Putra.
Melihat hal ini Datuk Putra cepat membentak.
“Datuk! Kau berada di bawah kekuasaan Eyang Srigala Karang. Orang tua itu berada dalam kekuasaanku! Kau haras tunduk padaku! Jangan dengar perintah gadis keparat itu!”
Datuk Srigala menggereng. Binatang dari alam gaib ini tampak seperti bimbang. Melihat hal ini Kemala cepat berkata.
“Datuk! Kau berada di bawah kekuasaanku! Tidak ada yang berhak memerintahmu selain aku! Jalankan apa yang aku katakan! Bunuh Datuk Putra!”
Mendengar ini Sang Datuk kembali keluarkan suara menggereng. Lalu melolong panjang. Sesaat kemudian tubuhnya melompat ke arah Datuk Putra.
“Datuk! Jangan! Pergi! Bunuh gadis itu!” teriak Datuk Putra. Tapi tak ada gunanya. Datuk srigala tidak patuh padanya. Sesuai perintah Kemala binatang jejadian itu mulai mencabik dan mengoyak Datuk Putra mulai dari kepala sampai ke kaki. Hanya dalam waktu beberapa kejapan saja tubuh pemuda itu sudah hancur luluh dikoyak dan dicabik Datuk srigala. Satu keanehan dilihat Kemala. Walau tubuh Datuk Putra cabik dan koyak, namun tidak ada setetes darah pun keluar dari luka-luka mengerikan di tubuhnya itu!
Dari mulut Datuk Putra terdengar suara seperti air mendidih lalu bersamaan dengan lenyapnya suara itu terlihat kepulan asap membungkus sosoknya. Setelah itu tubuh yang dibungkus asap itu terangkat ke atas, melayang di udara dan lenyap lewat dinding kamar yang jebol.
Bersamaan dengan lenyapnya tubuh Datuk Putra terjadi lagi satu keanehan. Bangunan besar berupa istana megah itu tiba-tiba saja lenyap. Kemala dapatkan dirinya berada di satu daerah liar penuh semak belukar di kawasan timur Kotaraja.
“Eh, aku berada di tempat sebelumnya aku tadi berada…” kata gadis itu dalam hati. Dia menoleh ke samping ketika mendengar suara gerengan halus. Dilihatnya Datuk Srigala mendekam di tanah di sampingnya. Kemala mengusap kepala binatang ini. “Datuk, kini tak ada lagi yang menguasai kita. Kotaraja berada dalam genggaman kita. Kerajaan berada dalam kekuasaan kita. Bahkan tanah Jawa ini! Kita bisa berbuat sesuka apa yang kita maui. Aku bisa mendapatkan pemuda mana saja yang aku sukai. Namun… Kau tahu Datuk, hanya ada satu pemuda yang mengikat lubuk hatiku… Di manakah dia berada saat ini…?” Kemala terdiam sejurus.
Datuk Srigala melunjurkan kepalanya di atas kedua kaki depannya lalu menggereng halus. Kemala kembali mengusap kepala binatang ini. “Kau boleh pergi sekarang Datuk. Ingat, besok malam bulan purnama hari empat belas kau akan kupanggil lagi. Korban kita sekali ini bukan manusia sembarangan. Seorang pangeran yang main gila dengan istri seorang perajurit!”
Datuk Srigala kedip-kedipkan matanya. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, lalu sekali berkelebat binatang ini pun lenyap di kegelapan malam.

11
GEDUNG kediaman Perwira Tinggi Gandar Seto diselimuti kegelapan dan kesunyian. Di pintu gerbang memang ada tiga orang pengawal berjaga­jaga. Namun sikap mereka santai-santai saja dan sesekali terdengar suara gelak tawa ketiganya. Dengan mudah Wiro melompati tembok sam–ping yang tidak seberapa tinggi. Begitu memasuki halaman dalam dia cepat menyelinap di antara pohon-pohon pisang, lalu bergerak mendekati sebuah jendela. Dia tahu betul ini adalah jendela kamar tidur Ratih Kiranasari. Sesaat Wiro hendak mengetuk jendela itu, tahu-tahu entah dari mana datangnya, muncul saja dua orang pengawal yang rupanya sedang melakukan perondaan.
“Pencuri tengik! Berani kau hendak mencuri di rumah Perwira Tinggi Kerajaan?!” Salah seorang dari dua pengawal membentak.
Kawannya tanpa banyak menunggu langsung menghunjamkan ujung golok ke perut Wiro. “Jebol lambungmu pencuri tak tahu diuntung!”
Murid Eyang Sinto Gendeng keluarkan suara siulan dari mulutnya. Tangannya kiri kanan bergerak. Saat itu juga dua pengawal merasakan tubuh mereka menjadi kaku. Sekujur badan tak kuasa digerakkan lagi. Mulutpun seperti terkunci tak mampu mengeluarkan suara lagi. Keduanya telah kena ditotok oleh sang pendekar. Wiro memandang kedua orang pengawal itu dengan tersenyum sambil meletakkan telunjuk tangan kirinya di atas bibir.
“Kalian berdua tenang-tenang saja di sini. Aku tak begitu suka diganggu.” kata Wiro pula lalu kembali mendekati jendela. Sekali lagi dia hendak mengetuk, namun sekali lagi pula gerakannya tertahan. Dari samping terdengar suara seseorang menegur.
“Kalau Den Ayu Ratih Kiranasari yang kau cari, dia tidak ada dalam kamar itu…”
Wiro berpaling. Yang menegur ternyata Tejo. Kusir tua itu berdiri di hadapannya. Wiro ingat akan perbuatan kusir tua ini beberapa waktu yang lalu hingga dia terjebak dan hampir tertangkap oleh Perwira Tinggi Gandar Seto kalau tidak ditolong oleh Kemala si gadis misterius. Mengingat hal itu ingin sekali Wiro menampar orang tua ini.
“Sekali ini apakah kau bicara sungguhan Pak Tua? Kau menjebakku beberapa waktu lalu. Ingat?”
“Saya bekerja mencari makan di sini, anak muda. Saya terpaksa melakukan hal itu karena diperintahkan oleh majikan saya Perwira Tinggi Gandar Seto…”
“Apakah dia juga yang memerintahkan untuk mengatakan bahwa anak gadisnya tidak ada di kamarnya malam­malam buta begini?” tanya Wiro.
“Sekali ini saya tidak bicara dusta, anak muda. Di rumah hanya ada istri majikan saya saja seorang diri. Para pembantu sudah tidur di kamar masing-masing.”
“Hem… sedang ke mana majikanmu Pak Tua?”
“Saya tidak tahu ke mana. Tapi tadi begitu malam tiba saya lihat Perwira Tinggi Gandar Seto dijemput oleh beberapa orang. Dua di antara mereka adalah nenek berbibir sumbing dan kakek berkepala botak merah. Lalu ada seorang kakek tinggi kurus yang selalu mempermainkan sebuah bola besi yang ada rantainya dan bergerigi…”
“Yang bermulut sumbing itu pastilah Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut dan kakek botak niscaya si Bayangan Api.”
“Saya tidak tahu jelas gelaran kedua orang itu. Namun saya rasa memang mereka.”
“Ke mana orang-orang itu pergi?” tanya Wiro.
“Saya tidak tahu pasti. Tapi saya mendengar mereka menyebut-nyebut nama seorang pangeran…”
“Pangeran? Pangeran mana? Pangeran siapa?”
“Kalau saya tidak salah dengar mereka menyebut nama Pangeran Rono Kuworo. Mereka kemudian meninggalkan gedung ini, mengambil jalan ke arah barat.”
“Lalu apakah Den Ayu Ratih Kiranasari juga ikut bersama rombongan orang-orang itu?”
Kusir tua Tejo menggeleng. “Inilah yang saya tidak mengerti. Saya hanya melihat secara kebetulan. Ketika hendak keluar minta rokok pada pengawal, saya lihat Den Ayu Ratih melompat keluar dari jendela. Sebetulnya saya hendak menegur apa yang tengah dilakukannya. Tapi dia keburu berlalu. Jangan-jangan dia menyelinap keluar untuk mencarimu, anak muda…”
Wiro jadi garuk-garuk kepala. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Ke mana harus mencari gadis itu?” pikir murid Sinto Gendeng dalam hati. Akhirnya ditinggalkannya tempat itu dan berlari menuju ke barat.

***

Rumah kayu di tengah ladang itu diselimuti kegelapan. Cahaya bulan purnama empat belas hari yang cukup terang tidak mampu menerobos pohon beringin berdaun lebat yang tumbuh di sebelah rumah.
Di tempat gelap, di balik serumpunan semak belukar empat orang mendekam tanpa bergerak tanpa bersuara. Setelah berada di tempat itu cukup lama, salah seorang dari mereka mulai resah dan bosan berdiam diri terus­terusan. Dia berbisik, “Mungkin sekali orang yang kita tunggu tidak datang malam ini…”
Orang di sebelahnya balas berbisik. “Aku yakin dia akan datang. Mungkin sebentar lagi. Soalnya seorang prajuritnya mendengar jelas pesan yang disampaikan lewat seorang temannya.”
“Kita tunggu saja. Jika pembunuh keji itu memang masih gentayangan di sekitar sini, pasti dia akan muncul melakukan niat terkutuknya…”
“Berhenti berbicara. Aku mendengar suara kaki kuda mendatangi!”
Orang-orang yang tadi bicara segera menutup mulut. Memang betul. Saat itu terdengar suara derap kaki kuda mendatangi dari kejauhan. Tak lama kemudian di balik sebatang pohon cempedak hutan kelihatan muncul sesosok tubuh berpakaian hitam bersama kuda tunggangannya. Di bawah pohon orang ini berhenti sebentar. Kelihatannya dia seperti tengah memperhatikan suasana. Ketika dirasakannya semua serba aman, maka dia turun dari kuda lalu menuntun binatang itu ke arah rumah kayu. Di satu tempat dia menambatkan kudanya pada sebatang pohon kecil lalu melangkah ke bagian belakang rumah. Perlahan-lahan dia mengetuk pintu belakang.
“Pangeran…?”
Dari dalam rumah terdengar suara perempuan perlahan sekali.
“Betul. Lekas bukakan pintu…”
“Tunggu, saya akan nyalakan lampu minyak dulu.”
“Jangan bodoh. Jangan nyalakan lampu. Buka saja pintunya,” kata lelaki di pintu belakang.
Pintupun kemudian terbuka. Lelaki tadi menyelinap lenyap ke dalam rumah.
“Gelap sekali Pangeran, bukankah lebih baik menyalakan lampu minyak?” Parempuan di dalam rumah membuka mulut.
“Sebenarnya aku tidak suka ada penerangan di dalam sini. Tapi baiklah. Aku sudah lama tidak melihat kecantikan parasmu dan keindahan tubuhmu…”
Lalu sebuah lampu minyak dinyalakan. Sinarnya kecil dan redup sekali. Tetapi orang yang dipanggil dengan sebutan pangeran sudah dapat melihat jelas perempuan di hadapannya. Langsung saja dia memeluk dan menciumi perempuan itu.
“Aku hampir gila tidak melihatmu sekian lama. Banyak sekali pekerjaanku di Kotaraja…”
“Bagaimana dengan suami saya, Pangeran?”
“Kau tak usah khawatir. Sesuai permintaanmu, usulanku menaikkan pangkatnya jadi prajurit kepala telah dikabulkan Pimpinan Pasukan di Kotaraja…”
“Saya mengucapkan terima kasih Pangeran. Saya sudah menyiapkan ranjang untuk kita berdua…”
“Bagus. Kau seharusnya pantas menjadi selir seorang pangeran sepertiku. Bukan istri seorang prajurit…”
“Tapi bukankah saya sudah bersedia untuk menjadi milik Pangeran selama-lamanya?” Perempuan itu membawa masuk lampu minyak ke dalam kamar. Lelaki tadi mengikutinya. Begitu masuk ke dalam kamar lelaki ini terus saja merebahkan diri di atas ranjang. Setelah menyantelkan lampu minyak di dinding kamar perempuan itu berdiri di tepi ranjang, Satu demi satu dia menanggalkan pakaiannya. Terakhir sekali dia membuka gelungan sanggulnya hingga rambutnya yang panjang hitam tergerai lepas di depan dadanya. Melihat kepada raut wajah dan bentuk tubuh perempuan ini paling tinggi usianya sekitar duapuluh tahun dan belum pernah melahirkan. Sedang orang yang dipanggil dengan sebutan pangeran berusia hampir enampuluh. Rambut dan janggut serta kumisnya telah putih.
“Mulailah Arini…” bisik pangeran itu seraya mengusap tubuh perempuan yang tegak di samping tempat tidur.
Dari mulut perempuan bernama Arini tiba-tiba terdengar suara nyanyian. Nyanyian itu terdengar merdu walaupun perlahan. Sambil menyanyi dia menggerakkan tangan, kaki dan pinggul dan sesekali dadanya seperti seorang penari. Kedua mata sang Pangeran terbuka lebar. Dia sudah berulang kali menyaksikan hal ini. Tapi dia tak pernah bosan dan inilah yang membuatnya selalu tergila­gila pada perempuan muda istri seorang prajurit yang malam itu tengah menjalankan tugas di Kotaraja. Sambil mendengar suara nyanyian halus dan tarian yang membakar darahnya itu, sang Pangeran mulai menanggalkan pakaiannya.
Di luar rumah, di balik semak belukar. Terdengar suara rutuk perlahan. “Memang gila! Tidak kusangka Pangeran Rono Kuworo begini mesum pekertinya. Isterinya sudah tiga. Gundiknya tidak terbilang. Masih saja dia menyempatkan diri menggauli isteri orang lain…”
“Pangeran itu mungkin tidak salah…” jawab kawan di sebelahnya.
“Tidak salah bagaimana maksudmu? Jelas dia melakukan perbuatan kotor! Kau kira apa yang dikerjakannya malam-malam begini mendatangi perempuan itu?!”
“Saya bilang Pangeran itu tidak salah. Yang salah adalah istri prajurit itu. Mengapa dia terlalu cantik dan menggiurkan begitu rupa…”
“Sudahlah, kenapa bertengkar! Kalian kira kita ini berada di tempat apa?” Seorang di antara mereka menengahi.
“Semua diam. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi. Kuharap semua sesuai dengan rencana…”
Baru saja orang yang satu ini berkata begitu tiba-tiba di kejauhan terdengar suara lolongan srigala, panjang menggidikkan. Empat orang di balik semak belukar sempat tercekat. Salah seorang dari mereka berbisik. “Makhluk pembunuh itu tidak berapa jauh dari sini. Kita tunggu saja dan bersiaplah.”
Di atas sebatang pohon tak jauh dari rumah kayu di mana Pangeran Rono Kuworo dan Arini tengah bergelung­gelung di atas tempat tidur, tanpa setahu empat orang yang sembunyi di balik semak belukar, dalam kegelapan mendekam seorang berpakaian serba putih. Seperti empat orang yang ada di balik semak itu, diapun telah sempat menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana. Lalu dia mengambil sikap menunggu dan tersentak ketika telinganya mendengar suara lolongan srigala di kejauhan.
Di atas sebatang pohon lain, diam-diam mendekam pula sesosok tubuh gemuk luar biasa sambil mengipasi wajahnya yang selalu berkeringatan dengan sehelai kipas lipat dari kertas. Mulutnya tidak berhenti komat kamit menggeragot sebuah mangga hutan. Begitu mangga habis dimakannya kini tinggal bijinya. Sambil cengar cengir seorang diri di atas pohon, si gendut yang mengenakan baju serta celana terbalik ini dan memakai sebuah peci hitam kupluk kebesaran di kepalanya memandang berkeliling. Dia menimbang-nimbang apakah akan melemparkan biji mangga itu pada salah seorang yang bersembunyi di balik semak belukar di bawah sana atau pada pemuda berpakaian putih gondrong yang mendekam di atas pohon dekat rumah kayu. Si gendut ini akhirnya memilih orang yang di atas pohon. Tangannya yang memegang biji mangga bergerak melempar. Gerak lemparannya seperti acuh tak acuh saja. Tapi begitu melesat biji mangga itu laksana terbang menderu ke arah sasaran. Orang di atas pohon terkejut dan mengeluh kesakitan ketika biji mangga menghantam keningnya. Dia hendak menyumpah panjang pendek tapi cepat menutup mulutnya. Padahal empat orang itu di bawah sana sudah sempat mendengar keluhannya tadi.
“Bangsat sialan! Siapa yang menyambit keningku!”
Di bawah sana, di balik semak belukar empat orang yang bersembunyi saling pandang. “Aku mendengar suara seperti orang mengeluh kesakitan…”
“Betul,” menyahuti kawan di sebelahnya. “Datangnya dari atas sana…” Dia lalu menunjuk ke atas pohon besar di belakangnya.
“Diam semua! Tidak kalian dengar suara lolongan makhluk hantu dan derap kaki kuda yang semakin mendekat?!” ujar lelaki ke tiga yang memegang bola besi.
Dalam kegelapan malam tiba-tiba terasa ada angin menderu. Sesaat kemudian dekat rumah kayu kelihatan dua sosok makhluk. Sinar bulan purnama tidak menyentuh sosok tubuh itu. Namun empat orang yang ada di balik semak belukar dan dua orang yang mendekam di atas pohon dapat melihat dengan jelas siapa adanya makhluk­makhluk itu.
“Lihat!” bisik salah seorang dari empat orang di balik semak-semak. Suaranya bergetar.
“Astaga…” Menyahuti yang lain. “Aku belum buta. Aku mengenali sekali. Perempuan muda itu adalah orang yang tempo hari menolong Pendekar 212 ketika hendak kutabas batang lehernya! Jadi dia rupanya biang bahalanya…”
“Dia membawa seekor srigala besar bermata seperti bara api. Mengerikan. Pasti binatang itu yang jadi suruhannya dalam melakukan pembunuhan!”
Di atas pohon orang berpakaian putih seperti tak percaya akan pemandangannya.
“Kemala… Ah! Kalau tidak melihat sendiri tidak percaya aku! Dia datang bersama binatang itu. Dia pemilik srigala penyebar maut itu…?”
Di bawah sana gadis yang tegak di samping srigala besar dengan mulut dan kaki depan penuh lumuran darah sesaat memandang berkeliling. Tidak seperti biasanya kali ini dia tiba-tiba saja merasa tidak enak.
“Seperti ada makhluk-makhluk lain di sekitar sini…” Katanya dalam hati. Dia memandang lagi ke sekitarnya. Tak kelihatan apa atau siapapun. Lalu tangan kanannya mengusap kepala srigala itu.
“Datuk, jalankan tugasmu. Bunuh kedua manusia mesum di dalam rumah itu!”
Srigala besar itu menggereng. Kepalanya mendongak ke atas. Mulutnya terbuka dan lidahnya menjulur. Sepasang matanya membersitkan sinar merahnya bara api yang angker sekali. Tiba-tiba binatang ini menggereng sekali lagi. Lebih keras. Lalu tubuhnya melesat ke depan. Dinding rumah yang terbuat dari kayu laksana sehelai kertas tipis saja. Hancur berantakan kena seruduknya. Sesaat kemudian di dalam rumah terdengar pekik jerit Pangeran Rono Kuworo dan Arini mengerikan sekali. Lalu sunyi!
Dari dinding rumah yang jebol kelihatan keluar srigala tadi. Moncong dan kedua kaki depannya kelihatan berlumur darah mengerikan. Binatang ini berhenti di samping si gadis.
“Bagus Datuk. Kau menjalankan tugasmu dengan baik. Sekarang mari kita tinggalkan tempat ini!” kata si gadis pula.
Pada saat itulah empat orang yang bersembunyi di balik semak belukar, kalau tadi mereka seolah terpukau oleh apa yang terjadi, kini mereka seperti disentakkan dan sama-sama melompat keluar!
“Makhluk-makhluk iblis! Kali ini kalian tidak bisa lolos lagi!” Satu dari empat orang itu membentak.
Srigala besar menggereng. Si gadis terkejut dan cepat memandang berkeliling. Empat orang telah mengurungnya. Tiga di antara mereka segera dikenalinya. Yang seorang yaitu kakek kurus tinggi yang memegang bola besi berantai tidak diketahuinya siapa adanya.
“Tiga cecunguk tidak tahu diri! Pelajaranku tempo hari rupanya tidak membuat kalian kapok! Kalian berani muncul lagi, malah membawa seorang kawan!”
Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut menggembor lalu berkata. “Perempuan durjana! Kau dan binatang peliharaanmu hanya bisa hidup sampai malam ini! Dosa kalian sudah lewat dari takaran! Cuma kematian satu­satunya penebus dosa-dosamu!”
Si gadis yaitu Kemala tertawa perlahan. “Nenek sumbing, bicarapun kau belum pandai, mau menghabisi kami pula. Tua bangka tidak tahu diri! Nanti kujejali lagi mulutmu dengan asap pendupaan yang kau bawa itu!”
Lelaki yang tangannya diikat kain mendengus. Dia bukan lain adalah Perwira Tinggi Gandar Seto. “Iblis perempuan! Ajalmu tak lama lagi! Sebelum mampus lekas katakan mengapa kau membunuhi orang-orang itu?”
“Ah, kau tentunya Perwira Tinggi Gandar Seto!” jawab Kemala. “Dengar Perwira. Aku memberi keampunan bagi jiwamu. Lekas tinggalkan tempat ini! Tiga kawanmu tak perlu kau perdulikan. Mereka memang layak mampus di tempat ini! Malam ini juga!”
Dua orang di samping Gandar Seto tentu saja merasa tersinggung. Kakek-kakek yang memegang bola besi dan dikenal dengan julukan si Pelumat Jagat berbisik pada kakek botak di sebelahnya. “Bayangan Api, kucing betina itu sepertinya tidak memandang sebelah mata pada kita. Untung wajahnya cantik. Kalau dia bisa melayaniku barang semalaman mungkin bisa kukurangi hukuman bagi dirinya…”
Celakanya apa yang dikatakan kakek tinggi kurus itu terdengar oleh Kemala. Maka gadis ini pun melotot.
“Tua bangka cabul! Kau sama saja dengan lelaki-lelaki lain! Sudah bau tanah masih saja hendak mengumbar nafsu! Kau layak mati pertama sekali!”
“Bagus, aku mau tahu bagaimana rasanya mati di tangan gadis secantikmu. Tapi eh…! Apa betul kau masih gadis, masih perawan? He… he… he!
“Keparat! Terima kematianmu!” teriak Kemala. Gadis ini melompat ke depan. Tangan kanannya menderu ke arah kepala si kakek kurus. Yang diserang tak tinggal diam. Bola besi bergerigi dan berantai di tangan kanannya menyapu ke depan.
Wuuuttt!
Bola besi itu lenyap dan kini hanya kelihatan sinar hitam disertai angin dingin menggidikkan. Si gadis terkejut ketika merasa ada sesuatu menyambar ke atas lehernya. Dengan cepat dia tinjukan tangan kirinya.
Buukkk! Byuuurrr!
Kemala tersurut satu langkah. Tangan kirinya merah dan lecet. Gadis ini tampak menahan rasa kagetnya. Tapi yang lebih terkejut adalah kakek bergelar si Pelumat Jagat. Dia melompat mundur sampai tiga langkah. Parasnya berubah putih. Di tangan kanannya kini dia hanya memegang rantai. Bola besinya ternyata hancur lebur dihantam pukulan tangan kiri Kemala!
“Celaka! Jangan-jangan gadis ini bukan manusia biasa. Tapi makhluk jejadian yang memiliki ilmu hitam! Kalau tidak segera dihabisi bisa berabe!” Lalu dia berpaling pada tiga kawannya. “Para sahabat! Tak perlu sungkan! Lekas keroyok gadis dajal ini!”
Mendengar seruan si Pelumat Jagat, Gandar Seto segera hunus golok besar dengan tangan kiri sedang Iblis Sumbing Pembawa Pendupa sudah lebih dulu melompat sambil meniupkan asap pendupaannya. Kali ini dia tidak mengandalkan asap pendupaan yang mengandung hawa aneh tapi tidak mempan terhadap si gadis, melainkan dia meniup untuk melesatkan jarum-jarum beracun yang ada di atas bara api! Begitu dia meniup selusin jarum merah membara menderu ke arah Kemala. Si Bayangan Api tidak tinggal diam, dia melompat ke dalam kalangan pertempuran setelah terlebih dulu melepaskan lima senjata rahasia berupa anak panah berwarna merah!
Kemala tampaknya tenang-tenang saja melihat empat serangan pengeroyok itu. Sebaliknya orang berpakaian putih di atas pohon tidak dapat lagi menahan diri melihat bahaya yang mengancam si gadis. Sambil lepaskan satu pukulan sakti dia melompat turun dari atas pohon!
“Pukulan Sinar matahari!” teriak si Bayangan Api ketika dia melihat ada suara menggemuruh disertai berkiblatnya sinar putih perak menyilaukan.
Empat pengeroyok cepat melompat mundur.
Bummm!
Sinar pukulan yang menebar hawa sangat panas itu menghantam tanah hingga terbongkar. Bumi laksana dilanda lindu. Semua yang menyerang tersentak mundur dan semua senjata yang dipakai untuk menyerbu mental ke udara bersama batu dan pasir serta tanah yang beterbangan. Di tanah kini kelihatan sebuah lobang besar!
“Ha… ha! Seorang sahabat telah membuat liang kubur bagi kalian! Siapa yang mau masuk lebih dahulu?!” berseru Kemala. Memandang ke samping dilihatnya Pendekar 212 Wiro Sableng tegak dengan kaki terpentang, menatap ke arah empat orang yang mengurung.
“Dicari-cari tidak bertemu. Sekarang malah datang sendiri! Dua tangkapan sekaligus! Besar nian rejeki kita?” kata Gandar Seto begitu melihat Pendekar 212 berada di tempat itu.
“Sudah kuduga, pemuda keparat ini punya hubungan tertentu dengan gadis iblis ini! Ternyata betul! Sayang seorang pendekar sakti mandraguna yang disegani dalam dunia persilatan ternyata berkomplot dengan gadis pembunuh!” membuka mulut Si Bayangan Api.
“Kalian orang tua-tua terserah mau bilang apa. Tapi aku tidak sudi melihat empat orang tokoh silat mengeroyok seorang gadis!”
“Yang kami keroyok bukan gadis biasa. Tapi gadis iblis!” jawab Gandar Seto. “Kau mau menolongnya? Berarti bersiaplah untuk mampus!”
“Kalian tidak mampu melawannya. Ilmunya jauh berada di atas kalian. Jangan jadi orang-orang tolol. Pergi dari tempat ini. Jangan ganggu sahabatku ini!”
“Ternyata kau pun memang sudah benar-benar sesat seperti iblis betina itu! Kawan-kawan mari kita berjibaku menyingkirkan sepasang iblis ini!” teriak si Bayangan Api.
Keempat orang itu siap hendak menyerbu kembali. Wiro segera keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212.
“Wiro, tunggu!” tiba-tiba Kemala berseru.
“Kemala, tinggalkan tempat ini cepat. Biar aku yang melayani empat tua bangka ini!” ujar Pendekar 212.
“Mengapa kau atau aku harus mencapaikan diri menghadapi orang-orang ini? Biar Datuk yang membereskan mereka?” kata Kemala pula seraya melangkah mendekati srigala besar. Tangan kanannya mengusap kepala binatang itu yang segera menggereng dan dongakkan kepalanya.
“Kemala, aku ingin kau tidak melakukan pembunuhan lagi. Aku akan coba menyadarkan keempat orang itu. Aku minta agar kau segera meninggalkan tempat ini!”
Si gadis hendak membantah tapi melihat air muka Pendekar 212 dia menjadi bimbang. Akhirnya dia berkata perlahan. “Datuk, mari kita pergi..”
Srigala yang tadi tampak buas kini kelihatan ikut jinak. Dia membalikkan diri mengikuti langkah tuannya. Tapi baru satu langkah bergerak tiba-tiba dari atas pohon melayang turun sebuah benda bulat berputar-putar, lalu bluk! Se-orang pemuda berbadan gendut buntak, bermuka bulat yang selalu keringatan tahu-tahu tegak menghadang di depan Kemala dan Datuk Srigala. Di tangan kanan pemuda gendut itu ada sebuah kipas lipat dari kertas yang dikipas­kipaskannya kian kemari. Kepalanya disungkup dengan sebuah peci hitam kupluk.
“Gadis dan srigala, kalian tidak boleh pergi dulu sebelum kalian kubebaskan dari sekapan iblis pembawa ilmu hitam!”
“Gendut keparat! Siapa kau yang berani menghadang jalanku?!” bentak Kemala sementara srigala di sampingnya mulai kelihatan beringas.
“Aku seorang sahabat. Pemuda yang kau sukai itu juga sahabatku! Kepercayaan pada sahabat adalah di atas segala-galanya!”
“Gendut! Aku tak kenal dirimu, apa lagi menjadi sahabatmu!” bentak Kemala.
Si gendut tertawa. “Persahabatan itu tidak selalu harus saling kenal…”
Kemunculan pemuda gendut berpeci kupluk dan mengenakan pakaian terbalik ini membuat Wiro terkejut. Beberapa waktu yang lalu dia muncul secara tiba-tiba seperti saat ini untuk menyelamatkan seorang gadis. Kini dia muncul kembali dan berkata hendak membebaskan Kemala dan srigala itu dari sekapan iblis! “Si gendut ini ngaco atau bagaimana…?” kata Wiro pula. Selagi dia berpikir-pikir seperti itu dari samping tiba-tiba sekali si Bayangan Api dan si Pelumat Jagat telah bergerak menyerangnya. Dari jurusan lain Gandar Seto dan Iblis Sumbing juga ikut bergerak menghantam ke arah Kemala.
Si gendut tampak jengkel sekali. Setelah memaki panjang pendek dia melompat mundur. “Manusia-manusia tolol! Kalian semua mencari kematian secara sia-sia!”

12
SI BAYANGAN Api walau memiliki kepandaian silat tinggi namun dia tidak membawa senjata. Memang dia membekal senjata rahasia berupa panah-panah merah tapi dalam perkelahian jarak pendek begitu rupa senjata rahasia itu tidak mungkin dipergunakan. Hal yang sama juga terjadi dengan si Pelumat Jagat. Bola besi yang merupakan senjata andalannya telah dihancurkan oleh Kemala. Sebenarnya kedua tokoh silat ini menghadapi Pendekar 212 dengan setengah hati. Apalagi saat itu murid Eyang Sinto Gendeng sudah langsung keluarkan senjata mustikanya yaitu Kapak Maut Naga Geni 212. Setiap senjata ini dibabatkan atau dibacokkan terdengar suara bergemuruh laksana ribuan tawon mengamuk. Sinar panas putih menyilaukan yang keluar dari kedua mata kapak membuat dua lawannya menjadi semakin ciut nyali masing-masing. Karena tak berani mendekat kedua kakek ini berusaha menggempur dengan pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi. Si Pelumat Jagat sesekali bertindak curang, coba menyerang dari belakang. Namun semua serangan lawan dibuat mental oleh sambaran-sambaran Kapak Maut Naga Geni 212.
Setelah menggempur habis-habisan sampai limabelas jurus gerakan si Bayangan Api tidak lagi secepat kilat dan tubuhnya tidak lagi laksana bayangan merah. Begitu juga si Pelumat Jagat gerakan-gerakannya menjadi lamban. Kedua kakek ini mulai main mata, saling memberi isyarat bahwa lebih baik mereka kabur saja dari tempat itu. Begitu ada kesempatan keduanya menyerang gencar secara kilat lalu satu menghambur ke kiri, satunya lagi ke arah kanan.
Murid Eyang Sinto Gendeng cepat hendak hantamkan pukulan Sinar Matahari ke arah si Pelumat Jagat dan lepaskan jarum-jarum rahasia dari mulut kapak ke arah si Bayangan Api namun setelah berpikir maksudnya itu segera dibatalkan. Sebenarnya buat apa mengejar orang-orang itu dan mencelakai mereka. Keduanya pasti hanyalah menjalankan tugas untuk menumpas kejahatan Kemala. Dan dia sudah menyaksikan sendiri tadi bagaimana si gadis memerintahkan srigala peliharaannya membunuh Pangeran Rono Kuworo serta istri prajurit yang serong itu. Meski dia belum menyaksikan mayat kedua orang itu, namun seperti kejadian yang sudah-sudah dua orang di dalam rumah pasti menemui ajal dengan tubuh tercabik-cabik.
Wiro putar tubuh memperhatikan perkelahian yang terjadi antara Kemala yang dikeroyok oleh Iblis Sumbing dan Perwira Tinggi Gandar Seto. Baik Gandar Seto maupun Iblis Sumbing sangat bernafsu untuk dapat menghabisi lawannya saat itu juga. Si nenek berulang kali tiupkan asap kelabu dari pendupaan yang ada di tangan kirinya. Tujuannya bukan untuk membuat lawan menjadi lemas oleh hawa yang keluar dari dalam asap. Dari perkelahian pertama sebelumnya dia sudah tahu Kemala memiliki ilmu kebal yang tak sanggup ditembus oleh asap pendupaannya. Karenanya asap itu ditiup untuk menghalangi pemandangan lawan sehingga dia bisa bergerak leluasa dalam melancarkan serangan-serangan. Tetapi Kemala bukan lawan yang mudah dikecoh. Setelah mengambil sikap bertahan selama sepuluh jurus tiba-tiba gadis ini berseru.
“Datuk! Lekas kau hajar nenek bermulut sumbing itu. Jangan diberi ampun! Aku akan melayani Perwira Kerajaan ini!”
Mendengar ucapan tuannya itu srigala besar menggereng keras. Kedua matanya memancarkan sinar membara. Didahului oleh suara meraung yang menggidikkan binatang ini kemudian melompat ke arah Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut. Si nenek yang menganggap remeh serangan binatang ini pergunakan kaki kirinya untuk
menendang.
Bukkk!
Tendangan kaki kanan Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut memang tepat mengenai bagian dada srigala bermata api. Binatang ini mencelat sampai dua tombak. Tapi apa yang dialami si nenek sendiri membuat pemuda gendut berkopiah kupluk dan juga Pendekar 212 jadi merinding. Si nenek terdengar menjerit setinggi langit. Kaki kanannya sebatas paha sampai ke betis ternyata telah koyak lebar dan dalam. Meskipun gelap tapi tulang tungkainya masih bisa terlihat jelas. Pendupaan di tangan kirinya jatuh. Belum sempat benda ini menyentuh tanah tiba-tiba srigala itu kembali menyerbunya dengan ganas. Raungan si nenek tertindih oleh suara raungan binatang itu. Leher Iblis Sumbing tampak robek. Urat-uratnya mencuat putus dan darah menyembur. Dadanya terkuak menyebulkan tulang-tulang iganya. Lalu di sebelah bawah perutnya robek membusai semua isi yang ada di dalamnya!
Pemuda gendut mengeluarkan suara mau muntah menyaksikan kejadian itu. Murid Eyang Sinto Gendeng mengerenyit sambil menutup mulut dengan tangan kiri sementara tengkuknya merinding dingin. Dia sempat tertunduk ngeri. Ketika dia mengangkat kepalanya kembali, sekujur tubuh si nenek sudah tak bisa dikenali lagi!
“Gusti Allah!” seruan itu keluar dari mulut Perwira Tinggi Gandar Seto begitu dia sempat melihat apa yang terjadi atas diri Iblis Sumbing Pembawa Pendupa Maut. Sekujur tubuhnya bergetar hebat dan tiba-tiba saja dia seperti tidak punya tulang belulang lagi, lemas dan ketakutan setengah mati.
“Perwira, aku memberi kesempatan padamu. Jika kau tidak segera minggat dari sini aku akan suruh binatang itu mengoyak tubuhmu!” kata Kemala pula dengan pandangan mata tak berkedip.
“Jangan! Jangan!” Hanya itu ucapan yang bisa dikeluarkan oleh Gandar Seto. Lalu dia memutar tubuh dan lari meninggalkan tempat itu secepat yang bisa dilakukannya.
Kemala menarik nafas dalam. Dia memandang berkeliling. Pandangannya bertemu dengan pandangan Pendekar 212 yang saat itu melangkah mendekatinya dengan wajah seolah tak percaya.
“Kemala…” desis Wiro begitu dia sampai di hadapan si gadis.
“Wiro, kini kau tahu siapa diriku. Kau pasti amat menyesal. Kau hendak melakukan sesuatu terhadapku?” meluncur kata-kata itu dari mulut Kemala.
Wiro menggeleng lalu menggaruk kepala. “Aku… aku tak tahu harus bicara apa. Harus melakukan apa. Terus terang memang aku tidak menyangka…”
Si gadis tampak tersenyum. “Apakah kau sudah menemui Ratih Kiranasari, gadis yang mencintaimu itu?”
“Eh! Tunggu dulu!” Tiba-tiba pemuda gendut yang sejak tadi asyik menyaksikan jalannya perkelahian berseru. “Aku mau bicara!”
“Gendut tak tahu diri! Jangan campuri urusan kami!” sentak Kemala.
“Sobatku, lebih baik kau dengarkan kata-katanya,” ujar Wiro pula pada si gendut berkopiah kupluk
“Busyet! Kau yang harus mendengarkan aku Wiro?! Jangan sampai terjebak! Kau tak tahu siapa adanya gadis ini!” menjawab si gendut.
“Eh! Apa maksudmu?” tanya Wiro pada si gendut lalu berpaling pada Kemala dan kembali menoleh pada pemuda gemuk di hadapannya itu.
Kemala sendiri saat itu mendadak berubah wajahnya. Dia memandang ke arah bulan purnama empat belas hari di langit. Mulutnya terbuka. “Datuk, lekas kau bunuh pemuda gendut itu!”
Srigala bermata api meraung keras. Tubuhnya merunduk. Si gendut melompat mundur seraya berseru pada Wiro. “Sobat! Lekas kau berikan padaku batu hitam pasangan Kapak Naga Geni 212! Cepat!”
Srigala besar itu semakin merunduk. Kedua kaki depannya tenggelam ke dalam tanah tanda dia hendak membuat satu terkaman yang hebat luar biasa.
“Wiro lekas! Berikan padaku batu hitam keramat pasangan Kapak Naga Geni 212!” teriak si gendut sekali lagi.
Dalam heran dan bingungnya tentu saja Wiro tidak memenuhi permintaan si gendut itu. Tiba-tiba srigala besar melesat ke depan. Si gemuk menjerit kalang kabut lalu lari lintang pukang selamatkan diri ke balik pohon beringin besar. Walaupun gerakannya terlihat lamban dan benar­benar seperti orang ketakutan tetapi anehnya si gendut ini ternyata berhasil lolos dari terkaman srigala.
Melihat serangannya gagal binatang ini menggereng marah. Dia membalik dan kembali menyerang. Kali ini si gendut melompat ke atas. Kedua tangannya menangkap akar gantung besar pohon beringin. Tubuhnya yang gendut digoyangnya. Hebat sekali, tubuh yang beratnya hampir 150 kati itu berayun-ayun lalu melesat ke depan. Terkaman srigala lewat setengah jengkal di bawah selangkangannya! Si gendut menjerit. Pegangannya dilepaskan dari akar gantung. Tubuhnya jatuh melesat tepat ke arah Wiro. Kedua orang ini sama-sama jatuh bergedebukan di tanah, bergulingan beberapa kali lalu tampak si gendut berdiri lebih dahulu. Ketika Wiro berdiri pula dilihatnya si gendut memegang sebuah benda hitam di tangan kanannya. Wiro cepat meraba pinggangnya. Astaga! Batu hitam empat persegi pasangan Kapak Naga Geni 212 yang selalu disimpannya di balik pinggang pakaian telah lenyap. Benda itu kini berada dalam genggaman si gendut berpeci kupluk!
“Gendut sialan! Kau hendak berbuat apa dengan batu mustika itu! Lekas kembalikan!” teriak Wiro dan hendak melompat untuk merampas batu hitam miliknya.
“Sahabat, sabar dulu! Justru hanya benda ini yang mampu menolong srigala jejadian itu bebas dari ilmu hitam, dari sekapan iblis! Juga hanya batu mustika ini yang sanggup membebaskan sebagian pengaruh iblis dalam diri Kemala!”
“Aku tidak mengerti maksudmu!” teriak Wiro masih marah.
“Kalau kau belum mengerti makanya lihat saja!” jawab si gendut. Lalu dia melangkah ke arah srigala bermata api yang kembali hendak menerkamnya. Dengan cepat si gendut ini acungkan ke depan batu mustika hitam di tangan kanannya. Terjadilah hal yang aneh. Raungan srigala mendadak berubah kuncup dan kini mengecil tak ubah seperti suara seekor anjing yang ketakutan dimarahi tuannya. Binatang ini bersurut sambil rundukkan kepalanya. Tiba-tiba ada sinar merah melesat dari kedua matanya, menyerang ke arah si gendut. Orang yang diserang cepat menangkis dengan batu hitam di tangannya. Dua larik sinar merah tadi kelihatan bergetar keras lalu membalik dan laksana masuk menembus ke dalam ke dua mata srigala. Binatang ini meraung panjang. Tubuhnya tertelungkup di tanah. Perlahan-lahan tubuh itu tampak dibungkus oleh kepulan asap hitam berbau amis. Ketika asap hitam sirna, di tanah hanya kelihatan seonggok tulang belulang putih, membujur rapi seperti ruas-ruas tulang srigala.
“Datuk…!” jerit Kemala ketika menyaksikan apa yang terjadi. Dia memburu hendak menjatuhkan diri di atas tumpukan tulang belulang itu.
“Jangan!” teriak si gendut seraya mendorongkan tangan kirinya. Serangkum angin deras menyambar membuat gerakan tubuh Kemala tertahan lalu perlahan-lahan terjajar mundur. Baru saja dia menjauh sejarak tiga langkah tiba­tiba terdengar letusan-letusan keras. Tulang belulang di tanah bermentalan kian kemari lalu lenyap tak berbekas seperti asap dihembus angin malam!
Kemala memutar tubuhnya ke arah si gendut. Sepasang matanya membersitkan sinar pembunuhan. Kedua tangannya diangkat ke atas.
“Kau… Kau membunuh Datuk. Sekarang kau harus jadi pengiring kematiannya!” Kemala menjerit panjang. Suara jeritannya hampir menyerupai lolongan srigala. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke arah si gendut. Melihat hal ini si gendut cepat angkat tangannya yang memegang batu mustika hitam milik Pendekar 212 Wiro Sableng. Seperti kesilauan Kemala menutupi kedua matanya dengan tangan kiri. Tapi terlambat. Sebagian cahaya rembulan yang memantul di atas batu hitam berbalik menembus kedua matanya. Gadis ini menjerit. Sekali ini suara jeritannya asli suara jeritan manusia. Lalu tubuhnya jatuh terkapar di tanah! Si gendut menarik nafas lega. Dia keluarkan kipas kertasnya lalu mengipasi muka dan lehernya yang basah oleh keringat!
“Kemala!” teriak Wiro seraya berlari dan jatuhkan dirinya di samping gadis itu.
Ketika Wiro meletakkan kepala Kemala di atas pangkuannya dan membelai kening gadis itu, dia merasakan seseorang meletakkan sesuatu di atas kepalanya. Wiro memegang benda yang diletakkan itu lalu berpaling.
Si gendut tegak di sampingnya. Sambil menyeringai dia berkata. “Sahabat, aku telah menyelamatkan gadis itu dari sekapan ilmu iblis. Ketahuilah, batu hitam yang kau miliki itu adalah raja-diraja penolak segala ilmu hitam. Kau memilikinya selama bertahun-tahun, tapi tak pernah tahu bagaimana memanfaatkannya. Gadismu itu kini sudah selamat. Tapi baru setengahnya. Yang setengah lagi hanya kau yang bisa melakukannya…”
Wiro pegang benda di atas kepalanya. Ternyata si gendut tadi telah meletakkan batu hitam mustika miliknya seenaknya saja di atas kepalanya. Cepat-cepat Wiro memasukkan batu itu ke balik pakaiannya. Ketika dilihatnya si gendut hendak pergi, Pendekar 212 cepat bangkit dan berkata.
“Gendut! Jangan pergi dulu! Aku perlu petunjukmu! Katamu gadis itu baru selamat setengahnya. Yang setengah lagi aku harus melakukannya. Melakukan apa? Bagaimana?”
“Kau lihat wajah gadis itu?”
“Tentu saja aku melihatnya!”
“Cantik sekali bukan?!”
“Bujang Gila Tapak Sakti!” teriak Wiro menyebut nama si gendut. “Bukan saatnya kau bergurau!”
“Siapa yang bergurau?!” sahut si gendut pula. “Jelas gadis itu cantik. Tapi itu bukan parasnya yang asli!”
“Eh! Apa maksudmu?”
“Sobatku. Biar aku tolong kau sekali lagi. Tadi kukatakan dia baru tertolong setengah. Kini kutambah seperempat lagi. Yang seperempatnya kau yang melakukan! Setuju?”
Karena bingung Wiro mengatakan setuju saja.
Si gendut yang bergelar Bujang Gila Tapak Sakti tertawa mengekeh. “Ingat sobat, janji harus kau penuhi. Kau harus menyempurnakan pelepasan sekapan iblis yang seperempat lagi!”
Habis berkata begitu si gendut ini betulkan letak pecinya lalu duduk di samping tubuh Kemala. Kedua telapak tangannya diusapkan satu sama lain. Lama-lama kedua tangan itu tampak menjadi sangat merah dan mengeluarkan asap putih yang menimbulkan hawa sangat dingin. Si gendut membungkuk. Dengan hati-hati kedua tangannya yang dingin itu diusapnya ke sekujur wajah Kemala.
Kedua mata Pendekar 212 membeliak besar ketika melihat apa yang terjadi. Di bawah cahaya bulan purnama empat belas hari dilihatnya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit wajah Kemala berubah. Ketika si gendut mengangkat tangannya dan wajah telah sempurna perubahannya, murid Eyang Sinto Gendeng jadi ternganga lebar. Kerongkongannya tersekat dan lidahnya seolah kelu. Dia hanya mampu mengeluarkan suara desis perlahan.
“Ratih Kiranasari…”
Gadis yang tergeletak di tanah itu memang Ratih Kiranasari adanya!
Perlahan-lahan Bujang Gila Tapak Sakti bangkit berdiri. Dia memegang bahu Pendekar 212 lalu berkata. “Tinggal seperempat lagi sobatku. Itu kau punya pekerjaan. Gadis itu akan pingsan tak sadarkan diri seumur-umurnya bilamana kau tidak menolongnya!”
“Katakan bagaimana cara aku menolongnya!” jawab Wiro pula.
“Sesuai janji kau tidak akan mengelak atau mencari dalih!”
“Tidak!”
“Kau tahu Kemala menyukai dirimu?”
Wiro mengangguk.
“Sekarang kau lihat sendiri Kemala ternyata adalah Ratih Kiranasari.”
“Pantas… pantas dia menyuruh aku menemui Ratih. Ternyata orangnya sama. Dia-dia juga…” Wiro garuk-garuk kepala. “Aku ingat sekarang. Bau harum tubuh Kemala sama dengan wanginya tubuh Kiranasari”
Bujang Gila Tapak Sakti tersenyum. “Sobatku, sekarang kau dengar baik-baik. Ratih Kiranasari akan sadar dari pingsannya jika kau menggauli dirinya…”
Paras Pendekar 212 karuan saja menjadi berubah merah. Matanya melotot. “Gendut, kau jangan bergurau!”
“Aku tidak bergurau sobatku. Ini persoalan hidup atau mati seseorang. Gadis itu telah terlanjur terjebak dalam ilmu hitam. Semua gara-gara tidak ada satu pemuda pun yang mau mencintai dan bersedia dijadikan suaminya. Dalam dirinya muncul dendam. Dendam ini tak dapat dikuasainya hingga dirinya terjebak dalam ilmu hitam. Dia harus membunuh setiap orang yang sedang berkasih­kasihan. Ingat, tiga perempat kehidupan dunia hitamnya telah musnah. Kini tinggal yang seperempat. Obatnya yang aku katakan tadi…”
“Gila!”
“Ini bukan gila! Hanya itu satu-satunya jalan penangkal ilmu hitam agar keluar dari tubuhnya. Aku akan pergi agar kau bisa melakukan apa yang aku katakan!”
“Tunggu!” kata Wiro seraya cepat memegang tangan si gendut.
“Tunggu apa lagi sobatku?” tanya Bujang Gila Tapak Sakti.
“Bagaimana, hemmm… Bagaimana kalau kau saja yang melakukannya?!”
Si gendut tertawa terpingkal-pingkal. “Sobatku, aku sih mau-mau saja. Tapi tidak bakalan mempan! Dia akan tertolong kalau digauli oleh lelaki yang dicintainya. Nah, aku tahu sekali gadis itu mencintaimu. Bukan aku si gajah bunting ini! Nah, carilah tempat yang baik agar kau benar­benar senang melaksanakannya.”
Habis berkata begitu Bujang Gila Tapak Sakti tepuk­tepuk bahu Wiro. Pendekar 212 geleng-gelengkan kepala. Dipandanginya wajah Ratih Kiranasari sementara dirasakannya si gendut masih terus menepuk-nepuk bahunya.
“Gendut,” kata Wiro seraya berpaling pada orang yang tegak di sebelahnya.
Astaga! Ternyata si gendut itu tak ada lagi di sampingnya. Tetapi anehnya tepukan-tepukan tangannya masih terasa di bahunya! Sadarlah Wiro kalau sebenarnya Bujang Gila Tapak Sakti itu sudah lama meninggalkan tempat itu. Dengan kesaktiannya dia bisa membuat tepukan-tepukan tangan di bahu sang pendekar padahal dirinya sudah berada di tempat lain!
Cahaya bulan purnama semakin terang. Wajah Ratih Kiranasari semakin jelas kelihatan dan tampak bertambah cantik. Dirinya seolah seorang bidadari yang sedang tertidur lelap. Perlahan-lahan Wiro mengangkat tubuh gadis itu.
“Bujang Gila Tapak Sakti!” katanya. “Kalau ternyata kau menipu diriku, akan kucari kau sampai ke langit ke tujuh sekali pun!”

TAMAT

0 komentar:

 

Tanztj's Weblog